Anda di halaman 1dari 9

GELOMBANG

BERJALAN
DAN
GELOMBANG
STASIONER

PPG SM3T-V
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

BAHAN AJAR

AKHMAD NURUL MUMIN


GELOMBANG BERJALAN DAN STASIONER

A. Gelombang Berjalan
Gelombang berjalan merupakan gelombang yang memiliki amplitudo yang tetap.
Gelombang ini merambat pada medium yang cukup panjang sehingga tidak terjadi pemantulan.
Untuk memahami persamaan gelombang berjalan, perhatikanlah uraian berikut.

y v

o p x

Gambar 1. Gelombang berjalan

Kita misalkan O sebagai sumber gelombang yang bergetar dengan persamaan :


y o= A sin t =A sin 2 o ..(1)

2
Karena = T , maka:

t
o =
T

Getaran dari titik O merambat dalam bentuk gelombang mekanik dengan laju
v . Keadaan getaran di titik P berbeda dengan keadaan getaran di titik O,

karena titik P terletak pada jarak x dari O. salah satu perbedaan keadaan
getaran adalah lamanya waktu bergetar dari kedua titik. Jika titik O telah
bergetar selamat t, maka titik P bergetar kurang dari t, yaitu
x
t p =tt op=t
v . Berdasarkan hal tersebut, maka fase getaran di titik P

dapat ditentukan sebagai berikut.


x
t
tp v t x
p= = =
T T T vT

Karena vT = , maka:

t x
p = (2)
T

Oleh karena itu, persamaan simpangan sebuah titik, misalnya P pada jarak x
dari sumber getaran O pada gelombang bejalan dapat dinyatakan dengan
persamaan berikut:
y p= A sin 2 p
t
T
x
2 ( )

y p= A sin

2 2
t
T
( x )
y p= A sin

2 2
Karena = (kecepatan sudut) dan =k (bilangan gelombang),
T

maka
y P =A sin(t kx) ( 3)

Untuk kasus yang lebih umum, persamaan simpangan sebuah titik (misalnya
P) pada jarak x dari sumber getaran pada gelombang berjalan dapat ditentukan
sebagai berikut
y p= A sin(t kx) (4)

Untuk kasus gelombang yang merambat dalam arah sumbu-X, maka terdapat
kesepakatan umum, yaitu:
1. Jika gelombang merambat ke arah sumbu positif-X dari titik asal O, maka
tanda dalam sinus negative dan jika gelombang merambat kea rah sumbu X
negative dari titik asal O maka tandanya positif
2. Jika pertama kali sumber getaran bergerak keatas, maka amplitude (A)
bertanda positif, tetapi jika pertama kali sumber getaran bergerak ke
bawah, maka amplitude bertanda negatif.
Keterangan:
yp : simpangan gelombang (m)
A : Amplitudo gelombang (m)
: kecepatan sudut (rad/s)
t : waktu (s)
x : Jarak ke sumber gelombang (m)
k : Bilangan gelombang (m-1)

Fase dan selisih fase gelombang


Fase gelombang didefisnisikan sebagai perbandingan antara waktu tempuh
gelombang dengan periode gelombang yang dirumuskan sebagai berikut:
t
=
T (5)
Keterangan:
=fase gelombang
t=waktu tempuh gelombang( s)
T =PeriodeGelombang ( s)

Beda fase antara dua titik pada gelombang diruuskan sebagai


= |vtx
| (6)
Keterangan:
v =cepat rambat gelombang( m/ s)
t=waktu (s)
x= jarak ke sumber gelombang( m)
k =bilangan gelombang( m1 )
=selisih fase antara2 titik .
B. Gelombang Stasioner
Gelombang stasioner merupakan hasil superposisi dua buah gelombang yang
koherens dengan arah rambat yang berlawanan. Salah satu cara untuk mendapatkan
gelombang stasioner adalah dengan mensuperposisikan gelombang asal dengan gelombang
pantulnya. Misal: gelombang pada tali yang salah satu ujungnya diikatkan pada tiang dan
ujung yang lain digetarkan terus menerus. Ada dua jenis gelombang stasioner, yaitu :
a. Gelombang stasioner ujung bebas
Contoh gelombang stasioner ujung bebas adalah superposisi gelombang pada
sutas tali dimana salah satu ujungnya di kaitkan dengan sebuah cincin yang
dapat bergerak bebas. Pada gelombang jenis ini, gelombang pantul tidak
mengalami pembalikan fase. Perhatikan gambar berikut ini!

