Anda di halaman 1dari 7

Surabaya sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, merupakan pusat

pertumbuhan orde pertama yang telah menjadi magnet terkuat bagi penduduk di
daerah penyangga (hinterland), terutama daerah perdesaan sekitar kota
tersebut. Keberadaan Kota Surabaya tersebut merupakan bagian dari daerah
perkotaan (urban) di Indonesia, khususnya di P.Jawa. Secara makro, pertumbuhan
penduduk perkotaan di P.Jawa terus berkembang sehingga Jawa telah dijuluki
sebagai urban island. Mereka datang ke Kota Surabaya karena di tempat tersebut
banyak pilihan untuk memperoleh berbagai kesempatan dalam upaya memperbaiki
kehidupannya. Mereka datang ke Kota Surabaya dengan berbagai motif, meskipun
motif ekonomi adalah unsur yang paling dominan. Mereka mempunyai persepsi dan
harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi daripada di daerah asal,
terutama perdesaan. Meskipun demikian, pesatnya pertumbuhan penduduk Kota
Surabaya selain disebabkan oleh proses migrasi, juga karena pertambahan alami.
Kota Surabaya itu sendiri telah berkembang dalam proses interaksi dari komponen
keadaan penduduk, teknologi, lingkungan dan organisasi perkotaan sehingga telah
melahirkan ecological urban complex.

Sejalan dengan kondisi yang demikian maka di Kota Surabaya, seperti halnya kota-
kota metropolitan yang lain, muncul kamajemukan masyarakat. Sebagian dari
sekmen masyarakat yang majemuk tersebut adalah penduduk yang tinggal di daerah
perkampungan kumuh baik yang legal maupun yang ilegal. Penduduk yang bermukim
di kampung yang ilegal lazim disebut penduduk liar atau penduduk spontan
atau squatters. Hal tersebut telah menjadi fenomena sosial yang universal, artinya
telah terjadi di banyak negara. Keberadaan masyarakat kumuh tersebut merupakan
realita sosial yang tidak dapat dihilangkan, sepanjang penduduk daerah penyangga
Kota Surabaya masih hidup dalam kondisi marginal atau telah terjadi proses
ketimpangan dalam kehidupan sosial-ekonomi. Pembangunan investasi yang
bergerak pesat telah terjadi di Surabaya sehingga telah memperlebar jurang
ketimpangan dengan kondisi sosial-ekonomi daerah perdesaan. Oleh karena itu
ketimpangan tersebut telah menimbulkan proses migrasi , antara lain penduduk non-
permanen pada strata sosial-ekonomi bawah.

Pada tataran regional, adanya proses kaitan (lingkage) yang kurang harmonis antara
Kota Surabaya dengan daerah belakang telah berlangsung puluhan tahun.
Kehidupan mereka di Surabaya telah ditunjukkan oleh rendahnya kualitas pendidikan
migran non-permanen dan umumnya mereka bekerja sebagai buruh dan sebagian
lain berusaha pada sektor informal. Sepanjang pekerjaan di sektor informal maupun
buruh murah masih ada demand di masyarakat Surabaya dan dinilai secara ekonomi
menguntungkan, maka keberadaan mereka akan tetap ada. Pilihan mereka menjadi
tukang becak, menjadi pemulung, menjadi penjual pakaian bekas, penjaja makanan
murah, menjadi buruh babrik, menjadi pembantu rumahtangga, adalah pilihan jenis
pekerjaan yang rasional dan menjadi tujuan mengingat tingkat kemampuan ekonomi
dan tingkat pendidikan mereka yang umumnya sangat rendah.

Oleh karena itu keberadaan penduduk marginal di lingkungan permukiman


kumuh Kota Surabaya merupakan suatu keniscayaan, dan tidak perlu
dipertentangkan dengan upaya pemerintah daerah Kota Surabaya yang ingin
meningkatkan keindahan dan kenyamanan lingkungan kota. Pemerintah Kota
Surabaya tidak dapat melarang seseorang yang ingin bermigrasi, karena hak asasi
manusia telah melindunginya, walaupun mereka seharusnya mematuhi perundang-
undangan yang berlaku dan menghormati nilai-nilai yang hidup pada masyarakat Kota
Surabaya. Dalam hal ini kegiatan penduduk marginal di permukiman kumuh dapat
dilihat sebagai sub-sistem dari sistem perkotaan Surabaya. Penduduk migran non-
permanen yang bermukim di daerah kumuh antara lain berada di Kelurahan Putat
Gede, Kelurahan Tg.Sari, Kelurahan Suko Manunggal, Kelurahan Pacar Keling,
Kelurahan Kr.Pilang dan Kelurahan Waru Gunung, cenderung didominasi oleh
penduduk dari daerah perdesaan sekitar Kota Surabaya seperti Bangkalan, Gresik,
Lamongan dan Mojokerto, meskipun mereka banyak pula yang datang dari daerah
lain, bahkan dari luar provinsi Jawa Timur.

