Anda di halaman 1dari 28

IBADAH SEBAGAI BENTUK PERWUJUDAN IMAN KEPADA

ALLAH SWT

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Al-quran Hadis Yang

Dibimbing Oleh: Farid Irsan,S.PdI

Kelas : VII- 2
Nama Kelompok:
1. Nurrahmah Mauludyah
2. Najla Syakirah Hidayah
3. Mutya Alda
4. Munik Valerina Maulidia
5. Nur Annisa Jannati
6. Nazjran Tanjung Saputra
7. Mujahid Ramadhan

SEKOLAH MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 1 BALIKPAPAN

2017
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat

rahmat dan karunia-Nya, karya ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik serta

tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk

memenuhi tugas mata pelajaran Al-Quran Hadis pada kelas VII, dengan judul

Ibadah Sebagai Bentuk Perwujudan Iman Kepada Allah SWT Dengan Membuat

Tugas Ini Kami Diharapkan Dapat Lebih Memahami Materi Mengenai Ibadah

Sebagai Bentuk Perwujudan Iman Kepada Allah SWT.

Harapan kami, semoga karya ilmiah yang sederhana ini, dapat membantu

orang lain untuk memahami tentang Ibadah Sebagai Bentuk Perwujudan Iman

Kepada Allah Swt. Kami sadar, sebagai siswa/i yang masih dalam proses

pembelajaran, masih memerlukan bimbingan. Oleh karena itu, kami sangat

mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan karya

ilmiah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Tim Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii


DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .......................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah ...................................................................................2
1.3. Tujuan dan manfaat ................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ibadah4
2.2 Ruang Lingkup Ibadah.5
2.3 Dasar-dasar Ibadah...7
2.4 Hakikat dan Tujuan Ibadah...9
2.5 Makna ibadah..10
2.6 Tanda-tanda seseorang yang merasakan nikmatnya Ibadah...12
2.7 Sarana meraih nikmatnya ibadah14
2.8 Jenis Ibadah20
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .....................................................................................................21

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seringkali dan banyak di antara kita yang menganggap ibadah itu hanyalah
sekedar menjalankan rutinitas dari hal-hal yang dianggap kewajiban, seperti
sholat dan puasa. Sayangnya, kita lupa bahwa ibadah tidak mungkin lepas dari
pencapaian kepada Tauhid terlebih dahulu. Mengapa? keduanya berkaitan erat,
karena mustahil kita mencapai tauhid tanpa memahami konsep ibadah dengan
sebenar-benarnya. Dalam syarah Al-Wajibat dijelaskan bahwa Ibadah secara
bahasa berarti perendahan diri, ketundukan dan kepatuhan. (Tanbihaat
Mukhtasharah, hal. 28).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: IBADAH
adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan
diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi
(batin) maupun yang nampak (lahir).
Dari definisi singkat tersebut, maka secara umum ibadah seperti yang kita
ketahui di antaranya yaitu mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada
bulan ramadhan (maupun puasa-puasa sunnah lainnya), dan melaksanakan
haji. Selain ibadah pokok tersebut, hal-hal yang sering kita anggap sepele pun
sebenarnya bernilai ibadah dan pahalanya tidak dapat diremehkan begitu saja,
misalnya
1. Menjaga lisan dari perbuatan dosa, misalnya dengan tidak berdusta dan
mengumbar fitnah, mencaci,
2. Menghina atau pun melontarkan perkataan yang bisa menyakiti hati.
3. Menjaga kehormatan diri dan keluarga serta sahabat.
4. Mampu dan bersedia menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya dengan
penuh tanggung jawab.
5. Berbakti dan hormat kepada kedua orang tua atau orang yang lebih tua dari
kita.
6. Menyambung tali silaturahim dan kekerabatan.
7. Menepati janji.

1
8. Memerintahkan atau setidaknya menyampaikan amar maruf nahi munkar
9. Menjaga hubungan baik dengan tetangga.
10. Menyantuni anak yatim, fakir miskin, ibnu sabil (orang yang kehabisan
bekal di perjalanan).
11. Menyayangi hewan dan tumbuh-tumbuhan di sekitar tempat tinggal kita.
12. Memanjatkan doa, berdzikir, mengingat Allah kapan dan dimanapun kita
berada. Membaca Al Quran.
Mendengarkan ceramah, dan lain sebagainya termasuk bagian dari ibadah.
Begitu pula rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, inabah
(kembali taat) kepada-Nya, memurnikan agama (amal ketaatan) hanya untuk-
Nya, bersabar terhadap keputusan (takdir)-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-
Nya, merasa ridha terhadap qadha/takdir-Nya, tawakal kepada-Nya,
mengharapkan rahmat (kasih sayang)-Nya, merasa takut dari siksa-Nya dan
lain sebagainya itu semua juga termasuk bagian dari ibadah kepada Allah (Al
Ubudiyah, cet. Maktabah Darul Balagh hal. 6).
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas. Penyusun merumuskan rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Agar Siswa/I dapat memahami dan mengetahui arti Ibadah
2. Agar Siswa/I dapat mengetahui Ruang Lingkup Ibadah
3. Agar Siswa/I mengetahui Dasar-dasar Ibadah
4. Agar Siswa/I mengetahui Hakikat dan Tujuan Ibadah
5. Agar Siswa/I memahami makna ibadah
6. Agar Siswa/I dapat memahamiTanda-tanda seseorang yang merasakan
nikmatnya Ibadah
7. Agar Siswa/I dapat mengetahui Sarana meraih nikmatnya ibadah
8. Agar Siswa/I dapat Jenis Ibadah

2
1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari pembuatan makalah ini agar dapat membantu siswa/I untuk lebih
memahami tentang terbentuknya suatu Ibadah Sebagai Bentuk Perwujudan
Iman Kepada Allah SWT.
Manfaatnya dapat memberikan pelajaran baru dan pengetahuan Ibadah Sebagai
Bentuk Perwujudan Iman Kepada Allah SWT kepada para siswa/I agar lebih
paham lagi tentang Ibadah Sebagai Bentuk Perwujudan Iman Kepada Allah
SWT.

