Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Penyakit Tuberculosis Paru (TB-Paru) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Menurut WHO tahun
2007 menunjukkan bahwa Tuberculosis Paru merupakan penyebab kematian pada semua golongan usia
dari golongan penyakit infeksi. Antara tahun telah dilakukan survei prevalensi dengan hasil 0,4% - 0,6%
penyakit Tuberculosis Paru menyerang sebagian besar kelompok usia produktif kerja dengan penderita
Tuberculosis Paru. Tuberkolusis paru masih merupakan problem kesehatan masyarakat terutama pada
Negara yang sedangkan berkembang. Angka kematian sejak mulai berkurang sejak di terapkan program
pengobatan pemberian gizi dan tata cara kehidupan penderita. Keadaan penderita membaik semenjak di
temukankannya streptomisin dan macam obat-obat anti tuberkulin pada tahun berikutnya.
B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas kasus Tubbercolusis membutuhkan penanganan yang lebih serius,
penulis membahas masalah ini dalam bentuk asuhan keperawatan dengan gangguan sistem pernafasan
Tuberculosis Paru.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang sebagian besar disebabkan oleh kuman mycobacterium
tuberkulosis, kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara pernafasan ke dalam
paru. Kemudian kuman tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lain melalui sistem peredaran
darah. Sistem saluran limfe, melalui saluran nafas (bronchi) atau penyebaran langsung ke bagian-bagian
tubuh lainnya.
B.

Etiologi

Penyebab tuberkulosis adalah mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran
panjang 1 4 /um dan tebal 0,3 0,6 /um. Sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak lipid. Lipid inilah
yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin. Hal ini terjadi karena kuman
berada dalam sifat dormant (tidur). Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni
dalam sitoplasma makrofag. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih
menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian

apikal paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi
penyakit tuberculosis. (Departemen Kesehatan RI, 2004 )
C.

Patofisiologi/Penularan

Daya penularan dari seorang penderita tuberculosis ditentukan oleh banyaknya kuman yang terdapat dalam
penderita, persebaran dari kuman-kuman tersebut dalam udara serta dikeluarkan bersama dahak berupa
droplet dan berada di udara di sekitar penderita tuberculosis. Dan kuman dapat terlihat langsung dengan
mikroskop pada sediaan dahaknya penderita BTA positif adalah sangat menular.
Penderita tuberculosis eksterna paru tidak menular, kecuali penderita itu menderita tuberculosis paru.
Penderita tuberculosis BTA positif mengeluarkan kuman-kuman ke udara dalam bentuk droplet yang
sangat kecil pada waktu batuk atau bersin. Droplet yang sangat kecil ini mengering dengan cepat dan
menjadi droplet yang mengandung kuman tuberculosis dan dapat tetap bertahan di udara selama beberapa
jam.
Droplet yang mengandung kuman ini dapat terhisap oleh orang lain jika kuman tersebut sudah menetap
dalam paru dari orang yang menghirupnya, mereka mulai membelah diri (berkembang biak) dan terjadi
infeksi, ini adalah cara bagaimana infeksi tersebut menyebar dari satu orang ke orang lain. Orang yang
serumah dengan penderita Tuberculosis Paru BTA positif adalah orang yang besar kemungkinan terpapar
dengan kuman tuberculosis. (Suparman waspadji Sarwono, 2005)
D.

Epidemiologi

Tuberculosis Paru masih merupakan problem kesehatan masyarakat terutama di negara-negara yang
sedang berkembang. Angka kematian sejak awal abad ke 20 mulai berkurang. Sejak ditetapkannya prinsip
pengobatan dengan perbaikan gizi dan tata cara kehidupan penderita. Keadaan penderita lebih baik sejak
ditemukannya obat streptomycin. ( Doenges E. Marilynn, 2002)
Penyakit Tuberculosis Paru sebagian besar menyerang usia produktif kerja yang di atas 25 tahun dengan
ekonomi lemah dan sebagian besar orang yang telah terinfeksi (80 90). Pada umumnnya 2 atau 3 % dari
mereka yang baru terkena infeksi akan timbul tuberkulosis paru-paru.
Bila mempertimbangkan kepekaan seseorang terhadap tuberculosis, maka harus diperiksa dua faktor resiko
:
a.

Resiko mendapatkan infeksi.

b.

Resiko timbulnya penyakit klinik, tergantung dari faktor-faktor berikut.

Infeksi diantara masyarakat.

Kepadatan penduduk.

Keadaan sosial kurang baik.

Pengobatan yang tidak teratur.

E.

Gambaran Klinik/Gejala

Gejala-gejala paling umum pada penderita Tuberculosis Paru adalah :

1.

Demam

Biasanya subfebris menyerupai demam influenza dan kadang-kadang panas badan dapat mencapai 40 41
0C serangan demam dapat sembuh kembali begitulah seterusnya hilang timbulnya demam influenza ini,
sehingga klien merasa tidak terbebas dari serangan demam influenza. Dan keadaan ini sangat dipengaruhi
daya tahan tubuh penderita dan berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk.
2.

Batuk

Gejala ini banyak ditemukan. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus, batuk ini diperlukan untuk
membuang produk-produk radang keluar karena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama.
Mungkin saja bentuk baru ada setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah bermingguminggu atau berbulan-bulan peradangan bermula. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non produktif)
kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum) keadaan berlanjut adalah
batuk darah (hemoptoe) karena terdapat pembuluh daran yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada
tuberculosis terjadi pada kavitasi, tapi juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
Pada penyakit yang ringan (baru timbul) belum dirasakan sesak nafas, sesak nafas akan ditemukan pada
penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru-paru.
3.

Nyeri dada

Gejala ini agak jarang ditemukan nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga
menimbulkan pleuritis.
4.

Malaise

Penyakit tuberculosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia
(tidak ada nafsu makan). Badan semakin kurus (berat badan turun), sakit kepala, meriang, nyeri otot,
keringat malam dan lain-lain. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara
tidak teratur.
F.

Penanganan

Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan fisis penderita sering tidak menunjukkan suatu kelainan. Tempat kelainan yang paling
dicurigai adalah bagian apeks (puncak) paru. bila dicurigai adanya infiltrat yang agak luas. Didapatkan
perkusi yang redup dan auskultasi suara nafas yang bronkial. Akan didapatkan juga suara nafas tambahan
berupa ronki basah kasar dan nyaring. Tetapi bila infiltrat ini diliputi oleh penebalan pleura, suara nafasnya
menjadi vesikuler melemah. Bila terdapat kavitas yang cukup besar, perkusi memberikan suara hipersonor
atau timpani dan auskultasi memberikan suara amforik.
Pada tuberculosis yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi dan retraksi otot-otot
interkostal. Bagian paru yang sakit jadi menciut dan menarik isi mediastinum atau paru lainnya. Paru yang
menjadi lebih hiperinflasi bila jaringan fibrotik amat luas yakni lebih dari setengah jumlah jaringan paruparu, akan terjadi pengecilan daerah aliran darah paru sehingga meningkatnya tekanan arteri pulmonalis
(hipertensi pulmonal) lalu akan terjadi corpulmonal dan akan mengakibatkan gagal jantung kanan. Di

sini akan didapatkan tanda-tanda kor pulmonal dengan gagal jantung kanan seperti : Tachipnoe,
tachikardia, sianosis, tekanan vena jugularis meningkat, hepatomegali, asites dan edema.
Bila tuberculosis mengenai pleura sering terbentuk efusi pleura. Paru yang sakit terlihat agak tertinggal
dalam pernafasan. Perkusi memberikan suara pekak. Auskultasi memberikan suara nafas yang lemah
sampai tidak terdengar sama sekali.
1.)

