Anda di halaman 1dari 15

II.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Mangrove
2.1.1. Definisi Mangrove
Asal kata mangrove tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat
mengenai asal-usul katanya. Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan
perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Sementara itu,
menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi
yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat
ini di Indonesia bagian timur.
Beberapa ahli mendefinisikan istilah mangrove secara berbeda-beda, namun pada
dasarnya merujuk pada hal yang sama. Tomlinson (1986) dan Wightman (1989)
mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut
maupun sebagai komunitas. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan
daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger,
dkk, 1983). Sementara itu Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai
hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara
sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut, dan terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia,
Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus,
Aegiceras, Scyphyphora dan Nypa.
Mangrove adalah pohon yang sudah beradaptasi sedemikian rupa sehingga akan
mampu untuk hidup di lingkungan berkadar garam tinggi seperti lingkungan laut.
Sedangkan hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis dan subtropis yang
didominasi beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tunbuh dan berkembang pada
daerah pasang surut pantai berlumpur. Mangrove tunbuh pada pantai-pantai yang
terlindung atau pada pantai yang datar, biasanya di tempat yang tidak ada muara
sungainya, biasanya tumbuh meluas. Mangrove tidak tumbuh di pantai yang terjal dan
berombak besar dengan arus pasang surut ayng kuat, karena hal ini tidak memungkinkan
terjadinya pengendapan lumpur dari pasir, sebagai substrat yang diperlukan untuk
pertumbuhannya (Nontji, 1993).

2.1.2. Manfaat Mangrove


Ekosistem hutan mangrove sangat bermanfaat dari segi ekologis, ekonomis, fisik,
kimia, biologis, dan yang lainnya, yang secara lengkap menurut Santoso dan H.W. Arifin
(1998) adalah:
a. Fungsi ekologis:
Pelindung garis pantai dari abrasi,
Mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan,
Mencegah intrusi air laut ke daratan,
Tempat berpijah aneka biota laut,
Tempat berlindung dan berkembang biak berbagai jenis burung, mamalia, reptil,
dan serangga, sebagai pengatur iklim mikro
b. Fungsi fisik:
Menjaga garis pantai agar tetap stabil,
Melindungi pantai dari proses erosi,
Menahan tiupan angin kencang dari laut ke darat,
Menahan sedimen,
Sebagai kawasan penyangga rembesan air laut ke darat.
c. Fungsi kimia:
Sebagai tempat terjadinya proses daur ulang yang menghasilkan oksigen,
Sebagai penyerap karbon dioksida,
Sebagai pengolah bahanbahan limbah hasil pencemaran industri dan kapalkapal di
lautan.
d. Fungsi ekonomis:
Penghasil keperluan rumah tangga (kayu bakar, arang, bahan bangunan, bahan
makanan, dan obat-obatan),
Penghasil keperluan industri (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik, penyamak
kulit, pewarna),
Penghasil bibit ikan, nener udang, kepiting, kerang, madu, dan telur burung,
Pariwisata, penelitian, dan pendidikan.

e. Fungsi lain (wanawisata):


