Anda di halaman 1dari 15

PAPER PSIKOLOGI KEPRIBADIAN II

Psikologi Kepribadian Timur

Oleh : Kelompok II

Indri Nurhidayah Putri D.

Anis Tiharoh

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2016
Psikologi Barat, yakni psikologi yang berkembang di Eropa dan Amerika
berasal dari psikologi filosofis Eropa. Filsafat sendiri dianggap berasal dari
Yunani. Psikologi Barat modern baru mulai 1879 dengan jasa William Wundt
mendirikan Laboratorium Psikologi yang pertama di Leipzig, Jerman. Maka
Wundt dianggap sebagai bapak psikologi modern.

Agama Timur sebenarnya banyak berisi psikologi, sebagai contoh ajaran


Buddha banyak berisi psikologi. Buddhisme diajarkan oleh Buddha Gautama 536-
483 SM di India. Sementara dalam dunia Agama Islam, tokoh-tokoh yang
mempelajari ilmu psikologi adalah gerakan sufisme. Pada bangsa Yahudi,
kelompok Kabbalis memperhatikan transformasi psikologis.

1. Teori Kepribadian Abdhidharma

Abdhidharma telah berkembang 15 abad yang lalu, merupakan wawasan-


wawasan dari Buddha Gautama. Buddhisme sendiri berkembang menjadi
beberapa aliran, di antaranya adalah aliran Mahayana dan Hinayana. Di antara
tokohnya, Bhikku Nyanaponika, sarjana Buddhisme modern.

A. Unsur-unsur Kepribadian

Dalam Abdhidharma kata kepribadian serupa dengan konsep atta,


atau diri (self) menurut konsep Barat. Menurut Abdhidharma tidak ada diri
yang bersifat kekal atau abadi, benar-benar kekal, yang ada hanyalah
sekumpulan proses impersonal yang timbul dan menghilang. Yang nampak
sebagai kepribadian terbentuk dari perpaduan antara proses-proses
impersonal ini. Apa yang nampak sebagi diri, tidak lain adalah bagian
keseluruhan jumlah bagian-bagian tubuh, yakni pikiran, penginderaan,
hawa nafsu, dan sebagainya. Satu-satunya benang yang berkesinambungan
atau bersambung menyambung dalam jiwa adalah bhava, yakni
kesinambungan kesadaran dari waktu ke waktu.

B. Macam-macam faktor jiwa:

Faktor-faktor jiwa dapat dikelompokkan menjadi dua macam,


ialah:

- Kusula: murni, baik, sehat

- Akusula: tidak murni, tidak baik, tidak sehat

C. Dinamika kepribadian
Dinamika kepribadian adalah gerak kepribadian yang terjelma dari
tingkah laku, baik yang nampak maupun tidak nampak, terjadi karena
interaksi faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat.

Contoh interaksi berbagai faktor jiwa dan bagaimana perilaku terjadi,


atau menyebabkan sifat-sifat tingkah laku tertentu, adalah sebagai berikut:
Kelompok faktor tidak sehat yang terdiri dari ketamakan, kekikiran,
irihati, dan kemuakan dilawan oleh faktor-faktor seperti ketidak-terikatan
(alobha), adosa (ketidak-muakan), tatramajjhata (tidak memihak), dan
passadhi (sikap tenang), mencerminkan ketenangan fisik dan jiwa yang
terjadi karena berkurangnya perasaan keterikatan.

D. Psikodinamika abdhidharma

Psikodinamika dapat terjadi karena interaksi antar faktor jiwa dengan


mekanisme sebagai berikut:

a. Faktor-faktor jiwa yang sehat dan tidak sehat saling menghambat.


