Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HIPOSPADIA

I. KONSEP PENYAKIT HIPOSPADIA


1. Pengertian
Hipospadia berasal dari dua kata yaitu hypo yang berarti di bawah dan spadon
yang berarti keratan yang panjang.
Berikut ini adalah berbagai definisi hipospadia menurut berbagai sumber yaitu:
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra externa
terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal
(ujung glans penis). (Arif Mansjoer, 2000 : 374).
Menurut referensi lain, hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra
yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288).
Hipospadia adalah kelainan congenital berupa muara uretra yang terletak di sebelah
ventral penis dan sebelah proksimal ujung penis. Letak meatus uretra bisa terletak pada
glandular hingga perineal. (Purnomo, B, Basuki,2003).
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan penutupan uretra penis
pada kehamilan miggu ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan orifisium uretra tertinggal
disuatu tempat dibagian ventral penis antara skrotum dan glans penis (A.H Markum,1991 :
257).
Hipospadia adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu tempat lain pada
bagian belakang batang penis atau bahkan pada perineum (daerah antara kemaluan dan anus).
(Davis Hull, 1994 ).
Hipospadia adalah kelainan kongetinal berupa kelainan letak lubang uretra pada pria
dari ujung penis ke sisi ventral (Corwin, 2009).
Hipospadia adalah kegagalan meatus urinarius meluas ke ujung penis, lubang uretra
terletak dibagian bawah batang penis, skrotum atau perineum (Barbara J. Gruendemann &
Billie Fernsebner, 2005).
Hipospadia adalah suatu kondisi letak lubang uretra berada di bawah glans penis atau
di bagian mana saja sepanjang permukaan ventral batang penis. Kulit prepusium ventral
sedikit, dan bagian distal tampak terselubung. (Muscari, 2005)
Hipospadia adalah kelainan kongenital berupa muara uretra yang terletak di sebelah
ventral penis dan sebelah proksimal ujung penis. Hipospadia terjadi pada 1 sampai 3 per
1.000 kelahiran dan merupakan anomali penis yang paling sering. (Muttaqin, 2011).
1
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian
bawah, bukan di ujung penis. Hipospadia merupakan kelainan kelamin bawaan sejak
lahir. Hipospadia sering disertai kelainan bawaan yang lain, misalnya pada skrotum dapat
berupa undescensus testis, monorchidism, disgenesis testis dan hidrokele. Pada penis berupa
propenil skrotum, mikrophallus dan torsi penile, sedang kelainan ginjal dan ureter berupa
fused kidney, malrotasi renal, duplex dan refluk ureter.

2. Etiologi
Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui
penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa faktor yang oleh para ahli dianggap
paling berpengaruh antara lain :
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone
Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur
organogenesis kelamin (pria). Atau biasa juga karena reseptor hormone androgennya sendiri
di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormone androgen sendiri
telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan
memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormone
androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada
gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak
terjadi. Mekanisme genetik yang tepat mungkin rumit dan variabel. Penelitian lain adalah

2
turunan autosomal resesif dengan manifestasi tidak lengkap. Kelainan kromosom ditemukan
secara sporadis pada pasien dengan hipospadia.
3. Prematuritas
Peningkatan insiden hipospadia ditemukan di antara bayi yang lahir dari ibu dengan
terapi estrogen selama kehamilan. Prematuritas juga lebih sering dikaitkan dengan
hipospadia.
4. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang
bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

3. Manifestasi Klinik
a. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah
penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
b. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung
penis.
c. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang
hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
d. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
e. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
f. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
g. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
h. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
i. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
j. Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah, menyebar,
mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada saat BAK.
k. Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri dengan
mengangkat penis keatas.
l. Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok.
m. Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi.

3
4. Klasifikasi
Hipospadia adalah keadaan dimana lubang kencing terletak dibawah batang kemaluan
/ penis. Ada beberapa type hipospadia :

a. Hipospadia type Perenial, lubang kencing berada di antara anus dan buah zakar
(skrotum).
b. Hipospadia type Scrotal, lubang kencing berada tepat di bagian depan buah zakar
(skrotum).
c. Hipospadia type Peno Scrotal, lubang kencing terletak di antara buah zakar (skrotum)
dan batang penis.
d. Hipospadia type Peneana Proximal, lubang kencing berada di bawah pangkal penis.
e. Hipospadia type Mediana, lubang kencing berada di bawah bagian tengah dari batang
penis.
f. Hipospadia type Distal Peneana, lubang kencing berada di bawah bagian ujung batang
penis.
g. Hipospadia type Sub Coronal, lubang kencing berada pada sulcus coronarius penis
(cekungan kepala penis).
h. Hipospadia type Granular, lubang kencing sudah berada pada kepala penis hanya
letaknya masih berada di bawah kepala penisnya.

