Anda di halaman 1dari 39

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

LAPORAN MINI PROJECT

Perbedaan Tingkat Pengetahuan Imunisasi Dasar bagi


Ibu Bayi Sebelum Dan Setelah Penyuluhan Di Kelurahan
Mojosari,Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung

Disusun Oleh :
dr. Erwin Dyah Anggraeni

Pendamping:
dr. Nanik Azizah

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA


PERIODE NOVEMBER - FEBRUARI
2016-2017

i
KATA PENGANTAR

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya,

sehingga penulis dapat menyelesaikan mini proyek yang berjudul “Perbedaan Tingkat

Pengetahuan Imunisasi Dasar Bagi Ibu Bayi Sebelum dan Setelah Penyuluhan Di Kelurahan

Mojosari” untuk memenuhi sebagian persyaratan Program Internship Dokter Indonesia.

Dalam penyusunan mini proyek ini, penulis tidak dapat menyelesaikannya tanpa

bantuan pihak lain. Penulis mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak untuk

dapat menyelesaikan mini proyek ini. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin

mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. dr Nanik Azizah, yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada kami sehingga

kami termotivasi dan menyelesaikan tugas ini

2. Ibu-ibu Posyandu desa Mojosari atas kesediaannya menjadi responden.

3. Ibu Dian dan Ibu Diah selaku Bidan dan Perawat Polindes Mojosari yang telah ikut

bersedia membantu mini proyek ini.

4. Semua pihak yang terkait yang telah memberikan bantuan serta dukungan.

Semoga semua bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dari Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa mini proyek ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis

mengharapkan masukan dan saran yang membangun. Mudah-mudahan mini proyek ini

bermanfaat. Amin.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tulungagung, Januari 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. i
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................... iii
BAB 1. PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.......................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian ........................................................................... 2
D. Manfaat Penelitian ......................................................................... 3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 4
A. Tinjauan Imunisasi ........................................................................ 4
1. Definisi ......................................................................................... 4
2. Imunisasi Tertunda ....................................................................... 8
3. Bahaya Tidak Imunisasi ............................................................... 10
4. Peran Orang Tua Dalam Imunisasi .............................................. 10
5. Faktor Yang Mempengaruhi Anak .............................................. 11
B. Kerangka Konsep ........................................................................... 14
C. Hipotesis .......................................................................................... 14
BAB 3. METODE PENELITIAN ................................................................... 15
A. Jenis dan Rancangan Penelitian ................................................... 15
B. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................... 15
C. Subyek Penelitian ........................................................................... 15
D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ...................................................... 15
E. Metode Pengumpulan Data ........................................................... 16
F. Definisi Operasional....................................................................... 16
G. Aspek Pengukuran ......................................................................... 16
H. Instrumen Penelitian...................................................................... 17
BAB 4. HASIL ................................................................................................... 18
A. Profil Komunitas Umum (Polindes Mojosari) ........................... 18
B. Data Geografis ................................................................................ 18
C. Data Demografis ............................................................................. 19
iii
D. Sumber Daya Kesehatan ............................................................... 19
E. Sarana Kesehatan yang Ada ....................................................... 20
F. Data Kesehatan Primer ................................................................. 20
G. Data Hasil Intervensi ..................................................................... 20
BAB 5. PEMBAHASAN DAN DISKUSI ........................................................ 24
A. Pengetahuan Ibu Sebelum Diberikan Penyuluhan ................... 24
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 27
A. Kesimpulan ..................................................................................... 27
B. Saran ............................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 28

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam melaksanakan Sistem Kesehatan Nasional (SKN), imunisasi adalah salah
satu bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam upaya menurunkan angka
kematian bayi dan balita sehingga pelaksanaannya tidak dapat ditunda. Hal ini berkaitan
erat dengan usaha peningkatan mutu sumber daya manusia pada masa yang akan datang.
Generasi muda membutuhkan asuhan dan perlindungan terhadap penyakit yang mungkin
dapat menghambat tumbuh kembangnya menuju dewasa yang berkualitas tinggi guna
meneruskan pembangunan nasional dengan masyarakat yang sehat, sejahtera, dan
bahagia.
Sekitar 1,7 juta kematian yang terjadi pada anak atau 5% pada balita di Indonesia
disebabkan oleh Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti TBC,
difteri, pertusis, campak, tetanus, polio dan hepatitis B. PD3I merupakan salah satu
penyebab kematian anak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, oleh karena
itu cakupan imunisasi harus dipertahankan lebih tinggi dan merata sampai mencapai
tingkat PopulationImmunity (kekebalan masyarakat), sementara kegagalan untuk menjaga
tingkat cakupan imunisasi yang tinggi dan merata akan dapat menimbulkan Kejadian
Luar Biasa PD3I seperti kejadian Polio (Depkes, 2007).
Menurut para pakar imunisasi dunia, sedikitnya sebanyak 10 juta jiwa dapat
diselamatkan pada tahun 2006 melalui kegiatan imunisasi (Depkes, 2006). Untuk
mencapai perlindungan yang optimal terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi, seorang anak harus menerima semua imunisasi sesuai dengan waktu yang
sudah ditentukan (Sadoh, A.E., and Eregie, C.O., 2009). Jika imunisasi dilaksanakan
dengan baik dan teratur dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian 80-90%.
Kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi harus tetap terjaga, sebab bila
tidak dapat mengakibatkan turunnya angka cakupan imunisasi. Perlu ditekankan bahwa
pemberian imunisasi pada bayi dan anak tidak hanya memberikan pencegahan terhadap
anak tersebut tetapi akan memberikan dampak yang jauh lebih luas karena akan
mencegah terjadinya penularan yang luas dengan adanya peningkatan tingkat imunitas
secara umum di masyarakat.
Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Beberapa studi
menemukan bahwa usia ibu, ras, pendidikan, dan statussosial ekonomi berhubungan
1
dengan cakupan imunisasi, dan opini orang tua tentang vaksin berhubungan dengan status
imunisasi anak mereka.
Berdasarkan data Imunisasi Dasar Lengkap Puskesmas Kauman Kabupaten
Tulungagung, angka cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
didapatkan bahwa dari 4 posyandu yang berada dalam wilayah Polindes Mojosari, pada
periode tahun 2016 sudah memenuhi target UCI yang sudah ditargetkan oleh pihak
Puskesmas Kauman.
Pada program imunisasi anak, ibu sebagai sasaran primer merupakan pihak yang
paling menentukan karena mereka yang berhubungan langsung dengan kesejahteraan
anak balita. Ibu adalah orang yang mengambil keputusan dalam pengasuhan anak selama
24 jam termasuk dalam menentukan anaknya akan mendapat imunisasi atau tidak.
Penghalang utama untuk keberhasilan imunisasi bayi dan anak dalam perawatan
kesehatan yaitu rendahnya kesadaran dan kebutuhan masyarakat akan imunisasi,
mengabaikan peluang untuk pemberian vaksin yang adekuat untuk kesehatan masyarakat
dan program pencegahan (Adhistiani, 2006).
Program Imunisasi di Polindes Mojosari sudah berjalan lancar. Namun apakah hal itu
mencerminkan pengetahuan ibu yang baik akan program imunisasi atau ibu hanya
menjalankan apa yang telah di himbaukan oleh pihak polindes dan kader-kader posyandu.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka disusun rumusan masalah sebagai berikut:
Perlunya intervensi berupa penyuluhan secara lisan maupun tulisan untuk meningkatkan
dan mengetahui tingkat pengetahuan ibu mengenai Imunisasi Dasar.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
-Berkurangnya angka kejadian Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
(PD3I)
2. Tujuan khusus
- Meningkatnya pengetahuan ibu tentang imunisasi
-Adanya perubahan perilaku ibu sehingga imunisasi anak dapat berjalan lebih lancar

