Anda di halaman 1dari 33

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air memiliki peran yang sangat besar dimuka bumi ini, untuk
memenuhi kebutuhan mahluk hidup sampai menjadi tempat hidup dari
mahluk hidup itu sendiri. Berdasarkan bentuk dan kebiasaan hiduppnya,
organisme akuatik dapat digolongkan menjadi : perifiton, plankton,
nekton, neuston dan benthos.
Plankton mempunyai peranan yang nyata dalam rantai makanan
dilingkungan akuatik. Bahkan secara luas plakton dianggap sebagai salah
satu organisme terpenting di bumi karena menjadi bekal makanan untuk
kehidupan akuatik. Plankton merupakan organisme yang dapat bergerak
dengan cilia dan flagel tapi tidak mempunyai daya untuk menentang arus,
sifat plankton yang khas dapat melayang karena aktif mengatur berat
badannya agar sama dengan mediium hidupnya. Kelimpahannya akan
mengalami fluktuasi karena beberapa faktor yaitu waktu, lokasi,
kedalaman perairan, kualitas perairan, faktor fisika perairan, dan lain-lain.
Plankton juga sering dijadikan sebagai tolak ukur kesuburan
perairan, dengan melihat dominansi jenis-jenis atau berkurangnya suatu
jenis karena adanya gangguan terhadap ekosistem perairan, seperti adanya
pencemaran, oleh karena itu plankton perlu dianalisis keanekaragaman
jenisnya. Plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton
adalah plankton yang menyerupai tumbuhan, sehingga mampu melakukan
fotosintesis dan merupakan pensuplai utama oksigen terlarutdi perairan.
Sedangkan zooplankton meskipun sebagai pemanfaat langsung
fitoplakton, merupakan produsen sekunder perairan.
Hewan bentos dibedakan menurut cara makan menjadi makhluk
filter feeder (contohnya kerang) dan yang lainnya makhluk deposit
(contohnya siput). Makrozoobenhos, yaitu organisme yang hidup didasar
perairan dan tersaring oleh saringan berukuran 1.0x1.0 mm atau 2.0x2.0
mm, yang pada pertumbuhan dewasanya berukuran 3-5 mm, spesies yang
termasuk kelompok ini adalah mollusca, annelida, crustacea, beberapa
insekta air dan larva diptera, odonata dan lain sebagainya.
Makrozoobentos menjadi komponen yang penting untuk diamati karena
dapat digunakan sebagai indikator biologi, hewan benthos memiliki
kepekaan yang berbeda-beda terhadap berbagai bahan pencemaran serta
memberikan reaksi yang cepat, hewan benthos tidak mempunyai
kemampuan bermigrasi jika kondisi perairan tidak sesuai lagi, dan hewan
benthos mudah untuk ditangkap dan dipisahkan.

1.2 Tujuan
1. Menguasai teknik sampling makrozoobenthos.
2. Mampu melakukan dan membedakan teknik pengambilan sampel
dengan sediment core dan sediment grab.
3. Mampu mengidentifikasi makrozoobenthos.

1.3 Manfaat
1. Praktikan mampu menguasai teknik sampling makrozoobenthos.
2. Praktikan mampu melakukan dan membedakan teknik
pengambilan sampel dengan sediment core dan sediment grab.
3. Praktikan mampu mengidentifikasi makrozoobenthos.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Plankton
Plankton adalah suatu organisme yang berukuran kecil yang
hidupnya terombang ambing oleh arus air. Mereka terdiri dari makhluk
hidup sebagai hewan (zooplankton) ataupun sebagai tumbuhan
(fitoplankton).Kelompok-kelompok organisme yang hanyut bebas dalam
laut dan sangat lemah daya renangnya dinamakan plankton. Kemampuan
berenang organisme-organisme planktonik demikian lemah sehingga
mereka sama sekali dikuasai oleh gerakan-gerakan air. Plankton dapat
dibagi menjadi dua golongan, yakni : fitoplankton terdiri dari tumbuhan
laut yang bebas melayang dan hanyut dalam laut serta mampu
berfotosintesisi; dan zooplancton ahila hewa-hewan laut yang planktonik.
(Nybbaken,1982).
Plankton adalah biota yang hidup mengapung,menghanyut
berenang sangat lemah. Plankton terdiri dari fitoplankton dan
zooplankton. Fitoplankton merupakan plankton yang hidupnya mirip
dengan tumbuhan. Sedangkan zooplankton merupakan plankton yang
hidupnya mirip dengan hewan. Plankton merupakan salah satu bagian
dari Algae (ganggang). Ganggang mempunyai ciri-ciri bentuk dan ukuran
yang beraneka ragam, ada yang mikroskopis, bersel satu, berbentuk
benang/ pita, atau bersel banyak bebentuk lembaran (Nonjti, 2008).

2.1.1 Fitoplankton
Fitoplankton adalah termasuk bentuk biota tanaman ; dimana
bentuk biota tanaman tersebut bersifat autotrophic dan menyumbang
secara langsung terhadap keberadaan pakan di permukaan air dengan
mengembangkan protoplasmanya dan cadangan makanan secara langsung
dari karbon dioksida dan larutan garam di laut( Newell and Newell ,
1977). Menurut Sachlan (1982) dan Arinardi dkk (1997) yang dimaksud
dengan phytoplankton adalah plankton nabati. Selanjutnya Sumich dan
Dudley (1992) mendefinisikan phytoplankton adalah biotra mikroskopik,
mengapung bebas dan merupakan produser primer. Lebih lanjut
ditambahkan bahwa phytoplankton adalah biota laut photosintetik, sebagai
produser primer ekosistem laut, dan berada pada rantai pertama dari jaring
jaring makanan.
Fitoplankton adalah komponen autotrof plankton. Autotrof adalah
organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang
berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti
matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen.
Plankton nabati atau fitoplankton adalah terdiri dari tumbuh-
tumbuhan atau tumbuh-tumbuhan yang hidup sebagai plankton.
(Rohmimohtarto, 2001).
Nama fitoplankton diambil dari istilah Yunani, phyton atau
"tanaman" dan "planktos", berarti "pengembara" atau "penghanyut".
Sebagian besar fitoplankton berukuran terlalu kecil untuk dapat dilihat
dengan mata telanjang. Akan tetapi, ketika berada dalam jumlah yang
besar, mereka dapat tampak sebagai warna hijau di air karena mereka
mengandung klorofil dalam sel-selnya (walaupun warna sebenarnya dapat
bervariasi untuk setiap spesies fitoplankton karena kandungan klorofil
yang berbeda beda atau memiliki tambahan pigmen seperti
phycobiliprotein)
Gambar 1. Contoh Phytoplankton.(Sumber: www.google.com)