4
Hipospadia dibagi menjadi beberapa tipe menurut letak orifisium uretra eksternum
yaitu sebagai berikut :

1. Tipe sederhana/ Tipe anterior (60-70%)


Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal.
Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini
bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit
dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.
2. Tipe penil/ Tipe Middle (10-15%)
Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal.
Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai
dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga
penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan
tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit di
bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan
sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya.
3. Tipe Posterior (20%)
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya
pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum bifida, meatus
uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.
Semakin ke proksimal letak meatus, semakin berat kelainan yang diderita dan
semakin rendah frekuensinya. Pada kasus ini, 90% terletak di distal, dimana meatus terletak
di ujung batang penis atau pada glans penis. Sisanya yang 10% terletak lebih proksimal yaitu

5
ditengah batang penis, skrotum, atau perineum. Kebanyakan komplikasinya kecil, fistula,
skin tag, divertikulum, stenosis meatal atau aliran kencing yang menyebar. Komplikasi ini
dapat dikoreksi dengan mudah melalui prosedur minor.

6
6. Patofisiologi
Hipospadia merupakan suatu cacat bawaan yang diperkirakan terjadi pada masa
embrio selama pengembangan uretra, dari kehamilan 8-20 minggu.
Perkembangan terjadinya fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi
sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan
letak meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian di sepanjang
batang penis hingga akhirnya di perineum.
Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topu yang menutup sisi dorsal
dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan
kurvatura (lengkungan) ventral dari penis.
Chordee atau lengkungan ventral dari penis, sering dikaitkan dengan hipospadia,
terutama bentuk-bentuk yang lebih berat. Hal ini diduga akibat dari perbedaan pertumbuhan
antara punggung jaringan normal tubuh kopral dan uretra ventral dilemahkan dan jaringan
terkait. Pada kondisi yang lebih jarang, kegagalan jaringan spongiosum dan pembentukan
fasia pada bagian distal meatus uretra dapat membentuk balutan berserat yang menarik
meatus uretra sehingga memberikan kontribusi untuk terbentuknya suatu korda
(Mutaqqin,2011).

7. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang


Pemeriksaan diagnostik berupa pemeriksaan fisik. Jarang dilakukan pemeriksaan
tambahan untuk mendukung diagnosis hipospadi. Tetapi dapat dilakukan pemeriksaan berikut
untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan pada ginjal sebagai komplikasi maupun
kelainan bawaan yang menyertai hipospadia:
Rontgen
USG sistem kemih kelamin
BNO IVP karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan kongenital
ginjal
Kultur urine (Anak-hipospadia)

8. Penatalaksanaan Medis
Untuk penatalaksanaan hipospadia pada bayi dan anak biasanya dilakukan dengan
prosedur pembedahan. Tujuaan utama pembedahan ini adalah untuk merekontruksi penis
menjadi lurus dengan meatus uretra di tempat yang normal atau dekat normal sehingga

7
pancaran kencing arahnya kedepan. Keberhasilan pembedahan atau operasi dipengaruhi oleh
tipe hipospadia dan besar penis. Semakin kecil penis dan semakin ke proksimal tipe
hipospadia semakin sukar tehnik dan keberhasilan operasinya.
Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah tunneling Sidiq-Chaula, Teknik
Horton dan Devine.
1. Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap:
a. Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan yang
berepitel pada glans penis. Dilakukan pada usia 1 -2 tahun. Penis diharapkan lurus,
tapi meatus masih pada tempat yang abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan
preputium bagian dorsal dan kulit penis
b. Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut sudah lunak.
Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glans, lalu dibuat
pipa dari kulit dibagian tengah. Setelah uretra terbentuk, luka ditutup dengan flap dari
kulit preputium dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis
tengah. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka operasi
pertama telah matang.
2. Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih besar dengan
penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis distal (yang letaknya
lebih ke ujung penis). Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung
penis dengan pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah. Mengingat pentingnya
preputium untuk bahan dasar perbaikan hipospadia, maka sebaiknya tindakan penyunatan
ditunda dan dilakukan berbarengan dengan operasi hipospadi.