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ibadah
Menurut bahasa, kata ibadah berarti patuh (al-thaah), dan tunduk (al-
khudlu). Ubudiyah artinya tunduk dan merendahkan diri. Menurut al-
Azhari, kata ibadah tidak dapat disebutkan kecuali untuk kepatuhan kepada
Allah.[1]
Ini sesuai dengan pengertian yang di kemukakan oleh al-syawkani,
bahwa ibadah itu adalah kepatuhan dan perendahan diri yang paling
maksimal.
Secara etimologis diambil dari kata abada, yabudu, abdan, fahuwa
aabidun. Abid, berarti hamba atau budak, yakni seseorang yang tidak
memiliki apa-apa, harta dirinya sendiri milik tuannya, sehingga karenanya
seluruh aktifitas hidup hamba hanya untuk memperoleh keridhaan tuannya
dan menghindarkan murkanya.
Manusia adalah hamba Allah Ibaadullaah jiwa raga hanya milik
Allah, hidup matinya di tangan Allah, rizki miskin kayanya ketentuan Allah,
dan diciptakan hanya untuk ibadah atau menghamba kepada-Nya.
Dan Aku tidak diciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku. (al-Zariyat / 51:56)
Menurut istilah syara pengertian ibadah dijelaskan oleh para ulama
sebagai berikut:
Menurut Ibnu Taimiyah dalam kitabnya al-ubudiyah, memberikan
penjelasan yang cukup luas tentang pengertian ibadah. Pada dasarnya
ibadah berarti merendahkan diri (al-dzull). Akan tetapi, ibadah yang
diperintahkan agama bukan sekedar taat atau perendahan diri kepada Allah.
Ibadah itu adalah gabungan dari pengertian ghayah al-zull dan ghayah
al-mahabbah. Patuh kepada seseorang tetapi tidak mencintainya, atau cinta
tanpa kepatuhan itu bukan ibadah. Jadi, cinta atau patuh saja belum cukup
disebut ibadah. Seseorang belum dapat dikatakan beribadah kepada Allah

4
kecuali apabila ia mencintai Allah, lebih dari cintanya kepada apapun dan
memuliakan-Nya lebih dari segala lainnya.
Menurut uraiannya, Ibn Taimiyah sangat menekankan bahwa cinta
merupakan unsur yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari
pengertian ibadah. Menurutnya, agama yang benar adalah mewujudkan
ubudiyah kepada Allah dari segala seginya, yakni mewujudkan cinta
kepada-Nya. Semakin benar ubudiyah seseorang, semakin besarlah
cintanya kepada Allah.
Dari beberapa keterangan yang dikutipnya, Yusuf al-Qardawi
menyimpulkan bahwa ibadah yang disyariatkan oleh Islam itu harus
memenuhi dua unsur:
1. Mengikat diri (iltizam) dengan syariat Allah yang diserukan oleh para
rasul-Nya, meliputi perintah, larangan, penghalalan, dan pengharaman
sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah.
2. Ketaatan itu harus tumbuh dari kecintaan hati kepada Allah, karena
sesungguhnya Dialah yang paling berhak untuk dicintai sehubungan
dengan nikmat yang diberikan.
Dalam pengertian yang luas ibadah meliputi segala yang dicintai Allah dan
diridhai-Nya, perkataan dan perbuatan lahir dan batin. Termasuk di dalamnya
shalat, puasa, zakat, haji, berkata benar dll. Jadi meliputi yang fardhu, dan
tathawwu, muammalahbahkan akhlak karimah serta fadhilah insaniyah.
Bahkan lebih lanjut, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa seluruh agama itu
termasuk ibadah
2.2 Ruang Lingkup Ibadah
Islam amat istimewa hingga menjadikan seluruh kegiatan manusia
sebagai ibadah apabila diniatkan dengan penuh ikhlas karena Allah demi
mencapai keridhaan-Nya serta dikerjakan menurut cara-cara yang
disyariatkan oleh-Nya. Islam tidak membataskan ruang lingkup ibadah
kepada sudut-sudut tertentu saja. Seluruh kehidupan manusia adalah
medan amal dan persediaan bekal bagi para mukmin sebelum mereka
kembali bertemu Allah di hari pembalasan nanti. Ruang lingkup ibadah