2
D. Manfaat
1. Sebagai salah satu sumber informasi untuk mengetahui tingkat pengetahuan Ibu
terhadap Imunisasi Dasar di wilayah kerja Polindes Mojosari.
2. Sebagai bahan masukan ataupun bahan pertimbangan bagi polindes dalam
pelaksanaan program yang terkait dengan Imunisasi Dasar.
3. Mempromosikan tentang pentingnya pemberian Imunisasi Dasar, dan saran yang
membangun untuk penelitian selanjutnya.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN IMUNISASI
1. Definisi:
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak terpajan pada antigen yang serupa tidak
terjadi penyakit (Behrman, et al., 2000). Menurut Muammalah (2006), kekebalan aktif
yaitu kekebalan yang diperoleh, dimana tubuh orang tersebut aktif membuat zat anti
sendiri. Kekebalan aktif dibagi dua yaitu kekebalan aktif alami (naturally acquired
immuninity) dan kekebalan aktif disengaja (artifially induced active immunity).
Kekebalan aktif alami (naturally acquired immuninity) yaituorang ini menjadi kebal
setelah menderita penyakit sedangkan kekebalan aktif disengaja (artifially induced active
immunity) yaitu kekebalan yang diperoleh setelah orang mendapatkan vaksinasi.
Imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah kepada semua bayi (usia 0-11 bulan)
adalah BCG untuk mencegah penyakit tuberculosis, DPT untuk mencegah penyakit
diphteri, pertusis dan tetanus, imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak,
imunisasi polio untuk mencegah penyakit polio, ditambah Hepatitis B untuk mencegah
penyakit Hepatitis B (penyakit hati). Hasil penelitian dari sisi epidemiologis
membuktikan manfaat perlunya imunisasi dasar untuk bayi. Hal ini telah tertuang dalam
Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang program imunisasi tersebut.Menurut badan
kesehatan dunia (WHO), kelima jenis vaksin tersebut diwajibkan karena dampak dari
penyakit tersebut bisa menimbulkan kematian dan kecacatan. (Depkes RI,2009) .
Lima Imunisasi Dasar Lengkap (LIL) adalah apabila seorang anak telah
mendapatkan lima imunisasi dasar yaitu BCG , DPT, Polio, Campak, dan Hepatitis B
sebelum berusia 1 tahun. Berikut adalah penjelasan mengenai lima imunisasi dasar :

a. Imunisasi BCG
Imunisasi BCG termasuk salah satu dari 5 imunisasi yang diwajibkan. Ketahanan
terhadap penyakit TB (Tuberkulosis) berkaitan dengan keberadaan bakteri Tubercel
bacilli yang hidup di dalam darah. Itulah mengapa agar memiliki kekebalan aktif

4
dimasukkanlah jenis basil tidak berbahaya ke dalam tubuh, atau vaksinasi BCG (Bacillus
Callmete Guerin).
Imunisasi BCG wajib diberikan seperti diketahui di Indonesia termasuk negara
endemis TB dan salah satu negara dengan penderita TB tertinggi di dunia. TB disebabkan
kuman Mycrobacterium tuberculosis, dan mudah sekali menular melalui droplet, yaitu
butiran air di udara yang terbawa keluar saat penderita batuk, bernapas ataupun bersin.
Gejalanya antara lain berat badan anak susah bertambah, sulit makan, mudah sakit, batuk
berulang, demam, berkeringat di malam hari, juga diare persisten. Masa inkubasi TB rata-
rata berlangsung antara 8-12 minggu.
Jumlah pemberian vaksin BCG cukup 1 kali saja tak perlu diulang (booster). Sebab
vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus.
Berbeda dengan vaksin berisi kuman mati, sehingga memerlukan pengulangan. Imunisasi
BCG diberikan dibawah usia 2 bulan. Jika baru diberikan setelah usia 2 bulan, disarankan
tes Mantoux (tuberkulin) dahulu untuk mengetahui apakah si bayi sudah kemasukan
kuman Mycrobacterium tuberculosis atau belum. Vaksinasi dilakukan bila hasil tesnya
negatif. Jika ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering bertandang ke rumah,
segera setelah lahir si kecil diimunisasikan BCG. Imunisaisi BCG biasa disuntikan di
lengan kanan atas, sesuai anjuran WHO. Meski ada juga petugas medis yang melakukan
penyuntikan di paha.
Biasanya apabila imunisasi BCG ini berhasil maka akan timbul bisul kecil dan
bernanah di daerah bekas suntikan setelah 4-6 minggu. Tidak menimbulkan nyeri dan
tidak diiringi panas. Bisul akan sembuh sendiri dan meninggalkan luka parut. Efek
samping umumnya tidak ada. Namun pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar
getah bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau selangkangan bila penyuntikan
dilakukan di paha). Biasanya akan sembuh sendiri. Imunisasi BCG tak dapat diberikan
pada anak berpenyakit TB atau menunjukkan Mantoux positif.

b. Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi ini merupakan langkah efektif untuk mencegah masuknya virus hepatitis
B (VHB), yaitu virus penyebab penyakit hepatitis B. Hepatitis B dapat menyebabkan
sirosis atau pengerutan hati, bahkan lebih buruk lagi mengakibatkan kanker hati.Imunisasi
Hepatitis B diberikan sebanyak 3 kali, dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama
dan kedua (saat bayi berusia 1 bulan). HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah
lahir. Untuk mendapatkan respon imun yang optimal interval suntikan kedua dan ketiga
5
minimal 2 bulan , tebaik 5 bulan. Maka suntikan yang ketiga diberikan 2-5 bulan setelah
suntikan yang kedua yaitu pada umur 3-6 bulan.
Tingkat kekebalan imunisasi Hepatitis B cukup tinggi antara 94-96 %. Umumnya
setelah 3 kali suntikan, lebih 95 % bayi mengalami respon imun yang cukup. Kejadian
ikutan paska imunisasi hepatitis B jarang terjadi. Segera setelah imunisasi dapat timbul
demam yang tidak tinggi, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan, pembengkakan,
nyeri, rasa mual dan nyeri sendi. Imunisasi hepatitis B tidak dapat diberikan kepada anak
yang sedang sakit sedang atau berat, dengan ataupun tanpa demam.

