Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam pembelajaran biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan


memahami tentang alam sekitar secara sistematis, sehingga ilmu biologi bukan
hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta konsep,
penemuan pendidikan biologi diharapkan dapat menjadi wahana bagi mahasiswa
untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitar beserta isinya yang terdiri dari
dua macam yaitu makhluk hidup (biotik) dan makhluk tidak hidup (abiotik).
Ruang lingkup yang dipelajari dalam biologi sangat luas, agar mudah
mepelajarinya biologi dibagi menjadi berbagai cabang ilmu berdasarkan bidang
yang dipelajari seperti mikologi, dimana mikologi yaitu ilmu yang mempelajari
tentang jamur serta peranannya bagi kehidupan manusia. Kata jamur atau fungi
mungkin akan selalu kita maknai sebagai cendawan, yaitu organisme yang
pendek, seperti serbuk atau spons, tubuhnya berwarna-warni, dan tumbuh di atas
tanah seperti tumbuhan. Meskipun cendawan adalah organisme yang umum kita
sebut sebagai jamur (jamur yang sebenarnya), dan sebagian besar jamur tersebut
terlihat hidup di atas tanah, tetapi kata fungi memiliki makna yang lebih luas.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan
suatu permasalahan dalam makalah ini antara lain sebagai berikut :
1. Bagaimana struktur jamur atau fungi?

2. Bagaimana cara hidup dan habitat jamur atau fungi ?

3. Kondisi seperti apa yang dapat mempengaruhi pertumbuahan jamur atau


fungi?

4. Bagaimana pertumbuhan dan reproduksi dari jamur atau fungi?

5. Bagaimana klasifikasi dari jamur atau fungi?

6. Apa itu khamir?

7. Bagaimana peran jamur atau fungi dalam kehidupan sehari-hari?

C. Tujuan

1
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penulis dapat memahami
tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui mengetahui pengertian mikologi sebagai ilmu.

2. Untuk mengetahui struktur tubuh jamur/fungi.

3. Untuk mengetahui cara hidup dan habitat fungi.

4. Reproduksi jamur/fungi.

5. Klasifikasi fungi dan perananya dalam kehidupan manusia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Di antara yang termasuk fungi adalah baik khamir dan jamur maupun
organisme makroskopik seperti jamur merang, jamur kursi dan jamur kelereng.
Studi tentang jamur disebut dengan mikologi dan mikologi kedokteran
berhubungan dengan fungi yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan
lainnya. Diperkirakan bahwa lebih dari 100.000 jenis fungi yang berbeda
mengambil bagian dalam daur alam; untunglah hanya sedikit yang menyebabkan
penyakit pada manusia.

A. Struktur Jamur
Walaupun bercak-bercak jamur itu dapat dilihat, masing-masing sel adalah
mikroskopik. Jamur tersusun dari benang-benang sel panjang yang dihubungkan
bersama dari ujung ke ujung. Benang-benang tersebut disebut hifa. Banyak jamur
mempunyai dinding penyekat (septa) dalam hifanya yang membagi masing-
masing hifa menjadi banyak sel dengan nukleus masing-masing. Susunan macam
ini diacu sebagai hifa bersepta. Dalam beberapa kelas fungi benang-benang itu
tidak mempunyai septa jadi kehilangan sebagai satu sel panjang yang
mengandung banyak nucleus. Hifa semacam ini disebut hifa senosit.
Ukuran sel yang menyusun hifa berbeda dari satu jamur ke yang lain. Yang
besar dapat memiliki garis tengah 10 sampai 20 m (berbeda sekali dengan sel
bakteri, yang garis tengah rata-rata 1 m), panjang benang dapat sangat berbeda,
tergantung pada sejumah faktor sebagaimana jamur itu ditumbuhkan. Pemeriksaan
dengan mikroskop mungkin menyesatkan; karena hifa itu biasanya sangat mudah
patah, setiap penanganan jamur akan menyebabkan patahnya hifa dan makin
pendeknya benang.
Sementara jamur tumbuh, hifa saling membelit untuk membentuk massa
benang (massa ini disebut miselium) yang cukup besar untuk dilihat dengan mata
telanjang. Miselium yang berbulu inilah yang memungkin jamur dikenal dengan
mudah. Berbagai pigmen yang teramati pada jamur terdapat hanya setelah spora-
spora dibentuk.