Sebagai kawasan wisata alam pantai dengan keindahan vegetasi dan satwa,
Sebagai tempat pendidikan, konservasi, dan penelitian.
2.1.3. Klasifikasi Mangrove
Mangrove termasuk varietas yang besar dari famili tumbuhan, yang beradaptasi
pada lingkungan tertentu. Komposisi dan struktur vegetasi hutan mangrove beragam,
tergantung kondisi geofisik, geografi, geologi, hidrografi, biogeografi, iklim, tanah, dan
kondisi lingkungan lainnya. Tomlinson (1986) mengklasifikasikan jenis mangrove menjadi
3 (tiga) kelompok, yaitu mangrove mayor, mangrove minor dan mangrove asosiasi.
1. Mangrove mayor (true mangrove) memiliki sifat-sifat tersendiri yakni: sepenuhnya
hidup pada ekosistem mangrove di kawasan pasang surut, di antara rata ketinggian
pasang perbani (pasang rata-rata) dan pasang purnama (pasang tertinggi), serta tidak
tumbuh di ekosistem lain; memiliki peranan penting dalam membentuk struktur
komunitas mangrove dan dapat membentuk tegakan murni; secara morfologi
beradaptasi dengan lingkungan mangrove, misalnya memiliki akar aerial dan embrio
vivipar; secara fisiologi beradaptasi dengan kondisi salin, sehingga dapat tumbuh di
laut, karena memiliki mekanisme untuk menyaring dan mengeluarkan garam, misalnya
melalui alat ekskresi; secara taksonomi berbeda dengan kerabatnya yang tumbuh di
darat, setidak-tidaknya terpisah hingga tingkat genus. Contoh-contohnya antara lain
Avicennia, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Nypa fruticans, Rhizophora, dan
Sonneratia.
2. Mangrove minor dibedakan oleh ketidakmampuannya untuk membentuk komponen
utama vegetasi yang menyolok, jarang membentuk tegakan murni dan hanya menempati
tepian habitat. Contoh anggotanya antara lain Acrostichum, Aegiceras, Excoecaria
agallocha, Heritiera littoralis, Osbornia octodonta, Pemphis acidula, Scyphiphora
hydrophyllacea, dan Xylocarpus sp.
3. Mangrove/tumbuhan asosiasi adalah tumbuhan yang toleran terhadap salinitas, yang
tidak ditemukan secara eksklusif di hutan mangrove dan hanya merupakan vegetasi
transisi ke daratan atau lautan, namun mereka berinteraksi dengan true mangrove.
Tumbuhan asosiasi adalah spesies yang berasosiasi dengan hutan pantai atau komunitas
pantai dan disebarkan oleh arus laut. Tumbuhan ini tahan terhadap salinitas, seperti
Terminalia, Hibiscus, Thespesia, Calophyllum, Ficus, Casuarina, beberapa polong,
serta semak Aslepiadaceae dan Apocynaceae. Ke arah tepi laut tumbuh Ipomoea
pescaprae, Sesuvium portucalastrum dan Salicornia arthrocnemum yang mengikat pasir
pantai. Spesies seperti Porteresia (=Oryza) coarctata toleran terhadap berbagai tingkat
salinitas. Ke arah darat terdapat kelapa (Cocos nucifera), sagu (Metroxylon sagu),
Dalbergia, Pandanus, Hibiscus tiliaceus dan lain-lain.
2.1.4. Sistem Zonasi Mangrove
Menurut Noor et al (2006), secara sederhana, mangrove umumnya tumbuh dalam 4
zona, yaitu pada daerah terbuka, daerah tengah, daerah yang memiliki sungai berair payau
sampai hampir tawar, serta daerah ke arah daratan yang memiliki air tawar.
a. Mangrove terbuka
Mangrove berada pada bagian yang berhadapan dengan laut. Samingan (1980)
menemukan bahwa di Karang Agung, Sumatera Selatan, di zona ini didominasi oleh
Sonneratia alba yang tumbuh pada areal yang betul-betul dipengaruhi oleh air laut. Van
Steenis (1958) melaporkan bahwa S. alba dan A. alba merupakan jenis-jenis ko-
dominan pada areal pantai yang sangat tergenang ini. Komiyama, dkk (1988)
menemukan bahwa di Halmahera, Maluku, di zona ini didominasi oleh S. alba.
Komposisi floristik dari komunitas di zona terbuka sangat bergantung pada substratnya.
S. alba cenderung untuk mendominasi daerah berpasir, sementara Avicennia marina dan
Rhizophora mucronata cenderung untuk mendominasi daerah yang lebih berlumpur
(Van Steenis, 1958). Meskipun demikian, Sonneratia akan berasosiasi dengan Avicennia
jika tanah lumpurnya kaya akan bahan organic (Kantor Menteri Negara Lingkungan
Hidup, 1993).
b. Mangrove tengah
Mangrove di zona ini terletak dibelakang mangrove zona terbuka. Di zona ini biasanya
didominasi oleh jenis Rhizophora. Namun, Samingan (1980) menemukan di Karang
Agung didominasi oleh Bruguiera cylindrica. Jenis-jenis penting lainnya yang
ditemukan di Karang Agung adalah B. eriopetala, B. gymnorrhiza, Excoecaria
agallocha, R. mucronata, Xylocarpus granatum dan X. moluccensis.

