Anda di halaman 1dari 20

Laporan Kasus

Fraktur Os Nasal dan Dinding Medial Orbita Sinistra

Pembimbing

dr. Denny Irwansyah, SpBP-RE(K)

Disusun Oleh :
Tiffany
11.2015.397

1
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
RSPAD Gatot Soebroto Jakarta
Periode 2 Januari 2017 11 Maret 2017

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Arjuna Utara No.6 Kebun Jeruk Jakarta Barat

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU PENYAKIT THT
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari / Tanggal Ujian / Persentasi Kasus :
SMF PENYAKIT BEDAH
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO

Nama Mahasiswa : Tiffany TandaTangan :


NIM :11-2015-397
Dokter Pembimbing : dr. Denny Irwansyah, SpBP-RE(K) ...................

I. IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap :Ny. HG Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 53 tahun Agama :Katolik
Pekerjaan : Pegawai Swasta Pendidikan : SMK
Alamat : Jl. Kar, Jaya Baru G Menikah : Menikah

Tanggal Masuk RS : 7 Februari 2017

ANAMNESIS
Diambil Secara : Autoanamnesis
Pada tanggal : 8 Februari 2017 Jam : 14.00 WIB
Keluhan utama : Lebam pada mata kiri sejak 1 hari yang
lalu
Keluhan tambahan : Hidung kiri tersumbat

2
Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) :
Pasien datang ke IGD RSPAD dengan keluhan lebam pada mata kiri sejak 3
jam SMRS . Pasien terpeleset lalu terjatuh di tangga dekat rel kereta api.
Posisi jatuh, wajah yang pertama mengenai anak tangga. Hidung
mengeluarkan darah merah segar sangat banyak kurang lebih 1 sampai 1,5
gelas air mineral. Saat ini hidung kiri terasa tersumbat. Daerah wajah kiri tidak
terasa baal. Kepala pasien tidak terbentur. Pasien tidak mengeluhkan sakit
kepala , kepala berputar, dan muntah. Namun pasien merasakan adanya
penglihatan ganda saat melihat ke atas.

Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) :


Pasien memiliki riwayat hipertensi dan rutin mengkonsumsi Amlodipin 5 mg

Riwayat Penyakit Keluarga (RPK) :


Ayah pasien memiliki penyakit hipertensi dan diabetes mellitus.

Riwayat Alergi :
Pasien memiliki alergi terhadap obat Ceftriaxon

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum :
Tampak Sakit Sedang

Kesadaran :
o Compos Mentis
o GCS 15 (E4 M6 V5)

Tanda-Tanda Vital
o Tekanan Darah : 130/90 mmHg
o HR : 84 kali/menit, regular, kuat angkat
o RR : 18 kali/menit, teratur
o Suhu 36,8 oC

Status Generalis
o Kepala : normocephal, hematoma (-) rambut hitam,
distribusi merata

3
o Mata : hematom palpebra superior sinistra,
edema, subkonjungtiva bleeding, penglihatan ganda
(+) saat melihat ke atas
o Leher : pembesaran KGB (-)
o Paru : suara nafas vesikuler +/+, tidak ada rhonki,
tidak ada wheezing
o Jantung : BJ I-II murni reguler, tidak ada murmur, tidak
ada gallop
o Abdomen : datar, jejas (-), BU + normoperistaltik , nyeri
tekan (-)
o Ekstremitas : tampak luka lecet dengan ukuran 4
cmx 2 cm pada siku tangan kiri, akral hangat, CRT <
2 detik

Status Lokalis
Wajah tampak asimetris karena edema pada pipi kiri. Pada
mata kiri tampak adanya hematoma palpebra superior,
subkonjungtiva bleeding . Pada hidung kiri tampak vulnus
laceratum dengan ukuran 2 cm x 0,5 cm x 0,5 cm. Pada siku
tangan kiri tampak vulnus ekskoriatum dengan ukuran 4 cm x
2 cm.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. CT Scan Wajah
o Kesan : Fraktur os nasal dan dinding medial orbita
kiri, dengan hematosinus ethmoid dan sinus
maksila kiri, serta soft tissue edema periorbita kiri
sampai temporal kiri.
o Tidak tampak perdarahan di intrakranial.
2. Foto Schedel
o Kesan : Tidak tampak fraktur pada tulang Calvaria
3. Foto Thorax
o Kesan : Tidak tampak kelainan radiologis pada
jantung dan paru.
4. Laboratorium
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
HEMATOLOGI
Hemoglobin 13.2 12.0-16.0 g/dL

