Anda di halaman 1dari 20

Tugas Terstruktur

Mata Kuliah Survei Rekayasa Laut

Diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan


Mata Kuliah Survei Rekayasa Laut
Disusun Oleh :

Nama : Muhammad Dimyati

NIM : 16.25.925

JURUSAN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG
2017

i
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul ...................................................................................................... i


Daftar Isi ....................................................................................................... ii
1.1 Pendahuluan ................................................................................................... iii
1.2 Metodologi ..................................................................................................... v
1.3 Hasil dan Pembahasan .................................................................................... vi
1.4 Eksplorasi ....................................................................................................... xiii
1.5 Eksploitasi ...................................................................................................... xv
1.6 Konstruksi....................................................................................................... viii
1.7 Kesimpulan dan Saran .................................................................................... xviii
Daftar Pustaka ...................................................................................................... xx

ii
Aplikasi Survei Hidrografi dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Minyak dan Gas
(offshore)

1.1 Pendahuluan
Laut mendominasi permukaan bumi sebesar 70,8% dengan luas 361.254.000 km2.
Kawasan laut memiliki dimensi pengembangan yang sangat luas karena mempunyai keragaman
potensi alam yang dapat dikelola. Beberapa sektor kelautan seperti perikanan, perhubungan
laut, pertambangan sudah mulai dikembangkan walaupun masih jauh dari potensi yang ada,
salah satunya adalah sumber daya alam minyak dan gas bumi. Seperti yang sudah saya jelaskan
pada jurnal sebelumnya (Pemanfaatan sumber daya alam di berbagai zaman), minyak dan gas
bumi merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat mempengaruhi kehidupan umat
manusia, peningkatan kebutuhan minyak dan gas sangat signifikan dikarenakan hampir dari
separuh kebutuhan sumber energi didominasi oleh minyak dan gas, walaupun pemanfaatan
sumber daya alam terbarukan terus dikembangkan. Minyak dan gas bumi berasal dari
banyaknya jasad renik tumbuhan dan hewan sebagai asal-usul minyak dan gas yang mati selama
150 juta yang lalu. Sisa-sisa organisme tersebut mengendap di dasar lautan, kemudian ditutupi
oleh lumpur.

Lapisan lumpur tersebut lambat laun berubah menjadi batuan karena pengaruh tekanan
lapisan di atasnya. Sementara itu, dengan meningkatnya tekanan dan suhu, bakteri anaerob
menguraikan sisa-sisa jasad renik tersebut dan mengubahnya menjadi minyak dan gas. Proses
pembentukan minyak bumi dan gas ini memakan waktu jutaan tahun. Minyak dan gas yang
terbentuk meresap dalam batuan yang berpori seperti air dalam batu karang. Minyak dan gas
dapat pula bermigrasi dari suatu daerah ke daerah lain, kemudian terkosentrasi jika terhalang
oleh lapisan yang kedap.

Gambar 1. Anjungan minyak (oil rig)


Sumber: Wikipedia

iii
Hal ini menyebabkan minyak dan gas bumi banyak ditemukan di dasar laut. Namun,
karena minyak dan gas ditutupi oleh lumpur, perlu suatu teknologi untuk bisa
menheksplorasinya, tentunya teknologi yang dibutuhkan adalah teknologi yang dapat
menggambarkan kondisi-kondisi dasar laut dimana cabang ilmu geodesi yaitu hidrografi sangat
berguna dalam hal ini.

Gambar 2. Survei Hidrografi


Sumber: http://www.substructure.com
Hal ini sangat penting karena untuk bisa mengelola sumber daya alam yang ada tentunya
kita perlu mengetahui kondisi lingkungan disekitar sumber daya alam tersebut, begitu pula
dalam pengelolaan minyak dan gas di dasar laut, kita perlu mengetahi kondisi permukaan
bawah laut, posisi dan lokasi dari sumber minyak dan parameter-parameter yang mempengaruhi
nya seperti dinamika laut. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan sumber daya alam
kelautan, terutama minyak dan gas bumi, teknologi survei hidrografi semakin dikembangkan
dan dilakukan baik dalam tahap eksplorasi maupun feasibility study.
Hidrografi (geodesi kelautan) adalah ilmu tentang pemetaan laut dan pesisir. Hidrografi
menurut Intrenational Hydographic Organization (IHO), adalah ilmu tentang penggambaran
parameter-parameter yang diperlukan untuk menjelaskan sifat-sifat dan konfigurasi dasar laut
secara tepat, hubungan geografis dengan daratan, serta karakteristik dan dinamika lautan.
Hidrografi sendiri sangat berguna dalam navigasi maritim, konstruksi kelautan dan eksplorasi
minyak lepas pantai. survei hidrografi mutlak dilakukan dalam tahapan explorasi maupun
feasibility study. Informasi yang diperoleh dari kegiatan ini untuk pengelolaan sumberdaya laut
seperti minyak dan konstruksi kelautan. Kebutuhan teknologi survei dan pemetaan laut yang
modern ini merupakan suatu kebutuhan, apalagi dengan berlakunya UNCLOS 1982 (United
Nations Convention on Law of The Sea).

