Anda di halaman 1dari 21

REFRAT

DISENTRI AMOEBA DAN BASILER PADA ANAK


BLOK TROPICAL MEDICINE

Disusun Oleh :
KELOMPOK 6

Silma Ilmaniar G1A013061


Putri Shafirra Rakita G1A013062
Sisilia T J S Sare G1A013063
Nurrokhmah Kurniasih G1A013064
Elsy Emmily Gracia G1A013065
Ahmad Fauzi G1A013066
Herthyaning Prastyo G1A013067
Dyah Ratnasih K G1A013068
Sofyan Hardi G1A013069
Yuliar Yustisiawandan G1A013070
Husnan Mujiburrahman G1A013071

Pembimbing : dr. Nur Signa Aini Gumilas, M. Biomed

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
PURWOKERTO

2016
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Disentri merupakan salah satu jenis diare yang cukup berbahaya.
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari
biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam dengan frekuensi lebih dari 3
kali. Disentri ini ditandai dengan diare yang disertai darah, lendir dan rasa
nyeri saat mengeluarkan tinja. Penyebab disetri terbagi menjadi 2 yaitu
karena amoeba (disentri amoeba) dan bakteri (disentri basiller). Penyebab
paling umum yaitu Entamoeba histolitica dan bakteri Shigella (IDAI, 2013).
Insiden disentri amoeba di dunia bervariasi antara 3-10%, umumnya
terdapat di wilayah tropis dan sub-tropis dengan tingkat sosio-ekonomi
rendah dan hygiene-sanitasi yang buruk .Namun di daerah dengan iklim
dingin dan kondisi sanitasi yang buruk, tingginya angka kejadian penyakit
setara dengan di daerah tropis. Insiden tertinggi disentri amuba ditemukan
pada kelompok usia 10-25 tahun. Amebiasis jarang terjadi pada usia di
bawah 5 tahun dan terutama di bawah usia 2 tahun. Pada usia di bawah 5
tahun kasus disentri umumnya disebabkan oleh shigella (disentri basiler)
(Anorital dan Lelly, 2011).
Perilaku hidup tidak sehat merupakan penyebab utama terjadinya
kasus disentri. Kurangnya kesadaran berperilaku hidup sehat di Indonesia
yang masih rendah menyebabkan angka kejadian disentri masih cukup
tinggi. Selain itu, terdapat anggapan bahwa diare merupakan penyakit yang
biasa terjadi sehingga penderita diare tidak mendapatkan pengobatan yang
adekuat (Sembiring, 2014).
Disentri merupakan penyakit dengan prognosis dubia ad bonam. Hal
ini bergantung pada kondisi pasien saat datang, komplikasi dan penanganan
yang diberikan. Pasien disentri perlu dirujuk apabila kasus berat dan
memerlukan perawatan intensif (PMK No. 5 Tahun 2014)
B. Tujuan
1. Memenuhi tugas referat Blok Tropical Medicine 2016.
2. Memahami penyakit disentri amoeba dan disentri basiller.
3. Dapat membedakan disentri amoeba dan basiller.
C. Manfaat
1. Mahasiswa dapat lebih memahami tanda dan gejala penyakit disentri
2. Mahasiswa dapat membedakan disentri amoeba dan disentri basiler.
3. Mahasiswa dapat memberikan penanganan yang tepat sesuai dengan
penyebab penyakit.
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Disentri merupakan radang usus yang meluas dengan berbagai
macam gejala antara lain buang air besar dengan tinja berdarah, diare
bersifat encer yang memiliki volume sedikit, buang air besar dengan tinja
bercampur lender dan adanya nyeri saat buang air besar (tenesmus).
Penyakit ini ditandai dengan adanya sindroma disentri yang meliputi sakit
perut disertai tenesmus, seringnya buang air besar, dan tinja mengandung
darah dan lendir (Sya’roni, 2006).
B. Etiologi
Penyakit disentri dibedakan berdasarkan penyebabnya, yaitu
disentri basiler dan disentri amuba. Disentri basiler disebabkan oleh bakteri
Shigella sp. yang merupakan basil non motil, gram negatif, berasal dari
famili Enterobacteriaceae. Bakteri Shigella memiliki 4 spesies yaitu
S.dysentrieae, S.flexneri, S.bondii dan S.sonnei. Terdapat 43 serotype O dari
Shigella sp. Karena jumlah serotipe bermacam-macam sementara tubuh
