Anda di halaman 1dari 158

Ulumul Quran

Kata Pengantar

Syukur kehadirat Allah SWT senantiasa penyusun panjatkan, karena berkat rahmat dan hidayah-
Nya jualah penyusunan buku ini dapat selesai dengan baik. Dan semoga shalawat dan salam tetap
tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya.

Penyusunan buku ini didasarkan pada kebutuhan mahasiswa untuk memperkaya wawasan
terhadap masalah ilmu-ilmu Al Quran. Secara substansial, penyusunan buku ini merupakan kumpulan
kertas kerja yang disusun berdasar hasil pemikiran dan pengalaman sebagai pengampu mata kuliah
Ulumul Quran 1 dan 2. Setelah mengalami beberapa evaluasi dan penyempurnaan, penyusun merasa
perlu menerbitkan buku ini sebagai bentuk rasa tanggung jawab moral dan intelektual sebagai akademisi
yang terlibat langsung dalam pembelajaran di Perguruan Tinggi Agama Islam, dan turut memperkaya
khazanah keilmuan yang berkembang dewasa ini.

Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya penyusun sampaikan kepada semua
pihak yang turut andil dalam proses penyusunan Buku ini, terutama pihak penerbit yang bersedia
mempublikasikan. Bagi mereka semua, penyusun mohonkan doa kepada Ilahi Robbi agar mendapat
kebaikan sebanyak yang mereka berikan kepada penyusun.

Akhirnya, semoga buku ini memberikan manfaat bagi kita semua, dan kepada seluruh pembaca
diucapkan jazakukmullahu khairon katsira. amin.

Penyusun

1
Ulumul Quran

Daftar Isi

Halaman judul i
Kata pengantar ii
Daftar isi iii
Bab 1. Ululmul Quran Dan Sejarahnya 3
Bab 2. Al-Quran Dan Aspek-Aspeknya 8
Bab 3. Wahyu: Cara Diturunkan Dan Penyampaiannya 41
Bab 4. Sejarah Nuzulul Quran 45
Bab 5. Ilmu Asababun Nuzul 54
Bab 6. Ilmu Nasikh Dan Mansukh 59
Bab 7. Ilmu Makki Dan Madani 65
Bab 8. Ilmu Fawatihus Suwar 74
Bab 9. Ilmu Muhkam Dan Mutasyabih 80
Bab 10. Ilmu Munasabah 88
Bab 11. Ilmu Ijazil Quran 95
Bab 12. Ilmu Amtsalil Quran 104
Bab 13. Ilmu Qashashul Quran 113
Bab 14. Ilmu Aqsamul Quran 121
Bab 15. Ilmu Qiraah 127
Bab 16. Ilmu Tafsiril Quran 135

Daftar pustaka 157

2
Ulumul Quran

BAB 1
ULULMUL QURAN DAN SEJARAHNYA

A. Pengertian Ulumul Quran dan Cakupan Bahasannya


Secara etimologi, kata Ulumul Quran berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari kata ulum dan al
Quran. Kata ulum adalah bentuk jama dari kata ilmu yang berarti ilmu-ilmu. Kata ilm adalah
bentuk masdar dari kata alima, yalamu, yang maknanya sama dengan kata al fahmu, al marifah dan al
1
yaqin.
Kata Al-Quran merupakan bentuk mashdar dari fiil madli qa-ra-a yang bermakna tala (membaca)
diambil orang-orang Arab dari bahasa Aramia dan digunakannya dalam percakapan sehari-hari. Kata
2
Quran bersinonim dengan kata qiraah yang berarti al-maqru (bacaan).
Kata ulum yang disandarkan kepada kata Al-Quran memberikan pengertian bahwa Ulumul Quran
adalah sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Quran, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-
3
Quran maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung didalamnya.
Sedangkan menurut terminologi terdapat berbagai definisi yang dimaksud dengan ulumul Quran
diantara lain :
1. Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam kitab Itmamu al-Dirayah

.
Ilmu yang membahas tentang keadaan Al-Quran dari segi turunya, sanadnya, adabnya makna-
maknanya, baik yang berhubungan lafadz-lafadznya maupun yang berhubungan dengan hukum-
4
hukumnya, dan sebagainya.
2. Imam Al-Zarqany dalam kitab al-Irfan fi Ulum Al-Quran

.

Beberapa pembahasan yang berhubungan dengan Al-Quran Al-Karim dari segi turunya, urutanya,
pengumpulanya, penulisanya, bacaanya, penafsiranya, kemujizatanya, nasikh mansukhnya,
5
penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, dan sebagainya.
3. Muhammad Ali al-Shabuni dalam kitab At Tibyan fi Ulumil Quran


.
Ulumul Quran ialah rangkaian pembahasan yang berhubungan dengan Al-Quran yang agung lagi
kekal, baik dari segi (proses) penurunan dan pengumpulan serta tertib urutan-urutan dan
pembukuannya, dari sisi pengetahuan tentang asbabun nuzul, makiyyah-madaniyyah, nasikh-

1
Azra, Azyumardi, Ed. 2008. Sejarah dan Ulum al-Quran, Jakarta: Pustaka Firdaus : 39
2
Ash-Shalih. Subhi. Membahas Ilmu-Ilmu Al-Quran, terjemah Nur Rakhim, dkk: 6
3
Kemunculan istilah ulum al-Quran ini pertama kali ada pada Abad V Hijriyah oleh al-Hufi yang wafat 430 Hijriyah. Sedangkan
menurut Subhi Shalih istilah ulum al-Quran sudah ada semenjak abad III H ketika Ibnu al-Marzuban menulis kitab yang berjudul al-Hawi
f Ulm al-Qurn. Abu Syahbah yang mengatakan bahwa istilah Ulum al-Quran muncul pada tahun 425 pada tulisan kitab al-Mabni f
Nazhm al-Mani yang hasil cetakannya mencapai 250 halaman yang menyajikan pembahasan tentang makki-madani, nuzul al-Quran,
kodifikasi al-Quran, penulisan dan mushaf, jumlah surat dan ayat, tafsir, tawil, muhkam mutasyabih, turunnya al-Quran dengan tujuh
huruf dan pembahasan-pembahasan lainnya. Ia juga mengkritik Kitab al-Burhn f Ulm al-Qurn yang dinyatakan al-Zarqani sebagai
kitab Ulum al-Quran pertama merupakan embel-embel penambahan kata Ulum al-Quran pada kitab al-Burhn f Ulm al-Qurn ,
yang aslinya bernama al-f Tafsr al-Qurn. Lihat Rosihan Anwar, Ulum al-Quran, Bandung, Pustaka Setia, 2008, cet-1 : 13.
4
As-Sayuti, Itmam Al-Diraya. Mesir: Isa Al-Bab Al-Halabi : 47
5
Az-Zarqoni, Manahil Al-Irfan. jilid I, Beirut: dar Al-fikr: 79.

3
Ulumul Quran

mansukhnya, muhkam mutasyabihnya, dan berbagai pembahasan lain yang berkenaan dengan Al-
6
Quran.
4. Manna Khalil al-Qattan, Mabahis fi Ulumil Quran



Ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan Al-Quran, dari sisi informasi
tentang asbab an-nuzulnya, kodifikasi dan tertib penulisan Al-Quran, ayat-ayat yang diturunkan di
7
Mekkah dan ayat-ayat yang diturunkan di Madinah dan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Quran.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Ulumul Quran adalah ilmu yang membahas hal-hal
yang berhubungan dengan Al-Quran, baik dari aspek keberadaanya sebagai Al-Quran maupun aspek
pemahaman kandunganya sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia atau ilmu-ilmu yang
berhubungan dengan berbagai aspek yang terkait dengan keperluan membahas Al-Quran seperti Ilmu
Tafsir Al-Quran, Ilmu Qiraat, Ilmu Rasm Al-Quran, ilmu Ijz Al-Quran, ilmu Asbb an-Nuzl, ilmu
Nsikh wa al-Manskh, ilmu Irb Al-Quran, ilmu Ghrib Al-Quran, Ulm ad-Din, ilmu Lughah dan lain-
lain. Ilmu-ilmu tersebut merupakan sarana dan cara untuk memahami Al-Quran. Ulum Al-Quran ini
sering juga disebut ushul al-Tafsir (dasar-dasar tafsir ), karena membahas beberapa masalah yang harus
8
dikuasai seorang mufasir sebagai sandaran dalam menafsirkan Al-Quran.
Secara garis besar Ilmu Al-Quran terbagi dua pokok bahasan yaitu :
1. Ilmu Riwayah
Ilmu yang berhubungan dengan riwayat semata-mata, seperti ilmu yang membahas tentang macam-
macam qiraat, tempat turun ayat-ayat Al-Quran, waktu-waktu turunnya dan sebab-sebabnya.
2. Ilmu Dirayah
Ilmu yang berhubungan dengan dirayah, yakni ilmu yang diperoleh dengan jalan penelaahan secara
mendalam seperti memahami lafadz yang ghorib (asing) serta mengetahui makna ayat-ayat yang
9
berhubungan dengan hukum.
Diantara cabang-cabang Ulum Al-Quran, para ulama sepakat menyatakan terdapat cabang-cabang
terpenting sebagai berikut:
1. Ilmu asbb al-Nuzl ( ilmu tentang sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al-Quran)
2. Ilmu Ijz al-Qurn ( ilmu tentang kemukjizatan Al-Quran)
3. Ilmu nsikh wa al-Manskh ( Ilmu tentang ayat yang menghapus hukum ayat lain dan ayat yang
dihapuskan hukumnya oleh ayat lain).
4. Ilmu ahkm al-Qurn ( ilmu tentang hukum-hukum Al-Quran).
5. Ilmu Fadhil Al-Quran ( Ilmu tentang keutamaan-keutamaan Al-Quran).
6. Ilmu Tawil Al-Quran ( ilmu tentang takwil Al-Quran )
7. Ilmu Muhkm wa al-Mutasybih ( Ilmu tentang ayat-ayat yang jelas dan yang samar).
8. Trikh Al-Quran wa al-Tadwnih wa naskhih wa kuttbih wa rasih (sejarah Al-Quran, pembukuannya,
salinannya, penulis-penulisnya dan bentuk tulisannya).
9. Ilmu I`rbal-Qurn (ilmu tentang tatabahasa Al-Quran).
10. Ilmu al-Qirat ( ilmu tentang bacaan-bacaan Al-Quran).
10
11. Ilmu Munsabah ( ilmu tentang sistematika Al-Quran).
Menurut Syeikh Manna'ul Qatthan dalam Mabahits fii Ulumul Quran, objek pembahasan Ulumul
Quran dibagi menjadi tiga bagian besar :

6 As-Shobuny, Muhammad Aly. 2003. At-Tibyan Fi Ulumil Quran, (Beirut: Al-Mazroatu Binayatul Yaman: 8
7 Al-Qattan, Manna Khalil. 1973. Mabahis Fi Ulum Al-Quran, Beirut: Al-Syarikah Al-Muttahidah Li Al-Tauzi,: 15-16.
8 Ibid :16.
9 As-Shiddieqy, TM Hasbi. 2010. Ilmu-Ilmu Al-Quran, Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra: 102
10 Azra, Azyumardi. Op Cit : 40-41

4
Ulumul Quran

1. Sejarah dan perkembangan Ulumul Quran, meliputi: sejarah rintisan ulumul quran di masa
Rasulullah SAW, Sahabat, Tabi'in, dan perkembangan selanjutnya lengkap dengan nama-nama ulama
dan karangannya di bidang ulumul quran di setiap zaman dan tempat.
2. Pengetahuan tentang Al-Quran, meliputi : Makna Quran, Karakteristik al-Quran, "nama-nama al-
Quran, Wahyu, Turunnya Al-Quran, ayat Mekkah dan Madinah, asbabun nuzul, dan sebagainya.
3. Metodologi Penafsiran Al-Quran, meliputi : pengertian tafsir dan takwil, syarat-syarat mufassir dan
adab-adabnya, sejarah dan perkembangan ilmu tafsir, kaidah-kaidah dalam penafsiran al-Quran,
11
muhkam dan mutasyabih, Aam dan Khas, nasikh wa Mansukh, dan sebagainya.

B. Sejarah Perkembangan dan penulisan Ulumul Quran


Pertumbuhan Ulumul Quran sendiri dimulai sejak masa Rasulullah. Ketika itu Rasulullah berperan
sebagai figur sentral dalam rujukan setiap permasalahan. Hanya saja Ulumul Quran pada saat itu belum
ditampilkan secara definitif. Jika para sahabat menemukan kesukaran dalam memahami Al-Quran,
mereka langsung bertanya kepada Rasulullah. Maka pada zaman Rasulullah dan Sahabat, tidak ada
kebutuhan sama sekali untuk menulis buku tentang ilmu Al-Quran. Terlebih mayoritas sahabat Nabi
terdiri dari orang-orang yang buta huruf, alat-alat tulis pun tak mereka peroleh dengan mudah. Selain itu
Rasulullah sendiri melarang para sahabat menulis sesuatu yang bukan Al-Quran. Imam Muslim
meriwayatkan dari Abu Said al-khudri, bahwa rasulullah S.A.W bersabda : Janganlah kamu tulis dari
aku; barang siapa yang menuliskan dari aku selain Quran, hendaklah dihapus. Dan ceritakan apa yang
dariku; dan itu tiada halangan baginya. Dan barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, ia akan
12
menempati tempatnya di api neraka. . Pada masa Rasulullah sampai kepada masa kekhalifahan Abu
Bakar ra dan Umar ra, ilmu Al-Quran masih diriwayatkan melalui penuturan secara lisan dari mulut ke
13
mulut (talqin dan musyafahah).
Ketika wilayah islam bertambah luas terjadi pembauran antara orang Arab dan bangsa-bangsa yang
tidak mengetahui bahasa Arab. Keadaan demikian menimbulkan kekhawatiran sahabat akan
tercemarnya keistimewaan bahasa arab, bahkan dikhawatirkan tentang bacaan Al-Quran yang menjadi
sebuah standar bacaan mereka. Pada masa pemerintahan Usman terjadi perselisihan di kalangan umat
Islam mengenai bacaan Al-Quran, maka khalifah Usman mengambil tindakan penyeragaman tulisan Al-
Quran demi untuk menjaga keseragaman Al-Quran disalinlah dari tulisan-tulisan aslinya sebuah Al-
Quran yang disebut mushaf imam. Dan tindakan Khalifah Usman tersebut merupakan perintisan bagi
14
lahirnya suatu ilmu yang kemudian dinamai Ilmu Rasmil Quran atau Ilmu Rasmi Usman.
Pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib makin bertambah banyak bangsa-bangsa non
Arab yang masuk Islam dan mereka salah membaca Al-Quran, sebab mereka tidak mengerti irabnya
(kedudukan kata-kata dalam suatu kalimat), padahal pada waktu itu tulisan Al-Quran belum ada
harakat-harakatnya, huruf-hurufnya belum ada titik-titiknya dan tanda-tanda lainnya yang memudahkan,
maka Ali bin Abi Thalib memerintahkan kepada Abul Aswad Al-Duali (w. 691 H) untuk menyusun kaidah-
kaidah bahasa Arab, demi untuk menjaga keselamatan bahasa Arab yang menjadi bahasa Al-Quran.
Maka tindakan khalifah Ali bin Abi Thalib yang bijaksana ini dipandang sebagai perintis bagi lahirnya Ilmu
Nahwu dan Irabil Quran.
Para sahabat senantiasa melanjutkan usaha mereka dalam menyampaikan makna-makna Quran
dan penafsiran ayat-ayatnya yang berbeda-beda dalam memahami dan karena adanya perbedaan lama
dan tidaknya mereka hidup bersama Rasulullah SAW. Hal yang demikian diteruskan oleh murid-murid
mereka, yaitu para tabiin. Diantara para mufasir yang termasyhur dari para sahabat adalah empat orang

11 Syamsuddin, Hatta. 2008. Modul Ulum al-Quran, Surakarta, Pesantren Ar Royan: 6.


12 Larangan penulisan al-Hadits ini berlaku untuk penulisan hadits bersama al-Quran dalam satu naskah. Hal ini karena
dikhawatirkan akan terjadi percampuran antara Hadits dengan al-Quran dengan argumen bahwa Nabi mengimlakkan sendiri haditsnya.
Ini berarti penulisan al-Hadits pada dasarnya tidak dilarang
13 As-Shiddieqy, TM Hasbi. Op Cit : 4
14 Ilmu yang mempelajari tentang penulisan Al-Quran

5
Ulumul Quran

khalifah, kemudian Ibn Masud, Ibn Abbas, Ubai bin Kab, Zaid bin Sabit, Abu Musa Al- Asyari dan
Abdullah bin Zubair.
Banyak riwayat mengenai tafsir yang diambil dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Masud, dan
Ubai bin Kab. Dan apa yang diriwayatkan dari mereka tidak berarti sudah merupakan tafsir Quran yang
sempurna. Tetapi terbatas hanya pada makna beberapa ayat dengan penafsiran tentang apa yang masih
samara dan penjelasan apa yang masih global. Mengenai para tabiin, diantara mereka ada satu
kelompok terkenal yang mengambil ilmu ini dari para sahabat disamping mereka sendiri bersungguh-
sungguh atau melakukan ijtihad dalam menafsirkan ayat.
Diantara murid-murid Ibn Abbas di Mekkah yang terkenal ialah Said bin jubair, Mujahid, Ikrimah
bekas sahaya (maula) Ibn Abbas, Tawus bin Kisan al-Yamani dan Ataa bin Abi Rabaah.
Dan terkenal pula diantara murid-murid Ubai bin Kab di medinah, Zaid bin Aslam, Abul Aliyah dan
Muhammad bin Kab al-Qurazi. Dari murid-murid Abdullah bin Masud di Irak yang terkenal Alqamah bin
Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, Amir asy-Syabi, Hasan al-Basri dan Qatadah bin Diamah as-Sadusi.
Pada masa penyusunan ilmu-ilmu agama yang dimulai sejak permulaan abad II H, maka para Ulama
memberikan prioritas atas penyusunan Tafsir, sebab Tafsir adalah Ummul Ulum Al-Quraniyah (induk
ilmu-ilmu Al-Quran). Kajian Ulumul Quran memasuki masa pembukuanya pada abad ke-2 H. Para ulama
memberikan prioritas perhatian mereka kepada ilmu tafsir karena fungsinya sebagai umm al ulum al
Quraniyyah. Para penulis pertama dalam tafsir adalah Syubah ibn al-Hajjaj (160 H), Sufyan Ibn Uyaynah
15
(198 H), dan Wali Ibn al-Jarrah (197 H). Ibnu Jarir Al-Thabari (wafat tahun 310 H), menyusun Tafsir Al-
Thabari dan diakui sebagai kitab tafsir yang paling besar dan paling tinggi nilainya, karena Ibnu Jarir Al-
Thabari adalah Mufasir yang pertama-tama mengemukakan pendapat-pendapat yang berbeda-beda dan
menunjukkan salah satu pendapat yang dipilihnya, disertai keterangan riwayat-riwayat (sumber-sumber)
yang benar dan tersusun rapi, dilengkapi penjelasan-penjelasan tentang irabnya dan hukum-hukum Al-
Quran yang dapat diistimbatkan.
Para ulama secara mandiri menyusun pokok-pokok pembahasan tertentu yang berhubungan
dengan Al-Quran diantaranya; pada abad ke-3 Hijri ulama yang tersohor adalah Ali bin al-Madani (w. 234
H), guru Imam Bukhari, menyusun karya mengenai asbaabun nuzuul, Abu Ubaid al-Qasim bin Salam (w.
224 H), menulis tentang Nasikh-Mansukh dan Qiraaat, dan Ibn Qutaibah (w. 276 H), menyusun tentang
problematika Quran / Musykilatul Quran. Pada abad ke-4 hijri ulama yang tersohor adalah Muhammad
bin khalaf bin Marzaban (w.309 H), menyusun al-Haawii faa Ulumil Quran, Abu Muhammad bin Qasim
al-Anbari (wafat 351H), juga menulis tentang ilmu-ilmu Quran, Abu Bakar as-Sijistani (w. 330 H),
menyusun Ghariibil Quran, dan Muhammad bin Ali al-Adfawi (w. 388 H), menyusun al-Istignaafi
Uluumil Quran.
Selanjutnya kegiatan penyusunan ilmu ilmu Quran terus berlangsung diantara ulama yang tersohor
adalah Abu Bakar al-Baqalani (w. 403 H), menyusun Ijazul Quran, Ali bin Ibrahim bin Said al-Hufi (wafat
430 H), menulis mengenai Iraabul Quran, Al-Mawardi (w. 450 H), menyusun tentang tamsil-tamsil
dalam Quran (Amsaalul Quran), Al-Izz bin Abdus Salam (w. 660 H), menyusun tentang majaz dalam
Quran, Alamuddin As-Sakhawi (wafat 634H), menulis mengenai ilmu Qiraat dan Aqsamul Quran.
Sedang pengumpulan hasil pembahasan dan bidang-bidang tersebut mengenai ilmu-ilmu Quran
pertama kali menurut Syaikh Muhammad Abdul Aziim az-Zarqaani adalah Ali bin Ibrahim bin Said (w.
16
330 H) dalam karya al-Burhaan fi uluumil Quran yang terdiri atas 30 jilid. Dalam perkembangan
berikutnya penyusunan karya tentang ilmu-ilmu Quran dilanjutkan Ibnul jauzi (w. 597 H), dengan karya
Funuunul Afnaan fi Ajaibi Uluumil Quran, Badruddin az-Zarkasyi (w.t 794 H), menulis kitab al-Burhaan
fi Uluumil Quran, Jalaluddin al-Balqini (w. 824 H), memberikan tambahan atas kitab al-Burhan didalam

15 Ibnu Jarir al-Thobari, merupakan ahli tafsir yang mengarang Kitab Jmi al-Bayn f Tafsr al-Qurn, yang dipandang sebagai

kitab tafsir terbaik pada saat itu karena pertama kali menyajikan tafsir dengan mengemukakan berbagai pendapat yanfg disertai proses
tarjih yang mencampuradukan antara tafsir bi al-matsur dengan tafsir bi al-rayi
16 Kitab al-Burhan fi Ulum al-Quran ini telah diterbitkan oleh Ustaz Muhammad Abu Fadhil Ibrahim sebanyak 4 Jilid yang memuat

47 macam persoalan ulum al-Quran. Manna Al-Qaththan, Op.cit: 14.

6
Ulumul Quran

17
kitabnya Mawaqiul Uluum min Mawaaqiin Nujuum. Jalaluddin as-Suyuti (w. 911 H), menyusun kitab
18
al-Itqaan fi Uluumil Quran.
Kepustakaan ilmu-ilmu Quran pada masa kebangkitan modern ulama yang membahas kandungan
Quran dengan metode baru diantaranya kitab Ijaazul Quran karya Mustafa Sadiq ar-Rafii, Kitab at-
Taswiirul Fanni fil Quran dan Masyaahidul Qiyaamah fil Quran karya Sayid Qutb, kitab Tarjamatul
Quran karya Muhammad Mustafa al-Maragi, kitab Masalatu Tarjamatil Quran, karya Mustafa Sabri.
19
kitab an-Nabaul Aziim karya Dr. Muhammad Abdullah Daraz, kitab Mukaddimah tafsir Mahaasinut
Tawil karya Jamaluddin al-Qasimi, kitab at-Tibyaan fi uluumil Quran karya Syaikh Tahir al-Jazairi, kitab
Manhajul Furqaan fi Uluumil Quran, karya Syaikh Muhammad Ali Salamah, kitab Manaahilul irfan fi
Uluumil Quran karya Muhammad Abdul Azim az-Zarqani, kitab Muzakkiraat Uluumil Quran karya
Syaikh Ahmad Ali, dan kitab Mabaahisu fi Uluumil Quran karya Dr. Subhi as-Salih.

C. Tujuan dan Fungsi Mempelajari Ulumul Quran


1. Tujuan mempelajari Ulumul Quran
a. Dapat memahami wahyu Allah sejalan dengan keterangan yang dikutip oleh para sahabat dan
para tabiin tentang interprestasi mereka terhadap Al-Quran
b. Dapat mengetahui cara dan gaya yang digunakan oleh para mufassir (ahli tafsir) dalam
menafsirkan Al-Quran dengan disertai penjelasan tentang tokoh-tokoh ahli tafsir yang ternama
serta kelebihan-kelebihannya.
c. Dapat mengetahui persyaratan-persyaratan dalam menafsirkan Al-Quran
d. Dapat mengetahui ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan dalam menafsirkan Al-Quran
2. Fungsi mempelajari Ulumul Quran
a. Ulumul Quran akan menentukan bagi seseorang yang membuat syarah atau menafsirkan ayat-
ayat Al-Quran secara tepat dapat dipertanggung jawabkan. Maka bagi mafassir Ulumul Quran
secara mutlak merupakan alat yang harus lebih dahulu dikuasai sebelum menafsirkan ayat-ayat
Al-Quran.
b. Dengan menguasai Ulumul Quran seseorang dapat memahami kandungan Al-Quran
c. Ulumul Quran sebagai kunci pembuka dalam menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan maksud
apa yang terkandung di dalamnya dan mempunyai kedudukan sebagai ilmu pokok dalam
menafsirkan Al-Quran.
d. Semakin tinggi dan mendalam Ulumul Quran dikuasai oleh seseorang mufassir maka tafsir yang
diberikan akan semakin mendekati kebenaran.
e. Dapat mencegah adanya kesalahan dalam menafsirkan Al-Quran. Wallahu alam

17 Ash-Shalih. Subhi, Op Cit : 158-160


18 Kitab al-Itqan fi Ulum al-Quran terdiri dari 2 Juz berisi 80 macam ilmu-ilmu al-Quran secara sistematis dan padat isinya dan
belum ada yang menandingi mutunya yang dianggap sebagai kitab standar dalam mata pelajaran Ulum al-Quran dan al-Suyuthi ini
dianggap sebagi puncaknya, karena setelahnya berhenti kegiatan ulama dalan pengembangan ilmu-ilmu al-Quran sampai akhir abad
XIII Hijriyah. Lihat Rosihon Anwar. Op.Cit : 23
19 Ash-Shalih, Subhi. seorang guru besar Islamic Studies dan Fiqhu Lughah pada Fakultas Adab Universitas Libanon yang menyusun

kitab Mabahis f Ulm al-Qurn. Kitab ini selain membahas ulum al-Quran juga menanggapi secara ilmiah pendapat-pendapat
orientalis yang dipandang salah mengenai berbagai masalah yang berhubungan dengan al-Quran.

7
Ulumul Quran

BAB 2
AL-QURAN DAN ASPEK-ASPEKNYA

A. Pengertian Al-Quran
1. Pengertian Al-Quran Secara Etimologi
Menurut Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah dalam kitabnya Al-Madkhal li Dirasah Al-
20
Quran Al Karim, kata Quran adalah bentuk mashdar dari kata kerja qaraa ( )yang berarti
21
bacaan. Pendapat ini diperkuat oleh Ibn Atsir sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Mandzhur
22
dalam Lisanu Al Arab bahwa lafadz Quran adalah bentuk mashdar yang berarti bacaan.
Penambahan huruf alif dan lam atau al, pada awal kata menunjuk pada kekhusususan tentang
sesuatu yang dibaca, yaitu bacaan yang diyakini sebagai wahyu Allah SWT. Sedang penambahan
huruf alif dan nun pada akhir kata menunjuk pada makna suatu bacaan yang paling
sempurna. Menurut Imam Syafii (204 H) kata Al-Quran adalah ism alam/ bukan kata bentukan dan
23
sejak awal digunakan untuk kitab suci umat Islam.
Menurut al Zujaj (311 H) kata Quran adalah kata sifat dari al qaru yang bermakna al
jamu (kumpulan). Dinamakan demikian karena dalam Al-Quran terkumpul di dalamnya ayat dan
surat-surat. Sebagimana firman Allah apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah
bacaannya artinya pengumpulannya dan bacaannya. Sebagaimana firman Allah QS Al Qiyamah [75]
: 17-18


17. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu
pandai) membacanya. 18. apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya
itu.
2. Pengertian Al-Quran secara Terminologi
Menurut Muhammad Ali Al Shabuni dalam kitabnya Al Tibyan Fi Ulum Al Quran, menyatakan;
, ,
, , , ,
.
Al-Quran adalah kalam Allah yang dimujizatkan, diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul,
melalui perantara yang terpercaya Malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf, disampaikan kepada kita
dengan jalur mutawatir, bernilai ibadah dengan membacanya, dimulai dengan surah Al Fatihah dan
24
ditutup dengan surah Al Naas.
Menurut Subhi As Shalih dalam kitabnya Mabahits Fi Ulum Al-Quran bahwa pengertian Al-
Quran adalah kalam Allah yang dimujizatkan, diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul,
melalui perantara yang terpercaya Malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf, disampaikan kepada kita
dengan jalur mutawatir, bernilai ibadah dengan membacanya, dimulai dengan surah Al Fatihah dan
25
ditutup dengan surah Al Naas.

20 Al Madkhal li Dirasah al Quran al Karim adalah sebuah buku yang ditulis oleh Muhammad bin Muhammad bin Abu

syahbah pada tahun 1992/1412 H di Beirut. Lihat: Al Munawar, Said Agil Husin. 2002. Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan
Hakiki, Jakarta: Ciputat Press: 4-5.
21 Pendapat seperti ini didukung dan dianut al Lihyan (215 H) dan diperkuat oleh Subhi Al Salih. Lihat Izzan Ahmad. 2009. Ulumul

Quran Telaah Tektstualitas dan Kontekstualitas Al Quran, Bandung: Tafakur : 27


22 Manzhur, Ibnu. 1994. Lisanu al Arabi, jilid I, Beirut: Darul Fikr: 129
23 Bagi Imam Al Syafii, bahwa nama al Quran sama dengan nama al Injil dan al Taurah yang terambil isim alam. Lihat: Sholih, As

Shubhi. 1988. Mabahits Fi Ulumi Al Quran, Beirut: Darul Ilmi Lilmalayin : 18. Lihat juga: Al Shabuni, Muhammad Ali. 2003. Al Tibyan Fi
Ulum AL Quran, Mekah: Dar Al Kutub Al Islamiyah : 12. Lihat juga: Nata, Abuddin. 1995. Al Quran dan Hadits Dirasah Islamiyah,
Jakarta: Raja Grafindo Persada : 51-59.
24 Al Shabuni, Muhammad Ali. Op Cit : 8. Lihat juga: al Qattan, Manna Khalil. 1996. Studi Ilmu-Ilmu Quran, Bogor: Litera Antar

Nusa: 17
25 Ash Shalih, Shubhi. Op Cit: 21. Lihat: Anwar, Rosihon. 2009. Op Cit : 31-34

8
Ulumul Quran

Menurut Umar Shihab Al-Quran adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT,
26
kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAW untuk dijadikan sebagai pedoman hidup.
Menurut Said Agil Al Munawwar, Al-Quran adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada nabi
Muhammad SAW, yang memiliki kemukjizatan lafal, membacanya bernilai ibadah, diriwayatkan
secara mutawatir, yang tertulis dalam mushaf, dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan
27
surat an-Naas.
Dari keragaman definisi di atas, pengertian Al-Quran mengandung beberapa aspek:
a. Kalam Allah
Kata kalam adalah kata umum yang biasa digunakan oleh setiap orang, dan penyandaran kata
kalam kepada Allah menjadikan Al-Quran sebagai kitab yang murni berisi kalam-kalam Allah
bukan kalam (ucapan) manusia, nabi, jin, maupun malaikat. Firman Allah QS. An Najm [53]: 3-4


3. dan Tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.4.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa Al-Quran dengan lafalnya adalah firman Allah SWT. Allah
menyampaikan firman-firmanNya melalui malaikat Jibril yang datang membawa kalamullah
kepada Rasulullah dalam waktu-waktu yang berbeda, kemudian Rasul membacakannya kepada
umatnya dan memberitahukan makna-maknanya kepada mereka, serta mengajak mereka untuk
menerima aqidah, sosial, hukum-hukum dan tugas-tugas perorangan yang terungkap dalam Al
Quran.
b. Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
Dalam surat Asy-syuara ayat 192-195 dijelaskan bahwa Al-Quran itu datang dari Allah dan
diturunkan kepada nabi Muhammad baik melalui perantara malaikat jibril atau tanpa perantara
yaitu mimpi yang benar atau disampaikan langsung dari balik hijab. Allah menurunkan beberapa
kitabNya kepada beberapa NabiNya untuk dijadikan pedoman dan petunjuk jalan. Allah SWT.
Menurunkan kitab kepada Muhammad berupa Al-Quran yang isinya menghimpun seluruh isi
kitab-kitab yang telah Dia turunkan sebelumnya.


192. dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, 193.
Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), 194. ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu
menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, 195. dengan bahasa
Arab yang jelas.
c. Berfungsi sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW
28
Al-Quran adalah mujizat terbesar Nabi SAW yang akan terus berlaku hingga akhir zaman.
Mujizat adalah kelebihan yang Allah berikan kepada para Nabi untuk menghadapi para musuh
Allah, dan mereka tidak dapat melakukan hal-yang sama seperti yang dilakukan para Nabi
tersebut. Karenanya mujizat dapat juga berarti sesuatu yang melemahkan orang lain hingga ia
tidak dapat membuat yang sama dengannya.
Sebagai salah satu bukti kemujizatan Al-Quran adalah seperti saat Allah SWT menantang kaum
musyrikin sekalipun dibantu oleh iblis dan tentaranya untuk membuat satu surat saja seperti Al-

26 Defenisi Umar Shihab secara istilah lebih menekankan bahwa al Quran diturunkan kepada seluruh manusia melalui perantara

Nabi Muhammad, bukan kepada Nabi Muhammad secara Khusus. Lihat: Shihab, Umar. 2003. Kontekstualitas Al-quran, Jakarta:
Penamadani: xix
27 Al-Munawar, Said Agil Husin. 2002. Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta: Ciputat Press, Cet ke 2: 5
28 Secara bahasa, berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu (I'jaz). Secara istilah : Peristiwa luar biasa yang dialami oleh

Nabi SAW sebagai bukti kenabian yang ditantangkan kepada siapa saja yang ragu hingga orang tersebut tidak berdaya untuk melayani
tantangan tersebut

9
Ulumul Quran

Quran mereka tak sanggup melakukannya, karena mereka lemah untuk membuat yang
seumpama dengan Al-Quran seperti pada firman Allah QS. Al Baqarah [2]: 23. Ayat ini merupakan
tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru
walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat
Nabi Muhammad SAW.


23. dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada
hamba Kami (Muhammad), buatlahsatu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
d. Disampaikan secara Mutawatir
Setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu yang berupa ayat-ayat Al-Quran beliau
membacakannya di depan para sahabat, kemudian para sahabat menghafalkan ayat-ayat
tersebut. Beliau juga menyuruh kuttab (penulis wahyu) untuk menuliskan ayat-ayat yang baru
diterimanya itu. Mereka yang terkenal adalah Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Kaab,
Muwaiyah bin Abu Sufyan, Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Zubair bin
Awwam, Al-Arqam bin Maslamah, Muhammad bin Maslamah, Abban bin Said, Khalid bin Said,
Tsabit bin Qais, Hanzalah bin Rabi, Khalid bin Walid, Abdullah bin Al-Arqam, Ala bin Utbah, dan
Syurahbil bin Hasanah.
Al-Quran di riwayatkan oleh banyak orang, hingga mustahil mereka melakukan kesalahan dan
kebohongan. Mutawatir artinya riwayat itu di dengar dan disampaikan oleh minimal 10 orang
dalam setiap tingkatan sanadnya. Karena itulah Al-Quran tetap terjaga keasliannya hingga hari
ini. Di samping itu Allah sendiri menjamin keaslian Al-Quran itu. Allah berfirman dalam QS. Al
Insan [76]: 23 dan QS. Al Hijr [15]: 9


23.Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan
berangsur-angsur.


9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya.
e. Ditulis dalam bahasa Arab
Beberapa alasan yang menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al Quran adalah:
1) Bahasa Arab merupakan faktor penting dalam rangka diterimanya Al-Quran oleh bangsa Arab
saat itu. Allah berfirman:


198. dan kalau Al Quran itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan
Arab, 199. lalu ia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir); niscaya mereka
tidak akan beriman kepadanya. (QS. Asy Syuara [26]: 198-199).

2.Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar
kamu memahaminya.
29
2) Bahasa Arab lebih berpengaruh dari pada bahasa lain. Allah berfirman:

29 Bahasa Arab termasuk rumpun bahasa Semit, sama dengan bahasa Ibrani, Aramaik (Arame), Suryani, Kaldea dan Babylonia.

Kata-kata bahasa Arab pada umumnya mempunyai dasar tiga huruf mati yang dapat dibentuk dengan berbagai bentuk. kata "qaa-la"

10
Ulumul Quran

4. Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia
dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.(QS. Ibrahim: 4)
3) Tantangan Al-Quran yang ditujukan kepada para pengingkarnya menuntut risalah ini dituang
dalam sebuah bahasa yang dapat dipahami dan dimengerti oleh para mukhatab pertamanya.
Allah berfirman:


38. Atau (patutkah) mereka mengatakan Muhammad membuatnya. Katakanlah: (Kalau
benar yang kalian katakan itu), Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan
panggillah siapa-siapa yang dapat kalian panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika
kalian orang-orang yang benar.(QS. Yunus [10]: 38)
f. Tersusun dalam sistem Mushaf
Susunan Al Quran berbeda dengan susunan buku-buku ilmiah yang menggunakan metode-
metode tertentu. Dalam Al Quran berbagai persoalan datang silih berganti, tujuannya agar
memberikan kesan bahwa ajaran Al Quran merupakan satu kesatuan yang harus ditaati oleh
penganut-penganutnya tanpa ada pemisahan antara satu dengan lainnya. Keseluruhan
sistematika yang digunakan Al Quran adalah ditentukan oleh Allah swt, baik kosa Kata yang
digunakan, redaksi ayat-ayatnya, masing surat memiliki satu nama atau lebih yang juga penamaan
Nya dan pengelompokan besar dari sejumlah ayat dan surat (juz). Demikian itu disebut dengan
cara tauqifi.
1) Kosa Kata Al Quran
Dalam upaya memberi tanda yang sama pada tiap kosa kata Al Quran, diusahakan dengan
jalan menyempurnakan segala yang ber kaitan dengan pemberian simbol dan tanda baca
tertentu. Hal ini lebih disebabkan oleh faktor perluasan wilayah islam dan pola penafsiran
setiap kosa kata yang digunakan Al Quran.
Langkah aktual penyempurnaannya seperti penciptaan tanda vokal, tanda pembeda konsonan
yang bersimbol sama, seperti hamzah (tanda jeda), sukun (tanda konsonan mati), tanwin
(tanda vokal rangkap), tasydid (tanda konsonan rangkap), dan maddah (tanda vokal pendek
atau panjang) dikabarkan telah dilakukan sejumlah pakar bahasa, seperti Abu Aswad Ad Du'ali

misalnya, yang berarti "berkata" terambil dari huruf "qaaf", " wawu" dan "lam",sedangkan kata"kalam"yang berarti " pembicaraan"
walaupun terdiri dari empat huruf yaitu " kaf ", " lam ", " alif " dan "mim" namun sebenarnya asal katanya hanya tiga huruf, yakni
kecuali " Alif " pada rangkaian huruf-huruf diatas.
Tata bahasa Arab pun sangat rasional, teliti dan sekama tetapi cukup rumit (misalnya kita bandingkan dengan bahasa indonesia). Pakar
bahasa Arab berkata bahwa, kata yang menunjuk pada pelaku selalu marfu' (dibunyikan) u/un ,sementara obyek penderitanya selalu
manshub (dibunyikan) a. Bunyi suatu kata dapat mengakibatkan perbedaan arti yang sangat jauh. Contoh, kalimat "maa ahsanu al
samaai", berbeda dengan kalimat "maa ahsana al samaai" .Yang pertama adalah pertanyaan tentang apa yang terindah di langit,
sedang yang kedua adalah ungkapan kekaguman tentang indahnya langit.
Bahasa Arab juga dikenal sebagai bahasa terkaya. Kekayaan tersebut bukan saja terlihat pada status jenis kelamin kata atau pada
bilanganya yaitu tunggal "mufrad",dual "mutsanna" dan jamak "prural" , tetapi juga pada kekayaan kosa kata dan sinonimya. Contoh,
kata "jalasa" dan "qa'ada", sama-sama diterjemahkan duduk, tetapi penggunaanya berbeda. Jika lawan bicara anda berdiri dan anda
mengharapkanya untuk duduk, maka anda keliru jika menggunakan bentuk perintah dari kata "jalasa" yakni "ijlis". Hal ini karena kata
tersebut digunakan untuk memerintahkan seseorang yang sedang berbaring agar ia duduk. Agar tepat, gunakanlah kata " uq - 'ud ".
Menyangkut huruf Hijaiyah yang digunakan Al Quran, Abu Bakar Atjeh, dalam buku Sejarah al Qur-an, menyebutkan hasil penelitihan
para pakar bahwa rangkaian wahyu Ilahi tersusun dari 325.345 huruf hijaiyah, yang terbanyak digunakan adalah huruf alif, sebanyak
48.772 dan paling sedikit huruf za', sebanyak 842. Al Syuyuthi, dalam kitab Itqan menyebutkan bahwa susunan kalimatnya sebanyak
77.943 dan 6236 ayat. Kesemuanya, mulai awal ditulis oleh Zaid bin Tsabit sampai sekarang (baik dalam bentuk cetakan maupun
bentuk CD-DVD maupun Al QuranDigital) jumlahnya masih terjaga keutuhanya tanpa ada pengurangan dan penambahan.

11
Ulumul Quran

30 31
(w. 688), Nasr bin Ashim (w. 708), Yahya bin Ya'mur (w. 747), dan Al Khalil bin Ahmad (w.
32
786).
Walaupun al Quran menggunakan kosa kata yang digunakan oleh orang Arab, namun tidak
dengan serta merta kosa kata al Quran mengikuti arti dan maknanya. Contoh, kata "Allah"
pada deretan awal wahyu yang diturunkan kepada nabi SAW tidak digunakan, tetapi
digunakan kata "rabbuka" yang berarti "Tuhanmu, wahai Muhammad". Ini dilakukan dalam
rangka mengubah pengertian kata "Allah", karena kaum musyrikin walaupun menggunakan
kata yang sama namun keyakinan mereka berbeda dengan keyakinan yang diajarkan islam.
Contoh lain, kata "Karam", digunakan oleh masyarakat Arab pra islam dalam arti "seseorang
yang memiliki garis keturunan bangsawan". Makna ini dirubah oleh Al Quransehingga ia tidak
hanya digunakan sebagai sifat manusia, tapi juga berarti rezeki, pasangan, surat, naungan,
ucapan dan lain-lain, sehingga pada akhirnya diartrikan sebagai "segala sesuatu yang baik
sesuai obyek yang disifatinya". Demikian pula kata "shalat", pada mulanya berarti "doa" dan
kemudian Al Quran menggunakanya untuk "suatu jenis ibadah yang diawali takbir dan
diakhiri salam", makna ini lebih luas ketimbang sekedar doa.
Selanjutnya ada baiknya bila kita simak komentar para Pakar bahasa menyangkut penilaian
mereka tentang bahasa Arab. Diantaranya, 'Utsman bin Jinni ( 932 1002 M ) berkata :
"Pemilihan huruf-huruf kosa kata oleh bahasa Arab bukan suatu kebetulan, tetapi
mengandung falsafah bahasa yang unik. Dan ungkapan Edward Montet, yang dikutip
Muhammad Fazlurrahman Anshari, sebagai berikut : "Keagungan serta kemuliaan bentuk
Al Quran begitu padat sehingga tidak ada terjemahan kedalam suatu bahasa Eropa pun
yang bisa menggantikanya". Bahkan seorang pendeta Kristen pun mengakui bahwa : "Al
Qurandengan bahasa Arabnya mempunyai keindahan yang menawan serta daya pesona
tersendiri. Ungkapan katanya yang ringkas, gayanya yang mulia, kalimat-kalimatnya yang
benar dan penuh dengan irama. Al Quran memiliki suatu kekuatan yang besar serta
tenaga yang meledak-ledak yang sangat sulit diterjemahkan seni sastranya ".
2) Ayat
Ayat Al Quran merupakan kumpulan kata yang tersusun sedemikian rupa sehingga
33
mempunyai lafal, arti dan makna tertentu. Beberapa variasi ayat yang dikemukakan al

30
Namanya Dzalam bin Amru bin Sufyan bin Jandal bin Yumar bin Duali, panggilannya Abul Aswad. Seorang tabiin terpenting,
pakar nahwu dan peletak dasar ilmu nahwu (tatabahasa Arab). Nama Duali dinisbatkan kepada kabilah Dual dari Bani Kinanah. Ia
masuk Islam ketika Nabi masih hidup, tetapi ia tidak melihatnya. Tinggal di Bashrah pada masa pemerintahan Umar bin Khathab. Ia
menjadi murid Ali bin Abi Thalib, dan nahwu ia pelajari sendiri darinya ( Ali ibn Abi Thalib), yang merupakan pakar nahwu kala itu.
Dia termasuk orang yang pertama mengumpulkan mushaf dan mengarang ilmu nahwu dan peletak dasar kaidah-kaidah nahwu, atas
rekomendasi dari Ali bin Abi Thalib.
Zaid Bin Tsabit juga mendapat intruksi dari Ali Bin Abi Thalib, ketika menjadi khalifah, untuk merumuskan tanda-tanda baca pada
tulisan. Sasaran pertamanya adalah mushaf-mushaf Al Quran, karena disinilah letak kekhawatiran salah baca seperti yang kerap terjadi
waktu itu. Disamping nahwu, Abul Aswad berjasa dalam membuat harakat Al Quran. Ia berhasil mewariskan system penempatan
titik-titik tinta berwarna merah yang berfungsi sebagai syakal-syakal yang menunjukkan unsur-unsur kata Arab yang tidak terwakili
oleh huruf-huruf. Penempatan titik-titik tersebut, adalah tanda fathah dengan satu titik diatas huruf (a), tanda kashrah dengan satu titik
dibawah huruf (i), Tanda Dhamah dengan satu titik disebelah kiri huruf (u), tanda tanwin dengan dua titik (an-in-un).
Untuk membedakan titik-titik tadi dari tulisan pokoknya (biasanya berwarna hitam), maka titik-titik itu diberi warna (biasanya merah.
Tetapi system ini tidak dapat begitu saja menyelesaikan masalah, sebab ada huruf-huruf yang sama bentuknya namun harus dibaca
berlainan tanpa dibubuhi tanda-tanda pembeda, huruf-huruf itu menyukarkan banyak pembaca.
Abul-Aswad ad-Dualy menggunakan titik bundar penuh yang berwarna merah untuk menandai fathah, kasrah, Dhammah, Tanwin dan
menggunakan warna hijau untuk menandai Hamzah. Jika suatu kata yang ditanwin bersambung dengan kata berikutnya yang
berawalan huruf Halq (idzhar) maka ia membubuhkan tanda titik dua horizontal seperti "adzabun alim" dan membubuhkan tanda titik
dua Vertikal untuk menandai Idgham seperti "ghafurrur rahim".
31
Nasr bin Ashim adalah ulama yang pertama kali membuat Tanda Titik untuk membedakan huruf-huruf yang sama karakternya
(nuqathu hart) atas permintaan Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqafy, salah seorang gubernur pada masa Dinasti Daulah Umayyah (40-95 H).
Karena tanda-tanda baca itu belum banyak menolong orang awam, maka ditambahkan tanda titik untuk menandakan huruf tertentu
oleh Yahya bin Ya`mur dan Nasir bin Asim pada masa Kholifah Abdul Malik bin Marwan. Dengan begitu mudah dibedakan antara huruf
ba, ta, tsa, dan ya. Tanda-tanda baca tersebut tetap dipakai sampai abad ke-4, permulaan Dinasti Abbasiyah.
32
Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidy adalah ulama yang pertama kali menggunakan tanda Fathah, Kasrah, Dhammah, Sukun, dan
Tasydid seperti yang-kita kenal sekarang adalah (W.170 H) pada abad ke II H.
33 Kata yah adalah bentuk tunggal dari kata yt ( ). Menurut pengertian etimologi, kata itu dapat diartikan sebagai mujizah

(mukjizat), almah (tanda), atau ibrah (pelajaran). Dalam kaitkanya dengan istilah Alquran, yah ( )berarti huruf-huruf hijaiyah atau

12
Ulumul Quran

Quran antara lain; jika kata tersebut dikaitkan dengan kata-kata nazala ( = turun) dan kata-
kata lain yang seasal dengan itu atau adanya tantangan yang ditujukan kepada orang-orang
untuk membuat sesuatu yang sama dengan ayat-ayat Al Quran. QS. Yunus (10): 20

Dan mereka berkata: "Mepada tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu
keterangan (mukjizat) dari Tuhannya?"
Apabila kata ayat dikaitkan dengan kata Allh ( )dan segala kata ganti yang berkaitan
dengan-Nya, maka kata itu dapat diartikan dengan dua pengertian, yaitu pertama dengan
ayat-ayat al Quran dan dapat pula dengan sesuatu yang menunjuk kepada kebesaran dan
kekuasaan Allah.


Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-
lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
Apabila kata yah yang dihubungkan dengan ungkapan-ungkapan li qaumin yatafakkarn,
yaqiln, yasman, yadzdzakkarn atau yang semakna dengan itu, maka kata itu diartikan
sebagai tanda-tanda kebesaran Allah. Ayat dalam pengertian ini cukup banyak diungkapkan
di dalam Al Quran, antara lain dalam QS. An Nahl (16):11


Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur
dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada
tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.
a) Ayat yang awal diturunkan
Mayoritas ulama menyebutkan bahwa awal surat yang diturunkan adalah QS. Al Alaq (96):
1-5 sebagai permulaan kenabian atau pelantikan sebagai nabi tapi belum dilantik menjadi
rasul. Fase ini merupakan fase persiapan psikologis nabi untuk menjadi rasul.


1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam 5. Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
b) Ayat yang akhir diturunkan
Mengenai ayat yang terakhir turun, terdapat perbedaan pendapat para ulama. Menurut Az
Zarqani, terdapat 10 pendapat ulama, yaitu:
1) Ayat 281 dari QS. Al Baqarah (2), berdasarkan hadis riwayat An Nasai melalui Ikrimah
dari Ibnu Abbas dan riwayat Ibnu Abi Hatim.
2) Ayat 278 dari QS. Al Baqarah (2), berdasarkan hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas
dan riwayat Baihaqi dari Ibnu Umar.

sekelompok kata yang terdapat di dalam surah Al Qur'an yang mempunyai awal dan akhir yang ditandai dengan nomor ayat. Kata yah
( )dapat diartikan dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan kitab suci dan Al Qur'an

13
Ulumul Quran

3) Ayat 282 dari QS. Al Baqarah (2), berdasarkan hadis riwayat Ibnu Jarir dari Said bin Al
Musayyib dan riwayat Abu Ubaid dari Ibnu Syihab.
4) Ayat 195 dari QS. Ali Imran (3).
5) Ayat 94 dari QS. An Nisa (4).
6) Ayat 176 dari QS. An Nisa (4).
7) Ayat 3 dari QS. Al Maidah (5).
8) Ayat 128 dari QS. At Taubah (9).
9) Ayat 110 QS. Al Kahf (18).
10) Ayat-ayat QS. An Nashr (110).
Perbedaan pendapat ini timbul karena perbedaan masa para sahabat mendengarkan ayat
yang disampaikan Nabi. Menurut Az Zarqani dan Subhi As Salih, ayat-ayat yang terakhir
turun adalah Ayat 281 dari QS. Al-Baqarah [2]. Bagi masyarakat muslim Indonesia yang
paling umum diterima dan disosialisasikan oleh para Ulama tentang ayat yang terahir
diturunkan adalah QS. Al Maidah (5) : 3.


Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.
c) Jumlah Ayat
Ada beberapa perbedaan di kalangan sarjana muslim dalam menentukan panjang
pendeknya suatu ayat. Hal itu lebih disebabkan oleh perbedaan apakah basmalah hanya
sebagai kepala surat/pembatas surat atau bagian ayat dan perbedaan dalam
mengintrepretasikan ketentuan waqaf (tanda berhenti atau diteruskan). Orang Madinah
yang awal menghitung 6.000 ayat di dalam Al-Quran, sedangkan orang Madinah yang
belakangan menghitung 6.124 ayat; orang Mekah menghitung 6.219 ayat, orang Kufah
6.263 ayat, orang Basra 6.204 ayat, dan orang Suriah 6.225 ayat. Dalam mushaf Usmani
edisi standar Mesir, yang menjadi panutan sebagian besar dunia Islam kini, seluruh ayat Al-
Quran berjumlah 6.236 ayat.
d) Pembagian Ayat
1) Ayat Makiyyah adalah ayat-ayat yang turun sebelum nabi SAW Hijrah. Dengan ciri-ciri
diantaranya :
a) Ayatnya pendek-pendek
b) Konteks pembicaraanya adalah masalah keimanan terhadap pokok ajaran islam,
khususnya tentang aqidah ketauhidan
c) Menggunakan redaksi yaa ayyuhalladzina aamanuu.
2) Ayat Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun setelah nabi SAW Hijrah. Dengan ciri-ciri
diantaranya :
a) Ayatnya panjang-panjang
b) Konteks pembicaraanya adalah masalah sosial kemasyarakatan
c) Menggunakan redaksi yaa ayyuhannaasu (kecuali pada awal QS An Nisa)
e) Ayat Sajdah
Ayat Sajdah adalah ayat yang apabila dibaca atau dengar disunnahkan melakukan sujud
tilawah. Hal ini didasarkan pada hadis nabi SAW :

:



:
.

14
Ulumul Quran

Dari Ibn Umar r.a, "Sesungguhnya nabi SAW membaca al Quran, ketika bacaan beliau
sampai pada surat sajadah, beliau sujud dan kamipun sujud pula, sampai-sampai
sebagian dari kami yang jidadnya tidak mendapatkan tempat untuk melaksanakan
sujud".
Adapun bacaan sujud tilawah berdasar Hadis Riwayat al Turmudzi ;





" Aku Sujud kepada Allah yang telah menjadikan diriku, yang telah membukakan
pendengaran dan penglihatan ku dengan segala kekuasaan Nya. Maka Allah adalah Dzat
Maha Pemberi Berkah dan Dia adalah Pencipta yang Sempurna ".
Ayat-ayat Sajadah tersebut adalah QS Al A'raaf (7) : 206, QS Ar Ra'du (13) : 15, QS An Nahl
(16) : 50, QS Al Isra' (17) : 109, QS Maryam (19): 58, QS Al Hajj (22) : 18, QS Al Hajj (22) : 77,
QS Al Furqan (25): 60, QS An Naml (27): 26, QS As Sajadah (32): 15, QS Shood (38) : 24, QS
Fushshilat (41): 38, QS An Najm (53): 62, QS Al Insiqoq (84): 21, QS Al Alaq (96): 19
f) Jenis ayat
1) Ayat Muhkamat
Ayat muhkamat, yakni yang kandungannya sangat jelas, sehingga hampir-hampir tidak
lagi dibutuhkan penjelasan tambahan untuknya, atau yang tidak mengandung makna
selain yang terlintas pertama kali dalam benak. Ada juga yang memahami ayat-ayat
muhkamat, dalam arti ayat-ayat yang mengandung perintah melaksanakan sesuatu
atau larangan. Yang ini tentu saja harus jelas, karena tanpa kejelasan, bagaimana dapat
dikerjakan. Diantara contoh ayat Muhkamat :


Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran.
2) Ayat Mutasabihat
Ayat Mutasabihat adalah ayat-ayat yang mengandung kesamaran dalam maknanya
Sementara ulama berpendapat, bahwa kesamaran tersebut dapat muncul karena:
a) Salah satu kata yang digunakan ayat tidak populer dikalangan pendengarnya.
Seperti huruf-huruf yang terdapat pada awal surah-surah tertentu, seperti Alif Lam
Mim.
b) Kata yang digunakan mempunyai arti yang bermacam-macam, seperti kata quru'
yang dapat berarti suci dan dapat juga berarti haid. yang manakah yang dimaksud
oleh surah Al Baqarah (2): 228, yang memerintahkan wanita yang dicerai agar
menanti tiga quru Ulama berbeda pendapat akibat kesamaran tersebut.
c) Makna yang dikandungnya tidak jelas. Seperti ayat-ayat yang berbicara tentang
persoalan metafisika, nama atau sifat-sifat Allah, dan Iain-lain. Apa makna "tangan
Allah" atau "wajah-Nya" dan Iain-lain? Sekali lagi di sini pun terdapat perbedaan.
Ada ulama yang membagi mutasyabih dalam tiga kelompok ayat:
d) Ayat-ayat yang kandungannya mustahil diketahui manusia, seperti ayat-ayat yang
berbicara tentang sifat-sifat Allah, waktu kedatangan hari Kiamat, dan semacamnya.
e) Ayat-ayat yang dapat diketahui melalui penelitian yang seksama, seperti ayat-ayat
yang kandungannya bersifat umum, atau yang kesamarannya lahir dari singkatnya
redaksi dan atau susunan kata-katanya.
f) Ayat-ayat yang hanya diketahui oleh para ulama yang sangat mantap
pengetahuannya dengan melakukan penyucian jiwa. Ayat-ayat semacam ini tidak
dapat terungkap maknanya hanya dengan menggunakan nalar semata.

15
Ulumul Quran

3) Surah
a) Nama Surah
Keseluruhan jumlah Surah dalam Al Quran seperti terdapat pada mushaf Usmani
berjumlah 114 Surah. Dimulai dari QS. Al Fatihah dengan nomor surah (1) sampai QS. An
34
Nas yang bernomor (114). Menurut Al Hajjaj, nama surah Al Quran dirujuk berdasar
mekanisme dan kaidah yang baku tentang penamaannya diantaranya :
1) Menurut ungkapan yang ada di bagian awalnya, seperti penyebutan surah An Naba'
(QS.78) sebagai 'amma yatasa'alun (tentang apakah mereka saling bertanya-tanya)
atau sekadar 'amma.
2) Penamaan diambil dari kata pengenal atau kata kunci yang muncul pada permulaan
surah, misalnya surah Ar Rum (Bangsa Romawi. QS.30) dan surah Fatir (Pencipta,
QS.35); atau di pertengahan surah, misalnya surah Al Baqarah (Sapi , QS.2:67-73) dan
surah An Nahl (Lebah, QS.16:68-69);
3) Penamaan diambil dari kata pengenal atau kata kunci yang muncul pada akhir surah
atau di penghujung surah, misalnya surah Asy Syu 'ara' (Para Penyair, QS.26:224-226).
4) Penamaan diambil dari nama diri (person identification) yang muncul di dalamnya,
seperti surah Yunus, surah Yusuf, surah Muhammad, surah Nuh dan lain-lain.
5) Perujukan nama surah berdasarkan kandungannya juga terkadang muncul, misalnya
surah al-Fatihah (Pembukaan), surah al-Anbiya' (Nabi-Nabi), dan surah al-Ikhlas
(Memurnikan Keesaan Tuhan).
b) Pembuka Surah
Dalam Al Quran terdapat suatu atau sekelompok huruf hija 'iyah yang biasanya dibaca
sebagai huruf terpisah atau berdiri sendiri. Sejumlah nama lazim digunakan para sarjana
muslim untuk merujuk huruf itu adalah fawatih as suwar (pembuka surah) diantaranya :
Alif-Lam-Mim, Alif-Lam-Ra , Alif-Lam-Mim-Ra, Alif-Lam-Mim-Shaad, Tho-Ha, Tho-Sin-Mim,
Kha-mim, Kaf-Ha-Ya-Ain-Shaad, Ya-Sin
c) Pembagian Surah
Dalam masalah pembagian surah Al Quran para Ulama melakukan ijtihad untuk memberi
kemudahan baik yang berkaitan dengan tata cara baca dan penandaan tertentu Untuk
tujuan pembacaan kaum muslim membaginya ke dalam 30 bagian atau juz yang hampir
sama. Pembagian ini berkaitan dengan jumlah hari di bulan Ramadan, yakni tiap juz Al
Quran dibaca setiap harinya. Tanda pembagian 30 juz ini biasanya terdapat di pinggiran
salinan kitab suci tersebut.
Bagian yang lebih kecil lagi adalah hizb yang membagi juz menjadi dua, menyusul perempat
hizb (rub' al-hizb), yang juga sering ditandai di pinggiran salinan Al Quran. Pembagian lain
adalah ruku', sejumlah 554 satuan (unit) untuk keseluruhan Al Quran. Akan tetapi panjang-
pendeknya ruku' tidak seragam: surah panjang biasanya terdiri dari beberapa ruku' dan
surah pendek berisi satu ruku'.

34 Surah Merupakan bagian-bagian dari Al-Quran, kata surah kadang diterjemahkan chapter atau bab namun ia bukan

padanan kata yang tepat. Dalam pandangan yang paling umum kata sura berasal dari bahasa Ibrani, Shurah suatu deretan. Menurut
Al-Zarqani kata surah secara etimologimengandung makna al-manzilah yaitu posisi, meskipun ia berpendapat bahwa surah memiliki
banyk arti. Pengertian surah juga mengnduk makna al-manzilah yaitu tempat/kedudukan, karena surah-surah dalam Al-Quraan
mempunyai kedudukan atau tempat masing-masing. Kata surah jamaknya ialah suwar yang berarti kedudukan atau tempat yang
tinggi karena Al-Quran itu diturunkan dari tempat yang tinggi, maka dinamailah surah-surahnya dengan surah.
Adapun pengertian surah menurut beberapa ulama tafsir seperti Al-Zarkasyi, bahwa surah adalah Al-Quran yang mencakup
sejumlah ayat yang mempunyai permulaan dan penutup dan sedikitnya yang terkandung dalam sebuah surah adalah tiga ayat.
Sedangkan menurut Al-Zarqani dalam kitab Manahilul Irfan fii Ulumil Quran surah adalah kelompok ayat-ayat yang berdiri mandiri yang
mempunyai permulaan dan penutup. Menurut Al-Zarqani pengertian tersebut diambil dari makna sebagai tembok yang membatasi
suatu kota yang tersusun dari batu bata setiap barisnya. Karena dalam Al-Quram posisi peletakan suatu kata disamping kata lain, suatu
ayat disamping ayat lain. Lihat Watt, W. Montgomery. 1995. Pengantar Studi Al-Quran; Penyempurnaan atas Karya Richad Bell,
Jakarta: Rajawali Press : 90. Umar, Nasaruddin. 2008. Ulumul Quran: Mengungkap Makna-Makna Tersembunyi All-Quran, Jakarta: Al-
Gahzali Center, Cet 1 : 143. Lihat juga Amanah. St. 1993. Pengantar Ilmu AlQuran dan Tafsir, Semarang: CV. Asy-Syifa : 227

16
Ulumul Quran

Keseluruhan pembagian Al Quran ini, yang diberi tanda tertentu di pinggiran teks kitab
suci, tanda yang menunjukkan kepada bilangan ayat dan tanda waqaf atau tanda
"berhenti", tanda boleh tidaknya menghentikan bacaan pada akhir kalimat atau ayat
dituliskan di dalam teks.
Ke114 surah, kecuali surah ke 9 yakni At Taubah dalam salinan Al Quran biasanya diawali
dengan redaksi Bismi Allah Ar Rahman Ar Rahim, " atau lebih dikenal dengan istilah
basmalah atau tasmiyah.
Pada permulaan Islam, para qurra' Mekah dan Kufah menghitung basmalah sebagai ayat
tersendiri, sementara para qurra' Basra, Madinah, dan Suriah hanya memandangnya
sebagai marka pemisah (fawasil) antara surah. Akan tetapi merupakan suatu kenyataan
bahwa redaksi basmalah sebagai awal penandaan surah ini telah dikenal Nabi SAW,
bahkan diajarkan Al Quran. Dalam surah An Naml (27) ayat 30 disebutkan bahwa Nabi
Sulaiman mengirim sepucuk surat kepada Ratu Bilqis, dan ungkapan Bismi Allah ar-Rahman
ar-Rahim mengawali suratnya.
d) Pengelompokan Surah
Pengelompokan surah dalam Al Quran pada masa awal oleh Al Hajjaj:
1) At Tiwal, tujuh surah terpanjang, mulai Surat Al Baqarah (2) sampai Surat At Taubah (9)
2) Al Mi'un, surah-surah yang terdiri dari seratus ayat atau lebih, mulai dari Surat Yunus
(10) sampai Surat Al Fathir (35).
3) Al Matsani, surah-surah yang kurang dari seratus ayat, mulai Surat Ya sin (36) sampai
Surat Al Hujurat (49).
4) Al Mufassal, surah-surah pendek, mulai dari Surat Qaf (50) sampai Surat An Nas (114).
g. Membacanya dinilai Ibadah
Membaca Al-Quran merupakan kewajiban, begitu banyak ayat-ayat Al-Quran yang
mengisyaratkan untuk membacanya, dan semua shigah yang digunakan adalah fiil amr, seperti
dalam QS. Al Muzzammil : 4 dan ayat 20, QS. Al Alaq 1 dan 3, QS. Al Isra ayat 14, QS. Al Kahfi ayat
27, QS. Al Ankabut ayat 45 dan sebagainya.
Perbedaan antara membaca Al-Quran dengan membaca bacaan lainya, misalnya dengan hadis
quds, Al-Quran mengapresiaasi pembacanya dengan diberikan pahala sesuai jumlah huruf yang
ia baca dikalikan 10 bahkan Allah Maha Kuasa untuk melipat gandakan pahala orang yang
membaca Al-Quran . Sedangkan membaca Hadis Qudsi mendapat pahala yang dihitung secara
35
umum. Imam Nawawi dalam Kitab Riyadhus Shalihin mengutif sebuah Hadis yang diriwayatkan
oleh Turmudzy yang beliau komentari sebagai hadis hasan shahih, yaitu:
: :
, ,

Dari Ibnu Masud Ra, Rasulullah SAW. bersabda Siapa orang yang membaca satu huruf dari
kitabullah maka ia mendapatkan 10 kebaikan, dan satu kebaikan dibalas dengan 10 yang
semisalnya, aku tidak mengatakan bahwa itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu
huruf mim satu huruf .

35 Ali Bin Abi Thalib, berkata Siapa orang yang membaca al-Quran dengan berdiri dalam shalatnya ia mendapatkan 100 kebaikan,

jika membacanya dalam duduk ketika shalat ia mendapat 50 kebaikan, jika ia membacanya dalam keadaan thaharah diluar shalat ia
mendapat 25 kebaikan, dan jika ia membacanya tanpa bersuci setiap huruf akan dibalas dengan 10 kebaikan. Selain itu begitu indah
perumpamaan yang diberikan untuk mereka yang gemar membaca al-Quran, mereka diumpamakan sepertu buah Utrujah, buah yang
berbau harum dan manis rasanya. Dan anugerah terindah yang Allah janjikan untuk orang-orang yang gemar membaca al-Quran
adalah dirindukan oleh syurga.

