Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH TOKSIKOLOGI LINGKUNGAN

TOKSIKOLOGI PESTISIDA: TOKSISITAS ORGANIC SOLVENT

Disusun oleh:
Ayu Diah Pangestuti (14513082)
Nada Tsusayya Waizh (14513114)
Siti Hajrah Detu (14513119)

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERNCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiratTuhan Yang


MahaEsa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Toksikologi Pestisida: Toksisitas Pelarut Organik. Dan juga
kami berterimakasih pada Ibu Anja Asmarany selaku dosen
mata kuliah Toksikologi Lingkungan yang telah memberikan
tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai toksisitas dari pelarut organik. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu,
kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.

Yogyakarta, Oktober 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar......................................................................................................................i
Daftar Isi...............................................................................................................................ii
BAB 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................................2
1.3 Tujuan...........................................................................................................................2
BAB II Pembahasan
2.1 Definisi pelarut organic (organic solvent)....................................................................3
2.2 Klasifikasi pelarut organik............................................................................................3
2.3 Dampak pelarut organic................................................................................................4
2.4 Pengendalian dampak pelarut organik..........................................................................5
BAB III Penutup
3.1 Kesimpulan...................................................................................................................6
3.2 Saran.............................................................................................................................6
DaftarPustaka.......................................................................................................................7

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pelarut merupakan cairan yang mampu melarutkan zat lain yang umumnya berbentuk
padatan tanpa mengalami perubahan kimia. Pelarut paling umum digunakan dalam
kehidupan sehari-hari adalah air. Dalam bentuk cairan dan padatan, tiap molekul saling
terikat akibat adanya gaya tarik menarik antar molekul, gaya tarik menarik tersebut akan
mempengaruhi pembentukan larutan. Ada dua jenis pelarut salah satunya yaitu pelarut lain
yang juga umum digunakan adalah bahan kimia organik (mengandung karbon) yang juga
disebut pelarut organik.
Pelarut organik merupakan pelarut yang umumnya mengandung atom karbon dalam
molekulnya. Dalam pelarut organik, zat terlarut didasarkan pada kemampuan koordinasi dan
konstanta dielektriknya. Kegunaannya sangat beragam, mulai dari pelarut tinta, cat dinding,
obat pembasmi serangga, pembersih lantai, dan bahkan campuran bahan dasar kosmetik
seperti parfum dan pembersih wajah.
Tidak jarang pelarut organik yang kita gunakan sehari-hari menimbulkan efek yang tidak
diinginkan. Namun kebanyakan masyarakat tidak menyadari jika efek buruk tersebut. efek
bagi kesehatan dapat terjadi dalam jangka pendek maupun panjang. Efek dari paparan
pelarut organik ini terjadi bergantung pada lamanya paparan terjadi, konsentrasi pelarut serta
cara paparan terjadi. Efek yang Iebih buruk dapat terjadi apabila terpapar cukup banyak,
yaitu kejang, koma hingga menimbulkan kematian.
Agar tidak berefek buruk bagi kesehatan manusia maka penggunaan bahan-bahan pelarut
organik harus hati-hati. Penyimpanannya harus di tempat yang aman, dan tidak mudah
dijangkau anak-anak. Pemakaian APD (Alat Pelindung Diri) juga diperlukan ketika kita
menggunakan bahan tersebut. Pengendalian terhadap paparan pelarut organik juga perlu
dilakukan untuk menghentikan dampak paparan atau meminimalisir dampak yang
disebabkan.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi pelarut organik (organic solvent)?
2. Bagaimana klasifikasi pelarut organik?
3. Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari pelarut organik bagi lingkungan dan
kesehatan manusia?
4. Bagaimana pengendalian dampak pelarut organik?

1.3 TUJUAN
1. Mengetahui definisi dari pelarut organic solvent
2. Mengetahui klasifikasi pelarut organik
3. Mengetahui dampak yang ditimbulkan dari pelarut organik bagi lingkungan dan
kesehatan manusia
4. Mengetahui pengendalian dampak pelarut organik.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI PELARUT ORGANIK


Pelarut (solvent) pada umumnya adalah zat yang berada pada larutan dalam jumlah yang
besar, sedangkan zat lainnya dianggap sebagai zat terlarut (solute). Pelarut paling umum
digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air. Pelarut lain yang juga umum digunakan
adalah bahan kimia organik (mengandung karbon) yang juga disebut pelarut organik.

2.2 KLASIFIKASI PELARUT ORGANIK


Pelarut dibagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:
1. Aqueous solvent : pelarut berbasis air, seperti deterjen, cairan berisi asam, dan cairan
berisi basa
2. Non-aqueous solvent : pelarut organik, yang terdiri dari:
HC Alifatik : hexana, methana
HC Siklik : sikloheksana
HC Aromatik : benzene, toluena, xylene
HC Halogenated : trichloroethylene
HC Alkohol : metanol, etanol, propanol
HC Ketone : acetone
HC Ether : ethyl eter, ether glycol
Penilaian terhadap tingkat bahaya dari pelarut ditentukan berdasarkan rumus molekul dan
toksisitasnya.