hanya memiliki kemampuan mengenal satu serotipe, maka dari itu
seseorang dapat terjangkit disentri basiler berkali-kali. Sementara itu,
disentri amuba disebabkan oleh mikroorganisme Entamoeba hystolitica.
Mikroorganisme ini merupakan protozoa usus yang pada umumnya
merupakan mikroorganisme komensal (apatogen) di kolon (Sya’roni, 2006).
C. Tanda dan Gejala
1. Disentri Basiler
Masa tunas berkisar antara 7 jam sampai 7 hari. Lama gejala rerata
7 hari sampai 4 minggu. Pada fase awal pasien mengeluh nyeri perut
bawah, diare disertai demam yang mencapai 400C. Selanjutnya diare
berkurang tetapi tinja masih mengandung darah dan lendir, tenesmus,
dan nafsu makan menurun.
Bentuk klinis dapat bermacam-macam dari yang ringan, sedang
sampai yang berat. Sakit perut terutama di bagian sebelah kiri, terasa
melilit diikuti pengeluaran tinja sehingga mengakibatkan perut menjadi
cekung. Bentuk yang berat (fulminating cases) biasanya disebabkan
oleh S. dysentriae.
Gejalanya timbul mendadak dan berat, berjangkitnya cepat, berak-
berak seperti air dengan lendir dan darah, muntah-muntah, suhu badan
subnormal, cepat terjadi dehidrasi, renjatan septik dan dapat meninggal
bila tidak cepat ditolong. Akibatnya timbul rasa haus, kulit kering dan
dingin, turgor kulit berkurang karena dehidrasi. Muka menjadi
berwarna kebiruan, ekstremitas dingin dan viskositas darah meningkat
(hemokonsentrasi). Kadang-kadang gejalanya tidak khas, dapat berupa
seperti gejala kolera atau keracunan makanan.
2. Disentri Amoeba
Kematian biasanya terjadi karena gangguan sirkulasi perifer, anuria
dan koma uremik. Angka kematian bergantung pada keadaan dan
tindakan pengobatan. Angka ini bertambah pada keadaan malnutrisi
dan keadaan darurat misalnya kelaparan. Perkembangan penyakit ini
selanjutnya dapat membaik secara perlahan-lahan tetapi memerlukan
waktu penyembuhan yang lama. Pada kasus yang sedang keluhan dan
gejalanya bervariasi, tinja biasanya lebih berbentuk mungkin dapat
mengandung sedikit darah/lendir. Disentri Amuba
a. Carrier (Cyst Passer)
Pasien ini tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali. Hal ini
disebabkan karena amoeba yang berada dalam lumen usus besar
tidak mengadakan invasi ke dinding usus.
b. Disentri amoeba ringan
Timbulnya penyakit (onset penyakit) perlahan-lahan. Penderita
biasanya mengeluh perut kembung, kadang nyeri perut ringan yang
bersifat kejang. Dapat timbul diare ringan, 4-5 kali sehari, dengan
tinja berbau busuk. Kadang juga tinja bercampur darah dan lendir.
Terdapat sedikit nyeri tekan di daerah sigmoid, jarang nyeri di
daerah epigastrium. Keadaan tersebut bergantung pada lokasi
ulkusnya. Keadaan umum pasien biasanya baik, tanpa atau sedikit
demam ringan (subfebris). Kadang dijumpai hepatomegali yang
tidak atau sedikit nyeri tekan.
c. Disentri amoeba sedang
Keluhan pasien dan gejala klinis lebih berat dibanding disentri
ringan, tetapi pasien masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari.
Tinja biasanya disertai lendir dan darah. Pasien mengeluh perut
kram, demam dan lemah badan disertai hepatomegali yang nyeri
ringan.
d. Disentri amoeba berat
Keluhan dan gejala klinis lebih berat lagi. Penderita mengalami
diare disertai darah yang banyak, lebih dari 15 kali sehari. Demam
tinggi (400C-40,50C) disertai mual dan anemia
e. Disentri amoeba kronik
Gejalanya menyerupai disentri amoeba ringan, serangan-serangan
diare diselingi dengan periode normal atau tanpa gejala. Keadaan
ini dapat berjalan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Pasien
biasanya menunjukkan gejala neurastenia. Serangan diare yang
terjadi biasanya dikarenakan kelelahan, demam atau makanan yang
sulit dicerna.

