Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK DASAR LABORATORIUM


MIKROBIOLOGI
UJI HA, UJI HI dan ELISA

Disusun oleh :
Rahma Ayu Larasati (1606839845)

PROGRAM MAGISTER ILMU BIOMEDIK


FAKULTAS KEDOKTERAAN UNIVERSITAS INDONESIA
JAKARTA
2016
PRAKTIKUM I
ELISA
A. Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ELISA ini adalah :
1. Memahami prinsip kerja ELISA
2. Mengetahui konsentrasi antigen atau antibodi dalam sampel.
3. Mampu membuat grafik dari pengenceran standar dan memperoleh rumus
persamaan perhitungan konsentrasi sampel dengan regresi linier
B. Landasan Teori

Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) merupakan metode uji imunologi


berdasarkan reaksi spesisfik antara antigen dan antibodi. Teknik ELISA pertama kali
diperkenalkan pada tahun 1971 oleh Peter Perlmann dan Eva Engvall. Mereka menggunakan
teknik ELISA ini dalam bidang imunologi (ELISA konvensional) untuk menganalisis
interaksi antara antigen dan antibodi di dalam suatu sampel, dimana interaksi tersebut
ditandai dengan menggunakan suatu enzim yang berfungsi sebagai pelapor/ reporter/ signal.
Antigen merupakan makromolekul yang dapat menginduksi pembentukan antibodi.
Antibodi adalah protein yang diproduksi oleh sistem imun akibat keberadaan antigen.
Pemanfataan ELISA adalah untuk mengidentifikasi keberadaan antigen dan antibodi,
menghitung konsentrasi antigen dan antibodi, serta sebagai alat diagnostik suatu penyakit.
Hasil dari praktikum ini adalah didapatkannya nilai kuantitatif dan kualitatif dari suatu
sampel protein.
Penggunaan ELISA melibatkan setidaknya satu antibodi dengan spesifitas untuk antigen
tertentu. Sampel dengan jumlah antigen yang tidak diketahui diimobilisasi pada suatu
permukaan solid (biasanya berupa lempeng mikrotiter polistirene), baik yang non-spesifik
(melalui penyerapan pada permukaan) atau spesifik (melalui penangkapan oleh antibodi lain
yang spesifik untuk antigen yang sama, disebut sandwich ELISA). Setelah antigen
diimobilisasi, antibodi pendeteksi ditambahkan, membentuk kompleks dengan antigen.
Antibodi pendeteksi dapat berikatan juga dengan enzim, atau dapat dideteksi secara langsung
oleh antibodi sekunder yang berikatan dengan enzim melalui biokonjugasi. Di antara tiap
tahap, plate harus dicuci dengan larutan deterjen lembut untuk membuang kelebihan protein
atau antibodi yang tidak terikat. Setelah tahap pencucian terakhir, dalam plate ditambahkan
substrat enzimatik untuk memproduksi sinyal yang visibel, yang menunjukkan kuantitas
antigen dalam sampel. Teknik ELISA yang lama menggunakan substrat kromogenik,
meskipun metode-metode terbaru mengembangkan substrat fluorogenik yang jauh lebih
sensitif.
Teknik ELISA ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain :
-

Teknik pengerjaan relatif sederhana

Relatif ekonomis (karena jenis a antibodi yang digunakan hanya satu saja, sehingga
menghemat biaya untuk membeli banyak jenis antibodi)
Hasil memiliki tingkat sensitivitas yang cukup tinggi.
Dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan antigen walaupun kadar antigen
tersebut sangat rendah (hal ini disebabkan sifat interaksi antara antibodi atau antigen

yang bersifat sangat spesifik)


Dapat digunakan dalam banyak macam pengujian.

Sedangkan kekurangan dari teknik ELISA antara lain :


-

Jenis antibodi yang dapat digunakan pada uji dengan teknik ELISA ini hanya jenis antibodi
monoklonal (antibodi yang hanya mengenali satu antigen).

Harga antibodi monoklonal relatif lebih mahal daripada antibodi poliklonal, sehingga

pengujian teknik ELISA ini membutuhkan biaya yang relatif mahal.