4
Hematokrit 40 37-47%
Eritrosit 4.7 4.3-6.0 juta/uL
Leukosit 14280* 4.800-10.800/uL
Trombosit 316000 150.000-400.000/uL
MCV 85 80-96 fL
MCH 28 27-32 pg
MCHC 33 32-36 g/dL
KOAGULASI
WAKTU PROTROMBIN
(PT)
Kontrol 11.2 detik
Pasien 9.4 9.3-11.8 detik
APTT
Kontrol 34.1 detik
Pasien 35.9 31-47 detik
KIMIA KLINIK
SGOT (AST) 21 <35U/L
SGPT (ALT) 19 <40 U/L
Ureum 18* 20-50 mg/dL
Kreatinin 0.6 0.5-1.5 mg/dL
Glukosa Darah 118 <140 mg/dL
(Sewaktu)
Natrium (Na) 137 135-147 mmol/L
Kalium (K) 3.3* 3.5-5.0 mmol/L
Klorida (Cl) 94 95-105 mmol/L

RESUME
Seorang wanita, 53 tahun dengan keluhan lebam pada mata kiri karena terjatuh
di tangga yang disertai dengan hidung kiri terasa tersumbat dan adanya penglihatan
ganda. Tidak ada keluhan peningkatan tekanan intrakranial. Pasien memiliki riwayat
hipertensi sehingga rutin mengkonsumsi amlodipine 5mg dan memiliki alergi
terhadap antibiotic Ceftriaxon. Pada pemeriksaan fisik didapatkan hematoma palpebra
superior sinistra, subkonjungtiva bleeding dan adanya penglihatan ganda saat melihat
ke atas. Hidung kiri tampak vulnus laceratum dengan ukuran 2 cm x
0,5 cm x 0,5 cm. Siku tangan kiri tampak vulnus ekskoriatum
dengan ukuran 4 cm x 2 cm. Pada hasil lab di dapatkan leukosit
14.280/uL dan hasil CT-Scan wajah mendapat kesan fraktur os nasal
dan dinding medial orbita kiri, dengan hematosinus ethmoid dan
sinus maksila kiri, serta soft tissue edema periorbita kiri sampai
temporal kiri.

5
DIAGNOSIS
1. Fraktur os nasal dan dinding medial orbita kiri
2. Vulnus laceratum hidung kiri
3. Vulnus ekskoriatum tangan kiri
4. Hipertensi

PENATALAKSANAAN
1. ATS
2. TT
3. Ketorolac 3x 30 mg (Analgetik)
4. Ranitidine 2 x 50 mg
5. Cefotaxime 2 x 1 g (Antibiotik)
6. Pro operasi reduksi os nasal : toleransi operasi IPD, Jantung, Paru, Anastesi

PROGNOSIS
Ad Vitam : Bonam
Ad Functionam : Bonam
Ad Sanationam : Bonam

Laporan Pembedahan
Tanggal pembedahan : 16 Februari 2017
Ahli Bedah : dr. Anastasia SpBp-RE
Uraian Pembedahan :
1. Pasien posisi supine dalam General Anastesia
2. Sepsis dan Asepsis lapangan operasi
3. Injeksi Nasokonstriktor
4. Reduksi fr. Nasal dan fr. Medial Orbital Floor
5. Pasang tampon- Fiksasi setelah reposisi
6. Jahit dengan Polen 5-0
7. Op Selesai
Tinjauan Pustaka
Trauma Wajah 1
Pada kecelakaan lalu lintas, tujuh dari sepuluh penderita mengalami cedera
wajah yang kebanyakan berupa luka tajam dan memar.
Pada kasus cedera wajah, pernapasan , peredaran darah umum, dan kesadaran
harus diperhatikan terlebih dahulu. Jalan napas bagian atas mudah tersumbat akibat
fraktur dan dislokasi tulang-tulang wajah, udem atau perdarahan. Selain itu pada

6
penderita yang pingsan, lidah mudah menutup faring. Dalam hal ini, selalu harus
diingat bahaya aspirasi darah atau regurgitasi isi lambung.
Pada cedera wajah, selain masalah kerusakan kulit, jaringan lunak, dan tulang,
perlu diperhatikan secara khusus adanya cedera saraf sensorik dan motoric, maupun
cedera kelenjar dan saluran liur. Cedera wajah sangat berpotensi menimbulkan
gangguan fungsi bicara, mengunyah, menelan, pernapasan, dan penglihatan. Salah
satu dampak jangka panjang cedera wajah yaitu retraksi bekas luka pada bibir, hidung
dan kelompak mata, sehingga pengelolaan luka di wajah harus memperhatikan aspek
kosmetik.
Luka di wajah umumnya cepat sembuh karena vaskularisasi daerah wajah
sangat baik. Oleh karena itu, pada penjahitan perlu diperhatikan kerapihan dan
adaptasi tepi luka secara seksama, khususnya di daerah hidung, bibir dan mata. Jarum
dan benang jahit yang digunakan pun harus yang halus. Dalam debrideman, jaringan
perlu dihemat untuk mencegah cacat yang tidak perlu.

