Anda di halaman 1dari 32

Wacana (Sebagian) Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo yang dibacakan dalam rangka

HUT ke-72 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia : Analisis 7 Kriteria Teks De Beaugrande


dan Dressler
Dosen Pembimbing: Dr. B.R. Suryo Baskoro, M.S.

Muflihana Dwi Faiqoh


17/419269/PSA/08231

Program Studi S2 Ilmu Linguistik


Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

PENDAHULUAN
Wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan/tertulis, yang
dilihat dari segi bentuknya bersifat kohesif (saling terkait) dan dari segi makna bersifat
koheren (terpadu) (Sumarlam dkk, 2003:15). Halliday dan Hasan berpendapat a text is best
regarded as a semantic unit: a unit not of form but of meaning (Halliday dan Hasan,
2013:2). Merujuk pada pendapat Halliday dan Hasan yang menyatakan bahwa wacana
merupakan satu kesatuan semantik, bukan kesatuan gramatikal, menunjukkan bahwa
perlunya menganalisis sebuah wacana tidak hanya dari segi teks tetapi juga konteksnya. Hal
ini sesuai dengan pendapat Jorgensen dalam bukunya Discourse Analysis as Theory and
Method yang mendefinisikan wacana sebagai suatu sarana khusus untuk berbicara dan atau/
memahami dunia ini (atau salah satu aspek dunia ini) (2002:1).
Sumarlam (2003:16) membedakan jenis wacana berdasarkan media yang
dipergunakannya, yaitu wacana tulis dan wacana lisan. Wacana tulis adalah wacana yang
disampaikan dengan bahasa tulis atau melalui media tulis. Untuk dapat memahami wacana
tulis, maka penerima teks harus membacanya. Sementara itu, wacana lisan berarti wacana
yang disampaikan dengan bahasa lisan atau media lisan. Untuk memahami wacana lisan,
penerima teks harus mendengarkannya. Wacana pidato termasuk ke dalam wacana lisan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pidato adalah wacana yang disiapkan untuk
diucapkan di depan khalayak (Tim Penyusun, 2008:).
Hal yang melingkupi kajian ini adalah deskripsi tujuh kriteria teks De Beaugrande dan
Dressler yang dimuat dalam bukunya Introduction to Text Linguistics (2002:2), yaitu kohesi,
koherensi, intensionalitas, akseptabel, informativitas, situasionalitas, dan intertekstualitas.
Hal ini dijelaskan juga dalam Alba-Juez, (2009: 20);
1. Kohesi, memiliki keterkaitan antara teks dan sintaksisnya.
2. Koherensi, memiliki keterkaitan makna teks.
3. Intensionalitas, memiliki fokus kepada penulis atau pembicara (maksud dan tujuan
penulis/pembicara).
4. Akseptabel, memiliki fokus pada pembaca atau pendengar (keberterimaan makna oleh
pembaca/pendegar).
5. Informativitas, kuantitas dan kualitas informasi yang diperlukan.
6. Situasionalitas, situasi pembuatan teks berperan penting dalam keberterimaan
informasi teks.
7. Intertekstualitas, mempunyai hubungan dengan teks sebelumnya atau bergantung
pada pengetahuan dari teks dengan genre tertentu.
Adapun wacana pidato yang dianalisis dalam kajian ini adalah transkripsi pidato
kenegaraan Presiden Joko Widodo dalam rangka HUT ke-72 Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia pada 16 agustus 2017 yang bertempat di Jakarta.

PEMBAHASAN
1. Kohesi
Halliday dan Hasan (2013:4) menjelaskan bahwa kohesi merupakan hubungan
semantik yang ada dalam suatu teks. Aspek tersebut membentuk makna dalam wacana
menjadi berhubungan. Selanjutnya, Halliday dan Hasan membagi kohesi menjadi dua jenis,
yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal (2013:6). Secara lebih rinci, aspek gramatikal
wacana meliputi a) referensi, b) substitusi, c) ellipsis, dan d) konjungsi (Halliday dan Hasan,
2013:6; Sumarlam dkk, 2003:23).
Kohesi Gramatikal
a. Pengacuan (Referensi)
Sumarlam dkk (2003:23-24) mendefinisikan perngacuan/referensi sebagai
salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang
mengacu pada satuan lingual lain (atau suatu acuan) yang mendahului atau
mengikutinya. Selanjutnya, Sumarlam membedakan pengacuan menjadi dua jenis:
(1) pengacuan endofora apabila acuan berada dalam teks wacana, dan (2)
pengacuan eksofora jika acuan berada di luar teks. Pengacuan endofora
berdasarkan arah acuannya dibagi menjadi dua jenis: pengacuan anaforis dan
pengacuan kataforis. Pengacuan anaforis adalah pengacuan yang arahnya ke depan
atau ke kiri apabila kalimat tersebut menggunakan bahasa Inggris atau bahasa
Indonesia dan ke kanan apabila kalimat tersebut menggunakan bahasa Arab.
Sementara pengacuan kataforis adalah pengacuan yang arahnya ke kanan apabila
kalimat tersebut menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia dan ke kiri
apabila kalimat tersebut menggunakan bahasa Arab. Pengacuan diklasifikasikan
menjadi tiga macam: 1) persona, 2) demonstratif, dan 3) komparatif/perbandingan.
1) Pengacuan Persona
Pengacuan persona pada pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo terdapat
pada kalimat-kalimat berikut.
(a) Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,
(b) Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air, Marilah kita ()
(c) Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa
yang besar. Sekali lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar.
(d) Tapi, kebesaran Indonesia karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah,
bisa tetap kokoh bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun.
Sementara di beberapa negara lain, dilanda konflik kekerasan antarsuku,
perpecahan antaragama, pertikaian antargolongan, kita bersyukur kita
tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berbhinneka tunggal ika.
(e) Bahkan sekarang ini, kita menjadi rujukan banyak negara dalam hal
mengelola kebhinnekaan dan membangun persatuan.
(f) Kita adalah bangsa petarung yang berani berjuang dengan kekuatan
sendiri meraih kemerdekaan.
(g) Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para pahlawan kita,
ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan pejuang dari
seluruh pelosok Nusantara.
(h) Semua itu harus membuat kita semakin bangga pada Indonesia, negeri
yang kita cintai bersama. Semua itu, harus membuat kita percaya diri
untuk menghadapi masa depan. Kita harus meninggalkan warisan
kolonialisme, yang menjadikan bangsa kita bermental budak, karakter
rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam melihat hari esok.
Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat
sesama anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling
memfitnah. Karena kita adalah bersaudara, saudara se-Bangsa dan se-
Tanah Air. Kita harus membangun fondasi kultural yang kuat. Kita
harus bersatu dan berdiri gagah untuk menghadapi tantangan dunia yang
semakin kompleks, yang semakin ekstrim, dan berubah dengan sangat
cepat. Hanya bangsa yang cepatlah yang akan memenangi persaingan
global. Kita harus ingat bahwa kita pernah menjadi tempat bagi negara
lain untuk belajar, belajar tentang Islam, belajar tentang seni budaya,
belajar tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dan lain-lain.
Kebanggaan inilah yang harus kita rebut kembali, kebanggaan terhadap
kreasi dan karya sendiri, kebanggaan terhadap produk sendiri.
(i) Hadirin yang saya muliakan, Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah
Air,
(j) Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini, saya
mengajak kita semua yang diberi amanat oleh rakyat, yang sedang
memanggul mandat dari rakyat, agar tetap teguh menjadikan
kesejahteraan umum dan keadilan sosial sebagai haluan kerja kita,
sebagai tujuan kerja bersama kita, demi terwujudnya Indonesia Raya.
(k) Maka dari Sabang, dari Merauke, dari Miangas, dari Rote, mari kita
bersama-sama berseru:
Pada tuturan (a), pronomina persona I jamak bebas kita mengacu pada
unsur di luar teks, yaitu seluruh hadirin di Sidang Terhormat termasuk Bapak
Joko Widodo. Dengan ciri yang disebutkan demikian, maka kita (a) merupakan
jenis kohesi gramatikal pengacuan eksofora. Berbeda dengan kita pada tuturan (b)
yang mengacu pada saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air. Pada tuturan
ini, kita merupakan pengacuan endofora yang anaforis melalui pronomina
persona I jamak bebas.
Pada tuturan (c), saya mengacu pada diri Bapak Joko Widodo sehingga
termasuk pengacuan eksofora. Lain halnya dengan kita yang merupakan
pengacuan endofora kataforis, karena acuannya ada pada kalimat setelahnya
(bangsa) Indonesia. Sama seperti tuturan (c) pengacuan endofora, tetapi pada
tuturan (d) kita termasuk anaforis karena acuannya disebutkan terlebih dahulu,
yaitu bangsa ini.
Tuturan (e) sampai (k), kita sama-sama merupakan pengacuan eksofora
karena acuannya ada di luar teks. Bedanya, pada tuturan (g), kita pada para
pahlawan kita, ulama kita, dan pemimpin agama-agama kita, dan pada tuturan
(j), kita pada haluan kerja kita, merupakan pengacuan persona I jamak bentuk
terikat. Sama halnya dengan saya pada tuturan (i) yang merupakan pengacuan
eksofora karena acuannya berada di luar teks, yaitu penuturnya (Bapak Joko
Widodo).