b. Tetapi tidak selalu terdapat hubungan satu lawan satu antara,
sepasang faktor-faktro sehat dan tidak sehat.
c. Kehadiran yang satu menekan faktor tandingannya.
d. Dalam beberapa hal satu faktor tidak sehat, misalnya, ketidak-
terikatan mampu secara sendirian menghambat ketamakan,
kekikiran, iri hati, dan kemuakan.
e. Faktor-faktor kunci tertentu juga mampu menghambat sekumpulan
faktor tandingan secara keseluruhan, misalnya jika terdapat delusi,
maka tidak satu pun faktor baik dapat timbul hadir bersamanya.
f. Karna seseoranglah sebagai penentu, apakah ia akan mengalami
keadaan jiwa sehat atau keadaan jiwa tidak sehat.
g. Suatu kombinasi faktor merupakan hasil dari pengaruh-pengaruh
biologis dan pengaruh-pengaruh situasi di samping juga
merupakan pindahan pengaruh dari keadaan jiwa sebelumnya.
Biasanya berupa sebagai suatu kelompok, entah positif atau
negative (baik atau buruk).
h. Dalam setiap keadaan jiwa tertentu, faktor yang membentuk
keadaan jiwa tersebut muncul dengan kekuatan-kekuatan yang
berbeda.
i. Faktor apa saja yang paling kuat, akan menentukan bagaimana
seseorang mengalami dan bertindak dalam suatu momen tertentu.
j. Walaupun mungkin semua faktor buruk hadir, namun keadaan yang
dialami akan sangat berbeda, tergantung pada apakah, misalnya
ketamakan atau kebekuan yang mendominasi jiwa.
k. Hierarkhi kekuatan dan faktor-faktor tersebut menentukan apakah
keadaan spesifik itu akan menjadi positif atau negative.
l. Jika faktor tertentu atau sekumpulan faktor seringkali muncul
dalam keadaan jiwa seseorang, maka faktor tersebut akan menjadi
sifat kepribadian.
m. Jumlah keseluruhan faktor-faktor jiwa yang sudah menjadi
kebiasaan pada seseorang, menentukan sifat-sifat kepribadiannya.
n. Daftar sifat-sifat kepribadian menurut faktor-faktor jiwa sehat dan
tidak sehat sebagai berikut:
a). Perseptual (kognitif)
1. Pemahaman (insight) Delusi
2. Sikap penuh perhatian Pandangan yang salah
3. Sikap rendah hati Sikap tak tahu malu
4. Sikap penuh hati-hati Kecerobohan
5. Kepercayaan Egoisme

b). Afektif
6. Ketenangan Keresahan
7. Ketidak-terikatan Ketamakan
8. Ketidak-muakan Kemuakan
9. Kenetralan Iri hati
10. Kegembiraan Kekikiran
11. Fleksibilitas Kekhawatiran
12. Kemampuan adaptasi Pengerutan (kontraksi)
13. Kecakapan Kebekuan
14. Kejujuran Kebingungan

E. Tipe-tipe kepribadian

Mengenai bagaimana timbulnya beberapa tipe kepribadian menurut


ajaran Abhidamma adalah sebagai berikut ini:

1. Bahwa tipe-tipe kepribadian menurut Abhidamma, secara langsung


diturunkan dari prinsip bahkan faktor-faktor jiwa muncul dalam
kekuatan yang berbeda-beda. Jika jiwa seseorang tetap dikuasai
oleh suatu faktor, maka hal ini akan menentukan kepribadian,
motif-motif dan tingkah lakunya.
2. Motif pada manusia berasal dari analisis mengenai faktor-faktor
jiwa dan pengaruh faktor-faktor tersebut pada tingkah laku. Motif
itu menentukan keadaan jiwa seseorang untuk mencari sesuatu atau
menjauhinya. Keadaan-keadaan jiwa membimbing kepada
perbuatannya. Misalnya, jiwa manusia dikuasai oleh ketamakan,
hal ini akan menonjol dan orang akan bertingkah laku sesuai
dengan motif tadi, yakni berusaha memperoleh objek
ketamakannya. Jika egoism merupakan suatu faktor jiwa yang
kuat, maka orang tersebut akan berbuat dengan cara-cara selalu
untuk meningkatkan dirinya. Dalam artian ini, setiap tipe
kepribadian menjadi tipe motifnya juga.
3. Buku Visuddhimagga (Buddhaghosa, 1976), merupakan pedoman
untuk mediasi sesuai dengan ajaran Abhidhamma abad kelima
Masehi. Dalam pedoman ini ada bahagian yang untuk mengenal
tipe-tipe utama kepribadian, karena setiap orang harus
diperlakukan sesuai dengan sifat-sifatnya. Salah satu metode untuk
yang disarankan guna menilai tipe kepribadian adalah dengan
mengamati tipe kepribadian adalah dengan mengamati secara
seksama cara berdiri dan bergerak.
Misalnya:
a. Orang yang kuat nafsunya atau senang pada kenikmatan,
jalannya anggun.
b. Orang yang penuh kebencian suka menyeret kakinya jika
berjalan.
c. Pada orang yang dikuasai oleh delusi, jika berjalan cepat
langkahnya.