Tabel 1.1 Perbedaan Disentri Amoeba dengan Basiler

MAKROSKOPIS DIARE DIARE BASILER


AMOEBIASIS
Epidemologi Kronik Akut
Endemic disease Epidemic disease
Periode inkubasi Lama Kurang 1 minggu
Onset Lambat Cepat
Umur Segala umur Umumnya anak-anak
Kelelahan Jarangwalking SeringLying down
dysentry dysentry
Fatality Rendah Dapat terjadi circulatory
failure
Jumlah defekasi 6-8 kali/hari Lebih dari 10 kali/hari
Jumlah feses Relatif sedikit Banyak
Bau Busuk Amis
Warna Merah gelap Merah segar
Konsistensi Lendir tak lekat pada Viscous dan mengumpul
kontainer pada dasar kontainer
Reaksi Asam Basa
MIKROSKOPIS DIARE DIARE
AMOEBIASIS BASILER
Red blood cell Menggumpal Terpisah
Makrofag Sedikit Banyak
Cell eosinophyl Banyak Jarang
Bacilli Banyak Sedikit
Charcot leyden Ada Tidak ada
krist
Parasit Amoeba Tidak ada
histolytica
D. Penegakkan Diagnosis
Dari anamnesis perlu dicurigai adanya keluhan nyeri abdomen
bawah diare, demam, mual dan muntah. Pada pemeriksaan fisik pasien diare
yang mengalami dehidrasi berat mata menjadi cekung, lidah kering, tulang
pipi menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Pemeriksaan
mikroskopik tinja menunjukkan adanya eritrosit dan leukosit PMN. Untuk
memastikan diagnosis dilakukan kultur dari bahan tinja segar atau hapus
rektal. Pada fase akut infeksi Shigella, tes serologi tidak bermanfaat. Pada
disentri subakut gejala klinisnya serupa dengan kolitis ulserosa. Perbedaan
utama adalah kultur Shigella yang positif dan perbaikan klinis yang
bermakna setelah pengobatan dengan antibiotik yang adekuat (Zein, 2004).
Untuk mendiagnosis pasien diare akut infeksi bakteri diperlukan
pemeriksaan yang sistematik dan cermat. Kepada pasien perlu ditanyakan
riwayat penyakit, latar belakang dan lingkungan pasien, riwayat pemakaian
obat terutama antibiotik, riwayat perjalanan, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang
Gambar 1.1. Pendekatan umum Diare infeksi Bakteri (Ciesla, 2003).

Pada disentri amoeba anamnesis dan pemeriksaan fisik hasil yang


didapatkan mirip pada disentri basiler. Penyakit klinis yang menyertai
disenteri amoeba bervariasi dari ketidaknyamanan perut ringan dengan
diare (+ /  darah, lendir) bergantian dengan periode sembelit atau remisi
untuk disentri amuba (demam, menggigil, berdarah / berlendir diare.
Diagnosis pasti baru dapat ditegakkan bila ditemukan amoeba (trofozoit)
pada tinja segar. Akan tetapi ditemukannya amoeba bukan berarti
menyingkirkan kemungkinan penyakit lain karena amebiasis dapat terjadi
bersamaan dengan penyakit lain. Oleh karena itu, apabila penderita
amebiasis yang telah menjalani pengobatan spesifik masih tetap mengeluh
nyeri perut, perlu dilakukan pemeriksaan lain, misalnya endoskopi, foto
kolon dengan barium enema atau biakan tinja.
2

Pemeriksaan tambahan untuk diagnosis disentri amoeba antara lain:

 Pemeriksaan sigmoidoskopi dan kolonoskopi


Pemeriksaan ini berguna untuk membantu diagnosis penderita
dengan gejala disentri, terutama apabila pada pemeriksaan tinja
tidak ditemukan amoeba. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak
berguna untuk carrier. Pada pemeriksaan ini akan didapatkan
ulkus yang khas dengan tepi menonjol, tertutup eksudat
kekuningan, mukosa usus antara ulkus-ulkus tampak normal.
 Foto rontgen kolon
Pemeriksaan rontgen kolon tidak banyak membantu karena
seringkali ulkus tidak tampak. Kadang pada kasus amoebiasis
kronis, foto rontgen kolon dengan barium enema tampak ulkus
disertai spasme otot. Pada ameboma nampak filling defect yang
mirip karsinoma.
 Pemeriksaan uji serologi
Uji serologi banyak digunakan sebagai uji bantu diagnosis abses
hati amebik dan epidemiologis. Uji serologis positif bila amoeba
menembus jaringan(invasif). Oleh karena itu uji ini akan positif
pada pasien abses hati dan disentri amoeba dan negatif pada
carrier. Hasil uji serologis positif belum tentu menderita
amebiasis aktif, tetapi bila negatif pasti bukan amebiasis.