Anamnesis 1
Mendapatkan informasi tentang alergi, obat, status tetanus, riwayat medis dan
bedah masa lalu, merupakan hal yang paling terakhir, dan peristiwa seputar cedera.
Aspek yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut: bagaimana mekanisme
cedera? Apakah pasien kehilangan kesadaran atau mengalami perubahan status
mental? Jika demikian, untuk berapa lama? Apakah gangguan penglihatan, kilatan
cahaya, fotofobia, diplopia, pandangan kabur, nyeri, atau perubahan dengan gerakan
mata? Apakah pasien mengalami tinnitus atau vertigo? Apakah pasien memiliki
kesulitan bernapas melalui hidung? Apakah pasien memiliki manifestasi berdarah
atau yang jelas-cairan dari hidung atau telinga? Apakah pasien mengalami kesulitan
membuka atau menutup mulut? Apakah ada rasa sakit atau kejang otot? Apakah
pasien dapat menggigit tanpa rasa sakit, dan pasien merasa seperti kedudukan gigi
tidak normal? Apakah daerah mati rasa atau kesemutan pada wajah?

Pemeriksaan Fisik 2
Inspeksi
Secara sistematis bergerak dari atas ke bawah :
Deformitas, memar, abrasi, laserasi, edema.
Luka tembus.

7
Asimetris atau tidak.
Adanya Maloklusi / trismus, pertumbuhan gigi yang abnormal.
Otorrhea / Rhinorrhea. Telecanthus, Battle's sign, Raccoon's sign.
Cedera kelopak mata.
Ecchymosis, epistaksisi.
Defisit pendengaran.
Perhatikan ekspresi wajah untuk rasa nyeri, serta rasa cemas
Palpasi
Periksa kepala dan wajah untuk melihat adanya lecet, bengkak, ecchymosis,
jaringan hilang, luka, dan perdarahan, Periksa luka terbuka untuk memastikan
adanya benda asing seperti pasir, batu kerikil.
Periksa gigi untuk mobilitas, fraktur, atau maloklusi. Jika gigi avulsi,
mengesampingkan adanya aspirasi.
Palpasi untuk cedera tulang, krepitasi, terutama di daerah pinggiran
supraorbital dan infraorbital, tulang frontal, lengkungan zygomatic, dan pada
artikulasi zygoma dengan tulang frontal, temporal, dan rahang atas.
Periksa mata untuk memastikan adanya exophthalmos atau enophthalmos,
menonjol lemak dari kelopak mata, ketajaman visual, kelainan gerakan okular, jarak
interpupillary, dan ukuran pupil, bentuk,dan reaksi terhadap cahaya, baik
langsung dan konsensual.
Perhatikan sindrom fisura orbital superior, ophthalmoplegia, ptosis dan
proptosis.
Balikkan kelopak mata dan periksa benda asing atau adanya laserasi.
Memeriksa ruang anterior untuk mendeteksi adanya perdarahan, seperti
hyphema.
Palpasi daerah orbital medial. Kelembutan mungkin menandakan kerusakan
pada kompleks nasoethmoidal.
Lakukan tes palpasi bimanual hidung, bius dan tekan intranasal terhadap
lengkung orbital medial. Secara bersamaan tekan canthus medial. Jika tulang
bergerak, berarti adanya kompleks nasoethmoidal yang retak.
Lakukan tes traksi. Pegang tepi kelopak mata bawah, dan tarik terhadap
bagian medialnya. Jika "tarikan" tendon terjadi, bisa dicurigai gangguan dari
canthus medial.
Periksa hidung untuk telecanthus (pelebaran sisi tengah hidung) atau dislokasi.
Palpasi untuk kelembutan dan krepitasi.
Periksa septum hidung untuk hematoma, massa menonjol kebiruan, laserasi
pelebaran mukosa, fraktur, atau dislokasi, dan rhinorrhea cairan cerebrospinal.
Periksa untuk laserasi liang telinga, kebocoran cairan serebrospinal, integritas
membran timpani, hemotympanum, perforasi, atauecchymosis daerah mastoid
(Battle sign).