2) Pengacuan Demonstratif
Pengacuan demonstratif pada pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo
terdapat pada kalimat-kalimat berikut.
(a) Bahkan sekarang ini, kita menjadi rujukan banyak negara dalam hal
mengelola kebhinnekaan dan membangun persatuan.
(b) Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini,
saya mengajak kita semua yang diberi amanat oleh rakyat,
Pada tuturan (a), terdapat pronomina demonstratif sekarang ini, yang
merupakan pengacuan demosntratif waktu, mengacu pada waktu kini, yaitu masa
sekarang tahun 2017. Pengacuan tersebut termasuk jenis pengacuan eksofora
karena acuannya tidak disebutkan di dalam teks. Penggunaan satuan lingual ini
pada tuturan (b) yang merupakan pengacuan demonstratif tempat mengacu pada
tempat yang dekat dengan pembicara. Dengan kata lain, pembicara (Bapak Joko
Widodo) ketika menuturkan kalimat itu sedang berada di tempat tersebut, yakni
tempat pelaksanaan Sidang Terhormat.

3) Pengacuan Komparatif
Pengacuan komparatif pada pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo
terdapat pada kalimat berikut.
Tapi, kebesaran Indonesia karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah,
bisa tetap kokoh bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun.
Sementara di beberapa negara lain, dilanda konflik kekerasan
antarsuku, perpecahan antaragama, pertikaian antargolongan,
Satuan lingual sementara pada tuturan di atas adalah pengacuan komparatif
yang berfungsi membandingkan antara tetap kokohnya negara Indonesia di
usianya yang menginjak 72 tahun dengan konflik, perpecahan, dan pertikaian
yang terjadi di beberapa negara lain.
b. Substitusi (Penggantian)
Di dalam bukunya Teori dan Praktik Analisis Wacana, Sumarlam dkk
(2003:28) menjelaskan bahwa substitusi atau penyulihan adalah salah satu jenis
kohesi gramatikal yang berupa penggantian satuan lingual tertentu (yang telah
disebut) dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur
pembeda. Substitusi dapat dibedakan menjadi substitusi nominal, verbal, frasal,
dan klausal. Sementara dalam wacana pidato ini hanya ditemukan substitusi
nominal, frasal, dan klausal.
1) Substitusi Nominal
Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para pahlawan kita,
ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan pejuang dari
seluruh pelosok Nusantara.
Pada tuturan di atas, nomina pahlawan, ulama, dan frasa pemimpin
agama yang disebut terdahulu digantikan oleh nomina pejuang yang disebut
kemudian.
2) Substitusi Frasal
(a) Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa
yang besar. Sekali lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Besar,
bukan hanya karena jumlah penduduknya yang lebih dari 250 juta jiwa.
Besar, bukan hanya karena memiliki 17 ribuan pulau. Besar, bukan
hanya karena sumber daya alam yang melimpah. Tapi, kebesaran
Indonesia karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah, bisa tetap kokoh
bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun.
(b) Semua itu harus membuat kita semakin bangga pada Indonesia, negeri
yang kita cintai bersama. Semua itu, harus membuat kita percaya diri
untuk menghadapi masa depan. Kita harus meninggalkan warisan
kolonialisme, yang menjadikan bangsa kita bermental budak, karakter
rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam melihat hari esok.

Tampak pada tuturan (a), frasa kebesaran Indonesia pada kalimat


keenam disubstitusi dengan kata besar pada ketiga kalimat setelah kalimat
kedua. frasa masa depan pada tuturan (b) kalimat kedua disubstitusi dengan
frasa hari esok pada kalimat ketiga.
3) Substitusi Klausal
(a) Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam
Damai Sejahtera untuk kita semua. Om Swastiastu. Namo
Buddhaya. Salam Kebajikan.
(b) Kita harus meninggalkan warisan kolonialisme, yang menjadikan
bangsa kita bermental budak, karakter rendah diri, pecundang dan
selalu pesimis dalam melihat hari esok.
(c) Kita harus ingat bahwa kita pernah menjadi tempat bagi negara lain
untuk belajar, belajar tentang Islam, belajar tentang seni budaya,
belajar tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dan lain-lain.
Kebanggaan inilah yang harus kita rebut kembali, kebanggaan
terhadap kreasi dan karya sendiri, kebanggaan terhadap produk
sendiri.
(d) Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini,
saya mengajak kita semua yang diberi amanat oleh rakyat, yang
sedang memanggul mandat dari rakyat, agar tetap teguh menjadikan
kesejahteraan umum dan keadilan sosial sebagai haluan kerja kita,
sebagai tujuan kerja bersama kita, demi terwujudnya Indonesia Raya.
(e) Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Om Shanti
Shanti Shanti Om. Namo Buddhaya.

Tuturan jenis sapaan pada kalimat (a) diulang dalam beberapa jenis
sapaan yang berbeda. Sapaan yang digunakan pada kalimat pertama
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh adalah sapaan berbahasa
Arab yang biasa dipakai umat muslim. Sapaan ini disubstitusi pada kalimat-
kalimat yang disebutkan kemudian berupa sapaan lain yang bermakna sama.
Pada ujaran (b) terdapat substitusi klausal, yaitu frasa bermental budak
disubstitusi oleh klausa karakter rendah diri, pecundang dan selalu pesimis
dalam melihat hari esok dalam satu kalimat. Atau sebaliknya, klausa karakter
rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam melihat hari esok digantikan
frasa bermental budak. Demikian pula pada kalimat (c), kata kebanggaan
disubstitusi oleh klausa kita pernah menjadi tempat bagi negara lain untuk
belajar, belajar tentang Islam, belajar tentang seni budaya, belajar tentang
ilmu pengetahuan dan teknologi dan lain-lain yang disebutkan terdahulu dan
oleh klausa kebanggaan terhadap kreasi dan karya sendiri, kebanggaan
terhadap produk sendiri yang disebutkan kemudian.
Pada kalimat (d), satuan lingual yang diberi amanat, disubstitusi oleh
satuan lingual yang sedang memanggul mandat.
Sama seperti tuturan (a), salam penutup pada kalimat pertama tuturan (e)
juga disubstitusi oleh dua kalimat setelahnya, yaitu salam penutup
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh disubstitusi oleh salam
penutup Om Shanti Shanti Shanti Om, dan Namo Buddhaya.

c. Elipsis (pelesapan)
Sumarlam dkk (2003:30) menyatakan bahwa pelesapan adalah salah satu
jenis kohesi gramatikal yang berupa penghilangan atau pelesapan satuan lingual
tertentu yang telah disebutkan sebelumnya.
1) Sementara di beberapa negara lain, dilanda konflik kekerasan
antarsuku, perpecahan antaragama, pertikaian antargolongan,
2) Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para pahlawan kita,
ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan pejuang dari
seluruh pelosok Nusantara.
3) Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat
sesama anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling
memfitnah.
4) Kita harus bersatu dan berdiri gagah untuk menghadapi tantangan
dunia yang semakin kompleks, yang semakin ekstrim, dan berubah
dengan sangat cepat.
5) Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini,
saya mengajak kita semua yang diberi amanat oleh rakyat, yang
sedang memanggul mandat dari rakyat, agar tetap teguh menjadikan
kesejahteraan umum dan keadilan sosial sebagai haluan kerja kita,
sebagai tujuan kerja bersama kita, demi terwujudnya Indonesia Raya.

Pada tuturan 1), terdapat elipsis atau pelesapan satuan lingual berupa klausa,
yaitu klausa dilanda konflik yang berfungsi sebagai predikat pada tuturan tersebut.
kata yang sama dilesapkan sebanyak dua kali yaitu sebelum kata perpecahan dan
pertikaian.
Pada tuturan 2), terjadi pelesapan berkat perjuangan yang juga merupakan
keterangan pada tuturan tersebut. Pelesapan tersebut terjadi empat kali, sebelum
frasa ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan sebelum pejuang
dari seluruh pelosok Nusantara.
Pelesapan klausa juga terjadi pada tuturan 3) dan tuturan 5), yaitu pada
klausa yang membuat sesama anak bangsa. Klausa ini dilesapkan sebanyak dua
kali, sebelum saling mengejek dan saling memfitnah. Begitu juga pada klausa agar
tetap teguh menjadikan kesejahteraan umum dan keadilan sosial yang dilesapkan
sebelum klausa sebagai tujuan kerja bersama kita.
Sementara itu, pelesapan frasa terjadi pada tuturan 4) dan 5) yaitu pada frasa
tantangan dunia dan kita semua. Frasa tantangan dunia dilesapkan dua kali yaitu
sebelum yang semakin ekstrim dan sebelum berubah dengan sangat cepat. Frasa
kita semua dilesapkan pada sebelum yang sedang memanggul mandat dari rakyat.
Dijelaskan dalam Sumarlam dkk (2003:31) bahwa unsur (konstituen) yang
dilesapkan biasa ditandai dengan konstituen nol atau zero () pada tempat
terjadinya pelesapan unsur tersebut. Berikut representasi tuturan 1) sebelum dan
sesudah pelesapan.
1) a. Sementara di beberapa negara lain, dilanda konflik kekerasan
antarsuku, dilanda konflik perpecahan antaragama, dilanda konflik
pertikaian antargolongan.
b. Sementara di beberapa negara lain, dilanda konflik kekerasan
antarsuku, perpecahan antaragama, pertikaian antargolongan.

