Anda di halaman 1dari 24

PEMILIHAN METODE PEMBELAJARAN dan FAKTOR-FAKTOR yang

MEMPENGARUHI PEMILIHAN METODE PEMBELAJARAN

A. Pengertian Metode Pembelajaran


Menurut Sudjana (2009: 76) metode mengajar adalah cara yang
digunakan guru dalam melakukan interaksi dengan siswa pada saat pelajaran
berlangsung. Proses interaksi ini akan berjalan dengan baik apabila siswa aktif
dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan metode
pembelajaran atau mengajar yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa.
Sedangkan, Wuryandani dan Fatharrohman (dalam Rahmawati, 2014) metode
mengajar ialah teknik penyajian yang digunakan guru dalam proses belajar
mengajar. Selaras dengan Sudjana, Walfarianto dan Redjeki (dalam
Rahmawati, 2014) metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam
mengadakan hubungan dengan siswa pada saat pengajaran berlangsung.
Sagala (dalam Rahmawati, 2014) mengemukakan bahwa metode pembelajaran
ialah cara yang digunakan oleh guru/siswa dalam mengolah informasi yang
berupa fakta, data, dan konsep pada proses pembelajaran yang dapat terjadi dalam
suatu strategi. Jadi, metode pembelajaran ialah cara guru melakukan interaksi
dengan siswa dan mengolah informasi yang berupa fakta, data, dan konsep
pembelajaran dalam suatu strategi.