Kompetensi profesi dan Akademisi Hidrografi dikelompokkan menjadi beberapa


aplikasi yaitu (IHB, 2001)
1. Nautical Charting ( pemetaan laut )
2. Military

iv
3. Inland Water
4. Coastal Zone management
5. Offshore Seismic
6. Offshore Construction
7. Remote sensing
Tujuan survey hidro-oseanografi diantaranya untuk mendukung pekerjaan seperti
rencana penentuan dan pemasangan jalur kabel dan pipa bawah laut, pencarian pesawat dan
kapal-kapal yang tenggelam, penentuan algoritma parameter kelautan (TSS, SST, koreksi
kolom perairan untuk aplikasi penginderaan jauh, dll), penentuan pengeboran sumur minyak
(well rig), operasi pencarian ranjau dan bahan peledak di bawah laut dan investigasi pipa dan
kabel bawah laut. Dalam jurnal ini, saya akan menjelaskan bagaimana teknologi survei
hidrografi diaplikasikan dalam pengelolaan minyak dan gas bumi, apa saja teknologinya, dan
bagaimana cara kerjanya.

1.2 Metodologi

Gambar 3. Tahapan Metode Penelitian


Pada penulisan jurnal ini, saya melakukan cara dan metode penelitian (metodologi)
dengan tahapantahapan seperti gambar 2 diatas. Pertama, saya merumuskan masalah apa yang
akan saya ambil, spesifikasi dari pemanfaatan sumber daya alam minyak dan gas serta
bagaimana salah satu cabang keilmuan dari geodesi yaitu hidrografi menjadi metode dalam
pengelolaan minyak dan gas merupakan masalah yang saya angkat dalam jurnal ini. Disini saya

v
bertujuan untuk mencari tahu bagaimana survei hidrografi berperan dalam pengelolaan SDA
minyak dan gas di laut. Maka saya melakukan studi pustaka guna menambah wawasan saya
mengenai judul yang saya ambil sehingga pelaksanaan penelitian dapat dilakukan secara
sistematis dan mendapatkan hasil yang maksimal. Studi pustaka saya lakukan dengan mencari
berbagai refrensi atau informasi terkait pengelolaan SDA minyak dan gas.

Hasil dari perumusan masalah dan studi pustaka, saya mencoba mencari tahu spesifikasi
tentang ilmu hidrografi, bagai mana survei hidrografi dilakukan dilapangan, teknologi apa yang
digunakan dalam survei hidrografi seperti teknologi hidro-akustik, setelah itu saya mencari tahu
tentang bagaimana proses dan tahapan minyak dan gas yang berada di laut dieksploitasi dan
dieksplorasi serta bagaimana pengelolaanya. Saya memilih metode pendekatan secara
dokumentasi, yaitu dengan mencari data berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,
prasasti, dan artikel online terkait.Saya juga menggunakan sumber sumber yang saya gunakan
ketika melakukan studi pustaka. Maka, pengumpulan data saya lakukan guna mendapatkan
refrensi dan sumber sumber yang akurat untuk dianalisis dan ditarik kesimpulan. Informasi
yang saya peroleh meliputi teknologi yang digunakan dalam survei hidrografi, teknik
pengambilan datanya, bagaimana laut dipetakan melalui survei hidrografi, alatalat apa saja
yang digunakan serta bagaimana semua itu di aplikasikan dalam pengelolaan minyak dan gas
bumi yang ada dilaut berdasarkan tahapantahapan dan proses dalam pengelolaan dan
pemanfaatan SDA minyak dan gas bumi yang ada di laut meliputi tahapan eksplorasi
(pencarian), eksploitasi (pengambilan), konstruksi dari anjungan sebagai base dalam driling
(pengeboran) dan instalasi pipapipa minyak dan gas di dasar laut sebagai wahana transportasi
minyak dan gas dalam proses penyulingan serta bagaimana nautikal-chart (peta laut) digunakan
untung monitoring dalam memanajemen distribusi dari persebaran lokasilokasi SDA minyak
dan gas berdasarkan lokasi pengeboran sehingga memberikan data spasial yang infromatif dan
dapat digunakan untuk proses perencanaan pihakpihak terkait.

Dari hasil analisis yang saya lakukan berdasarkan metode diatas maka saya mencoba
untuk membagi isi dan pembahasan dari jurnal ini menjadi lima sub-bab yaitu teknologi
hidrografi (hidro-akustik) untuk memberikan pengetahuan mendasar dari teknologi yang
digunakan dalam survei hidrografi, tahapan tahapan dalam pemanfaatan SDA minyak dan gas
bumi di laut seperti eksplorasi dan eksploitasi, halhal yang menunjang pemanfaatan yaitu
konstruksi dari anjungan dan instalasi pipa dasar laut, serta dengan menjelaskan bagaimana
distribusi persebaran minyak dan gas dipantau (monitoring) menggunakan peta laut sebagai
produk dari survei hidrografi yang kemudian saya tarik kesimpulan secara menyeluruh dari
aplikasi dari survei hidrografi dalam pengelolaan minyak dan gas bumi di laut. Berikut adalah
hasil dan pembahasan dari analisis saya mengenai aplikasi dari survei hidrografi dalam
pengelolaan minyak dan gas bumi di laut berdasarkan metode pendekatan secara dokumentasi
1.3 Hasil dan Pembahasan
Teknologi Hidrografi (Hidro-akustik) Untuk menunjang eksplorasi dan eksploitasi
sumberdaya migas dilaut, dapat digunakan teknologi akustik bawah air (underwater acoustics)
yang dalam hidrografi dikenal dengan sebutan Hydro-akustik karena penggunaanya di air.