c. Mangrove payau
Mangrove berada disepanjang sungai berair payau hingga hampir tawar. Di zona ini
biasanya didominasi oleh komunitas Nypa atau Sonneratia. Di Karang Agung,
komunitas N. fruticans terdapat pada jalur yang sempit di sepanjang sebagian besar
sungai. Di jalur-jalur tersebut sering sekali ditemukan tegakan N.fruticans yang
bersambung dengan vegetasi yang terdiri dari Cerbera sp, Gluta renghas, Stenochlaena
palustris dan Xylocarpus granatum. Ke arah pantai, campuran komunitas Sonneratia -
Nypa lebih sering ditemukan. Di sebagian besar daerah lainnya, seperti di Pulau Kaget
dan Pulau Kembang di mulut Sungai Barito di Kalimantan Selatan atau di mulut Sungai
Singkil di Aceh, Sonneratia caseolaris lebih dominan terutama di bagian estuari yang
berair hampir tawar (Giesen & van Balen, 1991).
d. Mangrove daratan
Mangrove berada di zona perairan payau atau hampir tawar di belakang jalur hijau
mangrove yang sebenarnya. Jenis-jenis yang umum ditemukan pada zona ini termasuk
Ficus microcarpus (F. retusa), Intsia bijuga, N. fruticans, Lumnitzera racemosa,
Pandanus sp. dan Xylocarpus moluccensis (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup,
1993). Zona ini memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan zona
lainnya.
2.1.5. Karakteristik Habitat Mangrove
Sebagian pohon mangrove dijumpai di sepanjang pantai terlindung yang
berlumpur, bebas dari angin yang kencang dan arus (misalnya di mulut muara sungai
besar). Mangrove juga dapat tumbuh diatas pantai berpasir dan berkarang , terumbu karang
dan di pulaupulau kecil. Sementara itu air payau bukanlah hal pokok untuk pertumbuhan
mangrove, mereka juga dapat tumbuh dengan subur jika terdapat persediaan endapan yang
baik dan pada air tawar yang berlimpah (Hamilton, 1984).
Hutan mangrove dapat tersebar luas dan tumbuh rapat mulut sungai besar di
daerah tropis, tetapi di daerah pesisir pantai pegunungan, hutan mangrove tumbuh di
sepanjang garis pantai yang terbatas dan sempit. Perluasan hutan mangrove banyak
dipengaruhi oleh topografi daerah pedalaman (Hamilton, 1984).
Ada hubungan yang erat antara kondisi air dengan vegetasi hutan mangrove. Di
beberapa tempat, mangrove menunjukkan tingkatan zonasi yang nyata yang cenderung
berubah dari tepi air menuju daratan. Namun kadangkadang tergantung pada undulasi
atau tinggi rendahnya lantai hutan atau anak sungai di dalam area yang skemanya khusus
dan menggambarkan keadaan umum dari dataran pasang surut (Hamilton, 1984).
Menurut Bengen (2001), karakteristik habitat hutan mangrove yaitu :
1. Umumnya tumbuh pada daerah intertidal,
2. Jenis tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir,
3. Daerahnya tergenang air laut secara berkala,
4. Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat,
5. Terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat,
6. Banyak ditemukan di pantai yang terlindungi, teluk dangkal, estuaria,
7. Air bersalinitas payau (222 permil) hingga asin (38 permil).
2.1.6. Bentuk Adaptasi Mangrove
Menurut Chapman (1984), beberapa bentuk adaptasi mangrove adalah:
a. Adaptasi terhadap kadar oksigen rendah, mangrove memiliki perakaran yang khas untuk
mengambil oksigen dari udara, yakni bertipe cakar ayam yang mempunyai
pneumatofora atau akar nafas (misal: Avecennia, Xylocarpus, Sonneratia) atau bertipe
penyangga/tongkat yang memiliki lentisel (misal: Rhizophora).
b. Adaptasi terhadap tanah yang kurang stabil dan adanya pasang surut, dengan
mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk jaringan
horizontal yang lebar sehingga memperkokoh pohon.
c. Adaptasi terhadap kadar garam tinggi, dengan menghindari banyaknya garam dengan
cara menyaring melalui bagian akarnya. Beberapa spesies dapat menyaring sampai 90%
kadar garam air laut. Rhizophora, Ceriops, dan Bruguiera termasuk spesies penyaring
garam (saltexcluders).
d. Secepatnya mengeluarkan garam yang masuk ke dalam sistem pepohonan melalui pori-
pori daun. (Avicennia, Sonneratia and Acanthus).
e. Menumpuk kelebihan garam pada kulit batang pohon dan daun tua yang akan terlepas
dan jatuh dari pohon tersebut (Avicennia, Sonneratia dan Ceriops).
f. Berdaun kuat dan mengandung banyak air.
g. Mempunyai banyak jaringan internal penyimpan air dan kosentrasi garam tinggi.