E. Diagnosis Banding
1. Escherichia coli Enteroinvasive (EIEC)
Patogenesisnya seperti Shigelosis yaitu melekat dan menginvasi
epitel usus sehingga menyebabkan kematian sel dan respon radang cepat
(secara klinis dikenal sebagai kolitis). Serogroup ini menyebabkan lesi
seperti disentri basiller, ulserasi atau perdarahan dan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear dengan khas edem mukosa dan submukosa.
Manifestasi klinis berupa demam, toksisitas sistemik, nyeri kejang
abdomen, tenesmus, dan diare cair atau darah (Zein,2004)
2. Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC)
Manifestasi klinis dari EHEC dapat menyebabkan penyakit diare
sendiri atau dengan nyeri abdomen. Diare pada mulanya cair tapi
3

beberapa hari menjadi berdarah (kolitis hemoragik). Meskipun


gambarannya sama dengan Shigelosis yang membedakan adalah
terjadinya demam yang merupakan manifestasi yang tidak lazim.
Beberapa infeksi disertai dengan sindrom hemolitik uremik.

F. Patogenesis
Shigella sp dapat bertahan dalam lingkungan asam, sehingga dapat
melalui barrier asam lambung. Selanjutnya, bakteri tersebut memiliki
kemampuan menginvasi sel epitel intestinal yang kemudian menyebabkan
infeksi. Keadaan lingkungan yang buruk dapat menyebabkan peningkatan
penularan penyakit. Kolon merupakan tempat utama yang diserang oleh
Shigella sp, namun bakteri ini juga dapat menyerang ileum. S.dysentriae,
S.flexeneri dan S.sonei menghasilkan beberapa eksotoksin yang memiliki
sifat enterotoksin, sitotoksik dan neurotoksik (Sya’roni, 2006)..
Entamoeba histolytica yang merupakan mikroorganisme komensal
dapat menjadi pathogen dengan cara membentuk koloni di dinding usus,
dan menyebabkan ulserasi pada usus. Amuba memiliki 2 siklus hidup, yaitu
bentuk tropozoit dan bentuk kista. Bentuk tropozoit Entamoeba histolytica
memiliki macam tropozoit komensal yang tidak menyebabkan penyakit,
serta tropozoit pathogen yang menyebabkan gejala disentri. Bentuk kista
juga memiliki 2 macam, yaitu kista muda dan dewasa. Bentuk kista hanya
dijumpai pada lumen usus, dan dapat menularkan penyakit. Kista memiliki
kemampuan hidup di luar tubuh manusia, tahan terhadap asam lambung dan
klor standar pada air minum (Sya’roni, 2006).
G. Patofisiologi
1. Disentri Amoeba
Bentuk histolitika memasuki mukosa usus besar yang utuh dan
mengeluarkan enzim yang dapat menghancurkan jaringan. Enzim ini
yaitu cystein proteinase yang disebut histolisin. Lalu bentuk histolitika
masuk ke submukosa dengan menembus lapisan muskularis mukosae.
Di submukosa ini, bentuk histolitika akan membuat kerusakan yang
lebih besar daripada di mukosa usus. Akibatnya terjadi luka yang
4

