Anda di halaman 1dari 10

Penanganan Emergency pada Ventrikel Fibrilasi

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510

Abstrak : Henti jantung adalah hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba dan
mendadak, bisa terjadi pada seseorang yang memang didiagnosa dengan penyakit jantung
ataupun tidak. Fibrilasi ventrikel (VF) merupakan keadaan terminal dari aritmia ventrikel
yang di tandai oleh kompleks QRS, gelombang P, dan segmen ST yang tidak beraturan sulit
dikenali (disorganized). VF merupakan penyebab utama kematian mendadak. Intervensi
untuk mencegah henti jantung pada pasien kritis merupakan hal yang ideal. Ketika terjadi
henti jantung, CPR yang berkualitas dibutuhkan untuk membantu intervensi ACLS lainnya
agar pasien dapat diselamatkan.
Kata Kunci : Henti Jantung, Fibrilasi, Ventrikel, CPR

Abstract : Cardiac arrest is the loss of function of the heart suddenly and abruptly, it
could happen to someone who is diagnosed with heart disease or not. Ventricular fibrillation
(VF) is the terminal state of the ventricular arrhythmia is marked by QRS complex, P wave
and ST segment irregular unrecognizable (disorganized). VF is the leading cause of sudden
death. Interventions to prevent cardiac arrest in critically ill patients is ideal. When cardiac
arrest, CPR quality ACLS interventions needed to help others so that the patient can be
saved.
Keywords : Cardiac Arrest, Fibrillation, Ventricular, CPR

Pendahuluan
Fibrilasi ventrikel adalah depolarisasi ventrikel tidak efektif, cepat dan tidak teratur. Tidak
ada jarak kompleks yang terlihat. Hanya ada oskilasi tidak teratur dari garis dasar, ini
mungkin ditampilkan kasar atau halus.1

1
Fibrilasi ventrikel adalah denyutan ventrikel yang cepat dan tak efektif. Pada aritmia ini
denyut jantung tidak terdengar dan tidak teraba, dan tidak ada respirasi. Polanya sangat
ireguler dan dapat dibedakan dengan aritmia tipe lainnya. karena tidak ada koordinasi
aktivitas jantung, maka dapat terjadi henti jantung dan kematian bila fibrilasi ventrikel tidak
segera dikoreksi. Fibrilasi ventrikel jantung merupakan penyebab utama dari berhenti
berdetaknya otot jantung. Fibrilasi ventrikel jantung merupakan penyebab utama dari
berhenti berdetaknya otot jantung. Fibrilasi jantung terjadi jika terdapat potensial aksi yang
menjalar pada otot jantung tanpa terkendali. Hal ini bisa disebabkan karena sengatan listrik
yang mendadak dan ischemia (kuangnya suplai darah pada satu bagian, biasanya disebabkan
karena penghambatan fungsional atau penyumbatan pembuluh darah) pada otot jantung.1

Skenario
Seorang perempuan berusia 60 tahun datang dibawa ke IGD RS oleh keluarganya karena tak
sadarkan diri, menurut keluarga pasien 2 tahun yang lalu pasien pernah mengalami serangan
jantung dan mempunyai riwayat hipertensi sejak 15 tahun yang lalu.

Pembahasan
Anamnesis
Karena pasien tidak sadarkan diri maka anamnesis dilakukan pada keluarga penderita (allo
anamnesis), kita berharap mendapat keterangan tentang keadaan pasien sebagai manifestasi
kelainan yang berkaitan dengan gejala yang dialami oleh pasien, yaitu :
- Identitas pasien
Meliputi nama pasien, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, agama/suku, warga negara,
bahasa yang digunakan, pendidikan, pekerjaan, alamat rumah untuk data rekam medis.
- KeluhanUtama
Dalam mendapatkan anamnesis dari pasien yang kolaps, penting untuk menentukan
adakah kehilangan kesadaran atau tidak.
Penjelasan terinci mengenai kolaps harus didapatkan dari pasien dan setiap saksi yang
ada.Yang perlu kita tanyakan pada pasien atau saksi mata yang melihat pasien kolaps adalah :
Kapan dan dimana pasien kolaps?
Apa yang sedang dilakukan pasien?
Apa yang dirasakannya tepat sebelum episode?
Adakah gejala prodromal?

