Anda di halaman 1dari 66

TINJAUAN MATA KULIAH

1. Deskripsi Singkat

Mata kuliah ini mempelajari tentang praktek pengenalan karakteristik ternak, teknik
pengukuran dan penilaian variabel-variabel yang digunakan dalam penentuan keunggulan ternak,
penilaian ternak berdasarkan penampilan, pelaksanaan kontes dan seleksi ternak.

2. Relevansi

Kemampuan menilai ternak sangat menjunjang keahlian di bidang peternakan, terutama


sekali sebagai peternak profesional. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan untuk memilih ternak, baik
untuk tujuan menentukan calon bibit yang produktif, calon pembesaran dan penggemukan yang
produktif dan efisien, maupun ternak yang akan dipotong supaya menghasilkan daging yang banyak
dan berkualitas baik. Ketrampilan ini juga dapat digunakan untuk menjunjang kegiatan dalam
kont3es ternak, baik sebagai juri dalam kontes ternak, maupun juri dalam lomba juri kontes ternak.

3. Sasaran Standar Kompetensi

a) Mampu mengidentifikasi sifat-sifat unggul berbagai jenis bangsa/ras dan tipe ternak
b) Mampu melakukan penilaian terhadap potensi dan prospek berbagai jenis ternak, baik untuk
tujuan pembibitan, pembesaran, penggemukan, pemotongan, maupun produksi susu (ternak
perah)
c) Mampu memilih ternak berdasarkan hasil penilaian, baik untuk tujuan seleksi dalam
mendapatkan ternak unggul maupun dalam mengidentifikasi ternak yang tidak produktif
untuk pengafkiran ternak.
d) Mampu menjalankan tugas sebagai juri dalam kontes ternak

4. Sasaran Kompetensi Dasar

4.1. Mampu menjelaskan pengertian dan kegunaan dari penilaian ternak


4.2. Mampu mendiskripsikan ternak ideal
4.3. Mampu mendeskripsikan, mengukur dan menilai variabel-variabel kualitatif
4.4. Mampu mendeskripsikan , mengukur, dan menilai variabel-variabel kuantitatif
4.5. Mampu menangani ternak secara benar
4.6. Mampu menggunakan kartu skor penilaian ternak
4.7. Mampu menjalankan penilaian ternak secara komparatif dan kompetitif
4.8. Mampu mendeskripsikan karakteristik fisik berbagai ras dan tipe ternak kambing dan domba
yang populer
4.9. Mampu melakukan penilaian terhadap ternak kambing dan domba secara komprehesif
4.10. Mampu menjalankan tugas sebagai juri dalam kontes ternak kambing dan domba
4.11. Mampu mendeskripsikan karakteristik fisik berbagai ras dan tipe ternak sapi yang populer
4.12. Mampu melakukan penilaian terhadap ternak sapi secara komprehesif
4.13. Mampu menjalankan tugas sebagai juri dalam kontes ternak sapi
4.14. Mampu mendeskripsikan karakteristik fisik berbagai ras dan tipe ternak Babi yang populer
4.15. Mampu melakukan penilaian terhadap ternak babi secara komprehesif
4.16. Mampu menjalankan tugas sebagai juri dalam kontes ternak babi
4.17. Mampu mendeskripsikan karakteristik fisik berbagai ras dan tipe ternak kuda yang populer
4.18. Mampu melakukan penilaian terhadap ternak kuda secara komprehesif
4.19. Mampu menjalankan tugas sebagai juri dalam kontes ternak kuda

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 1


5. Susunan Bahan Ajar

Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan


Teknik Penilaian Ternak a. Penanganan ternak (handling)
b. Gambaran tentang ternak ideal
c. Penggunaan kartu skor
d. Penilaian komparatif
e. Penilaian kompetitif (kontes)
Variabel Penilaian Ternak a. Variabel kualitatif
b. Variabel kuantitatif
Penilaian Ternak Kambing a. Karakteristik berbagai bangsa dan tipe kambing dan domba yang
dan Domba terkenal
b. Ukuran produktivitas dan penampilan fisik ideal
c. Judging (terminologi bagian tubuh, pengukuran variabel: kualitatif
dan kuantitatif, kartu skor, interpretasi hasil penilaian)
d. Aplikasi penilaian ternak dalam menentukan keunggulan ternak,
kontes kambing dan domba.
Penilaian Ternak Perah a. Karakteristik berbagai ras sapi perah yang terkenal
b. Ukuran produktivitas dan penampilan fisik ideal sapi perah
c . Judging (terminologi bagian tubuh, pengukuran variabel: kualitatif
dan kuantitatif, kartu skor, interpretasi hasil penilaian) pada sapi
perah
d. Aplikasi penilaian dalam menentukan keunggulan ternak perah,
kontes sapi perah.
Penilian Ternak Sapi a. Karakteristik berbagai bangsa sapi potong yang terkenal
Potong b. Ukuran produktivitas dan penampilan fisik ideal sapi potong
c . Judging (terminologi bagian tubuh, pengukuran variabel: kualitatif
dan kuantitatif, kartu skor, interpretasi hasil penilaian) pada sapi
potong
d. Aplikasi penilaian ternak dalam menentukan keunggulan sapi
potong,
Penilaian Ternak Babi a. Karakteristik berbagai ras babi yang terkenal
b. Ukuran produktivitas dan penampilan fisik ideal ternak babi
c . Judging (terminologi bagian tubuh, pengukuran variabel: kualitatif
dan kuantitatif, kartu skor, interpretasi hasil penilaian) pada ternak
babi
d. Aplikasi penilaian ternak dalam menentukan keunggulan babi,
kontes ternak babi.
Penilaian Ternak Kuda a. Karakteristik berbagai bangsa dan tipe kuda yang terkenal
b. Ukuran produktivitas dan penampilan fisik ideal
c . Judging (terminologi bagian tubuh, pengukuran variabel: kualitatif
dan kuantitatif, kartu skor, interpretasi hasil penilaian) pada ternak
kuda
d. Aplikasi penilaian ternak dalam menentukan keunggulan ternak
kuda, kontes ternak kuda.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 2


POKOK BAHASAN I
TEKNIK PENILAIAN TERNAK

1.1. Pendahuluan

1.1.1. Deskripsi Singkat

Pada pokok bahasan ini mahasiswa akan mempelajari tentang berbagai langkah teknis yang
digunakan dalam menilai ternak. Langkah-langkah teknis tersebut meliputi: bagaimana cara
menangani (handling) untuk mendukung kegiatan keperluan penilaian ternak, mengenali
karakteristik ideal dari ternak, menggunakan kartu skor, mengaplikasikan cara penilaian secara
komparatif, dan kompetitif.

1.1.2. Relevansi

Kompetensi dasar yang diperoleh melalui pokok bahasan ini akan dapat digunakan untuk
mendasari pengembangan kemampuan menilai ternak secara komprtehensif

1.1.3. Standar Kompetensi

Mampu mempersiapkan diri untuk melakukan penilaian terhadap ternak

1.1.4. Kompetensi Dasar

a. Mampu menangani ternak secara benar


b. Mampu mendeskripsikan karakteristik fisik ternak ideal
c. Mampu membaca dan menggunakan kartu skor
d. Mampu melakukan penilaian ternak secara komparatif
e. Mampu melakukan penilaian ternak secara kompetitif

1.1.5. Indikator

a. Mahasiswa mampu menggiring ternak sapi, kambing, dan domba dari lapangan terbuka ke
dalam kandang, mampu merebahkan ternak sapi dengan menggunakan tali dalam waktu
kurang dari 10 menit, dan Mahasiswa mampu menangkap, memegang dan mendudukkan
kambing dan domba tanpa menggunakan tali dalam waktu kurang dari 2 menit
b. Mahasiswa mampu menggunakan ceck-list untuk mendeskripsikan karakteristik fisik ideal
secara tertulis dan lisan terhadap ternak sapi, kambing, domba, babi, dan kuda.
c. Jika diberikan minimal 2 contoh data dalam kartu skor, mahasiswa mampu
memperbandingkan keunggulan 2 ekor ternak tersebut dengan dengan benar

1.2. Penyajian

1.2.1. Penanganan (handling) Ternak

Pananganan terhadap ternak merupakan aspek penting yang harus dikuasai oleh seorang
peternak terutama karena berhubungan dengan manajemen pemeliharaan ternak. Tindakan-
tindakan yang akan dilakukan terhadap ternak, baik oleh peternak atau dokter hewan biasanya
Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 3
memerlukan penguasaan ternak, sehingga ternak dapat dipersiapkan sesuai yang diinginkan oleh
peternak atau dokter hewan tersebut. ”Handling” merupakan suatu tindakan untuk menguasai dan
mengendalikan ternak agar ternak mudah untuk diperlakukan sesuai dengan kehendaknya (Battaglia
dan Mayrose, 1981).
Handling dalam manajemen ternak dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu untuk
tujuan menguasai ternak sepenuhnya dan untuk menguasai ternak tidak sepenuhnya. Menguasai
ternak sepenuhnya biasanya diperlukan untuk mempersiapkan tindakan-tindakan seperti
penyembelihan ternak, kastrasi, ”dehorning” (pemotongan tanduk) maupun pemasangan tali
kendali. Menguasai ternak tidak sepenuhnya, dalam arti hanya bagian-bagian tertentu saja yang
dikuasai biasanya ditujukan untuk mempersiapkan ternak untuk tindakan-tindakan kecil yang masih
memungkinkan ternak masih dapat bergerak secara terbatas. Perlakuan-perlakuan tersebut misalnya
menggiring ternak, menuntun ternak, membersihkan teracak dan menguasai bagian ekor ternak
(Blakely dan Bade, 1994).

Dalam penanganan ternak untuk tujuan menggiring ternak untuk dapat bergerak ke suatu
tempat atau ruang, peternak harus memperhatikan pola tingkah laku ternak yang akan ditangani.
Ternak besar (sapi, kerbau, kuda) memiliki pola tingkah laku yang khas, sehingga dalam
penanganannya juga sebaiknya disesuaikan dengan tingkah laku masing-masing jenis ternak
tersebut. Berikut dijelaskan beberapa pola tingkah laku ternak yang dapat digunakan sebagai
pedoman dalam menangani ternak:

(1) Ternak memiliki pola bergerak tertentu yang khas, sehingga menghasilkan ada daerah yang dapat
dijangkau oleh indera mata dan daerah yang tidak dapat dijangkau oleh indera mata ternak
tersebut. Peternak harung memahami konsep “flight zone” dan “point of balance” supaya
memudahkan dia dalam memindahkan ternak. Flight zone adalah wilayah personal dari ternak,
luas wilayah ini sangat tergantung dari disposisi atau liar tidaknya ternak tersebut. Ternak yang
jinak praktis tidak memiliki flight zone sama sekali, peternak dapat mendekat dan menyentuhnya
dengan leluasa. Ternak yang masih liar mulai bergerak untuk menghindar ketika peternak mulai
memasuki batas wilayah personalnya. Peternak dapat mendorong ternak untuk bergerak secara
tenang dengan cara menempatkan dirinya pada bagian tepi dan mulai memasukinya, jika ingin
menghentikan gerakan ternak tersebut maka peternak dapat bergerak mundur keluar dari flight
zone. Jika segerombolan ternak berjalan dan menghadapi hambatan bau (seperti asap) atau
bayangan gelap, maka berikan kesempatan kepada salah satu (pimpinannya) untuk melangkah
lebih dulu, sehingga ternak yang lain dapat bergerak mengikutinya. Peternak harus menghindari
wilayah blind spot di bagian belakang tubuhnya, karena ternak dapat terkejut sewaktu-waktu
begitu melihat seseorang berada dekat dengan dirinya.

(2) “Point of balance” adalah pundak dari ternak tersebut. Semua ternak akan bergerak maju jika
kita berada di posisi belakang point of balance, sebaliknya akan bergerak mundur jika kita
berada di depan point of balance. Seringkali terjadi peternak berada pada posisi yang salah saat
akan menggiring ternak untuk bergerak ke depan, yaitu berada di depan point of balance,
sehingga ternak tidak mau bergerak maju.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 4


Diagram Flight Zone, peternak harus berada pada posisi di batas tepi flight zone (B) untuk
menggerakkan ternak, dan berada pada posisi di luar batas tepi flight zone untuk menghentikan
gerakan ternak tersebut.

(3) Beberapa Tip yang dapat dilakukan dalam menangani ternak supaya tetap tenang dan dapat
digerakkan secara alami.
(a) Peternak harus tenang dan kalem, teriakan, hentakan dan gerakan tangan akan
menarik perhatian ternak dan mengagitasi ternak.
(b) Pada waktu mengangkat domba, hindari cara mengangkat dengan menjambak bulu
woolnya.
(c) Gunakan penerangan yang cukup, karena ternak memiliki kecenderungan untuk
bergerak dari daerah gelap menuju ke daerah yang lebih terang
(d) Perkecil sesuatu yang mengganggu perhatian ternak berada di depan jalan masuk
ternak, seperti kaleng yang mengkilat, bayang-bayang, genangan air, karena akan
menghentikan gerakan maju dari ternak.
(e) Arahkan gerakan angin untuk tidak menghembus ke wajah dari ternak, karena
dapat menghentikan gerakan ternak.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 5


(f) Gunakan dinding gangway yang rapat, karena akan mencegah terjadinya agitasi dari
ternak saat mereka melihat aktivitas di luar jalur masuk.
(g) Kurangi kegaduhan, karena ternak sangat sensitif terhadap kegaduhan.
(h) Giring ternak dalam kelompok kecil, untuk sapi dan babi ruangan cukup diisi 2/3
bagian saja, supaya mereka dapat bergerak dengan leluasa; sedangkan untuk
kambing dan domba dapat diisi penuh.
(i) Semprotkan air dari sisi atas tubuh ternak, khususnya babi, tetapi tidak ke arah
waja, karena dia akan berbalik arah.

