Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Beragam aliran teologi yang tumbuh subur memiliki historisasi yang cukup
panjang, semuanya tidak terlepas dari para pendirinya dan latar belakang yang
menyertai sampai pada para pengikutnya yang memilki loyalitas terhadap aliran
tersebut.

Makalah ini akan membahas tentang aliran Asy’ariyah yang berkembang pada
abad ke-4 dan ke-5/ke-10 dan ke-11. Aliran ini merupakan salah satu aliran yang
muncul atas reaksi terhadap Muktazilah sebagai paham yang memprioritaskan akal
sebagai landasan dalam beragama. Ketidaksepakatan terhadap doktrin-doktrin
Mu’tazilah tersebut memunculkan aliran Asy’ariyah yang dipelopori oleh Abu Al-
Hasan Al-Asy’ari. Doktrin-doktrin yang dikemukan beliau dan para pengikutnya
merupakan penengah diantara aliran-aliran yang ada pada saat itu.

Pada perkembangan selanjutnya aliran ini banyak dianut oleh mayoritas umat
Islam karena dianggap sebagai aliran Sunni yang mampu mewakili cara berpikir yang
diharapkan umat Islam di tengah-tengah pergolakan hati akibat beberapa aliran yang
datang lebih dulu.

1.2. Rumusa Masalah

1. Bagaimana sejarah berdiri dan perkembangan asy’ariyah?


2. Apa istilah asy’ariyah dan ahlu sunnah wal jamaah itu?
3. Apa saja pandangan-pandangan asy’ariyah?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui sejarah berdiri dan berkembangnya asy’ariyah
2. Mengetahui istilah asy’ariyah dan ahlu sunnah wal jamaah
3. Mengetahui apa saja pandangan-pandangan asy’ariyah.

1
BAB II
PEMBAHASAN

Rasulullah SAW bersabda:


ً‫س ْب ِعينَ فِ ْرقَة‬
َ ‫علَى ِإحْ دَى أَ ْو ثِ ْنتَي ِْن َو‬ ِ َ‫ ا ْفتَ َرق‬: ‫سو ُل هللاِ صلى هللا عليه وسلم‬
َ ‫ت ا ْليَ ُهو ُد‬ ُ ‫ قَا َل َر‬: ‫ قَا َل‬، َ‫ع َْن أ َ ِبي ه َُري َْرة‬
.‫س ْب ِعينَ ِف ْر َق ًة‬
َ ‫ث َو‬ َ ‫ق أ ُ َّم ِتي‬
ٍ َ‫علَى ثَال‬ ُ ‫ َوتَ ْفت َ ِر‬، ‫س ْب ِعينَ ِف ْر َق ًة‬
َ ‫ع َلى ِإحْ دَى أ َ ْو ِث ْنتَي ِْن َو‬
َ ‫َارى‬ َ ‫ت النَّص‬ ِ ‫ َوتَفَ َّر َق‬،
Artiya: Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Kaum Yahudi
telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72)
golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh
puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73)
golongan. ( H.R. al-Bukhari dan Muslim)
Jumlah perpecahan 73 golongan itu bukanlah menurut makna hakekatnya.
Tetapi yang dimaksud ialah betapa banyak perpecahahan itu. Ada diantara ulama
yang menganalisa perpecahan itu untuk menyesuaikan dengan bunyi hadits.
Diantara 73 golongan itu sebagai berikut:

1) 20 golongan dari madzhab Syi’ah

2) 20 golongan dari madzhab Khawarij

3) 20 golongan dari madzhab Mu’tzilah

4) 7 golongan dari madzhab Murji’ah

5) 1 golongan dari madzhab Bakriyah

6) 1 golongan dari madzhab An-Najiyyah

7) 1 golongan dari madzhab Adh-Dhirariyah

8) 1 golongan dari madzhab Jahamiyah

9) 1 golongan dari madzhab Karamiyah

Jumlah semua 72 golongan. Inilah yang dimaksud hadits tersebut diatas, dengan
semuanya ini akan masuk neraka kecuali satu yang akan selamat dari neraka yaitu

2
Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Selanjutnya Istilah Ahl Al- Sunnah wal Al- Jama’ah
secara resmi dan baku dipakai sebagai golongan umat islam yang mencakup empat
Imam madzhab, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Ibnu
Hanbal. Kami akan membahas satu dari 73 golongan tersebut, yaitu aliran
Asy’ariyah.