2.1.2 Zooplankton
Zooplankton merupakan plankton hewani, meskipun terbatas
namun mempunyai kemampuan bergerak dengan cara berenang (migrasi
vertikal). Pada siang hari zooplankton bermigrasi ke bawah menuju dasar
perairan. Migrasi dapat disebabkan karena faktor konsumen atau grazing,
yaitu dimana zooplankton mendekati fitoplankton sebagai mangsa, selain
itu migrasi juga terjadi karena pengaruh gerakan angin yang
menyebabkan upwelling atau downwelling (Sumich,1999).
Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani,
sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk
dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan (Nybakken,1992).
Zooplankton dan Fitoplankton merupakan bahan dasar semua rantai
makanan di dalam perairan. zooplankton menempati perairan sampai
dengan 200 m dan bermigrasi vertikal untuk mencari makan yang berupa
fitoplankton (Omori dan Ikeda, 1984).
Zooplankton memegang peranan penting dalam jaring jaring
makanan di perairan yaitu dengan memanfaatkan nutrient melalui proses
fotosintesis (Kaswadji, 2001).
Dalam hubungannya dengan rantai makanan, terbukti zooplankton
merupakan sumber pangan bagi semua ikan pelagis , oleh karena itu
kelimpahan zooplankton sering dikaitkan dengan kesuburan perairan
(Arinardi, 1997).
Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani,
sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk
dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan (Nybakken,1992).
Zooplankton disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang
hidupnya mengapung, atau melayang dalam laut. kemampuan renangnya
sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus
membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak
dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan inorganik. Oleh
karena itu, untuk kelangsungan hidupnya, ia sangat bergantung pada
bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya. Jadi
zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen bahan organik. Ukurannya
paling umum berkisar 0,2 2 mm, tetapi ada juga yang berukuran besar
misalnya ubur-ubur yang bisa berukuran sampai lebih satu meter.
Kelompok yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod),
eufausid (euphausid), misid (mysid), amfipid (amphipod), kaetognat
(chaetognath). Zooplankton dapat dijumpai mulai dari perairan pantai,
perairan estuaria didepan muara sampai ke perairan di tengah samudra,
dari perairan tropis hingga ke perairan kutub (Nontji, 2008).
Zooplankton melakukan migrasi harian dimana zooplankton
bergerak ke arah dasar pada siang hari dan ke permukaan pada malam
hari. Rangsangan utama yang menyebabkan migrasi vertikal harian
adalah Cahaya. Zooplankton akan bergerak menjauhi permukaan bila
intensitas cahaya di permukaan meningkat dan zooplankton akan
bergerak ke permukaan laut apabila intensitas cahaya di
permukaanmenurun(Davis,1955).

Zooplankton ada yang hidup di permukaan dan ada pula yang hidup
di perairan dalam. Ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian
dari lapisan dalam ke permukaan. Hampir semua hewan yang mampu
berenang bebas (nekton) atau yang hidup di dasar laut (benthos)
menjalani awal kehidupannya sebagai zooplankton yakni ketika masih
berupa telur dan larva. Baru dikemudian hari, menjelang dewasa, sifat
hidupnya yang bermula sebagai plankton berubah menjadi nekton atau
benthos (Nontji, 2008).

2.2 Makrozoobentos
Makrozoobentos adalah zoobentos yang berukuran lebih besar dari
0,5 mm. Makrozoobentos hidup di dasar perairan dan merupakan bagian
dari rantai makanan. Keberadaanya bergantung pada populasi organisme
yang tingkatnya lebih rendah sebagai sumber pakan (misalnya ganggang)
dan hewan predator yang tingkat trofiknya lebih tinggi. Kelimpahan dan
keanekaragamannya sangat dipengaruhi oleh toleransi dan sensitivitasnya
terhadap perubahan lingkungan sehingga tingginya kelimpahan individu
tiap jenis dapat dipakai untuk menentukan status perairan (Yeanny,
2007).
Makrozoobentos adalah organisme yang hidup di dasar perairan,
hidup sesil, merayap, atau menggali lubang. Kelimpahan dan
keanekaragamannya sangat dipengaruhi oleh toleransi dan sensitivitasnya
terhadap perubahan lingkungan. Kisaran toleransi dari makrozoobentos
terhadap lingkungan berbeda-beda Sejauh ini keanekaragaman
Makrozoobentos di Muara Sungai Belawan belum diketahui sehingga
perlu dilakukan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui
keanekaragaman Makrozoobentos di Muara Sungai Belawan. (2)
Mengetahui pengaruh faktor fisik kimia terhadap keanekaragaman
makrozoobentos di muara Sungai (Fahrul,2007).
2.3 Penggolongan Plankton
2.3.1 Ukuran
Tabel 1. Tabel Ukuran Plankton.
Kelompok Ukuran Biota utama
Plankton non-net*
Ultrananoplankton 2 m Bakteria
Nanoplankton 2 20 m Fungi, Flagellata, dan Diatom kecil
Mikroplanton 20 200 m Sebagian besar fitoplankton,
Foraminifera, Ciliata, Rotifera , dan
Nauplius Copepoda
Plankton net*
Mesoplankton 200 m 2 mm Cladocera, Copepoda, dan Larvaceae
Makroplankton 2 20 mm Pteropoda, Copepoda, Euphausiid,
Chaetognatha.
Mikronekton 20 200 mm Chepalopoda,Euphausiid, Sargestid,
Myetopid.
Megaloplankton 20 mm Scyphozoa, Thaliaceae .
Masih ada dua isilah lagi bagi plankton, yaitu yang bersangkut-paut
dengan daur hidup organisme planktonik. Suatu organisme akuatik yang
seluruh daur hidupnya bersifat planktonik termasuk golongan
holoplankton. Kemudian, meroplankton ialah organisme-organisme
akuatik yang hanya sebagian dari daur hidupnya bersifat plantonik.
Termasuk dalam golongan meroplankton ialah berbagai larva hewan laut
yang pada stadium dewasa hidup sebagai bentos atau nekton.
(Nybbaken,1982).
2.3.2 Daur Hidup
Semua plankton yang hidup di perairan dengan salinitas kurang
dari 0,5 m, Sedangkan pengelompokkan plankton berdasarkan daur
hidupnya adalah sebagai berikut :

A. Plankton tetap (holoplankton)


Biota yang seluruh daur hidupnya dilalui sebagai plankton.