Migran non-permanen yang banyak tinggal di daerah permukiman ilegal tersebut


sering disebut sebagai penduduk spontan atau disebut secara popular sebagai
migran musiman , ternyata masih terikat dengan kehidupan daerah asalnya. Oleh
karena itu sebagian besar dari mereka belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP)
Kota Surabaya. Atas dasar pemilikan KTP Pemkot Surabaya telah membuat
kebijakan dengan memberi prioritas dalam memperoleh atau memanfaatkan
bantuan, fasilitas publik dan subsidi. Meskipun ada kebijakan yang diskriminatif
namun dalam kenyataan sebagian warga musiman dapat ikut menikmatinya. Dalam
hal ini terkesan bahwa pemerintah kota tidak ketat antara status kependudukan
dengan hak-hak warganya. Aturan kependudukan yang tidak diikuti oleh ketegasan
dalam implementasinya, tentunya telah membuat kondisi yang kondusif terjadinya
migrasi masuk ke Surabaya, yang pada gilirannya menimbulkan berbagai masalah
perkotaan, antara lain ketidakcukupan penyediaan fasilitas sosial, munculnya konflik
tanah, penurunan daya dukung lingkungan, dan meningkatnya pengangguran.

Penduduk musiman yang umumnya hidup dalam kondisi marginal, diharuskan


memiliki Kartu Identitas Penduduk Musiman (KIPEM), namun untuk mengurus
KIPEM, apalagi menjadi warga Surabaya tidaklah sederhana. Mereka
harus mengorbankan sejumlah dana dan waktu pengurusan yang dinilai cukup
memberatkan. Di samping itu, dengan tetap mempertahankan sebagai warga
musiman, berarti mereka tidak kehilangan statusnya sebagai warga di daerah
asalnya. Dengan memiliki KTP daerah asal, berarti mereka masih tetap memiliki hak
untuk melakukan berbagai urusan di daerah asalnya misalnya memilih kepala desa,
mengurus pemilikan aset, dan mengurus tempat pemakaman. Oleh karena itu
meskipun secara de fakto mereka tinggal di Surabaya, namun masih tetap terikat
dengan daerah asalnya, bahkan telah terjadi arus remitan baik uang maupun barang,
dan penyampaian ide-ide seputar kehidupan di Surabaya. Dalam keadaan demikian
maka hal ini telah menimbulkan proses migrasi desa-kota secara gandeng-
ceneng (chain migration). Hasil penelitian PPK-LIPI (2004) telah menunjukkan
bahwa tidak semua pendatang, (meskipun telah lama tinggal di Surabaya, bahkan
telah punya rumah), mempunyai KIPEM. Oleh karena itu dalam kenyataan jumlah
pendatang musiman di Surabaya adalah di atas data statistik berdasarkan
kepemilikan KIPEM.

Keberadaan migran non-permanen di permukiman kumuh yang menempati lahan


milik pemerintah atau milik publik, dapat dikategorikan sebagai hunian ilegal atau
lazim disebut hunian liar ( squatter). Hal ini jelas telah menimbulkan konflik antara
penghuni dengan instansi yang bertanggung jawab atas lahan yang ditempatinya,
seperti DAUP VIII PT.TKI dan Dinas PU[2]. Meskipun mereka tinggal pada
permukiman liar, namun mereka juga membentuk lembaga Rukun Tetangga (RT) dan
Rukun Warga (RW), bahkan sebagian dapat menikmati penerangan listrik, ada pula
yang punya telepon rumah, dan tetap membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Mereka juga telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Kondisi
yang demikian, jelas akan mempersulit bagi Pemkot Surabaya maupun pemilik lahan
untuk membebaskan permukiman demikian.

