Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN 2

Jurusan Teknik Lingkungan FALTL Universitas Trisakti


Gasal 2017/2018

KELOMPOK 4
1. Dzaki Hamzah W (082001500020)
2. Bunga Faradhani (082001500014)

Asisten Mahasiswa: Corry Valentina

AMONIAK (NH3)

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Udara merupakan faktor penting dalam kehidupan yang harus dilindungi untuk
kelangsungan hidup. Seiring dengan perkembangan zaman dan pesatnya
pembangunan, kualitas udara mengalami perubahan. Oleh karena itu jika
pembangunan di berbagai bidang tidak diiringi dengan upaya pengelolaan lingkungan
yang baik, maka dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran udara baik secara
langsung maupun tidak langsung (Wardhana, 2004).
Pada umumnya bahan pencemar udara adalah berupa gas-gas beracun dan
partikel - partikel zat padat. Gas-gas beracun ini berasal dari pembakaran bahan bakar
kendaraan, dari rumah tangga dan juga dari industri. Bahan pencemar udara ini
terdispersi dalam udara, sehingga pada kadar tertentu polusi udara tidak dapat
dihindarkan lagi (Sugiarti 2009 ).
Salah satu gas yang berperan dalam menimbulkan pencemaran udara adalah gas
amonia (NH3). Udara yang tercemar gas amonia dapat menyebabkan gangguan saluran
pernafasan. Pada kadar 5-50 ppm gas amonia menyebabkan hidung kering, kelelahan
syaraf, pada kadar 1000 - 1500 ppm dapat menyebabkan dyspnea, nyeri dada, kejang
pada saluran pernafasan dan tertundanya edema paru yang berakibat fatal (SIKERNAS,
2012) .
Untuk itu perlu dilakukan pengukuran kadar amonia di udara ambien karena
amonia memiliki dampak negatif terutama pada kesehatan manusia.. Walaupun
amonia memiliki dampak negatif, tetapi amonia dapat difungsikan juga menjadi hal
yang positif bagi kehidupan manusia. Contohnya saja amonia dapat digunakan sebagai
bahan pembuatan pupuk, plastik fiber, bahan peledak, proses refrigasi, proses
purifikasi dan sebagainya.
Pada praktikum pengukuran kadar amonia kali ini, pengambilan contoh uji
dilakukan di 12 lokasi yang udara ambiennya berpotensi besar mengandung gas amonia
dan juga berpotensi kecil mengandung amonia yang akan digunakan sebagai
pembanding. Pada laporan ini, yaitu Kelompok 4 akan dibahas praktikum pengukuran
konsentrasi amonia di toilet belakang pos satpam S. Parman, kampus A, Universitas
Trisakti.
Metode yang digunakan untuk mengukur kadar konsentrasi amonia di udara
ambien pada praktikum ini adalah metode indofenol dengan menggunakan
spektrofotometer. Prinsip dasar pada metode ini adalah amonia yang berada di udara
ambien akan dijerap dengan menggunakan larutan H2SO4 dan akan bereaksi
membentuk amonium sulfat. Penambahan fenol dan natium hipoklorit pada suasana
basa akan membuat terbentuknya senyawa komplek indofenol yang berwarna biru dan
setelah itu konsentrasinya dapat diketahui dengan pengukuran menggunakan
spektrofotometer pada panjang gelombang 630 nm.