9. Komplikasi
1. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1
jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu)
2. Infertility
3. Resiko hernia inguinalis
4. Gangguan psikologis dan psikososial
5. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat dewasa.
Komplikasi paska operasi yang terjadi :
1. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi,
juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit, yang biasanya dicegah
dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi.
8
2. Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi
dari anastomosis.
3. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang
atau pembentukan batu saat pubertas.
4. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai
parameter untuyk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini
angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10 %.
5. Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak sempurna,
dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang
berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang.
6. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya
stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.

9
II. ASUHAN KEPERAWATAN PADA HIPOSPADIA
A. PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien Penanggung Jawab

Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :
Suku Bangsa :
Pekerjaan :
Pendidikan :
Status :
Alamat :
Diagnosa Medis :
Sumber Biaya :
Tanggal MRS :
Hubungan dengan Pasien :
2. Keluhan Utama
Lubang penis tidak terdapat diujung penis, tetapi berada dibawah atau didasar penis,
penis melengkung kebawah, penis tampak seperti berkerudung karena adanya
kelainan pada kulit dengan penis, jika berkemih anak harus duduk.(Muslihatum,
2010:163)
3. Riwayat Kesehatan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya lubang kencing yang
tidak pada tempatnya sejak lahir dan tidak diketahui dengan pasti penyebabnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya penis yang melengkung
kebawah adanya lubang kencing tidak pada tempatnya sejak lahir
Riwayat Kongenital
1) Penyebab yang jelas belum diketahui.
2) Dihubungkan dengan penurunan sifat genetik.
3) Lingkungan polutan teratogenik. (Muscari, 2005:357)

10
Riwayat Kehamilan Dan Kelahiran: Hipospadia terjadi karena adanya hambatan
penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke-10 sampai minggu ke-14.
(Markum, 1991: 257
4. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Pada pengkajian ini dilakukan pengkajian berdasarkan 11 komponen pola fungsi
kesehatan yang terdiri dari :
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Klien biasanya tidak mengetahui penyakitnya kurangnya pemahaman klien dan
keluarga terkait penyakit yang diderita klien dan pada umumnya pemeliharaan
kesehatan klien tidak ada masalah.
2) Pola Nutrisi
Pada umumnya pasien hipospadia nutrisi cairan dan elektrolit dalam tubuhnya
tidak mengalami gangguan.
3) Pola Eliminasi
Pada saat BAK mengalami gangguan karena anak harus jongkok karena pancaran
kencing pada saat BAK tidak lurus dan biasanya kearah bawah, menyebar dan
mengalir melalui batang penis.
4) Aktivitas dan Latihan
Aktivitas klien hipospadia tidak ada masalah.
5) Tidur dan istirahat
Pada umumnya klien dengan hipospadia tidak mengalami gangguan atau tidak ada
masalah dalam istirahat dan tidurnya.
6) Pola sensori, persepsi, dan kognitif
Secara fisik daya penciuman, perasa, peraba dan daya penglihatan pada klien
hipospadia adalan normal, secara mental kemungkinan tidak ditemukan adanya
gangguan.
7) Konsep diri
Adanya rasa malu pada diri klien sendiri apabila sudah dewasa juga akan merasa
malu dan kurang percaya diri atas kondisi kelainan yang dialaminya.
8) Seksual dan reproduksi
Adanya kelainan pada alat kelamin terutama pada penis klien akan membuat klien
mengalami gangguan pada saat berhubungan seksual karena penis yang tidak bisa
ereksi.

