Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI PRAKTIS

KAJIAN ADMINISTRASI RESEP

Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas laporan praktikum mata kuliah Praktikum
Farmasi Praktis

Disusun Oleh :
KELOMPOK 5

Ronanda Rumaisha 11151020000027


Kinanthi Dwi Nurbaiti 11151020000030
Dena Adiestia 11151020000032
Hikmatussaidah 11151020000033
Maudina Safira 11151020000049

FARMASI C 2015

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

FEBRUARI

2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-NYA sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Farmasi
Praktis mengenai Kajian Administrasi Resep hingga selesai. Adapun laporan ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktikum Farmasi Praktis.
Harapan kami sebagai penyusun semoga laporan ini dapat menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat
memperbaiki bentuk maupun menambah isi laporan agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, sehingga dalam
penyusunannya masih terdapat banyak kesalahan. Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
laporan ini.

Ciputat, Februari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………….......….i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………….........ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………...............................1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………..............1
1.3 Tujuan Praktikum……………….....................…………………......................1

BAB II DASAR TEORI...............................................................................................2

BAB III METODE KERJA


3.1 Prosedur Kerja....................…………………...…............................................4
3.2 Resep 1…………………………….……………………….............................4
3.3 Resep 2……….………….…………………………………............................5

BAB IV HASIL PENGAMATAN..............................................................................6

BAB V PEMBAHASAN............................................................................................9

BAB VI KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan……………………………………..............................................15
5.2 Saran…............................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA………………………………….............................................16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter, dokter gigi, atau
dokter hewan kepada apoteker untuk menyiapkan dan/atau membuat, meracik,
serta menyerahkan obat kepada pasien. Dalam alur pelayanan resep, apoteker
wajib melakukan skrining resep yang meliputi skrining administratif, kesesuaian
farmasetis, dan kesesuaian klinis untuk menjamin legalitas suatu resep dan
meminimalkan kesalahan pengobatan. Resep harus ditulis dengan jelas untuk
menghindari salah persepsi antara penulis dengan pembaca resep, kegagalan
komunikasi dan salah interprestasi antara dokter dengan apoteker merupakan
salah satu faktor kesalahan medikasi (medication error) yang berakibat fatal bagi
pasien.
Aspek administratif resep dipilih karena merupakan skrining awal pada
saat resep dilayani di apotek. Skrining administratif perlu dilakukan karena
mencakup seluruh informasi di dalam resep yang berkaitan dengan kejelasan
tulisan obat, keabsahan resep, dan kejelasan informasi di dalam resep. Oleh
karena itu penting bagi seorang farmasis untuk mengetahui bagaimana cara
membaca dan mengkaji resep secara administrative

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana cara melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar
pelayanan kefarmasian pada sarana elayanan kefarmasian. Bagaimana membaca
resep, mengkaji resep secara administrasi. membuat kopi resep dan etiket.

1.3 Tujuan
Mahasiswa diharapkan mampu melaksanaan pelayanan kefarmasian sesuai
standar pelayanan kefarmasian pada sarana pelayanan kefarmasian yaitu membaca
resep, mengkaji resep secara administrasi. membuat kopi resep dan etiket.

1
BAB II
DASAR TEORI

2.1. Membaca dan Mengkaji Resep Secara Administratif


Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter, dokter gigi,
atau dokter hewan kepada apoteker untuk menyiapkan dan/atau membuat,
meracik, serta menyerahkan obat kepada pasien. Dalam alur pelayanan
resep, apoteker wajib melakukan skrining resep yang meliputi skrining
administratif, kesesuaian farmasetis, dan kesesuaian klinis untuk menjamin
legalitas suatu resep dan meminimalkan kesalahan pengobatan. Resep harus
ditulis dengan jelas untuk menghindari salah persepsi antara penulis dengan
pembaca resep, kegagalan komunikasi dan salah interprestasi antara dokter
dengan apoteker merupakan salah satu faktor kesalahan medikasi
(medication error) yang berakibat fatal bagi pasien.
Aspek administratif resep dipilih karena merupakan skrining awal
pada saat resep dilayani di apotek. Skrining administratif perlu dilakukan
karena mencakup seluruh informasi di dalam resep yang berkaitan dengan
kejelasan tulisan obat, keabsahan resep, dan kejelasan informasi di dalam
resep. Dalam penulisan resep kelengkapan administratif sudah diatur dalam
Peraturan Pemerintah Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014,
yang meliputi:
a. Nama pasien, umur, jenis kelamin, dan berat badan
b. Nama dokter, Nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon,
dan paraf
c. Tanggal Penulisan resep