5
di dalam Islam amat luas sekali. Setiap apa yang dilakukan baik yang
bersangkut dengan individu maupun dengan masyarakat adalah ibadah
menurut Islam asalkan memenuhi syarat-syarat tertentu.
Syarat-syarat tersebut adalah seperti berikut:
1. Amalan yang dikerjakan hendaklah diakui Islam, bersesuaian dengan
hukum-hukum syara. Adapun amalan-amalan yang diingkari oleh
Islam dan ada hubungan dengan yang haram dan maksiat, maka tidak
dijadikan sebagai amalan ibadah.
2. Amalan tersebut dilakukan dengan niat yang baik bagi tujuan untuk
memelihara kehormatan diri, menyenangkan keluarga, memberi
manfaat kepada umat dan memakmurkan bumi sebagaimana yang
dianjurkan oleh Allah.
3. Amalan tersebut harus dibuat dengan seindah-indahnya untuk
menepati yang ditetapkan oleh Rasulullah saw yang mafhumnya:
Bahwa Allah suka apabila seseorang dari kamu membuat sesuatu
kerja dengan memperindah kerjanya.
4. Ketika membuat amalan tersebut hendaklah sentiasa menurut hukum-
hukum syara dan ketentuan batasnya, tidak menzalimi orang lain,
tidak khianat, tidak menipu dan tidak menindas atau merampas hak
orang.
5. Tidak melalaikan ibadah-ibadah khusus seperti salat, zakat dan
sebagainya dalam melaksanakan ibadah-ibadah umum. Oleh itu ruang
lingkup ibadah dalam Islam sangat luas. Ia adalah seluas hidup
seseorang Muslim dan kesanggupan serta kekuatannya untuk
melakukan apa saja amal yang diridhai oleh Allah dalam jangka waktu
tersebut.

6
2.3 Dasar-dasar Ibadah
Ibadah harus dibangun atas tiga dasar. Pertama, cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya dengan mendahulukan kehendak, perintah, dan menjauhi
larangan-Nya. Rasulullah saw. Bersabda,
Ada tiga hal yang apabila terdapat dalam seseorang niscaya ia akan
mendapatkan manisnya iman, yaitu bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih ia
cintai daripada yang lain; bahwa ia tidak mencintai seseorang melainkan
semata karena Allah; dan bahwa ia membenci kembali kepada kekufuran
setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia membenci untuk
dilemparkan ke dalam neraka.(HR Bukhari dan Muslim, dari Anas bin
Malik)
Seorang hamba harus memiliki tiga maqam cinta, yaitu:
1. Maqam takmil (level penyempurnaan). Hendaklah ia mencintai Allah dan
Rasul-Nya dengan puncak kesempurnaan cinta.
2. Maqam tafriq (level pembedaan). Hendaklah ia tidak mencintai seseorang
melainkan hanya karena Allah. Ia harus mampu membedakan mana yang
dicintai dan yang dibenci Allah, baik yang berkaitan dengan ucapan,
perbuatan dan manusia.
3. Maqam dafu al-naqidh (level penolakan atas lawan iman). Hendaknya ia
membenci segala sesuatu yang berlawanan dengan iman, sebagaimana ia
membenci jika dilemparkan ke dalam neraka.
Selanjutnya, cinta harus ditandai dengan dua hal yaitu:
1. Mengikuti sunnah Rasulullah saw.
2. Jihad dan berjuang di jalan Allah dengan segala sesuatu yang dimilikinya.
Kedua, takut. Ia tidak merasa takut sedikit pun kepada segala bentuk dan jenis
makhluk selain kepada Allah. Dalam beribadah, ia harus merasa takut apabila
ibadahnya tidak diterima atau sekadar menjadi aktivitas rutin yang tidak
memiliki dampak positif sama sekali dalam kehidupannya. Maka, dengan
rasa takut kepada Allah, seorang hamba akan senantiasa khusuk di hadapan-
Nya ketika ia melakukan ibadah. Ia akan selalu memelihara dan menjaga
ibadahnya dari sifat riya yang sewaktu-waktu bisa menjadi virus ibadah.

7
Adapun rasa takut kepada Allah SWT bias dilahirkan dari tiga hal:
1) Seorang hamba mengetahui dosa-dosa dan keburukannya.
2) Seorang hamba percaya dan yakin akan ancaman Allah terhadap orang-
orang yang durhaka kepada-Nya.
3) Hendaknya hamba itu mengetahui dan meyakini, bahwa boleh jadi ia tidak
akan pernah bisa bertaubat dari dosa-dosanya.
Kuat lemahnya rasa takut kepada Allah dalam diri seseorang bergantung pada
kuat dan lemahnya ketiga hal tersebut. Rasa takut itu akan memaksa seseorang
untuk berlari kembali kepada Allah dan merasa tentram di samping-Nya. Ia
adalah rasa takut yang disertai dengan kelezatan iman, ketenangan hati,
ketentraman jiwa, dan cinta yang senantiasa memenuhi ruang hati.
Ketiga, harapan, yaitu harapan untuk memperoleh apa yang ada di sisi Allah
tanpa pernah merasa putus asa. Seorang hamba dituntut untuk selalu berharap
kepada Allah dengan harapan yang sempurna.
Seorang hamba harus senantiasa berharap kepada Allah agar ibadahnya
diterima. Ia tidak boleh memiliki perasaan bahwa semua ibadah yang
dilakukannya sangat mudah diterima oleh Allah SWT tanpa ada harapan dan
kecemasan. Begitu pula ia tidak boleh putus asa dalam mengharap rahmat dari
Allah.[2]
Ketika ia menyadari kekurangannya dalam memenuhi kewajiban-kewajiban
kepada Allah, sebaiknya ia segera menyaksikan karunia dan rahmat Allah.
Sesungguhnya, rahmat-Nya jauh lebih luas daripada segala sesuatu.
Ada beberapa hal yang bisa menumbuhkan harapan dalam diri seseorang,
yaitu:
1) Kesaksian seorang hamba atas karunia, ihsan, dan nikmat Allah atas hamba-
hamba-Nya.
2) Kehendak yang jujur untuk memperoleh pahala dan kenikmatan yang ada
di sisi-Nya.
3) Menjaga diri dengan amal shaleh dan senantiasa berlomba-lomba dalam
mengerjakan kebaikan.