vi
Teknologi Hydro-akustik adalah penggunaan gelombang suara yang dalam dunia navigasi
disebut Sonar atau Echosounder dan sejenisnya. Dengan pendekatan fungsi, Sonar atau
Echosounder pada teknologi navigasi dapat disetarakan dengan penggunaan Radar untuk
pendeteksian objek di permukaan air. Pemrosesan didukung oleh peralatan lainnya seperti
komputer; GPS (Global Positioning System), Colour Printer, software program dan kompas.
Hasil akhir berupa data siap diinterpretasikan untuk bermacam-macam kegunaan yang
diinginkan. Bila dibandingkan dengan metode lainnya dalam hal estimasi atau pendugaan,
teknologi hydro- acoustic memiliki kelebihan, antara lain. Informasi pada areal yang dideteksi
dapat diperoleh secara cepat (real time). Dan secara langsung di wilayah deteksi (in situ).

Gambar 4. Multi Sonar


Sumber: http://oceanexplorer.noaa.gov
Hydro-acoustic dapat digunakan dalam mengukur dan menganalisa hampir semua yang
terdapat di kolom dan dasar air, aplikasi teknologi ini untuk berbagai keperluan yang
berhubungan dengan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, diantaranya adalah
eksplorasi bahan tambang, minyak dan energi dasar laut (seismic survey), deteksi lokasi
bangkai kapal (shipwreck location) untuk melestarikan laut dari bahan-bahan logam, estimasi
biota laut, mengukur laju proses sedimentasi (sedimentation velocity), mengukur arus dalam
kolom perairan (internal wave), mengukur kecepatan arus (current speed), mengukur kekeruhan
perairan (turbidity) dan kontur dasar laut (bottom contour). Salah satu aplikasi dari sistem
aplikasi aktif yaitu Sonar yang digunakan untuk penentuan batimetri.

Gambar 5. Ilustrasi Single Beam dan Multi Beam


Sumber: http://www.nauticalcharts.noaa.gov

vii
Sonar (Sound Navigation And Ranging) yaitu berupa sinyal akustik yang diemisikan
dan refleksi yang diterima dari objek dalam air (seperti ikan atau kapal selam) atau dari dasar
laut. Bila gelombang akustik bergerak vertikal ke dasar laut dan kembali, waktu yang
diperlukan digunakan untuk mengukur kedalaman air. Multibeam sonar merupakan instrumen
hidroakustik yang menggunakan prinsip yang sama dengan single beam namun perbedaannya
terletak pada jumlah beam yang dipancarkannya lebih dari satu dalam satu kali pancar. Berbeda
dengan Side Scan Sonar pola pancaran yang dimiliki multibeam sonar melebar dan melintang
terhadap badan kapal. Setiap beam memancarkan satu pulsa suara dan memiliki penerimanya
masing-masing. Saat kapal bergerak hasil sapuan multibeam tersebut menghasilkan suatu
luasan area permukaan dasar laut Transduser yang terdapat di dalam multibeam sonar terdiri
dari serangkaian elemen yang memancarkan pulsa suara dalam sudut yang berbeda. Biasanya
hanya satu beam yang ditransmisikan tetapi menghasilkan banyak pantulan energi dari masing-
masing pulsa suara yang ditransmisikan. Kemampuan setiap elemen transduser menerima
kembali pulsa suara yang dipantulkan tergantung kepada metode kalibrasi terhadap gerak kapal
yang diterapkan. Multibeam sonar memiliki ketelitian yang sangat baik dalam pengukuran
kedalaman. Kedalaman diukur melalui cepat rambat gelombang akustik yang dipancarkan
sampai diterima kembali dibagi dengan dua kali waktu yang dibutuhkan sehingga pengukuran
kedalaman oleh MBS dapat dirumuskan sebagai berikut :
= 12 (1)
Keterangan :
h = kedalaman (m)
v = cepat rambat gelombang akustik
t = selang waktu gelombang yang ditransmisikan dengan diterima kembali
Kedalaman hasil pengukuran yang didapatkan tetap harus dikoreksi dari berbagai
kesalahan yang mungkin terjadi. Kesalahan tersebut dapat berasal dari kecepatan gelombang
suara, pasang surut, kecepatan kapal, sistem pengukuran, offset dan posisi kapal.

viii
Gambar 6. JRC JFV-250 Echo Sounder
Sumber: http://www.selexmarine.com
Echosounder adalah alat untuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan
gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar
air. Adapun kegunaan dasar dari echosounder yaitu menentukan kedalaman suatu perairan
dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya
sampai echo kembali dari dasar air. Data tampilan juga dapat dikombinasikan dengan koordinat
global berdasarkan sinyal dari satelit GPS yang ada dengan memasang antena GPS (jika fitur
GPS pada echosounder ada). Teknik echo sounder yang dipakai untuk mengukur kedalaman
laut, bisa dibuat alat pengukur jarak dengan ultra sonic. Pengukur jarak ini memakai rangkaian
yang sama dengan Jam Digital dalam artikel yang lalu, ditambah dengan rangkaian pemancar
dan penerima Ultra Sonic.