Contoh : Chaetognatha dan Copepoda.

B. Plankton sementara (meroplankton)


Biota yang sebagian hidupnya dilalui sebagai plankton,
misalnya pada stadia telur dan larva berbagai jenis ikan, cumi
dan kerang kerangan.

(Nybbaken,1992)

2.3.3 Sebaran Horizontal dan Vertikal


Distribusi fitoplankton secara horizontal lebih banyak
dipengaruhi faktor fisik berupa pergerakan masa air. Oleh
karena itu pengelompokan (pathciness) plankton lebih banyak
terjadi pada daerah neritik terutama yang dipengaruhi estuaria
dibandingkan dengan oseanik. Faktor-faktor fisik yang
menyebabkan distribusi fitoplankton yang tidak merata antara
lain arus pasang surut, morfogeografi setempat, dan proses
fisik dari lepas pantai berupa arus yang membawa masa air
kepantai akibat adanya hembusan angin. Selain itu
ketersediaan nutrien pada setiap perairan yang berbeda
menyebabkan perbedaan kelimpahan fitoplankton pada daerah-
daerah tersebut.
Distribusi vertikal plankton sangat berhubungan dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitasnya, selain
kemampuan pergerakan atau faktor lingkungan yang
mendukung plankton mampu bermigrasi secara vertikal.

Menurut Seele dan Yentch (1960) dalam Parsons dkk


(1984), distribusi fitoplankton di laut secara umum
menunjukkan densitas maksimum dekat lapisan permukaan
(lapisan fotik) dan pada waktu lain berada dibawahnya. Hal ini
menunjukan bahwa distribusi vertikal sangat berhubungan
dengan dimensi waktu (temporal). Selain faktor cahaya, suhu
juga sangat mendukung pergerakannya secara vertikal. Hal ini
sangat berhubungan dengan densitas air laut yang mampu
menahan plankton untuk tidak tenggelam. Perpindahan secara
vertikal ini juga dipengaruhi oleh kemampuannya bergerak
atau lebih tepat mengadakan adaptasi fisiologis sehingga terus
melayang pada kolom air.