8
Ketiga dasar ibadah ini harus menyatu dalam diri seorang hamba. Jika hilang
salah satu dari ketiga hal tersebut, akan menyebabkan kesalahan fatal dalam
akidah dan tauhid. Beberapa ulama salaf berpendapat, bahwa barangsiapa
beribadah kepada Allah hanya dengan rasa cinta, maka ia adalah zindiq. Dan
barangsiapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan rasa harap, maka ia
golongan Murjiah, dan barang siapa yang beribadah kepada Allah hanya
dengan rasa takut, maka ia dari golongan Khawarij. Namun, barangsiapa
beribadah kepada Allah dengan rasa cinta, harap, dan takut, maka ia mukmin
yang mengesakan Allah.
2.4 Hakikat dan Tujuan Ibadah
Hakikat ibadah menurut Imam Ibnu Taimiyah adalah sebuah terminologi
integral yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik
berupa perbuatan maupun ucapan yang tampak maupun yang tersembunyi.
Dari definisi tersebut kita memahami bahwa cakupan ibadah sangat luas.
Ibadah mencakup semua sektor kehidupan manusia. Dari sini kita harus
memahami bahwa setiap aktivitas kita di dunia ini tidak boleh terlepas dari
pemahaman kita akan balasan Allah kelak. Sebab sekecil apapun aktivitas itu
akan berimplikasi terhadap kehidupan akhirat.[3]
Allah SWT menjelaskan hal ini dalam firman-Nya.
` Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun niscaya dia
akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan
sebesar zarrah pun, dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS Az-Zalzalah 99:
7-8.
Pada suatu risalah, Al-Ghazali menyatakan bahwa hakikat ibadah adalah
mengikuti Nabi Muhammad Saw. Pada semua perintah dan larangannya.
Sesuatu yang bentuknya seperti ibadah, tapi diperbuat tanpa perintah, tidaklah
dapat disebut sebagai ibadah. Shalat dan puasa sekalipun hanya menjadi ibadah
bila dilaksanakan sesuai dengan petunjuk syara. Melakukan shalat pada
waktu-waktu terlarang atau berpuasa pada pada hari raya, sama sekali tidak
menjadi ibadah, bahkan merupakan pelanggaran dan pembawa dosa. Jadi,
jelaslah bahwa ibadah yang hakiki itu adalah menjujung perintah, bukan

9
semata-mata melakukan shalat dan puasa, sebab shalat dan puasa itu akan
menjadi ibadah bila sesuai dengan yang diperintahkan.
Akan tetapi, sesungguhnya ibadah dengan pengertian yang hakiki itu
merupakan tujuan dari dirinya sendiri. Dengan melakukan ibadah, manusia
akan selalu tahu dan sadar bahwa betapa lemah dan hinanya mereka bila
berhadapan dengan kekuasaan Allah, sehingga ia menyadari benar-benar
kedudukannya sebagai hamba Allah. Jika hal ini benar-benar telah dihayati,
maka banyak manfaat yang akan diperolehnya. Misalnya saja surga yang
dijanjikan, tidak akan luput sebab Allah tidak akan menyalahi janjinya. Jadi,
tujuan yang hakiki dari ibadah adalah menghadapkan diri kepada Allah SWT
danmenunggalkan-Nya sebagai tumpuan harapan dalam segala hal.
Kesadaran akan keagungan Allah akan menimbulkan kesadaran betapa hina
dan rendahnya semua makhluk-Nya. Orang yang melakukan ibadah akan
merasa akan terbebas dari beberapa ikatan atau kungkungan makhluk. Semakin
besar ketergantungan dan harapan seseorang kepada Allah, semakin
terbebaslah dirinya dari yang selain-Nya. Harta, pangkat, kekuasaan dan
sebagainya tidak akan mempengaruhi kepribadiannya. Hatinya akan menjadi
merdeka kecuali dari Allah dalam arti sesungguhnya. Kemerdekaan
sesungguhnya adalah kemerdekaan hati.
2.5 Makna Ibadah
Ibadah adalah cinta dan ketundukan yang sempurna.[4] Pada saat kita
mencintai, namun kita tidak tunduk kepada-Nya, maka kita belum menjadi
hamba-Nya. Dan pada saat kita tunduk kepada-Nya tanpa rasa ada rasa cinta,
kita pun belum menjadi hamba-Nya. Sampai kita menjadi orang yang
mencintai dan tunduk kepada-Nya.
Kita harus menyertakan cinta kita kepada Allah di dalam ibadah kita,
meskipun pada hakikatnya cinta itu telah tertanam di dalam jiwa setiap
muslim.Jika tidak, dia belum beribadah kepada Allah. Maka hendaknya dia
menghadirkan cinta itu untuk meraih kenikmatan yang didambakan.
Area ibadah itu sangat luas hingga mencakup seluruh perilaku yang dicintai
Allah. Ibadah adalah suatu kata yang maknanya mencakup seluruh perbuatan