2.1. SEJARAH BERDIRI DAN PERKEMBANGAN ASY’ARIYAH


1. Pendiri
Asy`ariyah adalah sebuah paham akidah yang dinisbatkan kepada Abu Hasan
Al-Asy`ari. Nama lengkapnya ialah Abu Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Basyar Ishaq
bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi
Musa Al-Asy’ari, seorang sahabat Rasulullah saw. Kelompok Asy’ariyah
menisbahkan pada namanya sehingga dengan demikian ia menjadi pendiri madzhab
Asy’ariyah.
Al-Asy’ari yang semula berpaham Muktazilah akhirnya berpindah menjadi
Ahli Sunnah. Sebab yang ditunjukkan oleh sebagian sumber lama bahwa Abu Hasan
telah mengalami kemelut jiwa dan akal yang berakhir dengan keputusan untuk keluar
dari Muktazilah. Sumber lain menyebutkan bahwa sebabnya ialah perdebatan antara
dirinya dengan Al-Jubba’i seputar masalah ash-shalah dan ashlah (kemaslahatan).
Al-Jubba’I:Allah akan menjawab a: “Aku tahu bahwa jika engkau terus hidup engkau
akan berbuat dosa dan oleh karena itu akan kena hukum. Maka untuk kepentinganmu
Aku cabut nyawamu sebelum engkau sampai kepada umur tanggung jawab,
Al-Asy’ari :Sekiranya yang kafir mengatakan: “Engkau ketahui masa
depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya. Apa sebabnya Engkau tidak
jaga kepentinganku?
Di sini Al-Jubba’I terpaksa diam. Jelas, kelihatannya al-Asy’ari sedang dalam
keadaan ragu-ragu dan tidak merasa puas lagi dengan aliran Mu’tazilah yang
dianutnya selama ini. Kesimpulan ini diperkuat oleh riwayat yang mengatakan bahwa
al-Asy’ari mengasingkan diri di rumah selama lima belas hari untuk memikirkan

3
ajaran-ajaran Mu’tazilah. Sesudah itu ia keluar rumah, pergi ke masjid, naik mimbar
dan menyatakan bahwa dirinya keluar dari Mu’tazilah.
Di sini Al-Jubba’I terpaksa diam. Jelas, kelihatannya al-Asy’ari sedang dalam
keadaan ragu-ragu dan tidak merasa puas lagi dengan aliran Mu’tazilah yang
dianutnya selama ini. Kesimpulan ini diperkuat oleh riwayat yang mengatakan bahwa
al-Asy’ari mengasingkan diri di rumah selama lima belas hari untuk memikirkan
ajaran-ajaran Mu’tazilah. Sesudah itu ia keluar rumah, pergi ke masjid, naik mimbar
dan menyatakan bahwa dirinya keluar dari Mu’tazilah.Hal itu terjadi pada tahun 300
H.
Adapun sebab terpenting Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah adalah karena
adanya perpecahan yang dialami kaum muslimin yang bisa menghancurkan mereka
sendiri, kalau seandainya tidak diakhiri. Dia mendambagakan kesatuan umat, dia
sangat khawatir kalau al-Qur’an dan Hadits menjadi korban dari paham-paham
Mu’tazilah yang dianggapnya semakin menyimpang dan menyesatkan masyarakat
karena Mu’tazilah lebih mementingkan akal fikiran.
2. Pemikiran Al-Asy'ari dalam Masalah Akidah
Ada tiga periode dalam hidupnya yang berbeda dan merupakan perkembangan
ijtihadnya dalam masalah akidah.
a. Periode Pertama
Beliau hidup di bawah pengaruh Al-Jubbai, syaikh aliran Muktazilah. Bahkan
sampai menjadi orang kepercayaannya. Periode ini berlangsung kira-kira selama 40-
an tahun. Periode ini membuatnya sangat mengerti seluk-beluk akidah Muktazilah,
hingga sampai pada titik kelemahannya dan kelebihannya.
b. Periode Kedua
Beliau berbalik pikiran yang berseberangan paham dengan paham-paham
Muktazilah yang selama ini telah mewarnai pemikirannya. Hal ini terjadi setelah
beliau merenung dan mengkaji ulang semua pemikiran Muktazilah selama 15 hari.
Selama hari-hari itu, beliau juga beristikharah kepada Allah untuk mengevaluasi dan
mengkritik balik pemikiran akidah muktazilah.