Tampak pada analisis tersebut bahwa dengan terjadinya pelesapan, maka


tuturan menjadi lebih efektif dan efisien. Sumarlam dkk (2003:30) menjelaskan
beberapa fungsi pelesapan dalam wacana: (1) menghasilkan kalimat yang efektif,
(2) efisiensi, (3) mencapai aspek kepaduan wacana, (4) bagi pendengar/pembaca
berfungsi untuk mengaktifkan pikirannya terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan
dalam satuan bahasa, dan (5) untuk kepraktisan berbahasa terutama dalam
komunikasi secara lisan.

d. Konjungsi (Perangkaian)
Konjungsi dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan
unsur yang lain dalam wacana. Unsur yang dirangkaikan dapat berupa kata, frasa,
klausa, kalimat, dan dapat juga berupa unsur yang lebih besar dari itu (Sumarlam,
2003:32).
1) Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa
yang besar. Sekali lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar.
2) Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa
yang besar. Sekali lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Besar,
bukan hanya karena jumlah penduduknya yang lebih dari 250 juta jiwa.
Besar, bukan hanya karena memiliki 17 ribuan pulau. Besar, bukan hanya
karena sumber daya alam yang melimpah. Tapi, kebesaran Indonesia
karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah, bisa tetap kokoh bersatu
sampai menginjak usianya ke-72 tahun.
3) Bahkan sekarang ini, kita menjadi rujukan banyak negara dalam hal
mengelola kebhinnekaan dan membangun persatuan.
4) Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat sesama
anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling memfitnah.
Karena kita adalah bersaudara, saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air.
5) Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini, saya
mengajak kita semua yangdiberi amanat oleh rakyat, yang sedang
memanggul mandat dari rakyat, agar tetap teguh menjadikan
kesejahteraan umum dan keadilan sosial sebagai haluan kerja kita,
sebagai tujuan kerja bersama kita, demi terwujudnya Indonesia Raya.
Konjungsi sekali lagi pada (1) berfungsi sebagai penegas. Frasa tersebut
menegaskan makna dari klausa sebelumnya. Pada (2), terdapat konjungsi karena
yang berfungsi untuk menyatakan hubungan sebab-akibat antara klausa Indonesia
adalah bangsa yang besar dengan klausa bangsa ini sudah teruji oleh sejarah.
Selain karena, pada tuturan ini juga terdapat konjungsi tapi. Konjungsi tapi
biasanya menyatakan makna pertentangan, namun, dalam tuturan ini, konjungsi
tapi menyatakan makna kelebihan (eksesif). Hal tersebut dapat dilihat pada
kalimat sebelumnya, Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Besar, bukan
hanya karena jumlah penduduknya yang lebih dari 250 juta jiwa. Besar, bukan
hanya karena memiliki 17 ribuan pulau. Besar, bukan hanya karena sumber daya
alam yang melimpah. Hal demikian menunjukkan bahwa Indonesia merupakan
bangsa yang besar bukan hanya karena banyaknya jumlah penduduk, banyaknya
jumlah pulau, atau sumber daya alamnya yang melimpah, akan tetapi juga karena
bangsa Indonesia yang tetap kokoh meskipun sudah mengalami banyak peristiwa-
peristiwa sejarah.
Tidak berbeda dengan konjungsi tapi pada (2), pada (3), konjungsi bahkan
juga menyatakan makna eksesif, yaitu melebihkan penjelasan dari tuturan
sebelumnya yang menyatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar.
Konjungsi karena juga terdapat pada tuturan (4) yang menunjukkan
hubungan sebab-akibat antara klausa kita harus membuang jauh-jauh mentalitas
negatif yang membuat sesama anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan
saling memfitnah dengan kita adalah bersaudara, saudara se-Bangsa dan se-
Tanah Air.
Konjungsi terakhir terdapat pada tuturan (5) yaitu konjungsi agar. Konjungsi
ini menyatakan makna harapan (optatif), yaitu harapan Bapak Joko Widodo
kepada semua hadirin (anggota DPR RI dan DPD RI) sebagai wakil rakyat untuk
bisa tetap teguh dalam menjadikan kesejahteraan umum dan keadilan sosial
sebagai haluan dan tujuan kerja demi terwujud Indonesia Raya.

Kohesi Leksikal
Sumarlam dkk (2003:35) membedakan kohesi leksikal menjadi enam macam
yaitu: repetisi, sinonimi, kolokasi, hiponimi, antonimi, dan ekuivalensi.
a. Repetisi (pengulangan)
1) Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa
yang besar. Sekali lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Besar,
bukan hanya karena jumlah penduduknya yang lebih dari 250 juta jiwa.
Besar, bukan hanya karena memiliki 17 ribuan pulau. Besar, bukan
hanya karena sumber daya alam yang melimpah.
2) Kita adalah bangsa petarung yang berani berjuang dengan kekuatan sendiri
meraih kemerdekaan. Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para
pahlawan kita, ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan
pejuang dari seluruh pelosok Nusantara. Semua itu harus membuat kita
semakin bangga pada Indonesia, negeri yang kita cintai bersama. Semua
itu, harus membuat kita percaya diri untuk menghadapi masa depan. Kita
harus meninggalkan warisan kolonialisme, yang menjadikan bangsa kita
bermental budak, karakter rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam
melihat hari esok. Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang
membuat sesama anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling
memfitnah. Kita harus membangun fondasi kultural yang kuat. Kita harus
bersatu dan berdiri gagah untuk menghadapi tantangan dunia yang semakin
kompleks, yang semakin ekstrim, dan berubah dengan sangat cepat. Kita
harus ingat bahwa kita pernah menjadi tempat bagi negara lain untuk
belajar, belajar tentang Islam, belajar tentang seni budaya, belajar tentang
ilmu pengetahuan dan teknologi dan lain-lain.
3) Kita harus ingat bahwa kita pernah menjadi tempat bagi negara lain untuk
belajar, belajar tentang Islam, belajar tentang seni budaya, belajar
tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dan lain-lain. Kebanggaan inilah
yang harus kita rebut kembali, kebanggaan terhadap kreasi dan karya
sendiri, kebanggaan terhadap produk sendiri.
4) Kebanggaan inilah yang harus kita rebut kembali, kebanggaan terhadap
kreasi dan karya sendiri, kebanggaan terhadap produk sendiri.

Pada 1) terdapat repetisi epizeukis atau pengulangan satuan lingual yang


dipentingkan beberapa kali secara berturut-turut. Pada tuturan tersebut, kata besar
diulang beberapa kali unutk menekankan pentingnya kata tersebut dalam konteks
tuturan tersebut. Pada 2) terdapat repetisi anafora, yaitu pengulangan satuan lingual
pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Repetisi anafora terdapat pada
semua itu harus membuat kita. Klausa tersebut berulang pada kalimat berikutnya.
Repetisi ini dimanfaatkan pembicara untuk menyampaikan maksud bahwa kita
harus bangga dan percaya diri karena kita bangsa petarung, bangsa pemberani,
bangsa yang berani berjuang dengan kekuatan sendiri. Selain itu, repetisi anafora
juga terdapat pada kita harus yang diulang beberapa kali pada beberapa kalimat
setelahnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kita harus bersatu untuk mencegah
mental kolonial, dimana dulu kita dijajah, dan sikap-sikap bermental budak.
Sama halnya jenis repetisi pada 2), pada 3) terdapat repetisi anafora, yaitu
pada pngulangan kata belajar. Pengulangan kata ini berfungsi untuk
menyampaikan maksud bahwa negara Indonesia pernah menjadi tempat belajar
bermacam-macam ilmu pengetahuan, dan hal ini merupakan sebuah kebanggaan
yang tidak biasa. Pada 4), terdapat repetisi tautotes, atau pengulangan kata
beberapa kali dalam sebuah konstruksi. Tampak pada tuturan tersebut kata
kebanggaan diulang dua kali.
b. Sinonimi (padan kata)
1) Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air,
2) Semua itu harus membuat kita semakin bangga pada Indonesia, negeri yang
kita cintai bersama. Semua itu, harus membuat kita percaya diri untuk
menghadapi masa depan. Kita harus meninggalkan warisan kolonialisme,
yang menjadikan bangsa kita bermental budak, karakter rendah diri,
pecundang dan selalu pesimis dalam melihat hari esok.
3) Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini, saya
mengajak kita semua yang diberi amanat oleh rakyat, yang sedang
memanggul mandat dari rakyat, agar tetap teguh menjadikan kesejahteraan
umum dan keadilan sosial sebagai haluan kerja kita, sebagai tujuan kerja
bersama kita, demi terwujudnya Indonesia Raya.
Tampak pada tuturan 1) dan 2) kepaduan wacana tersebut antara lain
didukung oleh sinonimi antara kata se-Bangsa dengan se-Tanah Air dan masa
depan pada kalimat kedua dan hari esok pada kalimat ketiga tuturan 2). Klausa
yang diberi amanat bersinonim dengan klausa yang sedang memanggul mandat
pada tuturan 3). Kedua klausa tersebut bermakna sepadan dan mendukung
kepaduan wacana tuturan tersebut.

c. Kolokasi (sanding kata)


Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa yang
besar. Sekali lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Besar, bukan hanya
karena jumlah penduduknya yang lebih dari 250 juta jiwa. Besar, bukan
hanya karena memiliki 17 ribuan pulau. Besar, bukan hanya karena sumber
daya alam yang melimpah.
Tapi, kebesaran Indonesia karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah, bisa
tetap kokoh bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun. Sementara di
beberapa negara lain, dilanda konflik kekerasan antarsuku, perpecahan
antaragama, pertikaian antargolongan, kita bersyukur kita tetap bersatu dalam
bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbhinneka tunggal
ika. Bahkan sekarang ini, kita menjadi rujukan banyak negara dalam hal
mengelola kebhinnekaan dan membangun persatuan.
Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat sesama
anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling memfitnah. Karena
kita adalah bersaudara, saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air.
Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini, saya
mengajak kita semua yang diberi amanat oleh rakyat, yang sedang memanggul
mandat dari rakyat, agar tetap teguh menjadikan kesejahteraan umum dan
keadilan sosial sebagai haluan kerja kita, sebagai tujuan kerja bersama kita,
demi terwujudnya Indonesia Raya
Pada beberapa tuturan di atas, tampak pemakaian baik kata maupun frasa
bangsa, penduduk, pulau, sumber daya alam, sejarah, negara kesatuan Republik
Indonesia, berbhinneka tunggal ika, kebhinnekaan, persatuan, se-Bangsa dan se-
Tanah air, keadilan sosial, dan Indonesia Raya yang saling berkolokasi sehingga
wacana menjadi padu.

d. Ekuivalensi (kesepadanan)
Tapi, kebesaran Indonesia karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah, bisa
tetap kokoh bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun. Sementara di
beberapa negara lain, dilanda konflik kekerasan antarsuku, perpecahan
antaragama, pertikaian antargolongan, kita bersyukur kita tetap bersatu
dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbhinneka
tunggal ika. Bahkan sekarang ini, kita menjadi rujukan banyak negara dalam
hal mengelola kebhinnekaan dan membangun persatuan.
Kita adalah bangsa petarung yang berani berjuang dengan kekuatan sendiri
meraih kemerdekaan. Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para
pahlawan kita, ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan
pejuang dari seluruh pelosok Nusantara.
Ekuivalensi adalah hubungan kesepadanan antara satuan lingual tertentu
dengan satuan lingual yang lain dalam sebuah paradigma. Dalam hal ini, sejumlah
kata hasil proses afiksasi dari morfem asal yang sama menunjukkan adanya
hubungan kesepadanan (Sumarlam dkk, 2003:46). Pada tuturan di atas, terdapat
hubungan ekuivalensi yang ditunjukkan oleh kata bersatu, kesatuan, dan persatuan
dengan kata asal satu. Begitu juga berbhinneka dan kebhinnekaan dengan kata asal
bhinneka. Pada tuturan selanjutnya ditunjukkan pula kata berjuang, perjuangan,
dan pejuang yang dibentuk dari kata asal juang.
2. Koherensi
Sumarlam dkk (2003:23) menjelaskan bahwa hubungan antarbagian wacana dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu hubungan bentuk yang disebut kohesi dan hubungan
makna atau hubungan semantis yang disebut koherensi. Selanjutnya, Sumarlam
menjelaskan bahwa wacana yang padu adalah wacana yang apabila dilihat dari segi
hubungan bentuk atau struktur lahir bersifat kohesif, dan dilihat dari segi hubungan
makna atau struktur batinnya bersifat koheren. Jadi, Sumarlam menyimpulkan bahwa
dalam analisis wacana, segi bentuk atau struktur lahir wacana disebut aspek gramatikal
wacana, sedangkan segi makna atau struktur batin wacana disebut aspek leksikal wacana.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aspek koherensi wacana mencakup sarana-
sarana dari aspek kohesi leksikal.

3. Intensionalitas
Kohesi dan koherensi adalah sebuah keharusan dalam sebuah teks. Kohesi dan
koherensi bersama-sama mengindikasikan komponen-komponen teks padu dan
bermakna. Namun demikian, maksud dan tujuan produsen teks juga harus diperhatikan,
apakah nantinya makna yang diterima pembaca atau pendengar sama dengan maksud
penulis atau pembicara. Hal ini mengindikasikan bahwa intensionalitas dan akseptabel
berhubungan erat demi terbentuknya wacana yang padu (De Beaugrande dan Dressler,
2002:110).
Berikut data tuturan pidato Presiden Joko Widodo yang dianalisis berdasarkan
intensionalitasnya.
a. Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam
Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam
Kebajikan.
b. Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa yang besar.
Sekali lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Besar, bukan hanya karena
jumlah penduduknya yang lebih dari 250 juta jiwa. Besar, bukan hanya karena
memiliki 17 ribuan pulau. Besar, bukan hanya karena sumber daya alam yang
melimpah. Tapi, kebesaran Indonesia karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah, bisa
tetap kokoh bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun. Sementara di beberapa
negara lain, dilanda konflik kekerasan antarsuku, perpecahan antaragama, pertikaian
antargolongan, kita bersyukur kita tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berbhinneka tunggal ika. Bahkan sekarang ini, kita menjadi
rujukan banyak negara dalam hal mengelola kebhinnekaan dan membangun
persatuan.
c. Kita adalah bangsa petarung yang berani berjuang dengan kekuatan sendiri meraih
kemerdekaan. Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para pahlawan kita,
ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan pejuang dari seluruh
pelosok nusantara. Semua itu harus membuat kita semakin bangga pada Indonesia,
negeri yang kita cintai bersama. Semua itu, harus membuat kita percaya diri untuk
menghadapi masa depan.
d. Kita harus meninggalkan warisan kolonialisme, yang menjadikan bangsa kita
bermental budak, karakter rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam melihat
hari esok. Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat sesama
anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling memfitnah. Karena kita
adalah bersaudara, saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air. Kita harus membangun
fondasi kultural yang kuat. Kita harus bersatu dan berdiri gagah untuk menghadapi
tantangan dunia yang semakin kompleks, yang semakin ekstrim, dan berubah dengan
sangat cepat. Hanya bangsa yang cepatlah yang akan memenangi persaingan global.
e. Kita harus ingat bahwa kita pernah menjadi tempat bagi negara lain untuk belajar,
belajar tentang Islam, belajar tentang seni budaya, belajar tentang ilmu pengetahuan
dan teknologi dan lain-lain. Kebanggaan inilah yang harus kita rebut kembali,
kebanggaan terhadap kreasi dan karya sendiri, kebanggaan terhadap produk sendiri
f. Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini, saya mengajak
kita semua yang diberi amanat oleh rakyat, yang sedang memanggul mandat dari
rakyat, agar tetap teguh menjadikan kesejahteraan umum dan keadilan sosial sebagai
haluan kerja kita, sebagai tujuan kerja bersama kita, demi terwujudnya Indonesia
Raya.
g. Maka dari Sabang, dari Merauke, dari Miangas, dari Rote, mari kita bersama-sama
berseru: Dirgahayu Republik Indonesia! Dirgahayu Negeri Pancasila!