8
Periksa lidah dan mencari luka intraoral, ecchymosis, atau bengkak. Secara
Bimanual meraba mandibula, dan memeriksa tanda-tanda krepitasi atau mobilitas.
Tempatkan satu tangan pada gigi anterior rahang atas dan yang lainnya di sisi
tengah hidung.
Gerakan hanya gigi menunjukkan fraktur le fort I. Gerakan di sisi hidung menunjukkan
fraktur Le Fort II atau III.
Memanipulasi setiap gigi individu untuk bergerak, rasa sakit, gingival dan
pendarahan intraoral, air mata, atau adanya krepitasi.
Lakukan tes gigit pisau. Minta pasien untuk menggigit keras pada pisau. Jika
rahang retak, pasien tidak dapat melakukan ini dan akan mengalami rasa sakit.
Meraba seluruh bahagian mandibula dan sendi temporomandibular untuk
memeriksa nyeri, kelainan bentuk, atau ecchymosis.
Palpasi kondilus mandibula dengan menempatkan satu jari di saluran telinga
eksternal, sementara pasien membuka dan menutup mulut. Rasa sakit atau kurang gerak
kondilus menunjukkan fraktur.
Periksa paresthesia atau anestesi saraf.

Menilai dan mengevaluasi integritas saraf kranial :


1. N. Opticus (II), ketajaman Visual, refleks cahaya.

2. N. Occulomotorius (III), ukuran pupil, bentuk, reflek cahaya langsung dan tak
langsung, ptosis.

3. N. occulomotorius (III), N. Trochlear (IV), N. Abducens (VI), diplopia.

4. N. Trigeminal (V)

a. Tes sensorik, sentuh di dahi, bibir atas dan dagu di garis tengah.
Bandingkan satu sisi ke sisi lain untuk membuktikan adanya defisit
sensorik.

b. Tes motorik, merapatkan gigi dan rahang lalu bergerak ke lateral.

5. N. Facial (VII)

a) Area temporal, menaikkan alis, dahi dikerutkan.

9
b) Area zygomatic, memejamkan mata sampai tertutup rapat.

c) Area buccal, mengerutkan hidung, "membusungkan" pipi.

d) Area marjinal mandibula, mengerutkan bibir.

e) Area cervical, menarik leher (saraf otot platysma, namun fungsi ini tidak
terlalu penting peranannya dalam kehidupan sehari-hari).

6. N. Vestibulocochlearis (VIII), pendengaran, keseimbangan, gosok jari atau


berbisik di samping setiap telinga pasien. Jika terjadi gangguan konduktif,
akan terdengar lebih keras pada sisi yang terkena.

Pemeriksaan Penunjang 3
1. Wajah Bagian Atas :
CT-scan 3D dan CBCT-scan 3D (Cone Beam CT-scan 3D).
CT-scan aksial koronal.
Imaging Alternatif diantaranya termasuk CT Scan kepaladan X-ray kepala

2. Wajah Bagian Tengah :


CT-scan 3D dan CBCT-scan 3D (Cone Beam CT-scan 3D).
CT scan aksial koronal.
Imaging Alternatif diantaranya termasuk radiografi posisi waters dan
posteroanterior (Caldwells), Submentovertek (Jughandles).
3. Wajah Bagian Bawah :
CT-scan 3D dan CBCT-scan 3D.
Panoramic X-ray.
Imaging Alternatif diagnostik mencakup posisi :
- Posteroanterior (Caldwells).
- Posisi lateral (Schedell).
- Posisi towne.

Manifestasi Klinis 3
Gejala klinis gejala dan tanda trauma maksilofasial dapat berupa :
Dislokasi, berupa perubahan posisi yg menyebabkan maloklusi terutama
pada fraktur mandibular
Pergerakan yang abnormal pada sisi fraktur

10
Rasa nyeri pada sisi fraktur
Perdarahan pada daerah fraktur yang dapat menyumbat saluran napas
Pembengkakan dan memar pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan
lokasi daerah fraktur
Krepitasi berupa suara pada saat pemeriksaan akibat pergeseran
Laserasi yg terjadi pada daerah gusi, mukosa mulut dan daerah
sekitar fraktur
Diskolorisasi perubahan warna pada daerah fraktur akibat pembengkakan
Numbness, kelumpuhan dari bibir bawah, biasanya bila fraktur terjadi
dibawah nervus alveolaris
Pada fraktur orbita dapat dijumpai penglihatan kabur atau ganda,
penurunan pergerakan bola mata dan penurunan visus