Pemeriksaan bakteriologis

Sputum

Tanda pasti penderita tuberculosis ditetapkan dengan pemeriksaan kultur, namun biaya mahal dan
membutuhkan waktu 6 8 minggu. Pemeriksaan dahak ini lebih cepat dan lebih murah. Pemeriksaan
tersebut berupa pemeriksaan mikroskopis dari dahak yang telah dibuat sediaan apus dan diwarnai secara
Ziehl Nelson bila kuman basil tahan asam dijumpai dua kali dari tiga kali pemeriksaan penderita disebut
penderita BTA positif. Pemeriksaan sputum secara mikroskopis ini merupakan satu-satunya cara dimana
diagnosis dapat dipastikan ini sangat penting untuk dilaksanakan mengingat ketepatan dan efesiensinya
dalam menentukan penderita tuberculosis.
2.)

Pemeriksaan radiologi (foto rontgen).

Diagnosis yang didasarkan pada pemeriksaan radiologi (foto rontgen) belum merupakan diagnosis pasti.
Kelainan-kelainan yang dijumpai pada foto rontgen thorax mungkin dapat disebabkan oleh tuberculosis
atau keadaan lain. Dimana gambaran pada foto rontgen tersebut tidak selalu spesifik untuk tuberculosis.
Pada beberapa orang yang sebelumnya menderita tuberculosis dan sekarang sudah sembuh (sebab itu tidak
perlu pengobatan) dapat mempunyai gambaran foto rontgen thorax seperti tuberculosis yang memerlukan
pengobatan. Pemeriksaan foto rontgen thorax mungkin berguna pada penderita-penderita suspek yang
belum pernah diobati sebelumnya dengan hasil pemeriksaan sputum negatif.
3.)

Tes tuberkulin

Tes tuberkulin hanya mempunyai nilai yang terbatas dalam pekerjaan klinis. Terutama bila penyakit
tuberculosis banyak dijumpai suatu hasil tes yang positif tidak selalu diikuti dengan penyakit. Demikian
juga hasil tes negatif tidak selalu menyingkirkan tuberculosis. Tes tuberkulin ini mungkin hanya berguna
dalam menentukan diagnosis dari penderita-penderita yang sputum negatif (terutama pada anak-anak yang
mempunyai kontak dengan seorang penderita tuberkulosis yang menular). Namun penderita-penderita
tersebut harus diperiksa oleh dokter yang berpengalaman.
Pengobatan
Pengobatan tuberculosis adalah memutuskan rantai penularan dengan menyembuhkan penderita
tuberculosis paling sedikit 85 % dari seluruh kasus tuberculosis BTA positif yang ditemukan dan mencegah
resistensi. Tata cara pemberian obat tuberculosis paru.
DIAGNOSA KEPERAWATAN

I.

Diagnosa

Bersihan Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan

secret
Tujuan :

Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3 hari klien akan bernafas dengan baik

Intervensi

1.

2.

Beri posisi semi fowler.

3.

Ajari klien untuk batuk efektif.

1.

Rasional

Kaji fungsi pernafasan, bunyi nafas.

Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan atelektasis,ronchi,

menunjukkan akumulasi sekret.


2.

Posisi semi fowler membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan

upaya pernafasan.
3.
II.

Diagnosa

Batuk efektif salah satu cara yang baik dan efektif mengeluarkan lendir.
:

Gangguan Pola tidur berhubungan dengan peningkatan stimulasi pusat

jaga
Tujuan :

Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3 hari klien akan tidurnya membaik

Intervensi

1.

2.

Hindari tindakan saat klien tidur.

3.

Ciptakan lingkungan yang tenang bagi klien.

1.

2.

Agar klien tidak terganggu sehingga kebutuhan tidurnya terpenuhi.

3.

Lingkungan yang tenang bagi klien untuk meningkatkan kebutuhan tidur dan

Rasional

Kaji kebiasaan tidur.

Untuk mengidentifikasi intervensi selanjutnya.

istirahat.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan

Penyakit Tuberculosis Paru (TB-Paru) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Menurut WHO tahun
2007 menunjukkan bahwa Tuberculosis Paru merupakan penyebab kematian pada semua golongan usia
dari golongan penyakit infeksi. Antara tahun telah dilakukan survei prevalensi dengan hasil 0,4% - 0,6%
penyakit Tuberculosis Paru menyerang sebagian besar kelompok usia produktif kerja dengan penderita
Tuberculosis Paru.
Penyakit Tuberculosis Paru adalah suatu penyakit menular, masalah yang terjadi pada klien pola nafas
tidak efektif, resiko penularan terhadap keluarga dan orang lain perlu mendapat perhatian secara seksama.
B.

Saran

Pendidikan/penyuluhan kesehatan perlu ditingkatkan dan dilaksanakan secara intensif kepada : individu,
keluarga, kelompok masyarakat, tentang cara penularan dan cara pencegahan, pemberantasan,

penanggulangan, pengobatan penyakit Tuberculosis Paru, agar masyarakat dapat berperan serta aktif untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya serta dapat segera memeriksakan kesehatannya.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito Lynda Juall, 2006, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, edisi 2, penerbit EGC,
Jakarta.
Departemen Kesehatan RI, 2004, Pedoman Penaykit Tuberculosis dan Penanggulangan, , edisi 4.
Doenges E. Marilynn, dkk, Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3, penerbit EGC, Jakarta
http://scrib.com.
Suparman, Waspadji Sarwono 2005, Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, FKUI, Jakarta.

http://modulkesehatan.blogspot.co.id/2012/12/makalah-tb-paru.html,diakses 23 Juni 2016,jam 08.00


WIB

MAKALAH TB PARU
31DEC
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan
oleh Mycobakterium tuberculosis, suatu basil tahan asam yang ditularkan melalui udara (Asih, 2004).
Penyakit ini ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Komplikasi.
Penyakit TB paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi seperti: pleuritis,
efusi pleura, empiema, laryngitis dan TB usus.
Penderita tuberkulosis di kawasan Asia terus bertambah. Sejauh ini, Asia termasuk kawasan dengan
penyebaran tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia. Setiap 30 detik, ada satu pasien di Asia meninggal
dunia akibat penyakit ini. Sebelas dari 22 negara dengan angka kasus TB tertinggi berada di Asia, di
antaranya Banglades, China, India, Indonesia, dan Pakistan. Empat dari lima penderita TB di Asia
termasuk kelompok usia produktif (Kompas, 2007). Di Indonesia, angka kematian akibat TB mencapai
140.000 orang per tahun atau 8 persen dari korban meninggal di seluruh dunia. Setiap tahun,
terdapat lebih dari 500.000 kasus baru TB, dan 75 persen penderita termasuk kelompok usia

produktif. Jumlah penderita TB di Indonesia merupakan ketiga terbesar di dunia setelah India dan
China.
Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Stressor tersebut
secara simultan mempengaruhi keadaan fisik dan mental ibu hamil. Efek TB pada kehamilan
tergantung pada beberapa faktor antara lain tipe, letak dan keparahan penyakit, usia kehamilan saat
menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil, ada tidaknya penyakit penyerta,
status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB. Selain itu,
risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran
prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB
kongenital).
Mengingat akan bahaya TB paru dan pentingnya memberikan pelayanan pada ibu untuk
mempersiapkan kehamilan, terutama untuk mendeteksi dini, memberikan terapi yang tepat serta
pencegahan dan penanganan TB pada masa prakonsepsi, maka dalam makalah ini akan di bahas
segala teori tentang TB paru dan hubungannya dengan masa prakonsepsi wanita untuk
mempersiapkan kehamilan. Selain itu, dalam makalah ini juga akan dibahas peranan bidan dalam
melaksanakan asuhan kebidanan prakonsepsi, utamanya terhadap klien penderita TB paru.

