Anda di halaman 1dari 12

GHIBAH

Oleh : Munawwir

ABSTRAK

Gosip atau menggunjing atau ghibah sepertinya saat ini sudah menjadi hiburan
dan juga komoditas ekonomi. Dari arti harfiahnya bisa diartikan dengan informasi
atau berita yang menghibur. Kegiatan menggunjing atau ghibah menjadi hiburan
yang sesungguhnya adalah perbuatan maksiat atau dosa, sebagai komoditas
ekonomi karena acara-acara gosip ini ditayangkan untuk mendapatkan
keuntungan dari para pemasang iklan. Kalau kita lihat fenomena yang terjadi
sekarang ini, orang tidak ada rasa malu sedikit pun dalam menggosip atau
menggunjing. Stasiun televisi pun seolah-olah saling berlomba untuk
menampilkan informasi-informasi gosip. Mereka juga memoles acara tersebut
sehingga seolah-olah menjadi acara prestig dan glamor, bahkan mereka para
penyaji pun seolah-olah merasa bangga. Secara Bahasa: Lawan dari nampak
(Musytaq dari al-ghib), yaitu segala sesuatu yang tidak diketahui bagi manusia
baik yang bersumber dari hati atau bukan dari hati. Jadi defenisi ghibah secara
bahasa adalah membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya baik isi
pembicaraan itu disenanginya ataupun tidak disenanginya, kebaikan maupun
keburukan. Secara Definisi: Seorang muslim membicarakan saudaranya sesama
muslim tanpa sepengetahuannya tentang hal-hal keburukannya dan yang tidak
disukainya, baik dengan tulisan maupun lisan, terang-terangan maupun sindiran.

Kata Kunci : Ghibah, Gosip

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah yang menciptakan semua baik yang ada pada
manusia atau pun apa yang melingkupi kehidupan manusia. Lidah, merupakan
anungrah Allah yang dapat membawa manfaat dan sebaliknya bisa menjadi
penyebab masuknya seseorang kedalam api neraka. Ghibah yang merupakan salah
satu ulah lidah yang sekarang telah menjadi budaya bagi ibu-ibu yang didorong
oleh penyakit hati. Tidak hanya berhenti disana, ghibah telah dibiasakan dengan
adanya infotaiment yang bisa kita lihat tiap pagi, siang sore, dan itu menjadi
tayangan favorit dari berbagai kalangan, dari kecil hingga dewasa. Miris memang,
ketidak tahuan hokum tentang ghibah merupakan salah satu factor kenapa minat
terhadap ghibah slalu meningkat.

Ghibah dimanapun dan kapanpun merupakan akhlak tercela yang tidak


patut kita sebagai muslim menjadikan budaya dilingkungan masyarakat ataupun
keluarga. Berbagai akibat dari bahya ghibah, baik iut dari lingkungan sendiri
(lingkungan social), atau pun dalam diri kita sendiri secara emosi.

Dalam makalah ini pemaklah mencoba memaparkan pentingnya mnejaga


lidah dari bahaya membicarakan orang lain baik sepengetahuannya atau pun tidak
diketahui olehnya. Dalam infotaiment misalnya, budaya membincangkan aib
orang lain seakan-akan telah menjadi biasa dan memilki banyak peminat, namun
yang menjadi pertanyaan disini contohny berita atau membicarakan pernikahan
apakah juga termasuk ghibah, dan terkadang atas permintaan sendiri untuk
ketenaran sang artis. Lebih dari itu, dalam makalah ini kami mencoba
memaparkan pengertian serta dalil al-qur’an dan hadits tentang ghibah, hokum,
macam-macam ghibah, batasan ghibah, serta tips untuk menghilangkan keinginan
untuk berghibah yang telah mengakar dikalangan masyarakat dewasa ini. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita maupun mayarakat luas.