2.1.7. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kelulushidupan Mangrove


Menurut Kusmana dkk (2008), beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi
kehidupan mangrove adalah :

1. Fisiografi pantai (topografi). Pada pantai yang landai, komposisi ekosistem mangrove
lebih beragam jika dibandingkan dengan pantai yang terjal. Hal ini disebabkan karena
pantai landai menyediakan ruang yang lebih luas untuk tumbuhnya mangrove sehingga
distribusi spesies menjadi semakin luas dan lebar

2. Pasang (lama, durasi, rentang). Lama terjadinya pasang di kawasan mangrove dapat
mempengaruhi perubahan salinitas air dimana salinitas akan meningkat pada saat
pasang dan sebaliknya akan menurun pada saat air laut surut. Komposisi spesies dan
distribusi area yang digenangi berbeda menurut durasi pasang atau frekuensi
penggenangan.

3. Gelombang dan arus. Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem
mangrove. Pada lokasi-lokasi yang memiliki gelombang dan arus yang cukup besar
biasanya hutan mangrove mengalami abrasi sehingga mengurangi kelangsungan hidup
mangrove.

4. Salinitas. Salinitas optimum yang dibutuhkan mangrove untuk tumbuh berkisar antara
10-30 ppt. Salinitas terkait dengan frekuensi penggenangan, sehingga secara langsung
dapat mempengaruhi pertumbuhan zonasi, dan kelangsungan hidup mangrove.

5. Oksigen terlarut. Oksigen terlarut berperan penting dalam dekomposisi serasah karena
bakteri dan fungsi yang bertindak sebagai dekomposer membutuhkan oksigen untuk
kehidupannya. Oksigen terlarut juga penting dalam proses respirasi dan fotosintesis.

6. Tanah dan Hara. Karakteristik substrat merupakan faktor pembatas terhadap


pertumbuhan mangrove. Tekstur dan konsentrasi ion mempunyai susunan jenis dan
kerapatan tegakan Misalnya jika komposisi substrat lebih banyak liat (clay) dan debu
(silt) maka tegakan menjadi lebih rapat. Unsur hara yang terdapat di ekosistem
mangrove terdiri dari hara inorganik (P, K, Ca, Mg, Na) dan organik (fitoplankton,
bakteri, alga).

7. Cara penanaman. Bibit mangrove yang ditanam secara langsung akan mengalami
tingkat kelulushidupan sangat rendah yakni sekitar 20%, sementara bila dilakukan
pembibitan terlebih dahulu, tingkat kelulushidupannya naik menjadi 60-70%.

2.1.8. Karakteristik Mangrove di Pantai Blebak

Ekosistem mangrove di Pantai Blebak terdapat 3 spesies mangrove yaitu


Rhizophora stylosa, Sonneratia, Rhizophora apiculata. Mangrove dapat beradaptasi
terhadap lingkungannya, hal ini tampak pada fisiologi dan komposisi struktur tumbuhan
mangrove. Mangrove yang berada pada Pantai Blebak melakukan adaptasi tersebut secara
anatomi terhadap keadaan tanah dan kekurangan oksigen dengan menggunakan sistem
perakaran yang khas dan lentisel pada akar nafas, batang dan organ lainnya. Sedangkan
untuk adaptasi secara fisiologi dilakukan dengan cara pengelupasan pada kulit atau
mengalirkan kadar garam yang berlebihan ke daun-daun muda yang baru terbentuk. Faktor
yang mempengaruhi ekosistem mangrove adalah keadaan tanah, salinitas, penggenangan,
pasang surut dan kandungan oksigen dalam tanah (Soerianegara, 1987).