17
Ulumul Quran

B. Nama-nama Al-Quran
Dalam Al-Quran sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan
untuk merujuk kepada Al-Quran itu sendiri dintaranya:
1. Al-Kitab QS Al Baqarah [2]: 2


2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.
2. Al-Furqan (pembeda benar salah): QS. Al Furqan [25]: 1


1. Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia
menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.
3. Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS. Al Hijr [15]: 9


9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya
4. Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat): QS. Yunus [10]: 57


57. Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh
bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang
yang beriman.
5. Al-Hukm (peraturan/hukum): QS. Ar Rad *13+: 37


37. dan Demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam
bahasa Arab.
6. Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS. Al Isra *17+: 39


39. Itulah sebagian Hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu.
7. Asy-Syifa' (obat/penyembuh): QS. Al Isra [17]: 82


82. dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang
yang beriman
8. Al-Huda (petunjuk): QS. At Taubah [9]:33


33. Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama
yang benar
9. At-Tanzil (yang diturunkan): QS. Asy Syuara [26]:192


192. dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,
10. Ar-Rahmat (karunia): QS. An Naml [27]: 77


77. dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang
yang beriman.

18
Ulumul Quran

11. Ar-Ruh (ruh): QS. Asy Syura [42]: 52


52. dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami.
12. Al-Bayan (penerang): QS. Ali Imran [3]:138


138. (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi
orang-orang yang bertakwa.
13. Al-Kalam (ucapan/firman): QS. At Taubah [9]: 6


6. Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia
ketempat yang aman baginya.
14. Al-Busyra (kabar gembira): QS.Al Hijr [16]:102


102. dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada
Allah)".
15. An-Nur (cahaya): QS. An Nisa *4]:174)


174. dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran).
16. Al-Basha'ir (pedoman): QS. Al Jastiyah [45] :20


20. Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
17. Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS. Ibrahim [14] :52


52. (Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi
peringatan dengan-Nya,

C. Perbedaan antara Al-Quran, Hadis Qudsi, dan Hadis Nabawi


1. Perbedaan antara al-Quran dengan hadis Qudsi
a. Al-Quran adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah saw. dengan lafal-Nya, dan
dengan itu pula orang Arab ditantang, tetapi mereka tidak mampu membuat seperti Al-Quran itu,
atau sepuluh surah yang serupa itu, bahkan satu surah sekalipun. Tantangan itu tetap berlaku,
karena Al-Quran adalah mukjizat yang abadi hingga hari kiamat. Adapun hadis qudsi tidak untuk
menantang dan tidak pula untuk mukjizat.
b. Al-Quran hanya dinisbatkan kepada Allah, sehingga dikatakan Allah berfirman. Adapun hadis
Qudsi, seperti telah dijelaskan di atas, terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah,
sehingga nisbah Hadis qudsi itu kepada Allah adalah nisbah dibuatkan. Maka dikatakan, Allah
telah berfirman atau Allah berfirman. Dan, terkadang pula diriwayatkan dengan disandarkan
kepada Rasulullah saw. Tetapi nisbahnya adalah nisbah kabar, karena Nabi menyampaikan hadis
itu dari Allah. Maka, dikatakan Rasulullah saw. mengatakan apa yang diriwayatkan dariTuhannya.
c. Seluruh isi al-Quran dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya mutlak. Adapun hadis-hadis
Qudsi kebanyakan adalah kabar ahad, sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan.
Adakalanya Hadis itu sahih, hasan, dan kadang-kadang daif.

19
Ulumul Quran

d. Al-Quran dari Allah, baik lafal maupun maknanya. Hadis qudsi maknanya dari Allah dan lafalnya
dari Rasulullah saw. Hadis qudsi ialah wahyu dalam makna, tetapi bukan dalam lafal. Oleh sebab
itu, menurut sebagian besar ahli hadis, diperbolehkan meriwayatkan hadis qudsi dengan
maknanya saja.
e. Membaca al-Quran merupakan ibadah, karena itu ia dibaca dalam salat. "Maka, bacalah apa yang
mudah bagimu dalam Al-Quran itu." (Al-Muzamil: 20). Nilai ibadah membaca Al-Quran juga
terdapat dalam hadis, "Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Quran, dia akan memperoleh
satu kebaikan. Dan, kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam
miim itu satu huruf. Tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf." (HR Tirmizi dan
Ibnu Mas'ud). Adapun Hadis qudsi tidak disuruh membacanya dalam shalat. Allah memberikan
pahala membaca Hadis qudsi secara umum saja. Maka, membaca Hadis qudsi tidak akan
memperoleh pahala seperti yang disebutkan dalam Hadis mengenai membaca Al-Quran bahwa
pada setiap huruf mendapatkan sepuluh kebaikan.
36 37
2. Perbedaan antara Hadis Nabawi dan Hadis Qudsi
a. Hadis Nabawi
1) Tauqifi, yaitu yang kandungannya diterima oleh Rasulullah saw. dari wahyu. Lalu, ia
menjelaskan kepada manusia dengan kata-katanya sendiri. Bagian ini meskipun kandungannya
dinisbahkan kepada Allah, tetapi dari segi pembicaraan lebih layak dinisbahkan kepada
Rasulullah saw., sebab kata-kata itu dinisbahkan kepada yang mengatakannya meskipun di
dalamnya terdapat makna yang diterima dari pihak lain.
2) Taufiqi, yaitu yang disimpulkan oleh Rasulullah saw. menurut pemahamannya terhadap al-
Quran, karena ia mempunyai tugas menjelaskan al-Quran atau menyimpulkannya dengan
pertimbangan dan ijtihad. Bagian kesimpulan yang bersifat ijitihad ini diperkuat oleh wahyu
jika ia benar. Dan, bila terdapat kesalahan di dalamnya, turunlah wahyu yang
38
membetulkannya.
b. Hadis Qudsi
Hadis qudsi itu maknanya dari Allah, ia disampaikan kepada Rasulullah saw. melalui salah satu
cara penuturan wahyu, sedang lafalnya dari Rasulullah saw.
Hadis Qudsi dan hadist nabawi sama-sama merupakan perkataan Rasulullah SAW. Sumbernya
juga sama yaitu dari Allah SWT. Yang membedakannya adalah bahwa dalam Hadis Qudsi
disebutkan bahwa Allah SWT berfirman, atau Rasulullah SAW meriwayatkan dari Tuhan-Nya dan
keterangan sejenis. Sedangkan dalam Hadis nabawi, tidak disebutkan bahwa Allah SWT berfirman
begini dan bagini. Namun seolah-olah hanya perkataan Rasulullah SAW saja. Meski pada
39
hakikatnya bersumber dari Allah SWT juga.

36 Pengertian hadis secara etimologi adalah al jadid minal asyya (sesuatu yang baru), lawan dari qodim. Hal ini mencakup sesuatu

(perkataan), baik banyak ataupun sedikit. Hadis secara istilah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw.
setelah diangkat menjadi nabi, yang berupa ucapan, perbuatan, dan taqrir beliau. Contoh hadis tentang ucapan nabi SAW
. ..........
37 Hadits Qudsi secara etimologi berarti Hadits yang di nisbatkan kepada Dzat yang Maha Suci yaitu Allah Subhanahu wa Ta`ala.
Secara istilah, Hadits Qudsi dipahami sebagai Hadits yang yang di sabdakan Rasulullah, berdasarkan firman Allah SWT. Dengan kata lain,
matan Hadits tersebut adalah mengandung firman Allah SWT. Hadits Qudsi juga bisa disebut sebagai Hadits Ilahi, atau Hadits Rabbani.
Jumlah total Hadits Qudsi menurut kitab Al Ittihafatus Sunniyah berjumlah 833 buah, termasuk yang shahih, hasan dan dlaif. Contoh
Hadits Qudsi yang sahih:
: .
.
Artinya: Dari Rasulullah SAW: telah berfirman Allah Azza wa Jalla. berderma lah kalian, niscaya aku akan membalas derma atasmu
(Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim
38 Al-Qattan, Manna Khalil. op. cit: 28-29
39 Ash-Shiddieqy, TM. Hasbi. 1989. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. IX: 40-41

20
Ulumul Quran

D. Kandungan Al-Quran
Surat yang paling banyak dibaca dan dihafal oleh pemeluk agama yang mengajarkan kepasrahan
kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa adalah Surat Al Fatihah. Ayat-ayat surah Al Fatihah merupakan
rincian dari ayat-ayat yang lain, Abu Hasan Al Harrali seorang sufi dan ulama, pakar bahasa, teologi dan
logika (w. 698 H) dalam bukunya Miftahul bab al Muqaffal li Fahmil Qur'dn al Munazzal antara lain
mengatakan: " Al Fatihah adalah induk Al Quran, karena ayat-ayat Al Quran seluruhnya terinci melalui
kesimpulan yang ditemukan pada ayat-ayat Al Fatihah. Tiga ayat pertama surah Al Fatihah mencakup
makna-makna yang dikandung oleh Asmaul Husna (nama-nama Allah yang indah). Semua rincian yang
terdapat dalam Al Quran menyangkut Allah bersumber dari ketiga ayat pertama itu. Ketiga ayat terakhir
dari firman-Nya: Ihdina as-shirdth al-Mustaqim mencakup segala yang meliputi urusan makluk dalam
mencapai Allah dan menoleh untuk meraih rahmat-Nya, serta mengesampingkan selain-Nya. Semua
rincian yang terdapat dalam Al Quran bermuara pada ketiga ayat itu. Sedang segala sesuatu yang
menjadi penghubung antara makhluk dengan khaliq terinci dalam firman-Nya: Iyyaka na'budu waiyyaka
nasta'in."
Menurut Muhammad Abduh Al Quran turun menguraikan persoalan-persoalan 1) Tauhid, 2) Janji
dan ancaman, 3) Ibadah yang menghidupkan tauhid, 4) Penjelasan tentang jalan kebahagiaan di dunia
dan di akhirat dan cara mencapainya serta 5) Pemberitaan atau kisah generasi terdahulu. Sedangkan
menurut Fazlur Rahman mengemukakan bahwa tema-tema atau isi pokok dalam Al Quran adalah:
tentang Tuhan, manusia (individu/masyarakat), alam semesta, kenabian, wahyu, eskatologi,
setan/kejahatan dan masyarakat muslim.
Dari uraian diatas, isi pokok kandungan Al Quran dapat dirinci sebagai berikut :
1. Akidah
Akidah adalah simpul-simpul keyakinan yang mempunyai nilai kebenaran yang absolute, haq
(mantap, tetap, tidak berubah). Dalam sistem ajaran islam keyakinan yang benar adakah keyakinan
yang bersumber dari kitab suci, yakni Al Quran dan beberapa informasi yang diberikan oleh Nabi
Muhammad SAW dalam periwayatan hadis/sunnah.


3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan
sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. 4. Dan mereka yang beriman kepada
kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan
sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. Al Baqarah (2) : 3-4
Dalam kaitan dengan isi pokok ajaran Al Quran ini, tema terpenting adalah ajaran tentang
tauhid, ke-Esa-an Allah SWT atau ajaran monotheism, dimana inti ajaran tersebut adalah pengakuan
terhadap adanya Tuhan yang paling berhak disembah, yaitu Allah, Tuhan yang mencipta, memelihara
dan memberi penghidupan dengan mencukupi segala kebutuhan mahluk baik melalui proses
permintaan(doa) atau tidak.
Logika terhadap kepercayaan terhadap Tuhan yang Esa, ahad tersebut adalah karena
ketidakmungkinan pengelolaan alam raya dengan segala isi dan dimensinya ini diatur oleh tuhan
ganda yang masing-masing punya hasrat dan kemauan untuk menentukan sesuatu. Tentu, jika ini
terjadi akan terjadi ketidakteraturan siklus seluruh alam yang berakibat pada kehancuran seluruh
mahluk.


Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan
kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu
sekalian akan aku". (QS. Al Anbiya (21) : 25)

21
Ulumul Quran

Menyangkut identitas Tuhan yang dikenalkan dan disembah oleh Nabi SAW., dan diajarkan kepada
seluruh umat manusia ini, setelah menerima pertanyaan orang-orang Yahudi Madinah atau dalam
riwayat lain berkenaan dengan datangnya 'Amir Ibn Thufail dan Arbad Ibn Rabi'ah yang bertanya
kepada Nabi saw. tentang ajakan beliau. Ketika itu Nabi saw. menjawab: "Aku mengajak kepada
Allah." Kalau mereka rneminta agar dilukiskan apakah Allah terbuat dari emas atau perak, atau kayu.
40
Kemudian turun surat berikut ini,


1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-
Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. Dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan Dia."
Keyakinan yang benar terhadap sistem ketauhidan akan membawa efek terbebas dari syirk yaitu
tindakan menyekutukan dengan beranggapan bahwa Allah mempunyai padanan dan membutuhkan
kepada sesuatu. Semangat ini membawa kepada sikap hidup penuh kebaikan (al birr) sebagi wujud
keimananya yang harus dipancarkan dalam kehidupan, dalam keadaan lapang maupun sempit.
Keadaan tersebut oleh Al Quran dinilai sebagai wujud keimanan yang benar serta dinilai sebagai
pelaku takwa. Demikian firman Allah dalam QS. Al Baqarah (2) : 177;


Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-
kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-
minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar
(imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.
2. Ibadah
Ibadahadalah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, dengan jalan mentaati segala perintah-
perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan mengamalkan segala yang diizinkan-Nya sebagai
41
tanda mengabdikan/ memperhambakan diri kepada Allah SWT. Pengabdian, ibadah kepada Allah
SWT., merupakan konsekwensi logis atas kenyataan tujuan Allah menciptakan manusia (insan) dan
jin, seperti dalam QS Adz Dzariyaat (51) : 56,

40 Nama yang paling populer dari Surat tersebut adalah Al Ikhlash. Kata Ikhlash terambil dari kata khalish yang berarti suci atau

murni set el ah sebelumnya memiliki kekeruhan. Ikhlash adalah keberhasilan mengikis dan menghilangkan kekeruhan itu sehingga
sesuatu yang tadinya keruh menjadi murni. Dengan nama itu tecermin bahwa kandungan ayat-ayat ini bila dipahami dan dihayati oleh
seseorang maka itu akan menyingkkkan segala kepercayaan, dugaan dan prasangka kekurangan atau sekutu bagi Allah swt. yang boleh
jadi selama ini hinggap dibenak dan hatinya, sehingga pada akhknya keyakinannya tentang keesaan Allah benar-benar suci murni tidak
lagi dihinggapi oleh kemusyrikan baik yang jelas (mempersekutukan Allah) maupun yang tersembunyi (riya dan pamrih).
41 Secara bahasa ibadah ialah taat, menurut, mengikut, tunduk. Dan mereka mengartikan juga dengan: tunduk yang setinggi-

tingginya, dan dengan do'a. Dalam konteksnya yang lebih luas ibadah atau pengabdian tidak terbatas pada hal-hal yang diungkapkan
oleh ahli hukum Islam (fiqh) yakni shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi mencakup segala macam aktivitas manusia, baik pasif maupun
aktif, sepanjang tujuan dari setiap gerak dan langkah itu adalah Allah

22
Ulumul Quran

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan maliku (kesemuanya), demi karena Allah
Pemelihara selttruh alam" (QS. Al An'am [6]: 162).
Tujuan ibadah untuk memperoleh Ridla Allah, dapat menumbuhkan kesadaran tanggung jawab.dan
perwujudan pemeliharaan iman, meningkatkan harkat dan martabat dan untuk meningkatkan
ketaatan pada Allah. Alasan beribadah karena ibadah merupakan kebutuhan rohaniah, jalan menuju
kebebasan, dan ujian terhadap kehidupan, untuk mencapai tujuan akhir di akhirat, ibadah juga
merupakan hak Allah atas hambaNya.


Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa.
Ibadah berpengaruh untuk membentuk seorang muslim dan ketakwaannya karena manyadari bahwa
Allah selalu hadir dalam setiap aktifitasnya. Dalam konteks ibadah murni dalam bentuk ritual, yaitu
ibadah yang telah ditentukan syarat, rukun, waktu dan tempatnya, Al Quran menjelaskan dengan
beberapa penegasan seperti ; QS. Al Baqarah (2) : 183 tentang puasa Ramadhan, QS. Ali Imran (3) : 97
tentang Haji dan lain-lain.


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah (2) : 183)

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup
Mengadakan perjalanan ke Baitullah (QS. Ali Imran (3) : 97)
3. Muamalah
42
Muamalah merupakan mata rantai yang tidak dapat lepas dari makna ibadah. Karena setiap ibadah
yang dilakukan dengan baik dan benar akan membawa dampak kemaslahatan bagi pelakunya. Hal itu
dapat kita rujuk misalnya dalam QS. Al Baqarah (2) : 43 tentang perintah sholat dan menunaikan
zakat. Dimensi ritual sholat yang diahiri dengan simbolik salam, dengan sendirinya menumbuhkan
semangat berbagi kebaikan yang bersifat sosial dalam bentuk pemberian zakat, atau perbuatan baik
dalam kapasitas turut memberi andil dalam kesejahteraan (infaq dan sedekah) kepada siapa yang
membutuhkan.


Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara tentu sangat tidak dibenarkan seorang muslim melakukan
aktifitas yang membawa dampak keburukan, apalagi dengan mengatasnamakan islam. Misalnya
melakukan kegiatan terror atas nama jihad yang mengancam keamanan seluruh warga negara
dimana dan kapanpun, apalagi sampai dilakukan dengan cara menjadi martir yaitu dengan
melakukan bom bunuh diri. Disamping secara konsep jihad dinilai tidak tepat (dalam konteks
Indonesia), tentu perbuatan bunuh diri tidak dibenarkan oleh ajaran islam dan dinilai sebagai kekejian
(al fahisyah) karena dapat berdampak buruk bagi diri dan orang lain.

42 Ciri khas ajaran Islam adalah kebersamaan. Seorang muslim harus selalu merasa bersama orang lain, tidak sendirian, atau

dengan kata lain setiap muslim harus memiliki kesadaran sosial. Nabi saw. bersabda: "Hendaklah kamu selalu bersama-sama (jamaah)
karena serigala hanya menerkam domba yang sendirian." Keakuan seorang muslim harus lebur secara konseptual bersama aku-aku
lainnya, sehingga setiap muslim menjadi seperti yang digambarkan oleh Nabi saw.: "Bagaikan satu jasad yang merasakan keluhan, bila
satu organ merasakan penderitaan."

23
Ulumul Quran

Semangat toleransi (tasammuh), kesederajatan (egaliter), persamaan Hak Asasi dan Kewajiban Asasi
dalam negara yang beragam (prural) baik suku bangsa, ras dan agama harus dijunjung tinggi apabila
para pemimpin bangsa dan negara tidak melakukan tindakan kesewenangan (otoriter, tiranik)
sehingga mengancam atau bahkan melarang kebebasan warganya untuk melakukan ibadah. Oleh
karena itu, seorang muslim harus menaati aturan hukum, undang-undang dan peraturan
kemasyarakatan yang telah disepakati dan disahkan oleh para pemimpin. Demikian penegasan QS. Al-
Nisa' (4) : 58-59 tentang dasar pemerintahan;


58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya
kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya
kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. 59. Hai orang-
orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah
(Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Dalam kaitanya dengan masalah ekonomi global, secara universal islam melarang kegiatan monopoli
dan melakukan praktek rente (riba) QS. Al Baqarah (2) : 275, karena dalam jangka panjangnya akan
membawa manusia dalam keadaan tidak berdaya dan teraniaya (mustadzafin, fakir). Kemudian
ajaran islam memberi solusi yaitu dengan memberi tangguh kepada mereka yang berhutang (debitur)
atau bahkan menyedekahkan kepadanya. QS. Al Baqarah (2) : 280.


Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS. Al Baqarah (2) : 275)


Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia
berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika
kamu mengetahui. (QS. Al Baqarah (2) : 280)
4. Hukum
Hukum yang diperkenalkan Al Quran bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, tapi merupakan bagian
integral dari akidah. Akidah tentang Allah yang menciptakan alam semesta, mengaturnya,
memeliharanya dan menjaganya sehingga segala makhluk itu menjalani kehidupannya masing-masing
dengan baik dan melakukan fungsinya masing-masing dengan tertib. Hukum Allah meliputi segenap
makhluk (alam semesta).
Hukum sejarah sejalan dengan hukum alam. Keduanya mempunyai titik temu dalam hukum sebab-
akibat. Pesan dan petunjuk yang diberikan Al Quran pada manusia, demikian pula sunnah Rasulullah
yang memberikan penjelasan praktis pada pesan Al Quran itu, membimbing kita supaya menyadari
keterkaitan segala sesuatu dengan penyebabnya, sebagai syarat bagi terjadinya.
Sebagai contoh dalam pengaturan harta peninggalan atau harta warisan, dengan sangat rinci dan
cermat Allah SWT., memberi rumus perhitungan dengan mempertimbangkan aspek sebab akibatnya.
Mungkin hanya Al Quran kitab suci yang menyebut angka sampai pada angka pecahan, seperti
ditegaskan dalam QS. An Nisa' (4) : 11-13;

24
Ulumul Quran


11. Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu :
bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan dan jika anak
itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang
ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan
untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika
yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia
diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu
mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian
tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.
(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang
lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. 12. Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang
ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu
mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah
dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh
seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai
anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah
dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang
mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan
anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan
(seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika
saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu,
sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak
memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at
yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun. 13. (Hukum-
hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan
Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-
sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar. (QS. An Nisa' (4) :
11-13)
Dalam upaya melestarikan generasi manusia dipentas bumi ini Allah memberi petunjuk tentang
hukum-hukum pernikahan sebagai penyempurna dari tradisi masyarakat lampau (arab jahiliyah) yaitu

25
Ulumul Quran

dengan melarang ibu tiri (QS. An Nisa (4) :22), sebagai salah satu komoditas harta yang dapat
diwariskan kepada anak untuk kemudian disempurnakan dalam bentuk ketentuan tentang siapa yang
boleh dihikahi dan siapa yang tidak boleh dinikai (QS. An Nisa (4) :23), serta syarat, rukun (QS. Al
Baqarah (24) :232, QS. An Nisa (4) :4), dan segala konsekwensi yang harus diterima oleh suami isteri
baik hak dan kewajibanya (QS. An Nisa (4) :19, QS. An Nisa (4) :34).


Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada
masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-
buruk jalan (yang ditempuh). (QS. An Nisa (4) :22)


Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan saudara-
saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara
ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-
anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu;
saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam
pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan
isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan
diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam
perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau;
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisa (4) :23)
Dengan penyempurnaan terhadap tata cara pernikahan seperti tersebut diatas, maka dengan
sendirinya sangat terlarang (haram) hukumnya melakukan hubungan badan (sexual) dengan dengan
tanpa didahului akad nikah yang sah menurut agama dan pelakunya dinilai sebagai pezina. Adapun
ketentuan hukumnya adalah seperti ditegaskan QS. An Nur (24) : 2. Demikian juga sangat terlarang
melakukan hubungan badan dengan sesama jenis kelamin, karena dinilai melawan fitrah
penciptaanya.


Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu
untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan
hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang
beriman. (QS. An Nur (24) : 2)

"Allah melaknat orang yang menyetubuhi binatang. Allah melaknat orang yang mempraktekkan
perbuatan kaum Luth. Allah melaknat orangyang mempraktekkan perbuatan kaum Luth. " Beliau
menyabdakannya sebanyak tiga kali (HR, Ahmad dari Ikrimah)

26
Ulumul Quran

5. Akhlaq
Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan tabiat, perangai, kebiasaan,
bahkan agama), namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam Al Quran. Yang ditemukan hanyalah
bentuk tunggal kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam QS. Al Qalam (68) : 4. Ayat tersebut
berkaitan dengan masalah pengangkatan Nabi Muhammad SAW., sebagai Rasul


Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Kecenderungan manusia kepada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral
pada setiap peradaban dan zaman. Perbedaan terletak pada bentuk, penerapan, atau pengertian
yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral, yang disebut ma'ruf dalam bahasa Al Quran.
Tidak ada peradaban yang menganggap baik kebohongan, penipuan, atau keangkuhan. Demikian juga
tidak ada manusia yang menilai bahwa penghormatan kepada kedua orang-tua adalah buruk. Tetapi,
bagaimana seharusnya bentuk penghormatan itu? Boleh jadi cara penghormatan kepada keduanya
berbeda-beda antara satu masyarakat pada generasi tertentu dengan masyarakat pada generasi yang
lain. Perbedaan-perbedaan itu selama dinilai baik oleh masyarakat dan masih dalam kerangka prinsip
umum, maka ia tetap dinilai baik (ma'ruf)
Tolok ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah. Karena Allah
selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia memiliki segala sifat yang terpuji QS. Thaha (20): 8
menegaskan:


Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al
asmaaul husna (nama-nama yang baik).
Rasulullah SAW juga memerintahkan umatnya agar berusaha sekuat kemampuan dan kapasitasnya
sebagai makhluk untuk meneladani Allah dalam semua sifat-sifat Nya, dengan sabdanya
Berakhlaklah dengan akhlak Allah. Dan ketika Aisyah ditanya mengenai akhlak Rasulullah Saw.,
beliau menjawab, Budi pekerti Nabi Saw. adalah Al Quran (HR. Imam Ahmad). Dalam ajaran islam
sasaran ahlak meliputi :
a. Ahlak kepada Allah
QS. An Naml (27) : 93


Dan Katakanlah: "Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda
kebesaran-Nya, Maka kamu akan mengetahuinya. dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang
kamu kerjakan".
QS. Asy Syura (42) : 5

dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya
QS. Ar Rad (13) : 13

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah,
b. Ahlak terhadap sesama manusia
QS. An Nahl (16) : 90


Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada
kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia

27
Ulumul Quran

memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An Nahl (16) :
90)
QS. Al Baqarah (2) : 263


Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan
sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima).
QS. Al Baqarah (2) : 83


... janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum
kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik
kepada manusia, ...
QS. Ali Imran (3) : 134


(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran (3) : 133-134)
c. Ahlak terhadap lingkungan
Istilah lingkungan sebagai ungkapan singkat dari lingkungan hidup yang juga sering digunakan
istilah lain yang semakna seperti dunia, alam semesta, planet bumi, environment dan lainnya.
43
Kemudian ilmu yang mengkaji tentang lingkungan hidup disebut ekologi.
Dalam perspektif lingkungan, Al Quran menggunakan kata yang mempunyai makna lingkungan
adalah :
1) Al Alamin. Bila dikaitkan dengan Allah menunjuk kepada Tuhan semesta alam (QS. Al Fatihah
(1) : 2)

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
Rabb (tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang memiliki, mendidik dan memelihara. Lafal
Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti
rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri
dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-
tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta alam raya.
2) Al sama yang menunjuk pada makna jagad raya.


Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-
buahan sebagai rezki untukmu (QS. Al Baqarah(2) : 22)

43 Kata ekologi (ecology) berasal dari bahasa Yunani, oikos yang berarti rumah tangga dan kata logos yang berarti ilmu. Oleh

karena itu, secara etimologis ekologi artinya ilmu yang mempelajari tentang seluk-beluk hidup di rumah termasuk proses dan
pelaksanaan fungsi dan hubungan antar komponen secara keseluruhan. Dari segi istilah, lingkungan, environment, adalah keseluruhan
perikehidupan di luar suatu organisme baik benjpa benda mati maupun benda hidup. Oleh karena itu, ilmu yang mempelajari hubungan
timbal balik antara makhluk hidup dengan sesamanya atau dengan makhluk mati di sekitamya disebut ekologi.

28
Ulumul Quran

Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan
juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.(QS. Al Furqan (25): 61)
3) Al Ardl yang menunjuk kepada makna lingkungan hidup manusia atau ekosistem


dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya,
hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan
yang indah. (QS. Al Hajj (22): 5)


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang,
bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang
Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati
(kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan
awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan
dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al Baqarah(2) : 164)
4) Al Biah yang menunjuk pada makna tempat berlangsungnya kehidupan.


Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang
berkuasa) sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. kamu dirikan istana-
istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan
rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi
membuat kerusakan. (QS. Al Araf (7) : 74)
Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan Al Quran terhadap lingkungan bersumber dari fungsi
rnanusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara rnanusia dengan
sesamanya dan rnanusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman,
pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.
Dalam pandangan akhlak Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang,
atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak mernberi kesempatan kepada
makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan
terhadap semua proses yang sedang terjadi. Yang demikian mengantarkan rnanusia bertanggung
jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, Setiap perusakan
terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri rnanusia sendiri.
Jangankan dalam masa damai, dalam saat peperangan pun terdapat petunjuk Al Quran yang
melarang melakukan penganiayaan. Jangankan terhadap manusia dan binatang, bahkan
mencabut atau menebang pepohonan pun terlarang, kecuali kalau terpaksa, tetapi itu pun harus
seizin Allah, dalam arti harus sejalan dengan tujuan-tujuan penciptaan dan demi kemaslahatan
terbesar. Sampai-sampai dalam masalah pelaksanaan ritual ibadah haji pun manusia terlarang
melakukan perusakan lingkungan dalam bentuk berburu binatang

29
Ulumul Quran


dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam
ihram (QS. Al Maidah (5) : 96)
Bencana (mushibah) yang menimpa umat manusia boleh jadi disebabkan oleh ulah segelintir
manusia, tetapi karena ketiadaan pencegahan terhadap perbuatan buruk terhadap perusakan
lingkungan (atau bahkan mendukungnya), maka akibatnya pun diterima oleh seluruh manusia.
Karena seluruh manusia dianggap telah ikut menyetujui terhadap perusakan lingkungan.


Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi,
supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Rum (30) : 41)
6. Janji dan ancaman Allah SWT
Dalam agama-agama, gambaran tentang wujud kebahagiaan dan kesengsaraan itu dinyatakan dalam
konsep-konsep tentang kehidupan di surga dan di neraka. Meskipun ilustrasi tentang surga dan
neraka itu berbeda-beda namun semuanya menunjukkan adanya keyakinan yang pasti tentang
44
pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidup.
Deretan ayat yang menunjukkan hasil akhir sebagai wujud hukum sebab akibat terhadap perilaku
manusia selama hidupnya dapat kita jumpai diantaranya dalam QS. Yunus (10) : 25-30. Dengan
kesimpulan, perbuatan manusia yang dinilai baik oleh Allah akan berakibat pada kehidupan bahagia
di akhirat dalam surga (jannah, nirwana, firdaws). Demikian sebaliknya, perbuatan manusia yang
dinilai buruk oleh Allah akan berakibat pada kehidupan sengsara (samsara) di akhirat dalam neraka.
Keadaan di surga dan di neraka merupakan balasan setimpal sebagai wujud keadilan Allah.


25. Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya
kepada jalan yang Lurus (Islam). 26. Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang
terbaik (surga) dan tambahannya. dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula)

44 Masalah janji dan ancaman terkai dengan konsep kebahagiaan (sa'adah) dan kesengsaraan (syaqawah) adalah masalah

kemanusiaan yang paling hakiki. Sebab tujuan hidup manusia tak lain ialah memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan.
Semua ajaran, baik yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat keduniaan semata akan menjanjikan kebahagiaan bagi para
pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. Gambaran tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu
sangat beranekaragam. Namun semua ajaran dan ideologi selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang dijanjikannya atau
kesengsaraan yang diancamkannya adalah jenis yang paling sejati dan abadi.

30
Ulumul Quran

kehinaan. mereka Itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya. 27. Dan orang-orang yang
mengerjakan kejahatan (mendapat) Balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. tidak
ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi
dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gelita. mereka Itulah penghuni neraka; mereka
kekal di dalamnya. 28. (ingatlah) suatu hari (ketika itu). Kami mengumpulkan mereka semuanya,
kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan): "Tetaplah kamu
dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu". lalu Kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu
mereka: "Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami. 29. Dan cukuplah Allah menjadi saksi
antara Kami dengan kamu, bahwa Kami tidak tahu-menahu tentang penyembahan kamu
(kepada kami). 30. Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari
apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah pelindung mereka
yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan.
7. Ilmu Pengetahuan
Pesan untuk mengamati, meneliti, memikirkan dan mempelajari alam semesta, sangatlah jelas dan
45
berulang-ulang kali disampaikan dalam sekian banyaknya ayat-ayat Al Quran. Salah satunya adalah
QS, Ali Imran (3) : 190-191


190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 191. (yaitu) orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
Diantara ayat Al Quran yang membicarakan dasar-dasar Ilmu Pengetahuan adalah :
a. Ilmu Biologi
1) Siklus kehidupan di bumi, QS. Qaaf (50) : 9-11


8.Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan
air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam. 10. Dan pohon kurma yang tinggi-
tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun, 11. Untuk menjadi rezki bagi hamba-
hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). seperti Itulah
terjadinya kebangkitan.
46
2) DNA (Deoxyribonucleic Acid), QS. Al Insan (76) : 2

45 Melalui suatu pengamatan yang cermat atas segala alam sekitar kita, dapat disaksikan betapa teraturnya alam raya ini. Betapa

teraturnya gerakan bintang-bintang pada garis edarnya masing-masing. Bumi tempat kita hidup yang berputar pada sumbunya dan
beredar pada orbitnya di sekeliling matahari dalam jangka waktu tertentu dan pasti menyebabkan silih bergantinya siang dan malam
dan bertukarnya musim secara teratur.
Lewat ilmu pengetahuan alam kita diperkenalkan dengan hukum-hukum fisika dan kimia serta biologi, seperti hukum proporsi, hukum
konservasi, hukum gerak, hukum gravitasi, hukum relativitas, hukum paskal, kode genetik, hukum reproduksi dan embriologi.
Penemuan hukum-hukum alam (natuurwet) sebagaimana disinggung di atas, memberikan informasi yang jelas pada kita betapa alam
raya ini mulai dari bagian-bagiannya yang terkecil seperti partikel-partikel dalam inti atom yang sukar dibayangkan kecilnya, sampai
kepada galaksi-galaksi yang tak terbayangkan besar dan luasnya, semuanya bergerak menurut ketentuan-ketentuan hukum alam yang
mengaturnya. Dan yang lebih dekat kita renungkan ialah keadaan tubuh jasmani kita sendiri.
Ilmu pengetahuan mengungkapkan, tubuh manusia terdiri dari 50 juta sel, jumlah panjang jaringan pembuluh darahnya sampai
100 ribu kilometer dan lebih dari 500 macam proses kimiawi terjadi di dalam hati. Tubuh manusia jauh lebih rumit dan menakjubkan
daripada pesawat komputer. Prestasi atletik seringkali memperlihatkan tenaga tubuh yang bersifat melar. Sedangkan ketangguhannya
menunjukkan staminanya. Meskipun demikian fungsi-fungsi tubuh yang tidak tampak, lebih mengesankan lagi. Tanpa kita sadari, tubuh
mengatur suhu badan kita, tekanan darah kita, pencernaan dan tugas-tugas lain yang tidak terbilang banyaknya. Pusat pengatur tubuh,
yakni otak memiliki kemampuan merekam dan menyimpan lebih banyak informasi dibandingkan dengan pesawat apapun.

31
Ulumul Quran


Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang
Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia
mendengar dan melihat.
Dalam hal nuthfah (setetes mani), maka sifat amsyaj (bercampur) bukan sekadar
bercampurnya dua hal sehingga menyatu atau terlihat menyatu, tetapi percampuran itu
demikian mantap sehingga mencakup seluruh bagian-bagian dari nuthfah. Nuthfah/ amsyaj itu
sendiri adalah hasil percampuran sperma dan ovum yang masing-masing memiliki empat puluh
enam kromosom. Dalam kromosom itu didapati gen sebagai pusat data keturunan seseorang.
3) Aneka Flora dan Fauna, QS. Al Fathir (35) : 27 dan QS. An Nur (24) : 45


Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan
dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. (QS. Al Fathir (35) : 27)


Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada
yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian
(yang lain) berjalan dengan empat kaki. (QS. An Nur (24) : 45)
b. Ilmu Fisika
Terhadap penciptaan alam semesta, pada tahun 1952, fisikawan Gamow, berkesimpulan bahwa
galaksi-galaksi diseluruh alam raya yang jumlahnya tidak kurang dari 100 milyar dan masing-
masing rata-rata berisi 100 milyar bintang itu pada mulanya berada disatu tempat bersama
dengan bumi, sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Materi yang sekian banyak itu terkumpul sebagai
suatu gumpalan yang terdiri dari neutron, hingga pada saat tertentu yang tidak diketahui
penyebabnya meledak dengan amat dahsyat yang melemparkan seluruh materinya hingga
berhamburan untuk kemudian membentuk galaksi dan bintang-bintang. Peristiwa inilah yang
47
kemudian dinamakan Dentuman Besar atau Big Bang.
Terhadap teori diatas tentu Al Quran telah menginformasikanya lebih dari 14 abad yang dengan
menyatakan seperti tersurat dalam QS. Al Anbiya (21) : 30.


Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.

46 Penemuan mutakhir membuktikan bahwa faktor pewarisan sifat-sifat itu bukan kromosom yang demikian kecil, tetapi gen

yang terdapat di dalamnya. Bahkan, lebih tepat dikatakan yang menyampaikan informasi genetik adalah senyawa kimia yang
terkandung di dalamnya. DNA (Deoxyribonucleic Acid) atau Asam Deoksiribosanukleat merupakan tempat penyimpanan informasi
genetik itu. Sebuah molekul DNA manusia menyimpan informasi yang demikian banyak dan rumit. la mengendalikan ribuan kejadian
yang berlangsung di dalam sel tubuh dan dalam pemungsian sistem-sistemnya, termasuk sifat-sifat fisik, seperti ketinggian badan,
warna rambut dan mata, bahkan tekanan darah. Informasi yang tersimpan dalam DNA Hasil penelitian menunjukkan bahwa ia
mengandung lima milyar potongan informasi yangberbeda. Jika satu potong informasi yang ada dalam gen manusia dibaca setiap detik
tanpa henti maka dibutuhkan seratus tahun sebelum proses pembacaan itu selesai.
47 Dentuman Besar yang kejadianya digambarkan oleh Ilmuan sebagai peristiwa luar biasa terjadi akibat ketidak mungkinan

materi alam secara keseluruhan berkumpul disuatu tempat dalam ruang semesta tanpa meremas diri dengan gaya gravitasi yang sangat
kuat, hingga volumenya mengecil menjadi titik. Kemudian disimpulkan bahwa dentuman besar itu terjadi ketika seluruh materi semesta
keluar dengan kerapatan yang sangat besar dan suhu yang sangat tinggi dari volume yang sangat kecil. Teori ini menyadarkan akan
kesalahan hitung sehingga memaksa Albert Einstain harus merubah rumus relatifitas yang tadinya menyertakan kode constanta untuk
kemudian dihilangkan sehingga sesuai dengan temuan yang lebih rasional. Kesalahan rumusnya ini, oleh Einstain dianggap sebagai
kesalahan besar dalam karirnya."

32
Ulumul Quran

c. Ilmu Kimia
Salah satu yang patut dibahas dan direnung-renungkan adalah air Keberadaanya sangat
dibutuhkan oleh sekian banyak mahluk, karena ia adalah cikal bakal kehidupan, demikian QS. Al
Anbiya (21) : 30. Air juga menjadi bagian terpenting dalam sistem thaharoh, bersuci yaitu wudhu
dan mandi (junub).


dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup
Peranan air dalam kehidupan sungguh besar. Mekanisme kompleks kehidupan tidak mungkin
dapat berfungsi dalam satu lingkungan selain dalam lingkungan cair, dan satu-satunya cairan
untuk itu adalah air. Sebagian besar bagian bumi kita adalah air, bahkan sebagian besar dari diri
kita sebagai manusia juga adalah air. Menarik diketahui bahwa air merupakan tiga perempat
bagian bumi, dan diri kita pun manusia memiliki jumlah prosentase air yang serupa dalam tubuh
48
kita.
d. Ilmu Astronomi
1) Isyarat bahwa bumi adalah bulat adanya, QS. Al Hijr (15) : 19

Dan Kami telah menghamparkan bumi
Maksud perkataan terhampar ialah di mana saja kita berada diatas muka bumi ini kita akan
mendapatinya terbentang dihadapan kita. Jika kita pergi ke kutub Utara (Artik) dan Kutub
Selatan (Antartik) kita akan menyaksikan bahwa planet bumi ini senantiasa terbentang.
Fenomena ini tidak dapat terjadi sedemikian melainkan jika bumi berbentuk bulat.
Hal ini didukung oleh pernyataan QS. Yasin (36) : 40 tentang malam dan siang yang tidak saling
mendahului, ini merupakan isyarat bahwa planet bumi ini bulat karena siang dan malam itu
merupakan suatu lingkaran yang tiada permulaan dan tiada akhirnya. Hanya dalam bentuk
sedemikian malam dan siang berada serentak di atas permukaan planet bumi. Sebagian dari
planet bumi yang mengarah kepada sinar matahari terjadi siang, sedangkan sebagian lagi yang
membelakangi matahari terjadi malam. Kemudian planet bumi ini senannasa berputar pada
porosnya supaya bagian-bagian bumi yang siang itu bertukar menjadi waktu malam sedangkan
waktu malam bertukar menjadi waktu siang.


Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat
mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
2) Isyarat tentang Matahari sebagai pusat orbit QS. An naml (27) : 88


Dan kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, Padahal ia
berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh
tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Menurut fakta sains, planet bumi ini berputar pada sumbunya satu putaran dalam masa 24 jam
dan pada masa yang sama planet bumi bergerak menurut orbitnya berputar mengelilingi planet
matahari. Tiap-tiap satu putaran orbitnya, planet bumi memakan waktu kurang lebih 365 hari

48 Air adalah benda cair yang terdiri dari oksigen dan hidrogen (H2O). dalam kadar-kadar tertentu. Setetes air terdiri dari jutaan

atom yang berbeda-beda jenis. Molekul-molekul pada zat cair saling berpegangan, tetapi tidak terlalu erat, sehingga dengan mudah
dapat lepas danberpindah ikatan. Allah membuatnya sedemikian rupa, sehingga kita tidak perlu mengunyah air; cukup meneguknya,
dia segera dengan mudah masukkekerongkongan. Air mendidih pada suhu 100 derajat Celcius ; jika temperatur turun sampai ke bawah
0 derajat Celcius, maka air akan membeku menjadi es, dan bila temperaturberada di atas 110 derajat Celcius, maka air akan menguap.

33
Ulumul Quran

dan 6 jam dan bergerak sejauh 585 juta km, yaitu beredar kurang lebih 18.5 km sesaat atau
66.000 km satu jam. la juga merupakan 30 kali lipat lebih cepat dari kelajuan gerakan peluru.
Pergerakan sedemikian adalah sangat hebat dan cepat, sehingga jika planet bumi tiba-tiba
berhenti dalam perjalanannya, ia akan berubah menjadi gumpalan gas (voktilized) dan planet
49
bumi akan musnah terbakar.
e. Ilmu Matematika
Dalam masalah sedekah Allah mengajak pelaku sedekah untuk menghitung berapa kebaikan yang
ia terima dengan menggunakan bilangan bulat, seperti redaksi QS. Al Baqarah (2) : 261.


Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap
bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah
Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.
Disamping itu, Al Quran mengenalkan angka pecahan untuk diaplikasikan penggunaanya dalam
penghitungan pembagian harta warisan, seperti diuraikan dalam QS. An Nisa: 11-13.
f. Ilmu Sosiologi
Manusia sebagai mahluk sosial, tentu dalam kehidupanya manusia akan melestarikan budaya-
budaya yang dianggap baik (urf) selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan (fitrah)
berlandaskan pada ajaran kitab suci. Dalam konsep kemasyarakata yang lebih luas tiap manusia
diharapkan mengenal kebudayaan, etika dan sikap hidup orang lain dengan saling mengenalnya
dengan baik (QS. Al Hujurat (46): 13) sehingga tumbuh semangat toleransi, karena sesama
manusia masing-masing mempunyai Hak Asasi dan Kewajibab asasi yang tidak boleh diganggu.
Maka sangat tidak wajar bila suatu masyarakat menganggap komunitasnya adalah yang paling
unggul (superior) dan menganggap masyarakat lain sebagai yang wajar untuk ditindas (inferior)
atau bahkan dimusnahkan (QS. Al Hujurat (46): 11). Sebagai upaya menciptakan suasana
kedamaian bersama, maka masing-masing indifidu diharapkan mempunyai sikap baik sangka
(husn al dhan) dan menjauhi sikap buruk sangka (syuu al dhan) (QS. Al Hujurat (46): 12).


11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan
kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula
sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih
baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang
mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan
Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. 12. Hai orang-

49 Matahari yang kita lihat terbit dan tenggelam setiap hari, adalah sebuah bintang yang merupakan benda angkasa terbesar

dalam tatasurya kita. la adalah gumpalan gas yang berpijar dengan garis tengah sekitar 1.392.429 km. Jarak rata-rata antara titik pusat
bumi ke titik pusat matahari sekitar 149.572.640 km. Ada juga pakar yang memperkirakan jarak antara bumi kita dengan matahari
sekitar 39 juta mil. Matahari terdiri dari 69.5 persen gas hidrogen dan 28 persen Celsius. Dipusatnya suhu meningkat hingga
19.999.98C. jarak matahari itu sangat tepat dan sangat memungkinkan bagi kehidupan mahluk, jika lebih dekat dari itu tentu bumi
terbakar dan jika lebih jauh dari itu tentu bumi akan diselimuti gumpalan es yang tentu juga akan membinasakan mahluk hidup di muka
bumi karena kedinginan

34
Ulumul Quran

orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari
purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
g. Ilmu Geografi
50
Al Quran melukiskan gunung sebagai pasak yakni paku yang besar (QS. An Naba (78): 7). Dari
deretan gunung yang ada Al Quran memberi informasikan tentang warna gunung yang berbeda-
beda tergantung dari kandungan materi dan batuan, jika yang dominan besi, warna yang dominan
adalah merah, jika materi bebatuan berupa batu bara, warna dominanya hitam dan warna dominan
kehijau-hijauan, maka materialnya berupa perunggu dan lain sebagainya (QS. Al Fathir (35) : 27)


Dan gunung-gunung sebagai pasak.


dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam
warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.
h. Ilmu Arkeologi
QS. Al Fajr (89) : 6-9 tentang Informasi Al Quran atas bukti-bukti arkeologis terhadap fakta
peradaban kaum Tsamud dan Ad yang ditemukan dikedalam tanah. Lembah ini terletak di bagian
utara Jazirah Arab antara kota Madinah dan Syam. mereka memotong-motong batu gunung untuk
membangun gedung-gedung tempat tinggal mereka dan ada pula yang melubangi gunung-gunung
untuk tempat tinggal mereka dan tempat berlindung.


6.Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad? 7.
(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai Bangunan-bangunan yang tinggi. 8. Yang belum
pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, 9. Dan kaum Tsamud yang
memotong batu-batu besar di lembah.
i. Ilmu Seni
Seni pada dasarnya adalah ungkapan ruhani dalam menggambarkan keindahan yang mamukau
dalam berbagai bentuk. Misalnya ; sajak, syair, kaligrafi, lukisan dan lain-lain. Dasar-dasar
berkesenian dalam Al Quran bertujuan untuk mengungkap keindahan ciptaan Allah, karena
sesungguhnya Dia Maha Indah dan menyenangi keindahan (HR. Muslim).
Beberapa unsur keindahan dalam Al Quran diantaranya ;
1) Keindahan jagad raya (QS. Qaaf (50) : 6)

50 Gunung adalah bagian permukaan bumi yang menonjol lebih tinggi dari daerah sekitarnya, umumnya terbentuk akibat gerakan

kulit bumi. Lapisan padat kerak bumi dapat mencapai ketebalan sekitar 60 kilometer. Lapisan itu dapat meninggi, sehingga membentuk
gunung-gunung, atau menurun menjadi dasar lautan dan samudra, Gerakan ke bawah membentuk cekungan dan kemudian terisi
dengan endapan laut berubah menjadi batuan. Lalu gerakan ke atas mengangkat batuan itu lebih tinggi dari daratan sekelilingnya. Bisa
juga gerakannya menyamping sehingga melipat permukaan bumi menjadi gunung.
Dari hasil rekaman satelit dibuktikan bahwa Jazirah Arabia beserta gunung-gunugnya bergerak mendekati Iran beberapa sentimeter
setiap tahunnya. Sekitar lima juta tahun yang lalu, Jazirah Arabia bergerak memisahkan diri dari Afrika dan membentuk. Laut Merah. Di
sekitar daerah Somalia sepanjang pantai Timur ke Selatan, saat ini sedang dalam proses pemisahan yang lamban dan telah membentuk
"Lembah Belah" yang membujur ke selatan melalui deretan danau Afrika.
Meskipun pergerakannya amat lambat dan tidak kita rasakan, tetapi ia amat berarti. Sementara pakar menyatakan bahwa benua dan
lautan berada di atas lempeng atau kepingan yang sangat besar, bergerak dengan kecepatan satu sampai dengan 12 cm setiap tahun.
Lempeng yang diduduki benua Australia sedang bergerak ke arah utara dengan kecepatan sekitar 6 cm pertahun. Kalau ini berlanjut
maka pada akhirnya ia dapat mengimpit kepulauan Nusantara kita yang kini terletak antara Benua Australia dan Benua Asia. Walau
gunung berfungsi sangat banyak bagi kemanfaatan hidup dibumi, tetapi sesekali Allah memperingatkan manusia melalui gunung.
Misalnya melalui gunung Krakatau yang meletus tahun 1883 yang mengakibatkan sekitar 36.000 orang menjadi korbannya. Sebelumnya
pada pada tahun 1815 letusan gunung Tambora mengakibatkan 92.000 jiwa melayang

35
Ulumul Quran


Maka Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami
meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ?
2) Keindahan langit (QS. Ash Shaffat (37) : 6-7)


6. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, Yaitu bintang-
bintang,7. Dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari Setiap syaitan yang sangat
durhaka.
3) Keindahan laut dan isinya (QS. An Nahl (16) : 14)


Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan
daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang
kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari
(keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.
4) Keindahan Tumbuhan (QS. Al Anam (6) : 99)


Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala
macam tumbuh-tumbuhan Maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang
menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari
mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami
keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. perhatikanlah buahnya
di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.
j. Ilmu Ekonomi
Harus diakui bahwa Al Quran tidak menyajikan rincian, tetapi hanya mengamanatkan nilal-nilai
(prinsip-prinsip) nya saja. Sunnah Nabi dan analisis para ulama dan cendekiawan mengemukakan
sebagian dari rincian dalam rangka operasionalisasinya. Tapi, bahwa semangat untuk melakukan
kegiatan ekonomi sangat didorong oleh islam, karena etos kerja untuk memenuhi kesejahteraan
dinilai mulia oleh Allah sehingga, Dia dalam QS Al Jumuah (62): 9 memerintahkan melanjutkan
aktifitas untuk memperoleh rizki dengan cara yang direstui Allah.


Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia
Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Harta atau uang dinilai oleh Allah Swt. sebagai "qiyaman", yaitu "sarana pokok kehidupan" Dalam
pandangan Al Quran, uang merupakan modal serta salah satu faktor produksi yang penting, tetapi
"bukan yang terpenting". Manusia menduduki tempat di atas modal disusul sumber daya alam.
Pandangan ini berbeda dengan pandangan sementara pelaku ekonomi modern yang memandang
uang sebagai segala sesuatu, sehingga tidak jarang manusia atau sumber daya alam dianiaya atau
ditelantarkan.

36
Ulumul Quran

Modal tidak boleh diabaikan, manusia berkewajiban menggunakannya dengan baik, agar ia terus
produktif dan tidak habis digunakan. Karena itu seorang wali yang menguasai harta orang-orang
yang tidak atau belum mampu mengurus hartanya, diperintahkan untuk mengembangkan harta
yang berada dalam kekuasaannya itu dan membiayai kebutuhan pemiliknya yang tidak mampu itu,
dari keuntungan perputaran modal, bukan dari pokok modal. Ini dipahami dari redaksi QS Al-Nisa'
(4) : 5,


Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta
(mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah
mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata
yang baik.
Karena itu pula modal tidak boleh menghasilkan dari dirinya sendiri, tetapi harus dengan usaha
manusia. Ini salah satu sebab mengapa membungakan uang, dalam bentuk riba dan perjudian,
dilarang oleh Al Quran. Salah satu hikmah pelarangan riba, serta pengenaan zakat 2,5 % terhadap
uang (walau tidak diperdagangkan) adalah untuk mendorong aktivitas ekonomi, perputaran dana,
serta sekaligus mengurangi spekulasi serta penimbunan. Dalam konteks ini Al Quran mengingatkan
dalam QS. At tawbah (9) : 34


dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan
Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang
pedih.
Al Quran memerintahkan siapa pun yang melakukan transaksi hutang piutang, agar mencatat
jumlah hutang piutang itu, jangan sampai oleh satu dan lain hal tercecer hilang atau berkurang.
Bahkan kalau perlu meminta bantuan notaris dalam pencatatannya kepada notaris serta yang
melakukan transaksi itu, Allah berpesan pada lanjutan ayat di atas. Dari QS. Al Baqarah (2) : 282
inilah, tumbuh ilmu Akuntansi (account) yang berkembang hingga saat ini.


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu
yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara
kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya
sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang
berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu),...
k.Ilmu Bahasa
Bahasa adalah alat komunikasi antar indifidu dalam konteks global. Bahasa juga menjadi bahan
penting bagi seseorang untuk memahami pesan-pasan Ilahi dalam deretan frase wahyu,
memahami pesan-pesan informasi sekaligus memahami perkembangan Ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Bahasa Arab misalnya, dipilih Allah sebagai bahasa Al Quran bukan hanya kebetulan yang
ditemuinya adalah masyarakat arab, tetapi harus diakui bahwa bahasa Arab tersebut mempunyai
kosa kata yang sangat kaya, sehingga sebagian pakar bahasa dalam penelitiannya mengatakan
bahwa bahasa Inggris meminjam sekian banyak kosa kata bahasa Arab khususnya yang berkenaan
dengan bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi.

37
Ulumul Quran

Dalam konteks pemberitahuan terhadap informasi menyangkut kebudayaan, dakwah dan


informasi sederhana, para informan diharapkan menggunakan bahasa yang mudah dipahami
sehingga tidak terjadi kasalahpahaman (miss understanding) dan penyampaian maksud dapat
diterima dengan baik. Hal ini ditegaskan antara lain dalam QS. Ibrahim (14) : 4.


Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia
dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka
8. Sejarah
Al Quran dalam beberapa ayatnya mengungkap sejarah masa lalu tentang keadaan masyarakat
dan keadaan tokoh-tokoh tertentu. Penampilan dan pengungkapan fakta sejarah itu hendaknya
dijadikan ibrah, atau mengambil pelajaran dan hikmah terhadap dampak yang timbul akaibat
perilaku yang dikerjakan. Dari sini Al Quran mengajak pembacanya melakukan kontemplasi
(memikir ulang), menggunakan akal nalar secara jernih dan obyektif serta melakukan tindakan
sesuai dengan tujuan kehadiran manusia dipentas bumi ini.
a. Tokoh pribadi
1) Para Nabi dan Rasul Allah, QS. Al Hadid (57) : 25, QS. Ali Imran (3) : 84, QS. Al Anam (6) :83-
86

Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang
nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya
manusia dapat melaksanakan keadilan (QS. Al Hadid (57) : 25)


Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada Kami
dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa
yang diberikan kepada Musa, Isa dan Para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-
bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah Kami menyerahkan diri."
(QS. Ali Imran (3) : 8)


83. Dan Itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi
kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. 84. Dan Kami telah menganugerahkan
Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk;
dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari
keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah
Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 85. Dan Zakaria, Yahya, Isa

38
Ulumul Quran

dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh. 86. Dan Ismail, Alyasa', Yunus dan
Luth. masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)
2) Firaun, QS. An Naziat (79) : 20-25


20. Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. 21. Tetapi Firaun
mendustakan dan mendurhakai. 22. Kemudian Dia berpaling seraya berusaha menantang
(Musa). 23. Maka Dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil
kaumnya. 24. (seraya) berkata:"Akulah Tuhanmu yang paling tinggi". 25. Maka Allah
mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.
3) Luqman, QS. Luqman (31) : 13

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.
4) Maryam, QS. Mayam (19) : 16-21


16. Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, Yaitu ketika ia menjauhkan diri
dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, 17. Maka ia Mengadakan tabir (yang
melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma
di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. 18. Maryam berkata:
"Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu
seorang yang bertakwa". 19. Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang
utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci". 20. Maryam
berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang
manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" 21. Jibril berkata:
"Demikianlah". Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami
menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu
adalah suatu perkara yang sudah diputuskan".
b. Komunitas
1) Keluarga Imran, QS Ali Imran (3) : 33-36

39
Ulumul Quran

33. Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran
melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), 34. (sebagai) satu keturunan yang
sebagiannya (turunan) dari yang lain. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
35. (ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan
kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat
(di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah
yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". 36. Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan
anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak
perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki
tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku
mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)
Engkau daripada syaitan yang terkutuk."
2) Kaum Sodom, QS. Hud (11) :78-79


78. Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. dan sejak dahulu mereka
selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: "Hai kaumku, Inilah puteri-
puteriku, mereka lebih suci bagimu, Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu
mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. tidak Adakah di antaramu seorang yang
berakal?" 79. Mereka menjawab: "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa Kami tidak
mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan Sesungguhnya kamu tentu
mengetahui apa yang sebenarnya Kami kehendaki."
3) Kaum Aad, QS. Hud (11) :50


Dan kepada kaum 'Ad (kami utus) saudara mereka, Huud. ia berkata: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. kamu hanyalah mengada-
adakan saja.
4) Kaum Tsamud, QS. Hud (11) :61


Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan
kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah
ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat
(rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."
5) Peradaban Madyan, QS. Hud (11) :84


Dan kepada (penduduk) Mad-yan (kami utus) saudara mereka, Syu'aib. ia berkata: "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. dan janganlah kamu
kurangi takaran dan timbangan, Sesungguhnya aku melihat kamu dalam Keadaan yang
baik (mampu) dan Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang
membinasakan (kiamat). " Wallahu alam

40
Ulumul Quran

BAB 3
WAHYU: CARA DITURUNKAN DAN PENYAMPAIANNYA

A. Pengertian Wahyu
Wahyu atau al-wahy adalah kata mashdar (infinitif); dan materi katanya menunjukkan dua
pengertian dasar, yaitu ( tersembunyi dan cepat).51 T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy
menyatakan bahwa wahyu itu ialah yang dibisikkan ke dalam sukma, diilhamkan dan isyarat cepat yang
52
lebih mirip kepada dirahasikan daripada dilahirkan. Menurut M Quraish Shihab kata al-wahy isyarat
53
yang cepat, surat, tulisan, dan segala sesuatu yang disampaikan kepada orang lain untuk diketahui.
Dalam Al-Quran, kata wahy digunakan dalam beragam pengertian diantaranya :
1. Ilham Fithriah bagi manusia


Dan Kami wahyukan (berikan ilham) kepada ibu Musa agar ia menyusuinya (QS Al-Qashash:7)
2. Instink bagi hewan


Dan Tuhanmu telah mewahyukan (memberikan instink) kepada lebah, buatlah sarang-sarang di
bukit-bukit dan di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia (Q.S. Al-Nahl :
68).
3. Isyarat


Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia wahyukan (memberi isyarat) kepada mereka;
hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang (QS. Maryam: 11).
4. Bisikan/ rayuan setan


Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis)
manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain
perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki,
niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-
adakan (Q.S. Al-Anam : 112)
Dalam al-Quran tercantum ada 15 bentuk kata yang berasal dari akar kata wayu, yaitu awh,
awhaitu, awhaina, nhi, nhihi, nuhiha, layhuna, yhi, fayhiya, hiya, yha, yh, wahyun, wahyin,
54
wahyan, wahyina, wahyuhu.
Dalam pengertian wahy secara istilah, para Ulama memberikan definisi sebagai berikut:
1. Menurut Muhammad Abduh
Wahyu adalah pengetahuan yang didapat seseorang di dalam dirinya serta diyakini bahwa
pengetahuan tersebut datangnya dari Allah, baik dengan perantaraan, dengan suara atau tanpa
55
suara, maupun tanpa perantaraan.

51
Mann al-Qaththn, Mavhi f Ulm al-Qurn (Cet. III; Bairt: Mansyrat al-Ashr al-hadah, 1973): 32
52 Ash-Shiddieqy,T.M. Hasbi. 1980. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir. Jakarta: Bulan Bintang Cet. VIII : 24
53 Shihab, M. Quraish et.al. 2000. Sejarah dan Ulum Al-Quran, Jakarta: Pustaka Firdaus, Cet. II : 48
54 Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah. 1992. Ensiklopedi islam Indonesia. Jakarta: Djambatan. Cet. I
55 Ibid: 48

41
Ulumul Quran

2. Menurut TM. Hasbi Ash-Shiddieqy


Wahyu adalah nama bagi sesuatu yang dituangkan dengan cara cepat dari Allah ke dalam dada nabi-
56
nabi-Nya, sebgaimana diperghunakan juga untuk lafaz Al-Quran.
Jika definisi ini dipadukan dengan pengertian wahyu menurut bahasa atau yang digunakan oleh Al-
Quran sendiri, maka secara definitif, wahyu dapat diartikan sebagai Pemberitahuan Tuhan kepada
nabi/rasul-Nya tentang hukum-hukum Tuhan, berita-berita dan cerita-cerita dengan cara yang samar
tetapi meyakinkan, bahwa apa yang diterimanya benar-benar dari Tuhan. Pemberitahuan tersebut
bersifat ghaib, rahasia dan berlangsung sangat cepat. Pengertian demikian ini juga digunakan dalam Al-
Quran, antara lain pada ayat :


Sesungguhnya Kami Telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami juga
telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahny;, dan Kami telah memberikan
wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yaqub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan
Sulaiman, dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. Al-Nisa: 163)
Dari keterangan diatas menunjukkan bahwa konsep wahy dalam Islam mengandung dua unsur
utamanya, yaitu pemberi berita (Allah SWT) dan penerima berita (Nabi), sehingga tidak dimungkinan
terjadinya wahyu tanpa keduanya atau menafikan salah satunya. Dari sini jelas pula bahwa wahyu harus
dibedakan dengan ilham yang memancar dari akal tingkat tinggi, atau dari apa yang sering disebut-sebut
para orientalis (yang sebetulnya mengikuti kaum musyrik dan kafir pada zaman Nabi Muhammad SAW)
sebagai daya imajinasi dan khayalan kreatif (creative imagination), dan kondisi kejiwaan tertentu
dimana seseorang seakan-akan melihat malaikat kemudian mendengar atau memahami sesuatu
darinya, atau al-way al-nafsi yang sering dituduhkan kepada Nabi Muhammad SAW, dulu maupun
kini. Oleh karenanya, kemudian sebagian diantara mereka menyebutnya sebagai imajinasi penyair
(shair), halusinasi mimpi (adghathu ahlam), dukun dan tukang sihir. Bahkan ada sebagian lagi dari
mereka yang secara kasar dan pejorative mengatakan bahwa kondisi tersebut adalah semacam
gangguan jiwa yang mereka sebut dengan berbagai macam sebutan, seperti epilepsi (al-sar) dan
gila (al-junn), sebagaimana yang direkam dengan jelas dalam al-Quran sendiri
Tentu anggapan-anggapan dan tuduhan-tuduhan semacam ini sangat ringkih,5 karena tidak
berdasar apapun (baseless) selain untuk menolak dan menggugat kesucian dan otoritas wahyu yang
diterima Rasulullah SAW, khususnya Al-Quran. Dengan menafikan adanya unsur di luar diri seorang nabi,
yakni Allah SWT, mereka ingin menegaskan bahwa apa yang diklaimnya sebagai wahyu adalah hasil
produksi olah-pikir/ imaginasi dirinya sendiri, yang dengan demikian secara substansial tidak beda
dengan umumnya produk pemikiran manusia, dan sesuatu yang dapat diusahakan secara sungguh-
sungguh untuk dihasilkan (muktasab) oleh siapa saja yang mampu.
Maka dari itu, untuk mementahkan tuduhan-tuduhan miring tersebut, begitu juga untuk
mengantisipasi munculnya tuduhan-tuduhan serupa di masa mendatang, sejak dini Allah SWT sendiri
dalam Al-Quran telah menyatakan, bahwa Al-Quran itu diturunkan, atau Allah SWT
menurunkannya, dan proses pewahyuannya dengan menggunakan kata kerja bentuk anzala dan
nazzala dengan berbagai variasinya, seperti anzalna, anzaltu nazzalna, tanzil. Bagi siapa saja
yang faham kaedah bahasa Arab dengan benar, secara otomatis akan faham bahwa dalam proses
pewahyuan ini ada unsur di luar Muhammad SAW yang aktif sebagai pemberi atau sumber utama yang
otoritatif, yaitu Allah SWT. Harus segera disusulkan di sini bahwa memang ada dua ayat dalam Al-Quran
yang berkaitan dengan turunnya wahyu kepada Nabi SAW yang menggunakan kata kerja bentuk

56 Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi op. cit: 27

42
Ulumul Quran

57 58
nazala, yaitu dalam surah Al-Isra :105 dan Asy-Syuara :92, yang seakan-akan jika difahami secara
terpisah atau out of context mengindikasikan wahyu datang sendirinya tanpa ada fihak yang bertanggung
jawab sebagi sumbernya. Namun dengan memahami dua ayat tersebut dalam konteks maka anggapan
59
ini segera gugur dengan sendirinya.

B. Macam-macam Wahyu
Allah SWT menerangkan bahwa sebagaimana Dia menurunkan wahyu kepada Rasul-rasul terdahulu
Dia menurunkan juga wahyu kepada Nabi Muhammad berupa Al-Quran sebagai rahmat Nya, seperti
informasi Al Quran dal QS Asy Syuara: 51,


51. dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali
dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan
(malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya
Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (QS. Asy Syuraa: 51)
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa wahyu terbagi dalam 3 macam:
1. Tanpa prantara antara Allah dan rasul Nya.
Allah SWT menanamkan ke dalam hati sanubari seorang Nabi suatu pengertian yang tidak
diragukannya bahwa yang diterimanya adalah dari Allah SWT. Seperti halnya yang terjadi dengan
Nabi Muhammad saw Sabda beliau:








Sesungguhnya Ruhul Qudus telah menghembuskan ke dalam lubuk hatiku bahwasanya seseorang
tidak akan meninggal dunia hingga dia menerima dan menjalin dengan sempurna rezeki dan
ajalnya, maka bertakwalah kepada Allah SWT dan berusahalah dengan cara yang sebaik-baiknya.
(H.R. Ibnu Hibban)
2. Terdengar dari Balik Tabir Gaib.
Di balik tabir yakni dengan cara mendengar dan tidak melihat siapa yang berkata, tetapi
perkataannya itu didengar, seperti halnya Allah berbicara dengan Nabi Musa, Firman Allah,


Dan tatkala Musa datang untuk munajat dengan Kami di waktu yang telah Kami tentukan dan
Tuhan telah berfirman langsung kepadanya, Musa berkata, Wahai Tuhan tampakkanlah Diri-Mu
kepadaku agar aku dapat melihat-Mu. (QS. Al-Araf : 143)
3. Melalui Perantara Malaikat.
Allah SWT mengutus seorang utusan berupa malaikat Jibril, maka utusan itu menyampaikan wahyu
kepada siapa yang dikehendaki Nya, sebagai mana halnya Jibril turun kepada Nabi Muhammad dan
kepada Nabi yang lain baik dengan menamppakan wujud aslinya atau tidak.