2.4 Teknik Sampling Plankton


Secara umum, sampel yang baik adalah yang dapat
mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi. Dalam bahasa
pengukuran, artinya sampel harus valid, yaitu bisa mengukur
sesuatu yang seharusnya diukur. Sampel yang valid ditentukan oleh
dua pertimbangan yaitu akurasi dan presisi. Akurasi atau ketepatan
merupakan tingkat ketidakadaan bias (kekeliruan) dalam sampel.
Dengan kata lain, semakin sedikit tingkat kekeliruan yang ada
dalam sampel, maka semakin akurat sampel tersebut. Sedangkan
presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi peneliti
dengan karakteristik populasi.
Dalam mempelajari palnkton, tidak akan terlepas dari
sampling plankton di lapangan. Teknik atau pencuplikan plankton
dari perairan yang paling mudah umumnya dapat dilakukan dengan
menyaring sejumlah massa air dengan jaring halus. Bergantung
pada tujuannya Wardhana (1997) menyatakan bahwa sampling
plankton dapat dilakukan secara kualitatif atau kuantitatif.
1. Sampling Plankton Secara Kualitatif
Pencuplikan plankton secara kualitatif di perairan dapat
dilakukan dengan menarik jala plankton baik secara horizontal
maupun vertikal. Pada perairan yang banyak terdapat tumbuhan air
pencuplikan plankton dapat dilakukan dengan jala plankton
bertangkai. Disamping jala plankton, ikan planktivor sering
merupakan pengumpul plankton yang sangat baik. Ikan tersebut
dapat mengumpulkan berbagai jenis plankton yang kadang-kadang
tidak tertangkap jala. Untuk menghindari agar plankton yang
dimakan tidak dicerna lebih lanjut, ikan yang diperoleh harus segera
dibunuh.
2. Sampling Plankton Secara Kuantitatif
Pada umumnya pengumpulan plankton secara kuantitatif dapat
dilakukan dengan botol, jaring, atau pompa. Cara sampling seperti
ini umumnya dilakukan untuk mengetahui kepadatan plankton per
satuan volume dengan pasti.
2.5 Habitat dan persebaran Makrozoobentos
Zona subtidal merupakan daerah yang terletekantara batas
air surut terendah di pantai dengan ujung paparan benua
(continental shelf),dengan kedalaman sekitar 200 meter. Pada
skema klasifikasi ini dikenal sebagai sublitoral. Zona paparan atau
sublitoral adalah zonabentik pada paparan benua di bawah zona
pelagik neritik. Zona ini mendapat cahaya dan pada umumnya
dihuni oleh bermacam jenis biota laut yang melimpah dari berbagai
komunitas, termasuk padang lamun dan terumbu karang. Zona
subtidal meliputi daerah dibawah rata-rata level pasang surut yang
rendah dan biasanya selalu digenangi air secara terus menerus.
Substrat dasar mempunyai pengaruh terghadap komposisi dan
distribusi makrozoobenthoskarena merupakan salah satu faktor
pembatas penyebaran organisme makrozoobentos. Jenis substrat
hubungannya dengan kandungan oksigen dan ketersediaan nutrient
dalam sedimen. pada susbstrat pasir, kandungan oksigen relative
besar dibandingkan dengan jenis substrat yang lebih halus, hal ini
dikarenakan pada jenis substrat pasir terdapat pori udara
yangmemungkinkan terjadinya pencampuran yang lebih intensif
dengan air diatasnya. Namun demikian, nutrient tida banyak
terdapat dalam substrat berpasir. Arus yang kuat tidak hanya
menghanyutkan partikel sedimen yang berukuran kecil saja tapi
juga menghanyutkan nutrient saja. Untuk pantai yang berpasir tidak
menyediakan susbtrat yang tetap untuk melekat bagi organisme.
Dua kelompok ukuran organisme yang mampu beradaptasi pada
kondisi substrat berpasir yaitu organisme infauna makro (berukuran
1-10 cm)yang mampu menggali liang di dalam pasir dan organisme
meiofauna mikro (berukuran 0,1 1 mm) yang hidup diantara
butiran pasir dalam ruang interstitial. Sebaliknya pada substrat yang
halus, oksigen tidak begitu banyak, tapi biasanaya nutrient tersedia
dalam jumlahyang sangat besar. Dengan demikian jenis substrat
yang diperkirakan oleh bentos adalah kombinasi dari ketiga jenis
substrat (pasir, lumpur dan liat) (Bengen, 1995).
1. Kelas Asteroidea (Bintang Laut).
Bintang laut (Astroidea)biasanya di jumpai pada dasar perairan
terutama di daerah lamun dan trumbu karang banyak di jumpai pada
daerah pantai atau daerah pasang surut dengan subsrat berpasir
hingga pasir berbatu yang hidup sampai kedalaman 500m adpula
yang terdapat di lereng trumbu karang pada kejelukan 2-6m,ada
yang di temukan dipaparan trumbu karang terbuka pada saat air
surut (Romimohtarto dan Juana, 2001).
2. Kelas echinoidea (Bulu babi)
Umumnya hewan-hewan yang termasuk dalam phylum
echynodermata dapat dijumpai didaerah pantai terutama di daerah
tu8rumbu karang dan padang lamun.dapat ditemukan pula pada
daerah berpasir atau berkarang sampai kedalaman 500m
(Soewignyo,1989)
Bulu babi (echinoidea) paling banyak di jumpai di daerah Indo
pasifik yang berpusat di indo malay dan meluas keaustalia,jepang
pantai timur afrika dan sebelah timur kepulawan hawai.
3. Kelas Holuthuroidea (Teripang)
Teripang merupakan hewan benthos yang terbesar di seluruh lautan
di dunia, hidup dasar pada derah intertidal hingga laut dalam.daerah
penyebaran teripang di Indonesia cukup luas terutama di daerah
terumbu karang, perairan yang substrat berpasir ,berbatu karang dan
pasir berlumpur antra lain di Bangka dan sekitarnya,di daerah
Maluku utara ,jenis teripang yang
paling banyak di temukan adalah teripang pasir,terpang kapserta
kapur,teripang batu keeling, teripang nanas,terutama di daerah
seram,pulau osi,pulau buru,pulau bacan,pulau Halmahera serta
kepulawan kei dan aru (Yusron 1992).
4. Kelas Gastropoda (Keong).
Soewigyo (1989), menyatakan bahwa grastopoda biasanya disebut
siput atau keong dan merupakan kelompok molluscha yang paling
berhasil menduduki berbagai habitat yakni tredapat di darat,
perairan tawar dan terbanyak di laut. Grastopoda biasanya di tamui
pada berbagai jenis lingkungan dan bentuknya telah menyesuaikan
diri dengan lingkungan. Selanjutnya grastopoda hidup tersebar luas
di perairan Indonesia seperti Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur,
Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur,
Sulawesi Selatan, Maluku dan Irian Jaya (Jasin, 1989).
5. Kelas Bivalve (Kerang-Kerangan)
Umumnya hewan-hewan dari kelompok bivalve memiliki habitat
diperairan laut, payau, sungai, danau dan rawa. Adapula yang
menempel pada substrat berkarang dan batu dan ada pula yang
membenamkan diri dalam substrat pasir dan lumpur. Hewan ini
tersebar di berbagai perairan dan tempat di seluruh daerah di
Indonesia (Oemarjati dan Wardhana, 1990).
2.6 Plankton Net
Plankton net merupakan jaring dengan mesh size yang
disesuaikan dengan plakton. Penggunaan jaring plakton selain
praktis juga sampel yang diperoleh cukup banyak. Jaring plankton
net biasa terbuat dari nilon, umumnya berbentuk kerucut dengan
berbagai ukuran, tetapi rata-rata panjang jaring adalah 4-5 kali
diameter mulutnya. Jaring berfungsi untuk menyaring air serta
plakton yang berada didalamnya. Karena itu plakton yang
tertangkap sangat bergantung pada ukuran mesh size, maka ukuran
mesh size yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis atau
ukuran plankton yang akan diamati. Ukuran plakton yag relatif
besar (terutama zooplankton) menggunakan jaring No.0 atau No.3,
sedangkan yang lebih untuk plankton yang lebih kecil
menggunakan No.15 atau No.20. untuk perairan dangkal didaerah
tropis, Wickstead menganjurkan mesh size dengan ukuran 30-50
m untuk fitoplankton dan zooplankton kecil. Sedangkan untuk
mezooplakton yang lebih besar digunakan ukuran mesh size 150-
175 m.
Bagian akhir ujung jating terdapat bucket alat penampung
plankton yang terkumpul. Alat penampung ini biasanya berbentuk
tabung yang mudah dicopot dari tabungnya.
Prinsipnya bucket harus memenuhi syarat:

1. dapat dengan mudah dioperasikan dilaut


2. tidak menampung air terlalu banyak.