PEMBAHASAN

A. Pengertian atau Definisi Ghibah

Secara etimologi, ghibah berasala dari kata Ghaba- Yaghibu yang artinya
adalah mengupat, menurut Jalaluddin bin Manzur, ini juga berarti fitnah, umpatan,
atau gunjingan. Dapat juga diartikan membicarakan keburukan orang lain
dibelakangnya atau tanpa sepengetahuan yang dibicarakan. Disisi lain an-Nawawi
mendefinisikan ghibah adalah mengupat atau menyebut orang lain yang ia tidak
suka atau memebencinya, terutama dalam hal kehidupannya. Beliau mengatakan
bahwa jarang sekali orang yang bisa lepas dari menggunjing orang lain.
Secara terminology atau bahasa, ghibah adalah memebicarakan orang lain
tanpa sepengetahuannya mengenai sifat atau kehidupannya, sedangkan jika ia
mendegar maka ia tidak menyukainya. Dan terlebih jika yang dibicarakan tidak
terdapat dalam diri yang dibicarakan itu berarti dusta atau mengada-ada dan itu
merupaka dosa yang lebih besar dari ghibah itu sendiri. Tidak berbeda dengan
definisi yang disebutkan oleh al-Maragi dalam menjelaskan tentang ghibah yaitu
menbicarakan kejelekan atau aib orang lain dibelakangnya, dan jika ia mnegetahui
maka ia tidak suka walaupun yang dibicarakan adalah benar. Dalam hadits Nabi
saw pun telah dijelaskan pengertian ghibah sebagai beriku;

ِ ‫ع ْبدُ ْال َع ِز‬


‫يز‬ َ ‫َحدَّثَنَا قُت َ ْي َبةُ َحدَّثَنَا‬
ُ‫َّللاِ َما ْال ِغيبَة‬َّ ‫سو َل‬ ُ ‫ع ْن أَبِي ُه َري َْرة َ قَا َل قِي َل يَا َر‬
َ ‫ع ْن أَبِي ِه‬
َ ‫الرحْ َم ِن‬
َّ ‫ع ْب ِد‬َ ‫ع ْن ْالعَ ََل ِء ب ِْن‬ َ ‫ب ُْن ُم َح َّم ٍد‬
ُ‫قَا َل ِذ ْك ُركَ أ َ َخاكَ بِ َما يَ ْك َرهُ قَا َل أ َ َرأَيْتَ إِ ْن َكانَ فِي ِه َما أَقُو ُل قَا َل إِ ْن َكانَ فِي ِه َما تَقُو ُل فَقَ ْد ا ْغت َ ْبتَه‬
‫ع ْم ٍرو‬ َّ ‫ع ْب ِد‬
َ ‫َّللاِ ب ِْن‬ َ ‫ع َم َر َو‬ َ ‫َوإِ ْن لَ ْم يَ ُك ْن فِي ِه َما تَقُو ُل فَقَ ْد بَ َهتَّهُ قَا َل َوفِي ْالبَاب‬
ُ ‫ع ْن أَبِي بَ ْرزَ ة َ َواب ِْن‬
َ ‫س ٌن‬
‫ص ِحي ٌح‬ َ ‫ِيث َح‬ َ ‫قَا َل أَبُو ِعي‬
ٌ ‫سى َهذَا َحد‬

“ Seseorang bertanya pada Nabi saw, wahai Rosulullah, apakah yang


dinamakan ghibah itu?, ghibah ialah menceritakan saudaramu tentang sesuatu
yang ia benci,si penanya bertanya kembali,’wahai Rosullullah bagaimana
pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar apa adanya?, Rosulullah
menjawab, kalau memang ada padanya maka itu ghibah namanya, dan jika tidak
maka kamu telah berbuat buhtan (dusta)”.
Berikut dapat disimpulkan beberapa poin tentang definisi ghibah diatas:

1. Membicarakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuan yang dibicarakan, baik


dengan ucapan, sindiran ataupun dengan isyarat.
2. Menbicarakan aib orang lain,walaupun yang dibicarakan adalah benar adanya
pada diri yang dibicarakan.
3. Jika yang dibicarakan mengetahui maka ia akan tidak suka aibnya dibicarakan
pada orang lain.
4. Hal yang dibicarakan meliputi, kehidupan pribadi, keluarga maupun spiritual
sesorang.
5. Karena membicarakan tanpa sepengetahuan yang dibicarakan, ini artinya
perbuatan licik dan pasti perbuatan ini mengandung unsur keinginan untuk
merusak harga diri, atau kemulyaan seseorang.