B. Metode Pembelajaran
Sudjana (2009: 76) mengatakan bahwa meskipun dibahas berbagai
jenis metode mengajar, tidak berarti bahwa dalam praktek masing-masing metode
tersebut berdiri sendiri-sendiri. Proses pembelajaran yang baik sebaiknya
menggunakan berbagai jenis metode mengajar secara bergantian dan saling
mendukung satu sama lain. Masing-masing metode mempunyai kelebihan
dan kekurangan. Tugas guru ialah memilih metode yang tepat untuk menciptakan
pembelajaran yang efektif dan kondusif. Ketepatan penggunaan metode mengajar
tersebut sangat bergantung pada tujuan, isi proses belajar- mengajar, dan
kegiatan belajar-mengajar. Ditinjau dari segi penerapannya,
metode mengajar ada yang tepat digunakan untuk siswa dalam jumlah besar
dan ada yang tepat untuk siswa dalam jumlah kecil. Ada juga metode yang
tepat digunakan di dalam kelas atau di luar kelas. Berikut akan diuraikan
beberapa metode pembelajaran
1. Metode Ceramah
Ceramah ialah penturan bahan secara lisan. Metode ini tidak
senantiasa jelek apabila penggunaannya betul-betul disiapkan dengan baik,
didukung dengan alat dan media, serta memperhatikan batas-batas
kemungkinan penggunaannya. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam
penggunaan metode ini yaitu:
menetapkan metode ceramah tersebut wajar digunakan dengan
mempertimbangkan hal-hal seperti:
tujuan yang hendak dicapai;
bahan yang akan diajarkan kepada siswa, termasuk buku sumber
yang tersedia;
alat, fasilitas, waktu yang tersedia;
jumlah murid dan taraf kemampuannya;
kemampuan guru dalam penguasaan materi dan kemampuan
berbicara;
pemilihan metode lainnya sebagai metode bantu; dan
situasi pada waktu proses pembelajaran.
langkah-langkah menggunakan metode ceramah; Pada umumya, tiga
langkah pokok yang harus diperhatikan antara lain
persiapan/perencanaan, pelaksanaan, dan kesimpulan. Langkah-
langkah metode ceramah yang diharapkan adalah sebagai berikut.
Tahap persiapan adalah tahap guru untuk menciptakan kondisi
belajar yang baik sebelum mengajar dimulai,
Tahap asosiasi (komparasi) adalah memberi kesempatan kepada
siswa untuk menghubungkan dan membandingkan bahan ceramah
yang telah diterimanya. Untuk itu, pada tahap ini
diberikan/disediakan tanya jawab dan diskusi.
Tahap generalisasi atau kesimpulan umumnya siswa mencatat
bahan yang telah diceramahkan guru, dan
Tahap aplikasi/evaluasi adalah penilaian terhadap memahami siswa
mengenai bahan yang telah diberikan guru dalam bentuk lisan, tulisan,
tugas, dan lain-lain.
Perlu diperhatikan bahwa ceramah akan berhasil bila
didukung metode-metode yang lain, misalnya tanya jawab, tugas,
latihan, dan lain-lain. Metode ceramah ini wajar digunakan apabila:
ingin mengajarkan topik baru;
tidak ada sumber bahan pelajaran pada siswa; dan
menghadapi sejumlah siswa yang cukup banyak (Sudjana,
2009: 77-78).
2. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab ialah metode mengajar yang memungkinkan
terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic karena pada
saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya, siswa
menjawab, atau siswa bertanya dan guru menjawab. Dalam komunikasi
ini, terlihat adanya hubungan timbal balik atau interaksi secara langsung
antara guru dengan siswa (Sudjana, 2009: 78).
Beberapa hal penting perlu diperhatikan dalam metode ini antara
lain:
tujuan yang akan dicapai dari metode tanya jawab adalah sebagai
berikut:
untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pembelajaran telah
dikuasai oleh siswa;
untuk merangsang siswa berpikir; dan
memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan masalah yang
belum dipahami.
jenis pertanyaan yang diajukan yaitu pertanyaan ingatan dan
pertanyaan pikiran;
Pertanyaan ingatan dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh
mana pengeetahuan sudah tertanam pada siswa. Biasanya
pertanyaan berpangkal pada apa, kapan, berapa, dan yang
sejenisnya.
Contoh:
Faktor-faktor apakah yang menyebabkan cepatnya
pertumbuhan penduduk di Indonesia?
Berapakah jumlah penduduk Indonesia sekarang?
Pertanyaan pikiran dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh
mana cara berpikir siswa dalam menghadapi suatu persoalan.
Biasanya pertanyaan ini dimulai dengan kata mengapa dan
bagaimana.
Comtoh:
Bagaimana pendapatmu apabila pertumbuhan penduduk di
Indonesia dibiarkan terus meningkat?
teknik mengajukan pertanyaan yang dilakukan oleh guru dapat
menentukan berhasil tidaknya metode tanya jawab.
Hal pokok yang harus diperhatikan antara lain:
Perumusan pertanyaan harus jelas dan terbatas, sehingga tidak
menimbulkan keragu-raguan pada siswa,
Pertanyaan hendaknya diajukan pada kelas sebelum menunjuk
siswa untuk menjawabnya,
Guru memberi kesempatan/waktu pada siswa yang
memikirkannya,
Guru harus mendistribusikan atau memberikan pertanyaan secara
merata,
Guru dapat meminta siswa membuat ringkasan hasil tanya jawab,
sehingga siswa memperoleh pengetahuan secara sistematis.
Metode tanya jawab biasanya digunakan apabila:
bermaksud mengulang bahan pelajaran;
ingin membangitkan siswa belajar;
tidak terlalu banyak siswa; dan
sebagai selingan metode ceramah (Sudjana, 2009: 78-79).
3. Metode Diskusi