Data tuturan 1 merupakan salam sapa Presiden Joko Widodo yang diucapkan
dalam beberapa bahasa agama, namun sama-sama bermakna sapaan. Jika dianalisis
berdasarkan intensionalitasnya, penutur bermaksud ingin merangkul satu persatu yang
hadir dalam sidang terhormat itu. Mereka yang hadir dan berasal dari berbagai latar
belakang agama, tanpa mengurangi rasa hormat, penutur berusaha untuk mendapatkan
perhatian mereka dengan menggunakan sapaan yang diucapkan dalam beberapa bahasa
agama. Bahasa agama yang dimaksud adalah bahasa yang biasa diucapkan oleh pemeluk
agama tertentu. Pada data 1, tampak sapaan assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Sapaan pertama ini merupakan sapaan dalam agama islam. Hal ini
diucapkan pertama kali karena penutur merupakan muslim/pemeluk agama Islam.
Sebelum sapaan yang pertama itu, penutur mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, yang
merupakan kalimat pembuka berbahasa Arab yang biasa diucapkan ketika akan
melakukan segala sesuatu yang sifatnya baik. Selanjutnya, sapaan kedua yaitu salam
damai sejahtera untuk kita semua, yang merupakan salam sapa untuk digunakan di
berbagai tempat dan acara/kegiatan yang bersifat formal. Ketiga sapaan selanjutnya yang
mempunyai makna sama seperti sapaan sebelumnya tetap diucapkan yang merupakan
sapaan dalam beberapa agama lain di Indonesia.
Pada data 2, penutur menggunakan klausa dalam berbagai kesempatan, yang
mengindikasikan bahwa penutur telah mengatakan hal yang sama beberapa kali. Hal ini
dimanfaatkan penutur untuk menekankan pentingnya hal tersebut. Hal penting tersebut
adalah bahwa Indonesia adalah negara yang besar. Besar dalam arti kuat dan kokoh
karena mampu bertahan di usianya yang ke 72 tahun, dimana pernah melawan penjajahan
oleh beberapa bangsa lain yang bermaksud mengeksploitasi penduduk dan sumber daya
alam Indonesia. Selain itu, Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi
kebhinnekaan dan persatuan bangsa. Dengan berbagai macam latar belakang ras, etnis,
agama, bahasa, budaya, maupun pemikirannya, Indonesia menggunakan keberagaman itu
untuk saling mengenal dan saling menghargai satu sama lain. Penutur kemudian
menambahkan bahwa Indonesia menjadi rujukan negara lain karena keistimewaannya
tersebut.
Data 3 menunjukkan bahwa penutur ingin memperkuat kalimat yang diucapkan
sebelumnya. Penutur menjelaskan bahwa kebesaran Indonesia adalah karena kekuatan
dan semangat juangnya yang tinggi dalam menghalau dan melawan musuh. Hal tersebut
merupakan kebanggaan yang tidak biasa, mengingat perjuangan para pahlawan Indonesia
yang membuat masyarakat sekarang seharusnya lebih mawas diri dan berani menghadapi
tantangan yang akan maupun sedang menghadang.
Pada data 4, penutur menjelaskan akibat dari penjajahan yang bangsa Indonesia
terima dan rasakan, yaitu masyarakat yang bermental budak. Mental budak itu harus
dibuang jauh-jauh oleh bangsa Indonesia sehingga nantinya bisa menatap masa depan
dengan optimis. Penutur juga menjelaskan pentingnya bersatu padu dalam satu fondasi
yang kuat. Dengan demikian, bangsa Indonesia dapat menghadapi dan memenangkan
persaingan global.
Keistimewaan Indonesia tidak terputus hanya dalam segi kekuatan pejuangnya,
tetapi juga wawasannya yang tidak kalah luas sebagaimana tersurat pada tuturan 5.
Penutur menambahkan keistimewaan dan kebanggan Indonesia melalui perannya dalam
kancah internasional, yaitu bangsa asing yang pernah belajar tentang berbagai macam
ilmu dan pengetahuan di Indonesia. Penutur kemudian menegaskan untuk merebut
kembali sosok Indonesia yang dahulu, yang pandai dan berwawasan luas, sehingga
dapat kembali selain mencerdaskan anak bangsa juga mencerdaskan bangsa lain. Dengan
demikian, Indonesia mampu bersaing dengan baik.
Pada data 6, dengan maksud yang sama untuk merangkul para hadirin saat itu yang
terdiri dari pemimpin dan anggota DPR dan DPD RI, penutur meminta dengan tegas
kesediaan mereka yang notabene adalah wakil rakyat, demi terwujudnya Indonesia yang
raya, yang makmur, untuk tetap teguh dalam melindungi rakyat Indonesia, dengan
berlaku adil, tidak sewenang-wenang, dan berlaku rukun antar sesama.
Sebagai penutup pidato tersebut, penutur kembali merangkul baik mereka yang
hadir maupun yang tidak, dari ujung pulau barat, utara, selatan, dan timur Indonesia,
dengan mengajak mereka demi terciptanya Indonesia berbhinnerka tunggal ika, demi
menjunjung tinggi pancasila, untuk menyerukan dirgahayu Republik Indonesia, dirgahayu
Negara pancasila.

4. Akseptabilitas/keberterimaan
Keberterimaan berhubungan erat dengan intensionalitas. Titscher dkk (2009:38)
berpendapat bahwa sebuah teks harus diakui oleh penerima teks. Aksepptabilitas
berkaitan dengan tingkat kesiapan penerima teks untuk mengharapkan sebuah teks yang
relevan.
a. Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa yang besar.
Sekali lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Besar, bukan hanya karena
jumlah penduduknya yang lebih dari 250 juta jiwa. Besar, bukan hanya karena
memiliki 17 ribuan pulau. Besar, bukan hanya karena sumber daya alam yang
melimpah. Tapi, kebesaran Indonesia karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah, bisa
tetap kokoh bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun. Sementara di beberapa
negara lain, dilanda konflik kekerasan antarsuku, perpecahan antaragama, pertikaian
antargolongan, kita bersyukur kita tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berbhinneka tunggal ika. Bahkan sekarang ini, kita menjadi
rujukan banyak negara dalam hal mengelola kebhinnekaan dan membangun
persatuan.
b. Kita adalah bangsa petarung yang berani berjuang dengan kekuatan sendiri meraih
kemerdekaan. Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para pahlawan kita,
ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan pejuang dari seluruh
pelosok nusantara. Semua itu harus membuat kita semakin bangga pada Indonesia,
negeri yang kita cintai bersama. Semua itu, harus membuat kita percaya diri untuk
menghadapi masa depan.
c. Kita harus meninggalkan warisan kolonialisme, yang menjadikan bangsa kita
bermental budak, karakter rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam melihat
hari esok. Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat sesama
anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling memfitnah. Karena kita
adalah bersaudara, saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air. Kita harus membangun
fondasi kultural yang kuat. Kita harus bersatu dan berdiri gagah untuk menghadapi
tantangan dunia yang semakin kompleks, yang semakin ekstrim, dan berubah dengan
sangat cepat. Hanya bangsa yang cepatlah yang akan memenangi persaingan global.
d. Kita harus ingat bahwa kita pernah menjadi tempat bagi negara lain untuk belajar,
belajar tentang Islam, belajar tentang seni budaya, belajar tentang ilmu pengetahuan
dan teknologi dan lain-lain. Kebanggaan inilah yang harus kita rebut kembali,
kebanggaan terhadap kreasi dan karya sendiri, kebanggaan terhadap produk sendiri
e. Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini, saya mengajak
kita semua yang diberi amanat oleh rakyat, yang sedang memanggul mandat dari
rakyat, agar tetap teguh menjadikan kesejahteraan umum dan keadilan sosial sebagai
haluan kerja kita, sebagai tujuan kerja bersama kita, demi terwujudnya Indonesia
Raya.

Jenis tuturan 1 merupakan teks yang padu, baik dari segi kohesi, koherensi,
intensionalitas, maupun akseptabelnya. Jika dianalisis berdasarkan aspek keberterimaan,
tuturan 1 dapat diterima karena mudah dipahami. Penutur menggunakan dalam berbagai
kesempatan, mengindikasikan bahwa hal yang disampaikan saat itu, pernah juga
disampaikan pada waktu sebelumnya. Dengan demikian, pembaca atau pendengar
(penerima teks) lebih mudah memahaminya. Selain itu, penutur mengulangi frasa bangsa
yang besar beberapa kali. Hal ini semakin memudahkan penerima teks memahami
maksud penutur, bahwa kebesaran bangsa Indonesia karena kemampuannya dalam
bertahan menghadapi perkembangan zaman, berbagai peristiwa sejarah. Dibandingkan
dengan beberapa negara lain yang terjadi konflik akibat keberagaman yang tidak dihargai.
Indonesia termasuk bangsa yang dengan keberagamannya dimanfaatkan untuk saling
menghargai satu sama lain. Sehingga Indonesia menjadi contoh bagi negara lain karena
kebhinnekaan dan persatuannya yang dijunjung tinggi.
Tuturan 2 menjelaskan tentang sejarah bangsa Indonesia yang dahulu pernah dijajah
selama puluhan tahun oleh bangsa lain, mampu berjuang demi merebut kemerdekaan
yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan Indonesia dari berbagai kalangan. Sejarah ini
merupakan pengetahuan umum yang semua warga Indonesia mengetahuinya, yang
kemudian oleh penutur diingatkan kembali. Dengan demikian, data 2 merupakan tuturan
yang berterima atau akseptabel.
Pada tuturan 3, penutur menggunakan beberapa kata dan frasa yang bukan
merupakan kosakata umum, seperti warisan kolonialisme dan fondasi kultural. Namun,
penutur menjabarkan maksud dari frasa-frasa sulit tersebut dengan beberapa kalimat
setelahnya yang lebih mudah dipahami. Penutur menjelaskan maksud dari warisan
kolonialisme dengan klausa setelahnya yaitu hal-hal yang menjadikan kita bermental
budak, mempunyai karakter rendah diri, pecundang, dan selalu pesimis dalam melihat
hari esok. Hal inilah yang menjadikan tuturan tersebut berterima.
Tuturan selanjutnya juga merupakan tuturan yang berterima. Penerima teks
memahami maksud dari kita pernah menjadi tempat bagi negara lain untuk belajar,
belajar tentang Islam, belajar tentang seni budaya, belajar tentang ilmu pengetahuan
dan teknologi. Penerima teks mengetahui fakta bahwa Indonesia merupakan negara
dengan beragam budaya, negara dengan penganut agama Islam terbesar, negara dengan
teknologi yang canggih dan tidak kalah dari negara lain. Hal tersebut dilihat dari fakta
sejarah bahwa banyak warga asing yang mendatangi Indonesia untuk meneliti beragam
seni dan budaya Indonesia yang beragam. Selain itu, penerima teks juga memahami
bahwa walisongo dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa. Dengan
perantaraan mereka, agama Islam tersiar di antara raja-raja hindu di Jawa dan lainnya.
Penerima teks memahami bahwa hal tersebut merupakan salah satu kebanggaan bangsa
Indonesia yang saat ini mulai luntur dan hilang. Dengan demikian, dapat dipahami juga
maksud dari penutur bahwa dia berharap kebanggaan tersebut dapat terwujud kembali.
Data terakhir pada analisis keberterimaan ini juga termasuk tuturan yang berterima.
Penerima teks dapat langsung memahami bahwa penutur mengajak para pejabat, dalam
hal ini hadirin Sidang Terhormat yaitu pemimpin dan anggota DPR dan DPD RI, untuk
tetap melaksanakan tugasnya dengan baik, tanpa terpengaruh hal lain yang bukan
prioritasnya. Penutur menuntut mereka untuk mengingat dengan baik posisi mereka
sebagai wakil rakyat, untuk betul-betul menjadi pihak yang mewakili rakyat, pihak yang
mendengar keluh kesah rakyat dan menjadi pihak yang mewakili status bangsa Indonesia
di kancah dunia.