Metode pengambilan sampel menggunakan plankton net


terbagi atas dua cara tergantung pada tujuan yang diiginkan,
biasanya dibedakan atas :
1. Sampling Secara Horizontal: Metoda pengambilan plankton
secara horizontal ini dimaksudkan untuk mengetahui sebaran
plankton horizontal.. Plankton net pada suatu titik di laut, ditarik
kapal menuju ke titik lain, penganbilan sampel seiring pergerakan
kapal secara perlahan (2 knot), plankton net ditarik untuk jarak
dan waktu tertentu (biasanya 5-8 menit). Jumlah air tersaring
diperoleh dari angka pada flowmeter atau dengan mengalikan jarak
diantara dua titik tersebut dengan diameter plankton net. Flowmeter
untuk peningkatan ketelitian. Dengan cara horozontal sampel
terbatas pada satu lapisan saja.
2. Sampling Secara Vertikal: Merupakan cara termudah untuk
mengambil sampel dari seluruh kolom air (coposite sample). Ketika
kapal berhenti, plankton net diturunkan sampai ke kedalaman yang
diinginkan dengan pemberat dibawahnya. Setelah itu plankton net
ditariknya keatas dengan kecepatan konstan. Untuk mesh size halus
digunakan kecepatan 0,5 m/detik untuk mata jaring kasar 1,0
m/detik.
3. Sampling Secara Miring (Obelique): jaring diturunkan perlahan
ketika kapal bergerak perlahan (2 knot). Besar sudut kawat dengan
garis vertikal 45, setelah mencapai kedalaman yang diinginkan
plankton net ditarik secara perlahan dengan posisi sudut yang sama.
Sampel yang didapat merupakan plankton yang terperangkap dari
berbagailapisan air. Kelemahan metode ini adalah waktu yang
dibutuhkan relatif lama. Kelebihan dan Kekurangan Plankton Net
Kelebihannya:
1. Penggunaan jaring plankton selain praktis juga sampel yang
diperoleh cukup banyak
karena jaring plankton net biasa terbuat dari nilon.
Kekurangannya :
1. Dalam penggunaanya alat ini sulit untuk memperkirakan
jumlah air yang disaring.
2. Plankton yang tertangkap sangat bergantung pada ukuran mesh
size, maka ukuran
mesh size yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis atau
ukuran plankton yang
akan diamati.
3. Bagian akhir ujung jating terdapat bucket adalah alat penampung
plankton yang telah
terkumpul yang tidak dapat menampung air terlalu banyak.
III. MATERI DAN METODE

3.1.Materi
3.1.1. Waktu dan Tempat
Praktikum lapangan mata kuliah Oseanografi Biologi 2016 dilaksanakan
pada,
Hari,Tanggal : Rabu, 02 November 2016
Waktu : Pukul 08.00 WIB selesai
Tempat : 1. Perairan Marine Station Teluk Awur, Jepara, Jawa Tengah.
2. Laboraturium Biologi Kampus Kelautan Teluk Awur,
Jepara, Jawa Tengah
3.1.2. Alat dan Bahan
3.1.2.1.Alat
Alat alat yang digunakan dalam praktikum oseanografi biologi 2016
adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Alat alat praktikum
NO. NAMA ALAT GAMBAR ALAT FUNGSI ALAT

1. Sediment core Untuk mengambil sedimen


di dasar perairan secara
vertikal

2. Sediment grab Untuk mengambil sedimen


di dasar perairan secara
horizontal
3. Plankton net (2) Untuk mengambil sampel
fitoplankton dan zoo
plantokton dari perairan.

4. Ziplock Tempat penyimpanan


sampel makrozoobentos

5. Ayakan Untuk memisahkan


makrozoobentos dari
sampel sedimen yang
diambil

6. Botol Sampel Untuk menyimpan sampel


(2 buah) plankton sebelum
diidentifikasi

7. Pipet tetes 1ml Untuk mengambil sampel


plankton dan diteteskan ke
counting chamber untuk
diidentifikasi
8. Mikroskop Untuk mengidentifikasi
binokuler plankton dengan
perbesaran tertentu

9. Cover glass dan Tempat sampel diletakkan


counting untuk diidentifikasi
chamber

10. Alat tulis dan Dokumentasi selama


kamera praktikum dan mencatat
hasil yang diperoleh
selama praktikum

11. Tisu Untuk mengelap preparat


sebelum digunakan

3.1.2.2.Bahan
Bahan bahan yang digunakan dalam praktikum Oseanografi Biologi
2016 adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Bahan bahan praktikum.
NO. NAMA BAHAN GAMBAR BAHAN FUNGSI BAHAN
1. Sedimen Sampel yang diambil
untuk memperoleh
makrozoobentos

2. Sampel air Sampel yang diambil


dari perairan dan
mengandung fito
plankton dan zoo
plankton

3. Makrozoobentos Sampel yang


diidentifikasi

4. Pengawet Mengawetkan bahan


sampel yang digunakan

3.2.Metode
3.2.1. Plankton
3.2.1.1.Sampling
1. Alat dan bahan disiapkan, sebelum menuju ke perairan dengan
kedalaman tertentu.
2. Para praktikan menuju ke lokasi dengan perahu.
3. Setelah sampai dilokasi, alat (plankton net), diturunkan ke perairan
dengan kedalaman tertentu dengan arah horizontal dengan muka air
laut.
4. Plankton net didiamkan selama 5 menit untuk dapat sampel air
dengan fitoplankton yang tersaring.
5. Setelah 5 menit, plankton net diangkat dan di buka bagian ujungnya
yang menampung sampel.
6. Kemudian, sampel air dimasukkan kedalam botol sampel yang telah
diberi label fitoplankton.
7. Diulangi langkah 4-6 untuk mengambil sampel zoo plankton.
8. Kemudian, sampel dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi.
3.2.1.2.Identifikasi
1. Alat dan bahan disiapkan untuk identifikasi.
2. Kemudian, sampel (zooplankton) diambil dengan menggunakan pipet
tetes dan di tetesi ke counting chamber lalu ditutup dengan cover
glass.
3. Mikroskop dihidupkan, kemudian preparat yang disiapkan di letakkan
pada meja objek.
4. Kemudian preparat diamati dengan perbesaran 4 x 10 dan 10 x 10
pada mikroskop.
5. Setelah teridentifikasi 5 jenis plankton, lalu hasil digambarkan pada
laporan sementara.
6. Diulangi langkah 1-5 untuk sampel fitoplankton.
3.2.2. Makrozoobentos
3.2.2.1.Sampling
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Untuk pengambilan sampel sedimen secara vertikal, alat (sediment
core) dibenamkan kedalam substrat lumpur hingga tersisa bagian
penutupnya saja yang masih dapat dipegang.
3. Kemudian substrat lumpur yang ada disekitar core digali, agar core
dapat diambil keatas perairan, dan bagian bawah core yang tertanam
ditutup agar substrat tidak jatuh.
4. Substrat yang diambil dituangkan kedalam ayakan dan kemudian
substrat di ayak untuk memisahkan makrozoobenthos dengan substrat
habitatnya.
5. Kemudian sampel makrozoobenthos yang telah diayak, kita
masukkan kedalam plastik ziplock dengan label core.
6. Diulangi langkah 1 -5 untuk pengambilan sampel menggunakan
sediment grab yang pengambilannya secara horizontal.
7. Sampel dibawa kelaboraturium untuk di identifikasi.