c. Imunisasi Polio
Belum ada pengobatan efektif untuk membasmi polio. Penyakit yang dapat
menyebabkan kelumpuhan ini disebabkan virus poliomyelitis yang sangat menular.
Penularannya bisa lewat makanan/minuman yang tercemar virus polio. Bisa juga lewat
percikan ludah/air liur penderita polio yang masuk ke mulut orang sehat. Virus polio
berkembang biak dalam tenggorokan dan saluran pencernaan atau usus, lalu masuk ke
aliran darah dan akhirnya ke sumsum tulang belakang hingga bisa menyebabkan
kelumpuhan otot tangan dan kaki. Bila mengenai otot pernapasan, penderita akan
kesulitan bernapas dan bisa meninggal.
Masa inkubasi virus antara 6-10 hari. Setelah demam 2-5 hari, umumnya akan
mengalami kelumpuhan mendadak pada salah satu anggota gerak. Namun tak semua
orang yang terkena virus polio akan mengalami kelumpuhan, tergantung keganasan virus
polio yang menyerang dan daya tahan tubuh anak. Imunisasi polio akan memberikan
kekebalan terhadap serangan virus polio.
Vaksin polio dapat diberikan dengan 2 cara yaitu bisa lewat suntikan (Inactivated
Poliomyelitis Vaccine/IPV), atau lewat mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV). Di
Indonesia yang digunakan adalah OPV. Vaksin polio-0 diberikan saat bayi lahir, karena
Indonesia merupakan daerah endemik polio maka sesuai pedoman program imunisasi
nasional untuk mendapatkan program imunisasi yang lebih tinggi diperlukan tambahan
imunisasi polio yang diberikan setelah lahir. Mengingat OPV berisi virus polio hidup
maka dianjurkan diberikan saat bayi meninggalkan rumah sakit agar tidak mencemari
bayi lain karena virus polio vaksin dapat dieskskresi melalui tinja. Untuk keperluan ini
IPV dapat menjadi alternatif. Polio 1,2,3 pada usia usia 2, 4, 6 bulan. Dilanjutkan pada
usia 18 bulan dan 5 tahun.

6
Imunisasi polio hampir tidak ada efek samping hanya sebagian kecil saja yang
mengalami pusing, diare ringan, sakit otot dan kasusnya sangat jarang. Imunisasi ini tidak
dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau demam tinggi (diatas 38°C),
muntah atau diare, penyakit kanker atau keganasan, HIV/AIDS, sedang menjalani
pengobatan steroid dan pengobatan radiasi umum, serta anak dengan mekanisme
kekebalan terganggu.

d. Imunisasi DPT
Manfaat pemberian imunisasi DPT adalah untuk menimbulkan kekebalan positif
dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis, dan tetanus. Di
Indonesia vaksin terhadap 3 penyakit ini dipasarkan dalam 3 jenis kemasan, yaitu dalam
bentuk kemasan tunggal khusus bagi tetanus dalam bentuk kombinasi DT (difteri dan
tetanus) dan kombinasi DPT dikenal pula sebagai vaksin tripel. Cara imunisasi dasar DPT
yaitu diberikan tiga kali, sejak bayi berumur 2 bulan dengan selang waktu antara dua
penyuntikan minimal 4 minggu. Untuk imunisasi massal tetap harus diberikan 3 kali
karena suntikan pertama tidak memberikan perlindungan apa-apa dan baru akan
memberikan perlindungan terhadap serangan apabila telah mendapat vaksin DPT
sebanyak 3 kali.
Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteri cukup baik sebesar 80-90% dan daya
proteksi tetanus sangat baik yaitu 90-95% sedangkan daya proteksi vaksin pertusis masih
sangat rendah yaitu 50-60 %.Oleh karena itu tidak jarang anak yang telah mendapatkan
imunisasi pertusis masih terjangkit batuk rejan, tetapi dalam bentuk yang lebih ringan.
Reaksi imunisasi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa
nyeri di tempat suntikan selama 1-2 hari.

e. Imunisasi campak
Imunisasi campak diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak
secara aktif. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan.
Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering
tunggal atau dalam kemasan kering dikombinasikan dengan vaksin gondong dan rubella.
Campak diberikan sebayak 2 kali yaitu 1 kali pada usia 9 bulan dan yang kedua pada usia
9 tahun. Dianjurkan pemberian campak yang pertama sesuai dengan jadwal. Karena pada
usia 9 bulan antibodi dari ibu sudah menurun dan penyakit campak biasanya menyerang
pada usia balita. Jika pada usia 12 bulan belum mendapat campak maka pada usia 12
7
bulan harus sudah imunisasi MMR (Measles Mump Rubella). Efek samping imunisasi
campak umunya tidak ada. Pada beberapa anak, bisa menyebabkan demam dan diare,
namun kasusnya sangat kecil. Biasanya demam berlangsung seminggu. Kadang juga
terdapat efek kemerahan mirip campak selama 3 hari.

Tabel 2.1.Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Anak

Sumber : Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) periode 2012

2. Imunisasi Tertunda
Pada keadaan tertentu imunisasi tidak dapat dilaksanakan sesuai jadwal yang sudah
disepakati. Keadaan ini tidak merupakan hambatan untuk melanjutkan imunisasi. Vaksin
yang sudah diterima oleh anak tidak akan jadi hilang manfaatnya tetapi tetap sudah
menghasilkan respon imunologis sebagaimana yang diharapkan tetapi belum mencapai
hasil yang optimal. Dengan perkataan lain anak belum mempunyai antibodi yang optimal
karena belum mendapat imunisasi yang lengkap, sehingga kadar antibodi yang dihasilkan
masih dibawah kadar ambang pelindung (protective level) atau belum mencapai kadar
antibodi yang bisa memberikan perlindungan untuk kurun waktu yang panjang (life long

8
immunity) sebagaimana bila imunisasinya lengkap. Dengan demikian kita harus
menyelesaikan jadwal imunisasi dengan melanjutkan imunisasi yang belum selesai
(Ranuh, dkk., 2005).

Tabel 2.2 Jadwal Untuk Vaksinasi Tidak Teratur


Vaksin Rekomendasi bila imunisasi terlambat
BCG Umur <12 bulan, boleh diberikan kapan saja. Umur >12 bulan, imunisasi
kapan saja namun sebaiknya dilakukan terlebih dahulu uji tuberculin
apabila negative berikan BCG dengan dosis 0,1 ml intrakutan.
DPT(DTwP Bila dimulai dengan DTwP boleh dilanjutkan dengan DTaP. Berikan dT
atau DTaP pada anak ≥ 7 tahun, jangan DTwP atau DTaP apabila vaksin tersedia.
Bila terlambat, jangan mengulang pemberian dari awal, tetapi lanjutkan
dan lengkapi imunisasi seperti jadwal tidak peduli berapapun jarak
waktu/interval keterlambatan dari pemberian sebelumnya. Bila belum
pernah imunisasi dasar pada usia < 12 bulan, imunisasi diberikan sesuai
imunisasi dasar baik jumlah maupun intervalnya. Bila pemberian
keempat sebelum ulang tahun keempat, maka pemberian ke 5 secepat-
cepatnya 6 bulan sesudahnya. Bila pemberian ke-4 setelah umur 4 tahun,
maka pemberian ke-5 tidak perlu lagi.
Vaksin Rekomendasi bila imunisasi terlambat