Munculnya permukiman liar dan permukiman yang tidak layak huni sebenarnya
merupakan kelemahan managemen dalam mengelola tata ruang kota. Upaya telah
dilakukan untuk mengurangi persoalan permukiman kumuh yaitu dengan perbaikan
kondisi lingkungan dan membuat rumah susun yang telah melibatkan partisipasi
masyarakat . Upaya ini telah dinilai berhasil, meskipun belum mampu menyelesaikan
persoalan menyeluruh tentang permukiman kumuh yang cenderung bertambah
sejalan dengan pertambahan penduduk pendatang yang ingin memperoleh
perumahan murah. Banyak kendala yang dihadapi dalam penyediaan rumah layak
huni dalam hal ini adalah rumah susun bagi keluarga kurang mampu antara lain
kekurangan lahan kosong, rendahnya minat swasta untuk berinvestasi, dan harga
tanah di Surabaya yang sangat mahal. Meskipun untuk membangun rumah susun
adalah sulit, namun bagi kota metropolitan Surabaya nampaknya merupakan
keharusan untuk memfasilitasinya.

Penduduk pendatang yang kurang selektif, meskipun telah memberi kontribusi


negatif terhadap kondisi lingkungan kota karena telah menciptakan permukiman
kumuh dengan segala implikasinya, namun sebenarnya mereka juga memberi
kontribusi positif bagi pembangunan kota. Kota Surabaya telah memperoleh alokasi
sumberdaya manusia dari daerah perdesaan. Sumberdaya manusia asal perdesaan
kendati kualitasnya adalah rendah, namun mereka telah menjadi bagian dari
ekosistem perkotaan yang secara langsung menyumbangkan jasa tenaga kerja
murah, dan menyediakan produksi skala rumah tangga, terutama sangat diperlukan
bagi usaha formal maupun masyarakat golongan menengah ke atas, baik sebagai
tenaga kerja maupun sebagai bagian dari segmen pasar, bahkan sebagai distributor
komoditi pabrikan. Keberadaan permukiman kumuh yang dapat menyediakan
perumahan murah, juga sangat membantu penduduk kota yang menginginkannya,
misalnya buruh pabrik atau pegawai daerah golongan rendah yang memerlukan
kamar sewaan ataupun kontrakan yang relatif murah.

Isu dan Rekomendasi Kebijakan

Secara umum, pada saat ini Kota Surabaya tengah menghadapi berbagai masalah
dalam tatanan masyarakat sebagai akibat ketidaksanggupan daya dukung
sumberdaya kota menghadapi pertumbuhan penduduk yang pesat, terutama
masuknya migran non-permanen dalam skala besar dan telah berlangsung lama. Hal
ini telah mengakibatkan persoalan yang terkait dengan permukiman kumuh, padahal
Kota Surabaya telah berkomitmen untuk mendukung program City Without Slum.
Mengingat persoalan di kota Surabaya terkait erat dengan daerah belakang maka
hubungan harmonis dalam tataran regional harus ditingkatkan. Hal ini dimaksudkan
untuk mengintegrasikan kegiatan di mana pertumbuhan dan pendapatan ,
kesempatan kerja di perdesaan maupun di kota-kota lain yang berdekatan adalah
saling membantu dan saling bermanfaat. Dengan keterpurukan kondisi ekonomi
Indonesia selama ini maka persoalan yang diakibatkan oleh isu tersebut diperkirakan
akan berlanjut dalam tempo yang panjang. Meskipun demikian, upaya untuk
mengatasi maupun mereduksi persoalan harus tetap diupayakan. Upaya mengatasi
persoalan Kota Surabaya sebagai akibat masuknya migran non-permanen yang
datang dari berbagai daerah , tentu saja harus melibatkan kebijakan makro baik pada
tataran nasional maupun regional, selain kebijakan yang sifatnya mikro atau spesifik.