disebut ulkus amoeba. Bila terdapat infeksi sekunder, maka terjadi


peradangan. Proses ini dapat meluas di submukosa bahkan sampai
sepanjang sumbu usus. Bentuk histolitika banyak ditemukan di dasar
dan dinding ulkus.
Dengan peristaltis usus, bentuk ini dikeluarkan bersama isi ulkus
rongga usus kemudian menyerang lagi mukosa usus yang sehat atau
dikeluarkan bersama tinja. Tinja ini disebut disentri, yaitu tinja yang
bercampur lendir dan darah. Tempat yang sering dihinggapi
(predileksi) adalah sekum, rektum, sigmoid. Seluruh kolon dan rektum
akan dihinggapi apabila infeksi sudah berat. Disentri amoeba
merupakan bentuk dari amoebiasis. Gejalanya yaitu buang air besar
berisi darah atau lendir, sakit perut, hilangnya selera makan, turun berat
badan, demam, dan rasa dingin.
Yang ada kalanya infeksi atau peradangan dapat menyebar sampai
ke bagian lain badan dan menyebabkan suatu bisul seperti amoba. Salah
satu dari organ/bagian badan yang paling sering terpengaruh adalah
hati. Ini dikenal sebagai hepatic amoebiasis (Gandahusada S, 2000).
Bentuk amoebiasis klinis yang biasa dikenal yaitu :
a. Amoebiasis Intestinalis
Sering dijumpai tanpa gejala atau adanya perasaan tidak enak
diperut yang samar-samar. Infeksi menahun dapat menimbulkan
kolon yang “irritable”. Amoebiasis yang akut mempunyai masa
tunas 1-14 minggu. Penyakit menahun yang melemahkan ini
mengakibatkan menurunnya berat badan.
b. Amoebiasis Ekstra- Intestinalis
Gejalanya tergantung pada lokasi absesnya. Yang paling sering
dijumpai adalah amoebiasis hati disebabkan metastasis dari mukosa
usus melalui aliran sistem portal. Gejala amoebiasis hati berupa
demam berulang, disertai menggigil, sering ada rasa sakit pada bahu
kanan. Abses ini dapat meluas ke paru-paru disertai batuk dan nyeri
tekan intercostals, dengan demam dan menggigil. Amoebiasis
ekstraintestinalis ini dapat juga dijumpai di penis, vulva, kulit, atau
5

tempat lain dengan tanda-tanda mudah berdarah (Gandahusada,


2000).
2. Disentri Basiler
Semua strain kuman Shigella sp menyebabkan disentri, yaitu suatu
keadaan yang ditandai dengan diare, dengan konsistensi tinja biasanya
lunak, disertai eksudat inflamasi yang mengandung leukosit
polymorfonuclear (PMN) dan darah. Setelah melewati lambung dan
usus halus, kuman ini menginvasi sel epitel mukosa kolon dan
berkembang biak didalamnya. Kolon merupakan tempat utama yang
diserang Shigella sp namun ileum terminalis dapat juga terserang.
Kelainan yang terberat biasanya di daerah sigmoid, sedang pada ilium
hanya hiperemik saja. Pada keadaan akut dan fatal ditemukan mukosa
usus hiperemik, lebam dan tebal, nekrosis superfisial, tapi biasanya
tanpa ulkus. Pada keadaan subakut terbentuk ulkus pada daerah folikel
limfoid, dan pada selaput lendir lipatan transversum didapatkan ulkus
yang dangkal dan kecil, tepi ulkus menebal dan infiltrat tetapi tidak
berbentuk ulkus bergaung (Sya’roni, 2006).
S.dysentriae, S.flexeneri, dan S.sonei menghasilkan eksotoksin
antara lain ShET1, ShET2, dan toksin Shiga, yang mempunyai sifat
enterotoksik, sitotoksik,dan neurotoksik. Enterotoksin tersebut
merupakan salah satu faktor virulen sehingga kuman lebih mampu
menginvasi sel eptitel mukosa kolon dan menyebabkan kelainan pada
selaput lendir yang mempunyai warna hijau yang khas. Pada infeksi
yang menahun akan terbentuk selaput yang tebalnya sampai 1,5cm
sehingga dinding usus menjadi kaku, tidak rata dan lumen usus
mengecil. Dapat terjadi perlekatan dengan peritoneum. (Oesman,
2006).

Proses patologik yang penting adalah invasi epitel selaput


lendir, mikroabses pada dinding usus besar dan ileum terminal yang
cenderung mengakibatkan nekrosis selaput lendir, ulserasi superfisial,
perdarahan, pembentukan “pseudomembran” pada daerah ulkus. Ini
terdiri dari fibrin, lekosit, sisa sel, selaput lendir yang nekrotik, dan
6

kuman. Waktu proses berkurang, jaringan granulasi mengisi ulkus dan


terbentuk jaringan parut. (Oesman, 2006).