1.2 Rumusan Masalah


a. TB Paru
1.
2.
3.

Apa Definisi TB Paru?


Mengapa seseorang bisa sampai terkena penyakit TB Paru?
Bagaimana tanda dan gejala penyakit TB Paru?

4. Bagaimana hubungan antara TB Paru dengan kehamilan dan janin?

1.3 Tujuan Penulisan


1.
2.

Untuk menjelaskan Definisi TB Paru


Untuk menjelaskan penyebab penyakit TB Paru, tanda dan gejala serta patofisiologinya
dalam tubuh.
3.
Untuk menjelasan hubungan antara TB Paru dengan kehamilan.
4.
Untuk menjelaskan peran bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan masa prakonsepsi
utamanya terhadap penderita TB Paru.
1.4 Manfaat Penulisan
1.
2.

Untuk mengetahui definisi TB Paru.


Untuk mengetahui penyebab penyakit TB Paru, tanda dan gejala serta patofisiologinya dalam
tubuh.
3.
Untuk mengetahui hubungan antara TB Paru dengan kehamilan.

4.

Untuk mengetahui peran bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan masa prakonsepsi
utamanya terhadap penderita TB Paru.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru yang disebabkan
oleh Mycobakterium tuberculosis, yaitu bakteri tahan asam yang ditularkan melalui udara yang
ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Mycobacterium
tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh
lainnya yang bertekanan parsial tinggi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi
dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus limfe.
Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat mengalami
penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun.

2.2 Etiologi
TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan asam
yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai
penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium.

2.3 Tanda Dan Gejala


1. Tanda
a. Penurunan berat badan
b. Anoreksia
c. Dispneu
d. Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning.
2. Gejala
a. Demam
Biasanya menyerupai demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh
penderita dengan berat-ringannya infeksi kuman TBC yang masuk.

b. Batuk
Terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk kering kemudian setelah
timbul peradangan menjadi batuk produktif (menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa
batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada ulkus
dinding bronkus.
c.Sesak nafas.
Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah
bagian paru.
d. Nyeri dada
Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan pleuritis)
e.Malaise
Dapat berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan turun, sakit kepala, meriang, nyeri otot,
keringat malam.

2.4 Patofisiologi
Pada tuberculosis, basil tuberculosis menyebabkan suatu reaksi jaringan yang aneh di dalam paruparu meliputi: penyerbuan daerah terinfeksi oleh makrofag, pembentukan dinding di sekitar lesi oleh
jaringan fibrosa untuk membentuk apa yang disebut dengan tuberkel. Banyaknya area fibrosis
menyebabkan meningkatnya usaha otot pernafasan untuk ventilasi paru dan oleh karena itu
menurunkan kapasitas vital, berkurangnya luas total permukaan membrane respirasi yang
menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru secara progresif, dan rasio ventilasi-perfusi yang
abnormal di dalam paru-paru dapat mengurangi oksigenasi darah.

2.5 Pemeriksaan Penunjang


Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk menunjukkan
sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan sering digunakan dalam Screening TBC.
Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%. Pembacaan
hasil tuberkulin dilakukan setelah 48 72 jam; dengan hasil positif bila terdapat indurasi diameter
lebih dari 10 mm, meragukan bila 5-9 mm. Uji tuberkulin bisa diulang setelah 1-2 minggu. Pada anak
yang telah mendapat BCG, diameter indurasi 15 mm ke atas baru dinyatakan positif, sedangkan pada
anak kontrak erat dengan penderita TBC aktif, diameter indurasi 5 mm harus dinilai positif. Alergi
disebabkan oleh keadaan infeksi berat, pemberian immunosupreson, penyakit keganasan (leukemia),
dapat pula oleh gizi buruk, morbili, varicella dan penyakit infeksi lain.

Gambaran radiologis yang dicurigai TB adalah pembesaran kelenjar nilus, paratrakeal, dan
mediastinum, atelektasis, konsolidasi, efusipieura, kavitas dan gambaran milier. Bakteriologis, bahan
biakan kuman TB diambil dari bilasan lambung, namun memerlukan waktu cukup lama.
Serodiagnosis, beberapa diantaranya dengan cara ELISA (Enzyime Linked Immunoabserben Assay)
untuk mendeteksi antibody atau uji peroxidase anti peroxidase (PAP) untuk menentukan IgG
spesifik. Teknik bromolekuler, merupakan pemeriksaan sensitif dengan mendeteksi DNA spesifik yang
dilakukan dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Uji serodiagnosis maupun
biomolekular belum dapat membedakan TB aktif atau tidak.
Tes tuberkulin positif, mempunyai arti :
1.

Pernah mendapat infeksi basil tuberkulosis yang tidak berkembang menjadi penyakit.

2.

Menderita tuberkulosis yang masih aktif

3.

Menderita TBC yang sudah sembuh

4.

Pernah mendapatkan vaksinasi BCG

5.

Adanya reaksi silang (cross reaction) karena infeksi mikobakterium atipik.

2.6. Epidemiologi Dan Penularan TBC


Dalam penularan infeksi Mycobacterium tuberculosis hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1.

Reservour, sumber dan penularan

Manusia adalah reservoar paling umum, sekret saluran pernafasan dari orang dengan lesi aktif
terbuka memindahkan infeksi langsung melalui droplet.
2.

Masa inkubasi

Yaitu sejak masuknya sampai timbulnya lesi primer umumnya memerlukan waktu empat sampai
enam minggu, interfal antara infeksi primer dengan reinfeksi bisa beberapa tahun.
3.

Masa dapat menular

Selama yang bersangkutan mengeluarkan bacil Turbekel terutama yang dibatukkan atau dibersinkan.
4.

Immunitas

Anak dibawah tiga tahun paling rentan, karena sejak lahir sampai satu bulan bayi diberi vaksinasi
BCG yang meningkatkan tubuh terhadap TBC.

2.7 Stadium TBC


1.

Kelas 0

Tidak ada jangkitan tuberkulosis, tidak terinfeksi (tidak ada riwayat terpapar, reaksi terhadap tes kulit
tuberkulin tidak bermakna).
1.

Kelas 1

Terpapar tuberkulosis, tidak ada bukti terinfeksi (riwayat pemaparan, reaksi tes tuberkulosis tidak
bermakna)
1.

Kelas 2

Ada infeksi tuberkulosis, tidak timbul penyakit (reaksi tes kulit tuberkulin bermakna, pemeriksa bakteri
negatif, tidak bukti klinik maupun radiografik).
Status kemoterapi (pencegahan) :

1.

Tidak ada
Dalam pengobatan kemoterapi
Komplit (seri pengobatan dalam memakai resep dokter)
Tidak komplit
Kelas 3

Tuberkuosis saat ini sedang sakit (Mycobacterium tuberkulosis ada dalam biakan, selain itu reaksi
kulit tuberkulin bermakna dan atau bukti radiografik tentang adanya penyakit). Lokasi penyakit : paru,
pleura, limfatik, tulang dan/atau sendi, kemih kelamin, diseminata (milier), menigeal, peritoneal dan
lain-lain.
Status bakteriologis :
a.

b.

Positif dengan :
Mikroskop saja
Biakan saja
Mikroskop dan biakan
Negatif dengan :
Tidak dikerjakan

Status kemoterapi :
Dalam pengobatan kemoterapi sejak kemoterapi diakhiri, tidak lengkap reaksi tes kulit tuberkulin :
a.

Bermakna

b.
1.