Penatalaksanaan Fraktur Tulang Wajah Secara Umum 4


Jangan lakukan manipulasi pada tulang wajah terlalu banyak kecuali sudah pasti
jejas cervical tidak ada. Sejak Pre-Hospital sebaiknya dilakukan tindakan sebagai
berikut :
1. Airway Berikan oksigen, jaga jalan napas. Imobilisasi cervical selalu.
Bersihkan mulut dari berbagai debris, benda asing, dan lakuakn suction bila
ada darah. Bila perlu lakukan intubasi, krikotiroidotomi atau trakeotomi.
Lakukan pula stabilisasi pada cervical dengan memasang collar neck, sampai
dibuktikan tidak ada cedera cervical.
2. Breathing Nilai frekuensi napas. Jika ada kelainan, mungkin ada cedera
thorax yang menyertai. Perlu segera diatasi.
3. Circulation Nilai frekuensi nadi dan suhu akral. Jika ada tanda-tanda syok,
harus dicurigai ada perdarahan pada intra-
abdomen/femur/thorax/pelvis/retroperitoneal. Segera lakukan resusitasi cairan
dan atasi perdarahan tersebut.
4. Disability Nilai kesadaran dengan Glasgow Coma Scale (GCS). Lakukan
pemeriksaan neurologis sevara singkat. Catat setiap perubahan status mental.
5. Exposure- Lepaskan baju bila perlu, namun jaga untuk tetap hangat
6. Jika pasien dalam keadaan stabil, segera lakukan rujukan ke rumah sakit atau
spesialis bedah plastik.

11
Anatomi Maksilofasial 5
Pertumbuhan kranium terjadi sangat cepat pada tahun pertama dan kedua
setelah lahir dan lambat laun akan menurun kecepatannya. Pada anak usia 4-5 tahun,
besar kranium sudah mencapai 90% cranium dewasa. Maksilofasial tergabung dalam tulang
wajah yang tersusun secara baik dalam membentuk wajah manusia.
Daerah maksilofasial dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah wajah
bagian atas, dimana patah tulang melibatkan os frontal dan sinus frontalis. Bagian
kedua adalah midface . Midface dibagi menjadi bagian atas dan bawah. Bagian atas:
os.zigoma, os nasal, os etmoid, dan os maksila bagian non gigi. Mencakup fraktur
maksila Le Fort II dan Le Fort III, dan atau fraktur os nasal, kompleks nasoetmoidal,
atau kompleks zigomatikomaksila dan dasar orbita. Bagian bawal alveolus maksila,
gigi, dan palatum dan dimana fraktur Le Fort I terjadi. Bagian ketiga dari daerah
maksilofasial adalah wajah yang lebih rendah, di mana patah tulang yang terisolasi ke
rahang bawah.
Didalam tulang wajah terdapat rongga-rongga yang membentuk rongga mulut
(cavum oris), dan rongga hidung (cavum nasi) dan rongga mata (orbita).
a. Bagian hidung terdiri atas :
Os Lacrimal (tulang mata) letaknya disebelah kiri/kanan pangkal hidung disudut
mata. Os Nasal (tulang hidung) yang membentuk batang hidung sebelahatas. Dan Os
Konka nasal (tulang karang hidung), letaknya di dalam ronggahidung dan bentuknya
berlipat-lipat. Septum nasi (sekat rongga hidung) adalahsambungan dari tulang tapis
yang tegak.
b. Bagian rahang terdiri atas tulang-tulang seperti :
Os Maksilaris (tulang rahang atas), Os Zigomaticum, tulang pipi yangterdiri dari dua
tulang kiri dan kanan. Os Palatum atau tulang langit-langit, terdiridari dua dua buah
tulang kiri dan kanan. Os Mandibularis atau tulang rahangbawah, terdiri dari dua
bagian yaitu bagian kiri dan kanan yang kemudian bersatudi pertengahan dagu.
Dibagian depan dari mandibula terdapat processus coracoids tempat melekatnya otot.

12
Gambar 1. Anatomi Maksilofasial

Fraktur Maksila 1
Struktur tulang maksilofasial yang terdiri dari os maksila, zigomatikus dan
etmoid, tersusun secara khusus sebagai peredam kejut yang melindungi otak.
Pemeriksaan dilakukan menyeluruh dengan memperhatikan kerusakan di tempat lain,
baik yang dekat maupun yang jauh, terutama cedera otak. Pemeriksaan local
dilakukan dengan inspeksi dan palpasi ekstraoral maupun intraoral.