Dalam penanganan ternak untuk menguasai sepenuhnya kita harus memperhatikan titik-titik
lemah pada bagian tubuh ternak besar, jika bagian-bagian tubuh tertentu dari ternak besar tersebut
diberi tekanan atau tegangan tertentu, maka ternak tidak mampu bergerak. Lihat sketsa berikut,
kemudian praktekkan dengan menggunakan tali mengikuti sketsa tersebut. Setelah ternak dapat
direbahkan, selanjutnya dapat dilakukan tindakan tertentu kepada ternak, seperti misalnya
pengobatan, pemasangan identitas (contoh: ear tagging), kastrasi dan sebagainya.

Gambar Berbagai Cara Mengikat dan Merebahkan Ternak Menggunakan Tali

Gambar Cara Mengikatkan Tali Kendali pada Ternak Sapi dan Kerbau

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 6


Gambar cara memegang kaki belakang untuk penanganan pembersihan luka dan potong kuku

1.2.2. Karakteristik Ternak ideal

Ternak ideal sebenarnya hanya imajiner, artinya hanya ada di angan-angan saja, karena di
dunia ini tidak ada makhluk yang ideal. Biasanya sifat-sifat unggul pada ternak hanya ditemukan
pada bagian-bagian tertentu saja, sedangkan di bagian-bagian yang lain tidak unggul. Sangat sulit
bagi kita untuk dapat menemukan semua sifat-sifat unggul pada seekor ternak. Itulah sebabnya
maka ternak ideal hanya ada di angan-angan. Walaupun hanya ada di angan-angan, gambaran
tentang ternak ideal ini sangat dibutuhkan dalam penilaian ternak, karena berfungsi sebagai
pembanding bagi ternak yang mau dinilai. Ibaratnya ternak ideal memiliki sifat-sifat fisik dengan nilai
100, karena semuanya perfect bagus atau unggul, maka sifat-sifat fisik ternak yang akan dinilai
diperbandingkan dengan ternak idel tersebut.
Sifat-sifat unggul pada ternak dapat dideskripsikan dengan menekankan pada sifat-sifat
khusus sesuai tipe atau tujuan ternak dibudidayakan. Deskripsi ternak ideal untuk ternak potong
tentu saja lebih menekankan pada sifat-sifat fisik yang berhubungan dengan perototan dari ternak
tersebut, sedangkan untuk ternak perah lebih menekankan pada sifat-sifat yang berhubungan
dengan kemampuan dalam menghasilkan susu. Demikian juga dengan ternak calon induk,
difokuskan pada sifat-sifat yang berhubungan dengan kemampuan untuk bunting dan menyusui.
Dengan demikian, deskripsi ternak ideal selalu berkaitan dengan sifat-sifat utama sesuai dengan tipe
atau tujuan ternak tersebut dibudidayakan.
Contoh deskripsi ternak perah ideal:
(1) Penampilan umum: kerangka tubuh (tongkrongan) feminin, kokoh, posisi badan tegak, badan
panjang, lekuk-liku tubuhnya halus sehingga memberikan impresi berjalan yang elegan dan
cantik.

Gambar Menunjukkan perbedaan bentuk tubuh. Sapi di atas sama-sama ras Guerensey, memiliki catatan
produksi susu yang relatif sama besar, tetapi antara keduanya akan memiliki perbedaan kemampuan dalam
mempertahankan produksinya. Sapi sebelah kiri akan memiliki kemampuan mempertahankan produksi lebih

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 7


baik dari sapi kanan ( W. B. NEVENS and A. F. KUHLMAN. 1935. SELECTING DAIRY CATTLE. Univesrity of Illinois,
Urbana)

(2) Karakter perah: bentuk tubuh (angularity) dan struktur pertulangan yang halus, permukaan
tubuh yang halus, dan memiliki bukti-bukti kemampuan menghasilkan susu saat laktasi.

Gambar Menunjukkan perbedaan suidut-sudut kerangka tubuh. Sapi sebelah kiri menggambarkan tipe perah
yang nyata berdasarkan tonjolan susut-sudut bentuk tubuh (Kansas 4-H, 1999. Dairy Cattle Leader Notebook, Kansas
State University).

(3) Kapasitas badan (feeding Capacity): Badan relatif besar proporsional dengan ukuran tubuh,
umur dan periode laktasi, menunjukkan ukuran fisik kapasitas yang besar, kokoh, kemampuan
tumbuh dan ketahanan yang bagus.

Gambar perbedaan feeding capacity antara sapi sebelah kiri (lebih bagus) dari sapi sebelah kanan
(W. B. NEVENS and A. F. KUHLMAN. 1935. SELECTING DAIRY CATTLE. Univesrity of Illinois, Urbana)

(4) Sistem ambing: melekat kuat, elastis (lentur), seimbang dengan kapasitas yang cukup, kualitas
bagus (kenyal), mudah mengeluarkan susu, mengindikasikan mampu menghasilkan susu dalam
jumlah besar dalam jangka waktu lama.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 8


Gambar menunjukkan sapi sebelah kiri memiliki ambing dengan perlekatan yang lebih baik,
lebih simetri dan kapasitas yang lebih besar dari pada sapi sebelah kanan ( W. B. NEVENS and A. F. KUHLMAN.
1935. SELECTING DAIRY CATTLE. Univesrity of Illinois, Urbana)

Contoh deskripsi Sapi Potong ideal:

(1) Ukuran kerangka tubuh (frame size): berat, badan dalam dan lebar, garis perut relatif rendah
(2) Perototan (muscle ticknes): perototan yang tebal, nampak pada bagian round, berisket, dan loin

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 9


Cooperative Extension Service, 1996. Livestock Judging Guide. Kansas State University • Manhattan

Contoh Karakteristik Domba Ideal

Karakteristik domba siap potong yang ideal digambarkan oleh:


 Garis punggung yang panjang dan lurus
 Rump yang panjang dan tinggi (dari hooks ke pins)
 Peralihan bentuk yang rapi dari pundak, dada dan bagian tengah
 Pertuilangan yang berat
 Posisi kaki yang berjarak cukup antara kanan dan kiri
 Loin yang panjang, dalam dan berotot
 Paha yang tebal dan berisi
 Perlemakan tubuh yang cukup, tidak berlebihan (tebal lemak punggung 0.1 sampai 0.2 inchi
pada iga ke 12 dan 13)

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 10


Gambar menunjukkan konformasi ideal untuk domba siap potong ( CIMC · Oklahoma Department of
CareerTech. 2007. Agricultural Education IThe Sheep Industry Information Sheet)

Cooperative Extension Service, 1996. Livestock Judging Guide. Kansas State University • Manhattan

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 11


Contoh Karakteristik Ternak Babi Ideal

Cooperative Extension Service, 1996. Livestock Judging Guide. Kansas State University • Manhattan

Contoh konformasi ideal ternak kuda

(A) Ideal (B) Tidak Baik

1.2.3. Kartu Skor

Kartu skor dalam penilaian ternak merupakan alat bantu yang digunakan dalam
mengorganisir hasil penilaian untuk memudahkan dalam mengkompilasi hasil penilaian terhadap

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 12


variabel-variabel yang dinilai. Hasil penilaian terhadap variabel-variabel ini perlu diorganisir, karena
masing-masing variabel memiliki bobot yang tidak sama dalam memberikan kontribusi terhadap
hasil akhir penilaian. Sebagai contoh variabel kesesuaian umur dengan bobot badan dalam
penilaian ternak memiliki bobot yang berbeda dengan kondisi tubuh atau tingkat kegemukan. Oleh
karena itu, penggunaan kartu skor ini diharapkan dapat mempermudah dalam mengkompilasi hasil
penilaian.
Kartu skor dalam penilaian ternak memiliki bentuk yang sangat bervariasi, namun demikian
pada umumnya memuat kolom-kolom nomor urut variabel, nama variabel yang dinilai, bobot nilai
variebel, dan nilai akhir dari masing-masing variabel. Pada kolom varuiabel biasanya juga diisi
dengan nama kelompok variabel, sebagai contoh: penampilan umum, kepala dan leher, tubuh bagian
depan, tubuh bagian tengah, dan tubuh bagian belakang. Kelompok-kelompok variabel tersebut
kemudian dirinci menjadi variabel-variabel yang lebih kecil. Pada kolom bobot nilai, biasanya
menggunakan skala 100, tetapi ada juga yang menggunakan skala 10, sehingga jika menggunakan
skala 100, maka ternak yang ideal akan mendapatkan nilai maksimal 100. Sebaliknya jika
menggunakan skala 10, maka ternak yang dianggap ideal akan mendapatkan nilai maksimal 10. Pada
kolom nilai, diisi dengan nilai terhadap hasil pengukuran variabel. Kolom nilai variabel diisi dengan
mengalikan hasil penilaian variabel dengan bobot variabel tersebut. Sebagai contoh: apabila variabel
kondisi tubuh dari ternak tersebut sangat baik dan diberi nilai 90, maka angka 90 ini dikalikan dengan
bobot variabel kondisi tubuh. Sehingga jika dijumlahkan seluruh nilai variabel tersebut nantinya
menjadi maksimal 100 (untuk skala nilai 100) atau 10 (untuk skala nilai 10).

Gambar Contoh Kartu Skor untuk penilaian ternak domba.

No. Variabel Boboti Nilai Nilai Akhir


PENAMPILAN UMUM -------------37%
1 Bobot (kesesuaian dengan umur) 4
2 Bentuk (punggung dan garis perut lurus, dalam, luas, garis perut 13
rendah, kompak, simetris)
3 Kondisi (dalam, perototan, perlemakan pada pangkal ekor, loin, 12
punggung, iga, pundak, isi antara brisket dan shoulder)
4 Kualitas ( bulu halus, pertulangan halus dan kuat, kulit tidak tebal) 8
KEPALA DAN LEHER ----------------------9%
5 Kepala (penampilan bersih, mulut besar, bibir tipis, lubang hidung 5
besar, mata besar dan jernih, wajah pendek, jidad lebar, telinga
tidak kasar, dengan jarak antara keduanya relatif lebar)
6 Leher (pendek, tebal, berisi penuh pada pertemuan dengan 4
pundak)
TUBUH BAGIAN DEPAN -------------10%
7 Pundak (tertutup dengan daging, kompak pada bagian puncak, 8
terhubung secara halus dengan leher dan badan)
8 Belikat (bentuk secara keseluruhan bulat dan lebar) 1
9 Kaki (lurus, pendek, saling berjauhan antara keduanya, kuat, penuh 1
berisi, peretulangan halus)
BADAN --------------------------------------------18%
10 Dada (lebar, dalam, berisi) 2
11 Iga (melengkung dengan baik, panjang, saling berdekatan antara 4
bilah satu dengan lainnya, tertutup daging yang tebal)
12 Punggung (luas, lurus, tebal, dan tertutup daging) 6
13 Loin (tebal, luas, tertutup daging dengan baik) 6
TUBUH BAGIAN BELAKANG-----------------17%
14 Hips (saling berjauhan, dalam, berisi) 1
15 Rump (panjang, level, lebar ke arah pangkal ekor, tebal pada 5
pangkal ekor)
16 Thight (penuh, dalam, lebar) 5
1 Loin (tebal, luas, tertutup daging dengan baik) 5
18 Legs (lurus, pendek, kuat, pertulangan halus) 1
WOOL-------------------------------------------------9%
19 Kuantitas (panjang, padat, merata dalam hal kepadatan dan ukuran 3
panjang)

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 13


20 Kualitas (ikal, merata pada semua bagian kulit) 3
21 Kondisi (tidak kusam, tidak tercampur dengan material lain) 3
TOTAL 100

Gambar Contoh Kartu Skor untuk Sapi Perah:

1.2.4. Teknik Penilaian Komparatif dan Kompetitif

Hasil penilaian terhadap ternak yang sudah dituangkan ke dalam kartu skor dapat
disimpulkan secara komparatif maupun kompetitif. Penilaian secara komparatif merupakan
penilaian ternak secara individual, yaitu hanya ingin membandingkan terhadap karakteristik ternak
ideal. Sebagai contoh jika kita ingin tahu beberapa baik seekor ternak sebagai ternak perah? Maka
kita akan menilai ternak tersebut kemudian membandingkannya dengan ternak perah ideal.
Penilaian komparatif juga dapat digunakan untuk membandingkan tingkat keunggulan 2 ekor ternak,
artinya membandingkan hasil penilaian seekor ternak dengan seekor ternak lainnya. Pada
prakteknya dalam penilaian ternak secara komparatif, kita tinggal membandingkan nilai total dari
penilaian dengan kartu skor. Ada kalanya waktu kita akan membandingkan nilai keunggulan dari 2
ekor ternak, kita temukan total nilai kedua ternak tersebut sama besar. Jika hal ini terjadi, maka kita
harus melihat nilai variabel-variabel utama untuk tipe atau tujuan penilaian ternak tersebut. Sebagai
contoh jika kita akan menilai ternak perah, maka variabel-variabel sistem ambing dapat kita
bandingkan untuk menentukan mana diantara dua ekor ternak tersebut yang unggul nilai sistem
ambingnya, itulah ternak yang lebih unggul, walaupun total nilainya sama.
Lihat contoh penilaian komparatif terhadap sapi perah di bawah ini: Jika sapi perah ideal
nilainya 100, maka sapi A memiliki nilai sebesar 64,5, sedangkan sapi B sebesar 71,5. Jika
dibandingkan antara kedua sapi tersebut, maka sapi B lebih baik dari sapi A. Pada kasus sapi C dan D,
kedua ekor sapi memiliki total nilai yang sama, yaitu 76,25. Karena kedua ekor sapi tersebut memiliki
nilai total yang sama, maka untuk memutuskan sapi mana yang lebih baik sebagai sapi perah harus

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 14


dilihat variabel utamanya, yaitu variabel udder (ambing) yang ternyata sapi C lebih baik dari D.
Sehingga walaupun nilai totalnya sama dapat disimpulkan bahwa sapi D lebih baik dari sapi C.

