Anda di halaman 1dari 12

1.

TEORI BELAJAR HUMANISTIK


Abraham Maslow dan Carl Rogers termasuk kedalam tokoh kunci humanisme. Tujuan utama dari
humanisme dapat dijabarkan sebagai perkembangan dari aktualisasi diri manusia automomous.
Dalam humanisme, belajar adalah proses yang berpusat pada pelajar dan dipersonalisasikan, dan
peran pendidik adalah sebagai seorang fasilitator.
Afeksi dan kebutuhan kognitif adalah kuncinya, dan goalnya adalah untuk membangun manusia
yang dapat mengaktualisasikan diri dalam lingkungan yang kooperatif dan suportif. Dijelaskan
juga bahwa pada hakekatnya setiap manusia adalah unik, memiliki potensi individual dan
dorongan internal untuk berkembang dan menentukan perilakunya. Kerana itu dalam kaitannya
maka setiap diri manusia adalah bebas dan memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan
berkembang mencapai aktualisasi diri.
Abraham Maslow dan Carl Rogers termasuk kedalam tokoh kunci humanisme. Tujuan utama dari
humanisme dapat dijabarkan sebagai perkembangan dari aktualisasi diri manusia automomous.
Dalam humanisme, belajar adalah proses yang berpusat pada pelajar dan dipersonalisasikan, dan
peran pendidik adalah sebagai seorang fasilitator.
Afeksi dan kebutuhan kognitif adalah kuncinya, dan goalnya adalah untuk membangun manusia
yang dapat mengaktualisasikan diri dalam lingkungan yang kooperatif dan suportif. Dijelaskan
juga bahwa pada hakekatnya setiap manusia adalah unik, memiliki potensi individual dan
dorongan internal untuk berkembang dan menentukan perilakunya. Kerana itu dalam kaitannya
maka setiap diri manusia adalah bebas dan memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan
berkembang mencapai aktualisasi diri.
Menurut Carl Rogers, teori belajar humanis :
a) Setiap individu adalah positif, serta menolak teori Freud dan behaviorisme.
b) Asumsi dasar teori Rogers adalah kecenderungan formatif dan kecenderungan aktualisasi.
c) Diri (self) adalah terbentuk dari pengalaman mulai dari bayi, di mana diri terdiri dari 2
subsistem yaitu konsep diri dan diri ideal.
d) Kebutuhan individu ada 4 yaitu : (1) pemeliharaan, (2) peningkatan diri, (3) penghargaan
positif (positive regard), dan (4) Penghargaan diri yang positif (positive self-regard).
PENERAPAN TEORI HUMANISTIK DALAM PENDIDIKAN
Menurut Gage dan Berliner beberapa prinsip dasar dari pendekatan humanistit yang dapat kita
guna untuk mengembangkan pendidikan :
1. Murid akan belajar dengan baik apa yang mereka mau dan perlu ketahui . Saat mereka telah
mengembangkan kemampuan untuk menganalisa apa dan mengapa sesuatu penting untuk
mereka sesuai dengan kemampuan untuk mengarahkan perilaku untuk mencapai yang

dibutuhkan dan diinginkan, mereka akan belajar dengan lebih mudah dan lebih cepat. Sebagian
besar pengajar dan ahli teori belajar akan setuju dengan dengan pernyataan ini, meskupun
mereka mungkin akan tidak setuju tentang apa tepatnya yang menjadi motivasi murid.
2. Mengetahui bagaimana cara belajar lebih penting daripada membutuhkan banyak
pengetahuan. Dalam kelompok sosial kita dewasa ini dimana pengetahuan berganti dengan
sangat cepat , pandangan ini banyak dibagi diantara kalangan pengajar, terutama mereka yang
datang dari sudut pandang kognitif
3. Evaluasi diri adalah satu satunya evaluasi yang berarti untuk pekerjaan murid. Penekanan disini
adalah pada perkembangan internal dan regulasi diri. Sementara banyak pengajar akan setuju
bahwa ini adalah hal yang penting, mereka juga akan mengusung sebuah kebutuhan untuk
mengembangkan kemampuan murid untuk berhadapan dengan pengharapan eksternal.
Pertemuan dengan pengaharapan eksternal seperti ini menghadapkan pertentangan pada
sebagian besar teori humanistik.
4. Perasaan adalah sama penting dengan kenyataan . Banyak tugas dari pandangan humanistik
seakan memvalidasi poin ini dan dalam satu area, pengajar yang berorientasi humanistik
membuat sumbangan yang bererti untuk dasar pengetahuan kita.
5. Murid akan belajar dengan lebih baik dalam lingkungan yang tidak mengancam. Ini adalah
salah satu area dimana pengajar humanistik telah memiliki dampak dalam praktek pendidikan.
Orientasi yang mendukung saat ini adalah lingkungan harus tidak mengancam baik secara
psikologis, emosional dan fisikal. Bagaimanapun, ada penelitian yang menyarankan lingkungan
yang netral bahkan agak sejuk adalah yang terbaik untuk murid yang lebih tua dan sangat
termotivasi. Menurut aliran humanistik, para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih
tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikukum untuk memenuhi kebutuhankebutuhan ini.
Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk
berkembang, untuk lebih baik, dan juga belajar. Jadi sekoah harus berhati-hati supaya tidak
membunuh insting ini dengan memaksakan anak belajar sesuatu sebelum mereka siap. Jadi
bukan hal yang benar apabila anak dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara
fisiologis dan juga punya keinginan. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator yang
membantu siswa untuk memenuhi kebutuhank-ebutuhan yang lebih tinggi, bukan sebagai
konselor seperti dalam Freudian ataupun pengelola perilaku seperti pada behaviorisme.
Secara singkatnya, pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan
positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan

kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup
kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk
memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau
kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena
keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha
agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini
berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang
pengamatnya.
Para pendidik hanya membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masingmasing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu
dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Teori ini cocok untuk di terapkan
pada materi - materi yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan
analisis terhadap fenomena social. Indikator keberhasilan dari teori ini adalah : Siswa senang,
bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir siswa, serta meningkatnya
kemauan sendiri.
Menurut teori ini ciri-ciri guru yang baik adalah yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih
demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Mampu mengatur
ruang kelads lebih terbuka dan mampu menyesuaikannya pada perubahan. Sedangkan guru yang
tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah, mudah menjadi tidak sabar, suka
melukai perasaan siswa dengan komentar yang menyakitkan, bertindak agak otoriter, dan kurang
peka terhadap perubahan yang ada.

2.TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK


Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya
interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu
menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan
yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru
sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya
interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu
menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan
yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru
sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.

Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau
output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap
tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh
aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang
dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka
respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon
pun akan tetap dikuatkan.
Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam
lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Teori Skinnerlah yang
paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program
pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul dan program-program
pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respon serta mementingkan
faktor-faktor

penguat

(reinforcement),

merupakan

program-program

pembelajaran

yang

menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner.


Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi
fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme
tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar.
Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi
kebiasaan yang dikuasai individu.Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan
selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
1. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat,
maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
2. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses
conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun
bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah
sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant
conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh
reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan
timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus
lainnya seperti dalam classical conditioning.

KELEMAHAN DAN KELEBIHAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK:


Teori behavioristik sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab
banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan atau belajar yang tidak dapat
diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon.
Teori ini tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus
dan respon ini dan tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan
antara stimulus yang diberikan dengan responnya.
Namun kelebihan dari teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen,
tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses
pembentukan atau shapping yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu,
sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.
APLIKASI DASAR :
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas
mimetic yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah
dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan.
Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar.
Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar menurut teori
Behavioristik merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi
antara stimulus dan respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon
dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga
dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement)
penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon.

3.TEORI PEMBELAJARAN SOSIAL


Teori Perilaku (Bandura)
Konsep motivasi

belajar berkaitan

erat

dengan

prinsip

bahwa

perilaku

yang

memperoleh penguatan(reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang


dibandingkan

dengan

perilaku

yang

tidak

memperolehpenguatan atau

perilaku

yang

terkena hukuman (punishment). Dalam kenyataannya, daripada membahas konsep motivasi


belajar, penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswatelah belajar
untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang diinginkan
(Bandura, 1986 dan Wielkeiwicks, 1995).

4. TEORI BELAJAR KOGNITIF


AUSUBEL : TEORI BELAJAR BERMAKNA
Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui
proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa
aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan
bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada
tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk
mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep,
demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.
Piaget

merupakan

salah

seorang

tokoh

yang

disebut-sebut

sebagai

pelopor

aliran

konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan
untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan
individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu :
(1) sensory motor; (2) pre operational; (3)concrete operational dan (4) formal operational.
Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan
akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah the process by which
a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the
evidence of their senses to make it fit dan akomodasi adalah the difference made to ones mind
or concepts by the process of assimilation
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap
perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk
melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya
dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan
kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan
menemukan berbagai hal dari lingkungan.