1.2 Tujuan Percobaan


Untuk mengukur kadar atau konsentrasi amonia (NH3) di udara ambien di toilet
belakang pos satpam S. Parman, Kampus A Universitas Trisakti dengan metoda
Indofenol menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 630 nm.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Amonia adalah gas tajam yang tidak berwarna terdiri dari 1 unsur nitrogen (N)
dan tiga unsur hidrogen (H3) dengan titik didih - 33,5C cairannya mempunyai panas
penguapan yang bebas yaitu 1,37 Kj/g pada titik didihnya (EPA, 2004). Emisi 3
utama mulai terjadi dari sumber peternakan, pertanian, industri dan sangat dipengaruhi
oleh kondisi meteorologi, dispersi dengan cepat di atmosfer menyebabkan terjadinya
pencampuran yang baik dengan udara. Amonia merupakan senyawa nitrogen yang
terpenting dan paling banyak di produksi. Amoniak NH3 berasal dari oksidasi zat
organis secara mikrobiologis yang berasal dari air buangan industri dan penduduk.
Kadar amoniak tinggi selalu menunjukkan pencemaran.
Konsentrasi yang tinggi dapat terjadi pada sumber yang tertutup, hal ini
dikarenakan frekuensi amonia mempunyai kecepatan pengendapan yang besar (pada
tanah semi natural dan hutan), bergantung pada kondisi permukaan tanah. Sebaliknya,
aerosol 4 + umumnya memiliki kecepatan pengendapan yang kecil dan dengan
mudah dapat terbawa udara dengan jangkauan jarak 13 tertentu tergantung pada
kondisi angin dan suhu udara (Sutton dkk,1993).
Gas amoniak (NH3) dapat terbentuk sebagai hasil penguraian/pembusukan
protein yang terdapat dalam limbah atau sampah organik, baik yang berasal dari limbah
rumah tangga maupun industri. Gas amoniak berbau busuk dan jika terhirup dalam
pernafasan dapat berakibat mengganggu kesehatan, molekul amoniak (NH3) biasanya
membentuk ion amonium (4 + ) Dengan demikian, kadar amoniak dalam air atau
limbah cair selalu ditentukan sebagai ion ammonium. (Banon dan Suharto, 2008).
Perairan umum yang mengandung kadar amonia tinggi dapat mengganggu
pertumbuhan ikan dan biota perairan lainnya bahkan dapat bersifat racun yang
mematikan ikan. Kadar amoniak terlarut 2 ppm - 7 ppm sudah dapat mematikan
beberapa jenis ikan. Perairan umum dengan kadar amonia berkisar antara 0,5 ppm 1
ppm cukup baik untuk pertumbuhan ikan dan biota perairan lain yang bermanfaat
menyuburkan perairan. Pertumbuhan ikan akan terhambat jika kadar amonia di
perairan kurang dari 0,5 ppm.
Pada umumnya Amoniak tidak mudah terbakar, tetapi apabila campuran udara
dan amoniak dalam ruangan 13-27% maka akan meledak dan terbakar. Amoniak juga
dapat menjadi korosif apabila terkena tembaga dan timah. Kadar ammonia yang tinggi
pada air sungai menunjukkan adanya pencemaran, akibatnya rasa air sungai kurang
enak dan berbau (Hidayah, 2012).
Amonia yang berada pada udara ambien memiliki dampak negatif. Gas ini pun
memiliki dampak pada kesehatan manusia. Salah satu dampak buruk bagi kesehatan
yaitu menggangu pernapasan, iritasi selaput lender hidung, dan tenggorokan. Pada
konsentrasi 5000 ppm dapat menyebabkan ederma pada laryng dan paru yang pada
tahap lebih lanjut dapat menyebabkan kematian. Iritasi mata (mata merah, pedih dan
berair) yang dapat menyebabkan kebutaan total, dan iritasi kulit yang dapat
menyebabkan timbulnya luka bakar pun dapat terjadi dikarenakakn gas ammonia
(Mukono.2005).
Nilai ambang batas NH3 yang telah ditetapkan oleh pemerintah melaui keputusan
Menteri Lingkungan Hidup tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Kebauan adalah 2,0
ppm. Untuk pengendalian ammonia, bisa dilakukan untuk diri sendiri dengan
menggunakan alat pelindung diri. Untuk menjaga pernafasan dapat menggunakan
masker atau memperbaiki sistem sirkulasi udara. Selain itu, sebagian besar produksi
amoniak dipergunakan oleh industri pupuk. Amoniak diubah menjadi pupuk padat
(urea, amonium nitrat, amonium fosfat dan amonium sulfat), hanya sebagian kecil yang
dipergunakan dalam industri kimia yang lain. Setiap atom nitrogen yang diproduksi
dalam industri senyawa kimia secara langsung maupun tidak langsung berasal dari
amoniak. Salah satu kegunaan penting dari nitrogen yang ada dalam amoniak setelah
dikonversi menjadi asam nitrat adalah untuk memproduksi plastik dan serat, contohnya
poliamida, resinresin urea-formaldehidfenol, resin-resin berbahan dasar melamin,
poliuretan dan poliakrilonitril (Appl, 1999).
III. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat
Tabel 3.1 Alat Praktikum Penentuan Kadar Amoniak
No. Alat Ukuran Jumlah Gambar