3.2.2.2.Identifikasi
1. Sampel makrozoobenthos diidentifikasi pertama dengan metode di
hitung jumlah keseluruhan sampel makrozoobenthos yang terdapat
pada masing masing ziplock.
2. Kemudian nama famili ditentukan dengan melihat ciri dari sampel
makrozoobenthos dan dari masing masing famili dihitung jumlahnya.
3. Setelah itu makrozoobethos yang telah diidentidikasi digambar pada
lembar laporan sementara berdasarkan hasil sampling sedimen core
ataupun sediment grab.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.HASIL
4.1.1. Zooplankton
4.1.2. Fitoplankton
4.1.3. Makrozoobentos
4.2. Pembahasan
4.2.1. Zooplankton
Zooplankton merupakan salah satu komponen dalam rantai
makanan yang diukur dalam kaitannya dengan nilai produksi suatu
ekosistem. Hal ini dikarenakan zooplankton merupakan rantai
penghubung utama diantara plankton dan nekton. Pengambilan sampel
zooplankton ini dilakukan di perairan Teluk Awur, Jepara dengan
menggunakan plankton net dengan mata jaring berukuran 150 500
mikron. Metode yang digunakan dalam penangkapan zooplankton
yaitu secara horizontal, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sebaran
zooplankton secara horizontal. Metode pengambilan secara horizontal
ini termasuk metode sampling aktif, hal ini dikarenakan plankton net
yang digunakan ditarik oleh kapal dari satu titik ke titik lainnya.
Pengambilan sampel ini dilakukan selama 5 menit. Sampel
zooplankton yang telah diperoleh kemudian dimasukkan kedalam
botol sampel untuk selanjutnya dilakukan pengamatan untuk jenis-
jenis zooplankton.
Dari hasil pengambilan sampel zooplankton di perairan, dapat
dilihat bahwa zooplankton yang diperoleh cukup banyak. Hal ini dapat
dilihat dari sedikit keruhnya air didalam botol sampel yang
menandakan bahwa populasi zooplankton didalamnya cukup banyak.
Setelah dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop dapat
diketahui bahwa pada perairan Teluk Awur banyak ditemukan jenis
Copepod dan Crustacea. Dari banyak sampel yang ditemukan,
kelompok kami hanya mengambil 5 sampel, diantaranya yaitu
Nauplius, Acartia, Mysis, Evadne nordmanni dan Zoea. Copepoda
merupakan komponen utama zooplankton predominan dapat
mengindikasikan bahwa pada suatu perairan cukup potensial untuk
mendukung kehidupan biota laut pelagis. Kelompok copepoda
memang sering mendominasi komunitas zooplankton pada berbagai
perairan. Dalam kondisi normal, bergerombolnya biota laut hampir
selalu berkaitan erat dengan banyaknya pangan, hal ini berdasarkan
kesimpulan dari beberapa penelitian bahwa di perairan tertentu yang
banyak terdapat plankton maka diharapkan ikan pemakan plankton
akan banyak pula sehingga kehadiran copepoda sebagai sumber pakan
bagi semua anak ikan dan ikan pelagik dalam ekosistem laut yang
melimpah selalu dikaitkan dengan indikasi kesuburan suatu perairan.
Dominansi copepoda juga dapat mengindikasikan keadaan perairan
yang cukup produktif. Selain Copepoda, dominasi Crustacea pada
perairan berkaitan dengan sifat omnivora atau pemakan segala
(fitoplankton, zooplankton, detritus), sehingga mudah untuk
mendapatkan makanan.
Kelimpahan zooplankton sangat ditentukan oleh adanya
fitoplankton, karena fitoplankton merupakan makanan bagi
zooplankton. Selain itu faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi
kelimpahan zooplankton. Adanya kecepatan arus yang berubah-ubah
pada tiap lokasi menyebabkan distribusi zooplankton tidak merata
sehingga menyebabkan perubahan nilai kelimpahan zooplankton tiap
lokasi berubah-ubah. Turbiditas dan kedalaman yang berbeda-beda
juga menyebabkan kelimpahan zooplankton juga berubah karena
turbiditas dan kedalaman mempengaruhi penetrasi cahaya yang masuk
ke air sehingga berpengaruh terhadap kemampuan fotosintesis
fitoplankton yang merupakan sumber makanan utama bagi
zooplankton.
4.2.2. Fitoplankton
Fitoplankton merupakan tumbuh-tumbuhan air dengan ukuran
yang sangat kecil dan hidup melayang di dalam air. Fitoplankton
mempunyai peranan yang sangat penting dalam ekosistem perairan,
sama pentingnya dengan peranan tumbuh-tumbuhan hijau yang lebih
tingkatannya di ekosistem daratan. Fitoplankton juga merupakan
produsen utama (Primary producer) zat-zat organik dalam ekosistem
perairan, seperti tumbuh-tumbuhan hijau yang lain.
Keberadaan fitoplankton di suatu perairan dapat memberikan
informasi mengenai perairan. Fitoplankton merupakan parameter
biologi yang dapat dijadikan indikator untuk mengevaluasi kualitas
dan tingkat kesuburan suatu perairan, serta mengetahui jenis-jenis
fitoplankton yang mendominasi. Pengambilan sampel fitoplankton ini
dilakukan di perairan Teluk Awur, Jepara dengan menggunakan
plankton net dengan mata jaring berukuran 30-60 mikron. Metode
yang digunakan dalam penangkapan fitoplankton sama dengan
zooplankton yaitu secara horizontal, hal ini dimaksudkan untuk
mengetahui sebaran fitoplankton secara horizontal. Metode
pengambilan secara horizontal ini termasuk metode sampling aktif, hal
ini dikarenakan plankton net yang digunakan ditarik oleh kapal dari
satu titik ke titik lainnya. Pengambilan sampel ini dilakukan selama 5
menit. Sampel fitoplankton yang telah diperoleh kemudian
dimasukkan kedalam botol sampel untuk selanjutnya dilakukan
pengamatan untuk jenis-jenis fitoplankton.
Pada perairan teluk awur sample untuk phytoplankton yang
didapat 5 jenis phytoplankton yang berbeda. Jenis dari phytoplankton
tersebut didapat dari indentifikasi yang dilakukan pada laboraturium.
Pengamatan pada laboraturium dilakukan menggunakan mikroskop
dengan pebesaran 4x10 atau 10x10 tergantu kebutuhan dari
penglihatan pengamatan.
Kelimpahan dari phytoplankton yang berada pada perairan
teluk awur tidak terlepas dari keadaan ekosistem dan keadaan dari
perairan tersebut. Kelimpahan dari phytoplankton tersebut
mengartikan kesuburan pada perairan tersebut. Karena jenis yang
didapat bukan merupakan phytoplankton yang merugikan.
4.2.3. Makrozoobentos
Makrozoobentos merupakan salah satu kelompok penting dalam
ekosistem perairan. Pada umumnya mereka hidup sebagai suspension
feeder, pemakan detritus, karnivor atau sebagai pemakan plankton.
Berdasarkan cara makannya, makrobentos dikelompokkan menjadi 2,
yaitu:
Filter feeder, yaitu hewan bentos yang mengambil makanan
dengan menyaring air.
Deposit feeder, yaitu hewan bentos yang mengambil makanan
dalam substrat dasar.
Kelompok pemakan bahan tersuspensi (filter feeder) umumnya tedapat
dominan disubstrat berpasir misalnya moluska-bivalva, beberapa
jenis echinodermata dan crustacea. Sedangkan pemakan deposit
banyak tedapat pada substrat berlumpur seperti jenis polychaeta.
Berdasarkan keberadaannya di perairan, makrozoobentos
digolongkan menjadi kelompok epifauna, yaitu hewan bentos yang
hidup melekat pada permukaan dasar perairan, sedangkan hewan