5. Informativitas
De Beaugrande dan Dressler (2002:133) menggunakan aspek informativitas dalam
analisis wacana untuk menandakan sebuah teks mengandung informasi yang diperlukan
oleh penerima teks. Informativitas tidak hanya berkaitan dengan kuantitas, namun juga
kualitas dari informasi yang ditawarkan. Berikut data tuturan pidato yang dianalisis
berdasarkan aspek informativitas.
a. Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa yang besar.
Sekali lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Besar, bukan hanya karena
jumlah penduduknya yang lebih dari 250 juta jiwa. Besar, bukan hanya karena
memiliki 17 ribuan pulau. Besar, bukan hanya karena sumber daya alam yang
melimpah. Tapi, kebesaran Indonesia karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah, bisa
tetap kokoh bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun. Sementara di beberapa
negara lain, dilanda konflik kekerasan antarsuku, perpecahan antaragama, pertikaian
antargolongan, kita bersyukur kita tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berbhinneka tunggal ika. Bahkan sekarang ini, kita menjadi
rujukan banyak negara dalam hal mengelola kebhinnekaan dan membangun
persatuan.
b. Kita adalah bangsa petarung yang berani berjuang dengan kekuatan sendiri meraih
kemerdekaan. Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para pahlawan kita,
ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan pejuang dari seluruh
pelosok nusantara. Semua itu harus membuat kita semakin bangga pada Indonesia,
negeri yang kita cintai bersama. Semua itu, harus membuat kita percaya diri untuk
menghadapi masa depan.
c. Kita harus meninggalkan warisan kolonialisme, yang menjadikan bangsa kita
bermental budak, karakter rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam melihat
hari esok. Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat sesama
anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling memfitnah. Karena kita
adalah bersaudara, saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air. Kita harus membangun
fondasi kultural yang kuat. Kita harus bersatu dan berdiri gagah untuk menghadapi
tantangan dunia yang semakin kompleks, yang semakin ekstrim, dan berubah dengan
sangat cepat. Hanya bangsa yang cepatlah yang akan memenangi persaingan global.
d. Kita harus ingat bahwa kita pernah menjadi tempat bagi negara lain untuk belajar,
belajar tentang Islam, belajar tentang seni budaya, belajar tentang ilmu pengetahuan
dan teknologi dan lain-lain. Kebanggaan inilah yang harus kita rebut kembali,
kebanggaan terhadap kreasi dan karya sendiri, kebanggaan terhadap produk sendiri
e. Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini, saya mengajak
kita semua yang diberi amanat oleh rakyat, yang sedang memanggul mandat dari
rakyat, agar tetap teguh menjadikan kesejahteraan umum dan keadilan sosial sebagai
haluan kerja kita, sebagai tujuan kerja bersama kita, demi terwujudnya Indonesia
Raya.
Data 1 termasuk tuturan yang informatif karena penutur menjelaskan dengan rinci
apa yang dimaksud dengan Indonesia bangsa yang besar. Dalam tuturan tersebut,
dijelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang besar bukan karena banyaknya
jumlah penduduk, bukan karena banyaknya pulau yang dimiliki, ataupun karena sumber
daya alamnya yang melimpah. Namun, Indonesia negara yang besar karena mampu
bertahan hingga saat ini melawan berbagai peristiwa sejarah. Informasi ini tidak banyak
yang mengetahuinya karena rakyat Indonesia tidak semuanya mengenyam bangku
pendidikan, sehingga belum banyak dari mereka yang mengetahui hal ini. Dengan
demikian, tuturan ini termasuk tuturan informatif karena mengandung informasi baru
yang diperlukan dan diharapkan oleh penerima teks.
Informasi bahwa para pahlawan Indonesia berjuang demi meraih kemerdekaan
pada data 2 memang sudah diketahui oleh semua rakyat Indonesia. Namun, hal yang
seharusnya menjadi kebanggaan itu tidak semua orang memahaminya. Kemerdekaan
bangsa Indonesia yang direbutnya dari penjajahan bangsa lain seharusnya menjadi
cermin bangsa Indonesia untuk kemudian menjadi bangsa yang optimis dalam
menghadapi perkembangan zaman. Tampak bahwa tuturan ini termasuk tuturan
informatif.
Masih berkaitan dengan data 2, tuturan pada data 3 menjelaskan tentang warisan
kolonialisme yang harus dibuang jauh-jauh oleh bangsa Indonesia. Bukan karena
pernah dijajah selama puluhan tahun kemudian bangsa Indonesia mempunyai mental
budak, tapi dengan adanya fakta sejarah tersebut, bangsa Indonesia harus bisa
mengambil pelajaran untuk lebih mawas diri, saling bersatu demi berdirinya negara
Indonesia yang maju. Inilah yang merupakan informasi baru bagi bangsa Indonesia,
untuk tidak bermental budak, untuk bersatu seperti para pejuang dahulu
mempertahankan negerinya.
Data 4 juga merupakan tuturan yang informatif karena kebanggaan Indonesia
yang pernah menjadi tempat belajar berbagai ilmu pengetahuan bagi bangsa asing
belum menyadarkan masyarakat Indonesia untuk kemudian berusaha merealisasikan
kembali kebanggan tersebut. Penutur mengingatkan hal penting ini dengan mengajak
masyarakat Indonesia untuk bersatu demi merealisasikan kembali kebanggaan tersebut.
Tuturan terakhir pada data 5 sebagai penutup pidato, penutur mengajak dan
meminta para hadirin untuk tetap bekerja sesuai koridor yang ada. Para pejabat yang
memangku tanggung jawab yang tidak besar itu, pada masa sekarang ini banyak
ditemukan kasus yang menunjukkan bahwa sebagian dari para pejabat itu ada yang
menyalahgunakan posisi yang dipangkunya, sehingga sebagian masyarakat sulit untuk
bisa mempercayakan kesejahteraan mereka kepada para pejabat. Dengan ini, penutur
mengingatkan kembali kepada para pejabat untuk bisa tetap berlaku adil demi Indonesia
yang makmur.