4
Di antara pemikirannya pada periode ini adalah beliau menetapkan 7 sifat
untuk Allah lewat logika akal, yaitu:
•Al-Hayah (hidup)
•Al-Ilmu (ilmu)
•Al-Iradah (berkehendak)
•Al-Qudrah (berketetapan)
•As-Sama' (mendengar)
•Al-Bashar (melihat)
•Al-Kalam (berbicara)
c. Periode Ketiga
Pada periode ini beliau tidak hanya menetapkan 7 sifat Allah, tetapi semua
sifat Allah yang bersumber dari nash-nash yang shahih. Kesemuanya diterima dan
ditetapkan, tanpa takyif, ta'thil, tabdil, tamtsil dan tahrif.
Beliau para periode ini menerima bahwa Allah itu benar-benar punya wajah,
tangan, kaki, betis dan seterusnya. Beliau tidak melakukan:
•takyif: menanyakan bagaimana rupa wajah, tangan dan kaki Allah
•ta'thil: menolak bahwa Allah punya wajah, tangan dan kaki
•tamtsil: menyerupakan wajah, tangan dan kaki Allah dengan sesuatu
•tahrif: menyimpangkan makna wajah, tangan dan kaki Allah dengan
maknalainnya.
3. Sejarah Berdirinya Asy’ariyah
Pada masa berkembangnya ilmu kalam, kebutuhan untuk menjawab tantangan
akidah dengan menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena pada waktu itu
sedang terjadi penerjemahan besar-besaran pemikiran filsafat Barat yang materialis
dan rasionalis ke dunia Islam. Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat
untuk bisa menjawab argumen-argumen yang bisa dicerna akal.
4. Penyebaran Akidah Asy-'ariyah
Akidah ini menyebar luas pada zaman wazir Nizhamul Muluk pada dinasti
bani Saljuq dan seolah menjadi akidah resmi negara. Paham Asy’ariyah semakin

5
berkembang lagi pada masa keemasan madrasah An-Nidzamiyah, baik yang ada di
Baghdad maupun di kota Naisabur. Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah
universitas terbesar di dunia. Didukung oleh para petinggi negeri itu seperti Al-Mahdi
bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud Zanki serta sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

2.2. ISTILAH ASY’ARIYAH DAN AHLU SUNNAH WAL JAMAAH


As-Sunnah dalam istilah mempunyai beberapa makna. As-Sunnah menurut
para Imam yaitu thariqah (jalan hidup) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di mana
beliau dan para shahabat berada di atasnya. Mereka adalah orang yang selamat dari
syubhat dan syahwat, sebagaimana yang tersirat dalam ucapan Al-Fudhail bin Iyadh,
"Ahlus Sunnah itu orang yang mengetahui apa yang masuk ke dalam perutnya dari
(makanan) yang halal.” Karena tanpa memakan yang haram termasuk salah satu
perkara sunnah yang besar yang pernah dilakukan oleh Nabi dan para shahabat
radhiyallahu'anhum.
Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam dan sunnah shahabatnya radhiyallahu 'anhum. Al-Imam Ibnul Jauzi
menyatakan tidak diragukan bahwa Ahli Naqli dan Atsar pengikut atsar Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam dan atsar para shahabatnya, mereka itu Ahlus Sunnah.
Kata "Ahlus-Sunnah" mempunyai dua makna. Pertama, mengikuti sunah-
sunah dan atsar-atsar yang datangnya dari Rasulullah shallallu 'alaihi wa sallam dan
para shahabat radhiyallahu 'anhum, menekuninya, memisahkan yang shahih dari yang
cacat dan melaksanakan apa yang diwajibkan dari perkataan dan perbuatan dalam
masalah aqidah dan ahkam.
Ibnu Sirin rahimahullah menyatakan bahwa mereka pada mulanya tidak
pernah menanyakan tentang sanad. Ketika terjadi fitnah (para ulama) mengatakan:
Tunjukkan (nama-nama) perawimu kepada kami. Kemudian ia melihat kepada Ahlus
Sunnah sehingga hadits mereka diambil. Dan melihat kepada Ahlul Bi'dah dan hadits
mereka tidak di ambil.