57 dan Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. dan

Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.
58 dan dikatakan kepada mereka: "Dimanakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya)
59 Thoha, Anis Malik, Konsep Wahyu dan Nabi dalam Islam Makalah ini disampaikan sebagai materi Kuliah Peradaban yang

diselenggarakan oleh Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) - INSISTS, Semarang, tanggal 2-3 Juni 2007

43
Ulumul Quran

C. Cara Penyampaian Wahyu


1. Taklimullah
Taklimullah (Allah swt berbicara langsung) kepada Nabi-Nya dari belakang hijab. Yaitu Allah
menyampaikan apa yang hendak Dia sampaikan, baik dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan
tidur.
Sebagai contoh dalam keadaan terjaga, yaitu seperti ketika Allah berbicara langsung dengan Musa as,
dan juga dengan Nabi Muhammad saw pada peristiwa Isra' dan Mi'raj. Allah berfirman tentang Nabi
Musa:


" Dan Allah swt telah berbicara kepada Musa dengan langsung"(QS. An-Nisa`: 164).

2. Melalui Perantaraan Malaikat


Allah SWT menyampaikan risalah-Nya melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan ini meliputi beberapa
cara, yaitu:
a. Malaikat Jibril menampakkan diri dalam wujud aslinya. Cara seperti ini sangat jarang terjadi, dan
hanya terjadi dua kali. Pertama, saat Malaikat Jibril mendatangi Nabi saw setelah masa vakum
dari wahyu, yaitu setelah Surat al 'Alaq diturunkan, lalu Nabi saw tidak menerima wahyu
beberapa saat. Masa ini disebut masa fatrah. Kedua, Rasulullah saw melihat Malaikat Jibril dalam
wujud aslinya, yaitu saat Rasulullah saw dimi'rajkan.


13. dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, 14. (yaitu) di Sidratil Muntaha 15. di dekatnya ada syurga tempat tinggal,16.
(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.17.
penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula)
melampauinya.18. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan)
Tuhannya yang paling besar.
b. Malaikat Jibril as terkadang datang kepada Nabi saw dalam wujud seorang lelaki. Dalam
penyampaian wahyu seperti ini, semua sahabat yang hadir dapat melihatnya dan mendengar
perkataannya, akan tetapi mereka tidak mengetahui hakikat permasalahan ini. Sebagaimana
diceritakan dalam hadis Jibril yang masyhur, yaitu berisi pertanyaan tentang iman, Islam dan
ihsan. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
c. Malaikat Jibril mendatangi Nabi saw, namun ia tidak terlihat. Nabi saw mengetahui kedatangan
Malaikat Jibril dengan suara yang mengirinya. Terkadang seperti suara lonceng, dan terkadang
seperti dengung lebah. Inilah yang terberat bagi Rasulullah saw, sehingga dilukiskan saat
menerima wahyu seperti ini, wajah Rasulullah saw berubah. Meski pada cuaca yang sangat dingin,
beliau saw bermandikan keringat, dan pada saat itu bobot fisik Rasulullah saw berubah secara
mendadak. Sebagaimana diceritakan oleh salah seorang sahabat, yaitu Zaid bin Tsabit ra, dia
berkata : "Allah swt menurunkan wahyu kepada Rasulullah saw, sementara itu paha beliau saw
sedang berada di atas pahaku. Lalu paha beliau saw menjadi berat, sampai aku khawatir pahaku
akan hancur".(HR. Bukhari).

3. Dibisikkan ke dalam Hati


Wahyu disampaikan dengan cara dibisikkan ke dalam kalbu. Yaitu Allah swt atau Malaikat Jibril
meletakkan wahyu yang hendak disampaikan ke dalam kalbu Nabi saw disertai pemberitahuan
bahwa, ini merupakan dari Allah swt. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam
kitab al Qana'ah, dan Ibnu Majah, serta al Hakim dalam al Mustadrak. Rasulullah saw bersabda :

44
Ulumul Quran



:





"Sesungguhnya Ruhul Quds (Malaikat Jibril) meniupkan ke dalam kalbuku : "Tidak akan ada jiwa
yang mati sampai Allah swt menyempurnakan rizkinya. Maka hendaklah kalian bertakwa kepada
Allah, dan carilah rizki dengan cara yang baik. Janganlah keterlambatan rizki membuat salah
seorang di antara kalian mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah swt. Sesungguhnya
apa yang di sisi Allah swt tidak akan bisa diraih, kecuali dengan mentaati-Nya".
4. Berbentuk Ilham
Wahyu diberikan Allah SWT dalam bentuk ilham yakni Allah SWT memberikan ilmu kepada Nabi saw,
60
saat beliau berijtihad pada suatu masalah.

5. Melalui Mimpi
Wahyu diturunkan melalui mimpi. Yakni Allah swt terkadang memberikan wahyu kepada para nabi-
Nya dengan perantaraan mimpi. Sebagai contoh, yaitu wahyu yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim
as agar menyembelih anaknya. Peristiwa ini diceritakan oleh Allah SWT:


"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash
Shaffat: 102).
6. Menyerupai Suara Gemerincing Lonceng
Wahyu datang menyerupai bunyi gemerincing lonceng. Ini merupakan cara penyampaian wahyu yang
paling berat dan malaikat tidak terlihat oleh pandangan Nabi saw. hingga dahi beliau berkerut
mengeluarkan keringat walaupun saat itu cuaca sangat dingin, bahkan hewan tunggangan yang beliau
naiki tak kuasa berderum ke tanah. Dalam Shahih Bukhari disebutkan wahyu seperti ini juga pernah
datang saat Nabi saw. sedang meletakkan kakinya ditopang badan Zaid bin Tsabit ra. sehingga Zaid
merasa keberatan dan hampir saja dia tidak kuat menyangganya.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Siti 'Aisyah ra. bahwa, Al Harits bin Hisyam
bertanya kepada Nabi saw, ujarnya: "Bagaimana cara wahyu datang kepada engkau? jawab
Rasulullah sa: "Kadang-kadang wahyu datang kepadaku sebagai bunyi gemerincing lonceng. Itulah
yang sangat berat bagiku. Setelah ia berhenti, aku telah mengerti apa yang telah dikatakan Nya;
kadang-kadang malaikat merupakan dirinya kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara
kepadaku, maka aku mengerti apa yang dibicarakannya". Berkata Aisyah ra, sesungguhnya saya lihat
Nabi ketika turun Kepadanya wahyu di hari yang sangat dingin, kemudian setelah wahyu itu terhenti
terlihat dahinya bercucuran keringat.

60 Salah satu contoh ucapan Muhammad yang disampaikan dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa, bukan sebagai utusan

Allah, adalah ketika akan terjadi perang Khandaq. Muhammad menginstruksikan kepada prajuritnya untuk membuat pertahanan di
dalam kota. Namun instruksi ini dipertanyakan oleh salah seorang tentaranya, dengan berkata: Ya Rasulallah, apakah instruksi ini
merupakan wahyu dari Allah? Muhammad menjawab, Bukan. Lalu tentara tadi mengusulkan agar pertahanan dilakukan di luar kota,
karena kalau bertahan di dalam kota, walaupun menang dalam peperangan tetapi akan menyebabkan hancurnya kota. Karena itu
dibuatlah parit (Khandaq) sebagai benteng pertahanan di luar kota

45
Ulumul Quran

D. Hubungan Akal dan Wahyu


Kedudukan antara wahyu dalam islam sama-sama penting. Karena islam tak akan terlihat sempurna
jika tak ada wahyu maupun akal. Dan kedua hal ini sangat berpengaruh dalam segala hal dalam islam.
Dapat dilihat dalam hukum islam, antar wahyu dan akal ibarat penyeimbang. Andai ketika hukum islam
berbicara yang identik dengan wahyu, maka akal akan segerah menerima dan mengambil kesimpulan
bahwa hal tersebut sesuai akan suatu tindakan yang terkena hukum tersebut.karena sesungguhnya akal
dan wahyu itu memiliki kesamaan yang diberikan Allah namun kalau wahyu hanya orang-orang tertentu
yang mendapatkanya tanpa seorangpun yang mengetahui, dan akal adalah hadiah terindah bagi setiap
manusia yang diberikan Allah.
Dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian bukan berarti akal diberi
kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal
sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat islam dalam
permasalahan apapun. Dan Wahyu baik berupa Al-Quran dan Hadis bersumber dari Allah SWT, pribadi
Nabi Muhammad SAW yang menyampaikan wahyu ini, memainkan peranan yang sangat penting dalam
turunnya wahyu. Wahyu merupakan perintah yang berlaku umum atas seluruh umat manusia, tanpa
mengenal ruang dan waktu, baik perintah itu disampaikan dalam bentuk umum atau khusus. Apa yang
dibawa oleh wahyu tidak ada yang bertentangan dengan akal, bahkan ia sejalan dengan prinsip-prinsip
akal. Wahyu itu merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak terpisah-pisah.Wahyu itu menegakkan
hukum menurut kategori perbuatan manusia. baik perintah maupun larangan. Sesungguhnya wahyu
yang berupa Al-Quran dan as-sunnah turun secara berangsur-angsur dalam rentang waktu yang cukup
panjang. " Wallahu alam

46
Ulumul Quran

BAB 4
SEJARAH NUZULUL QURAN

A. Pengertian Nuzulul Quran


Secara etimologis, kata Nuzul memiliki beberapa pengertian. Menurut Ibn Faris, kata Nuzul
61
berarti hubuth syay wa wuquuh, turun dan jatuhnya sesuatu. Sedang menurut al-Raghib al-Isfahaniy,
62
kata Nuzul berarti al-inhidar min ulw ila asfal, meluncur atau turun dari atas kebawah. Nuzul dalam
pengertian ini dapat di jumpai dalam QS. Al Baqarah: 22.


Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia
menurunkan air (hujan) dari langit.
Dari uraian diatas Nuzulul Quran adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting penurunan
wahyu Allah pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Adapun mengenai waktu atau tanggal tepatnya
kejadian tersebut, terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama, sebagian menyakini peristiwa
tersebut terjadi pada bulan Rabiul Awal pada tanggal 18 (berdasarkan riwayat Ibnu Umar), sebagian
lainnya pada bulan Rajab pada tanggal 17 atau 27 menurut riwayat Abu Hurairah, dan lainnya
adalah pada bulan Ramadhan tanggal 17 (Al Bara bin Azib).

B. Sejarah Nuzulul Quran


Al-Quran turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Oleh para ulama
membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode
Mekkah berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada
waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah
63
berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.
Sejarah sendiri telah membuktikan bahwa Nabi Muhammad menerima wahyu tidak secara
64
sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang panjang tersebut. Di samping itu,
bukti turunnya Al-Quran secara bertahap adalah adanya ayat pertama dan terakhir yag diturunkan.
Menurut tarikh Islam, Al-Quran turun untuk pertama kali pada tanggal 17 Ramadhan di saat Muhammad
65
SAW sedang berkhalwat di gua Hira. Rangkaian ayat-ayat yang turun peratama adalah ayat 1-5 QS.
66 67
Al Alaq. Sedang ayat terakhir turun terdapat pada ayat ke-3 QS. Al Maidah ketika Nabi SAW sedang
melaksanakan haji perpisahan (wada)

61 Ibn Zakariya, Abi al-Hussein Ahmad Ibn Faris. Maqoyis al-Lughoh. Bairut:Dar al-Ilm Li al-Malayyin, t.t :342.
62 Isfahaniy, Al-Raghib. 1982. al-Mufradat fi Alfadz Alquran al-Karim. Bairut: Dar al-Fikr: 824.
63 Selama masa itu Al-Quran mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan

terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr. Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Quran adalah
6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah
pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti
Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat. Untuk
memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Quran dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb
(biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Quran). Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub (seperempat),
an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat). Selanjutnya Al-Quran dibagi pula dalam 554 ruku, yaitu bagian yang terdiri atas
beberapa ayat. Setiap satu ruku ditandai dengan huruf ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku, sedang
surat yang pendek hanya berisi satu ruku. Nisf Al-Quran (tanda pertengahan Al-Quran), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal
walyatalattaf yang artinya: hendaklah ia berlaku lemah lembut.
64 Supiana dan M. Karman. 2002. Ulumul Quran. Bandung: Pustaka islamika: 57

65 Gua Hira yaitu gua yang terletak di Jabal Nur kurang lebih 2 km dari kota Makkah.
66 Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,

dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.
67 Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai

Islam itu Jadi agama bagimu.

47
Ulumul Quran

1. Menurut Periodesasi
a. Periode Pertama
Diketahui bahwa Muhammad saw., pada awal turunnya wahyu pertama (iqra'), belum dilantik
menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru merupakan seorang nabi yang tidak
ditugaskan untuk menyampaikan apa yang diterima.
Pada periode ini kandungan Al-Quran berkisar pada 3 masalah. Pertama, pendidikan kepribadian
68 69 70
bagi Rasulullah, QS.74:1-7, QS. 73:1-4), QS 26: 214-216. Kedua, pengetahuan pengetahuan
71 72
dasar mengenai sifat dan af'al Allah. Seperti pada QS. Al-A'la atau surah Al-Ikhlash. Ketiga,
keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islamiah, serta bantahan-bantahan secara umum
73
mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliah ketika itu. Seperti pada surah Al-Takatsur.
Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di
kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok:
1) Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran-ajaran Al-Quran.
2) Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran Al-Quran, karena kebodohan mereka
74
(QS. 21: 24), keteguhan mereka mempertahankan adat istiadat dan tradisi nenek moyang
75
(QS.43: 22), dan atau karena adanya maksud-maksud tertentu dari satu golongan seperti
yang digambarkan oleh Abu Sufyan: "Kalau sekiranya Bani Hasyim memperoleh kemuliaan
nubuwwah, kemuliaan apa lagi yang tinggal untuk kami."
3) Dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju daerah-daerah
sekitarnya.
b. Periode Kedua
Periode kedua dari sejarah turunnya Al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun, dimana terjadi
pertarungan hebat antara gerakan Islam dan jahiliah. Gerakan oposisi terhadap Islam
menggunakan segala cara dan sistem untuk menghalangi kemajuan dakwah Islamiah. Dimulai dari
fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para penganut ajaran Al-Quran ketika
76
berhijrah ke Habsyah dan pada akhirnya ke Madinah.

68 Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan sampaikanlah. Dan Tuhanmu agungkanlah. Bersihkanlah pakaianmu.

Tinggalkanlah kotoran (syirik). Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau
melaksanakan perintah-perintah Tuhanmu.
69 Wahai orang yang berselimut, bangkitlah, shalatlah di malam hari kecuali sedikit darinya, yaitu separuh malam, kuranq sedikit

dari itu atau lebih, dan bacalah Al-Quran dengan tartil.


70 Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat. Rendahkanlah dirimu, janganlah bersifat sombong kepada orang-orang

yang beriman yang mengikutimu. Apabila mereka (keluargamu) enggan mengikutimu, katakanlah: aku berlepas dari apa yang kalian
kerjakan.
71 Surah ke-7 yang diturunkan
72 Menurut hadis Rasulullah "sebanding dengan sepertiga Al-Quran", karena yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan

mengetahui pula persoalan-persoalan tauhid dan tanzih (penyucian) Allah SWT.


73 Satu surah yang mengecam mereka yang menumpuk-numpuk harta; dan surah Al-Ma'un yang menerangkan kewajiban

terhadap fakir miskin dan anak yatim serta pandangan agama mengenai hidup bergotong-royong.
74 Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: "Unjukkanlah hujjahmu! (Al Quran) ini adalah peringatan bagi

orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku". sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui
yang hak, karena itu mereka berpaling.
75 Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya Kami mendapati bapak-bapak Kami menganut suatu agama, dan Sesungguhnya Kami

orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka".


76 Hijrah ke Habasyah 1. Hijrah ini terjadi pada tahun kelima kenabian. Kaum muslimin yang berhijrah ada sebelas orang laki-laki

dan empat orang wanita. 'Utsman bin 'Affan dan istrinya Ruqayyah bintu Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasalam termasuk orang-orang
yang berhijrah pertama kali ke Habasyah. Hijrah ke Habasyah 2 Orang-orang yang berhijrah ke Habasyah mendengar berita bahwa
penduduk Makkah telah masuk Islam. Maka mereka pun kembali ke Makkah. Di antara mereka ada 'Utsman bin Mazh'un. Kemudian
mereka mendapati bahwa berita itu tidak benar. Sehingga mereka kembali lagi ke Habasyah. Jumlah kaum muslimin yang hijrah juga
bertambah. Ada 83 laki-laki dan 18 perempuan. Quraisy mengirim dua utusan kepada Raja Najasyi. Mereka adalah 'Amr bin Al 'Ash dan
Abdullah bin Abi Rabi'ah. Mereka meminta agar Najasyi mengembalikan kaum muslimin kepada mereka di Makkah. Namun Najasyi
menolak karena ia melihat kebenaran ada di pihak kaum muslimin. Mayoritas orang yang berhijrah ke Habasyah berhijrah ke Madinah
setelah agama Islam kokoh di Madinah. Ja'far bin Abi Thalib Rodhiyallahu 'anhu dan beberapa orang tertinggal di Habasyah. Mereka
baru ke Madinah pada saat penakhlukan Khaibar, di tahun ketujuh hijriyyah.

48
Ulumul Quran

Pada masa tersebut, ayat Al-Quran menerangkan kewajiban prinsipil penganutnya sesuai dengan
77
kondisi dakwah ketika itu, yakni mengajak ke jalan Allah (QS 16: 125), kecaman dan ancaman
78
yang pedas terus mengalir kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran (QS 41:13),
argumentasi mengenai keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat berdasarkan tanda-tanda yang
79
dapat mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, (QS 36:78-82). Disini terbukti bahwa ayat-ayat
Al-Quran telah sanggup memblokade paham-paham jahiliah dari segala segi sehingga mereka
tidak lagi mempunyai arti dan kedudukan dalam rasio dan alam pikiran sehat.
c. Periode Ketiga
Pada periode ini, dakwah Al-Quran telah dapat mewujudkan suatu prestasi besar karena
penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas melaksanakan ajaran-ajaran agama di Yatsrib
(kemudian berganti nama Al-Madinah Al-Munawwarah). Periode ini berlangsung selama 10
tahun, di mana timbul bermacam-macam peristiwa, problem dan persoalan. seperti: Prinsip-
prinsip apakah yang diterapkan dalam masyarakat demi mencapai kebahagiaan? Bagaimanakah
sikap terhadap orang-orang munafik, Ahl Al-Kitab, orang-orang kafir dan lain-lain, yang semua itu
diterangkan Al-Quran dengan cara yang berbeda-beda?
80
Beberapa ayat menggunakan kata-kata yang membangkitkan semangat (QS 9:13-14),
81
adakalanya pula merupakan perintah-perintah yang tegas (QS 5: 90-91), menerangkan akhlak
dan suluk yang harus diikuti oleh setiap Muslim dalam kehidupannya sehari-hari, (QS 24: 27),
82 83
jihad (QS 3:139-140), dan ajakan dialog kepada siapa saja yang enggan menolak ajaran ilahi
84
(QS 3:64)
2. Menurut Proses Turun kepada Nabi SAW
85
Menurut proses turunya, Al Quran di turunkan melalui tiga tahapan, yaitu:
a. Al-Quran diturunkan secara keseluruhan ke lauh mahfudh oleh Allah.
Q.S. Al-Buruj: 21-22

77 Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan hikmah dan tuntunan yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang

sebaik-baiknya
78 Bila mereka berpaling maka katakanlah wahai Muhammad: "Aku pertakuti kamu sekalian dengan siksaan, seperti siksaan yang

menimpa kaum 'Ad dan Tsamud"


79 Manusia memberikan perumpamaan bagi kami dan lupa akan kejadiannya, mereka berkata: "Siapakah yang dapat

menghidupkan tulang-tulang yang telah lapuk dan hancur?" Katakanlah, wahai Muhammad: "Yang menghidupkannya ialah Tuhan
yang menjadikan ia pada mulanya, dan yang Maha Mengetahui semua kejadian. Dia yang menjadikan untukmu, wahai manusia, api
dari kayu yang hijau (basah) lalu dengannya kamu sekalian membakar." Tidaklah yang menciptakan langit dan bumi sanggup untuk
menciptakan yang serupa itu? Sesungguhnya Ia Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya bila Allah menghendaki sesuatu
Ia hanya memerintahkan: "Jadilah!"Maka jadilah ia
80 Tidakkah sepatutnya kamu sekalian memerangi golongan yang mengingkari janjinya dan hendak mengusir Rasul, sedangkan

merekalah yang memulai peperangan. Apakah kamu takut kepada mereka? Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kamu
sekalian benar-benar orang yang beriman. Perangilah! Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan kamu sekalian serta menghina-
rendahkan mereka; dan Allah akan menerangkan kamu semua serta memuaskan hati segolongan orang-orang beriman
81 Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya minuman keras, perjudian, berhala-berhala, bertenung adalah perbuatan keji dari

perbuatan setan. Oleh karena itu hindarilah semua itu agar kamu sekalian mendapat kemenangan. Sesungguhnya setan tiada lain yang
diinginkan kecuali menanamkan permusuhan dan kebencian diantara kamu disebabkan oleh minuman keras dan perjudian tersebut,
serta memalingkan kamu dari dzikrullah dan sembahyang, maka karenanya hentikanlah pekerjaan-pekerjaan tersebut
82 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi

salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.
83 Janganlah kamu sekalian merasa lemah atau berduka cita. Kamu adalah orang-orang yang tinggi (menang) selama kamu

sekalian beriman. Jika kamu mendapat luka, maka golongan mereka juga mendapat luka serupa. Demikianlah hari-hari kemenangan
Kami perganti-gantikan di antara manusia, supaya Allah membuktikan orang-orang beriman dan agar Allah mengangkat dari mereka
syuhada, sesungguhnya Allah tiada mengasihi orang-orangyang aniaya
84
Katakanlah (Muhammad): "Wahai ahli kitab (golongan Yahudi dan Nasrani), marilah kita menuju ke satu kata sepakat diantara
kita yaitu kita tidak menyembah kecuali Allah; tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, tidak pula mengangkat sebagian
dari kita tuhan yang bukan Allah." Maka bila mereka berpaling katakanlah: "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim"
85 Syakur Sf, M. 2007. Ulumul Al-Quran, semarang : PKPI2-FAI Universitas Wahid Hasyim: 39

49
Ulumul Quran

21. bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, 22. yang (tersimpan) dalam
Lauh Mahfuzh.
b. Al-Quran diturukan dari lauh mahfudh ke langit dunia (bait Al izzah) pada lailatul qadr secara
keseluruhan.
QS. Al-Qadar: 1


86
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
c. Al-Quran diturunnkan secara berangsur-angsur dari langit dunia (Baitul Izzah) melalui Malaikat
jibril as, kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun.
QS. Al Isra ayat 106


106. dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi
bagian.
Q.S. Asy-Syuara: 193-195


193. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), 194. ke dalam hatimu (Muhammad) agar
kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, 195. dengan
bahasa Arab yang jelas.
Riwayat Imam Hakim dan Imam Baihaqi melalui ibnu Abbas ra,:


Al Quran diturunkan dalam bentuk keseluruhan kelangit dunia yang berada pada tempat bintang-
bintang, sedangkan allah menurunkannya kepada rasulNya sebagian demi sebagian
Perbedaan turunnya Al-Quran secara sekaligus dan berangsur-angsur disebabkan karena merujuk
kepada dua kata anzala dan nazala dalam QS Al Isra : 105.

105. dan Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu telah turun
dengan (membawa) kebenaran. dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan.

Pakar Bahasa Arab, Raghib Al-Asfahani perbedaan dua kata tersebut, kata inzal dan tanzil.
Kata tanzil ( ) dimaksudkan berkenaan turunya Al-Quran secara berangsur-angsur (
),
atau ( ) . Sedangkan kata inzal ditujukan berkenaan turunya Al-Quran secara sekaligus ( ).

C. Hikmah Diturunkan Al-Quran secara Gradual


1. Menguatkan hati Nabi SAW
Dengan turunnya wahyu secara bertahap menurut peristiwa, kondisi, dan situasi yang mengiringinya,
tentu hal itu lebih sangat kuat menancap dan sangat terkesan di hati sang penerima wahyu tersebut,
yakni Muhammad SAW. Dengan begitu turunnya malaikat kepada beliau juga lebih sering (intens),
yang tentunya akan membawa dampak psikologis, terbaharui semangatnya dalam mengemban
risalah dari sisi Allah. Beliau tentunya juga sangat bergembira yang sulit diungkapkan dengan kata-
kata. Karena itu saat-saat yang paling baik di bulan Ramadhan, ialah seringnya perjumpaan beliau
dengan malaikat Jibril.

86 Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan,

kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran.

50
Ulumul Quran


Orang-orang kafir berkata, kenapa Al Quran tidak turun kepadanya sekali turun saja? Begitulah,
supaya kami kuatkan hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan
benar). (QS. Al-Furqaan: 32)
2. Menantang siapa yang mengingkari Al-Quran
Karena menurut mereka aneh kalau kitab suci diturunkan secara berangsur-angsur. Dengan begitu
Allah menantang mereka untuk membuat satu surat saja yang (tak perlu melebihi) sebanding
dengannya. Dan ternyata mereka tidak sanggup membuat satu surat saja yang seperti Quran, apalagi
membuat langsung satu kitab.


23. dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba
Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-
87
penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
3. Mudah dihafal dan dipahami.
Proses turunnya Quran secara berangsur-angsur, sangatlah mudah bagi manusia untuk menghafal
serta memahami maknanya. Lebih-lebih bagi orang-orang yang buta huruf seperti orang-orang arab
pada saat itu; Quran turun secara berangsur-angsur tentu sangat menolong mereka dalam
menghafal serta memahami ayat-ayatnya. Memang, ayat-ayat Quran begitu turun oleh para sahabat
langsung dihafalkan dengan baik, dipahami maknanya, lantas dipraktekkan langsung dalam
kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya Umar bin Khattab pernah berkata: Pelajarilah Al-Quran lima
ayat-lima ayat. Karena Jibril biasa turun membawa Quran kepada Nabi SAW 5 ayat-5 ayat. (HR.
Baihaqi)
4. Meningkatkan semangat dan motifasi dalam menerima Al-Quran dan giat mengamalkannya.
Dengan begitu kaum muslimin waktu itu memang senantiasa menginginkan serta merindukan
turunnya ayat-ayat Al-Quran. Apalagi pada saat memerlukannya karena ada peristiwa yang sangat
menuntut penyelesaian wahyu, seperti ayat-ayat mengenai kabar bohong yang disebarkan oleh kaum
munafik untuk memfitnah Aisyah isteri Nabi, dan ayat-ayat tentang lian.
5. Mengiringi kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum.
Al-Quran turun secara berangsur-angsur; yakni dimulai dari masalah-masalah yang sangat penting
kemudian menyusul masalah-masalah yang penting. Nah, karena masalah yang sangat pokok dalam
Islam adalah masalah Iman, maka pertama kali yang diprioritaskan oleh Al-Quran ialah tentang
keimanan kepada Allah, malaikat, iman kepada kitab-kitab, para rasul, iman kepada hari akhir,
kebangkitan dari kubur, serta surga dan neraka. Hal itu didukung dengan dalil-dalil yang rasional yang
tujuan untuk mencabut kepercayaan jahiliyah yang berpuluh-puluh tahun telah menancap di hati
orang-orang musyrik untuk ditanami/ diganti dengan benih-benih akidah Islamiyah.
Setelah akidah Islamiya itu tumbuh dan mengakar di hati, baru Allah menurunkan ayat-ayat yang
memerintah berakhlak yang baik dan mencegah perbuatan keji dan mungkar untuk membasmi
kejahatan serta kerusakan sampai ke akarnya. Juga ayat-ayat yang menerangkan halal haram pada
makanan, minuman, harta benda, kehormatan, darah/pembunuh dan sebagainya. Begitulah Quran
diturunkan sesuai dengan kejadian-kejadian yang mengiringi perjalanan jihad panjang kaum muslimin
dalam memperjuangkan agama Allah di muka bumi.

87
Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun
dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW

51
Ulumul Quran

Pada periode penerimaan wahyu sebelum Nabi SAW hijrah materi wahyu difokuskan untuk
menjelaskan perkara iman, akidah tauhid, bahaya syirik, dan menerangkan apa yang halal dan haram.
Kemudian wahyu yang menerangkan hukum-hukum secara rinci, baru menyusul turun setelah Nabi
SAW melaksanakan hijrah (madaniyah) diantaranya tentang utang piutang dan pengharaman riba,
88
masalah larangan zina (QS. Al Isra: 32) , dan larangan memgkonsumsi minuman yang memabukkan
89 90 91 92
(QS. An-Nahl: 67, QS. Al-Baqarah: 219, QS. An-Nisaa: 43, QS. Al Maidah: 90 ).

D. Al-Quran pada Masa Nabi Muhammad SAW


Rasullullah telah mengangkat para penulis wahyu Quran dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti
Ali Bin Abi Thalib, Muawiyah Bin Abi Sofyan, 'Ubai bin Ka'ab dan Zaid bin Sabit, bila ayat turun Nabi SAW
93
memerintahkan mereka menulisnya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah (tauqifi) ,
sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan di dalam hati. Disamping itu sebagian
sahabatpun menuliskan Al-Quran yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh
nabi SAW, mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun
kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Sabit, "Kami menyusun Quran dihadapan
Rasulullah pada kulit binatang."
Jibril membacakan Quran kepada Rasulullah pada malam-malam bulan Ramadan setiap tahunnya.
Abdullah bin Abbas berkata, "Rasulullah adalah orang paling pemurah, dan puncak kemurahan pada
bulan Ramadan, ketika ia ditemui oleh Jibril. Ia ditemui oleh Jibril setiap malam; Jibril membacakan
Quran kepadanya, dan ketika Rasulullah ditemui oleh Jibril itu ia sangat pemurah sekali. Para sahabat
senantiasa menyodorkan Quran kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan." Tulisan-
tulisan Quran pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf yang ada pada seseorang belum
tentu dimiliki orang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di antaranya
Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka'ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas'ud telah
menghafalkan seluruh isi Quran di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Sabit
adalah orang yang terakhir kali membacakan Quran di hadapan Nabi, diantara mereka yang disebutkan
di atas.
Kegiatan tulis menulis Al-Quran tadi didasarkan pada Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim:

Janganlah kamu menulis sesuatu yang berasal dariku, kecuali Al-Quran. Barangsiapa telah
menulis dariku selain Al-Quran, hendaklah ia menghapusnya (HR. Muslim).

E. Al-Quran pada Masa Khulafaur Rasyidin


1. Pada masa pemerintahan Abu Bakar
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal
dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Quran dalam
jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan
tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Quran yang saat

88
Jangan kau mendekati zina. Karena sesungguhnya zina satu perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.
89
Dan dari buah kurma serta anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik
90
Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah bahwa pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa
manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar dari pada manfaatnya.
91
Hai orang-ornag yang beriman, janganlah kalian shalat ketika kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian mengerti apa yang
kalian ucapkan.
92
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minum) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan
panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Oleh kraena itu, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat
keberuntungan.
93 Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari 114 surah dan susunannya ditentukan oleh Allah SWT. dengan cara tawqifi, tidak

menggunakan metode sebagaimana metode-metode penyusunan buku-buku ilmiah. Buku-buku ilmiah yang membahas satu masalah,
selalu menggunakan satu metode tertentu dan dibagi dalam bab-bab dan pasal-pasal. Metode ini tidak terdapat di dalam Al-Quran Al-
Karim, yang di dalamnya banyak persoalan induk silih-berganti diterangkan.

52
Ulumul Quran

itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai
koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Quran tersusun
secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf
tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah
penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad
SAW.
Pengumpulan mushaf oleh Abu Bakar berbeda dengan pengumpulam yang dilakukan Usman dalam
motif dan caranya. Motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya Quran karena
banyaknya para huffaz yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban dari para
Qari. Pengumpulan Quran yang dilakukan Abu Bakar ialah memindahkan satu tulisan atau catatan
Quran yang semula bertebaran di kulit-kulit binatang, tulang, dan pelepah kurma, kemudian
dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya yang tersusun serta terbatas
dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya serta terbatas dengan bacaan yang tidak
dimansukh dan tidak mencakup ketujuh huruf sebagaimana ketika Quran itu diturunkan.
2. Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan
Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara
pembacaan Al-Quran (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku
yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia
mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang
Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian
dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan
dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan
untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya
perselisihan di antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Quran.
Selanjutnya Utsman Bin Affan mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar
yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu
Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan
mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga
orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Quran turun dalam dialek
bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan
tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di
Madinah (mushaf al-Imam)." Wallahu alam

53
Ulumul Quran

BAB 5
ILMU ASABABUN NUZUL

A. Pengertian Asbabun Nuzul


94
Menurut bahasa (etimologi), asbabun nuzul berarti turunnya ayat-ayat Al-Quran. Kata asbabun
nuzul tersusun dari dua kata yakni, kata Asbab merupakan bentuk plural dari kata tunggal sebab, yang
secara kebahasaan bermakna: segala sesuatu yang dijadikan jalan yang dapat menghubungkan atau
95
menyampaikan kepada sesuatu lainnya. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surat al-
Baqarah [2] ayat 166,


166. (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan
mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
Perlu diperhatikan bahwa istilah sebab di sini, tidak sama dengan istilah sebab yang dikenal dalam
hukum sebab-akibat. Istilah sebab dalam hukum sebab-akibat mengandung pengertian keharusan
adanya sebab untuk menimbulkan adanya akibat dan suatu akibat tidak akan pernah terjadi tanpa ada
sebab yang mendahului. Bagi Al-Quran, meski diantara ayatnya yang turun didahului oleh sebab
tertentu, namun keberadaan sebab itu tidak mutlak adanya walaupun secara realita telah terjadi
peristiwanya. Adanya sebab bagi turunnya Al-Quran tak lain merupakan bentuk wujud nyata
kebijaksanaan Allah SWT dalam memberikan petunjuk kepada hamba-Nya. Dengan adanya sebab yang
mendahului, maka akan lebih tampak dan terasa kebenaran Al-Quran selaku petunjuk yang sesuai
dengan kebutuhan dan kesanggupan manusia.
Sedangkan kata nuzul, menurut bahasa setidaknya memilik dua pengertian, yaitu: (1) Gerakan
menurun dari suatu tempat yang tinggi ke tempat yang rendah (al-inhidar aw al-inhithath min uluwwin
ila safalin), seperti ungkapan , Si A turun dari atas gunung; dan (2) Mendiami,
menempati, atau mampir pada suatu tempat (al-hulul), sebagaimana dalam ungkapan
, Si A tinggal di kota. 96
Istilah ulum Al-Quran, ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama untuk
memberikan batasan makna Asbab al-Nuzul. Diantaranya adalah:
1. Menurut Abd Al-Azim Al-Zarqani:

Asbabun Nuzul adalah sesuatu, yang satu ayat atau beberapa ayat turun dalam rangka
berbicara tentangnya atau menjelaskan ketentuan-ketentuan hukum yang terjadi pada waktu
terjadinya peristiwa tersebut.
97
2. Menurut Dr. Subhi Al-Shaleh:


Asbabun Nuzul ialah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Quran
yang terkadang memang mengandung peristiwa itu atau sebagai jawaban pertanyaan darinya
atau sebagai penjelasan terhadap hokum-hukum yang terjadi pada saat terjadinya peristiwa
tersebut.
98
3. Menurut Manna Khalil Al-Qaththan:

94
Syadali, Ahmad dan Ahmad Rifai. 2006. Ulumul Quran I, Bandung: Pustaka Setia, 89.
95
Pusat Studi Al Quran. Asbabun Nuzul. www. PSQ. or.id
96
Ibid
97
As-Shalih, Subhi.1985. Membahas Ilmu-ilmu Al-Quran, Beirut, Pustaka Firdaus: 160.
98
Manna Khalil Al-Qattan. 2001. Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran. Bogor : Pustaka Litera Antar Nusa, 108

54
Ulumul Quran

Asbab al-Nuzul adalah sesuatu yang menyebabkan turunnya Al-Quran berkenaan dengannya
pada waktu terjadinya, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan
kepada Nabi Saw.
4. M. Hasbi Ash Shiddieqy mengartikan Asbabun Nuzul sebagai kejadian yang karenanya diturunkan Al-
Quran untuk menerangkan hukumnya di hari timbul kejadian-kejadian itu dan suasana yang
didalamnya Al-Quran diturunkan serta membicarakan sebab yang tersebut itu, baik diturunkan
99
langsung sesudah terjadi sebab itu ataupun kemudian lantaran sesuatu hikmah.
5. M. Quraish Shihab memperjelas pengertian asbab nuzul Al-Quran dengan cara memilah
peristiwanya. M. Quraish Shihab menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan asbab nuzul Al-
Quran adalah: (1) Peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat, di mana ayat tersebut
menjelaskan pandangan Al-Quran tentang peristiwa tadi atau mengomentarinya; (2) peristiwa-
peristiwa yang terjadi sesudah turunnya suatu ayat, di mana peristiwa tersebut dicakup
100
pengertiannya atau dijelaskan hukumnya oleh ayat tadi.
Meskipun berbagai definisi asbabun -Nuzul yang dikemukakan di atas tampak agak sedikit
berbeda, namun secara substansial semuanya sepakat untuk menyimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan asbabun Nuzul adalah suatu kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya suatu
ayat. Dan ayat itu sendiri merupakan jawaban, penjelasan, dan penyelesaian dari pada permasalahan
yang timbul dalam kejadian atau peristiwa tersebut.
101
Fakta sejarah menunjukkan, bahwa turunnya ayat-ayat Al-Quran itu ada dua macam:
1. Turunnya dengan didahului oleh suatu sebab.
Contoh ayat yang turun karena ada suatu peristiwa, ialah surat Al-Baqarah ayat 221.


Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya
wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan
janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum
mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia
menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan
dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia
supaya mereka mengambil pelajaran.
Peristiwa turunnya ayat ini ketika Nabi mengutus Murtsid Al-Ghanawi ke Mekkah bertugas untuk
mengeluarkan orang-orang Islam yang lemah. Setelah ia sampai di sana, ia dirayu oleh wanita
musyrik yang cantik dan kaya, tetapi ia menolak karena takut kepada Allah. Kemudian wanita
tersebut datang lagi dan meminta agar dia dikawini. Murtsid pada prinsipnya dapat menerimanya,
tetapi dengan syarat setelah mendapat persetujuan dari Nabi. Setelah ia kembali ke Madinah ia
menerangkan kasus yang dihadapi dan ia minta izin kepada Nabi untuk kawin dengan wanita itu.
2. Turunnya tanpa didahului oleh suatu sebab.
Ayat-ayat semacam ini banyak terdapat di dalam Al-Quran dan jumlahnya lebih banyak daripada
ayat-ayat hukum yang mempunyai Asbabun Nuzul. Misalnya ayat-ayat yang mengkisahkan hal ihwa
umat-umat terdahulu beserta para Nabinya, atau menerangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di
masa yang lalu, atau menceritakan hal-hal ghaib yang akan terjadi, atau menggambarkan keadaan
hari kiamat beserta nikmat surga dan siksaan neraka.
Asbabun Nuzul sangatlah erat kaitannya dengan kaidah penetapan hukum. Seringkali terdapat
kebingungan dan keraguan dalam mengartikan ayat-ayat Al-Quran karena tidak mengetahui sebab
turunnya ayat. Contoh, firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 115:

99
Ash Shiddieqy, T.M. Hasbi. 1993. Ilmu-Ilmu Al-Quran, Jakarta : Bulan Bintang, Cet.3, 17
100
Pusat Studi Al Quran, Op. Cit.
101
Zuhdi, Masfjuk. 1980. Pengantar Ulumul Quran, Surabaya, PT. Bina Ilmu: 37

55
Ulumul Quran


Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah
Allah. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Ayat tersebut turun berkenaan dengan suatu peristiwa yaitu beberapa orang mukmin menunaikan
shalat bersama Rasulullah saw. Pada suatu malam yang gelap gulita sehingga mereka tidak dapat
memastikan arah kiblat dan akhirnya masing-masing menunaikan shalat menurut perasaan masing-
masing sekalipun tidak menghadap arah kiblat karena tidak ada cara untuk mengenal kiblat. Seandainya
tidak ada penjelasan mengenai asbabun nuzul tersebut mungkin masih ada orang yang menunaikan
102
shalat menghadap ke arah sesuka hatinya dengan alasan firman Allah surat al-Baqarah ayat 115.

B. Fungsi Asbabun Nuzul dalam Memahami Al-Quran


Asbabun Nuzul merupakan bahan-bahan sejarah yang mencakup peristiwa-peristiwa yang terjadi
pada masa turunnya Al-Quran (ashr al-Tanzil) yang dapat dipakai untuk memberikan keterangan-
keterangan terhadap maksud dan pemahaman suatu ayat yang dilatarbelakanginya.
Asbabun Nuzul memiliki kedudukan (fungsi) yang penting dalam memahami/menafsirkan ayat-ayat
Al-Quran, sekurang-kurangnya untuk sejumlah ayat tertentu. Ada beberapa kegunaan yang dapat
dipetik dari mengetahui Asbabun Nuzul, diantaranya:
a. Mengetahui sisi-sisi positif (hikmah) yang mendorong atas pensyariatan hukum.
b. Dalam mengkhususkan hukum bagi siapa yang berpegang dengan kaidah: bahwasanya ungkapan
(teks) Al-Quran itu didasarkan atas kekhususan sebab, dan
c. Kenyataan menunjukkan bahwa adakalanya lafal dalam ayat Al-Quran itu bersifat umum, dan
terkadang memerlukan pengkhususan yang pengkhususannya itu sendiri justru terletak pada
103
pengetahuan tentang sebab turun ayat itu.

C. Klasifikasi Asbabun Nuzul Ayat dan Contohnya


Bentuk-bentuk peristiwa yang melatarbelakangi turunnya Al-Quran itu sangat beragam,
diantaranya berupa:
1. Konflik sosial, seperti ketegangan yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj.
2. Adanya suatu kesalahan fatal atau kesalahan pandangan yang membutuhkan arahan dan teguran,
seperti kasus salah seorang sahabat yang mengimami sholat dalam keadaan mabuk
3. Adanya kasus pencemaran nama baik, seperti yang dituduhkan kepada salah seorang Umm al-
Mukminin Siti Aisyah ra.
4. Adanya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad SAW, baik yang berkaitan
104
dengan sesuatu yang telah lewat, sedang, atau yang akan terjadi.
Mengetahui sebab-sebab turunnya ayat mempunyai peran yang sangat signifikan dalam memahami
Al-Quran. Di antara fungsi dan manfaatnya adalah mengetahui hikmah ditetapkannya suatu hukum. Di
samping itu, mengetahui asbab al-nuzul merupakan cara atau metode yang paling akurat dan kuat untuk
memahami kandungan Al-Quran. Alasannya, dengan mengetahui sebab, musabab atau akibat
105
ditetapkannya suatu hukum akan diketahui dengan jelas. Berikut ini paparan dua kisah yang dapat
dijadikan dasar bagi kita, betapa tanpa mengetahui sebab-sebab turunnya ayat, banyak mufasir yang
tergelincir dan tidak dapat memahami makna dan maksud sebenarnya dari ayat-ayat Al-Quran.
Pertama, kisah Marwan ibn Al-Hakam. Dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim
diceritakan bahwa Marwan pernah membaca firman Allah SWT, yang artinya:Janganlah sekali-kali kamu

102
Anwar, Rosihon. 2006. Ulumul Quran, Bandung: Pustaka Setia: 72
103
Suma, Muhammad Amin. 2004. Studi Ilmu-ilmu Al-Quran 3. Jakarta: Pustaka Firdaus, 111.
104
Pusat Studi Al Quran, Op. Cit.
105
Al-Maliki, Muhammad ibn Alawi. 2003. Samudra Ilmu-ilmu Al-Quran: Ringkasan kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Quran.
Bandung: Mizan Pustaka, 21-22.

56
Ulumul Quran

menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji
atas perbuatan yang belum mereka kerjakan terlepas dari siksa. Bagi mereka siksa yang pedih. (QS. Ali
Imran: 188). Setelah membaca ayat tersebut, Marwan berkata, Seandainya benar setiap orang yang
merasa gembira dengan apa yang telah dikerjakannya dan suka dipuji atas apa yang belum dilakukannya
akan disiksa, maka semua orang juga akan disiksa. Secara tekstual, apa yang dipahami Marwan adalah
benar. Namun, secara kontekstual tidaklah demikian. Ibn Abbas menjelaskan bahwa ayat tersebut
sebetulnya turun berkenaan dengan kebiasaan Ahl Al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam berbohong.
Yaitu, jika Nabi Muhammad SAW bertanya tentang sesuatu, mereka menjawab dengan jawaban yang
menyembunyikan kebenaran. Mereka seolah-olah telah memberi jawaban, sekaligus mencari pujian dari
Nabi dengan apa yang mereka lakukan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kedua, kisah Utsman ibn Mazhun dan Amr ibn Madikarib. Kedua sahabat ini menganggap bahwa
minuman keras (khamar) diperbolehkan dalam Islam. Mereka berdua berargumen dengan firman Allah
SWT, yang artinya:Tidak ada dosa atas orang-orang yang beriman dan beramal saleh mengenai apa yang
telah mereka makan dahulu. (QS. Al-Maidah: 93). Seandainya mereka mengetahui sebab turunnya ayat
tersebut, tentu tidak akan berpendapat seperti itu. Sebab, ayat tersebut turun berkenaan dengan
beberapa orang yang mempertanyakan mengapa minuman keras diharamkan? Lantas, apabila khamar
disebut sebagai kotoran atau sesuatu yang keji (rijs), bagaimana dengan nasib para syahid yang pernah
meminumnya? Dalam konteks itulah, QS. Al-Maidah turun untuk memberi jawaban. (HR. Imam Ahmad,
Al-Nasai, dan yang lain).
Begitu juga dengan firman Allah SWT yang artinya:Maka ke arah mana saja kamu berpaling atau
menghadap, di sana ada Wajah Allah (Kiblat/ Kabah). (QS. Al-Baqarah: 115). Seandainya sebab turun
ayat tersebut tidak diketahui, pasti akan ada yang berkata, Secara tekstual, ayat tersebut menunjukkan
bahwa orang yang melakukan shalat tidak wajib menghadap kiblat, baik di rumah maupun di
perjalanan. Pendapat seperti ini, tentu saja bertentangan dengan ijma(konsensus para ulama). Namun,
apabila sebab turunnya diketahui, menjadi jelas bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan
pelaksanaan shalat sunnah di perjalanan (safar). Selain itu, juga berkenaan dengan orang yang
melakukan shalat berdasarkan ijtihadnya, kemudian sadar bahwa dia telah keliru dalam berijtihad.
Untuk menambah wawasan tentang masalah Asbabun Nuzul dalam konteks rangkaian ayat dalam
Surah, berikut diketengahkan Asbabun Nuzul QS. Al Kafirun. Surat Al Kafirun terdiri atas 6 ayat, termasuk
golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Maa'uun. Dinamai Al Kaafiruun (orang-
orang kafir), diambil dari perkataan Al Kaafiruun yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya adalah pernyataan Allah yang disembah Nabi Muhammad SAW dan pengikut-
pengikutnya bukanlah apa yang disembah oleh orang-orang kafir, dan Nabi Muhammad SAW tidak akan
menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.
Sebab Turunnya Surah Ini (Asbabun Nuzul) adalah adanya kaum Quraisy berusaha mempengaruhi
Nabi saw. dengan menawarkan kekayaan agar beliau menjadi seorang yang paling kaya di kota Makkah,
dan akan dikawinkan dengan yang beliau kehendaki. Usaha ini disampaikan dengan berkata: "Inilah yang
kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan
menjelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun." Nabi saw menjawab: "Aku akan
menunggu wahyu dari Tuhanku." Ayat ini (S.109:1-6) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai
perintah untuk menolak tawaran kaum kafir. Dan turun pula Surat Az Zumar ayat 64 sebagai perintah
untuk menolak ajakan orang-orang bodoh yang menyembah berhala. (Diriwayatkan oleh at-Thabarani
dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi saw.: "Sekiranya
engkau tidak keberatan mengikuti kami (menyembah berhala) selama setahun, kami akan mengikuti
agamamu selama setahun pula." Maka turunlah Surat Al Kafirun (S.109:1-6).(Diriwayatkan oleh
Abdurrazaq yang bersumber dari Wahb dan Ibnul Mundzir yang bersumber dari Juraij).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah, al-'Ashi bin Wa-il, al-Aswad bin
Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah saw dan berkata: "Hai Muhammad! Mari

57
Ulumul Quran

kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah
dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami." Maka Allah menurunkan ayat ini
(S.109:1-6) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa'id bin Mina).

D. Aneka Riwayat tentang Sebab Turunnya Satu Ayat


Keabsahan Asbabun Nuzul melalui riwayat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi
tidak semua riwayat shahih. Riwayat yang shahih adalah riwayat yang memenuhi syarat-syarat tertentu
yang telah ditetapkan para ahli Hadis . Lebih spesifik lagi ialah riwayat dari orang yang terlibat dan
mengalami peristiwa pada saat wahyu diturunkan. Riwayat dari tabiin yang tidak merujuk kepada
Rasulullah dan para sahabat dianggap dhaif (lemah).
106
Dalam periwayatan Asbabun Nuzul dapat dikenali melalui empat cara yaitu:
1. Asbabun Nuzul disebutkan dengan redaksi yang sharih (jelas) atau jelas ungkapannya berupa (sebab
turun ayat ini adalah demikian), ungkapan seperti ini menunjukkan bahwa sudah jelas dan tidak ada
kemungkinan mengandung makna lain.
2. Asbabun Nuzul yang tidak disebut dengan lafaz sababu (sebab), tetapi hanya dengan mendatangkan
lafaz fa taqibiyah bermakna maka atau kemudian dalam rangkaian suatu riwayat, termasuk riwayat
tentang turunnya suatu ayat setelah terjadi peristiwa. Seperti berkaitan dengan pertanyaan orang
Yahudi pada masalah mendatangi isteri-isteri dari duburnya. Maka turun surat Al-Baqarah ayat 223,
artinya: Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah
tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki, dan kerjakanlah (amal yang baik)
untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya,
dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
3. Asbabun Nuzul dipahami secara pasti dari konteksnya. Turunnya ayat tersebut setelah adanya
pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian ia diberi wahyu oleh Allah untuk
menjawab pertanyaan tersebut dengan ayat yang baru diturunkan tersebut.
4. Asbabun Nuzultidak disebutkan ungkapan sebab secara tegas.
Apabila asbab an-nuzul suatu ayat diterangkan oleh beberapa riwayat, maka muncul beberapa
kemungkinan sebagai berikut:
1. Kedua riwayat tersebut yang satu shahih dan yang lain tidak.
2. Kedua riwayat tersebut shahih, tetapi salah satunya ada dalil yang memperkuat dan yang lain tidak.
3. Kedua riwayat tersebut shahih dan tidak ditemukan dalil yang memperkuatkan salah satunya tetapi
dapat dikompromikan.
4. Kedua riwayat tersebut shahih dan tidak ada dalil yang memperkuatkan salah satunya dan kedua-
duanya tidak mungkin dikompromikan.
Untuk menjelaskan permasalahan beberapa riwayat diatas adalah:
1. Apabila kedua riwayat shahih, yang pertama menyatakan sebab turunnya ayat dengan tegas,
sedangkan yang kedua tidak, maka diambil riwayat yang pertama.
2. Apabila kedua riwayat shahih, salah satunya ditarjihkan, sedangkan yang lain diriwayatkan oleh
perawi yang menyaksikan sendiri, maka dipilih riwayat yang lebih rajih (kuat).
3. Apabila kedua riwayat menerangkan sebab riwayat yang lebih rajih dan yang lebih shahih,
sedangkan lain shahih tetapi marjuh (dipandang lebih lemah), maka diambil riwayat yang shahih
lagi rajih.
4. Apabila kedua riwayat shahih dan tidak dapat dikompromikan, maka harus ditetapkan ayat yang
berulang kali diturunkan. Berulang kali turun menunjukkan sangat penting dan untuk
mempermudah diingat. " Wallahu alam

106
Summa. Op. Cit

58
Ulumul Quran

BAB 6
ILMU NASIKH DAN MANSUKH

A. Pengertian Nasikh dan Mansukh


Nasikh-Mansukh (abrogasi) merupakan salah satu cabang ilmu-ilmu Al-Quran yang mengandung
kontroversial sepanjang sejarah. Hal ini disebabkan paling tidak karena adanya pandangan yang saling
bertentangan mengenai apakah Al-Quran mengandung ayat-ayat nasikh dan ayat-ayat mansukh.
Secara etimologi nasikh dapat diartikan sebagai berikut:
1. mengandung arti menghilangkan atau pembatalan ( ) , contoh QS. Al-Hajj: 52


52. dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi,
melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan
terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah
menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
2. berarti memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain, seperti: , saya
menukilkan kitab ini, yaitu apabila kita menukilkan apa yang di dalam kitab itu meniru lafadh dan
tulisannya.
3. yang berarti mengganti atau menukar, contoh QS. An Nahl: 101


101. dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya
Padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu
adalah orang yang mengada-adakan saja". bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.
4. yang berarti memalingkan, seperti memalingkan pusaka dari seseorang kepada orang lain.
107

Sedangkan secara terminologi (istilah) terdapat perbedaan definisi nasikh sebagai: hukum syara
108
Sementara ulama ushul fiqh mengartikan nasikh sebagai pembatal amal (perbuat ibadah) dengan
hukum syara' yang datang kemudian, baik pembatalan itu bersifat jelas atau pun samar, menyeluruh
109
atau pun tidak dengan alasan kemaslahatan umat.
Adapun Mansukh secara bahasa dapat diartikan dengan yang dihapus, dipindah dan disalin/dinukil.
Selain itu ada juga yang mengartikan dengan Hukum yang diangkat. Contoh QS. Al-Nisa :
110 111
11 Menasakh QS. Al-Baqarah: 180 tentang wasiat. Sedangkan secara istilah Mansukh adalah hukum
syara yang diambil dari dalil syara yang pertama yang belum diubah, dengan dibatalkan dan diganti oleh
hukum dari dalil syara baru yang datang kemudian.

107
Az-Zuhaili, Wahbah. Ushl al-Fiqh al-Islami, Beirut, Dar al-Fikr,1986.
108
Manna Khalil Al-Qattan. 2001: 232
109
Khallaf, Abdul Wahab 1978. Ilmu Ushl al-Fiqh, t.k,: 222
110
Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki
sama dengan bagahian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka
dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk
dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak;
jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika
yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian -pembagian tersebut di atas)
sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) or ang tuamu dan anak-anakmu, kamu
tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
111
diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta
yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang
bertakwa .

59
Ulumul Quran

Dalam Al-Quran kata nasikh disebutkan dalam beberapa bentuk sebanyak 4 kali, yaitu: Q.S. (2):
112
106, QS. Al Araf (7): 154, QS. Al Hajj (22): 52, dan QS. Al Jatsiyah (45): 29.


Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami
datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. tidakkah kamu
mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (QS. Al Baqarah: 106).


Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam
tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya. QS. Al
Araf: 154).

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi,
melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan
terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah
menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana, (QS. Al Hajj: 52).


(Allah berfirman): "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar.
Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan".(QS. Al Jatsiyah:
29).
Mengenai awal kemunculan ilmu nasakh dan mansukh ini tidak bisa dipastikan. Tapi dari beberapa
hasil penelitian dapat diperkirakan bahwa awal kemunculan karena ditemukannya kitab Al-Nasakh wa
Al- Mansukh karangan Qatadah Ibn Daamah Al-Sudusi (61-118 H) dan juga Abu Bakar Ahmad Ibn
Muhammad Al-Atsram (wafat 21 H) dengan kitabnya Nasihk al-Hadis wa Mansukhuhu dan kitab
karangan Ahmad bin Ishak Ad-Dinari pada tahun 318 H dan berlanjut Muhammad bin Bahr Al-Ashabani
(322 H), Wahbatullah bin Salamah (410 H) Muhammad bin Musa Al-Hazimi (584H) dan Ibnu Al-Jausi (597
H).
Masalah Nasikh dan Mansukh dapat di ketahui dengan cara-cara sebagai berikut :
1. Terdapat keterangan yang tegas dari Nabi atau Sahabat.
Contoh : , Hadis tersebut Menasakh Hadis sebelumnya yang
menyatakan bahwa Rasul melarang untuk berziarah kubur.
2. Terdapat kesepakatan umat antara ayat yang di Nasakh dan ayat yang Di Mansukh. Artinya, jika
ketentuan datangnya dalil-dalil tersebut dapat diketahui dalam kalimat-kalimat dalil itu sendiri, maka
harus ada ijmak ulama yang menetapkan hal tersebut.
3. Diketahui dari salah satu dalil nash mana yang pertama dan mana yang kedua. Contoh QS. Al-
113 114
Mujadalah: 12 menasakh: 13 tentang keharusan bersedekah ketika menghadap Rasul.
Mengacu pada definisi Al-Nasakh Wa al-Mansukh di atas baik secara bahasa maupun istilah pada
dasarnya secara eksplisit Al-Nasakh Wa al-Mansukh mensyaratkan beberapa hal antara lain :

112
Chirzin, Muhammad. 1998. Al-Qur'an dan Ulumul Qur'an, Jakarta: PT. Dana Bakti Prima Yasa: 39.
113
Hai orang-orang beriman, apabila kamu Mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu
mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih;
jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
114
Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum Mengadakan pembicaraan
dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu Maka dirikanlah shalat,
tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

60
Ulumul Quran

1. Hukum yang di Mansukh adalah hukum Syara. Artinya hukum tersebut bukan hukum akal atau
buatan manusia. Adapun yang dimaksud hukum Syara adalah hukum yang tertuang dalam Al-Quran
dan Hadis yang berkaitan dengan tindakan Mukalaf baik berupa perintah (Wajib, Mubah) larangan
(Haram, Makruh) ataupun anjuran (Sunah)
2. Dalil yang menghapus hukum Syara juga harus berupa dalil Syara. Hal ini sebagaimana yang
115
ditegaskan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Nisa: 59
3. Dalil/ayat yang di Mansukh harus datang setelah dalil yang di hapus.
4. Terdapat kontradiksi atau pertentangan yang nyata antara dalil pertama dan kedua sehingga tidak
bisa dikompromikan
Pembahasan tentang naskh adalah pembahasan sejarah. Nasikh-mansukh merupakan bukti
terbesar bahwa ada dialektika hubungan antara wahyu dan realitas kehidupan manusia. Sebab naskh
adalah pembatalan hukum baik dengan menghapuskan dan melepaskan teks yang menunjukkan hukum
dalam bacaan (tidak dimasukkan dalam kodifikasi Al-Quran), atau membiarkan teks tersebut tetap ada
sebagai petunjuk adanya hukum yang di mansukh, dikarenakan adanya alasan-alasan tertentu yang
116
berkaitan erat dengan realitas kehidupan Nabi ketika itu.
Menurut Wahbah Az Zuhaili ulama pertama yang membahas masalah nasikh-mansukh adalah Imam
Syafi'i, walaupun saat itu beliau membahasnya dalam kajian sebagai penjelasan dalam memperoleh
117 118
hukum. Menurut Nasr Hamid Abu Zaid Naskh pertama adalah QS. Al Baqarah: 144 tentang
119
pengalihan arah kiblat.

B. Klasifikasi Nasikh dan Mansukh


1. Nasakh Al-Quran dengan Al-Quran.
Jenis Nasakh ini memperoleh kesepakatan para ulama atas kebolehan hukumnya. Dengan kata lain
jenis Nasakh ini bisa di terima. Menurut Mana Al Qattan, nasikh dalam Al-Quran membagi Nasikh
Al-Quran dengan Al-Quran menjadi 3 :
a. Nasikh bacaan (tilawah) dan hukum, artinya keberadaan ayat dan hukumnya telah dihapus
sehingga tidak dapat kita jumpai lagi dalam Al-Quran. Jenis Nasakh ini menjadi debatable, sebab
apakah mungkin hal yang demikian itu terjadi.
contoh nasikh ayat penetapan hubungan radha sebab 10 susuan, menjadi 5 isapan. Hadis
riwayat Aisyah.
b. Nasikh hukum, sedang bacaannnya tetap, seperti pada ayat pelarangan wasiat bagi ahli waris.
ayat idah selama satu tahun yang di Nasakh menjadi 4 bulan 10 hari. Sebagaimana yang terdapat
120 121
dalam QS. Al-Baqarah: 240 . Ayat tersebut di Nasakh QS. Al-Baqarah : 234
c. Nasikh bacaan saja, hukumnya tetap. Keberadaan Nasakh jenis ini merujuk pada Hadis dari Umar
Bin khatob dan Ubay Bin Kaab. Yang menyatakan :

115
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan uli l amri di antara kamu. kemudian jika
kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (b agimu) dan lebih baik akibatnya.
116
Zaid, Nasr Hamid Abu. 2002. Tekstualitas al-Qur'an, Kritik terhadap Ulumul Qur'an, terj. Khoirin Nahdiyyin, Yogyakarta: LKIS :
141.
117
Az-Zuhaili, Wahbah. Op. Cit : 931
118
Sesungguhnya Kami lihat muka engkau menengadah-nengadah ke langit, maka Kami palingkan lah engkau kepada kiblat
yang engkau ingini. Sebab itu palingkanlah muka engkau ke pihak Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu semua berada palingkanlah
mukamu ke pihaknya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab mengetahui bahwasanya itu adalah kebenaran dari Tuhan
mereka. Dan tidaklah Allah lengah dari apapun yang kamu amalkan.
119
Pengalihan arah kiblat yang sebelumnya mengarah ke masjid al-Aqsha di Palestina dan kemudian dinasikh menghadap ke
masjid al-Haram di Mekkah- selanjutnya diikuti puasa pertama (bukan puasa Ramadhan).Lihat. Zaid, Nasr Hamid Abu. Op. Cit : 55.
120
Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-
isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah
(sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang maruf terhadap diri
mereka.121
dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan
dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali)
membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.

61
Ulumul Quran


Termasuk dari ayat Al-Quran yang diturunkan ialah ayat (Yang artinya) orang tua laki-laki
dan orang tua perempuan itu kalau keduanya berzina, maka rajamlah (dihukum lempar batu
sampai mati ) sekaligus sebagai balasan dari Allah
Ketentuan hukum rajam dari Hadis diatas apabila kita mencari lafalnya dalam Mushaf Usmani (Al-
Quran) tentu kita tidak akan menemukannnya, sebab ayat tersebut sudah dimansukh. Namun
ketentuan hukumnya (Rajam bagi orang tua) masih tetap berlaku. Menurut sebagian ahli ilmu
jenis Nasakh ini tidak dapat di terima, sebab khabarnya adalah khabar ahad. Padahal tidak
dibenarkan memastikan turunnya Al-Quran dan Nasakhnya dengan khabar ahad.
2. Nasakh Al-Quran dengan Sunah
a. Nasakh Al-Quran dengan Hadis Ahad.
Menurut Jumhur ulama jenis Nasakh ini tidak diperbolehkan, sebab Al-Quran adalah Muatawatir
dan bersifat Qoti (tetap/ pasti) sedangkan Hadis Ahad adalah bersifat Dzanni (dugaan). Adalah
tidak logis manakala sesuatu yang mutlak kebenarannya harus di hapus oleh sesuatu yang masih
bersifat dugaan (Dzan)
b. Nasakh Al-Quran dengan Hadis Mutawatir.
Menurut Jumhur ulama, Imam Malik, Abu Hanifah dan Ahmad, Nasakh jenis ini diperbolehkan,
sebab keduanya adalah berangkat dari wahyu. Hal ini di dukung dengan firman Allah SWT. Yang
122
terdapat dalam QS. Al-Najm: 3-4. Namun demikian, bagi Imam Syafii dan ahli dzahir menolak
jenis Nasakh ini, sebab Hadis tidaklah lebih baik atau sebanding dengan Al-Quran. Hal ini di
123
dukung firman Allah yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 106.
3. Sunah dengan Al-Quran
Bagi Jumhur ulama Nasakh jenis ini bisa di terima. Hal ini di dasarkan atas keberadaan Sunah Riwayat
Bukhari-Muslim tentang kewajiban puasa pada bulan As-Syura. Sunah ini di Nasakh oleh firman Allah
124
yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 185.

, :
Dari Aisyah beliau berkata : Hari as-Syura itu adalah wajib berpuasa, ketika diturunkan
(kewajiban Puasa ) bulan Ramadha, maka ada yang mau berpuasa dan ada pula yang tidak
berpuasa. (HR Bukhari Muslim)
Walaupun demikian menurut As-Syafii Nasakh jenis ini tidak dapat diterima, sebab antara Al-Quran
dengan sunah harus berjalan beriringan dan tidak boleh bertentangan. Dengan kata lain bagi As-
Syafii adalah tidak mungkin mana kala ada Hadis yang bertentangan dengan Al-Quran. Selain itu,
pandangan ini juga mengisyaratkan bahwa adanya Nasakh menunjukkan adanya ketidak tepatan
dalam Hadis, padahal sebagaimana yang kita ketahui keberadaan Hadis pada dasarnya sebagai
penjelasan atas Al-Quran.
4. Nasakh Sunah dengan Sunah.
a. Mutawatir dengan Mutawatir
b. Ahad dengan Ahad
c. Ahad dengan Mutawatir
d. Mutawatir dengan Ahad.

122
dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. 4. ucapannya itu tiada lain hanyalah
wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
123
Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik
daripadanya atau yang sebanding dengannya. tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu?
124
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu,
Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan
Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu
mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur.

62
Ulumul Quran

Bagi Jumhur ulama dari ke-4 nasakh tersebut tidak menjadi masalah menjadi bagian dari Nasakh
dengan kata lain dapat diterima kecuali jenis yang ke 4 yaitu Mutawatir dengan Ahad.