3
B. Cara Hidup dan Habitat Jamur

Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme


lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Untuk memperoleh
makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan
miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena
jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang
menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat
itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, (menurut sumarsih
2003) jamur mempunyai 3 sifat sebagai berikut :
1. Parasit Obligat
Merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya, sedangkan di
luar inangnya tidak dapat hidup. Misalnya, Pneumonia carinii (khamir yang
menginfeksi paru-paru penderita AIDS).
2. Parasit Fakultatif
Parasit fakultatif adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang
yang sesuai, tetapi bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang cocok.
3. Saprofit
Merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang mati. Jamur
saprofit menyerap makanannya dari organisme yang telah mati seperti kayu
tumbang dan buah jatuh. Sebagian besar jamur saprofit mengeluarkan enzim
hidrolase pada substrat makanan untuk mendekomposisi molekul kompleks
menjadi molekul sederhana sehingga mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa
dapat juga langsung menyerap bahan-bahan organik dalam bentuk sederhana
yang dikeluarkan oleh inangnya.

Cara hidup jamur lainnya adalah melakukan simbiosis mutualisme. Jamur


yang hidup bersimbiosis, selain menyerap makanan dari organisme lain juga
menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi simbionnya. Simbiosis
mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada mikoriza, yaitu jamur yang
hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada liken. Jamur berhabitat pada
bermacam-macam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme.
Meskipun kebanyakan hidup di darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan
berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang hidup di air biasanya bersifat
parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.

C. Kondisi yang Mempengaruhi Pertumbuhan


Jamur memerlukan kelembaban yang tinggi, persedian bahan organik
untuk pertumbuhan. Kebanyakan adalah saprofit, yaitu jamur ini hidup dari bahan
organik yang mati atau mengalami pembusukan. Walaupun jamur akan tumbuh
akan tumbuh terbaik pada sekitar suhu kamar yang normal banyak yang akan

4
tumbuh pada suhu lemari pendingin. Akan tetapi, pada umumnya, lingkungan
yang hangat dan lembab mempercepat pertumbuhan jamur. Hal ini khususnya
dapat dilihat selama musim panas, yang tidak aneh bila dijumpai jamur pada
sepatu dan pakaian yang dibiarkan di dalam lemari.
Jamur tumbuh baik dalam lingkungan yang mengandung banyak gula
(yang memproduksi tekanan osmosis yang tinggi) dan kondisi asam yang tidak
menguntungkan bagi bakteri. Sifat inilah yang memungkinkan jamur dapat
berkembang pada permukaan selai dan pada acar yang disimpan dalam lemari es.

D. Pertumbuhan dan Reproduksi

Mekanisme reproduksi jamur disebut pembentukan spora. Spora semacam


ini harus dipikirkan sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dengan spora
bakteri, yang tidak mempunyai fungsi reproduksi. Pada jamur spora adalah analog
dengan biji yang diperbanyak oleh tumbuhan induk dan mampu berkembang
menjadi individu baru. Apabila spora melepaskan diri dari tumbuhan induk dalam
kondisi yang menguntungkan, benang-benang jamur baru akan tumbuh dari
padanya; spora bersemi dan benang memanjang dengan pembelah biner seperti
cara bakteri.
Walaupun semua jamur berkembiak dengan spora, cara bagaimana spora
dibuat dapat bersifat seksual atau aseksual. Spora seksual diproduksi dengan fusi
dua sel; spora aseksual ditumbuhkan untuk fertilisasi oleh individu kedua.

E. Klasifikasi Fungi
Bertahun-tahun fungi dibagi menjadi empat kelas utama: Phycomycetes,
Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes, (juga disebut Fungi
Imperfcti). Berdasarkan perbedaan spora seksual dan aseksual (lihat Tabel 1.1),
habitat, struktur garis besar morfologi dan sampai batas tertentu, sifat nutrisinya,
Phycomycetes kini dibagi lagi menjadi enam klas. Keenam klas organisme ini
biasanya tidak mempunyai septa yang teratur (dinding penyekat) pada benang
hifanya (hifa senosit), yang mengakibatkan adanya banyak nucleus pada setiap sel
benang. Anggota keenam klas ini mencakup organisme yang sering merupakan
penyebab penyakit manusia.

