Anda di halaman 1dari 15

PENCAPAN DISCHARGE PADA KAIN KAPAS MENGGUNAKAN ZAT

WARNA BEJANA PADA DASAR REAKTIF

DISUSUN OLEH :

NAMA : Lusy Fawziah Hamdayani (14020080)

Putri Indah Permatasari (14020084)

Lamhot Hasudungan (14020083)

Piranti Handayani (14020088)

Aji Setiawan (14020087)

GRUP : 3 KIMIA TEKSTIL 4 (KEL 2)


DOSEN : 1. Ikhwanul
2. Sukirman

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2017
I. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Maksud

Maksud dari dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui hasil pencapan
discharge pada kapas yang dilakukan dengan menggunakan zat warna bejana pada dasar
reaktif.

2. Tujuan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan hasil pencapan discharge pada
kapas yang dilakukan dengan menggunakan zat warna bejana pada dasar reaktif yang merata
dan permanen dengan menggunakan variasi resep pencapan.

II. TEORI DASAR

 Pencapan Etsa / discharge

Pencapan etsa atau pencapan rusak merupakan salah satu metode pencapan khusus.
Dengan metode ini bahan yang telah berwarna baik dengan dicelup maupun dicap sebagai
warna dasar, dicap dengan pasta cap yang mengandung zat perusak sehingga warna putih
tekstil semula akan tampak kembali (etsa putih). Apabila pada pasta cap ditambahkan zat warna
yang tahan terhadap zat perusak, maka bahan yang dicap akan berwarna lain (etsa warna).

Zat warna dasar dipilih zat warna yang tidak tahan terhadap zat perusak atau zat
pengetsa, sedangkan untuk zat warna cap motif dipilih zat warna yang tahan terhadap zat
pengetsa. Zat warna yang digunakan sebagai zat warna dasar biasanya terdiri dari kromofor
gugus azo yang kurang /tidak tahan terhadap zat pengetsa, meskipun rumus bangun zat warna
keseluruhan sangat menentukan ketahanan terhadap zat pengetsa.

Untuk pemilihan zat warna yang digunakan untuk motif dipilih zat warna yang tahan
terhadap zat pengetsa yang pada umumnya bergugus antrakinon, ptalosianin atau
trifelnilmetan, yang pemilihannya tergantung dari yang diinginkan, zat pereduksi yang
digunakan, dan bahan tekstilnya.

Zat pengetsa yang digunakan adalah zat pereduksi. Secara garis besar ada beberapa
jenis zat pengetsa yang dipergunakan. Hal ini tergantung dari zat warna yang dipakai, dan serat
tekstil yang digunakan. Zat pengetsa berfungsi sebagai zat perusak zat warna dasar. Dalam
pencapan etsa ini jumlah penggunaan zat pereduksi optimum yang digunakan tergantung dari
:

1. Zat warna yang akan dietsa


2. Tua muda warna dasar
3. Jenis kain yang akan dicap.
 Serat Kapas

Kapas (dari bahasa Hindi kapas, sendirinya dari bahasa Sanskerta karpasa
adalah serat halus yang menyelubungi biji beberapa jenis Gossypium (biasa disebut
"pohon"/tanaman kapas), tumbuhan 'semak' yang berasal dari daerah tropika dan subtropika.
Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri tekstil. Serat itu dapat
dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Produk tekstil dari serat kapas biasa disebut
sebagai katun (benang maupun kainnya).

Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat kotor
(bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila lemak, protein, malam (lilin), dan lain-lain
residu disingkirkan, sisanya adalah polimer selulosa murni dan alami. Selulosa ini tersusun
sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas), dan daya
serap yang unik namun disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun) bersifat
menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala panas (menyerap keringat).

Serat kapas merupakan serat alam yang berasal dari serat tumbuh-tumbuhan yang
tergolong kedalam serat selulosa alam yang diambil dari buahnya. Serat kapas dihasilkan dari
rambut biji tanaman yang termasuk dalam jenis Gossypium. Species yang berkembang menjadi
tanaman industri kapas ialah Gossypium hirstum, yang kemudian dikenal sebagai kapas
Upland atau kapas Amerika. Serat kapas merupakan sumber bahan baku utama pembuat kain
katun termasuk kain rajut bahan pembuat kaos murah.