F. Membangun kesehatan jiwa dan kepribadian

Strategi untuk mencapai keadaan-keadaan jiwa sehat bukan berupa


usaha langsung mencarinya atau pun menunjukkan sikap muak terhadap
keadaan-keadaan tidak sehat. Pendekatan yang dianjurkan adalah
melakukan meditasi atau samadi.

Kegiatan meditasi ada dua cara, ialah meditasi dengan terkosentrasikan


dan metode meditasi dengan sikap netral terhadap apa saja yang muncul
dan hilang dalam arus kesadaran. Metode pertama disebut metode dengan
sikap penuh perhatian. Sumber untuk mempelajari meditasi tadi terdapat
dalam Visuddhimagga karya Buddhaghosa (1976) dan Sayadaw (1965)
dengan uraian yang sangat bagus.

G. Tentang mimpi
Abhidhamma mengatakan bahwa mimpi adalah sifat istimewa lain dari
arahat.

Ada empat macam tipe mimpi pada manusia, yakni:

1. Tipe pertama, mimpi yang disebabkan oleh sejenis gangguan pada


organ atau otot, dan biasanya menyangkut suatu perasaan fisik yang
menakutkan, misalnya jatuh, terbang, atau di kejar-kejar harimau.
Bermacam-macam mimpi buruk termasuk tipe mimpi ini.

2. Tipe kedua, mimpi yang ada hubungannya dengan kegiatan-kegiatan


yang dilakukan orang pada siang harinya, dan menggemakan
pengalaman-pengalaman yang sudah berlalu tersebut. Mimpi semacam
ini kerap terjadi.

3. Tipe ketiga, mimpi tentang suatu peristiwa actual sebagai mana


peristiwa itu terjadi, mirip dengan prinsip sinkronitas pada pendapat
C.G.Jung.

4. Tipe keempat, mimpi yang bersifat waskita (clairvoyant), suatu


ramalan yang tepat tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Jika
seroang arahat bermimpi maka mimpinya itu selalu bersifat waskita
(Van Aung, 1972).]

2. Teori Kepribadian Jen dan Hsu

Francis L.K. Hsu adalah warga negara USA keturunan Cina. Ia


adalah sarjana filsafat, antropologi, kesusastraan Cina klasik dan
psikologi. Dengan keahlian dalam ilmu-ilmu tersebut Hsu menyusun
konsep kepribadian Timur sebagai alternatif dari konsep kepribadian
menurut psikologi Barat (Eropa dan Amerika). Teorinya disebut teori
kepribadian Jen dari sastra Cina, yang berarti manusia yang berjiwa
selaras, manusia yang berkepribadian.
Konsep kepribadian selaras untuk menganalisis jiwa manusia
masyarakat Timur, misalnya Cina, Jepang, Asia, termasuk juga
Indonesia.