1. Pompa Vakum 1

2. Impinger 250 ml 1

3. Flow Meter - 1
No. Alat Ukuran Jumlah Gambar

4. Bulp - 1

5. Corong - 1

6. Spektrofotometer - 1
No. Alat Ukuran Jumlah Gambar

7. Labu ukur 25 mL 1

8. Pipet volumetrik - 1

9. Anemometer - 1
No. Alat Ukuran Jumlah Gambar

10. Barometer - 1

11. Hygrometer - 1
3.2 Bahan

No. Bahan Konsentrasi Jumlah Gambar

1. Larutan Buffer - 2 ml

Larutan Pereaksi
2. - 5 ml
Fenol
No. Bahan Konsentrasi Jumlah Gambar

Larutan Natrium
3. - 2.5 ml
Hipoklorit

5. Larutan H2SO4 50 ml

6. Alumunium Foil - -
No. Bahan Konsentrasi Jumlah Gambar

8. Air Suling - -

9. Vaseline - -

IV. CARA KERJA


4.1 Diagram sampling

Masukkan 50 ml larutan
asam sulfat ke dalam botol Nyalakan pompa
impinger, lalu bungkus vakum
dengan aluminium foil

Atur laju alir pada


Tunggu flowmeter (1
Cata dan
selama 60 L/menit). Catat
Ukur data
menit. laju di awal,
meterologi
pertengahan, dan
akhir pemompaan.
4.2 Diagram Analisis

Pipet larutan 10 Tambahkan Tambahkan


ml ke dalam labu larutan larutan fenol 5
ukur 25 ml penyangga 2 ml ml

Tambahkan
Diamkan selam Tambahkan air larutan pereaksi
30 menit suling sampai natrium
tanda tera hipoklorit 2.5
ml

Baca serapan pada


Masukkan ke spektrofotometer pada
dalam kuvet panjang gelombang
630 nm.

V. HASIL PENGAMATAN
5.1 Lokasi Penelitian
Lokasi : Di toilet belakang pos satpam S. Parman , Kampus
A, Universitas Trisakti
Titik Koordinat : 6 10 7.23 S 106 47 19 E
Hari/tanggal : Selasa, 17 Oktober 2017
Waktu : 09.22 WIB s.d. 10.22 WIB

5.2 Data Meteorologi


Tabel 5.1 Hasil Pengukuran Data Meteorologi
No. Data Meteorologi Keterangan
1. Arah Angin (Kompas) Tenggara
2. Kecepatan Angin (Anemometer) 1.02 m/s
3. Kelembapan (Hygrometer) 40.5 % RH
4. Temperatur (Suhu) 30C
5. Tekanan (Barometer) 763 mmhg

5.3 Data Sampling


Tabel 5.2 Data Sampling
No Keterangan Lama Sampling
1. Pengambilan Sampel Udara Selama 1 jam 09.22 s.d. 10.22 WIB
2. Pada saat 5 menit awal di dapat laju alir 09.22 s.d. 09.32 WIB
sebesar 1 L/menit.
3. Setelah 30 menit di dapat laju alir sebesar 1,1 09.22 s.d. 09.52 WIB
L/menit.
4. Sebelum 5 menit terakhir pengujian di dapat 09.22.d. 10.22 WIB
laju alir sebesar 1 L/menit.
Kurva Kalibrasi NH3
0.18
0.16
y = 0,00147 +
0.14 Sampel
0,0483x
0.12
0.1
Abs