Struktur Fisik Serat Kapas

Bentuk dan ukuran penampang melintang serat kapas dipengaruhi oleh tingkat
kedewasaan serat yang dapat dilihat dari tebal tipisnya dinding sel. Serat makin dewasa dinding
selnya makin tebal. Untuk menyatakan kedewasaan serat dapat dipergunakan perbandingan
antara tebal dinding dengan diameter serat. Serat dianggap dewasa apabila tebal dinding lebih
dari lumennya.

Pada satu biji kapas banyak sekali serat, yang saat tumbuhnya tidak bersamaan sehingga
menghasilkan tebal dinding yang tidak sama. Seperlima dari jumlah serat kapas normal adalah
serat yang belum dewasa. Serat yang belum dewasa adalah serat yang pertumbuhannya terhenti
karena suatu sebab,misalnya kondisi pertumbuhan yang jelek, letak buah pada tanaman kapas
dimana bnuah yang paling atas tumbuh paling akhir, kerusakan karena serangga dan udara
dingin, buah yang tidak dapat membuka dan lain-lain. Serat yang belum dewasa kekuatannya
rendah dan apabila jumlahnya terlalu banyak, dalam pengolahan akan menimbulkan limbah
yang besar.

Struktur Kimia Serat Kapas

Apapun sumbernya derivat selulosa secara prinsif memiliki struktur kimia yang sama.
Hal ini bisa terlihat pada analisa hidrolisis, asetolisis dan metilasi yang menunjukan bahwa
selulosa pada dasarnya mengandung residu anhidroglukosa. Subsequent tersebut menyesun
molekul glukosa(monosakarida) dalam bentuk β-glukopironase dan berikatan bersama-sama
yang dihubungkan pada posisi 1 dan 4 atom karbon molekulnya. Formula unit pengulanganya
menyerupai selobiosa (disakarida) yang kemudian membentuk selulosa (polisakarida).

Sifat Fisika Serat Kapas

- Warna

Warna serat kapas secara umum adalah putih cream, tetapi sesungguhnya terdapat bermacam-
macam warna putih. Pengaruh mikroorganisme menyebabkan warna kapas menjadi suram.
Dalam kondisi cuaca yang jelek , warna kap[as menjadi sangat gelap abu-abu kebiruan. Kapas
yang pertumbuhannya terhenti akan berwarna kekuningan. Warna kapas merupakan salah satu
factor penentu grade.

- Kekuatan

Kekuatan serat kapas terutama dipengaruh oleh kadar selulosa dalam serat, panjang rantai dan
orientasinya. Kekutan serat kapas perbundel rata- rata adalah 96.700 pound per inci2 dengan
minimum 70.000 dan maksimum 116.000 pound per inci2. Kekuatan serat bukan kapas pada
umumnya menurundalam keadaan basah, tetapi sebaliknya kekuatan serat kapas dalam
keadaan basah makin tinggi.

- Mulur

Mulur saat putus serat kapas termasuk tinggi diantara serat-serat selulosa alam, kira-kira dua
kali mulur rami. Diantara serat alam hanya sutera dan wol yang mempunyai mulur lebih tinggi
dari kapas. Mulur serat kapas berkisar 4 – 13 % bergantung pada jenisnya dengan mulur rata-
rata 7 %.

- Moisture Regain

Serat kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air, dan air mempunyai pengaruh yang
nyata pada sifat-sifat serat. Serat kapas yang sangat kering bersifat kasar, rapuh dan
kekuatannya rendah. Moisture regain serat kapas bervariasi dengan perubahan kelembaban
relatif atmosfir sekelilingnya. Moiture regain serat kapas pada kondisi standar berkisar antara
7 - 8,5 %

Sifat Kimia Serat Kapas

Serat kapas sebagian besar tersusun atas selulosa maka sifat-sifat kimia kapas sama
dengan sifat kimia selulosa. Serat kapas umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan,
pengolahan dan pemakaian yang normal, tetapi beberapa zat pengoksidasi dan penghidrolisa
menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan kekuatan

Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksiselulosa biasanya terjadi dalam


proses pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab atau pemanasan yang
lama suhu diatas 140oC.