Polio Oral Bila terlambat jangan mengulang pemberian dari awal tetapi lanjutkan
dan lengkapi imunisasi seperti jadwal, tidak peduli berapapun jarak
waktu/interval keterlambatan dari pemberian sebelumnya.
Campak Umur antara 9-12 bulan,berikan kapan saja saat bertemu. Umur anak 1
tahun/lebih,berikan MMR
MMR Bila sampai dengan umur 12 bulan belum dapat vaksin campak, MMR
bisa diberikan kapan saja setelah berumur 1 tahun.
Hepatitis B Bila terlambat,jangan mengulang pemberian dari awal, tetapi lanjutkan
dan lengkapi imunisasi seperti jadwal, tidak peduli berapapun jarak
waktu/interval dari pemberian sebelumnya. Anak dan remaja belum
pernah imunisasi hepatitis B pada masa bayi, bisa mendapat serial
imunisasi hepatitis B kapan saja saat berkunjung.

9
Sumber:Buku Pedoman Imunisasi Di Indonesia (2005)
3. Bahaya Tidak Imunisasi
Kalau anak tidak diberikan imunisasi dasar lengkap, maka tubuhnya tidak
mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit tersebut. Bila kuman berbahaya
yang masuk cukup banyak maka tubuhnya tidak mampu melawan kuman tersebut
sehingga bisa menyebabkan sakit berat, cacat atau meninggal (Soedjatmiko,
2008).Diperkirakan 1,7 juta kematian pada anak atau 5 % pada balita di Indonesia adalah
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), seperti TBC, dipteri, pertusis
(penyakit pernapasan), campak, tetanus, polio dan hepatitis B (Susanto, 2007). Balita
yang tidak diimunisasi lengkap mempunyai kemungkinan meninggal 14 kali
dibandingkan balita yang telah diimunisasi. Sedangkan bila anak sama sekali tidak
diimunisasi tentu tingkat kekebalannya lebih rendah lagi (Ibrahim, 1991).
Menurut penelitian yang dilakukan Kartono, et al., (2008) seorang anak dengan
status imunisasi DPT dan DT yang tidak lengkap mempunyai risiko menderita difteri
46,403 kali dibandingkan seorang anak dengan status imunisasi DPT dan DT lengkap.

4. Peran Orang Tua Dalam Imunisasi


Peningkatan cakupan imunisasi melalui pendidikan orang tua telah menjadi strategi
populer di berbagai negara. Strategi ini berasumsi bahwa anak-anak tidak akan
diimunisasi secara benar disebabkan orang tua tidak mendapat penjelasan yang baik atau
karena memiliki sikap yang buruk tentang imunisasi.Program imunisasi dapat berhasil
jika ada usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan pada orang-orang yang
memiliki pengetahuan dan komitmen yang tinggi terhadap imunisasi.Jika suatu program
intervensi preventif seperti imunisasi ingin dijalankan secara serius dalam menjawab
perubahan pola penyakit dan persoalan pada anak dan remaja, maka perbaikan dalam
evaluasi perilaku kesehatan masyarakat sangat diperlukan (Muhammad, 2003).Banyak
literatur yang menghubungkan antara faktor orang tua dengan penggunaaan sarana
kesehatan baik itu untuk tindakan pencegahan atau pengobatan penyakit, namun hanya
sedikit penelitian yang secara khusus mencari hubungan antara pengetahuan orang tua
dengan imunisasi anak.
Cakupan imunisasi yang rendah merupakan persoalan yang kompleks. Bukan hanya
karena faktor biaya, karena ternyata vaksin gratis ternyata juga tidak menjadi jaminan
bagi suksesnya imunisasi. Pada hasil penelitian Becher (1995) yang dikutip oleh
Muhammad (2003) mendapatkan bahwa ibu–ibu yang yang anaknya jarang terserang
10
penyakit adalah mereka yang lebih sering memanfaatkan sarana-sarana kesehatan
pencegahan. Mereka mengaku bahwa dengan memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap
sarana pencegahan dan melakukan usaha pencegahan yang teratur, anak mereka dapat
terhindar dari sakit.

5. Faktor Yang Mempengaruhi Imunisasi Anak


Menurut Sulistyowati (2005), adapun faktor yang berperan dalam model untuk
memprediksi cakupan imunisasi dasar lengkap yaitu tingkat pendidikan ibu, dan status
kerja ibu.
1) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindra
manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan yang tercakup dalam
domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Effendy dan Hayati, 2005) yaitu:
a) Tahu (Know)
Diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya,
termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)
terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan
yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan
yang paling rendah. Untuk mengukur apakah orang tahu atau tidak tentang apa
yang dipelajari antara lain dengan menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan,
menyatakan dan sebagainya
b) Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang
obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
Orang yang telah paham terhadap obyek harus dapat menjelaskan, menyebutkan
contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang
dipelajari.
c) Aplikasi (Application)
Diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai
11
penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya pada konsep
atau situasi lain.
d) Analisis (analisys)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek
kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi
tersebut dan masih ada kaitanya satu sama lain. Analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan penggunaan kata-kata kerja, dapat menggambarkan, dan sebagainya.
e) Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dari
formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, merencanakan,
meringkas dan sebagainya terhadap suatu rumusan-rumusan yang telah ada.
f) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuanuntuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan
kriteria-kriteria yang ditentukan sendiri atau yang telah ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subyek penelitian. Kedalaman
pengetahuan yang ingin kita ketahui disesuaikan dengan tingkat-tingkat dalam kawasan
kognitif (Notoadmodjo, 2003)
Pengetahuan ibu tentang manfaat dan cara pemberian imunisasi berhubungan
dengan tingkat pendidikan ibu. Walaupun demikian didapatkan hasil yang cukup
mengejutkan bahwa sebagian ibu dengan tingkat pendidikan sarjana tidak mengetahui
penyakit apa yang dapat dicegah oleh masing-masing jenis imunisasi yang diberikan
kepada mereka (Hanum, P., et al., 2005).