Sapi A Sapi B
No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir
1 Frame 15 80 12,0 1 Frame 15 80 12,0
2 Dairy strength 25 50 12,5 2 Dairy strength 25 50 12,5
3 Rear feet and legs 20 70 14,0 3 Rear feet and legs 20 75 15,0
4 Udder 40 65 26,0 4 Udder 40 80 32,0
Total Nilai 100 64,5 Total Nilai 100 71,5

Sapi C Sapi D
No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir
1 Frame 15 72 10.8 1 Frame 15 75 11.25
2 Dairy strength 25 73 18.25 2 Dairy strength 25 80 20,0
3 Rear feet and legs 20 74 14.8 3 Rear feet and legs 20 75 15,0
4 Udder 40 81 32.4 4 Udder 40 75 30,0
Total Nilai 100 76.25 Total Nilai 100 76.25

Penilaian kompetitif adalah penilaian ternak dengan cara dikompetisikan, yaitu


membandingkan nilai beberapa ekor ternak (lebih dari 2 ekor), kemudian diurutkan nilainya untuk
dibuatkan urutan peringkat dari ternak terbaik hingga terburuk. Penilaian kompetitif ini biasanya
digunakan dalam lomba kontes ternak, yaitu dalam menentukan jura 1, juara 2, juara 3 dan
seterusnya. Contoh: jika ternak A, B, C, dan D pada contoh di atas dinilai secara kompetitif untuk
menentukan mana ternak peringkat 1, 2, 3, dan 4, maka kita dapat memperbandingkan total nilai
dari keempat ternak tersebut yaitu: Peringkat I =A, Peringkat II = B, Peringkat III = C dan D (karena
keduanya memiliki total nilai yang sama. Selanjutnya nilai udder (ambing) sapi C dan D harus
dibandingkan, dan haislnya sapi C lebih baik dari D. Sehingga berdasarkan hasil penilaian kompetitif
di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sapi Peringkat I=A, Peringkat II = B, Peringkat III = D, dan
Peringkat IV = C.

1.2.5. Latihan Praktek Menganani Ternak

Handling Ternak Sapi

Pada kegiatan ini mahasiswa akan berlatih atau mempraktekkan merebahkan sapi dengan
menggunakan tali. Untuk keperluan ini akan disediakan beberapa ekor sapi dan tali rami dengan
panjang 15 meter yang akan digunakan untuk mengikat ternak pada saat direbahkan.

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam merebahkan ternak ini adalah sebagai berikut:
(1) Memperbaiki letak dan keeratan tali leher yang sudah ada
(2) Memasang tali lalu membuat simpul mati dengan diikatkan pada bagian leher
ternak.
(3) Membuat simpul hidup pada bagian dada, tepat di belakang kaki depan ternak.
(4) Membuat simpul hidup yang sama dan diikat pada bagian perut, tepatnya di depan
kaki belakang.
(5) Menarik ujung tali leher dan ujung tali bagian belakang secara berlawanan arah sampai
ternak terjatuh (lihat gambar di atas), keempat kaki kemudian diikat, kaki depan diikat
menjadi satu, kaki belakang juga diikat menjadi satu.
(6) Setelah itu mahasiswa dapat memperagakan beberapa tindakan terhadap ternak, seperti
pemotongan kuku, membersihkan luka dan sebagainya.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 15


Selain cara-cara di atas, ada teknik handling lain untuk sapi yang memiliki tali kendali atau ”tali
hidung”. Prosedur handlingnya sebagai berikut :

(1). Tali ”hidung” diikat pada pohon yang kuat sedangkan ujung tali yang lain dililitkan dibagian
badan lalu tariklah berlawanan arah.
(2). Setelah sapi terjatuh, segera ikat keempat kakinya.

Handling pada Domba

Pada praktik handling ternak domba, mahasiswa akan mempraktekkan menguasai ternak
domba dengan cara memegang dengan dua tangan, tanpa menggunakan tali. Untuk
keperluan ini akan disediakan 5 ekor domba dengan berbagai ukuran bobot badan. Langkah-
langkah yang akan dilakukan dalam menguasai ternak domba adalah sebagai berikut:
(1). Menjepit secara pelan ternak domba (diantara kedua kaki) dengan menggunakan kedua
kaki, sambil menahan kepalanya dengan memegang dagu domba.
(2). Tangan yang satu memegang bagian moncong atau ”muzzle”, sedangkan yang lain
menahan badan samping.
(3). Selain cara di atas, juga ada teknik lain yaitu dengan mengunakan dua tangan, tangan yang
satu diposisikan memegang moncong dan tangan yang lain menekan tubuh belakang agar
ternak sedikit rendah posisinya.

Gambar Urut-urutan langkah handling ternak domba


1.2.6. Latihan Menggunakan Kartu Skor

Hitunglah nilai akhir masing-masing variabel dari penilaian ternak domba dengan
menggunakan kartu skor di bahwa ini. Cara menghitungnya dilakukian dengan mengalikan nilai
variabel pada kolom nilai dikalikan bobot variabel padakolom bobot dibagi 100. Hasil perhitungan
nilai akhir untuk semua variabel tersebut kemudian dijumlahkan, sehingga diperoleh nilai akhir dari
tenak tersebut.

KARTU SKOR UNTUK TERNAK DOMBA SIAP POTONG

No. Variabel Bobot Nilai Nilai


Akhir
PENAMPILAN UMUM -------------37%
1 Bobot (kesesuaian dengan umur) 4 80 --------
2 Bentuk (punggung dan garis perut lurus, dalam, luas, garis perut 13 75 --------

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 16


rendah, kompak, simetris)
3 Kondisi (dalam, perototan, perlemakan pada pangkal ekor, loin, 12 65 --------
punggung, iga, pundak, isi antara brisket dan shoulder)
4 Kualitas ( bulu halus, pertulangan halus dan kuat, kulit tidak tebal) 8 90 --------
KEPALA DAN LEHER ----------------------9%
5 Kepala (penampilan bersih, mulut besar, bibir tipis, lubang hidung 5 75 --------
besar, mata besar dan jernih, wajah pendek, jidad lebar, telinga
tidak kasar, dengan jarak antara keduanya relatif lebar)
6 Leher (pendek, tebal, berisi penuh pada pertemuan dengan pundak) 4 85 --------
TUBUH BAGIAN DEPAN -------------10%
7 Pundak (tertutup dengan daging, kompak pada bagian puncak, 8 70 --------
terhubung secara halus dengan leher dan badan)
8 Belikat (bentuk secara keseluruhan bulat dan lebar) 1 64 --------
9 Kaki (lurus, pendek, saling berjauhan antara keduanya, kuat, penuh 1 55 --------
berisi, peretulangan halus)
BADAN --------------------------------------------18%
10 Dada (lebar, dalam, berisi) 2 74 --------
11 Iga (melengkung dengan baik, panjang, saling berdekatan antara 4 68 --------
bilah satu dengan lainnya, tertutup daging yang tebal)
12 Punggung (luas, lurus, tebal, dan tertutup daging) 6 65 --------
13 Loin (tebal, luas, tertutup daging dengan baik) 6 84 --------
TUBUH BAGIAN BELAKANG-----------------17%
14 Hips (saling berjauhan, dalam, berisi) 1 78 --------
15 Rump (panjang, level, lebar ke arah pangkal ekor, tebal pada 5 54 --------
pangkal ekor)
16 Thight (penuh, dalam, lebar) 5 63 --------
17 Loin (tebal, luas, tertutup daging dengan baik) 5 76 --------

18 Legs (lurus, pendek, kuat, pertulangan halus) 1 82 --------


WOOL-------------------------------------------------9%
19 Kuantitas (panjang, padat, merata dalam hal kepadatan dan ukuran 3 75 --------
panjang)
20 Kualitas (ikal, merata pada semua bagian kulit) 3 74 --------
21 Kondisi (tidak kusam, tidak tercampur dengan material lain) 3 65 --------
TOTAL 100 --------

1.2.7. Latihan Penilaian Ternak secara Komparatif dan Kompetitif

Hitungnglah nilai akhir masing-masing kelompok variabel pada masing-masing sapi perah
berikut, lalu hitunglah nilai total akhir dari masing-masing ternak tersebut. Buatlah peringkat dari
ternak-ternak tersebut.
Sapi 1 Sapi 2
No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir
1 Frame 15 40 ------------- 1 Frame 15 75 -------------
2 Dairy strength 25 35 ------------- 2 Dairy strength 25 50 -------------
3 Rear feet and legs 20 65 ------------- 3 Rear feet and legs 20 75 -------------
4 Udder 40 75 ------------- 4 Udder 40 85 -------------
Total Nilai 100 ------------- Total Nilai 100 -------------
Sapi 3 Sapi 4
No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir
1 Frame 15 76 ------------- 1 Frame 15 60 -------------
2 Dairy strength 25 85 ------------- 2 Dairy strength 25 80 -------------
3 Rear feet and legs 20 84 ------------- 3 Rear feet and legs 20 85 -------------
4 Udder 40 70 ------------- 4 Udder 40 90 -------------
Total Nilai 100 ------------- Total Nilai 100 -------------

1.2.8. Rangkuman

Seseorang dapat melakukan penilaian ternak dengan benar jika dia didukung oleh
kemampuan dasar: mampu menangani ternak, memiliki kemampuan untuk mendeskripsikan ternak
ideal, menggunakan karu skor, dan mampu melakukan pengambilan kesimpulan terhadap hasil
pengukuran dan penilaian ternak. Kemampuan menangani ternak dapat dilakukan dengan

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 17


memanfaatkan pola tingkah laku ternak dan titik-titik kelemahan yang dimiliki oleh ternak. Kartu
skor adalah alat bantu dalam penilaian ternak, terutama sekali sangat berguna dalam mengkompilasi
hasil penilaian ternak, supaya dapat disimpulkan. Dalam prakteknya kartu skor dalam bentuk fisik
tidak selamanya digunakan, karena sekali lagi kartu ini hanya sebagai alat bantu kompilasi saja. Bagi
peternak senior mengkompilasi hasil penilaian dapat dilakukan tanpa bantuan kartu skor, yaitu
cukup dengan diangan-angan saja. Untuk membuat kesimpulan dari hasil penilaian ternak, kita dapat
melakukanperhitungan secara komparatif maupun kompetitif. Penilaian secara komparatif berarti
membandingkan nilai seekor ternak terhgadap ternak ideal, sedangkan penilaian secara kompetitif
membandingkan hasil penilaian dari beberapa ekor ternak untuk kemudian dibuat
pemeringkatannya.

1.3 Penutup

1.3.1. Tes Formatif

Jawablah semua soal berikut

(1). Point of balance merupakan titik bagian tubuh ternak yang dapat dimanfaatkan untuk
mengendalikan ternak untuk:
(a) bergerak ke samping kanan dan kiri
(b) bergerak maju dan mundur
(c) rebah dan berdiri
(d) bergerak maju-berhenti-mundur
(2) Posisi tepat point of balance pada seekor sapi berada pada:
(a) pundak
(b) leher
(c) kepala
(d) pangkal ekor
(3) jika kita akan menggerakkan ternak untuk maju, maka posisi kita sebaiknya berada pada
(a) sebelah luar dari point of balance
(b) sebelah dalam point of balance
(c) sebelah belakang point of balance
(d) sebelah depan point of balance
(4) Flight zone merupakan daerah personal dari seekor ternak. Daerah ini berupa lingkaran berada
mengelilingi ternak tersebut. Jika kita ingin menggerakkan ternak, maka posisi kita harusnya
berada di:
(a) bagian dalam batas flight zone di depan ternak
(b) bagian dalam batas flight zone tepat di belakang ternak
(c) bagian dalam batas flight zone di sisi kanan atau kiri belakang ternak
(d) bagian dalam batas flight zone di samping kiri atau kanan tubuh ternak
(5) bentuk fisik punggung domba siap potong yang ideal adalah :
(a) panjang dan lurus
(b) panjang agak cekung
(c) pendek dan lurus
(d) pendek dan cekung
(6) Rump pada domba siap potong yang ideal adalah
(a) pendek tidak begitu tinggi
(b) pendek dan rendah
(c) panjang dan tinggi
(d) panjang dan rendah
(7) Berikut adalah karakteristik paha domba siap potong yang paling tepat
(a) panjang tidak terlalu tebal

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 18


(b) panjang dan tebal
(c) pendek dan tidak terlalu tebal
(d) pendek dan tebal
(8) Sapi siap potong yang baik atau ideal diantaranya digambarkan oleh :
(a) kerangka tubuh yang berat dan perototan yang tebal
(b) kapasitas perut yang besar dan garis perut yang tinggi
(c) bagian round yang lurus dan brisket yang cekung
(d) bagian loin yang menonjol dan rump yang datar
(9) Lakukan penilaian terhadap ternak dengan melengkapi kolom nilai akhir pada kartu skor berikut