2.2. Membuat Kopi Resep


Salinan Resep adalah salinan yang dibuat apoteker, selain memuat
semua keterangan yang terdapat dalam resep asli harus memuat pula: nama
dan alamat apotek, nama dan SIA, tanda tangan atau paraf APA, det/detur
untuk obat yang sudah diserahkan atau ne detur untuk obat yang belum
diserahkan, nomor resep, dan tanggal pembuatan.
Bagian-bagian salinan resep:

2
1. Nama dan alamat apotek
2. Nama dan APA dan nomor SIA
3. Nama, umur, pasien
4. Nama dokter penulis resep
5. Tanggal Penulisan resep
6. Tanggal dan nomor urut pembuatan
7. Tanda R/
8. Tanda “det” atau “deteur” untuk obat yang sudah diserahkan “ne det”
atau “ne deteur” untuk obat yang belum diserahkan
9. Tuliskan p.c.c (pro copy conform) menandakan bahwa salinan resep
telah ditulis sesuai dengan aslinya.

2.3. Membuat Etiket


Pada Penyerahan obat bebas dan bebas terbatas yang dibuat oleh
apotek itu sendiri tanpa resep maupun obat yang dibuat diserahkan
berdasarkan resep harus dilengkapi dengan etiket berwarna putih utnuk obat
dalam dan etiket berwarna biru untuk obat luar.
Obat dalam adalah obat yang digunakan secara oral, sedangkan obat
luar adalah obat yang digunakan dengan cara lain, yaitu melalui mata,
hidung, telinga, vagina, rektum, obat parenteral, dan obat kumur.
Etiket obat harus memuat informasi berikut:
1. Nama dan alamat apotek
2. Nama dan nomor SIK APA
3. Nama dan jumlah obat
4. Aturan pemakaian
5. Tanda lain yang diperlukan misalnya obat gosok, obat kumur,
obat batuk dan kocok dahulu.

3
BAB III
METODE KERJA

3.1 Prosedur Kerja


1. Mahasiswa mendapatkan resep yang diberikan oleh dosen pembimbing
praktikum
2. Membaca resep yang diberikan
3. Melakukan kajian terhadap kelengkapan administrasi resep, dan
mencatatnya masalah yang terdapat pada resep jika ada
4. Membuat kopi resep terhadap resep asli yang didapat
5. Membuat etiket obat
6. Membuat laporan

3.2 Resep 1

4
3.3 Resep 2

5
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

4.1 Kajian Administratif Resep


No. Data Resep 1 Resep 2
1 Nama dokter ada Ada
2 SIP ada Ada
3 Alamat dokter ada Ada
4 No. Telpon Ada Ada
5 Paraf dan tanpa penutup Ada Ada
6 Nama pasien Ada Ada
7 Umur pasien Ada -
8 Jenis kelamin Ada -
9 Tempat dan tanggal penulisan resep - Ada
10 Superscriptio Ada ada
11 Inscriptio Ada Ada
12 Subcriptio Ada Ada
13 Signatura Ada Ada
14 Berat badan pasien - -

6
4.2 Salinan Resep dan Etiket

4.2.1 Resep 1

7
4.2.2 Resep 2

8
BAB V
PEMBAHASAN

Pengkajian resep dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kelalaian


pencantuman informasi, penulisan resep yang buruk dan penulisan resep yang tidak
tepat (Katzung, 2004). Selain itu, ketidaklengkapan penulisan resep akan
membahayakan pasien dan membuka peluang timbulnya penyalahgunaan resep
khususnya yang mengandung obat-obat narkotika dan psikotropika.
Dalam hal penulisan resep, terdapat titik--titik rawan yang harus difahami baik
oleh penulis resep (prescriber) maupun pembaca resep (dispenser). Resep harus
ditulis dengan jelas dan lengkap untuk menghindari adanya salah persepsi diantara
keduanya dalam "mengartikan sebuah resep". Menurut Michelle R. Colien kegagalan
komunikasi dan salah interpretasi antara prescriber dengan dispenser merupakan
salah satu faktor penyebab timbulnya kesalahan medikasi (medication error) yang
bisa berakibat fatal bagi penderita (Cohen, 1999).
Tidak ada aturan baku yang sama di seluruh dunia tentang penulisan resep obat
karena setiap negara mempunyai peraturan sendiri-sendiri (de Vries, et al., 1994). Di
Indonesia Permenkes No. 26/Menkes/Per/I/I/ 1984 menyebutkan resep harus ditulis
dengan jelas dan lengkap.
Selanjutnya dalam Kepmenkes No. 280/Menkes/SK/V/1984 menyebutkan
bahwa pada resep harus dicantumkan:
(1) Nama dan alamat penulis resep, serta nomor izin praktek
(2) Tanggal penulisan resep.
(3) Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep.
(4) Dibelakang lambang R/ harus ditulis nama setiap obat / komposisi obat.
(5) Tanda tangan atau paraf penulis resep
(6) Jenis hewan, nama serta alamat pemiliknya untuk resep dokter hewan.
Penulisan Nomer Surat Ijin Praktek dokter dalam resep diperlukan untuk
menjamin keamanan pasien, bahwa dokter yang bersangkutan mempunyai hak dan
dilindungi undang-undang dalam memberikan pengobatan bagi pasiennya.