Gambar 2 . Fraktur Le Fort


Pada inspeksi diperhatikan adanya asimetri muka, udem, hematoma, trismus,
nyeri spontan, serta maloklusi. Fraktur maksilofasial biasanya disertai udem dan
hematoma sehingga muka tampak sangat bengkak (wajah balon). LeFort
membedakan fraktur maksilofasial menjadi tiga macam. LeFort I merupakan fraktur
transversal yang melalui lantai rongga sinus maksila diatas gigi, sehingga
memisahkan prosesus alveolaris, palatum dan prosesus pterigoid dari struktur
tengkorak wajah di atasnya. LeFort II membentuk patahan fraktur berbentuk
piramida. Garis fraktur berjalan diagonal dari lempeng pterigoid melewati maksila
menuju tepi inferior orbita dan keatas melewati sisi medial orbita hingga mencapai
hidung, sehingga memisahkan alveolus maksila, dinding medial orbita dan hidung

13
sebagai bagian tersendiri. LeFort III merupakan fraktur yang melewati sutura
zigomatikofrontalis, berlanjut ke dasar orbita hingga sutura nasofrontalis. Pada tipe
ini, tulang-tulang wajah terpisah dari kranium.
Palpasi harus dilakukan secara serentak (kanan kiri bersama-sama), seksama
(hati-hati) dan sistematis. Penderita fraktur maksilofasial tanpa gangguan kesadaran
dapat diperiksa dalam posisi berbaring atau duduk. Diagnosis ditentukan atau
didukung oleh foto Rontgen posisi Waters.
`Fraktur maksila umumnya bilateral. Secara klinis wajah tampak bengkak,
mata tertutup karena hematoma, ingus berdarah, dan sering kali disertai dengan
gangguan kesadaran, Penggolongan diagnosis menurut LeFort sangat penting dalam
penanganan fraktur maksila. Fraktur maksila yang ektensif perlu direduksi dan
ditatalaksana secara bedah karena biasanya terkait sekuele estetis dan fungsional yang
signifikan, kecuali jika fraktur maksila yang terjadi benar-benar terlokalisir sehingga
tidak ada deformitas atau gangguan fungsi yang signifikan.
Oklusi normal dapat diperbaiki dengan menggunakan kawat interdental dan
maksilomandibular fixation (MMF). Reduksi interna dengan fiksasi menggunakan
miniplate dan sekrup dalam menatalaksana fraktur maksila dapat mengurangi durasi
penggunaan MMF, sehingga hygiene oral dapat ditingkatkan, nutrisi lebih baik, jalan
napas terjaga, pengurangan berat badan dapat dicegah, serta kemungkinan infeksi
dapat berkurang. Kesemuanya ini membuat derasi rawat inap di rumah sakit juga
berkurang. Fiksasi interna menjaga fragmen tulang yang sudah tereduksi tetap pada
posisinya, resorbsi bone-graft berkurang, fungsi dapat kembali normal lebih cepat.
Metode terdahulu yang memfiksasi segmen fraktur dengan interosseus wires ternyata
lebih tidak stabil dan daerah fraktur kurang kuat menhan stress. Bone graft juga dapat
digunakan pada fraktur yang sangat kominutif untuk mencegah dismorfik wajah
tengah.
Penanganan ini menuntut sarana dan keahlian yang memadai. Fiksasi dan
imobilisasi berlangsung selama enam hingga delapan minggu.

Fraktur Nasal 1
Fraktur nasal merupakan fraktur tulang wajah yang paling umum dijumpai,
dengan frekuensi kira-kira separuh dari seluruh insidens fraktur tulang muka.
Pada pemeriksaan didapatkan pembengkakan, epistaksis, deviasi hidung, nyeri
tekan, krepitasi dan teraba garis fraktur. Merkipun fraktur nasal seharusnya dapat

14
didiagnosis tanpa pemeriksaan penunjang, pemeriksaan radiologis dapat membantu
untuk memastikan tidak adanya fraktur tulang wajah lain di sekitar hidung. Foto
Rontgen dari arah lateral dapat menunjang diagnosis.
Hematoma septal harus dievakuasi segera dengan drainase untuk
meminimalisasikan resiko infeksi dan nekrosis akibat tekanan. Fraktur nasal hampir
selalu disertai dengan epistaksis sehingga pemasangan tampon hidung adalah
prosedur yang paling sering dilakukan untuk menghentikan perdarahan setelah gagal
dengan vasokonstriktor topical. Tampon dimasukkan langsung pada area perdarahan
untuk memberi efek penekanan. Tampon biasanya diangkat setelah 2-5 hari, dan pada
saat yang sama dapat dilakukan reduksi. Udem hebat jaringan lunak di sekitar hidung
adalah fenomena yag sering ditemukan. Hal ini dapat menunda tatalaksana karena
pemeriksaan fisik yang akurat sulit dilakukan. Pemeriksaan posisi tulang nasal
biasanya dilakukan setelah 2-3 minggu, namun perlekatan tulang yang patah ke
jaringan lunak sekitarnya bahkan sudah dapat ditemukan 5-10 hari pasca trauma.
Elevasi kepala dan kompres hidung dengan es dapat mengurangi udem dengan cepat
sekaligus mengurangi nyeri, sehingga dapat mempercepat dilakukannya reduksi yang
tepat.
Reduksi fraktur harus dilakukan segera saat evaluasi yang akurat dan
manipulasi os nasal yang mobile dapat dilakukan. Hal ini biasanya dilakukan pada
hari 5-10 pada dewasa dan hari 3-7 pada anak-anak. Jika udem minimal, reduksi dapat
segera dilakukan. Perlu diingat bahwa reduksi fraktur nasal prioritasnya jauh lebih
rendah dibandingkan cedera penyerta yang mengancam jiwa. Patahan dapat
dilindungi dengan gips tipis berbentuk kupu-kupu untuk satu hingga dua minggu
sambil mengatasi cedera lain yang mengancam jiwa.
Fraktur Zigoma 1
Fraktur zigoma meliputi cedera apapun yang menyebabkan terputusnya lima
hubungan zigoma denga tulang-tulang kraniofasial didekatnya yaitu , sutura
zigomatikofrontal, rima infraorbita, zigomatikomaksila, arkus zigoma dan sutura
zigomatikosfenoid.
Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai adanya udem , ekimosis periorbita,
hematoma subkonjungtiva, retraksi kelopak mata bawah unilateral akibat depresi os
zigoma, epistaksis unilateral, maloklusi sisi yang terkena, eksoftalmus dan pada
palpasi dapat teraba adanya pergeseran zigoma ke inferior dan posterior serta