Pada dasarnya, diskusi pada dasarnya adalah tukar menukar
informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan
tujuan untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti
tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan
bersama. Dengan demikian, diskusi bukan debat. Debat adalah adu
argumentasi dengan tujuan memenangkan pahamnya sendiri. Dalam
diskusi, tiap orang diharapkan memberikan sumbangan, sehingga seluruh
kelompok kembali dengan paham yang dibina bersama. Kelompok
diharapkan akan maju dari satu pemikiran ke pemikiran yang lain, langkah
demi langkah sampai kepada paham terakhir sebagai hasil karya bersama.
Dilihat dari pesertanya, diskusi dibedakan:
Diskusi yang terdiri dari beberapa orang saja (sekelompok orang),
misalnya Buzzing, debat, reaksi lingkaran, diskusi kelas, dan lain-lain.
Diskusi yang sifatnya melibatkan sejumlah massa (banyak orang)
disebut metode interaksi massa, misalnya seminar, workshop, panel,
forum, simposium.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan metode diskusi
adalah sebagai berikut:
Persiapan/perencanaan diskusi:
Tujuan diskusi harus jelas agar pengarahan diskusi lebih terjamin,
Peserta diskusi harus menempuh persyaratan tertentu dan
jumlahnya disesuaikan dengan sifat diskusi itu sendiri,
Penentuan dan perumusan masalah yang akan didiskusikan harus
jelas, dan
Waktu dan tempat diskusi harus tepat, sehingga tidak akan
berlarut-larut.
Pelaksanaan diskusi:
membuat struktur kelompok (pimpinan, sekretaris, anggota);
membagi tugas dalam diskusi;
merangsang seluruh peserta untuk berpartisipasi;
mencatat ide-ide atau saran-saran yang penting;
menghargai setiap pendapat yang diajukan peserta; dan
menciptakan situasi yang menyenangkan.
Tindak lanjut diskusi:
membuat hasil-hasil atau kesimpulan dari diskusi;
membacakan kembali hasilnya untuk diadakan koreksi seperlunya;
dan
membuat penilaian terhadap pelaksanaan diskusi tersebut untuk
dijadikan bahan pertimbangan dan perbaikan pada diskusi
selanjutnya.
Berhasil tidaknya diskusi banyak bergantung pada faktor:
kepandaian dan kelincahan pimpinan diskusi;
jelas tidaknya masalah dan tujuan yang dirumuskan;
partisipasi dari setiap anggota;
terciptanya situasi yang merangsang jalannya diskusi, dan
mengusahakan masalah supaya cukup problematik dan mendorong
siswa berpikir. Biasanya masalah tersebut dirumuskan dalam bentuk
pertanyaan pikiran (Sudjana, 2009: 79-81).
4. Metode Tugas Belajar dan Resitasi
Tugas belajar dan resitasi berbeda dengan pekerjaan rumah.
Tugas dan resitasi jauh lebih luas dibandingkan dengan pekerjaan rumah.
Tugas ini dapat dikerjakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan, dan di
tempat lainnya. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar,
baik secara individual maupun kelompok (Sudjana, 2009: 81).
Jenis-jenis Tugas
Macam-macam tugas sangat banyak, bergantung pada tujuan
yang akan dicapai, sepeti tugas meneliti, menyusun laporan (lisan/tulisan),
motorik (pekerjaan motorik), laboratorium, dan lain- lain.
Langkah-langkah Menggunakan Metode Tugas dan Resitasi
Fase pemberian tugas;
Tugas yang diberikan kepada siswa sebaiknya
mempertimbangkan:
tujuan yang akan dicapai;
jenis tugas yang jelas dan tepat;
sesuai dengan kemampuan siswa;
ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan
siswa; dan
sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.
Langkah pelaksanaan tugas:
diberikan bimbingan atau pengawasan oeh guru;
diberikan dorongan, sehingga anak mau bekerja;
dikerjakan oleh siswa sendiri; tidak menyuruh orang lain; dan
dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang dia peroleh
dengan baik dan sistematik.
Fase mempertanggungjawabkan tugas
siswa mengerjakan laporan siswa, baik lisan maupun tertulis
dari kegiatan yang telah dilakukannya;
ada tanya jawab atau diskusi kelas; dan
penilaian hasil pekerjaan siswa dengan tes, non tes atau cara
lainnya.
Fase mempertanggungjawabkan tugas inilah yang dinamakan
resitasi (Sudjana, 2009: 81-82).
5. Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok
mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang satu
kesatuan (kelompok) tersendiri atau pun dibagi atas kelompok-kelompok
kecil (sub-sub kelompok) (Sudjana, 2009: 82).
Dasar pengelompokan
Kelompok dapat dibuat berdasarkan:
perbedaan individual dalam kemampuan belajar, terutama apabila
kelas itu sifatnya heterogen dalam belajar;
perbedaan minat belajar, dibuat kelompok yang terdiri atas siswa
yang mempunyai minat sama;
pengelompokkan atas dasar wilayah tempat tinggal siswa, yang
tinggal dalam satu wilayah dikelompokkan menjadi satu kelompok,
sehingga memudahkan koordinasi kerja;
pengelompokkan secara random atau dilotre, tidak melihat faktor-
faktor lain; dan
pengelompokkan atas dasar jenis kelamin, ada kelompok pria dan
kelompok wanita.
Namun, sebaiknya kelompok dibuat heterogen agar tidak berat sebelah
(ada kelompok yang baik dan ada kelompok yang kurang baik).
Jenis kelompok
Dilihat dari proses kerjanya, kerja kelompok ada dua macam yaitu:
Kelompok jangka pendek, artinya jangka waktu untuk bekerja
dalam kelompok tersebut hanya pada saat itu saja. Jadi, sifat
kelompok ini adalah insidental, dan