Rekomendasi Untuk Kebijakan Makro

1. MENUJU PEMBANGUNAN DAERAH ASAL MIGRAN

Distribusi penduduk mempunyai hubungan erat dengan proses pembangunan


yang telah berlangsung selama ini. Dengan kata lain bahwa migrasi penduduk dapat
dilihat sebagai akibat pembangunan. Daerah yang maju dalam pembangunan akan
mempunyai pilihan-pilihan yang lebih baik daripada daerah yang pembangunannya
masih terbatas. Mengingat bahwa orang akan selalu ingin meningkatkan
kehidupannya dengan mencari akses yang lebih baik, maka ada kecenderungan
bahwa orang akan melakukan migrasi dari daerah yang mempunyai ketegori negatif
menuju daerah yang masuk kategori positif. Oleh karena itu motif utama migrasi ke
daerah perkotaan akan dilatarbelakangi dengan alasan ekonomi di samping ada
alasan non-ekonomi. Variasi demand yang diciptakan oleh pembangunan ekonomi
pada akhirnya juga akan menciptakan sekmentasi dalam pasar
kerja. Pembangunan yang urban bias telah menempatkan Surabaya sebagai kota
metropolitan terbesar ke dua di Indonesia, sehingga telah menjadi pusat peradaban.
Pembangunan investasi yang pesat di Kota Surabaya selain telah meningkatkan
kemampuan sosial-ekonomi masyarakat secara keseluruhan, namun hal ini telah
menimbulkan ketimpangan dalam pembangunan dengan daerah lain di seputar
Surabaya . Sebagai akibatan atas hal tersebut antara lain telah menimbulkan mobilitas
penduduk non-permanen dari daerah perdesaan ke Surabaya dan telah menimbulkan
dampak negatif berupa permukiman kumuh.

Mengingat bahwa Kota Surabaya tidak mungkin mampu menghentikan laju arus
mobilitas tersebut, maka perlu diambil kebijakan untuk mengarahkan arus migrasi
tersebut dengan meningkatkan peran zona atau pusat pertumbuhan orde kedua dan
zona orde ketiga, terutama di Jawa Timur. Dengan meningkatnya peran pusat
pertumbuhan tersebut maka arus mobilitas non-permanen yang kurang selektif dapat
dihambat. Migran non-permanen yang umumnya datang dari daerah perdesaan akan
terserap di kota-kota lain seperti Kediri, Malang, Madiun, Jember, Lumajang, Sragen,
Dampit dan Bojonegoro. Untuk dapat meningkatkan peran kota-kota di luar Surabaya,
tentunya perlu langkah kongkrit berupa kemudahan bagi investor ( antara lain
keringanan pajak dan kredit) agar menanamkan modalnya untuk usaha yang sifatnya
padat karya. Dengan kebijakan demikian akan mempercepat proses defusi
urbanisasi ke daerah hinterland, yang pada gilirannya dapat bermuara pada
peningkatan daya serap tenaga kerja perdesaan.

Daerah perdesaan sebaiknya meningkatkan perbaikan prasarana umum dalam


bentuk jalan, pusat pelayanan masyarakat, penyediaan air bersih, penyebaran
sekolah dan pusat kesehatan. Dengan perbaikan pilihan-pilhan yang dapat diperoleh
di perdesaan maka akan membuat orang lebih berkeinginan untuk tetap
tinggal. Selain itu investasi di Kota Surabaya harus lebih selektif yaitu hanya untuk
industri padat modal (misalnya elektronik, perakitan mobil dan jasa perbankan) yang
memerlukan tenaga kerja terdidik dan terampil. Adapun industri yang sifatnya adalah
padat karya (misalnya sandal, rokok, sepatu, dan tekstil) yang selama ini masih
banyak didapati di Kota Surabaya sebaiknya untuk direncanakan agar
dapat direlokasi keluar daerah. Kenyataan menunjukkan bahwa industri padat karya
telah menciptakan buruh murah, umumnya tenaga kerja musiman, yang
akhirnya tetap akan melestarikan permukiman kumuh. Hal ini tentunya merupakan
kebijakan yang menjadi wewenang Pemda Tk.I dengan berkoordinasi dengan Pemda
Tk II baik Kabupaten maupun Kota. Sejalan dengan upaya tersebut pemerintah kota
(Pemko) Surabaya sebaiknya juga melakukan peningkatan program kerjasama
dengan kabupaten-kabupaten sebagai daerah asal utama migran non-permanen,
antara lain Gresik, Sidoardjo, Lamongan, Nganjuk, Jombang dan Bangkalan. Atas
dasar semangat otonomi daerah, sifat kerjasama yang diciptakan adalah saling
menguntungkan antara Pemko Surabaya dengan Kabupaten tersebut di atas.