3. Gerakan Kebatinan Indonesia

a. Sifat-sifat gerakan kebatinan


Rahmat Subagyo menulis buku tentang Kepercayaan dan
Agama, memberikan uraian yang komprehensif mengenai
berbagai aliran kepercayaan, dan sebenarnya adalah gerakan
olah kebatinan atau olah pikiran dan rasa. Ada beberapa sifat
kebatinan sebagai daya jiwa manusia, yakni:
Sifat batin berarti di dalam diri manusia sendiri. Di
batin artinya tidak dinyatakan, tetapi dirasakan dan
disimpan dalam jiwa manusia, di dalam pikiran dan
perasaan yang dalam, yang disebut batin. Ada pepatah
yang mengatakan, bahwa dalamnya laut dapat diduga,
dalamnya hati siapa yang tahu. Dalam Psikologi kata
batin dipakai untuk menunjukkan sifat manusia sebagai
pribadi yang terintegrasi, nyata dan tidak terbagi-bagi.
Sifat rasa: Rasa adalah pengalaman rohani yangbersifat
subjektif. Sifat rasa dan kebatinan adalah untuk
memperoleh wahyu langsung tanpa melalui perantaraan
orang lain. Sifat rasa sebagai reaksi terhadap gejala
modernisasi dan westernisasi yang mau menekankan
otak atau pikiran sebagai pengganti hati, akal sebagai
pengganti rasa, kegiatan-kegiatan lahirilah sebagai
pengganti pengalaman batin. Gejala tersebut
menyebabkan manusia tersaing dari struktur rohani
asasinya.
Sifat asli: Sebagai reaksi terhadap keterasingan manusia
dari dirinya sendiri. Gerakan kebatinan ingin
memperkembangkan kepribadian asli. Juga cenderung
sebagai reaksi Indonesianisasi kebudayaan yang
cenderung mengabaikan keaslian kebudayaan daerah.
Maka kebatinan di Indonesia bermaksud menekankan
dan mempertahankan gaya hidup dan tata karma atau
kesopanan Timur.
Sifat keakraban atau hubungan erat antar anggota:
Karena mempunyai persamaan pandangan hidup di
antara para anggota maka terjadilah hubungan yang erat
dan persatuan-persatuan para anggotanya.
Sifat akhlak social: Gerakan kebatinan merupakan
gerakan melawan kemerosotan moral atau demoralisasi
dan kaidah etik. Gerakan kebatinan menyadari dan
merasakan, bahwa arus pembaratan merupakan
kekuatan yang menggerogoti tata Krama Timur, maka
kebatinan mengutamakan daya batin moral asli dan
keunggulan budi pekerti Timur.
Gerakan kebatinan percaya adanya daya-daya gaib
yang supranatural, misalnya kekuatan-kekuatan nujum,
magi, okultisme, jimat. Sakti, kualat, mantra, rapal,
tuah, keramat, mimpi-mimpi, dan lain-lain. Dengan
kepercayaan semacam tersebut nampaknya bersifat
animistis seperti alam pikiran masyarakat tardisional
kuno.

b. Penggolongan aliran kebatinan

Prof. Dr. Joyodiguno dan Prof. Rasyidi membagi gerakan


kebatinan menjadi empat golongan atau aliran, yakni:

1. Aliran Okultis, mengutamakan daya-daya gaib untuk


melayani berbagai keperluan manusia, termasuk
pengobatan aneka ragam penyakit.
2. Aliran Mistik, berusaha mempersatukan jiwa manusia
dengan Tuhan Yang Maha Esa, semasa ia masih hidup
di dunia ini.
3. Aliran Theosofi, berhasrat untuk menembus rahasia
sangkan paraning dumadi (asal usul barang apa yang
terjadi atau alam semesta).
4. Aliran Etis, berhasrat untuk memperkembangkan budi
pekerti luhur serta berusaha untuk membangun
masyarakat yang dijiwai oleh nilai-nilai etis yang tinggi.

Sementara itu tokoh lain, Sumarno W.S., membagi gerakan


kebatinan menjadi aliran-aliran kebatinan sebagai berikut:

1. Golongan aliran kepercayaan perorangan, yakni


kelompok yang melakukan kepercayaan untuk
keperluan sendiri-sendiri, tanpa ada perluasan pada
orang lain. Misalnya, orang lalu bertapa, puasa, samadi
dan sebagainya.
2. Golongan perguruan kepercayaan, yakni menerima dan
mengajar murid-muridnya.
3. Golongan pedukunan, yakni aliran kebatinan yang
mempraktikan ilmu pedukunan dan pengobatan asli
bagi masyrakat yang membutuhkannya.

Ada lagi, penggolongan kebatinan yang dilakukan oleh


Yusuf Abdullah Puar, yang membagi gerakan kebatinan menjadi
dua golongan, yakni:
1. Aliran yang bersifat ke Hindu-Jawaan
2. Aliran yang bersifat ke Islam-islaman.

c. Olah rasa dan pikir manusia kebatinan

Dari pengalaman-pengalaman kebatinan dapat diamati dan


dikemukakan, bahwa kebatinan itu merupakan gerakan:
1. Untuk meningkatkan integritas manusia.
2. Latihan-latihan rohani agar manusia beralih dari
keadaan semula kepada tingkat yang lebih sempurna.
3. Partisipasi manusia dalam daya luar biasa yang
mengatasi kemampuan biasa (JB Adimassana, 1986, p.
16)

Dapat juga dikatakan, bahwa gerakan kebatinan adalah gerakan


olah rasa dan pikiran manusia untuk membangun suatu kepribadian
yang harmonis, selaras dan serasi dalam hidup di masyarakat. Jadi
gerakan kebatinan adalah suatu model atau cara membangun
kepribadian manusia yang dicita-citakan.

