Anda di halaman 1dari 4

DASAR-DASAR FILSAFAT

Diberikan untuk LATIHAN KADER II ( INTERMEDIATE TRAINING)

HMI Cab. Pekanbaru

25 Rabiul Tsani 1438 H-23 Januari 2017

Oleh Harry Firdaus

A. Pengertian Filsafat

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia: philein artinya cinta, mencintai,
philos pecinta, sophia kebijaksanaan atau hikmat. Jadi filsafat artinya cinta akan
kebijaksanaan. Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang
sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang
sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati.

Dalam perkembangan selanjutnya, orang Arab memindahkan kata


Yunani philosophia ke dalam bahasa Arab menjadi falsafa. Hal ini sesuai dengan tabiat
susunan kata-kata Arab dengan pola falala, falalahdan filal. Karenanya, kata benda dari
kata kerja falsafa seharusnya falsafah dan filsafat.

Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan Filsafat adalah suatu ilmu, yang berusaha
menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Bolehlah filsafat disebut
sebagai: suatu usaha untuk berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang
mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Hal yang membawa usahanya itu kepada suatu
kesimpulan universal dari kenyataan partikular atau khusus, dari hal yang tersederhana
sampai yang terkompleks. Filsafat, Ilmu tentang hakikat. Di sinilah kita memahami
perbedaan mendasar antara filsafat dan ilmu (spesial) atau sains.

B. Obyek Pembahasan Filsafat

Paling tidak terdapat tida bahasan pokok yang menjadi obyek dari pembahasan filsafat.
Obyek tersebut adalah sebagai berikut:
a. Ontologi atau al-Wujud;
b. Epistimologi atau al-Marifat;
c. Aksiologi atau al-Qayyim.

Pembahasan ontology mencakup hakikat segala yang ada (al-manjudat). Dalam dunia
filsafat yang mungkin ada termasuk dalam pengertian yang ada. Dengan kata lain, yang
mungkin ada merupakan salah satu jenis yang ada. Dan ia tidak dapat dimasukkan ke
dalam kelompok yang tiada, dalam arti tidak ada atau mustahil ada. Umumnya bahasan
yang ada terbagi menjadi dua bidang, yakni fiska dan metafisika. Bidang fisika mencakup
tentang manusia, alam semesta, dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya, baik
benda hidup maupun benda mati. Sedangkan bidang metafisika membahas masalah
ketuhanan dan masalah imateri.
Pembahasan epistimologi berkaitan dengan hakikat pengetahuan dan cara bagaimana
atau dengan sarana apa pengetahuan dapat diperoleh. Ada dua teori dalam hal ini. Teori
pertama yang disebut dengan realisme, berpandangan bahwa pengetahuan adalah gambar
atau kopi yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata. Gambaran atau
pengetahuan yang ada dalam akal adalah kopi dari yang asli yang terdapat di luar akal.
Namun, pengetahuan tersebut, menurut teori ini, sesuai dengan kenyataan yang ada.
Teori kedua disebut dengan idealisme, berpandangan bahwa pengetahuan adalah
gambaran menurut pendapat atau penglihatan orang yang mengetahui. Berbeda dengan
realisme, pengetahuan menurut teori ini berarti menggambarkan kebenaran yang
sebenarnya karena, menurutnya, pengetahuan yang sesuai dengan kenyataan adalah
mustahil.
Sementara itu, tentang metode-metode untuk memperoleh pengetahuan terdapat dua
teori pula.Pertama, teori empirisme, yakni berpandangan bahwa pengetahuan diperoleh
dengan perantaraan pancaindra. Alat utama inilah yang memperoleh kesan-kesan dari apa
yang ada di alam nyata. Kesan-kesan tersebut berkumpul dalam diri manusia yang
kemudian menyusun, dan mengaturnya menjadi pengetahuan. Kedua, teori yang disebut
dengan rasionalisme, berpandangan bahwa pengetahuan diperoleh dengan perantaraan
akal. Memang untuk memperoleh data-data dari alam nyata dibutuhkan pancaindra, tetapi
untuk menghubung-hubungkan satu data dengan data lainnya atau untuk menerjemahkan
satu kejadian dengan kejadian lainnya yang terjadi di alam nyata ini diperlukan sekali akal.
Andai bersandar pada pancaindra semata, manusia tidak akan mampu menafsirkan
proses alamiah yang terjadi di semesta raya ini. Jadi, akalah yang menyusun konsep-
konsep rasional yang disebut dengan pengetahuan. Pengetahuan inilah yang kemudian
dapat berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan manusia.
Pembahasan aksiologi berkaitan dengan hakikat nilai. Dalam menentukan hakikat atau
ukuran baik dan buruk dibahas dalam filsafat etika atau akhlak. Dalam menentukan hakikat
atau ukuran salah dan benar dibahas dalam filsafat logika atau mantiq. Sementara dalam
menentukan ukuran indah dan tidaknya dibahas dalam filsafat estetika atau jamal.