0.08
0.06
0.04
0.02
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Konsentrasi

Gambar 5.1 Hubungan antara konsentrasi (g) dengan absorbansi NH3

5.4 Nilai Konsentrasi Amoniak Semua Kelompok


Tabel 5.3 Nilai Konsentrasi Amoniak Semua Kelompok
C NH 1 jam C NH 24 jam
Kel Ta (K) Pa (mmHg) a (g)
g/Nm ppm g/Nm Ppm
1 302 764 0.007 4.805 6.911 x 103 2.669 3.830 x 103
2 303 764 0.031 25.75 0.037 14.30 0.02
3 301 764 0.003 1.297 1.86 x 103 0.720 1.035 x 103
4 303 763 0.163 136.57 0.196 75.86 0.109
5 303 764 0.155 133.95 0.192 74.40 0.1070
6 299 765.2 0.002 0.4484 6.449 x 104 0.2490 3.581 x 104
7 302 763.5 0.025 20.007 0.028 11.113 0.015
8 303 762 0.130 112.30 0.16 62.43 0.089
9 299 763 0.004 2.165 3.113 x 103 1.202 1.728 x 103
10 298 761 0.111 83.236 0.1197 46.235 0.0664
11 291,9 764 0.007 4.628 6.6 x 103 2.570 3.6 x 104
12 285,2 763 0.009 6.188 8.899 x 103 3.437 4.943 x 103
VI. RUMUS DAN PERHITUNGAN
6.1 Rumus
6.1.1 Volume contoh uji udara yang diambil

F1 + F2 + F3 Pa 298
V= xtx x
3 Ta 760

Keterangan:
V = Volume udara yang dihisap dikoreksi pada kondisi normal (L)
F1 = Laju alir awal (L/ menit)
F2 = Laju alir tengah (L/ menit)
F3 = Laju alir akhir (L/menit)
t = Durasi pengambilan contoh uji (menit)
Pa = Tekanan barometer rata-rata selama pengambilan contoh uji (mmHg)
Ta = Temperatur rata-rata selama pengambilan contoh uji (K)
298 = Temperatur pada kondisi normal 25 C konversi dalam Kelvin
760 = Tekanan udara pada kondisi normal 1atm (mmHg)

6.1.2 Konsentrasi Amoniak (NH3) di Udara Ambien

a 25
C= x1000x
V 10

Keterangan:
C = Konsentrasi NH3 di udara ( g/ Nm3)
a = Jumlah NH3 dari contoh uji hasil perhitungan dari kurva kalibrasi ()
V = Volume udara yang dihisap dikoreksi pada kondisi normal
1000 = Konversi liter ke m3
25 =
Faktor Pengenceran
10

6.1.3 Rumus Konversi Nilai Konsentrasi dari g/Nm3 ke ppm

C x 24,45
ppm =
17 x 103

Keterangan :
C = konsentrasi NH3 (g/Nm3)
24,45 = koefisien konversi
17 = Berat Molekul NH3
103 = konversi dari liter ke m

6.1.4 Rumus Nilai Konsentrasi Amoniak (NH3) untuk 24 jam

T1 n
C24 = ( ) x C1
T2

Keterangan:
C1 = konsentrasi untuk 1 jam (60 menit)
C24 = konsentrasi untuk 24 jam (1440 menit)
T1 = waktu dalam pengambilan 1 jam
T2 = waktu dalam pengambilan 24 jam
n = 0,185

6.1.5 Rumus Penetapan Nilai Konsentrasi dari Kurva Kalibrasi

Y = bx + a

Keterangan:
Y = Absorbansi contoh uji.
a = Intershape
b = Slope
x = C sampel (g/L).

