Anda di halaman 1dari 3

INDEPENDENSI AUDITOR INTERNAL

Independensi, satu kata sifat yang wajib melekat pada setiap diri auditor. Telah diatur
dalam kode etik profesi bahwa setiap auditor harus memiliki independensi dalam fakta
maupun dalam penampilan.
Menurut definisi yang disusun oleh Institute of Internal Audit (IIA), Internal audit adalah
aktivitas independen, keyakinan obyektif dan konsultasi yang dirancang untuk
memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasi organisasi. Audit tersebut
membantu organisasi mencapai tujuannya dengan menerapkan pendekatan yang
sistematis dan berdisiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas proses
pengelolaan risiko, kecukupan pengendalian dan proses tata kelola.
Independensi merupakan poin penting yang harus disorot dalam definisi internal audit.
Seorang auditor internal harus memiliki sifat independen dan objektif dalam melakukan
pekerjaannya. Independen disini diartikan sebagai kondisi bebas dari situasi yang dapat
mengancam kemampuan aktivitas auditor internal untuk dapat melaksanakan tanggung
jawabnya secara tidak memihak (IIA). Dalam melaksanakan tugasnya seorang auditor
internal harus didukung oleh seluruh manajemen senior dan dewan komisaris agar
independensinya dapat terjaga. Dukungan dari seluruh manajemen dan dewan komisaris
dapat membantu auditor internal dalam melakukan tugasnya dan mengungkapkan
pemikirannya sesuai dengan standar audit yang berlaku.
Secara ideal, auditor internal dikatakan independen apabila dapat melaksanakan
tugasnya secara bebas dan obyektif. Seorang auditor internal mengandalkan
kebebasannya untuk melaksanakan tugasnya dengan tidak berpihak dan objektif.
Independensi dan objektivitas merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam
internal audit. Auditor internal dapat bersikap objektif dengan mengandalkan
independensinya. Demikian juga, sikap objektif mencerminkan independensi dari
seorang auditor internal.
Independensi dan objektivitas seorang auditor diatur dalam International Standards for
the Professional Practice of Internal Auditing 1100. Dalam standar internasional tersebut
dijelaskan bahwa apabila independensi atau objektivitas dari seorang auditor terkendala,
maka detail dari kendala tersebut harus disampaikan kepada pihak yang berwenang.
Termasuk didalamnya dijelaskan bahwa seorang auditor internal harus menolak
melaksanakan penugasan penilaian kegiatan yang pada masa sebelumnya pernah
menjadi tanggung jawabnya. Sementara itu, objektivitas auditor internal dianggap
terkendala apabila auditor memberikan jasa asurans atas kegiatan yang pernah menjadi
tanggung jawabnya pada tahun sebelumnya.
Dalam praktek sehari-hari, independensi tidak semudah teori yang dipelajari selama
perkuliahan. Kondisi dan permasalahan yang dihadapi dilapangan membuat auditor
internal bisa saja mempertaruhkan independensinya. Pertimbangan pertama yang
dipikirkan oleh auditor internal adalah organisasi atau perusahaan tempat dia bekerja
tentu saja merupakan sumber penghasilannya. Sehingga auditor internal mempunyai
ketergantungan kepada organisasinya sebagai pemberi kerja. Meskipun diatas kertas
auditor internal menandatangani surat independensi, namun pada kenyataannya
independensi secara individu masih dipertanyakan.
Pengaruh atau intervensi terhadap independensi dari seorang auditor dapat berasal dari
manajemen atau dari dalam internal auditor itu sendiri. Sebagai contoh ketika direktur
perusahaan membatasi ruang lingkup dari pemeriksaan, hal tersebut merupakan
pembatasan terhadap independensi auditor internal. Kondisi lain yang berpotensi
mempengaruhi independensi dari auditor internal adalah banyaknya pihak yang
mempunyai kepentingan berbeda di dalam sebuah organisasi atau perusahaan.
Independensi, integritas serta tanggung jawab seorang auditor internal terhadap
profesinya dan masyarakat akan dipertaruhkan dengan menempatkan auditor internal
sebagai bagian dari kepentingan manajemen internal organisasi. Sebagai contoh dari
intervensi terhadap independensi seorang auditor internal adalah ketika seorang auditor
internal suatu bank memiliki kewajiban melaporkan hasil audit kepada Bank Indonesia
secara periodik. Itu berarti laporan tersebut akan berpotensi dipengaruhi oleh
kepentingan manajemen bank yang bersangkutan agar tidak membawa dampak
merepotkan manajemen karena adanya sanksi dari Bank Indonesia.
Pentingnya independensi dalam diri auditor serta terdapatnya pengaruh atau intervensi
terhadap independensi seorang auditor membuat dibutuhkan beberapa cara untuk
membangun independensi seorang auditor internal. Kedudukan audit internal dalam
struktur organisasi yang langsung berada dibawah dewan komisaris dan direktur utama
serta dapat berkomunikasi langsung dengan mereka merupakan salah satu cara
membangun independensi. Dalam melakukan pekerjaannya, auditor internal akan
mampu mengungkapkan pandangan dan dan pendapat tanpa tekanan dari manajemen
ataupun pihak lain yang terkait dengan organisasi. Selain dengan kedudukan dari unit
audit internal dalam struktur organisasi, komitmen dari manajemen puncak untuk
mendukung independensi dari auditor internal harus dituang dalam pernyataan tertulis
yang disebut Internal Audit Charter. Untuk membangun independensi yang lebih kuat
lagi dalam diri seorang auditor internal, dibutuhkan komitmen dari auditor internal itu
sendiri untuk bersikap independen dan objektif dalam melaksanakan tugasnya.
Komitmen tersebut dituang dalam kode etik internal audit perusahaan dan masing-
masing auditor internal turut menandatangani surat pernyataan independensi. Seorang
auditor internal tidak boleh memiliki kepentingan terhadap unit atau aktivitas yang
diauditnya. Apabila dalam prakteknya seorang auditor internal memiliki keterkaitan
dengan unit atau aktivitas yang diauditnya dan mengakibatkan auditor tersebut tidak
independen, maka internal audit harus melaporkan hal tersebut kepada manajemen
puncak.
Pada akhirnya, tidak mudah membangun dan mewujudkan independensi dalam diri
seorang auditor internal. Bahkan, ada istilah khusus yang mungkin sudah diketahui oleh
sebagian besar auditor. Tidak ada makan yang gratis, istilah tersebut dapat diartikan
seorang auditor internal yang bekerja untuk suatu organisasi dan mendapatkan nafkah
hidup dari organisasi atau perusahaan tersebut diharapkan memberikan timbal balik
yang menguntungkan untuk perusahaan tersebut. Dibutuhkan kompetensi yang baik dan
professionalisme dari auditor internal tersebut untuk membangun independensi.
Professionalism is a frame of mind, not a paycheck