Tiga hal tersebut di atas menunjukkan unsur-unsur


konstitutif kebatinan bagi pengertian kebatinan, yakni:

1. Pengintegrasian
2. Pengalihan atau transformasi
3. Kekuatan yang luar biasa

Keitga hal ini juga menunjukkan adanya tingkatan-tingkatan yang


sambung menyambung. Jadi dengan demikian dapat dikatakan,
bahwa kebatinan itu adalah suatu gerakan olah kejiwaan untuk
menunju kekuatan yang paling dalam jiwa manusia, ialah kekuatan
batin itu sendiri.

4. Teori Kepribadian Kramadangsa

a. Aliran kebatinan kawruh begja

Ki Ageng Suryomentaram adalah pemimpin atau guru dari


Kebatinan Kawruh Begja, yang berpadepokan di desa Beringin
Salatiga. Kebatinan Kawruh Begja mendapat inspirasi dari
aliran kebatinan Sumarah mengenai susunan
keorganisasiannya, karena aliran Sumarah dianggap yang
paling teroganisir, jika di bandingkan dengan aliran-aliran
kebatinan lainnya.

Aliran Kebatinan Sumarah sendiri mempunyai empat


tingkatan keanggotaannya, yakni:
1. Anggota muda
2. Anggota biasa
3. Anggota yang lebih maju
4. Para guru Aliran Kebatinan Sumarah.

Guru aliran bertugas mempin samadi para anggota Aliran


Kebatinan Sumarah, yang berpusat di Yogyakarta. Selain itu
Kebatinan Sumarah mempunyai konstitusi atau peraturan dasarnya.

Gerakan Kebatinan Kawruh Begja mengadakan pertemuan-


pertemuan untuk membicarakan masalah hidup manusia ini. Cara
berpikirnya dengan pemikiran spekulatif, yakni:

a) Memikirkan pengalaman-pengalaman, misalnya


catatan-catatan, ingatan-ingatan.
b) Tentang kebahagiaan dan penderitaan.
c) Masalah senang dan susah yang datang dan pergi.
d) Masalah dorongan seksual.
e) Masalah kebutuhan hidup manusia, misalnya pakaian,
dan tempat tinggal.
f) Masalah etika yang disusun di atas metafisika.
g) Masalah etika golongan priyayi.
h) Masalah etika keramah-tamahan.
i) Pokok-pokok metafisika yang cukup mendalam.
j) Masalah psikologi spekulatif dan umum universal.
k) Masalah kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa.
l) Mengutakan pengalaman, setelah mengalami baru
percaya.
m) Pangawikan jiwa manusia untuk memahami Aku
Kramadanga dan Aku Sejati.

Ditinjau dari pemikiran filosofis, pemikiran-pemikiran Ki


Ageng Suryomentaram member ajaran-ajaran dengan bentuk atau
konsep yang sederhana, tetapi mendasar dan popular. Misalnya,
Aja dumeh, artinya jangan sombong, jangan meremehkan orang
lain kerna sedang menjadi orang berkuasa, kaya, pandai; sebab
semua orang itu pada hakikatnya sama. Aja dumeh ini merupakan
semboyan yang mudah diingat dan di tangkap maknanya. Aja
dumeh ini merupakan semboyan filosofis mengenai ajaran etika,
ajaran moral social yang tinggi.

b. Tinjauan tentang manusia

Pangawikan artinya pengetahuan. Pangawikan jiwa artinya


pengetahuan tentang jiwa manusia, yang seterusnya juga
pengetahuan tentang kepribadiannya. Dengan pangawikan jiwa, Ki
Ageng Suryomentaram ingin mengemukakan suatu pandangan
ketimuran dalam mempelajari jiwa dan kepribadian manusia.
Dapatlah disebutkan sebagai usaha untuk membangun Psikologi
Timur, sebagai imbangan atau tambahan Psikologi Barat.