C. Filsafat Islam

Ada sejumlah pengertian yang dinisbatkan pada filsafat Islam. Prof. Dr. H. Sirajuddin
misalnya, menjelaskan bahwa filsafat Islam adalah perkembangan pemikiran umat Islam
dalam masalah ketuhanan, kenabian, manusia dan alam semesta yang disinari ajaran Islam.
Ada sejumlah definisi pula yang dirangkum oleh para penulis Muslim, di antaranya adalah
sebagai berikut:

Ibrahim Madkur, filsafat Islam adalah pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk
menjawab tantangan zaman, yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal,
agama dan filsafat.
Ahmad Fuat Al-Ahwaniy, filsafat Islam adalah pembahasan tentang alam dan
manusia yang disinari ajaran Islam.
Muhammad Athif Al-Iraqy, filsafat Islam secara umum di dalamnya tercakup di
dalamnya ilmu kalam, ilmu ushul fiqih, ilmu tasawuf, da ilmu pengetahuan lainnya
yang diciptakan oleh intelektual Islam. Pengertiannya secara khusus, ialah pokok-
pokok atau dasar-dasar pemikiran filosofis yang dikemukakan para filosof Muslim.
Sebagai sebuat ilmu, filsafat Islam juga memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan
filsafat umum lainnya, misalnya filsafat Yunani. Secara sederhana karakteristik filsafat Islam
dapat dirangkum menjadi tiga.

Filsafat Islam membahas masalah yang sudah pernah dibahas dalam filsafat
Yunani dan lainnya, seperti ketuhanan, alam, dan roh. Akan tetapi, selain cara
penyelesaian dalam filsafat Islam berbeda dengan filsafat lain, para filosof Muslim
juga mengembangkan dan menambahkan ke dalamnya hasl-hasil pemikiran
mereka sendiri. Sebagaimana bidang lainnya (teknik), dilsafat sebagai induk ilmu
pengetahuan diperdalam dan disempurnakan oleh generasi yang datang
sesudahnya.
Filsafat Islam membahas masalah yang belum pernah dibahas oleh filsafat
sebelumnya seperti filsafat kenabian (al-nazhariyyat al-nubuwwat).
Dalam filsafat Islam terdapat pemaduan antara agama dan filsafat, antara akidah
dan hikmah, antara wahyu dan akal. Bentuk ini banyak terlihat dalam pemikiran
filosof Muslim, seperti al-Madinat al-Fadhilat (Negara Utama) dalam filsafat Al-
Farabi: bahwa yang menjadi kepala Negara adalah nabi atau filosof. Begitu pula
pendapat Al-Farabi pada Nadhariyyat al-Nubuwwat(filsafat kenabian): bahwa nabi
dan filosof sama-sama menerima kebenaran dari sumber agama, yakni Akal Aktif
(Akal X) yang juga disebut Malaikat Jibril. Akan tetapi, berbeda dari segi teknik,
filosof melalui Akal Perolehan (mustafad) dengan latihan-latihan, sedangkan nabi
dengan akal had yang memiliki daya yang kuat (al-qudsiyyat) jauh kekuatannya
melebihi Akal Perolehan filosof.
Dengan demikian jelaslah bahwa filsafat Islam merupakan hasil pemikiran umat Islam
secara keseluruhan. Pemikiran umat Islam ini merupakan buah dari dorongan ajaran Al-
Quran dan hadits. Kedudukan akal yang tinggi dalam kedua sumber ajaran Islam tersebut
bertemu dengan peranan akal yang besar dan ilmu pengetahuan yang berkembang maju
dalam peradaban umat lain, terutama peradaban Yunani, Persia, dan India. Dengan kata
lain, umat Islam merupakan pewaris tradisi peradaban ketiga bangsa tersebut, yang
sebelumnya telah mewarisi pula peradaban bangsa sekitarnya seperti Babilonia, Mesir,
Ibrani, dan lainnya.