6
Al-Imam Malik rahimahullah pernah ditanya, "Siapakah Ahlus Sunnah itu? Ia
menjawab, “Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqab (julukan) yang
sudah terkenal yakni bukan Jahmi, Qadari, dan bukan pula Rafidli.”
Kemudian ketika Jahmiyah mempunyai kekuasaan dan negara, mereka
menjadi sumber bencana bagi manusia, mereka mengajak untuk masuk ke aliran
Jahmiyah dengan anjuran dan paksaan. Mereka menggangu, menyiksa dan bahkan
membunuh orang yang tidak sependapat dengan mereka. Kemudian Allah Subhanahu
wa Ta'ala menciptakan Al-Imam Ahmad bin Hanbal untuk membela Ahlus Sunnah.
Di mana beliau bersabar atas ujian dan bencana yang ditimpakan mereka.
Beliau membantah dan patahkan hujjah-hujjah mereka, kemudian beliau
umumkan serta munculkan As-Sunnah dan beliau menghadang di hadapan Ahlul
Bid'ah dan Ahlul Kalam. Sehingga, beliau diberi gelar Imam Ahlus Sunnah.
Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa istilah Ahlus Sunnah
terkenal di kalangan Ulama Mutaqaddimin (terdahulu) dengan istilah yang
berlawanan dengan istilah Ahlul Ahwa' wal Bida' dari kelompok Rafidlah, Jahmiyah,
Khawarij, Murji'ah dan lain-lain. Sedangkan Ahlus Sunnah tetap berpegang pada
ushul (pokok) yang pernah diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
shahabat radhiyallahu 'anhum.
Dengan demikian, ahlus sunnah wal jamaah adalah istilah yang digunakan
untuk menamakan pengikut madzhab As-Salafus Shalih dalam i'tiqad. Banyak hadits
yang memerintahkan untuk berjamaah dan melarang berfirqah-firqah dan keluar dari
jamaah. Namun, para ulama berselisih tentang perintah berjamaah ini dalam beberapa
pendapat:
1. Jamaah itu adalah As-Sawadul A'dzam (sekelompok manusia atau kelompok
terbesar)dari pemeluk Islam.
2. Para Imam Mujtahid
3. Para Shahabat Nabi radhiyallahu 'anhum.
4. Jamaahnya kaum muslimin jika bersepakat atas sesuatu perkara.
5. Jamaah kaum muslimin jika mengangkat seorang amir.

7
Pendapat-pendapatn di atas kembali kepada dua makna. Pertama,
bahwa jamaah adalah mereka yang bersepakat mengangkat seseorang amir
(pemimpin) menurut tuntunan syara', maka wajib melazimi jamaah ini dan haram
menentang jamaah ini dan amirnya.
Kedua, bahwa jamaah yang Ahlus Sunnah melakukan i'tiba' dan
meninggalkan ibtida' (bid'ah) adalah madzhab yang haq yang wajib diikuti dan
dijalani menurut manhajnya. Ini adalah makna penafsiran jamaah dengan Shahabat
Ahlul Ilmi wal Hadits, Ijma' atau As-Sawadul A'dzam.
Syaikhul Islam mengatakan, "Mereka (para ulama) menamakan Ahlul Jamaah
karena jamaah itu adalah ijtima' (berkumpul) dan lawannya firqah. Meskipun lafadz
jamaah telah menjadi satu nama untuk orang-orang yang berkelompok. Sedangkan
ijma' merupakan pokok ketiga yang menjadi sandaran ilmu dan dien. Dan mereka
(para ulama) mengukur semua perkataan dan pebuatan manusia zhahir maupun bathin
yang ada hubungannya dengan din dengan ketiga pokok ini (Al-Qur'an, Sunnah dan
Ijma').
Istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah mempunyai istilah yang sama dengan Ahlus
Sunnah. Dan secara umum para ulama menggunakan istilah ini sebagai pembanding
Ahlul Ahwa' wal Bida'. Contohnya : Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum mengatakan
tentang tafsir firman Allah Ta'ala, ”Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih
berseri dan adapula muka yang muram.” [Ali Imran: 105].
"Adapun orang-orang yang mukanya putih berseri adalah Ahlus Sunnah wal
Jamaah sedangkan orang-orang yang mukanya hitam muram adalah Ahlul Ahwa' wa
Dhalalah.”
Sufyan Ats-Tsauri menyatakan bahwa jika sampai (khabar) kepadamu tentang
seseorang di arah timur ada pendukung sunnah dan yang lainnya di arah barat maka
kirimkanlah salam kepadanya dan doakanlah mereka. Alangkah sedikitnya Ahlus
Sunnah wal Jamaah.
Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah firqah
yang berada di antara firqah-firqah yang ada, seperti juga kaum muslimin berada di