KONSEP TEORI
Teori ialah prinsip kasar yang menjadi dasar pembentukan sesuatu ilmu pengetahuan Teori juga
merupakan satu rumusan daripada pengetahuan sedia ada yang memberi panduan untuk

menjalankan penyelidikan dan mendapatkan maklumat baru Pada asasnya, teori-teori


pembelajaran masa kini boleh diklasifikasikan kepada empat mazhab yang utama, iaitu,
behavioris, kognitif, sosial dan humanis.
Teori Behaviorisme Mazhab behavioris yang diperkenalkan oleh Ivan Pavlov dan dikembangkan
oleh Thorndike dan Skinner, berpendapat bahawa pembelajaran adalah berkaitan dengan
perubahan tingkah laku. Teori pembelajaran mereka kebanyakannya dihasilkan daripada ujian dan
juga pemerhatian yang dilakukan ke atas haiwan seperti anjing, tikus, kucing dan burung di dalam
makmal. Mereka menumpukan ujian kepada perhubungan antara rangsangan dan gerakbalas
yang menghasilkan perubahan tingkahlaku. Secara umumnya teori behavioris menyatakan
bahawa pengajaran dan pembelajaran akan mempengaruhi segala perbuatan atau tingkah laku
pelajar sama ada baik atau sebaliknya. Teori ini juga menjelaskan bahawa tingkah laku pelajar
boleh diperhatikan, dikawal dan diramal.
Teori Kognitif Mazhab kognitif pula berpendapat bahawa pembelajaran ialah suatu proses
dalaman yang berlaku dalam akal fikiran, dan tidak dapat diperhatikan secara langsung daripada
tingkah laku. Ahli-ahli psikologi kognitif seperti Bruner dan Piaget menumpukan kajian kepada
pelbagai jenis pembelajaran dalam proses penyelesaian masalah dan celik akal mengikut
pelbagai peringkat umur dan kebolehan pelajar. Teori-teori pembelajaran mereka adalah bertumpu
kepada cara pembelajaran seperti pemikiran celik akal, kaedah penyelesaian masalah, penemuan
dan pengkategorian. Menurut teori ini, manusia memiliki struktur kognitif, dan semasa proses
pembelajaran, otak akan menyusun segala maklumat di dalam ingatan.
Teori Sosial Mazhab sosial pula menyarankan teori pembelajaran dengan menggabungkan teori
mazhab behavioris bersama dengan mazhab kognitif. Teori ini juga dikenali sebagai Teori
Perlakuan Model. Albert Bandura, seorang tokoh mazhab sosial ini menyatakan bahawa proses
pembelajaran akan dapat dilaksanakan dengan lebih berkesan dengan menggunakan pendekatan
permodelan. Beliau menjelaskan lagi bahawa aspek pemerhatian pelajar terhadap apa yang
disampaikan atau dilakukan oleh guru dan juga aspek peniruan oleh pelajar akan dapat
memberikan kesan yang optimum kepada kefahaman pelajar.
Teori Humanisme Mazhab humanis pula berpendapat pembelajaran manusia bergantung kepada
emosi dan perasaannya. Seorang ahli mazhab ini, Carl Rogers menyatakan bahawa setiap
individu itu mempunyai cara belajar yang berbeza dengan individu yang lain. Oleh itu, strategi dan
pendekatan dalam proses pengajaran dan pembelajaran hendaklah dirancang dan disusun
mengikut kehendak dan perkembangan emosi pelajar itu. Beliau juga menjelaskan bahawa setiap
individu mempunyai potensi dan keinginan untuk mencapai kecemerlangan kendiri. Maka, guru
hendaklah menjaga kendiri pelajar dan memberi bimbingan supaya potensi mereka dapat
diperkembangkan ke tahap optimum.

KONSEP PENGAJARAN, PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN TIMUR


1.

Konsep Pendidikan Konfusius

1.1.