11
9) Pola peran hubungan
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan
peran dalam menjalankan perannya selama sakit
10) Pola manajemen koping stress
Biasanya orang tua klien akan mengalami stress pada kondisi anaknya yang
mengalami kelainan.
11) Sistem nilai dan keyakinan
Kepercayaan klien, kepatuhan klien dalam melaksanakan ibadah dan keyakinan-
keyakinan pribadi yang bisa mempengaruhi pilihan pengobatan
7. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem kardiovaskuler: Tidak ditemukan kelainan
b. Sistem neurologi: Tidak ditemukan kelainan
c. Sistem pernapasan: Tidak ditemukan kelainan
d. Sistem integument: Tidak ditemukan kelainan
e. Sistem muskuloskletaL: Tidak ditemukan kelainan
f. Sistem Perkemihan:
- Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran pada ginjal.
- Kaji fungsi perkemihan
- Dysuria setelah operasi
g. Sistem Reproduksi
- Adanya lekukan pada ujung penis
- Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
- Terbukanya uretra pada ventral
- Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan, drinage.
(Nursalam, 2008: 164)
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan cidera fisik akibat pembedahan
2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasive
3. Risiko injuri berhubungan dengan tindakan invasive
4. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi anatomi (aliran urine sulit
diatur)
5. Ansietas berhubungan dengan situasional, tindakan operasi yang akan dilakukan
6. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan malformasi kongenital
7. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif
12
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
. Keperawatan (NOC) (NIC)
1. Nyeri akut NOC : Pain Management
berhubungan 1. Pain Level 1. Lakukan pengkajian nyeri
dengan cidera 2. Pain Control secara komprehensif
fisik akibat 3. Comfort Level termasuk lokasi,
pembedahan Kriteria hasil : karakteristik, durasi,
1. Mampu mengontrol frekuensi, kualitas dan faktor
nyeri (tahu penyebab presipitasi
nyeri, mampu 2. Observasi reaksi nonverbal
menggunakan tehnik dari ketidaknyamanan
nonfarmakologi untuk 3. Bantu pasien dan keluarga
mengurangi nyeri) untuk mencari dan
2. Melaporkan bahwa nyeri menemukan dukungan
berkurang dengan 4. Kontrol lingkungan yang
menggunkan manajemen dapat mempengaruhi nyeri
nyeri seperti suhu ruangan,
3. Mampu mengenali nyeri pencahayaan dan kebisingan
4. Menyatakan rasa 5. Kurangi faktor presipitasi
nyaman setelah nyeri nyeri
berkurang 6. Kaji tipe dan sumber nyeri
5. Tanda vital dalam untuk menentukan intervensi
kondisi normal 7. Ajarkan tentang teknik non
farmakologi: napas dala,
relaksasi, distraksi, kompres
hangat/ dingin
8. Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri: ...
9. Tingkatkan istirahat
10. Berikan informasi tentang
nyeri seperti penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan

13
berkurang dan antisipasi
ketidaknyamanan dari
prosedur
11. Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
2. Resiko infeksi NOC : NIC :
berhubungan 1. Immune Status 1. Pertahankan teknik aseptif
dengan tindakan 2. Knowledge : Infection 2. Batasi pengunjung bila perlu
invasive control 3. Cuci tangan setiap sebelum
3. Risk control dan sesudah tindakan
Kriteria hasil : keperawatan
1. Klien bebas dari tanda 4. Gunakan baju, sarung tangan
dan gejala infeksi sebagai alat pelindung
2. Menunjukkan 5. Ganti letak IV perifer dan
kemampuan untuk dressing sesuai dengan
mencegah timbulnya petunjuk umum
infeksi 6. Gunakan kateter intermiten
3. Jumlah leukosit dalam untuk menurunkan infeksi
batas normal kandung kencing
4. Menunjukkan perilaku 7. Tingkatkan intake nutrisi
hidup sehat 8. Berikan terapi antibiotik
5. Status imun, 9. Monitor tanda dan gejala
gastrointestinal, infeksi sistemik dan lokal
genitourinaria dalam 10. Pertahankan teknik isolasi
batas normal k/p
11. Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
12. Monitor adanya luka
13. Dorong masukan cairan
14. Dorong istirahat
15. Ajarkan pasien dan keluarga

14
tanda dan gejala infeksi
16. Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam
3. Risiko injuri NOC NIC
berhubungan 1. Risk Kontrol Environment Management
dengan tindakan Kriteria Hasil : (Manajemen lingkungan)
invasive 1. Klien terbebas dari 1. Sediakan Iingkungan yang
cedera aman untuk pasien
2. Klien mampu 2. Identifikasi kebutuhan
menjelaskan cara/metode keamanan pasien, sesuai
untuk mencegah dengan kondisi fisik dan
injury/cedera fungsi kognitif pasien dan
3. Klien mampu riwayat penyakit terdahulu
menjelaskan faktor pasien
resiko dari 3. Menghindarkan lingkungan
lingkungan/perilaku yang berbahaya (misalnya
personal memindahkan perabotan)
4. Mampu memodifikasi 4. Memasang side rail tempat
gaya hidup untuk tidur
mencegah injury 5. Menyediakan tempat tidur
5. Menggunakan fasilitas yang nyaman dan bersih
kesehatan yang ada 6. Menempatkan saklar lampu
6. Mampu mengenali ditempat yang mudah
perubahan status dijangkau pasien.
kesehatan 7. Membatasi pengunjung
8. Menganjurkan keluarga
untuk menemani pasien.
9. Mengontrol lingkungan dari
kebisingan
10. Memindahkan barang-barang
yang dapat membahayakan
11. Berikan penjelasan pada
pasien dan keluarga atau