6.2 Perhitungan
6.2.1 Volume contoh uji udara yang diambil
F1 + F2 +F3 Pa 298
V= xtx x 760
3 Ta
1+ 1,1+1 754 298
V= x 60 x x 760
3 303

= 61,21 L
6.2.2 Konsentrasi Oksidan (NH3) di Udara Ambien
Diketahui:
Y (Abs sampel) = 0,163
a (intershape) = 1,474x10-3
b (slope) = 0,0483
r = 0,984
r2 = 0,968
x = C sampel (g/L)

Secara komputerisasi, nilai x untuk NH3 adalah


Y = bx + a
0,163 = 0,0483x + 1,474x10-3
x = 3,344 g

Secara manual, nilai x untuk NH3 adalah



=

(0,060,02) 0,163
(1,20,4)
=
x = 3,26
Selisih perhitungan antara komputerisasi dan manual
Xselisih = Xkomputerisasi Xmanual
Xselisih = 3,34 3,26
Xselisih = 0,08

Diketahui:
a = 0,0821 g
V = 63,6215 L
1000 = Konversi liter ke m3
25 =
Faktor Pengenceran
10

6.2.3 Nilai Konsentrasi Untuk 1 jam


x 25
C NH3(1jam) = x1000x
V 10
3,344 25
C NH3(1jam) = 61,21 x1000 10

C NH3(1jam) = 136,57 g/Nm3

Konversi Nilai Konsentrasi dari g/Nm3 ke ppm


C1jam x 24,45
ppm =
17 x 103
136,57 g/Nm3 x 24,45
ppm = 17 x 103

ppm = 0,196 ppm


6.2.4 Nilai Konsentrasi Untuk 24 jam
T n
C NH3(24jam) = (T1 ) x C1
2

60 0.185
C NH3(24jam) = (1440) x 136,57 g/Nm3

C NH3(24jam) = 78,56 g/Nm3

Konversi Nilai Konsentrasi dari g/Nm3 ke ppm


C24jam x 24,45
ppm = 17 x 103
75 g/Nm3 x 24,45
ppm = 17 x 103

ppm = 0,113 ppm

VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan percobaan tentang pentuan
konsentrasi NH3 di udara ambien dengan metode indofenol menggunakan
spektrofotometer dengan panjang gelombang 630 nm. Titik sampling berada di wc
belakang ototrita Kampus A Universitas Trisakti selama 1 jam. Titik sampling pada
percobaan ini dilakukan pada 14 titik sampling di lokasi Kampus A, Universitas
Trisakti. Larutan penjerap yang digunakan adalah larutan asam sulfat (H2SO4).
Konsentrasi yang terdapat pada titik uji akan dibandingkan dengan baku mutu dengan
tujuan menganalisa apakah kadar partikulat konsentrasinya masih cukup aman dan
belum melewati nilai ambang batas pada baku mutu.
Data meteorologi yang didapat pada saat pengambilaan sampel udara adalah
sebagai berikut yaitu suhu 30oC atau 303oK, kelembaban udara 40,5 % rh, tekanan
udara 763 mmHg, kecepatan angin 1,02 m/s, arah angin ke tenggara. Setelah rangkaian
alat sampling telah terpasang praktikan memulai pengambilan sampel. Laju aliran
pertama diambil pada saat 5 menit awal pengambilan sampel dan didapat sebesar 1
L/menit, pada 30 menit pengambilan sampel dilakukan pengamatan pada flowmeter dan
didapat laju alir sebesar 1,1 L/menit, pengamatan flowmeter dilakukan lagi saat 5 menit
sebelum pengambilan sampel selesai dan didapat laju alir sebesar 1 L/menit. Pada saat
pengambilan sampel udara, cuaca cerah berawan biru dengan terik matahari yang
memancar.
Setelah di lakukan sampling selama 1 jam, larutan dipindahkan ke labu ukur
dengan penambahan larutan penyangga, larutan pereaksi fenol, larutan pereaksi
natrium hipoklorit sehingga larutan tersebut berubah warna menjadi warna biru agak
gelap setelah itu diamkam selama 30 menit agar pereaksi-pereaksi yang telah
ditambahkan menjadi homogenkan (menjadi merata), setelah itu dilakukan uji
menggunakan spektrofotmeter, hasil menunjukkan nilai absorbansi sebesar 0,163 dan
nilai konsentrasi yang didapat sebesar 3,362 dan volume contoh uji udara yang didapat
sebesar 61,21 L.
Setelah dilakukan perhitungan secara manual diperoleh konsentrasi amoniak
(NH3) di udara ambien selama 1 jam yaitu sebesar 136,57 g/Nm3 dengan konversi ke
ppm 0,196 ppm. konsentrasi amoniak (NH3) di udara ambien selama 24 jam yaitu
sebesar 78,56 g/Nm3 dengan konversi ke ppm 0,113 ppm. Sedangkan konsentrasi
oksidan di udara ambien selama 1 jam diperoleh sebesar 3,26 (dengan menggunakan
grafik) dengan perbedaan perhitungan menggunakan komputerisasi dan manual
sebesar 0,08. Perbedaan angka yang didapat dengan cara manual dan cara
komputerisasi ini dapat disebabkan oleh kurangnya ketelitian praktikan dalam
menghitung secara manual.