Table 1.1 Tipe spora fungi


Tipe Kelompok fungi Sifat morfologi

Artrospora Aseksual Geotrichum, Diproduksi dengan fragmentasi


Coccidioides hifa bersepta menjadi sel
tunggal yang agak menebal.
Klamidospora Aseksual Pada semua Spora berdinding tebal terbentuk
fungi dalam ruas hifa atau sebagai

5
spora terminal filamen hifa.
Blastospora Aseksual Pada semua Kelihatan sebagai tunas pada sel
khamir induk
Mikrokonidia Aseksual Pada kebanyakn Dihasilkan dengan
fungi kecuali penggentingan hifa-terletak pada
Zygomycetes tangkai dan mungkin tunggal
atau dalam bentuk rantai.
Makrokonidia Aseksual Pada Spora bersel banyak yang besar
dermatophyta terletak pada tangkai
Sporangiospor Aseksual Zygomycetes Spora terbentuk dalam
a sporangium yang terletak pada
sporangiofor
Zoospore Aseksual Zygomycetes Sama dengan sporangiospora
kecuali motil dengan flagella
Askospora Seksual Ascomycetes Spora yang terbentuk dalam
struktur seperti kantung yang
disebut askus
Zigospora Seksual Zygomycstes Spora istirahat terjadi dari fusi
dua sel yang secara morfologi
sama.
Basidiospora Seksual Basidiomycetes Spora ang terletak eksternal
pada sel yang berbentuk ganda
yang disebut dengan basidium

1. Kelas Phycomycetes
Anggota kelas ini seringkali disebut sebagai cendawam tingkat
rendah karena pada umunya dianggap primitif dalam skala evolusi.
Kelas mikroorganisme ini demikian besar lagi heterogen sehingga berbeda
ahli taksonomi membagi kelas Phycomycetes menjadi enam kelas terpisah.
Ciri yang dipunyai bersama diantara mereka adalah tidak adanya septum
(septa) didalam hifa; ciri ini membedakannya dari anggota-anggota ketiga
kelas yang lainnya.
Phycomycetes yang penting dari segi medis sesungguhnya
merupakan cendawan umum yang biasa terdapat dalam udara dan tanah,
termasuk kapang roti yang umumnya yaitu Mucor dan Rhizopus. Sebagain
besar cendawan ini termasuk kedalam genus yang lebih tinggi tingkat
perkembangannya di dalam kelas Phycomycetes dan bereproduksi baik
secara aseksual maupun seksual. Mereka merupakan patogen oportunis;
artinya, tidak menyebabkan penyakit pada inang sehat tetapi menyebabkan
mikosis (infeksi pada cendawan) pada inang terkompromi, yaitu orang-
orang sudah menjadi lemah karena penyakit. Infeksi seperti ini dapat

6
bersifat sistematik (merata keseluruh tubuh), limfatik (melibatkan system
limfa), atau subkutan (dibawah kulit).
Phycomycetes mempunyai talus miselium yang berkembang
dengan baik. Hifa fertil menghasilkan sporangium pada ujung
sporangispora. Pada talus Rhizopus, di samping hifa vegetatif dan
sporangium terdapat juga hifa seperti akar yang pendek dan bercabang
banyak yang disebut rizoid. Reproduksi seksual pada beberapa genus
terjadi dengan peleburan ujung-ujung hifa multinukleat. Ujung-ujung ini
terdiri dari lepuh-lepuh terminal cabang-cabang hifa.