Gambar 7. Prinsip Kerja Echosounder


Sumber: http://www.dosits.org
Pulsa Ultrasonic, yang merupakan sinyal ultrasonic dengan frekwensi lebih kurang 41
KHz sebanyak 12 periode, dikirimkan dari pemancar Ultrasonic. Ketika pulsa mengenai benda
penghalang, pulsa ini dipantulkan, dan diterima kembali oleh penerima Ultrasonic. Dengan
mengukur selang waktu antara saat pulsa dikirim dan pulsa pantul diterima, jarak antara alat
pengukur dan benda penghalang bisa dihitung. Adapun rangkaian Jam Digital yang digunakan
titik desimal pada tampilan satuan dinyalakan dengan tahanan R8. Setiap kali tombol Start
ditekan, AT89C2051 membangkitkan pulsa ultrasonic pada Pin P3.4 yang dipancarkan,
selanjutnya lewat pin P3.5 yang terhubung ke rangkaian penerima ultrasonic, sambil mengukur
selang waktu AT89C2051 memantau datangnya pulsa pantul. Hasil pengukuran waktu itu,
dengan sedikit perhitungan matematis ditampilkan di system penampil 7 ruas sebagai besaran
jarak, dengan satuan centimeter dan 1 angka dibelakang titik desimal. Processor memerlukan
waktu untuk melaksanakan instruksi.
Bagi AT89C2051 yang bekerja pada frekuensi 12 MHz, instruksi NOP (baris 4 sampai
12); instruksi CPL (baris13) dilaksanakan dalam waktu 1 mikro detik, dan 2 mikro detik untuk

ix
melaksanakan instruksi DJNZ (baris 14). Dengan demikian waktu yang diperlukan untuk
melaksanakan instruksi-instruksi di baris 3 sampai 13 adalah 12 mikro detik. Di baris 12, nilai
Ultra_Out (= pin P3.4) dibalik, kalau semula Ultra_Out bernilai 0 setelah instruksi ini
dijalankan Utltra_Out akan bernilai 1, dan sebaliknya kalau semula 1 dan berbalik menjadi 0.
Di baris 13 nilai R7 dikurangi 1, selama R7 belum mencapai 0 AT89C2051 akan mengulang
lagi baris 2 dan seterusnya. Di baris 1 R7 diberi nilai 24, dengan demikian baris 2 sampai 13
akan diulang sebanyak 24 kali, dan selama itu pin 3.4 akan berbalik dari 0 ke 1 dan 0 kembali
sebanyak 12 kali. Dengan demikian, hasil kerja Potongan Program 1 adalah pulsa ultrasonic12
gelombang dengan frekuensi 1/24 mikrodetik = 41666 Hz. Prinsip echo-sounder yang sekarang
umum digunakan oleh kapal-kapal sebagai bantuan navigasi. Echo-sounder komersil
mempunyai lebar sinar 30-45o vertikal tetapi untuk aplikasi khusus (seperti pelacakan ikan atau
kapal selam atau studi lanjut dasar laut) lebar sinar yang digunakan kurang 5o dan arahnya
dapat divariasikan. Walaupun menunjukkan pengaruh temperatur, salinitas dan tekanan pada
laju bunyi dalam air laut (1500 ms-1) relatif kecil dan sedikit perubahan pada c dapat
menyebabkan kesalahan pengukuran kedalaman dan kesalahan sudut akan menambah
keburukan resolusi.

Gambar 8. Data Kedalaman hasil penggunaan Echosounder


Sumber: http://venus.uvic.ca
Teknik echo-sounding untuk menentukan kedalaman dan pemetaan dasar laut
bertambah maju dengan berkembangnya peralatan sonar seperti SeaBeam dan Hydrosweep
yang merupakan sistem echo-sounding multi-beam yang menentukan kedalaman air di
sepanjang swath lantai laut di bawah kapal penarik, menghasilkan peta-peta batimetri yang
sangat detail. Sidescan imaging system, sperti GLORIA (Geological Long Range Inclined
Asdic), SeaMARC, dan TOBI (Towed Oceand Bottom Instrument) menghasilkan fotografi
aerial yang sama atau citra-citra radar, menggunakan bunyi atau microwave. Echo-sounding
banyak juga digunakan oleh nelayan karena ikan menghasilkan echo, dan kawanan ikan atau
hewan lain dapat dikenali sebagai lapisan-lapisan sebaran dalam kolom air. Echosounder
terbagi menjadi dua jenis yaitu Echosounder single-beam dam multi-beam.