Berdasarkan nilai konsentrasi NH3 dari 12 sampel kelompok, maka dapat


disimpulakan bahwa nilai terkecil untuk konsentrasi NH3 adalah kelompok 6 yang
mengambil sampel di dekat kali jalan Kyai Tapa dan nilai terbesar untuk konsentrasi
NH3 adalah kelompok 4 yang mengambil sampel di belakang pos satpam otorita.
Rendahnya konsntrasi NH3 di dekat kali jalan Kyai Tapa disebabkan karena sifat
amoniak yang mudah larut dalam air sehingga konsentrasi amoniak di udara menjadi
rendah. Sedangkan besarnya konsentrasi NH3 di wc belakang pos satpam otorita
dikarenakan frekuensi penggunaan wc yang tinggi yang tidak sebanding dengan
pembersihan wc yang minim, dalam wc pun tercium bau pesing yang menyengat dan
bisa diindikasikan adanya amoniak.
Jika dibandingkan dengan dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup No. 50 Tahun 1996 tentang Penetapan Baku Tingkat Kebauan, kadar nilai batas
amoniak (NH3) yang diizinkan adalah sebesar 2,0 ppm. Sedangkan konsentrasi
amoniak (NH3) di titik sampling wc belakang otorita yang didapat adalah sebesar 0,113
ppm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar amoniak (NH3) di lokasi titik sampling
wc belakang otorita belum tercemar NH3 atau bisa dikatakan kadar konsentrasi
amoniak (NH3) pada titik tersebut masih dalam ambang batas baku mutu.
Keberadaan amoniak (NH3) yang berada di atmosfer dipengaruhi oleh kondisi
cuaca antara lain suhu, kelembapan udara, arah angin. Dengan demikian masyarakat
yang terpapar akan bergantung ke mana arah angin dan sampai seberapa besar terpapar
kadar (NH3) di atmosfer. Dampak dari gas amoniak (NH3) terhadap kesehatan manusia
adalah Iritasi selaput lendir hidung dan tenggorokan serta pada kadar 5000 ppm dapat
menyebabkan edema laring, paru dan pada akhirnya menyebabkan kematian. Iritasi
mata (mata merah, pedih, dan berair) dan bisa menyebabkan kebutaan. Iritasi pada kulit
dapat menyebabkan terjadinya luka bakar (frostbite). Amoniak bersifat teratogenik
pada paparan yang menahun. Gas amoniak (NH3) menimbulkan bau yang tidak sedap
atau menyengat. Menyebabkan sistem pernapasan, bronchitis, merusak indera
penciuman.
Diperlukan perhatian untuk melakukan penanganan atau pengendalian terhadap
kondisi dari dampak gas amoniak. Pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan
pengendalian langsung dari sumber pencemarnya. Apabila pada kondisi didalam
ruangan seperti ruang kamar mandi bisa dengan mencuci kamar mandi atau rutin
membersihkannya dan pergunakan fasilitas di toilet sesuai dengan fungsinya.
VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai
berikut:
1. Hasil meteorologi yang didapat suhu udara 303oK dengan kelembaban 40,5 %
rh, tekanan udara 763 mmHg, kecepatan angin 1,02 m/s ke arah tenggara.
2. Jumlah volume contoh uji udara gas amoniak (NH3) yang diambil pada titik
lokasi sampling di wc belakang pos satpam otorita Kampus A Universitas
Trisakti sebesar 61,21 L.
3. Nilai absorbansi yang didapat dari uji spektrofotometri untuk sampling selama
1 jam yaitu sebesar 0,163 dan nilai konsentrasi yang didapat sebesar 3,362.
4. Nilai x (sebagai konsentrasi dari perhitungan persamaan garis) diperoleh
sebesar 3,344 g.
5. Konsentrasi amoniak (NH3) di udara ambien pada lokasi titik sampling di wc
belakang pos satpam otorita Kampus A Universitas Trisakti selama 1 jam
didapat hasil sebesar 136,57 g/Nm3 atau sebesar 0,196 ppm dan selama 24 jam
didapat hasil sebesar 78,56 g/Nm3 atau sebesar 0,113 ppm.
6. Jika nilai konsentrasi amoniak (NH3) yang didapat praktikan dibandingkan
dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 50 Tahun 1996
tentang Penetapan Baku Tingkat Kebauan, kadar nilai batas amoniak (NH3)
yang diizinkan adalah sebesar 2,0 ppm, kadar konsentrasi amoniak pada titik
sampling (wc belakang pos satpam otorita) masih kecil sehingga belum
melebihi baku mutu yang telah ditetapkan.
7. Dari perhitungan seluruh kelompok nilai konsentrasi amoniak (NH3) rata-rata
yang terbesar adalah kelompok 4 yaitu sebesar 78,56 g/Nm3 atau 0,1541 ppm
dengan warna larutan yang didapat biru pekat.
DAFTAR PUSTAKA