Pada beberapa macam teknik ELISA, dapat terjadi kesalahan pengujian akibat kontrol
negatif yang menunjukkan respons positif yang disebabkan inefektivitas dari larutan
blocking sehingga antibodi sekunder atau antigen asing dapat berinteraksi dengan

antibodi bertaut enzim signal dan menimbulkan signal.


Reaksi antara enzim signal dan substrat berlangsung relatif cepat, sehingga
pembacaan harus dilakukan dengan cepat (pada perkembangannya, hal ini dapat
diatasi dengan memberikan larutan untuk menghentikan reaksi).

C. Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan adalah mikropipet berbagai ukuran (20 l, 200 l, dan 1000
l) [Bio-rad], tip (1000 l, 200 l, dan 10 l) [Sorenson], tabung mikrosentrifus 1,5 ml
[Axygen], incubator [Inco 2], lemari pendingin [Sanyo], freezer -20 C [LG], tabung ukuran
15 ml [Becton Dickinson & Corning], gelas ukur [Iwaki Pyrex], sarung tangan [Sensi
gloves], masker [Pro-mask], Elisa reader [Bio-Rad].
Sampel yang digunakan adalah protein pada E.Coli, serum kelinci sebelum divaksin,
serum kelinci sesudah divaksin. Bahan kimia yang digunakan meliputi akuades, phospate
buffered saline (PBS) [Sigma], Tween-20 [Cat], coating buffer, skim milk, antiserum kelinci,
streptavidine-HRP [Chemicon], substrat OPD, asam asetat, stop solution.
D. Cara Kerja
Tahap 1
Labeling microplate
Tambahkan antigen yang dilarutkan dalam carbonate coating buffer
Pada well A & B 60 l konsentrasi 50 ng/ml
Pada well C & D 60 l konsentrasi 25 ng/ml
Inkubasi 37C selama 1 jam
Tahap 2
Lakukan pencucian sebanyak tiga kali dengan cara :
-

Buang sampel dari well dengan cara dibalikkan dan diketuk-ketukkan pada

tisue.
Masukkan 70 ul washing buffer (PBS 0,05% Tween)
Buang lalu ketuk-ketukkan pada kertas tissue
Ulang pencucian sebanyak tiga kali

Tahap 3 Blocking
- Berikan blocking berupa skim milk 5% sebanyak 70 l pada masing masing
-

well
Lalu inkubasi kembali selama 1 jam pada suhu 37 C

Tahap 4
Lakukan pencucian seperti diatas sebanyak 3 kali
Tahap 5 : penambahan antibody I
Tambahkan 50 l antibodi pasca vaksinasi (+) pada ABCD (1-6) dan 50 l antibodi(-)
pada ABCD (7-12)
Sebelumnya dilakukan pengenceran terhadap antibody dengan cara
1. Mengambil 200 l dari microtube 1
2. Tambahkan ke microtube 2 lalu dilakukan dilution fold
3. Ambil 200 l dari microtube 2 lalu tambahkan ke mcrotube 3 begitu seterusnya
sampai tabung ke 6
4. Buang 200 l antibody terakhir
5. Maka didapatkan pengenceran antibody berupa . 1 - - 1/8 1/16 1/32
Inkubasi semalam pada suhu 4o c
Tahap 6
Lakukan pencucian seperti cara diatas sebanyak 3 kali
Tahap 7 penambahan antibody II
1. Masukkan antibodi anti rabbit berlabel biotin dengan pengenceran 1/100 di
semua sumur sebanyak 50 ul
2. Inkubasi selama 1 jam pada suhu 37o C
Tahap 8
Kemudian lakukan pencucian sebanyak 3 kali
Tahap 9 Penambahan Enzim
1. Tambahkan 50 ul 1/5000 stretavidine HRP
2. Inkubasi selama 1 jam di suhu 37o C
Tahap 10
Lakukan pencucian sebanyak 3 kali

Tahap 11 Penambahan Substrat OPD


1. Kemudian berikan substrat OPD sebanyak 50 ul dan inkubasi
pada suhu ruang selama 5 - 15 menit
2. Perhatikan warna yang terbentuk
Tahap 12
Tambahkan 25 ul Stop Solution (2,5 M H2SO4)
Tahap 13 Interpretasi Hasil
1. Baca dengan mikroplate reader dengan panjang gelombang 490
nm
2. Interpretasi data
Table 1. Cara Kerja Tes ELISA