2. MEMFASILITASI MOBILITAS ULANG-ALIK

Penduduk yang bekerja di Surabaya asal kabupaten-kabupaten


seputarnya (hinterland) sebaiknya tidak tinggal di kota Surabaya tetapi cukup dengan
melakukan mobilitas ulang-alik, yaitu tetap tinggal di desa asalnya. Hal ini dapat terjadi
apabila sarana dan prasarana transportasi massal telah memadai. Upaya ke arah itu
telah dilaksanakan baik trnasportasi dengan kereta api, bus maupun ferry. Oleh
karena itu pelaksanaan program yang sudah ada tersebut direkomendasikan untuk
terus ditingkatkan kapasitas, keamanan dan kenyamanannya, antara lain dengan
memperhatikan aspek teknologi dan kepentingan masyarakat. Selain itu ongkos
tranportasi yang terjangkau, orang akan lebih senang menggunakan alat transportasi
publik, dan akan merangsang tinggal di luar Surabaya karena harga tanah, harga
rumah maupun keadaan lingkungan yang lebih kondusif daripada tinggal di Kota
Surabaya.

3. PEMIKIRAN MANAGEMEN KOTA JANGKA PANJANG

Dalam jangka panjang dan dalam skala yang lebih makro, bahkan pembangunan
di P. Jawa perlu dirancang dalam satu kosep pengelolaan Java City Island. Hasil
sensus penduduk menunjukkan adanya kecenderungan penduduk Jawa yang tinggal
di kota terus mengalami peningkatan. Dalam tahun 1961 dan tahun 2000, jumlah
penduduk perkotaan di Jawa masing-masing mencapai 15,6 % dan 48,7 %. Dalam
tempo 39 tahun penduduk Jawa yang tinggal di kota telah naik 33,1 %. Keharmonisan
pembangunan perkotaan dapat terwujud manakala ada pengelolaan pembangunan
Jawa secara terintegrasi. Dengan memperhatikan adanya kecenderungan bahwa
angka urbanisasi di Jawa yang terus mengalami kenaikan secara signifikan maka
keberadaan Kota Metropolitan Surabaya telah menempati bagian dari daerah
perkotaan di Jawa. Dalam konteks ini untuk memecahkan persoalan perkotaan di
Surabaya seharusnya juga dilihat secara makro dan komprehensif. Hal ini dapat
terwujud manakala ada konsep pengelolaan pembangunan Jawa secara terintegrasi,
meskipun pada saat ini telah ada konsep otonomi daerah. Untuk itu dalam makalah
ini perlu dilontarkan pemikiran untuk melakukan studi eksplorasi yang tujuannya
adalah mencari model bagaimana mengelola Jawa sebagai kesatuan managemen,
sehingga dalam pengelolaannya lebih efisien dan dapat melihat keterkaitan isu
perkotaan secara makro Jawa.

Rekomendasi Untuk Kebijakan Mikro

4. ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

Kesempurnaan sistem administrasi kependudukan memegang peranan penting


dalam mendukung program kebijakan pengelolaan penduduk. Dengan
penyempurnaan sistem administrasi kependudukan maka data dasar kependudukan,
antara lain tentang mobilitas penduduk akan dapat diketahui secara akurat. Salah satu
program administrasi kependudukan adalah pendataan penduduk musiman yang
disebut program KIPEM. Mengingat bahwa program KIPEM belum efektif untuk
menginventarisir penduduk musiman dan manfaat yang tidak jelas atas program
tersebut maka perlu dikritisi tentang perannya.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tidak semua warga pendatang yang sifatnya
musiman mempunyai kartu KIPEM. Warga pendatang bahkan masih banyak yang
mempertahankan kartu identitas daerah asalnya walaupun telah tinggal lama di Kota
Surabaya, dengan mengutarakan berbagai alasan. Seandainya warga pendatang
musiman merasakan manfaat yang nyata dengan pemilikan KIPEM maka secara
otomatis mereka akan mengurusnya. Isu tersebut perlu diangkat guna menghilangkan
pemikiran adanya dikhotomi antara warga Surabaya dengan migran non-permanen
atau sering disebut warga pendatang musiman, yang telah mengarah pada perlakuan
diskriminatif. Fakta sosial menunjukkan bahwa penduduk musiman adalah warga
negara Indonesia yang hidupnya kurang beruntung yang tentunya mereka juga
mempunyai hak yang sama untuk memperoleh perlindungan dari pemerintah dan hak
untuk dapat berkembang, antara lain di Kota Surabaya. Manakala program KIPEM
memang bermanfaat bagi pendatang musiman, tentunya perlu peningkatan sosialisai
peraturan tersebut baik di kantong-kantong permukiman di Kota Surabaya maupun
daerah potensial tempat asal mereka.