Ki Ageng Suryomentaram meninjau masalah manusia memakai


seperti tinjauan ilmu alam atau fisika, hanya beliau memakai istilah
filsafat. Ki Ageng Suryomentaram berpendapat, bahwa filsafat
member jawaban atas pertanyaan: Apakah hakikatnya segala apa
yang ada di atas bumi dan di kolong langit. Pendapat sebenarnya
sama dengan pengertian filsafat pada umumnya, yakni bahwa
filsafat ingin mencari hakikat atau kebenaran tertinggi mengenai
sesuatu. Dengan pendek dapat dikatakan, bahwa filsafat adalah
ilmu yang menyelidiki hakikat sesuatu. Atau jugadikatakan, filsafat
adalah ilmu yang radikal. Artinya, ilmu yang menyelidiki sesuatu
objek sampai pada radiksnya, sampai pada akar-akarnya.

Mengenai alam benda di dunia ini dibaginya menjadi dua


macam, yakni:

1. Benda hidup, misalnya manusia, hewan dan tumbuh-


tumbuhan.
2. Benda mati, misalnya batu, air, piring, dan sebagainya.

Ciri-ciri dari benda-benda tadi adalah, bahwa benda hidup


mempunyai gerak dan dapat bergerak sendiri. Sedang pada
benda mati tidak mempunyai gerak sendiri, ia bergerak
karena di gerakkan oleh benda atau tenaga lain.

c. Hidup dan rasa hidup


Menurut Ki Ageng Suryomentaram, hidup adalah laku,
yaitu keadaan bergerak yang disebabkan oleh rentetan
kejadian yang saling kait mengait dalam hubungan sebab
akibat, yang berlangsung dalam ruang dan waktu.
Contohnya adalah orang duduk. Duduk adalah gerak, dan
duduk itu memerlukan ruang dan waktu.
Sementara rasa hidup adalah dorongan yang menyebabkan
orang bergerakatau melakukan sesuatu. Contohnya adalah
orang duduk karena lelah. Dorongan rasa lelah itu
menyebabkan orang bergerak untuk duduk.
Tujuan dari rasa hidup adalah:
a. Untuk melaksanakan hidup.
b. Untuk meneruskan hidup jenisnya.
Jika kebutuhan manusia terpenuhi, maka akan
menimbulkan rasa senang. Tetapi jika tidak terpenuhi, maka
akan menimbulkan rasa susah, rasa tidak senang. Rasa
hidup itu wajar adanya. Jika ada tindakan yang yang
melawan rasa hidup maka akan timbul konflik batin atau
perang batin pada diri manusia. Jika terjadi perang batin
maka akan menimbulkan penderitaan jiwa.
d. Ukuran hidup
Ki AGeng Suryomentaram berpendapat bahwa manusia di
dalam hidupnya di dunia ini mempunyai tingkatan-
tingkatan atau dimensi-dimensi hidup. Perngertian dimensi
tersebut dijelaskan dengan melihat benda-benda. Macam-
macam dimensi pada benda adalah :
a. Benda berdimensi satu, yakni garis.
b. Benda berdimensi dua adalah bidang yang memiliki
panjang dan lebar.
c. Benda berdimensi tiga adalah benda yang memiliki
volume,dimensinya panjang, lebar , dan tinggi.
d. Benda berdimensi empat adalah benda hidup, yakni
dimensi perasaan. Yang dimaksud di siniadalah manusia
yang hidup sesuai dengan manusia barunya.
Empat dimensi tersebut adalah penggambaran
mengenai tahap perkembangan hidup manusia. Empat
dimensi hidup yang diajukan oleh Ki Ageng
Suryomentaram adalah sebagai berikut:
1. Dimensi I
Ukuran dimensi I terdapat pada kehidupan bayi
yang baru lahir (neonates). Bayi sudah dapat bergerak dan
merasakan sesuatu namun badan dan bagian-bagiannya
belum dapat digunakan untuk mengikuti perasaannya. Bayi
baru dapat merasakan panas, dingin, sakit, lapar, haus, dan
reaksinya adalah gerakan di tempat dan menangis.
2. Dimensi II
Ukuran dimensi II terdapat pada masa kanak-kanak
awal, badan dan bagian-bagiannya sudah dapat bergerak
mengikuti perasaannya, tetapi mereka belum mengerti
hukum benda-benda. Oleh karena itu, tindakannya dalam
menanggapi benda-benda di sekitarnya sering keliru.
3. Dimensi III
Ukuran dimensi III terdapat pada kanak-kanak yang
sudah mulai belajar tentang hukum alam dan benda-benda.
Anak-anak atau manusia dalam hubungannya dengan
benda-benda yang dipakai untuk mencukupi kebutuhannya
sudah tidak sering keliru.
Hidup dalam tingkatan dimensi III adalah
berfungsinya tiga hal, yakni :
a. Panca indera
b. Organ atau bagian tubuh untuk menanggapi rangsang
c. pikiran, mulai mengerti pada hukum alam dan benda-
benda dan tahu cara bertindak yang benar.
4. Dimensi IV
Hidup dalam dimensi IV adalah hidup dalam tahap
tertinggi yang harus ditempuh manusia. Pada ukuran
dimensi IV, manusia hidup dalam hubungannya dengan
perasaan-perasaan sehingga dalam bergaul dengan benda-
benda hidup, manusia memahami adanya perasaan baik
perasaannya sendiri maupun perasaan orang lain.
Dalam dimensi IV hidup manusia telah lengkap
dapat menggunakan cipta, rasa, dan karsanya, terutama
sudah mampu memahami perasaan orang lain.