Pengajaran

Ketika berumur kira-kira 30 tahun, Konfusius telah menjadi sarjana yang tersohor dan mula
membuka sekolahnya sendiri untuk mempromosi ajarannya. Konfusius telah melawat ke
beberapa banyak negeri untuk mempromosikan teori politiknya. Namun, teorinya itu tidak
mendapat perhatian raja-raja di kebanyakan negeri pada masa itu. Pada tahun 484 SM, beliau
kembali ke negeri Lu dan menumpukan usahanya kepada hal-hal kebudayaan dan pendidikan
serta merumuskan buku-buku klasik yang telah dihasilkan lebih awal.[19]
Konfusius berpendapat bahawa pendidikan merupakan persediaan dan asas bagi membentuk
sebuah masyarakat yang teratur dan aman. Pendidikan inilah yang mengajarkan konsep-konsep
asas yang disanjung dalam menghasilkan hubungan sosial yang terpuji dan diterima oleh semua
lapisan masyarakat. Untuk menjadi seorang Chun Tze seseorang itu mesti mempelajari nilai murni
melalui pendidikan. Dalam konteks pendidikan moral konfusius menekankan peranan muzik dan
sastera dalam mencapai perkembangan diri yang seimbang. Keadaan ini berbeza daripada
pandangan Plato yang menganggap bahawa muzik dan sastera bukan sahaja melekakan, malah
boleh menjelaskan kepribadian yang unggul khususnya di kalangan bakal-bakal PhilosopherKing (Obeidellah, 1994).[20]
Dengan kepakarannya dalam bidang falsafah, politik dan pendidikan yang begitu tersohor
pada zamannya, aliran ajaran Konfusius yang ditubuhkannya berdasarkan kebajikan dan budi
bahasa itu telah membawa pengaruh yang amat besar kepada masyarakat China dalam masa
2000 tahun selepasnya.[21]
1.2.

Pembelajaran

Konfusius menekankan dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam pendidikannya.


Pengaruh ajaran Konfusius dalam sistem pendidikan di China adalah digunakannya ajaran-ajaran
Konfusius tersebut dalam kurikulum pendidikan. Hal ini berkaitan dengan tuntutan bahawa untuk
menjadi

seorang

birokrat

kerajaan

maka

diharuskan

Berjaya

dalam

ujian

klasikal

Confucian.Namun demikian Konfusius mengakui bahawa keberhasilan usaha manusia tidak


terlepas dari Ming, keputusan alam ketuhanan. Usaha manusia tidak terlepas dari peranan Tuhan.
[22] Konfusius sebagai seorang guru memandang pendidikan mempunyai peranan penting dalam
perkembangan kebudayaan.
Bahkan dalam sepak terajang kehidupannya pendidikan ia jadikan strategi kebudayaan.
Kebudayaan dimanapun berada selalu dalam keadaan berubah dan terkena pengaruh dari
kebudayaan luar. Sedangkan masa sekarang, bagi Konfusius tergambar dalam pendidikan
sebagai strategi kebudayaan. Dalam bidang pendidikan ia merasa bahawa fungsi utamanya
memberi tafsiran terhadap warisan masa lampau, juga memberikan tafsiran baru terhadapnya
yang didasarkan atas konsep-konsep moral.[23]

1.3.

Nilai Moral
Falsafah konfusius dikenali sebagai Ju Chia atau dikenali sebagai konfusianisme. Dalam Ju

Chia beliau menitikberatkan aspek nilai-nilai murni atau kemanusiaan serta peraturan social.
Konfusius berpendapat seseorang insan mestilah memiliki satu garis panduan tentang tingkah
laku yang berdasarkan nilai-nilai abstrak untuk menjadi manusia yang super (Chun Tze)iaitu
Peribadi Agung. Beliau telah menamakan nilai-nilai abstrak ini sebagaiWu Chang (Five
Virtues) iaitu sifat-sifat murni dari manusia atau etika manusia yang terdiri daripada Li
(Principle) atau keserasian, Ren Jen (Humanity) atau perikemanusiaan, Xin (Faithfulness) atau
Kebolehpercayaan,

atau

Keikhlasan, Yi

(Honesty) atau

Amanah

atau

keadilan

dan Zhi

(Wisdom)atau kebijaksanaan. Jelas menunjukkan beliau amat menekankan nilai-nilai akhlak atau
moral yang mulia (Hoobler, 1993).
2.

Konsep Pendidikan Al-Ghazali

2.1.