2.3 DAMPAK DARI PELARUT ORGANIK


2.3.1 Dampak bagi lingkungan:
- Dapat menyebabkan pencemaran udara
- Dapat menyebabkan pencemaran tanah
- Dapat menyebabkan pencemaran air tanah
- Dapat menyebabkan penipisan lapisan ozon

3
- Dapat menyebabkan keseimbangan lingkungan terganggu
2.3.2 Dampak bagi kesehatan:
o Hidrokarbon Alifatik (hexane, methane):
Depresi susunan saraf pusat, dermatitis. Umumnya inert, paling tidak reaktif
o Hidrokarbon Siklik (sikloheksena):
Efek hampir sama seperti alifatik hanya saja tidak terlalu inert. Efek utama yang
ditimbulkan adalah dermatis. Berbagai hidrokarbon siklik yang terhirup dapat di
metabolisme oleh tubuh menjadi zat yang kurang toksik.
o Hidrokarbon aromatic (benzene, toluene, xylene):
Benzena sangat toksik terhadap jaringan pembuat sel darah.
Benzena dapat diabsorpsi lewat kulit dan inhalasi
Toluena dan xylene yang tercampur metal etil keton dapat menyebabkan
mual dan pusing
Hidrokarbon aromatic cair dapat menyebabkan iritasi local dan vasodilatasi.
Apabila terhirup dalam jumlah yang banyak akan menyebabkan terjadinya
kelainan paru-paru yang parah. Efek lainnya : dermatitis dan kerusakan
susunan saraf pusat.
o Hidrokarbon terhalogenasi (trichloroethylene):
Efek tergantung pada halogen yang terikatnya. Yang paling toksik adalah
CCL4 (tetrachloromethane) dengan efek terhadap ginjal, hati, susunan saraf
pusat, dan pemncernaan. TLV : 10 ppm.
Trifluorotrikloro-etan toksisitasnya rendah. TLV : 1000 ppm. Sering
digunakan substitusi material yang lebih berbahaya karena sifatnya yang tidak
mudah terbakar dan toksisitanya rendah.
o Alkohol (methanol, ethanol, propanol):
Berdampak pada susunan saraf pusat dan hati
Methanol dapat menyebabkan gangguan penglihatan di metabolism secara
lambat dan menghasilkan metabolit yang berupa toksik. Methanol lebih
berbahaya daripada toksik ethanol

4
Ethanol cepat diuraikan dan diubah menjadi CO2. Ethanol merupakan alcohol
yang paling tidak berbahaya.
Propanol lebih toksik, mudah termetabolisme menjadi metabolit.
o Esther (ethyl eter, ether glycol):
Bersifat anestetik
Ether glycol efeknya terhadap otak, darah, jantung, mudah diserap oleh kulit
dan menimbulkan efek saraf termasuk perubahan kepribadian.
Etilen glikol mono-etil-eter jarang menimbulkan efek buruk.
o Keton (methyl ethyl keton, aseton):
Dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan.
Methyl-ethyl-keton bersama dengan toluene, xylene dapat menyebabkan
vertigo dan mual.

2.4 PENGENDALIAN DAMPAK PELARUT ORGANIK


Mengandung dua aspek yaitu aspek teknik produksi dan aspek lingkungan kerja. Aspek
teknik produksi seperti menghentikan pembuatan, substitusi oleh bahan yang lebih aman,
mengisolasi atau mengendalikan dari jarak jauh. Aspek lingkungan kerja mengutamakan
pada pengamanan lingkungan kerja bukan kepada sumbernya seperti pembuatan system
ventilasi yang baik, penurunan konsentrasi zat dengan mengabsorbsinya, penggunaan APD,
perbaikan sanitasi dan hygiene lingkungan kerja.

5
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
1. Pelarut (solvent) pada umumnya adalah zat yang berada pada larutan dalam jumlah yang
besar, sedangkan zat lainnya dianggap sebagai zat terlarut (solute).
2. Pelarut organik terdiri dari:
HC Alifatik : hexana, methana
HC Siklik : sikloheksana
HC Aromatik : benzene, toluena, xylene
HC Halogenated : trichloroethylene
HC Alkohol : metanol, etanol, propanol
HC Ketone : acetone
HC Ether : ethyl eter, ether glycol
3. Dampak dari pelarut organik dapat menyebabkan dampak negatif baik bagi lingkungan
maupun kesehatan.
4. Pengendalian yang dapat dilakukan dari dampak pelarut organik diantaranya yaitu
menghentikan pembuatan, substitusi oleh bahan yang lebih aman, penggunaan APD,
perbaikan sanitasi dan hygiene lingkungan kerja

3.2 SARAN
1. Megunakan alat pelindung diri ketika berinteraksi dengan bahan-bahan kimia
khususnya pelarut.
2. Masyarakat diharapkan dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan dan
mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung zat pelarut.
3. Pemerintah diharapkan menetapkan peraturan perundang-undangan dan
sanksi yang tegas.

6
4. Penggunaan bahan pengganti pelarut yang lebih aman untuk meminimalisir
dampak bagi kesehatan dan lingkungan.

6
DAFTAR PUSTAKA

C.R.Garcia-Garcia et al. 2016. Occupational Pesticide Exposure And Adverse Health Effects At
The Clinical. Hematological And Biochemical Level. Jurnal life science 145 (2016) 274-
283. www.elsevier.com/locate/lifescie. Diakses pada tanggal 23 September pukul 09.00
Novita, Lessy. 2016. Pelarut Organik. https://www.academia.edu/11239412/pelarut_organik.
10 Oktober 2016. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2016 pukul 20.30.