Terdapat 5 jenis spesies mangrove, yaitu Rhizophora stylosa, Sonneratia


caseolaris, Sesivium postularcastrum, Spinifex lithoria dan Lumnitzera racemosa. Tetapi,
mangrove yang diamati adalah Sonneratia casiolaris dan Rhizophora stylosa. Rhizophora
stylosa memiliki banyak batang, kulit kayu halus, bercelah, berwarna abu-abu hingga
hitam, memiliki akar tunggang dan akar udara yang tumbuh dari cabang bawah. Daunnya
berkulit, berbintik teratur di lapisan bawah, ganggang daun berwarna hijau, elips melebar
dan meruncing. Sonneratia casiolaris memiliki akar nafas vertical seperti kerucut yang
banyak dan sangat kuat. Daunnya bulat memanjang dengan ujung membundar, tangkainya
berwarna kemerahan. Pucuk bunga bulat telur. Ketika mekar penuh, tabung kelopak bunga
berbentuk mangkok, biasanya tanpa urat. Buahnya seperti bola, ujungnya bertangkai dan
bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Sonneratia casiolaris tumbuh di bagian yang
kurang asin di hutan mangrove, pada tanah lumpur yang dalam, seringkali sepanjang
sungai kecil dengan air yang mengalir pelan dan terpengaruh oleh pasang surut
(Soerianegara, 1987).

2.2. Lamun

2.2.1. Definisi Lamun

Lamun (seagrass) adalah salah satu tumbuhan laut yang termasuk tumbuhan sejati
karena sudah dapat dibedakan antara batang, daun, dan akarnya. Lamun adalah tumbuhan
berbunga yang tumbuh di perairan dangkal dan estuari yang ada di seluruh dunia. Lamun
merupakan tumbuhan laut monokotil yang secara utuh memiliki perkembangan sistem
perakaran dan rhizoma yang baik (Kawaroe 2009). Lamun dapat ditemukan pada berbagai
karakteristik substrat. Di Indonesia padang lamun dikelompokkan kedalam enam katagori
berdasarkan karakteristik tipe substratnya, yaitu lamun yang hidup di substrat berlumpur,
lumpur pasiran, pasir, pasir lumpuran, puing karang, dan batu karang (Kiswara dan
Hutomo 1985).

2.2.2. Karakteristik Lamun

Tumbuhan lamun mempunyai beberapa sifat yang memungkinkan hidup di


lingkungan laut yaitu:

a. Mampu hidup di media air asin


b. Mampu berfungsi normal dalam keadaan terbenam
c. Mempunyai sistem perakaran jangkar yang berkembang baik
d. Mampu melaksanakan penyerbukan dan daur generatif dalamkeadaan terbenam.
Lamun mempunyai perbedaan yang nyata dengan tumbuhan yang hidup terbenam dalam
laut lainnya, seperti makro-alga atau rumput laut (seaweeds), tanaman lamun memiliki
bunga dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih. Lamun juga memiliki sistem
perakaran yang nyata, dedaunan, sistem transportasi internal untuk gas dan nutrien, serta
stomata yang berfungsi dalam pertukaran gas (Azkab, 2009).
2.2.3. Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Kehidupan Lamun
Parameter lingkungan yang mempengaruhi distribusi dan pertumbuhan ekosistem
padang lamun adalah kecerahan, temperatur, salinitas, substrat, dan kecepatan arus (Dahuri
2003).
1. Kecerahan
Lamun membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi untuk melaksanakan proses
fotosintesis. Hal ini terbukti dari hasil observasi yang menunjukkan bahwa distribusi
padang lamun hanya terbatas pada perairan yang tidak terlalu dalam. Namun demikian,
pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa sebaran komunitas lamun di dunia masih
ditemukan hingga kedalaman 90 meter, asalkan pada kedalaman ini masih terdapat
cahaya matahari. Beberapa aktivitas seperti membuang sampah kelaut, aktivitas kapal,
tempat pariwisata, dlldapat meningkatkan muatan sedimen pada badan air yang akan
berakibat pada tingginya kekeruhan perairan, sehingga berpotensi mengurangi penetrasi
cahaya. Hal ini dapat menimbulkan gangguan terhadap produktivitas primer ekosistem
lamun (Dahuri 2003).
2. Temperatur
Walaupun padang lamun secara geografis tersebar luas pada kenyataannya spesies
lamun di daerah tropic mempunyai toleransi yang rendah terhadap perubahan
temperatur. Kisaran temperatur optimal bagi spesies lamun adalah 28-30oC.
Kemampuan proses fotosintesis akan menurun dengan tajam apabila temperature
perairan berada di luar kisaran optimal tersebut (Dahuri 2003).
3. Salinitas
Spesies lamun memiliki kemampuan toleransi yang berbeda-beda terhadap salinitas,
namun sebagian besar memiliki kisaran yang lebar, yaitu antara10-40o/oo. Nilai
salinitas optimum untuk spesies lamun adalah 35o/oo. Salah satu faktor yang
menyebabkan kerusakan ekosistem padang lamun adalah meningkatnya salinitas yang
diakibatkan oleh berkurangnya suplai air tawar dari sungai (Dahuri 2003).
4. Substrat
Padang lamun hidup pada berbagai macam tipesubstrat, mulai dari lumpur, lumpur
pasiran, pasir, pasir lumpuran, puing karang dan batu karang. Kesesuaian substrat yang
paling utama bagi perkembangan lamun ditandai dengan kandungan sedimen yang
cukup. Semakin tipis substrat perairan akan menyebabkan kehidupan lamun yang tidak
stabil, sebaliknya semakin tebal substrat, lamun akan tumbuh subur yaitu berdaun
panjang dan rimbun serta pengikatan dan penangkapan sedimen semakin tinggi.
Peranan kedalaman substrat dalam stabilitas sedimen mencakup dua hal, yaitu:
a. Pelindung tanaman dari arus laut.
b. Tempat pengolahan dan pemasok nutrien (Berwick 1983 dalam Argandi 2003).

5. KecepatanArus
Kecepatan arus memiliki pengaruh terhadap padang lamun, contohnya pada daerah
yang arusnya cepat, sedimen pada padang lamun terdiri dari lumpur halus dan detritus.
Produktivitas padang lamun juga dipengaruhi oleh kecepatan arus perairan. Rendahnya
kecepatan arus sangat mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan lamun dan
ikan, kecepatan arus berpengaruh besar dalam transportasi telur, larva dan ikan-ikan
kecil (Laevastu dan Hayes 1981 dalam Merryanto 2000).