Nilai
No. Variabel Bobot Nilai
Akhir
PENAMPILAN UMUM -------------37%
1 Bobot (kesesuaian dengan umur) 4 90 --------
2 Bentuk (punggung dan garis perut lurus, dalam, luas, garis perut 13 75 --------
rendah, kompak, simetris)
3 Kondisi (dalam, perototan, perlemakan pada pangkal ekor, loin, 12 85 --------
punggung, iga, pundak, isi antara brisket dan shoulder)
4 Kualitas ( bulu halus, pertulangan halus dan kuat, kulit tidak tebal) 8 85 --------
KEPALA DAN LEHER ----------------------9%
5 Kepala (penampilan bersih, mulut besar, bibir tipis, lubang hidung 5 80 --------
besar, mata besar dan jernih, wajah pendek, jidad lebar, telinga
tidak kasar, dengan jarak antara keduanya relatif lebar)
6 Leher (pendek, tebal, berisi penuh pada pertemuan dengan pundak) 4 85 --------
TUBUH BAGIAN DEPAN -------------10%
7 Pundak (tertutup dengan daging, kompak pada bagian puncak, 8 80 --------
terhubung secara halus dengan leher dan badan)
8 Belikat (bentuk secara keseluruhan bulat dan lebar) 1 65 --------
9 Kaki (lurus, pendek, saling berjauhan antara keduanya, kuat, penuh 1 74 --------
berisi, peretulangan halus)
BADAN --------------------------------------------18%
10 Dada (lebar, dalam, berisi) 2 80 --------
11 Iga (melengkung dengan baik, panjang, saling berdekatan antara 4 75 --------
bilah satu dengan lainnya, tertutup daging yang tebal)
12 Punggung (luas, lurus, tebal, dan tertutup daging) 6 84 --------
13 Loin (tebal, luas, tertutup daging dengan baik) 6 86 --------
TUBUH BAGIAN BELAKANG-----------------17%
14 Hips (saling berjauhan, dalam, berisi) 1 80 --------
15 Rump (panjang, level, lebar ke arah pangkal ekor, tebal pada 5 90 --------
pangkal ekor)
16 Thight (penuh, dalam, lebar) 5 75 --------
17 Loin (tebal, luas, tertutup daging dengan baik) 5 90 --------

18 Legs (lurus, pendek, kuat, pertulangan halus) 1 95 --------


WOOL-------------------------------------------------9%
19 Kuantitas (panjang, padat, merata dalam hal kepadatan dan ukuran 3 80 --------
panjang)
20 Kualitas (ikal, merata pada semua bagian kulit) 3 84 --------
21 Kondisi (tidak kusam, tidak tercampur dengan material lain) 3 78 --------
TOTAL 100 --------

(10) Bandingkan nilai 4 ekor ternak sapi perah berikut ini, lalu buatkan peringkat diantara 4 ekor
ternak tersebut
Sapi 1 Sapi 2
No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir
1 Frame 15 50 ------------- 1 Frame 15 74 -------------
2 Dairy strength 25 85 ------------- 2 Dairy strength 25 55 -------------
3 Rear feet and legs 20 75 ------------- 3 Rear feet and legs 20 80 -------------
4 Udder 40 65 ------------- 4 Udder 40 75 -------------
Total Nilai 100 ------------- Total Nilai 100 -------------
Sapi 3 Sapi 4
No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir
1 Frame 15 78 ------------- 1 Frame 15 70 -------------
2 Dairy strength 25 65 ------------- 2 Dairy strength 25 60 -------------
3 Rear feet and legs 20 74 ------------- 3 Rear feet and legs 20 75 -------------
4 Udder 40 75 ------------- 4 Udder 40 95 -------------

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 19


Total Nilai 100 ------------- Total Nilai 100 -------------

1.3.2. Umpan balik

(1) Bandingkan jawaban saudara pada soal-soal tes formatif di atas dengan kunci jawaban yang ada
di butir 1.3.3.. Jika jawaban benar saudara sudah mencapai 90 % berati saudara sudah
kompeten. Selanjutnya perbanyak lagi latihan untuk meningkatkan lagi kompetensi anda. Jika
jawaban benar anda masih di bawah 90% artinya anda belum kompeten. Selanjutnya anda harus
berlatih, dan mengulang lagi untuk mempelajari materi-materi di atas.
(2) Lakukan praktek menangani ternak secara benar, baik berupa merebahkan ternak besar
menggunakan tali, maupun menguasai ternak domba dan kambing. Usahakan masing-masing
dari anda sudah memiliki pengalaman sendiri dalam menangani ternak , bukan hanya
menyaksikan teman mahasiswa lain.

1.3.3. Kunci Jawaban

(1). (b) bergerak maju atau mundur


(2). (a) pundak
(3). (c) sebelah belakang point of balance
(4). (c) bagian dalam batas flight zone di sisi kanan atau kiri belakang ternak
(5). (a) panjang dan lurus
(6) (c) panjang dan sama tinggi antara pin-bone dan hips
(7). (b) panjang dan tebal
(8). (a) kerangka tubuh yang berat dan perototan yang tebal
(9).

Nilai
No. Variabel Bobot Nilai
Akhir
PENAMPILAN UMUM -------------37%
3.6
1 Bobot (kesesuaian dengan umur) 4 90
Bentuk (punggung dan garis perut lurus, dalam, luas, garis perut 9.75
2 13 75
rendah, kompak, simetris)
Kondisi (dalam, perototan, perlemakan pada pangkal ekor, loin, 10.2
3 12 85
punggung, iga, pundak, isi antara brisket dan shoulder)
6.8
4 Kualitas ( bulu halus, pertulangan halus dan kuat, kulit tidak tebal) 8 85

KEPALA DAN LEHER ----------------------9%


Kepala (penampilan bersih, mulut besar, bibir tipis, lubang hidung
4
5 besar, mata besar dan jernih, wajah pendek, jidad lebar, telinga 5 80
tidak kasar, dengan jarak antara keduanya relatif lebar)
3.4
6 Leher (pendek, tebal, berisi penuh pada pertemuan dengan pundak) 4 85

TUBUH BAGIAN DEPAN -------------10%


Pundak (tertutup dengan daging, kompak pada bagian puncak, 6.4
7 8 80
terhubung secara halus dengan leher dan badan)
0.65
8 Belikat (bentuk secara keseluruhan bulat dan lebar) 1 65
Kaki (lurus, pendek, saling berjauhan antara keduanya, kuat, penuh 0.74
9 1 74
berisi, peretulangan halus)
BADAN --------------------------------------------18%
1.6
10 Dada (lebar, dalam, berisi) 2 80
Iga (melengkung dengan baik, panjang, saling berdekatan antara 3
11 4 75
bilah satu dengan lainnya, tertutup daging yang tebal)

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 20


5.04
12 Punggung (luas, lurus, tebal, dan tertutup daging) 6 84
5.16
13 Loin (tebal, luas, tertutup daging dengan baik) 6 86

TUBUH BAGIAN BELAKANG-----------------17%


0.8
14 Hips (saling berjauhan, dalam, berisi) 1 80
Rump (panjang, level, lebar ke arah pangkal ekor, tebal pada 4.5
15 5 90
pangkal ekor)
3.75
16 Thight (penuh, dalam, lebar) 5 75
Loin (tebal, luas, tertutup daging dengan baik) 4.5
17 5 90
0.95
18 Legs (lurus, pendek, kuat, pertulangan halus) 1 95

WOOL-------------------------------------------------9%
Kuantitas (panjang, padat, merata dalam hal kepadatan dan ukuran 2.4
19 3 80
panjang)
2.52
20 Kualitas (ikal, merata pada semua bagian kulit) 3 84
2.34
21 Kondisi (tidak kusam, tidak tercampur dengan material lain) 3 78
82.1
TOTAL 100

(10). Peringkat : sapi 4-sapi 3-sapi 2-sapi 1

Sapi 1 Sapi 2
No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir
1 Frame 15 50 7.5 1 Frame 15 74 11.1
2 Dairy strength 25 85 21.25 2 Dairy strength 25 55 13.75
3 Rear feet and legs 20 75 15 3 Rear feet and legs 20 80 16
4 Udder 40 65 26 4 Udder 40 75 30
Total Nilai 100 69.75 Total Nilai 100 70.85
Sapi 3 Sapi 4
No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir No. Variabel Bobot Nilai Nilai Akhir
1 Frame 15 78 11.7 1 Frame 15 70 10.5
2 Dairy strength 25 65 16.25 2 Dairy strength 25 60 15
3 Rear feet and legs 20 74 14.8 3 Rear feet and legs 20 75 15
4 Udder 40 75 30 4 Udder 40 95 38
Total Nilai 100 72.75 Total Nilai 100 78.5

1.3.4. Senarai

1.3.5. Daftar Pustaka

Battaglia, R.A., dan V.B. Mayrose. 1981. Handbook of Livestock Management Techniques. Prentice
Hall., Inc. New Jersey.

Blakely, J. dan D.H. Bade. 1994. The Science of Animal Husbandry. Prentice Hall Career &
Technology,New Jersey.

Grandin, T. 2010. Recommended Animal Handling Guidelines and Audit Guide:A Systematic Approach
to Animal Welfare. American Meat Institute Foundation. Washington, DC.

Holstein Foundation. 1989. Dairy Judging Volume 2. Brattleboro, Vermont.

Oklahoma Department of CareerTech. 2007. Agricultural Education I,The Sheep Industry


Information Sheet. Oklahoma Department of CareerTech. Oklahoma.
Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 21
POKOK BAHASAN 2
PENGUKURAN VARIABEL KUALITATIF

2.1. Pendahuluan

2.1.1. Deskripsi Singkat

Pada pokok bahasan ini mahasiswa akan mempelajari tentang variabel-variabel kualitatif
yang digunakan dalam penilaian ternak, bagaimana cara mendiskripsikan, mengukur, dan menilainya.

2.1.2. Relevansi

Kompetensi dasar yang diperoleh melalui pokok bahasan ini berupa kemampuan
mendeskripsikan, mengukur, dan menilai variabel kualitatif akan dapat digunakan sebagai alat untuk
melakukan penilaian terhadap berbagai jenis ternak.

2.1.3. Standar Kompetensi


a. Mampu menggunakan variabel-variabel kualitatif dalam penilaian ternak

2.1.4. Kompetensi Dasar

a. Mampu mendeskripsikan variabel-variabel kualitatif yang digunakan dalam penilaian ternak


b. Mampu mengukur variabel-variabel kualitatif yang digunakan dalam penilaian ternak
c. Mampu menilai variabel-variabel kualitatif yang digunakan dalam penilaian ternak

2.1.5. Indikator

a. Mampu menyebutkan dan mendeskripsikan minimal 10 jenis variabel kualitatif yang


digunakan dalam penilaian ternak
b. Mampu mempraktekkan cara mengukur minimal 5 variabel kualitatif yang digunakan dalam
penilaian ternak.
c. Mampu mempraktekkan cara menilai minimal 10 variabel kualitatif yang digunakan dalam
penilaian ternak

3. Penyajian

3.1.1. Konsep

Penilaian terhadap ternak pada prinsipnya merupakan kegiatan menganalisis atau mengurai
sifat-sifat atau karakteristik ternak menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau detail,
kemudian mengukur bagian-bagian sifat atau karakteristik tersebut, lalu melakukan penilaian
dengan cara membandingkan dengan karakteristik standar atau ideal dari ternak tersebut.
Sifat atau karakteristik ternak yang diukur dan dinilai tersebut dikenal dengan nama variabel.
Variabel yang diukur dan dianalisis dalam penilaian ternak dapat dibedakan menjadi variabel
kualitatif dan kuantitatif. Variabel kualitatif adalah variabel yang tidak dapat diukur dengan
ukuran metric, seperti kg, centimeter, dsb., oleh karena itu cara pengukurannya dilakukan
melalui pendekatan-pendekatan. Sedangkan variabel kuantitatif adalah variabel-variabel
yang dapat diukur dengan satuan metrik, seperti kilogram, hari, minggu, bulan, centimeter
dsb.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 22


Variabel kualitatif dalam penilaian ternak diukur melalui pendekatan-pendekatan,
teknis tertentu, karena sifatnya yang memang tidak memungkinkan diukur dengan alat ukur
kuantitatif, seperti alat penimbang, alat pengukur jarak, atau alat pengukur metrik. Dalam
penilaian ternak paling tidak ada 10 jenis variabel kualitatif, yaitu: kemurnian
ras/bangsa/breed/tipe, disposisi, konstitusi, struktur tubuh, kondisi tubuh, perototan,
penampilan, balance/seimbang/simetri, dan temperamen. Disamping itu masih ada
beberapa variabel lagi yang tidak begitu sering digunakan dalam penilaian ternak, seperti
karakter seks sekunder.

(1) Kemurnian ras


Sebelum membahas tentang kemurnian ras, sebaiknya perlu bahas dulu pengertian
mahasiswa yang belum benar terhadap beberapa terminologi dalam peternakan, seperti
pengertian tentang jenis ternak, bangsa, ras, breed, dan tipe ternak, Terminologi jenis
ternak memiliki pengertian sama dengan spesies, sehingga berbeda jenis berarti
berbeda spesies. Contoh ternak yang berbeda jenis adalah: sapi, kerbau, kuda, kambing,
domba, babi, dan ayam. Terminologi bangsa dalam dunia peternakan mengandung
pengertian asal negara atau cakupan wilayah yang lebih besar dari negara tempat ternak
tersebut awalnya mengalami domestikasi. Contoh ternak berbeda bangsa adalah: sapi
Eropa (Bos taurus), sapi India (Bos Indicus), sapi-sapi Asia Tenggara (Bos sondaicus).
Terminologi ras dipahami sebagai daerah asal ternak tersebut didomestikasi dengan
cakupan yang sama atau lebih kecil dari negara. Contoh ternak berbeda ras adalah: sapi
Freisien Holstein, sapi Brown Swiss, sapi Simmental, sapi Abrdeen Angus. Terminologi
breed dalam dunia peternakan digunakan untuk membedakan asal breeder yang
mengembangkan ternak tersebut. Contoh dari ternak yang berbeda ras adalah: sapi
Brangus, Brahman, Braford, Simbrah, ayam CPP, dsb. Terminologi tipe dalam dunia
peternakan digunakan untuk menggambarkan produk utama yang menjadi tujuan ternak
tersebut dibudidayakan. Contoh ternak berbeda tipe: ayam petelur, ayam pedaging, sapi
potong, sapi perah. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam
dunia peternakan terminologi-terminologi di atas harusnya digunakan secara benar,
supaya komunikasi diantara para ahli atau pelaku bisnis di bidang peternakan bisa
berjalan dengan baik.
Variabel kemurnian bangsa/ras, breed dan tipe dalam penilaian ternak sangat
penting dalam hal pembelian ternak bibit. Sebab orang membeli ternak bibit sama
dengan membeli kemampuan ternak tersebut untuk menurunkan sifat-sifat unggulnya
kepada anak-anak yang dihasilkan. Sehingga, semakin tinggi kemurnian ras yang dimiliki
oleh ternak tersebut, maka semakin mahal harga ternak tersebut sebagai calon induk
atau pejantan bibit. Variabel kemurnian ras dapat diukur dengan cara membandingkan
kemiripan karakteristik fisik ternak ras murninya. Berarti jika seseorang akan menilai
kemurnian ras dari seekor ternak, maka dia harus mampu menganalisis sifat-sifat fisik
khas apa saja yang seharusnya dimiliki oleh ras murninya. Misalnya sifat-sifat fisik yang
khas pada ras sapi A ada 20 butir, jika ternak yang sedang dinilai hanya memiliki 10 butir
sifat fisik yang sama dengan sifat fisik ras murninya, maka dapat dikatakan secara kasar
bahwa kemurnian sapi A tersebut hanya 50%. Nilai dari hasil pengukuran kemurnian ras
tidak selamanya paralel dengan hasil pengukurannya, tidak selalu semakin tinggi hasil
pengukuran kemurnian ras, berarti semakin baik nilainya. Contoh untuk ternak calon

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 23


bibit, semakin tinggi persentase kemurnian ras akan semakin baik nilai ternak tersebut,
karena diharapkan akan mampu menghasilkan keturunan yang unggul. Sebaliknya untuk
ternak siap potong, maka tidak perlu terlalu tinggi kemurnian rasnya, sebab peternak
tidak mengharap keturunan dari ternak siap potong. Ternak siap potong yang tinggi
kemurnian rasnya harga per-kilogram bobot hidup akan semakin mahal, sehingga
nilainya semakin buruk.