bentos yang hidup didalam dasar perairan disebut infauna. Tidak
semua hewan dasar hidup selamanya sebagai bentos pada stadia
lanjut dalam siklus hidupnya. Hewan bentos yang mendiami daerah
dasar misalnya, kelas polychaeta, echinodermata dan moluska
mempunyai stadium larva yang seringkali ikut terambil pada saat
melakukan pengambilan contoh plankton. Jenis makrozoobentos
yang dapat di temukan di perairan Teluk Awur, Jepara dari hasil
sedimen grab dan core sedimen antara lain:
Annelida
Annelida merupakan cacing dengan tubuh bersegmen,
tripoblastik dengan rongga tubuh sejati (hewan selomata) dan
bernapas melalui kulitnya. Terdapat sekitar 15.000 spesies annelida
dengan panjang tubuh mulai dari 1 mm-3 m. Filum Annelida hidup di
air tawar, air laut, dan di tanah. Umumnya annelida hidup secara
bebas, meskipun ada yang bersifat parasit. Salah satu Filum Annelida
adalah Oligochaeta. OligoChaeta berasal dari bahasa Yunani dari kata
Oligo yang berarti sedikit, dan Chaeta yang berarti rambut. Kelas
OligoChaeta merupakan kelas filum Annelida yang mempunya sedikit
rambut. Banyak anggota dari OligoChaeta yang hidup di dalam tanah
atau tempat lembab, tetapi ada juga yang hidup di air. Karena
mempunyai sedikit rambut seta dan tidak mempunyai parapodia,
sehingga kepalanya kecil, tidak memiliki alat peraba, dan tidak
memiliki bintik mata. Pada lapisan kulit terdapat bagian saraf dengan
fungsi untuk menerima rangsangan. OligoChaeta bersifat
hermaprodit/monoceus dengan perkembangbiakan secara generatif
dengan perkawinan, dan secara vegetatif dengan regenerasi. Terdapat
Kitellum (Selzadel) yang berfungsi sebagai alat reproduksi. Pada ruas
9-11 terdapat receptaculum seminis yang berfungsi sebagai
penampung sel-sel spermatozoa.
Crustacea
Krustasea atau Crustacea adalah anggota dari kelas besar
hewan dengan tubuh tersegmentasi (beruas-ruas). Sebagian besar dari
crustacea hidup di air, beberapa, seperti kutu kayu, hidup di darat.
Tubuhnya terdiri atas 2 bagian pokok, yaitu Sefalothoraks ( Kepala
dan dada yang menyatu ), dan badan belakang / perut ( Abdomen ).
Tubuh crustacea terdiri dari sebanyak 50 segmen, tetapi sebagian
besar crustacea yang lebih tinggi hanya 19. Tubuhnya memiliki tiga
wilayah yaitu kepala, dada, dan perut. Kepala dan dada sering menyatu
menjadi satu kesatuan yang disebut sefalothorak. Zat keras atau kitin,
meliputi tubuh, membentuk kerangka eksternal seperti baju mantel.
Eksoskeleton ini tidak tumbuh bersama tubuh hewan. Crustacea
memiliki mata majemuk (terdiri dari banyak lensa). Memanjang dari
kepala dua pasang antena bersendi (antena) yang bertindak sebagai
organ-organ indera dan kadang-kadang sebagai organ renang.
Biasanya dua antena luar yang lebih panjang daripada pasangan bagian
dalam. Pelengkap seperti lengan di dada, biasanya termasuk sepasang
dengan ukuran besar, cakar seperti penjepit, yang digunakan untuk
berjalan, menggenggam, merobek, dan makan. Struktur pelengkap
seperti ekor adalah untuk berenang.
Bivalvia
Bivalvia atau Pelecypoda berarti hewan berkaki pipih seperti
mata kapak. Hewan kelas ini pun berinsang berlapis-lapis maka sering
disebut Lamellibranchiata. Cangkang dihubungkan oleh engsel elastis.
Apabila cangkang terbuka kaki keluar untuk bergerak. Untuk menutup
cangkang dilakukan oleh otot transversal yang terletak di akhir kedua
ujung tubuh di bagian dekat dorsal, yaitu otot aduktor anterior dan
posterior. Cangkok berjumlah dua (sepasang) ada di bagian anterior
dan umbo (bagian yang membesar/menonjol) terdapat dibagian
posterior (punggung). Adanya otot-otot aduktor ini menyebabkan dua
cangkang dapat membuka dan menutup. Pada umumnya hidup di
perairan baik air tawar maupun air laut yang banyak mengandung zat
kapur yang digunakan untuk membentuk cangkangnya. Cangkang
kerang terdiri atas tiga lapis, yaitu urut dair luar ke dalam sebagai
berikut:
a. Periostrakum, merupakan lapisan tipis dan gelap yang tersusun atas
zat tanduk yang dihasilkan oleh tepi mantel; sehingga sering disebut
lapisan tanduk, fungsinya untuk melindungi lapisan yang ada di
sebelah dalamnya dan lapisan ini berguna untuk melindungi cangkang
dari asam karbonat dalam air serta memberi warna cangkang.
b. Prismatic, lapisan tengah yang tebal dan terdiri atas kristal-kristal
kalsium karbonat yang berbentuk prisma yang berasal dari materi
organik yag dihasilkan oleh tepi mantal.
c. Nakreas, merupakan lapisan terdalam yang tersusun atas kristal-kristal
halus kalsium karbonat, dimana merupakan lapisan mutiara yang
dihasilkan oleh seluruh permukaan mantel. Di lapisan ini, materi
organik yang ada lebih banyak daripada di lapisan prismatic. Lapisan
ini tampak berkilauan dan banyak terdapat pada tiram/kerang mutiara.
Jika terkena sinar, mampu mamancarkan keragaman warna. Lapisan
ini sering disebut sebagai lapisan mutiara.
Gastropoda
Gastropoda berasal dari bahasa Yunani yaitu gaster yang
berarti perut dan podos yang berarti kaki. Jadi Gastropoda berarti
hewan bertubuh lunak yang berjalan dengan menggunakan perutnya.
Gastropoda ada yang memiliki cangkang tunggal, ganda, atau tanpa
cangkang. Bentuk cangkangnya bervariasi, ada yang bulat, bulat
panjang, bulat kasar, atau bulat spiral. Cangkang umumnya spiral
asimetri yang berfungsi untuk melndungi kepala, kaki, dan alat dalam.
Pada keadaan bahaya, cangkang ditutup oleh epifragma. Di bagian
dalam cangkang terdapat mantel yang mambungkus seluruh tubuh
gastropoda. Mantel ini tebal, kecuali pada baian dekat kaki buasanya
tipis. Matel berfungsi membentuk ekskresi untuk membentuk
cangkang baru. System saraf Gastropoda terdiri atas tiga pasang, yaitu
ganglion visceral, ganglion pedal, dan ganglion serebral. Di bawah
ganglion pedal terdapat sepasang alat keseimbangan atau statosit.
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Fitoplankton yang ditemukan pada perairan Teluk Awur, Jepara
cukup melimpah dibandingkan dengan zooplankton. Hal tersebut
terlihat saat pengamatan di laboratorium bahwa jenis dari
fitoplankton sangat beragam. Genus yang ditemukan diantarnya,
Bacteriastrum, Biddulphia, Pleurosigma, Fragilaria, Chaetoceros,
dan Rhizosolenia. Sedangkan hasil yang didapat pada zooplankton
adalah Phoronida, Copepoda, Pleurerythrops (tribe Erythropini),
Crab megalopal, Flabelliferan, Exocrallana, Ctenocalanus, Cypris-y
larvae of Fscetotecta, dan Mystacocarida. Derocheilocaris.
2. Pengambilan sampel menggunakan alat yang disebut planktonnet
dengan ukuran mesh sebesar 40-50 mikro untuk fitoplankton dan
100 -150 mikro untuk zooplankton. Sedangkan untuk identifikasi
menggunakan bantuan buku identifikasi plankton.
3. Makrozoobentos yang ditemukan pada perairan Teluk Awur, Jepara
cukup bervariasi, seperti Annelida, Arthropoda, Crustacea,
Bivalvia, dan Gastropoda.