e. Hidup kejiwaan manusia: kepribadian


Jika pengetahuan tentang manusia disebut psikologi
kepribadian, maka istilah dalam bahasa Jawa yang dipakai
oleh Ki Ageng Suryomentaram adalah pengawikan pribadi
atau pengetahuan diri sendiri.
1. Pengawikan pribadi
Dengan mengetahui tentang diri sendiri, maka
manfaat pengawikan pribadi adalah:
a. Memahami kehidupan jiwanya sendiri dan orang lain
b. Memahami rasa diri sendiri dan orang lain
c. Melaksanakan hidup sehat, tepat, benar, dan dapat
dipertanggungjawabkan.
d. Mengatasi konflik-konflik yang terjadi.
e. Mengembangkan akal budi yang sehat, realistis, rasional.
2. Struktur Kejiwaan Manusia
a. Keinginan
b. Rasa hidup
c. Rasa Aku Kramadangsa (rasa senang dan susah, rasa
sama, rasa damai, rasa tabah, rasa iri dan sombong, rasa
sesal dan khawatir, rasa bebas)
f. Inti pribadi manusia: manusia baru
Tugas manusia baru adalah :
a. Manusia baru inilah yang menentukan kebahagiaan
seseorang
b. Manusia baru berperanan agar manusia dapat hidup sehat
dan bertanggung jawab.
c. Menggantikan Aku Kramadangsa, sebab selama Aku
Kramadangsa masih berfungsi maka manusia baru tidak
dapat berfungsi.
d. Memimpin hidup manusia yang kreatif secara bebas.
e. Menentukan pilihan-pilihan dalam hidup supaya hidup
secara benar
g. Menuju kesempurnaan hidup
Umumnya, manusia menginginkan hidup yang
bahagia. Kebahagiaan hidup digambarkan dengan hidup
yang aman, sejahtera, tenteram, dan hidup senang.
Singkatnya, hidup bahagia berarti semua keinginan dan
kebutuhan terpenuhikemudian hidup menjadi sempurna.
Namun Ki Ageng Suryomentaram mengatakan
bahwa konsep banyak orang mengenai kesempurnaan tidak
benar. Kesempurnaan menurut banyak orang hanyalah
bentuk pemenuhan Aku Kramadangsa, padahal selama Aku
Kramadangsa (kesewnang-wenangan) masih hidup maka
manusia baru tidak dapat berfungsi.
Kematian Aku Kramadangsa melalui Pengawikan
Pribadi, melalui pengetahuan jiwa dan kepribadian manusia
sendiri. Jika kesewenang-wenangan manusia sudah
diketahui oleh diri sendiri sebelum terjadi, maka Aku
Kramadangsa akan mati. Jika Aku Kramadangsa mati,
maka lahirlah kasih tanpa syarat. Kasih tanpa syarat artinya
kasih kepada siapa saja, dan terhadap apa saja.
Kasih itu rasanya enak dan bahagia. Rasa enak dan
bahagia, bukanlah rasa enak karena kehendak tercapai,
bukan karena mendapat harta, kekuasaan, kehormatan,
menang dengan musuh,dan sebagainya, tetapi rasa kasih
yang muncul karena lahir batinnya yang bebas, karena rasa
bebas. Inilah yang sejatinya disebut sebagai kesempurnaan
hidup.

Referensi:

Fudyartanto. (2003). Psikologi Kepribadian Timur. Yogyakarta: Penerbit Pustaka


Pelajar.