Anda di halaman 1dari 5

2.1.

Pengertian Arus dan Faktor Pembangkit Arus Laut


Arus laut merupakan parameter yang penting dalam memperoleh besaran potensi energi arus
laut yang berdasarkan nilai kecepatan arus laut dari setiap debit alirannya (Purnomo et al, 2014).
Arus Laut Permukaan adalah gerakan massa air yang disebabkan oleh angin berhembus di
permukaan laut pada kedalaman kurang dari 200 m yang berada pada tempat yang bertekanan udara
tinggi ke tempat lain yang bertekanan sangat luas dan terjadi pada seluruh lautan di dunia
(Gross,1990).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan arus laut, menurut Gross (1990) :
1. Tekanan Angin Pada Permukaan Air Laut
2. Bentuk Topografi Muka Laut
3. Gaya Coriolis
4. Perbedaan Salinitas Air Laut
5. Perbedaan Suhu
6. Gaya Gravitasi

2.2. Metode Pengukuran Arus


Metode pengukuran arus pantai dapat dipisahkan menjadi dua kelompok
prinsip pengukuran yaitu Eulerian dan Lagrangian. Metode Eulerian mengukur
arus dengan memantau kecepatan pada suatu titik tetap misalnya dengan
current meter sedangkan metode Lagrangian memantau kecepatan dengan
mengikuti partikel yang bergerak bersama aliran misalnya dengan pelampung
(Astri, 2011).

Pengukuran arus di laut dalam (deep water) dapat dilakukan dengan alat
ukur Eulerian, seperti current meter baling-baling, elektromagnetik, ultrasonik,
dan hot-wire. Di daerah nearshore khususnya di surfzone, alat ukur di atas
kurang sesuai untuk pengukuran arus karena perilaku aliran yang sangat
dipengaruhi oleh gelombang, sedimen dan udara /buih (Astri, 2011).

2.3. Manfaat Pengukuran Arus


Pengukuran arus dimaksudkan untuk mengetahui pola arus yang terjadi di daerah penelitian
yang sangat erat kaitannya dengan data potensi energi listrik yang dapat dibangkitkan dari energi
arus. Area yang paling potensial untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga arus laut yang
disarankan Marine Current Turbine Ltd. adalah yang mempunyai nilai kecepatan minimum
2m/detik - 2,5 m/detik (Fraenkel, 1999 dalam Yuningsih dan Masdzuki, 2011).
Salah satu unsur yang mempengaruhi cuaca di laut adalah arus laut. Hal ini dikarenakan arus
laut di suatu wilayah perairan mempengaruhi tinggi rendahnya curah hujan yang akan terjadi.
Semakin tinggi curah hujan maka intensitas hujan akan semakin tinggi. Karena apabila arus laut
yang terjadi memiliki kecepatan yang tinggi maka kapal atau alat transportasi lainnya akan sulit
untuk dikendalikan. Untuk itu perlu dilakukan suatu pengukuran terhadap kecepatan arus laut guna
mendukung keselamatan transportasi laut (Saad dan Arifin, 2012).

2.4 Pola Angin Global

Gambaran Pola Aliran Angin Global adalah sebagai berikut :

Dari gambar tersebut kita ketahui terdapat tiga sel peredaran angin di muka bumi, yaitu sel
Hadley (di ekuator), sel Ferrel (di Lintang Sedang), dan sel Polar (di daerah kutub). Lihat dan amati
arah dan pergerakan panah yang menunjukan kemana angin bergerak.
Karena adanya Gradien Tekanan maka angin akan selalu bertiup dari tempat yang memiliki
tekanan udara tinggi ke tempat dengan tekanan udara rendah. Sehingga menyebabkan angin bertiup
dari Lintang sedang ke daerah Ekuator.Adanya Efek Coriolis yang menyebabkan angin di belahan
bumi utara akan dibelokkan ke kanan dan angin di belahan bumi selatan akan dibelokkan ke arah
kiri.
Karena Ekuator adalah tempat bertemunya antara dua buah angin dari LIntang Utara dan
Selatan maka kedua angin tersebut akan saling bertumbukan dan akhirnya akan bergerak keatas
membentuk hujan yang sering dikenal dengan sebutan hujan Zenital.
Jika kita amati pula pertemuan antara sel Polar dan sel Ferrel juga menyebabkan angin akan
bergerak ke arah atas. Nah, di bagian ini selain kita kenal akan menyebabkan Jetstream polar selain
itu fenomena lain yang dapat terbentuk akibat pertemuan ini adalah terjadinya hujan yang sering
disebut Hujan Frontal.
Dari gambar di atas akan saya jelaskan macam-macam angin global yang dapat kita amati,
di antaranya :
Angin Pasat : Angin yang bergerak dari daerah LIntang sedang ke daerah Ekuator
Angin Anti Pasat : Angin yang bergerak dari daerah Ekuator ke Lintang Sedang
Angin pasat dan anti pasat dapat kita amati pada sel Hadley
Angin Timur : Angin yang bergerak dari Timur Laut ke Barat Daya
Angin Barat : Angin yang bergerak dari Barat Laut ke Tenggara
Di daerah sub tropis banyak terdapat gurun, hal ini berhubungan dengan ada atau tidaknya
hujan, karena tanpa adanya air tentu vegetasi takkan dapat tumbuh dengan baik di suatu tempat, dan
ketersediaan air sangat berhubungan dengan hujan. Seperti pembahasan sebelumnya (di atas), kita
ketahui bersama bahwa intensitas hujan terbesar adalah di daerah Ekuator dan daerah Lintang
Tinggi, maka tak heran jika di kedua tempat tersebut banyak terdapat hutan. Di Ekuator bernama
Hutan Hujan Tropis dan di Lintang Tinggi bernama Hutan Tundra. Sedangkan di daerah Lintang
Sedang walaupun tidak terlalu panas namun suplai air di daerah ini sangat sedikit (tidak ada hujan)
sehingga di daerah ini banyak ditemukan gurun-gurun besar, diantaranya Gurun Gobi, Gurun
Sahara, Gurun di Australia. Semuanya terletak di Lintang Sedang.