B. Dalil tentang Ghibah

Dalam al-Qur’an juga terdapat ayat yang berbicara tentang larangan untuk
membicarakan orang lain dan itu merupakan perbuatan buruk, hal ini dijelaskan
dalam Qs, al-Hujurat: 12,

(#qç7Ï^tGô_$# (#qãZtB#uä tûïÏ%©!$# $pkš‰r'¯»tƒ


( ÒOøOÎ) Çd`©à9$# uÙ÷èt žcÎ) Çd`©à9$# z`ÏiB #ZŽ•ÏWx.
4 $³Ò÷èt Nä3àÒ÷è- =tGøótƒ Ÿwur (#qÝ¡¡¡pgrB Ÿwur
ÏmŠÅzr& zNóss9 Ÿ@à2ù'tƒ br& óOà2߉tnr& •=Ïtä†r&
©!$# ¨bÎ) 4 ©!$# (#qà)¨?$#ur 4 çnqßJçF÷dÌ•s3sù $\GøŠtB
×LìÏm§‘ Ò>#§qs?
“ Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka
(kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang
sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang”.
Dari ayat tersebut jelaslah bahwa perbuatan mengunjing orang lain
merupakan perbuatan yang keji dan menjijikkan seperti yang digambarkan oleh
Allah bahwa seseorang yang mengunjing ibaratkan memakan daging saudaranya
yang sudah mati (bangkai saudarnya).

Adapun hadits yang berbicara tentang Ghibah atau bahaya lisan sangat
banyak dijumpai dalam kitab-kitab hadits berikut;

‫ع ْن أ َ ِبي ُه َري َْرة َ قَا َل قَا َل‬ َ ٍ‫صا ِلح‬ َ ‫ع ْن أ َ ِبي‬ َ ‫ين‬ٍ ‫ص‬ ِ ‫ع ْن أ َ ِبي َح‬َ ‫ص‬ ِ ‫َحدَّثَنَا أَبُو َب ْك ٍر َحدَّثَنَا أَبُو ْاْلَحْ َو‬
‫ت‬ ْ ‫اَّللِ َو ْاليَ ْو ِم ْاْل ِخ ِر فَ ْل َيقُ ْل َخي ًْرا أ َ ْو ِل َي ْس ُك‬
َّ ‫سلَّ َم َم ْن َكانَ يُؤْ ِم ُن ِب‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫َر‬

“ Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata
benar atau diam”.(HR.Bukhari-Muslim)

‫سانِ ِه َولَ ْم‬َ ‫سلَّ َم يَا َم ْعش ََر َم ْن آ َمنَ ِب ِل‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫ي قَا َل قَا َل َر‬ ِِّ ‫ع ْن أَبِي َب ْرزَ ة َ ْاْل َ ْسلَ ِم‬ َ
َّ ‫ع ْو َراتِ ِه ْم يَتَّبِ ُع‬
ُ‫َّللا‬ َ ‫ان قَ ْل َبهُ ََل ت َ ْغت َابُوا ْال ُم ْس ِل ِمينَ َو ََل تَت َّ ِبعُوا‬
َ ‫ع ْو َراتِ ِه ْم فَإِنَّهُ َم ْن اتَّبَ َع‬ ُ ‫اْلي َم‬ِ ْ ‫َي ْد ُخ ْل‬
َ ‫ع ْو َرتَهُ َي ْف‬
ِِ ‫ضحْ هُ فِي َب ْيتِه‬ َّ ‫ع ْو َرتَهُ َو َم ْن يَتَّبِ ْع‬
َ ُ‫َّللا‬ َ