6. Situasional
Situasional berkenaan dengan faktor-faktor yang membuat sebuah teks relevan
dengan suatu peristiwa (De Beaugrande dan Dressler 2002:154). Situasi tuturan
memainkan peran penting dalam pemroduksian teks dan saat teks digunakan. Hal ini
berkaitan erat dengan keberterimaan penerima teks sehingga menjadikan teks tersebut
padu. Berikut analisis tuturan pidato berdasarkan kriteria situasionalitas.
a. Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam
Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam
Kebajikan.
b. Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa yang besar.
Sekali lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Besar, bukan hanya karena
jumlah penduduknya yang lebih dari 250 juta jiwa. Besar, bukan hanya karena
memiliki 17 ribuan pulau. Besar, bukan hanya karena sumber daya alam yang
melimpah. Tapi, kebesaran Indonesia karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah, bisa
tetap kokoh bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun. Sementara di beberapa
negara lain, dilanda konflik kekerasan antarsuku, perpecahan antaragama, pertikaian
antargolongan, kita bersyukur kita tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berbhinneka tunggal ika. Bahkan sekarang ini, kita menjadi
rujukan banyak negara dalam hal mengelola kebhinnekaan dan membangun
persatuan.
c. Kita adalah bangsa petarung yang berani berjuang dengan kekuatan sendiri meraih
kemerdekaan. Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para pahlawan kita,
ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan pejuang dari seluruh
pelosok nusantara. Semua itu harus membuat kita semakin bangga pada Indonesia,
negeri yang kita cintai bersama. Semua itu, harus membuat kita percaya diri untuk
menghadapi masa depan.
d. Kita harus meninggalkan warisan kolonialisme, yang menjadikan bangsa kita
bermental budak, karakter rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam melihat
hari esok. Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat sesama
anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling memfitnah. Karena kita
adalah bersaudara, saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air. Kita harus membangun
fondasi kultural yang kuat. Kita harus bersatu dan berdiri gagah untuk menghadapi
tantangan dunia yang semakin kompleks, yang semakin ekstrim, dan berubah dengan
sangat cepat. Hanya bangsa yang cepatlah yang akan memenangi persaingan global.
e. Kita harus ingat bahwa kita pernah menjadi tempat bagi negara lain untuk belajar,
belajar tentang Islam, belajar tentang seni budaya, belajar tentang ilmu pengetahuan
dan teknologi dan lain-lain. Kebanggaan inilah yang harus kita rebut kembali,
kebanggaan terhadap kreasi dan karya sendiri, kebanggaan terhadap produk sendiri
f. Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini, saya mengajak
kita semua yang diberi amanat oleh rakyat, yang sedang memanggul mandat dari
rakyat, agar tetap teguh menjadikan kesejahteraan umum dan keadilan sosial sebagai
haluan kerja kita, sebagai tujuan kerja bersama kita, demi terwujudnya Indonesia
Raya.
Pada data 1, penutur membuka pidato dengan mengucapkan salam sapa dalam
beberapa bahasa agama. Hal ini dapat dikatakan bahwa tuturan tersebut sesuai dengan
situasi. Data 1 dikatakan situasional karena merebaknya pertikaian antar agama di
beberapa negara. Dengan penggunaan salam sapa berbagai bahasa agama, penutur
bermaksud untuk mengajak satu persatu dari masing-masing penganut agama di
Indonesia untuk saling menghargai satu sama lain.
Tuturan pada data 2 bisa dikatakan kurang situasional karena penggunaan bahasa
yang sedikit berbelit-belit. Hal tersebut tampak pada pengulangan kata besar beberapa
kali dalam beberapa kalimat berbeda. Masyarakat saat ini lebih sering menggunakan
bahasa yang singkat dan padat, sehingga tuturan ini bisa dikatakan kurang situasional.
Meskipun demikian, pengulangan kata tersebut dimanfaatkan penulis untuk
menekankan bahwa Indonesia merupakan negara yang besar bukan hanya karena segala
kekayaan yang dimilikinya, tetapi lebih kepada kemampuannya dalam bertahan dari
goresan-goresan zaman. Selain itu, untuk memudahkan penerima teks dalam memahami
tuturan tersebut, penutur memperjelasnya dalam beberapa kalimat setelahnya, yaitu
bahwa Indonesia sekarang ini bisa bertahan untuk tidak saling bertikai dan tidak saling
menyakiti satu sama lain, sedalam apapun konflik terjadi.
Sama seperti tuturan 2, data pada tuturan 3 juga termasuk kurang situasional
karena menggunakan beberapa kalimat yang merupakan informasi lama bagi penerima
teks di negeri ini. Para penerima teks sangat mengetahui sejarah kemerdekaan bangsa
Indonesia, yaitu berkat perjuangan para pahlawan. Namun, ternyata ungkapan tersebut
hanyalah sebuah permulaan untuk ungkapan selanjutnya, yaitu kebanggaan bangsa
Indonesia berkat perjuangan para pahlawan tersebut. Penutur menekankan sekali lagi
bahwa Indonesia adalah negara yang luar biasa, karena keberanian masyarakatnya
dalam berjuang meraih kemerdekaan. Hal tersebut patutnya menjadi sebuah
kebanggaan tersendiri, sehingga bisa menatap masa depan dengan optimis.
Pada tuturan 4, beberapa kosakata baru dipilih penutur untuk menjelaskan
beberapa hal yang merupakan informasi baru bagi para penerima teks. Tuturan tersebut
termasuk tuturan yang situasional, walaupun menggunakan beberapa kosakata sulit
baru, namun penutur menjabarkannya dengan bahasa yang mudah dipahami dan sesuai
kondisi masyarakat saat ini, yaitu lebih mudah memahami suatu hal ketika seseorang
menjelaskan secara lebih detail. Penutur mengungkapkan sebuah tuturan yang berisi
kosakata sulit, kemudian menjelaskan secara lebih detail pada tuturan selanjutnya. Hal
inilah yang menjadikan tuturan ini termasuk tuturan yang situasional.
Tuturan 5 termasuk tuturan yang situasional karena diungkapkan dengan bahasa
yang lugas sehingga penerima teks dapat memahami maksud penutur dengan baik.
Penutur menjelaskan bahwa bangsa Indonesia pernah menjadi tempat menempuh ilmu
Islam, seni budaya, dan pengetahuan lain bagi bangsa asing. Penutur menggunakan
kata-kata umum yang dengan mudah dapat dipahami penerima teks.
Data terakhir pada tuturan 6 termasuk tuturan situasional. Pada tuturan ini,
penutur mempersempit subjek mitra tuturnya, yaitu hanya kepada para pejabat, baik
yang menghadiri maupun yang tidak menghadiri Sidang Terhormat. Pejabat atau wakil
rakyat identik dengan mereka yang berpendidikan tinggi dan mempunyai wawasan luas.
Hal tersebut tampak pada saya mengajak kita semua yang diberi amanat oleh rakyat,
yang kemudian dipertegas lagi dengan yang sedang memanggul mandat dari rakyat.
Pada tuturan ini, penutur menggunakan agar tetap teguh menjadikan kesejahteraan
umum dan keadilan sosial sebagai haluan kerja kita, sebagai tujuan kerja bersama kita,
demi terwujudnya Indonesia raya. Hal ini dimaksudkan pada keteguhan para pejabat
dalam bekerja, tanpa mengindahkan godaan-godaan yang dapat merusak fokus mereka
atau bahkan menghancurkan kredibilitas.

7. Intertekstualitas
Sebuah teks hampir selalu terkait dengan wacana sebelumnya. Intertekstualitas
menggolongkan kriteria formal yang menghubungkan teks tertentu dengan teks lain
dalam genre tertentu, atau mengutip pandangan pakar sebelumnya, atau berkenaan
dengan fakta yang terjadi saat itu (De Beaugrande dan Dressler 2002: 171).
a. Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa yang besar.
Sekali lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Besar, bukan hanya karena
jumlah penduduknya yang lebih dari 250 juta jiwa. Besar, bukan hanya karena
memiliki 17 ribuan pulau. Besar, bukan hanya karena sumber daya alam yang
melimpah. Tapi, kebesaran Indonesia karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah, bisa
tetap kokoh bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun. Sementara di beberapa
negara lain, dilanda konflik kekerasan antarsuku, perpecahan antaragama, pertikaian
antargolongan, kita bersyukur kita tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berbhinneka tunggal ika. Bahkan sekarang ini, kita menjadi
rujukan banyak negara dalam hal mengelola kebhinnekaan dan membangun
persatuan.
b. Kita adalah bangsa petarung yang berani berjuang dengan kekuatan sendiri meraih
kemerdekaan. Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para pahlawan kita,
ulama kita, para santri, pemimpin agama-agama kita, dan pejuang dari seluruh
pelosok nusantara. Semua itu harus membuat kita semakin bangga pada Indonesia,
negeri yang kita cintai bersama. Semua itu, harus membuat kita percaya diri untuk
menghadapi masa depan.
c. Kita harus meninggalkan warisan kolonialisme, yang menjadikan bangsa kita
bermental budak, karakter rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam melihat
hari esok. Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat sesama
anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling memfitnah. Karena kita
adalah bersaudara, saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air. Kita harus membangun
fondasi kultural yang kuat. Kita harus bersatu dan berdiri gagah untuk menghadapi
tantangan dunia yang semakin kompleks, yang semakin ekstrim, dan berubah dengan
sangat cepat. Hanya bangsa yang cepatlah yang akan memenangi persaingan global.
d. Kita harus ingat bahwa kita pernah menjadi tempat bagi negara lain untuk belajar,
belajar tentang Islam, belajar tentang seni budaya, belajar tentang ilmu pengetahuan
dan teknologi dan lain-lain. Kebanggaan inilah yang harus kita rebut kembali,
kebanggaan terhadap kreasi dan karya sendiri, kebanggaan terhadap produk sendiri
e. Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini, saya mengajak
kita semua yang diberi amanat oleh rakyat, yang sedang memanggul mandat dari
rakyat, agar tetap teguh menjadikan kesejahteraan umum dan keadilan sosial sebagai
haluan kerja kita, sebagai tujuan kerja bersama kita, demi terwujudnya Indonesia
Raya.