2.5 Pola Umum Arus Permukaan


Pola sirkulasi arus laut mempunyai peranan yang sangat penting dalam daur biota laut
terutama pada tahap planktonik dan penyebaran makanan bagi biota yang hidupnya bersifat
menetap di perairan tertentu. Dalam transportasi pola sirkulasi arus laut dimanfaatkan untuk
mencapai suatu daerah tertentu maupun untuk mempercepat waktu pelayaran. Terhadap polutan
pola sirkulasi arus laut menentukan pola penyebaran zat pencemar yang terdapat dalam kolol air
(Martono, 2008).
Sementara itu, arus laut terutama lapisan permukaan mempunyai peranan yang besar dalam
sistem interaksi laut dan atmosfer. Sistem interaksi tersebut meliputi pertukaran momentum dari
sirkulasi angin permukaan terhadap sirkulasi arus permukaan. Beberapa proses interaksi laut dan
atmosfer yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap cuaca dan iklim global terutama wilayah
Indonesia antara lain El Nino, La Nina dan Indian Ocean Dipole. Peristiwa El Nino dan La Nina
terjadi di Samudera Pasifik tropis, sedangkan Indian Ocean Dipole terjadi di Samudera Hindia
tropis (Martono, 2008).
Pola umum arus permukaan di laut ditunjukkan dengan serangkaian-lingkaran gyres kuasi,
atau pusaran besar, di setiap cekungan laut. The gyres memutar searah jarum jam di belahan bumi
utara dan berlawanan di belahan bumi selatan karena gaya Coriolis, dalam hal ini mereka mengikuti
pola angin yang berlaku. Samudera Hindia bagian utara merupakan pengecualian karena sistem
atmosfer musim intens. The gyres membantu laut dan atmosfer untuk mengangkut panas dari
khatulistiwa ke arah kutub (Schmitz, 1996).
Pola pergerakan arus permukaan di perairan Indonesia secara umum dipengaruhi oleh angin
monsun. Perbedaan pola arus permukaan antara monsun barat dan monsun timur yaitu pola arus
permukaan dominan dari arah barat menuju ke timur dan tenggara saat monsun barat sementara
pada monsun timur, arus dari tenggara menuju barat laut dan utara. Pengaruh angin dan pasang
surut menimbulkan perbedaan pola arus permukaan antara monsun barat, monsun timur dan
monsun peralihan (J Rasyid, 2011).
Daftar Pustaka

Astri. 2011. Hidrometri dan Hidrografi. E-Learning UGM, Yogyakarta.


Gross, M.G. 1990. Oceanography : A View Of Earth . Prentice Hall Inc., New Jersey.
J Rasyid, Abd. 2011. Pemetaan Pola Pergerakan Arus Permukaan Pada Musim Peralihan
Timur Barat di Perairan Spermonde. Unhas, Makassar.
Martono. 2008. Simulasi Pengaruh Angin Terhadap Sirkulasi Permukaan Laut Berbasis Model
(Studi Kasus: Laut Jawa). Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi, Yogyakarta.
Purnomo, Fajar, Purwanto dan Indrayanti, Elis. 2014. KAJIAN POTENSI ARUS LAUT SEBAGAI
ENERGI ALTERNATIF PEMBANGKIT LISTRIK DI PERAIRAN SEKITAR JEMBATAN
SURAMADU SELAT MADURA. Journal of Oceanography, Vol 3(3).
Schmitz, William J. 1996. Sirkulasi Ocean World jilid I dan II. Woods Hole Lembaga
Oseanografi Laporan Teknis WHOI 96-03 dan 96-08M. Woods Hole, MA: WHOI.
Saad, Muhammad dan Arifin, Syamsul. 2012. SISTEM KOMUNIKASI DATA PADA MARITIM
BUOY WEATHER UNTUK MENDUKUNG TRANSPORTASI LAUT DI INDONESIA.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1
Yuningsih, Ai dan Masduki, Achmad. 2011. POTENSI ENERGI ARUS LAUT UNTUK
PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK DI KAWASAN PESISIR FLORES TIMUR, NTT.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 3, No. 1, Hal. 13-25