Anda di halaman 1dari 4

TUGAS PENDAHULUAN

1. Jelaskan keunggulan bentuk sediaan tetes mata dari bentuk sediaan mata yang lain?
Jawab: Kelebihan sediaan tetes mata adalah tidak menimbulkan gangguan penglihatan jika
dibandingkan dengan salep mata

2. Jelaskan pentingnya disolusi obat pada cairan lakrimal, hubungkan dengan teori yang
dikemukakan oleh Kinsey! Proses apa yang terjadi?
Jawab: Banyak obat mata adalah basa lemah dimana bentuk garamnya digunakan pada
mata dalam larutan berair. Karena kemampuan netralisasi dari air mata, pH dari tetes mata
dengan cepat dirubah menjadi pH fisiologis. Tergantung dari sifat disosiasi dari alkaloida,
sebagian dari garam akan dirubah menjadi bentuk basa bebas yang biasanya lebih larut
lemak sehingga ion mudah di transfer dalam sel epitel ke dalam subtantia propia (stoma).
Lapisan stroma ini berlapis-lapis , kurang mengandung lipid dan kaya akan air. Obat yang
berpenetrasi sebagian akan dirubah menjadi bentuk terprotonisasi tergantung pada PH
lingkungan berair pada stroma. Pada saat melewati lapisan lemak endothelium, obat masuk
kedalam cairan humor dimana obat akan terdifusi dengan cepat kedalam iris dan badan siliar
yaitu tempat dimana obat mempunyai aksi farmakologis.