2. Kelas Ascomycetes
Aggota-anggota kelas ini dicirikan oleh pembentukan askus yang
merupakan tempat dihasilkannya askospora. Beberapa askomiset
membentuk tubuh buah atau askokarp yang melingkupi askus bersama
askosporanya. Dari kurang lebih 15.000 spesies Ascomycetes,kebanyakan
hidup sebagai saprofit. Di antara spesies yang parasit, beberapa merupakan
penyakit tumbuhan. potato blight dan karat gandum merupakan dua
contoh diantaranya.
Banyak khamir tergolong kelas Ascomycetes karena membentuk
askospora. Pola sederhana pembentukan askospora tampak pada daur
hidup khamir yang umum, yaitu schizosaccharomyces. Secara aseksual,
genus khamir ini memperbanyak diri melalui pembelahan biner melintang.
Khamir lain dalam kelas ini, seperti khamir dari Saccharomyces cerevisiae
(digunakan untuk membuat roti, anggur dan bir), memperbanyak diri
secara aseksual dengan bertunas. Reproduksi aseksual pada Ascomycetes
berfilamen adalah dengan pembentukan konidia dalam jumlah besar.

3. Kelas Basidiomycetes
Basidiomycetes dicirikan oleh adanya basidiospora yang terbentuk
di luar pada ujung atau sisi basidium. Basidiomycetes yang banyak dikenal
meliputi jamur, cendawan papan pada pepohonan, dan cendawan karat
serta cendawan gosong yang menghancurkan serealia. Jamur adalah tubuh
buah, atau Basidiokarp, yang mengandung basidia bersama
basidiosporanya. Dari antara kurang lebih 12.000 spesies basidiomycetes
tidak ada satupun yang ada hubungannya dengan penyakit manusia sampai
dengan baru-baru ini. Tingkat seksual atau perfek Cryptococcus
neoformans ditemukan pada tahun 1975, sekarang disebut Filobasidiella
neoformans. Cendawan ini merupakan basidiomiset patogenik yang paling
penting pada manusia., menimbulkan kriptokokosis, yaitu infeksi mikotik
yang sistemik atau merata yang melibatkan aliran darah dan juga paru-
paru, sistem saraf pusat, dan organ-organ lainnya. Banyak jamur bersifat
sangat beracun, mikotoksin yang dihasilkannya atau rancun cendawan
dapat menyebabkan kematian jiak termakan.

7
4. Kelas Deuteromycetes
Kelas ini meliputi cendawan yang tingkat reproduksi perfek atau
seksualnya belum ditemukan. Namun demikian, untuk memudahkan dan
karena tingkat konidiumnya begitu jelas dan tidak asing lagi, banyak
spesies masih dianggap tergolong kedalam kelas ini meskipun tingkat
seksualnya sekarang telah diketahui dengan baik. Kapang yang tergolong
genus Penicillin dan Aspergillus diklasifikasikan sebagai Deuteromycetes
meskipun tingkat pembentukan askosporanya telah ditemukan pada
beberapa spesies. Kapang-kapang ini mempunyai kepala konidium yang
khas dan mudah dibedakan.
Sebagian besar cendawan yang patogenik pada manusia adalah
Deuteromycetes. Mereka seringkali membentuk spora aseksual beberapa
macam di dalam spesies yang sama, sehingga dapat membantu dalam
mengidentifikasinya di laboratorium. Di samping fase saprofitik yang
berbentuk miselium, banyak diantaranya mempunyai fase parasitik seperti
khamir. Beberapa spesies pathogen ini antara lain adalah Histoplasma
capsulatum, yang menyabakan histoplasmolisis, Blastomyces spp,. Yang
menyebankan blastomokosis, dan Coccidioides immitis, yang
menyebabkan koksidioidomikosis; ketiga penyakit ini merupakan infeksi
sistematik.

F. Khamir
Seperti jamur, khamir adalah fungi mikroskopis, namun tidak seperti tipe
fungi lain, khamir terdapat sebagai sel bebas yang sederhana. Biasanya sel-sel ini
berbentuk bundar atau lonjong namun mungkin berbentuk lain. Sel khamir
berbeda dengan bakteri dalam hal bahwa khamir adalah sel eukariota; biasanya
lebih besar daripada rata-rata bakteri, dan berkembangbiak dengan cara
mekanisme yang berbeda. Jadi, khamir adalah sel yang lebih sederhana daripada
jamur, tetapi struktur selnya tampaknya lebih kompleks daripada struktur bakteri.
Semua divisi fungi mengandung khamir.