2) Perilaku
Pengertian perilaku dapat dibatasi sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat, berfikir,
bersikap, dan lain sebagainya yang merupakan refleksi dari berbagai macam aspek, baik
fisik maupun non fisik. Perilaku juga diartikan sebagai suatu reaksi psikis seseorang
terhadap lingkungannya, reaksi yang dimaksud digolongkan menjadi 2, yakni dalam
bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau konkrit), dan dalam bentuk aktif (dengan tindakan
konkrit), sedangkan dalam pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan atau

12
tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup (Soekidjo Notoatmodjo, 1987:1). Faktor-
faktor yang Mempengaruhi Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2005), ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku
seseorang dalam bidang kesehatan yaitu:
a) Latar Belakang
Latar belakang yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam bidang kesehatan
dibedakan atas: pendidikan, pekerjaan, penghasilan, norma-norma yang dimiliki dan
nilai-nilai yang ada pada dirinya, serta keadaan sosial budaya yang berlaku.
b) Kepercayaan dan Kesiapan Mental
Perilaku seseorang dalam bidang kesehatan dipengaruhi oleh kepercayaan orang tersebut
terhadap kesehatan serta kesiapan mental yang dipunyai. Kepercayaan tersebut setidak-
tidaknya menjadi manfaat yang akan diperoleh, kerugian yang didapat, hambatan yang
diterima serta kepercayaan bahwa dirinya dapat diserang penyakit.
c) Sarana
Tersedia atau tidaknya sarana yang dimanfaatkan adalah hal yang penting dalam
munculnya perilaku seseorang di bidang kesehatan, betapapun positifnya latar belakang,
kepercayaannya dan kesiapan mental yang dimiliki tetapi jika sarana kesehatan tidak
tersedia tentu perilaku kesehatan tidak akan muncul.
d) Faktor Pencetus
Dalam bidang kesehatan peranan faktor pencetus cukup besar untuk memunculkan
perilaku kesehatan yang diinginkan. Seringkali dijumpai seseorang baru berperilaku
kesehatan tertentu bila sudah ada masalah kesehatan sebagai pencetus, seperti penyakit
kulit.
e) Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku berarti individu mulai menerapkan sesuatu yang baru (inovasi), lain
daripada yang sebelumnya.

13
B. KERANGKA KONSEP

pre test
(mengisi quesioner)

SESUDAH
ceramah,
post test
menyebarkan
leaflet (mengisi
quesioner)

C. HIPOTESIS
Adanya peningkatan pengetahuan ibu bayi mengenai imunisasi dasar setelah
mendapatkan intervensi berupa penyuluhan di salah satu posyandu desa Mojosari.

14
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN


Desain penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yang berbentuk
penelitian deskriptif. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang
dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu
keadaan secara obyektif. (Notoatmodjo 2005)

B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN


1. Lokasi Penelitian : Posyandu desa Mojosari
2. Waktu Pelaksanaan : Bulan Januari 2017

C. SUBYEK PENELITIAN
1. Populasi Penelitian
Populasi target adalah populasi yang menjadi sasaran akhir penerapan hasil penelitian
(Sastroasmoro dan Ismael, 2002). Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-
ibu yang mempunyai bayi usia 0-12 bulan pada posyandu di Kelurahan Mojosari
2. Subyek Penelitian
Subjek penelitian adalah ibu yang mempunyaibayi usia dibawah 1 tahun. Menurut

patokan umum rule of thumb setiap penelitian yang datanya akan dianalisis secara

statistik dengan analisis bivariat membutuhkan sampel minimal 30 subjek penelitian

(Murti, 2006).

D. KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI


Kriteria inklusi subyek penelitian:
a. Ibu yang memiliki bayi usia 0-12 bulan.
b. Ibu yang bersedia dilakukan penelitian
c. Ibu yang bisa membaca dan menulis

15
Kriteria Eksklusi subyek penelitian:
a. Ibu yang menderita gangguan kejiwaan
b. Ibu yang tidak mau mengisi kuesioner
c. Ibu yang tidak kooperatif dalam pengambilan data

E. METODE PENGUMPULAN DATA


1. Data Primer
Data primer yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi : pengetahuan, ibu yang
memiliki bayi usia 0-12 bulan tentang Imunisasi Dasar. Data diperoleh dengan
menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden sebelum dan sesudah
penyuluhan.
2. Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Kauman, yaitu data mengenai demografi
penduduk, serta gambaran umum mengenai Kecamatan Mojosari dan jumlah ibu yang
memiliki bayi usia 0-12 bulan.

F. DEFINISI OPERASIONAL
1. Penyuluhan Imunisasi Dasar adalah suatu usaha penyebarluasan informasi tentang
Imunisasi Dasar kepada ibu yang memiliki bayi berusia 0-12 bulan dengan
menggunakan metode ceramah, dan leaflet.
2. Pengetahuan ibu adalah segala sesuatu yang diketahui ibu tentang Imunisasi Dasar
sebelum dan sesudah penyuluhan menyangkut semua yang diketahui ibu tentang
Imunisasi Dasar.

G. ASPEK PENGUKURAN
1. Pengetahuan
Kuesioner pengetahuan ibu terdiri atas 20 pertanyaan. Pemberian skor dilakukan
berdasarkan ketentuan, jawaban benar diberi skor 1, dan jawaban salah diberi skor 0.
Sehingga skor total yang tertinggi adalah 20. Skor yang diperoleh masing-masing
responden dijumlahkan, dibandingkan dengan skor maksimal kemudian dikalikan 100.
Dengan memakai skala pengukuran menurut Hadi Pratomo dan Sudarti (1986), yaitu:
1. Baik, bila jawaban responden benar >75% dari total nilai angket pengetahuan.
2.Sedang, bila jawaban responden benar 40%-75% dari total nilai angket
pengetahuan.
16
3. Kurang, bila jawaban responden benar <40% dari total nilai angket pengetahuan.
Maka penilaian terhadap pengetahuan responden, yaitu:
1. Skor 15-20 = baik.
2. Skor 9-14 = sedang.
3. Skor <8 = kurang.

H. INSTRUMEN PENELITIAN.
Alat ukur penelitian menggunakan kuesioner. Tujuan pokok pembuatan kuesioner
adalah memperoleh hasil relevan dengan tujuan penelitian memperoleh informasi dengan
realita dan validitas setinggi mungkin.

17
BAB IV
HASIL

A. Profil Komunitas Umum (Puskesmas Manguharjo)


Nama Poskesdes: Ponkesdes Mojosari, Alamat: Jl. Sido Luhur no. 17 RT/RW 02/04 Desa

Mojosari Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung. Tipe Poskesdes: Rawat Jalan

B. Data Geografis

a. Letak Desa
Desa Mojosari terletak di wilayah Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung,

Jawa Timur. Yang terdiri dari dua dusun yaitu Dusun Bancaan dan Dusun Krajan.

b. Luas Wilayah
Luas wilayah Desa Mojosari berdasarkan data statistik tahun 2015 adalah 152.371

Ha.

c. Batas Wilayah
Wilayah Desa Panggungrejo dibatasi oleh :

18
a. Sebelah Utara : Desa Banaran

b. Sebelah Selatan : Desa Bolorejo

c. Sebelah Barat : Desa Karanganom

d. Sebelah Timur : Desa Sidorejo

C. Data Demografis
a. Jumlah Penduduk

Tabel 1. Jumlah Penduduk Desa Mojosari Tahun 2015

Jumlah Penduduk
No Desa Jumlah
Laki - Laki Perempuan

1. Mojosari 1970 1867 3837

b. Mata Pencaharian

Tabel 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan Desa Mojosari Tahun 2015