Kelompok jangka panjang, artinya proses kerja dalam kelompok
itu bukan hanya pada saat itu saja, mungkin berlaku untuk satu
periode tertentu sesuai dengan tugas atau masalah yang akan
dipecahkan.
Petunjuk pelaksanaan bekerja dalam kelompok
Untuk mencapai hasil yang baik, faktor yang harus diperhatikan
adalah:
perlu adanya motif atau dorongan yang kuat untuk bekerja pada
setiap anggota;
pemecahan masalah dapat dipandang sebagai satu unit dipecahkan
bersama atau masalah dibagi-bagi untuk dikerjakan masing-masing
secara individual. Hal ini bergantung pada kompleks tidaknya
masalah yang akan dipecahkan;
persaingan yang sehat antarkelompok biasanya mendorong anak
untuk belajar; dan
situasi yang menyenangkan antaranggota banyak menentukan
berhasil tidaknya kerja kelompok (Sudjana, 2009: 82-83).
6. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Demonstrasi dan eksperimen merupakan metode megajar yang
sangat efektif sebab membantu para siswa untuk mencari jawaban dengan
usaha sendiri berdasarkan fakta (data) yang benar. Demonstrasi yang
dimaksud adalah suatu metode mengajar yang memperlihatkan proses
terjadinya sesuatu. Dalam pelaksanaannya, demonstrasi dan eksperimen
dapat digabungkan. Artinya, demonstrasi dulu lalu diikuti dengan
eksperimen.
Kedua metode ini digunakan apabia siswa bermaksud
mengetahui tentang:
Bagaimana proses mengaturnya?;
Bagaimana proses membuatnya?;
Bagaimana proses bekerjanya?;
Bagaimana proses mengetahui kebenarannya?;
Terdiri dari apa?; dan
Cara mana yang paling baik?.
Petunjuk penggunaan metode demonstrasi dan eksperimen adalah sebagai
berikut.
Persiapan/perencanaan;
tetapkan tujuan demonstrasi dan eksperimen;
tetapkan langkah-langkah pokok dan eksperimen; dan
siapkan alat-alat yang diperlukan.
Pelaksanaan demonstrasi dan eksperimen;
usahakan demonstrasi dan eksperimen dapat diikuti, diamati oleh
seluruh kelas;
tumbuhkan sikap kritis pada siswa, sehingga terdapat tanya jawab,
dan diskusi tentang masalah yang didemonstrasikan;
berilah kesempatan setiap siswa untuk mencoba, sehingga siswa
merasa yakin tentang kebenaran suatu proses; dan
buatlah penilaian dari kegiatan siswa, dalam eksperimen tersebut.
Tindak lanjut dan eksperimen
Setelah demonstasi dan eksperimen selesai, guru dapat
memberikan tugas kepada siswa, baik secara tertulis maupun lisan,
misalnya membuat karangan laporan, dan lain-lain. Dengan demikian,
guru menilai sejauh mana hasil demonstrasi dan eksperimen dipahami
siswa (Sudjana, 2009: 84-85).
7. Metode Sosiodrama (Role-Playing)
Metode sosiodrama dan role-playing dapat dikatakan sama
artinya dan pemakaiannya sering bergantian. Sosiodrama pada dasarnya
mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah
sosial (Sudjana, 2009: 84).
Tujuan sosiodrama
Tujuan sosiodrama antara lain:
agar siswa dapat menghayati dan menghargai orang lain;
dapat belajar membagi tanggung jawab;
dapat belajar mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara
spontan; dan
merangsang kelas untuk berpikir dan memcahkan masalah.
Petunjuk mengunakan metode sosiodrama:
tetapkan dulu masalah-masalah sosial yang menarik perhatian
siswa untuk dibahas;
ceritakan kepada kelas mengenai isi dari masalah-masalah dalam
konteks masalah tersebut;
tetapkan siswa yang dapat atau yang bersedia untuk memainkan
peranannya di depan kelas;
jelaskan kepada pendengar mengenai peranan mereka pada waktu
sosiodrama sedang berlangsung;
beri kesempatan kepada para pelaku untuk berunding beberapa
menit sebelum mereka memainkan perannya;
akhiri sosiodrama pada waktu pembicaraan mencapai ketegangan;
akhiri sosiodrama dengan diskusi kelas untuk bersama-sama
memecahkan masalah persoalan yang ada pada sosiodrama
tersebut; dan
nilailah hasil sosiodrama tersebut sebagai bahan pertimbangan
lebih lanjut (Sudjana, 2009: 85).
8. Metode Problem Solving
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan
hanya sekedar metode mengajar tetapi juga metode berpikir. Sebab, dalam
problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai
dengan mencari data sampai menarik kesimpulan (Sudjana, 2009: 85).
Langkah-langkah metode problem solving:
adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus
tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya;
mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah tersebut. Misalnya, dengan cara membaca
buku-buku, meneliti, bertanya, berdiskusi, dan lain-lain;
menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban
ini tentu saja didasarkan pada data yang teah didapatkan pada langkah
kedua di atas;
menguji kebenaran jawaban sementara dari masalah tersebut.
Dalam langkah ini, siswa harus berusaha memecahkan masalah,
sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut betul-betul
cocok. Untuk menguji kebenaran jawaban ini, tentu saja diperlukan
metode-metode lainnya. Sebagai contoh, demonstrasi, tugas
diskusi, dan lain-lain;
menarik kesimpulan berarti siswa harus sampai kepada
kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tadi (Sudjana,
2009: 86).
9. Metode Sistem Regu (Team Teaching)
Team teaching adalah metode mengajar dua orang guru atau
lebih bekerja sama dengan mengajar sebuah kelompok siswa. Jadi, kelas