Tidak bermakna
Kelas 4

Tuberkulosis saat ini tidak sedang menderita penyakit (ada riwayat mendapat pengobatan
pencegahan tuberkulosis atau adanya temuan radiografik yang stabil pada orang yang reaksi tes kulit
tuberkulinya bermakna, pemeriksaan bakteriologis, bila dilakukan negatif. Tidak ada bukti klinik
tentang adanya penyakit pada saat ini).
Status kemoterapi :
a.

Tidak mendapat kemoterapi

b.

Dalam pengobatan kemoterapi

c.

Komplit

d.

Tidak komplit

1.

Kelas 5

Orang dicurigai mendapatkan tuberkulosis (diagnosis ditunda)


Kasus kemoterapi :
a.

Tidak ada kemoterapi

b.

Sedang dalam pengobatan kemoterapi.

2.8 Komplikasi
Komplikasi Penyakit TB paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi seperti:
pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis,TB usus.
Menurut Dep.Kes (2003) komplikasi yang sering terjadi pada penderita TB Paru stadium lanjut: 1)
Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena
syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. 2) Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial. 3)
Bronkiectasis dan fribosis pada Paru. 4) Pneumotorak spontan: kolaps spontan karena kerusakan
jaringan Paru. 5) Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan
sebagainya. 6) Insufisiensi Kardio Pulmoner
2.9 Penanganan
a.

Promotif

1.

Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC

2.
Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan, cara
pencegahan, faktor resiko
3.

Mensosialisasiklan BCG di masyarakat.

b.

Preventif

1.

Vaksinasi BCG

2.

Menggunakan isoniazid (INH)

3.

Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.

4.

Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara dini.

c.

Kuratif

Pengobatan tuberkulosis terutama pada pemberian obat antimikroba dalam jangka waktu yang lama.
Obat-obat dapat juga digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit klinis pada seseorang yang
sudah terjangkit infeksi. Penderita tuberkulosis dengan gejala klinis harus mendapat minuman dua
obat untuk mencegah timbulnya strain yang resisten terhadap obat. Kombinasi obat-obat pilihan
adalah isoniazid (hidrazid asam isonikkotinat = INH) dengan etambutol (EMB) atau rifamsipin (RIF).
Dosis lazim INH untuk orang dewasa biasanya 5-10 mg/kg atau sekitar 300 mg/hari, EMB, 25 mg/kg
selama 60 hari, kemudian 15 mg/kg, RIF 600 mg sekali sehari. Efek samping etambutol adalah
Neuritis retrobulbar disertai penurunan ketajaman penglihatan. Uji ketajaman penglihatan dianjurkan
setiap bulan agar keadaan tersebut dapat diketahui. Efek samping INH yang berat jarang terjadi.
Komplikasi yang paling berat adalah hepatitis. Resiko hepatitis sangat rendah pada penderita
dibawah usia 20 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 60 tahun keatas. Disfungsi hati, seperti
terbukti dengan peningkatan aktivitas serum aminotransferase, ditemukan pada 10-20% yang
mendapat INH. Waktu minimal terapi kombinasi 18 bulan sesudah konversi biakan sputum menjadi
negatif. Sesudah itu masuk harus dianjurkan terapi dengan INH saja selama satu tahun.
Baru-baru ini CDC dan American Thoracis Societty (ATS) mengeluarkan pernyataan mengenai
rekomendasi kemoterapi jangka pendek bagi penderita tuberkulosis dengan riwayat tuberkulosis paru
pengobatan 6 atau 9 bulan berkaitan dengan resimen yang terdiri dari INH dan RIF (tanpa atau
dengan obat-obat lainnya), dan hanya diberikan pada pasien tuberkulosis paru tanpa komplikasi,
misalnya : pasien tanpa penyakit lain seperti diabetes, silikosis atau kanker didiagnosis TBC setelah
batuk darah, padahal mengalami batu dan mengeluarkan keringat malam sekitar 3 minggu.

2.10 Tuberkulosis pada kehamilan

2.10.1 Pengaruh tuberculosis terhadap kehamilan


Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Stressor tersebut
secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Lebih dari 50 persen kasus TB paru
adalah perempuan dan data RSCM pada tahun 1989 sampai 1990 diketahui 4.300 wanita hamil,150
diantaranya adalah pengidap TB paru (M Iqbal, 2007 dalam http://www.mail-archive.com/)
Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa factor antara lain tipe, letak dan keparahan
penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil, ada
tidaknya penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan
pengobatan TB. Status nutrisi yang jelek, hipoproteinemia, anemia dan keadaan medis maternal
merupakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal.
Usia kehamilan saat wanita hamil mendapatkan pengobatan antituberkulosa merupakan factor yang
penting dalam menentukan kesehatan maternal dalam kehamilan dengan TB. Jika pengobatan
tuberkulosis diberikan awal kehamilan, dijumpai hasil yang sama dengan pasien yang tidak hamil,
sedangkan diagnosa dan perewatan terlambat dikaitkan dengan meningkatnya resiko morbiditas
obstetric sebanyak 4x lipat dan meningkatnya resiko preterm labor sebanyak 9x lipat. Status sosioekonomi yang jelek, hypo-proteinaemia, anemia dihubungkan ke morbiditas ibu.
Kehamilan dapat berefek terhadap tuberculosis dimana peningkatan diafragma akibat kehamilan
akan menyebabkan kavitas paru bagian bawah mengalami kolaps yang disebut pneumo-peritoneum.
Pada awal abad 20, induksi aborsi direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB.
Selain paru-paru, kuman TB juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti usus, selaput otak,
tulang, dan sendi, serta kulit. Jika kuman menyebar hingga organ reproduksi, kemungkinan akan
memengaruhi tingkat kesuburan (fertilitas) seseorang. Bahkan, TB pada samping kiri dan kanan
rahim bisa menimbulkan kemandulan. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran pada pengidap TB atau
yang pernah mengidap TB, khususnya wanita usia reproduksi. Jika kuman sudah menyerang organ
reproduksi wanita biasanya wanita tersebut mengalami kesulitan untuk hamil karena uterus tidak siap
menerima hasil konsepsi.
Harold Oster MD,2007 dalam http://www.okezone.com/index.php mengatakan bahwa TB paru (baik
laten maupun aktif) tidak akan memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari. Namun, jika
kuman menginfeksi endometrium dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Tapi tidak berarti
kesempatan untuk memiliki anak menjadi tertutup sama sekali, kemungkinan untuk hamil masih tetap
ada. Idealnya, sebelum memutuskan untuk hamil, wanita pengidap TB mengobati TB-nya terlebih
dulu sampai tuntas. Namun, jika sudah telanjur hamil maka tetap lanjutkan kehamilan dan tidak perlu
melakukan aborsi.

2.10.2 Pengaruh tuberkulosis terhadap janin


Menurut Oster, 2007 jika kuman TB hanya menyerang paru, maka akan ada sedikit risiko terhadap
janin. Untuk meminimalisasi risiko,biasanya diberikan obat-obatan TB yang aman bagi kehamilan
seperti Rifampisin, INH dan Etambutol. Kasusnya akan berbeda jika TB juga menginvasi organ lain di

luar paru dan jaringan limfa, dimana wanita tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum
melahirkan. Sebab kemungkinan bayinya akan mengalami masalah setelah lahir. Penelitian yang
dilakukan oleh Narayan Jana, KalaVasistha, Subhas C Saha, Kushagradhi Ghosh, 1999
dalam http://proquest.umi.com/pqdweb tentang efek TB ekstrapulmoner tuberkuosis, didapatkan hasil
bahwa tuberkulosis pada limpha tidak berefek terhadap kahamilan, persalinan dan hasil konsepsi.
Namun juka dibandingkan dengan kelompok wanita sehat yang tidak mengalami tuberculosis selama
hamil mempunyai resiko hospitalisasi lebih tinggi (21% : 2%), bayi dengan APGAR skore rendah
segera setelah lahir (19% : 3%), berat badan lahir rendah (<2500 gram).
Selain itu, risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus, terhambatnya pertumbuhan janin,
kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion
(disebut TB congenital). Gejala TB congenital biasanya sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3
kehidupan bayi,seperti prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah, hati dan limpa
membesar. Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas,apakah bayi tertular saat masih di
perut atau setelah lahir.