Jenis Pekerjaan

PNS,
No Jenis Kelamin Buruh
Petani Pedagang Wiraswasta POLRI
Tani
TNI

1. Laki – Laki 241 53 18 1241 28

2. Perempuan 11 8 59 1201 23

Total 252 61 96 2542 51

A. Sumber Daya Kesehatan Yang Ada


a. Tenaga Poskesdes

No Tenaga Jumlah Keterangan


1 Bidan 1 -
2 Perawat 1 -
Jumlah 2 -

19
b. Tenaga Peran Serta Masyarakat
No Jenis Tenaga Jumlah
1 Bagas 2
2 Kader Posyandu Balita 20
3 Kader Posyandu Lansia 6
4 Satgas GSI 2
5 Satgas Kesling 2
6 Satgas PSN 2
7 Satgas Wabah / Bencana 2
8 Satgas Gizi 2
9 Batra 26
10 Guru UKS 2

c. Sarana Pelayanan Kesehatan Yang Ada

No Sarana Kesehatan Jumlah


1 Ponkesdes/polindes 1
2 Dokter Praktek Swasta 1
3 Bidan Praktek Swasta 4
4 Rumah Sakit -

D. Data Kesehatan Masyarakat (Primer)


Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap di setiap kelurahan wilayah Puskesmas
Manguharjo pada tahun 2014sudah sesuai target, yakni sudah mencapai capaian target
sebesar 80%. Cakupan ini diperoleh dari jumlah bayi yang mendapatkan imunisasi dasar
lengkap di wilayah kerja puskesmas manguharjo selama periode tahun 2014. Pencapaian
ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan capaian tahun 2015pada laporan
semester awal 2015, yakni dari 4 kelurahan, dua diantaranya belum memenuhi target 50%
UCI diantaranya adalah Kelurahan Nambangan Lor.

E. Data Hasil Intervensi


Pada penelitian ini dilakukan pada 30 responden yang merupkan wakil dari ibu bayi di
Kelurahan Mojosari, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung. Penelitian dilakukan
dengan cara penyebaran kuesioner terhadap 30 responden, adapun informasi yang diambil
dalam penelitian ini adalah berupa pendidikan dan pekerjaan dari responden dan informasi
tentang pengetahuan pada ibu bayi tentang imunisasi pada anak.
Berikut ini merupakan distribusi responden berdasarkan pendidikan yang ditunjukkan
pada tabel 4.1.

20
Tabel 4.1. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan
Pendidikan N %
SD, SMP 12 33,3%
SMA/ Sederajat 18 60 %
Perguruan Tinggi 0 6,7%
Total 30 100.0

Tabel 4.1menjelaskan bahwa umumnya responden berpendidikan terakhir SMA yaitu


sebanyak 12 orang (60%), responden yang berpendidikan terakhir SD dan SMP sebanyak 18
orang (33,3%), sedangkan responden yang berpendidikan terakhir Perguruan Tinggi
sebanyak 0 orang (6,7%). Responden dengan tingkat pendidikan SD/SMP paling dominan.
Faktor pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan responden terhadap pentingnya
imunisasi, sehingga akan mempengaruhi respon ibu dalam memberikan imunisasi yang
lengkap terhadap anaknya. Data yang kedua adalah distribusi responden berdasarkan
pekerjaan yang dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini.

Tabel 4.2

Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan


Pekerjaan N %
Tidak Bekerja/ IRT 14 66,6 %
Petani atau Buruh 7 6,7 %
Wiraswasta 9 20 %
PNS 0 6,7%
Total 30 100.0

Tabel 4.2 menunjukkan distribusi responden berdasarkan pekerjaan. Responden dengan


pekerjaan Ibu Rumah Tangga /tidak bekerja sebanyak 20 orang (66,6%), Petani atau Buruh
sebanyak 2 orang (6,7%), Wiraswastasebanyak 6 orang (20%), PNS (Pegawai Negeri
Sipil)sebanyak 2 orang (6,7%). Responden dengan jenis pekerjaan paling dominan adalah ibu
rumah tangga/tidak bekerjadengan prosentase 66,6%, sedangkan responden dengan jenis
pekerjaan paling sedikit adalah petani dan PNS.

21
Tabel 4.3
Distribusi Umur Responden
Umur Ibu N %
≤ 20 tahun 3 6,7 %
20-35 tahun 24 80 %
≥ 35 tahun 3 13,3 %
Total 30 100.0

Tabel 4.3menunjukkan distribusi umur ibu yang digunakan sebagai responden, dimana
ibu yang berumur ≤ 20 tahun sebanyak 3 orang (6,7%), ibu yang berumur ≥ 35 tahun
sebanyak 3 orang (13,3%) dan yang paling dominan pada responden adalah ibu yang berumur
20-35 tahun sebanyak 24 orang (80%).

Tabel 4.4
Pengetahuan Responden Ibu Tentang Imnunisasi Dasar Sebelum (pre-test) dan
Sesudah (Post-test) diberikan penyuluhan
No. Skor Kriteria Pre-test Post-test Prosentase Prosentase
Pre-test (%) Post-test (%)

1 75-100 Baik 7 26 23,3 86,7


2 40-74 Sedang 19 4 63,3 13,3
3 <40 Kurang 4 0 13,4 -
Total 30 30 100 100

Grafik 1. Menjelaskan adanya perubahan tingkat pengetahuan antara sebelum


(pretest) dan sesudah (posttest) diberikan penyuluhan pada responden. Perbedaan tingkat
pengetahuan ini disebabkan karena penyuluhan yang diberikan kepada responden sehingga
bisa membantu responden meningkatkan pengetahuannya tentang Imunisasi Dasar.
Berdasarkan hasil pre-test didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan responden
sebelum diberikan penyuluhan adalah sebanyak 7 orang (23,3 %) berada pada kategori baik,
19 orang (63,3%) pada kategori sedang dan sebanyak 4 orang (13,4%) berkategori kurang.
Sementara itu setelah dilakukukan pos-test didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan

22
responden setelah diberikan penyuluhan adalah baik sebanyak 26 orang (86,7%), sedang
sebanyak 4 orang (13,3%) dan tidak ada yang kurang. Bisa dikatakan bahwa tingkat
pengetahuan responden mengalami peningkatan menjadi lebih baik setelah di berikan
penyuluhan.

Hasil Tabulasi Silang Pengetahuan Responden Berdasarkan Karakteristik Responden


pada saat pre-test
Berdasarkan hasil tabulasi silang antara tingkat pengetahuan dengan karakteristik
responden menunjukkan bahwa kelompok umur 20-35 berkategori pengetahuan baik lebih
banyak dibanding kategori pendidikan lain. Kelompok umur 20-35 juga lebih banyak
mempunyai kategori pengetahuan sedangdibandingkan kelompok umur lain.
Untuk pendidikan responden, responden dengan pendidikan SMA/Sederajat secara
keseluruhan memiliki kategori pengetahuan baik dan sedang.