dihadapi beberapa guru. Banyak macam sistem regu karena satu regu tidak
senantiasa guru secara formal saja tetapi dapat melibatkan orang-orang
kuar yang dianggap sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan (Sudjana,
2009: 86).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan metode ini adalah
sebagai berikut:
harus terdapat program pelajaran yang disusun bersama oleh tim
tersebut, sehingga betul-betul jelas dan terarah sesuai dengna tugas
masing-masing guru dalam tim tersebut;
membagi tugas tiap topik kepada guru yang bersangkutan,
sehingga masalah bimbingan siswa dapat terarah dengan baik;
setiap anggota dalam satu regu harus mempunyai pandangan atau
pengetian yang sama; dan
perlu pencegahan adanya jam bebas akibat ketidakhadiran seorang
guru anggota tim tersebut (Sudjana, 2009: 86).
10. Metode Latihan (Drill)
Metode latihan biasanya digunakan untuk memperoleh suatu
ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari. Latihan ini
kurang mengembangkan bakat dan inisiatif siswa untuk berpikir, maka
hendaknya guru memperhatikan metode ini seperti:
latihan, wajar digunakan untuk hal-hal yang bersifat motorik.
Misalnya, menulis, permainan, pembuatan, dan lain-lain;
untuk melatih kecakapan mental, misalnya perhitungan penggunaan
rumus-rumus, dan lain-lain; serta
untuk melatih hubungan, tanggapan, seperti penggunaan bahasa,
grafik, simbol peta, dan lain-lain (Sudjana, 2009: 86-87).
Prinsip dan petunjuk menggunakan metode ini:
siswa harus diberi pengertian yang mendalam sebelum diadakan
latihan tertentu;
latihan untuk pertama kali sebainya bersifat diagnosis, mula-mula
kurang berhasil, lalu diadakan perbaikan untuk kemudian dapat lebih
sempurna;
latihan tidak perlu lama asalkan sering dilakukan;
harus disesuaikan dengan taraf kemampuan siswa; dan
proses latihan hendakya mendahulukan hal-hal yang essensial dan
berguna (Sudjana, 2009: 87).
11. Metode Karyawisata (Field-trip)
Karyawisata yang dimaksudkan adalah kunjungan ke luar kelas
dalam rangka belajar. Misalnya, guru mengajak siswa berkunjung ke Balai
Desa untuk mengetahui jumlah penduduk dan susunannya pada desa teresebut
selama satu jam pelajaran. Jadi, karyawisata tersebut tidak mengambil tempat
yang jauh dari sekolah dan tidak memerlukan waktu yang lama.
Karyawisata dalam waktu yang lama dan tempat yang jauh disebut study
tour. Langkah-langkah pokok dalam metode ini adalah sebagai berikut:
Perencanaan karyawisata;
merumuskan tujuan wisata;
menetapkan objek karyawisata sesuai dengan tuuan yang hendak
dicapai;
mentapkan lamanya karyawisata;
menyusun rencana belajar bagi siswa selama karyawisata; dan
merencanakan perlengkapan belajar yang harus disediakan.
Langkah pelaksanaan karyawisata:
Dalam fase ini adalah pelaksanaan kegiatan belajar di tempat
karyawisata dengan bimbingan guru. Kegiatan belajar ini harus
diarahkan dengan bimbingan guru. Kegiatan belajar ini harus
diarahkan pada tujuan yang telah ditetapkan pada fase perencanaan.
Tindak lanjut
Pada akhir karyawisara siswa harus memberikan laporan, baik
lisan maupun tertulis, yang merupakan inti masalah pembelajaran pada
waktu karyawisata (Sudjana: 2009: 87-88).
12. Metode Resource Person (Manusia Sumber)
Metode resource person adalah metode yang melibatkan orang
luar untuk memberikan pelajarn kepada siswa. Oran luar ini diharapkan
memiliki keahlian khusus, misalnya Petugas Penyuluhan Lapangan (PPL),
Pertanian diminta untuk memberikan penjelasan Panca Usaha Tani di
depan kelas. Orang luar tersebut dapat dikunjungi di tempat dia bekerja.
Jadi, siswa pergi ke tempat resource person. Namun, dapat pula
sebaliknya, resource person diundang ke sekolah. Cara demikian disebut
resource-visitor (Sudjana: 2009: 88).
Petunjuk menggunakan metode ini:
Persiapan
Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah tujuan yang
akan dicapai dengan adanya resource person, orang yang akan
dijadikan resource, materi yang akan diminta diajarkan kepada
siswa, lama dia akan mengajar, dan lain-lain.
Pelaksanaan resource person mengajar
Dalam pelaksanaan ini, perlu diperhatikan kegiatan belajar
siswa, seperti tanya jawab, diskusi antarsiswa dengan resource tadi
(Sudjana: 2009: 88).
13. Metode Survei Masyarakat
Survei berarti cara untuk mendapatkan informasi atau keterangan
dari jumlah unit tertentu dengan jalan observasi dan komunikasi langsung.
Banyak sekali jenis survei ini, seperti social survey, community survey,
school survei, dan lain-lain. Masalah yang dipelajari dalam survei adalah
maslah-masalah dalam kehidupan sosial. Untuk mempelajari masalah-
masalah sosial atau masalah yang terjadi pada masyarakayt dapat
digunakan observasi dan wawancara (Sudjana: 2009: 89).
Observasi adalah pengamatan terhadap gejala atau tingkah laku
tertentu dari objek yang diselidiki, baik dalam situasi yang sebenarnya
maupun dalam situasi buatan. Observasi dibedakan menjadi observasi
langsung dan observasi tidak langsung (menggunakan alat). Sedangkan,
wawancara adalah komunikasi langusngh antara pewawancara
(interviewer) dengan yang diwawancara (interviewe) untuk mengungkap
persoalan yang diinginkan. Wawancara dilakukan dalam situasi yang