Reproduksi

Seperti jamur, kebanyakan khamir membiak baik secara seksual maupun


aseksual. Cara lazim pembentukan spora adalah cara yang didalamnya dua sel
khamir berfusi menjadi sel tunggal yang berbentuk kantong yang disebut askus.
Di dalam askus terbentuk satu sampai delapan spora. Kemudian askus pecah
terbuka untuk melepaskan sporanya (askospora). Dalam kondisi yang cocok untuk
pertumbuhan masing-masing askospora selanjutnya akan bersemi untuk
membentuk sel khamir baru.
Cara biasa pembiakan khamir adalah dengan proses aseksual yang disebut
blastospora. Pengamatan mikroskop biakan khamir yang sedang tumbuh dan

8
menunjukkan adanya pembengkakan berbagai ukuran yang menonjol dari sel
induk. Pembengkakan ini (tunas) terus membesar, biasanya sampai kira-kira
sebesar sel induknya. Sementara membesar, tunas ini berangsur-angsur
menggenting oleh penyempitan dinding sel yang terus-meserus antara tunas ini
dan sel induk sampai akhirnya tunas ini terpotong sepenuhnya. Sel baru ini
disebut sel anak. Pertunasan hendaknya tidsak dikacaukan dengan pembelahan
biner, proses ini samasekali berbeda. Semua khamir berkembangbiak aseksual,
tetapi tidak semua khamir dapat berkembangbiak secara seksual. Khamir yang
berkembangbiak hanya secara aseksual diklasifikasikan sebagai Deuteromycetes.
Seperti jamur, khamir tersebar luas di alam. Khamir terdapat di dalam air,
tanah dan debu serta umunya terdapat pada banyak buah-buahan dan sayur-
sayuran. Sementara semua jamur dipertelakan sabagai aerob, banyak khamir dapat
tumbuh secara fakultatif. Pada kenyataannya, dalam studi awalnya tentang
fermantasi, Pasteur mengenal bahwa khamir dapat tumbuh dalam dalam keadaan
tanpa udara. Dalam kondisi anaerob glukosa dapat diubah menjadi alkohol dan
karbondioksida oleh enzim khamir. Dalam kondisi aerob, glukosa dapat juga
dioksidasi sempurna menjadi karbondioksida dan air oleh beberpa khamir
melewati daur asam sitrat. Khamir dapat mensintesis vitamin dan protein; jadi sel
khamir menyesuaikan sumber nutrient yang bagus.

G. Peran Jamur

Peranan jamur atau fungi dalam kehidupan sangat luas. Jamur berperan
dalam keseimbangan lingkungan yaitu sebagai dekomposer. Sebagai dekomposer,
jamur menguraikan sisa-sisa organisme yang telah mati sehingga bisa
dimanfaatkan oleh organisme lain. Hal ini sangat penting dalam keberlanjutan
ekosistem di bumi, karena yang menjadi kunci keberlangsungan ekosistem adalah
adanya keseimbangan antara produksi biomasa oleh organisme fotosintetik dan
perombakan-perombakan atau daur ulang nutrien yang dikandungnya. Dalam
proses daur ulang senyawa organik ini, fungi memiliki peran yang menonjol di
semua ekosistem utama.
Jamur juga bisa bersimbiosis dengan organisme lain. Dengan akar
tumbuhan tertentu jamur bersimbiosis membentuk mikoriza. Mikro riza
merupakan struktur yang berperan penting dalam suplai unsur hara. Kalian bisa
membaca kembali bagian awal dari bab ini yang membicarakan cara jamur
memperoleh makanan. Berdasarkan posisi jamur terhadap akar tumbuhan, dikenal
adanya endomikoriza (bila hifa menembus korteks akar) dan ektomikoriza (bila
hifa hanya menem bus epidermis akar). Kelompok jamur yang sering bersimbiosis
dengan akar tumbuhan umumnya termasuk anggota Divisi Zygomycotina,
Ascomycotina, dan Basidiomycotina.
Jamur juga berperan sangat penting dalam fermentasi makanan dan obat-
obatan. Sebagai contoh, pada Divisi Zygomycotina, sedikitnya ada 2 jenis

9
Rhizopus yang digunakan secara komersial dalam industri pil kontrasepsi dan
anestesi, yaitu R. arrhizus dan R. nigricans. Beberapa jenis lain juga dimanfaatkan
dalam industri alkohol dan untuk mengempukkan daging. Ada pula jenis lain yang
mampu memproduksi pigmen kuning yang digunakan untuk memberi warna pada
margarin.