Gambar 1.2. Patofisiologi disentri Amoeba dan Basiler (Adhi Pratama Dharma)

H. Komplikasi
1. Disentri amoeba
Komplikasi disentri amoeba dapat dibagi berdasarkan lokasinya, yaitu
(Soewondo, 2014):
a. Komplikasi intestinal
1) Perdarahan usus
2) Perforasi usus
3) Ameboma
4) Intususepsi
5) Penyempitan usus
7

b. Komplikasi ekstra intestinal


1) Amebiasis hati
2) Amebiasis pleuropulmonal
3) Abses otak, limpa, dan organ lain
4) Amebiasis kulit
5) Disentri basiler
2. Disentri Basiler
Komplikasi utama pada disentri basiler yaitu komplikasi pada usus
dan komplikasi metabolik. Berikut ini beberapa komplikasi yang
dapat terjadi yaitu (Nugroho et al, 2014):
a. Komplikasi usus
b. Megakolon toksik
c. Perforasi usus
d. Prolaps rektum
e. Komplikasi metabolik
f. Hipoglikemia
g. Hiponatremia
h. Dehidrasi
I. Tatalaksana
1. Umum
a. Cairan dan elektrolit
Penyebab utama kematian adalah dehidrasi, seperti pada kasus
diare akut secara umum, hal pertama yang harus diperhatikan
dalam penatalaksanaan disentri setelah keadaan stabil adalah
penilaian dan koreksi terhadap status hidrasi dan keseimbangan
elektrolit. Pemberian cairan dan elektrolit secara intravena
sangatlah penting sesuai seperti tatalaksana terhadap gastroenteritis
dengan dehidrasi. Untuk menentukan derajat dehidrasi
dipergunakan patokan: Memperhatikan keadaan umum penderita,
metode Dhaka, sistem angka Daldiyono (scoring system), atau
menetukan berat jenis plasma (Amin, 2015).
b. Diet
8

Anak dengan disentri harus diteruskan pemberian


makanannya. Diberikan makanan lunak sampai BAB kurang dari
5 kali/hari, kemudian diberikan makanan ringan biasa bila ada
kemajuan. Berikan diet lunak tinggi kalori dan protein untuk
mencegah malnutrisi. Dosis tunggal tinggi vitamin A (200.000
IU) dapat diberikan untuk menurunkan tingkat keparahan
disentri, terutama pada anak yang diduga mengalami defisiensi.
Untuk mempersingkat perjalanan penyakit, dapat diberikan
sinbiotik dan preparat zink oral. Dalam pemberian obat-obatan,
harus diperhatikan bahwa obat-obat yang memperlambat
motilitas usus sebaiknya tidak diberikan karena adanya risiko
untuk memperpanjang masa sakit (Gunawan, 2009).
2. Khusus
a. Disentri Amoeba
Pengobatan amubiasis dinyatakan berhasIl bila pada
pemeriksaan laboratorium berkala selama 6 bulan tidak
ditemukan lagi adanya amoeba bentuk histolityca dan kista.
Hilangnya gejala klinik belum merupakan jaminan pasien
sembuh dari penyakit amubiasis, untuk memperoleh
kesembuhan total perlu dicegah terjadinya infeksi ulang dan
ini dapat dilaksanakan dengan pemberian amubisid yang
bekerja di jaringan dan lumen usus disertai dengan
peningkatan hygiene perorangan dan kesehatan lingkungan.
Secara epidemiologi, pengobatan terhadap pembawa kista
juga penting, sebab individu ini dapat menjadi sumber
penularan bagi orang lain dan dirinya sendiri. Pembawa kista
ini merupakan indikasi bagi amubisid luminal, namun pada
penggunaan amubisid yang hanya bekerja di lumen usus, tidak
dapat mencegah terjadinya amubisid hati (Gunawan, 2009).
Antibiotika tambahan yang dapat diberikan berupa
kloramfenikol dengan dosis 50-100 mg/KgBB/hari peroral
dibagi 3 dosis. Tetrasiklin dengan dosis 30-50 mg/KgBB/hari
9

peroral dibagi 4 dosis. Neomisin dengan dosis 50-100


mg/KgBB/hari peroral dibagi 4 dosis. Fluorokuinolon
(siprofloksasin 2x500 mg peroral, norfloksasin 2x400 mg
peroral, levofloksasin 1x500 mg peroral) semua selama 3 hari
(Hasan dan Alatas, 2007; Sudoyo, 2009).