x
Gambar 9. Software Pengolahan Data Echosounder (Power Nav)
Sumber: Power Nav user manual
Single-beam echo sounder merupakan alat ukur kedalaman air yang menggunakan
pancaran tunggal sebagai pengirim dan penerima sinyal gelombang suara. Sistem batimetri
dengan menggunakan single beam secara umum mempunyai susunan : transciever
(tranducer/reciever) yang terpasang pada lambung kapal atau sisi bantalan pada kapal. Sistem
ini mengukur kedalaman air secara langsung dari kapal penyelidikan. Transciever yang
terpasang pada lambung kapal mengirimkan pulsa akustik dengan frekuensi tinggi yang
terkandung dalam beam (gelombang suara) secara langsung menyusuri bawah kolom air. Energi
akustik memantulkan sampai dasar laut dari kapal dan diterima kembali oleh tranciever.
Transciever terdiri dari sebuah transmitter yan mempunyai fungsi sebagai pengontrol panjang
gelombang pulsa yang dipancarkan dan menyediakan tenaga elektris untuk besar frekuensi
yang diberikan. Transmitter ini menerima secara berulang-ulang dlam kecepatan yang tinggi,
sampai pada orde kecepatan milisekon. Perekaman kedalaman air secara berkesinambungan
dari bawah kapal menghasilkan ukuran kedalamn beresolusi tinggi sepanjanlg lajur yang
disurvei. Informasi tambahan seperti heave (gerakan naik-turunnya kapal yang disebabkan oleh
gaya pengaruh air laut), pitch (gerakan kapal ke arah depan (mengangguk) berpusat di titik
tengah kapal), dan roll (gerakan kapal ke arah sisi-sisinya (lambung kapal) atau pada sumbu
memanjang) dari sebuah kapal dapat diukur oleh sebuah alat dengan nama Motion Reference
Unit (MRU), yang juga digunakan untuk koreksi posisi pengukuran kedalaman selam proses
berlangsung.
Range frekuensi yang dipakai pada sistem ini menurut WHSC Sea-floor Mapping
Group mengoperasikan range frekuensi dari 3.5 kHz sampai 200 kHz. Single-beam
echosounders relatif mudah untuk digunakan, tetapi alat ini hanya menyediakan informasi
kedalaman sepanjang garis trak yang dilalui oleh kapal. Jadi, ada feature yang tidak terekam
antara lajur per lajur sebagai garis traking perekaman, yang mana ada ruang sekitar 10 sampai
100 meter yang tidak terlihat oleh sistem ini. Multi-Beam Echosounder merupakan alat untuk
menentukan kedalaman air dengan cakupan area dasar laut yang luas. Prinsip operasi alat ini
secara umum adalah

xi
Gambar 10. Instrumen Echosounder
Sumber: http://www.wagtech.co.uk
berdasar pada pancaran pulsa yang dipancarkan secara langsung ke arah dasar laut dan
setalah itu energi akustik dipantulkan kembali dari dasar laut (sea bed), beberapa pancaran suara
(beam) secara elektronis terbentuk menggunakan teknik pemrosesan sinyal sehingga diketahui
sudut beam. Dua arah waktu penjalaran antara pengiriman dan penerimaan dihitung dengan
algoritma pendeteksian terhadap dasar laut tersebut. Dengan mengaplikasikan penjejakan sinar,
sistem ini dapat menentukan kedalaman dan jarak transveral terhadap pusat area liputan. Multi-
Beam Echosounder dapat menghasilkan data batimetri dengan resolusi tinggi ( 0,1 m akurasi
vertikal dan kurang dari 1 m akurasi horisontalnya).
Cara Pemakaiannya adalah:
1. Memasang alat dan cek keadaan alat sebelum memulai pengambilan data.
2. Pastikan kabel single beam dan display sudah terpasang.
3. Pasang antena, jika diperlukan input satelit GPS.
4. Masukkan single beam kedalam air.
5. Set Skala kedalaman yang ditampilkan display.
6. Set frekuensi yang akan digunakan 200 Hz untuk laut dangkal atau 50 Hz untuk laut
dalam atau dual untuk menggunakan keduanya.
7. Set input data air yaitu salinitas, temperatur dan tekanan air.
8. Pengambilan data.
9. Pengolahan Data
Perhitungan kedalaman diperoleh dari setengah waktu pemantulan signal dari

xii
echosounder memantul ke dasar laut kemudian kembali ke echosounder. Nilai waktu yang
diperoleh di konversikan dengan kecepatan gelombang suara di dalam air.

= 12 (2)

dimana
D = kedalaman laut
V = kecepatan suara dalam laut
t = waktu
Untuk data kedalaman yang lebih tepat, dimasukkan pula data-data temperatur air,
salinitas air dan tekanan air. Hal ini diperlukan untuk memperoleh konversi yang tepat pada
cepat rambat suara di dalam air.
Berikut adalah perhitungannya :
= 1448.6 + 4.6182 0.0523 + 1.25 ( 35) + 0.017 (3)

dimana :
c = kecepatan suara (m/s)
T = temperatur (degrees Celsius)
S = salinitas (pro mille)
D = kedalaman
1.4 Eksplorasi

Gambar 11. Sea Bed Mapping untuk kebutuhan eksplorasi


Sumber: http://oceanexplorer.noaa.gov
Survei hidrografi diperlukan dalam proses pemanfaatan minyak dan gas bumi terutama