C. Perbedaan antara Nasikh dan Takhshish


Al-Asfihani menegaskan pendapatnya bahwa tidak ada nasikh dalam Al-Quran. Kalaupun di dalam
Al-Quran itu terdapat cakupan hukum yang bersifat umum, untuk mengklasifikasikannya dapat
dilakukan proses pengkhususan (takhshish). Dengan demikian, takhshish menurutnya dapat diartikan
sebagai mengeluarkan sebagian satuan (afrad) dari satuan-satuan yang tercakup dalam lafazh amm.
Bertolak dari pengertian nasikh dan takhshish tersebut di atas, maka perbedaan prinsipil antara
keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut :
NASIKH TAKHSHISH
1. Satuan yang terdapat dalam nasikh bukan 1. Satuan yang terdapat dalam takhshish
merupakan bagian satuan yang terdapat merupakan bagian dari satuan yang terdapat
dalam mansukh. dalam lafazh amm.
2. Nasikh adalah menghapuskan hukum dari 2. Takhshish merupakan hukum dari sebsgian
seluruh satuan yang tercakup dalam dalil satuan yang tercakup dalam dalil amm.
mansukh. 3. Takhshish dapat terjadi baik dengan dalil yang
3. Nasikh hanya terjadi dengan dalil yang kemudian maupun menyertai dan
dating kemudian. mendahuluinya.
4. Nasikh menghapuskan hubungan mansukh 4. Takhshish tidak menghapuskan hukum amm
dalam rentang waktu yang tidak terbatas. sama sekali. Hukum amm tetap berlaku
5. Setelah terjadi nasikh, seluruh satuan yang meskipun sudah dikhususkan.
terdapat dalam nasikh tidak terikat dengan 5. Setelah terjadi takhshish, sisa satuan yang
hukum yang terdapat dalam mansukh. terdapat pada amm tetap terikat oleh dalil
amm.
1. Tampaknya, nasakh itu seolah-olah sama seperti takhshis, karena sama-sama membatasi suatu
ketentuan hukum dengan batasan waktu, sedang takhshis dengan batasan materi. Misalnya, dalam
contoh penghapusan kewajiban berdekah sebelum menghadap rasul. Seolah-olah masalah disitu
hanya pembatasan ketentuan itu dengan waktu saja, sehingga sepertinya dapat diungkapkan sebagai
berikut: kalau akan menghadapa rasul itu, harus memberikan sedekah lebih dahulu, kecuali setelah
turun ayat yang meniadakan kewajiban itu. Ungkapan itu sepertinya hampir sama dengan kalimat:
wanita yang ditalak suaminya itu wajib beribadah tiga kali suci, kecuali bagi wanita yang ditalak
sebelum dikumpuli. Oleh karana itu tampak adanya kesamaan antara keduanya itu sah, maka ada
perbedaan paham diantara para ulama. Ada sebagian ulama yang mengakui ada dan terjadinya
nasakh itu, dan ada pula yan mengingkarinya, dan menganggap nasakh itu sama saja dengan takhshis
itu.
2. Nasakh sama dengan takhshis dalam hal sama sama membatasi berlakunya suatu ketentuan hukum
syara. Nasakh mengahapus dan mengganti ketentuan hukum-hukum syara sedang takhshis
membatasi keumuman jangkauan hukum syara.
3. Dalil yang menasikh sama dengan dalil yang menakhshis, yaitu sama sama berupa dalil syara.

D. Perbedaan Pendapat tentang Ayat-ayat Mansukh


Ulama Mutaqaddimin (abad 1-3 H) memperluas arti nasikh sehingga mencakup:
1. Pembatalan hukum yang ditetapkan terdahulu oleh hukum yang ditetapkan kemudian
2. Pengecualian hukum yang bersifat umum oleh hukum yang bersifat khusus yang datang kemudian
3. Penjelasan yang datang kemudian terhadap hukum yang bersifat samar
125
4. Penetapan syarat terhadap hukum terdahulu yang belum bersyarat.
Menurut Ulama Mutaakhirin naskh terbatas pada ketentuan hukum yang datang kemudian, guna
membatalkan atau mencabut atau menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan hukum yang terdahulu,
126
sehingga ketentuan hukum yang berlaku adalah yang ditetapkan terakhir.

125
Shihab, M. Quraish. 2001. Membumikan al-Qur'an, Bandung, Mizan: 144.

63
Ulumul Quran

Mayoritas Ulama Mutaqaddimin dan Mutaakhirin tidak berselisih pendapat tentang adanya ayat-
ayat Al-Quran mencakup butir-butir 2, 3, dan 4, yang dikemukakan oleh para ulama mutaqaddimin
tersebut. Namun istilah yang diberikan untuk hal-hal tersebut bukannya naskh tetapi takhshish
(pengkhususan). Kemudian yang menjadi bahan perselisihan adalah butir 1, dalam arti adakah ayat yang
dibatalkan hukumnya atau tidak? Para ulama yang menyatakan adanya naskh dalam pengertian tersebut
127
mengemukakan alasan-alasan berdasarkan aql dan naql (Al-Quran).
Ulama Mutaakhkhir memperciut batasan-batasan pengertian tersebut untuk mempertajam
perbedaan antara nasikh dan makhasshish atau muqayyid, dan sebagainya, sehingga pengertian
naskh terbatas hanya untuk ketentuan hukum yang datang kemudian, untuk mencabut atau
menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan ketentuan hukum yang
terdahulu, sehingga ketentuan yang diberlakukan ialah ketentuan yang ditetapkan terakhir
dan menggantikan ketentuan yang mendahuluinya.
Ada beberapa perbedaan pendapat di kalangan ahli tafsir mengenai apa saja yang dinasakh dari
ayat-ayat Al Quran, maupun ayat-ayat yang mansukh. Di dalam ilmu tafsir ada istilah Annasikh dan
Almansukh. Annaasikh adalah ayat-ayat yang menghapus, sedangkan al Mansukh adalah ayat-ayat yang
dihapus.
1. Kelompok yang meyakini adanya Nasikh dari segi Hukum
Adalah kelompok yang didukung oleh kalangan ahli tafsir (jumhur ulama) meyakini ada ayat-ayat
yang menghapus (naasikh) dan ada ayat-ayat yang dihapus (mansukh), tetapi dari segi hukumnya
saja, bukan redaksi atau lafal ayat. Jadi redaksi ayat masih tetap tidak dihapus. Sebagai contoh QS. Al
128 129
Baqarah ayat 219 dan QS. An Nisa ayat 43. Bagi kelompok yang meyakini ada nasikh mansukh
130
dari segi hukum, kedua ayat di atas dinasikh atau dihapus hukumnya oleh QS. Al Maidah ayat 90.
2. Kelompok yang meyakini adanya ayat yang dihapus
Kalangan ulama yang meyakini ada ayat yang dihapus dari redaksi ayatnya. Contohnya adalah ayat
131
tentang rajam bagi pezina muhsan QS. An Nur: 4 tetapi dalam hadis hukuman itu masih
ada, hanya saja redaksi ayat tentang rajam ini sudah tidak ada.
3. Kelompok yang menolak adanya nasikh dan mansukh
Diantara ulama yang menolak faham tentang adanya ayat nasikh dan mansukh adalah imam Abu
Muslim Al Isfihani. Ia berpendapat tidak mungkin di dalam Al Quran ada nasikh dan mansukh.
Apalagi nasikh mansukh yang berkaitan dengan redaksi. Jadi menurut beliau istilahnya bukan nasikh
mansukh, tetapi hanya pengecualian atau ketentuan lain. Sebagai contoh untuk mencegah orang
yang minum minuman keras tidak mungkin dihentikan sekaligus, tetapi melalui tiga tahapan seperti
cara yang dicontohkan Al Quran.
4. Pendapat ulama bahwa yang dihapus bukanlah ayat Al Quran.
Sebagaimana pemahaman Imam al Alusi yang meyakini bahwa ayat yang dihapus atau Nabi dilupakan
itu bukanlah ayat-ayat Quraniyah (Al Quran), melainkan ayat-ayat Qolbiyah atau Kauniyah.

126
Shihab, M. Quraish. Ibid: 144.
127
Shihab, M. Quraish. Ibid: 144-146.
128
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan
beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang
mereka nafkahkan. Katakanlah: "yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya
kamu berfikir,
129
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti
apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja,
hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah
menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci);
sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.
130
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib
dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat
keberuntungan.
131
dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat
orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka
buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.

64
Ulumul Quran

E. Bentuk-bentuk Nasikh dalam Al-Quran


1. Nasakh Syarih
Nasakh syarih yaitu ayat-ayat yang secara tegas menghapuskan hukum yang terdapat dalam ayat
132
terdahulu. Contoh Surat Al-Anfal :65-66, ayat tentang perang yang mengharuskan perbandingan
antara muslim dan kafir adalah : 1:10 dinasakh dan ayat yang mengharuskan hanya 1:2 dalam
masalah yang sama.
2. Nasakh Dhimmi
Nasakh dhimni yaitu bila ada ketentuan hukum ayat yang terdahulu tidak bisa dikompromikan
dengan ketentuan hukum ayat yang datang kemudian, ia menasakh ayat yang terdahulu. Misalnya,
ayat tentang wasiat kepada ahli waris yang dianggap mansukh oleh ayat waris.
3. Nasakh kulli
Nasakh kulli yaitu masalah hukum yang datang kemudian ia menasakh hukum yang datang
sebelumnya secara keseluruhan. Misalna ketentuan hukum iddah satu tahun bagi wanita yang
ditinggal mati oleh suaminya yang dinasakh dengan iddah 4 bulan 10 hari. Sebagaimana firman Allah
133 134
dalam QS. Al-Baqarah ayat 240 dinusakh oleh QS. Al-Baqarah ayat 234
4. Nasakh Juzi
Nasakh juzi yaitu menasakh hukum yang mencakup seluruh individu dengan hukum yang mencakup
sebagian individu atau menasakh hukum yang bersifat mutlak dengan hukum yang bersifat muqayyad
(terbatas). Contoh, hukum dera 80 kali bagi orang yang menuduh seorang wanita tanpa adanya saksi
pada QS. An-Nur ayat 4 dihapus oleh ketentuan lian yaitu bersumpah 4 kali dengan nama Allah, bagi
135
si penuduh pada QS. An-Nur ayat 6. " Wallahu alam

132
Hai Nabi, kabarkanlah semangat para mumin itu untuk berperang, jika ada dua puluh orang yang sabar diantara
kamu, niscaa mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantaramu, mereka
dapat mengalahkan seribu dari pada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti (65).
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui ada kelemahan pada dirimu. maka jika ada diantaramu
seratus orang yang sabar niscaya mereka mengalahkan dua ratus orang dan jika ada diantaramu seribu (orang yang sabar),
niscaa mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar
133
Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah Berwasiat untuk
isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka
pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf
terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. r
134
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu)
menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. kemudian apabila telah habis 'iddahnya, Maka tiada dosa bagimu
(para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat
135
Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi -saksi selain diri
mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk
orang-orang yang benar .

65
Ulumul Quran

BAB 7
ILMU MAKKI DAN MADANI

A. Pengertian Makki dan Madani


Para Ulama tafsir berbeda pendapat dalam mendefinisikan Makki dan Madani. Perbedaan ini
disebabkan adanya perbedaan kriteria yang ditetapkan untuk merumuskan keadaan surat atau ayat yang
turun kepada Nabi SAW. Dikalangan para ulama terdapat beberapa pendapat tentang dasar dan kreteria
yang dipakai untuk menentukan Makki dan Madani, yang dibagi menjadi 4 macam bagian antara lain:
1. Berdasarkan tempat turunnya (geografis) suatu ayat.


Makkiyah ialah suatu ayat yang diturunkan di Mekkah, sekalipun sesudah hijrah, sedang
Madaniyah ialah yang diturunkan di Madinah.
Berdasarkan rumusan di atas, Makki adalah semua surat atau ayat yang diturunkan di wilayah
Mekkah dan sekitarnya. Sedangkan Madani adalah semua surat atau ayat yang diturunkan di
Madinah. Adapun kelemahan pada rumusan ini karena tidak semua ayat Al-Quran dimasukkan dalam
kelompok Makki atau Madani. Alasannya ada beberapa ayat Al-Quran yang diturunkan di luar
Mekkah dan Madinah.
2. Berdasarkan khittab/ seruan/ panggilan/subyek dalam ayat tersebut.



Makkiyah ialah ayat

yang khittabnya/panggilannya ditujukan kepada penduduk Mekkah,
sedang Madaniyah ialah yang khittabnya ditujukan kepada penduduk Madaniyah.
Berdasarkan rumusan di atas, para ulama menyatakan bahwa setiap ayat atau surat yang dimulai
dengan redaksi ( wahai sekalian manusia) dikategorikan Makki, karena pada masa itu
penduduk Mekkah pada umumnya masih kufur. Sedangkan ayat atau surat yang dimulai dengan
( wahai orang-orang yang beriman) dikategorikan Madani, karena penduduk Madinah pada
waktu itu telah tumbuh benih-benih iman di dada mereka. Adapun kelemahan-kelemahan pada
rumusan ini, antaa lain:
a. Tidak semua ayat atau surat di mulai oleh redaksi atau . Maksudnya,
tidak selalu yang menjadi sasaran surat atau ayat penduduk Mekkah atau Madinah.
b. Tidak semua ayat atau surat di mulai oleh redaksi meski Makki dan yang dimulai
dengan redaksi meski Madani.
3. Berdasarkan masa turunnya (historis) ayat tersebut.
Makkiyyah ialah ayat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sekalipun turunnya di
luar Mekkah, sedang Madaniyah ialah yang diturunkan sesudah Nabi hijrah, sekalipun turunnya di
136
Mekkah.
Agar tidak terjadi kebingungan dalam memaknai makkiyah dan madaniyah, ada baiknya kita lihat
potongan ayat Al-Quran yaitu QS. Al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman:


Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

136
Ash-Shiddieqy, T.M Hasbi. 2002. Ilmu-ilmu Al-Quran (Ilmu-ilmu Pokok dalam Menafsirkan Al-Quran), Semarang: PT Pustaka
Rizki Putra: 62.

66
Ulumul Quran

4. Berdasarkan Isi/ Materi (content analysis) suatu ayat.


Adalah teori yang mendasarkan kriterianya dalam membedakan makki dan madani kepada isi dari
pada ayat/surah yang bersangkutan. Yang dinamakan Makki menurut teori ini ialah ayat/surah yang
berisi cerita nabi/rosul terdahulu. Sedangkan yang di namakan madani adalah ayat/surah yang berisi
tentang hukum hudud, faraid, dan sebagainya
Kelebihan pendekatan content analysi ini ialah, kreterianya jelas sehingga mudah dipahami sebab
mudah dilihat. Kelemahannya menurut teori ini tidak praktis, sebab orang harus mempelajari isi
kandungan ayat lebih dahulu, baru mengetahu kriterianya.
Dari uraian di atas dalam tinjauan kreteria yang berbeda tersebut, kelihatanya sulit untuk
memaknai Makkiyah dan Madaniyah secara khusus, karena hal ini juga menjadi perbedaan pendapat di
kalangan para ulama. Akan tetapi yang biasa dan umum digunakan untuk memaknai Makkiyah dan
Madaniyah ialah dari segi masa turunnya (tartib zamany). Sebagai contoh QS. Al Hujurat: 13,


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Menurut Hasbi Ash-shiddieqy, bahwa jika ditinjau dari segi tempat turunnya, ayat ini turun di
Madinah. Jika kita tinjau dari segi masanya, ayat ini turun pada tahun pengalahan Makkah sesudah
hijrah. Jika ditinjau dari segi orangnya, maka ayat ini ditujukan kepada penduduk Makkah. Sedangkan
tujuan ayat ini ialah mengajak manusia berkenal-kenalan dan mengingatkan manusia bahwa asal usul
137
mereka adalah satu. Oleh karenanya ayat ini tidak dikatakan ayat Makki secara mutlak dan tidak
dimasukkan ke dalam ayat Madani secara mutlak. Ayat ini dimasukkan ke dalam ayat yang turun di
Madinah sedang hukumnya digolongkan ke dalam ayat-ayat yang turun di Makkah.

B. Cara Menentukan Makki dan Madani


Untuk mengetahui dan menentukan Makki dan Madani para ulama bersandar pada dua cara
utama. Manhaj sima`i naqli (metode pendengaran seperti apa adanya) dan manhaj qiyasi ijtihadi
(menganalogikan dan ijtihad).
1. Manhaj Simai Naqli (pendengaran seperti apa adanya).
Cara ini didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yang hidup pada saat wahyu tutun dan
menyaksikan turunnya wahyu, atau dari para tabiin yang menerima dan mendengar dari para
sahabat. Sebagian besar penentuan Makki dan Madani didasarkan cara pertama ini.
2. Manhaj Qiyasi Ijtihadi (kias hasil ijtihad).
Cara ini didasarkan pada cirri-ciri Makki dan Madani. Dengan demikian, apabila dalam surah Makki
terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Madani atau mengandung peristiwa Madani, maka
138
dikatakan bahwa ayat tersebut Madani. Dan apabila dalam surah Madani terdapat suatu ayat yang
mengandung sifat makki atau mengandung peristiwa Makki, maka ayat tersebut disebut ayat Makki.
139
Bila dalam satu surah terdapat ciri-ciri Makki maka surah tersebut disebut surah Makki dan apabila
dalam satu surah terdapat ciri-ciri Madani maka surah tersebut disebut surah Madani.

137
Ibid: 64.
138
Ayat-ayat Madaniah dalam surah Makiah misalnya surah Al Anam. Ibn Abbas berkata: Surah ini diturunkan sekaligus di
makkah, maka ia Makkiah kecuali tiga ayat diturunkan di Madinah, yaitu ayat: Katakanlah: Marilah aku bacakan sampai dengan
ketiga ayat itu selesai (Al-Anam *6+: 151-153). Dan surah Al Hajj adalah Makiah kecuali tiga ayat diturunkan di Madinah, dari awal
firman Allah: Inilah dua golongan yang bertengkar mengenai Tuhan mereka (Al-Hajj [22]: 19-21).
139
Ayat-ayat Makiah dalam surah Madaniah misalnya Surah Madaniah Al Anfal yang dikecualikan pada ayat Dan (ingatlah)
ketika orang kafir membuat maker terhadapmu (Al-Anfal [8]: 30) kedalam ayat Makkiah.

67
Ulumul Quran

Dengan menamakan sebuah surah itu Makiah atau Madaniah tidak berarti bahwa surah tersebut
seluruhnya Makiah atau Madaniyah, sebab dalam surah Maddaniah terdapat ayat-ayat Makkiah. Dengan
demikian penamaan surah Makkiah atau Madaniah adalah menurut sebagian besar ayat-ayat yang
140
terkandung didalamnya. Terdapat pula ayat yang diturunkan di makkah tetapi hukumnya Madani , dan
141
ayat yang diturunkan di Madinah tetapi hukumnya Makki.

C. Dasa Penentuan Makki dan Madani


1. Dasar Aghlabiyah (Mayoritas)
Dasar ini landasi oleh pandangan jika suatu surah mayoritas ayat-ayatnya Makiyyah, maka di sebut
surah Makiyyah. Sebaliknya, jika mayoritasnya ayat-ayat dalam suatu surah itu madaniyah, atau di
turunkan setelah Nabi hijrah ke Madinah, maka di sebut surah Madaniyah.
2. Dasar Tabaiyah (Kontinuitas)
Dasar ini landasi jika permulaan surah di dahului ayat-ayat yang turun di Makkah/ turun sebelum
hijrah, maka di sebut surah Makiyyah. Sebaliknya jika ayat-ayat pertama dari suatu surah itu di
142
turunkan di Madinah / yang berisi hukum-hukum syariat, maka di sebut surah Madaniyah.
Kedua dasar ini di sandarkankan kepada hadis riwayat Ibnu Abbas r.a.

Kalau awal surah itu di turunkan di Makkah, maka di catat sebagai surah Makiyah, lalu Allah
menambahkan dalam surah itu ayat-ayat yang dikehendaki-Nya.

D. Karakteristik ayat Makkiy


1. Ketentuan Surat Makkiy
a. Setiap surat yang di dalamnya mengandung sajdah.
b. Setiap surat yang mengandung lafal kalla, lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari
Al-Quran. Dan disebutkan dalam tiga puluh tiga kali dan lima belas surat.
c. Setiap surat yang mengandung seruan ya-ayyuhan naasu dan tidak mengandung ya-
ayyuhalladzina amanu, terkecuali surat Al-Hajj yang akhirnya terdapat ya-ayyuhalladzina amanu
irkau wasjudu (QS Al-Hajj: 77). Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat
tersebut adalah ayat makky.
d. Setiap surat yang mengandung kisah para Nabi dan umat terdahulu kecuali surat al-baqarah.
e. Setiap surat yang mengandung kisah adam dan iblis, kecuali surat Al-Baqarah.
f. Setiap surat yang dibuka dengan huruf-huruf hijaiyah, seperti alif lam mim, alif lam ra, ha mim
dan lain-lain. Terkecuali surat Al-Baqarah dan surat Ali Imran, sedangkan surat Ar-Rad masih
143
diperselisihkan.
2. Segi Gaya Bahasa, Keistimewaan Ayat dan Persoalan-persoalan yang dibicarakan
a. Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah,
kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaannya, surga
dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional
dan ayat-ayat kauniah.
b. Penetapan dasar-dasar ibadah dan muamalah (pidana), etika, keutamaan-keutamaan umum.
Diwajibkannya shalat lima waktu, juga diharamkan memakan harta anak yatim secara zalim,
sebagaimana sifat takabur dan sifat angkuh juga dilarang, dan tradisi buruk lainnya.

140
Seperti surah Al Hujrat *49+: 13 Wahai manusia, kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan ayat ini
diturunkan di makkah pada hari penaklukan kota Makkah, tetapi sebenarnya madinah karena diturunkan setelah hijrah, dan seruannya
pun bersifat umum.
141
Contohnya surah Al-Mumtahanah. Surah ini diturunkan di Madinah dilihat dari segi tempat turunnya, tetapi seruannya
ditujukan kepada orang musyrik penduduk makkah. Juga seperti permulaan surah Al-Baraah yang diturunkan di madinah tetapi
seruannya ditujukan kepada orang-orang musyrik penduduk Makkah.
142
Syaroni, Samani. 2010. Tafkirah Ulumul Al-Quran. Tanpa Kota : Alghotasi Putra, 70
143
Ar-Rumi, Fahd bin Abdurrahman. 1996. Ulumul Quran (Studi kompleksitas Al-Quran), Terj. Amirul Hasan dan Muhammad
Halabi, Yogyakarta: Titian Ilahi, Cet. I: 173.

68
Ulumul Quran

c. Menyebutkan kisah Nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga
mengetahui nasib orang-orang yang mendustakan agama sebelum mereka; dan sebagai hiburan
bagi Rasulullah sehingga ia tabah dalam menghadapi gangguan mereka.
d. Suku katanya pendek-pendek disertai dengan kata-kata yang mengesankan, pernyataannya
singkat, ditelinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan
144
maknanya pun meyakinkan.

E. Karakteristik ayat Madani


1. Ketentuan Surat Madani
a. Setiap surat yang berisi kewajiban atau had (sanksi).
b. Setiap surat yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang munafik, terkecuali surat al-
ankabut yang diturunkan di Makkah adalah termasuk surat makkiyah.
145
c. Setiap surat yang di dalamnya terdapat dialog antara ahli kitab , seperti dapat kita dapati dalam
146
Surat Al-Baqarah, An-Nisa, Ali Imran, At-Taubah dan lain-lain.
2. Keistimewaan surat Madani
a. Al-Quran berbicara kepada masyarakat Islam Madinah, pada umumnya berisi tentang penetapan
hukum-hukum, yang meliputi penjelasan tentang ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan,
jihad, hubungan sosial, hubungan internasional baik diwaktu damai maupun perang, dan lain lain.
b. Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan yahudi dan nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk
masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah,
permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada
mereka karena rasa dengki diantara sesama mereka
c. Di dalam masyarakat Madinah tumbuh sekelompok orang-orang munafik, lalu Al-Quran
membicarakan sifat mereka dan menguak rahasia mereka. Al-Quran menjelaskan bahaya mereka
terhadap Islam dan kaum muslimin, serta membeberkan media-media, tipuan-tipuan, serta
strategi mereka untuk memperdaya kuam muslim. Di Makkah tidak terdapat kaum munafik,
karena saat itu umat Islam sedikit, lemah, sementara orang-orang kafir secara terang-terangan
memerangi mereka.
d. Pada umumnya ayat-ayat dan surat-suratnya panjang dan untuk menggambarkan luasnya akidah
dan hukum-hukum Islam. Orang-orang Madinah adalah orang-orang Islam yang menerima dan
147
mendengarkan Al-Quran.

F. Kelompok Surat Makki dan Madani


Pada umunya, para ulama membagi surat-surat Al-Quran menjadi dua kelompok, yaitu surat-surat
Makiyyah dan Madaniyyah. Masa turunnya Al-Quran dibagi ke dalam dua periode. Pertama, periode
Makkah, yaitu masa Nabi Muhammad saw. bermukim di Makkah (610-622), mulai dari turunnya wahyu
pertama sampai beliau melakukan hijrah ke Madinah. Masa tersebut disebut juga periode sebelum
hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan selama periode pertama ini dinamakan ayat-ayat Makkiyyah. Waktu
turunnya berlangsung selama 12 tahun, 5 bulan, 13 hari, yang dimulai pada 17 Ramadhan, pada saat
Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun. Adapun ayat yang diturunkan berjumlah 4.726 ayat dan
148
meliputi 89 surah.

144
Al-Qattan, Manna khalil. 1994. Mabahis Fi Ulumil Quran, terj. Mudzakir. Jakarta: Pustaka Litera Antarnusa, Cet. 2: 86-87.
145
Ibid : 87
146
Ash-Shiddieqy, Op. Cit : 82
147
Ar-Rumi, Op. Cit : 175
148
Abdurrahman, Emsoe dan Apriyanto Rd. 2009.The Amazing Stories of Al-Quran: Sejarah yang Harus Dibaca. Bandung:
Salamadani: 23

69
Ulumul Quran

Para Ulama begitu tertarik untuk menyelidiki surah-surah Makkiy dan Madani. Mereka meneliti
Quran ayat demi ayat dan surah demi surah untuk ditertibkan sesuai dengan nuzulnya, dengan
149
memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat.
1. Diturunkan di Madinah
Ada dua puluh surat Madaniyyah, yakni al-baqarah, ali imran, an-nisa, al-maidah, al-anfal, at-taubah,
An-nur, Al-ahzab, Muhammad, Al-Fath, Al-Hujurat, Al-Hadid, Al-Mujadalah, Al-Hasyr, Al-Mumthanah,
Al-Jumuah, Al-Munafiqun, At-Talaq, At-Tahrim, dan An-Nasr.
2. Diperselisihkan
Sedang yang masih diperselisihkan ada dua belas surah, yakni Al-Fathihah, ar-Rad, Ar-Rahman, As-
Saff, At-Taghabun, At-Tatfif, Al-Qadar, Al-Bayyinah, Az-Zalzalah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
3. Diturunkan di Mekkah
Ada 82 surat sisanya, jadi jumlah surat-surat Al-Quran itu semuanya seratus empat belas surat.
4. Ayat-ayat Makkiyah dalam Surat-surat Madaniyyah
Dengan menamakan sebuah surat itu Makkiyah atau Madaniyyah tidak berarti surah tersebut
seluruhnya Makkiyah atau Madaniyyah, sebab di dalamsurat Makkiyah terkadang terdapat ayat-ayat
Madaniyyah, dan di dalam suratMadaniyyah pun terdapat ayat-ayat Makkiyah. Dengan demikian
penamaansurat itu Makkiyah atau Madaniyyah adalah menurut sebagian besar ayat-ayat yang
terkandung didalamnya.
Diantara sekian contoh ayat-ayat Makkiyah dalam surat Madaniyyah ialah surat Al-Anfal, tetapi
banyak ulama mengecualikan ayat:


Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk
menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan
tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.
Mengenai ayat ini, Muqatil mengatakan :Ayat ini diturunkan di Mekkah; dan; pada lahirnya memang
demikian, sebab ia mengandung apa yang dilakukan orang musyrik di Darun Nadwah ketika mereka
merncanakan tipu daya terhadap Rasulullah sebelum hijrah.
5. Ayat-ayat Madaniyyah dalam surat Makkiyah
Misalnya adalah surat Al-Anam . Ibn Abbas berkata ; surah ini semuanya diturunkan sekaligus di
Mekkah, maka ia Mekkiah, kecuali tiga ayat dirturunkan di madinah,yaitu al-Anam ayat 151-153.
Dan surah Al-hajj adalah Makkiyah kecuali tiga ayat diturunkan di Madinah, firman Allah: inilah dua
golongan yang bertengkar mengenai Tuhan mereka.... (QS. Al-Hajj: 19-21).
6. Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah sedang hukumnya Madani.
Contoh dengan firman Allah QS. Al Hujurat: 13


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Ayat ini diturunkan di Mekkah pada hari penaklukan kota Mekkah, tetapi sebenarnya Madaniyyah
karena diturunkan setelah hijrah, di samping itu seruannya pun bersifat umum. Ayat seperti ini oleh
para ulama tidak dinamakan Makki dan tidak juga dinamakan Madani secara pasti. Tetapi mereka
katakan Ayat yang diturunkan di Mekkah sedang hukumnya Madani.

149
Al Qattan. Op. Cit. 72-79

70
Ulumul Quran

7. Ayat yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya Makki.


Contoh dengan surah Mumthahana. Surah ini diturunkan di Madinah dilihat dari segi tempat
turunnya, tetapi seruannya ditujukan kepada orang musyrik penduduk Mekkah. Juga seperti
permulaan surah Al-Baqarah yang diturunkan di Madinah, tetapi seruannya ditujukan kepada orang-
orang musyrik penduduk Mekkah.
8. Ayat yang serupa dengan yang diturunkan di Mekkah dalam Madani.
Menurut para ulama ialah ayat-ayat yang dalam suratmadaniah tetapi mempunyai gaya bahasa dan
cirri-ciri umum surat Makkiyah. Contoh firman Allah QS. Al-Anfal: 32 yang Madaniyyah:


Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini,
dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau
datangkanlah kepada kami azab yang pedih.
9. Serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam Makki.
Adalah kebalikan dari yang sebelumnya no.8. Contoh firman Allah dalam An-Najm: 32.


(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari
kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih
mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih
janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling
mengetahui tentang orang yang bertakwa.
As-Suyuti mengatakan ; Perbuatan keji ialah setiap dosa yang ada sanksinya. Dosa besar ialah setiap
dosa yang yang mengakibatkan siksa neraka. Dan kesalahan-kesalahan kecil ialah apa yang erdapat
diantara kedua batas dosa-dosa diatas. Sedang di Mekkah belum ada sanksi yang serupa dengannya.
10. Ayat yang dibawa dari Mekkah ke Madinah.
Contohnya ialah surat Al-Ala. Diriwayatkan oleh bukhari dari al-Barra bin Azib yang mengatakan:
orang yang pertama kali datang kepada kami dari para sahabat Nabi adalah Musab bin Umar dan
Ibnu Ummi Maktum. Keduanya membacakan Al-Quran pada kami. Sesudah itu datanglah Amar, Bilal,
dan Sad. kemudian datang pula Umar bin Khatab sebagai orang yang kedua puluh. Baru setelah
datanglah Nabi SAW. Aku melihat penduduk Madinah bergembira setelah aku
membacakan Sabbikhisma rabbikal Ala dari antara surah yang semisal dengannya. pengertian ini
cocok dengan Quran yang dibawa oleh golongan muhajjirin, lalu mereka ajarkan kepada kaum ansor.
11. Dibawa dari Madinah ke Mekkah.
Contohnya ialah awal surah al-Baqarah, yaitu ketika rasulullah memerintahkan kepada Abu Bakar
untuk berhaji pada tahun kesembilan. Ketika awal surah al-Baqarah turun, Rasul memerintahkan Ali
bin Abi Thalib untuk membawa ayat tersebut kepada Abu Bakar, agar ia sampaikan kepada kaum
musyrikin. Maka Abu Bakar membacakan kepada mereka dan mengumumkan bahwa setelah tahun
ini tidak seorang musyrik pun diperbolehkan berhaji.
12. Ayat yang turun pada malam hari dan pada siang hari.
Kebanyakan ayat Al-Quran itu turun pada siang hari. Mengenai yang diturunkan pada malam hari
Abul Qasim Al-Hassan bin Muhammad bin Habib an-Naisaburi telah menelitinnya. Dia memberikan
beberapa contoh, diantaranya : bagian-bagian akhir surah al-Imran. Ibnu Hibban dalam kitab
shahihnya, ibnul Munzir, Ibnu Mardawaih, dan Ibnu Abud Dunya, meriwayatkan dari Aisyah r.a. : Bilal
datang kepada Nabi untuk memberitahukan waktu shalat subuh: tetapi ia melihat Nabi sedang
menangis. Ia bertanya : Rasulullah, apakah yang menyebabkan engkau menangis? Nabi menjawab

71
Ulumul Quran

: Bagaimana saya tidak menangis padahal tadi malam diturunkan kepadaku, Sesungguhnya pada
penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda [kekuasaan
Allah] bagi orang-orang yang berakal(Ali-Imran ayat 190). Kemudian katanya Celakalah orang yang
membacanya, tetapi tidak memikirkannya.
13. Ayat yang turun di musim panas dan musim dingin
Para ulama memberi contoh ayat yang turun di musim panas dengan ayat tentang kalalah yang
terdapat diakhir surat an-Nisa. Sedang untuk yang turun di musi dingin mereka contohkan dengan
ayat-ayat mengenai tuduhan bohong yang terdapat dalam QS. An-Nur: 11


Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.
Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di
antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu
baginya azab yang besar.
Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah SAW 'Aisyah r.a. Ummul Mu'minin, sehabis perang dengan
Bani Mushtaliq bulan Sya'ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula 'Aisyah
dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. Dalam perjalanan mereka
kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. 'Aisyah keluar dari sekedupnya untuk
suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi
mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa 'Aisyah masih ada
dalam sekedup. Setelah 'Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat dia duduk di tempatnya
dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu
seorang sahabat Nabi, Shafwan ibnu Mu'aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian
dan dia terkejut seraya mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, isteri Rasul!" 'Aisyah
terbangun. Lalu dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun
unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut
pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar-
besarkannya, maka fitnahan atas 'Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan
kegoncangan di kalangan kaum muslimin.
Berikut ini adalah nama-nama surat dalam Al-Quran dan pembagiannya ke dalam kategori
Makkiyah dan Madaniyah, sesuai dengan pendapat jumhur (mayoritas ulama):
1. Surat-Surat Makkiyah dan Madaniah yang disepakati
1. Al-Baqarah 2. Ali 'Imran 3. An-Nisa' 4. Al-Ma'idah 5. Al-Anfal 6. At-Taubah 7. An-Nur 8. Al-Ahzab 9.
Muhammad 10. Al-Fath 11. Al- Hujrat 12. Al-Hadid 13. Al-Mujadilah 14. Al-Hashr 15. Al-Mumtahinah
16. Al-Jumuah 17. Al-Munafiqun 18. Al-Talaq 19. At-Tahrim 20. An-Nasr
2. Surat-Surat Makkiyah dan Madaniah yang tidak disepakati
1. Al-Fatihah 2. Al-Rad 3. Al-Rahman 4. Al-Saff 5. Al-Tagabun 6. Al-Mutaffifin 7. Al-Qadar 8. Al-
Bayyinah9. Al-Zalzalah 10. Al-Ikhlas 11. Al-Falaq 12. Al-Nas
3. Surat Makkiyah Berdasarkan Urutan Turunnya
01. Al'alaq 02. Al-Qalam 03. Al-Muzammil 04. Al-Muddatstsir 05. Al-Fatihah 06. Al-Masab (Al-Lahab)
07. At-Takwir 08. Al-A'la 09. Al-Lail 10. Al-Fajr 11. Adh-Dhuha 12. Al-Insyirah 13. Al-'Ashr 14. Al-
Aadiyat 15. Al-Kautsar 16. At-Takatsur 17. Al-Ma'un 18. Al-Kafirun 19. Al-Fiil 20. Al-Falaq 21. An-Nas
22. Al-Ikhlas 23. An-Najm 24. 'Abasa 25. Al-Qadar 26. Asy-Syamsu 27. Al-Buruj 28. At-Tin 29. Al-
Quraisy 30. Al-Qariah 31. Al-Qiyamah 32. Al-Humazah 33. Al-Mursalah 34. Qaf 35. Al-Balad 36. Ath-
Thariq 37. Al-Qamar 38. Shad 39. Al-A'raf 40. Al-Jin 41. Yaasin 42. Al-Furqan 43. Fathir 44. Maryam 45.
Thaha 46. Al-Waqi'ah 47. Asy-Syura 48. An-Naml 49. Al-Qashash 50. Al-Isra 51. Yunus 52. Hud 53.

72
Ulumul Quran

Yusuf 54. Al-Hijr 55. Al-An'am 56. Ash-Shaffat 57. Lukman 58. Saba' 59. Az-Zumar 60. Ghafir 61.
Fushshilat 62. Asy-Syura 63. Az-Zukhruf 64. Ad-Dukhan 65. Al-Jatsiyah 66. Al-Ahqqaf 67. Adz-Dzariyah
68. Al-Ghasyiyah 69. Al-Kahf 70. An-Nahl 71. Nuh 72. Ibrahim 73. Al-Anbiya 74. Al-Mu'minun 75. As-
Sajdah 76. Ath-Thur 77. Al-Mulk 78. Al-Haqqah 79. Al-Ma'arij 80. An-Naba' 81. An-Nazi'at 82. Al-
Infithar 83. Al-Insyiqaq 84. Ar-Rum 85. Al-Ankabut 86. Al-Muthaffifin 87. Al-Zalzalah 88. Ar-Rad 89. Ar-
Rahman 90. Al-Insan 91. Al-Bayyinah
4. Nama-Nama Surat Madaniyah Berdasarkan Urutan Turunnya
01. Al-Baqarah 02. Al-Anfal 03. Ali 'Imran 04. Al-Ahzab 05. Al-Mumtahanah 06. An-Nisa' 07. Al-Hadid
08. Al-Qital 09. Ath-Thalaq 10. Al-Hasyir 11. An-Nur 12. Al-Hajj 13. Al-Munafiqun 14. Al-Mujadalah 15.
Al-Hujurat 16. At-Tahrim 17. At-Taghabun 18. Ash-Shaf 19. Al-Jum'at 20. Al-Fath 21. Al-Ma'idah 22.
At-Taubah 23. An-Nash

G. Manfaat Mengetahui Makki dan Madani


1. Mengetahui bahwa sastra Al-Quran berada pada puncak keindahan sastra, yaitu ketika setiap kaum
diajak berdialog yang sesuai dengan keadaan obyek yang didakwahi; dari ketegasan, kelugasan,
kelunakan dan kemudahan.
2. Mengetahui hikmah diturunkannya Al Quran secara berangsur-angsur, yaitu prioritas kondisi obyek
yang didakwahi serta kesiapan mereka dalam menerima dan mentaatinya.
3. Sebagai pendidikan dan pengajaran bagi para muballigh serta pengarahan mereka untuk mengikuti
kandungan dan konteks Al-Quran dalam berdakwah, yaitu dengan mendahulukan yang terpenting di
antara yang penting serta menggunakan ketegasan dan kelunakan pada tempatnya masing-masing.
4. Membedakan antara nasikh dan mansukh ketika terdapat dua buah ayat makkiyah dan madaniyah,
maka lengkaplah syarat-syarat nasakh karena ayat madaniyah adalah sebagai nasikh (penghapus)
ayat makkiyah disebabkan ayat madaniyah turun setelah ayat makkiyah.
5. Dengan ilmu ini pula, kita dapat mengetahui sejarah hukum Islam dan perkembangannya yang
bijaksana secara umum. Dan dengan demikian, kita dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap
ketinggian kebijaksanaan islam di dalam mendidik manusia baik secara perorangan maupun secara
masyarakat.
6. Ilmu ini dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap kebesaran, kesucian, dan keaslian Al-Quran,
karena melihat besarnya perhatian umat islam sejak turunnya terhadap hal-hal yang berhubungan
dengan Al-Quran, sampai hal-hal yang sedetail-detailnya; sehingga mengetahui ayat-ayat yang mana
turun sebelum hijrah dan sesudahnya; ayat-ayat yang diturunkan pada waktu Nabi berada di kota
tempat tinggalnya (domisilinya) dan ayat yang turun pada waktu Nabi sedang dalam bepergian atau
perjalanan, ayat-ayat yang turun pada malam hari dan siang hari; dan ayat-ayat yang turun pada
musim panas dan musim dingin dan sebagainya.
7. Dapat mengetahui situasi dan kondisi lingkungan masyarakat pada waktu turunnya Al Quran,
khususnya masyarakat Makkah dan Madinah.
8. Untuk dijadikan alat bantu dalam menfsirkan Al-Quran.
9. Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al-Quran. " Wallahu alam

73
Ulumul Quran

BAB 8
ILMU FAWATIHUS SUWAR

A. Pengertian Fawatihus Suwar


Kata Fawatih al-Suwar berasal dari bahasa Arab, sebuah kalimat yang terdiri dari susunan dua kata,
fawatih dan al-Suwar. Memahami ungkapan ini, sebaiknya kita urai terlebih dahulu kepada pencarian
makna kata perkata. Kata yang berarti pembuka adalah jamak Taksir dari
yang mempunyai
arti permulaan, pembukaan, dan pendahuluan. Sedangkan adalah jamak dari yang secara
kebahasaan mempunyai banyak arti, yaitu: tingkatan atau martabat, tanda atau alamat, gedung yang
tinggi nan indah, susunan sesuatu atas lainnya yang bertingkat tingkat.
Secara etimilogis, fawatihus suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya yang
mengawali perjalanan teks-teks suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf tersebut
sering disebut dengan huruf Al Ahruful Muqattaah (huruf yang terpisah), karena posisi dari huruf-huruf
tersebut yang cenderung menyendiri dan tidak bergabung membentuk kalimat secara kebahasaan. Dari
150
segi pembacaannya pun tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah.
Secara terminologi surah dimaknai secara berbeda, menurut Manna Al-Qaththan bahwa
surah adalah sekumpulan ayat ayat al-Quran yang mempunyai tempat bermula dan sekaligus tempat
berhenti. Sebaliknya Al-Jabari mengatakan bahwa surah adalah sebagian Al-Quran yang mencakup
beberapa ayat yang memiliki permulaan dan penghabisan (penutup), paling sedikit tiga ayat.
Dari pengertian diatas maka dapat dipahami dari segi makna fawatihus suwar berarti pembuka-
pembuka surah karena posisinya yang mengawali perjalanaan teks-teks setiap surah. Sebahagian Ulama
ada yang mengidentikkan fawatih al-suwar dengan huruf al-muqatta'ah atau huruf-huruf yang terpisah
dalam Al-Quran. Seperti misalnya, Manna' Khalil Al-Qaththan dalam bukunya" Mabahis Fi Ulum al-
Quran". Namun bila diteliti lebih jauh, sesungguhnya keduanya sama sekali berbeda. Sebab huruf al-
muqatta'ah ini tidak terdapat pada semua awal surah yang jumlahnya 114 dalam Al-Qur'an. Ia tak lebih
hanya merupakan salah satu bagian dari beberapa bentuk "fawatihus suwar " yang ada dalam Al-Qur'an.
Menurut Ibn Abi al-Ishba`, istilah fawatih adalah jenis-jenis perkataan yang membuka surah-surah
dalam Al-Quran. Jenis jenis perkataan itu dibagi menjadi sepuluh, yaitu: Jumlah khabariyyah, Qasam,
Syarat, Perintah, Pertanyaan, Doa, Talil, Pujian kepada Allah, Nida, dan yang terakhir huruf huruf tahajji
(huruf-huruf muqattaah), atau yang biasa disebut al- fawatih.

B. Macam-macam Fawatihus Suwar


Beberapa ulama telah melakukan penelitian tentang pembukaan surat Al-Quran, diantaranya
sebagai yang dilakukan oleh Ibnu Abi Al Asba menulis sebuah kitab yang secara mendalam membahas
151
tentang bab ini, yaitu kitab Al Khaqathir Al Sawanih fi Asrar Al Fawatih , Beliau mencoba
menggambarkan tentang beberapa kategori dari pembukaan-pembukaan surat yang ada di dalam surat
yang ada di dalam Al-Quran. Pembagian karakter pembukaannya adalah:
1. Pujian terhadap Allah SWT. yang dinisbatkan kepada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan.
2. Menggunakan huruf-huruf hijaiyah; terdapat dalam 29 surat.
3. Menggunakan kata seru (ahrufun nida); terdapat dalam sepuluh surat.
4. Menggunakan kalimat berita (jumlah khabariyah), terdapat dalam 23 surat.
5. Berbentuk sumpah (Al Aqsam), terdapat dalam 15 surat.
152
Abu Syamah sebagai dikutip oleh As Suyuthi memaparkan 10 macam pembukaan surat
diantaranya :
1. Pembukaan dengan pujian kepada Allah (al-istiftah bil al tsana).

150
Chirzin, Muhammad.1999. Al-Quran dan Ulumul Quran, Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa: 62
151
Ibid: 62
152
As Suyuthi, Jalaludin. Al Itqon fi ulumil quran. Beirut: Darul fikr, t.t, juz 2 : 105.

74
Ulumul Quran

Pujian kepada Allah ada dua macam, yaitu :


a. Menetapkan sifat-sifat terpuji dengan menggunakan salah satu lafal berikut :
1) Memakai lafal hamdalah yakni dibuka dengan , yang terdapat dalam 5 surat yaitu :
Q.S. Al Fatihah, Al Anam, Al Kahfi, Saba, dan Fathr.
2) Memakai lafal , yang terdapat dalam 2 surat yaitu Q.S. Al Furqan dan Al Mulk.
b. Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (tanzih an ssifatin naqshin) dengan menggunakan lafal
tasbih terdapat dalam 7 surat yaitu : Q.S. Al Isra, al Ala, al Hadid, al Hasyr, as shaff, al jumah, dan
at Taghabun.
2. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus-putus (Al Ahruful Muqotoah).
Pembukaan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 huruf tanpa diulang,
yakni ,,,, ,,,,,,,,,,. Penggunaan huruf-huruf tersebut dalam pembukaan surat-
surat Al Quran disusun dalam 14 rangkaian berikut :
a. Kelompok sederhana, terdiri dari satu huruf, terdapat dalam 3 surat, yakni ( Q.S. Shad), ( Q.S.
Qof) (Q.S. Nun).
b. Kelompok yang terdiri dari dua huruf, terdapat dalam 3 rangkaian dan 9 surat, yakni ( Q.S. Al
Mumin, Q.S. As Sajdah, Q.S. Az Zuhruf, Q.S. Ad Duhkan, Q.S. Al Jatsiyah, dan Q.S. Al Ahqaf),
(Q.S. Thaha); ( Q.S. An Naml) dan ( Q.S. Yaasin).
c. Kelompok yang terdiri dari tiga huruf, terdapat dalam 3 rangkaian dan 13 surat, yakni : ( Q.S. Al
Baqoroh, Q.S. Ali Imron, Q.S. Ar Rum, Q.S. Lukman, dan Q.S. Sajdah), ( Q.S. Yunus, Q.S. Hud,
Q.S. Ibrahim, Q.S. Yusuf, dan Q.S. Al Hijr) dan ( Q.S. Al Qoshosh dan Q.S. As Syuara).
d. Kelompok yang terdiri dari 4 huruf, terdapat dalam 2 rangkaian dan 2 surat, yakni ( Q.S. Ar
Radu) dan ( Q.S. Al Araf).
e. Kelompok yang terdiri dari 5 huruf terdapat dalam 2 rangkaian dan 2 surat, yakni ( Q.S.
Maryam) dan ( Q.S. As Syura).
3. Pembukaan dengan panggilan (al istiftah bin nida).
Nida ini ada tiga macam, terdapat dalam 9 surat, yaitu nida untuk Nabi ) ,( yang terdapat
dalam Q.S. Al Ahzab, At Tahrim dan At Thalaq. ( ) dalam Q.S. al Muzammil dan term (
) , nida untuk kaum mukminin dengan term terdapat dalam Q.S. Al Maidah dan
Al hujurat, dan nida untuk umat manusia terdapat dalam Q.S. An Nisa dan Q.S. Al Hajj.
153
Menurut As Suyuthi pembukaan dengan panggilan ini terdapat dalam 10 surat, yakni ditambah
dengan Q.S. Al Mumtahanah.
4. Pembukaan dengan kalimat (jumlah) khabariyah (al istiftah bi al jumal al khabariyah).
Jumlah khabariyah dalam pembukaan surat ada dua macam, yaitu :
a. Jumlah Ismiyyah
Jumlah ismiyah yang menjadi pembuka surat terdapat 11 surat, yaitu terdapat dalam Q.S. At
Taubah, Q.S. An Nur, Q.S. Az Zumar, Q.S. Muhammad, Q.S. Al Fath, Q.S. Ar Rahman, Q.S. Al
Haaqqah, Q.S. Nuh, Q.S. Al Qodr, Q.S. Al Qoriah, dan Q.S. Al Kautsar.
b. Jumlah Filiyyah
Jumlah filiyah yang menjadi pembuka surat-surat Al Quran terdapat dalam 12 surat, yaitu : Q.S.
Al Anfal, Q.S. An Nahl, Q.S. Al Qomar, Q.S. Al Muminun, Q.S. Al Anbiya, Q.S. Al Mujadalah, Q.S. Al
Maarij, Q.S. Al Qiyamah, Q.S. Al Balad, Q.S. Abasa, Q.S. Al Bayyinah, Q.S. At Takatsur.
5. Pembukaan dengan sumpah (al istiftah bil qasam).
Sumpah yang digunakan dalam pembukaan surat-surat Al Quran ada tiga macam dan terdapat dalam
15 surat. Pembahasan selanjutnya dalam bab tersendiri.

153
Ibid : 105.

75
Ulumul Quran

6. Pembukaan dengan syarat (al istiftah bis syarat).


Syarat-syarat yang digunakan dalam pembukaan surat-surat Al Quran ada dua macam dan digunakan
dalam 7 surat, yakni : Q.S. At Takwir, Q.S. Al Infithar, Q.S. Al Insiqaq, Q.S. Al Waqiah, Q.S. Al
Munafiqun, Q.S. Al Zalzajah, dan Q.S. An Nashr.
7. Pembukaan dengan kata kerja perintah (al istiftah bil amr). Berdasarkan penelitian para ahli, ada
sekitar 6 kata kerja perintah yang menjadi pembukaan surat-surat Al Quran terdapat dalam Q.S. Al
Alaq, Q.S. Jin, Q.S. Al Kafirun, Q.S. Al Falaq, dan Q.S. An Nas.
8. Pembukaan dengan pertanyaan (al istiftah bil istifham).
Bentuk pertanyaan ini ada dua macam, yaitu :
a. Pertanyaan positif yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat positip. Pertanyaan dalam
bentuk ini digunakan dalam 4 surat, yaitu : Q.S. Ad Dahr, Q.S. An Naba, Q.S. Al Ghasyiyah, dan Q.S.
Al Maun.
b. Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat negatif, yang hanya terdapat
dalam dua surat, yakni : Q.S. Al Insyirah dan Q.S. Al Fil.
9. Pembukaan dengan doa (Al Istiftah bid dua).
Pembukaan dengan doa ini terdapat dalam 3 surat, yaitu : Q.S. Al Muthaffifin, Q.S. Al Humazah, dan
Q.S. Al Lahab.
10. Pembukaan dengan alasan (al istiftah bit talil).
Pembukaan dengan alasan ini hanya terdapat dalam Q.S. Al Quraisy.
Apabila kita mengklasifikasikan huruf-huruf yang terdapat dalam fawatih al-suwar, maka akan kita
dapati bahwa susunannya tidak saja terdiri dari separuh huruf hijaiyah, bahkan juga meliputi setiap jenis
huruf, yakni:
1. Di antara kelompok huruf-huruf halq (yang suaranya keluar dari kerongkongan), terdapat huruf:

2. Di antara kelompok huruf-huruf mahmusah (yang suaranya seperti bisikan), terdapat huruf:

3. Di antara kelompok huruf-huruf mahjurah (yang suaranya dikeraskan), terdapat huruf:

4. Di antara huruf-huruf syafahi (suaranya di bibir), terdapat huruf:
5. Di antara huruf-huruf qalqalah (suaranya bergerak apabila dimatikan), terdapat huruf:

C. Fungsi Fawatihus Suwar


Menurut sebagian ulama, fungsi dari fawatihus suwar adalah untuk menyempurnakan dan
memperindah bentuk-bentuk penyampaian, dengan sarana pujian atau melalui huruf-huruf. Selain itu ia
dipandang merangkum segala materi yang akan disampaikan lewat kata-kata awal. Dalam hal ini Al-
Fatihah dapat digunakan sebagai ilustrasi dari suatu pembuka yang merangkum keseluruhan pesan ayat
dan surat yang terdapat di dalam Al-Quran.
Al-Quran yang diturunkan ditengah masyarakat Quraisy yang ahli dalam kebahasaan tentunya
mempunyai keistimewaan dalam aspek kebahasaan yang dapat melemahkan mereka mengingat
eksistensinya sebagai mukjizat, dengan membahas fawatihus suwar ini akan terungkaplah mukjizat yang
terkandung di dalamnya serta mengetahui akan keterbatasan akal manusia dalam memahami sesuatu
yang sifatnya ghaib serta memberikan pemahaman ilahiah kepada manusia melalui pengalaman
154
inderawi yang biasa digunakan.

D. Pendapat Ulama tentang Huruf Fawatihus Suwar


Secara ringkas, pendapat para ulama dapat dikemukakan ke dalam 3 sudut pandang utama, yakni:

154
Anwar, Rosihon. Op. Cit: 142

76
Ulumul Quran

1. Penafsiran yang memandang huruf-huruf tersebut masuk ke dalam kategori ayat-ayat mutasyabihat
yang maknanya hanya diketahui oleh Allah SWT.
Pandangan kelompok pertama yang diwakili oleh para ulama salaf, dalam menyikapi huruf-huruf
hijaiyah yang terletak pada awal surah sebagai ayat-ayat mutasyabihat, berpendapat bahwa ayat-
ayat tersebut telah tersusun sejak azali sedemikian rupa, melengkapi segala yang melemahkan
155
manusia dari mendatangkan yang seperti Al-Quran. Karena kehati-hatiannya, mereka tidak berani
memberi penafsiran terhadap huruf-huruf itu, dan berkeyakinan bahwa Allah SWT sendiri yang
mengetahui tafsirnya. Hal ini menjadi suatu kewajaran yang berlaku bagi ulama salaf karena mereka
dalam hal teologi pun menolak untuk terlibat dalam pembahasan tentang hal-hal yang menurut
156
mereka tidak dapat dilampaui oleh akal manusia.
157
Al-Syabi (w.104) menegaskan bahwa; Huruf awalan itu adalah rahasia Al-Quran. Dasar
argumentasinya adalah karena hal tersebut dipertegas oleh perkataan Abu Bakar al-Shiddiq, bahwa:

Di tiap-tiap kitab, ada rahasianya. Rahasia dalam Al-Quran, ialah permulaan-permulaan surat.
Ali bin abi Thalib juga pernah berkata:


Sesungguhnya bagi tiap-tiap kitab ada saripatinya, saripati Al-Quran ini ialah huruf-huruf
hijaiyah.
Demikian pula ahli-ahli hadis menukilkan dari Ibnu Masud (w. 32 H./6523 M.) dan empat Khulafa
Rasyidin, bahwa mereka berkata:


Sesungguhnya huruf-huruf ini, adalah ilmu yang tersembunyi dan rahasia yang terdinding, yang
hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.
Karenanya, ulama-ulama yang memaknakan fawatih al-suwar ini, tidak berani memberikan pendapat
secara pasti, mereka hanya menyerahkan penafsirannya yang hakiki kepada Allah Swt.
2. Penafsiran yang memandang huruf-huruf itu sebagai singkatan untuk kata-kata atau kalimat tertentu.
Menurut Ibnu Abbas berdasarkan riwayat Ibnu abi Hatim, huruf-huruf itu menunjukkan nama Tuhan.
Alif Lam Mim, yang terdapat dalam pembukaan surat Al-Baqarah, ditafsirkan dengan Ana Allah Alam
(Akulah Allah Yang Mahatahu). Alif Lam Ra ditafsirkan dengan Ana Allah Ara (Akulah Allah Yang
Maha Melihat). Juga menurutnya Alif Lam Ra dan Ha Mim merupakan ejaan ar-rahman yang
dipisahkan. Dalam mengomentari huruf Kaf Ya Ha Ain Shad, ia berkata, Kaf sebagai lambang[i]Karim
(Pemurah), Ha berarti Hadin (Pemberi petunjuk), Ya berarti Hakim (Bijaksana), Ain berarti Alim
(mengetahui), Shad berarti Shadiq (Yang benar).
Menurut Sayyid Quthub, huruf-huruf itu adalah pengingat akan mujizat Al-Quran, dimana Al-Quran
disusun dengan menggunakan huruf-huruf yang lazim dipakai orang arab, akan tetapi mereka tidak
dapat menandinginya.
Pendapat lain mengenai fungsi fawatih ini ialah bahwa fawatih tersebut digunakan sebagai tanbih
(peringatan) sebelum melaksanakan melontarkan uraian Al-Quran, dalam arti menyadarkan
perhatianpendengar. Dikarenakan setelah adanya huruf-huruf tersebut pada umumnya adalah ayat
yang menerangkan tentang Al-Kitab dan kenabian.
Menurut Ibnu Qatadah, bahwa tidak mungkin Allah SWT menurunkan sesuatu yang ada di dalam Al-
Quran kecuali akan memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi hamba-Nya, dan tentu ada sesuatu
158
yang bisa menunjukkan kepada maksud yang dikehendaki-Nya.

155
Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi Op. Cit: 127
156
Ali, A. Mukti Memahami. 1993. Beberapa Aspek Ajaran Islam, Yogyakarta: Mizan, 27
157
Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi Op. Cit: 128
158
Anwar, Rosihon. Op. Cit: 136

77
Ulumul Quran

Al-Suyuti menerangkan pula-sebagaimana yang dikutip oleh Hasbi al-Shiddieqy, bahwa sebahagian
dari huruf-huruf tersebut adalah nama Allah, seperti: , , . Demikian pula dari Salim Abd
Ibn Abdillah, ia berkata: dan dan seumpamanya adalah nama Allah SWT yang dipisah-
159
pisah.
3. Penafsiran yang memandang huruf-huruf itu bukan merupakan singkatan, tetapi mengajukan
160
sejumlah kemungkinan tentang penafsiran maknanya.
Kelompok ketiga, berpendapat bahwa huruf-huruf potong yang terdapat pada permulaan sejumlah
surah Al-Quran itu bukanlah singkatan-singkatan untuk kata atau kalimat tertentu. Tetapi
sehubungan dengan makna huruf-huruf tersebut, kelompok ini juga mengajukan kemungkinan-
kemungkinan penafsiran yang bervariasi.
Huruf-huruf itu merupakan huruf-huruf misterius yang secara tidak jelas merujuk kepada nama-nama
nabi, nama-nama bagi Al-Quran, dan mana-nama bagi surah yang memuatnya, seperti adalah
nama bagi surah Al-Baqarah, adalah nama bagi surah Maryam, adalah nama surah Al-Qalam,
dan seterusnya. Pendapat ini dipilih oleh kebanyakan ulama kalam, dan sekelompok ulama bahasa,
161
dan dibenarkan oleh Syekh Thusi serta dikuatkan oleh At-Tabari (224-310 H.).
Ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf tersebut merupakan tanda-tanda mistik dengan
makna simbolik yang didasarkan pada nilai-nilai numeric alphabet Semitik-Utara,
misalnya: (1+30+40=71); ) 1+30+40+60=131); ( 1+30+200=menun231); (1+30+40+200=
162
271), dan lain-lain, dimana angka-angka ini menunjukkan usia umat Nabi Muhammad. Pendapat
ini selanjutnya dikomentari oleh Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935 M.) dalam tafsir Al-Manarnya
sebagaimana yang dikutip oleh Baqir Hakim bahwa: Pendapat yang paling lemah mengenai huruf-
huruf ini dan yang paling tidak masuk akal adalah bahwa jumlah hitungan angkanya mengisyaratkan
163
umur ini atau yang serupa dengan itu.
Kelompok Syiah berpendapat bahwa jika huruf-huruf awalan itu dikumpulkan dengan
mengesampingkan perulangannya, maka akan menjadi suatu kalimat yang berbunyi:
( Jalan yang ditempuh Ali adalah kebenaran yang kita pegangi).
164
Tampaknya
pemahaman ini bertujuan untuk memperkuat dakwaan mereka bahwa Ali sebagai imam mereka.
Karena itu pula, sebagian ulama Sunni membantahnya dengan menyusun kalimat yang mengandung
pengertian yang memihak kepada Sunni dari huruf-huruf yang sama, menjadi:
( Telah benar jalanmu bersama sunnah). 165

Huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran tersebut adalah juga
166
jaminan keotentikan dan keutuhan Al-Quran sebagaimana diterima oleh Rasulullah. Demikian
pendapat Rasyad Khalifah Sebagaimana yang dikutip oleh DR. Mustafa Ahmad yang tertuang dalam
membumikan Al-Quran karya M. Quraish Shihab. Lebih lanjut dikatakan bahwa, Tidak berlebih dan
atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang digunakan oleh Al-Quran. Kesemuanya habis
terbagi 19, sesuai dengan jumlah huruf-huruf B(i)sm All(a)h Al-R (a)hm(a)n Al-R(a)him. (huruf a dan i
dalam kurung tidak tertulis dalam aksara bahasa Arab). Huruf ( qaf) yang merupakan awal dari surah
ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 39x19. Huruf-huruf kaf, ha, ya, ayn, shad, dalam
surah Maryam, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42x19. Huruf (nun) yang memulai surah Al-
Qalam, ditemukan sebanyak 133 atau 7x19. Kedua huruf ( ya) dan ) sin) pada surah Yasin

159
Syadali, Ahmad dan Ahmad RofiI, Op. Cit: 190. Baca pula: Ibrahim Al-Abyari,Tarikh al-Quran, diterjemahkan oleh Hj. St.
Amanah dengan judul Sejarah Al-Quran (Cet. I, Semarang: Dina Utama, 1993), h. 136-137.
160
Amal, Taufik Adnan. 2001. Rekonstruksi Sejarah Al-Quran , Yogyakarta: Forum Kajian Budaya dan Agama: 217
161
Hakim, Muhammad Baqir. 2006. Ulum al-Quran, diterjemahkan oleh Nashirul Haq, et. al. dengan judul Ulumul Quran,
Jakarta: Al-Huda Cet. III: 655
162
Amal, Taufik Adnan. Op. Cit: 219
163
Hakim, Muhammad Baqir. Op. Cit: 661
164
Syadali, Ahmad dan Ahmad RofiI, Op. Cit: 162
165
Syadali, Ahmad dan Ahmad RofiI, Op. Cit: 162-164
166
Shihab, M. Quraish. 1994. Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan,
Cet. VII: 22

78
Ulumul Quran

masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15x19. Kedua huruf ( tha) dan ( ha) pada surah
Thaha masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 19x18. Huruf-huruf (ha) dan (mim)
yang terdapat pada keseluhan surah yang dimulai dengan kedua huruf ini, hamim, kesemuanya
167
merupakan perkalian dari 114x19, yakni masing-masing berjumlah 2.166.
Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah,
dijadikan sebagai bukti keotentikan Al-Quran. Karena, seandainya ada ayat yang berkurang atau
berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka tentu perkalian-
perkalian itu akan menjadi kacau. Angka 19, yang merupakan perkalian dari jumlah-jumlah tersebut,
168
juga diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam Q.S. 74: 30 yang turun
dalam konteks ancaman terhadap seorang yang meragukan kebenaran Al-Quran. " Wallahu alam

167
Ibid
168
Q.S. Al-Mudassir ayat 30, yang artinya Diatasnya ada Sembilan belas (malaikat penjaga),

79
Ulumul Quran

BAB 9
ILMU MUHKAM DAN MUTASYABIH

A. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih


Secara etimologis, Kata muhkam merupakan isim maful dari ahkama yang secara harfiah semakna
dengan atqana atau mutqan yang berarti kuat atau dikuatkan. Selain itu muhkam secara bahasa juga
169
berarti wadhih (jelas). Kata muhkam ialah sesuatu yang dikokohkan, jelas, fasih, indah dan
170
membedakan antara yang hak dan yang bathil. Karena ayat Al-Quran adalah wahyu Allah yang maha
Sempurna, sehingga tidak ada kekurangan sedikitpun di dalamnya. Salah satu dasarnya adalah ayat
dalam QS.Huud: 1


Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara
terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu,
Kata mutasyabih adalah isim fail tasyabaha, yang semakna dengan mumathaalah yang berarti
171
serupa, samar-samar atau tidak jelas. Pengertian tersebut mangandung makna bila salah satu dari dua
hal serupa dengan yang lain. Syubhah (kemiripan) yaitu keadaan di mana salah satu dari dua hal itu tidak
dapat dibedakan dari yang lain karena kemiripan di antara keduanya secara konkret maupun
abstrak. Para ulama, pada umumnya mengartikan mutasyabih dengan persamaan dan kesamaan yang
mengarah kepada keserupaan dan kemiripan. Dengan pengertian ini, maka Al-Quran seluruhnya dapat
dikatakan mutasyabih, jika yang dimaksud adalah kesamaan tingkatan keijazan dalam kefasihan bahasa,
sehingga karena kesamaan keijazannya itu sulit untuk diterangkan kelebihannya masing-masing. Hal ini
ditegaskan oleh Allah dalam QS. Al-Zumar: 23.


Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-
ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya.
Subhi Ash-Shalih menyimpulkan bahwa Muhkam adalah ayat-ayat yang bermakna jelas.
Sedangkan Mutasyabih adalah ayat yang maknanya tidak jelas, dan untuk memastikan pengertiannya
172
tidak ditemukan dalil yang kuat.
Dalam diskursus ilmu-ilmu Al-Quran, pengertian Muhkam adalah yang jelas, menunjukkan makna
secara gamblang, tidak ada keraguan dalam memahami dari segi lafad maupun maknanya. Sedangkan
173
Mutasyabih adalah menyerupai yang lain, baik dari sisi lafad maupun dari sisi makna . Seperti
termaktub dalam QS. Ali Imran: 7


Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang
muhkamaat Itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun
orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian
ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari
ta'wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang
mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu

169
Kadar, M. Yusuf. 2010. Studi Al-Quran, Jakarta: Amzah, cet II,92
170
Supiana, dkk. 1994. Ulumul Quran, Jakarta: Pustaka Islamika, 185
171
Kadar, M. Yusuf. Op. Cit, 93
172
Muhammad Chirzin, op.cit, hal. 71 atau baca bukunya Subhi ash-Shalih. 1995.Membahas Ilmu-ilmu Al-Quran, terjemah: Team
Pustaka Firdaus. Jakarta: Pustaka Firdaus, hal. 171-174.
173
Qardhawi, Yusuf. 2000. Bagaimana Berinteraksi dengan Al-Quran. Penerjemah Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 288

80
Ulumul Quran

dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang
yang berakal.
Ayat yang muhkamat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan
mudah. Sedangkan yang termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang
mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah
diselidiki secara mendalam, atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti
ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat,
surga, neraka dan lain-lain.
Ayat Muhkam dipahami sebagai ayat yang sudah jelas, nyata, dan tidak memerlukan tawil,
sementara ayat mutasyabih dipahami mempunyai ambiguitas yang membutuhkan tawil. Aturan yang
disepakati sebagian ulama adalah yang mutasyabih harus dikembalikan ke yang muhkam, atau dengan
kata lain yang ambigu didasarkan pada yang jelas, dan muhkam menjadi panduan untuk menafsirkan
174
serta memahami yang Mutasyabih.
Secara umum ayat-ayat muhkam dikelompokkan ke dalam dua bagian :
1. Ayat-ayat yang sangat jelas maksudnya, sehingga orang biasapun dapat mengetahuinya. Allah SWT
berfirman dalam QS: Al-Baqarah:183,


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa.
Perintah puasa (ash-shiyam), dalam ayat ini sudah jelas maksudnya yaitu tentang hukum kewajiban
berpuasa.
2. Ayat-ayat yang hanya dapat dipahami oleh para ulama berdasarkan ilmu alat yang mereka kuasai,
seperti ushul fiqh, dan kaidah-kaidah ilmu balaghah. Dalam hal ini Allah SWT berfirman pada QS. Al-
Baqarah:261


Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan
Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha
Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui
Adapun maksud dengan perumpamaan orang-orang yang berinfak pada ayat ini adalah perumpamaan
pahala bagi orang yang menginfakkan hartanya. Jadi ada kata yang dibuang yaitu shawab (pahala) atau
ajr (balasan), hal ini disebut dengan majaz nuqshan.

B. Kriteria Ayat-ayat Mutasyabihat


J.M.S Baljon, mengutip pendapat Zamakhsari yang berpendapat bahwa termasuk kriteria ayat-
ayat Muhkamat adalah apabila ayat-ayat tersebut berhubungan dengan hakikat (kenyataan), sedangkan
175
ayat-ayat Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang menuntut penelitian (tahqiqat).
Ali Ibnu Abi Thalhah memberikan kriteria ayat-ayat Muhkamat sebagai berikut, yakni ayat-ayat yang
membatalkan ayat-ayat lain, ayat-ayat yang menghalalkan, ayat-ayat yang mengharamkan, ayat-ayat
176
yang mengandung kewajiban, ayat-ayat yang harus diimani dan diamalkan. Sedangkan ayat-
ayat Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang telah dibatalkan, ayat-ayat yang dipertukarkan antara yang

174
Nasr Hamid Abu Zaid. 2003. Tekstualitas Al-Quran: Kritik Terhadap Ulumul Quran. Judul asli Mafhum an-Nash Dirasah fi Ulum
Al-Quran. Penerjemah Khoiron Nahdliyyin. Yogyakarta: LKiS, 221.
175
Op. Cit, Chirzin : 73, atau baca J.M.S. Baljon. 1991. Tafsir Quran Muslim Modern,terjemah: Niamullah Muiz. Jakarta: Pustaka
Firdaus, 11-13.
176
Ibid, Chirzin : 73 atau baca Syamsurizal Panggabean, Makna muh}kam danMutasya>bih dalam Al-Quran, makalah
disampaikan dalam diskusi Al-Jamiah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 5 maret 1989, hal 3-4.

81
Ulumul Quran

dahulu dan yang kemudian, ayat-ayat yang berisi beberapa variabel, ayat-ayat yang mengandung
sumpah, ayat-ayat yang boleh diimani dan tidak boleh diamalkan.
Ar-Raghib Al-Ashfihani memberikan kreteria ayat-ayat Mutasyabihat sebagai ayat atau lafal yang
tidak diketahui hakikat maknanya, seperti tibanya hari kiamat, ayat-ayat Al-Quran yang hanya bisa
diketahui maknanya dengan sarana bantu, baik dengan ayat-ayat Muhkamat, hadis-hadis sahih maupun
ilmu penegtahuan, seperti ayat-ayat yang lafalnya terlihat aneh dan hukum-hukumnya tertutup, ayat-
ayat yang maknanya hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang dalam ilmunya. Sebagaimana
diisyaratkan dalam doa Rasulullah untuk Ibnu Abbas, Ya Allah, karuniailah ia ilmu yang mendalam
177
mengenai agama dan limpahankanlah pengetahuan tentang tawil kepadanya. Muhkam menyangkut
soal hukum-hukum (faraid), janji, dan ancaman, sedangkan Mutasyabih mengenai kisah-kisah dan
178
perumpamaan.

C. Sebab-sebab Terjadinya Tasyabuh dalam Al-Quran


1. Mutasyabih dari aspek lafal saja, maksudnya terdapat lafal tertentu dalam satu ayat yang tidak pasti
maksudnya, hal ini disebabkan oleh :
a. Mutasyabih karena asing (gharib) atau jarang digunakan.
Contoh : Firman Allah SWT pada QS. Abasa: 31,


dan buah-buahan serta rumput-rumputan.
Kata jarang digunakan, sehingga maknanya tidak jelas atau tidak begitu popular, dalam ayat
ini kata tersebut diartikan rumput-rumputan. Ash-Shabuni memberi makna
kata tersebut adalah segala sesuatu yang tumbuh di bumi yang dimakan oleh binatang, seperti
rumput.
b. Mutasyabih disebabkan suatu lafal memiliki makna yang ganda.
Contoh : Firman Allah SWT pada QS. Al-Baqarah: 228,


Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.
Kata Quru secara harfiah berarti suci dan haid. Karena tidak ada kejelasan tentang maksud quru
ini, maka terdapatlah perbedaan pendapat dari kalangan ulama, ada yang mengatakan artinta suci
dan ada yang mengatakan bahwa quru berarti haid.
c. Mutasyabih dari segi susunan lafalnya.
Contoh : Allah SWT, berfirman dalam QS. An-Nisa: 3,


Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim
(bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua,
tiga, atau empat.
Ayat ini memberi maksud apabila di antara kamu ada yang memelihara anak yatim
dan ingin menikahinya, tetapi merasa takut dan enggan dalam hal memberi mas kawin, maka
janganlah menikah dengannya. Dan nikahilah perempuan lain yang kamu tidak enggan untuk
memberi mas kawin padanya.
Ar-Raghib al-Asfhani membagi Mutasyabihat dari segi lafal menjadi dua, yaitu mufrad
dan murakkab. Mutasyabih lafal mufrad adalah tinjauan dari segi kegaribannya, seperti
kata yaziffun, al-abu; Isytirak, seperti kata al-yadu, al-yamin. Tinjauan lafal murakkab berfaedah
untuk meringkas kalam, seperti: wa in khiftum alla tuqsitu fil yatama fankhihu ma taba

177
Ibid, Chirzin : 73, atau baca Syamsurizal Panggabean, op.cit., hal. 5-6.
178
Dahlan, Zaini dkk. 1991. Mukadimah Al-Quran dan Tafsirnya. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 52

82
Ulumul Quran

lakum., untuk meluruskan kalam, seperti: laisakamis|lihi syaiun, untuk mengatur kalam,
179
seperti: anzala ala abdihil kitaba walam yajal lahu iwaja.
2. Mutasyabih disebabkan oleh ketersembunyian pada makna. Hal ini biasanya terdapat pada ayat-
180
ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah SWT dan berita gaib.
Contoh: Q.S. Al-Fath: 10.


Tangan Allah di atas tangan mereka
3. Mutasyabih disebabkan oleh ketersembunyian pada makna dan lafal
Ditinjau dari segi kalimat, seperti umum dan khusus, misalnya uqtulul musyrikina, dari segi cara,
seperti wujub dan nadb, misalnya, fankhihu ma taba lakum minan nisa, dari segi waktu,
seperti nasikh dan mansukh, misalnya, ittaqullah haqqa tuqatihi, dari segi tempat dan hal-hal lain
yang turun di sana, atau dengan kata lain, hal-hal yang berkaitan dengan adat-istiadat jahiliyah, dan
181
yang dahulu dilakukan bangsa Arab. Seperti, laisal birru bian tatul buyuta min zuhuriha, segi
syarat-syarat yang mengesahkan dan membatalkan suatu perbuatan, seperti syarat-syarat salat dan
182
nikah.
Ketersembunyian pada makna dan lafal mencakup beberapa hal, yaitu :
a. Kuantitas
Yakni dipandang keumuman dan kekhususan lafalnya. Artinya lafal-lafal yang bersifat umum yang
terdapat ayat dimasukkan dalam kategori ayat mutasyabih, karena mengandung ketidak jelasan
makna, sehingga ia bisa saja diperlakukan secara umum atau ditakhsiskan oleh ayat yang lain.
b. Kualitas
Yakni kualitas yang dikandung ayat apakah ia wajib atau sunnah. Pada dasarnya seperti kaidah
ushul fiqh yaitu perintah itu menunjukkan kepada yang wajib. Namun, tidak semua perintah
bermuatan wajib. Karena amar dapat juga diartikan irsyad, sunnah, taswiyah, tahdid, dan lain-
lain. Maka perintah yang terdapat dalam Al-Quran memiliki kemungkinan beberapa makna,
dengan demikian perintah termasuk kategori mutasyabih, kecuali perintah tertentu yang telah
disepakati maknanya, seperti wajibnya shalat dan berwudhu sebelum shalat.
c. Masa, seperti nasakh dan mansukh.
d. Syarat sah melakukan perintah yang dikandung oleh suatu ayat

D. Macam-macam Ayat Mutasyabihat


Sesuai dengan sebab-sebab adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-Quran, maka ayat-ayat
183
tersebut dikelompokkan menjadi 3 macam, yaitu:
1. Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manusia, kecuali Allah SWT.
Contohnya, seperti Dzat Allah SWT, hakikat sifat-sifat-Nya, waktu datangnya hari kiamat, dan hal-hal
ghaib lainnya. Seperti keterangan ayat 59 surah Al-Anam:


Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali
Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun
yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam

179
Chirzin. Op. Cit, : 73
180
Chirzin. Op. Cit, : 74
181
Orang yang berjanji setia biasanya berjabatan tangan. Caranya berjanji setia dengan Rasul ialah meletakkan tangan Rasul di
atas tangan orang yang berjanji itu. jadi maksud tangan Allah di atas mereka ialah untuk menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah
sama dengan berjanji dengan Allah. jadi seakan-akan Allah di atas tangan orang-orang yang berjanji itu. hendaklah diperhatikan bahwa
Allah Maha Suci dari segala sifat-sifat yang menyerupai makhluknya.
182
Qardhawy, Yusuf 1997. Al-Quran dan As-Sunnah Referensi Tertinggi Umat Islam.Jakarta: Rabbani Press, 223
183
Abdul Djalal H.A., Op.cit., 251-253

83
Ulumul Quran

kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab
yang nyata (Lauh Mahfudz)"
2. Ayat-ayat mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang maksudnya. Hal ini dapat dilakukan
dengan jalan pembahasan dan pengkajian/ penelitian yang mendalam. Contohnya, ayat-ayat
mutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutan, dan seumpamanya. Jadi,
dalam menyikapi ayat-ayat ini adalah merinci yang mujmal, menentukan yang musytarak,
menqayidkan yang mutlak, menertibkan yang kurang tertib, dan sebagainya. Seperti dalam firman
Allah Q.S. An-Nisa: 3,


Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim, maka
kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu
takut tidak akan dapat Berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-
budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Maksud ayat ini tidak jelas dan ketidakjelasannya timbul karena lafalnya yang ringkas. Kalimat asalnya
184
berbunyi:


Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim sekiranya
kamu kawini mereka, maka kawinilah wanita-wanita selain mereka.
3. Ayat-ayat mutasyabihat yang hanya dapat diketahui oleh para pakar ilmu dan sain, bukan oleh semua
orang. Ahmad Syadzali dalam bukunya tipe yang ketiga ini lebih menspesifikkan lagi. Ia menyatakan
maksudnya ayat-ayat tersebut hanya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan bukan semua
ulama. Jadi bukan semua ulama apalagi orang awam yang dapat mengetahui maksudnya. Allah
berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 7 Artinya: Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya
melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya

E. Pandangan dan Sikap Ulama tentang Ayat-ayat Mutasyabihat


Para ulama berbeda pendapat tentang apakah arti ayat-ayat mutasyabih hanya Allah SWT saja yang
mengetahui artinya atau manusia juga dapat mengetahuinya. Perbedaan pendapat itu terjadi berasal
pada cara menjelaskan struktur kalimat QS. Ali Imran (3) : 7, berikut ini :


Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat ayat
muhkamat) itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat ). Adapun
orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti
sebahagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari
tawilnya, padahal tidak ada yang mengetahui tawilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang
mendalam ilmunya berkata : Kami telah beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya
itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-
orang yang berakal.
Apakah ungkapan wa Al-rasikhuna fi alilm di athafkan pada lafaz Allah, sementara lafazh
yaquluna sebagai hal. Ini artinya bahwa ayat-ayat mutasyabih pun diketahui orang-orang yang

184
Syadali, Ahmad dkk., 2000. Ulumul Quran I, Bandung:Pustaka setia, cet.II, hlm. 1999

84
Ulumul Quran

mendalam ilmunya. Atau apakah ungkapan wa Al-rasikhuna fi alilm sebagai mubtada, sementara
lafazh yaquluna sebagai khabar ? Ini artinya bahwa ayat-ayat mutasyabih itu hanya diketahui Allah,
185
sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya hanya mengimaninya. Dari ungkapan di atas,
perbedaan pendapat para ulama terbagi dua, yaitu ;
1. Orang-orang yang mendalam ilmunya mengetahui arti-arti ayat mutasyabih:
a. Ibn Al-Mundzir mengeluarkan sebuah riwayat dari Mujahid, dari Ibn Abbas, mengenai surat Ali
Imran ayat 7. Ibn Abbas mengatakan Aku di antara orang yang mengetahui tawilnya. Dalam
syarah Muslim, Imam Nawawi berkata : Pendapat inilah yang paling shahih, karena tidak
mungkin Allah meng-khitab-i hamba hamba Nya dengan uraian yang tidak ada jalan
mengetahuinya.
b. Asy-Syirazi berkata : Tidak satu ayatpun yang maksudnya diketahui Allah. Para ulama
sesungguhnya juga mengetahuinya. Jika tidak apa bedanya mereka dengan orang awam
2. Orang-orang yang mendalam ilmunya hanya mengimani (tidak mengetahui arti ayat-ayat
mutasyabih)
Hal ini diperkuat oleh beberapa riwayat, yaitu :
a. Riwayat yang dikeluarkan abd Razzaq dalam tafsirnya Al-Hakim dalam Mustadrak-nya dari Ibn
Abbas. Ketika membaca surah Ali Imran (3):7, Ibnu Abbas memperlihatkan bahwa huruf wawu
pada ungkapan wa arrasikhuna berfungsi sebagai istinaf (tanda kalimat baru). Riwayat ini walau
tidak didukung satu raqam qiraah, derajatnya-serendah-rendahnya- adalah khabar dengan sanad
shahih yang berasal dari Turjuman Al-Quran (julukan Ibn Abbas). Oleh karena itu pendapatnya di
dahulukan daripada pendapat selainnya.
b. Ibn Abu Dawud, dalam Al-Mashahif, mengeluarkan sebuah riwayat dari Al-Amasy. Ia
menyebutkan bahwa diantara qiraah Ibn Masud disebutkan : Sesungguhnya penakwilan ayat-
ayat mutasyabih hanya milik Allah semata, sedangkan orang-orang yang mendalamilmunya
berkata , Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih.
c. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya mengeluarkan sebuah riwayat dari Aisyah yang mengatakan
bahwa Rasulullah pernah bersabda ketika mengomentari surat Ali Imran (3) ayat 7 diatas : Hadits
Bukhari : Diriwayatkan dari Aisyah r.a ; Rasulullah Saw. Membaca ayat suci berikut : Dialah yang
menurunkan kepadamu kitab Al-Quran. Di dalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat (yang
maksudnya jelas dan terang). Itulah pokok-pokook Al-quran (di antaranya ayat-ayat tentang Al-
Ahkam, Al-Faraid dan Al-Hudud, dan lainnya adalah ayat-ayat mutasyabihat ( berarti banyak atau
kiasan). Adapun orang yang hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang
mutasyabihat, karena ingin mencari peselisihan dan mencari-cari takwilnya. Tetapi tiada yang
mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya (al-rasikhun fi al-
ilm) berkata, Kami beriman kepada Al-Quran. Seluruhnya dari Tuhan kita. Dan tiada yang mau
memetik pelajaran kecuali Ulul Albab (QS. Ali Imran (3):7) Aisyah menambahkan : Kemudian
Rasulullah SAW, bersabda, jika kamu melihat mereka yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat,
maka mereka itulah yang disebutkan Allah (sebagai orang yang cenderung kepada kesesatan),
186
maka bersikap hati-hatilah terhadap mereka.
d. Ath-Thabrani, dalam Al-Kabir, mengeluarkan sebuah riwayat dari Abu Malik Al-Asyari. Ia pernah
mendengar Rasulullah SAW bersabda :Ada tiga hal yang aku khawatirkan dari ummatku, yaitu
pertama menumpuk-numpuk harta sehingga memunculkan sifat hasad dan menyebabkan
terjadinya pembunuhan. Kedua mencari-cari takwil ayat mutasyabih, padahal hanya Allah lah
yang mengetahuinya

185
Anwar, Rosihon. Op.cit., 120-121
186
Az-Zabidi. 2009. Ringkasan Shahih Al-Bukhari, Bandung: Mizan Media Utama, 729

85
Ulumul Quran

e. Ibn Ali Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Aisyah bahwa yang dimaksud dengan kedalaman
ilmu pada surat Ali Imran ayat 7 adalah mengimani ayat-ayat mutasyabih, bukan berusaha untuk
mengetahuinya.
f. Ad-Darimi, dalam musnadnya, mengeluarkan sebuah riwayat dari Sulaiman bin Yasar yang
menyatakan bahwa seorang pria yang bernama Shabigh tiba di Madinah. Kemudian, ia bertanya-
tanya tentang takwil ayat-ayat mutasyabih. Ia lalu diperintahkan untuk menemui Umar. Umar
sedang memasang tangga ke pohon kurma ketika orang itu menemuinya. Siapakah engkau,
Tanya Umar. Saya adalah Abdullah bin shabigh. Umar lalu memukul orang itu dengan
beberapa kayu dari tangga sehingga kepala orang itu berdarah. Dalam riwayat lain di sebutkan
bahwa Umar memukul orang itu dengan cambuk sehingga meninggalkan bekas pada
punggungnya.
Berkaitan dengan permasalahan ini, M. Quraish Shihab (1998), menuliskan ; Dari segi materi terlihat
bahwa ada ayat-ayat Al-Quran yang tak dapat diketahui kecuali oleh Allah atau Rasul bila beliau
menerima penjelasan dari Allah. Pengecualian ini mengandung beberapa kemungkinan arti, antara
lain :
a. Ada ayat-ayat yang memang tidak mungkin dijangkau pengertiannya oleh seseorang, seperti ya
sin, alif lam mim dan sebagainya. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah yang membagi ayat-
ayat Al-Quran kepada muhkam (jelas) dan mutasyabih (samar), dan tidak ada yang mengetahui
talwil (arti) nya kecuali Allah, sedang orang-orang yang dalam ilmunya berkata kami beriman
kepada ayat-ayat yang mutasyabih (QS 3:7) Atau
b. Ada ayat-ayat yang secara umum diketahui artinya, atau sesuai dengan bentuk luar redaksinya,
tetapi tidak dapat didalami maksudnya, seperti masalah-masalah metafisika, perincian ibadah,
187
dan sebagainya, yang tidak termasuk dalam wilayah pemikiran atau jangkauan akal manusia.
Ar-Raghib Al-Asfahani mengambil jalan tengah dengan membagi ayat-ayat mutasyabih di
pandang dari segi kemungkinan mengetahui maknanya, yaitu ;
a. Bagian yang tidak ada jalan sama sekali untuk mengetahuinya, seperti saat terjadinya hari kiamat,
keluar binatang dari bum, dan lain-lain.
b. Bagian yang menyebabkan manusia dapat menemukan jalan untuk mengetahuinya, seperti kata-
kata asing dalam Al-Quran.
c. Bagian yang terletak di antara keduanya, yakni yang hanya dapat diketahui orang-orang yang
mendalam ilmunya.
Keterangan mengenai perbedaan pendapat dalam memahami QS. Ali Imran ayat 7, berpangkal pada
masalah meletakkan waqaf (tanda berhenti) dalam ayat. Hal ini menimbulkan dua perbedaan
pendapat, yaitu :
a. Pendapat yang menyatakan kedudukan lafazh wa al-rasikhuna sebagai huruf istinaf (permulaan)
dan waqafnya di letakkan pada lafazh Wama yalamu tawilahu illa Allah,
Pendapat ini didukung oleh Ubay bin Kaab, Ibnu Masud, Ibnu Abbas, dan sahabat serta tabiin
lainnya. Alasannya adalah keterangan yang diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadrak-Nya
bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa ia membaca Wa ma yalamu tawilahu illa Allah, wa
ar rasikhuna fiilmu yaquluna amanna bihi . Maka ayat ini yang menyatakan celaan terhadap
orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabih dan menyifatinya sebagai orang-orang yang
hatinya condong kepada kesesatan dan berusaha menimbulkan fitnah.
b. Pendapat kedua yang menyatakan kedudukan lafazh sebagai mathuf dan waqafnya diletakan
pada lafazh War rasikhuna fil Ilmi
Pendapat ini mengatakan bahwa huruf wawu sebagai huruf athaf, dan yang mendukung
pendapat ini adalah segolongan ulama dan dipelopori oleh Muhajid. Dengan alasan Allah SWT

187
Shihab, M. Quraish. 1998. Membumikan Al-Quran. Bandung: Mizan, 78

86
Ulumul Quran

tidak mungkin menyeru kepada Hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak diketahui makna dan
maksud Allah terhadap mereka.
Namun, walaupun ada perbedaan pendapat. Para ulama mencari kompromi terhadap 2 pendapat ini
dengan memahami makna takwil, dengan menjadikan takwil sebagai rujukan maka tidak akan ada
pertentangan dari kedua pendapat tersebut, hal ini didasari karena lafazh takwil digunakan untuk
menunjukkan tiga makna, yaitu :
a. Memalingkan sebuah makna yang rajih kepada makna yang marjuh, karena ada suatu dalil yang
menghendakinya.
b. Takwil dengan makna tafsir yaitu menerangkan atau menjelaskan. Hal ini bermaksud takwil untuk
menafsirkan lafazh-lafazh agar maknanya dapat dipahami.
c. Takwil adalah pembicaraan tentang substansi atau hakikat suatu lafazh.
Maka dari kompromi tadi, pendapat pertama menjelaskan makna takwil dari segi substansi atau
hakikat suatu lafazh, sedangkan pendapat kedua menjelaskan makna takwil dari sisi penafsiran
lafazh-lafazh agar maknaya dapat dipahami." Wallahu alam

87
Ulumul Quran

BAB 10
ILMU MUNASABAH

A. Pengertian Munasabah
188
Menurut Imam Al-Zarkasyi kata munsabah secara bahasa berarti mendekati (muqrabah),
seperti dalam contoh kalimat : fulan yunasibu fulan (fulan mendekati/menyerupai fulan). Kata nasib
adalah kerabat dekat, seperti dua saudara, saudara sepupu, dan semacamnya. Jika keduanya
munsabah dalam pengertian saling terkait, maka namanya kerabat (qarabah). Imam Zarkasyi sendiri
memaknai munsabah sebagai ilmu yang mengaitkan pada bagian-bagian permulaan ayat dan akhirnya,
mengaitkan lafadz umum dan lafadz khusus, atau hubungan antar ayat yang terkait dengan sebab
akibat, illat dan malul, kemiripan ayat, pertentangan (taarudh) dan sebagainya. Lebih lanjut dia
mengatakan, bahwa keguanaan ilmu munsabah adalah menjadikan bagian-bagian kalam saling berkait
sehingga penyusunannya menjadi seperti bangunan yang kokoh yang bagian-bagiannya tersusun
harmonis.
189
Manna al-Qattan dalam kitabnya Mabahits fi Ulum Al-Quran, munsabah menurut bahasa
disamping berarti muqarabah juga musyakalah (keserupaan). Sedang menurut istilah ulum Al-Quran
berarti pengetahuan tentang berbagai hubungan di dalam Al-Quran, yang meliputi:
1. Hubungan satu surat dengan surat yang lain
2. Hubungan antara nama surat dengan isi atau tujuan surat
3. Hubungan antara fawatih al-suwar dengan isi surat
4. Hubungan antara ayat pertama dengan ayat terakhir dalam satu surat
5. Hubungan satu ayat dengan ayat yang lain
6. Hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain dalam satu ayat
7. Hubungan antara fashilah dengan isi ayat
8. Hubungan antara penutup surat dengan awal surat
Munsabah antar ayat dan antar surat dalam Al-Quran didasarkan pada teori bahwa teks
190
merupakan kesatuan struktural yang bagian-bagiannya saling terkait. Sehingga ilm munsabah
dioperasionalisasikan untuk menemukan hubungan-hubungan tersebut yang mengaitkan antara satu
ayat dengan ayat yang lain di satu pihak, dan antara satu ayat dengan ayat yang laijn di pihak yang lain.
Oleh karena itu, pengungkapan hubungan-hubungan itu harus mempunyai landasan pijak teoritik
dan insight (wawasan) yang dalam dan luas mengenai teks.
M. Quraish Shihab memberi pengertian munasabah sebagai kemiripan-kemiripan yang terdapat
pada hal-hal tertentu dalam Al-Quran, baik surah maupun ayat-ayatnya yang menghubungkan uraian
satu ayat dengan yang lainnya. Al-Biqai menjelaskan bahwa ilmu munasabah Al-Quran adalah suatu
ilmu yang mengetahui alasan-alasan yang menyebabkan susunan atau urutan bagian-bagian Al-Quran,
baik ayat dengan ayat ataupun surah dengan surah. Dengan demikian pembahasan munasabah adalah
berkisar pada segala macam hubungan yang ada : seperti hubungan umum atau khusus, rasional dan
sensual atau imajinatif, kausalitas, illat dan malul, kontradiksi dan sebagainya.
Munasabah dalam terminologi ahli-ahli ilmu Al-Quran sesuai dengan pengertian menurut bahasa di
atas adalah segi-segi hubungan atau persesuaian Al-Quran. Antara bagian demi
bagian dalam berbagai bentuk. Dimaksud dengan segi hubungan atau persesuaian disini ialah semua
pertalian yang merujuk kepada makna-makna yang mempertalikan satu bagian dengan bagian yang lain.
Sedangkan yang dimaksud dengan bagian demi bagian ialah semisal antara kata/ kalimat dengan kata/
kalimat, antara ayat dengan ayat, antara awal surah dengan akhir surah, antara surah yang satu dengan
surah yang lain dan begitulah seterusnya hingga benar-benar tergambar bahwa Al-Quran itu merupakan

188
Al-Zarkasyi, Badr al-Din. 1972. Al-Burhn fi Ulm Al-Quran, Beirut : Dar al-Marifah li al-Tibaah wa al-Nasyr, 35-36
189
Al-Qattan, Manna. Loc. Cit, 77-79
190
Zaid, Nasr Hamid Abu. 2001. Tekstualitas Al-Quran : Ktitik Terhadap Ulumul Quran, Yogyakarta : LkiS, 215

88
Ulumul Quran

191
satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh. Maka dalam konteks pembacaan secara holistik pesan
spiritual Al-Quran, salah satu instrumen teoritiknya adalah dengan ilm munsabah
Jika ilmu tentang asbab al-nuzul mengaikan satu ayat atau sejumlah ayat dengan konteks
historisnya, maka ilm munsabah melampui kronologi historis dalam bagian-bagian teks untuk mencari
sisi kaitan antar ayat dan surat menurut urutan teks, yaitu yang disebut dengan urutan pembacaan
192
sebagai lawan dari urutan turunnya ayat.
Timbulnya ilmu munasabah ini tampaknya bertolak dari fakta sejarah bahwa susunan ayat dan
tertib surah demi surah Al-Quran sebagaimana yang terdapat dalam mushhaf sekarang (mushhaf
Utsmani atau yang lebih dikenal dengan mushhaf Al-Imam), tidak didasarkan fakta kronologis.
Kronologis turunnya ayat-ayat atau surah-surah Al-Quran tidak diawali dengan Q.S al-Fatihah, tetapi
diawali dengan lima ayat pertama dari Q.S Al-Alaq. Surah yang kedua turun adalah Q.S Al-Muddatsir.
Sementara surah kedua dalam mushhaf yang digunakan sekarang Q.S Al-Baqarah. Berdasarkan kepada
beberapa pengertian sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, pada prinsipnya munasabah Al-
Quran mencakup hubungan antar kalimat, antar ayat, serta antar surah.
Tercatat dalam sejarah bahwa Imam Abu Bakar al-Naisaburi (w.324H)sebagai orang pertama
melahirkan ilmu munasabah di Baghdad. Menurut Al-Suyuthi (w. 911 H) sebagaimana dikutip oleh Ramli
Adbdul Wahid dalam bukunya yang berjudul Ulumul Quran, orang pertama yang melahirkan ilmu
Munasabah adalah Syeikh Abu Bakar Al-Naisaburi. Apabila Al-Quran dibacakan kepadanya, ia bertanya
mengapa ayat ini ditempatkan di samping ayat sebelahnya dan apa hikmah surat ini ditempatkan di
samping surat sebelahnya. Bahkan ia mencela para ulama Bagdad karena mereka tidak mengetahui ilmu
193
munasabah.
Ulama yang datang kemudian menyusun pembahasan munasabah secara khusus. Diantara kitab al-
Burhn fi Munasabati Tartib Suwar Al-Quran susunan Ahmad Ibn Ibrahim Al-Andalusi (w.807H).
Menurut pengarang tafsir An-Nur, penulis yang membahas munasabah dengan sangat baik ialah
Burhanuddin Al-BiqaI dalam kitab Nazhm ad-Durar di Tanasubi ayatii was Suwar. As-Suyuthi membahas
tema munasabah dalam kitab Al-Itqan dengan topik khusus F Munasabatil Ayat sebelum membahas
ayat musyatabihat.
Az-Zarkasyi membahas soal munasabah dalam Burhan dengan topik yang berjudul Marifatul
Munasabah bainal Ayati sesudah membahas asbab An-nuzul. Subhi Shalih memasukkan pembahasan
munasabah dalam bagian ilmu asbaban nuzul, meskipun tidak dalam satu pasal tersendiri. Sebaliknya,
Said Ramadlan Al-Buthi tidak membicarakan munasabah dalam buku Min Rawaiil Quran.
Terdapat beberapa istilah yang dikemukakan mufasir mengenai munasabah. Ar-Razi
menggunakan istilah taalluq sebagai sinonimnya. Sayyid Quthub menggunakan lafal Irtibath sebagai
pengganti kata munasabah. Sedangkan Sayyid Rasyid Ridla menggunakan dua istilah, yaitu Al-
ittishal dan At-talil. Al-Alusi menggunakan istilah yang hampir sama dengan istilah yang digunakan
194
Sayyid Quthb, yakni tartib.

B. Pokok Bahasan Munasabah


Dasar pemikiran tentang adanya munasabah dalam Al-Quran ini berpijak pada prinsip yang bersifat
obsolut. Yaitu suatu prinsip, bahwa tartib (susunan) ayat-ayat Al-Quran, sebagaimana kita lihat sekarang
adalah bersifat Tauqifi yakni suatu susunan yang disampaikan oleh Rasulullah berdasarkan petunjuk dari
Allah (wahyu), bukan susunan manusia, atas dasar pemikiran inilah, maka sesuatu yang disusun oleh Dzat
Yang Maha Agung tentunya berupa susunan yang sangat teliti dan mengandung nilai-nilai filosofis
(hikmah) yang sangat tinggi pula. Oleh sebab itu, secara sistimatis tentulah dalam susunan ayat-ayat Al-
Quran terdapat korelasi, keterkaitan makna (munasabah) antara suatu ayat dengan ayat dengan ayat

191
Suma, Amin Op. Cit, 44
192
Ibid, 213
193
Wahid, Ramli Abdul Op. Cit, 91
194
Izzan, Ahmad. 2005. Ulumul Quran Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas al -Quran. Tafakur: Bandung, 189

89
Ulumul Quran

sebelumnya atau ayat sesudahnya. Karena itu pula, sebagaimana ulama menamakah ilmu munasabah ini
dengan ilmu tentang rahasia/hikmah susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam Al-Quran.
Asy-Syatibi menjelaskan bahwa satu surat, walaupun dapat mengandung banyak masalah namun
masalah-masalah tersebut berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga seseorang hendaknya
jangan hanya mengarahkan pandangan pada awal surat, tetapi hendaknya memperhatikan pula akhir
surah atau sebaliknya. Karena bila tidak demikian, akan terabaikan maksud ayat-ayat yang diturunkan
itu.
Mengetahui hubungan antara suatu ayat atau surah lain (sebelum atau sesudahnya) tidaklah kalah
pentingnya dengan mengetahui sebab nuzulul ayat. Sebab mengetahui adanya hubungan antara ayat-
ayat dan surah-surah itu dapat pula membantu kita memahami dengan tepat ayat-ayat dan surah-surah
yang bersangkutan.
Ilmu ini dapat berperan mengganti ilmu asbabul nuzul, apabila kita tidak dapat mengetahui sebab
turunnya suatu ayat tetapi kita bias mengetahui adanya relevansi ayat itu dengan yang lainnya. Sehingga
di kalangan ulama timbul masalah mana yang didahulukan antara mengetahui sebab turunnya ayat
dengan mengetahui hubungan antara ayat itu dengan yang lainnya.
Untuk membuktikan apakah ada hubungan antara surat atau ayat dengan surat atau ayat lain
dalam Al-Quan berikut beberapa contoh:
1. Hubungan surat al-Alaq (96) dengan surat Al-Qadar (97). Dalam surat Al-Alaq, nabi dan umatnya
disuruh membaca (iqra), yang harus dibaca itu banyak sekali di antaranya adalah Al-Quran. Maka
wajarlah jika surat berikutnya adalah surat Al-Qadar yang menjelaskan turunya Al-Quran. Inilah
keserasian susunan surat dalam Al-Quran.
2. Hubungan surat Al-Baqarah dengan surat Al-Fatihah. Pada awal surat Al-Baqarah tertulis kitab Al-
Quran ini tidak ada keraguan di dalamnya. Pada surat al-Fatihah tercantum kalimat tunjukilah
kami jalan yang lurus,ini berarti bahwa ketika mereka meminta tunjukilah kami jalan yang lurus,
maka Allah menjawab: jalan lurus yang kalian minta ini adalah Al-Quran yang tidak ada keraguan di
dalamnya.
3. Keserasian surat Al-Kautsar [108] dengan surat Al-Maun (107). Hubungan ini adalah hubungan dua
hal yang berlawanan. Dalam surat Al-Maun, Allah menjelaskan sifat-sifat orang munafik, bakhil (tidak
memberi makan fakir miskin dan anak yatim), meninggalkan shalat, riya, (suka pamer), dan tidak mau
membayar zakat. Dalam surat Al-Kautsar Allah mengatakan sesungguhnya Kami telah memberi
nikmat kepadamu banyak sekali (lawan dari bakhil, mangapa kamu bakhil?, tetaplah menegakkan
shalat), shalat kamu itu hendaklah karena Allah saja, dan berkorbanlah, lawan dari enggan
membayar zakat. Inilah keserasian yang amat mengagumkan sebagai petanda adanya hikmah dalam
susunan surat-surat dalam Al-Quran.

C. Metode Munasabah Al Quran


Mencari hubungan antara ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Qur'an adalah hal yangtidak
mudah. Untuk menentukan munasabah tersebut tentunya diperlukan suatu metode.Untuk mencari
hubungan satu ayat dengan ayat lain atau satu surat dengan surat lain perlu memperhatikan
beberapa hal. Dalam mencari munasabah dalam Al-Qur'an mesti didasarkan pada urutan ayat-ayat
dan surat-surat yang bersifat tauqifi.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa ditempuh oleh ahli tafsir (mutaakhhirin) dan dipandang
memudahkan mencari munasabah, yaitu :
1. Memperhatikan tujuan yang dibahas dalam surat.
2. Memperhatikan uraian-uraian dari beberapa ayat sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat.
3. Menentukan tingkat uraian-uraian itu, apakah ada hubungannya atau tidak.
4. Ketika menyusun kesimpulan harus memperhatikan ungkapan bahasannya dengan benar dan tidak
berlebih-lebihan.

90
Ulumul Quran

D. Macam-macam Munasabah
1. Munasabah antara surah dengan surah.
Keserasian hubungan atau munasabah antar surah ini pada hakikatnya memperlihatkan kaitan yang
erat dari suatu surah dengan surah lainnya. Bentuk munasabah yang tercermin pada masing-masing
surah, kelihatannya memperlihatkan kesatuan tema. Salah satunya memuat tema sentral, sedangkan
surat-surat yang lainnya menguraikan sub-sub tema berikut perinciannya, baik secara umum maupun
secara parsial. Salah satu contoh yang dapat diajukan di sini adalah munasabah yang dapat ditarik
pada tiga surah beruntun, masing-masing Q.S Al-Fatihah (1), Q.S Al-Baqarah (2), dan Q.S Ali-Imran (3).
Satu surah berfungsi menjelaskan surah sebelumnya, misalnya di dalam surah Al-Fatihah ayat 6,


Tunjukilah kami Jalan yang lurus.
Kemudian dijelaskan di dalam surah Al-Baqarah, bahwa jalan yang lurus itu ialah mengikuti petunjuk
Al-Quran, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Baqarah ayat 2:


Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa
2. Munasabah antara nama surah dengan kandungan isinya.
Nama suatu surah pada dasarnya bersifat tawqifi (tergantung pada petunjuk Allah dan Nabi-Nya).
Namun beberapa bukti menunjukkan bahwa suatu surah terkadang memiliki satu nama dan
terkadang dua nama atau lebih. Tampaknya ada rahasia dibalik nama tersebut. Para ahli tafsir
sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Suyuthi melihat adanya keterkaitan antara nama-nama surah
dengan isi atau uraian yang dimuat dalam suatu surah. Kaitan antara nama surah dengan isi ini dapat
di indentifikasikan sebagai berikut :
a. Nama diambil dari urgensi isi serta kedudukan surah. Nama surah Al-Fatihah disebut dengan umm
al-Kitab karena urgensinya dan disebut dengan Al-Fatihah karena kedudukannya.
b. Nama diambil dari perumpamaan, peristiwa, kisah atau peran yang menonjol, yang dipparkan
pada rangkaian ayat-ayatnya; sementara di dalam perumpamaan, peristiwa, kisah atau peran itu
sarat dengan ide. Di sini dapat disebut nama-nama surah : Al-Ankabut, Al-Fath, Al-Fil, Al-Lahab
dan sebagainya.
c. Nama sebagai cerminan isi pokoknya, misalnya Al-ikhlas karena mengandung ide pokok keimanan
yang paling mendalam serta kepasrahan, Al-Mulk mengandung ide pokok hakikat kekuasaan dan
sebagainya.
d. Nama diambil dari tema spesifik untuk dijadikan acuan bagi ayat-ayat lain yang tersebar
diberbagai surah. Contoh Al-Hajj (dengan spesifik tema haji), Al-Nisa (dengan spesifik tema
tentang tatanan kehidupan rumah tangga). Kata Nisa yang berarti kaum perempuan adalah
lambang keharmonisan rumah tangga.
e. Nama diambil dari huruf-huruf tertentu yang terletak dipermulaan surah, sekaligus untuk
menuntut perhatian khusus terhadap ayat-ayat di dalamnya yang memakai huruf itu. Contohnya :
Thaha, Yasin, Shad dan Qaf.
3. Munasabah antara kalimat dalam satu ayat.
Munasabah antara satu kalimat dengan kalimat yang lainnya dalam satu ayat dapat dilihat dari dua
segi. Pertama adanya hubungan langsung antar kalimat secara konkrit yang jika hilang atau terputus
salah satu kalimat akan merusak isi ayat. Identifikasi munasabah dalam tipe ini memperlihatkan ciri-
ciri takid/ tasydid (penguat/ penegasan) dan tafsir/ Itiradh (interfretasi/ penjelasan dan ciri-cirinya).
Contoh sederhana :
, dikuti ( Q.S. Al-Baqarah: 24).

91
Ulumul Quran

Contoh tafsir : QS. Al Isra: 1


Kemudian diikuti dengan


Kedua masing-masing kalimat berdiri sendiri, ada hubungan tetapi tidak langsung secara konkrit,
terkadang ada penghubung huruf athaf dan terkadang tidak ada. Dalam konteks ini, munasabahnya
terletak pada :
a. Susunan kalimat-kalimatnya berbentuk rangkaian pertanyaan, perintah dan atau larangan yang
tak dapat diputus dengan fashilah. Salah satu contoh QS. Luqman: 25,

__ __
b. Munasabah berbentuk istishrad (penjelasan lebih lanjut). Contoh QS. Al Baqarah: 189

___ ___
c. Munasabah berbentuk nazhir / matsil ( hubungan sebanding ) atau mudhaddah / takis (hubungan
kontradiksi). Contoh QS. Al Baqarah: 189:

___
4. Munasabah antara ayat dengan ayat dalam satu surah.
Untuk melihat munasabah semacam ini perlu diketahui bahwa ini didaftarkan pada pandangan datar
yaitu meskipun dalam satu surah tersebar sejumlah ayat, namun pada hakikatnya semua ayat itu
tersusun dengan tertib dengan ikatan yang padu sehingga membentuk fikiran serta jalinan informasi
yang sistematis. Untuk menyebut sebuah contoh, ayat-ayat diawal Q.S Al-Baqarah 1-20 memberikan
sistematika informasi tentang keimanan, kekufuran, serta kemunafikan. Untuk mengidentifikasikan
ketiga tipologi iman, kafir dan nifaq, dapat ditarik hubungan ayat-ayat tersebut. Misalnya surah Al
Muminun dimulai dengan :


Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
Kemudian dibagian akhir surah ini ditemukan kalimat :


Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak beruntung.
5. Munasabah antara ayat dengan isi ayat itu sendiri.
Munasabah pada bagian ini, Imam al-Sayuthi menyebut empat bentuk yaitu At-Tamkin
(mengukuhkan isi ayat), At-Tashdir (memberikan sandaran isi ayat pada sumbernya), At-Tawsyih
(mempertajam relevansi makna ) dan Al-Ighal (tambahan penjelasan).
Sebagai contoh :
mengukuhkan bahkan mengukuhkan hubungan dengan dua
ayat sebelumnya (Al Mukminun: 12 14). Kalimat-kalimat : , ,
selalu menjadi sandaran isi ayat. Kata khalim sangat erat hubungannya dengan ibadat, sementara
rasyid kuat hubungannya dengan Al-Amwal seperti bunyi ayat Q.S Hud : 87,

92
Ulumul Quran

Sedangkan bentuk Al-Ighal dapat dijumpai pada Q.S Al-Naml 27: 80,

Kata Wallaw yang artinya bila mereka berpaling berfungsi sebagai penjelasan terhadap arti (orang
tuli).
6. Munasabah antara uraian surah dengan akhir uraian surah.
Salah satu rahasia keajaiban Al-Quran adalah adanya keserasian serta hubungan yang erat antara
awal uraian suatu surat dengan akhir uraiannya. Sebagai contoh, dikemukakan oleh Al-Zamakhsyari
demikian juga Al-Kirmani bahwa Q.S Al-Muminun diawali dengan (respek Tuhan

kepada orang-orang Mukmin) dan diakhiri dengan (sama sekali Allah tidak
menaruh respek terhadap orang-orang Kafir). Dalam Q.S Al-Qashas, Al-Sayuthi melihat adanya
munasabah antara pembicaraan tentang perjuangan Nabi Musa menghadapi Firaun seperti
tergambar pada awal surah dengan Nabi Muhammad SAW yang menghadapi tekanan kaumnya
seperti tergambar pada situasi yang dihadapi oleh Musa dan Muhammad SAW, serta jaminan Allah
bahwa mereka akan memperoleh kemenangan.
7. Munasabah antara akhir surah dengan awal surah berikutnya.
Misalnya akhir surah Al-Waqiah: 96


Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar
Lalu surah berikutnya, yakni surah Al-Hadid ayat 1 :


Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah).
Dan Dia-lah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
8. Munasabah antara ayat tentang satu tema.
Munasabah antar ayat tentang satu tema ini, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Sayuthi, pertama-tama
dirintis oleh Al-Kisai dan Al-Sakhawi. Sementara al-Kirmani menggunakan metodologi munasabah
dalam membahas mutasyabih Al-Quran dengan karyanya yang berjudul Al-Burhan fi Mutasyabih Al-
Quran. Karya yang dinilainya paling bagus adalah Durrah Al-Tanzil wa Gharrat al-Tawil oleh Abu Abd
Allah al-Razi dan Malak al-Tawil oleh Abu Jafar Ibn Al-Zubair.
Munasabah ini sebagai contoh dapat dikemukakan tentang tema qiwamah (tegaknya suatu
kepemimpinan). Paling tidak terdapat dua ayat yang saling bermunasabah, yakni Q.S Al-Nisa: 34
dan Q.S Al-Mujadalah: 11,


Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan
sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), (Q.S Al-Nisa: 34)


Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S
Al-Mujadalah: 11)
Tegaknya qiwamah ( konteks parsialnya qiwamat al-rijal ala al-nisa ) erat sekali kaitannya dengan
faktor Ilmu pengetahuan / teknologi dan faktor ekonomi. Q.S Al-Nisa menunjuk kata kunci Bima
Fadhdhala dan Al-Ilm. Antara Bima fadhdhala dengan yarfa terdapat kaitan dan keserasian arti
dalam kata kunci nilai lebih yang muncul karena faktor Ilm. Munasabah Al-Quran diketahui
berdasarkan ijtihad, bukan melalui petunjuk Nabi (tawqifi).

93
Ulumul Quran

E. Kegunaan Ilmu Munasabah


1. Dari sisi Balaghah. Korelasi antara ayat dengan ayat menjadikan keutuhan yang indah dalam tata
bahasa Al-Quran, dan bila dihilangkan maka keserasian ayat akan hilang. Kebanyakan kehalusan dan
keindahan Al-Quran dibuang begitu saja, dalam tartib hubungan dan susunannya,
2. Ilmu Munasabah memudahkan orang dalam memahami makna surah dan ayat. Sebab penafsiran Al-
Quran dengan ragamnya, membutuhkan ilmu Munasabah.
3. Membantu pembaca agar dapat memperoleh petunjuk dalam waktu singkat tanpa membaca seluruh
ayat Al-Quran.
4. Ilmu Munasabah semakin memperkaya cakrawala pemahaman. Sebab akan semakin banyak dan
beragam pula seseorang mendapat petujuk dari Allah SWT. Sehingga Al-Quran dapat memberikan
sumber hidayah yang tidak pudar.
5. Mengetahui persambungan/hubungan antara bagian Al-Quran, baik antara kalimat atau antar ayat
maupun antar surat, sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab Al-
195
Quran sehingga memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya. " Wallahu
alam

195
Djalal, Abdul Op. Cit, 165

94
Ulumul Quran

BAB 11
ILMU IJAZIL QURAN

A. Pengertian Ijaz dan Mujizat


I'jaz merupakan bentuk masdhar (nominal noun) dari bentuk fi'il a'jaza - yu'jizu - i'jaz - mu'jiz yang
berarti lemah (dho'if). Secara bahasa a'jaza atau i'jaz berarti melemahkan atau menjadikan sesuatu
menjadi lemah/ tidak mampu. Sementara mu'jizat, menurut Kamus Al Munjid menyatakan sesuatu
bersifat luar biasa yang melemahkan sesuatu untuk mendatangkan yang serupa. Pelakunya (yang
melemahkan) dinamai mujiz. Bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga
mampu membungkam lawan, ia dinamai mujizat.
Istilah mujiz atau mujizat lazim diartikan dengan al-ajib, maksudnya adalah sesuatu yang ajaib
(menakjubkan atau mengherankan) karena orang lain tidak ada yang sanggup menandingi atau
menyamai sesuatu itu. Juga sering diartikan dengan amrun khoriqun liladah, yakni sesuatu yang
menyalahi tradisi. Tambahan ta marbuthah pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah
196
(superlatif). Ijaz yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu ini, sejalan dengan firman
Allah SWT:

...mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan
mayat saudaraku ini. ( QS. Al-Maidah : 31).
Al-Qaththan mendefinisikan ijaz dengan memperlihatkan kebenaran Nabi SAW atas pengakuan
kerasulannya dengan cara membuktikan kelemahan orang arab dan genersi sesudahnya untuk
197
menandingi Al-Quran. Definisi tersebut berarti pembuktian kebenaran Nabi SAW dalam
menyampaikan ajaran/ risalah dan pembuktian ketidakmampuan orang arab menandingi mu'jizat yang
abadi (Al-Quran) dan orang - orang sesudahnya juga tidak mampu.
Djalaluddin Asy Syuyuthi menyatakan ada beberapa unsur dalam mu'jizah yaitu :
1. Sesuatu atau peristiwa luar biasa
2. terjadi atau dipaparkan oleh Nabi
3. Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian
4. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani
Jadi, i'jaz Al-Qur'an adalah kemampuan yang dimiliki Al-Qur'an untuk membuktikan kenabian
Muhammad SAW dan melemahkan penantangnya dalam membuat hal yang serupa. Sedangkan Mu'jizat
Al-Qur'an adalah sesuatu hal luar biasa yang dimiliki Al-Qur'an untuk membuktikan kenabian
Muhammad saw dan tidak dapat ditandingi dengan hal serupa atau bukti-bukti pengokohan Al-Qur'an
sebagai risalah dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan sesuatu yang melemahkan berbagai
tantangan untuk penciptaan karya sejenisnya.

B. Tujuan Ijazil Quran dan Sejarahnya


Abdul Wahhab Khallaf mengemukakan tentang kehujjahan Al-Quran dengan ucapannya sebagai
berikut: Bukti bahwa Al-Quran menjadi hujjah atas manusia yang hukum-hukumnya merupakan aturan-
aturan yang wajib bagi manusia untuk mengikutinya, ialah karena Al-Quran itu datang dari Allah, dan
dibawa kepada manusia dengan jalan yang pasti yang tidak diragukan kesahannya dan kebenarannya.
Sedang bukti kalau Al-Quran itu datang dari Allah SWT, ialah bahwa Al-Quran itu membuat orang tidak
mampu membuat atau mendatangkan seperti Al-Quran.
Dinamakan mujizat (melemahkan) karena manusia lemah untuk mendatangkan sesamanya, sebab
mujizat berupa hal yang bertentangan dengan adat, keluar dari batas-batas faktor yang telah diketahui.
Ijazul Quran (kemujizatan Al-Quran) artinya: menetapkan kelemahan manusia baik secara berpisah-
pisah maupun berkelompok, untuk bisa mendatangkan sesamanya. Dan yang dimaksud dengan

196
Shihab, M. Quraish. 1997. Mukjizat Al-Quran, Mizan, Bandung, 23
197
Al-Qaththan, Manna. Mabahits fi ulum Al-Quran, Op. Cit.,258-259

95
Ulumul Quran

kemujizatan Al-Quran bukan berarti melemahkan manusia dengan pengertian melemahkan yang
sebenarnya, artinya memberi pengertian kepada mereka dengan kelemahannya untuk mendatangkan
sesama Al-Quran, karena hal itu telah dimaklumi oleh setiap orang yang berakal, tetapi maksudnya
adalah untuk menjelaskan bahwa kitab ini hak, dan Rasul yang membawanya adalah rasul yang benar.
Begitulah semua mujizat nabi-nabi dimana manusia lemah untuk menandinginya.
Tujuannya hanya untuk melahirkan kebenaran mereka, menetapkan bahwa yang mereka bawa
adalah semata-mata wahyu dari Dzat Yang Maha Bijaksana, dan diturunkan dari Tuhan Yang Maha
Kuasa. Mereka hanyalah menyampaikan risalah Allah dan tiada lain tugasnya hanya memberitahukan
dan menyampaikan. Oleh karena itu mujizat adalah dalil-dalil dari Allah SWT. kepada hamba-Nya untuk
membenarkan rasul-rasul dan nabi-nabi. Dengan perantaraan muizat ini, seolah-olah Allah bersabda:
Benar hamba-Ku dalam hal yang ia sampaikan dari Aku, dan Aku mengutusnya agar ia menyampaikan
sesuatu kepadamu.

C. Macam-macam Ijazil Quran


1. Ijaz Bayaani.
Yaitu suatu mukjizat yang tidak ada didalam Al-Quran satu kalimat pun dapat ditambahkan oleh
siapapun,ataupun dikurangi selain oleh Allah SWT.
2. Ijazul Ilmiyah
Mujizat didalam al-Quran yang mengandung ilmu pengetahuan, meski ditemukan rahasia alam ini
sudah berapa tahun setelah turunnya Al-Quran, oleh para pakar alam, metafisika, biologi, dan
lainnya. Suatucontoh, bertemunya dua laut, yang disebut dalam Al-Quran, baru ditemukan
rahasianya, begitupun pertumbuhan janin, menggantungnya janin dalam rahim, ilmu ini baru
ditemukan kebenarannya.dan masih banyak lagi apa-apa yang disebutkan Seumpama,mengapa
diharamkan babi, khamar.
Perbedaan-perbedaan tanah,didalam jenisnya,sebagaimana di dalam Hadist, juga punya Ijaz ilmiyah,
seperti mengapa kita diminta menghindari diri dari terik mentari,karena akan mengurangi
shahwat.Ternyata setelah diteliti ilmuwan, memang berjemur di panas terik mentari (siang bolong),
ada zat-zat,atau hormon-hormon seksual yang rusak.
Begitupun mengapa ada Hadist yang menyuruh kita memasukkan sayap lalat yang sebelah lagi, bila
lalat tersebut masuk ke dalam bejana, atau gelas yang ada air didalamnya. ternyata di kedua sayap
lalat, satu boleh dikatakan racun, satunya lagi adalah obat antibiotik, yang mematikan kuman-kuman.
semua ini bisa dibaca di dalam buku Ijazul Ilmiyah di dalam Islam, (Al-Quran dan Sunnah karangan
Muhammad kamil Abd Asshamad). Disanalah ada jawaban, bagi yang bertanya, mengapa, dan
kenapa Allah dan rasul-Nya, menyuruh dan melarang kita begini dan begitu.
3. Ijazul Maudhui
Dalam pengertian bahwa bagi siapa saja yang membaca Al-Quran ini dan memahaminya, melakukan
apa-apa yang diperintahkan Allah, maka Allah kelak akan memuliakannya dunia dan akhirat.

D. Segi-segi Ijazil Quran


Secara garis besar kemukjizatan A-Quran dapat dikategorikan menjadi dua kelompok yaitu, pertama
dari aspek kebahasaan yang mencakup aspek susunan ayat demi ayat, surat demi surat dalam mushaf
serta penempatan suatu kata dan susunannya dalam kalimat. Kedua, dari segi makna yang mencakup
aspek makna yang dikandung oleh ayat-ayat Al-Quran seperti isyarat ilmiah dan pemberitahuan tentang
hal-hal gaib baik pada masa lampau, sekarang maupun yang akan datang.
1. Aspek Ketelitian Redaksi
Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-Ijaz Al-Adabiy li Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari 3 jilid,
mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan tersebut, yang dapat kita simpulkan
secara sangat singkat sebagai berikut.
a. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya.
1) Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali
2) Al-naf' (manfaat) dan al-madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kal
3) Al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing-masing 4 kali

96
Ulumul Quran

4) Al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyi'at (keburukan), masing-masing 167 kali


5) Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing
13 kali
6) Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin), masing-masing 8 kali
7) Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali
8) Kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing 8 kali
9) Al-shayf (musim panas) dan al-syita' (musim dingin), masing-masing 1 kali.
b. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya.
1) Al-harts dan al-zira'ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali
2) Al-'ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing 27 kali
3) Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati [jiwanya]), masing-masing 17 kali
4) Al-Qur'an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan Islam), masing-masing 70 kali
5) Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49 kali
6) Al-jahr dan al-'alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali
c. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.
1) Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali
2) Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali
3) Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/ pembakaran), masing-masing
154 kali
4) Al-zakah (penyucian) dengan al-barakat (kebajikan yang banyak), masing-masing 32 kali
5) Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), masing-masing 26 kali.
d. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya
1) Al-israf (pemborosan) dengan al-sur'ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali
2) Al-maw'izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing 25 kali
3) Al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing 6 kali
4) Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali
e. Keseimbangan khusus.
1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun.
Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni),
jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain,
kata yang berarti "bulan" (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan
dalam setahun.
2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada "tujuh." Penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh kali
pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-Isra' 44, Al-Mu'minun 86, Fushshilat 12, Al-
Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya tentang terciptanya langit dan
bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.
3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau
basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya
berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul
dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.
2. Aspek Kebahasaan
Susunan gaya bahasa Al-Quran tidak sama dengan gaya bahasa karya manusia yang dikenal
masyarakat Arab saat itu. Al-Quran tidaklah berbentuk syair, tidak pula berbentuk puisi. Diantara ciri
mukjizat Al Quran pada aspek kebahasaan adalah:
a. Nada dan langgamnya yang unik
Ayat-ayat Al-Quran walaupun sebagaimana telah ditegaskan Allah bukan syair atau puisi, tetapi
terasa dan terdengar mempunyai keunikan dalam irama dan ritmenya. Hal itu diakui pula oleh
cendekiawan Inggris, Marmaduke Pickhall, dalam The Meaning of Glorious Qur'an. Pickhall
berkata, Al-Quran mempunyai simfoni yang tiada taranya sehingga nada-nadanya dapat

97
Ulumul Quran

menggerakan manusia untuk menangis dan bersuka cita. Hal ini karena huruf dari kata-kata
dalam Al-Quran melahirkan keserasian bunyi dan kumpulan kata-kata itu melahirkan keserasian
irama. Bacalah misalnya, QS. An-Nazilat: 1-4


b. Singkat dan padat
Contoh, QS. Al-Baqarah ayat 212


dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
Ayat ini dapat berarti bahwa Allah memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki tanpa ada
yang berhak mempertanyakan mengapa Dia memperluas rezeki seseorang dan mempersempit
yang lain. Tanpa memperhitungkan pemberian itu, tanpa dugaan yang menerima dan jika dihitung
rizki itu, niscaya tak mampu menghitungya.
c. Memuaskan Para Pemikir dan Orang Awam
Seorang awam akan merasa puas karena memahami ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan
keterbatasannya. Akan tetapi, ayat yang sama dapat dipahami dengan luas oleh filosof alam
pengertian baru yang tidak terjangkau oleh orang awam.
d. Memuaskan Akal dan Jiwa
Manusia memiliki daya pikir dan daya rasa atau akal dan kalbu. Daya pikirnya memberikan
argumentasi-argumentasi guna mendukung pandangannya, sedangkan daya qalbu
mengantarkannya untuk mengekspresikan keindahan ayat-ayat Al-Quran dan mengembangkan
198
imajinasinya. Contoh, susunan redaksi Al Quran telah membawa keislaman Umar Bin Khattab.
e. Keindahan dan Ketepatan Maknanya
Seorang yang berilmu, apabila membaca Al-Quran akan mengetahui keindahannya. Begitu pula
apabila yang membacanya orang awam, dia akan merasakan keagungannya, merasakan manisnya
dan tidak sulit memahaminya. Sungguh mukjizat yang luar biasa karena Al-Quran bisa
disampaikan dan diterima oleh semua kalangan, baik para cendekiawan, orang awam, raja, rakyat
biasa, orang cerdas atau idiot, dewasa, anak-anak, laki-laki maupun perempuan.
Banyak pakar baik dari Arab sendiri maupun dari Barat yang mengakui keindahan bahasa Al-Qur`an.
Berikut kami kutipkan beberapa pendapat mereka:
a. George Sale
Perintis penerjemahan Al-Qur`an ke dalam bahasa Inggris menulis dalam kata pengantar
terjemahannya, antara lain. .. Al-Qur`an ditulis dalam bahasa Arab dengan gaya yang indah dan
paling tinggi yang tidak dapat ditiru oleh pena manusia. Oleh karena itu, Al-Qur`an mukjizat yang

198
Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek
moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri.
pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Nabi. Waktu itu
Nabi membaca surat al-Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri- "Demi Allah,
ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy." Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang
menyatakan bahwa Al Qur'an bukan syair), lantas beliau berkata, "Kalau begitu berarti dia itu dukun." Kemudian beliau mendengar
bacaan Nabi ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukan perkataan dukun.) akhirnya beliau berkata, "Telah terbetik lslam di
dalam hatiku." Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap
memusuhi Islam.
Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Nabi. Dalam perjalanan, beliau
bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al 'Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, "Mau
kemana wahai Umar?" Umar bin Khattab menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad." Lelaki tadi berkata, "Bagaimana kamu akan
aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?" Maka Umar menjawab, "Tidaklah aku melihatmu
melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu." Tetapi lelaki tadi menimpali, "Maukah aku tunjukkan yang lebih
mencengangkanmu, hai Umar? Sesungguhnya adik perempuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini." Kemudian
dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur'an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat.
Umar bin Khattab berkata, 'Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.' Ketika dia membaca surat
Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah. Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah
rumah di daerah Shafa." Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya.
Kemudian Nabi menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya. "... Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam
dengan Umar bin Khattab." Dan dalam riwayat lain: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar."

98
Ulumul Quran

besar. Berbekal mukjizat Al-Qur`an Muhammad muncul menguatkan tugas sucinya. Dengan
mukjizat itu beliau menantang ribuan sastrawan Arab yang cakap untuk menciptakan satu ayat
saja yang dapat dibandingkan dengan gaya Al-Qur`an. Pada bagian lain kata pengantarnya, ia
menulis. "Sangat luar biasa dampak kekuatan kata-kata (Al-Qur`an) yang dipilih dengan baik dan
ditempatkan dengan seninya, yang dapat menumbuhkan gairah dan rasakagum orang yang
membacanya."
b. Musthofa Shodiq Ar-Rofi`ie
Sastrawan Arab yang masyhur mengakui, antara lain. "Tuhan menurunkanAl- Qur`an dalam
bahasa ini (Arab, pen) dengan susunan tersendiri, membuat orang tidak berdaya menirunya, baik
susunan (ayat- ayatnya, pen) yang pendek maupun yang panjang. ...Karena dia adalah
pembersihan bahasa dari kekotorannya."
c. Thoha Husein
Sarjana Mesir yang sangat terkenal di dunia Barat mengakui. "Kata-kata terbagi tiga, yakni puisi,
prosa, dan Qur`an. Akan tetapi Qur`an memiliki gaya tersendiri, bukan puisi dan bukan
prosa. Qur`anadalah Qur`an. Ia tidak tunduk pada aturan prosa dan puisi. Ia memiliki irama
sendiri yang dapat dirasakan pada susunan lafalnya dan urutan ayatnya."
d. M. Quraish Shihab
Dalam karya Membumikan Al-Qur`an, menyatakan bahwa tidak mudah untuk mengetahui
keindahan bahasa Al-Qur`an khususnya bagi kita yang tidak memahami dan tidak memiliki "rasa
bahasa" Arab. Sebab keindahan diperoleh melalui "perasaan", bukan melalui nalar. Namun
demikian, menurut M. Quraish Shihab ada satu atau dua hal menyangkut redaksi Al-Qur`an yang
dapat membantu pemahaman aspek ini. "Seperti diketahui, seringkah Al-Qur`an "turun" secara
spontan, guna menjawab pertanyaan atau mengomentari peristiwa. Misalnya pertanyaan orang
Yahudi tentang hakikat ruh. Pertanyaan ini dijawab secara langsung, dan tentunya spontanitas
tersebut tidak memberi peluang untuk berpikir dan menyusun jawaban dengan redaksi yang indah
apalagi teliti. Namun demikian setelah Al-Qur`an rampung diturunkan dan kemudian dilakukan
analisa serta perhitungan terhadap redaksi-redaksinya, ditemukan hal-hal yang sangat
menakjubkan. Ditemukan antara keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang
digunakannya, seperti keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang.
3. Aspek Syariah (tasyri)
Kemukjizatan Al-Quran dalam aspek ini adalah bahwa Al-Quran datang membawa manhaj
tasyr yang sempurna, yang menjamin terpenuhinya segala kebutuhan manusia seluruhnya pada
setiap zaman dan tempat. Dengan ajaran ini kondisi manusia, baik sebagai individu maupun
kelompok, menjadi mulia dan luhur, di dunia dan akhirat. Model tasyr qurn ini sangat berbeda
199
dengan semua jenis hukum, aturan dan perundangan buatan manusia.
Sepanjang sejarah peradaban umat, manusia selalu berusaha membuat hukum-hukum yang
mengatur sekaligus sebagai landasan hidup mereka dalam kehidupan mereka. Namun demikian
hukum-hukum tersebut selalu direkonstruksi diamandement bahkan dihapuskan sesuai dengan
tingkat kemajuan intelekstualitas dan kebutuhan dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks.
Perkara ini tak berlaku pada Al-Qur`an. Hukum-hukum Al-Qur`an selalu kontekstual berlaku
sepanjang hayat, dimanapun dan kapanpun karena Al-Qur`an datang dari Zat yang Maha Adil lagi
Bijaksana.
Dalam menetapkan hukum Al-Qur`an menggunakan cara-cara sebgai berikut; pertama, secara
mujmal. Cara ini digunakan dalam banyak urusan ibadah yaitu dengan menerangkan pokok-pokok
hukum saja. Demikian pula tentang muamalat badaniyah Al-Qur`an hanya mengungkapkan kaidah-
kaidah secara kuliyah. Sedangkang perinciannya diserahkan pada As-Sunah dan ijtihad para mujtahid.