bebas penuh keakraban, sehingga (interviewe) dapat mengemukakan
pendapatnya secara bebas dan perasaan senang (Sudjana: 2009: 89).
14. Metode Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya pura-pura atau
berbuat seolah-olah. Kata simulation artinya tiruan atau perbuatan yang
pura-pura. Dengan demikian, simulasi dalam metode mengajar
dimaksudkan sebagai cara untuk menjelaskan bahan pelajaran melalui
perbuatan yang bersifat pura-pura atau melalui proses tingkah laku yang
dilakukan seolah-olah dalam keadaan sebenarnya. Contoh simulasi adalah
simulasi P4, peragaan pemilu (pemilihan umum) yang dikenal dengan
istilah santiaji, dan gladiresik. Simulasi sebagai metode mengajar
bertujuan untuk:
melatih keterampilan tertentu, baik bersifat profesional maupun bagi
kehidupan sehari-hari;
memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip;
melatih memecahkan masalah;
meningkatkan keaktifan belajar dengan melibatkan siswa dalam
mempelajari situasi yang hampir serupa dengan kejadian yang
sebenarnya;
memberikan motivasi belajar kepada siswa;
melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok;
menumbuhkan daya kreatifitas siswa; dan
melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.
Bentuk Simulasi:
peer teaching, yaitu latihan mengajar yang dilakukan oleh siswa
kepada teman-teman calon guru;
sosiodrama, yaitu bermain peranan yang ditunjukkan untuk
menentukan alternatif pemecahan masalah sosial;
psikodrama, yaitu bermain peranan yang ditujukan agar siswa
mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, dapat
menemukan konsep diri, dan dapat menyatakan reaksinya terhadap
tekanan yang menimpanya. Dengan demikian, psikodrama dilakukan
untuk maksud terapi (masalah yang bersifat psikologis).
simulasi game, yaitu bermain peranan; para siswa berkompetisi untuk
mencapai tujuan tertentu melalui permainan dengan memenuhi
peraturan yang ditetapkan.
role playing, yaitu bermain peranan yang ditujukan untuk mengkreasi
kembali peristiwa masa lampau, mengkreasi kemungkinan masa
depan, menekspose kejadian masa kini, dan sebagainya.
Langkah-langkah pelaksanaan simulasi adalah sebagai berikut:
Guru menentukan topik dan tujuan simulasi (akan lebih baik jika
dipilih bersama siswa),
Guru memberikan gambaran garis besar situasi yang akan
disimulasikan,
Guru membentuk kelompok, peranan, ruangan, materi, dan alat yang
diperlukan,
Guru memilih pemain peran,
Guru memberi penjelasan kepada kelompok dan pemain peran tentang
hal-hal yang harus dilakukan,
Guru memberi kesempatan bertanya kepada siswa mengenai hal-hal
yang berkenaan dengan simulasi (Sudjana: 2009: 89-91).
C. Kedudukan Metode dalam Belajar Mengajar
Kedudukan metode dalam belajar mengajar adalah sebagai berikut.
1. Metode sebagai alat motivasi intrinsik
Sebagai salah satu komponen pengajaran, metode menempati
peran yang tidak kalah pentingnya dari komponen lainnya dalam
kegiatan belajar mengajar. Tidak ada satu pun kegiatan belajar yang tidak
menggunakan metode pengajaran. Ini berarti guru memahami benar
kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar
mengajar. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya,
karena adanya perangsang dari luar. Karena itu, metode berfungsi sebagai
alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang.
2. Metode Sebagai Strategi Pengajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu
berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Daya serap anak didik terhadap
bahan yang diberikan bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang lambat
dan ada yang sedang. Faktor intelegensi memepengaruhi daya serap anak
didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Karena itu,
dalam kegiatan belajar mengajar, menurut Dra. Roestiyah N.K (1989;1)
guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif
dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan.
3. Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan dicapai dalam kegiatan
belajar mengajar. tujuan adalah pedoman yang memberi arah ke mana
kegiatan belajar mengajar akan dibawa. Tujuan dari kegiatan belajar mengajar
tidak akan pernah tercapai selama komponen-komponen lainnya tidak
diperlukan. Salah satunya adalah komponen metode. Metode adalah salah
satu alat untuk mencapai tujuan. Dengan memanfaatkan metode secara
akurat, guru akan mampu mencapai tujuan pengajaran (Admin Eurika,
2013).
D. Praktek Penggunaan Metode Pembelajaran
Praktek penggunaan metode pembelajaran dalam dunia pendidikan
adalah sebagai berikut.
1. Ceramah, Tanya Jawab, dan Tugas
Berikut langkah yang mungkin dilakukan saat menggunakan
kombinasi ini.
Nomor Langkah Jenis kegiatan belajar mengajar
1 Persiapan Menciptakan kondisi belajar siswa.
2 Pelaksanaan Penyajian, tugu menyampaikan bahan
pelajaran (metode ceramah).
Asosialisasi/komparasi, artinya memberi
kesempatan kepa siswa untuk menghubungkan
dan membandingkan materi ceramah yang
telah diterimanya dengan tanya jawab.
Generisasi/kesimpulan, memberikan tugas
kepada iswauntuk membuat kesimpulan
melalui hasil ceramah.
3 Evaluasi / Mengadakan penilaian terhadap pemahaman
tindak lanjut siswa mengenai bahan yang telah diterimanya