2.2.4. Manfaat Lamun


Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut dangkal yang paling
produktif (Azkab, 1988). Ekosistem lamun juga mempunyai peranan penting dalam
menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, diantaranya adalah :
1. Sebagai Produsen Primer
Tingkat produktivitas primer lamun sangatlah tinggi bila dibandingkan dengan
ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal sepertiekosistem terumbu karang (Thayer et
al, 1975).
2. Sebagai Habitat Biota
Berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan seperti alga hidup di tempat yang menurut
mereka memberikan perlindungan dan dapat dijadikan tempat menempel seperti lamun.
Disamping itu, padang lamun atau biasa disebut seagrass beds dapat juga sebagai daerah
asuhan, padang pengenbalaan dan makan dari berbagai jenis ikan herbivore dan coral
fish) (Kikuchi & Peres, 1977).
3. Sebagai Penangkap Sedimen
Daun lamun yang lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak,
sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Rimpang dan akar padang lamun juga
dapat menahan dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan
dasar permukaan. Jadi, padang lamun selain berfungsi sebagai penangkap sedimen juga
dapat mencegah erosi (Gingsburg & Lowestan, 1958).
4. Sebagai Pendaur Zat Hara
Padang lamun memang memegang peran penting dalam pendauran berbagai zat hara
dan elemen-elemen yang langka di lingkungan laut khususnya zat-zat hara yang
dibutuhkan oleh algae epifit. Ekosistem lamun perairan dangkal mempunyai fungsi
antara lain (Philips & Menez, 1988):
Menstabilakan dan menahan sedimen-sedimen yang dibawa melalui tekanan yang
satu ke tekanan yang lain dari arus dan gelombang.
Daun-daun padang lamun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta
mengembangkan sedimentasi.
Memberikan perlindungan terhadap hewan-hewan muda dan dewasa yang
berkunjung ke padang lamun.
Daun-daunnya sangat membantu organism-organisme epifit.
Mempunyai produktivitas dan pertumbuhan yang tinggi.
Memfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan.
2.3. Karang
2.3.1. Definisi Karang
Terumbu karang merupakan sekumpulan karang atau binatang karang yang
bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga zooxanthellae.Terumbu karang termasuk dalam
jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut
terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang
keduanya dibedakan secara asal-usul, morfologi dan fisiologi (Nybakken, 1988).
Terumbu atau Reef adalah endapan masif batu kapur, terutama kalsium karbonat
(CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain yang
mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan Mollusca. Konstruksi batu kapur biogenis
yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir. Dalam dunia navigasi laut, terumbu
adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batuan kapur (termasuk karang yang hidup).
Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki
tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau
Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul, morfologi dan
fisiologi (Romimohtarto, 2001).

2.3.2. Ekosistem Terumbu Karang


Ekosistem terumbu karang sebagian besar terdapat di perairan tropis, sangat sensitif
terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, sedimentasi, Eutrofikasi
dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine).Demikian halnya dengan perubahan
suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis di tahun 1998 telah
menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal
mencapai 90-95%.Selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di
perairan Indonesia adalah 2-3C di atas suhu normal (Nontji, A., 1987).
Terumbu karang (coral reef) sebagai ekosistem dasar laut dengan penghuni utama
karang batu mempunyai arsitektur yang mengagumkan dan dibentuk oleh ribuan hewan
kecil yang disebut polip. Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja
yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas
dan dikelilingi oleh tentakel. Namun pada kebanyakan spesies, satu individu polip karang
akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni (Wibisono, 2005).
2.3.3. Habitat (Hubungan Karang dengan Parameter Oseanografi)
Penyebaran terumbu karang terbatas hanya di antara 30 OLintang Utara dan
30OLintang Selatan atau daerah tropika dan subtropika dengan total luas sekitar 617.000
km2. Lautan yang memiliki terumbu karang paling luas adalah Samudra Pasifik dengan
335.000 km2, kemudian Samudra Hindia (185.000 km 2), dan terakhir Samudra Atlantik
(87.000 km2).Seperti telah dijelaskan, bahwa faktor suhu yang menyebabkan penyebaran
terumbu karang hanya di daerah perairan yang panas. Ada tiga pengelompokan
keanekaragaman jenis terumbu karang, yaitu Indo-pasifik, Samudra Hindia dan Karibia
(timur Atlantik).Di daerah tropika pantai lautan Atlantik sangat sedikit terdapat terumbu
karang. Pada pantai Atlantik timur (pantai Afrika) terdapat arus dingin yang mengalir
sepanjang pantai menuju utara. Sedangkan pada pantai barat Atlantik (Pantai Amerika
Selatan) terdapat muara sungai-sungai besar yang membuat salinitas dan kekeruhan air laut
4 tidak sesuai untuk kehidupan karang (Suharsono, 1996).
Walaupun mampu membentuk terumbu yang keras seperti batu, tapi hewan
karang memiliki batasan faktor fisik yang relatif sempit.Faktor fisik tersebut adalah
cahaya, suhu, salinitas, dan sedimentasi.