E. Hasil Pengamatan

Gambar 1. Warna saat telah ditambahkan substrat OPD


Berikut interpretasi hasil dalam tabel :

No

A
1
2
3
4
5

0.714
0.566
0.45
0.417
0.268

50 ng/ml
25 ng/ml
B
average
C
D
average
0.71
0.712
0.67
0.673
0.6715
0.549
0.5575
0.611
0.533
0.572
0.417
0.4335
0.554
0.486
0.52
0.427
0.422
0.5
0.476
0.488
0.266
0.267
0.3
0.256
0.278

0.21

0.204

7
8
9
10
11
12

0.06
0.058
0.058
0.058
0.058
0.065

0.061
0.065
0.051
0.061
0.063
0.068

0.207
Kontrol
0.0605
0.0615
0.0545
0.0595
0.0605
0.0665

0.19

0.183

0.1865

0.055
0.058
0.054
0.054
0.055
0.055

0.056
0.058
0.056
0.056
0.055
0.061

0.0555
0.058
0.055
0.055
0.055
0.058

Table 2. Nilai Absorbansi

Kemudian Kurva hasil dari perhitungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4

50 ng/ml

OD 490 0.3

25 ng/ml

0.2

kontrol 1

0.1

kontrol 2

Pengenceran Antibodi

Gambar 2. Kurva Hasil


F. Pembahasan
Tehnik ELISA yang digunakan pada praktikum ini adalah tehnik ELISA indirek.
sejumlah antigen (virus H1N1) ditempelkan pada suatu permukaan,kemudian dilakukan
blocking untuk mem-blok adsorbs protein lain ke dalam plate. Antibodi spesifik dicucikan
pada permukaan tersebut, sehingga akan berikatan dengan antigennya. Lalu antibodi
sekunder akan mengikat sembarang antibodi pendeteksi. Antibodi sekunder ini akan
berkonjugasi dengan enzim. Pada tahap terakhir, ditambahkan substansi yang dapat diubah
oleh enzim menjadi sinyal yang dapat dideteksi. Dalam ELISA fluoresensi, saat cahaya
dengan panjang gelombang tertentu disinarkan pada suatu sampel, kompleks
antigen/antibodi akan berfluoresensi sehingga jumlah antigen pada sampel dapat disimpulkan
berdasarkan besarnya fluoresensi.

Hasil ELISA pada serum kelinci sesudah diimunisasi secara umum memperlihatkan
nilai OD yang tinggi (OD berkisar antara 0,710 0,714). Hal ini dapat dilihat pada plate
ABCD nomor 1 6. Nilai rata-rata aktivitas respon antibodi tertinggi terdapat pada serum
kelinci yang diimunisasi oleh protein rekombinan ditunjukkan pada serum kelinci
pengenceran 1/25 dengan konsentrasi antigen 50 g/ml, yaitu 0,714. Nilai tersebut jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan nilai OD serum kelinci sebelum diimunisasi. Nilai OD serum
yang dihasilkan kelinci sebelum diimunisasi ( kontrol ) hanya berkisar antara 0,0551
0,0680. Hal tersebut membuktikan bahwa telah terjadi peningkatan respon imun di dalam
tubuh kelinci terhadap antigen yang diimunisasikan ke dalam tubuh kelinci. Semakin besar
konsentrasi antigen dan semakin kecil pengencerannya maka nilai optical density-nya makin
besar.
G. Kesimpulan
Pada praktikum ini didapatkan konsentrasi antigen E. coli yang optimal yaitu 50 g/ml

dan pengenceran antibodi spesifiknya adalah 1/25. Semakin besar konsentrasi antigen dan
semakin kecil pengencerannya maka nilai optical density-nya makin besar.

