Anda di halaman 1dari 8

SUDAMALA CANDI TEGOWANGI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Praktik Menulis yang dibimbing oleh Dr. Sujarwoko, M.pd

DisusunOleh:

1. Nour Shella (14.1.01.07.0046)


2. Nur lailatul maghfiroh (13.1.01.07.0069)
3. Rengga deby boy arisandy (14.1.01.07.0097)
4. Dewi Diah Ayu (13.1.01.07.0088)

3B

UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI


PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
NOVEMBER 2016
Narasumber : Nur Ali
22 Oktober 2016

Sudamala Candi Tegowangi

Candi Tegowangi dibangun pada tahun 1400 Masehi. Pada tahun 1388 Raja dari
kerajaan Majapahit, Raja Brematahun meninggal dunia, 12 tahun kemudian abu dari
pembakaran jenazah raja Brematahun dimakamkan, dan dibangunlah candi Tegowangi. Pada
tahun 1400, Majapahit engalami perang saudara yang mengakibatkan terhentinya
pembangunan candi tersebut.

Pada candi Tegowangi terdapat relief yang menyebut sebuah cerita sudamala. Cerita
tersebut dimulai dari sudut barat daya. Didekat sudut tangga masuk terdapat ornament
seorang wanita yang bermain tari kendang. Mungkin tokoh pemain kendang tersebut adalah
gambaran dari seorang dukun ruwat. Karenak candi Tegowangi dan cerita sudamala
merupakan sebuah bangunan dan cerita yang berhubungan dengan ruwat dari seorang yang
telah moksa (meninggal).

Pada relief pertama, diduga menggambarkan kasih sayang Dewi Kunti terhadap
Sadewa. Meskipun bukan anaknya sendiri, tetapi karena Sadewa paling bungsu diantara
saudara Pandawa. Nakula dan Sadewa adalah anak Dewi Madri istri pandu yang kedua.
Sementara Kunti melahirkan Puntadewa, Bima dan Arjuna.
Relief ini meggambarkan ada dua gandrawa (bidadara) di kahyangan yang bersalah
kepada bathara guru (Siwa). Maka ia dikutuk ke dunia menjadi raksasa Kalantaka dan
Kalanjaya. Mereka lalu menghamba kepada Kurawa. Dewi kunti sedih, karena dengan
datangnya dua raksasa itu Pandawa akan kalah. Kemudian dewi kunti mencari akal. Ia
berikhtiar ke Setra Gandamayit, dan memuja Bathari Durga sang penguasa Setra. Bethari
Durga sebenarnya adalah Dewi Uma atau Dewi parwati, yang merupakan permaisuri Bathari
Guru (Siwa). Ia dikutuk oleh Bathari Guru karena telah melakukan kesalahan. Kemudian ia
diturunkan ke dunia dengan wajah seperti raksasa yang sementara waktu disuruh menunggu
di Setra Gandamayit dan menjadi pemimpin para makhluk halus.

Relief ketiga, menggambarkan pemujaan Dewi kunti telah dikabulkan. Bathari Durga
menampakkan diri, dan menanyakan maksud kedatangannya. Kunti menceritakan tentang
Pandawa, dan kurawa yang mendapat bantuan dari dua raksasa sakti, oleh karena itu Dewi
kunti meminta bantuan kepada sang Bathari. Bathari Durga menyanggupi untuk membantu
Pandawa, namun ia memnta tebusan. Tebusan yang diminta adalah Dewi Kunti menyerahkan
kurban Kambing merah atau manusia, dan yang dimaksud adalah Sadewa. Mendengar
permintaan sang Bathari, Dewi Kunti mengurungkan niatnya dan kembali pulang ke Hastina.
Relief keempat, Dewi Kunti meninggalkan Setra Gandamayit, Bathari Durga segera
menyuruh Kalika (seorang dewi yang juga dikutuk menjadi raksasi) untuk masuk dalam
badan Dewi kunti. Seketika Dewi Kunti kembali menghadap Bathari Durga, dan
menyanggupi permintaan sang Bathari. Dewi Kunti pulang ke Hastina dan menemui anak-
anaknya.