10
dan perkataan yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik yang tersembunyi dan
yang tampak. Jangan membatasi ibadah hanya seputar syiar-syiar taabbudiyah
(ibadah mahdhah) saja. Yaitu shalat, shaum, haji dan shadaqah. Akan tetapi
lebih dari itu, ibadah itu mencakup seluruh perbuatan yang disebutmaruf.
Rasulullah bersabda,
Setiap perbuatan baik itu adalah shadaqah.
`Di antara perbuatan maruf adalah berbuat baik di dalam masyarakat,
menyelesaikan pekerjaan mubah dengan sempurna dan berusaha mencari
karunia Allah di muka bumi. Bahkan area ibadah itu lebih banyak lagi daripada
itu, seperti dengan cara mengubah amalan yang mubah menjadi bernilai ibadah
dengan menyertakan niat yang baik di dalam amalnya. Sebagiamana Rasulullah
bersabda,
Niat seorang mukmin itu lebih baik daripada amalannya.
Setiap amal untuk dunia dan akhirat yang kita kerjakan, pada hakikatnya
semua adalah untuk kepentingan akhirat. 2.6 Jalan agar Ibadah dapat
diterima oleh Allah.Ibadah dalam arti sebenarnya adalah takut dan tunduk
sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan oleh agama. Seseorang akan
belum sempurna ibadahnya, kalau hanya dilakukan lewat perbuatan saja,
sedangkan perasaan tunduk dan berhina diri itu belum bangkit dari hati. Bila
ibadah yang dikerjakan bukan karena Allah, hanya karena maksud lain
misalnya saja hanya ingin dilihat orang dan mendapatkan pujian, berarti ia
telah mempersekutukan Allah dan ibadah yang dikerjakannya akan ditolak
oleh Allah. Agar ibadah kita dapat diterima oleh Allah, kita harus memiliki
sikap berikut:
1. Ikhlas, artinya hendaklah ibadah yang kita kerjakan itu bukan karena
mengharap pemberian dari Allah, tetapi semata-mata karena perintah dan
ridha-Nya. juga bukan karena mengharapkan surga dan jangan pula
karena takut kepada neraka. Karena surga dan neraka tidak dapat
menyenangkan atau menyiksa tanpa seizin Allah SWT.
2. Meninggalkan riya, artinya beribadah bukan karena malu kepada manusia
dan supaya dilihat oleh orang lain.

11
3. Bermuraqabah, artinya yakin bahwa Allah itu melihat dan selalu ada
disamping kita sehingga kita bersikap sopan kepada-Nya.
4. Jangan keluar dari waktunya, artinya mengerjakan ibadah dalam waktu
tertentu, sedapat mungkin dikerjakan di awal waktu.[5]
2.6 Tanda-tanda seseorang yang merasakan nikmatnya Ibadah
Kenikmatan ibadah itu memiliki tanda-tanda sebagaimana firman Allah
Tampak pada muka mereka tanda-tanda bekas sujud (QS. Al-Fath: 29) Ini
menunjukan bahwa orang-orang yang mampu merasakan nikmatnya beribadah
akan membekas di wajahnya serta dalam tingkah laku dan kepekaannya.
Kemudian tanda-tanda yang dapat dilihat dari seorang mukmin yang telah
merasakan kenikmatan ibadah adalah,
1. Bersegera melakukan ketaatan
Pada saat seorang mukmin bertemu dengan satu amalan ketaatan, apapun
amalan tersebut, dia akan bergegas untuk menyambutnya dengan rasa
senang, baik amalan itu datang ketika waktu shalat atau saat-saat menjelang
bulan Ramadhan yang penuh berkah atau ketika musim haji atau jihad fi
sabilillah atau amalan-amalan shalih lainnya. Salah seorang pemuka tabiin
bernama Said bin al-Musayyib berkata, selama tiga puluh tahun aku telah
berada di masjid sebelum muadzin mengumandangkan adzan.
Muhammad bin Simaah at-Tamimi berkata, selama empat puluh tahun
aku belum pernah tertinggal dari takbir pertama bersama imam kecuali pada
hari ketika ibuku meninggal.
Salah seorang sahabat bernama Abdullah bin Rawahah, apabila ingin keluar
rumahnya dia shalat dua rakaat. Apabila masuk rumah dia pun shalat dua
rakaat dan beliau tidak pernah meninggalkan kebiasaannya itu. Rasulullah
pun memuji dirinya, beliau bersabda,
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada saudaraku Abdullah bin
Rawahah, dia selalu menghentikan untanya di mana saja dia dapat
mendapatkan waktu shalat itu telah tiba
Bukan hanya dalam persoalan shalat. Di dalam semua jenis ketaatan kepada
Allah yang lain pun demikian. Seperti kisah yang tidak asing lagi, yaitu

12
Abu Bakar dan Ummar yang berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.
Oleh karena itu, pada hakekatnya setan setan itu sangat menginginkan
seorang mukmin berlambat-lambat untuk melakukan ketaatan.
2. Memanjangkan shalat
Orang yang merasakan nikmatnya ibadah, dia tidak merasakan bahwa
waktu itu terus berlalu, bahkan waktu yang panjang baginya terasa sesaat.
Dahulu Nabi Muhammad SAW. Melakukan shalat malam dengan
membaca surat al-Baqarah, Ali Imran dan an-Nisa dalam satu rakaat.
Beliau tidak merasakan panjangnya waktu untuk berdiri dalam shalat
karena sibuk menikmati lezatnya bermunajat. Shalat itu mempunyai bacaan
yang mampu melupakanmu dari makanan dan melalaikanmu dari
perbekalan
3. Berpuasa secara rutin
Sebagaimana halnya seorang hamba yang senang menikmati ibadah dengan
memanjangkan shalatnya, dia pun senang melakukan puasa secara rutin.
Selain menahan lapar dan nafsu, dengan puasa juga akan memberikan
vitamin kepada jiwa dan akan mendekatkan diri kepada Dzat yang Maha
Penguasa Yang Paling Tinggi.
4. Membaca Al-Quran
Allah telah mensifati orang-orang yang beriman ketika Al-Quran turun.
Mereka adalah,
Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya,
sedang mereka merasa gembira.(QS. at-Taubah: 124) Mereka merasa
gembira karena ayat-ayat yang tercantum didalamnya merupakan kabar
gembira bagi mereka dan sebagai bentuk ancaman bagi musuh-musuh
mereka. Didalam ayat-ayat Al-Quran terdapat jawaban bagi permasalahan
yang mereka hadapi dan di dalamnya pun terdapat perkataan yang tidak
bosan untuk di dengarkan.
5. Menyesal ketika kehilangan kesempatan untuk melakukan ketaatan
Di antara tanda-tanda seseorang merasakan kelezatan ibadah adalah apabila
seorang mukmin kehilangan kesempatan dalam melakukan kebaikan dia