9
Pencantuman paraf dokter diperlukan agar resep menjadi otentik dan tidak
disalahgunakan dilingkungan masyarakat (lebih-lebih bila menyangkut resep
narkotika dan psikotropika). Cukup banyak resep yang tidak mencantumkan paraf
penulis resep. Penulisan nama obat, jumlah obat, dosis obat, aturan pakai harus jelas.
Hal ini dikarenakan ketidakjelasan penulisan selain memperlambat pelayanan di
apotek, juga merugikan pasien karena berpengaruh terhadap hasil terapi dan harga
obat yang harus ditanggung oleh pasien. Pada praktikum kali ini, praktikan mengkaji
resep secara administrasi setelah itu dibuat copy resep dan etiket obat yang nantinya
akan diberikan kepada pasien.

5.1 Kajian Administrasi Resep


Berdasarkan kajian administrasi obat pada resep 1 tidak mencantumkan
tanggal dan tempat penulisan resep serta berat badan pasien. Sedangkan,
pencantuman nama dan alamat prescriber dengan jelas dan lengkap sangat
diperlukan, terutama bila terdapat hal-hal yang tidak jelas/meragukan dalam resep
yang perlu ditanyakan terlebih dahulu kepada penulis resep, menghindarkan
penyalahgunaan resep dilingkungan masyarakat serta memperlancar pelayanan
bagi pasien di apotek. Selain itu, agar ketika Apoteker Pengelola Apotek
melakukan skrining resep kemudian terjadi kesalahan mengenai kesesuaian
farmasetik yang meliputi bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas,
inkompatibilitas, cara dan lama pemberian, dokter penulis resep tersebut dapat
langsung dihubungi untuk melakukan pemeriksaan kembali.
Pencantuman tanggal resep diperlukan karena berkaitan dengan keamanan
penderita. Dispenser dapat menentukan apakah penderita masih layak
menggunakan resep tersebut atau disarankan kembali pada dokter. Beberapa
negara menentukan batas maksimal tiga bulan resep dapat dilayani, ada pula yang
enam bulan (de Vries, 1994). Selanjutnya, untuk pencantuman berat badan yang
ada pada resep penting dikarenakan dispenser dapat mengecek apakah dosis
penderita sudah tepat (Joenoes, 1994).