Pada data 1, tampak dalam berbagai kesempatan. Klausa ini mengindikasikan


bahwa informasi yang diungkapkan, sebelumnya juga pernah disampaikan dalam
beberapa kegiatan berbeda. Seperti pada salah satu pidatonya yang merupakan pidato
perdana Joko Widodo sebagai Presiden ke-7 RI, disampaikan pada saat pelantikan pada
20 oktober 2014 seusai membacakan sumpah jabatan saya ingin menegaskan bahwa
pemerintahan saya Indonesia sebagai negara terbesar ketiga (transkripsi pidato
perdana Joko Widodo sebagai Presiden ke-7 RI).
Intertekstual tuturan ini diperkuat lagi dengan pidato Joko Widodo pada
peringatan hari lahir pancasila 1 juni 2017 berbagai etnis, berbagai bahasa lokal,
berbagai adat istiadat, berbagai agama, kepercayaan, serta golongan bersatu padu
membentuk Indonesia. Itulah Bhinneka Tunggal Ika kita, Indonesia. Namun,
kehidupan berbangsa dan bernegara kita selalu mengalami tantangan. Kebhinnekaan
kita selalu diuji. Kita harus belajar dari pengalaman buruk negara lain yang
dihantui oleh radikalisme konflik sosial, yang dihantui oleh terorisme dan perang
saudara. Dengan pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI dan Bhinneka
Tunggal Ika, kita bisa terhindar dari masalah-masalah tersebut. Kita bisa hidup rukun
dan bergotong royong untuk memajukan negeri ini. Dengan pancasila, Indonesia
adalah rujukan masyarakat internasional untuk membangun kehidupan yang damai,
yang adil, yang makmur di tengah kemajemukan dunia. (transkripsi pidato Joko
Widodo pada peringatan hari lahir pancasila)
Tuturan selanjutnya pada data 2 juga termasuk tuturan yang intertekstualitas. Hal
ini terdapat pada pidato yang sama seperti tuturan 1, yaitu pidato Presiden Joko Widodo
pada peringatan hari lahir pancasila tidak ada pilihan lain, kecuali kita harus bahu-
membahu menggapai cita-cita bangsa sesuai dengan pancasila. Juga terlihat sebagian
pada pidato perdana Presiden Joko Widodo saya yakin beban sejarah yang maha berat
ini akan dapat kita pikul bersama dengan persatuan, dengan gotong royong, dengan
kerja keras. Persatuan dan gotong royong sangat menjadi bekal untuk menjadi bangsa
yang besar. Kita tidak akan pernah besar jika terjebak dalam keterbelahan dan
keterpecahan. Dan kita tidak akan betul-betul merdeka tanpa kerja keras. Dari tuturan
tersebut, dapat dipahami bahwa penutur menegaskan Indonesia tidak akan pernah
merdeka tanpa kerja keras, persatuan, dan perjuangan para pahlawan.
Pada tuturan 3, penutur menyampaikan bahwa Indonesia harus meninggalkan
mental budak. Penutur menyerukan untuk bersatu demi menghadapi tantangan dunia.
Hal yang sama tampak pada pidato perdana Presiden Joko Widodo sebagai Presiden ke-
7 RI kita juga ingin hadir di antara bangsa-bangsa dengan kehormatan, dengan
martabat, dengan harga diri. Kita ingin jadi bangsa yang menyusun peradaban sendiri,
bangsa yang kreatif, yang bisa mengembangkan peradaban global. Kita harus bekerja
sekeras-kerasnya, bahu-membahu. Juga sesuai dengan sebagian pidato Presiden Joko
Widodo pada peringatan hari lahirnya pancasila tidak ada pilihan lain, kecuali kita
harus menjadikan Indonesia bangsa yang adil, makmur, dan bermartabat di mata
internasional. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan penutur peerihal bangsa
Indonesia yang harus meninggalkan warisan kolonialisme, yang menjadikan bangsa
Indonesia bermental budak, rendah diri. Tuturan yang menyatakan tentang bangsa
Indonesia harus membangun fondasi kultural yang kuat, bersatu untuk menghadapi
tantangan dunia juga terlihat sesuai dengan pidato Presiden Joko Widodo tidak ada
pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa harus menyatukan hati, pikiran, dan tenaga
untuk persatuan dan persaudaraan. Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus kembali
ke jati diri sebagai bangsa yang santun, berjiwa gotong royong, dan toleran.
Aspek intertekstualitas tuturan 4 berhubungan dengan fakta saat ini bahwa
sebagian masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, lebih memilih belajar di luar
negeri. Sebagian mereka berpendapat bahwa pendidikan di luar lebih berbobot. Namun,
penutur menjelaskan bahwa Indonesia pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan, dimana
warga negara asing datang ke Indonesia secara khusus untuk mencari ilmu. Penutur
menekankan pentingnya hal ini, bahwa Indonesia bangsa yang pintar. Indonesia harus
menjadi seperti sedia kala, dalam aspek sebagai pusat pembelajaran dunia.
Pada data 5, tuturan ini memiliki hubungan intertekstual dengan cuplikan pidato
Presiden Joko Widodo pada saat pelantikan pemerintahan yang saya pimpin akan
bekerja untuk memastikan setiap rakyat di seluruh pelosok tanah air meraskan
pelayanan pemerintahan. Saya mengajak seluruh lembaga negara untuk bekerja
dengan semangat yang sama dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.
Saya yakin, negara ini akan makin kuat dan berwibawa jika seluruh lembaga negara
bekerja sesuai mandat yang diberikan konstitusi kita.

KESIMPULAN
Kajian Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari
Kemerdekaan RI tahun 2017 memberikan penjelasan mengenai Indonesia yang menjadi
negara besar, kebanggaan-kebanggaan Indonesia, dan ajakan Presiden kepada para
wakil rakyat untuk tetap teguh dalam menjalankan tugas demi rakyat Indonesia yang
makmur dan sejahtera.
Wacana pidato yang telah dianalisis berdasarkan tujuh standar tekstualitas
wacana, dapat disimpulkan bahwa wacana Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo
pada peringatan Hari Kemerdekaan RI tahun 2017 termasuk wacana yang kohesif. Dari
segi koherensi, wacana tersebut juga termasuk wacana yang koheren. Begitu juga dari
aspek intensionalitas, keberterimaan, informativitas, situasionalitas, maupun
intertekstualitas. Walaupun beberapa tuturan termasuk kurang situasional, namun hal
tersebut semata-mata karena tuturan tersebut membutuhkan penjelasan yang bisa
memahamkan penerima teks. Jadi, secara keseluruhan, berdasarkan tujuh kriteria teks,
wacana Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari Kemerdekaan
RI tahun 2017 merupakan wacana yang padu dan komunikatif.
DAFTAR PUSTAKA
Alba-Juez, Laura. 2009. Perspective on Discourse Analysis: Theory and Practice. Inggris:
Cambridge Scholars Publishing.
De Beaugrande, Robert-Alain dan Wolfgang Dressler. 2002. Introduction to Text Linguistics.
Format digital. (http://www.beaugrande.com/introduction_to_text_linguistics.htm).
Halliday, M. A. K. dan Ruqaiya Hasan. 2013. Cohesion in English. London: Routledge.
Jorgensen, Marianne dan Louise Phillips. 2002. Discourse Analysis as Theory and Method.
London: SAGE Publications.
Sumarlam dkk. 2003. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Cetakan II. Surakarta: Pustaka
Cakra.
Tim Penyusun. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.
Titscher, Stefan dkk. 2009. Metode Analisis Teks dan Wacana. Diterjemahkan dari Methods
of Text and Discourse Analysis. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Transkripsi pidato perdana Presiden Joko Widodo pada 20 Oktober 2014.
https://www.google.co.id/amp/amp.kompas.com/nasional/read/2014/10/20/1318031/I
ni.Pidato.Perdana.Jokowi.sebagai.Presiden.ke-7.RI
Transkripsi pidato Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari Pancasila 01 Juni 2017.
https://www.google.co.id/amp/amp.kompas.com/nasional/read/2017/06/01/13572831/
ini.isi.pidato.jokowi.pada.hari.lahir.pancasila.yang.disebar.ke.penjuru.indonesia
(Sebagian) Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo yang dibacakan dalam rangka HUT ke-
72 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,


Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Yang saya hormati, ();

Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air, Marilah kita ()

Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air,

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu katakan, kita ini adalah bangsa yang besar. Sekali
lagi, Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Besar, bukan hanya karena jumlah penduduknya
yang lebih dari 250 juta jiwa. Besar, bukan hanya karena memiliki 17 ribuan pulau. Besar,
bukan hanya karena sumber daya alam yang melimpah.

Tapi, kebesaran Indonesia karena bangsa ini sudah teruji oleh sejarah, bisa tetap kokoh
bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun. Sementara di beberapa negara lain, dilanda
konflik kekerasan antarsuku, perpecahan antaragama, pertikaian antargolongan, kita
bersyukur kita tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berbhinneka tunggal ika. Bahkan sekarang ini, kita menjadi rujukan banyak negara dalam hal
mengelola kebhinnekaan dan membangun persatuan.

Kita adalah bangsa petarung yang berani berjuang dengan kekuatan sendiri meraih
kemerdekaan. Kita merebut kemerdekaan berkat perjuangan para pahlawan kita, ulama kita,
para santri, pemimpin agama-agama kita, dan pejuang dari seluruh pelosok Nusantara.

Semua itu harus membuat kita semakin bangga pada Indonesia, negeri yang kita cintai
bersama. Semua itu, harus membuat kita percaya diri untuk menghadapi masa depan. Kita
harus meninggalkan warisan kolonialisme, yang menjadikan bangsa kita bermental budak,
karakter rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam melihat hari esok.
Kita harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat sesama anak bangsa saling
mencela, saling mengejek dan saling memfitnah. Karena kita adalah bersaudara, saudara se-
Bangsa dan se-Tanah Air.

Kita harus membangun fondasi kultural yang kuat. Kita harus bersatu dan berdiri gagah untuk
menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks, yang semakin ekstrim, dan berubah
dengan sangat cepat. Hanya bangsa yang cepatlah yang akan memenangi persaingan global.

Kita harus ingat bahwa kita pernah menjadi tempat bagi negara lain untuk belajar, belajar
tentang Islam, belajar tentang seni budaya, belajar tentang ilmu pengetahuan dan teknologi
dan lain-lain. Kebanggaan inilah yang harus kita rebut kembali, kebanggaan terhadap kreasi
dan karya sendiri, kebanggaan terhadap produk sendiri.
() Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air,

()
Hadirin yang saya muliakan, Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air,

Sebagai penutup Pidato Kenegaraan di depan Sidang Terhormat ini, saya mengajak kita
semua yangdiberi amanat oleh rakyat, yang sedang memanggul mandat dari rakyat, agar tetap
teguh menjadikan kesejahteraan umum dan keadilan sosial sebagai haluan kerja kita, sebagai
tujuan kerja bersama kita, demi terwujudnya Indonesia Raya.

Maka dari Sabang, dari Merauke, dari Miangas, dari Rote, mari kita bersama-sama berseru:

Dirgahayu Republik Indonesia! Dirgahayu Negeri Pancasila!


Terimakasih.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,


Om Shanti Shanti Shanti Om,
Namo Buddhaya.

Jakarta, 16 Agustus 2017

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

JOKO WIDODO