15
asimetris tulang pipi. Foto Rontgen posisi Waters , Caldwell atau submentovertex
dapat memperlihatkan proyeksi arkus zigoma.
Reduksi fraktur zigoma dilakukan melalui insisi kombinasi. Sebagai prinsip
umum, kesegarisan os Zigoma harus ditetapkan pada setidaknya 3 area dan difiksasi
setidaknya 2 area dengan miniplate dan sekrup.

Klasifikasi Fraktur Zigoma (Knight and North)


Grup I : Tidak ada pergeseran (displacement) yang signifikan, fraktur terlihat
pada foto Rontgen namun fragmen tetap segaris, 6%
Grup II : Fraktur arkus zigoma; dengan arkus melesak kedalam tanpa
keterlibatan orbita bagian anterior, 10%
Grup III : Fraktur korpus; bergeser ke bawah dan ke dalam, namun tidak ada
rotasi, 33%
Grup IV : Fraktur korpus Zigoma dengan yang berotasi ke medial, bergeser ke
bawah, ke dalam dank e belakang dengan rotasi medial, 11%
Grup V : Fraktur korpus dengan rotasi ke lateral; bergeser ke bawah, belakang
dan medial dengan rotasi zigoma ke lateral , 22%
Grup VI : Semua kasus fraktur zigoma yang disertai dengan garis fraktur
tambahan yang melewati fragmen utama , 18%

Fraktur NOE ( Naso - Orbital Etmoid )1


NOE merupakan kompleks anatomi yang terdiri dari os frontal, nasal, maksila,
lakrimal, etmoid, dan sfenoid.
Fraktur NOE dapat disertai dengan gangguan jalan napas, penglihatan,
pendengaran, fungsi oklusi, dan gangguan saraf kranial. Harus dilakukan pemeriksaan
visus, pupil, pergerakan otot-otot bola mata, serta fungsi lakrimal. Adanya cairan dari
hidung harus dicurigai sebagai cairan cerebrospinal.
Terapi operatif harus dilakukan secepatnya, berupa fiksasi fragmen tulang
dengan microplate, dan disertai kantopeksi jika terjadi avulsi ligamen kantus medial
mata.

Fraktur Mandibula 1
Fraktur mandibular yang sering ditemukan biaanya disebabkan oleh trauma
langsung. Pada pemeriksaan harus diperhatikan adanya asimetri dan maloklusi. Pada

16
palpasi, dapat teraba garis fraktur dan mati rasa bibir bawah akibat kerusakan pada
n.mandibularis.
Fraktur mandibular umumnya disertai dislokasi fragmen tulang sesuai dengan
tonus otot yang berinsersi di tempat tersebut. Pada fraktur daerah dagu, otot akan
menarik fragmen tulang kea rah dorsokaudal, sedangkan pada fraktur bagian lateral,
patahan tulang akan tertarik kea rah kranial.
Fraktur pada bagian tulang yang menyangga gigi dapat difiksasi dengan kawat
interdental untuk menjamin pulihnya oklusi dengan baik. Jika tidak dapat dilakukan
pemasangan kawat , diperlukan reposisi dan fiksasi terbuka dengan osteosintesis.