5.2 Saran
1. Sebaiknya alat yang digunakan seperti planktonnet diperbanyak
jumlahnya, agar pada saat pengambilan sampel semua kelompok
dapat langsung mengambil sampel tanpa harus saling bergantian
menggunakan alat.
2. Sebaiknya alat yang digunakan saat praktikum laboratorium
diperbanyak dan dilengkapi, sehingga saat pengamatan lebih cepat,
akurat dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA

Arinardi et all., 1997. Plankton; Fitoplankton dan Zooplankton. Jakarta: PT


Gramedia Pustaka Utama.
Bengen, D.R., Widodo dan S. Haryadi., 1995. Tipologi Fungsional Komunitas
Makrozoobentos Sebagai Indikator Perairan Pesisir Muara Jaya,
bekasi. Laporan penelitian.Lembaga Penelitian IPB. Bogor
Davis, 1955. The Marine And Fresh Water Plankton. Michigan State University
Press. United State Of America.Fachrul, M. F. 2007. Metode
Sampling Bioekologi. Bumi Aksara. Jakarta.
Gross, G. 1990. Oceanography : A view of the Earth. 5th edition.
Nybakken, James W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis.
Jakarta:PT. Gramedia.
Nybakken, James W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta
Gramedia
Omori, M & T. Ikeda, 1984. Method in Marine Zooplankton Ecology. Krieger
Pub Co. 332p.
Kaswadji, R. 2001. Keterkaitan Ekosistem Di Dalam Wilayah Pesisir. Sebagian
bahan kuliah SPL.727 (Analisis Ekosistem Pesisir dan Laut). Fakultas
Perikanan dan Kelautan IPB. Bogor, Indonesia.
Kennish, M.J. 1990. Ecology of Estuaries. Vol.II. Biological Aspect. CRC
Press. Boston.
Wardhana Wisnu. 1997. Teknik Sampling, Pengawetan dan Analisis Plankton.
[Jurnal] Jakarta : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Indonesia. 12 halaman
Wiadnyana Ngurah N dan Wagey. 2004. Impacts of The Occurence of Red Tide
Species to The Fisheries in Indonesia. Jurnal Berkala Perikanan
Terubuk. hlm 17-33
www.marine-geonomics-europe.org (download tanggal 9 Nov 2016)
www.cnrsfr/presse/communique/564.htm (download tanggal 9 Nov 2016)
www.planktonnet.awi.de/ (download tanggal 9 Nov 2016)