13
merasa sedih dan gelisah, sehingga dia akan berusaha untuk tidak
kehilangan kesempatan itu untuk kedua kalinya. Dia merasa sedih karena
orang lain telah mendahuluinya menuju seruan Allah. Sebagaimana
sedihnya orang-orang kehilangan kesempatan untuk berjihad.
6. Rindu ingin bertemu dengan Allah
Di antara ciri-ciri orang yang merasakan kelezatan ibadah adalah dia
merindukan pertemuan dengan Dzat yang dia cintai. Dia merasakan
tenteram mendengar dan membaca kalam-Nya, tenteram dengan shalat,
berjihad melawan hawa nafsunya, puasa karena-Nya untuk mendapatkan
derajat taqwa di sisi Allah. Akan tetapi karena dia belum merasakan
kegembiraan melihat-Nya dan dia selalu berdoa kepada Allah.
Sedangkan cirri-ciri orang yang terhalang dari mendapatkan kenikmatan
ibadah sebagai berikut:
1. Mereka merasa benci untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Allah
berfirman, Dan mereka benci untuk berjihad(QS.at-Taubah:81)
2. Apabila mereka diajak berinfak dijalan Allah dengan harta yang
nantinya akan kekal dan akan kembali kepadanya dengan berlipat
ganda, maka ia enggan menginfakkannya. Sekalipun mereka
menginfakkan harta mereka, mereka akan mengeluarkan harta yang
paling buruk. Allah berfirman, nafkahkan dari padanya (QS. Al-
Baqarah:267)
3. Orang yang terhalang dari kenikmatan beribadah akan tidur dan orang
yang cinta kepada Allah akan bangun untuk shalat.
4. Malas untuk melakukan amal.
2.7 Sarana meraih nikmatnya ibadah
Adapun sarana untuk mencapai kenikmatan ibadah antara lain:
1. Ridha Allah sebagai rabb yang diibadahi
Firman Allah,
Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya
(QS.at-Taubah:100)

14
Mereka ridha kepada perintah dan takdir Allah, aturan dan hukum-Nya dan
ridha kepada penciptaan beserta hikmah-Nya. Cara untuk mendapatkan
ridha-Nya adalah dengan bertawakkal kepada-Nya, menunaikan perintah-
Nya dan mengaku kelemahan-kelemahan. Ridha lahir dari cinta. Barang
siapa cinta kepada Allah, dia akan merasakan kenikmatan ketika menjadi
pelayan bagi Dzat yang dia cintai.
2. Ridha kepada nabi Muhammad sebagai utusan Allah
Sebagai halnya cinta kepada Allah, maka kita harus mencintai Rasul-Nya,
Muhammad SAW. Karena beliau manusia yang menyampaikan perintah
dan larangan dari Allah dan sebagai perantara yang akan menghantarkan
manusia sampai kepada Allah. Cara seseorang untuk ridha kepada Nabi
adalah dengan mencintainya, tunduk dan berhukum kepadanya.
3. Memperdalam iman kepada hari akhir dan mengetahui hakikat dunia dan
akhirat. Memupuk keimanan pada hari akhir akan mendorong manusia
untuk semangat dalam melakukan pekerjaan.
4. Menjauhi hal-hal yang menyebabkan hati membatu
Barang siapa ingin meraih kenikmatan beribadah, hendaklah ia
bersungguh-sungguh memacu diri untuk menghindar dari dorongan hawa
nafsu dan janji-janji yang semu.
Imam Ibn Qayyim berkata:
nafsu itu akan mengajak kepada keburukan, mungkin disebabkan dia
bodoh terhadap akibat buruk yang akan timbul atau karena niat yang rusak
atau pada saat tertentu karena dua hal tersebut secara bersamaan
5. Bersungguh-sungguh
Barang siapa yang bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsunya
untuk selalu taat, maka yang demikian adalah pahala yang besar daripada
amalan lainnya. Rasulullah bersabda,
Sudikah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang menyebabkan Allah
akan menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat kedudukannya
dengan beberapa derajat? para sahabat menjawab,Ya, wahai Rasulullah.
Lalu beliau bersabda:sempurnakanlah wudhu atas hal-hal yang di benci,