23
BAB V

PEMBAHASAN DAN DISKUSI

A. Pengetahuan Ibutentang Imunisasi Dasar Sebelum Diberikan Penyuluhan


Pengetahuan dibagi menjadi 2 yaitu pengetahuan yang didapat dari pengalaman dan
pengetahuan yang didapat dari keterangan. Pengetahuan yang didapat dari pengalaman
disebut pengetahuan pengalaman. Sedangkan pengetahuan yang didapat dengan jalan
keterangan disebut ilmu pengetahuan (Waridjan, 2000)
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terpenuhinya Imunisasi dasar lengkap
pada bayi usia 0-12 bulan adalah pengetahuan pada ibu bayi mengenai imunisasi dasar
lengkap itu sendiri. Seseorang yang mempunyai pengetahuan mengenai imunisasi dasar,
diharapkan akan memilliki perilaku pemenuhan imunisasi dasar yang baik dan lengkap. Salah
satu strategi untuk memperoleh perubahan perilaku menurut WHO yang dikutip oleh
Notoatmodjo (2003) adalah dengan pemberian informasi untuk meningkatkan pengetahuan
adalah dengan pemberian informasi sehingga menimbulkan kesadaran dan dapat dilakukan
adalah dengan penyuluhan.
Pada mini proyek ini, peneliti akan menguraikan data dan hasil penelitian tentang
peningkatan pengetahuan sehingga tercipta perubahan perilaku masyarakat terhadap
imunisasi. Penilaian terhadap perilaku tidak mudah dilakukan karena membutuhkan
penelitian yang sifatnya berkelanjutan. Perilaku merupakan bentuk suatu hal yang bukan
hanya dari pengetahuan saja, melainkan banyak hal seperti adat, kebiasaan, pola pikir,
pengalaman dan lain-lain. Sedangkan pengetahuan itu sendiri merupakan hal yang dapat
dipelajari dan dimodifikasi.
Hasil penelitian ini diperoleh dari data yang berupa kuesioner tentang tingkat
pengetahuan ibu. Peneliti menggunakan metode ini karena tingkat pengetahuan merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Tingkat pengetahuan tentang
imunisasipada ibu bayi di masyarakat merupakan salah satu tolak ukur untuk mengetahui
bagaimana ibu bayi menyadari pentingnya imunisasi pada anak, selain itu tingkat
pengetahuan juga dapat mengetahui respon dari suatu keluarga dalam memberikan imunisasi
pada anak.
Prosedur penelitian ini adalah ibu-ibu di posyandu yang memiliki bayiusia 0-12 bulan
dibagikan kuesioner untuk dijawab kemudian hasil jawaban di skoring untuk dikategorikan
ke dalam tingkat pengetahuan. Kuesioner yang digunakan merupakan kuesioner yang telah
diuji validitasnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kegiatan intervensi yang

24
dilakukan selama penelitian adalah penyuluhan/ceramah kepada ibu-ibu yang mempunyai
bayi berusia 0-12 bulan dan menyebar leaflet.
Karakteristik ibu yang mencakup umur, pendidikan, pekerjaan bisa mempengaruhi
proses perubahan perilaku. Umur responden rata-rata masih dalam kategori usia produktif
memungkinkan mereka masih mampu untuk menangkap informasi yang diberikan dan bisa
mengingatnya kembali. Begitu juga dengan karakteristik pekerjaan. Responden yang
mayoritas sebagai ibu rumah tangga sangat mendukung dalam menyediakan waktu untuk
mendengarkan penyuluhan, membaca leaflet, dan mencoba melakukan tindakan penyuluhan
yang dianjurkan.
Berdasarkan hasil tabulasi silang antara tingkat pengetahuan dengan karakteristik
responden menunjukkan bahwa semua kelompok umur berkategori pengetahuan baik dan
sedang lebih banyak dibanding kategori kurang.
Untuk pendidikan responden, responden dengan pendidikan SMA/Sederajat secara
keseluruhan memiliki kategori pengetahuan sedang. Sedangkan untuk kategori pengetahuan
kurang paling banyak terdapat pada kelompok responden dengan pendidikan SD/SMP.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa pendidikan formal seseorang
akan mempengaruhi tingkat pengetahuan gizi nya. Semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang maka semakin tinggi pula kemampuan seseorang untuk menyerap pengetahuan
praktis baik dalam pendidikan formal dan non formal (Berg, 1987).
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pengetahuan ibu bayi sebelum diberikan
penyuluhan Imunisasi dasar mayoritas sedang (63,3 %) dan dengan pengetahuan baik adalah
23,3% sedangkan sisanya yang berpengetahuan kurang sebesar (13,4%). Jika dilihat dari
tingginya persentase ibu-ibu bayi yang mempunyai tingkat pengetahuan tentang Imunisasi
Dasar cukup baik, hal ini mungkin disebabkan karena aktifnya responden dalam mengikuti
posyandu dan aktifnya kader dan tenaga kesehatan dalam promosi kesehatan.
Berdasarkan grafik 1 menjelaskan bahwa seluruh responden mengalami peningkatan
pengetahuan baik setelah diberikan penyuluhan. Peningkatan tersebut terutama dalam hal
informasi tentang masing-masing penyakit yang dapat dicegah dengan imuniasi dasar.
Sebelum diberikan penyuluhan, mayoritas responden yang menjawab pertanyaan tersebut
masih tidak tepat. Serta efek samping yang terjadi setelah imunisasi dilakukan, pada
umumnya ibu masih beranggapan bahwa hanya demam saja efek samping yang paling sering
terjadi setelah imunisasi.
Berbagai informasi mengenai imunisasi dasar, penjelasan setiap jenis penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi telah dijelaskan dalam penyuluhan, mulai dari informasi
25
definisi, tanda dan gejala, cara pemberian imunisasi dari ke-7 penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi (PD3I) yakni Hepatitis B, Tuberculosis, Polio, Dipteri, Pertusis, Tetanus
dan Campak. Juga informasi mengenai efek samping dari pemberian imunisasi yang meliputi
ruam kemerahan, demam, muncul borok, hingga sampai alergi terhadap vaksin setelah
dilakukannya imunisasi.

26
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Dari mini proyek yang telah dilakukandi Kelurahan Mojosari didapatkan kesimpulan
antara lain :
1. Ada pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengatahuan ibu dalam pelaksanaan
Imunisasi dasar di Kelurahan Mojosari.

B. SARAN
Saran yang dapat diberikan dalam proses mini proyek ini adalah :
1. Bagi Peneliti
Diharapkan untuk memperluas wawasan tentang imunisasi dasar agar penelitian
selanjutnya dapat lebih baik dan lebih bermanfaat serta dilakukan follow up secara
berkesinambungan.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dengan hasil penelitian ini, dapat memperkaya data mengenai program
imunisasi dasar untuk kemajuan program kesehatan selanjutnya.
3. Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan bagi petugas promosi kesehatan di Puskesmas agar memberikan penyuluhan
tentang Imunisasi dasar serta penyuluhan yang berkaitan lainnya kepada masyarakat
terutama dengan metode ceramah guna membantu meningkatkan pengetahuan
masyarakat serta membantu mewujudkan pencapaian desa UCI (Universal Child
Imunization).
4. Bagi Masyarakat
Diharapkan bagi masyarakat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam program-program
kesehatan sehingga dapat meningkatkan taraf hidup keluarga dan masyarakat sekitarnya,
serta khususnya bagi ibu yang memiliki bayi usia 0-12 bulan untuk lebih memperhatikan
status imunisasi anaknya agar dapat lengkap dan benar sesuai jadwal.