Contoh:

Gambar pada sisi kiri adalah sapi- Gambar pada sisi kiri adalah ternak domba
sapi bangsa Bos indicus, keduanya berbeda berbeda ras, Domba Ras Merino untuk
ras, sapi atas termasuk ras Ongole, sapi gambar atas, dan Anggora untuk gambar
bawah ras Brahman. Sedangkan sapi pada
bawah. Sedangkan pada sisi kanan Domba
sisi kanan termasuk Bangsa Bos taurus
Ras di atas menunjukkan adanya
perbedaan tipe

(2) Skala atau ukuran

Variabel ini mengacu pada hubungan antara panjang, dalam dan lebar badan yang
nantinya akan menggambarkan kapasitas produksi dan efisiensi penggunaan pakan.
Ternak seharusnya memiliki badan yang panjang, kedalaman yang cukup dan tulang iga

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 24


yang melengkung dengan sempurna, supaya mampu mengkonsumsi pakan dalam jumlah
besar dan mampu mengkonversikan menjadi daging dalam jumlah besar pula.
Hindarkan memilih ternak dengan badan yang pendek (tidak panjang), badan yang
sempit, jarak kaki yang sempt dan tulang iga yang lurus (tidak melengkung dengan
sempurna). Sebab ternak yang memiliki ciri fisik seperti disebutkan terakhir memiliki
kapasitas produksi yang rendah, di samping itu tidak efisien dalam memanfaatkan pakan.

Contoh Gambar 2 ekor sapi yang memiliki ukuran yang berbeda, sapi sebelah kiri memiliki
kapasitas yang lebih kecil dibandingkan sapi sebelah kanan

(3) Konformasi

Variabel konformasi menggambarkan keseimbangan (balance) ukuran bagian-bagian tubuh


ternak, misalnya antara kaki, badan, leher dan kepala. Konformasi juga menggambarkan nilai
simetri
• Simetri
• Posisi organ

(4) Disposisi

Disposisi dalam bidang peternakan memiliki pengertian yang berhubungan dengan


respon ternak pada waktu didekati, disentuh, diraba oleh peternak. Variabel disposisi
dapat diukur dengan cara mendekati, memegang/menyentuh atau meraba ternak
tersebut. Jika ternak tersebut memberikan respon yang agresif memberikan perlawanan,

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 25


maka dapat dikatakan bahwa disposisi ternak tersebut galak; sebaliknya jika ternak
tersebut seolah-olah tidak memberikan respon agresif, maka dapat dikatakan bahwa
disposisi ternak tersebut jinak. Selama ini masih banyak diantara peternak atau
mahasiswa yang salah dalam menggunakan terminologi temperamen untuk
menggambarkan galak dan jinaknya seekor ternak.
Penilaian terhadap variabel disposisi dapat dilakukan dengan mengkaitkan hasil
pengukuran tersebut dengan tujuan pemeliharaan ternak. Sebagai contoh: ternak yang
dipelihara dengan metode feed-lot atau dikerem dibutuhkan ternak dengan disposisi
jinak, karena peternak setiap hari selalu bersentuhan dengan ternak tersebut, sehingga
semakin jinak nilai disposisinya semakin baik. Sebaliknya, untuk ternak yang
digembalakan di ranch, disposisi jinak tidak terlalu menjadi bahan pertimbangan.
Contoh lain: untuk anjing penjaga, disposisi yang galak akan memiliki nlai yang baik.

(5) Konstitusi

Variabel konstitusi tubuh pada bidang peternakan digunakan untuk menggambarkan


kesesuaian bentuk dan ukuran bagian-bagian tubuh sesuai dengan fungsi fisiologis dalam
mendukung tipe ternak tersebut. Contoh ternak kuda pacu yang baik dipersyaratkan
memiliki tubuh dengan rongga dada yang berkembang dengan baik, sehingga ukuran
dadanya harusnya relatif lebih besar daripada perutnya. Sebab kuda pacu membutuhkan
oksigen yang banyak untuk mendukung metabolisme energi yang besar, sehingga dihasilkan
ATP dalam jumlah yang besar dan kontinyu. Sebaliknya, sapi perah yang baik dipersyaratkan
memiliki lambung/perut yang lebih besar daripada dadanya, sebab lambung/perut yang
besar sangat dibutuhkan untuk menampung pakan yang banyak untuk mendukung sintesis
susu sesuai dengan ipe perahnya.
Variabel konstitusi dapat diukur dengan membandingkan dimensi bagian-bagian
tubuh tertentu, seperti ukuran dada dibandingkan dengan ukuran perut. Variabel konstitusi
dapat dinilai dengan cara mempertimbangkan perbandingan hasil pengukuran tersbut
dengan tujuan ternak tersebut dibudidayakan. Contoh: ukuran perut yang relatif besar tidak
selalu nilainya baik, untuk ternak perah memang bernilai baik, tetapi untuk kuda pacu
nilainya buruk.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 26


Cont
oh Konstutusi Ternak Perah yang Baik, ukuran
tubuh bagian belakang harus lebih besar
daripada tubuh bagian depan

(6)

A. KEGIATAN PRAKTEK PENGUKURAN BEBERAPA VARIABEL KUALITATIF

a. Mengukur dan menilai perototan


Perhatian diagram di bawah ini, gunakan sebagai pedoman, lalu lakukan pengamatan
dan evaluasi terhadap ternak yang sudah disiapkan untuk materi praktikum. Bandingkan
dengan nilai ideal perototan untuk ternak bakalan atau ternak siap potong. Jelaskan
jawaban anda pada laporan praktikum.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 27


b. Mengukur dan Menilai Perlemakan

Perhatian diagram di bawah ini,gunakan sebagai pedoman, lalu lakukan pengamatan dan
evaluasi terhadap ternak yang sudah disiapkan untuk materi praktikum. Bandingkan dengan
nilai ideal perlemakan untuk ternak bakalan atau ternak siap potong. Jelaskan jawaban
anda pada laporan praktikum.

c. Menguk
ur dan
menilai
volume/skala

Perhatian diagram di bawah ini, gunakan sebagai pedoman, lalu lakukan pengamatan dan
evaluasi terhadap ternak yang sudah disiapkan untuk materi praktikum. Bandingkan hasilnya
dengan nilai ideal volume/skala untuk ternak bakalan atau ternak siap potong. Jelaskan
mana diantara ternak tersebut yang akan memiliki potensi lebih tinggi sebagai bakalan, atau
siap potong?

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 28


d. Pengukuran dan penilaian struktur

Perhatian diagram di bawah ini, gunakan sebagai pedoman, lalu lakukan pengamatan dan
evaluasi terhadap ternak yang sudah disiapkan untuk materi praktikum. Bandingkan hasilnya
dengan nilai ideal struktur untuk ternak bakalan atau ternak siap potong. Jelaskan mana
diantara ternak tersebut yang akan memiliki potensi lebih tinggi sebagai bakalan, atau siap
potong?

e. Pengukuran dan penilaian Body Condition Score (BCS)

Perhatikan gambar-gambar di bawah ini, gunakan sebagai pedoman, lalu lakukan


pengamatan dan pengukuran terhadap Body Condition Score (BCS) terhadap ternak yang sudah
disediakan.

Gambar Bagian-Bagian Tubuh Ternak Yang Diukur


Dalam menilai BCS

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 29


Gambar Penilaian Pangkal Ekor, Pins dan Hooks

Lakukan pengukuran dan penilaian BSC terhadap 4 ekor sapi yang sudah disiapkan
sebagai materi praktikum. Gunakan tabel penilaian BCS berikut sebagai alat bantu untuk
mempermudah pengukuran. Gunakan tanda contreng untuk yang memenuhi, dan silang
untuk yang tidak pada masing-masing variabel bagian tubuh ternak. Setelah selesai
buatlah kesimpulan berapa BCS-nya. Buatlah penjelasan sebagai berikut:
(1) Untuk ternak jantan yang saudara nilai, sapi mana yang paling menguntungkan untuk
dipotong dan dijual dengan patokan harga rupiah/kg karkas
(2) Untuk ternak betina yang saudara nilai, sapi-sapi tersebut butuh waktu berapa hari
lagi untuk dipelihara supaya siap dikawinkan?

TABEL PENILAIAN BCS


Sapi No. :...............................................
Ras : ..................................................

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 30


Jenis Kelamin : .....................................
BCS : ........................................
Nilai BCS
Bagian Tubuh
1 2 3 4 5

Nampak Nampak Nampak Agak nyata Tidak nyata


Spin tulang nyata nyata nyata
belakang
………… ………… ………… ………… …………

Nyata Nyata Nyata Iga bagian Iga No. 1 atau 2


depan nyata bisa jadi nyata
Iga
………… ………… ………… ………… …………

Nampak Nampak Nampak Nampak nyata Nampak Nyata


Hooks dan Nyata nyata nyata
pins
………… ………… ………… ………… …………

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Pangkal Ekor lemak lemak lemak lemak lemak

………… ………… ………… ………… …………

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Tulang Brisket lemak lemak lemak lemak lemak

………… ………… ………… ………… …………

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Penuh Penuh


Perototan
………… ………… ………… ………… …………

Nilai BCS
Bagian Tubuh
6 7 8 9

Tidak nyata Tidak nyata Tidak nyata Tidak nyata


Spin tulang
belakang ………… ………… ………… …………

Tidak Nyata Tidak Nyata Tidak Nyata Tidak Nyata


Iga
………… ………… ………… …………

Hooks dan Nampak Agak nyata Tidak nyata Tidak nyata


pins Nyata

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 31


………… ………… ………… …………

Tidak ada Sedikit Sedikit Berlemak


lemak Berlemak Berlemak banyak
Pangkal Ekor
………… ………… ………… …………

Sedikit Berlemak Berlemak Berlemak


Berlemak banyak sangat banyak
Tulang Brisket
………… ………… ………… …………

Penuh Penuh Penuh Penuh


Perototan
………… ………… ………… …………

Catatan:

1. Berikan tanda silang pada sel, sesuai dengan hasil pengamatan

2. Nilai BCS dapat diperoleh dengan melihat kolom terakhir dari sisi kiri yang semua selnya
terisi dengan tanda silang

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 32


POKOK BAHASAN 3:

PENGUKURAN DAN PENILAIAN VARIABEL KUANTITATIF

3.1. Pendahuluan

3.1.1. Deskripsi Singkat

Pada pokok bahasan ini mahasiswa akan mempelajari tentang variabel-variabel kuantitatif
yang digunakan dalam penilaian ternak, bagaimana cara mendiskripsikan, mengukur, dan menilainya.

3.1.2. Relevansi

Kompetensi dasar yang diperoleh melalui pokok bahasan ini berupa kemampuan
mendeskripsikan, mengukur, dan menilai variabel kuantitatif. Kemampuan ini dapat digunakan
sebagai alat untuk melakukan penilaian terhadap berbagai jenis ternak.

3.1.2. Standar Kompetensi


a. Mampu menggunakan variabel-variabel kuantitatif dalam penilaian ternak

3.1.4. Kompetensi Dasar

a. Mampu mendeskripsikan variabel-variabel kuantitatif yang digunakan dalam penilaian


ternak
b. Mampu mengukur variabel-variabel kuantitatif yang digunakan dalam penilaian ternak
c. Mampu menilai variabel-variabel kuantitatif yang digunakan dalam penilaian ternak

3.1.5. Indikator

a. Mampu menyebutkan dan mendeskripsikan minimal 5 jenis variabel kuantitatif yang


digunakan dalam penilaian ternak
b. Mampu mempraktekkan cara mengukur minimal 5 variabel kuantitatif yang digunakan dalam
penilaian ternak.
c. Mampu mempraktekkan cara menilai minimal 5 variabel kuantitatif yang digunakan dalam
penilaian ternak

3. 2. Penyajian

Variabel kuantitatif merupakan kelompok variabel lain (selain variabel kualitatif) ang diukur dan
dinilai dalam penilaian ternak. Berbeda dengan variabel kualitatif, variabel kuantitatif dapat diukur
dengan unit ukuran, seperti: kilogram, sentimeter, hari, bulan atau tahun. Dalam pengukuran
variabel kuantitatif kita bisa menggunakan alat ukur, seperti timbangan untuk mengukur bobot,
mistar ukur untuk mengukur ukuran panjang, tinggi, lebar atau kedalaman badan; pita ukur dapat
digunakan untuk mengukur lingkar dada; sedangkan hari/bulan/tahun untuk mengukur umur atau
suatu periode.