PRAKTIKUM 2
UJI HEMAGLUTINASI (HA)

A. Tujuan Praktikum
Mengukur titer HA sediaan virus influenza yang akan digunakan untuk uji hambatan
agutinasi (HI).
B. Landasan Teori
Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis.
Virus bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi
di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena
virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus
mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya)
yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau
kombinasi ketiganya. Beberapa virus manusia mempunyai kemampuan untuk berikatan
dengan permukaan sel darah merah sehingga terjadi aglutinasi.
Kemampuan ini merupakan contoh dari aktivitas biologik virus. Sisi partikel virus yang
spesifik dapat berinteraksi dengan reseptor mukoprotein pada sel darah merah dan permukaan
sel lain. Interaksi dari sisi reseptor dan virion membuat aglutinasi sel darah merah menjadi
tampak.
Banyak virus yang menghemaglutinasi eritrosit dan reaksi tersebut secara spesifik dapat
dihambat oleh sistem imun dan sistem konvalesen. Reaksi ini merupakan dasar dari banyak
tes diagnostic pada infeksi infeksi virus.
Hemaglutinasi dalah reaksi pengikatan antigen virus dengan sel darah merah. Jenis eritrosit
berbeda tergantung dari jenis virusnya, yaitu;
a. Virus influenza menghemaglutinasi eritrosit cavia (marmut), eritrosit ayamdan
b.
c.

eritrosit manusia golongan O masing-masing dalam konsentrasi 0,5%.


Virus Rubella yang menghemaglutinasi eritrosit angsa, eritrosit burung.
Golongan arbovirus menghemaglutinasi eritrosit anak ayam umur 1 hari daneritrosit
0,25-0,4%.

C. Alat dan Bahan


Alat:
1. Microplate dengan dasar berbentuk V
2. Micropipet single channel 20-200 l
3. Yellow tip 100 L
Bahan:
1. PBS (Phosphat Buffer Saline)
2. Antigen (sequence H1N1 inactivated)
3. Sel darah merah ayam segar (SDM)

D. Cara Kerja

10

11

12

A
B
C
D
Kontrol positif
Kontrol negatif
1.
2.
3.
4.

Sediakan microplate dengan dasar berbentuk V


Masukkan 50 l PBS ke dalam sumur A2 s.d A12 dan B2 s.d B12 (duplo)
Masukkan 100 l antigen ke dalam sumur A1 dan B1
Masukkan antigen dengan cara pengenceran bertahap (serial dilution)
- ambil 50 l antigen dari sumur A1, masukkan ke sumur A2 (up and down 10 kali
-

untuk mengaduk)
ambil 50 l campuran tadi dari sumur A2 lalu masukkan ke sumur A3, lakukan

dengan cara yang sama lanjutkan sampai A12


- buang sisa 50 l dari sumur A12
- lakukan juga untuk duplo pada baris B2 B12
5. Masukkan masing-masing 50 l sel darah merah ayam mulai dari sumur A12 dan B12
sampai sumur A1 dan B1
6. Campur dengan baik secara manual (ketuk-ketuk secara perlahan tepi microplate pada
setiap sisinya kemudian shaking secara perlahan dalam arah vertikal)
7. Inkubasi pada suhu ruang (22-25oC) 15 s.d 30 menit
8. Cek pada sumur D1-D2 (sebagai kontrol negatif) apakah SDM sudah mengendap
9. Catat hasil
E. Hasil

12

A
B

Kontrol negatif

Gambar 3. Hasil Uji HA

10

11

12

A
B
C
D

Hasil positif = terjadi aglutinasi


Gambar
4. Skema
Hasil/ SDM
Uji HA
Hasil negative = Tidak
terjadi
aglutinasi
mengendap
F. Pembahasan
Antigen yang digunakan pada praktikum kali ini adalah antigen virus influenza H1N1.
Protein hemaglutinin pada permukaan partikel virus influenza memiliki kemampuan untuk
mengikat protein asam N-acetylneuraminic pada eritrosit unggas dan mamalia. Uji
hemaglutinasi yang dilakukan pada praktikum ini bertujuan untuk mencari nilai titer HA
sediaan virus H1N1 yang akan digunakan untuk uji hambatan aglutinasi. Titer adalah ukuran
yang menunjukkan potensi antigen atau antibodi tersebut dimana nilai ini dapat dilihat dari

pengenceran serum tertinggi hasil positif (titik merah pada dasar sumur di plate yang
digunakan).
Ukuran HAU ini menunjukkan unit operasional yang digunakan untuk mengaglutinasi
sel darah merah ayam pada volume yang sama. Hasil positif ditunjukkan dengan larutnya sel
darah merah pada sumur sehingga tidak terjadi endapan. Sebaliknya, hasil negatif
ditunjukkan dengan terbentuknya endapan sel darah merah (titik merah) pada dasar sumur.
Pada praktikum kali ini hasil negatif berupa munculnya titik merah (endapan) pada dasar
sumur ditunjukkan pada sumur A1 - A4 dan B1. Hasil duplo dari praktikum ini tidak sama,
hal tersebut dikarenakan keadaan virus yang digunakan sudah tidak stabil karena cukup lama
dibiarkan dalam suhu ruang. Hasil positif didapatkan pada sumur A5 A12.