2
Apakah terjadi setelah berdiri, batuk hebat, mual?
Berapa lama yang dibutuhkan pasien untuk pulih?
Apakah pasien tidak sadar?
Selama berapa lama dia tidak sadar?
Adakah gejala yang menunjukkan kehilangan darah?
Ingatan yang baik mengenai episode tersebut menunjukkan bahwa pasien tidak mengalami
penurunan kesadaran. Cedera yang signifikan menandai tak adanya peringatan dan seringkali
disertai penurunan kesadaran. Adakah gejala lain misalanya mual, berkeringat, palpitasi,
nyeri dada, sesak napas dan sebagainya? Adakah gerakan konvulsif? Menggigit lidah.
Inkontinensia urin?2
Carilah observasi terperinci dari saksi mengenai peristiwa sebelum, selama, dan setelah
kolaps, anamnesis yang perlu kita tanyakan adalah :2
Apa warna tubuh pasien sebelum, selama, dan sesudah serangan?
Apakah pasien tampak pucat, kemerahan, kebiruan, berkeringat?
Apakah denyut nadi pasien selama serangan teraba?
- Riwayat Penyakit dahulu
Adakah riwayat penyakit kardiovaskuler, penyakit neurologis? Apakah pasien
menggunakan pacu jantung? Adakah riwayat epilepsy?
- Riwayat pengobatan
Apakah pasien mengkonsumsi obat (khususnya yang menyebabkan hipotensi)? Apakah
pasien peminum alcohol?
- Penyelidikan fungsional
Sangat penting untuk menentukan adanya penyakit kardiovaskular sehingga harus
dilakukan penyelidikan fungsional lengkap untuk mencari gejala seperti palpitasi, nyeri
dada, sesak napas, dan sebagainya.
- Riwayat keluarga
Riwayat kematian mendadak di keluarga bisa menunjukkan adanya sindrom QT
panjang atau kardiomiopati turunan.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada pasien ini di dapatkan kesadaran koma, tekanan darah tidak terukur,
nadi tidak teraba. Pada monitoring EKG pasien di dapatkan gambaran :

3
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis dari
ventrikel takikardi adalah :1
a. EKG : Menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan
tipe/sumber gangguan irama jantung dan efek ketidakseimbangan elektrolit dan obat
jantung.
b. Monitor Holter : gambaran EKG (24 jam) mungkin diperlukan untuk menentukan
dimana gangguan irama jantung timbul. Juga dapat digunakan untuk mengevaluasi
fungsi pacu jantung/efek obat antidisritmia.
c. Rontgen dada : Dapat menunjukkan pembesaran bayangan jantung sehubungan dengan
disfungsi ventrikel atau katup.
d. Scan pencitraan miokard : Dapat menunjukkan area iskemik/kerusakan miokard yang
dapat mempengaruhi konduksi normal atau mengganggu gerakan dinding dan
kemampuan pompa.
e. Tes stress latihan : Dapat dilakukan untuk mendemonstrasikan latihan yang
menyebabkan gangguan irama jantung.
f. Elektrolit : Peningkatan atau penurunan kalium, kalsium dan magnesium dapat
menyebabkan gangguan irama jantung.
g. Pemeriksaan obat : Dapat menyatakan toksisitas jantung, adanya obat jalanan atau
dugaan interaksi obat, contoh digitalis, quinidin dan lain-lain.
h. Pemeriksaan tiroid : Peningkatan atau penurunan kadar tiroid serum dapat menyebabkan
/meningkatnya gangguan irama jantung.
i. Laju Sedimentasi : Peninggian dapat menunjukkan proses inflamasi akut/aktif, contoh
endokarditis sebagai faktor pencetus untuk gangguan irama jantung. 1
Diagnosis
Fibrilasi ventrikel (VF) merupakan keadaan terminal dari aritmia ventrikel yang di tandai
oleh kompleks QRS, gelombang P, dan segmen ST yang tidak beraturan sulit dikenali
(disorganized). VF merupakan penyebab utama kematian mendadak.3

4
Penyebab utama VF adalah infark miokard akut, blok AV total dengan respons ventrikel
sangat lambat, gangguan elektrolit (hipokalemia dan hiperkalimia), asidosis berat, dan
hipoksia. Salah satu penyebab VF primer yang sering pada orang dengan jantung normal
adalah sindrom Bruganda. Pada keadaan ini terjadi kelainan genetik pada gen yang mengatur
kanal natrium (SCN5A) sehingga tercetus VF primer.3
VF akan menyebabkan tidak adanya curah jantung sehingga pasien dapat pingsan dan
mengalami henti napas dalam hitungan detik. VF kasar (coarse VF) menunjukan aritmia ini
baru terjadi dan lebih besar peluangnya untuk diterminasi dengan defibrilasi. Sedangkan VF
halus (fine VF) sulit dibedakan dengan asistol dan biasanya sulit diterminasi. Penanganan
VF harus cepat dengan protokol resusitasi kardiopulmonal yang baku meliputi pemberian
unsynchronized DC shock mulai 200 J sampai 360 J dan obat-obatan seperti adrenalin,
amiodaron, dan magnesium sulfat.3