8
tengah-tengah milah-milah lain. Penisbatan kepadanya, penamaan dengannya dan
penggunaan nama ini menunjukkan atas luasnya i'tiqad dan manhaj.
Nama Ahlus Sunnah merupakan perkara yang baik dan boleh serta telah
digunakan oleh para ulama salaf. Di antara yang paling banyak menggunakan istilah
ini ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Istilah ahlu sunnah dan jamaah ini timbul sebagai reaksi terhadap paham-
paham gilongan Muktazilah, yang telah dikembangkan dari tahun 100 H atau 718 M.
Dengan perlahan-lahan paham Muktazilah tersebut memberi pengaruh kuat dalam
masyarakat Islam. Pengaruh ini mencapai puncaknya pada zaman khalifah-khalifah
Bani Abbas, yaitu Al-Makmun, Al-Muktasim, dan Al-Wasiq (813 M-847 M). Pada
masa Al-Makmun, yakni tahun 827 M bahkan aliran Muktazilah diakui sebagai
mazhab resmi yang dianut negara.
Ajaran yang ditonjolkan ialah paham bahwa Al-Qur’an tidak bersifat qadim,
tetapi baru dan diciptakan. Menurut mereka yang qadim hanyalah Allah. Kalau ada
lebih dari satu zat yang qadim, berarti kita telah menyekutukan Allah. Menurut
mereka Al-Qur’an adalah makhluk yang diciptakan Allah. Sebagai konsekuensi sikap
khalifah terhadap mazhab ini, semua calon pegawai dan hakim harus menjalani tes
keserasian dan kesetiaan pada ajaran mazhab.
Mazhab ahlu sunnah wal jaamaah muncul atas keberanian dan usaha Abul
Hasan Al-Asy’ari. Ajaran teologi barunya kemudian dikenal dengan nama Sunah wal
Jamaah. Untuk selanjutnya Ahli Sunah wal jamaah selalu dikaitkan pada kelompok
pahan teologi Asy’ariyah ataupun Maturidiyah.
Asy'ariyah banyak menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah ini.
Kebanyakan di kalangan mereka mengatakan bahwa madzhab salaf "Ahlus Sunnah
wa Jamaah" adalah apa yang dikatakan oleh Abul Hasan Al-Asy'ari dan Abu
Manshur Al-Maturidi. Sebagian dari mereka mengatakan Ahlus Sunnah wal Jamaah
itu Asy'ariyah, Maturidiyah,dan Madzhab Salaf.
Sebenarnya, antara Asy’ariyah dan Maturidiyah sendiri memiliki beberapa
perbedaan, di antaranya ialah dalam hal-hal sebagai berikut:

9
1. Tentang sifat Tuhan
Pemikiran Asy`ariyah dan Maturidiyah memiliki pemahaman yang relatif
sama. Bahwa Tuhan itu memiliki sifat-sifat tertentu. Tuhan Mengetahui dengan sifat
Ilmu-Nya, bukan dengan zat-Nya. Begitu juga Tuhan itu berkuasa dengan sifat
Qudrah-Nya, bukan dengan zat-Nya.
2. Tentang Perbuatan Manusia
Pandangan Asy`ariyah berbeda dengan pandangan Maturidiyah. Menurut
Maturidiyah, perbuatan manusia itu semata-mata diwujudkan oleh manusia itu
sendiri. Dalam masalah ini, Maturidiyah lebih dekat dengan Mu`tazilah yang secara
tegas mengatakan bahwa semua yang dikerjakan manusia itu semata-mata
diwujdukan oleh manusia itu sendiri.
3. Tentang Al-Quran
Pandangan Asy`ariyah sama dengan pandangan Maturidiyah. Keduanya
sama-sama mengatakan bahwa Al-quran itu adalah Kalam Allah Yang Qadim.
Mereka berselisih paham dengan Mu`tazilah yang berpendapat bahwa Al-Quran itu
makhluq.
4. Tentang Kewajiban Tuhan
Pandangan Asy`ariyah berbeda dengan pandangan Maturidiyah. Maturidiyah
berpendapat bahwa Tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu. Pendapat
Maturidiyah ini sejalan dengan pendapat Mu`tazilah.
5. Tentang Pelaku Dosa Besar
Pandangan Asy`ariyah dan pandangan Maturidiyah sama-sama mengatakan
bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar tidak menjadi kafir dan tidak
gugur ke-Islamannya. Sedangkan Mu`tazilah mengatakan bahwa orang itu berada
pada tempat diantara dua tempat “Manzilatun baina manzilatain”.
6. Tentang Janji Tuhan
Keduanya sepakat bahwa Tuhan akan melaksanakan janji-Nya. Seperti
memberikan pahala kepada yang berbuat baik dan memberi siksa kepada yang
berbuat jahat.