2.10.3 Pengaruh kehamilan terhadap tuberkolosis


Pengetahuan akan meningkatnya diafragma selama kehamilan yang mengakibatkan kolapsnya paru
di daerah basal paru masih dipegang sampai abad 19. Awal abad ke-20, aborsi merupakan pilihan
terminasi pada wanita hamil dengan tuberculosis. Sekarang, TB diduga semakin memburuk selama
kehamilan, khususnya di hubungakann dengan status sosio-ekonomi jelek, imunodefisiensi atau
adanya penyakit penyerta. Kehilangan antibodi pelindung ibu selama laktasi juga menguntungkan
perkembangan TB. Akan tetapi, lebih banyak studi diperlukan untuk menyokong hipotesa.

2.10.4 Tes Diagnosis TB pada Kehamilan


Bakteri TB berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Karena itu
disebut basil tahan asam (BTA). Kuman TB cepat mati terpapar sinar matahari langsung,tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembap.
Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat melakukan dormant (tertidur lama selama beberapa tahun).
Penyakit TB biasanya menular pada anggota keluarga penderita maupun orang di lingkungan
sekitarnya melalui batuk atau dahak yang dikeluarkan si penderita. Hal yang penting adalah
bagaimana menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat.
Seseorang yang terpapar kuman TB belum tentu akan menjadi sakit jika memiliki daya tahan tubuh
kuat karena sistem imunitas tubuh akan mampu melawan kuman yang masuk. Diagnosis TB bisa
dilakukan dengan beberapa cara, seperti pemeriksaan BTA dan rontgen (foto torak). Diagnosis
dengan BTA mudah dilakukan,murah dan cukup reliable.
Kelemahan pemeriksaan BTA adalah hasil pemeriksaan baru positif bila terdapat kuman 5000/cc
dahak. Jadi, pasien TB yang punya kuman 4000/cc dahak misalnya, tidak akan terdeteksi dengan

pemeriksaan BTA (hasil negatif). Adapun rontgen memang dapat mendeteksi pasien dengan BTA
negatif, tapi kelemahannya sangat tergantung dari keahlian dan pengalaman petugas yang membaca
foto rontgen. Di beberapa negara digunakan tes untuk mengetahui ada tidaknya infeksi TB, melalui
interferon gamma yang konon lebih baik dari tuberkulin tes.
Diagnosis dengan interferon gamma bisa mengukur secara lebih jelas bagaimana beratnya infeksi
dan berapa besar kemungkinan jatuh sakit. Diagnosis TB pada wanita hamil dilakukan melalui
pemeriksaan fisik (sesuai luas lesi), pemeriksaan laboratorium (apakah ditemukan BTA?), serta uji
tuberkulin.
Uji tuberkulin hanya berguna untuk menentukan adanya infeksi TB, sedangkan penentuan sakit TB
perlu ditinjau dari klinisnya dan ditunjang foto torak. Pasien dengan hasil uji tuberkulin positif belum
tentu menderita TB. Adapun jika hasil uji tuberkulin negatif, maka ada tiga kemungkinan, yaitu tidak
ada infeksi TB, pasien sedang mengalami masa inkubasi infeksi TB, atau terjadi anergi.
Kehamilan tidak akan menurunkan respons uji tuberkulin. Untuk mengetahui gambaran TB pada
trimester pertama, foto toraks dengan pelindung di perut bisa dilakukan, terutama jika hasil BTA-nya
negatif.

2.10.5 Pengobatan TB pada kehamilan


Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada
umumnya. Menurut WHO, hampir semua OAT aman untuk kehamilan, kecuali streptomisin.
Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat
menembus barier placenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan
keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil
bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan
lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru yang disebabkan
oleh Mycobakterium tuberculosis, yaitu bakteri tahan asam yang ditularkan melalui udara yang
ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi.
TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan
asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai
penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium.
Tanda dan Gejala:

1. Tanda
a. Penurunan berat badan
b. Anoreksia
c. Dispneu
d. Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning.
2. Gejala
a. Demam
b. Batuk
c.Sesak nafas.
d. Nyeri dada
e.Malaise

Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Stressor
tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Efek TB pada kehamilan
tergantung pada beberapa faktor antara lain tipe, letak dan keparahan penyakit, usia kehamilan
saat menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil, ada tidaknya penyakit
penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB.
Jika kuman TB menyerang paru, maka risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus,
terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke
janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital).
Peran bidan dalam menangani klien dengan TB paru adalah dengan memberikan konseling
mengenai definisi, penyebab, cara pencegahan dan penularan serta terapi TB Paru, juga
menjelaskan pada klien tentang dampak yang ditimbulkan terhadap kehamilan. Di samping itu
juga menawarkan alternatif solusi dan melakukan asuhan kebidanan untuk wanita TB Paru masa
prakonsepsi dalam mempersiapkan kehamilannya.

3.2 Saran

Setiap pasangan yang akan merencanakan kehamilan, hendaknya berkonsultasi dulu


mengenai kondisi kesehatan kepada tenaga kesehatan, termasuk bidan. Hal ini bertujuan untuk
mendeteksi penyakit/kelainan yang mungkin dialami calon orang tua, sehingga dapat melakukan
tindakan yang lebih komprehensif dalam mengantisipasi dampak yang mungkin ditimbulkan dari
penyakit yang diderita, baik bagi ibu maupun janin yang dikandungnya.
Dalam menjalankan tugasnya, bidan melakukan Asuhan Kebidanan yang tidak hanya pada
ibu hamil dan bersalin, tapi juga pada wanita yang menginginkan kehamilan.

SUMBER :

Barbara,
C.L.,
1996, Perawatan
Medikal
Bedah
(suatu
pendekatan
proses
keperawatan) Bandung
Doengoes, M.., Rencana Asuhan Keperawatan. edisi 3. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Smeltzer and Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC
Adrian Taufik. 2009. Tuberkulosis Paru.

Diambil pada 16-12-2010. Pukul 09.26


http://ikm-uii.net46.net/download/_laporan_pendek/short%20report_TB_ 2009.pdf

Laily Arifin. 2007. Kehamilan dan Tuberkolosis

Diambil pada 14-12-2010, pukul 14.35


http://lely-nursinginfo.blogspot.com/2007/06/pregnancy-and-tuberculosis.html

Admin. 2008. TB Kehamilan

Diambil pada 14-12-2010, pukul 14.30


http://hatzsiahaan.blogspot.com/2008/05/tb-kehamilan.html

Admin. 2009. Tuberkulosis Paru.

Diambil pada tanggal 14-12-2010, pukul 14.45


http://askepasbid.blogspot.com/

Admin. 2010. TBC pada Ibu Hamil.

Diambil pada tanggal 15-12-2010, pukul 10.00


http://khanzima.wordpress.com/2010/04/11/tbc-pada-ibu-hamil/

Admin. 2008. TB Paru.