Etiologi
Vibrilasi ventrikel dapat terjadi pada kondisi : iskemia dan infark miokard, manipulasi kateter
pada ventrikel, gangguan karena kontak dengan listrik, pemanjangan interval QT, atau
sebagai irama akhir pada pasien dengan kegagalan sirkulasi, atau pada kejadian takikardi
ventrikel yang memburuk

Patofisiologi
Membran plasma otot jantung membutuhkan jangka waktu tertentu untuk bisa kembali ke
potensial istirahat untuk kemudian bisa kembali menghantarkan potensial aksi kembali.
misalkan dalam jantung tedapat suatu bagian yang mengalami potensial aksi. Kemudian
potensial aksi ini menjalar ke bagian lain dari jantung (kecuali dari arah ventrikel ke atrium
karena celah atrioventrikular hanya bisa dilalui potensial aksi dai atium ke ventrikel)
kemudan karena potensial aksi muncul di tempat yang tidak semestinya dan menyebar tidak
pada arah yang seharusnya maka ada sebagian otot jantung yang tedepolarisasi dan ada yang
tidak sehingga potensial aksi bisa kembali lagi ketempat asalnya begitu seterusnya. Hal ini
menyebabkan potensial aksi dari nodus sino atrial tidak membuat otot ventrikel jantung
terdepolarisasi, ingat bahwa untuk melakukan potensial aksi otot jantung juga membutuhkan
semacam waktu istirahat sedangkan di ventrikel sedang ada potensial aksi yang lepas kendali
dan berputar-putar saja sehingga tidak memberi otot jantung waktu untuk beristirahat. Hal ini

5
menyebabkan jantung tidak dapat memompa darah kalau terjadi pada ventrikel dan kalau hal
ini terus dibiarkan dapat menyebabkan kematian.5
Tindakan terbaik yang dapat diberikan pada henti jantung akibat fibrilasi ventrikel adalah
resusitasi segera (kompresi dada dan pemberian napas buatan) ditambah defibrilasi.1
Weist dan Becker (2005) mengemukakan 3 fase henti jantung akibat fibrilasi ventrikular. Fase
pertama adalah fase elektrik yang berlangsung dalam 4 menit pertama henti jantung.
Tindakan yang penting pada fase ini adalah defibrilasi. Fase kedua adalah fase sirkulasi
(hemodinamik) fase ini berlangsung antara 4 sampai 10 menit pertama. Pada fase ini yang
penting adalah kompresi dan ventilasi untuk memberi perfusi pada otak dan jantung.
Sedangkan fase ketiga adalah fase metabolik yang berlangsung setelah 10 menit henti
jantung. Pilihan pada fase ini adalah memberi kesempatan pada otak untuk recovery atau
menurunkan kebutuhan oksigen otak dengan cara terapi hipotermia.1

Gambar 1. Algoritme umum penanganan henti jantung1


Henti Jantung dan Resusitasi Jantung Paru
Henti jantung adalah keadaan terhentinya aliran darah dalam sistem sirkulasi tubuh secara
tiba-tiba akibat terganggunya efektivitas kontraksi jantung saat sistolik. Berdasarkan
etiologinya henti jantung (82,4%); penyebab internal non-jantung (8,6 %) seperti akibat
penyakit paru , penyakit serebrivaskular, penyakit kanker, perdarahan saluran cerna,
obstretik/pediatrik,emboli paru,epilepsi, diabetes melitus, penyakit ginjal; dan penyebab
eksternal non jantung (9,0%) seperti akibat trauma, asfiksia, overdosis obat, upaya bunuh diri
(selain yang telah disebutkan, listrik/petir. Henti jantung dibedakan berdasarkan aktivitas