10
Pengkajian resep berdasarkan kajian administrasi resep pada resep 2 terdapat
beberapa aspek yang tidak terpenuhi yaitu identitas pasien diantaranya tidak
terdapatnya umur pasien selain itu tidak terdapatnya jenis kelamin pasien yang
biasanya ditunjukkan pada keterangan di depan nama pasien seperti Ny yang
berarti nyonya atau Nn yang berarti nona yang merujuk kepada perempuan atau Tn
yang merujuk kepada laki-laki serta tidak adanya keterangan berat badan pasien
sedangkan aspek lainnya terpenuhi diantaranya identitas pasien yang lainnya yaitu
nama pasien yaitu alifah dan alamatnya yang bertempat tinggal di pondok ranji.
Selain itu identitas dokter pada resep tersebut juga terpenuhi yaitu nama dokter
dengan nama dr. Santoso, Sp. A, nomor SIP yang bernomor 503/1497/IV/2009,
alamat praktek dokter yang beralamat di jalan WR Supratman nomor 86
Tangerang Selatan, nomor telepon dokter yaitu 021-74175478 serta paraf dokter
dan tanda penutup tercantum dalam resep tersebut. Selain identitas pasien dan
identitas dokter, tempat dan tanggal penulisan resep juga tercantum pada resep
tersebut yaitu bertempat di tangerang selatan pada tanggal 21 Maret 2017.
Selain aspek kajian administratif resep yang telah telah disebutkan
sebelummnya, aspek lain pada resep kedua juga tercantum diantaranya Invocatio
yaitu permintaan tertulis dokter dalam singkatan latin “R/ = resipe” artinya
ambilah atau berikanlah, sebagai kata pembuka komunikasi dengan apoteker di
apotek juga terdapat dalam resep tersebut. Selain invocatio, prescriptio yang
berarti nama obat dan jumlah serta bentuk sediaan yang diinginkan juga tercantum.
Pada obat pertama prescriptio-nya adalah ‘Tempra Sir 160 mg/5ml no.1’ yang
berarti nama obat adalah Tempra dengan bentuk sediaan sirup dan jumlahnya yaitu
satu botol obat dengan kekuatan sediaan 160 mg/5ml. Pada obat kedua prescriptio-
nya adalah ‘Cefspan susp 100 mg/5 ml no.1’yang berarti nama obatnya adalah
Cefspan dengan bentuk sediaan suspensi dan jumlahnya adalah satu botol dengan
kekuatan sediaan 100 mg/5 ml dan pada obat ketiga prescriptio-nya adalah
‘Actived plus expectorant sir 60 ml no.1’ yang berarti nama obatnya adalah
Actived plus expectorant dengan bentuk sediaan sirup yang berjumlah satu botol

11
dengan volume 60 ml. Signatura juga terdapat dalam resep ini Signatura yaitu
tanda cara pakai, regimen dosis pemberian, rute dan interval

5.2 Salinan Resep


Salinan resep atau copy resep menurut Kepmenkes no. 280 tahun 1981
adalah salinan yang dibuat apoteker, selain memuat semua keterangan yang
terdapat dalam resep asli harus memuat pula: nama dan alamat apotek, nama dan
SIA, tanda tangan atau paraf APA, det/ detur untuk obat yang sudah diserahkan
atau ne detur untuk obat yang belum diserahkan, nomor resep, dan tanggal
pembuatan. . Tanggal copy resep terletak sejajar dengan nomor resep dan tanggal
penulisan resep terletak sejajar dengan nama dokter penulis resep.
Pada resep 1, tablet tensikap tertulis iter 1 x. Penulisan iter yang terletak di
sebelah kiri salah satu sediaan maka yang diulang hanya sediaan yang ada
disamping tulisan iter tersebut sehingga pada copy resep ditulis det orig, berarti
untuk tablet tensikap sudah diberikan sesuai dengan resep yang original dan copy
resep masih dapat digunakan kembali untuk menebus tablet tensikap. Selanjutnya,
untuk tablet dumin pada copy resep tertulis det X, berarti pasien baru mendapatkan
dumin tablet sebanyak 10 tablet dan copy resepnya masih bisa digunakan untuk
menebus 5 tablet lagi (total 15 tablet).
Pada resep 2 penulisan resep dibuat tanggal 21 maret 2017 dan penulisan
copy resep dibuat pada tanggal 28 maret 2017. Kasus yang terdapat pada resep
kedua yaitu kosongnya stok pada obat ketiga sehingga diberikan keterangan ne det
yang berarti belum diberikan atau belum diserahkan yang terdapat disamping
tanda batas. Sedangkan keterangan yang tertulis di copy resep pada obat pertama
dan kedua yaitu det yang berarti sudah diberikan atau diserahkan serta ada p.c.c
yang (pro copy conform) yang menandakan bahwa salinan resep telah ditulis
sesuai dengan aslinya dan juga terdapat cap apotek, tanda tangan apoteker, dan
nama jelas apoteker.