Diambil pada tanggal 16-12-2010, pukul 09.24


http://masdanang.co.cc/?p=34

https://zumrohhasanah.wordpress.com/2010/12/31/makalah-tb-paru/

Makalah
Tuberculosis (TBC)

Disusun oleh:

Kelompok 2
1.Dian Andini
2.Ega Ayu Prastika
3. Gracella Felicia Sipahutar
4.Yenti Novita Sary
5.Yani Hermawati

SEKOLAH MENEGAH KEJURUAN


YARSI MEDIKA
2014

DAFTAR ISI
Daftar Isi.I
Kata PengantarII

BAB I PENDAHULUA
Latar Belakang...............................................................................................
RumusanMasalah..................................................................................................
Tujuan..................................................................................................................

BAB II PEMBAHASA
pengertian dari penyakit Tuberculosis
Etiologi dari penyakit Tuberculosis
Apa yang menjadi agent, host dan environment penyakit Tuberculosis .
Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit Tuberculosis..
cara penularan Penyakit Tuberculosis
gejala dari penyakit Tuberculosis
cara mendiagnosa penyakit Tuberculosis
pencegahan Penyakit Tuberculosis
cara pengobatan Penyakit Tuberculosis
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................
B.Saran
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................

Kata pengantar
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puji bagi Allah yang telah
memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa
pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik.
Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita
yakni Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang tuberculosis
yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini
memuat tentang Penyakit tuberculosis yang sangat berbahaya bagi kesehatan

seseorang. Walaupun makalah ini kurang sempurna dan memerlukan perbaikan


tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang membangun. Terima kasih.

Tangerang, 13 november 2014

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa,


mycobacterium bovis serta Mycobacterium avium, tetapi lebih sering disebakan
oleh Mycobacterium tuberculosa. Pada tahun 1993, WHO telah mencanangkan
kedaruratan global penyakit tuberkulosis di dunia, karena pada sebagian besar
negara di dunia, penyakit tuberkulosis menjadi tidak terkendali. Di Indonesia
sendiri, penyakit tuberkulosis merupakan masalah kesehatan yang utama. Pada
tahun 1995, hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), menunjukkan bahwa
penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah
penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok
umur.
Di Indonesia sendiri, karena sulitnya mendiagnosa tuberkulosis pada anak, maka
angka kejadian tuiberkulosis pada anak belum diketahui pasti, namun bila angka
kejadian tuberkulosis dewasa tinggi dapat diperkirakan kejadian tuberkulosis
pada anak akan tinggi pula. Hal ini terjadi karena setiap orang dewasa dengan
BTA positif akan menularkan pada 10-15 orang dilingkungannya, terutama anakanak (Depkes RI, 2002).
Lingkungan rumah merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar
terhadap status kesehatan penghuninya (Notoatmodjo, 2003). Lingkungan rumah
merupakan salah satu faktor yang berperan dalam penyebaran kuman
tuberkulosis. Kuman tuberkulosis dapat hidup selama 1 2 jam bahkan sampai
beberapa hari hingga berminggu-minggu tergantung pada ada tidaknya sinar
ultraviolet, ventilasi yang baik, kelembaban, suhu rumah dan kepadatan penghuni
rumah.

B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :


Apa pengertian dari penyakit Tuberculosis ?
Bagaimana Etiologi dari penyakit Tuberculosis?
Apa yang menjadi agent, host dan environment penyakit Tuberculosis ?
Faktor apa saja yang mampengaruhi kejadaian penyakit Tuberculosis ?
Bagaimana cara penularan Penyakit Tuberculosis ?
Bagaimana gejala dari penyakit Tuberculosis ?

7. Bagaimana cara mendiagnosa penyakit Tuberculosis ?


8. Bagaimana pencegahan Penyakit Tuberculosis ?
9. Bagiamana cara pengobatan Penyakit Tuberculosis ?

C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu :


Untuk Mengetahui pengertian dari penyakit Tuberculosis
Untuk Mengetahui Etiologi dari penyakit Tuberculosis
Untuk Mengetahui agent, host dan environment dalam penular penyakit
Tuberculosis
Untuk Mengetahui Faktor apa saja yang mampengaruhi kejadaian penyakit
Tuberculosis
Untuk Mengetahui cara penularan penyakit Tuberculosis
Untuk Mengetahui gejala dari penyakit Tuberculosis
Untuk Mengetahui Diagnosa penyakit Tuberculosis
Untuk Mengetahui Pencegahan Penyakit Tuberculosis
Untuk Mengetahui pengobatan Penyakit Tuberculosis

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Pengertian Tuberculosis (TB)

Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru.
Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningens, ginjal, tulang,
dan nodus limfe (Suddarth, 2003). Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang bervariasi, akibat kuman
mycobacterium tuberkulosis sistemik sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi
terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Mansjoer, 2000).
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang menyerang pada saluran pernafasan yang
disebabkan

oleh

bakteri

yaitu

mycobacterium

tuberculosis,

(Smeltzer,

2002).

dapat

menyimpulkan bahwa, TB Paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman
mycobakterium tuberculosis yang menyerang saluran pernafasan terutama parenkim paru.

B.

Etiologi Penyakit Tuberculosis

Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman yang berbentuk batang
dengan ukuran panjang 1 4 m dan tebal 0,3 0,6 m dan digolongkan dalam basil tahan asam
(BTA). (Suyono, 2001)

C. Agent,Host
Tuberculosis

dan

Environment

Penular

Penyakit

Teori John Gordon, mengemukakan bahwa timbulnya suatu penyakit sangat dipengaruhi oleh tiga
faktor yaitu bibit penyakit (agent), penjamu (host), dan lingkungan (environment). Ketiga faktor
penting ini disebut segi tiga epidemiologi (Epidemiologi Triangle), hubungan ketiga faktor
tersebut digambarkan secara sederhana sebagai timbangan yaitu agent penyebab penyakit pada
satu sisi dan penjamu pada sisi yang lain dengan lingkungan sebagai penumpunya.
Bila agent penyebab penyakit dengan penjamu berada dalam keadaan seimbang, maka seseorang
berada dalam keadaan sehat, perubahan keseimbangan akan menyebabkan seseorang sehat atau
sakit, penurunan daya tahan tubuh akan menyebabkan bobot agent penyebab menjadi lebih berat
sehingga seseorang menjadi sakit, demikian pula bila agent penyakit lebih banyak atau lebih ganas
sedangkan faktor penjamu tetap, maka bobot agent penyebab menjadi lebih berat. Sebaliknya
bila daya tahan tubuh seseorang baik atau meningkat maka ia dalam keadaan sehat. Apabila
faktor lingkungan berubah menjadi cenderung menguntungkan agent penyebab penyakit, maka
orang akan sakit, pada prakteknya seseorang menjadi sakit akibat pengaruh berbagai faktor
berikut :