6
lsitrik jantung (elektrokardiogram), yaitu asitol, aktivitas elektrik tanpa nadi (pulselsess
electrical activity, PEA), fibrilasi ventrikel (VF) dan takikardia ventrikel tanpa nadi (pulseless
VT).1
Tindakan resusitasi jantung paru dilakukan oleh tenaga medis bila sudah ditegakkan masalah
henti jantung. Resusitasi jantung paru tidak dimulai bila pasien memiliki keterangan DNAR
( do not attemptresuscitation), pasien memiliki tanda kematian yang ireversibel (seperti
rigormortis, dekapitasi, dekomposisi, atau pucat), atau tidak ada manfaat fisiologia yang
dapat diharapkan karena fungsi vital tellah menurun walau telah diberi terapi maksimal
(seperti syok septik atau syok kardiogenik yang progresif0. RJP dihentikan bila sikulasi dan
ventilasi spontan secara efektif telah membaik, perawatan dilanjutkan oleh tenaga medis
ditempat rujukan atau ditingkat perawatan yang lebih tinggi, ada kriteria yang jelas
menunjukan sudah terjadi kematian yang ireversibel, penolong sudah tidak dapat meneruskan
tindakan karena lelah atau ada keadaan lingkungan yang membahayakan atau meneruskan
tindakan resusitasi akan menyebabkan orang lain cedera atau keterangan DNAR
diperlihatkan kepada penolong.1
Bantuan Hidup Dasar
Bantuan hidup dasar (basic life support) adalah suatu tindakan pada saat pasien ditemukan
dalam keadaan tiba-tiba tidak bergerak, tidak sadar, atau tidak bernapas, maka periksa respon
pasien. Bila pasien tidak respons, aktifkan sistem darurat dan lakukan tindakan bantuan hidup
dasar.1,4
Singkatan ABCD sudah terkenal luas dan mempermudah tata laksana pasien henti jantung.
ABCD tersebut adalah airway, breathing, circulation, dan defibrilation. Airway adalah upaya
untuk mempertahankan jalan napas yang dapat dilakukan secara non-invasif dan invasif.
Breathing adalah upaya memberikan pernapasan atau ventilasi. Circulation adalah upaya
mempertahankan sirkulasi darah baik dengan obat-obatan maupun dengan kompresi dada
(jantung). Pembukaan jalan napas dengan teknik non-invasif dilakukan dengan cara
mengektensikan kepala (head tilt) serta mengangka dagu (chin lift). Membuka jalan napas
dengan mengangkat rahang (jaw trust) dilakukan bila dicurigai ada trauma kepala (fraktur
vertebra cervical). Penilaian pernapasan (breathing) dengan memantau atau observasi dinding
dada pasien dengan cara melihat (look) naik dan turunnya dinding dada, mendengarkan
(listen) udara yang keluar saat ekshalasi, dan merasakan (feel) aliran udara yang
menghembus di pipi penolong. Bila pasien bernapas, posisikan pasien dalam posisi

7
pemulihan. Bila pasien tidak bernapas atau pernapasan tidak adekuat, berikan napas buatan 2
kali. Setiap napas diberikan 1 detik dan terlihat menaikan dinding dada.1,4
Penilaian sistem sirkulasi darah (circulation) dilakukan dengan menilai adanya pulsasi arteri
karotis. Penilaian ini maksimal dilakukan selama 5 detik. Bila tidak ditemukan nadi maka
dilakukan kompresi jantung yang efektif, yaitu kompresi dengan kecepatan 100x/m,
kedalaman 4-5 cm, memberikan kesempatan jantung mengembang (pengisian ventrikel),
waktu kompresi dan relaksasi sama, minimalkan putusnya kompresi dada, dan rasio kompresi
dan ventilasi 30:2.1,4
Salah satu faktor keberhasilan penanganan henti jantung adalah defibrilasi dini (early
defibrilation). Resusitasi jantung paru yang disertai dengan defibrilasi dini (dalam 3-5 menit
henti jantung) akan memberikan angka kesintasan 49-75% dan tiap keterlambatan defibrilasi
1 menit maka kesintasan akan menurun 10-15. Berdasarkan hal tersebut dikembangkan alat
yang dapat mengenali irama jantung, menganalisis dan memberikan intruksi tindakan yang
perlu dilakukan. Alat yang disebut AED (automated axternal defibrillator) ini diletakkan di
tempat-tempat umum dan dapat digunakan oleh oran awam pada pasien henti jantung di luar
rumah sakit.1,4
Bantuan Hidup Lanjut
Bantuan hidup lanjut (avanced life support) dilakukan di fasilitas kesehatan. Tindakan
bantuan hidup dasar tetap dipertahankan dan dilengkapi oleh bantuan hidup lanjut. Pada
manajemen jalan napas (airway), tindakan yang dilakukan adalah mempertahankan patensi
jalan napas dengan head tilt-chinlift bila perlu gunakan oropharyngeal airway atau
nasopharyngeal airway. Tindakan lanjut seperti intubasi endotrakeal atau penggunaan
laryngeal mask airway (LMA) dapat dilakukan. Suplementasi oksigen diberikan dan nilai
oksigenasi dan ventilasi dengan melihat naiknya dinding dada, saturasi oksigen, kapnograf.
Pada pasien yang sudah menggunakan pipa endotrakeal maka ventilasi dapat diberikan
dengan frekuensi 10-12 kali permenit tanpa terputus. Periksa dapat dilakukan 100 kali
permenit tanpa terputus. Periksa posis pipaendotrakeal baik dengan auskultasi atau
kapnograf. Fiksasi pipa enfotrakeal agar tidak mudah lepas.1,4
Untuk menjamin akses vaskular maka pada pasien perlu dipasang akses intravena. Lead EKG
dipasang untuk memantau adana aritmia atau henti jantung (asistol, PEA, VF, VT tanpa nadi).
Sesuai indikasi beikan cairan dan obat untuk mengatur irama seeti amiodaron, lidokain,
sulfas atropine, magnesium : mempertahankn tekanan darah seperti epinefrine , dopamin.1,4