5. MENGHILANGKAN HUNIAN SPONTAN


Kesalahan telah terjadi dimana pada saat pertama kali muncul hunian spontan
atau hunian ilegal di suatu tempat, namun terus dibiarkan keberadaannya bahkan
selanjutnya mendapat fasilitas publik. Seandainya sedini mungkin kontrol terhadap
lingkungan permukian dijalankan dengan penuh kedisiplinan, maka hunian ilegal
dapat dicegah perkembangannya. Sebagian dari penduduk musiman tersebut telah
menempati lahan bukan miliknya sehingga memperoleh predikat sebagai penghuni
spontan, atau ilegal atau liar. Dilihat dari kaidah hukum positif hal ini jelas melanggar.
Status sebagai hunian spontan atau liar tersebut tentunya telah menimbulkan konflik
kepentingan dan telah merugikan pemilik lahan maupun Pemerintah Kota Surabaya.
Dalam konteks untuk menghilangkan hunian tersebut perlu diambil langkah kebijakan
: (a) Melakukan peningkatan inventarisasi status aset lahan baik milik publik,
perusahaan maupun perorangan; (b) Melakukan kontrol oleh instansi tingkat paling
bawah secara tegas, ketat agar perluasan hunian liar dapat dihentikan; (c)
Untuk menegakkan supremasi hukum sebaiknya permukiman liar harus dihilangkan
namun perlu dicarikan jalan keluar yang tidak menimbulkan konflik. Untuk itu perlu
diambil langkah-langkah antara lain melakukan sosialisasi isu tersebut, kemudian
perlu menindaklanjuti dengan menggalang partisipasi mereka guna mencari jalan
keluar untuk mengatasinya, misalnya dengan relokasi ke rumah susun secara
partisipatif.

6. PENINGKATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN KUMUH

Sesuai dengan RUTRK, strategi yang perlu dilakukan untuk mengatasi permukiman
kumuh yang legal adalah dengan program rumah susun, perbaikan kampung, dan
konsolidasi tanah. Sesuai dengan hakekat pembangunan adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan penduduk, maka program rumah susun bagi penduduk miskin kota,
termasuk migran non-permanen, harus tetap dikembangkan kendati banyak kendala
yang dihadapi. Untuk merangsang tumbuhnya rumah susun, investor sebaiknya
diberi berbagai kemudahan misalnya keringanan bunga bank, keringanan pajak, dan
subsidi pengadaan lahan. Selain itu program pembangunan yang selama ini telah
ditetapkan yaitu dengan pola 1: 3: 6 harus tetap dilakukan. Mereka yang akan
menghuni golongan rumah pola 6 tersebut pada dasarnya adalah untuk tataran
masyarakat bawah namun telah disubsidi oleh mereka yang mampu sehingga dapat
menekan biaya.

Upaya yang selama ini pernah dilakukan tentang Kampung Improvement Programme
(KIP) oleh UNEP-UNDP Tahun 1978-1980 di daerah Babakan, nampaknya perlu
menjadi agenda program Pemkot Surabaya yang berkelanjutan. Pendekatan yang
lebih luas daripada pembangunan fisik, antara lain meningkatkan peran masyarakat
melalui kelembagaan yang ada , antara lain RW . Sejalan dengan program tersebut,
untuk mengatasi penduduk miskin kota, sebagai target group, tentunya upaya untuk
meningkatkan kualitas lingkungan hidup hunian kumuh harus tetap ditingkatkan,
antara lain penyediaan infrastruktur lingkungan , pengembangan lembaga
permodalan usaha skala kecil dan penyelenggaraan pelatihan ketrampilan untuk
bekal berusaha. Dalam hal ini Pemkot Surabaya sebaiknya dapat memberi kontribusi
tambahan anggaran selain adanya anggaran dari APBN.

[1] Ahli Peneliti Utama di Puslit Kependudukan-LIPI. Saya mengucapkan terima


kasih kepada rekan tim peneliti lain yang telah memberi masukan pada waktu
penysusunan makalah ini.
[2] Permikiman squatter yang ada di bantaran rela kereta api antara lain di Rw 02,
Kel. Sukomanunggal, dan yang menempati bantaran sungai antara lain di Rw I,
Kel.Warugunung.

http://bekompas.blogspot.co.id/2011/12/contoh-makalah-kebijakan-mobilitas.html