Agent
Mycobacterium tuberculosis adalah suatu anggota dari famili Mycobacteriaceae dan termasuk
dalam ordo Actinomycetalis. Mycobacterium tuberculosis menyebabkan sejumlah penyakit berat
pada manusia dan penyebab terjadinya infeksi tersering.
Masih terdapat Mycobacterium patogen lainnya, misalnya Mycobacterium leprae, Mycobacterium
paratuberkulosis dan Mycobacterium yang dianggap sebagai Mycobacterium non tuberculosis
atau tidak dapat terklasifikasikan (Heinz, 1993).
Di luar tubuh manusia, kuman Mycobacterium tuberculosis hidup baik pada lingkungan yang
lembab akan tetapi tidak tahan terhadap sinar matahari. Mycobacterium tuberculosis mempunyai
panjang 1-4 mikron dan lebar 0,2- 0,8 mikron. Kuman ini melayang diudara dan disebut droplet
nuclei. Kuman tuberkulosis dapat bertahan hidup pada tempat yang sejuk, lembab, gelap tanpa
sinar matahari sampai bertahun-tahun lamanya. Tetapi kuman tuberkulosis akan mati bila terkena
sinar matahari, sabun, lisol, karbol dan panas api (Atmosukarto & Soewasti, 2000).
Kuman tuberkulosis jika terkena cahaya matahari akan mati dalam waktu 2 jam, selain itu kuman
tersebut akan mati oleh tinctura iodi selama 5 menit dan juga oleh ethanol 80 % dalam waktu 2

sampai 10 menit serta oleh fenol 5 % dalam waktu 24 jam. Mycobacterium tuberculosis seperti
halnya bakteri lain pada umumnya, akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan kelembaban
yang tinggi. Air membentuk lebih dari 80 % volume sel bakteri dan merupakan hal essensial untuk
pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri. Kelembaban udara yang meningkat merupakan
media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen termasuk tuberkulosis.
Mycobacterium tuberculosis memiliki rentang suhu yang disukai, merupakan bakteri mesofilik
yang tumbuh subur dalam rentang 25 40 C, tetapi akan tumbuh secara optimal pada suhu 31-37
C. Pengetahuan mengenai sifat-sifat agent sangat penting untuk pencegahan dan penanggulangan
penyakit, sifat-sifat tersebut termasuk ukuran, kemampuan berkembang biak, kematian agent
atau daya tahan terhadap pemanasan atau pendinginan.
Agent adalah penyebab yang essensial yang harus ada, apabila penyakit timbul atau manifest,
tetapi agent sendiri tidak sufficient/memenuhi syarat untuk menimbulkan penyakit. Agent
memerlukan dukungan faktor penentu agar penyakit dapat manifest. Agent yang mempengaruhi
penularan penyakit tuberkulosis paru adalah kuman Mycobacterium tuberculosis. Agent ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pathogenitas, infektifitas dan virulensi.
Pathogenitas adalah daya suatu mikroorganisme untuk menimbulkan penyakit pada host.
Pathogenitas agent dapat berubah dan tidak sama derajatnya bagi berbagai host. Berdasarkan
sumber yang sama pathogenitas kuman tuberkulosis paru termasuk pada tingkat rendah.
Infektifitas adalah kemampuan suatu mikroba untuk masuk ke dalam tubuh host dan berkembang
biak didalamnya. Berdasarkan sumber yang sama infektifitas kuman tuberkulosis paru termasuk
pada tingkat menengah. Virulensi adalah keganasan suatu mikroba bagi host. Berdasarkan sumber
yang sama virulensi kuman tuberkulosis paru termasuk tingkat tinggi, jadi kuman ini tidak dapat
dianggap remeh begitu saja.

Host
Manusia merupakan reservoar untuk penularan kuman Mycobacterium tuberculosis, kuman
tuberkulosis menular melalui droplet nuclei. Seorang penderita tuberkulosis dapat menularkan
pada 10-15 orang (Depkes RI, 2002). Menurut penelitian pusat ekologi kesehatan (1991),
menunjukkan tingkat penularan tuberkulosis di lingkungan keluarga penderita cukup tinggi,
dimana seorang penderita rata-rata dapat menularkan kepada 2-3 orang di dalam rumahnya. Di
dalam rumah dengan ventilasi baik, kuman ini dapat hilang terbawa angin dan akan lebih baik lagi
jika ventilasi ruangannya menggunakan pembersih udara yang bisa menangkap kuman TB.

Menurut penelitian Atmosukarto dari Litbang Kesehatan (2000), didapatkan data bahwa Tingkat
penularan tuberkulosis di lingkungan keluarga penderita cukup tinggi, dimana seorang penderita
rata-rata dapat menularkan kepada 2-3 orang di dalam rumahnya.
Besar resiko terjadinya penularan untuk rumah tangga dengan penderita lebih dari 1 orang adalah
4 kali dibanding rumah tangga dengan hanya 1 orang penderita tuberkulosis.

Hal yang perlu diketahui tentang host atau penjamu meliputi karakteristik; gizi atau daya tahan
tubuh, pertahanan tubuh, higiene pribadi, gejala dan tanda penyakit dan pengobatan.
Karakteristik host dapat dibedakan antara lain; Umur, jenis kelamin, pekerjaan, keturunan,
pekerjaan, keturunan, ras dan gaya hidup.
Host atau penjamu; manusia atau hewan hidup, termasuk burung dan anthropoda yang dapat
memberikan tempat tinggal atau kehidupan untuk agent menular dalam kondisi alam (lawan dari
percobaan). Host untuk kuman tuberkulosis paru adalah manusia dan hewan, tetapi host yang
dimaksud dalam penelitia ini adalah manusia. Beberapa faktor host yang mempengaruhi penularan
penyakit tuberkulosis paru adalah; kekebalan tubuh (alami dan buatan), status gizi, pengaruh
infeksi HIV/AIDS.

Environment
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di luar diri host baik benda mati, benda hidup, nyata
atau abstrak, seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen-elemen termasuk
host yang lain. Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan non fisik, lingkungan fisik terdiri dari;
Keadaan geografis (dataran tinggi atau rendah, persawahan dan lain-lain), kelembaban udara,
temperatur atau suhu, lingkungan tempat tinggal.
Adapun lingkungan non fisik meliputi; sosial, budaya, ekonomi dan politik yang mempengaruhi
kebijakan pencegahan dan penanggulangan suatu penyakit.

D.

Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit Tuberculosis

Penyakit TBC pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : status sosial ekonomi,
status gizi, umur dan jenis kelamin untuk lebih jelasnya dapat kita jelaskan seperti uraian
dibawah ini:
1. Faktor Sosial Ekonomi.
Disini sangat erat dengan keadaan rumah, kepadatan tempat penghunian, lingkungan
perumahan dan sanitasi tempat bekerja yang buruk dapat memudahkan penularan TBC.
Pendapatan keluarga sangat erat juga dengan penularan TBC, karena pendapatan yang kecil
membuat orang tidak dapat hidup layak dengan memenuhi syarat-syarat kesehatan.
2. Status Gizi.
Keadaan kekurangan gizi akan mempengaruhi daya tahan tubuh sesoeranga sehingga
rentan terhadap penyakit termasuk TB-Paru. Keadaan ini merupakan faktor penting yang
berpengaruh dinegara miskin, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.
3. Umur.
Penyakit TB-Paru paling sering ditemukan pada usia muda atau usia produktif (15 50)
tahun. Dewasa ini dengan terjadinya transisi demografi menyebabkan usia harapan hidup lansia

menjadi lebih tinggi. Pada usia lanjut lebih dari 55 tahun sistem imunologis seseorang menurun,
sehingga sangat rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk penyakit TB-Paru.
4. Jenis Kelamin.
Penyakit TB-Paru cenderung lebih tinggi pada jenis kelamin laki-laki dibandingkan
perempuan. Menurut WHO, sedikitnya dalam jangka waktu setahun ada sekitar 1 juta perempuan
yang meninggal akibat TB-Paru, dapat disimpulkan bahwa pada kaum perempuan lebih banyak
terjadi kematian yang disebabkan oleh TB-Paru dibandingkan dengan akibat proses kehamilan dan
persalinan.
Pada jenis kelamin laki-laki penyakit ini lebih tinggi karena merokok tembakau dan minum
alkohol sehingga dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh, sehingga lebih mudah terpapar
dengan agent penyebab TB-Paru.

E.

Cara Penularan Penyakit Tuberculosis


Cara penularan tuberkulosis paru melalui percikan dahak (droplet) sumber penularan

adalah penderita tuberkulosis paru BTA(+), pada waktu penderita tuberkulosis paru batuk atau
bersin. Droplet yang mengandung kuman TB dapat bertahan di udara selama beberapa jam, sekali
batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam
ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah
percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman, percikan dapat bertahan
selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan.
Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TB tersebut dapat
menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe,
saluran nafas atau penyebaran langsung ke bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang
penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat
positif hasil pemeriksaan dahaknya maka makin menular penderita tersebut. Bila hasil
pemeriksaan dahaknya negatif maka penderita tersebut dianggap tidak menular.