199
Thlib, Masm Ahmad Ab. 1994. Khulashah al-Bayn f Mabhits min Ulm al-Qurn, Cairo: Dr al-Thibah al-
Muhammadiyah, cet. I, 80

99
Ulumul Quran

Kedua, hukum yang agak jelas dan terperinci. Misalnya hukum jihad, undang-undang
peranghubungan umat Islam dengan umat lain, hukum tawanan dan rampasan perang. Seperti QS.
At-Taubah 9:41. Ketiga, jelas dan terpeinci. Diantara hukum-hukum ini adalah masalah hutang-
piutang QS. Al-Baqarah,2:282. Tentang makanan yang halal dan haram, QS. An-Nis` 4:29. Tentang
sumpah, QS. An-Nahl 16:94. Tentang perintah memelihara kehormatan wanita, diantara QS. Al-Ahzab
200
33:59. dan perkawinan QS. An-Nisa` 4:22.
Diantara hukum-hukum tersebut yang menarik adalah bagaimana Tuhan memformat setiap hukum
atas dasar keadilan dan keseimbangan baik untuk jasmani dan rohani, individu maupun sosial
sekaligus ketuhanan. Misalnya shalat yang hukumnya wajib bagi setiap muslim yang sudah aqil-baligh
dan tidak boleh ditinggalkan atau diganti dengan apapun. Dari segi gerakan banyak penelitian yang
ternyata gerakan shalat sangat mempengaruhi saraf manusia, yang intinya kalau shalat dilakukan
dengan benar dan khusuk (konsentrasi) maka dapat menetralisir dari segala penyakit yang terkait
dengan saraf, kelumpuhan misalnya. Juga shalat yang khusuk merupakan bentuk meditasi yang luar
biasa, sehingga apabila seseorang melakukan dengan baik maka jiwanya akan selamat dari
goncangan-goncangan yang mengakibatbatkan sters hingga gila.
Dalam konteks sosial shalat mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar seperti dalam QS. Al-
Ankabut 29: 45,
Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan
Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat
yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Contoh lain misalnya Al-Qur`an Ali Imran: 159 yang menanamkan sistem hukum sosial dengan
berdasar pada azaz musyawarah.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka.
sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah
membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Ayat diatas menganjurkan untuk menyelesaikan semua problem sosial dengan azaz musyawarah agar
dapat memenuhi keadilan bersama dan tidak ada yang dirugikan. Nilai yang dapat diambil adalah
bagaimana manusia harus mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kelompoknya, karena
hasil keputusan dengan musyawarah adalah keputusan bersama. Dengan demikian keutuhan
masyarakat tetap terjaga.
Masmu Abu Thalib menilik beberapa butir yang menjadi bukti kemukjizatan Al-Quran dalam aspek
tasyri sebagai berikut:
a. Memperbaiki dan meluruskan akidah dengan jalan menunjukkan manusia akan hakikat asal
kejadian (al-mabda`) dan akhir (al-mad) kehidupan serta kehidupan di antara keduanya. Butir ini
berisi ajaran tentang keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul dan hari akhir.
b. Memperbaiki dan meluruskan praktik ibadah dengan jalan menunjukkan manusia akan ajaran-
ajaran dan nilai-nilai yang dapat menyucikan jiwa dan mental manusia.
c. Memperbaiki akhlak dengan jalan menunjukkan manusia akan nilai-nilai keutamaan dan perintah
untuk menjauhi segala bentuk kekejian dan keburukan, serta menjaga keseimbangan.
d. Memperbaiki dan meluruskan kehidupan dengan jalan memerintahkan manusia agar mereka
menyatukan barisan, menghapus segala benih fanatisme dan gap yang membawa kepada
perpecahan. Ini dilakukan dengan jalan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari jenis
dan jiwa yang sama.
e. Meluruskan kehidupan politik dan tata kehidupan bernegara. Ini dilakukan dengan jalan
memancangkan keadilan mutlak, persamaan antara sesama manusia dan memelihara nilai-nilai

200
Munawar, Said Aqil. 2002. Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Ciputat Press Jakarta, Cetakan ke 2, 49-52

100
Ulumul Quran

luhur keutamaan seperti keadilan, dedikasi, kasih sayang, persamaan dan kecintaan dalam segala
bentuk hukum dan interaksi sosial.
f. Memperbaiki dan meluruskan perilaku ekonomi dan pendayagunaan harta, dengan jalan anjuran
untuk membudayakan hidup hemat, memelihara harta dari kesia-siaan dan kepunahan.
g. Meluruskan aturan perang dan perdamaian, dengan jalan memberikan pengertian hakiki tentang
perang, larangan menganiaya, kewajiban menepati perjanjian dan mengutamakan perdamaian
daripada peperangan.
h. Memerangi sistem perbudakan dan anjuran untuk memerdekakan para budak.
i. Membebaskan akal budi dan nalar pikir dari segala tiran yang membelenggunya, seraya
201
memerangi pemaksaan, intimidasi dan absolutisme.
4. Aspek Isyarat Ilmiah
Pemaknaan kemukjizatan Al-Quran dalam segi ilmiyyah adalah dorongan serta stimulasi Al-Quran
kepada manusia untuk selalu berfikir keras atas dirinya sendiri dan alam semesta yang
mengitarinya. Al-Quran memberikan ruangan sebebas-bebasnya pada pergulan pemikiran ilmu
pengetahuan sebagaimana halnya tidak ditemukan pada kitab-kitab agama lainnya yang malah
cenderung restriktif. Pada khirnya teori ilmu pengetahuan yang telah lulus uji kebenaran ilmiahnya
akan selalu koheheren dengan Al-Quran. Al-Quran dalam mengemukakan dalil-dalil, argument serta
penjelasan ayat-ayat ilmiah, menyebutkan isyarat-isyarat ilmiah yang sebagaiannya baru terungkap
pada zaman atom, planet dan penaklukan angkasa luar sekarang.
Karena Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi kebahagian dunia dan akhirat, maka tidak heran jika di
dalamnya terdapat berbagai petunjuk tersirat dan tersurat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Namun, hakikat-hakikat ilmiah yang disinggung Al-Quran dikemukakan dalam redaksi yang singkat
dan sarat makna.
Salah satu contoh, Al-Quran mengisyaratkan bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu
gumpalan tetapi tentu Al-Quran tidak menjelaskan bagaimana terjadinya pemisahan itu, namun apa
yang dikemukakan di atas tentang keterpaduan alam raya kemudian pemisahannya dibenarkan oleh
observasi para ilmuwan QS. Al-Anbiya ayat 30,


Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari
air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?
Isyarat ilmiah lain, yang ditemukan dalam Al-Quran. Misalnya, dalam QS. Yunus: 5 diisyaratkannya
bahwa "Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedang cahaya bulan adalah pantulan (dari
cahaya matahari)". Juga pada QS Al Baqarah: 223 menerangkan bahwa jenis kelamin anak adalah
hasil sperma pria, sedang wanita sekadar mengandung karena mereka hanya bagaikan "ladang"


Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-
manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun
dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia
menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

201
Ibid, 80-82

101
Ulumul Quran


isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah
tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang
baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan
menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
QS. Al-Hijr ayat 22 meberikan isyarat tentang peran angin dalam turunnya hujan begitu juga tentang
pembuahan serbuk bunga tumbuh-tumbuhan.

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan
hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang
menyimpannya.
Fakta-fakta mengenai gunung, baru tersingkap oleh para pakar pada akhir tahun 1960-an, bahwa
gunung mempunyai akar, dan peranannya dalam menghentikan gerakan menyentak horizontal
lithosfer, baru dapat difahami dalam kerja teori lempengan tektonik (plate tetonics). Hal ini dapat
dimengerti karena akar gunung mencapai 15 kali ketinggian di permukaan bumi sehingga mampu
menjadi stabilisator terhadap goncangan dan getaran. Demikian itu telah diungkap oleh Al Quran
202
dalam QS. 13:3, 15:19, 16:15, 21:31, 27:61, 31:10, 50:7, 77:27 dan 79:32.


dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu,
(dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, (QS. An
Nahl; 15)
Tentu masih banyak lagi lainnya yang kesemuanya belum diketahui manusia kecuali pada abad-abad
bahkan tahun-tahun terakhir ini. Dari manakah Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Dia,
Allah Yang Maha Mengetahui.
M. Quraish Shihab dalam kaitanya dengan mukjizat Al-Quran dari aspek isyarat ilmiah
menyimpulkan:
a. Al-Quran adalah kitab hidayah yang memberikan petunjuk kepada manusia seluruhnya dalam
persoalan-persoalan akidah, tasyrik dan akhlak demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
b. Tiada pertentangan antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan.
c. Memahami hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat adakah teori-
teori ilmiah atau penemuan-penemuan baru tersimpul di dalamnya, tapi dengan melihat adakah
Al-Quran atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorong lebih
maju.
d. Membenarkan atau menyalahkan teori-teori ilmiah berdasarkan Al-Quran bertentangan dengan
tujuan pokok atau sifat Al-Quran dan bertentangan pula dengan ciri khas ilmu pengetahuan.
e. Sebab-sebab meluasnya penafsiran ilmiah (pembenaran teori-teori ilmiah berdasarkan al-Quran)
adalah akibat perasaan rendah diri dari masyarakat Islam dan akibat pertentangan antara
golongan gereja (agama) dengan ilmuan yang dikuatirkan akan terjadi pula dalam Islam, sehingga
cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Quran dengan ilmu
pengetahuan.
f. Memahami ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan penemuan-penemuan baru adalah ijtihad yang
baik, selama paham tersebut tidak dipercayai sebagai akidah Quraniyah dan tidak bertentangan
203
dengan prinsip-prinsip atau ketentuan bahasa.

202
Al Najar, Zaghul Raghib Muhammad. 1999. Mukjizat Al-Qur`an dan As-Sunah tentang IPTEK, GP Jakarta cet. Ke IV, 122
203
Shihab, M. Quraish. 1996. Membumikan al-Quran,Bandung: Mizan, cet. XIII, 29-31

102
Ulumul Quran

5. Aspek Berita Ghaib


Surat-surat dalam Al-Quran mencakup banyak berita tentang hal ghaib. Kapabilitas al-Quran dalam
memberikan informasi-informasi tentang hal-hal yang ghaib seakan menjadi prasyarat utama
penopang eksistensinya sebgai kitab mukjizat. Akan tetapi pemberian informasi akan segala hal yang
ghaib tidak memonopoli seuruh aspek kemukjizatan Al-Quran, diantaranya: Kisah Firaun : 4.
Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya
berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan
membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun Termasuk orang-orang yang
berbuat kerusakan. (QS. Al-Qoshosh: 4)
Fir'aun, yang mengejar-ngejar Nabi Musa., diceritakan dalam surah Yunus. Pada ayat 92 surah itu,
ditegaskan bahwa "Badan Fir'aun tersebut akan diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran
generasi berikut." Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut, karena hal itu telah terjadi sekitar
1200 tahun S.M. Nanti, pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1896, ahli purbakala Loret
menemukan di Lembah Raja-raja Luxor Mesir, satu mumi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa
ia adalah Fir'aun yang bernama Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa a.s. Selain itu, pada
tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut-
pembalut Fir'aun tersebut. Apa yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan
oleh Al-Quran melalui Nabi yang ummiy (tak pandai membaca dan menulis itu). Mungkinkah ini?


Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-
orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda
kekuasaan kami.
Segala yang dikemukakan Al-Quran tersebut kemudian terbukti dalam perjalanan hidup manusia ini.
Misalnya, Allah memberikan dalam surat An-Nur (24) ayat 55 bahwa umat Islam akan menjadi adikuasa di
dunia ini. Hal itu benar-benar telah terjadi ketika dinasti Abbasiyah berada dalam masa kejayaannya dan
ketika muncul tiga kerajaan besar, yaitu Mughal di India, Safawi di Persia, dan Turki Usmani di Turki antara
abad 15-17 M. Al-Quran juga memberitahukan pada surat Ar-Rum (30) ayat 1-2 bahwa Kerajaan Romawi
Timur akan hancur. Ini terbukti pada abad ke 14 M., Pasca Abbasiyah, pada masa kekuasaan Turki Utsmani."
Wallahu alam

103
Ulumul Quran

BAB 12
ILMU AMTSALIL QURAN

A. Pengertian Amtsalil Quran


Amsal Al-Quran terdiri dari dua kata yakni amsal dan Al-Quran. Amsal berasal dari (matsa-
204
yamtsilu-amtsal) yang berarti sama, serupa, atau perumpamaan. Amsal juga berarti contoh atau
205
teladan, dan amsal juga bermakna yang berarti kesamaan atau penyempurnaan. Adapun definisi
Amsal adalah : menonjolkan sesuatu makna yang abstrak dalam bentuk indrawi agar menjadi indah dan
206
menarik. Kata matsal digunakan pula untuk menunjukkan arti keadaan dan kisah yang
menakjubkan. Dengan pengertian inilah ditafsirkan kata-kata matsal dalam sejumlah besar ayat.
Misalnya firman Allah berkaitan dengan sifat dan karakteristik surga yang sangat menakjubkan.


(apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa
yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-
sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya
bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di
dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang
yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga
memotong ususnya?
Pengertian amtsal secara terminologi ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama,
yaitu:
1. Menurut ulama ahli ilmu adab






Mitslu dalam ilmu adab adalah ucapan yang disebutkan untuk menggambarkan ungkapan lain yang
dimaksudkan untuk menyamakan atau menyerupakan keadaan sesuatu yang diceritakan dengan
207
keadaan sesuatu yang dituju.
2. Menurut ulama ahli ilmu bayan



Majas/ kiasan yang majemuk yang mana keterkaitan antara yang disamakan dengan asalnya adalah
208
penyerupaan.
Zamakhsyari telah mengisyaratkan akan ketiga arti dalam kitabnya, Al Kasysyaf, ia berkata : Matsal
menurut asal perkataan mereka berarti al misl dan an-Nazir (yang serupa, yang sebanding). Kemudian
setiap perkataan yang berlaku, populer, yang menyerupakan sesuatu (orang, keadaan dan sebagainya)
dengan maurid atau apa yang terkandung dalam) perkataan itu disebut masal. Mereka tidak menjadikan
sebagai masal yang layak diterima dan dipopulerkan kecuali perkataan yang mengandung keanehan dari
beberapa segi. Dan kata masal dipinjam (dipakai secara pinjaman) untuk menunjukkan keadaan, sifat
atau kisah jika ketiganya dianggap penting dan mempunyai keanehan.
Ibnu Qayyim mendefinisikan Amtsal Al-Quran dengan menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang
lain dalam hal hukumnya dan mendekatkan sesuatu yang abstrak (maqul) dengan yang indrawi (konkret

204
Munawwir, Ahmad Warison. 1997. Kamus Al Munawwir Arab Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progressif, 1309
205
Ibid, 1309
206
Al-Qattan, Manna Khalil. 1996. Studi-studi Islam Al-Quran Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, Cet. III, 276
207
Al-Qattan, Manna Khalil. 1995. Pembahasan Ilmu Alquran. Jakarta: Rineka Cipta, 282
208
Ibid, 283

104
Ulumul Quran

mahsus), atau mendekatkan salah satu dari dua maksud dengan yang lain dan menganggap salah satu
sebagai yang lain. Dapat pula berarti menampakkan pengertian yang abstrak dalam ungkapan yang
209
indah, singkat dan menarik yang mengena dalam jiwa baik dalam tasybih maupun majaz mursal.
Dari beberapa pengertian di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa Amsal Al-Quran
adalah suatu perumpamaan atau ungkapan-ungkapan dengan gaya bahasa yang indah yang diberikan
oleh Allah melalui Al-Quran berupa ungkapan singkat, jelas dan padat untuk dijadikan sebagai ibarat
teladan yang baik dalam rangka meningkatkan iman kita kepada Allah.
Tamsil (membuat permisalan, perumpamaan) merupakan kerangka yang dapat menampilkan
makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantap di dalam pikiran, dengan cara menyerupakan
sesuatu yang gaib dengan yang hadir, yang abstrak dengan yang konkrit, dan dengan menganalogikan
sesuatu dengan hal yang serupa. Betapa banyak makna yang baik, di jadikan lebih indah, menarik dan
mempesona oleh tamsil. Karena itulah maka tamsil lebih dapat mendorong jiwa untuk menerima makna
yang dimaksudkan dan membuat akal merasa puas dengannya. Dan tamsil adalah salah satu uslub
Quran dalam mengungkapkan berbagai penjelasan dan segi-segi kemukjizatannya.
Di antara para ulama ada sejumlah orang menulis sebuah kitab yang secara khusus membahas
perumpamaan-perumpamaan (amsal) dalam Quran, dan adapula yang hanya membuat satu bab
mengenainya dalam salah satu kitab-kitabnya. Sekelompok pertama, misalnya Abul Hasan al-Mawardi.
210 211
Sedang kelompok kedua, antara lain, Asy-Suyuti dalam al-Itqan dan Ibnul Qayyim dalam Alamul
Muwaqqiin. Bila kita meneliti amsal dalam Quran yang mengandung penyerupaan (Tasybih) sesuatu
dengan hal serupa lainnya dan penyamaan antara keduanya dalam hukum, maka amsal demikian
mencapai jumlah lebih dari 40 buah.

B. Unsur-unsur Amtsalil Quran


Menurut mayoritas Ulama Amtsal memiliki 4 unsur,yaitu:
1. W a j h u S y a b a h : s e g i p e r u m p a m a a n
2 . Adaatu Tasybih: alat yang dipergunakan untuk tasybih
3. M u s y a b b a h : y a n g d i p e r u m p a m a k a n
4. Musyabbah bih: sesuatu yang dijadikan perumpamaan.
Sebagai contoh, firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 261


Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap
bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah
Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.
Wajhu Syabah pada ayat di atas adalah pertumbuhan yang berlipat-lipat. Adaatu tasybihnya
adalah kata matsal. Musyabbahnya adalah infaq atau shadaqah di jalan Allah. Sedangkan musyabbah bih
nya adalah benih.

C. Macam-macam Amtsalil Quran


1. Amtsalul Qur'an yang jelas (al-amtsalul musharrahatu), yaitu matsal yang di dalamnya terdapat
lafal al-amtsal (lafal yang menunjukkan kepada persamaan atau perumpamaan). Matsal jenis ini
banyak terdapat di dalam Al-Qur'an.

209
Ahmad Syadili, 1997. Ulumul Quran Bandung: Pustaka Setia, Cet. I, 35
210
Ia adalah Abu Hasan Ali bin habib asy-Syafii, penulis kitab Adabud dunya wad Din dan al-Ahkamus Sultaniyah. Wafat pada 450
H
211
Lihat al-Itqan, Jilid 2, halaman 131

105
Ulumul Quran


17. perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu
menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan
mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. 18. mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah
mereka akan kembali (ke jalan yang benar), 19. atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan
lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan
anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. dan Allah meliputi orang-
orang yang kafir. 20. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu
menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka
berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan
mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Dalam ayat tersebut, Allah mengumpakan orang-orang monafik denga dua perumpamaan, yaitu
diserupakan dengan api yang menyala dan dengan air yang di dalamnya ada unsur kehidupan.
Begitu pula Al-Quran diturunkan, pertama untuk menyinari hati dan keduanya untuk
menhidupkannya. Allah menyebutkan keadaan orang nunafik juga didalamnya dua hal, mereka
diumpamakan menghidupkan api untuk menyinari dan memanfaatkannya agar dapat berjalan
dengan sinar api tadi. Tetapi sayang mereka tidak bisa memanfaatkan api itu, karena Allah telah
menghilangkan cahayanya, sehingga masih tinggal panasnya saja yang akan membakar badan
mereka, sebagaimana mereka tidak menghiraukan seruan Al-Quran, dan hanya pura-pura
membacanya saja.
Begitu pula dalam perumpamaan kedua, dimana mereka diserupakan dengan air hujan yang turun
dari langit, disertai dengan kegelapan petir dan kilat sehingga mereka menutup telinga dan
memejamkan mata karena takut mati disambar petir. Hal ini pun relevan dengan keadaan mereka
yang mengabaikan Al-Quran dan tidak menjalankan perintah-perintah-Nya yang mestinya bisa
menyelamatkan, tetapi karena tidak diindahkan maka justru membahayakan mereka.
2. Al-Amtsalul Kaminah
Amtsal kaminah ialah ayat didalanya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamsil, tetapi menunjukkan
makna-makna yang indah, menarik dalam kepadanya redaksinya, dan mempunyai pengaruh
212
tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya.
Pada dasarnya Al-Quran sendiri tidak menjelaskan sebagai bentuk perumpamaan terhadap makna
tertentu, hanya saja isi kandungannya menunjukkan salah satu bentuk perumpamaan. Tegasnya
macam ini ialah merupakan matsal (perumpamaan) maknawi yang tersembunyi, bukan amtsal yang
nampak jelas.
Ada beberapa contoh mengenai hal ini diantaranya ayat-ayat ilahi yang bertendensikan pada
pembentukan cara hidup dalam batas-batas kewajaran misalnya:
a. Ayat-ayat yang senada dengan perkataan (sebaik-baiknya urusan adalah pertengahannya)
Contoh QS. Al Baqarah: 68,

212
Al-Qattan, Manna Khalil. 1996. Studi-studi Islam Al-Quran Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, Cet. III, 279

106
Ulumul Quran

Sapi betina yang ada tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu
b. Ayat uang senada dengan perkataan (khabar tidak sama dengan menyaksikan sendiri) contoh QS.
Al Baqarah : 260,


Allah berfirman : Belum yakinkah kamu? Ibrahim menjawab : Aku telah meyakininya, akan
tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).
c. Ayat yang senada dengan perkataan (sebagaimana kamu telah mengutangkan, maka kamu akan
dibayar).
Contoh QS. An Nisa: 123,


Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan
itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah
d. Ayat yang senada dengan perkataan (orang mukmin tidak akan disengat dua kali dari lubang yang
sama)
Contohnya QS. Yusuf: 64,


Bagaimana aku akan mempercayainya (Bunyamin) kepadaku, kecuali seperti aku telah
mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada dahulu.
3. Al-Amtsalul Mursalah
Mursalat berarti ungkapan lepas yang tidak terkait dengan lafadz tasybih, tetapi ayat-ayat itu
digunakan seperti penggunaannya peribahasa. Secara selintas, ciri utamanya adalah sama dengan ciri
utama peribahasa, ungkapan atau kalimatnya ringkas; berisikan perbandingan, perumpamaan,
nasehat, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku.
Dalam masalah amsal mursalah ulama berbeda pendapat tentang apa dan bagaimana hukum
menggunakannya sebagai masal dalam uraian ini ada 2 pendapat :
Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang mempergunakan amsal mursalah telah keluar dari
adab Al-Quran. Alasannya adalah karena Allah telah menurunkan Al-Quran bukan untuk dijadikan
matsal tetapi untuk direnungkan dan diamalkan isi kandungannya. Salah satu contoh amsal
mursalah dalam Al-Quran yang menjadi kontraversi dalam penggunaan amsal mursalah adalah ayat
yang berbunyi :


untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.
Ayat ini dapat dijadikan sebagai matsal dalam membela, membenarkan perbuatannya, ketika ia
213
meninggalkan agama, padahal yang demikian itu telah dilarang. Pendapat kedua mengatakan
bahwa tidak ada halangan bila seseorang mempergunakan Al-Quran sebagai matsal dalam keadaan
sungguh-sungguh. Misalnya ada seseorang diajak untuk mengikuti ajarannya, maka ia bisa
menjawab bagimu agamamu dan bagiku agamaku

D. Sighat Amtsalil Quran


1. Sighat tasybih yang jelas (tasybih ash-sharih)
Adalah sighat atau bentuk perumpamaan yang jelas, di dalamnya terungkap kata-kata matsal
(perumpamaan). Contoh ayat 24 surah Yunus :

213
Ibid, 279

107
Ulumul Quran


Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami
turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di
antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah
sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira
bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam
atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit,
seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda
kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.
Dalam ayat tersebut jelas tampak adanya lafal al-matsal yang berarti perumpamaan.
2. Sighat tasybih yang terselubung (tasybih adh-dhimin)
Adalah sighat / bentuk perumpamaan yang terselubung / tersembunyi, di dalam perumpamaan itu
diketahui dari segi artinya.
Contohnya seperti dalam ayat 12 surah Al-Hujurat :


Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara
kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik
kepadanya.
Dalam ayat tersebut tidak terdapat kata-kata al-matsal (perumpamaan), tetapi arti itu jelas
menerangkan perumpamaan, yaitu mengumpamakan menggunjing orang lain yang disamakan
dengan makan daging bangkai teman sendiri.
3. Sighat Majaz Mursal
Adakah sighat dengan bentuk perumpamaan yang bebas tidak terikat dengan asal ceritanya.
Contohnya seperti dalam ayat 73 surah Al-Hajj :


Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu.
Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor
lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat-lalat itu merampas
sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah
yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.
4. Sighat Majaz Murakkab, yaitu sighat dengan bentuk perumpamaan ganda yang segi persamaannya
diambil dari dua hal yang berkaitan, di mana kaitannya adalah perserupaan yang telah biasa
digunakan dalam ucapan sehari-hari yang berasal dari isti'arah tamtsiliyah.
Contohnya seperti melihat orang yang ragu-ragu akan pergi atau tidak, maka diucapkan: saya lihat
kamu itu maju mundur saja.
5. Sighat Isti'arah Tamtsiliyah, yaitu dengan bentuk perumpamaan sampiran/ lirik (perumpamaan
pinjaman). Bentuk ini hampir sama dengan majaz murakkab, karena memang merupakan asalnya.
Contoh ayat 24 surah Yunus :

108
Ulumul Quran


Seakan akan-akan belum pernah tumbuh kemarin.

E. Contoh Perumpamaan Dalam Al Quran


1. Perumpamaan mereka (orang-orang munafik) adalah seperti orang yang menyalakan api, maka
setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan
membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.(QS Al-Baqarah: 17)
2. Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang
memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan
buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS Al-Baqarah: 171)
3. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan
Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir:
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah:261)
4. Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-
nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena
ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.Maka perumpamaan
orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu
menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka
usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Dan perumpamaan
orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa
mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka
kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan
gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (QS Al-Baqarah: 264-265)
5. Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti
perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang
menganiaya diri sendiri, lalu angin itu (QS Ali Imran: 117)
6. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi
dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, makaperumpamaannya
seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnyadan jika kamu membiarkannya dia
mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-
ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah
mereka berbuat lalim. (QS Al-Araf: 176-177)
7. Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan
dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada
yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya,
dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti
menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami
jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum
pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada
orang-orang yang berpikir. (QS Yunus: 24)
8. Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut
ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka
lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus
itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu,
akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia,
maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS Ar-Radu: 17)

109
Ulumul Quran

9. Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir
sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah
tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang
kafir ialah neraka. (QS Ar-Radu: 35)
10. Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup
angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat
sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang
jauh. (QS Ibrahim: 18)
11. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti
pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (QS Ibrahim: 24)
12. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-
akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (QS Ibrahim: 26)
13. Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat
bertindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia
menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka
itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui. Dan Allah
membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun
dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia
tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh
berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus? (QS An-Nahl: 75-76)
14. Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi
tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya
mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan
ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS An-Nahl: 112)
15. Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang
di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan
pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu
menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun dan Kami alirkan sungai di
celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya
(yang mukmin) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan
pengikut-pengikutku lebih kuat".Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya
sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari
kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan
mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu".Kawannya (yang mukmin)
berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang
menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang
laki-laki yang sempurna? (QS Al-Kahfi: 32-37)
16. Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang
Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi,
kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Kahfi: 45)
17. Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh
habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan
tambahan sebanyak itu (pula).(QS Al-Kahfi: 109)
18. Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu.
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat
pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari
mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu.Amat lemahlah yang menyembah
dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (QS Al-Hajj: 73)

110
Ulumul Quran

19. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah
lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu
seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon
yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak
pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak
disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang
Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur: 35)
20. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-
laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau
mereka mengetahui. (QS Al-Ankabuut: 41)
21. Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang
yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang
laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan
mereka tidak mengetahui. (QS Az-Zumar: 29)
22. (Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di
dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu
yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya
dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam
buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan
diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya? (QS Muhammad:
15)
23. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang
banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para
petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi
hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan
kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS Al-Hadid: 20)
24. Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya
adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum
yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang
lalim. (QS Jumuah: 5)

F. Kegunaan Amtsalil Quran/Urgensi Pemahaman Amtsalil Quran


1. Pengungkapan pengertian abstrak dengan bentuk konkret yang dapat ditangkap indera itu
mendorong akal manusia dapat mengerti ajaran-ajaran Al-Quran. Sebab, pengertian abstrak tidak
mudah diresap sanubari, kecuali setelah digambarkan dengan hal-hal yang konkret sehingga mudah
dicernanya.
Contohnya seperti dalam ayat 264 surah Al-Baqarah yang menggambarkan batalnya pahala sedekah
yang diserupakan dengan hilangnya debu di atas batu akibat disiram air hujan deras.


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang yang menafkahkan
hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak akan beriman kepada Allah dan hari

111
Ulumul Quran

Kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang bertanah di atasnya, kemudian
batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai
sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak member pimpinan kepada orang-
orang yang kafir.
2. Matsalil Qur'an dapat menungkapkan kenyataan dan bisa mengkonkretkan hal yang abstrak.
Contohnya seperti dalam ayat 275 surah Al-Baqarah yang mengumpamakan orang-orang makan riba
yang ditipu oleh hawa nafsu, itu diserupakan dengan orang yang sempoyongan karena kesurupan
setan.


Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan setan, lantaran (tekanan) penyakit gila.
3. Matsalil Qur'an dapat mengumpulkan makna indah yang menarik dalam ungkapan yang singkat
padat, seperti halnya dalam amtsalul kaminah, amtsalul mursalah, dan sebagainya. Contohnya seperti
dalam ayat 53 surah Al-Mu'minun :


Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).
4. Mendorong orang giat beramal melakukan hal-hal yang dijadikan perumpamaan yang menarik dalam
Al-Quran. Contohnya seperti dalam ayat 261 surah Al-Baqarah, yang bisa mendorong orang giat
bersedekah atau member nafkah :


Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-
tiap butir seratus biji. Allah melipat-gandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki.
5. Menghindarkan orang dari perbuatan tercela yang dijadikan perumpamaan dalam Al-Quran, setelah
dipahami kejelekan perbuatan tersebut. Contohnya ayat 12 surah Al-Hujarat, yang bisa
menhindarkan orang dari menggunjing orang lain :


Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di
antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa
jijik kepadanya. " Wallahu alam

112
Ulumul Quran

BAB 13
ILMU QASHASHUL QURAN

A. Pengertian Qashashul Quran


Secara etimologis, al-Qashash adalah mashdar dari kata kerja Qashasha yang artinya
mengisahkan Qashash berarti berita yang berurutan, sedang al-qishash berarti urusan, berita, perkara
214
dan keadaan. Dapat juga berarti hikayat (dalam bentuk) prosa yang panjang. Qashash dalam Al-
Quran adalah pemberitaan Al-Quran tentang hal ihwal umat yang telah lalu, kenabian yang terdahulu
dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Al-Quran menceritakan semua keadaan dengan cara menarik
dan mempesona.
dalam Al-Quran, lafadz Qashash mempunyai 3 arti, sebagaimana yang terdapat dalam ayat-ayat
tersebut dibawah ini :
1. Lafadz Qashash mempunyai arti mengikuti jejak yakni sama dengan menelusuri bekas.
QS. Al Kahfi ayat 64

Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka
semula.
2. Lafadz Qashash mempunyai arti mengikuti
QS. Al-Qashash ayat 11

Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia" Maka
kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya.
3. Lafadz Qashash mempunyai arti kisah
QS. Ali-Imran ayat 62


Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain
Allah; dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana .
Secara terminologis, Qashashul Quran adalah kabar-kabar dalam Al Quran tentang keadaan-
215
keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa dahulu, serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.
Manna Al-Khalil Al-Qaththan mendefinisikan Qashashul Quran sebagai pemberitaan Al Quran tentang
hal ihwal umat-umat terdahulu dan para nabi, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi secara empiris. Dan
sesungguhnya Al-Quran banyak memuat peristiwa-peristiwa masa lalu, sejarah umat-umat terdahulu,
216
negara, perkampungan dan mengisahkan setiap kaum dengan cara shuratan nathiqah. Qashashul
Quran tentang orang terdahulu adalah suatu kisah yang benar dan periwatannya mengenai peristiwa-
peristiwa itu adalah betul dan jujur. Ini karena Allah lah yang menceritakan kisah itu dan Allah benar-
217
benar menyaksikan peristiwa-peristiwa itu, dan Ia telah menakdirkannya. Dari berbagai pengertian di
atas, Qashashul Quran adalah pemberitahuan Al-Quran tentang hal ihwal umat yang telah lalu,
nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.
Aspek sejarah atau kisah dalam Al Quran disebut dengan istilah Qishashul Quran, bahkan ayat-ayat
yang berbicara tentang kisah jauh lebih banyak ketimbang ayat-ayat hukum. Hal ini memberikan isyarat
bahwa Al-Quran sangat perhatian terhadap masalah kisah, yang memang di dalamnya banyak
mengandung pelajaran (ibrah) dan kita baru mengetahui setelah Allah menceritakan melalui proses
wahyu, QS. Yusuf: 3.

214
Baidan, Nashruddin. 2005. Wawasan Baru Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 223.
215
Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. 1999. Ilmu-Ilmu Al Quran. Jakarta : Bulan Bintang, 176
216
Shuratan nathiqah adalah seolah-olah pembaca kisah tersebut menjadi pelaku sendiri yang menyaksikan peristiwa itu. Manna
Khalil Al-Qaththan, Mabahits fi Ulumul Quran
217
Al-Khalidy, Shalah. 1999. Kisah-kisah Al-Quran, Pelajaran Dari Orang Terdahulu. Jakarta: Gema Insani, 22

113
Ulumul Quran


Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini
kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-
orang yang belum mengetahui.

B. Macam-macam Qashashul Quran


Kisah-kisah dalam Al-Quran dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
1. Kisah para Nabi yang memuat dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang ada pada
mereka, sikap para penentang, perkembangan dakwah dan akibat-akibat yang diterima orang-orang
yang mendustakan para Nabi. Nabi Adam (QS. Al-Baqarah: 30-39 dan QS. Al-Araf; 11), kisah tentang
Nabi Nuh (QS. Hud: 25-49), kisah tentang Nabi Ibrahim (QS. QS. Al-Baqarah: 124, 132, dan QS. Al-
Anam: 74-83) dan kisah para nabi dan rasul yang lain.
2. Kisah-kisah yang berkaitan dengan kejadian-kejadian umat-umat terdahulu dan tentang orang-orang
yang tidak dapat dipastikan kenabiaanya, seperti kisah tentang Luqman (QS. Luqman: 12-13), kisah
tentang Dzul Qornain (QS. Al-Kahfi: 9-26), kisah tentang Thalut dan Jalut (QS. Al-Baqarah: 246-251),
dan kisah-kisah yang lain
3. Kisah-kisah yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah seperti kisah tentang
Perang Badar dan Perang Uhud (QS. Ali Imran), kisah tentang Ababil (QS. Al-Fil: 1-5), kisah tentang
218
peristiwa hijrah (QS. Muhammad: 13).

C. Unsur Qashashul Quran


Adapun unsur-unsur kisah dalam Al-Quran adalah:
1. Pelaku (al-Syaksy).
Dalam Al-Quran para aktor dari kisah tersebut tidak hanya manusia, tetapi juga malaikat, jin dan
bahkan hewan seperti semut dan burung hud-hud.
2. Peristiwa (al-Haditsah).
Unsur peristiwa merupakan unsur pokok dalam suatu cerita, sebab tidak mungkin, ada suatu kisah
tanpa ada peristiwanya. Berkaitan peristiwa, sebagian ahli membagi menjadi 3, yaitu
a. Peristiwa yang merupakan akibat dari suatu pendustaan dan campur tangan qadla-qadar Allah
dalam suatu kisah.
b. Peristiwa yang dianggap luar biasa atau yang disebut mukjizat sebagai tanda bukti kebenaran,
lalu datanglah ayat-ayat Allah, namun mereka tetap mendustakannya lalu turunlah adzab.
c. Peristiwa biasa yang dilakukan oleh orang-orang yang dikenal sebagai tokoh yang baik atau
buruk, baik merupakan rasul maupun manusia biasa.
3. Percakapan (Hiwar).
Biasanya percakapan ini terdapat pada kisah yang banyak pelakunya, seperti kisah Nabi Yusuf, kisah
Musa dan sebagainya. Isi percakapan dalam Al-Quran pada umumnya adalah soal-soal agama,
misalnya masalah kebangkitan manusia, keesaan Allah, pendidikan. Dalam hal ini Al-Quran
menempuh model percakapan langsung. Jadi Al-Quran menceritakan pelaku dalam bentuk aslinya.
219

4. Tujuan dan Fungsi Qashasul Quran.


Kisah merupakan salah satu cara yang dipakai Al-Quran untuk mewujudkan tujuan yang bersifat
agama, sebab Al-Quran adalah kitab dakwah agama dan kisah menjadi salah satu medianya untuk
menyampaikan dan memantapkan dakwah.

218
Al-Qaththan, Manna Khalil. Mabahits fi Ulumul Quran, 306
219
Munawir, Fajrul dkk. 2005. Al-Quran. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 108-109

114
Ulumul Quran

D. Tujuan Qashashul Quran


Secara umum tujuan dihadirkannya kajian kisah dalam Al-Quran dalam rangka menemukan tujuan-
tujuan Al-Quran dari kisahnya, mengalihkan perhatian kita kepada kisah ini dalam kebenaran, prinsip,
dan pengarahan, dalam rangka melaksanakan perintah Allah untuk memperhatikan dan memikirkan, dan
mengambil pelajaran dari setiap bait yang ada dalam kitab sucinya Al-Quran. Dan memberikan
pengertian tentang sesuatu yang terjadi agar dijadikan ibrah (pelajaran) untuk memperkokoh keimanan
220
dengan baik dan benar. Sedangkan secara spesifik tujuan Qashashul Quran adalah:
1. Membuktikan kerasulan Muhammad dan membuktikan Al-Qur'an adalah wahyu Allah bukan
221
rekayasa yang di buat Nabi. Karena hal ini juga ditegaskan dalam QS. Yusuf: 2-3.
2. Menunjukkan bahwa semua agama langit berasal dari Allah yang di dasarkan pada QS. Al Anbiyya: 92
222 223
dan QS. Al A'raf: 7.
3. Menegaskan pada akhirnya Allah SWT menolong Nabi dan Rasul dan menghancurkan orang-orang
yang mendustakannya. Penjelasan ini di maksudkan untuk memantapkan hati Nabi SAW dan orang-
224
orang beriman ketika itu, sebagaimana terlihat dalam QS. Hud: 120.
4. Memperkuat kebenaran kabar tentang ganjaran baik dan buruk serta nikmat dan siksa dengan
mengemukakan contoh dari peristiwa-peristiwa yang di alami oleh umat-umat terdahulu seperti pada
225
QS. Al Hijr 61-74.
5. Mengingatkan manusia akan bahaya dari bujukan Iblis yang senantiasa menyesatkan mereka seperti
226
terlihat pada QS. Al A'raf 11-18.
6. Menjelaskan kekuasaan Allah dan menjelaskan peristiwa-peristiwa luar biasa seperti penciptaan Nabi
Adam, kelahiran Nabi Isa dan sebagainya.
7. Untuk menarik perhatian para pendengar dan menggugah kesadaran diri mereka melalui penuturan
kisah.

E. Faedah Qashashul Quran


1. Menjelaskan dasar-dasar dakwah agama Allah dan menerangkan pokok-pokok syariat yang
disampaikan oleh para Nabi.

220
Ibid, 107.
221
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan
kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan)
nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.
222
Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah
aku.
223
Maka Sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui
(keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).
224
dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan
dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.
225
64. dan Kami datang kepadamu membawa kebenaran dan Sesungguhnya Kami betul-betul orang-orang benar.65. Maka
Pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara
kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang di perintahkan kepadamu".66. dan telah Kami wahyukan
kepadanya (Luth) perkara itu, Yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.67. dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah
Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu 68. Luth berkata: "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; Maka janganlah
kamu memberi malu (kepadaku),69. dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina".70. mereka berkata:
"Dan Bukankah Kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia.71. Luth berkata: "Inilah puteri-puteriku (kawinlah dengan mereka),
jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)".
226
11. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada Para
Malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", Maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud.12.
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih
baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah".13. Allah berfirman: "Turunlah kamu dari
surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang
yang hina".14. iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan".15. Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu
Termasuk mereka yang diberi tangguh."16. iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,17. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang
mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).18. Allah berfirman:
"Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya Barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-
benar aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya".

115
Ulumul Quran

Dan kami tidak mengutus seorang Rasulullah sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan
kepadanya, bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu akan Aku (QS.
Al Anbiya: 25)
2. Mengokohkan hati Rasul dan hati umat Muhammad dalam beragama dengan agama Allah dan
menguatkan kepercayaan para Mumin tentang datangnya pertolongan Allah dan hancurnya
kebatilan.

Dan semua kisah dari Rasul kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya kami
teguhkan hatimu dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan
peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Huud: 120)
3. Mengabadikan usaha-usaha para Nabi-Nabi dan pernyataan bahwa para Nabi-Nabi dahulu adalah
benar.
4. Memperlihatkan kebenaran Nabi Muhammad SAW dalam dakwanya dengan dapat menerangkan
keadaan umat yang telah lalu.
5. Menyingkap kebohongan ahlul kitab yang telah menyembunyikan isi kitab mereka yang masih murni.
Berfirman Tuhan dalam al-Quran


Semua makanan adalah halal bagi bani Israil, kecuali makanan yang di haramkan oleh Israil
(Yakob) unutk dirinya sendiri sebelum taurat diturunkan. Katakanlah jika kamu mengatakan ada
makanan yang diharamkan sebelum turun taurat, maka bawalah Taurat itu lalu bacakanlah dia
jika kamu orang-orang yang benar (QS. Ali Imran: 93)
6. Kisah yang mencontohkan tentang adab sopan santun. Enak sekali di dengar, dan meresap ke dalam
hati.


Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang
227
mempunyai akal. (QS. Yusuf: 111)

F. Klasifikasi Kisah dalam Al-Quran


Setelah mempelajari tentang Qashashul Quran dan berbagai cabangnya, untuk mempermudah
mengetahui ayat-ayat yang mengandung kisah tersebut dan bisa lebih untuk memahaminya, berikut
adalah klasifikasi Qashashul Quran berdasarkan urutan surat yang kami kutip dari buku Ilmu Tafsir karya
Rosihon Anwar.
1. Al-Baqarah (2). Qashashul Quran yang ditemukan dalam surat ini diantaranya:
a. Ayat 31, nabi Adam 'alaih al-salam diajari tentang nama-nama benda.
b. Ayat 36, Adam digoda setan dan dikeluarkan dari surga.
c. Ayat 49, kekejaman Fir'aun terhadap bani Israil.
d. Ayat 50, nabi Musa menyeberangi laut dan ditenggelamkannya fir'aun dan pengikutnya.
e. Ayat 127, nabi Ibrahim bersama Ismail mendirikan baitullah.
f. Ayat 258, nabi Ibrahim berdebat dengan raja.
2. Ali 'imran (3). Qashashul Quran yang ditemukan dalam surat ini diantaranya:
a. Ayat 35, istri imran menazdarkan anaknya kepada tuhan.

227
Ash Shiddiqy, T.M Hasbih.2002. Ilmu-ilmu Al-Quran, Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra, 191-192

116
Ulumul Quran

b. Ayat 45-49, Maryam menerima kabar kelahiran Isa


c. Ayat 121-127, perang Badar dan perang Uhud
3. Al-Nisa' (4). Qashashul Quran yang ditemukan dalam surat ini diantaranya:
a. Ayat 153, Israil meminta Musa memperlihatkan Tuhan dan kaum nabi Musa menyembelih sapi.
b. Ayat 164, nabi Musa berbicara langsung dengan Tuhan.
4. Al-Maidah (5). Qashashul Quran yang ditemukan dalam surat ini diantaranya:
a. Ayat 12, tuhan mengambil perjanjian dari bani israil.
b. Ayat 20-26, kaum nabi Musa 'alaih al-salam enggan memasuki Palestina.
c. Ayat 27-31, Habil dan pembunuhan pertama.
d. Ayat 110-115, kisah tentang Nabi Isa
4. Al-A'raf (7). Qashashul Quran yang ada dalam surat ini diantaranya:
a. Ayat 13 dan 18, Iblis diusir dari surga.
b. Ayat 20-22, syetan menggoda nabi Adam.
c. Ayat 59-64, tentang nabi Nuh
d. Ayat 80-84, tentang nabi Luth.
e. Ayat 104-105, percakapan Musa dengan Fir'aun.
f. Ayat 107, tongkat nabi Musa menjadi ular.
5. Al-Anfal (8). Pembatalan perjanjian dengan kaum musyrik pada ayat 58 ialah qashash yang ditemukan
pada surat yang ke-delapan ini.
6. At-Taubah (9). Qashashul Quran yang terdapat dalam surat ini ialah:
a. Ayat 25-29, Perang Hunain
b. Ayat 38-43, perang Tabuk
c. Ayat 70, kaum 'Ad
7. Yunus (10). Kekejaman Fir'aun terhadap bani Israil pada ayat 83 dan nabi Musa menyeberangi laut
pada ayat 90 merupakan bagian kisah yang terdapat dalam surat Yunus ini.
8. Hud (11). Qashashul Quran yang terdapat dalam surat ini ialah:
a. Ayat 25-48, nabi Nuh.
b. Ayat 50, 53, 59, 60, kaum 'Ad.
c. Ayat 69-76, kisah nabi Ibrahim didatangi tamu malaikat.
d. Ayat 71, nabi Ibrahim menerima kelahiran nabi Ishaq.
e. Ayat 78-79, putri nabi Nuh.
9. Yusuf (12). Nabi Yusuf digoda Zulaikha pada ayat 26, 30, 32, dan 51, serta nabi Yusuf dipenjarakan
pada ayat 35 ialah qashash yang terdapat dalam surat kedua belas ini.
10. Ar Ra'd (13) ayat 33 kisah tentang nabi Yusuf an Zulaikha.
11. Ibrahim (14) ayat 9 kisah tentang kaum 'Ad.
12. Al-Hijr (15). Qashashul Quran yang terdapat dalam surat ini ialah:
a. Ayat 51-58, kisah nabi Ibrahim didatangi tamu malaikat.
b. Ayat 59-76, kisah nabi Luth dan kaumnya.
13. Al-Isra' 17, Qashashul Quran dalam surat ini ialah:
a. Ayat 5, penghancuran baitul maqdis oleh Babilonia.
b. Ayat 7, penghancuran baitul maqdis oleh Romawi.
c. Ayat 103, Fir'aun dan pengikutnya ditenggelamkan.
d. Ayat 104, bani Israil diperintah untuk mendiami suatu negeri.
14. Al-Kahfi (18). Qashashul Quran dalam surat ini ialah kisah nabi Musa dengan nabi Khidir yang
terdapat pada ayat 60-82.
15. Maryam (19). Maryam melahirkan Isa 'alaih al-salam pada ayat 23-26 dan Maryam membawa Isa
kepada kaumnya pada ayat 27.
16. Thaha (20). Qashashul Quran dalam surat ini ialah:
a. Ayat 20, tongkat nabi Musa menjadi ular.

117
Ulumul Quran

b. Ayat 40, nabi Musa hijrah ke Madyan.


c. Ayat 57-58, percakapan nabi Musa dengan Fir'aun.
d. Ayat 64-67, percakapan Musa dengan tukang sihir.
e. Ayat 88, kaum Musa menyembelih anak sapi.
f. Ayat 120-121, nabi Adam digoda syetan.
g. Ayat 122, nabi Adam dikeluarkan dari surga.
17. Al-Anbiya' (21). Qashashul Quran yang ditemukan dalam surat ke-21 ini ialah kisah nabi Ibrahim
menghancurkan berhala pada ayat 57-67 dan dibakarnya nabi Ibrahim pada ayat 69-70.
18. Al-Hajj (22). Kisah dalam surat ini ada pada ayat 42 yaitu tentang kaum 'Ad dan ayat 25 tentang tuhan
menyiksa orang yang melakukan kejahatan di Masjidil haram.
19. Al-Mukminun (23) ayat 23-29, ialah kisah tentang nabi Nuh 'alaih al-salam.
20. Al-Nur (24) ayat 11-15, fitnah terhadap istri nabi Muhammad saw.
21. Al-Furqan (25) ayat 38, kaum 'Ad dan ayat 40 hujan batu yang menimpa kaum Luth.
22. Al-Syu'ara (26). Qashashul Quran dalam surat ini diantaranya sebagai berikut:
a. Ayat 61-68, kisah tentang Musa dan Fir'aun menyeberangi laut.
b. Ayat 105-120, kisah nabi Nuh.
c. Ayat 123-139, kisah Hud dan kaum 'Ad.
d. Ayat 160-173, Nabi Luth.
23. Al-Naml (27). Diantara Qashashul Quran yang terdapat dalam surat ini ialah sebagai berikut:
a. Ayat 10, tongkat nabi Musa menjadi ular
b. Ayat 18, semut berbicara.
c. Ayat 20-24, kisah nabi Sulaiman
d. Ayat 39, jin membawa singgasana ratu Balqis.
e. Ayat 58, hujan batu menimpa kaum Luth.
24. Al-Qashsash (28). Qashashul Quran yang ada dalam surat ke-28 ini diantaranya ialah:
a. Ayat 4, kekejaman Fir'aun terhadap bani Israil.
b. Ayat 7, nabi Musa dibuang ke sungai.
c. Ayat 22, nabi Musa pindah ke Madyan.
d. Ayat 31, tongkat Musa berubah menjadi ular.
e. Ayat 78, kesombongan Qarun.
25. Al-Ankabut (29). Qashashul Quran yang terdapat dalam surat ini diantaranya ialah:
a. Ayat 24, nabi Ibrahim dibakar.
b. Ayat 28, cobaan terhadap nabi Nuh.
c. Ayat 31, negeri Sodom
26. Luqman (31) ayat 13 berupa nasihat Luqman terhadap anaknya.
27. Al-Ahzab (33) ayat 26-27, umat Islam berperang dengan bani Quraizah.
28. Saba' (34) ayat 15, Negeri Saba'.
29. Al-Shaffat (37). Qashashul Quran yang terdapat dalam surat ini diantaranya ialah pada ayat 102-103
nabi Ibrahim menyembelih Ismail.
30. Shad (38). Kisah-kisah yang ada dalam surat ini diantaranya:
a. Ayat 12, kisah kaum 'Ad.
b. Ayat 41, nabi Ayyub digoda syetan.
c. Ayat 42, cobaan nabi Ayyub
31. Al-Mu'min (40). Diantara Qashashul Quran yang ada dalam surat ini yaitu ayat 26 tentang tekad
Fir'aun membunuh Musa.
32. Fushshilat (41) ayat 15, tenntang kaum 'Ad.
33. Al-Zukhruf (43) ayat 54, pengaruh fir'aun.
34. Al-Dukhan (44) ayat 24, nabi Musa menyeberangi laut.
35. Al-Ahqaf (46) ayat 21, kaum 'Ad.

118
Ulumul Quran

36. Al-Fath (48) ayat 18 dan 24, Shulhul Hudaibiyah.


37. Qaf (50) ayat 12, penduduk Ras yang dibinasakan Tuhan dan ayat 13, kaum 'Ad.
38. Al-Zdariyat (51) ayat 24-29, kisah nabi ibrahim kedatangan tamu malaikat.
39. Al-Najm (53) ayat 6 dan 13, nabi Muhammad saw bertemu Jibril dalam bentuk asli.
40. Al-Qamar (54). Qashashul Quran dalam surat ini diantaranya ialah:
a. Ayat 9-16, kehancuran kaum Nuh.
b. Ayat 18-20, kaum 'Ad.
c. Ayat 23-32, kehancuran kaum Tsamud.
d. Ayat 33-40, kehancuran kaum Luth.
41. Al-Hasyr (59) ayat 2-5, kisah pengusiran orang Yahudi dari Madinah.
42. Al-Tahrim (66) ayat 10, istri Luth yang berkhianat dan ayat 1-6, kehidupan nabi Muhmmad SAW dan
istrinya.
43. Nuh (71) ayat 2-4, nabi Nuh menyeruh kaumnya dan ayat 25, azab yang ditimpahkan kepada kaum
nabi Nuh.
44. Abasa (80) ayat 1-10, teguran terhadap nabi Muhammad saw karena berkuma masam.
45. Al-Takwir (81) ayat 23, nabi Muhammad saw melihat Jibril di ufuk yang terang.
46. Al-Fajr (89) ayat 6, kisah tentang kaum 'Ad.

G. Pengulangan Kisah dalam Al-Quran dan Hikmahnya


Dalam Al-Quran banyak terdapat berbagai kisah yang diungkapkan berulang-ulang. Contoh kisah
iblis yang tidak mau tunduk pada Nabi Adam yang terdapat di surat al-Baqarah (2): 34, QS. Al-A'raf (7):
11, QS. Al-Hijr (15): 31, QS. Al-Isra' (17): 61, QS. Al-Kahfi (18): 50, QS. Thaha (20): 116, dan QS. Shad (38):
74.
Dalam pengulangan kisah-kisah yang terdapat pada Al-Quran banyak hikmah yang bisa kita
ketahui. Dalam analisisnya, Manna Kholil Al-Qaththan memaparkan hikmah daripada pengulangan kisah-
kisah yang disebutkan dalam Al-Quran sebagai berikut:
1. Menjelaskan aspek Balaghah Al-Quran dalam tingkat yang paling tinggi.
2. Menunjukkan kehebatan mu'jizat Al-Quran.
3. Memberikan perhatian yang besar terhadap kisah untuk menguatkan kesan dalam jiwa.
4. Memperlihatakan bahwasanya ada perbedaan tujuan dalam suatu kisah yang diulang.

H. Hikmah Qashashul Quran


1. Penjelasan tentang kebijaksanaan Allah Taala yang terkandung dalam kisah-kisah tersebut, QS. Al-
Qamar: 4-5,


Dan Sesungguhnya Telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat
cegahan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmah yang Sempurna Maka peringatan-peringatan itu
tidak berguna (bagi mereka).
2. Penjelasan tentang kemahaadilan Allah yang menjatuhkan hukuman bagi orang-orang yang
mendustakan, Q.S. Huud: 101,


Dan kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri,
Karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka
seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. dan sembahan-sembahan itu tidaklah
menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.

119
Ulumul Quran

3. Penjelasan tentang karunia Allah yang memberi balasan baik bagi orang-orang yang beriman, QS. Al-
Qamar: 34-45,


Sesungguhnya kami Telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu
(yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. mereka kami selamatkan sebelum fajar
menyingsing. Sebagai nikmat dari kami. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang
yang bersyukur.
4. Hiburan bagi Nabi SAW atas penderitaan yang beliau alami karena gangguan orang-orang yang
mendustakan beliau, Q.S. Faathir: 25-26.


Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka
telah mendustakan (rasul-rasul-Nya); kepada mereka telah datang rasul-rasul-Nya dengan
membawa mujizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.
Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat
kemurkaan-Ku.
5. Motivasi bagi kaum mukminin agar istiqamah di atas keimanan dan untuk meningkatkannya.
Dasarnya QS. Al-Anbiya': 88 dan Q.S. Ar Ruum: 47.


Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan
demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS. Al-Anbiya': 88)


Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya,
mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami
melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban
menolong orang-orang yang beriman. (Q.S. Ar Ruum: 47).
6. Ancaman bagi orang-orang kafir supaya tidak melestarikan kekafirannya. Dasarnya Q.S. Muhammad :
10


Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat
memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan
kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.
7. Bukti atas kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah, karena hanya Allah sajalah yang mengetahui
kisah umat-umat terdahulu tersebut. Dasarnya Q.S. Huud: 49 dan Q.S. Ibrahim: 9,

120
Ulumul Quran

Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu
(Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. (Q.S.
Huud: 49)


Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, Ad, Tsamud
dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. (Q.S. Ibrahim
: 9).

I. Bantahan Terhadap Kritikan Orientalis


Ada beberapa orientalis yang berpendapat bahwa kisah-kisah masa lampau yang dikemukakan Al-
Quran diketahui Nabi Muhammad SAW dari seorang pendeta atau beliau jiplak dari kitab Perjanjian
Lama. Pendapat ini jelas tidak benar dari banyak segi.
Nabi Muhammad SAW tidak pernah belajar pada siapapun. Memang pada masa kanak-kanak beliau
pernah ikut berdagang pamanya ke Syam dan bertemu dengan rahib yang bernama Buhaira yang
meminta pamannya agar member perhatian serius pada nabi karena dia melihat tanda-tanda kenabian
pada beliau. Namun pertemuan ini pun hanya terjadi beberapa saat. Di sini kita bertanya, kalau remaja
kecil (Muhammad) belajar pada rahib itu, apakah logis dalam pertemuan singkat itu beliau memperoleh
banyak informasi yang mendetail, bahkan sangat akurat? tentu saja tidak.
Ada juga seorang orientalis yang bernama Montgomery Watt yang berkata bahwa Nabi
Muhammad SAW belajar pada Waraqah bin Naufal. Menurutnya, Khadijah merupakan anak paman
Waraqah bin Naufal, sedangkan ia merupakan agamawan yang akhirnya menganut agama Kristen. Tidak
dapat disangkal Khadijah berada di bawah pengaruhnya dan boleh jadi Muhammad telah menimba
sesuatu dari semangat dan pendapat-pendapatnya.
Kita mengakui kalau Waraqah beragama Kristen, tapi bahwa Muhammad datang belajar kepadanya
adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Hal ini karena menurut pelbagai riwayat kedatangan beliau
menemui Waraqah adalah setelah beliau menerima wahyu dan bukan sebelumnya. Di sisi lain, Waraqah
berpendapat bahwa yang datang pada Nabi Muhammad SAW di gua Hira itu adalah malaikat yang
pernah datang pada Nabi Musa dan Isa dan beliau menyatakan bahwa seandainya hidup saat
Muhammad dimusuhi kaumnya, niscaya dia akan membelanya. Jika demikian logiskah jika Nabi
Muhammad SAW belajar kepadanya setelah Waraqah mengakui kenabiannya?
Tidaklah tepat jika dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW mempelajari Kitab Perjanjian Lama
karena disamping beliau tidak dapat membaca dan menulis, juga karena terdapat sekian banyak
informasi yang dikemukakan Al-Quran yang tidak termaktub dalam Perjanjian Lama atau Perjanjian
Baru, missal kisah Ashab Al-Kahfi. Kalaupun ada yang sama, seperti beberapa kisah nabi-nabi, namun
dalam rincian atau rumusan terdapat perbedaaan-perbedaan.
Bahwa terjadi persamaan dalam garis besar bukan lalu merupakan bukti penjiplakan. Apakah jika
seseorang pada puluhan tahun yang lalu melukis candi Borobudur, kemudian kini datang pula pelukis
lain yang melukisnya dan ternyata lukisan itu sama atau mirip dengan yang sebelumnya apakah Anda
berkata bahwa pelukis kedua menjiplak dari pelukis pertama?
Nabi Muhammad SAW sejak dini telah mengakui bahwa beliau adalah pelanjut dari risalah para
nabi. Beliau mengibaratkan diri beliau dengan para nabi sebelumnya bagaikan seorang yang membangun
rumah, maka dibangunnya dengan sangat baik dan indah, kecuali satu bata di pojok rumah itu. Orang-
orang berkeliling di rumah tersebut dan mengaguminya sambil berkata, Seandainya diletakkan bata di
pojok rumah ini, maka Akulah (pembawa) bata itu dan Akulah penutup para nabi. Demikian sabda
228
Beliau yang diriwayatkan oleh Bukhari melalui Jabir bin Abdillah. " Wallahu alam

228
Dirangkum dari Shihab, M. Quraish. 1998. Mukjizat Al-Quran. Bandung: Mizan, 206-212.

121
Ulumul Quran

BAB 14
ILMU AQSAMUL QURAN

A. Pengertian Aqsamul Quran dan Unsur-unsurnya


Secara etimologi aqsam merupakan bentuk jamak dari kata qasam. Kata qasam memiliki makna
yang sama dengan dua kata lain yaitu : al halaf dan al yamin yang berarti sumpah. Qasam dan yamin
adalah dua kata sinonim yang berarti sama. Qasam didefinisikan sebagai mengikat hati jiwa (hati) agar
tidak melakukan atau melakukan sesuatu, dengan suatu makna yang dipandang besar, agung, baik
secara hakiki maupun secara Itiqadi, oleh orang yang bersumpah itu. Bersumpah dinamakan juga
dengan yamin (tangan kanan) karena orang arab ketika bersumpah memegang tangan kanan
229
sahabatnya. Selain qasam sama dengan yamin, qasam juga sama dengan half.
Penggunaan ungkapan qasam dalam Al-Quran, adakalanya dengan memakai kata aqsama, dan
230
kadang-kadang dengan menggunakan kata halafa. Contoh penggunaan kedua kata tadi antara lain;










Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu Mengetahui.(Al-Waqiah: 76)


Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Alla) lalu mereka bersumpah kepada-Nya
(bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka
menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa
Sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. (QS. Al-Mujadilah: 18).
Dalam pengertian terminologi, menurut Al-Jurjani Qasam/ sumpah adalah sesuatu yang
dikemukakan untuk menguatkan salah satu dari dua berita dengan menyebutkan nama Allah atau
231
sifatnya. Juga dapat berarti mengikatkan jiwa untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan
atau untuk mengerjakannya, yang diperkuat dengansesuatu yang diagungkan bagi orang yang
232
bersumpah, baik secara nyata ataupun secara keyakinan saja.
Ilmu Aqsamul Quran adalah salah satu dari ilmu-ilmu Al-Quran yang mengkaji tentang arti,
maksud, hikmah, dan rahasia sumpah-sumpah Allah yang terdapat dalam Al-Quran. Dapat juga berarti
ilmu yang membicarakan tentang sumpah-sumpah yang terdapat dalam Al-Quran, yaitu sumpah-
sumpah yang disampaikan oleh Allah SWT untuk meyakinkan kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi
233
Muhammad SAW.
Ibnu Qoyyim adalah ulama pertama yang secara khusus mengulas masalah qosam ini dalam
kitabnya, yaitu At Tibyan fi Ulumil Quran yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan sumpah
Allah. Kedudukan qosam dalam Al-Quran ada yang di awal surat dan ada pula selain di awal surat.
Keduanya tidak mengurangi makna sumpah karena yang melakukan adalah Allah.
Para Ulama berbeda dalam menggunakan istilah qasam, diantaranya hanya menyebut istilah Al-
Qasam saja seperti dalam kitab al-Burhan fi Ulumil Quran karya Imam Badruddin Muhammad bin
Abdullah Az-Zarkasyi. Ada yang merangkainya dengan kata Al-Quran, sehingga menjadi Aqsamul
Quran seperti yang dipakai dalam kitab al-Itqan fi Ulumil Quran karya Imam Jalaluddin Asy-Suyuthi.
Kedua istilah tersebut hanya berbeda pada konteks pemakaian katanya saja, sedangkan maksudnya tidak
jauh berbeda.

229
Nasution, Hasan Mansur. 1992. Rahasia Sumpah Allah. Bandung: Mizan, 7.
230
Buchori, Didin Syaefuddin. 2005. Pedoman Memahami Kandungan Al-Quran. Bogor: Granada Sarana Pustaka, 173-174.
231
Nasution, Hasan Mansur. 1992. Op. Cit, 7.
232
Djalal, Abdul. 1997. Ulumul Quran. Surabaya: Dunia Ilmu, 346
233
Al-Qattan, Manna Khalil. Studi-studi Islam Al-Quran Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 410.

122
Ulumul Quran

B. Sighat Aqsamul Quran


1. Adat Qasam adalah sighat yang digunkan untuk menunjukkan qasam, baik dalam bentuk fiil maupun
234
huruf seperti ba, ta, dan wawu sebagai pengganti fiil qasam.
Contoh, Adat qasam dengan memakai kata kerja (QS. An-Nahl: 38),


Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak
akan akan membangkitkan orang yang mati". (tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan
membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia
tiada mengetahui.
Contoh, Adat qasam dengan memakai huruf wawu (QS. Al Anbiya : 57). Lafadz Al-Jalalah yang
digunakan untuk pengganti fiil qasam adalah huruf ta seperti


Demi Allah, Sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah
kamu pergi meninggalkannya
2. Muqsam Bih atau penguat sumpah, yaitu sesuatu yang dijadikan sumpah oleh Allah. Sumpah dalam
Al-Quran ada kalanya dengan memakai nama yang Agung (Allah), dan ada kalanya dengan
menggunakan nam-nama ciptaanNya. Qasam dengan menggunakan nama Allah dalam al-Quran
235
hanya terdapat dalam 7 tempat, yaitu:
a. QS. Adz-Dzariyat ayat 43


dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: "Bersenang-senanglah kalian
sampai suatu waktu."
b. QS. Maryam ayat 68


demi Tuhanmu, Sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan
Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut.
c. QS. Yunus ayat 53


dan mereka menanyakan kepadamu: "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu? Katakanlah: "Ya,
demi Tuhanku, Sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput
(daripadanya)
d. QS. Al-Hijr ayat 92

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua,
e. QS. At-Taghabun ayat 17

jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan
balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. dan Allah Maha pembalas Jasa lagi Maha
Penyantun.

234
Buchori, Didin Syaefuddin. 2005. Op. Cit, 176
235
Buchori, Didin Syaefuddin. 2005. Op. Cit, 176

123
Ulumul Quran

f. QS. An-Nisa ayat 65


Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa
dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka
menerima dengan sepenuhnya.
g. QS. Al-Maarij ayat 40


Maka aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki timur dan barat, Sesungguhnya Kami benar-
benar Maha Kuasa.
3. Muqsam Alaih (berita yang diperkuat dengan sumpah itu/ jawab qasam), yaitu pernyataan yang
datang mengiringi qasam, berfungsi sebagai jawaban dari qasam. Di dalam Quran terdapat dua
236
muqsam alaih, yaitu yang disebutkan secara tegas atau dibuang.
a. Muqsam alaih yang disebutkan secara tegas, seperti pada QS. Adz-Dzariyat: 1-6.


Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat. dan awan yang mengandung hujan, dan
kapal-kapal yang berlayar dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan,
Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan Sesungguhnya (hari) pembalasan
pasti terjadi.
b. Muqsam alaih yang dibuang/ dihilangkan
1) Di dalam muqsam bih nya sudah terkandung makna muqsam alaih.
2) Qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat dalam surat
yang terdapat dalam Al-Quran.
Contoh jenis ini dapat dilihat misalnya dalam QS. Ad-Dhuha: 1-2


Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap).