Beberapa jenis jamur dan peranannya yang menguntungkan adalah sebagai


berikut :
a. Rhizopus stolonifera : untuk membuat tempe.
b. Rhizophusigricans: menghasilkan asam fumarat.
c. Saccharomyces cerevisiae : untuk membuat tape, roti, minuman sake, dan bir
d. Aspergillus oryzae : mengempukkan adonan roti.
e. Aspergillus wentii : untuk membuat sake, kecap, tauco, asam sitrat, asam
okasalat dan asam format.
f. Aspergillus niger : untuk menghilangkan O2 dari sari buah, dan
menjernihkan sari buah.
g. Penicillium notatum dan P. chrysogenum : menghasilkan penicillin
(antibiotik).
h. Ganoderma lucidum : bahan obat.
i. Penicillium roquefortii dan P. camemberti : meningkatkan kualitas (aroma)
keju.
j. Trichoderma sp. : menghasilkan enzim selulose.
k. Neurospora crassa (jamur oncom) : untuk membuat oncom.
l. Khamir Saccharomyces berguna sebagai fermentor dalam industri keju, roti,
dan bir.
m. Higroporus dan Lycoperdon perlatum berguna sebagai decomposer.
n. Volvariella volvacea (jamur merang) berguna sebagai bahan pangan
berprotein tinggi.
o. Rhizopus dan Mucor berguna dalam industri bahan makanan, yaitu dalam
pembuatan tempe dan oncom.

Sementara itu, jamur yang merugikan, antara lain, sebagai berikut.


a. Pneumonia carinii menyebabkan penyakit pneumonia pada paruparu manusia.
b. Albugo merupakan parasit pada tanaman pertanian.
c. Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia.

KERUGIAN

Kerugian yang ditimbulkan oleh jamur misalnya berbagai spesies jamur yang
menghasilkan zat beracun misal aflatoksin dari Aspergilus flavus, jamur jamur
yang menyebabkan korosi dan pelapukan kayu dan dinding, jamur yg
menyebabkan gangguan pernafasan misal ruangan ber AC yang jarang sekali
diganti udaranya, jamur yang menyebabkan penyakit pada hewan , tumbuhan dan

10
manusia dsb.kerugian jamur adalah ketika jamur itu bersifat patogen atau
membawa penyakit contoh panu, kurap, kudis, dll.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas penyusun dapat menarik sesimpulan bahwa :


Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik
heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul
nutrisi ke dalam sel-selnya. Fungi memperbanyak diri secara seksual dan
aseksual. Perbanyakan seksual dengan cara :dua hifa dari jamur berbeda melebur
lalu membentuk zigot lalu zigot tumbuh menjadi tubuh buah, sedangkan
perbanyakan aseksual dengan cara membentuk spora, bertunas atau fragmentasi
hifa. Jamur memiliki kotak spora yang disebut sporangium. Di dalam sporangium
terdapat spora. Jamur juga berperan dalam kehidupan yaitu sebagai pengurai atau
dekompuser jasad yang sudah mati dan membebaskan zat zat kimia kea lam selain
itu jamur juga berperan dalam kehidupan manusia seperti pembuatan temped an
sebagainya.

B. Saran

1. Bagi seluruh Civitas Akademik untuk terus menambah wawasan


pengetahuan mengenai fungi/jamur

2. Sebagai manusia, kita perlu membudidayakan jamur yang


bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan pangan.

3. Semoga dengan adanya Makalah ini baik penyusun maupun


pembaca dapat memahami akan pentingnya jamur dalam kehiduan sehari-
hari.

4. Apa bila pembaca menemukan kata-kata yang kuran berkenan,


penyusun mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

12