3. Berikan pendapat anda yang didukung oleh pustaka tentang pendaparan sediaan tetes mata!
Apakah suatu sediaan tetes mata harus di dapar? Jenis dapar apa yang umum dipilih?
Apakah dapar dengan kapasitas dapar besar atau kecil? Jelaskan dengan alas an dan pustaka
yang mendukung?
Jawab: Sistem dapar dipilih harus mempunyai kapasitas memadai untuk menjaga pH dalam
rentang stabilitas selama penyimpanan produk. Oleh karena itu sistem dapar harus dipilih
sedekat mungkin dengan pH fisiologis yaitu 7,4 dan tidak menyebabkan pengendapan obat
atau mempercepat kerusakan obat. Dapar yang ditambahkan mempunyai kapasitas dapar
yang rendah untuk membantu pelepasan obat dari sediaan.
Digunakan pendaparan dalam suatu larutan untuk mata karena salah satu atau semua
alasan sebagai berikut: 1. untuk mengurangi ketidak nyamanan si pasien, 2. Untuk menjamin
kestabilan obat, dan 3. Untuk mengawasi aktifitas terapeutik bahan obat, sehingga suatu
sediaan tetes mata harus didaparkan (Ansel, H.C., 1985)
4. Carilah prosedur yang benar tentang cara penggunaan tetes mata yang benar! buatlah contoh
brosur obat dengan formula standar tetes mata pilokarpin yang anda ketahui!
Jawab: Cara penggunaan obat tetes mata, (UPT Pelayanan Kesehatan ITB, 2017)
1) Cucilah tangan anda dengan air dan sabun
2) Pastikan kondisi ujung botol tetes tidak rusak
3) Condongkan kepala ke belakang, tarik kelopak bawah mata menggunakan jari telunjuk
sehingga kelopak mata membentuk kantung
4) Pegang botol tetes dengan menggunakan tangan yang lainnya sedekat mungkin dengan
kelopak mata tanpa menyentuhnya. Tekan botol tetes secara perlahan sampai jumlah tetes
cairan yang dibutuhkan masuk ke dalam kantung kelopak bawah mata. Jangan mengedip
5) Tutup mata selama 2-3 menit. Bersihkan cairan berlebih pada wajah dengan
menggunakan tisu.
6) Jangan menyeka atau membilas ujung botol tetes
7) Pasang kembali tutup botol tetes mata dengan rapat.
8) Cucilah tangan anda dengan air dan sabun untuk membersihkan sisa obat yang mungkin
menempel.
Contoh Brosur:
5. Jika pilokarpin akan diformulasi menjadi suatu sediaan mata, jelaskan tentang:
a. Pada pH berapa sebaiknya formula dibuat, pH kestabilan bahan paling baik atau pH
fisiologis cairan lakrimal? Yang mana yang palig efektif?
Jawab: zat aktif pilokarpin hanya stabil pada rentang pH yang sempit yakni pada 5,12.
Sehingga saat membuat sediaan dengan zat aktif pilokarpin harus mendekati rentang pH
5,12.
b. Jenis dapar yang anda pilih!
Jawab: Tidak memakai pendapar karena dari suatu percobaan dengan menggunakan
pengawet benzalkoinum diketahui bahwa benzalkonium klorida pada konsentrasi 0,01%
menstabilkan larutan pilokarpin hidroklorida yang tidak didapar terhadap hidrolisis,
dibandingkan dengan larutan yang didapar. (Stabilitas Kimiawi Sediaan Farmasi, hal.
565).
c. Apa yang harus diperhatikan pada pengawetan sediaan? Jelaskan bahan pengawet yang
anda pilih dan alas an yang jelas mengenai pemilihannya!
Jawab: Pengawet dalam OTM harus memenuhi syarat yaitu efektif dan efisien (harus
aktif terhadap Pseudomonas aeruginosa), tidak berinteraksi dengan zat aktif dan
eksipien lain, tidak iritan terhadap mata dan tidak toksik. Dipilih benzalkonium klorida
karena efektif dalam dosis rendah (dalam OTM = 0,01 0,02 %), sangat aktif terhadap
Pseudomonas aeruginosa, reaksi antimikrobanya cepat dan stabilitas tinggi pada rentang
pH lebar; tetapi masih kompatibel dengan zat aktif dan eksipien lain. Pada OTM ini
dipilih konsentrasi 0,01 %.
d. Apakah formula diatas membutuhkan tambahan pengisotonis? Buatlah contoh
perhitungan tonisitas menggunkan bahan-bahan yang anda pilih dalam formula tetes
mata pilokarpin tersebut!
Jawab: Tonisitas sediaan = 0,9 % NaCl, sudah termasuk di dalam batas toleransi
normal mata yaitu 0,7 1,5 % (TPC, p. 163), maka iritasi mata dan konsekuensi
hipotonis atau lisis sel-sel jaringan mata tidak terjadi. Tetapi bisa juga ditambahkan
NaCl sebagai pengisotonis.
Perhitungan Tonisitas:
- Sediaan yang akan dibuat adalah OTM 10 ml dengan kadar pilokarpin hidroklorida
2 %.
- Tf 2 % P. hidroklorida = 0,262 dan Tf 0,5 % Benzalkonium klorida = 0,048
(FI IV, hal 1254). Tf 0,5 % dinatrium EDTA = 0,07 dan Tf 2 % PVP = 0,01 .
- Kadar P. hidroklorida 2 % b/v = 2 gr / 100 ml maka Tf-nya (Tf 1) = 0,262
Kadar benzalkonium klorida adalah 0,01 %, maka Tf-nya (Tf 2):
0,5 % benzalkonium klorida ~ 0,048
0,01 % benzalkonium klorida ~ (0,01 % / 0,5 %) x 0,048 ~ 0,00096
Dinatrium EDTA yang dibutuhkan adalah 0,02 %, maka Tf-nya (Tf 3):
0,5 % dinatrium EDTA ~ 0,07
0,02 % dinatrium EDTA ~ 0,0028
PVP yang dibutuhkan adalah 2 %, maka Tf-nya (Tf 4):
2 % PVP ~ 0,01
Tf total = Tf 1 + Tf 2 + Tf 3 + Tf 4 = 0,262 + 0,00096 + 0,0028 + 0,01
= 0,27576
Tf 0,9 % NaCl = 0,52
supaya Tf total = Tf 0,9 % NaCl, maka perlu ditambahkan NaCl sejumlah:
selisih Tf = 0,52 - 0,27576 = 0,24424
NaCl yang ditambahkan = (0,24424 / 0,52 ) x 0,9 %
= 0,42 % (artinya 0,42 g dalam 100 ml)
untuk 10 ml dibutuhkan = (10 / 100) x 0,42 g
= 42 mg