15
pengunjung adanya
perubahan status kesehatan
dan penyebab penyakit.

4. Gangguan NOC NIC


eliminasi urine 1. Urinary elimination Urinary Retention Care
berhubungan 2. Urinary Contiunence 1. Lakukan penilaian kemih
dengan obstruksi Kriteria Hasil : yang komprehensif berfokus
anatomi (aliran 1. Kandung kemih kosong pada inkontinensia
urine sulit diatur) secara penuh (misalnya, output urin, pola
2. Tidak ada residu urine > berkemih kemih, fungsi
100-200 cc kognitif, dan masalah
3. Intake cairan dalam kencing praeksisten)
rentang normal 2. Memantau penggunaan obat
4. Bebas dari ISK dengan sifat antikolinergik
5. Tidak ada spasme atau properti alpha agonis
bladder 3. Memonitor efek dari obat-
6. Balance cairan seimbang obatan yang diresepkan,
seperti calcium channel
blockers dan antikolinergik
4. Menyediakan penghapusan
privasi
5. Gunakan kekuatan sugesti
dengan menjalankan air atau
disiram toilet
6. Merangsang refleks kandung
kemih dengan menerapkan
dingin untuk perut, membelai
tinggi batin, atau air
7. Sediakan waktu yang cukup
untuk pengosongan kandung
kemih (10 menit)
8. Gunakan spirit wintergreen

16
di pispot atau urinal
9. Menyediakan manuver
Crede, yang diperlukan
10. Gunakan double-void teknik
11. Masukkan kateter kemih,
sesuai
12. Anjurkan pasien / keluarga
untuk merekam output urin,
sesuai
13. Instruksikan cara-cara untuk
menghindari konstipasi atau
impaksi tinja
14. Memantau asupan dan
keluaran
15. Memantau tingkat distensi
kandung kemih dengan
palpasi dan perkusi
16. Membantu dengan toilet
secara berkala
17. Memasukkan pipa ke dalam
lubang tubuh untuk sisa
18. Menerapkan kateterisasi
intermiten
19. Merujuk ke spesialis
kontinensia kemih

5. Ansietas NOC : NIC :


berhubungan 1. Anxiety self-control Anxiety Reduction (penurunan
dengan 2. Anxiety level kecemasan)
situasional, 3. Coping 1. Gunakan pendekatan yang
tindakan operasi Kriteria Hasil: menenangkan
yang akan 1. Klien mampu 2. Nyatakan dengan jelas
dilakukan mengidentifikasi dan harapan terhadap pelaku

17
mengungkapkan gejala pasien
cemas 3. Jelaskan semua prosedur dan
2. Mengidentifikasi, apa yang dirasakan selama
mengungkapkan dan prosedur
menunjukkan tehnik 4. Temani pasien untuk
untuk mengontol cemas memberikan keamanan dan
3. Vital sign dalam batas mengurangi takut
normal 5. Berikan informasi faktual
4. Postur tubuh, ekspresi mengenai diagnosis, tindakan
wajah, bahasa tubuh dan prognosis
tingkat aktivitas 6. Libatkan keluarga untuk
menunjukkan mendampingi klien
berkurangnya kecemasan 7. Instruksikan pada pasien
untuk menggunakan tehnik
relaksasi
8. Dengarkan dengan penuh
perhatian
9. Identifikasi tingkat
kecemasan
10. Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
11. Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
12. Kelola pemberian obat anti
cemas:........