3.2.1. Penentuan Umur Ternak

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 33


Umur ternak dapat diperkirakan melalui 3 metode, yaitu dengan: melihat perkembangan tali
pusar pada waktu ternak masih baru lahir, melihat perkembangan cincin tanduk pada ternak
betina/induk, dan melihat perkembangan konfigurasi gigi geligi. Dari 3 metode tersebut konfigurasi
gigi geligi merupakan cara prediksi umur yang paling akurat dibandingkan dengan dua cara yang lain.

(1) Menentukan umur ternak dengan melihat perkembangan tali pusar


Pendugaan umur dengan melihat tali pusar hanya dapat dilakukan pada anak ternak yang baru
lahir, lebih tepat untuk menentukan hari atau tanggal lahir pedet setelah beberapa hari pedet
tersebut dilahirkan. Pada waktu atau saat dilahirkan bagian tali pusar yang melekat pada tubuh
masih tampak basah dan tidak berbulu. Setelah berumur 3 hari tali pusar akan terasa lunak apabila
diraba, umur 4-5 hari tali pusar mulai mengering, dan setelah berumur 7 hari bekas tali pusar sudah
mulai lepas serta bulu mulai tumbuh. Dengan demikian, kita dapat memperkirakan tanggal lahir
ternak dengan cara memperhatikan keadaan pangkal tali pusat yang masih melekat pada bagian
tubuh anak ternak. Cara penentuan umur dengan beradasrkan pada keadaan tali pusat ini biasanya
diperlukan pada peternakan besar yang ternaknya dilepas di padang penggebalaan.

(2) Menentukan umur dengan melihat cincin tanduk

Pendugaan umur ternak berdasarkan pertumbuhan tanduk dan cincin tanduk dapat dilakukan
untuk menduga umur induk ternak bertanduk. Prinsip pendugaan umur berdasarkan cincin tanduk
didasarkan pada status nutrisi ternak induk pada saat ternak tersebut bunting dan pergantian musim
hujan dan kemarau. Pada saat seekor ternak mengalami kebuntingan, pada umumnya jumlah
kebutuhan nutrisi (termasuk kalsium dan phosphor) sangat tinggi untuk mendukung pertumbuhan
anak yang dikandungnya, sehingga pertumbuhan tanduk selama periode tersebut akan terganggu,
sehingga akan terbentuk lekukan atau cekungan pada pangkal tanduk. Cekungan pada pangkal
tanduk tersebut lama-lama dengan berjalannya waktu akan bergeser ke arah bagian ujung tanduk,
karena tanduk mengalami pertumbuhan memanjang dari bagian pangkalnya. Berdasarkan jumlah
cincin tanduk yang ditemukan kita dapat memperkirakan umur dari induk, yaitu dengan cara
menambahkan rata-rata umur pertama kali beranak dengan periode jarak beranak (pada umumnya 1
sampai 1,5 tahun dikalikan jumlah cincin tanduk.

Pengukuran umur beradasarkan jumlkah cincin tanduk juga dapat dilakukan terhadap tenak
jantan yang dipelihara di dalam padang penggembalaan pada daerah kering, daerah yang memiliki
fluktuasi yang mencolok dalam hal ketersediaan pakan. Pada musim kemarau ketersediaan pakan
sangat terbatas akan menyebabkan pasokan nutrisi untuk pertumbuhan tanduk menjadi terganggu,
sehingga akan terbentuk cekungan pada bagian pangkal tanduk; sementara pada musim penghujan

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 34


saat pakan berlimpah akan menyebabkan pasokan nutrisi yang memadai untuk pertumbuhan
tanduk, sehingga bagian pangkal tanduk akan tumbuh secara sempurna. Hasil pengukuran umur
berdasarkan jumlah cincin tanduk kadang-kadang kurang akurat, karena pada keadaan tertentu kita
akan mengalami kesulitan dalam mendeteksi/ menentukan batasan cincin tanduk itu sendiri. Sulit
sekali membedakan mana cincin tanduk dan mana yang bukan cincin tanduk, walaupun cincin
tanduk yang sebenarnya lebih lazim dicirikan dengan adanya lekukan tanduk yang cukup nyata (Lihat
gambar).

Gambar Tanduk Ternak Sapi dengan Sejumlah Cincin Tanduk

2012 National Geographic Society

Pendugaan umur melalui lingkar atau cincin tanduk dapat dilakukan dengan cara memegang
bagian tanduk sapi atau kerbau kemudian meraba ada tidaknya kerutan menyerupai cincin atau
lingkar tanduk. Jika melalui perbaan ditemukan adanya lingkar atau cincin tanduk, maka hitunglah
berapa jumlah cincin tersebut. Estimasi umur ternak dapat dilakukan cara sebagai berikut:

Keadaan Umur

Tempat tanduk akan tumbuh agak keras 1 bulan

Tanduk agak kelihatan ± 3 cm 5 bulan

Tanduk ± 10 cm 1 tahun

Tanduk ± 15 cm 16-17 bulan

Banyaknya cincin tanduk (x + 2) tahun

(3) Dengan melihat pertumbuhan gigi

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 35


Pendugaan umur ternak ruminansia berdasarkan giginya, dapat dilakukan berdasarkan teori
pertumbuhan gigi pada ternak. Sapi dewasa memiliki gigi 32 buah (12 buah pada rahang atas dan 20
buah pada rahang bawah). Gigi geligi pada ternak ruminansia selama hidupnya akan mengalami
pertumbuhan dan perkembangan seperti halnya pada gigi manusia. Pada awalnya gigi susu akan
tumbuh mulai dari gigi seri ke gigi geraham, kemudian gigi susu tersebut akan berganti dengan gigi
permanen, pada tahap akhir gigi permanen tersebut dengan bertambahnya umur akan mengalami
keausan. Pendugaan umur pada ternak ruminansia dapat dilakukan dengan melihat perkembangan
gigi-geliginya sebagai berikut :

Rumus gigi ruminansia : 2 x I0 C0 P3 M3


I4 C0 P3 M3

Keterangan : I = Incicivus/gigi seri

C = Caninus/gigi taring
P = Premolar/gigi geraham depan (geraham berganti)
M = Molar/gigi geraham belakang (geraham tetap)

Dalam kegiatan praktikum ini mahasiswa pada awalnya akan diperkenalkan dengan cara
mengidentifikasi gigi geligi berbagai spesies ternak di laboratorium, termasuk memprediksi umur dari
masing-masing spesies ternak tersebut. Setelah menguasai metode identifikasi gigi geligi pada
ternak, kemudian mahasiswa akan praktik mengidentifikasi dan memprediksi umur ternak sapi dan
domba berdasarkan konfigurasi giginya. Pada kegiatan ini akan disediakan 5 ekor sapi dan 5 ekor
domba yang berbeda umurnya. Mahasiswa akan diberi kesempatan untuk membuka mulut dan
mengidentikasi konfigurasi gigi dan melakukan pendugaan umur dari ternak yang telah disediakan.
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tali yang besar dan kuat yang berfungsi
sebagai kendali agar ternak mudah dikuasai sepenuhnya. Pendugaan umur melalui gigi dilakukan
dengan cara membuka mulut sapi dan domba lalu mengamati susunan gigi kedua ternak tersebut.
Agar mulut ternak mudah dibuka, hidung atau moncong dipegang dengan tangan kiri dan agak
diangkat ke atas.

 Metode
Metode untuk menduga umur ternak ada dua cara yaitu :

A. Melalui gigi. Prosedurnya adalah sebagai berikut :


1. Membuka mulut sapi dan domba dengan cara hidung atau cungur dipegang dengan tangan kiri
dan agak diangkat ke atas.
2. Amati gigi yang poel atau gigi susu sudah berganti dengan gigi permanen pada ternak tersebut.
Gigi permanen dapat dibedakan dari gigi susu berdasarkan ukurannya yang lebih besar (gambar

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 36


di bawah). Gigi permanen ternak yang berumur relatif muda dengan yang sudah tua dapat
dibedakan berdasarkan kelengkapan dan jarak antara gigi satu dengan gigi lainnya.

Gambar Perkembangan Konfigurasi Gigi pada Ternak Domba

< 1 Tahun

1-2 Tahun

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 37


2 tahun

3 tahun

3-4 tahun

>4 tahun

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 38


>10 tahun

Susan Schoenian.Copyright© 2011. Sheep 101 and


201.http://www.sheep101.info/201/acquiringstock.html

Gambar Perkembangan Konfigurasi Gigi pada Ternak Sapi

2 tahun

The first permanent incisors (blue dots) come in from about


the time a cow is 1 1/2 years old to two years. By
approximately age two years they are fully developed.
They often come in at an angle and then straighten.

NOTE: Smaller teeth visible to the left and right of the first
permanent incisors are "milk" or "baby" teeth.

3 tahun

The second pair of permanent incisors (green dots) appear


somewhere around age 2 1/2 years, and are typically fully
developed by age three years.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 39


3 tahun

Sorry, we currently don't have mouth pictures of cows in


this age range. We'll add them to this article when we can.

At approximately age 3 1/2 years the third pair of


permanent incisors are cut and are fully developed by age
four years. Therefore, at approximately age four years, the
cow will have six permanent incisor teeth fully erupted and
in use.

5 tahun

At approximately age 4 1/2 years the last of the cow's


permanent incisor teeth (the "corner" incisors) are cut, and
are fully developed by age five years. Therefore, at age
five years, cows typically have all eight of their permanent
incisors erupted and in use. At this age the incisors are tall,
relatively flat across the front (when compared to older
ages), and sharp at the top.

NOTE: In the photos below all eight incisors were present


in the cow, but sometimes cannot be seen in the photos.

>7 tahun

After the age of seven some people will continue to


estimate a cow's age in years. However, it is not
uncommon around this time for a more general description
of age to be used. If this is the case, the term "short and
solid" might be used after the age of seven years.

A cow that is aged as "short and solid" will still have all
eight permanent incisor teeth (unless there has been tooth
loss due to some other cause except for age). Compared
to younger ages the teeth will be shorter, and the tops will
be smoother and less sharp. The teeth will also appear
more rounded from side-to-side, as opposed to appearing
more flat from side-to-side as seen in younger ages.

The term "solid" in the age "short and solid" can refer to at
least two things. "Solid" can mean there is no tooth loss,
and/or it can mean that there are not any notable gaps
between the teeth. Exactly what "solid" means (no tooth
loss and/or no gaps) can vary from region to region, sale
barn to sale barn, or person to person.

NOTE: In the photo below all eight incisors were present in


the cow, but cannot be seen in the photo.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 40


>8 tahun

In some areas, after the age of "short and solid" comes the
age of "short." Not all areas/persons recognize the age
"short" however, and will group cows in the "short" age
group into the "short and solid" age group.

If the age group "short" is used, it is similar to "short and


solid." However, a cow aged as "short" will have noticeable
gaps between her teeth as they separate due to wear and
age.
© 1998 - 2012 by CowboyWay.com

B. KEGIATAN PRAKTIKUM PENENTUAN UMUR

Lakukan pengamatan terhadap gigi geligi ternak yang sudah disiapkan, masing-masing mahasiswa
mengamati 4 ekor ternak. Buatlah prediksi umur ternak yang saudara ukur. Lalu lakukan penilaian
dengan cara membandingkan umur ternak-ternak tersebut dengan capaian bobot hidup. Buatlah
pembahasan dalam laporan praktikum saudara, apakah bobot hidup ternak-ternak tersebut terlalu
kecil atau terlalu besar untuk ternak seumurnya? Dari 4 ekor ternak yang saudara nilai tersebut mana
yang paling cocok (akan menguntungkan lebih banyak) untuk bakalan pada penggemukan? Jelaskan
jawaban saudara.

C. KONSEP PENDUGAAN BOBOT BADAN

Bobot badan beberapa spesies ternak dapat dihitung atau diprediksi dengan pendekatan
perhitungan berdasarkan beberapa ukuran tubuh, seperti panjang badan, lingkar dada, dan tinggi
pundak. Oleh karena itu sebelum melakukan perhitungan bobot badan ternak, mahasiswa harus
melakukan pengukuran terhadap ukuran bagian-bagian tubuh tersebut. Bagian-bagian tubuh yang
diukur tersebut antara lain :

1. Tinggi pundak (TP), adalah jarak titik tertinggi pundak sampai dengan tanah.
2. Panjang Badan (PB), adalah jarak lurus dari sendi bahu (humerus) sampai dengan benjolan pada
tulang tapis (tuber ischii).
3. Lingkar Dada, adalah jarak yang diukur dengan cara melingkarkan pita ukur pada bagian dada
ternak (tepat di belakang kaki depan).

Gambar Cara Pengukuran Bagian Tubuh pada Berbagai Spesies Ternak

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 41


Pendugaan bobot badan ternak dapat dilakukan dengan menggunakan rumus yang
telah dikembangkan oleh sejumlah peneliti. Rumus-rumus duga tersebut pada umumnya
memang dapat digunakan untuk spesies dan ras tertentu, sehinga kadang-kadang tidak
cocok jika digunakan untuk ternak yanvg lain. Berikut adalah contoh beberapat rumus duga
untuk ternak yang daspat digunakan dalam praktik.