C. Macam-macam Aqsamul Quran


1. Ditinjau dari aspek fiil
a. Qasam Zhahir
Qasam Zhahir, ialah sumpah di dlamnya disebutkan fiil qasam dan muqsam bih. Dan diantaranya
ada yang dihilangkan fiil qasamnya, sebagaimana pada umumnya, karena dicukupkan dengan
huruf jar berupa ba, wawu, dan ta. Seperti dalam QS. Al-Qiyamah: 1-2:


Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali
(dirinya sendiri).
b. Qasam Mudhmar
Qasam Mudhmar ialah yang di dalamnya tidak dijelaskan fiil qasam dan tidak pula muqsam bih,
237
tetapi ia ditunjukkan oleh lam taukid yang masuk ke dalam jawab qasam, seperti pada Q.S. Ali
Imran: 186.

236
Buchori, Didin Syaefuddin. 2005. Op. Cit, 180

124
Ulumul Quran


Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-
sungguh.
2. Ditinjau dari aspek Muqsam Bih
a. Qasam dengan menggunakan dzat Allah, ( QS. Al-Hijr: 92)


Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua,
b. Qasam dengan perbuatan-perbuatan Allah, (QS. Asy-Syams: 5)


dan langit serta pembinaannya,
c. Qasam dengan yang dikerjakan Allah, (QS. Ath-Thur: 1)


demi bukit
d. Qasam dengan malikat-malaikat Allah, (QS. An-Naziat: 1-3)

1. demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, 2. dan (malaikat-malaikat)
yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, 3. dan (malaikat-malaikat) yang turun dari
langit dengan cepat,
e. Qasam dengan Nabi Allah (QS. Al-Hijr: 72)


72. (Allah berfirman): "Demi umurmu (Muhammad), Sesungguhnya mereka terombang-ambing
di dalam kemabukan (kesesatan)".
f. Qasam dengan makhluk Allah, QS. At-Tin: 1-2)


1. demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun 2. dan demi bukit Sinai
g. Qasam dengan waktu, (QS. Al-Ashr: 1-2)

1. demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

D. Bentuk-bentuk Aqsamul Quran


1. Bentuk Asli
Bentuk asli dalam sumpah ialah bentuk sumpah yang terdiri dari tiga unsur, yaitu fiil sumpah yang
dimutaaddikan dengan ba, muqsam bih dan muqsam alaih seperti contoh-contoh di atas.
2. Ditambah huruf La
Kalimat yang digunakan orang untuk bersumpah itu memakai berbagai macam bentuk. Begitu pula
dalam Al-Quran ada bentuk sumpah yang keluar dari bentuk asli sumpah. Misalnya bentuk sumpah
yang ditambah huruf La di depan fiil qasamnya, seperti QS. Al-Maarij: 40, QS. Al-Waqiah: 75, QS.
Al-Insyiqaq: 16, QS. Al-Haqqah: 38.


75. Maka aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.

237
Al-Qattan, Manna Khalil. Loc. Cit, 417-418

125
Ulumul Quran

E. Tujuan dan Hikmah Aqsamul Quran


Bahasa arab mempunyai keistimewaan tersendiri berupa kelembutan ungkapan dan beraneka
ragam uslubnya sesuai dengan berbagai tujuannya. Lawan bicara (mukhatab) mempunyai beberapa
keadaan yang dalam ilmu maani disebut adrubul khabar as-salasah atau tiga macam pola penggunaan
238 239 240
kalimat berita, ibtidai, thalabi, dan ingkari.
Qasam merupakan salah satu penguat perkataan yang masyhur untuk memantapkan dan
memperkuat kebenaran sesuatu di dalam jiwa. Al-Quran diturunkan untuk seluruh manusia dan
manusia mempunyai sikap yang bermacam-macam terhadapnya. Di antaranya ada yang meragukan, ada
yang mengingkari dan ada pula yang amat memusuhi. Karena itu dipakailah qasam dalam kalamullah
guna menghilangkan keraguan, melenyapkan kesalahpahaman, menegakkan hujjah, menguatkan khabar,
241
dan menetapkan hukum dengan cara yang paling sempurna.
Aqsamul Quran mempunyai tujuan untuk memberikan penegasan atas suatu informasi yang
disampaikan dalam Al-Quran atau untunuk memperkuat informasi kepada orang lain yang mungkin
sdang mengingkari suatu kebenarannya, sehingga informasi itu dapat diterimanya dengan penuh
keyakinan. Menurut Manna Al-Qhaththan, tujuan qasam dalam Al-Quran adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengukuhkan dan mewujudkan muqsam alaih. Karena itu, muqsam alih berupa sesuatu yang
layak untuk dijadikan sumpah, seperti hal-hal yang tersembunyi, jika qasam itu dimaksudkan untuk
menetapkan kebenaran.
2. Untuk menjelaskan tauhid atau untuk menegaskan kebenaran Al-Quran." Wallahu alam

238
Yaitu apabila mukhatabnya merupakan orang yang berhati kosong, yang beium memiiiki persepsi akan pernyataan yang
diterangkan padanya. Maka perkataan yang disampaikan kepadanya tidak pertu memakai penguat (ta'kid)
239
Yaitu apabila mukhatabnya ragu-ragu terhadap kebenaran pernyataan yang disampaikan kepadanya. Perkataan untuk orang
seperti ini sebaiknya diperkuat dengan suatu penguat guna menghilangkan keraguannya
240
Yaitu apabita mukhatabnya mengingkari atau menqtak isi pernyataan. Perkataan untuk orang seperti ini harus disertai
penguat sesuai dengan kadar keingkarannya; kuat atau lemah
241
Al-Qattan, Manna Khalil. Loc. Cit, 414

126
Ulumul Quran

BAB 15
ILMU QIRAAH

A. Pengertian Qirah, Qurra dan Sejarahnya


Menurut bahasa, kata qiraat merupakan bentuk jamak dari kata qiraah yang berasal dari kata
qaraa yaqrou qiraatan - quranan yang memiliki makna tilawah. Makna qiroah semula berarti
242
kumpulan atau cakupan. Kata qiraah seakar dengan Al-Quran, dari kata qaraa, berarti membaca.
243
Qiraah adalah bentuk mashdar (verbal noun) dari kata qaraa.
Secara terminologis, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan pengertian qiraat,
diantaranya:
1. Menurut Az-Zarqani


Madzhab yang dianut oleh seorang imam qiraat yang berbeda dengan lainya dalam pengucapan Al-
Quran serta kesepakatan riwayat-riwayat dan jalur-jalurnya, baik perbedaan itu dalam pengucapan
244
huruf-huruf ataupun pengucapan bentuk-bentuk.
2. Menurut Mana Khalil Al Qatthan

adalah sebuah mazhab dari beberapa mazhab artikulasi (kosakata) al-Quran yang dipilih oleh salah
245
seorang Imam Qiraatt yang berbeda dengan mazhab lainnya.
3. Menurut Ash-Shabuni

..
Qiraat adalah suatu madzhab cara pelafalan Al-Quran yang dianut oleh salah seorang imam
246
berdasarkan sanad-sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW.
4. Menurut para ahli Al-Quran


Suatu pengetahuan tentang tata cara pengucapan kalimat atau ayat-ayat Al-Quran baik yang
247
disepakati maupun yang terjadi perbedaan yang disandarkan pada seseorang Imam Qiraat.
Berdasarkan rumusan-rumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa qiraat itu mempunyai dua
sumber, yaitu al-sima dan al-naql. Artinya bahwa qiraat itu diperoleh secara langsung dengan cara
mendengar dari Nabi SAW, sedangkan al-naql, artinya qiraat itu diperoleh melalui riwayat yang
menyatakan bahwa qiraat Al-Quran itu dibacakan di hadapan Nabi SAW kemudian beliau
248
membenarkanya.
Adapun qurra adalah bentuk jamak dari qari, yang artinya orang yang membaca. Qori atau quro
ini sudah menjadi menjadi istilah baku dalam disiplin ilmu Al-Quran maksudnya, para ahli atau imam
qiraat yang mengajarkan bacaan Al-Quran kepada masyarakat menurut cara mereka masing-masing
adalah dengan berpedoman kepada masa shahabat. Diantara para sahabat yang terkenal mengajarkan

242
Ulum, M. Samsul. 2007. Menangkap Cahaya Al-Quran, Malang: UIN-Malang Press, 103; Ash-Shabuni, Muhammad Ali. 2001.
Ikhtisar Ulumul Quran Praktis, Terjemahan M. Qodirun Nur Jakarta: Pustaka Amani, 357; lihat juga Gani, Bustami A. (Ed). 1986.
Beberapa Apek Ilmiah Tentang Quran Jakarta: PT. Pustaka Litera Antar Nusa, 108.
243
Shihab, M. Quraish dkk. 1999. Sejarah dan Ulum Quran, Jakarta: Pustaka Firdaus,99.
244
Anwar, Rosihon. 2006. Ulumul Quran, Bandung: Pustaka Setia, 146; Supiana dan M. Karman, 2002. Ulumul Quran, Bandung:
Pustaka Islamika, 210.
245
Ibid, 147.
246
Ibid, 147.
247
Munir, Misbahul. 2005. Ilmu dan Seni Qiroatil Quran, Semarang: Binawan, 377.
248
Supiana dan M. Karman, Op. Cit, 210.

127
Ulumul Quran

qiraat ialah Ubai, Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Masud, Abu Musa al-Asyari dan lain-lain. Dari mereka itulah
sebagian besar sahabat dan tabiin di berbagai negeri belajar qiraat dan mereka semua berpegang
kepada rasulullah. Imam az-Zahabi menyebutkan di dalam Tabaqatul Qurra, bahwa sahabat yang
terkenal sebagai guru dan ahli qiraat al-quran ada tujuh orang, yaitu Usman, Ali, Ubai, Zaid bin Tsabit,
Abu Darda dan Abu Musa al-Asyari. Lebih lanjut ia menjelaskan, segolongan besar sahabat mempelajari
qiraat dari Ubai, di antaranya Abu Hurairah, Ibn Abbas dan Abdullah bin Saib. Ibn Abbas belajar pula
kepada Zaid.
Terdapat beberapa istilah tertentu dalam menisbatkan suatu Qiraat Al-Quran kepada salah
seorang imam qiraat dan kepada orang-orang sesudahnya. Istilah tersebut antara lain:
1. : Apabila Qiraat Al-Quran dinisbatkan kepada salah seorang imam qiraat tertentu seperti
qiraat Nabi umpamanya.
2. : Apabila Qiraat Al-Quran dinisbatkan kepada salah seorang perawi qiraat dari imamnya.
3. : Apabila Qiraat Al-Quran dinisbatkan kepada salah seorang pembaca Al-Quran berdasarkan
pilihannya terhadap versi qiraat tertentu.
Qiraat sebenarnya telah muncul sejak masa Nabi SAW walaupun pada saat itu qiraat bukan
merupakan sebuah disiplin ilmu. Ada beberapa riwayat yang dapat mendukung asumsi ini, yaitu:
1. Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
Dari Ibn Abbas RA. berkata: Rasulullah SAW bersabda Jibril membacakan Al-Quran kepadaku
dengan satu huruf. Kemudian aku kembali kepadanya dan meminta tambah. Lalu ia
menambahkan kepadaku sampai aku menyelesaikan tujuh huruf (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Kisah Umar RA, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
Bahwa Umar bin Khattab berkata: Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surah Al-Furqan
dimasa hidup Rasulullah SAW. Maka aku sengaja mendengarkan bacaanya. Tahu-tahu dia
membanya dengan huruf yang banyak (bacaan yang bermacam-macam), dimana Nabi belum
pernah membacakanya kepadaku. Hampir saja aku terkam dia dalam shalat, namun aku
berusaha sabar sampai dia salam. Begitu dia salam aku tarik leher bajunya, seraya aku bertanya:
Siapa yang telah membacakan (mengajari bacaan) surah tadi? Hisyam menjawab: Yang
mengajarkan bacaan tadi Rasulullah sendiri, aku gertak diaKau bohong, demi Allah, Rasulullah
telah membacakan surah tadi kepadaku (tapi tidak seperti bacaanmu). Maka akhirnya ku ajak
dia menghadap Rasulullah. Aku berkata Wahai Rasulullah, aku mendengar orang ini membaca
surat Al-Furqan dengan huruf (cara baca) yang tidak pernah engkau bacakan. Sedangkan dirimu
pernah membacakan kepadaku surat Al-Furqan ini. Nabi bersabda Lepaskan ia wahai Umar,
bacalah kamu wahai Hisyam!. Hisyam lalu membaca seperti yang aku dengar. Kemudian Nabi
SAW bersabda Demikianlah Quran diturunkan, Nabi lalu berkata kepadaku Baca kamu wahai
Umar!, aku pun lalu membaca dengan cara bacaan yang pernah Nabi SAW bacakan kepadaku.
Lalu Nabi SAW bersabda Demikianlah Quran diturunkan. Lalu Nabi SAW bersabda
Sesungguhnya Quran itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah oleh kalian apa yang
mudah darinya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Qiraat didasarkan kepada sanad-sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW. Periode Qurra
yang mengajarkan bacaan Al-Quran kepada orang-orang menurut cara mereka masing-masing adalah
dengan berpedoman kepada masa para sahabat. Diantara para sahabat yang terkenal mengajarkan
qiraat adalah Ubay bin Kaab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ibnu Masud, Abu Musa Al-Asyari dan
lain-lain. Dari mereka itulah sebagian besar sahabat dan tabiin di berbagai negeri belajar qiraat. Mereka
itu semuanya bersandar kepada Rasulullah SAW.
Adz-Dzahabi menyebutkan di dalam Thabaqat Al-Qurra, sahabat yang terkenal sebagai guru dan
ahli qiraat Al-Quran ada tujuh orang, yaitu; Utsman, Ali, Ubay, Zaid bin Tsabit, Abu Ad-Darda dan Abu
Musa Al- Asyari. lebih lanjut ia menjelaskan, mayoritas sahabat mempelajari qiraat dari Ubay.

128
Ulumul Quran

Diantaranya Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan Abdullah bin As- Saib. Ibnu Abbas juga belajar kepada Zaid.
249
Kemudian kepada para sahabat itulah sejumlah besar tabiin di setiap negeri mempelajari qiraat.
Menurut As-Suyuthi orang pertama yang menyusun kitab tentang qiraat adalah Abu Ubaid Al-
Qasim bin Sallam, disusul oleh Ahmad bin Jubair Al-Kufi, kemudian Ismail bin Ishak Al-Maliki murid
Qalun, lalu Abu Jafar bin Jarir At-Thabari. Selanjutnya, Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Umar Ad-
250
Dajuni, kemudian Abu Bakar bin Mujahid. Pada masa Ibnu Mujahid ini dan sesudahnya, tampilah para
ahli yang menyusun buku mengenai berbagi macam qiraat, baik yang mencakup semua qiraat maupun
tidak, secara singkat maupun secara panjang lebar. Ibnu Mujahid inilah yang meringkas macam-macam
251
qiraat menjadi tujuh macam qiraat (qiraah sabah) yang disesuaikan dengan tujuh Imam Qari.
Diantara para tabiin tersebut ada yang tinggal di Madinah, di antaranya Ibnul Musyyab, Urwah,
salim, Umar bin Abdul Aziz, Sulaiman bin Yassar, Atha bin Yassar, Muadz bin Harist yang terkenal
dengan Muadz Al-qorri, Abdurrahman bin Hurmuz Al-Araj. Ibnu Syihab Az-zuhri, Muslim bin Jundub,
dan Zaid bin Aslam. Tabiin yang tinggal di Mekkah yaitu: Ubaid bin Umair, Atha bin abi robiah, Thowus,
Mujahid, Ikrimah, dan Ibnu Abi Mulaikah.
Tabiin yang tinggal di Kuffah ialah Al-Qomah, Al-Aswad, Masruq, Ubaidah, Amr bin Syurahbil, Al-
Harist bin Syurahbil, Al-Harist bin Qois, Amr bin Maimun, Abu Abdirraman As-Sulami, Said bin Jubair, An-
Nakhai, dan Asy- syabi. Tabiin yang tinggal di Bashrah ialah Abu Aliyah, Abu Raja, Nashir bin Ashim,
Yahya bin Yamar, Al-Hasan, Ibnu Sirrin, dan Qotadah. Sedangkan yang tinggal di Syam adalah Al-
Mughiroh bin Abi Syihab Al-Mukhzi (murid Utsman bin Affan) dan Kholifah bin Saad (murid Abu Ad-
Darda)
Pada permulaan abad pertama Hijriyah di masa tabiin, tampillah sejumlah ulama yang konsen
terhadap masalah qiroat secara sempurna karena keadaan menuntut demikian, dan menjadikannya
sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri sebagaimana mereka lakukan terhadap ilmu-ilmu syariat
lainnya. Sehingga mereka menjadi imam dan ahli qiroat yang di ikuti dan dipercaya. Bahkan dari
generasi ini dan generasi sesudahnya terdapat 7 orang yang terkenal sebagai imam qiroat yang
kemudian kepada merekalah qiroat dinisbahkan hingga sekarang ini. Para ahli qiroat yang ada
di Madinah ialah Abu Djafar Yazid bin Al-Qoqo dan Nafi bin Abdirrohman. Di Makkah Abdulloh bin
Katsir dan Humaid bin Qois Al-Araj. Di Kuffah Ashim bin An-Najud, Sulaiman Al-Amasy, kemudian
Hamzah dan Al-Kisai. Di Basrah yaitu Abdulloh bin Abi Ishaq, Isa bin Amir, Abu Amru Ala, Ashim Al-
Jahdari dan Yaqub Al-Hadromi, adapun yang di Syam yaitu Abdullah bin Amir, Ismail bin Abdillah bin
Muhajir, kemudian Yahya bin Harits dan Syuraih bin Yazid Al-Hadhrami. Ketujuh orang Imam yang
terkenal sebagai ahli qiroat di seluruh dunia adalah Abu Amr, Nafi, Ashim, Hamzah, Al-Kisai, Ibnu Amir
dan Ibnu Katsir.
Sejumlah qiroat itu bukanlah tujuh huruf, menurut pendapat yang paling kuat, walaupun
dikesankan ada kesamaan penyebutan jumlah bilangan diantara keduanya. Sebab qiroat hanya
merupakan madzhab bacaan Quran para Imam, yang secara Ijma masih tetap ada dan tetap digunakan
umat hingga kini, dan sumbernya adalah perbedaan langgam, cara pengucapan dan sifatnya. Seperti
tafkhim, tarqiq, imalah,idgham, izhar, isyba, mad, qashr, takhfaf, dan lain sebagainya. Namun semuanya
itu hanya berkisar dalam satu huruf, yaitu huruf Quraisy. Maksud tujuh huruf (ahruf sabah) adalah
berbeda dengan qiroat, seperti yang telah kita jelaskan. Dan persoalannya telah sampai pada
pembukuan Al-Quran yang terakhir, yaitu ketika wilayah ekspansi bertambah luas dan ikhtilaf tentang
huruf-huruf itu menjadi kekhawatiran bagi timbulnya fitnah dan kerusakan, sehingga para sahabat pada
masa Utsman terdorong untuk mempersatukan umat Islam dalam satu huruf, yaitu huruf Quraisy. Lalu,
mereka menuliskan mushaf dengan huruf tersebut.

249
Al-Qattan, Khalil Manna. 2006. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 211.
250
Ibid, 214.
251
Rosihon Anwar, Op. Cit, 152.

129
Ulumul Quran

B. Syarat-syarat Diterimanya Qiraah


252
Menurut para ulama, syarat-syarat qiroat yang shahih adalah:
1. Kesesuaian qiroat tersebut dengan kaidah bahasa Arab sekalipun dalam satu segi, baik fasih ataupun
lebih fasih. Sebab qiroat adalah sunnah yang harus diikuti, diterima apa adanya dan menjadi
rujukandengan berdasarkan pada isnad, bukan pada rasio.
2. Qiroat harus dengan mushaf Ustmani, meskipun hanya sekedar mendekati saja. Sebab, dalam
penulisan mushaf-mushaf tersebut para sahabat telah bersungguh-sungguh dalam membuat rasm
dengan berbagai macam dialek qiroat yang mereka ketahui. Misalnya, mereka menuliskan
shirat dalam surah Al-Fatihah ayat 6, dengan huruf shad sebagai ganti dari sin. Mereka tidak
menuliskan huruf sin yang merupakan asal ini, agar lafadz tersebut dapat juga dibaca dengan sin
yakni as-shirat.
Meskipun dalam satu segi berbeda dengan rasm, namun namun qiroat dengan sin pun telah
memenuhi atau sesuai denganbahasa asli lafazd tersebut yng terkenal, sehingga kedua bacaan
tersebut dianggap sebanding. Dan bacaan isymam untuk itu pun dimungkinkan pula.Yang di maksud
dengan sesuai walaupun hanya sekedar mendekati saja (muwafaqoh ihtimaliyah) adalah seperti contoh
diatas. Contoh yang lain seperti maliki yaumi ad-din (Al-Fatihah :4). Lafadz maliki, dituliskan dalam
mushaf dengan membuang huruf alif, sehingga dibaca maliki (pendek), sesuai dengan rasm dan
dibaca pula maliki sesuai dengan rasm.
3. Qiroat itu isnadnya harus shohih, sebab qiroat merupakan sunnah yang harus diikuti yang di
dasarkan pada penukilan dan keshohihan riwayat. Sering kali ahli bahasa arab mengigkari suatu
qiroat hanya karena qiroat tersebut dianggap menyimpang dari aturan atau lemah menurut kaidah
bahasa.

C. Macam-macam Qiraatil Quran


Secara garis besar macam-macam qiraat terbagi menjadi dua, yaitu jenis qiraat dilihat dari segi
253
kuantitas dan jenis qiraat dilihat dari segi kualitas.
1. Dari segi kuantitas
254
a. Qiraat Sabah (Qiraah Tujuh).
Kata sabah itu sendiri maksudnya adalah imam-imam qiraat yang tujuh. Mereka itu adalah Imam
255 256 257 258 259
Nafi, Imam Ibnu Katsir, Imam Abu Amr, Imam Ibnu Amir, Imam Ashim, Imam
260 261
Hamzah, Imam Al-Kisai.

252
Anwar, Rosihon Op. Cit, 165. lihat juga Gani, Bustami A. Op. Cit,116-117.
253
Anwar, Rosihon Op. Cit, 158-161
254
KH. M. Arwani Amin, Faidh al-Barakaat fi Sabi al-Qiraat (Kudus: Toko Kitab Mubarakatan Tayyibah, 2000), 3; Muhammad
Ash-Shabuni, At-Tibyan fi Ulum al-Quran, (Makkah al-Mukarromah: Dar Al-Kitab Al-Islamiyah, 2003), 234-237; Sayyid Muhammad Alwi
Al-Maliki, Keistimewaan-Keistimewaan Al-Quran, Terjemahan Nue Faizin (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2001), 123-125; Ramli Abdul
Wahid, Ulumul Quran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,1993), 118; LPTQ, Pedoman Maqra Musabaqah Qiraat Al-Quran (Surabaya:
Kanwil Depag Propinsi Jawa Timur, 2002), 8-12; Muhammad Ash-Shabuni, Op. Cit., 363-366; Ahmad Syadali dan Ahmad Rofii, Op. Cit.,
227; M. Quraish Shihab dkk, Op. Cit., 100; Rosihon Anwar, Op. Cit., 158; Manna Al-Qattan, Op. Cit., 223-225; lihat juga Bustami A. Gani,
Op. Cit., 120-124; lihat juga Kamaludin Marzuki, Ulum Al-Quran (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1992), 104.
255
Nama lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi bin Abdurrahman bin Abu Nuaim al-Laitsi. Lahir pada tahun 70 H. dan wafat pada
tahun 169 H. sanad atau silsilah bacaan imam ini adalah sebagai berikut: Abdurrahman bin Hurmuz, Abdurrahman dari Abdullah bin
Abbas dan Abu Hurairah dari Ubay bin Kaab dan Ubay dari Rasulullah SAW. Adapun dua orang perawinya adalah Qalun dan Warsy.
256
Nama lengkapnya Abu mabad Abdullah bin Katsir Al-Makki, lahir tahun 45 H. dan wafat di Makkah tahun 120 H. Sanad
bacaanya dari Abdullah bin Said Makhzumi, Abdullah dari Ubay bin Kaab dan Umar bin Khattab, keduanya membaca dari Rasulullah
SAW. Dua perawinya adalah Bazzi dan Qunbul.
257
Nama lengkap imam ke tiga ini adalah Zabban bin Al-Ala bin Ammar Al-Mazini Al-Bashri. Ia lahir pada tahun 68 H. dan wafat
pada tahun 154 H. Sanad bacaanya adalah dari Abu Jafar Yazid bin Qaqa dan Hasan Al-Bashri. Hassan membaca dari Hattan dan Abu
ALiyah. Abu Aliyah dari sahabat Umar bin Khattab dan Ubay bin Kaab., kemudian kedua sahabat ini mendapat dari Rasulullah SAW. Dua
perawinya adalah Ad-Durri dan As-Susi.
258
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Amir Al-Yahsubi. Lahir tahun 21 H. dan wafat pada tahun 118 H. Sanad bacaan Ibnu
Amir hanya berselang dengan seorang sahabat Rasulullah SAW yaitu membaca dari Usman bin Affan dan Usman dari Rasulullah SAW.
Dua perawinya adalah Hisyam dan Ibnu Dzakwan
259
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar bin Abi Nujud Al-Asady. Ia wafat di Kuffah tahun 127 H. Sanad bacaan Imam Ashim
adalah dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Hubaib As-Silmi, Abdurrahman dari Abdullah bin Masud, Usman bin Affan, Ali bin Abi
Thalib, Ubay bin Kaab dan Zaid bin Tsabit, dan para sahabat tersebut dari Rasulullah SAW. Dua perawinya adalah Syubah dan Hafs.

130
Ulumul Quran

b. Qiraat Asyrah (Qiraah Sepuluh). Yang dimaksud qiraat sepuluh adalah qiraat tujuh yang telah
disebutkan di atas ditambah dengan tiga qiraat yakni, Abu Jafar Al-Madani, Yaqub Al-Bashri,
Khalaf bin Hisyam Al-Baghdadi
c. Qiraat Arbaat Asyrah (Qiraah Empat Belas). Qiraat empat belas adalah qiraat sepuluh yang
telah disebutkan diatas ditambah dengan empat qiraat yakni, Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin
Abdurrahman, Yahya bin Al-Mubarak Al-Yazidi An-Nahwi Al-Baghdadi, Abu Al-Farj Muhammad
bin Ahmad Asy-Syambudzi.
262
Adanya perbedaan-perbedaan dalam qiraat tersebut membawa faedah diantaranya:
1) Menunjukkan betapa terjaganya dan terpeliharanya Kitab Allah dari perubahan dan
penyimpangan padahal Kitab ini mempunyai sekian banyak segi bacaan yang berbeda-beda.
2) Meringankan umat Islam dan memudahkan mereka untuk membaca Al-Quran.
3) Bukti kemukjizatan Al-Quran dari segi kepadatan makna (ijaz)-nya, karena setiap qiraat
menunjukkan sesuatu hukum syariat tertentu tanpa perlu pengulangan lafazh.
4) Penjelasan terhadap apa yang mungkin masih global dalam qiraat lain.
5) Menampakkan rahasia Allah dalam kitab-Nya dan pemeliharaan-Nya terhadap kitab tersebut
263
tanpa mengalami pengubahan dan perselisihan, kendatipun memiliki beberapa segi qiraat.
2. Dari segi kualitas
264
Dari segi kualitas, sebagian besar ulama membagi macam-macam qiraat menjadi 6 macam, yaitu:
a. Qiraat mutawatir, yakni qiraat yang dinukil oleh sejumlah besar perawi yang tidak mungkin
bersepakat untuk berdusta, sanadnya bersambung hingga penghabisanya, yakni Rasulullah.
b. Qiraat masyhur, yaitu qiraat yang sanadnya shahih, tetapi tidak mencapai derajat mutawatir,
sesuai dengan kaidah bahasa Arab, rasm Ustmani dan juga terkenal di kalangan para ahli qiraat,
sehingga tidak dikategorikan qiraat yang salah atau syadz. Para ulama menyebutkan bahwa
qiraat macam ini termasuk qiraat yang dapat dipakai atau digunakan.
c. Qiraat ahad, yaitu qiraat yang sanadnya shahih, tetapi menyalahi rasm Ustmani, menyalahi
kaidah bahasa Arab atau tidak terkenal seperti qiraat masyhur yang telah disebutkan. Qiraat
seperti ini tidak termasuk qiraat yang dapat diamalkan bacaanya. Contohnya ialah seperti yang
diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa nabi membaca ayat 128 surat At-Taubah:

Huruf fa ( )dibaca fathah, anfasakum. Sedangkan qiraah versi Mushaf Utsmani berbunyi:
anfasikum
d. Qiraat syadz (menyimpang), yaitu qiraat yang sanadnya tidak shahih. Contoh: (QS. Al-Fatihah: 4).

Dengan bentuk fiil madhi dan menasabkan yauma. Sedangkan qiraah versi Mushaf Utsmani
berbunyi: yaumi.
e. Qiraat maudhu (palsu), yaitu qiraat yang dibangsakan kepada seseorang tanpa dasar. Seperti
265
qiraat yang dihimpun oleh Muhammad bin Jafar Al-Khuzai.

260
Nama lengkapnya adalah Hamzah bin Hubaib bin Az-Ziyat. Ia dilahirkan pada tahun 80 H. dan wafat tahun 156 H. Sanad yang
dimiliki Imam Hamzah adalah sebagai berikut: ia menerima qiraat dari Abu Muhammad bin Sulaiaman bin Mahran Al-Amasy, Al-
Amasy dari Abu Muhammad Yahya Al-Asady, Yaya menerima dari Alqamah bin Qais, Alqamah talaqqi dari sahabat Abdullah bin
Masud, kemudian Ibnu Masud dari Rasulullah SAW. Dua perawinya adalah Khallaf dan Khallad.
261
Anwar, Rosihon Op. Cit, 158-161
Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Hamzah Al-Kisai. Wafat tahun 189 H. Ia membaca Al-Quran dari Imam Hamzah dan juga
talaqqi pada Muhammad bin Abu Laily serta Isa bin Umar dan Isa bin Umar dari Ashim. Dua perawinya adalah Abul Harits dan Ad-
Duri.
262
Al-Qaththan,Khalil Manna. Op. Cit, 221-222. lihat juga Abidin, Zainal. 1992. Seluk Beluk Al-Quran, Jakarta: PT. Rineka Cipta,
181-182.
263
As-Suyuthi, Jalaluddin. 1989. Apa itu Al-Quran, Terjemahan Aunur Rafiq. Jakarta: Gema Insani Press.
264
Al-Qattan Khalil Manna, Op. Cit, 220-221. lihat juga Rosihon Anwar, Op. Cit,160-163. lihat juga Bustami A. Gani, Op. Cit,118-
119.
265
Syadali, Ahmad dan Ahmad Rofii. 1997. Ulumul Quran I, Bandung: CV. Pustaka Setia, 230.

131
Ulumul Quran

f. Qiraah mudraj (sisipan), yaitu qiraat yang secara jelas dapat dikenal sebagai kalimat tambahan
bagi ayat-ayat Al-Quran, yang biasanya dipakai untuk memperjelas maksud atau penafsiran ayat.
Seperti qiraat Ibnu Abbas yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 198 berbunyi:

Ayat di atas mendapat tambahan kalimat
sebagai bentuk penjelasan dan
penafsiran. Sedangkan Qiraah versi Mushaf Utsmani berbunyi:

D. Pendapat para Ulama tentang Qiraah Sabah


Pembahasan ini sering dihubungkan dengan hadits Nabi SAW yang menegaskan bahwa Al-Quran
diturunkan ke dalam sabat ahruf (tujuh huruf). Tidak kurang dari dua puluh satu orang sahabat yang
meriwayatkan hal tersebut, diantaranya adalah Umar bin Khattab, Ubay bin Kab, Ibnu Abbas, Ibnu
Masud, Utsman bin Affan, dan lain-lain. Salah satu diantaranya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim dari Ibnu Abbas adalah : Rasulullah bersabda: Jibril telah membacakan Al-Quran kepadaku satu
huruf. Aku membacanya berulang-ulang. Aku terus menerus memintanya agar ditambah, dan ia
menambahnya hingga tujuh huruf. Para ulama berbeda pendapat tentang makna Tujuh Huruf pada
hadits di atas. Diantara pendapat tersebut adalah :
1. Al-Quran mengandung 7 bahasa Arab yang memiliki satu makna.
Pendapat ini adalah yang paling kuat yaitu Al-Quran mengandung tujuh bahasa Arab yang memiliki
satu makna, seperti aqbil, taal, halumma, ajjil, asri yang memiliki satu makna yaitu datang kemari.
Kata-kata tersebut, walaupun berbeda, mempunyai makna yang sama, yakni panggilan untuk segera
datang.
2. Tujuh dialek bahasa kabilah Arab yaitu Quraisy, Hudzail, Tamim, Tasqif, Hawazin, Kinanah dan
Yaman.
Pendapat ini mengatakan bahwa yang dimaksud sabat ahruf adalah tujuh bahasa terbaik dari bahasa
Arab yang tersebar di berbagai surah. Bahasa terbanyak digunakan adalah bahasa Quraisy.
3. Tujuh aspek kewahyuan seperti perintah, larangan, janji, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan
amtsal.
Pendapat ini mengatakan bahwa yang dimaksud sabat ahruf ialah bentuk kalimat yang tujuh, yakni
al-amr, al-nahy, al-wad , al-waid, al-jadal, al-qashash, dan al-amtsal atau al-amr, an-nahy, al-halal,
al-haram, al-muhkam , al-mutasyabih , dan al-amtsal.
4. Tujuh perubahan perbedaan yaitu ism, irab, tashrif, taqdim dan takhir, tabdil dan tafkhim.
Pendapat ini yang paling populer dan disepakati oleh jumhur ulama adalah pendapat Abu al-Fadhl al-
Razy. Menurut al-Razy yang dimaksud dengan sabat ahruf ialah segi-segi perbedaan yang tujuh yang
meliputi perbedaan dalam bentuk singural-plural, seperti bacaan li amanatihim (jamak) dan li
amanatihim (tunggal) (Q.S. 23:8). Kemudian perbedaan dari segi irab, seperti ma hadza basyaran
dengan ra berharakat fathah atau ma hadza basyarun dengan ra berharakat dlammah (Q.S. 12:31).
Perbedaan tashrif seperti rabbana baid baina asfarina (dalam bentuk permohonan) atau rabbuna
baada baina asfarina (bentuk kata kerja lampau) (Q.S 34:19). Juga dalam soal mendahulukan
(taqdim) atau mengakhirkan (takhir), seperti jaat sakarat al-haqq bi al-maut atau jaat sakarat al-
maut bi al-haqq (Q.S.50:19). Selanjutnya perbedaan dari segi al-ibdal (penggantian), seperti
nunsyizuha atau nansyuruha (Q.S.2:259), atau dalam penambahan (al-ziyadah) dan pengurangan (an-
naqsh), seperti wa aadda lahum jannat tajri min tahtiha al-anhar (dengan min ) dan wa aadda
lahum jannat tajri tahtaha al-anhar (tanpa min) (Q.S.9:100). Kemudian terakhir perbedaan dalam

132
Ulumul Quran

dialek (al-lahjat), seperti soal imalah (pengucapan dalam vocal e) (Q.S.20:9), antara hal ataka haditsu
musa (dengan a) atau hal ateka haditsu muse (dengan e).
5. Tujuh huruf diartikan bilangan yang sempurna seperti 70, 700, 7000 dan seterusnya.
Pendapat ini mengatakan bahwa perkataan sabah dalam ucapan Nabi SAW tidak mengandung
makna bilangan yang sebenarnya, melainkan hanya simbol (rumz) untuk menunjuk pada
kesempurnaan.
6. Tujuh huruf diartikan tujuh bangsa selain bangsa Arab seperti Yunani, Persia dan lain-lain.
Seperti kata kafur (wewangian di surga) ditengarai berasal dari Indonesia, yakni daerah Barus
Tapanuli sehingga dikenal dengan kapur barus.
7. Tujuh Qiraat yang disebut dengan Qiraah Sabah.
Pendapat ini mengatakan bahwa sabat ahruf ialah al-qiraah al-sabah (bacaan yang tujuh), yakni
tujuh varian atau tujuh aliran bacaan Al-Quran yang berasal dari tujuh orang imam. Pendapat
tersebut berasal dari Ibnu Mujahid (w.324 H/936 M), tokoh Al-Quran terkemuka abad ke-3, dengan
alasan bahwa qiraah sabah itulah yang relevan dan merealisir sabat ahruf dalam hadits. Namun
jumhur ulama, menentang pendapat tersebut. Di antara alasannya adalah:
a. Istilah qiraah sabah tidak dikenal pada masa Nabi SAW dan pada saat para ahli Al-Quran
pertama kali menyusun karya tentang qiraah. Ia muncul pada akhir abad ke-dua (dibukukan pada
abad ke-tiga) hijriyah sedang sabat ahruf sudah ada sejak abad pertama hijriyah.
b. Hadits Nabi yang mengatakan bahwa Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf tidak akan ada
artinya jika yang dimaksud adalah qiraah sabah, sebab ahli-ahli qiraah tersebut baru lahir pada
abad kedua.
Namun qiraah sabah versi Mujahid sudah begitu masyhur karena disangka itulah yang dimaksud
sabat ahruf dalam hadits Nabi SAW. Padahal ada banyak pendapat tentang qiraah. Ibnu Jabr al-
Makki membatasi qiraah kepada lima imam karena Utsman bin Affan sendiri menyebarkan mushaf
terbatas ke lima wilayah.
Sebaliknya ada yang berpendapat bahwa qiraah yang memenuhi syarat bukan tujuh, melainkan
sepuluh, bahkan empat belas. Qiraat berjumlah sepuluh karena memasukkan Yaqub (w. 205 H/821
M) dari Basra, Khalaf bin Hisyam (w. 229 H/844 M) dari Kufah, serta Abu Jafar (w. 130 H/738 M) dari
Madinah. Adapun empat belas karena menyertakan qiraah Hasan al-Basri (w. 110 H/729 M) dari
Basra, Ibnu Muhaisin (w. 123 H/741 M) dari Mekah, Yahya bin Mubarok al-Yazidi (w. 202 H/818 M)
dari Basra, dan Abi al-Faraj Muhammad bin Ahmad al-Syanbud (w. 388 H/998 M). Kesemua itu
berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih.
Pendapat al-Razy yang didukung jumhur bahwa sabat ahruf adalah tujuh aspek menyangkut
keragaman lafadz atau kalimat dalam Al-Quran nampaknya lebih kuat. Sebab, sesuai dengan fakta
yang terdapat dalam ragam qiraat serta sesuai dengan konteks hadits. Pendapat ini juga dapat
mengakomodasi seluruh versi qiraat yang memenuhi syarat-syarat sebagai qiraat yang shahih.
Membatasi sabat ahruf hanya terbatas pada tujuh versi bacaan yang diriwayatkan oleh tujuh orang
imam itu saja berarti menafikan bacaan lain yang mutawatir. Dan ini jelas tidak benar.
Qiraat Al-Quran, khususnya istilah qiraah sabah sering dimaknai dan dikorelasikan identik dengan
7 Huruf , tetapi pendapat ini tidak kuat. Meski demikian, istilah 7 Huruf merupakan salah satu sebab
munculnya multiple reading (banyak bacaan) Al-Quran.

E. Manfaat Berpedoman pada Qiraah Shahihah


Bervariasinya qiraat yang shahih ini mengandung banyak faedah dan fungsi, diantaranya:
1. Menunjukkan betapa terjaga dan terpeliharanya Kitab allah dari perubahan dan penyimpangan
padahal kitab ini mempunyai sekian banyak segi bacaan yang berbeda-beda.
2. Meringankan umat islam dan memudahkan mereka membaca al-quran.

133
Ulumul Quran

3. Bukti kemukjizatan al-quran dari segi kepadatan makna (ijaz)nya, karena setiap qiraat menunjukkan
sesuatu hukum syara tertentu tanpa perlu pengulangan lafaz. Misalnya ayat (al-maidah [5]:6)
, dengan menasabkan dan mekhafadkan kata . dalam qiraat yang
menasabkanya terdapat penjelasan tentang hukum membasuh kaki, karena ia diatafkan
kepada mamul fiil (objek kata kerja) gasala . sedang qiraat
dengan jar (khafad) menjelaskan hukum menyapu sepatu ketika terdapat keadaan yang menuntut
demikian, dengan alasan lafaz itu diatafkan kepada mamul fiil masaha
. Dengan demikian, maka kita dapat menyimpulkan dua hukum dalam satu ayat. Inilah
sebagian makna dari kemukjizatan al-quran dari segi kepadatan maknanya.

Penjelasan terhadap apa yang masih global dalam qiraat lain. Misalnya, lafaz
dalam
ayat , yang dibaca dengan tasydid dan thakfif . Qiraat dengan tasydid
menjelaskan makna qiraat dengna takhfif, sesuai dengan pendapat jumhur ulama. Karena itu istri yang
haid tidak halal dicampuri oleh suaminya karena telah suci dari haid, yaitu terhentinya darah dari haid,
sebelum istri tersebut bersuci dengan air. " Wallahu alam

134
Ulumul Quran

BAB 16
ILMU TAFSIRIL QURAN

A. Pengertian Tarjamah, Tafsir dan Tawil


1. Pengertian Tarjamah
Secara bahasa berati memindahkan lafal dari suatu bahasa ke bahasa lain. Dalam hal ini,
memindahkan lafal ayat-ayat Al-Quran yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Dalam
pelaksanaannya, tarjamah terbagi kepada tiga bentuk:
a. Tarjamah Harfiah/Lafzhiah
Adalah memindahkan lafal dari suatu bahasa ke bahasa lain dengan cara memindah bahasakan
kata-demi kata, serta tetap mengikuti susunan (uslub) bahasa yang diterjemahkan
b. Tarjamah Manawiah/Tafsiriah
Sebagian ulama ada yang membedakan antara tarjamah manawiah dengan tarjamah tafsiriah,
266
sedangkan sebagian lainnya menganggap keduanya adalah sama.
2. Pengertian Tafsir
Secara bahasa kata Tafsir ) (berasal dari kata yang mengandung arti: menjelaskan,
menyingkap dan menampakan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata berarti
267
menyingkapkan sesuatu yang tertutup. Lafal dengan arti menjelaskan, disebutkan di dalam QS Al-
Furqan: 33
















Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan
Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik tafsirnya. Maksudnya,
paling baik penjelasan dan perinciannya.
Para ulama berbeda dalam merumuskan definisi Ilmu Tafsir, diantaranya:
a. Menurut Imam Az-Zarkasy dalam kitabnya,Al-Burhn f Ulm Al-Qurn,





Ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW
268
menjelaskan maknanya, serta menguraikan hukum dan hikmahnya.
b. Menurut Imam Jalaluddin As-Suyuthy mendefinisikan tafsir dengan:
,
.
Ilmu yang membahas maksud Allah taala sesuai dengan kadar kemampuan manusiawi yang
269
mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan pemahaman dan penjelasan makna.
c. Menurut Syaikh Muhammad Abdul Azhim Az-Zarqany:


Ilmu yang membahas perihal Al-Quran Al-Karim dari segi penunjukan dalilnya sesuai dengan
maksud Allah taala berdasarkan kadar kemampuan manusiawi.
Berdasarkan istilah, Tafsir berarti Ilmu untuk mengetahui kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW dan penjelasan maknanya serta pengambilan hukum dan makna-maknanya. Atau

266
Iqbal, Mashuri Sirojuddin dan A. Fudlali, 1994. Pengantar Ilmu Tafsir Bandung : Angkasa,93
267
Al-Qaththan, Manna Khalil. 1992. Study Ilmu-ilmu Quran (Terj. Mudzkir AS.), Litera Antar Nusa, Bogor, Cet. I, 450 - 451
268
Ar-Rumy, Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman. 1419 H. Buhts f Ushl At-Tafsr wa Manhijuhu. KSA: Maktabah At-Taubah,
8. Dinukil dari Al-Burhn juz I, 13
269
Adz-Dzahabi, Muhammad Husain. Tt. Ilmu At-Tafsir. Kairo: Dr Al-Marif, 6

135
Ulumul Quran

Ilmu yang membahas tentang Al-Quran dari segi pengertiannya terhadap maksud Allah sesuai
270
dengan kemampuan manusia.
3. Pengertian Tawil
Ibnu Manzhur menyebutkan dua pengertian ta'wil secara istilah dalam Lisan Al-Arab,
pertama, ta'wil adalah sinonim dari tafsir. Kedua, ta'wil adalah memindahkan makna zhahir dari
271
tempat aslinya kepada makna lain karena ada dalil. Al-Jurjani dalam kamus istilahnya yang
terkenal At-Ta'rifat, menyatakan "Ta'wil secara bahasa bermakna kembali, sedangkan secara istilah
bermakna mengalihkan lafazh dari maknanya yang zhahir kepada makna lain (batin) yang terkandung
272
di dalamnya, apabila makna yang lain itu sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah".
Asy-Syathibi mengharuskan adanya dua syarat untuk melakukan pentawilan, yaitu:
a. Makna yang dipilih sesuai dengan hakekat kebenaran yang diakui oleh para ahli dalam bidangnya
(tidak bertentangan dengan syara/akal sehat)
b. Makna yang dipilih sudah dikenal di kalangan masyarakat Arab klasik pada saat turunnya Alquran.
Jadi tawil adalah mengalihkan makna sebuah lafazh ayat ke makna lain yang lebih sesuai karena
alasan yang dapat diterima oleh akal.
Dari pengertian Tafsir dan Takwil dapat disimpulkan, bahwa Tafsir adalah penjelasan terhadap makna
lahiriah dari ayat Al-Quran yang penegrtiannya secara tegas menyatakan maksud yang dikehendaki
oleh Allah. Sedangkan tawil adalah pengertian yang tersirat yang diistimbathkan dari ayat Al-Quran
berdasarkan alasan-alasan tertentu.

B. Sejarah Ilmu Tafsir


Pada masa Rasulullah, sering timbul beberapa perbedaan pemahaman tentang makna sebuah ayat.
Untuk itu, mereka langsung menanyakannya pada Rasulullah. Secara garis besar, ada tiga sumber utama
yang dirujuk oleh para sahabat dalam menafsirkan Al-Quran , yaitu:
1. Al-Quran itu sendiri, terkadang satu masalah yang dijelaskan secara global disatu tempat, dijelaskan
secara lebih terperinci diayat lain.
2. Para sahabat bertanya tentang makna suatu ayat yang tidak mereka pahami, atau mereka berselisih
paham tentangnya.
3. Ijtihad dan pemahaman mereka sendiri, karena mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat
memahami makna perkataan dan mengetahui aspek kebahasaannya. Tafsir yang berasal dari para
sahabat, dinilai mempunyai nilai tersendiri menurut jumhur ulama karena disandarkan kepada
Rasulullah, terutama pada masalah azbabun nuzul. Sedangkan pada hal yang dapat dimasuki rayi,
maka statusnya terhenti pada sahabat itu sendiri selama tidak disandarkan pada Rasulullah SAW.
Para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Al Quran antara lain: Abu Bakar, Umar, Utsman,
Ali, Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Ubai bin Kaab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asyari, Abdullah bin Zubair.
Pada masa ini belum terdapat satu pun pembukuan tafsir dan masih bercampur dengan hadits. Setelah
generasi sahabat, datanglah generasi tabiin yang belajar Islam melalui para sahabat di wilayah masing
masing.
Ada tiga kota utama sebagai pusat pengajaran Al Quran yang masing-masing melahirkan madrasah
atau madzhab tersendiri seperti Mekkah dengan madrasah Ibnu Abbas dengan murid-murid antara lain:
Mujahid bin Jabir, Atha bin Abi Rabbah, Ikrimah, Thawus bin Kaisan Al Yamani, dan Said bin Jabir.
Madinah, dengan madrasah Ubay bin Kaab, dengan murid-murid: Muhammad bin Kaab Al Qurazhi, Abu
Al-Aliyah Ar riyahi dan Zaid bin Aslam, dan Irak dengan madrasah Ibnu Masud, dengan murid-murid: Al-
Hasan Al Bashri, Masruq bin Al-Ajda, Qatadah bin Diamah As Saduusi, dan Murrah Al-Hamdani.
Pada permulaan abad kedua Hijriyah, ketika telah banyak pemeluk agama Islam non Arab dan
munculnya persoalan-persoalan baru di kalangan tabiin serta banyaknya yang membutuhkan tafsr Al-

270
Ash-Shabuni, M. Ali. 1987. Pengantar Studi Alquran, Bandung: PT. Almaarif.
271
Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukrim. Lisan al-Arab, Beirut: Dar Shadir,32
272
Al-Jurjani, Ali bin Muhammad. 1988. Kitab At-Ta'rifat, Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiah, 50

136
Ulumul Quran

Quran , maka ulama merasa perlu untuk membuat tafsr dan mengkodifikasikannya (membukukan), agar
dapat dipahami maknanya dan dapat dijadikan pedoman hidup. Pada akhir periode tabiin, beberapa
ulam mulai mengumpulkan tafsir-tafsir dari Nabi dan sahabat. Sufyan bin Uyainah (w.198 H), dan Waki
Bin Jarah (w. 197 H), adalah ulama-ulamaterkemuka yang pertama merintis penulisan Tafsr, meskipun
belum tersusun secara tematik atau menurut kronologi surat dan ayat dan masih termasuk dalam bab-
bab hadis. Hanya saja tafsir-tafsir mereka tidak sampai pada kita, namun kebanyakan isi kandungannya
telah ditampung oleh tafsir Ibnu Jarir A abari. Sedangkan nama-nama kitab tafsir itu biasanya
dinisbahkan (dibangsakan/disandarkan) kepada nama penulisnya. Hal ini menunjukkan bahwa tafsir
tersebut ditulis secara perorangan.
Pada pertengahan abad III Hijriyah, tafsir mulai ditulis secara sistematis dan menurut kronologis
surat dan ayat. Diantara ulama yang menulisnya adalah Ibnu Majah (w. 273 H), Ibnu Jarir A abari (w.
310 H), Ibnu Ab Hatim (w. 327 H), dan lain-lain. Metode penulisan tafsir pada masa ini adalah dengan bil
matsur dan bil rayi. Tafsr pertama yang ditulis menggunakan metode bil matsur adalah tafsir Jamiul
bayan Fi tafsiri Al-Quran karya Ibnu Jarir A abari (w. 310 H).
Sesudah zaman Ibnu Jarir A abari, bangunlah ulama -ulama yang bersungguh-sungguh dalam
menafsirkan Al-Quran dengan dasar dirayat (akal). Menafsrikan Al-Quran dengan dirayat adalah salah
satu hasil yang ditumbuhkan oleh perkembangan ilmu nahwu, balaghah dan kalam. Pada abad IV H,
hadis sudah dibukukan, begitu pula ilmu mantiq, ilmu hikmah, ilmu balaghah dan filsafat telah dipelajari
dengan seksama, kaidah-kaidah ushul, musthalah al hadth telah diatur, maka mulailah segolongan para
mufassirn mengoreksi riwayat-riwayat yang berasal dari Israiliyat dengan menggunakan penalaran
rasional. Pada masa ini telah berkembang dengan luas tafsir bil rayi untuk ayat-ayat itiqad yang mulai
dikembangkan oleh golongan Mutazilah.
Mulai saat itu, tafsir mempunyai sandaran yang lebih kuat, karena mufassirin hanya menerima
riwayat-riwayat yang sahih saja dan logis, atau bisa diterima secara kaidah bahasa.
Ulama pertama yang menyusun tafsir Al-Quran dengan lengkap atas dasar riwayat dan kaidah kuat yang
sesuai dengan kehendak bahasa, ialah; Abu Muslim Muhammad bin Bahar Al Ashfahany (w.322 H),
dengan kitab Tafsirnya Jamiut Tawil. Ia adalah seorang tokoh Mutazilah. Tafsir ini tidak berkembang di
masyarakat. Tetapi sari patinya banyak dinukilkan oleh Ar Razi dalam kitab Tafsirnya Al Muqtaf Alaih.
Diantara tokoh-tokoh Tafsr bil dirayah adalah; Abu Bakar al Asham, An Nadhm, Al Jubi, Ubaidillh Ibn
Muhammad Ibnu Jarwu.
Pada abad V H, sesudah kaum muslimin mempelajari ilmu logika, ilmu filsafat, eksakta, ilmu hukum,
ilmu kedokteran dan lain sebagainya, maka muncul sebuah perubahan dalam pemikiran dan penyusunan
kitab-kitab tafsir. Para ahli tafsir tidak hanya mengutip riwayat dari para sahabat, tbiin dan tabiit tbiin
saja, melainkan telah menyelidiki, meneliti dan membandingkan terhadap apa yang telah dilakukan oleh
para ahli tafsr sebelumnya, bahkan mereka mengolah dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran sesuai
dengan spesifikasi ilmu tertentu. Oleh karena itu, terdapat kitab-kitab tafsr yang disusun dengan
tinjauan dari beberapa segi. Diantara ahli tafsir pada saat itu, seperti Jarullah Az Zamakhsari (467-528 H)
menulis kitab tafsir Al Kashaf dengan fokus kajianpada segi balaghah.
Para mufassir sejak masa kodifikasi tafsir, yang sementara ahli menduga dimulai oleh al-Farra (w.
207 H) sampai tahun 1960 M, dalam mentafsirkan Al-Quran lebih banyak memusatkan perhatian pada
analisa redaksi, dan sebagian besar dari mereka mentafsirkan Al-Quran ayat demi ayat sesuai dengan
susunannya dalam mushhaf. Hal ini menyebabkan pentafsiran Al-Quran menjadi terpisah-pisah dan
tidak menyeluruh. Namun demikian, pada rentang waktu tersebut ada beberapa mufassir yang dapat
dikategorikan memiliki pemikiran ke arah maudlui. Seperti Fakhrudin al Razi (w. 606 H) yang menyadari,
betapa pentingnya korelasi antar ayat, walaupun korelasi antar ayat ini hanya menyangkut sistimatika
penyusunan ayat dan surat sesuai urutannya dalam mushhaf, tidak dari segi korelasi ayat-ayatnya yang
membahas masalah yang sama. Beliau juga mengajak para mufasir mencurahkan perhatian kepadanya,
namun dia sendiri dalam kitab tafsirnya tidak menyinggung banyak tentangnya. Karena perhatiannya
tercurah pada filsafat dan ilmu falak.

137
Ulumul Quran

Pembahasan seperti ini mencapai puncaknya di bawah usaha Ibrahim bin Umar Al Biqai (809 885
H). Tetapi korelasi disini ternyata menyangkut sistematika penyusunan ayat dan surat sesuai dengan
urut-urutanya dalam mushaf, bukan dari segi korelasi ayat- ayat yang membahas masalah-masalah yang
sama dan terkadang bagian-bagiannya terpencar dalam sekian surat.
Kemudian, Al-Shatibi (w. 1388 M) menjelaskan, bahwa suatu surat walaupun mengandung banyak
masalah tetapi masalah tersebut berkaitan antara satu dengan lainnya, sehingga jangan hanya
mengarahkan pandangan pada awal surat tetapi juga pada akhir surat atau sebaliknya. Tidak
dibenarkan seseorang hanya memperhatikan bagian- bagian dari satu pembicaraan, kecuali pada saat ia
bermaksud untuk memahami arti lahiriah dari satu kosa kata menurut tinjauan etimologi, bukan maksud
pembicara. Kalau arti tersebut tidak dipahami maka ia harus segera memperhatikan seluruh
pembicaraan hingga akhir.
Atas ide yang terlontarkan oleh Al Shatibi ini Mahmud Shaltut (1960 M) dalam tafsir Al-Quran Al
Karim, mentafsirkan Al-Quran tidak ayat demi ayat, tetapi dengan jalan membahas surat demi surat
atau bagian suatu surat, dengan menjelaskan tujuan-tujuan utama serta petunjuk-petunjuk yang dapat
dipetik darinya.
Demikian juga yang dilakukan oleh Bint Al-Shathi`, seorang guru besar sastra dan bahasa Arab pada
Universitas Ain Al-Syams, Mesir menulis penafisran dengan metode maudlui yang karyanya antara lain:
Kitabuna Al-Akbar (1967), Al-Tafsir al-Bayani li al-Qur`an al-Karim, II (1969), Maqal fi al-Insan Dirasah
Qur`aniyah (1969), al-Qur`an wa al-Tafsir al-`Ashri (1970), al-IJaz al-Bayani li al-Qur`an (1971) dan al-
Shakhsiyah al-Islamiyah Dirasah al-Qur`aniyah (1973).
Selain itu banyak sekali ahli tafsir, baik sebelum Mahmud Shaltut maupun sesudahnya. Namun
belum ada yang menulis secara resmi methde ini. Baru pada tahun 1977 seorang guru besar pada
fakultas Ushuluddin Al Azhar untuk pertama kalinya, metode Maudhui dicetuskan oleh Abdul Hay Al
Farmawiy. Beliau menulis buku Al Bidayah fi Al Tafsir Al Maudhui.
Menurut hemat penulis, walaupun Abdul Hay Al Farmawiy disebut sebagai orang yang pertama kali
menulis metode ini, tetapi sebelum beliau sudah ada indikasi tentang metode penafsiran Al-Quran
secara maudlui ini. Bahkan orang pertama yang menemukan ide penafsiran secara maudlui adalah Al
Shatibi dan orang pertama yang menafsirkan secara maudlui adalah Mahmud Shaltut. Oleh sebab itu
menurut penulis Mahmud Shaltut yang disebut sebagai orang pertama yang menggunakan metode ini
walaupun belum menulisnya secara spesifik dalam buku tetapi hanya tersirat pada karyanya saja.
Selanjutnya banyak sekali mufasir yang menafsirkan dengan metode ini, bahkan pada zaman sekarang
metode ini yang lebih relefan, dikeranakan kebutuhan akan tafsir yang bersifat tematik sangatlah besar.

C. Urgensi Ilmu Tafsir


Tafsir termasuk disiplin ilmu islam yang paling mulia dan luas cakupannya. Paling mulia, karena
kemulian sebuah ilmu itu berkaitan dengan materi yang dipelajarinya, sedangkan tafsir membahas
firman-firman Allah. Dikatakan paling luas cakupannya, karena seorang ahli tafsir membahas berbagai
macam disiplin ilmu seperti akidah, fikih, dan akhlak. Di samping itu, tidak mungkin seseorang dapat
memetik pelajaran dari ayat-ayat Al-Quran , kecuali dengan mengetahui makna-maknanya. Oleh karena
itu, mengetahui dan memahami tafsir Al-Quran diharapkan mampu mengambil pelajaran dari tradisi
besar ajaran islam yang bersifat universal.
Secara eksplisit ada perintah untuk menyimak dan memahami ayat-ayat-Nya, Apakah mereka
tidak menyimak Al-Quran ? Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan berasal dari sisi Allah, tentulah mereka
mendapati pertentangan di dalamnya. *QS. Al-Nisa (4): 82+. Ayat lain, Maka apakah mereka tidak
menyimak Al-Quran ataukah hati mereka terkunci *QS. Muhammad (47): 24+.
Secara implisit upaya mencari penafsiran ayat-ayat Al-Quran , bahwa ia diturunkan oleh Allah untuk
menjadi petunjuk [QS. Al-Baqarah (2): 2,97,185; QS. Ali Imran (3): 3,138] dan rahmat [QS. Al-Araf (7):
51,203; QS. Yunus (10): 57] bagi manusia selaku individu maupun kelompok masyarakat (collective).
Agar tujuan ini terwujud dengan baik, maka Al-Quran yang umumnya berisi konsep dan prinsip pokok

138
Ulumul Quran

yang belum terjabarkan, aturan-aturan yang mansih bersifat umum perlu dijelaskan melalui studi tafsir
Al-Quran untuk diaktualisasikan agar dapat dengan mudah diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat.
Susunan Al-Quran yang tidak sistematis sehingga perlu penafsiran dan penggalian terhadap makna ayat-
ayatnya yang tidak pernah berakhir.Jelasnya, selalu diperukan reaktualisasi nilai-nilai Al-Quran sesuai
dengan dinamika masyarakat. Di sinilah letak keuniversalitasan Al-Quran .
Dengan urgensi tafsir seperti itu, membawa ulama sepakat bahwa tafsir termasuk fardu kifayah dan
merupakan salah satu dari tiga ilmu syariat yang paling utama setelah hadis dan fikih. Keutamaan ilmu
tafsir bukan hanya karena ilmu ini membahas pokok-pokok ajaran agama yang sangat dibutuhkan, akan
273
tetapi mempelajari ilmu ini mengandung tujuan mulia, karena pokok kajiannya adalah Kalamullah.

D. Syarat-syarat Mufassir
1. Beraqidah shahihah, karena aqidah sangat pengaruh dalam menafsirkan Al-Quran .
2. Tidak dengan hawa nafsu semata, Karena dengan hawa nafsu seseorang akan memenangkan
pendapatnya sendiri tanpa melilhat dalil yang ada. Bahkan terkadang mengalihkan suatu ayat hanya
untuk memenangkan pendapat atau madzhabnya.
3. Mengikuti urut-urutan dalam menafsirkan Al-Quran seperti penafsiran dengan Al-Quran , kemudian
Sunnah, perkataan para sahabat dan perkataan para tabiin.
4. Faham bahasa arab dan perangkat-perangkatnya, karena Al-Quran turun dengan bahasa arab.
Mujahid berkata; Tidak boleh seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berbicara
tentang Kitabullah (Al-Quran ) jikalau tidak menguasai bahasa arab.
5. Memiliki pemahaman yang mendalam agar bisa mentaujih (mengarahkan) suatu makna
ataumengistimbat suatu hukum sesuai dengan nusus syariah,
6. Faham dengan pokok-pokok ilmu yang ada hubungannya dengan Al-Quran seperti
ilmu nahwu(grammer), al-Isytiqoq (pecahan atau perubahan dari suatu kata ke kata yang lainnya), al-
maani, al-bayan, al-badi, ilmu qiroat (macam-macam bacaan dalam Al-Quran ), aqidah
shaihah, ushul fiqh, asbabunnuzul, kisah-kisah dalam islam, mengetahui nasikh wal mansukh, fiqh,
hadits, dan lainnya yang dibutuhkan dalam menafsirkan.
7. Memahami hakekat lafal yang tunggal, yang terdapat di dalam Al-Quran dengan memperhatikan
cara-cara ahli bahasa mempergunakan kalimat-kalimat itu. Kebanyakan lafal-lafal Al-Quran dipakai
di mana Al-Quran sedang diturunkan untuk beberapa makna. Kemudian sesudah itu berlalu
beberapa masa maka lafal-lafal itu dipakai untuk makna-makna yang lain, umpamnya lafal tawil.
8. Memperhatikan uslub-uslub Al-Quran . Seorang mufassir harus mengetahui alat, yang dengan alat
itu dia dapat memahami uslub-uslub bahasa Arab yang tinggi. Untuk itu perlu ilmu irab dan ilmu
asalib (maani dan bayan).
9. Mengetahui keadaan-keadaan manusia. Allah telah menurunkan Al-Quran dan menjadikannya
sebagai kitab yang absah, di dalamnya diterangkan keadaan atau hal-hal yang tidak diterangkan
dalam kitab lain. Di dalamnya diterangkan keadaan makhluk, tabiatnya, sunnah-sunnah ketuhanan di
dalam menciptakan manusia. Dan di dalamnya juga diterangkan kisah umat-umat yang telah lalu.
Karenanya, perlulah orang memperhatikan isi Al-Quran , memperhatikan pula keadaan
perturnbuhan dan perkembangan manusia dari zaman ke zaman.
10. Mengetahui jalan-jalan Al-Quran memberi petunjuk kepada manusia dengan Al-Quran . Karenanya,
wajiblah bagi seorang mufassir yang melaksanakan fardhu kifayah ini mengethui keadaan manusia di
masa Nabi saw, baik dari bangsa arab maupun bangsa lain. Dan bahwasanya Nabi saw dibangkit Allah
untuk memberi petunjuk kepada manusia dan mendatangkan kebahagiaan kepada mereka.

273
Shihab, M Quraish. 2004. Membumikan al-Quran. Bandung. Mizan, 25

139
Ulumul Quran

11. Mengetahui sirah ( riwayat hidup Nabi saw dan sahabat), dan bagaimana keadaan sahabat, baik
dalam bidang ilmu, dan bagaimana mereka menghadapi masalah-masalah keduniaan dan
274
keakhiratan.

E. Kode Etik Mufassir


1. Niatnya harus bagus, hanya untuk mencari keridloan Allah semata. Karena seluruh amalan tergantung
dari niatannya
2. Berakhlak mulia, agar ilmunya bermanfaat dan dapat dicontoh oleh orang lain
3. Mengamalkan ilmunya, karena dengan merealisasikan apa yang dimilikinya akan mendapatkan
penerimaan yang lebih baik.
4. Hati-hati dalam menukil sesuatu, tidak menulis atau berbicara kecuali setelah menelitinya terlebih
dahulu kebenarannya.
5. Berani dalam menyuarakan kebenaran dimana dan kapanpun dia berada.
6. Tenang dan tidak tergesa-gesa terhadap sesuatu. Baik dalam penulisan maupun dalam penyampaian.
Dengan menggunakan metode yang sistematis dalam menafsirkan suatu ayat. Memulai dari
asbabunnuzul, makna kalimat, menerangkan susunan kata dengan melihat dari sudut balagha,
kemudian menerangkan maksud ayat secara global dan diakhiri dengan mengistimbat hukum atau
faedah yang ada pada ayat tersebut.
Termasuk adab yang harus diperhatikan oleh mufassir adalah ia wajib menghindari perkara-perkara
275
ketika menafsirkan Al-Quran :
1. Terlalu berani menjelaskan maksud Allah dalam firman-Nya padahal tidak mengetahui tata bahasa
dan pokok-pokok syariat serta tidak terpenuhi ilmu-ilmu yang baru boleh menafsirkan jika
menguasainya.
2. Terlalu jauh membicarakan perkara yang hanya diketahui oleh Allah, seperti perkara-perkara
mutasyabihat. Seorang mufassir tidak boleh terlalu berani membicarakan sesuatu yang ghaib setelah
Allah taala menjadikannya sebagai salah satu rahasia-Nya dan hujjah atas hamba-hamba-Nya.
3. Mengikuti hawa nafsu dan anggapan baik.
4. Tafsir untuk menetapkan madzhab yang rusak dengan menjadikan madzhab tersebut sebagai
landasan, sementara tafsir mengikutinya. Akibatnya, seseorang akan melakukan takwil sehingga
memalingkan makna ayat sesuai dengan akidahnya dan mengembalikannya pada madzhabnya
dengan segala cara.
5. Tafsir dengan memastikan bahwa maksud Allah begini dan begini tanpa landasan dalil. Perbuatan ini
dilarang secara syari berdasarkan firman Allah QS Al-Baqarah: 169


Dan (janganlah) mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.