10
7. Tetang Rupa Tuhan
Keduanya sama-sama sependapat bahwa ayat-ayat Al-Quran yang
mengandung informasi tentang bentuk-bentuk pisik jasmani Tuhan harus ditakwil
dan diberi arti majaz dan tidak diartikan secara harfiyah.
Az-Zubaidi menyatakan bahwa jika dikatakan Ahlus Sunnah, maka yang
dimaksud dengan mereka itu adalah Asy'ariyah dan Maturidiyah.
Penulis Ar-Raudhatul Bahiyyah mengemukakan bahwa pokok semua aqaid Ahlus
Sunnah wal Jamaah atas dasar ucapan dua kutub, yakni Abul Hasan Al-Asy'ari dan
Imam Abu Manshur Al-Maturidi.
Al-Ayji menuturkan bahwa Al-Firqatun Najiyah yang terpilih adalah orang-
orang yang Rasulullah berkata tentang mereka, "Mereka itu adalah orang-orang yang
berada di atas apa yang aku dan para shahabatku berada diatasnya." Mereka itu
adalah Asy'ariyah dan Salaf dari kalangan Ahli Hadits dan Ahlus Sunnah wal
Jamaah.
Hasan Ayyub menuturkan bahwa ahlus sunnah adalah Abu Hasan Al-Asy'ari dan
Abu Mansyur Al-Maturidi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka berdua.
Mereka berjalan di atas petunjuk Salafus Shalih dalam memahami aqaid.
Uraian di atas menjelaskan bahwa Asy’ariyah adalah ahlus sunnah wal
jamaah itu sendiri. Pengakuan tersebut disanggah oleh Ibrahim Said dalam majalah
Al-Bayan bahwa:

1. Bahwa pemakaian istilah ini oleh pengikut Asy'ariyah dan Maturidiyah dan
orang-orang yang terpengaruh oleh mereka sedikit pun tidak dapat merubah
hakikat kebid'ahan dan kesesatan mereka dari Manhaj Salafus Shalih dalam
banyak sebab.

2. Bahwa penggunaan mereka terhadap istilah ini tidak menghalangi kita untuk
menggunakan dan menamakan diri dengan istilah ini menurut syar'i dan yang
digunakan oleh para ulama Salaf. Tidak ada aib dan cercaan bagi yang

11
menggunakan istilah ini. Sedangkan yang diaibkan adalah jika bertentangan
dengan i'tiqad dan madzhab Salafus Shalih dalam pokok (ushul) apa pun.

Sayangnya, Ibrahim Said dalam makalahnya tidak menjelaskan kebatilan


paham Asy’ariyah yang didakwakannya. Dalam buku Nasy’atul Asy’ariyyah
wa Tathawwuruha, disebutkan bahwa istilah ahlus sunah wal jamaah memiliki
dua makna, yaitu umum dan khusus. Makna secara umum dimaksudkan
sebagai lawan dari Syi’ah yang di dalamnya juga masuk golongan Muktazilah
dan Asya’irah. Makna khusus digunakan untuk menyebut Asya’riyah tanpa
selainnya dari aliran-liran kalam dalam pemikiran filsafat Islam.
Jadi, makna ahlus sunnah secara umum dimaksudkan sebagai lawan dari
kelompok Syi’ah, Muktazilah, dan bahkan Asy’ariyah itu sendiri. Adapun
makna khususnya digunakan untuk menyebut Asy’ariyah untuk
membedakannya dengan aliran-aliran kalam dalam pemikiran filsafat Islam.

1. Makna Ahlussunah wal Jama’ah itu sendiri


Sebagaimana telah dijelaskan panjang lebar tentang historisasi Asy’ariyah dan
perkembangannya yang kemudian dikenal dengan aliran ahlussunah wal Jama’ah,
sedangkan pemaknaaan yang lebih luas tentang Ahlussunnah wal Jama’ah adalah:
2. Orang-orang yang mengetahui benar-benar soal ketauhidan, kenabian, hukum-
hukum janji dan ancaman, pahala dan siksa, syarat ijtihad, imamah dan pimpinan
umat (za’amah) dengan mengikuti metode aliran mutakalimin sifatiah (yang
menetapkan sifat-sifat tuhan) yang tidak tersangkut dengan paham tasybih dan tahlil
serta bid’ah kaum Syi’ah. Khawarij dan lainnya.
3. Imam-imam dalam fiqih, baik dari ahlurra’yi maupun dari ahlul hadits, yang
menganut mazhab golongan sifatiah dalam soal-soal pokok agama, mengenai zat
tuhan dan sifat-sifatNya yang azali, dan menjauhkan diri dari paham Qadariah dan
Mu’tazilah, menetapkan adanya ru’yat, (melihat tuhan dengan mata kepala),
kebangkitan, pertanyaan kubur, telaga, jembatan, syafaat dan pengampunan dosa