Gambar 2. Rambatan gelombang pada tali ujung bebas


Gambar 2 menunjukkan rambatan pada gelombang tali yang salah satu
ujungnya di kaitkan pada tiang dengan cincin sehingga dapat bergerak bebas.
Fungsi tiang di sini dapat kita pandang sebagai titik pantulan gelombang.
Pada pemantulan ujung bebas,persamaan simpangannya

Gelombang datang y p 1= A sin( kxt )

Gelombang pantul y p 2=A sin(kx +t ) ,

Sehingga superposisi kedua gelombang ini dititik P adalah


y p= y p 1 + y p 2
y p= A sin(kxt ) A sin(kx+ t)
y p=2 A cos kx sin t= A p sin t

Jadi, Persamaan gelombang stasioner ujung bebas dapat diformulasikan


sebagai :

ys 2 A cos kx sin kvt (7)


Keterangan :
ys : simpangan gelombang stasioner (m)
x : jarak suatu titik dari titik pantul (m)
-1
k : bilangan gelombang (m )
v : cepat rambat gelombang (m/s)
Amplitudo gelombang stasioner di atas dinyatakan dengan persamaan :

As 2 A cos
. (8)
Besarnya
kx amplitudo di suatu tergantung pada jarak titik tersebut dari titik
pantul (x).
Dengan menggunakan persamaan (8) di atas kita dapat menentukan
kedudukan titik perut dan titik simpul dari titik pantul sebagai berikut:

Gambar 3. Pola superposisi gelombang stasioner ujung bebas


P = perut, S = simpul
1. Menentukan kedudukan titik perut
Perut gelombang stasioner ujung bebas akan terjadi jika:
cos kx =1,( kx=0, , 2 , )

kx=(n1)
2
x=(n1)

1
x=( n1) n = 1,2,3.dst ..(9)
2

2. Menentukan titik simpul


Simpul gelombang stasioner ujung bebas akan terjadi jika;
1 3 5
(
cos kx =0, kx = , , ,
2 4 4 )
2 1
x=( 2 n1 )
2

N= 1 n = 1,2,3dst .(10)
x=( 2n1)
4

b. Gelombang stasioner ujung tetap


Contoh gelombang stasioner ujung tetap adalah superposisi gelombang pada
sutas tali dimana salah satu ujungnya di ikatkan pada tiang sehingga tidak
dapat bergerak bebas. Pada gelombang jenis ini, gelombang pantul mengalami
pembalikan fase sebesar . Perhatikan gambar berikut ini:
Gambar 4. Rambatan
gelombang pada ujung tetap

Gambar 4 menunjukkan rambatan pada gelombang tali yang salah satu


ujungnya diikatkan pada tiang sehingga tidak dapat bergerak bebas. pola
superposisi gelombang datang dan gelombang pantul tampak seperti gambar
berikut.

Gambar 5. Pola
superposisi gelombang stasioner ujung tetap

Gelombang datang y p 1= A sin( kxt )

Gelombang pantul y p 2=A sin (kx t )= A sin( kx+ t)

Sehingga superposisi kedua gelombang ini dititik P adalah


y p= y p 1 + y p 2
y p= A sin ( kx t )+ A sin (kx +t )
y p=2 A sin kx cos t= A p cos t

Persamaan gelombang stasioner ujung tetap dapat diformulasikan sebagai :

ys 2 A sin kx cos kvt (11)


Keterangan :
ys : simpangan gelombang stasioner (m)
x : jarak suatu titik dari titik pantul (m)
-1
k : bilangan gelombang (m )
v : cepat rambat gelombang (m/s)

Amplitudo gelombang stasioner di atas dinyatakan dengan persmaan :

As 2 A sin kx . (12)

Dengan menggunakan persamaan (12) di atas kita dapat menentukan


kedudukan titik perut dan titik simpul dari titik pantul sebagai berikut:
1. Menentukan kedudukan titik perut
Perut gelombang stasioner ujung tetap akan terjadi jika:
1 3 5
(
sin kx= 1, kx = , , ,
2 4 4 )
kx=( 2 n1 ) 1/2
2 1
x=( 2 n1 )
2
1
x=( 2 n1 ) , n=1,2,3 dst .(13)
4
2. Menentukan titik simpul
Simpul gelombang stasioner ujung tetap akan terjadi jika;
sin kx=0, ( kx =0, , 2 , )
kx=(n1)
2
x=( n1 )