1. Rumus Scrool :

BB (Kg) = {LD (cm) + 22}²

100

2. Rumus Winter :

BB (lbs) = LD² (inchi) x PB (inchi)

300

3. Rumus Winter yang telah disesuaikan oleh Arjodarmoko (1957) :

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 42


BB (Kg) = LD² (cm) x PB (cm)

10000

4. Bobot Badan untuk Kuda (pound)

Lingkar dada (inchi)x lingkar dada (inchi)x panjang badan (inchi) + 50 = Bobot

330

1998 - 2012 by CowboyWay.com - All Rights Reserved. http://www.cowboyway.com/HowTo/HorseWeight.htm)

D. KEGIATAN PRAKTIKUM PENDUGAAN BOBOT BADAN

Dalam kegiatan praktik pendugaan bobot badan ternak, mahasiswa akan berlatih menduga bobot
badan domba dan sapi dengan menggunakan beberapa rumus duga. Objek ternak yang dipakai
dalam praktikum pendugaan bobot badan adalah beberapa ekor ternak sapi. Ternak tersebut
sebaiknya terdiri dari beberapa kelompok bobot badan dan umur, sehingga mahasiswa bisa
membandingkan hasil pengukurannya. Pengukuran terhadap variabel bantu dilakukan dengan
menggunakan penggaris kayu atau mistar, pita ukur, dan tali untuk mengendalikan ternak supaya
mudah dilakukan pengukuran.

 Metode
Prosedur pendugaan bobot badan dapat dilakukian dengan urutan sebagai berikut :

1. Mengukur lingkar dada dari masing-masing ternak dengan cara melingkarkan pita ukur pada
posisi di bagian dada ternak (tepat di belakang kaki depan)
2. Mengukur panjang badan ternak dengan cara menggunakan mistar, ditarik garis lurus dari
sendi bahu sampai benjolan pada tulang tapis (pin-bone).
3. Mengukur tinggi pundak dari masing-masing ternak dengan cara menggunakan tongkat ukur,
yaitu ukur jarak titik tertinggi pundak sampai dengan tanah.
4. Menghitung bobot badan duga dengan menggunakan rumus duga.

Tugas

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 43


1. Bandingkan hasil pengukuran bobot badan sapi yang diperoleh melalui prediksi
berdasarkan rumus-rumus di atas dengan hasil penimbangan bobot badan menggunakan
timbangan ternak. Jika tidak sesuai, buatlah bahasan pada laporan saudara mengapa hal
tersebut bisa terjadi. Bandingkan beberapa rumus duga yang saudara pergunakan, mana
diantara rumus duga tersebut yang hasilnya paling mendekati bobot badan sesungguhnya.
Buat kesimpulan.
2. Pelajari kasus berikut:
Jika saudara mendapatkan tugas untuk membeli 500 ekor sapi calon induk. Saudara datang
ke sebuah farm pembibitan sapi dan dipersilahkan memilih sendiri 2000 ekor sapi calon
induk dengan data sebagai berikut:

a. Semua sapi 2000 ekor.


b. Umur antara 1,5-1,8 tahun
c. Bobot badan ternak tersebut berkisar antara 275-325 kg dan terdata secara rapi
dengan nomor telinga, nomor 1 dengan bobot terendah dan nomor 2000 dengan
bobot tertinggi.
Jika semua ternak tersebut masih dara, ternak nomor berapa saja yang akan saudara pilih 500 dari
2000 ekor tersebut? Sebaliknya jika 2000 ekor ternak tersebut campuran antara dara dan sudah
pernah beranak, ternak nomor berapa saja yang akan saudara pilih? Jelaskan dengan menggunakan
nilai bobot badan.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 44


PRAKTIKUM ILMU TILIK TERNAK-4

PENILAIAN TERNAK DOMBA

A. KONSEP PENILAIAN TERNAK DOMBA

Penilaian terhadap ternak merupakan kegiatan untuk memaknai hasil pengukuran variabel-
variabel penilaian ternak. Dalam memberikan makna terhadap hasil pengkukuran variabel
penilai melakukan komparasi hasil pengukuran dengan nilai ideal untuk kelas atau kategori
ternak yang dinilai. Jenis variabel yang diukur dan dinilai dalam penilian ternak sangat
tergantung pada kelas atau kategori ternak yang dinilai, sehingga antara ternak siap potong
dengan ternak dara calon bibit dinilai dengan variabel yang berbeda. Biasanya bagi para
penilai yang masih pemula menggunakan pedoman kartu skor untuk memudahkan dalam
memilih variabel yang dinilai, mengkompilasi hasil penilaian dan menyimpulkan hasilnya.

Dalam melakukan penilaian ternak, kita bisa menggunakan metode komparasi atau
kompetisi. Metode komparasi dilakukan dengan cara memperbandingkan hasil penilaian
antara seekor ternak dengan seekor ternak lain atau dengan membandingkannya dengan
ternak idel, sedangkan kompetisi dilakukan dengan memperbanding hasil penilaian dari
banyak ternak, kemudian dilakkan perangkingan.

B. KEGIATAN PRAKTIKUM PENILAIAN TERNAK DOMBA

Kegiatan praktikum ini akan dilakukan melalui simulasi (bermain peran), anda
dipersilahkan membentuk kelompok terdiri dari 2 orang, seorang bertindak sebagai
penilai dan seorang lagi sebagai penerima laporan hasil penilaian.

1. Langkah pertama: pilih 2 ekor domba berjenis kelamin sama, lakukan pengamatan
umum dari jarak 2-3 meter. Pengamatan dilakukan dari sisi kanan, sisi kiri, sisi depan,
sisi belakang dan sisi atas. Variabel yang dinilai adalah:

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 45


Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 46
2. Langkah kedua: Lakukan perabaan terhadap tubuh ternak untuk mengkonfirmasi
hasil pengamatan dari jarak 2-3 meter yang telah dilakukan pada langkah pertama
3. Langkah ketiga: Lengkapi hasil pengamatan anda terhadap semua variabel mengikuti
kartu skor di bawah ini. Simpulkan hasil penilaian anda .

No. Variabel Proporsi Nilai Nilai


Domba 1 Domba 2

PENAMPILAN UMUM -------------37%

1 Bobot (kesesuaian dengan umur) 4

2 Bentuk (punggung dan garis perut lurus, dalam, luas, 13


garis perut rendah, kompak, simetris)

3 Kondisi (dalam, perototan, perlemakan pada pangkal 12


ekor, loin, punggung, iga, pundak, isi antara brisket dan
shoulder)

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 47


4 Kualitas ( bulu halus, pertulangan halus dan kuat, kulit 8
tidak tebal)

KEPALA DAN LEHER ----------------------9%

5 Kepala (penampilan bersih, mulut besar, bibir tipis, 5


lubang hidung besar, mata besar dan jernih, wajah
pendek, jidad lebar, telinga tidak kasar, dengan jarak
antara keduanya relatif lebar)

6 Leher (pendek, tebal, berisi penuh pada pertemuan 4


dengan pundak)

TUBUH BAGIAN DEPAN -------------10%

7 Pundak (tertutup dengan daging, kompak pada bagian 8


puncak, terhubung secara halus dengan leher dan
badan)

8 Belikat (bentuk secara keseluruhan bulat dan lebar) 1

9 Kaki (lurus, pendek, saling berjauhan antara keduanya, 1


kuat, penuh berisi, peretulangan halus)

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 48


BADAN --------------------------------------------18%

10 Dada (lebar, dalam, berisi) 2

11 Iga (melengkung dengan baik, panjang, saling 4


berdekatan antara bilah satu dengan lainnya, tertutup
daging yang tebal)

12 Punggung (luas, lurus, tebal, dan tertutup daging) 6

13 Loin (tebal, luas, tertutup daging dengan baik) 6

TUBUH BAGIAN BELAKANG-----------------17%

14 Hips (saling berjauhan, dalam, berisi) 1

15 Rump (panjang, level, lebar ke arah pangkal ekor, tebal 5


pada pangkal ekor)

16 Thight (penuh, dalam, lebar) 5

17 Loin (tebal, luas, tertutup daging dengan baik) 5

18 Legs (lurus, pendek, kuat, pertulangan halus) 1

WOOL-------------------------------------------------9%

19 Kuantitas (panjang, padat, merata dalam hal kepadatan 3


dan ukuran panjang)

20 Kualitas (ikal, merata pada semua bagian kulit) 3

21 Kondisi (tidak kusam, tidak tercampur dengan material 3


lain)

TOTAL 100

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 49


4. Langkah keempat: Laporkan secara lisan hasil penilaian saudara kepada pasangan
praktek saudara
5. Peran Penerima Laporan: Lakukan penilaian terhadap hasil laporan, meliputi:
ketepatan penggunaan istilah, kemampuan memberikan argumentasi, kejelasan
laporan, ketepatan hasil penilaian. Berikan nilai dengan skala 100

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 50


PRAKTIKUM ILMU TILIK TERNAK-5

KONTES PENILAIAN TERNAK

A. Konsep

Livestock Judging contest (lomba penilaian ternak) merupakan kegiatan yang sangat populer
di kalangan ilmuwan dan ahli peternakan di seluruh dunia. Kegiatan ini diselenggarakan
secara periodik pada sentra-sentra industri dan komunitas peternakan, universitas dan
lembaga pendidikan dan pelatihan peternakan, sehingga sudah menjadi agenda rutin bagi
lembaga-lembaga tersebut. Kegiatan livestock judging di samping menjadi sarana proses
pembelajaran bagi para pelajar, mahasiswa dan praktisi muda di bidang peternakan, juga
merupakan ajang komptesisi bagi insan muda dan lembaga-lembaga pendidikan/pelatihan
untuk menunjukkan keunggulan mereka. Sehingga tidak mengherankan jika dalam setiap
tahun banyak digelar kegiatan sejenis ini, mulai dari tingkat universitas, regional, nasional
maupun internasional. Jumlah peserta yang terlibatpun mencapai ratusan orang untuk
setiap evennya untuki memperebutkan kejuaraan yang menjadi kebanggaan bagi diri
maupun lembaga pendidikan tempat mereka menuntut ilmu.

Bagi mahasiswa yang sedang mempelajari peternakan, levestock judging ini menjadi hal
yang sangat penting untuk dikuasai. Pertama, mempelajari livestock judging sebagai ajang
proses pembelajaran untuk mampu mengenali karakteristik ternak-ternak unggul,
menilainya, sehingga nantinya mampu bertindak sebagai seorang profesional dalam
penilaian ternak. Kedua, mempelajari livestock judging sebagai wahana berlatih untuk
mempersiapkan diri mengikuti lomba penilaian ternak. Ketiga, mempelajari livestock
judging sebagai wahana berlatih untuk mempersiapkan diri sebagai penyelenggara kegiatan
lomba penilaian ternak. Dengan demikian memperlajari konsep dan teknis livestock judging
ini dapat memberikan manfaat yang sangat berarti bagi para mahasiswa dalam menunjang
keprofesiannya di bidang peternakan.

Pada umumnya livestock judging contest dilaksanakan dengan acuan sistem Hormel
(dikembangkan oleh University of Minnesota), yaitu sebuah sistem penghitungan atau
kalkulasi terhadap skor yang digunakan untuk menilai kontestan secara adil. Pada sistem ini
nilai tertinggi yang dicapai oleh oleh seorang kontestan dalam menilai ternak adalah 50
dengan deduksi atau dikurangi penalti (cut) terhadap kesalahan yang diperbuat oleh
kontestan yang bersangkutan. Secara teknis kontes penilaian ternak dengan menggunakan
Sistem Hormel ini dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Dalam penilaian ternak, panitia menyediakan 4 ekor ternak dalam kategori atau kelas
tertentu, misalnya ternak siap potong, ternak dara calon bibit, calon pejantan, dan
sebagainya. Kontestan diminta untuk menilai dan mengurutkan dari 4 ekor ternak

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 51


tersebut mana ternak terbaik pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Tentu saja
keempat ekor ternak yang disediakan memang harus memiliki nilai yang berbeda
satu dengan lainnya.
2. Panitia secara resmi menyusun angka skor untuk membedakan antara keempat ekor
ternak tersebut. Keempat ternak tersebut dapat dipasang-pasangkan menjadi tiga
pasang, yaitu tertinggi, pertengahan dan dasar. Angka penalti kemudian ditentukan
terhadap setiap pasangan sesuai dengan tingkat kesulitan untuk membedakan antar
anggota pasangan tersebut. Jika seekor ternak memiliki kualitas lebih baik dari yang
lain, maka kesalahan yang diperbuat oleh kontestan dalam menilai atau
membedakan kedua ternak tersebut akan mendapatkan penalti yang lebih besar
daripada pasangan ternak yang hampir sama.
3. Besarnya penalti atau hukuman berupa pengurangan nilai sebesar sebagai berikut:
a. 1 poin untuk kesalahan penilaian pasangan ternak yang sangat mirip atau
sama, sehingga sangat mudah terjadi kesalahan penempatan
b. 2 poin untuk kesalahan penilaian terhadap pasangan ternak yang sangat
mirip, tetapi salah seekor memiliki sedikit kelebihan, sehingga sangat logis jika
terjadi kekeliruan penempatan
c. 3 poin untuk kesalahan penilaian terhadap pasangan ternak yang mirip, tetapi
salah satu memiliki kelebihan yang jelas dari ternak yang lain
d. 4 poin untuk kesalahan penilaian terhadap pasangan ternak dengan kualitas
yang tidak mirip/sama, satu diaantara ternak memiliki kelebihan yang nyata
dari lainnya
e. 5 poin untuk kesalahan penilaian terhadap pasangan ternak yang salah
satunya jelas lebih baik dari yang lain
f. 6 poin untuk kesalahan penilaian terhadap pasangan ternak yang memang
tidak sebanding
g. 7 poin untuk kesalahan penilaian terhadap pasangan ternak yang salah
satunya jelas-jelas lebih superior dari yang lain.
4. Jumlah dari 3 penalti tidak boleh melebihi 15 poin. Jika total pinalti sebesar 15, maka
, maka penalti terhadap kesalahan penilaian pasangan tengah tidak boleh lebih dari 5
poin; jika total penalti sebesar 14 poin, maka penalti pasangan tengah tidak boleh
lebih dari 8 poin. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat mengakibatkan hasil
penilaian akhir kurang dari nol atau negatif.
5. Contoh jika kita akan menilai 4 ekor domba siap potong dengan ilustrasi sebagai
berikut:
(a) Tampak samping