8 HAU 4 HAU 2 HAU 1 HAU

10

11

12

A
Gambar 5. Skema Penetapan HAU
G. Kesimpulan
Unit HA tidak menunjukkan jumlah absolute virus, namun suatu unut operasional
yang digunakan untuk titrasi HA. Unit HA didefinisikan sebagai jumlah virus yang
diperlukan untuk mengaglutinasi larutan SDM yang telah distandarisasi pada volume yang
sama. Uji ini penting untuk menentukan volume antigen terstandard yang diperlukan untuk
uji HI. Pada praktikum didapatkan sediaan virus yang mengandung titer 8 HAU yang akan
digunakan untuk uji hambatan agutinasi (HI) berada pada well A1, sehingga tidak perlu
pengenceran.

PRAKTIKUM 3
UJI HEMAGLUTINASI INHIBISI (HI)
A. Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui titer anti hemaglutinin terhadap serum penderita dengan
menggunakan antigen yang sudah ditetapkan pada uji HA.
B. Landasan Teori
Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis.
Virus bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi
di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena
virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus
mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya)
yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau
kombinasi ketiganya.Virus dapat berikatan pada permukaan sel darah merah sehingga
terbentuk reaksi aglutinasi.
Tes aglutinasi dapat dimodifikasi untuk pemeriksaan antigen yang terlarut , tes ini disebut
hemaglutinasi inhibisi . disebut hemaglutinasi inhibisi karena dapat mengukur kemampuan
antigen yang terlarut untuk menghambat aglutinasi antara antigen dengan eritrosit oleh
antibodi . Jika sempel mengandung antigen , antigen terlarut akan bersaing dengan eritrosit
untuk berikatan dengan antibody , sehingga menghambat aglutinasi sel darah merah dengan
menipiskan atau mengencerkan sample , anda dapat menghitung jumlah antigen melalui titer
pada sempel yang belum diketahui .
Hemaglutinasi inhibisi merupakan yang diinduksikan oleh virus sebagai prosedur untuk
mengidentifikasi hemaglutinasi oleh virus atau metode untuk mengukur kensentrasi dari
antigen terlarut dalam specimen biologis dimana specimen diinduksi dengan antibody
spesifik dan kemudian dengan eritrosit .
C. Alat dan Bahan
Alat:
1. Microplate dengan dasar berbentuk V
2. Micropipet single channel 20-200 l
3. Yellow tip 100 L
Bahan:
1. PBS (Phosphat Buffer Saline)
2. Antigen (sequence H1N1 inactivated)

3. Antibodi (+) dan (-) terhadap H1N1


4. Sel darah merah ayam segar (SDM)
D. CARA KERJA

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Berikan label pada microplate


Masukkan 25 l PBS pada well A2 A6, A8-A12, B2-B6, dan B8-B12
Masukkan 50 l PBS pada C1 dan C2 sebagai kontrol
Masukkan 50 l antibodi serum positif H1N1 pada A1 dan B1
Masukkan 50 l antibodi serum negatif H1N1 pada A7 dan B7
Lakukan dilution fold 25 l antibodi positif ke kanan mulai dari A1 A6, demikian

juga dari B1 B7
7. Lakukan dilution fold 25 l antibodi negatif ke kanan mulai dari A7 A12, demikian
juga dari B7 B12
8. Tambahkan 25 l antigen 8HAU ke masing masing well kecuali C1&C2 ( control)
9. Inkubasi 30 menit
10. Tambahkan 50 l RBC ke semua well, inkubasi kembali selama 30 menit
11. Baca hasil
E. HASIL