15
perbanyaklah melangkahkan kaki menuju masjid-masjid dan menunggu
shalat wajib setelah shalat nafilah
6. Berdoa
7. Merasa yakin akan mendapatkan tujuan beribadah dan yakin akan berhasil
meraih kenikmatannya
8. Menegetahui bahwa ibadah itu bukan sekedar bentuk-bentuk yang harus
ditunaikan, akan tetapi ibadah adalah ruh
9. Menjadikan ibadah sebagai prioritas perhatian seseorang
10. Memberikan kesempatan istirahat kepada jiwa dan memberikan
ketenteraman hati.
2.8 Jenis ibadah
Ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis, dengan
bentuk dan sifat yang berbeda antara satu dengan lainnya:
1. Ibadah Mahdhah, artinya penghambaan yang murni hanya merupakan
hubungan antara hamba dengan Allah secara langsung. Ibadah bentuk ini
memiliki 4 prinsip:
a. Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al-
Quran maupun al- Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh
ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya.
b. Tata caranya harus berpola kepada contoh Rasulullah saw Salah satu
tujuan diutus rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh:Dan kami
tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin
Allah. (QS. An-Nisa: 64)
Dan apa saja yang dibawakan Rasul kepada kamu maka ambillah, dan
apa yang dilarang, maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr: 7)
Jika melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai
dengan praktek Rasul saw., maka dikategorikan Muhdatsatul umur
perkara mengada-ada, yang populer disebutbidah. Salah satu penyebab
hancurnya agama-agama yang dibawa sebelum Muhammad saw. adalah
karena kebanyakan kaumnya bertanya dan menyalahi perintah Rasul-
rasul mereka.

16
c. Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini
bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah
wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang
disebut hikmah tasyri. Shalat, adzan, tilawatul Quran, dan ibadah
mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengerti atau
tidak, melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syariat,
atau tidak. Atas dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang
ketat
d. Azasnya taat, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah
ini adalah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa
yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan
dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah, dan salah satu misi utama
diutus Rasul adalah untuk dipatuhi. Jenis ibadah yang termasuk
mahdhah, adalah:
1) Wudhu
2) Tayammum
3) Adzan
4) Iqamat
5) Shalat
6) Membaca al-Quran
7) Itikaf
8) Mandi hadats
9) Shiyam (Puasa)
10) Haji
11) Umrah
12) Tajhiz al-Janazah
2. Ibadah Ghairu Mahdhah, (tidak murni semata hubungan dengan Allah)
yaitu ibadah yang di samping sebagai hubungan hamba dengan Allah juga
merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya
Prinsip-prinsip dalam ibadah ini, ada 4:

17
a. Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama
Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh
diselenggarakan.
b. Tata laksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya dalam
ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah bidah , atau jika ada yang
menyebutnya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bidah, maka
bidahnya disebut bidah hasanah, sedangkan dalam ibadahmahdhah
disebut bidah dhalalah.
c. Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya,
manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika.
Sehingga jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, danmadharat, maka
tidak boleh dilaksanakan.
d. Azasnya Manfaat, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh
dilakukan.
3. Hikmah Ibadah Mahdhah
Pokok dari semua ajaran Islam adalah Tawhiedul ilaah (KeEsaan Allah) ,
dan ibadah mahdhah itu salah satu sasarannya adalah untuk mengekpresikan
ke Esaan Allah itu, sehingga dalam pelaksanaannya diwujudkan dengan:
a. Tawhiedul wijhah (menyatukan arah pandang). Shalat semuanya harus
menghadap ke arah kabah, itu bukan menyembah Kabah, dia adalah
batu tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi madharat, tetapi
syarat sah shalat menghadap ke sana untuk menyatukan arah pandang,
sebagai perwujudan Allah yang diibadati itu Esa. Di mana pun orang
shalat ke arah sanalah kiblatnya. (QS. Al-Baqarah 2: 144).
b. Tawhiedul harakah (Kesatuan gerak). Semua orang yang shalat gerakan
pokoknya sama, terdiri dari berdiri, membungkuk (ruku), sujud dan
duduk. Demikian halnya ketika thawaf dan sai, arah putaran dan
gerakannya sama, sebagai perwujudan Allah yang diibadati hanya satu.
c. Tawhiedul lughah (Kesatuan ungkapan atau bahasa). Karena Allah yang
disembah (diibadati) itu satu maka bahasa yang dipakai mengungkapkan
ibadah kepadanya hanya satu yakni bacaan shalat, tak peduli bahasa

18
ibunya apa, apakah dia mengerti atau tidak, harus satu bahasa, demikian
juga membaca al-Quran, dari sejak turunnya hingga kini al-Quran
adalah bahasa al-Quran yang membaca terjemahannya bukan membaca
al-Quran.

19
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat penyusun simpulkan bahwa:
Ibadah adalah ketundukan yang tidak terbatas bagi pemilik keagungan
yang tidak terbatas pula. Dalam Islam perhubungan dapat dilakukan oleh
seorang hamba dengan Allah secara langsung. Ibadah di dalam Islam tidak
berhajat adanya orang tengah sebagaimana yang terdapat pada setengah
setengah agama lain. Begitu juga tidak terdapat dalam Islam tokoh tokoh tertentu
yang menubuhkan suatu lapisan tertentu yang dikenali dengan nama tokoh tokoh
agama yang menjadi orang orang perantaraan antara orang ramai dengan Allah.
Secara garis besar iadah dibagi menjadi dua:
Ibadah murni (mahdhah), adalah suatu rngkaian aktivitas ibadah yang
ditetapkan Allah Swt. Dan bentuk aktivitas tersebut telah dicontohkan oleh
Rasul-Nya, serta terlaksana atau tidaknya sangat ditentukan oleh tingkat
kesadaran teologis dari masing-masing individu.
Ibadah Ghairu Mahdhah, yakni sikap gerak-gerik, tingkah laku dan
perbuatan yang mempunyai tiga tanda yaitu: pertama, niat yang ikhas sebagai
titik tolak, kedua keridhoan Allah sebagai titik tujuan, dan ketiga, amal shaleh
sebagai garis amal.
Ruang lingkup ibadah di dalam Islam amat luas sekali. Ianya merangkumi
setiap kegiatan kehidupan manusia. Setiap apa yang dilakukan baik yang
bersangkut dengan individu maupun dengan masyarakat adalah ibadah menurut
Islam selagi mana ia memenuhi syarat syarat tertentu.
Manusia diciptakan Allah bukan sekedar untuk hidup di dunia ini
kemudian mati tanpa pertanggungjawaban, tetapi manusia diciptakan oleh Allah
untuk beribadah. Karena Allah maha mengetahui tentang kejadian manusia,
maka agar manusia terjaga hidupnya, bertaqwa, diberi kewajiban ibadah.
Tegasnya manusia diberi kewajiban ibadah agar menusia itu mencapai taqwa.
Demikianlah makalah sederhana ini kami buat. Namun demikian, kami
sebagai penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Kami