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 52


(b) Tampak dari belakang

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 53


(c) Tampak dari atas

(d) Tampak dari depan

Pada penilaian terhadap 4 ekor domba siap potong (1,2,3,4) akan menghasilkan 6
keputusan hasil penilaian perbandingan sebagai berikut:

(1) 1-2
(2) 1-3
(3) 1-4
(4) 2-3
(5) 2-4
(6) 3-4
Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 54
Jika secara resmi ditentukan bahwa urutan kualitas 4 ekor domba siap potong
tersebut adalah: 4-1-3-2, dengan besarnya penalti untuk: 4-1 sebesar 3 poin, 1-3
sebesar 5 poin, dan 3-2 sebesar 2 poin; kemudian seorang kontestan memberikan
hasil penilaian dengan urutan 4, 3, 1, 2; maka setiap keputusan yang diambil oleh
kontestan harus dievaluasi dengan cara sebagai berikut:

Urutan yang dibuat oleh panitia : 4-1-3-2

Penalti (cut), dibuat oleh panitia : 3, 5,2

Urutan yang dibuat oleh kontestan : 4-3-1-2

Langkah Keputusan Kontestan Keputusan Resmi Jawaban Penalti


Panitia

1 Apakah kontestan 4 >1 Ya 0


menempatkan

2 Apakah kontestan 4>3 Ya 0


menempatkan

3 Apakah kontestan 4>2 Ya 0


menempatkan

4 Apakah kontestan 1>3 Tidak 5


menempatkan

5 Apakah kontestan 1>2 Ya 0


menempatkan

6 Apakah kontestan 3>2 ya 0


menempatkan

Jumlah penalti 5

Nilai untuk kontestan 50-5=45

6. Contoh 2:
Disediakan ternak siap potong lain. Jika secara resmi ditentukan bahwa urutan
kualitas 4 ekor ternak tersebut adalah: 3-4-2-1, dengan besarnya penalti untuk: 3-4
sebesar 3 poin, 4-2 sebesar 2 poin, dan 2-1 sebesar 5 poin; kemudian seorang

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 55


kontestan memberikan hasil penilaian dengan urutan 4, 3, 1, 2; maka setiap
keputusan yang diambil oleh kontestan harus dievaluasi dengan cara sebagai berikut:

Urutan yang dibuat oleh panitia : 3-4-2-1

Penalti (cut), dibuat oleh panitia : 3, 2, 5

Urutan yang dibuat oleh kontestan : 4-3-1-2

Langkah Keputusan Kontestan Keputusan Resmi Jawaban Penalti


Panitia

1 Apakah kontestan 3>4 Tidak 3


menempatkan

2 Apakah kontestan 3>2 Ya 0


menempatkan

3 Apakah kontestan 3>1 Ya 0


menempatkan

4 Apakah kontestan 4>2 Ya 0


menempatkan

5 Apakah kontestan 4>1 Ya 0


menempatkan

6 Apakah kontestan 2>1 Tidak 5


menempatkan

Jumlah penalti 8

Nilai untuk kontestan 50-8=42

7. Contoh 3:

Gunakan ternak pada contoh 2:

Urutan yang dibuat oleh panitia : 1, 2, 3, 4

Penalti (Cuts), dibuat oleh panitia : 5, 2, 3

Urutan yang dibuat oleh kontestan : 3, 1, 2, 4

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 56


Langkah Keputusan Kontestan Keputusan Resmi Jawaban Penalti
Panitia

1 Apakah kontestan 1>2 Ya 0


menempatkan

2 Apakah kontestan 1>3 Tidak 7


menempatkan

3 Apakah kontestan 1>4 Ya 0


menempatkan

4 Apakah kontestan 2>3 Tidak 2


menempatkan

5 Apakah kontestan 2>4 Ya 0


menempatkan

6 Apakah kontestan 3>4 Ya 0


menempatkan

Jumlah penalti 9

Nilai untuk kontestan 50-9=41

8. Contoh 4:
Gunakan ternak pada contoh 2

Urutan yang dibuat oleh panitia : 3, 1, 2, 4

Penalti (Cuts), dibuat oleh panitia : 3, 6, 2

Urutan yang dibuat oleh kontestan : 4, 1, 2, 3

Langkah Keputusan Kontestan Keputusan Resmi Jawaban Penalti


Panitia

1 Apakah kontestan 3>1 Tidak 3


menempatkan

2 Apakah kontestan 3>2 Tidak 9


menempatkan

3 Apakah kontestan 3>4 Tidak 11


menempatkan

4 Apakah kontestan 1>2 Ya 0

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 57


menempatkan

5 Apakah kontestan 1>4 Tidak 8


menempatkan

6 Apakah kontestan 2>4 Tidak 2


menempatkan

Jumlah penalti 33

Nilai untuk kontestan 50-33=17

B. Kegiatan Praktikum

1. Instruktur menyediakan 4 ekor domba siap potong yang memiliki nilai berbeda.
Ternak tersebut kemudian ditempatkan pada areal datar, dilengkapi dengan
fasilitas yang dibutuhkan untuk pengamatan.

2. Mahasiswa diminta untuk melakukan pengamatan pada jarak 2-3 meter, dari sisi
samping, atas, depan dan belakang, kemudian diteruskan dengan palpasi
(perabaan) untuk mengkonfirmasi hasil pengamatan.

3. Jawab Pertanyaan-pertanyaan berikut ini

Lingkari nomor
Pertanyaan identitas ternak yang
paling tepat

A. Perototan (muscling)

1. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki “loin” paling tebal 1 2 3 4


berotot, kokoh, panjang dan lurus

2. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki “round” dengan 1 2 3 4


volume, ketebalan perototan paling besar

3. Mana diantara domba 1-4 yang memliki “stifle” paling tebal 1 2 3 4


berotot

4. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki “fore-arm” paling 1 2 3 4


berotot, kokoh dan besar

5. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki “width of base” 1 2 3 4


paling lebar yang disebabkan oleh perototan round yang
sempurna

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 58


B. Perlemakan

1. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki “loin” paling 1 2 3 4


bulat, dengan perlemakan paling optimum

2. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki “tail head” dengan 1 2 3 4


ketebalan lemak paling optimum

3. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki “rib” dengan 1 2 3 4


penutupan lemak paling optimum

4. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki “flank” dengan 1 2 3 4


perlemakan paling optimum

5. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki “brisket” dengan 1 2 3 4


perlemakan paling optimum

C. Volume

1. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki panjang badan 1 2 3 4


paling besar

2. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki dalam dada 1 2 3 4


paling besar

3. Mana diantara domba 1-4 yang memiliki lengkungan 1 2 3 4


tulang iga (rib) paling sempurna

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 59


4. Gunakan kartu hasil penilaian (placing card) berikut

KARTU HASIL PENILAIAN TERNAK (PLACING CARD)


KELAS/KATEGORI : DOMBA SIAP POTONG (FINISHED LAMB)

NAMA KONTESTAN : ………………………………………………………..

PLACING SKOR

1234 3124
1243 3142
1324 3214
1342 3241
1423 3412
1432 3421
2134 4123
2143 4132
2314 4213
2341 4231
2413 4312
2431 4321
CATATAN:

(a) Berilah tanda silang pada sel kosong di sebelah kanan urutan yang
menurut saudara paling tepat
(b) Penilaian terhadap prestasi saudara akan dilakukan dengan
menggunakan Sistem Hormel

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 60


5. Gunakansalah satu formulir berikut untuk memberikan penjelasan mengenai hasil
penilaian saudara

(a) Tingkat 1

Selamat pagi/siang/sore, bapak/ibu


……………………………
Saya menempatkan ternak kelas domba siap potong
sebagai berikut: ternak nomor ….., ………., …………,
……….

Terima kasih

(b) Tingkat 2.

Selamat pagi/siang/sore, bapak/ibu


Saya menempatkan kelas domba siap
potong sebagai berikut: domba nomor
…….., ………, ……, ……….
Saya menempatkan domba nomor …… di atas nomor
………., karena …………………………………
Saya menempatkan domba nomor …… di atas nomor
………., karena …………………………………
Saya menempatkan domba nomor …… pada tempat
terakhir, karena ………………………………………………

Berdasarkan alasan di atas, maka saya


menyimpulkan ternak pada kelas domba siap
potong secara berturut-turut : ………., ………,
………., ………….

Terima Kasih

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 61


(c) Tingkat 3.

Selamat pagi/siang/sore
Saya menempatkan ternak pada kelas domba siap potong
sebagai berikut: domba nomor ___, ___, ___, ____.
Pada pasangan atas, saya menempatkan domba nomor ___ di
atas ___ sebab: ______________________________________
_____________
Pada pasangan tengah, saya menempatkan domba nomor ___
di atas ___ sebab: ____________________________________
Pada pasangan dasar, saya menempatkan domba nomor ___ di
atas ___ sebab: ____________________________________
oleh karena itu domba nomor ___ berada pada kualitas paling
rendah.
Atas dasar alasan di atas, maka saya menempatkan urutan
domba siap potong sebagai berikut: domba nomor ___, ___,
___, ___.

Terima kasih.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 62


(d) Tingkat 4.

Selamat pagi/siang/sore
Saya menempatkan urutan kelas domba siap potong ini sebegai
berikiut: domba nomor ___, ___, ___, ____.
Pada pasangan teratas, saya menempatkan domba nomor ___ di
atas ___ , sebab: ______________________________________.

Saya memberikan penilaian lebih pada ternak pada tempat


kedua dalam hal ______ dari pada domba pada rtempat
pertama.
Untuk pasangan menengah, saya menempatkan domba nomor ___
di atas ___ sebab:_________________________________.
Saya memberikan penilaian lebih domba urutan ke tiga
dalam halis ______ dari pada domba pada urutan kedua.
Pada pasangan terbawah, saya menempatkan
domba nomor ___ di atas ___ sebab:
_______________________________________
Saya memberikan nilai lebih terhadap domba urutan ke empat
dalam hal _____ daripada domba pada tempat ketiga, Oleh karena
itu domba nomor ___ hari ini saya tempatkan pada urutan terakhir.
Atas dasar alasan di atas, maka saya menempatkan domba kelas siap
potong ini sebagai berikut: ___, ___, ___, ___.

Terima kasih.

Penilaian terhadap kemampuan anda dalam menyampaikan secara lisan hasil penilaian akan
berdasarkan kriteria sebagai berikut:

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 63


DAFTAR PUSTAKA

Abebe, G. dan A. Yami. 2008. Sheep and Goat Management. Ethiopia Sheep and Goat
Productivity Improvement Program.

Battaglia, R.A., dan V.B. Mayrose. 1981. Handbook of Livestock Management Techniques. Prentice
Hall., Inc. New Jersey.

Blakely, J. dan D.H. Bade. 1994. The Science of Animal Husbandry. Prentice Hall Career &
Technology,New Jersey.

Grandin, T. 2010. Recommended Animal Handling Guidelines and Audit Guide:A Systematic Approach
to Animal Welfare. American Meat Institute Foundation. Washington, DC..

Holmgren, L.N., R. Panting, dan D. R. ZoBell. 2005. Scoring Livestock Judging Classes. Cooperative
Extension of Utah State University.

Yourz, H.G. dan A.C. Carlson. 1962. Judging Livestock, Dairy Cattle, Poultry, and Crops.

Villegas, V.E. 1965. Types and Breeds of Farm Animals, How to Judge and Select Them. Univ. of The
Philippines. Los Banos.

Wattiaux, M.A., 2007. Reproduction and Genetic Selection The Babcock Institute for International
Dairy Reseacrh and Development. The University of Wisconsin, Madison.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 64


BAB
PENILAIAN TERNAK KUDA

1.1. Pendahuluan

1.1.1. Deskripsi Singkat

Pada pokok bahasan ini mahasiswa akan mempelajari tentang : Karakteristik berbagai bangsa
dan tipe kuda yang terkenal, Ukuran produktivitas dan penampilan fisik ideal, Judging (terminologi
bagian tubuh, pengukuran variabel: kualitatif dan kuantitatif, kartu skor, interpretasi hasil penilaian)
pada ternak kuda, dan Aplikasi penilaian ternak dalam menentukan keunggulan ternak kuda, kontes
ternak kuda.

1.1.2. Relevansi

Kompetensi dasar yang diperoleh melalui pokok bahasan ini akan dapat digunakan untuk
mendasari pengembangan kemampuan memilih ternak kuda sesuai dengan tujuan yang diinginkan,
menjadi juri dalam kontes ternak kuda.

1.1.3. Standar Kompetensi

Mampu melaksanakan penilaian terhadap ternak kuda

1.1.4. Kompetensi Dasar

a. Mampu mengidentikasi karakteristik fisik berbagai ras dan tipe ternak kuda
b. Mampu melakukan penilaian terhadap ternak kuda secara komprehesif
c. Mampu menjalankan tugas sebagai juri dalam kontes ternak kuda

1.1.5. Indikator

a. Jika diberikan sejumlah contoh ternak kuda mahasiswa mampu memberikan nama ras kuda
tersebut secara benar sebanyak minimal 85%
b. Jika diberikan contoh 2 ekor ternak kuda pada ras dan tipe yang sama mahasiswa bisa
membandingkan keunggulan variable-variabel penting sebanyak 85%
c. Jika diberikan tugas sebagai juri dalam judging ternak kuda, mahasiswa mampu
melaksanakannya secara benar 85%.

1.2. Penyajian

1.2.1. Karakteristik berbagai ras ternak kuda

Di dunia ini dikenal banyak bangsa/ras ternak kuda yang dapat ditemukan di beberapa benua,
negara, atau daerah, namun demikian dari sekian banyak ras ternak kuda tersebut hanya
sebagian kecil saja yang memiliki reputasi yang baik dikaitkan dengan kepentingan
masyarakat. Ternak kuda saat ini dibudidayakan manusia untuk beberapa jenis tujuan,

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 65


diantaranya untuk kuda pacu, kuda tunggang, kuda penarik alat transportasi, dan kuda
pembawa barang,.

Buku Ajar | PENILAIAN TERNAK 66