12
5.3 Etiket
Etiket digunakan untuk memberikan petunjuk cara pemakaian obat tersebut
kepada pengguna atau pasiennya. Dalam etiket hal-hal yang harus ada di dalamnya
yaitu, nama apotek, alamat dan nomer telepon apotek, nama apoteker dan SIA.
Selanjutnya terdapat nomer resep, tanggal pembuatan etiket, nama obat, nama
pasien, cara aturan pakai, bentuk sediaan, masa kadaluarsa obat dan jumlah obat
yang diberikan. Selain itu, untuk sediaan puyer perlu dituliskan komposisi obat.
Pada resep 1, bentuk sediaan kedua obat (obat tensikap dan dumin) yaitu
tablet karena pada resep tertulis ‘tab’ yang berarti tablet. Selanjutnya aturan pakai
obat tensikap dan dumin yaitu 3 x sehari 1 tablet karena terdapat tulisan ‘s 3 dd’
pada kedua resep yang merupakan singkatan dari signa ter de die yang berarti
tandailah tiga kali sehari. Pada obat dumin waktu pemberian obat hanya diberikan
jika sakit kepal, hal ini karena pada etiket terdapat tulisan ‘prn jika sakit kepala’
dimana ‘prn’ merupakan singkatan dari pro re nata yang berarti jika perlu dan
dibelakangnya diikuti keterangan sakit kepala yang berarti dipakai jika sakit
kepala. Etiket yang digunakan berwarna putih yang menandakan obat dalam (obat
yang masuk ke dalam tubuh melalui kerongkongan dan mengikuti saluran
pencernaan).
Pada resep 2, bentuk sediaan pada obat pertama (Tempra) dan obat ketiga
(Actifed) yaitu sirup karena pada resep tertulis ‘sir’ yang berarti sirup. Dan obat
kedua (Cefspan) bentuk sediaannya yaitu suspensi karena tertulis ‘susp’ pada resep
yang berarti suspensi. Selanjutnya aturan pakai pada obat Tempra dan Actifed
sama yaitu diminum 3 x sehari karena terdapat tulisan ‘s 3 dd’ pada resep pertama
dan ‘stdd’ pada obat ketiga Pada obat kedua tertulis ‘sbdd’ yang merupakan
singkatan dari signa bis de die yang artinya tandailah dua kali sehari. Dosis pada
obat kedua dan obat ketiga tertulis ‘1/4 cth’ yang merupakan singkatan dari
cochlear theae yang berarti seperempat sendok teh dan pada obat pertama tertulis
’cth 1’ yang berarti satu sendok teh serta pada obat pertama tertulis ‘prn demam’
dimana ‘prn’ merupakan singkatan dari pro re nata yang berarti jika perlu dan
dibelakangnya diikuti keterangan deman yang berarti dipakai jika demam. Waktu

13
pemberian tidak tertera dalam resep, namun kelompok kami memberikan waktu
pemberian yaitu setelah makan karena berdasarkan literatur obat-obat yang tertera
pada resep diberikan setelah makan seharusnya apabila obat diberikan setelah
makan maka tertulis ‘p.c’ yang merupakan singkatan dari post coenam yang berarti
sesudah makan.

14
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
1. Pengkajian resep dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya
kelalaian pencantuman informasi, penulisan resep yang buruk dan penulisan
resep yang tidak tepat (Katzung, 2004).
2. Dalam penulisan resep kelengkapan administratif sudah diatur dalam
Peraturan Pemerintah Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014,
yang meliputi:
a. Nama pasien, umur, jenis kelamin, dan berat badan
b. Nama dokter, Nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon,
dan paraf
c. Tanggal Penulisan resep
3. Pada resep 1 ketidaklengkapan resep berupa tempat dan tanggal penulisan
resep serta berat badan pasien. Pada resep 2 ketidaklengkapan resep berupa
umut pasien, jenis kelamin, dan berat badan pasien

6.2 Saran
Menyadari bahwa dalam penulisan laporan masih jauh dari kata sempurna,
semoga kedepannya akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang
laporan di atas dan kami sangat mengharapkan kritikan dan saran dari pemaca
untuk menjadikan laporan kami lebih baik lagi.

15
DAFTAR PUSTAKA

Cohen M. R-MS.FASHP, 1999, Medical Errors, American Pharmaceutical


Association, Washington D

De Vries, TPGM, 1994, Guide to Good Prescribing A Practical Manual, p. 51 -54,


World Health Organization Action Programe on Essential Drug, Geneva.

Jas.2009.http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/. Diakses pada taggal 21Februari


2018
Rahmawati, Fita dan R.A. Oetari. 2002. Kajian Penulisan Resep: Tinjauan Aspek
Legalitas dan Kelengkapan Resep di Apotek-Apotek Kotamadya Yogyakarta.
Majalah Farmasi Indonesia, 13(2). Fakultas Farmasi: UGM.

Rifqi rohman, M. 2014. Singkatan Latin.Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.


http: //m-rifqi-rokhman.staff.ugm.ac.id. Diakses pada 21 Februari 2018
Rifqi rohman, M. 2014. Salinan Resep.Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta http://
m-rifqi-rokhman.staff.ugm.ac.id/2014/03/09/salinan-resep-lengkap/
Zaman-Joenoes N., 1994, Ars Prescribendi Resep Yang Rasional, Jilid I, Airlangga
Press, Surabaya

16