“ wahai sekalian yang beriman dilidahnya dan belum masuk kedalam hatinya,
janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan janganlah kalian
mencari-cari aib mereka karena siapa yang mencari-cari aib saudaranya,
niscaya Allah akan mencari aibnya, niscaya Dia akan membuka kejelekannya
meskipun berda dalam rumahnya”. (HR. Abu Daud, Ahmad dan Ibn Hibban).
‫ع ْب ٍد َحتَّى‬ ُ ‫سلَّ َم ََل َي ْست َ ِقي ُم ِإي َم‬
َ ‫ان‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫ع ْن أَن َِس ب ِْن َمالِكٍ قَا َل قَا َل َر‬ َ ُ ‫َحدَّثَنَا قَت َادَة‬
ُ‫سانُه‬ َ ‫يم قَ ْلبُهُ َو ََل َي ْست َ ِقي ُم قَ ْلبُهُ َحتَّى َي ْست َ ِق‬
َ ‫يم ِل‬ َ ‫َي ْست َ ِق‬
“Iman seorang hamba tidak istiqomah sebelum hatinya istiqomah, dan hatinya
tidak istiqomah sebelum lidahnya istiqomah.”(HR. Ahmad)
‫ع ْن‬
َ ‫س ْع ٍد‬ َ ‫ع ْن‬
َ ‫س ْه ِل ب ِْن‬ ِ ‫س ِم َع أَبَا َح‬
َ ‫از ٍم‬ َ ‫ي‬ َ ‫ع َم ُر ب ُْن‬
ٍِّ ‫ع ِل‬ ُّ ‫َحدَّثَنَا ُم َح َّمدُ ب ُْن أ َ ِبي بَ ْك ٍر ْال ُمقَد َِّم‬
ُ ‫ي َحدَّثَنَا‬
ْ َ ‫ض َم ْن ِلي َما بَيْنَ لَحْ يَ ْي ِه َو َما بَيْنَ ِرجْ لَ ْي ِه أ‬
ُ‫ض َم ْن لَه‬ ْ َ‫سلَّ َم قَا َل َم ْن ي‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫سو ِل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َر‬
َ‫ْال َجنَّة‬
“ Siapa yang menjamin bagiku apa diantara dua tulang dagunya (lidah) dan apa
diantara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin baginya surga.”(HR.
al-Bukhari, Tirmudzi, dan Ahmad)
Ada dua pelanggaran yang dilkukan oleh yang suka membicarakan orang
lain, yaitu pelanggaran terhadap hak Allah, karena ia melakukan apa yang
dimurkainya, dan tebusannya adalah dengan taubat dan menyesali perbuatannya.
Sedangkan yang kedua adalah pelanggaran terhadap kehormatan sesama. Jika
ghibah telah di dengar oleh orangnya maka dia harus menemuinya dan meminta
maaf atas perbuatannya dalam membicarakan aibnya. Dalam hal ini sangatlah
berat karena dosanya tidak hilang selama orang tersebut tidak memaafkan. Dalam
hal ini Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda:

َّ ‫سو َل‬
ِ‫َّللا‬ ُ ‫ع ْن أ َ ِبي ُه َري َْرة َ أ َ َّن َر‬ َ ‫ي‬ ِِّ ‫س ِعي ٍد ْال َم ْقب ُِر‬
َ ‫ع ْن‬ َ ٌ‫َحدَّثَنَا ِإ ْس َما ِعي ُل قَا َل َحدَّثَنِي َما ِلك‬
َ ‫ظ ِل َمةٌ ِْل َ ِخي ِه فَ ْل َيت َ َحلَّ ْلهُ ِم ْن َها فَإِنَّهُ لَي‬
ٌ ‫ْس ث َ َّم دِين‬
‫َار َو ََل‬ ْ ‫َت ِع ْندَهُ َم‬
ْ ‫سلَّ َم قَا َل َم ْن َكان‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ
ُ َ‫ت أ َ ِخي ِه ف‬
ْ ‫ط ِر َح‬
‫ت‬ َ ‫سنَاتٌ أ ُ ِخذَ ِم ْن‬
ِ ‫سيِِّئ َا‬ َ ‫د ِْر َه ٌم ِم ْن قَ ْب ِل أ َ ْن يُؤْ َخذَ ِْل َ ِخي ِه ِم ْن َح‬
َ ‫سنَاتِ ِه فَإ ِ ْن لَ ْم َي ُك ْن لَهُ َح‬
‫ع َل ْي ِه‬
َ