xiii
pada tahap eksplorasi. Eksplorasi minyak dan gas bumi itu sendiri adalah proses pencarian
cadangan minyak dan gas bumi di permukaan bumi baik didarat dan dilaut dimana ilmu
hidrografi dibutuhkan untuk melakukan pemetaan pada daerah yang memiliki cadangan
minyak bumi di laut. Proses eksplorasi migas pada awalnya dilakukan dengan melakukan
survei seismik yaitu suatu pekerjaan untuk mencari kandungan minyak dan gas bumi yang ada
di lapisan bawah bumi tepatnya di daerah laut dengan cara memetakan lapisan bawah laut
dengan menggunakan gelombang seismik. Pekeraan seismik ini dilakukan dikapal seismik dan
untuk dapat memetakan lapisan bawah laut diperlukan 2 hal yaitu perlu adanya sumber getaran
(Air gun ) dan perlu adanya alat perekam yang dapat menerima sumber getaran (Hidrophone ).
Prinsipnya kerjanya adalah dengan menembakkan getaran dalam bentuk gelombang udara
( airgun) ke dasar laut, setelah sampai di dasar laut kemudian getaran tersebut dipantulkan, dan
getaran ditangkap kembali oleh hidrophone sebagai perekam getaran. Alat alat yang
digunakan dalam syrvei ini adalah GPS C-Nav dan Gyro Compass untuk pemosisian kapal dan
keperluan navigasi, Streamer yang bentuknya seperti kabel yang dibentangkan kemudian
ditarik oleh kapal seismik dimana streamer ini berisi Hidrophone (alat perekam getaran), ADC
(Analog to digital converter), dan bird yang berperan untuk mengatur posisi dan kedalaman
streamer, dan AirGun yang berfungsi sebagai sumber getaran. Proses survei seimik ini diawali
oleh oleh tahap perencanaan jalur kapal seismik melintas yang biasanya menggunakan nautical
chart dimana seorang hidro-surveyor melakukan pengukuran pasang surut, Survei batimetri,
design rencana awal line seismik, navigasi arah kapal dengan memperhatikan arus laut dan
cuaca dan Processing Line untuk mendapatkan koordinat jalur kapal yang sudah dilakukan
Adjustment/ perataan .
Dalam Survei Seismik, panjang lintasan seismik bisa mencapai ratusan kilometer (untuk
satu linenya), apalagi jika survei tersebut adalah survei seismik 2D sehingga pengukuran
melewati zone yang berbeda dimana secara teori apabila daerah pengukuran telah berada dua
zona yang berbeda, maka distorsinya akan lebih besar. Semakin jauh dari meridian tengah tiap
zone, maka kesalahannya akan semakin besar, terutama kesalahan jarak. Untuk transformasi
antar zone UTM biasanya digunakan Software bantu seperti GeoCalc, Coord Calculator,
ataupun menggunakan perhitungan transformasi dari GPSeismic. Penggunaan software bantu
apapun, yang paling penting adalah pengecekan parameter-parameter transformasinya,
sehingga tidak terjadi kesalahan

Gambar 12. Prinsip Kerja Survei Seismik Laut


Sumber: http://rovicky.files.wordpress.com

xiv
Survey GPS dilaksanakan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan pekerjaan pengukuran
topografi lintasan seismik. Tahapan survey GPS dimulai dari desain jaring diatas peta, orientasi
lapangan, desain jaring final (setelah orientasi lapangan mengenai obstruksi dan aksesibilitas
tempat), pembuatan tugu GPS (Benchmark GPS), pengukuran GPS, pemrosesan data GPS dan
pelaporan hasil. Setelah peta jalur lintasan kapal seismik jadi dengan dukungan GIS dalam
bentuk nautical-chart maka survei seismik dilakukan. Dari hasil survei seismik ini maka
terlihatlah lapisan-lapisan tanah untuk diolah dan manakah lapisan yang berpotensi
mengandung gas/oil.
1.5 Eksploitasi

Gambar 13. Penambangan di dasar laut


Sumber: http://asopa.typepad.com

Dari data seismic yang ada, biasanya akan dilakukan pengecekan dengan melakukan
pengeboran di sejumlah titik (atau dikenal dengan nama proposed well location). Sehingga akan
didapatkan data yang lebih akurat dan kepastian mengenai cadangan minyak dan/atau gas yang
terkandung. Biasanya pengeboran dilakukan oleh kapal (drilling vessel) dan juga rig
(tergantung dari biaya, kedalaman laut, dan lain-lain). Untuk spesifikasi kedalaman laut maka
dikenal dengan nama swamp rig, Jack-up rig (15-100m), semi-submersible rig (>100m). Untuk
tahap persiapan sebelum pengeboran biasanya dibutuhkan survey area di sekitar titik
pengeboran dikenal dengan istilah geophysical site survey (atau site survey). Survey area
biasanya berbentuk kotak (3x3km, 4x4km, dll) tergantung terhadap jenis rig/drilling vessel
yang akan digunakan. Alat-alat yang biasa digunakan antara lain DGPS, Echosounder single
beam ataupun multibeam, Side scan sonar, USBL, Sub bottom profilling (Pinger,
Boomer/Sparker), Magnetometer, dan lain-lain. Data akhir biasanya berupa peta bathymetri,

xv
seabed feature, profil penampang dibawah seabed, data magnetic area sekitar (terutama untuk
lokasi eksploitasi), dll. Surveyor tentu saja berperan penting dalam survey ini Selain itu Hidro-
surveyor juga berperan dalam data processor (terutama jika menggunakan multibeam).
Selain data survey, data yang lain yang biasanya dibutuhkan sebelum pengeboran adalah
data geotechnical. Data geotechnical ini didapatkan dari mengambil sampel tanah di bawah
permukaan laut (seabed) dengan melakukan pengeboran di titik2 yang telah ditentukan di skitar
area pengeboran. Data survey dan geoteknik ini nantinya akan dijadikan referensi, safety issue
(terutama untuk jack-up rig), insurance, dan juga gambaran awal mengenai keadaan lingkungan
sekitar tempat pengeboran. Setelah data didapatkan, maka rig akan segera bergerak menuju
lokasi titik pengeboran dengan dibantu oleh seorang surveyor untuk penentuan posisi titik bor
(dikenal dengan istilah rig move).
1.6 Konstruksi