a. Cahaya
Karena hewan karang bersimbiosis dengan alga zooxanthellae, maka cahaya menjadi
salah satu faktor pembatas bagi kehidupan karang. Oleh sebab itu hewan karang hanya
dapat hidup pada kedalaman kurang dari 30 m. Karena pada kedalaman yang lebih dari
30 m, maka hewan karang tersebut hanya sedikit mendapatkan sinar matahari.
b. Suhu
Suhu optimum untuk pertumbuhan hewan karang adalah berkisar 25-29OC, sedangkan
suhu minimal 20OC dan suhu maksimum 36OC. Kisaran suhu yang relatif sempit ini
(stenotermal), menyebabkan penyebaran karang hanya pada daerah tropik.
c. Salinitas
Salinitas yang sesuai dengan pertumbuhan hewan karang adalah sekitar 30-36 ppt, oleh
sebab itu jarang ditemukan terumbu di sekitar muara sungai yang besar.
d. Sedimentasi
Sedimentasi merupakan salah satu pembatas pertumbuhan karang. Daerah yang
memiliki sedimentasi yang tinggi akan sulit untuk menjadi tempat yang baik bagi
pertumbuhan karang. Tingginya sedimentasi menyebabkan penetrasi cahaya di air laut
akan berkurang dan hewan karang (polip) akan bekerja keras untuk membersihkan
partikel yang menutupi tubuhnya.
2.3.4. Faktor Kerusakan Karang
Faktor yang dapat merusak terumbu karang diantaranya adalah Pengendapan
kapur. Pengendapan kapur dapat berasal dari penebangan pohon yang dapat mengakibatkan
pengikisan tanah (erosi) yang akan terbawa kelaut dan menutupi karang sehingga karang
tidak dapat tumbuh karena sinar matahari tertutup oleh sedimen. Lalu, Aliran air tawar
yang terus menerus dapat membunuh karang, air tawar tersebut dapat berasal dari pipa
pembuangan, pipa air hujan ataupun limbah pabrik yang tidak seharusnya mengalir ke
wilayah terumbu karang. Bahan pencemar bisa berasal dari berbagai sumber, diantaranya
adalah limbah pertanian, perkotaan, pabrik, pertambangan dan perminyakan Pemanfaatan
sumber daya laut secara berlebihan. Adanya beberapa jenis biota laut diterumbu bisa jadi
merupakan faktor penentu kesehatan dan faktor penentu kesehatan dan kelangsungan hidup
koloni karang. Selain itu para penyelam yang tidak bertanggung jawab menyentuh karang
tanpa tahu bahaynya bagi kerusakan ekosistem menjadi salah satu masalah terbesar
kerusakan karang (Tomlinson, 1986).
2.3.5. Penyakit Karang
Penyakit merupakan suatu hal yang mengganggu dalam kehidupan karang,
laporan pertama tentang penyakit yang menyerang karang scleractinia muncul pada
pertengahan 1970-an. Penyakit Black-band Disease (BBD) pertama dilaporkan dari
terumbu karang di Belize dan Bermuda, tetapi kemudian ditemukan juga di Caribia dan
Indo-Pasifik. BBD ditemukan pada milleporinids (karang api) dan gorgonacean. Tidak
semua karang rentan terhadap penyakit ini. Karang otak massif (Diploria spp.,
Colpophyllia spp.) dan karang bintang (Montastraea spp.) umumnya paling banyak
diserang anggota family Faviidae, sementara elkhorn coral, staghorn coral, dan pillar coral
tahan terhadap infeksi (Peterson, 1991).
Terdapat empat kondisi karang yang telah diidentifikasikan sebagai penyakit yaitu
white band disease (WBD), Black band disease (BBD), infeksi bacterial dan shut down
reaction. BBD dan WBD mampu membunuh jaringan karang. Namun, Edmunds (1991)
menyatakan bahwa BBD, yang disebabkan oleh cyanophyta Phormidium corallyticum,
dapat memiliki suatu peran dalam menjaga diversitas karang karena paling umum dalam
spesies karang yang membentuk koloni besar dan membentuk struktur kerja bagi terumbu.
Ketika BBD membunuh bagian dari koloni-koloni ini, skeleton tersedia untuk dikolonisasi
oleh spesies koral yang lain. Tetapi setelah 25 bulan tidak ada rekriutmen karang diantara
karang yang terinfeksi BBD (Morton, 1990).