Appl. 1999. Parameter Pencemaran Udara dan Dampaknya Terhadap Kesehatan.


Jakarta
Banon, C., dan Suharto T.E .2008. Adsorpsi Amoniak Oleh Adsorben Zeolit Alam
Yang Diaktivasi Dengan Larutan Amonium Nitrat, Jurnal Gradien, (Online), 4
(2): 354-360.
EPA. 2004. Toxicological Profile For Ammonia. U.S. Departement Of Health and
Human Services.
Hidayah, Nur Evi. 2012. Bahan Kimia Beracun. Dalam
http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/makalah-bahan-kimia
beracun/ (Diakses pada Minggu 22 Oktober 2017 pukul 13:35 WIB).
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 50 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat
Kebauan: Jakarta.
Mukono H.J. 2005. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan
Saluran Pernapasan. Surabaya: Airlangga University Press.
SIKERNAS. 2012, Amonia. Badan POM RI.
SNI 19- 7119.1-2005. 2005. Udara Ambien Bagian 1: Cara Uji Kadar Amoniak
(NH3) dengan Metoda Indofenol Menggunakan Spektofotometer. Jakarta:
Badan Standarisasi Nasional.
Sugiarti. 2009. Gas Pencemar Udara dan Pengaruhnya Bagi Kesehatan Manusia.
Jurnal Chemical, 10:50-58.
Sutton M.A.dkk.1993. Modelling The Next Exchange of Reduced Nitrogen. In General
Assesment of Biogenic Emission and Deposition of Nitrogen Compounds,
Sulphur Compounds and Oxidants inEurope. Air Pollution Research Report 47
CEC: Brussels.
Wardhana WA. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Andi Offset.
LAMPIRAN

Titik Sampling: Di
wc belakang pos
satpam otorita,
Kampus A
Universitas
Trisakti
Lokasi Sampling

Pengukuran Data Meteorologi

Hasil Amoniak (NH3) seluruh kelompok


Laju Alir Flow Meter

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 50


Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Kebauan