Tabel 1.2 Pilihan Pengobatan Amubiasis (Gunawan, 2009)

Jenis Infeksi Obat terpilih Obat pilihan kedua


1. Pembawa Kista Iodokuinol Paromomisin atau
(asimtomatis) diloksanid furoat
2. Infeks usus Metronidazol Amubisid luminal*
ringan sampai dilanjutkan dengan dilanjutkan dengan
sedang iodokuinol eritromisin atau tetrasiklin
3. Infeksi usus berat Metronidazol Amubisid luminal*
dilanjutkan dengan dilanjutkan dengan
iodokuinol tetrasiklin atau
dehidroemetin atau emetin
4. Abses jaringan Metronidazol Dehidroemetin atau emetin
(biasanya hati) dilanjutkan dengan dilanjutkan dengan
iodokuinol klorokuin atau amubisid
luminal*
*Amubisd luminal standar: iodokuinol, diloksanid furoat, dan paromomisin

Antibiotika tambahan yang dapat diberikan berupa


metronidazol dengan dosis dewasa: 3x750 mg/hari selama 5-
10 hari dan dosis anak: 35-50 mg/KgBB/hari terbagi dalam 3
dosis. Tinidazol dengan dosis dewasa: 2 g dalam dosis tunggal
selama 3 hari, diberikan sewaktu makan atau 3x800 mg/hari
selama 5 hari dan dosis anak: 60 mg/KgBB/hari dalam dosis
tunggal selama 3-5 hari. Paromomisin dengan dosis: 25-35
mg/KgBB/hari terbagi dalam 3 dosis, diberikan sewaktu
makan, selama 5-10 hari. Iodokuinol dengan dosis: 3x650 mg
selama 20 hari (Gunawan, 2009; Sudoyo, 2009).
10

b. Disentri Basiler
Kemoterapi dengan preparat sulfa dari golongan
sulfonamid misalnya sulfadiazin, gantrisin dengan dosis 100-
200 mg/KgBB/hari. Bila didapatkan kesulitan pemberian
peroral karena misalnya penderita muntah-muntah, dapat
dipertimbangkan pemberian kotrimoksazol intravena (Hasan
dan Alatas, 2007).
Kotrimoksazol tersedia dalam bentuk tablet oral,
mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim
atau 800 mg sulfametoksazol dan 160 mg trimetoprim. Untuk
pemberian intravena tersedia dalam bentuk infus yang
mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim
per 5 mL (Gunawan, 2009).
Dosis dewasa: 800 mg sulfametoksazol dan 160 mg
trimetoprim setiap 12 jam. Dosis anak: 40 mg/KgBB/hari
sulfametoksazol dan 8 mg/KgBB/hari trimetoprim yang
diberikan dalam 2 dosis. Pemberian pada anak di bawah usia
2 tahun dan pada ibu hamil atau menyusui tidak dianjurkan
(Gunawan, 2009).
J. Follow up
1. Perhatikan keadaan umum pasien
2. Koreksi dan maintenance cairan dan elektrolit, untuk mengatasi
dehidrasi.
3. Pemberian diet tinggi kalori dan protein untuk mencegah malnutrisi
4. Pemberian terapi yang tepat dan sesuai untuk mengurangi masa sakit
dan mencegah komplikasi.
K. Pencegahan
Disentri amoeba merupakan salah satu jenis penyakit yang disebabkan
oleh lingkungan sekitar yang kurang bersih dan sehat. Oleh karena itu,
lingkungan sekitar harus diperhatikan dan dijaga kebersihannya. Berikut
beberapa pencegahan untuk disentri amoeba:
11

1. Makanan, minuman, dan lingkungan yang bersih dan sehat merupakan


sarana pencegahan penyakit yang sangat penting.
2. Menggunakan air yang bersih untuk mencuci alat – alat dapur, dan air
minum sebaiknya dimasak terlebih dahulu.
3. Makan makanan yang bergizi, olah raga teratur, dan istirahat yang
cukup agar tubuh memiliki sistem imun yang kuat untuk menghindari
dari penyakit.
4. Mencuci tangan sebelum dan setelah makan, setelah buang air, dan
setelah memegang benda-benda yang kotor.
5. Hindari jajan sembarangan
6. Memelihara kebersihan baik didalam rumah maupun di lingkungan
sekitar
7. Kakus atau kamar mandi harus memenuhi syarat kesehatan , minimal
kamar mandi tersebut harus jauh dari sumber air minum.
L. Prognosis
Prognosis ditentukan dari berat ringannya penyakit, diagnosis dan
pengobatan dini yang tepat serta kepekaan amoeba terhadap obat yang
diberikan. Pada umumnya prognosis amebiasis adalah baik terutama pada
kasus tanpa komplikasi.
12