8
Panduan algoritma penanganan henti jantung dibagi menjadi dua, yaitu henti jantung yang
dapat dilakukan defibrilasi (fibrilasi ventrikel dan takikardia ventrikel tanpa nadi) dan yang
tidak dapat dilakukan defibrilasi (asistol dan PEA).1,4
Saat melakukan bantuan hidup lanjut, maka penyebab henti jantung yang reversibel harus
dicari dan diatasi. Penyebab yang reversibel adalah 6H dan 6T, yaitu Hypovolemia,Hypoxia,
Hydrogen ion (asidosis), Hypo/Hiperkalemia, Hypothermia, Toxins, Tamponade jantung,
Tension pneumothorax, Trombosis coronary, Thrombosis pulmonary), dan trauma.1,4

Prognosis
Kematian otak dan kematian permanen dapat terjadi hanya dalam jangka waktu 8 sampai 10
menit dari seseorang tersebut mengalami henti jantung . Kondisi tersebut dapat dicegah
dengan pemberian resusitasi jantung paru dan defibrilasi segera (sebelum melebihi batas
maksimal waktu untuk terjadinya kerusakan otak), untuk secepat mungkin mengembalikan
fungsi jantung normal. Resusitasi jantung paru dan defibrilasi yang diberikan antara 5 sampai
7 menit dari korban mengalami henti jantung, akan memberikan kesempatan korban hidup
rata-rata sebesar 30% sampai 45%. Sebuah enelitian menunjukkan bahwa dengan penyediaan
defibrillator yang mudah di akses ditempat-tempat umum seperti pelabuhan udara, dalam arti
meningkatkan kemampuan untuk bisa memberikan pertolongan (defibrilasi) sesegera
mungkin , akan meningkatkan kesempatan hidup rata-rata bagi korban cardiac arrest sebesar
64%.6

Kesimpulan
Pasien dengan penurunan kesadaran dan memiliki riwayat serangan jantung menderita
ventrikel fibrilasi . Langkah-langkah untuk menegakkan diagnosis yaitu anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang perlu diperhatikan dengan seksama untuk mengetahui
penyebab penurunan kesadaran pada pasien. Pada kasus ini diagnosis pasti ditegakkan
dengan gambaran EKG pada 12 sadapan.
Cardiac arrest adalah hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba dan mendadak, bisa terjadi
pada seseorang yang memang didiagnosa dengan penyakit jantung ataupun tidak. Kematian
otak dan kematian permanen dapat terjadi hanya dalam jangka waktu 8 sampai 10 menit dari

9
seseorang tersebut mengalami henti jantung. Kondisi tersebut dapat dicegah dengan
pemberian resusitasi jantung paru dan defibrilasi segera.

Daftar Pustaka
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Marcellus SK, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Jilid 1. Edisi V. Jakarta: Pusat penerbitan departemen ilmu penyakit dalam
fakultas kedokteran universitas indonesia ; 2007. h. 227-234.
2. At a glance
3. Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setiohadi B, Syam AF. Buku ajar ilmu
penyakit dalam jilid 3. IVth ed. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen IPD FKUI;
2006. p. 1532-1537
4. Boulton TB, Blogg CE. Anestesiologi. Edisi 10. Jakarta : EGC, 2000. h. 254-256
5. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Edisi 3. Jakarta : EGC, 2009. h. 477
6. Gray HH, Dawkins KD, Morgan JM, Simpson IA. Lecture notes on cardiologi. Edisi
4. Jakarta : Erlangga, 2002. h. 86

10