12
selain syirik keadaan pahala ahli sorga dan siksa bagi ahli neraka. Mengikuti
kekhilafatan khalifah-khalifah yang empat dan memuji ulama salaf, mengatakan
wajib sholat dan shalat Jumat di belakang iamam-imam yang tidak terkena bid’ah dan
mengatakan wajibnya pengambilan hukum (istinbat) dari Quran, hadits, Ijma’.
Termasuk dalam golongan ini pengikut-pengikut Imam Malik, Syafi’I, Abu Hanifah
dan Ahmadbin Hambal.
4. Mereka yang mengetahui jalan-jalan hadits dan atsar yang datang dari nabi,
membedakan antara yang benar dan yang tidak, dan mengetahui sebab-sebab
kebaikan seorang dan kelemahannya (aljarhu wat ta’dil), dengan tidak tersangkut
kepada bid’at yang sesat.
5. Mereka yang mengetahui kebanyakan persoalan kesusutraan nahwu-sharaf dan
mengikuti jejak Imam-imam bahasa (Arab) seperti al-Khalil, Abu “Amr bin al-A’la,
Sibawaihi, al-Farra’, dan ulama-ulama nahwu lainnya, baik dari aliran Basrah
maupun Kufah, yang tidak tercampur ilmunya dengan bid’ah kaum Qadariah atau
Syi’ah atau Khawarij.
6. Mereka yang mengetahui macam-macam qiraat Quran dan tafsir ayat-ayatnya
serta pena’wilan yang sesuai dengan aliran Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan ta’wilan
orang-orang bid’ah.
7. Ahli zuhud dan golongan tasawuf yang giat beramal dengan tidak banyak
bicara, menepati ketauhidan dan meniadakan tasybih, serta menyerahkan diri kepada
tuhan.
8. Mereka yang bertempat di pos-pos pertahanan kaum muslimin untuk menjaga
keamanan negeri Islam dan mempertahankannya serta melahirkan mazhab
ahlussunnah wal Jama’ah.

2.3. PANDANGAN-PANDANGAN ASY’ARIYAH


Adapun pandangan-pandangan Asy’ariyah yang berbeda dengan Muktazilah,
di antaranya ialah:

13
1. Bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil kalau Tuhan mempunyai sifat, seperti
yang
melihat, yang mendengar, dan sebagainya, namun tidak dengan cara seperti yang ada
pada makhluk. Artinya harus ditakwilkan lain.
2. Al-Qur’an itu qadim, dan bukan ciptaan Allah, yang dahulunya tidak ada.
3. Tuhan dapat dilihat kelak di akhirat, tidak berarti bahwa Allah itu adanya karena
diciptakan.
4. Perbuatan-perbuatan manusia bukan aktualisasi diri manusia, melainkan diciptakan
oleh Tuhan.
5. Keadilan Tuhan terletak pada keyakinan bahwa Tuhan berkuasa mutlak dan
berkehendak mutlak. Apa pun yang dilakukan Allah adalah adil. Mereka menentang
konsep janji dan ancaman (al-wa’d wa al-wa’id).
6. Mengenai anthropomorfisme, yaitu memiliki atau melakukan sesuatu seperti yang
dilakukan makhluk, jangan dibayangkan bagaimananya, melainkan tidak seperti apa
pun.
7. Menolak konsep tentang posisi tengah (manzilah bainal manzilataini), sebaba tidak
mungkin pada diri seseorang tidak ada iman dan sekaligus tidak ada kafir. Harus
dibedakan antara iman, kafir, dan perbuatan.
Berkenaan dengan lima dasar pemikiran Muktazilah, yaitu keadilan, tauhid,
melaksanakan ancaman, antara dua kedudukan, dan amar maksruf nahi mungkar, hal
itu dapat dibantah sebagai berikut.
Arti keadilan, dijadikan kedok oleh Muktazilah untuk menafikan takdir.
Mereka berkata, “Allah tak mungkin menciptakan kebururkan atau memutuskannya.
Karena kalau Allah menciptakan mereka lalu menyiksanya, itu satu kezaliman.
Sedangkan Allah Maha-adil, tak akan berbuat zalim.
Adapun tauhid, mereka jadikan kedok untuk menyatakan pendapat bahwa Al-
Qur’an itu makhluk. Karena kalau ia bukan makhluk, berarti ada beberapa sesuatu
yang tidak berawal. Konsekuensi pondasi berpikir mereka yang rusak ini bahwa ilmu