Pembelajaran

Perhatian Al-Ghazali dari aspek pendidikan sangat besar terhadap ilmu dan mengajar,
kepercayaannya yang kuat bahawa mengajar yang benar adalah jalan untuk mendekatkan diri
kepada Allah, serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan Al-Ghazali menekankan
tentang beberapa aspek iaitu: aspek agama sufi, akhlak, urusan dunia iaitu aspek budaya dan
bekal hidup, dan aspek manfaat. Dalam proses pendidikan Al-Ghazali membahagi ilmu kepada
dua : pertama, ilmu fardhu ain iaitu ilmu yang wajib diketahui oleh setiap orang Islam. Ilmu-ilmu
agama dengan segala macamnya. Kedua, ilmu fardhu kifayah iaitu setiap ilmu yang diperlukan
oleh urusan dunia seperti kedoktoran, pertukangan, pertanian, politik dan lain-lain.[24]
Al-Ghazali membahagi ilmu-ilmu dan menyusun menurut keperluan dan kepentingannya bagi
pelajar dan sesuai dengan perbezaan nilai-nilai yang diletakkannya. Beliau meletakkan ilmu-ilmu
itu sesuai dengan realiti seperti yang dijelaskan di bawah ini;
Pertama, manfaat ilmu-ilmu itu untuk manusia dalam hidupnya menurut agama dan dalam
dunianya yang terakhir, iaitu sebab kesucian dirinya, kebaikan akhlaknya, dan kedekatannya
kepada Allah, serta kesiapan bagi dunia yang kekal. Kedua, sebesar manfaatnya untuk manusia
sebab keperluannya dan pelayanannya untuk ilmu-ilmu agama, misalnya ilmu bahasa dan ilmu
nahwu. Ketiga, sebesar manfaatnya untuk manusia dalam hidupnya di dunia, seperti kedokteran,
ilmu hitung, dan bermacam-macam ilmu perindustrian. Keempat, sebesar manfaatnya sebab
kebudayaannya dan mengambil kesenangan dengan ilmu-ilmu itu dan peranannya dalam
kehidupan sosialnya, seperti syiir, sejarah, politik, dan akhlak.[25]
Jelaslah bahawa metode pembelajaran Al-Ghazali terdapat dua kecenderungan :
1.

Kecenderungan religious sofistis, yang membuat beliau meletakkan ilmu-ilmu agama di atas
setiap

pemikirannya

dan

melihatnya

membersihkannya dari kotoran duniawi.

sebagai

alat

untuk

menyucikan

jiwa

dan

2.

Kecenderungan aktualitas manfaat yang tampak dalam tulisan-tulisannya walaupun ia


seorang sufi dan tidak suka kepada duniawi, Al-Ghazali beberapa kali mengulangi
penilaiannya terhadap ilmu-ilmu menurut kegunaannya untuk manusia, baik dunia maupun
akhirat.

2.2.

Pengajaran

Al-Ghazali amat menekankan terhadap pentingnya persiapan bahan pengajaran oleh guru. Ia
juga menekankan bahwa para guru harus mengamalkan ajaran-ajaran yang diajarkannya. Point
lainnya yang berkenaan dengan pentingnya seorang guru agar menarik perhatian dalam
mengembangkan dan mengajarkan pelajaran dengan cara bekerja sama dengan dengan para
siswa yang dengan cara demikian, para guru telah memberikan fasilitas dan kesempatan kepada
para siswa untuk memahami bahan pelajaran yang diajarkan.
Al-Ghazali selanjutnya mengingatkan para guru agar menghindari penyajian bahan pelajaran
yang rumit dan sulit terhadap para siswa permulaan, dan meminta para guru agar memulai
pelajaran dari yang paling mudah dan sederhana menuju kemata pelajaran yang sukar dan
kompleks.
Al-Ghazali selanjutnya mengingatkan para guru supaya memperhatikan tingkat daya pikiran
anak, menerangkan pelajaran dengan cara yang sejelas-jelasnya, dan mengajarkan ilmu
pengetahuan dengan cara berangsur-angsur.[28]
Al-Ghazali berpendapat bahawa guru yang sempurna akalnya, terpuji akhlaknya, yang layak
diberi amanah mengajar anak-anak pada umumnya maka guru mesti memilik sifat-sifat yang
diperlukan oleh jabatanya itu :
1.

Kasih sayang dan menyayangi, beliau menganjurkan hendaklah guru itu menempati

kedudukan ayah bagi murid, bahkan beliau berpendapat bahawa hak yang dimiliki guru atas
muridnya lebih besar daripada hak yang dimiliki orang tua atas anaknya.
2.

Guru tidak menuntut upah, tidak mengharapkan pujian, terima kasih, atau balas jasa dari

murid pada pertemuannya dalam mengajar.


3.

Guru menjadi penunjuk yang jujur dan sebagai teman bagi muridnya.

4.

Guru menjauhi kekejaman dalam melatih perangai-perangai murid, ertinya menegur murid

yang salah dengan cara yang bijak.