“ Siapa yang melakukan suatu kedzoliman terhadap saudaranya, harta


atau kehormatannya, maka hendaklah ia menemuainya dan meminta maaf
kepadanya dari dosa ghibah itu, sebelum dia dihukum, sementara dia tidak
memepunyai dirham atau pun dinar. Jika dia memilki kebaikan, maka kebaikan-
kebaikan itu akan diambil lalu diberikan pada saudarnya itu. Dan jika tidak,
maka sebagian keburukan-keburukan saudaranya itu diambil dan diberikan
padanya”. (HR. Bukhari)

C. Motivasi Pendorong Ghibah dan Obat Penawarnya


Dikarenakan ghibah merupakan perbuatan yang sangat digandrungi
sebagian besar dari kalangan ibu-ibu, maka sebelum membicarakan solusi agar
terhindar dari sifat ghibah, terlebih dahulu menjelaskan sebab yang umum
terjadinya ghibah dalam masyrakat, berikut sebab-sebabnya;
1. Ingin mengangkat derajat diri sendiri dengan membicarakan keburukan orang lain,
artinya untuk menguatkan posisinya atas orang lain, serta agar orang lain
menganggap ia yang lebih dari orang lain.
2. Karena penyakit hati seperti, iri dengan keberhasilan dan kemulyaan teman atau
tetangganya, sombong akan kelebihan diri sehingga merendahkan orang lain
dengan ghibah, serta balas dendam terhadap kejahatan yang pernah orang lain
lakukan terhadap dirinya.
3. Dalam rangka melampiaskan amarah yang memuncak, ketika ia sedang marah
maka ia melakukan ghibah untuk melampiaskan amarahnya tersebut.
4. Terkadang terdapat dalam lelucon atau gurauan yang merendahkan orang lain.
5. Terkadang karena iba terhadap teman yang ditimpa kesedihan karena perbuatan
sesorang misalnya, maka ia dengan tidak sadar agar temannnya merasa lega yaitu
dengan menggunjing orang tersebut, dalam hal ini dikarenakan salah paham
dalam memahami maksud kesetiakawanan.
6. Dalam realita social, ghibah terjadi juga dikarenakan oleh nilai materi, misalnya
dalam tayangan infotaiment yang akan menjadi daya jual bagi produser-produser
televise.

Setelah mengetahui beberapa factor atau motivasi diatas sebagai


penyebab terjadinya ghibah di masyarakat hendaklah dihindari dengan beberapa
tips berikut;

1. Dengan slalu ingat bahwa Allah sangat membenci seseorang yang mengunjing
saudaranya, sedangkan kebaikan akan kembali pada orang yang dibicarakan dan
jika pun orang yang dibicarakan tidak memilki kebaikan maka keburukannya akan
kembali pada yang menggunjing.
2. Jika terlintas dalam fikiran untuk melakukan ghibah, maka hendaklah introspeksi
diri dengan melihat aib diri sendiri dan slalu berusaha memperbaikinya. Mestinya
merasa malu jika membicarakan aib orang lain sedangkan aib sendiri tidak
terhitung jumlahnya.
3. Jika pun merasa tidak memiliki aib, maka hendaklah senantiasa mensyukuri
nikmat yang telah dilebihkan Allah, bukan malah dengan mengotori diri dengan
melakukan ghibah.
4. Menjada diri dari sifat-sifat tercela seperti iri dengki dengan keberhasilan orang
lain, sombong dengan kelebihan diri sendiri, serta menjauhi sifat dendam.
5. Jika berghibah karena pengaruh teman, atau karena takut dikucilkan karena tidak
ikut serta dalam ghibah, maka hendaklah selalu mengingat bahwa murka Allah
terhadap siapa yang mencari keridhaan manusia dengan sesuatu yang membuat
Allah murka.
6. Berdo’a mohon perlindungan Allah agar terhindar dari perbuatan-perbuatan keji.
Serta sebisa mungkin menjauhi perkumpulan-perkumpulan yang tidak
bermanfaat.