1
x=( n1 ) , n=1,2,3, dst .(14)
2

C. Percobaan Melde
Sifat umum gelombang adalah lajunya bergantung pada sifat sifat medium, tetapi tidak
bergantung pada gerak relative sumber gelombang terhadap medium. Misalnya, laju
gelombang pada tali hanya bergantung pada sifat sifat tali.
Jika kita mengirim pulsa gelombang melalui tali panjang, dengan mudah dapat ditunjukkan
bahwa laju penjalaran pulsa gelombang bertambah bila teganga tali ditingkatkan. Selanjutnya
jika mengunakan dua tali, tali ringan dan tali berat, dengan tegangan yang sama, pulsa
gelombang akan menjalar lebih lambat pada tali berat. Jadi, laju penjalaran gelombang v
pada tali berhubungan dengan tegangan F dan massa persatuan panjang .
Gambar 6 menunjukkan suatu pulsa yang menjalar
sepanjang tali dengan laju v ke kanan. Pulsa
dianggap bernilai kecil bila dibandingkan dengan
panjang tali sehingga menghasilkan aproksimasi yang
baik, yaitu tegangan bernilai konstan sepanjang tali
dan sama seperti ketika tidak ada pulsa. Untuk
Gambar 6. Pulsa gelombang bergerak memudahkan, pulsa ditinjau menurut kerangka
dengan laju v sepanjang tali
acuan yang bergerak dengan laju v ke kanan.

Dalam kerangka ini, pulsa bersifat stasioner dan tali bergerak dengan laju v ke kiri. Gambar

7 menunjukkan segmen tali sepanjang s . Jika segmen cukup kecil, kita dapat

memandangnya sebagai busur jari jari R. segmen demikian melingkar dengan jari jari
2
v
lingkaran R dan kelajuan v , serta memiliki percepatan sentripetal .
R Misalkan adalah
sudut pusat yang berhadapan dengan busur yang dibentuk oleh tali.

s
=
R .(15)

Gaya yang bekerja pada segmen adalah


tegangan F pada masing-masing ujung. Komponen
horizontal gaa-gaya ini sama dan berlawanan
sehingga saling meniadakan. Komponen vertikal
gaya gaya ini mengarah ke pusat busur lingkaran. Jumlah gaya-gaya radial ini memberikan
percepatan sentripetal. Gaya radial total yang bekerja pada segmen adalah :
1 1
2 ( )
F r=2 Fsin 2 F =F
2
Pada persamaan diatas, kita telah menganggap
Gambar 6. Pulsa gelombang bergerak bahwa cukup kecil untuk memungkinkan
dengan laju v sepanjang tali
1 1
aproksimasi sin . Jika adalah massa
2 2

per satuan panjang tali, massa segmen dengan panjang s = R adalah :


m= s=R
Dengan menetapkan gaya radial total sama dengan massa kali percepatan sentripetal, akan
dihasilkan :
v2
F=R
R
Dengan meniadakan factor dan menyelesaikannya untuk v, kita akan memperoleh :
v=

F
..(16)
Senar atau dawai banyak digunakan sebagai sumber bunyi, seperti pada gitar dan biola.
Cepat rambat gelombang pada dawai dapat diukur dengan peralatan Melde (sonometer ) yang
desain alatnya seperti gambar berikut:

Panjang dawai adalah jarak dari sumber


getar (osilator) sampai ke katrol licin,
karena hanya pada bagian inilah dawai
dirambati gelombang transversal.
Tegangan dawai setara dengan gaya berat beban, sedangkan frekuensi gelombang sama dengan
frekuensi getaran osilator.
Ketika osilator digetarkan, terjadi rambatan gelombang dari osilator menuju ke katrol.
Sesampai di katrol, gelombang tadi dipantulkan sehingga di sepanjang dawai terjadi
interferensi antara gelombang datang yang berasal dari osilator dan gelombang pantul yang
berasal dari katrol. Interferensi gelombang ini menghasilkan gelombang stasioner dalam
bentuk simpul dan perut yang terjadi di sepanjang dawai.

Berdasarkan percobaan Melde, cepat rambat gelombang dalam dawai:

dengan:
v : cepat rambat gelombang pada dawai (ms-1)
F : gaya tegang dawai (N) pada percobaan Melde F = w (berat beban)
: massa per satuan panjang dawai (kgm-1) = m/l
l : panjang dawai (m)
m : massa dawai (kg) pada percobaan Melde bukan massa beban
: massa jenis dawai (kgm-3)
A : luas penampang dawai (m2)