2. Ceramah, Diskusi, dan Tugas


Tidak jauh berbeda dengan kombinasi yang pertama, disini
hanya mengganti metode tanya jawab dengan diskusi siswa.
Nomor Langkah Jenis kegiatan belajar mengajar
1 Persiapan Mempersiapkan kondisi belajar siswa
Memberikaninformasi/penjelasan tentang
tugas dalam diskusi (metode ceramah).
Mempersiapkan sarana/prasarana untuk
melakukan diskusi (tempat, peserta dan waktu)
2 Pelaksanaan Siswa melakukan diskusi
Guru merangsang seluruh peserta berdiskusi
Memberikan kesempatan kepada semua
anggota untuk aktif
Mencatat tanggapan/saran dan ide-ide yang
penting
3 Evaluasi/tindak Memberikan tugas kepada siswa untuk :
lanjut Membuat kesimpulan diskusi

3. Ceramah, Demonstrasi dan Eksperimen


Nomor Langkah Jenis kegiatan belajar mengajar
1 Persiapan Menciptakan kondisi belajar siswa untuk
melaksanakan metode demonstrasi dengan:
Menyediakan alat-alat demonstrasi
Tempat duduk

2 Pelaksanaan Mengajukan masalah kepada siswa (ceramah)


Melaksanakan demonstrasi:
Menjelaskan dan mendemonstrasikan
suatu prosedur atau proses
Usahakan seluruh siswa dapat
mengikuti/mengamatidemonstrasi
dengan baik
Beri penjelasan yang padat tetapi
singkat
Hentikan demonstrasi kemudian
lakukan tanya jawab
3 Evaluasi/tindak Beri kesempatan pada siswa untuk tindak lanjut
lanjut mencoba melakukan sendiri (metode
eksperimen)
Membuat kesimpulan hasil demonstrasi
Mengajukan pertanyaan kepada siswa

4. Sosiodrama, Ceramah, dan Diskusi


Nomor Langkah Jenis kegiatan belajar mengajar
1 Persiapan Menentukan dan menceritakan situasi sosial yang akan
didramatisasikan (metode ceramah)
Memilih para pelaku
Mempersiapkan pelaku untuk menentukan persanan
masing-massing
2 Pelaksanaan Siswa melakukan sosiodrama
Guru menghentikan sosiodrama pada saat situasi
sedang memuncak (tegang)
Akhiri sosiodrama denga diskusi tentang jalan cerita,
atau pemacahan masalah selanjutnya.
3 Evaluasi/tindak Siswa diberi tugas untuk menilai atau memberi
lanjut tanggapan terhadap pelaksanaan sosiodrama
Siswa diberi kesempatan untuk membuat kesimpulan
hasil sosiodrama