14
Allah, kekuasaan-Nya, dan seluruh sifat-Nya adalah makhluk. Sebab kalau tidak akan
terjadi kontradiksi.
Ancaman menurut Muktazilah, kalau Allah sudah memberi ancaman kepada
sebagian hamba-Nya, Dia pasti menyiksanya dan tak mungkin mengingkari janji-
Nya. Karena Allah selalu memenuhi janji-Nya. Jadi, menurut mereka, Allah tak akan
memafkan dan memberi ampun siapa saja yang Dia kehendaki.
Adapun yang mereka maksud dengan di antara dua kedudukan bahwa orang
yang melakukan dosa besar tidak keluar dari keimanan, tapi tidak terjerumus pada
kekufuran. Sedangkan konsep amar makruf nahi mungkar menurut Muktazilah ialah
wajib menyuruh orang lain dengan apa yang diperintahkan kepada mereka. Termasuk
kandungannya ialah boleh memberontak kepada para pemimpin dengan
memeranginya apabila mereka berlaku zalim.
Koreksi atas pandangan Asy’ari
Beberapa tokoh pengikut dan penerus Asy’ari, banyak yang mengkritik
paham Asy’ari. Di antaranya ialah sebagai berikut:
Muhammad Abu Baki al- Baqillani (w. 1013 M), tidak begitu saja menerima
ajaran-ajaran Asy’ari. Misalnya tentang sifat Allah dan perbuatan manusia. Menurut
al-Baqillani yang tepat bukan sifat Allah, melainkan hal Allah, sesuai dengan
pendapat Abu Hasyim dari Muktazilah. Selanjutnya ia beranggapan bahwa perbuatan
manusia bukan semata-mata ciptaan Allah, seperti pendapat Asy’ari. Menurutnya,
manusia mempunyai andil yang efektif dalam perwujudan perbuatannya, sementara
Allah hanya memberikan potensi dalam diri manusia.

Pengikut Asy’ari yang terpenting dan terbesar pengaruhnya pada umat Islam
yang beraliran Ahli sunnah wal jamaah ialah Imam Al-Ghazali. Tampaknya paham
teologi cenderung kembali pada paham-paham Asy’ari. Al-Ghazali meyakini bahwa:
1. Tuhan mempunyai sifat-sifat qadim yang tidak identik dengan zat Tuhan dan
mempunyai wujud di luar zat.
2. Al-Qur’an bersifat qadim dan tidak diciptakan.

15
3. Mengenai perbuatan manusia, Tuhanlah yang menciptakan daya dan perbuatan
4. Tuhan dapat dilihat karena tiap-tiap yang mempunyai wujud pasti dapat dilihat.
5. Tuhan tidak berkewajiban menjaga kemaslahatan (ash-shalah wal ashlah) manusia,
tidak wajib memberi ganjaran pada manusia, dan bahkan Tuhan boleh memberi
beban
yang tak dapat dipikul kepada manusia.
Berkat Al-Ghazali paham Asy’ari dengan sunah wal jamaahnya berhasil berkembang
ke mana pun, meski pada masa itu aliran Muktazilah amat kuat di bawah dukungan
para khalifah Abasiyah. Sementara itu paham Muktazilah mengalami pasang surut
selama masa Daulat Bagdad, tergantung dari kecenderungan paham para khalifah
yang berkuasa. Para Ulama yang Berpaham Asy-'ariyah
Di antara para ulama besar dunia yang berpaham akidah ini dan sekaligus juga
menjadi tokohnya antara lain:
•Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M)
•Al-Imam Al-Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210)
•Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/1027)
•Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M)
•Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M)

16
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Nama Al-Asy’ariyah diambil dari nama Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-
Asy’ari yang dilahirkan dikota Bashrah (Irak) pada tahun 260 H/875 M. ayahnya
wafat ketika ia masih kecil dan ibunya menikah lagi dengan tokoh Muktazilah waktu
itu, yang bernama Abu Ali Al-Jubai. Berkat didikan ayah tirinya Al-asy’ari kemudian
menjadi tokoh muktazilah.Dalam beberapa waktu lamanya ia merenungkan dan
mempertimbangkan antara ajaran-ajaran Muktazillah dengan paham ahli-ahli fiqih
dan hadist.Al-asy’ari menganut paham muktazilah hanya sampai ia berusia 40 tahun.
Setelah itu , secara tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jama’ah masjid Bashrah
bahwa dirinya telah meninggalkan faham muktazilah.

Aliran Asy’ariyah istilah lain dari Ahlu Sunah Wal Al- Jama’ah merupakan
salah satu dari beberapa aliran kalam. Aliran Asy’ariyah menjadi penengah antara
aliran Jabbariyyah dan Muktazilah, Karena perbuatan manusia mempunyai kehendak
dan daya. Asy’ariyah menegaskan pula bahwa perbuatan dosa besar tidak
mengkafirkan dan tidak gugur ke islamannya. Apabila pelaku dosa meninggal dan
belum sempat bertobat maka tergantung kebijakan dari Allah. Bila mendapat syafaat
Nabi SAW bisa saja mengampuni dosanya. sehingga terbebas dari siksa Neraka atau
kebalikannya mendapat siksa neraka.Tidak seperti pemahaman Muktazilah yaitu
orang yang melakukan dosa besar akan berada di dua tempat (Manzilatun baina
manzilatain).

17
18