6. Gangguan citra NOC : NIC :


tubuh 1. Body image Body image enhancement
berhubungan 2. Self esteem 1. Kaji secara verbal dan
dengan Kriteria Hasil : nonverbal respon klien
malformasi 1. Body image positif terhadap tubuhnya

18
kongenital 2. Mampu mengidentifikasi 2. Monitor frekuensi mengkritik
kekuatan personal dirinya
3. Mendiskripsikan secara 3. Jelaskan tentang pengobatan,
faktual perubahan fungsi perawatan, kemajuan dan
tubuh prognosis penyakit
4. Mempertahankan 4. Dorong klien
interaksi sosial mengungkapkan perasaannya
5. Identifikasi arti pengurangan
melalui pemakaian alat bantu
6. Fasilitasi kontak dengan
individu lain dalam
kelompok kecil
7. Kurangnya NOC : NIC :
pengetahuan 1. Knowledge : disease 1. Kaji tingkat pengetahuan
berhubungan process pasien dan keluarga
dengan 2. Kowledge : health 2. Jelaskan patofisiologi dari
keterbatasan Behavior penyakit dan bagaimana hal
kognitif Kriteria Hasil : ini berhubungan dengan
1. Pasien dan keluarga anatomi dan fisiologi, dengan
menyatakan pemahaman cara yang tepat.
tentang penyakit, 3. Gambarkan tanda dan gejala
kondisi, prognosis dan yang biasa muncul pada
program pengobatan penyakit, dengan cara yang
2. Pasien dan keluarga tepat
mampu melaksanakan 4. Gambarkan proses penyakit,
prosedur yang dijelaskan dengan cara yang tepat
secara benar 5. Identifikasi kemungkinan
3. Pasien dan keluarga penyebab, dengan cara yang
mampu menjelaskan tepat
kembali apa yang 6. Sediakan informasi pada
dijelaskan perawat/tim pasien tentang kondisi,
kesehatan lainnya dengan cara yang tepat
7. Sediakan bagi keluarga

19
informasi tentang kemajuan
pasien dengan cara yang
tepat
8. Diskusikan pilihan terapi
atau penanganan
9. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
10. Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan,
dengan cara yang tepat

D. IMPLEMENTASI
Dilakukan sesuai dengan intervensi
E. EVALUASI
1. Evaluasi Formatif (Merefleksikan observasi perawat dan analisis terhadap klien
terhadap respon langsung pada intervensi keperawatan)
2. Evaluasi Sumatif (Merefleksikan rekapitulasi dan sinopsis observasi dan analisis
mengenai status kesehatan klien terhadap waktu)

20
DAFTAR PUSTAKA

Adelucky. 2016. Hipospadia.


Tersedia pada : https://id.scribd.com/doc/307001906/HIPOSPADIA-pdf
(diakses pada tanggal 7 November 2017)
Chonk, Irma. 2015. Laporan Pendahuluan Hipospadia.
Tersedia pada : https://id.scribd.com/document/258450488/LAPORAN-PENDAHULUAN-
HIPOSPADIA-docx (diakses pada tanggal 7 November 2017)
Jingga, Yabniel Lit. 2014. LP Hipospadia.
Tersedia pada : ocw.usu.ac.id/course/download/...anak
dan...anak/dia_122_slide_hipospadia.pdf (diakses pada tanggal 7 November 2017)
Lely, Laily. 2014. Laporan Pendahuluan Hipospadia.
Tersedia pada : https://id.scribd.com/doc/239301425/Laporan-Pendahuluan-
hipospadia (diakses pada tanggal 7 November 2017).
Madridista, Rudi. 2012. Asuhan Keperawatan dengan Hipospadia.
Tersedia pada : https://id.scribd.com/doc/111999934/Asuhan-Keperawatan-Dengan-
Hipospadia (diakses pada tanggal 7 November 2017)
Pyeoruz, Dery. 2015. Laporan Pendahuluan Hipospadia.
Tersedia pada : https://id.scribd.com/document/287569785/LAPORAN-
PENDAHULUAN-HIPOSPADIA (diakses pada tanggal 7 November 2017)
Sugiart, Husna. 2012. Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan pada Anak dengan
Hipospadia. Tersedia pada : https://id.scribd.com/doc/98191150/LAPORAN-
PENDAHULUAN (diakses pada tanggal 7 November 2017)
Sugihartini, Erma. 2014. Laporan Pendahuluan Hipospadia.
Tersedia pada : https://id.scribd.com/doc/239734770/LAPORAN-PENDAHULUAN-
HIPOSPADIA (diakses pada tanggal 7 November 2017)

21