5. Ceramah, Problem Solving, dan Tugas


Nomor Langkah Jenis kegiatan belajar mengajar
1 Persiapan Menentukan dan menjelaskan masalah (metode
ceramah)
Menyediakan alat/buku-buku yang relevan
dengan masalah tersebut.
2 Pelaksanaan Siswa mengadakan identifikasi masalah
Merumuskan hipotesis atau jawaban sementara
dalam memecahkan massalah tersebut
Mengumpulkan data atau keterangan yang
relevan dengan masalah
Menguji hipotesis (siswa berusaha
memecahkan masalah yang dihadapinyadengan
data yang ada)
3 Evaluasi/tindak Membuat kesimpulan pemecahan masalah
lanjut Memberikan tugas kepada siswa untuk
mencatat hasil pemecahan masalah (metode
tugas)

6. Ceramah, Demonstrasi, dan Latihan


Nomor Langkah Jenis kegiatan belajar mengajar
1 Persiapan Menyediakan peralatan yang diperlukan
Menciptakan kondisi anak untuk belajar.

2 Pelaksanaan Memberikan pengertian/penjelasan


sebelum latihan dimulai (metode ceramah)
Demonstrasi proses atau prosedur itu oleh
gurudan siswa mengamatinya
Siswa diberi kesempatan mmengadakan
latihan (metode latihan)
yang dihadapin dengan data yang ada
3 Evaluasi/tindak Siswa membuat kesimpulan dari latihan
lanjut yang ia lakukan.
Guru bertanya kepada siswa

Dan masih banyak lagi kombinasi metode yang dapat dilakukan oleh
guru dalam proses pembelajaran. Ini lah salah satu waktu di mana seorang guru
dituntut menjadi seorang yang kreatif dalam melaksanakan kewajibannya
(Sudjana, 2009: 91-97).
E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Pembelajaran
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode pembelajaran
adalah sebagai berikut.
1. Anak didik
Anak didik adalah manusia yang berpotensi yang menghajatkan
pendidikan. Di sekolah gurulah yang berkewajiban untuk mendidiknya. Di
ruang kelas guru akan berhadapan dengan sejunlah anak didik dengan latar
belakang kehidupan yang berlainan. Dari aspek psikologis di sekolah,
perilaku anak didik selalu menunjukkan perbedaan, ada yang pendiam, ada
yang kreatif, ada yang suka bicara, ada yang tertutup (introver), ada yang
terbuka (ekstrover), ada yang pemurung, ada yang periang dan sebagainya.
2. Tujuan
Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar
mengajar tujuan dalam pendidikan dan pengajaran berbagai jenis dan
fungsinya. Secara hierarki tujuan itu bergerak dari yang terendah hingga
yang tinggi, yaitu tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran, tujuan
kurikuler atau tujuan kurikulum, tujuan institusional, dan tujuan
pendidikan nasional.
3. Situasi
Situasi kegiatan belajar mengajar yang guru ciptakan tidak
selamanya sama dari hari ke hari. Pada suatu waktu boleh jadi guru ingin
menciptakan situasi belajar mengajar di alam terbuka, yaitu di luar ruang
sekolah. Maka guru dalam hal ini tentu memilih metode mengajar yang
sesuai dengan situasi yang diciptakan itu.
4. Fasilitas
Fasilitas adalah hal yang mempengaruhi pemilihan dan
penentuan metode mengajar. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang
belajar anak didik sekolah.
5. Guru
Latar belakang pendidikan guru diakui mempengaruhi
kompetensi. Kurangnya penguasaan terhadap berbagai jenis metode
menjadi kendala dalam memilih dan menetukan metode (Admin Eurika,
2013).
DAFTAR PUSTAKA

Admin Eurika. (2013). Pengertian metode pembelajaran. Diunduh tanggal 10


September 2015 pukul 12.19 dari
http://www.eurekapendidikan.com/2014/10/pengertian-metode-
pembelajaran.html.

Rahmawati, S. (2014). Pembelajaran ppkn sd. Yogyakarta: Program Studi


Pendidikan Sekolah Dasar Universitas PGRI Yogyakarta.

Sudjana, N. (2009). Dasar-dasar proses belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru


Algensindo.

Nama: Ayunda Silvia Dewi Ernawan

NPM: 13144600231

Prodi: PGSD

FKIP Universitas PGRI Yogyakarta