Fraktur Panfasial 1
Fraktur panfasial adalah fraktur yang mencakup dua dari tiga area wajah yaitu
tulang frontal, wajah tengah, dan mandibular.
Dengan pemeriksaan CT-scan 3 dimensi, keparahan dan pola fraktur panfasial
dapat ditentukan dengan seksama sehingga rekonstruksi dapat direncanakan dengan
baik. Insisi yang sering digunakan adalah insisi koronal, karena menghasilkan
visualisasi luas terhadap sepertiga atas area wajah. Hal ini memudahkan perbaikan
berbagai tipe fraktur, termasuk fraktur pada os frontalis dan sinus, area supraorbital,
arcus zigoma, area NOE, prosesus frontalis zigoma, serta orbita lateral. Kalau
diperlukan, prosedur bedah saraf dilakukan dalam waktu yang bersamaan.

Fraktur Orbita 1
Fraktur ini terjadi akibat trauma langsung pada tepi tulang orbita atau pada os
zigomatikus. Trauma tidak langsung pada umumnya disebabkan oleh benda bulat,
misalnya bola yang menyebabkan tekanan besar sehingga timbul efek letupan dalam
orbita yang merusak tulang dasar orbita. Akibatnya sebagian isi orbita masuk ke sinus
maksilaris. Kejadian ini disebut juga patah tulang letup keluar (blow-out-fracture).
Gambaran klinis berupa hematoma monokel yang dapat disertai diplopia,
hemomaksila dan mati rasa pipi akibat cedera n.infraorbitalis atau mati rasa dahi
karena kerusakan n.supraorbitalis.
Fraktur letup dapat menyebabkan enoftalmos dan sering disertai dengan
terjepitnya m.rektus inferior di dalam patahan sehingga gerakan mata sangan
terganggu dan penderitanya mengalami diplopia. Bola mata dapat mengalami

17
berbagai macam kerusakan dalam. Pengelolaan cedera letup ini memerlukan keahlian
khusus.

Trauma Bola Mata 1


Trauma bola mata, menurut penyebabnya dapat dibagi dalam tiga golongan,
yakni kombustio, trauma tumpul dan trauma tajam.
Trauma Tumpul dan Tajam
Trauma tumpul dapat menyebabkan ekimosis, perdarahan subkonjungtiva,
hifema, iris terlepas dan luksasio lensa. Bila trauma hebat dapat terjadi perdarahan
korpus vitreum. Trauma tajam berupa luka tembus cukup berbahaya dan
menimbulkan kebutaan.
Pemeriksaan dimulai dengan menilai visus. Kalau mata tidak dapat dibuka,
sebaiknya diberikan anastetik yang diteteskan pada mukosa kelopak mata bagian
bawah secukupnya, kalau perlu berulang kali, sampai kelopak mata dapat dibuka.
Hematoma kacamata umumnya disebabkan oleh trauma kepala yang disertai
patah tulang dasar tengkorak. Hematoma ini dapat pula disebabkan oleh patah tulang
maksila, dalam hal ini hematoma segera tampak, sedangkan hematoma akibat patah
tulang dasar tengkorak baru tampak beberapa jam setelah terjadinya cedera.
Perdarahan subkonjungtiva terbatas umumnya bukan disebabkan oleh cedera
yang berarti, sedangkan hematoma subkonjungtiva yang luas menandai trauma berat.
Benda asing di konjungtiva dapat ditemukan dan dikeluarkan setelah kelompak mata
atas dibalik tanpa perlu anastetik. Sebaliknya, pengambilan benda asing dari kornea
memerlukan anastesia sehingga sebaiknya penderita segera dirujuk.

18
Daftar Pustaka
1. Samsuhidayat R, Karnadiharja W, Prasetyono T, Rudiman R. Buju ajar ilmu
bedah De-Jong. Edisi ke-3: Jakarta; EGC. 2007. h.417-22.
2. Losee JE, Gimbel MI, Rubin JP, Wallace CG, Wei FC. Plastic and
reconstructive surgery. Dalam : Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR,
Dunn DL, Hunter JG, Pollock RE, penyunting. Schwartzs manual of surgery.
Edisi ke-10. New York: Mc Graw-Hill: 2014. h. 1829-94
3. Hollier L, Kelley P. Soft tissue and skeletal injuries of the face. Dalam : Thrne
CH, Beasley RW, Aston SJ, Bartlett SP, Gurtner GC, Spear SL, penyunting.
Grabb and Smiths plastic surgery. Edisi 7. Philadelphia: Lippincott Williams
Wilkins: 2013
4. American College of Surgeons (ACS) Committees on Trauma. Advanced
trauma life support (ATLS) student course manual. Edisi ke-9. 2012
5. Prein J. Manual of internal fixation in the cranio-facial skeleton. Berlin:
Springer; 1997

19
20