III. KESIMPULAN
1. Disentri merupakan diare yang disertai darah, lendir dan rasa nyeri saat
defekasi.
2. Disentri dibedakan berdasarkan penyebabnya, yaitu disentri basiler dan
disentri amuba.
3. Disentri basiler disebabkan oleh bakteri Shigella sp.
4. Disentri amuba disebabkan oleh mikroorganisme Entamoeba
hystolitica.
5. Manifestasi klinis pada disentri basiler disebabkan oleh kemampuan
bakteri menginvasi sel epitel dan memproduksi enterotoksin, sitotoksik
dan neurotoksik.
6. Entamoeba histolytica yang merupakan mikroorganisme komensal
dapat menjadi pathogen dengan cara membentuk koloni di dinding
usus, dan menyebabkan ulserasi pada usus.
7. Penatalaksanaan disentri secara umum adalah dengan menjaga asupan
cairan, elektrolit dan nutrisi.
8. Penatalaksanaan disentri secara khusus adalah dengan farmakoterapi
menggunakan berbagai antibiotika sesuai penyebab penyakit.
13

DAFTAR PUSTAKA

Amin, LZ. 2015. Tatalaksana Diare Akut. Continuing Medical Education, 42(7): 504-
508.

Anorital dan Lilly Andayasari. 2011. Kajian Epidemiologi Penyakit Infeksi Saluran
Pencernaan yang Disebabkan oleh Amuba di Indonesia. Vol. 21 No. 1. Media
Litbang Kesehatan

Ciesla WP, Guerrant RL. Infectious Diarrhea. In: Wilson WR, Drew WL, Henry NK, et
al editors. 2003. Current Diagnosis and Treatment in Infectious Disease. New
York: Lange Medical Books. Page 225 - 68.

Dhawan, Vinod K. Amebiasis. Tersedia di: emedicine.medscape.com/article/212029-


overview (diakses 1 September 2016).

Dharma, Adhi Pratama, Saku Diare edisi 1Bagian SMF/IKA FK-UP/RSHS

Gandahusada, S., Ilahude, H.D. dan Pribadi, W., 2000. Parasitologi


Kedokteran. Jakarta: FKUI.

Gunawan, SG. 2009. Farmakologi dan Terapi Ed.5. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Hassan, R. dan Alatas H. 2007. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Bagian
Ilmu Kesehatan Anak FKUI.

IDAI. 2013. Disentri. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/disentri.


Diakses pada 09 September 2016

Kroser, Joyann A. Shigellosis. Tersedia di: emedicine.medscape.com/article/182767-


overview (diakses 1 September 2016)

Nugroho, R.H.A., Harakati Wangi, dan Soebagjo Loehoeri. 2014. Disentri Basiler
dalam Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Jakarta: Interna Publishing

Oesman, Nizam. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi III. Jakarta : Fakultas
Kedokteran UI.

PMK No. 5 Tahun 2014. Panduan Praktik Klinis Dokter di Fasilitas Layanan Kesehatan
Primer
14

Sembiring, Sabariah. 2014. Pengaruh Karakteristik, Sanitasi Dasar dan Upaya


Pencegahan Terhadap Kejadian Diare pada Balita (1 - < 5 Tahun) Di Kelurahan
Sei Sekambing C II Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia Kota Medan Tahun 2014.
USU : Tesis

Soewondo, Eddy Soewandojo. 2014. Amebiasis dalam Ilmu Penyakit Dalam Jilid I
Edisi VI. Jakarta: Interna Publishing

Sudoyo, AW., Setiyohadi B., Alwi I., Simadibrata M., dan Setiati S. 2009. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi V. Jakarta: Interna Publishing.

Sya’roni A., Hoesadha Y., 2006. Disentri Basiler dalam Buku Ajar Penyakit
Dalam. Jakarta : FKUI

Zein, U., Sagala, K. H., & Ginting, J. 2004. Diare akut disebabkan bakteri.Sumatra
Utara. Universitas Sumatra Utara..(Diakses 9 september 2016: repository. usu.
ac. id/bitstream/123456789/.../penydalam-umar5. pdf).