F. Metode-metode dan Corak Tafsir Al-Quran


276
Penafsiran Al Quran, secara garis besar dapat dibagi dalam 4 metode, dengan sudut pandang
277
tertentu berdasar spesifikasi keilmuanya.
1. Metode Penafsiran ditinjau dari sumber penafsirannya, metode ini terbagi menjadi 3 macam, yakni
metode bi al-mathur, bi al-riwayah, bi al-manqul, tafsir bi-ray/ bi al-dirayah/ bi al maqul dan tafsir
bi al-izdiwaj (campuran).
a. Metode tafsir bi al-mathur

274
Amrullah, Fahmi. 2008. lmu Al Quran untuk Pemula, Jakarta : CV. Artha Rivera, 79-80
275
Adz-Dzahabi, Muhammad Husain. Tt. Ilmu At-Tafsir. Kairo: Dr Al-Marif, 58
276
Djalal, Abdul. 1990. Urgensi Tafsir Madhui Pada Masa Kini, Jakarta : Kalam Mulia, 64-71
277
Nasir, M. Ridlwan. Teknik Pengembangan Metode Tafsir Muqarin; Dalam Perspektif Pemahaman Al Quran. Naskah Pidato
Guru Besar ilmu Tafsir Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel 1997. Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 5-8

140
Ulumul Quran

Tafsir bi al-mathur adalah tafsir yang menggunakan Al-Quran dan/atau As-Sunnah sebagai
sumber penafsirannya.
Contoh tafsir Al-Quran dengan Al-Quran seperti pada QS. Al-Baqarah: 187

Kata minal fajri adalah tafsir bagi apa yang dikehendaki dari kalimat al khaitil abyadhi.
Contoh tafsir Al-Quran dengan sunnah seperti pada QS. Al-Anam: 82

Rasulullah menafsirkannya dengan mengacu pada QS. Luqman: 13

Dengan itu, beliau menafsirkan makna zhalim dengan syirik.
Kitab-kitab Tafsir Bil-Matsur antara lain:
1) Tafsir Al-Quran u al-Azhim )( , karangan Abu al-Fida Ismail bin Katsir al-Qarsyi al-
Dimasyqy, terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir (w. 774H.)
2) Tafsir Jami al-Bayan Fi Tafsir Al-Quran )( , karangan Abu Jafar Muhammad bin Jarir
al-Thabary, dikenal dengan sebutan Ibnu Jarir At-Thabary (225 H. 310 H.)
3) Tafsir Maalim al-Tanzi, ) ( , dikenal dengan sebutan al-Tafsir al-Manqul, karangan al-
imam al-Hafizh al-Syahir Muhyi al-Sunnah Abu Muhammad bin Husein bin Masud bin
Muhammad bin Al-Farra Al-Baghawy Al-Syafiiy, dikenal dengan sebutan Imam al-Baghawy (w.
462 H.)
4) Tafsir Tanwir al-Miqyas Min Tafsir Ibn Abbas)( , karangan Majd al-
din Abu al-ThahirMuhammad bin Yaqub bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar al-Syairazi al-
Fairuzabadi, dikenal dengan sebutan Al-Fairuzabadi (Lahir tahun 729 H.)
5) Tafsir al-Bahr ) (, karangan Al-Allamah Abu Al-Layts al-Samarqandy
b. Metode tafsir bi-ray (Dirayah)
Adalah tafsir yang dalam menjelaskan maknanya, Mufassir hanya perpegang pada pemahaman
sendiri. Dan penyimpulan (istinbath) yang didasarkan pada rayu semata.
Seiring perkembangan zaman yang menuntut pengembangan metoda tafsir karena tumbuhnya
ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah maka tafsir ini memperbesar peranan ijtihad
dibandingkan dengan penggunaan tafsir bi al-Matsur. Dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab,
ilmu qiraah, ilmu-ilmu Al-Quran , hadits dan ilmu hadits, ushul fikih dan ilmu-ilmu lain. Seorang
mufassir akan menggunakan kemampuan ijtihadnya untuk menerangkan maksud ayat dan
mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada.
1) Tafsir Mahmud
Adalah suatu penafsiran yang sesuai dengan kehendak syariat (penafsiran oleh orang yang
menguasai aturan syariat), jauh dari kebodohan dan kesesatan, sesuai dengan kaidah-kaidah
bahasa arab, serta berpegang pada uslub-uslubnya dalam memahami nash-nash Quraniyah.
Menafsirkan Al Quran dengan rayu dan Ijtihad semata tanpa ada dasar yang shahih adalah
haram. Allah berfirman :

Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. (QS, Al Isra: 36)

141
Ulumul Quran

Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun
yang tersembunyi, dan perbuatan dosa. Melanggar hak manusia tanpa alasan yang
benar, (mengharamkan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak
menurunkan hujjah untuk itu. Dan (mengharamkan) kamu mengatakan terhadap Allah
dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui. (Al Araf: 33)
Sabda Rasulullah saw:








Dari Ibnu Abbas dia berkata, bersabda Rasulullah SAW: Barang siapa menafsirkan Al
Quran dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka.
2) Tafsir al Madzmum
Adalah penafsiran Al Quran tanpa berdasarkan ilmu, atau mengikuti hawa nafsu dan
kehendaknya sendiri, tanpa mengetahui kaidah-kaidah bahasa atau syariah. Atau dia
menafsirkan ayat berdasarkan mazhabnya yang rusak maupun bidahnya yang tersesat.
c. Metode tafsir bi al-Izdiwaj (campuran)
Tafsir bil Izdiwaj disebut juga dengan metode campuran antara tafsir bil Matsur dan Tafsir bil Rayi
yaitu menafsirkan Al-Quran yang didasarkan atas perpaduan antara sumber tafsir riwayat yang
kuat dan shahih, dengan sumber hasil ijtihad akan pikiran yang sehat.
2. Metode penafsiran ditinjau dari cara penjelasannya. Metode ini dibagi menjadi dua macam, yakni
metode deskriptif (al-bayani) dan Metode tafsir perbandingan (comparatif, al maqarin).
a. Metode al-bayani (deskriptif)
Adalah penafsiran dengan cara menafsirkan ayat-ayat Al-Quran hanya dengan memberikan
keterangan secara deskripsi tanpa membandingkan riwayat/ pendapat dan tanpa menilai (tarjih)
antar sumber. Salah satu kitab tafsir dengan metode al bayan adalah Maalim Al Tanzil karya
Imam Al Husain Ibnu Masud Al Baghawi (W. 516 H)
b. Metode Muqarin (komparatif)
Metode komparatif adalah cara penafsiran Al Quran dengan membandingkan teks ayat-ayat Al-
Quran yang memiliki persamaan atau kemiripan dalam dua kasus atau lebih, membandingkan
ayat Al-Quran dengan hadits yang pada lahirnya bersifat bertentangan dan membandingkan
berbagai pendapat ulama tafsir.
M. Quraish Sihab mengatakan Dalam metode ini khususnya yang membandingkan antara ayat
dengan ayat, dan ayat dengan hadits biasanya mufasirnya menjelaskan hal-hal yangberkaitan
dengan perbedaan kandungan yang dimaksut oleh masing-masing ayat atau perbedaan masalah
itu sendiri.
Aspek yang dibahas dalam metode (muqarin) komporatif ialah:
1) Membandingkan teks ayat-ayat Al-Quran yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi
dalam dua kasus atau lebih, dan atau memiliki redaksi yang berbeda bagi suatu kasus yang
sama.
Mufasir membandingkan ayat Al-Quran dengan ayat lain, yaitu ayat-ayat yang memiliki
persamaan redaksi dalam dua atau lebih masalah atau kasus yang berbeda; atau ayat-ayat
yang memiliki redaksi berbeda dalam masalah atau kasus yang (diduga) sama. Al-Zarkasyi
mengemukakan delapan macam variasi redaksi ayat-ayat Al-Quran ,sebagai berikut :
a) Perbedaan tata letak kata dalam kalimat, seperti :

Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk (QS : al-
Baqarah : 120)

142
Ulumul Quran

Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah (QS : al-
Anam : 71)
b) Perbedaan dan penambahan huruf, seperti :

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah
kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman (QS : al-
Baqarah : 6)

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah
tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman (QS : Yasin: 10)
c) Pengawalan dan pengakhiran, seperti :

...yang membaca kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka
al-Kitab (Al-Quran ) dan al-Hikmah serta mensucikan mereka (QS. Al-Baqarah :129)

...yang membaca ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan
kepada mereka al-Kitab (Al-Quran ) dan al-Hikmah (QS. Al-Jumuah : 2)
d) Perbedaan nakirah (indefinite noun) dan marifah (definte noun), seperti :

...mohonkanlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Fushshilat : 36)

...mohonkanlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui. (QS. Al-Araf : 200)
e) Perbedaan bentuk jamak dan tunggal, seperti :

...Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari
saja. (QS. Al-Baqarah : 80)

...Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari
yang dapat dihitung. (QS. Ali-Imran : 24)
f) Perbedaan penggunaan huruf kata depan, seperti :

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman : Masuklah kamu ke negeri ini, dan makanlah ...
(QS. Al-Baqarah : 58)

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman : Masuklah kamu ke negeri ini, dan makanlah ...
(QS. Al-Araf : 161)
g) Perbedaan penggunaan kosa kata, seperti :

Mereka berkata : Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati
(alfayna) dari (perbuatan) nenek moyang kami. (QS. Al-Baqarah : 170)

Mereka berkata : Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati
(wajadna) dari (perbuatan) nenek moyang kami. (QS. Luqman : 21)
h) Perbedaan penggunaan idgham (memasukkan satu huruf ke huruf lain), seperti :

143
Ulumul Quran

Yang demikian ini adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasulnya,
barang siapa menentang (yusyaqq) Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras
hukuman-Nya. (QS. Al-Hasyr : 4)

Yang demikian ini adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasulnya.
Barang siapa menentang (yusyaqiq) Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah
sangat keras hukuman-Nya. (QS. Al-Hasyr : 4)
2) Membandingkan ayat Al-Quran dengan hadis yang pada lahirnya terlihat bertentangan.
Mufasir membandingkan ayat-ayat Al-Quran dengan hadits Nabi saw yang terkesan
bertentangan. Dan mufasir berusaha untuk menemukan kompromi antara keduanya. Contoh
perbedaan antara ayat Al-Quran surat Al-Nahl: 32 dengan hadits riwayat Tirmidzi dibawah ini:

Masuklah kamu ke dalam surga disebabkan apa yang telah kamu kerjakan (QS. Al-Nahl
: 32)

Tidak akan masuk seorang pun diantara kamu ke dalam surga disebabkan
perbuatannya (HR. Tirmidzi)
Antara ayat Al-Quran dan hadits tersebut di atas terkesan ada pertentangan. Untuk
menghilangkan pertentangan itu, Al-Zarkasyi mengajukan dua cara :
a) Menganut pengertian harfiah hadits, yaitu bahwa orang-orang tidak masuk surga karena
amal perbuatannya, tetapi karena ampunan dan rahmat Tuhan. Akan tetapi, ayat di atas
tidak disalahkan, karena menurutnya, amal perbuatan manusia menentukan peringkat
surga yang akan dimasukinya. Dengan kata lain, posisi seseorang di dalam surga ditentukan
amal perbuatannya. Pengertian ini sejalan dengan hadits lain, yaitu :

Sesungguhnya ahli surga itu, apabila memasukinya, mereka mendapat posisi di dalamnya
berdasarkan keutamaan perbuatannya. (HR. Tirmidzi)
b) Menyatakan bahwa huruf ba pada ayat di atas berbeda konotasinya dengan yang ada
pada hadits tersebut. Pada ayat berarti imbalan, sedangkan pada hadits berarti sebab.
3) Membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan Al-Quran .
Mufasir membandingkan penafsiran ulama tafsir, baik ulama salaf maupun ulama khalaf,
dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran , baik yang bersifat manqul (al-tafsir al-matsur)
maupun yang bersifat rayu (al-tafsir bi al-rayi).
Manfaat yang dapat diambil dari metode tafsir ini adalah :
a) membuktikan ketelitian Al-Quran
b) membuktikan bahwa tidak ada ayat-ayat Al-Quran yang kontradiktif
c) memperjelas makna ayat
d) tidak menggugurkan suatu hadits yang berkualitas sahih.
Sedang dalam hal perbedaan penafsiran mufasir yang satu dengan yang yang lain, mufasir
berusaha mencari, menggali, menemukan, dan mencari titik temu di antara perbedaan-
perbedaan itu apabila mungkin, dan mentarjih salah satu pendapat setelah membahas kualitas
argumentasi masing-masing.
Perbandingan adalah ciri utama bagi Metode Komparatif. Disini letak salah satu perbedaan
yang prinsipil antara metode ini dengan metode-metode lain. Hal ini disebabkan karena yang
dijadikan bahan dalam memperbandingkan ayat dengan ayat atau ayat dengan hadits, adalah
pendapat para ulama tersebut dan bahkan dalam aspek yang ketiga. Oleh sebab itu jika suatu

144
Ulumul Quran

penafsiran dilakukan tanpa membandingkan berbagai pendapat yang dikemukakan oleh para
278
ahli tafsir, maka pola semacam itu tidak dapat disebut metode muqarrin.
Kelebihan dan kekurangan tafsir metode (muqarin) komporatif
1) Kelebihan
a) Memberikan wawasan penafsiran yang relative lebih luas kepada para pembaca bila
dibandingkan dengan metode-metode lain.
b) Membuka pintu untuksesalalu bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang
berbeda dari pendapat pribadi dan bahkan kontradiktif.
c) Tafsir dan metode komfaratif ini amat berguna bagi mereka yang ingin mengetahui
berbagai pendapat tentang suatu ayat.
d) Dengan metode ini mufasir didorong untuk mengaji berbagai ayat dan hadits-hadits serta
pendapat para mufasir yang lain
2) Kekurangan
a) Penafsiran dengan metode ini tidak dapat diberikan kepada para pemula seperti mereka
yang sedang belajar pada tingkat sekolah menengah kebawah.
b) Kurang dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan social yang tumbuh ditengah
masyarakat.
c) Terkesan banyak menelusuri penafsiran-penafsiran yang pernah diberikan oleh ulama
daripada mengemukakan penafsiran-penafsiranbaru.
3. Motede penafsiran ditinjau dari keleluasan penjelasan. Metode ini dibagi menjadi dua macam, yakni
metode global (al-ijmali) dan metode detail (al-ithnaby).
a. Metode Ijmali
Metode ijmali (global) ialah menjelaskan ayat-ayat Al-Quran secara ringkas tapi mencakup,
dengan bahasa yang populer, mudah dimengerti, dan enak dibaca. Sistematika penulisannya
mengikuti sususnan ayat-ayat dalam mushaf. Disamping itu penyajiannya tidak terlalu jauh dari
gaya bahasa Al-Quran sehingga pendengar dan pembaca mudah memahaminya.
Guna memudahkan mengenali metode tafsir ijmali disini dikemukakan beberapa keraktristiknya
berdasarkan definisi yang telah dijelaskan diatas, yaitu :
1) Metode tafsir ijmali ditulis dengan ringkas, dan ini metode teringkas dalam menafsirka ayat Al-
Quran jika disbanding dengan metode lainnya. Oleh karena itu kitab-kitab tafsir yang
menggunakan metode ijamali ini tidak begitu tebal sebagaimana tafsir yang lainnya.
2) Metode tafsir ijmali menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Dalam
penafsiran lafal ayat hanya mengemukakan padanan kata dari firman Allah.
3) Dalam menafsirkan ayat Al-Quran , seorang mufassir yang menggunaka metode ijmali,
menafsirkan ayat degan mengikuti urutan ayat yang ada di dalam mushaf Al-Quran . Yakni
dimulai dari surah al-fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas
Apa dan bagaimanapun bentuk suatu metodologi, ia tetap merupakan hasil ijtihad, yakni hasil
olah pikir manusia. Manusia, meskipun dikaruniai kecerdasan tetap mempunyai kelemahan dan
keterbatasan, yang tidak bias mereka hindarkan seperti sipat lupa, lalai, dan sebagainya.
Sebagai contoh : penafsiran yang diberikan tafsir Al-Jalalain terhadap 5 ayat pertama dari surat Al-
Baqarah, tampak tafsirnya sangat singkat dan global hingga tidak ditemui rincian atau penjelasan
yang memadai. Penafsiran tentang misalnya, dia hanya berkata : Allah Maha Tahu maksudnya.
Dengan demikian pula kata Al Kitaabah penafsiran hanya dikatakan : Yang dibacakan oleh
Muhammad. Begitu seterusnya, tanpa ada rincian sehingga penafsiran 5 ayat itu hanya dalam
beberapa baris saja.

278
Untuk lebih memperkuat konsep pembahasan metodologi tafsir muqarin dapat dibaca dalam naskah pidato guru besar M.Ridlwan
Nasir, yang berjudul Teknik Pengembangan Metode Tafsir Muqarin; Dalam Perepektif Pemahaman Al Quran, dalam buku Himpunan Orasi
Ilmiah Pengukuhan Guru Besar IAIN Sunan Ampel Periode 1986-2003,Penerbit;IAIN Sunan Ampel, th 2004

145
Ulumul Quran

1) Kelebihan
a) Praktis dan mudah dipahami, yaitu tanpa berbelit-belit, pemahaman Al-Quran segera
dapat diserap oleh pembacanya.
b) Relatif lebih murni, dengan metode ini dapat dibendung pemikiran-pemikiran yang kadang-
kadang tidak sejalan dengan martabat Al-Quran .
c) Akrab dengan bahasa Al-Quran . Uraian yang dibuat dalam tafsir ijmali terasa amat singkat
dan padat, hal ini dikarenakan mufasir langsung menjelaskan pengertian kata atau ayat
dengan sinonimnya dan tidak mengemukakan ide-ide atau pendapatnya secara pribadi.
2) Kelemahan
a) Menjadikan petunjuk Al-Quran bersifat farsial, Al-Quran merupakan satu-kesatuan yang
utuh, sehingga satu ayat dengan ayat yang lain membentuk satu pengertian yang utuh,
tidak terpecah. Dengan menggabungkan kedua ayat itu, akan diperoleh suatu pemahaman
yang utuh dan dapat terhindar dari kekeliruan.
b) Tak ada ruang untuk mengemukakan analisis yang memadai. Tafsir yamg memakai metode
ijmali tidak menyediakan ruangan untuk memberikan uraian atau pembahasan yang
memuaskan berkenaan dengan pemahaman suatu ayat.
Di antara kitab-kitab tafsir yang termasuk menggunakan metode Ijmali ini antara lain:
1) Tafsir Al-Quran al-Azhim, karya Muhammad Farid Wajdi,
2) Al-Tafsir al-Wasith, Produk Lembaga Pengkajian Universitas Al-Azhar, Kaero.
3) Tafsir al-Jalalain, karya Jalaluddin al-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahally,
4) Shafwah al-Bayan Li Maani Al-Quran , karya Syeikh Husanain Muhammad Makhlut,
5) Tafsir Al-Quran , karya Ibnu Abbas yang dihimpun oleh Fayruz Abady,
6) At-Tafsir al-Muyassar, karya Syeikh Abdul Jalil Isa,
279
7) Taj al-Tafasir, karya Muhammad Utsman Al-Mirghani.
b. Metode detail (al-ithnaby).
Adalah menafsirkan Al-Quran secara mendetail atau rinci dengan uraian yang panjang lebar
sehingga jelas maksud ayat dan surat yang ditafsirkan. Biasanya mufasir dalam menafisirkan
dengan motode tahlily ini ayat demi ayat, surah demi surah, yang mana semuanya sesuai dengan
urutan mushaf dan juga asbabun nuzul ayat yang ditafsirkan.
4. Metode penafsiran ditinjau dari aspek sasaran dan sistematika ayat-ayat yang ditafsirkan. Metode
penafsiran ini terbagi menjadi dua macam, yakni metode analisis (al-tahlily) dan metode tematik (al-
mawhuy)
a. Metode Tahlili (Analitis)
Secara etimologis, tahliliy berasal dari bahasa Arab: hallala yuhallilu tahlil, yang berarti
mengurai atau menganalisis. Dengan demikian yang dimaksud dengan tafsir tahliliy adalah
suatu metode penafsiran yang berusaha menjelaskan Al-Quran dengan menguraikan berbagai
280
seginya dan menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh Al Quran. Atau menafsirkan ayat-ayat Al-
Quran dengan memaparkan segala aspek yang terkandung didalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu
sertamenerangkan makna-maknayang tercakup didalamnya sesuai dengan keahlian dan
kecendrungan mufasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. Biasanya mufasir menguraikan
makna yang dikandung oleh Al-Quran , ayat demi ayat, surah demi surah sesuai dengan
urutannya didalam mushaf.
Perbedaan yang mencolok antara tafsir tahlili dengan ijmali terutama dari sudut keluasan
wawasan yang dikemukakan dan kedalaman serta ketajaman analitis. Karma itu, didalam tafsir
tahlili mufasir relatif punya banyak peluang untuk mengemukakan ide-ide dan gagasan-gagasan
berdasarkan keahliannya sesuai dengan pemahaman ayat.

279
Baidan, Nashruddin. 2002. Metodologi Penafsiran al-Quran., Jakarta: Pustaka Pelajar,13
280
Ichwan, Mohammad Nor. 2004. Tafsir Ilmiy; Memahami al Quran Melalui Pendekatan Sains Modern, Yogyakarta:
Menara Kudus.

146
Ulumul Quran

Metode tafsir ini berusaha untuk menerangkat arti ayat-ayat Al-Quran dari berbagai seginya,
berdasarkan urut-urutan ayat atau surah dalam mushaf, dengan menonjolkan kandungan lafadz-
lafadznya, hubungan ayat-ayatnya, hubungan surah-surahnya, sebab-sebabnya turunnya, hadits
yang berhubungan dengannya, pendapat-pendapat para mufassir terdahulu dan mufassir itu
sendiri diwarnai oleh latar belakang pendidikan dan keahliannya.
Misalnya, tafsir tahlili (analitis), Al-Maraghi, misalnya, untuk menjelaskan 5 ayat pertama itu
membutuhkan 7 halaman. Hal ini disebabkan uraiannya bersifat analitis dengan mengemukakan
berbagai pendapat dan didukung oleh fakta-fakta dan argument-argumen, baik berasal dari Al-
Quran atau hadis-hadis Nabi serta pendapat para sahabat dan tokoh ulama, juga tidak
ketinggalan argument semantic.
1) Kelebihan
a) Ruang lingkup yang luas. Contohnya saja ahli bahasa, mendapat peluang yang luas untuk
menafsikan Al-Quran dari pemahaman kebahasaan, seperti tafsir Al-Nasafi karangan
karangan Abu Al-Suud, Ahli qiraat seperti Abu Hayyan, menjadikan qiraat sebagai titik
tolak dalam penafsirannya. Begitu pula ahli filsafat, sains dan teknologi.
b) Memuat berbagai ide. Tafsir ini memberikan kesempatan yang sangat luas kepada mufasir
untuk mencurahkan ide-ide dan gagasannya dalam menafsirkan Al-Quran .
2) Kekurangan
a) Menjadikan petunjuk Al-Quran parsial. Karan seakan-akan Al-Quran memberi pedoman
secara tidak utuh dan tidak konsisten karma penafsiran yang diberikan pada suatu ayat
berbeda dari penafsiran yang diberikan pada ayat-ayat lain yang sama dengannya.
b) Melahirkan penafsiran subjektif. Karma bebasnya mengeluarkan ide dalam penafsiran ini,
para mufasir terkadang tidak sadar telah menafsirkan Al-Quran secara subjektif, bahkan
bisa jadi ada mereka yang menafsirkan Al-Quran dengan kemauan hawa nafsunya.
Sebagai metode yang paling awal muncul dalam studi tafsir, metode tahlili ini memberikan
perhatian sepenuhnya kepada semua aspek yang terkandung dalam ayat, mencakup :
1) Al-Munasabah (hubungan) antara satu ayat dengan ayat yang lain, antara satu surah dengan
surah yang lain, atau antara awal surah dengan akhirnya.
2) Asbab al-Nuzul (sebab-sebab turun) yakni latar belakang sejarah atau kondisi social turunnya
ayat Al-Quran .
3) Al-Mufradat (kosa kata) atau lafal dari sudut pandang dan qaidah kebahasaan yang terdapat
dalam bahasa Arab. Termasuk juga dalam langkah ini menelaah syair-syair yang berkembang
pada masa sebelum dan waktu turunnya Al-Quran
4) Fasahah, bayan dan Ijaz yang terdapat dalam ayat ynag sedang ditafsirkan. Terutama ayat-
ayat yang mengandung balaghah (keindahan bahasa)
5) Al-Ahkam fi al-ayat, dengan melakukan istinbath sehingga diperoleh kesimpulan hukum fiqh
dari ayat yang sedang ditafsirkan
6) Al-Hadits yang menjelaskan maksud dari kandungan ayat Al-Quran , termasuk qawl sahabat
dan tabiin
7) Apabila tafsir bercorak saintifik maka pendapat-pendapat para pakar di bidangnya juga
dijadikan rujukan oleh mufassir.
b. Metode Maudhui (tematik)
Metode tematik adalah membahas ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan tema atau judul yang telah
ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan, dihimpun. Kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas
dariberbagai aspek yang terkait dengannya. Seperti asbab al-nuzul, kosa kata, dan sebagainya.
Semua dijelaskan dengan rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalilatau fakta-fakta yang
dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, baik argument itu berasal dari hadits, Al-Quran
atau pemikiran rasional.

147
Ulumul Quran

Penerapan metode ini sebenarnya baru dirintis oleh Universitas Al-Azhar dan seluruh fakultas
yang bernaung dibawahnya. Kajian metode ini pertama kali dilakukan oleh Ahmad Al-
Sayyid Al-Kumy yang menjadi ketua jurusan pada fakultas Usuhuluddin. Sebagai seorang ketua
jurusan yang menaungi mahasiswa yang intens terhadap kajian-kajian Al-Quran dan tafsir maka
mudah bagi Al-Kumy dalam mengembangkan metode Mauduiy ini.
Pada tahun 1977, Abdul Hay Al-Farmawy, guru besar Fak. Ushuluddin alAzhar, mengarang
sebuah karya yang berjudul Al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mauduiy. Dalam buku itu diungkapkan
secara rinci tentang langkah-langkah dalam menggunakan metode Mauduiy, yaitu:
1) Menetapkan masalah (topik) yang akan dibahas
2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut
3) Menyusun runtutan ayat sesuai masa turunnya (Asbab al-Nuzul)
4) Memahami korelasi ayat-ayat dalam surahnya masing-masing
5) Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna
6) Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pokok bahasan
7) Mempelajari ayat-ayat secara keseluruhan dengan cara menghimpun ayat-ayatnya yang
mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromikan antara yang am dan yang khas,
mutlak dan muqayyad, atau yang pada lahirnya bertentangan sehingga semuanya bertemu
281
dalam satu muara tanpa perbedaan atau pemaksaan.
Sedangkan Quraish Shihab mengembangkan langkah-langkah metode Mauduiy yang
dipaparkan Al-Farmawy tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Penetapan masalah yang dibahas
2) Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya
3) Walau metode ini tidak mengharuskan uraian tentang pengertian kosakata, namun
kesempurnaannya dapat dicapai apabila sejak dini sang mufassir berusaha memahami arti
kosakata ayat dengan merujuk pada penggunaan Al-Quran sendiri. Hal ini dapat dinilai sebagai
pengembangan dari Tafsir bi al-Mathur, yang pada hakikatnya merupakan benih awal dari
282
metode Mauduiy.
Kelebihan dan kekurangan metode Mauduiy
1) Kelebihan
a) Menjawab tantangan zaman. Permasalahan dalam kehidupan selalu tumbuh dan
berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan itu sendiri. Semakin modern
kehidupan, permasalahan yang timbul semakin kompleks dan rumit, serta mempunyai
dampak yang luas. Untuk menghadapi permasalahan yang demikian, dilihat dari sudut
tafsir Al-Quran , tidak dapat ditamgani dengan metode-metode penafsiran selain metode
tematik.
b) Praktis dan sistematis. Tafsir ini disusun secara praktis dan sistematis dalam memecahkan
permasalahan yang timbul. Dengan adanya tematik mereka akan mendapatkan petunjuk
Al-Quran secara praktis dan sistematis serta dapat lebih menghemat waktu, efektif, dan
efesien.
c) Dinamis. Metode ini membuat tafsir Al-Quran selalu dinamis sesuai dengan tuntunan
zaman.
d) Membuat pemahaman menjadi utuh. Dengan ditetapkan judul-judul yang akan dibahas,
maka pemahaman ayat-ayat Al-Quran dapat diserap secara utuh.

281
Al-Farmawy, Abdul Hay, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhuiy,Kairo: al-Hadaharah al- Arabiyah, 1977, 62
282
Shihab, M. Quraish. 2004. Membumikan Al-Quran. Bandung: Mizan.

148
Ulumul Quran

2) Kekurangan
a) Memenggal ayat Al-Quran. Memenggal ayat Al-Quran yang dimaksud adalah mengambil
satu kasus yamg terdapat didalam satu ayat atau lebih yang mengandung banyak
permasalahan yang berbeda.
b) Membatasi pemahaman ayat. Dengan penetapan judul penafsiran, maka pemahaman
suatu ayat menjadi terbatas
Kitab-kitab tafsir yang disusun dengan menggunakan metode maudhui, tidak didapati dalam
bentuk kitab-kitab tafsir dengan metode yang lain. Karena ia sifatnya tematik, maka
pemunculannya berupa buku-buku mengenai tema tertentu yang digali dari Al-Quran , sebagai
contoh:
1) Al-Insan Fi Al-Quran , dan, Al-Marah Fi Al-Quran , karya Abbas Mahmud Al-Aqqad,
2) Al-Riba Fi Al-Quran , karya Abu al-Ala al-Maududi.
Dalam aplikasinya Metode Tematik ) ( menggunakan sistematika sebagai berikut:
1) Menetapkan Masalah yang akan dibahas
2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut
3) Menyusun urutan kronologis turunnya ayat-ayat diserta pengetahuan tentang sebab nuzulnya
4) Memahami korelasi (munasabah) ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing
5) Menyusun outline (kerangka pembahasan yang sistematis
6) Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan masalah yang dikaji
7) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan agar tidak terjadi kontradiksi. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara:
a) Menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama,
b) Mengkompromikan antara ayat yang aam (umum) dengan ayat yangkhash (khusus),
yang muthlaq dengan muqayyad atau ayat-ayat yang sepintas kelihatan bertentangan;
sehingga semuanya terfokus pada satu kesatuan konsep, tanpa adanya perbedaan atau
283
pemaksaan.

Skema klasifikasi pembahasan Ilmu Tafsir Al Quran

G. Penyimpangan dalam Penafsiran Al-Quran


Dalam upaya untuk merealisasikan fungsi tersebut, manusia berusaha untuk mencari kejelasan
makna pesan-pesan Al-Quran tersebut, yang salah satunya adalah menafsirkan Al-Quran . Upaya ini
283
Shihab, M. Quraish. 2004. Membumikan al-Quran. Bandung: Mizan, 114-115

149
Ulumul Quran

telah dilakukan oleh para mufassir, baik oleh Rasulullah S AW . sendiri sebagai mufassir pertama dan
para pewarisnya. Rasulullah menjelaskan Al-Quran dengan sunnahnya, sedang para pewarisnya
menafsirkan Al-Quran dengan hadits-hadits Rasulullah SAW., di samping berusaha memahami Al-Quran
dengan penjelasan Al-Quran itu sendiri, dan ijtihad mereka, dengan menggunakan kemampuan
pengetahuan bahasa, adat istiadat Arab, hal ihwal kaum yahudi-nasrani dan kekuatan daya tangkap
mereka.
Kemudian, pada masa Tabiin (yang secara umum juga disebut sebagai pewaris Nabi SAW., tetapi
dalam kaitannya dengan penafsiran Al-Quran sebutan pewaris ini nampaknya tertuju pada para
sahabat), perkembangan pola penafsiran telah menunjukkan karakteristik yang berbeda dengan pola
yang menonjol pada masa sahabat. Dalam memahami arti ayat-ayat Al-Quran dan menafsirkannya, para
Tabi'in, di samping melandaskan pada ayat-ayat Al-Quran itu sendiri, hadits-hadits Rasulullah SAW serta
penafsiran yang diberikan oleh para sahabat Nabi SAW dengan bantuan cerita-cerita dari para ahli kitab,
telah menggunakan ra'yu sebagai alat menalar.
Meskipun corak penalarannya masih belum serasional para pelanjutnya yang telah mengintroduksi
pola penafsiran Bi al-Ra'yi. Oleh karena itu, Adz-Dzhabi menyebut lima macam sumber yang dipakai oleh
para Tabi'in dalam menafsirkan Al-Quran , yaitu: Al-Quran , al-Hadits, tafsir para sahabat, cerita para
ahli kitab dan ra'yu atau ijtihad para tabi'in sendiri.
Pada masa Tabi'in inilah kita bisa melihat mulai adanya peluang 'inhiraf' dalam penafsiran Al-Quran
. Meskipun, secara logis bisa kita duga bahwa pada zaman sahabat pun bukan tidak mungkin ada peluang
untuk melakukan penyimpangan itu. Namun untuk menyatakan bahwa kecenderungan ke arah itu
benar-benar ada, kita belum memperoleh bukti. Sedang pada periode Tabi'in ini, tafsir-tafsir Al-Quran
sudah menampakkan kecenderungan ke arah penyimpangan, meskipun belum dapat kita katakan telah
menyimpang, karena paling tidak di dalamnya terdapat hal-hal yang memberikan peluang ke arah itu.
Peluang tersebut antara lain dimungkinkan oleh pola-pola penafsiran mereka yang mengandung tiga
macam permasalahan:
1. Karya-karya Tafsir para Tabi'in pada umumnya mengandung cerita-cerita Israiliyat dan Nashraniyat,
yang bila dicermati bukan tidak mungkin sebagian dari cerita-cerita tersebut tidak memiliki sumber
yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya apalagi banyak di antara kisah-kisah
tersebut dimuat dengan tanpa menyantumkan sanadnya, sehingga sulit sekali dilacak sumbernya.
Bahkan, ada di antara cerita-cerita tersebut yang terbukti ketidak-benarannya setelah diteliti.
2. Dalam kitab-kitab tafsir para Tabi'in terlihat mulai adanya kecenderungan untuk hanya menerima
periwayatan dari orang-orang tertentu, dengan menafikan riwayat lain yang mungkin lebih dapat
dipertanggungjawabkan nilai kebenarannya daripada riwayat yang dipakai sebagai salah satu sumber
penafsiran.
3. Pada masa Tabiin mulai tumbuh benih-benih perselisihan antar madzhab, terutama dalam masalah
teologi, sehingga bukan tidak mungkin sebagian Tafsir para Tabi'in yang mengandung kecenderungan
untuk mempertahankan metode dan pendapat Imam-imam madzhab, yang boleh jadi pada taraf
tertentu akan berlebih-lebihan dan berkecenderungan untuk menyimpang, hanya karena dalam
rangka membela pendapat Imam-imam madzhab dan seperangkat pendapat madzhabnya.
Kecenderungan-kecenderungan itu semakin tampak pada masa berikutnya dengan munculnya pola-
pola baru dalam penafsiran Al-Quran , terutama dengan semakin menguatnya gairah orang-orang Islam
untuk memberikan makna yang lebih memuaskan keinginan mereka untuk memahami Al-Quran .
Padahal menurut Ibnu 'Abbas dalam sebuah pernyataannya tentang Al-Quran . Dia nyatakan bahwa
dalam kaitannya dengan tafsir, ayat Al-Quran bisa diklasifikasikan menjadi 4 macam:
1. Ayat-ayat yang dapat dimengerti secara umum oleh orang-orang Arab dengan kemampuan
bahasanya.
2. Ayat-ayat Al-Quran yang dapat diketahui maknanya secara jelas oleh semua orang.
3. Ayat-ayat Al-Quran yang tidak diketahui maknanya kecuali oleh para ulama
4. Ayat-ayat Al-Quran yang hanya diketahui maknanya secara jelas oleh Allah

150
Ulumul Quran

Dari pernyataan Ibnu Abbas tersebut di atas, kita biasa mengambil kesimpulan bahwa:
1. Tidak semua ayat Al-Quran dapat diketahui tafsirnya oleh para mufassir. Hal ini bila kaitkan,
misalnya, dengan ayat-ayat mutasyabihat dengan berbagai ragam pengertian yang diberikan oleh
para ulama. Ada di antara ayat-ayat Al-Quran yang memang memiliki makna yang tersembunyi, dan
hannya Allahlah yang memahami tafsirnya.
2. Ada sebagian ayat Al-Quran yang terlalu sulit dipahami, kecuali oleh para ahlinya. Para ahli, yang
kemudian disebut dengan ulama, Inilah yang sesungguhnya bisa disebut sebagai orang orang yang
memiliki kompetensi untuk menafsirkan Al-Quran , dengan berbagai macam persyaratan yang telah
dijelaskan oleh para ulama.
3. Ada sebagian ayat yang secara bahasa dapat dipahami maknanya dengan Jelas. Sehingga, bagi orang
non arab yang memiliki kemampuan bahasa Arab yang memadai dengan mudah dapat mengetahui
maknanya, sebagaimana lazimnya orang-orang Arab sendiri yang memiliki kemampun bahasa mereka
sendiri.
4. Ada sebagian ayat yang sangat mudah dipahami, sehingga ada kemungkinan bagi orang non arab
yang memiliki sedikit pengetahuan tentang bahan Arab dan Al-Quran, dapat memahami maknanya.
Meskipun secara mudah kita dapat memahami ungkapan di atas, sesungguhnya dalam realitas aktivitas
penafsiran Al-Quran selalu saja ada kemungkinan terjadinya kesalahan penafsiran yang berkaitan
dengan faktor-faktor subyektif para mufasirnya.
Seorang mufassir, menurut pendapat Quraish Shihab, memiliki kemungkinan untuk membuat kekeliruan
dalam menafsirkan Al-Quran berkaitan dengan, antara lain, persoalan:
1. Subyektivitas mufassir
2. Kekeliruan dalam menerapkan metode atau kaidah
3. Kedangkalan dalam ilmu-ilmu alat
4. Kedangkalan pengetahuan tentang materi uraian (pembicaraan) ayat
5. Tidak memperhetiken konteks, baik ashab al-nuzul, hubungan antar ayat, maupun
kondisi sosial masyarakat
6. Tidak memperhatikan siapa pembicaraan dan terhadap pembicaraan ditujukan.
Sementara itu, adz-dzahabi meringkas kemungkinan kesalahan para mufassir dalam menafsirkan
ayat tersebut dalam dua faktor penting yaitu:
1. Kecenderungan untuk meyakini kebenaran salah satu makna di antara banyak makna yang mungkin
diterapkan, kemudian memakai keyakinannya untuk menafsirkan semua lafal Al-Quran.
2. Kecenderungan untuk menafsirkan Al-Quran berdasarkan makna yang dipahami oleh tutur bahasa
arab saja, tanpa memperhatikan siapa yang berbicara dengan (menggunakan) Al-Quran itu, kepada
siapa diturunkannya dan siapa yang dibicarakan oleh Al-Quran itu.
Sebagaimana penjelasan Quraish Shihab dan Adz-dzahabi tersebut di atas, kita bisa memperkirakan
dan melihat bentuk-bentuk penyimpangan penafsiran Al-Quran . Pertama: Berkaitan dengan
subyektivitas mufassir, kita bisa melihat kecenderungan-kecenderungan para mufassir untuk
menafsirkan menurut seleranya, mungkin berkaitan dengan madzhabnya, bidang kajian yang diminatinya
atau bahkan kecenderungan lain yang berkaitan keinginan-keinginan pribadi atau kelompoknya.
1. Penafsiran yang dilakukan oleh Az-Zamakhsyari, ketika ia menafsirkan kata: Nadhirah dalam surah Al-
Qiyamah, 75:23. Ia tafsir kata nadhirah dalam ayat:
dengan pandangannya yang selaras dengan doktrin madzhabnya (Mu'tazilah) dan
keahlian bahasanya. Kata Nadhirah yang secara umum diterjemahkan dengan melihat, ia tafsirkan
dengan peryataan: Memandang di sini bukan berarti melihat; dan melihat bukanlah salah satu
maksud dari kata nadhirah tersebut. Nadhar memiliki arti yang banyak, antara lain: menggerakkan
biji mata ke arah satu benda untuk melihatnya; menunggu; simpati dan berbaik hati dan berpikir atau
merenung. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa kata nadhar di dalam ayat tersebut lebih tepat
diartikan dengan menunggu, karena kita tidak mungkin melihat Allah.

151
Ulumul Quran

2. Berkaitan dengan konteksnya, baik pembicaraan, ruang dan waktu atau dalam konteks sosial
kemasyarakatan yang lebih luas, kita melihat beberapa kasus; di antaranya penafsiran kata
mubshirah dalam surat: Al-Isra: 59,


Kata mubshirah di dalam ayat tersebut memiliki makna kontekstual. Sehingga tidak mungkin diberi
makna dengan arti orisinalnya.
Jika kata mubshirah di dalam ayat tersebut ditafsirkan sesuai dengan makna orisinalnya melihat
dengan mata kepala, yang menerapkan kata Naqah (onta betina), maka penafsiran itu tidak
kontekstual lagi karena kata mubshirah yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah sebuah
mukjizat yang dapat membuktikan kebenaran Nabi Shaleh terhadap kaum Tsamud pada saat itu.
3. Berkaitan dengan kekurangan penguasaan ilmu pokok dan bantu dalam menafsirkan Al-Quran,
sebagaimana yang dipaparkan oleh Quraish Shihab, bisa kita lihat pada kasus penafsiran yang
dilakukan oleh para ilmuwan yang tidak memiliki Ilmu pokok (dalam menafsirkan Al-Quran) secara
memadai atau mufassir yang memiliki kemampuan penguasaan ilmu pokok, tetapi kurang menguasai
ilmu bantu. Misalnya, jika seorang ilmuwan berupaya mengaitkan kebenaran penemuan ilmiahnya
dengan statemen-statemen Al-Quran, sebenarnya merupakan usaha mulia.
Tetapi dapat dikatakan sebagai satu kecerobohan ynng bermakna kecenderungan untuk menyimpang
andaikata Al-Quran dengan seperangkat statemennya justru diuji oleh kebenaran Ilmiah yang
mereka temukan. Sebab, hasil suatu penelitian bukanlah sesuatu yang bernilai final, sementara
kebenaan yang ada didalam al-Quran bernilai universal.
Demikian juga, misalnya, seorang mufassir tidak boleh begitu saja menafikan hasil penelitian ilmiah.
Misalnya, dalam kasus penafsiran ayat-ayat kauniah, tentu saja peristilahan keilmuan harus tetap
menjadi perhatian para mufassir, demikian juga pengetahuan eksakta, misalnya dalam ilmu
kedokteran, harus menjadi perhatian para mufassir ketika menafsirkan ayat yang berkaitan dengan
masalah kedokteran. Dua contoh kasus penafsiran ketiga dipaparkan oleh adz-dzahabi; ketika
menafsirkan kata faqthau pada surat Al-Maidah: 38,


Ada ilmuwan yang menafsirkan bahwa kata tergesebut bukan menunjukkan hukum wajib, tetap
ibadah. Di sini adz-Dzahabi bertanya: kapan si mufassir dapat menafsir amar tersebut bukan suatu
kewajiban? Kemudian, ketika menafsirkan ayat 61 dari surat Al-Baqarah:


Thanthawi Jauhari dalam . menguraikan dengan teori-teori medis, yang terlalu jauh. Sehingga
penafsirannya justru membias sangat jauh. Cara inilah yang dianggap mengkhawatirkan untuk
terjadinya penyimpangan penafsiran, bila tidak terkontrol dengan baik.

H. Mazhab/ Aliran dalam Tafsir Al-Quran


Para mufasir yang mempunyai kecenderungan tersendiri dalam menafsirkan ayat-ayat Al Quran itu
akan menimbulkan aliran-aliran tafsir Al Quran. Menurut Abdul Djalal HA, aliran tafsir Al Quran ada 7
284
yakni: tafsir lughawi/ adabi, al fiqhi/ ahkam, shufi/ isyari, Itizali, syii/ bathini, aqli/ falsafi, ilmi/ ashri.
Sedangkan menurut Quraish Shihab, aliran tafsir ada: corak fiqhiy, shufiy, ilmiy, bayan, falsafiy, adabiy,
285
ijtimaiy.
1. Madhab sastra bahasa, yang timbul akibat banyaknya orang non-Arab yang memeluk agama Islam,
serta akibat kelemahan-kelemahan orang Arab sendiri di bidang sastra, sehingga dirasakan

284
Djalal, Abdul. 1990. Urgensi Tafsir Madhui Pada Masa Kini, Jakarta : Kalam Mulia, 64-71
285
Shihab, M. Quraish. 2004. Membumikan al-Quran. Bandung: Mizan, 121

152
Ulumul Quran

kebutuhan untuk menjelaskan kepada mereka tentang keistimewaan dan kedalaman arti kandungan
Al-Quran di bidang ini.
Diantara contoh penafsiran sastra ini adalah yang dilakukan Bintu Syathi ketika menafsirkan
kata uqsimu dalam surat Al-Balad di situ beliau mencoba membandingkan dan menyimpulkan
perbedaan diantara kata Uqsimu dan Uhlifu yang semuanya punya makna sumpah. Menurutnya,
kata Uqsimu (saya bersumpah) dan Uhlifu dalam penggunaannya orang Arab sering menyamakan.
Akan tetapi penelitian terhadap dua kata ini mengantarkan pada pengertian bahwa Al-Quran
membedakan antara keduanya. Kata ahlafa dalam Al-Quran terdapat dalam 13 tempat yang
semuanya menunjukkan dosa dan kesalahan akibat melanggar sumpah. Adapun
lafadz aqsam umumnya digunakan dalam sumpah-sumpah yang benar.
Dengan penafsiran yang demikian ini terlihat beliau berupaya mengantarkan pemahaman kepada
286
makna yang mendasar dari sebuah konsep dalam Al-Quran . Sumpah yang menurut beliau
memiliki muatan yang tidak hanya terpaku pada diskursus ilmu bahasa melainkan sudah beranjak
pada bagaimana kata-kata itu direspon oleh masyarakat Arab.
2. Madhab Filsafat dan Teologi, akibat penerjemahan kitab filsafat yang mempengaruhi sementara
pihak, serta akibat masuknya penganut agama; agama lain ke dalam Islam yang dengan sadar atau
tanpa sadar masih mempercayai beberapa hal dari kepercayaan lama mereka. Kesemuanya
menimbulkan pendapat setuju atau tidak setuju yang tecermin dalam penafsiran mereka.
Kitab-kitab tafsir yang termasuk dalam kategori ini adalah:
a. Mafatih al-Ghaib, karya Imam Fakhruddin Al-Razi yang lebih dikenal dengan nama tafsir Al-Razi.
Tafsir ini bercorak kalam aliran Ahlus-Sunnah.
b. Tanzih Al-Quran An al-Mathain, karya al-Qadhi Abdul Jabbar. Tafsir ini bercorak kalam aliran
Mutazilah. Dilihat dari segi metode yang digunakannya, tafsir ini termasuk tafsir Ijmaliy.
Sedangkan dari segi sumber penafsirannya ia lebih banyak menggunakan akal, karena itu
termasuk Tafsir Bir-Rayi.
c. Al-Kasysyaf An Haqaiq al-Tanzil Wa Uyun al-Aqawil Fi Wujuh al-Tawil, karya al-Zamakhsyary.
Kitab ini dikenal dengan nama Tafsir al-Kasysyaf. Corak penafsirannya adalah kalam aliran
Mutazilah
d. Mirat al-Anwar Wa Misykat al-Asrar, dikenal dengan Tafsir al-Misykat, karya Abdul Lathif al-
Kazarani. Tafsir ini bercorak kalam aliran Syiah
e. At-Tibyan al-Jami Li Kulli Ulum Al-Quran , karya Abu Jafar Muhammad bin al-Hasan bin Ali al-
Thusi. Tafsir ini bercorak kalam aliran Syiah Itsna Asyariyah .
3. Madhab Penafsiran Ilmiah, akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan usaha penafsir untuk memahami
ayat-ayat Al-Quran sejalan dengan perkembangan ilmu. Salah satu contoh kitab tafsir yang
bercorak ilmiy adalah kitab Tafsir al-Jawahir, karya Thanthawi Jauhari.
4. Madhab Fiqih atau Hukum, akibat berkembangnya ilmu fiqih, dan terbentuknya mazhab-mazhab
fiqih, yang setiap golongan berusaha membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran-
penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum.
Kitab-kitab tafsir yang termasuk corak ini antara lain:
a. Ahkam Al-Quran , karya al-Jashshash, yaitu Abu Bakar Ahmad bin Ali al-Razi, dikenal dengan
nama Tafsir al-Jashshash. Tafsir ini merupakan tafsir yang penting dalam fiqh madzhab Hanafi.
b. Ahkam Al-Quran , karya Ibnu Araby, yaitu Abu Bkar Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-
Muafiri al-Andalusiy al-Isybily. Kitab tafsir ini menjadi rujukan penting dalam Ilmu fiqh bagi
pengikut madzhab Maliki.
c. Al-Jami Li ahkam Al-Quran , karya Imam al-Qurthuby, yaitu Abdu Abdillah Muhammad bin
Ahmad bin Abu Bakar bin Farh al-Anshary al-Khazrajy al-Andalusy. Kitab ini dikenal dengan nama

286
Al-Syathi, Aisyah Abdurrahman bintu. 1977. Al-Tafsir al-Bayani li Al-Quran al-karim juz 1, Cairo : Dar al-Marif, 165-167

153
Ulumul Quran

kitab Tafsir al-Qurthuby, yang pendapat-pendapatnya tentang fiqh cendrung pada pemikiran
madzhab Maliki.
d. Al-Tafsirah al-Ahmadiyyah Fi Bayan al-Ayat al-Sayariah, karya Mula Geon
e. Tafsir Ayat al-Ahkam, karya Muhammad al-Sayis,
f. Tafsir Ayat al-Ahkam, karya Manna al-Qaththan
287
g. Tafsir Adhwa al-Bayan, karya Syeikh Muhammad al-Syinqitiy.
5. Madhab tasawuf, akibat timbulnya gerakan-gerakan sufi sebagai reaksi dari kecenderungan berbagai
pihak terhadap materi, atau sebagai kompensasi terhadap kelemahan yang dirasakan.
Nama-nama kitab tafsir yang termasuk corak shufi ini antara lain:
a. Tafsir Al-Quran al-Azhim, karya Sahl bin Abdillah al-Tustari. Dikenal dengan Tafsir al-Tustasry.
b. Haqaiq al-Tafsir, Abu Abdirrahman al-Silmy, terkenal dengan sebutan Tafsir al-Silmy.
c. Al-Kasf Wa al-Bayan, karya Ahmad bin Ibrahim al-Naisabury, terkenal dengan nama Tafsir al-
Naisabury.
d. Tafsir Ibnu Araby, karya Muhyiddin Ibnu Araby, terkenal dengan nama Tafsir Ibnu Araby.
288
e. Ruh al-Maani, karya Syihabuddin Muhammad al-Alusy, terkenal dengan nama tafsir al-Alusiy.
6. Madhab budaya kemasyarakatan. Yakni satu corak tafsir yang menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat-
ayat Al-Quran yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, serta usaha-usaha untuk
menanggulangi penyakit-penyakit atau masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk ayat-ayat,
dengan mengemukakan petunjuk-petunjuk tersebut dalam bahasa yang mudah dimengerti tapi indah
didengar. Salah satu contoh tafsir yang bercorak demikian ini adalah Tafsir Al-Manar, buah pikiran
289
Syeikh Muhammad Abduh yang dibukukan oleh Muhammad Rasyid Ridha.

I. Kitab-kitab Tafsir dan Corak Pendekatannya


1. Tafsir Al Thabary
a. Nama Kitab
atau yang lebih dikenal dengan tafsir al-Tabary.
b. Penyusun
Abu Jafar Muhammad bin Jarir At-Thobary (224 310 H)
c. Jumlah jilid
12 jilid besar.
d. Keutamaan
Tafsir ini merupakan referensi bagi para mufassirin terutama penafsiran binnaqli/ bil
riwayah. Tafsir bil aqli karena istinbath hukum, penjabaran berbagai pendapat dengan dan
mengupasnya secara detail disertai analisa yang tajam. Ia merupakan tafsir tertua dan terbagus.
e. Metodologi Penulisan
Penulis menafsirkan ayat Al-Quran dengan jelas dan ringkas dengan menukil pendapat para
sahabat dan tabiin disertai sanadnya. Jikalau dalam ayat tersebut ada dua pendapat atau lebih, di
sebutkan satu persatu dengan dalil dan riwayat dari sahabat maupun tabiin yang mendukung dari
tiap-tiap pendapat kemudian mentarjih (memilih) diantara pendapat tersebut yang lebih kuat dari
segi dalilnya. Beliau juga mengiirob (menyebut harakat akhir), mengistimbat hukum jikalau ayat
tersebut berkaitan dengan masalah hukum. Ad-Dawudy dalam bukunya Thobaqah al-
Mufassirin mengomentari metode ini dengan ungkapannya: Ibnu jarir telah menyempurnakan
tafsirnya dengan menjabarkan tentang hukum-hukum, nasih wal mansuh, menerangkan mufrodat
(kata-kata) sekaligus maknanya, menyebutkan perbedaaan ulama tafsir dalam masalah hukum
dan tafsir kemudian memilih diantara pendapat yang terkuat, mengirob kata-kata, mengkonter

287
Al-Qaththan, Manna Khalil. 1992. Study Ilmu-ilmu Quran (Terj. Mudzkir AS.), Litera Antar Nusa, Bogor, Cet. I, 511 515
288
Ash-Shabuni, M. Ali. 1987. Pengantar Studi Alquran, Bandung: PT. Almaarif
289
Shihab, M. Quraish. 2004. Membumikan al-Quran. Bandung: Mizan, 72

154
Ulumul Quran

pendapat orang-orang sesat, menulis kisah ,berita dan kejadian hari kiamat dan lain-lainnya yang
terkandung didalamnya penuh dengan hikmah dan keajaiban tak terkira kata demi kata, ayat
demi ayat dari istiadzah sampai abi jad (akhir ayat). Bahkan jikalau seorang ulama mengaku
mengarang sepuluh kitab yang diambil dari tafsir ini, dan setiap kitab mengandung satu disiplin
keilmuan dengan keajaiban yang mengagungkan akan diakuinya (karangan tersebut).
2. Tafsir Ibnu Katsir
a. Nama kitab

lebih dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir.


b. Jumlah jilid
4 Jilid
c. Penyusun
Imaduddin Abul Fida Ismail bin Amr bin Katsir (w 774 H)
d. Keutamaan
Merupakan tafsir terpopuler setelah tafsir At-Thobary dengan metode bil matsur.
e. Metodologi penulisan
Penulis sangat teliti dalam mentafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan menukil perkataan para
salafus sholeh. Ia menafsirkan ayat dengan ibarat yang jelas dan mudah dipahami. Menerangkan
ayat dengan ayat yang lainnya dan membandingkannya agar lebih jelas maknanya. Beliau juga
menyebutkan hadits-hadits yang berhubungan dengan ayat tersebut dilanjutkan dengan
penafsiran para sahabat dan para tabiin. Beliau juga sering mentarjih diantara beberapa
pendapat yang berbeda, juga mengomentari riwayat yang shoheh atau yang dhoif(lemah).
mengomentari periwayatan isroiliyyat. Dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, ia menyebutkan
pendapat para Fuqaha (ulama fiqih) dengan mendiskusikan dalil-dalilnya, walaupun tidak secara
panjang lebar. Imam Suyuthy dan Zarqoni menyanjung tafsir ini dengan berkomentar
; Sesungguhnya belum ada ulama yang mengarang dalam metode seperti ini .
3. Tafsir Al-Qurtuby
a. Nama kitab


b. Jumlah jilid
11 jilid dengan daftar isinya.
c. Penyusun
Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurtuby (w 671 H).
d. Keutamaan
Ibnu Farhun berkata, tafsir yang paling bagus dan paling banyak manfaatnya, membuang kisah
dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, serta menerangkan Irob,qiroat, nasikh dan
mansukh.
e. Metode penulisan
Penulis terkenal dengan gaya penulisan ulama fiqih., dengan menukil tafsir dan hukum dari para
ulama salaf dengan menyebutkan pendapatnya masing-masing. Dan membahas suatu
permasalahan fiqhiyah dengan mendetil. Membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum
dan istimbat dalil, juga Irob, qiroat, nasikh dan mansukh. Beliau tidak taassub (panatik) dengan
mazhabnya yaitu mazhab Maliki.

4. Tafsir Syinqithy
a. Nama kitab

155
Ulumul Quran

b. Jumlah jilid
9 jilid.
c. Penyusun
Muhammad Amin al-Mukhtar As-Syinqithy
d. Metodologi penulisan

Menekankan penafsiran bil-matsur dengan dilengkafi qiraah as-sabah dan qiroah syadz (lemah)
untukistisyhad (pelengkap). Menerangkan masalah fiqih dengan terperinci, dengan menyebut pendapat
disertai dalil-dalilnya dan mentarjih berdasarkan dalil yang kuat. Pembahasan masalah bahasa dan usul
fiqih. Beliau wafat dan belum sempat menyelesaikan tafsirnya yang kemudian dilengkapi oleh murid
sekaligus menantunya yaitu Syekh Athiyah Muhammad Salim. " Wallahu alam

156
Ulumul Quran

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahid, Ramli. 2002. Ulumul Quran, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Abdurrahman, Emsoe dan Apriyanto Rd. 2009.The Amazing Stories of Al-Quran: Sejarah yang Harus
Dibaca. Bandung: Salamadani
Aceh, Abu Bakar.1989. Syarah Al Quran, Solo: Ramadhani.
Ahmad ibn Faris ibn Zakariya. 1990. Mujam Maqayis al-Lughah, Mesir : Isa al-Babiy al-Halabiy, Juz 11.
Al-Aridh, Ali Hasan. 1992. Sejarah dan Metodologi Tafsir, Jakarta : Rajawali Pers.
Al-Farmawy, Abu al-Hayy. 1977. Al Bidayah Fi ala Tafsir al-maudhuiy. Mesir : Maktabah al-
Jumhuriyyah.
Ali Ash-Shabuuniy, Muhammad. 1999. Studi Ilmu Al Quran, alih Bahasan, Amiudin, Bandung : Pustaka
Setia.
Al-Maliki,Muhammad ibn Alawi. 2003. Samudra Ilmu-ilmu Al-Quran: Ringkasan kitab Al-Itqan fi Ulum
Al-Quran. Bandung: Mizan Pustaka.
Al-Munawar, Said Agil Husin. 2002. Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki. Jakarta: Ciputat
Press
Al-Qattan, Manna khalil. 1994. Mabahis Fi Ulumil Quran, terj. Drs. Mudzakir. Jakarta: PT Pustaka Litera
Antarnusa, Cet. 2
Al-Qattan, Manna Khalil. 2000. Mubahits Fi Ulumil Quran. Riyadh: Maktabah Al-Maarif Linasri
Watawarii
Al-Qattan, Manna Khalil. 2007. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran, Penj. H. Ainuur Rafiq El.Mazani, Lc, MA,
Jakarta: Pustaka Kausar, Cet. II.
Amal, Taufik Adnan. 2001. Rekonstruksi Sejarah Al-Quran , Yogyakarta: Forum Kajian Budaya dan
Agama.
Amanah. St. 1993. Pengantar Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Semarang: CV. Asy-Syifa.
Anwar, Abu. 2001. Ulumul Quran. Jakarta: Amzah
Anwar, Rosihan. 2008. Ulum al-Qur`an, Jakarta: Pustaka Setia.
Anwar, Rosihon. 2006. Ulumul Quran, Bandung: Pustaka Setia.
Ar-Rumi, Fahd bin Abdurrahman. 1996. Ulumul Quran (Studi kompleksitas Al-Quran), Terj. Amirul
Hasan dan Muhammad Halabi, (Yogyakarta: Titian Ilahi, Cet. I
As Sahabuni, Muhammad Ali. At Tibyan fi Ulumil Quran. Beirut: Al-Mazroah Binayatul Yamani
As Syuyuti, Jalaluddin. Al-Itqon fi Ulumil Quran. Talkis: Al-Kitabaku
Ash-Shabunie, Ali. 1987. Pengantar Ilmu-ilmu Al-Quran. Surabaya:Al-Ikhlas
Ash-Shiddieqy, T.M Hasbi. 2002. Ilmu-ilmu Al-Quran (Ilmu-ilmu Pokok dalam Menafsirkan Al-Quran),
Semarang: PT Pustaka Rizki Putra
Ash-shiddieqy, TM Hasbi. 2010. Ilmu-ilmu Al-Quran. Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra.
Ash-Shiddieqy, TM. Hasbi. 1989. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. IX
Azra, Azyumardi. Ed. 2008. Sejarah dan Ulum Al-Quran, Jakarta: Pustaka Firdaus.
Baidan, Nasrudin. 2002. Metode Penafsiran Al Quran. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Chirzin, Muhammad. 1998. Al-Quran dan Ulumul Quran, Jakarta: PT. Dana Bakti Prima Yasa
Dahlan, Zaini dkk. 1991. Mukadimah Al-Quran dan Tafsirnya. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf
Djalal, Abdul. 1997. Ulumul Quran. Surabaya: Dunia Ilmu
Djalal, H. Abdul.1998. Ulumul Quran, Surabaya : Dunia Ilmu.
Hakim, Baqir. 2006. Ulumul Quran. Jakarta: Al-Huda
Halim, Abdul. 1999. Memahami Al-Quran, Bandung: Marja.
Ibn Zakariya, Abi al-Hussein Ahmad Ibn Faris. Maqoyis al-Lughoh. Bairut: Dar al-Ilm Li al-Malayyin, t.t
Isfahaniy, Al-Raghib. 1982. al-Mufradat fi Alfadz AlQuran al-Karim. Bairut: Dar al-Fikr.
Izzan, Ahmad. 2009. Ulumul Quran Telaah Tektstualitas dan Kontekstualitas Al Quran, Bandung:
Tafakur.
Jalal, Abdul. 1990. Urgensi Tafsir Madhui Pada Masa Kini, Jakarta : Kalam Mulia
Kadar, M. Yusuf. 2010. Studi Al-Quran, Jakarta: Amzah, cet II.
M. Karman, Supriana. 2002. Ulumul Quran dan Pengenalan Metodologi Tafsir. Bandung : Pustaka
Islamika.
Maman, Abdul Djalil. 1997. Ulumul Qur`an 1, Jakarta: Pustaka Setia.

157
Ulumul Quran

Nasr Hamid Abu Zaid. 2003. Tekstualitas Al-Quran: Kritik Terhadap Ulumul Quran. Judul asli Mafhum
an-Nash Dirasah fi Ulum Al-Quran. Terj: Khoiron Nahdliyyin. Yogyakarta: LKiS.
Nata, Abuddin. 1992. Al-Quran dan Hadis , Jakarta: Raja Grafindo Persada
Qardhawi, Yusuf. 1998. Al-Quran Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Gema Insani.
Qardhawi, Yusuf. 2000. Bagaimana Berinteraksi dengan Al-Quran. Penerjemah Kathur Suhardi.
Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Qardhawy, Yusuf 1997. Al-Quran dan As-Sunnah Referensi Tertinggi Umat Islam.Jakarta:
Rabbani Press.
Qomar, Mujamil. 2005. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik,
Jakarta: Erlangga.
Shaleh, 1992. Asbabun Nuzul, Bandung: C.V Diponegoro,
Shihab, M. Quraish et.al. 2000. Sejarah dan Ulum Al-Quran, Jakarta: Pustaka Firdaus, Cet. II.
Shihab, M. Quraish. 1997. Mukjizat Al-Quran, Mizan, Bandung
Shihab, M. Quraish. 1998. Membumikan Al-Quran. Bandung: Mizan.
Shihab, M. Quraish. 1999. Sejarah dan Ulumul Quran, Jakarta : Pustaka Firdaus.
Shihab, M. Quraish. 2003. Membumikan Al Quran. Bandung: Mizan.
Shihab, Umar. 2003. Kontekstualitas Al-Quran. Jakarta: Penamadani.
Suma, Muhammad Amin. 2004. Studi Ilmu-ilmu Al-Quran 3. Jakarta: Pustaka Firdaus
Supiana dan M. Karman. 2002. Ulumul Quran. Bandung: Pustaka islamika
Supiana, dkk. 1994. Ulumul Quran, Jakarta: Pustaka Islamika.
Supiana. 2002. Ulumul Quran. Bandung : Pustaka Islamika
Syaroni, Samani. 2010. Tafkirah Ulumul Al-Quran. Tanpa Kota : Alghotasi Putra.
Syadali, Ahmad dan Ahmad Rifai. 2006. Ulumul Quran I, Bandung: Pustaka Setia.
Syadali, Ahmad. 2000. Ulumul Quran. Bandung: Pustaka Setia
Syadali: Ahmad dkk, 2000. Ulumul Quran I, Bandung: Pustaka Setia, cet.II
Syakur Sf, M. 2007. Ulumul Al-Quran, semarang : PKPI2-FAI Universitas Wahid Hasyim.
Syamsuddin, Hatta. 2008. Modul Ulum Al-Quran, Surakarta, Pesantren Ar Royan
Thoha, Anis Malik, Konsep Wahyu dan Nabi dalam Islam Makalah ini disampaikan sebagai materi Kuliah
Peradaban yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) - INSISTS,
Semarang, tanggal 2-3 Juni 2007
Umar, Nasaruddin. 2008. Ulumul Quran: Mengungkap Makna-Makna Tersembunyi All-Quran, Jakarta:
Al-Gahzali Center, Cet 1.
Wahid, Ramli Abdul. Ulumul Quran, Jakarta: LSIK, Raja Grafindo persada.
Watt, W. Montgomery. 1995. Pengantar Studi Al-Quran; Penyempurnaan atas Karya Richad Bell,
Jakarta: Rajawali Press.
Zaid, Nasr Hamid Abu. 2002. Tekstualitas Al-Quran, Kritik terhadap Ulumul Quran, terj. Khoirin
Nahdiyyin, Yogyakarta: LKIS
Zuhdi, Masjfuk. 1982. Pengantar Ulumul Quran, Surabaya : Bina Ilmu.
Zuhdi, Masfjuk. 1980. Pengantar Ulumul Quran, Surabaya, PT. Bina Ilmu.

158