D. Alasan-Alasan yang ditolerir dalam Ghibah

Ada beberapa hal yang ditolerir karena menyebut-nyebut keburukan orang


lain adalah yang mempunyai tujuan yang benar menurut sayri’at yang tujuan ini
menurutnya tidak dapat dicapai kecuali hanya dengan cara itu, dalam hal ini dosa
ghibah dianggap tidak ada, diantarnya adalah:

1. Karena adanya tindak kedzoliman, orang yang didzolimi boleh menyebut


keburukan orang yang berbuat dzolim kepada sesorang yang mampu atau bisa
mengembalikan haknya (penguasa/pemerintah, hakim atau yang berwenang dalam
memutuskan perkara yang hak), dalam al-Qur’an surah an-Nisa ayat 148 Allah
berfirman: ‫ع ِلي ًما‬
‫س ِميعًا ا‬
‫َّللاُ ا‬ ُ ‫وء ِمنا ا ْلقا ْو ِل إِ هَل ام ْن‬
‫ظ ِل ام اوكاانا ه‬ ِ ‫س‬ُّ ‫َّللاُ ا ْل اجه اْر بِال‬
‫ب ه‬ ُّ ‫اَل يُ ِح‬
“ Allah tidak mencintai orang yang suka menceritakan keburukan orang lain
kecuali bagi orang yang teraniaya, dan Allah Maha Melihat dan Maha
Mengetahui”
2. Sebagai sarana untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan orang dzlim
atau yang berbuat maksiat kepada jalan yang benar (memperingati dari kejahatan).
Dalam hal ini umat muslim saling tolong-menolong dalam beramar ma’ruf nahi
munkar.
3. Dibolehkan dalam menyebutkan ciri-ciri seperti pincang, si buta, si pendek agar
orang lain cepat faham (bukan membicarakan keburukan akan tetapi
mengungkapkan bentuk atau cirri kepada orang yang bertanya).
4. Dalam hal ini ulama sepakat dalam menilai rawi (al-Jarh wa Ta’dil) boleh dan
bahkan harus diungkapkan pada kaum muslimin untuk kemaslahatan dalam
beribadah (ini kaitannya dalam penelitian hadits sohih atau do’if).
5. Boleh menceritakan kepada khalayak ramai tentang orang yang melakukan
perbuatan yang terlarang, seperti mabuk-mabukan, menjarah, dan perbuatan bathil
lainnya, seperti dalam hadits Nabi berikut, (Ibn Qudaimah, h. 214).
6. Dalam rangka meminta fatwa, artinya dalam rangka membela haknya, namun
dalam menyebutkan keburukan lebih baiknya dengan kat-kat yang halus.

E. Kontekstualisasi Hadits tentang Ghibah dalam Realita Sosial (Infotaiment)

Ghibah atau bergunjing dalam masyarakat menyebabkan


ketidaknyamanan, ini artinya bhawa ghibah merupakan perbuatan yang benar-
benar harus dihindarkan dalam kehidupan sehari-hari. Berita gosip di Televisi
misalnya, lama-kelamaan pemberitaan dalam stasiun Televisi yang mengumbar-
ngumbar aib sesorang seakan sekarang sudah menjadi bagian dari konsumsi
masyarakat, dan lebih parahnya berita-berita tersebut sangat digandrungi. Dan hal
ini jika terus dibudaykan maka berghibah atau menggunjing orang lain sudah
menjadi hal biasa dalam masyarakat khusunya kita Indonesia, setiap pagi
disuguhkan dengan berita-berita aib orang lain seperti perselingkuhan, perceraian
dan bahkan terkesan propokatif. Hal ini jelas-jelas melanggar ajaran Islam yang
melarang mencela, menggunjing, dan meremehkan orang lain. Meskipun memang
dalam hokum Islam ghibah atau gosip tidak memilki sanksi yang disebut denagn
Ta’dzir, hanya diterangkan bahwa bagi pelakunya akan mendapat dosa atau azab
siksa yang berat.
Dalam permasalahan ghibah atau gossip, beberapa komunitas atau
lembaga baik pemerintah maupun non pemerintah misalnya Majlis Nahdatul
‘Ulama telah mengeluarkan fatwa haram terhadap infotaiment dengan alasan
bahwa acara gossip cenderung membuka aib dan mempergunjingkan keburukan
orang lain, hal ini tergolong ghibah dan hukumnya haram.