Gambar 6. Plate Sebelum di inkubasi

Gambar 7. Plate Setelah di Inkubasi


1

10

11

12

A
B
C
D

Hasil negatif = terjadi aglutinasi( tidak dihambat)


Hasil positif = Tidak terjadi aglutinasi / SDM mengendap
Gambar 8. Skema Hasil Uji HI

Antigen virus antibodi serum dan eritrosit ditambahkan dengan perbandingan yang
sama sehingga terjadi ikatan antigen dan antibodi saja , tidak terjadi ikatan antara antigen

dengan eritrosit . Sehingga tidak terbentuk hemaglutinasi , hal ini menunjukkan tes
hemaglutinasi inhibisi positif .
Namun pada hasil yang didapatkan saat praktikum hampir semua plate menunjukkan
hasil positif, tidak ada reaksi hemaglutinasi yang terlihat.
F. Pembahasan

Virus merupakan gen infeksius terkecil

(dengan diameter antara 20 nm

sampai dengan kira-kira 300 nm ) yang hanya memiliki 1 jenis asam nukleat (RNA
atau DNA ) sebagai genom. Asam nukleat terbungkus mantel protein yang dikelilingi
oleh membrane dari lipid. Asam nukleat virus mengandung informasi penting untuk
dapat menghasilkan keturunannya yaitu dengan cara memprogram sel inang yang
diinfeksinya agar mensintesis makromolekul virus spesifik.
Pada pratikum ini dilakukan pemeriksaan hemaglutinasi inhibition dimana
tujuan dari pratikum ini adalah untuk mengetahui titer HI yang masih dapat
menghambat aktivitas hemaglutinasi virus secara sempurna.
Prinsip dari pratikum hemaglutinasi inhibition adalah antigen virus antibodi
serum dan eritrosit ditambahkan dengan perbandingan yang sama sehingga terjadi
ikatan antigen dan antibodi saja , tidak terjadi ikatan antara antigen dengan eritrosit .
Sehingga tidak terbentuk hemaglutinasi , hal ini menunjukkan tes hemaglutinasi
inhibisi positif .
Hemaglutinasi inhibisi merupakan yang diinduksikan oleh virus sebagai
prosedur untuk mengidentifikasi hemaglutinasi oleh virus atau metode untuk
mengukur kensentrasi dari antigen terlarut dalam specimen biologis dimana specimen
diinduksi dengan antibody spesifik dan kemudian dengan eritrosit . Pada pemeriksaan
ini hemaglutinasi inhibition menggunakan antigen 8 HA. Pemeriksaan hemaglutinasi
inhibition pertama-tama dimasukksan PBS pada microwell dan selanjutnya
ditambahkan

serum

yang

kemudian

dilakukan

pengenceran

dengan

cara

memindahkan dari microwell pertama ke microwell selanjutnya dengan volume yang


sama. Setelah dilakukan pengenceran ditambahkan lagi antigen virus 8 HA pada
masing-masing microwell, maka akan terjadi reaksi antibody dengan antigen virus
tersebut. Dan selanjutnya ditambahkan dengan sel darah merah 1 %. Setelah
dilakukan pratikum didapatkan didapatkan hasil positif dengan titer antibodi = 2 1
dimana pengenceran sampai

1/2. Ini menandakan antibody virus hanya dapat

mengikat antibody sampai titer 1/2. Dimana hasil positif ditunjukkan dengan

terdapatnya titik pada dasar well yang dikarenakan sel darah merah mengendap
sedangkan antibody berikatan dengan virus. Pemeriksaan hemaglutinasi inhibition ini
selain untuk mengidentifikasi virus juga digunakan untuk menentukan kekebalan
hewan terhadap suatu agen ( virus) melalui pengukuran titer antibody spesifik dalam
serum hewan tersebut.

G. KESIMPULAN
Pada hasil praktikum ini tidak dapat ditentukan titer virus karena didapatkan hasil positif pada
semua sumur. Terjadi kesalahan dimana pada serum negative juga mengalami aglutinasi.
Sehingga hasil positif juga terjadi pada serum negative. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh
berbagai factor antara lain :
- Serum negative terjadi kontaminasi pada saat proses pengerjaan
- Human error pada saat proses pippeting dan diluting
- Terjadi kesalahan pada saat awal pembentukan antibodi