Gambar 13. Instalasi Anjungan dan Pipa di bawah laut


Sumber: wikipedia
Sebagian besar kegiatan lepas pantai yang melibatkan sisi produksi minyak dan gas
membutuhkan suatu rekayasa baik itu berupa anjungan (rig\platform), maupun pipa bawah laut
sebagai jalur transportasi minyak dan gas. Surveyor hidrografi sering bertanggung jawab dalam
pembuatan anjungan, pipa konstruksi dan inspeksi kegiatan terkait erat. Instalasi kabel bawah
laut adalah satu lagi cabang industri lepas pantai membutuhkan keterampilan surveyor
hidrografi. Dalam hal ini, survei hidrografi sangat dibutuhkan untuk memetakan kondisi
permukaan laut sebagai dasar dari pembuatan anjungan minyak tersebut. Dan pada tahap
kontruksi, survei geodesi seperti yang dilakukan di darat dapat digunakan dalam pengukuran
dan pemetaan yang menunjang kegiatan konstruksi seperti pemodelan bentuk dari anjungan
minyak lepas pantai tersebut. Akibat dari permintaan terhadap minyak bumi dan gas yang terus
meningkat pula mengharuskan proses pengelolaan minyak dan gas menggunakan sistem
pendistribusian yang efektif. Pembangunan pipa bawah laut merupakan langkah yang tepat
untuk mengatasi lamanya waktu yang dibutuhkan dalam pendistribusian material cair seperti
minyak dan gas dari lokasi pengeboran. Pengangkutan material tersebut dalam jumlah besar
menggunakan kapal membutuhkan waktu yang cukup lama. Informasi mengenai kondisi dasar
laut sangat dibutuhkan untuk kegiatan pembangunan pipa bawah laut. Informasi mengenai
dasar laut didapatkan melalui survei batimetri. Multibeam sonar merupakan instrumen

xvi
hidroakustik yang banyak digunakan dalam survei batimetri. Hal ini disebabkan kemampuan
instrumen tersebut dalam melakukan pemindaian dasar laut dengan akurasi yang sangat tinggi
dan cakupan yang luas. Informasi yang didapatkan dari multibeam sonar berupa kedalaman dan
nilai backscattering yang dapat digunakan untuk mengetahui sebaran jenis sedimen dasar laut.
Sebaran jenis sedimen yang dideteksi menggunakan instrumen multibeam sonar dapat berubah
tergantung dari masukan sedimen yang ada di sekitarnya. Pembangunan pipa bawah laut harus
memperhatikan topografi dan jenis sedimen dasar laut. Peletakan pipa pada topografi yang
salah dapat menyebabkan pipa patah. diperlukan empat tahapan survei secara berurutan dalam
melakukan pembangunan pipa bawah laut, yaitu :
1. Survei pendahuluan (recconaissance survey)
2. Survei detail (detail investigation survey)
3. Survei konstruksi (construction survey)
4. Survei inspeksi (as built or inspection survey)
Adapun syarat-syarat dari instalasi pipa adalah
1. Pipa diletakan sedalam 3 meter di dasar laut untuk kedalaman 0 3 meter dari Mean
Sea Level (MSL).
2. Pipa diletakan sedalam 2 meter di dasar laut untuk kedalaman 10 28 meter dari
MSL.
3. Pipa langsung diletakan diatas dasar laut untuk kedalaman lebih dari 28 meter dari
MSL.
4. Lokasi peletakan pipa harus terhindar dari lokasi pipa yang telah diletakan
berdasarkan syarat-syarat diatas tentunya informasi yang signifikan mengenai topografi
bawah laut sangat dibutuhkan dimana itu merupakan produk dari survei hidrografi.

Gambar 14. Pemodelan Instalasi Pipa di dasar laut


Sumber: Trico Marine

xvii
1.7 Kesimpulan dan Saran

Gambar 16. Topografi bawah laut hasil


survei hidrografi
Sumber: http://www.nauticalcharts.noaa.gov

Berdasarkan penjelasan yang sudah saya berikan pada bagian isi dan pembahasan diatas,
saya menarik kesimpulan bahwa survei hidrografi dengan menggunakan teknologi hidro-
akustik sangat berperan dalam berbagai proses pemanfaatan SDA minyak dan gas di laut. Lebih
tepatnya lagi, survei hidrografi sangat berperan dalam proses eksplorasi dari minyak dan gas
bumi itu di laut dimana teknologi hidro-akustik dengan pemanfaatan teori perambatan
gelombang suara di suatu medan perantara (dalam hal ini adalah air) dapat dimanfaatkan untuk
memetakan permukaan bawah laut (sea bed mapping). Tentunya hasil dari pemetaan bawah
laut itu digunakan untuk mengetahui sedimen dasar laut yang dapat menunjang dalam
menentukkan kandungan mineral dasar laut dalam. Serta jika hasil dari data yang diperoleh
menggunakan teknologi hidro-akustik melalui survei hidrografi dikombinasikan dengan data
dari subbottom profilers, akan diperoleh peta dasar laut yang lengkap dan rinci. Peta dasar laut
yang lengkap dan rinci ini dapat digunakan untuk menunjang penginterpretasian struktur
geologi bawah dasar laut dan kemudian dapat digunakan untuk mencari mineral bawah dasar
laut. Dari hasil itu pula kita dapat mengetahui SDA apa saja yang terdapat di dasar laut termasuk
didalamnya sumber daya alam minyak dan gas bumi.
Secara garis besar, saya menarik kesimpulan mengenai aplikasi survei hidrografi dalam
pengelolaan minyak dan gas bumi meliputi :
1. Ekplorasi
pemetaan permukaan bawah laut untuk menemukan cadangan minyak
penentuan jalur kapal survei seismik (navigasi)
2. Eksploitasi
penentuan posisi titik bor di bawah permukaan laut