5.

Memberi semangat murid untuk memperoleh ilmu dari guru yang lain dengan tidak

membatasi atau fanatik kepada seorang guru tanpa menghiraukan guru yang lain.
6.

Guru hendaklah ia tidak melahirkan kelemahan dan tidak memberikan ilmu kepada murid

tanpa perhitungan, baik murid itu patut menerima atau tidak.


7.

Guru memberikan ilmu kepada muridnya yang jelas dan mudah yang sesuai dengan

umurnya.
8.

Guru berpegang kepada prinsip dan berusaha merealisirnya mestilah menjadi sifat-sifat guru

teladan.

2.3.

Pandangan Tentang Nilai

Selanjutnya al-Ghazali menggunakan pendekatan aksiologis dalam menilai.


1.

Ilmu yang tercela, banyak atau sedikit. Ilmu ini tidak ada manfaatnya bagi manusia di dunia

maupun diakhirat. Misalnya ilmu sihir, nujum dan ilmu pedukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan
membawa madharat dan meragukan terhadap kebenaran adanya Tuhan oleh kerana itu ilmu ini
harus dijauhi.
2.

Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit. Misalnya ilmu tauhid dan ilmu agama. Ilmu ini bila

dipelajari akan membawa seseorang kepada jiwa yang suci bersih serta dapat mendekatkan
kepada Allah.
3.

Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, yang tidak boleh diperdalam, karena ilmu ini dapat

membawa kepada kegoncangan iman, seperti ilmu falsafah.[30]


Al-Ghazali mendasarkan pemikirannya bahawa kurikulum pendidikan harus disusun dan
selanjutnya disampaikan kepada murid sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan
psikisnya. Pentahapan dalam kurikulum yang dirumuskan al-Ghazali ini sesuai dengan proses
pendidikan anak yang diajarkan oleh Nabi SAW.
a.

Usia 00-06 th. adalah masa asuhan orang tua.

b.

Usia 06-09 th. Adalah masa dimulainya pendidikan anak secara formal.

c.

Usia 09-13 th. Adalah masa pendidikan kesusilaan dan latihan kemandirian.

d.

Usia 13-16 th. Adalah masa evaluasi terhadap pendidikan yang telah berjalan sejak

pembiasaan, dimulainya pendidikan formal, pendidikan kesusilaan dan pendidikan latihan


kemandirian.
e.

Usia 16 th. Dan seterusnya, adalah pendidikan kedewasaan.

4.

RUMUSAN
Falsafah pendidikan yang diasaskan adalah untuk mengembangkan potensi individu yang

sempurna atau pun insan yang kamil dan seterusnya mewujudkan masyarakat yang harmonis
mengikut acuan sesuatu falsafah. Konsep falsafah pendidikan Barat dan Timur sama ada
matlamat untuk mewujudkan individu yang sempurna melalui pendidikan. Walaupun terdapat
perbezaan-perbezaan dalam proses pembelajaran dan pengajaran di peringkat sekolah.
Falsafah pendidikan Barat bersandarkan fahaman sekuler yang memisahkan antara urusan
dunia dan akhirat. Ukuran terhadap sesuatu yang benar dan bernilai adalah bergantung kepada
penilaian akal semata-mata tanpa nas atau dalil naqli. Kebanyakan sumber pemikirannya adalah
berdasarkan himpunan pengalaman. Oleh kerana itu manusia perlu diberi bekalan ilmu kehidupan
yang secukupnya sebagai bekalan untuk mereka melangsungkan kehidupan.

Falsafah pendidikan Islam pula bersandarkan kepada Al-Quran dan Hadist di samping
gagasan ideanya menggabungkan pendidikan material dan spiritual atau unsure dunia dan akhirat
secara menyeluruh. Dalam Islam menegaskan bahawa kehidupan yang berlangsung didunia ini
merupakan jamabatan menuju ke akhirat. Oleh kerana itu sewajarnya kepada setiap individu
dibekalkan dengan ilmu yang cukup merangkumi ilmu dunia dan ilmu akhirat.
Falsafah pendidikan China yang dipelopori oleh Konfusius telah berkembang bukan
sebagai satu agama, tetapi sebagai satu falsafah perikemanusiaan. Confucius merupakan
seorang guru bernilai perikemanusiaan yang telah merancang untuk mengembangkan satu
tanggapan manusia iaitu membentuk masyarakat yang sempurna yang bebas daripada pengaruh
kuasa-kuasa ghaib.