27
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. (2000). Pedoman SurveilansEpidemiologi Penyakit Menular.
Jakarta: Direktorat Epidemiologi dan Imunisasi
Jakarta: Direktorat Jendral PP  PL dan Pusdiklat SDM kesehatan Departemen Kesehatan RI
Lubis. (1998). Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Orangtua Tentang Imunisasi. Majalah
Kedokteran Nusantara, edisi kusus. Http://library.usu.ac.id/modules.php
Murti, B,. (2006). Desain dan Ukuran Sampel untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di
Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 136.

Notoadmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.
Notoatmodjo,S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Puskesmas Manguharjo. 2013 LB3 Gizi Manguharjo 2013. Madiun
Puskesmas Manguharjo. 2013. Profil Puskesmas Manguharjo. Madiun
Suharsono. (1996). Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu-ibu Keturunan Cina Yang
Mempunyai Bayi Baru Lahir Terhadap Imunisasi Bayi di Kecamatan Kelapa
Kampit, Kabupaten Belitung Propinsi sumatera Selatan.
Http://library.usu.ac.id/modules.php
Sunaryo. (2004). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
Supartini,Y. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta:EGC
Wahab, A.Samik dan Julia, M. (2002). Sistim Imun, Imunisasi dan Penyakit Imun. Jakarta:
Widya Medika.
WHO. 2001. The Optimal Duration of Exclusive Breastfeeding. Geneva: Department of
Nutrition for Health and Development (NHD)
Wiwan. (2007). Cakupan Imunisasi Bayi Dinas Kesehatan Sumatera Utara Tahun 2007.
Dibuka pada website http://www.kompas.com//ver1/kes/0711.

28
LAMPIRAN

KUESIONER

Perbedaan Tingkat Pengetahuan Imunisasi Dasar bagi Ibu Bayi Sebelum Dan Setelah
Penyuluhan Di Kelurahan Mojosari, wilayah kerja Puskesmas Kauman,

Nama :
Nomor :

Petunjuk pengisian
Pilihlah salah satu jawaban yang tersedia dengan memberi tanda huruf pada kotak di sebelah
jawaban yang anda pilih.

I. Karakteristik responden
1) Usia
a. < 20 tahun
b. 20 – 35 tahun
c. > 35 tahun
2) Pendidikan
a. Dasar (SD, SMP)
b. Menengah (SMA atau sederajat)
c. Tinggi (Diploma dan Sarjana)
3) Pekerjaan
a. Tidak Bekerja atau IRT (Ibu Rumah Tangga)
b. Petani atau Buruh
c. Wiraswasta / swasta
d. PNS
4) Berapakan jumlah anak ibu?

5) Pernahkan ibu mendapat penyuluhan tentang imunisasi sebelumnya?


a. Ya
b. Tidak

29
II. Pertanyaan Variabel Pengetahuan
1) Suatu cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada bayi agar terhindar dari
penyakit disebut…….
a. Screening
b. Imunisasi
c. Injeksi
d. Posyandu
2) Penyakit apa yang bisa dicegah dengan imunisasi…….
a. Pertusis
b. Diare
c. Demam Berdarah
d. Disentri
3) Penyakit apa yang dapat dicegah dengan imunisasi BCG…….
a. Campak
b. Tuberkulosis
c. Hepatitis B
d. Pertusis
4) Kapan imunisasi BCG diberikan…….
a. Saat bayi berumur 6 bulan
b. Saat bayi berumur pada bulan 2,3, dan 4
c. Saat bayi berumur dibawah 2 bulan
d. Saat bayi berumur 9 bulan
5) Berikut ini yang termasuk cara pemberian imunisasi adalah……
a. Diteteskan ke telinga
b. Disuntikkan ke paha
c. Diteteskan ke mata
d. Disuntikkan ke betis

30
6) Kapan seharusnya anak anda pertama kali diberikan imunisasi…….
a. Usia sekolah
b. Usia 1 Tahun
c. Sejak Lahir
d. Usia 2 Tahun
7) Kapan imunisasi pada anak anda harus ditunda…….
a. Anak sedang demam tinggi
b. Anak sedang rewel dan menangis
c. Anak masih mengkonsumsi ASI
d. Anak sedang batuk dan pilek
8) Bagaimana cara kerja imunisasi…….
a. Meningkatkan nafsu makan
b. Meningkatkan daya tahan tubuh
c. Menyembuhkan penyakit
d. Membunuh kuman penyakit
9) Apakah yang diberikan saat imunisasi…….
a. Vitamin daya tahan tubuh
b. Obat
c. Kuman yang dilemahkan
d. Antibiotik
10) Imunisasi apakah yang diberikan dengan cara diteteskan ke mulut…….
a. BCG
b. Polio
c. DPT
d. Hep. B
11). Berapa kali imunisasi Polio diberikan........
a. 1 kali
b. 2 kali
c. 3 kali
d. 4 kali

31
12). Kapan imunisasi Campak diberikan.......
a. Saat bayi berumur 2,3,dan 4 bulan
b. Saat bayi berumur 6 bulan
c. Saat bayi berumur 9 bulan
d. Saat bayi berumur 0,1,dan 2 bulan
13). Siapa saja yang mendapatkan imunisasi dasar........
a. Orang dewasa
b. Bayi umur 0 – 11 bulan
c. Anak umur lebih dari 1 tahun
d. Bayi yang lahir normal
14). Penyakit apa yang dapat dicegah dengan imunisasi DPT.......
a. Difteri, Batuk 100 hari (Batuk rejan), Tetanus
b. Hepatitis B
c. Campak
d. Polio
15). Berapa kali pemberian imunisai DPT........
a. 1 kali
b. 2 kali
c. 3 kali
d. 4 kali
16). Tujuan dari imunisasi adalah……….
a. Menambah vitamin tertentu pada seseorang
b. Memberikan penyakit tertentu pada seseorang
c. Mencegah penyakit tertentu pada seseorang
d. Menyembuhkan penyakit tertentu pada seseorang
17). Dimanakah ibu bisa mendapatkan imunisasi.......
a. Kantor Kelurahan
b. Posyandu
c. Dukun
d. UKS
18). Efek samping apa saja yang dapat timbul pada pemberian imunisasi.....
a. Ruam kemerahan
b. Borok

32
c. Demam
d. Semua benar
19).Untuk mengantisipasi agar bayi tidak demam setelah imunisasi sebaiknya
diberikan obat penurun panas setiba dirumah.......
a.Ya
b.Tidak
20). Apabila ada serial dari imunisasi yang terlambat apa yang harus dilakukan........
a. Tidak perlu dilakukan imunisasi lagi
b. Anak sudah memiliki daya tahan tubuh yang cukup
c. Tetap dilakukan imunisasi walaupun terlambat
d. Imunisasi diulang dari awal semula

33
34
35