Sampai di Hastina, ia disambut oleh para Pandawa dan seluruh abdi istana. Direlief
tanpak Dewi unti menerima sirih dari seorang abdi kerajaan, sementara dibelakang abdi
adalah putra Kunti yang sulung Puntadewa, yang kedua tinggi besar adalah Bima, dan yang
dibelakagnya adalah Arjuna yang sedang memegang lengan kanannya, sementara Nakula
Sadewa tampak di belakang membawakan persembahan untuk ibunya.

Para Pandawa tampak bahagia karena kedatangan ibunya, namun mereka merasakan
keanehan pada perangai ibunya, yang biasanya lemah lembut, tetapi kali ini Dewi kunti
bertingkah laku kasar. Dewi Kunti meminta Sadewa untuk dipersembahkan kepada Bathari
Durga, jika tidak diberikan semua anaknya akan disumpahi dan dikutuknya. Para Pandawa
tidak bisa berbuat apa-apa. Dewi kunti lekas membawa Sadewa kehadapan Bathari Durga,
setelah diserahkannya Sadewa Dewi Kunti pulang kembali ke Hastina, ketika itu Kalika
segera keluar dari tubuh Kunti dan kembali ke Setra Gandamayit.

Sadewa diikat dipohon randu alas. Kalika datang pada sadewa dan sanggup
melepaskannya asalkan Sadewa mau menikahinya. Tali dilepaskan oleh kalika namun
Sadewa tidak mau menuruti permintaan Kalika. Kalika pun marah dan menyuruh segala jenis
makhluk halus menampakkan diri untuk menggoda Sadewa, disini ada yang berupa kaki saja,
tangan, kepala, badan melayang, namun Sadewa tetap diam. Kemudian datanglah Bathari
Durga meminta tolong untuk meruwat dirinya. Sadewa menjawab bahwa dia tidak bisa
meruwat, Bathari Durga murka mengancam hendak membunuh Sadewa, namun sadewa tetap
dalam pendiriannya.

Sadewa akhirnya tinggal di pertapaan Prang Alas. Tampak Begawan Tambrapetra


mengajak Sadewa untuk diperkenalkan kepada keluarga Begawan. Begawan Tambrapetra
memiliki dua putrid satu bernama sang Soka dan sang Padapa. Keduanya diasuh oleh
inangnya bernama nini towok.
Sadewa tinggal lama di pertapaan prang alas. Setiap hari selalu bersenang-senang
dengan istri yang dicintainya. Sang punakawan Semar dengan setia selalu menungguinya.

Karena lama tidak kembali Nakula menyusul adiknya ke Setra Gandamayit. Nakula
bertemu dengan Kalika yang mengira Sadewa telah datang. Kalika menunjukkan bahwa
Sadewa kini berada Prang Alas. Nakula segera menyusul Sadewa, sampai disana Nakula
bertemu dengan Begawan Tambrapetra, dan menceritakan bahwa ia mencari adiknya. Nakula
diminta untuk tinggal sementara oleh Begawan dipertapaan Prang Alas bersama Sadewa.
Kemudian Nakula dijodohkan dengan kakak sang Padapa, yakni sang Soka.

Disebutkan bahwa di Hastina. Raksasa kalantaka dan kalanjaya suruhan kurawa telah
menyerang pandawa. Tidak ada yang dapat mengalahkan raksasa kembar tersebut. Karena
telah mendengar pandawa telah diserang atas ijin Begawan Tambrapetra mengijinkan nakula
dan Sadewa kembali ke Hastina. Bersama istri dan sang Begawan mereka sampai di hastina.
Sampai di hastina Nakula dan Sadewa memperkenalkan istri mereka masing-masing kepada
Dewi kunti.
Pada bagian relief yang terakhir tidak jelas karena bagian gambar adegan hilang,
bahkan belum terselesaikan, sehingga apa yang telah ada pada relief ini masih belum
diketahui yang dipahat ibu sebagai siapa.
LAMPIRAN

Dokumentasi