xviii
pemetaan kondisi permukaan dasar laut di sekitar lokasi pengeboran
3. Konstruksi
pemetaan dasar laut sebagai acuan pembangunan anjungan (oil rig)
pemetaan dasar laut untuk instalasi pipa sebagai sarana transportasi minyak pada
proses penyulingan
4. Monitoring
Penggunaan nautikal chart \peta laut untuk memantau distribusi penyebaran minyak
dan gas bumi dilaut dan perencanaan
Dari itu semua saya menarik kesimpulan bahwa survei hidrografi berguna untuk
pemetaan dan memberikan data spasial sebagai acuan spasial dalam perencanaan proses
pemanfaatan dan pengelolaan minyak dan gas bumi di laut. Tentunya informasi mengenai
parameter parameter apa saja yang mempengaruhi dinamika laut, gambaran mengenai kondisi
laut adalah informasi yang dibutuhkan jika kita ingin mengelola SDA apa saja yang ada di laut
termasuk minyak dan gas bumi. Dari yang sudah saya jelaskan diatas pula, aplikasi lain bidang
geodesi seperti GIS sangat berguna dalam mengelolah data hasil survei hidrografi sehingga
lebih informatif untuk digunakan.
Namun, semua teknologi dan metode seperti yang dijelaskan diatas membutuhkan biaya
yang sangat besar dan terkadang kurang efesien sehingga potensi sumber daya alam minyak
dan gas di laut masih belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya. Maka perlu dilakukan penelitian
dan pengembangan dari metode metode dan teknologi pemetaan laut sehingga proses
pemetaan dapat dilakukan lebih efesien namun tidak mengurangi tingkat persisi dan akurasi
data yang dibutuhkan.
Semoga informasi mengenai aplikasi survei hidrografi dalam pengelolaan minyak dan
gas bumi di laut yang saya berikan pada jurnal ini dapat memberikan pengetahuan lebih tentang
bagaimana SDA minyak dan gas bumi dikelola, bagaimana ilmu geodesi berperan, dan dapat
menginspirasi kita untuk mengembangkan teknologi yang sudah ada sehingga potensi sumber
daya alam kelautan yang ada, terutama di Indonesia, dapat dikelola secara maksimal.

Gambar 16.Persebaran blok Migas di


Indonesia
Sumber:
http://pmahatrisna.files.wordpress.com

xix
Daftar Pustaka

Bachri, S.1989, Offshore Pipeline Survey, Departement Surveying Engineering. University of New Brunswick.
New Brunswick.

Basith , Abdul, ST,M.Si,Ph.D. peralatan survei oseanografi, kuliah oseanografi fisis ke-11,Program Studi
Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada, 26 november 2012.

Pascasakti, Denni., 2010, Offshore seismic and backpacker : lingkup pekerjaan survei seimic laut,
http://dennipasca.blogspot.com/search/label/Seismik%20Laut (diakses tgl 30 Desember 2013).

Zaiho,Oiz., 2012, Hydrographic Survey: Teknik Pengukuran Kedalaman Laut dan Danau,
http://zaihooiz.blogspot.com/2012/05/teknik-pengukuran-kedalaman-laut-atau.html (diakses tgl 30 Desember
2013)

Gumbira, Gugun., 2011, Aplikasi Instrument MULTIBEAM SONAR dalam Kegiatan peletakan Pipa Bawah
Laut, skripsi, Departemen Ilmu Dan Teknologi Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Ingham, A,E. 1975, Hydrographic Survey In Sea Surveying, John Iley and Sons Ltd., London.

IHO. 2008. Standards For Hydrographic Surveys. International Hydrographic Bureau. Monaco.

National Oceanic and atmospheric administration (NOAA), National Oceanic Service, 1997, Natuical Charts
User's Manual, Washinton DC.

Anonim 2012,SeaPro Hydrographic Survey, http://www.seaproegypt.com/eng/cms/services/hydrographic-


survey (diakses tgl 1 Januari 2013).

Anonim 2012, Fugro, Oil and Gas exploration, http://www.fugro.com/services/oil-and-gas/exploration (diakses


tgl 1 Januari 2013).

Anonim 2012, Hydrographic surveying, Nautical Chart,http://oceanservice.noaa.gov/navigation/hydro/


(diakses tgl 1 Januari 2013).

Wikipedia Foundation, Inc, 2012, Petroleum, last update 30 Desember 2012, (diakses tgl. 31 Desember 2012).

Wikipedia Foundation, Inc, 2012, Offshore Drilling, last update 30 Oktober 2012, (diakses tgl. 31 Desember
2012).

Wikipedia Foundation, Inc, 2012, Hydrographic Survey, last update 30 Desember 2012, (diakses tgl. 1 Januari
2013).
Sumber:

Jurnal Aplikasi Survei Hidrografi dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Minyak dan Gas
(offshore), Rd Achmad Faizal P S.

xx