Dalam hadits nabi yang menyatakan tentang ghibah ada dua hal yang
sangat urgen yaitu “menceritakan aib” dan “benci jika ia mengetahui” maka dari
dua kalimat inti tersebut dapat kita simpulkan bahwa yang ternasuk ghibah adalah
yang membuka iab orang lain dan jika ia mngetahui maka ia tidak suka dan
akibatnya akan mendatangkan permusuhan, kemarahan, dan bahkan bisa
pembunuhan. Dalam kasus ini yang perlu kita cermati dalam relita social kita,
infotaiment misalnya yang memberitakan seorang public figure dimana terkadang
sanag public figure tersebut merasa diuntungkan dengan adanya pemberitaan
mengenai dirinya, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah khawatir akan
adanya pergeseran pemahaman masyrakat tentang makna bahaya ghibah, dan itu
akan dianggap sepele. Sedangkan hukuman bagi yang menggosip adalah tidak
ringan seperti yang dijelaskan dalam surah al-Hujurat ayat 12, disana ghibah
dianalogikan seperti seseorang yang memakan daging saudaranya yang sudah
busuk.

Dari pemaparan tentang gosip di infotaiment diatas dapat disimpulkan


bahwa berita yang memalukan seperti perceraian, perselingkuhan, putus cinta,
seks bebas termasuk unsur ghibah yang tidak ingin dikonsumsi public karena
mendorong ahl-hal yang akan merusak. Sedangkan berita-berita bahagia seperti
pernikahan (walaupun tidak semua mereka ingin diberitakan) jika ditarik pada
makan ghibah diatas ini bukan termasuk dalam kategori ghibah.
KESIMPULAN

Dari keterangan al-Qur’an dan hadits Nabi di atas jelaslah bahwa ghibah
merupakan perbuatan tercela yang harus dihindari oleh muslim karena akan
mengakibatkan perselisihan dikalangan masyarakat. Ghibah akan mendatangkan
banyak mudharat, diantaranya perselisishan, permusuhan, dendam, perceraian dan
bahkan bisa saja terjadi pembunuhan. Islam sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin
mencegah hal-hal tersebut, dan mengecam bagi yang melakukan perbuatan
tersebut akan mendapatkan siksaan Allah.

Ghibah dapat dicegah dengan slalu mengingat bahwa Allah Maha Melihat
dan Maha Mengetahui, ingat akan aib diri sendiri, dan tidak iri dengan
keberhasilah saudaranya serta senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah
diberikan Allah. Adapun ghibah yang dibebaskan atau ditolerir adalah ghibah
dalam hal amr ma’ruf nahi munkar, dalam rangka menegakkan kebenaran, dalam
hal ini termasuk berita tentang kasus suap (korupsi).

Melihat realita masyarakat dewasa ini ghibah seakan dianggap sepele


karena masyarakat slalu disuguhi dengan berita-berita selebriti dari pagi hingga
siang, terkadang sangat berlebihan dan tidak proporsional. Ini akan menimbulkan
berbagai problem dalam masyarakat. Namun tidak semuanya gossip tersebut
mengandung unsure ghibah seperti penjelasan hadits Nabi diatas.

DAFTAR PUSTAKA

CD Room Kutub Tis’ah


al-Ghazali, Imam. Bahaya Lisan dan Cara Mengatasinya,terj. A. Hufaf Ibry.
Surabaya: Tiga Dua. 1995.

An-Nawawi, al-Adzkar, terj. M. Tarsi Hawi. Bandung: Pustaka Ma’arif. 1984.

Abullah bin Jarullah, Awas Bahaya Lidah, terj. Abu Haidar dan Abu Fahmi.
Jakarta: Gema Insani Press. 2004.

Ibnu Qudamah, Jalan Orang-Orang yang Dapat Petunjuk, terj. Kathur Suhardi.
cet XIII. Jakarta: Pustaka al-Kautsar. 2007.

Taimiyah dkk, Ghibah, terj. Abu Azzam. Jakarta: Pustaka Kautsar. 1992.

Suhaimi, Muhammad Yasin. Bahaya Lisan Menurut al-Qur’an dan Sunnah.


Malang: UMM Press. t.th