20
mohon maaf apabila masih banyak ditemui kesalahan, itu datangnya dari
kealpaan kami. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan dari
pembaca semua. Terutama dari Bapak Farid Irsan, S.PdI Selaku pembimbin
saya pada umumnya.
Akhirnya, marilah kita kembalikan semua urusan kepada-Nya. Billahit
taufiq wal hidayah war ridho wal inayah wassalamualaikum wr.wb.

21
DAFTAR PUSTAKA
Syarifudin, Amir, Garis-Garis Besar Fiqih, (Jakarta: Kencana, 2003), Cet. Ke-2.
Syihab, M. Quraisy, M. Quraisy Syihab Menjawab 1001 Soal Keislaman Yang
Patut Anda Ketahui, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), Cet. Ke-1.
Al manar, Abduh, Ibadah Dan Syariah, (Surabaya: PT. pamator, 1999), Cet. Ke-1
Daradjat, Zakiyah, Ilmu Fiqih, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995), Cet.
Ke-1.
Yusuf Qardhawi, Konsep Ibadah Dalam Islam, (Bandung: Mizan, 2002), Cet. Ke-
2.

22
Tugas 1

1. Hadis Riwayat Ibnu majah untuk memperoleh kesuksesan atau kebahagian


yang baik di dunia dan di akhirat bahkan kedua duanya , harus menggunakan
alat,alat untuk mencapai kesuksesan itu adalah ilmu-ilmu itu ibarat cahaya
yang mampu menerangi jaln seseorang untuk mewujudkan segal cita citanya,
sementar kebodohan akan membawa seseorang kepada kemudratan atau
kesengsaraan yang membelagu hidupnya.
2. Hadis Riwayat muslim dari umar bin khattab menjelaskan tentang prinsip
prinsip dalam keimanan. Hadist tersebut menjelaskan bahwa iman terdiri
atas 3 unsur yakni diyakini dengan hati, diucapkan dengan perbuatan dan
diamalkan dalam perbuatan. Ketiga unsur ini tidak dapat berdiri sendiri-
sendiri. Jika ada satu unsur yang tidak dimiliki seseorang, berarti ia belum
menjadi orang yang beriman. Dengan demikian , orang yang beriman hatinya
selalu meyakini sepenuh hati,lisannya mengucapkan secara benar kemudian
keyakinan dan ucapan itu di kemudian dalam kehidupan sehari hari

3. Hadist Riwayat muslim dari Abu Hurairah ia mendengar Rasullawlah Saw


bersabda : Setiap orang yang mengaku dari selaim ayahnya sendiri, padahal ia
mengetahuinya pastilah ia kafir (artinya menginkari nikmat dan hak ayahnya).
Barang siapa yang mengakui sesuatu bukan miliknya, maka ia tidak termasuk
golongan kami dan hendaknya ia mempersiapkan tempatnya di neraka, Barang
siapa yang memanggil seseorang dengan kata kafir (mengatakan musuh Allah,
itu akan kembali pada dirinya.

4. Hadist Riwayat Ibnu majah menurut ilmu itu hukumannya wajib bagi setiap
orang islam, baik laki laki maupun perempuan, baik anak anak ,remaja
atau pun dewasa . Dengan demikian, jika menuntut ilmu itu hukumnya adalah
wajib maka orang orang yang tidak melaksanakannya akan mendapat dosa.
Sedangkan orang yang menuntut ilmu akan dimislakan seperti orang orang

23
yang berjuang di jalan Allah dan jika ia mati pada saat menuntut ilmu itu,
maka ia akan dalam keaadan syahid.

5. Hadist yang di Rwayat oleh imam muslim menjelaskan tentang cabang


cabang iman yang terdiri atas tujuh puluh satu cabang, jumlah tujuh puluh satu
ini bukan berarti batasan akan tetapi hanyalah menunjukkan bahwa cabang
cabang iman itu jumlahnya banyak. Di dalam kitab Fathul buari di jelaskan
bahwa cabang cabang iman yang banyak itu terbagi dalam tiga amalan, yaitu
amalan hati, lisan dan badan. Iman yang paling tinggi adalah ucapan tauhid
(tahlil) kalimat ini merupakan puncak keimanan. Dengan kata lain
membangun pondasi terlebih dahulu (tauhid), sebelum mendirikan bangunnan
(cabang cabang iman yang lain). Dan cabangiman yang paling rendah adlah
menyingkirkanganguan dari tengah jalan.Selain itu rasa malu juga cabang
iman yang paling rendah. Malu yang dimaksud disini adaah malu sebagi orang
islam ketika tidak memngerjakan amal shlih dan untuk melakukan perbuatan
maksiat.

24