F.

Gejala Penyakit Tuberculosis

1. Batuk : Terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Dimulai dari batuk kering kemudian setelah
timbul peradangan menjadi batuk produktif (menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa
batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada ulkus
dinding bronkus.
2. Sesak nafas (Dyspnea) : Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana
infiltrasinya sudah setengah bagian paru.
3. Nyeri dada : Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan pleuritis)
4. Demam : Biasanya menyerupai demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan
tubuh penderita dengan berat-ringannya infeksi kuman yang masuk.
5. Malaise (keadaan lesu) : Dapat berupa anoreksia (tidak ada nafsu makan), berat badan menurun,
sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.

G.

Diagnosa Penyakit Tuberculosis


Yang menjadi petunjuk awal dari tuberkulosis adalah foto rontgen dada. Penyakit ini

tampak sebagai daerah putih yang bentuknya tidak teratur dengan latar belakang hitam. Rontgen
juga bisa menunjukkan efusi pleura atau pembesaran jantung (perikarditis).

Pemeriksaan diagnostik untuk tuberkulosis adalah:


Tes kulit tuberkulin, disuntikkan sejumlah kecil protein yang berasal dari bakteri
tuberkulosis ke dalam lapisan kulit (biasanya di lengan). 2 hari kemudian dilakukan pengamatan
pada daerah suntikan, jika terjadi pembengkakand an kemerahan, maka hasilnya adalah positif.
Pemeriksaan dahak, cairan tubuh atau jaringan yang terinfeksi. Dengan ebuah jarum
diambil contoh cairan dari dada, perut, sendi atau sekitar jantung. Mungkin perlu dilakukan biopsi
untuk memperoleh contoh jaringan yang terinfeksi.
Untuk memastikan diagnosis meningitis tuberkulosis, dilakukan pemeriksaan reaksi rantai
polimerase (PCR) terhadap cairan serebrospinalis.Untuk memastikan tuberkulosis ginjal, bisa
dilakukan pemeriksaan PCR terhadap air kemih penderita atau pemeriksaan rontgen dengan zat
warna khusus untuk menggambarkan adanya massa atau rongga abnormal yang disebabkan oleh
tuberkulosis. Kadang perlu dilakukan pengambilan contoh massa tersebut untuk membedakan
antara kanker dan tuberkulosis.
Untuk memastikan diagnosis tuberkulosis pada organ reproduksi wanita, dilakukan
pemeriksaan panggul melalui laparoskopi. Pada kasus-kasus tertentu perlu dilakukan pemeriksaan
terhadap contoh jaringan hati, kelenjar getah bening atau sumsum tulang.

H.

Pencegahan Penyakit Tuberculosis


Sebenarnya seseorang bisa terhindar dari penyakit TBCdengan berpola hidup yang sehat

dan teratur. Dengan system pola hidup seperti itu diharapkan daya tubuh seseorang akan cukup
kuat untuk membersihkan perlindungan terhadap berbagai macam penyakit. Orang yang benarbenar sehat meskipun ia diserang kuman TBC, diperkirakan tidak akan mempan dan tidak akan
menimbulkan gejala TBC.
Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi penyakit tuberkulosis, mempertahankan
status kesehatan dengan asupan nutrisi yang cukup, minum susu yang telah dilakukan
pasteurisasi, isolasi jika pada analisa sputum terdapat bakteri hingga dilakukan pengobatan,
pemberian imunisasi BCG untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil
tuberkulosis virulen.

I.

Pengobatan Penyakit Tuberculosis

Jenis dan dosis OAT (Obat Anti Tuberculosis) :


a. Isoniazid (H)

Isoniazid (dikenal dengan INH) bersifat bakterisid, efektif terhadap kuman dalam
keadaan metabolik aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang. Efek samping yang mungkin
timbul berupa neuritis perifer, hepatitis rash, demam Bila terjadi ikterus, pengobatan dapat
dikurangi dosisnya atau dihentikan sampai ikterus membaik. Efek samping ringan dapat berupa
kesemutan, nyeri otot, gatal-gatal. Pada keadaan ini pemberian INH dapat diteruskan sesuai
dosis.
b. Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi-dorman (persisten). Efek samping
rifampisin adalah hepatitis, mual, reaksi demam, trombositopenia. Rifampisin dapat menyebabkan
warnam merah atau jingga pada air seni dan keringat, dan itu harus diberitahukan pada keluarga
atau penderita agar tidak menjadi cemas. Warna merah tersebut terjadi karena proses
metabolism obat dan tidak berbahaya.
c. Pirazinamid (P)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam.
Efek samping pirazinamid adalah hiperurikemia, hepatitis, atralgia.
d. Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, efek samping dari streptomisin adalah nefrotoksik dan kerusakan
nervus kranialis VIII yang berkaitan dengan keseimbangan dan pendengaran.
e. Ethambutol (E)
Bersifat bakteriostatik, ethambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa
berkurangnya ketajaman penglihatan, buta warna merah dan hijau, maupun optic neuritis.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tuberculosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
tuberculosis.
Agent penyebab Tuberculosis adalah Mycobacterium tuberculosis menyebabkan sejumlah
penyakit berat pada manusia dan penyebab terjadinya infeksi tersering. Mycobacterium
tuberculosis hidup baik pada lingkungan yang lembab akan tetapi tidak tahan terhadap sinar
matahari.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit Tuberculosis Untuk terpapar penyakit TBC
pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : status sosial ekonomi, status gizi,
umur, jenis kelamin, dan faktor toksis.
Cara penularan tuberkulosis paru melalui percikan dahak (droplet) sumber penularan adalah
penderita tuberkulosis paru BTA(+), pada waktu penderita tuberkulosis paru batuk atau bersin.
Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.
Pengobatan penyakit Tuberculosis. Terdapat 5 jenis antibotik yang dapat digunakan yaitu
Antibiotik yang paling sering digunakan adalah Isoniazid (H), Rifampicin (R), Pirazinamid (P),

Streptomisin (S) dan Etambutol (E). Jika penderita benar-benar mengikuti pengobatan dengan
teratur, maka tidak perlu dilakukan pembedahan untuk mengangkat sebagian paru-paru. Kadang
pembedahan dilakukan untuk membuang nanah atau memperbaiki kelainan bentuk tulang belakang
akibat tuberkulosis.

B. Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan adalah dengan kita telah mengetahui apa itu penyakit
Tuberculosis, kita dapat lebih menjaga lagi kesehatan kita yaitu dengan selalu menjaga lingkungan
dan kesehatan diri kita sendiri supaya tetap bersih, mengingat bahwa penyakit ini adalah
penyakit menular yang sangat berbahaya dan angka kematiannya cukup tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
http://fildza.wordpress.com/2008/04/24/penyakit-tuberkulosis/
http://id.wikipedia.org/wiki/Tuberkulosis
http://jundul.wordpress.com/2008/09/14/penularan-tbc/
http://medicastore.com/tbc/penyakit_tbc.htm
http://www.infopenyakit.com/2007/12/penyakit-tuberkulosis-tbc.html
http://www.totalkesehatananda.com/tuberculosis6.html
http://www.scribd.com/doc/32087430/makalah-TBC
http://nawrihaysnainohdamor.blogspot.com/2013/03/makalah-tuberculosis.html
http://egaayuprastika.blogspot.co.id/2015/02/makalah-tuberculosis-tbc.html