 Zat Warna Reaktif

Pada pencapan kali ini kain dasar yang digunakan terlebih dahulu dicelup dengan zat
warna reaktif. Zat warna reaktif adalah suatu zat warna yang dapat mengadakan reaksi
dengan serat, sehingga zat warna tersebut merupakan bagian daripada serat.Olehkarena itu
hasil pencapan dengan menggunakan zat warna reaktif mempunyai ketahanan cuci yang
sangat baik. Demikian pula karena berat molekul zat warna reaktif kecil maka kilapnya akan
lebih baik daripada zat warna direk. Zat warna ini dapat bereaksi dengan selulosa atau protein
sehingga memberikan tahan luntur warna yang baik. Reaktifitas zat warna ini bermacam-
macam, sehingga sebagian dapat digunakan pada suhu rendah sedangkan yang lain harus
digunakan pada suhu tinggi.

Stuktur zat warna reaktif yang larut dalam air mempunyai bagian-bagian dengan fungsi
tertentu. Kromofor zat warna reaktif biasanya system azoAkinon. Dengan berat molekul yang
kecil menyebabkan daya serap zat warnanya kecil dan menimbulkan warna –warna yang muda.
Adanya gugus penghubung dapat mempengaruhi daya serap dan ketahanan zat warna terhadap
asam dan basa. Gugusan –gugusan reaktif merupakan bagian zat warna yang mudah bereaksi
dengan serat.

Disamping terjadi reaksi antar zat warna dan serat dengan membentuk ikatan primer
kovalen yang merupakan ikatan pseudoester atau eter, molekul airpun dapat juga mengadakan
reaksi hidrolisa dengan molekul zat warna, dengan memberikan komponen zat warna yang
tidak reaktif lagi. Zat warna reaktif termasuk golongan zat warna yang larut dalam air. Karena
mengadakan reaksi dengan serat selulosa, maka hasil pencelupan zat warna reaktif mempunyai
ketahanan luntur yang sangat baik. Demikian pula karena berat molekul kecil maka kilapnya
baik. Berdasarkan cara pemakaiannya, zat warna reaktif digolongkan menjadi dua golongan,
yaitu :

 Zat warna reaktif dingin

Yaitu zat warna reaktif yang mempunyai kereaktifan tinggi, dicelup pada suhu rendah.
Misalnya procion M, dengan sistem reaktif dikloro triazin.

 Zat warna reaktif panas

Yaitu zat warna reaktif yang mempunyai kereaktifan rendah, dicelup pada suhu tinggi.
Misalnya Procion H, Cibacron dengan sistem reaktif mono kloro triazin, Remazol dengan
sistem reaktif vinil sulfon.

Di dalam air, zat warna reaktif dapat terhidrolisa, sehingga sifat reaktifnya hilang dan
hal ini menyebabkan penurunan tahan cucinya. Hidrolisa tersebut menurut reaksi sebagai
berikut :

D - Cl +H2O D – OH + HCl

 Zat warna bejana

Pada praktikum ini proses pencapan menggunakan zat warna bejana pada dasar kain
yang telah dicelup reaktif. Zat warna bejana tidak larut di dalam air dan tidak mungkin dapat
digunakan untuk mencelup atau mencap kain kapas tanpa diubah dulu struktur molekulnya.
Zat warna bejana mengandung gugus karbonil (> C = O) yang apabila direduksi akan terbentuk
senyawa leuko yang terdiri dari gugus > C – OH (enol).

Dasar pewarnaan zat warna bejana terdiri dari 4 tahap sebagai berikut :
1. Pembejanaan, yaitu membuat larutan bejana yang mengandung senyawa leuko.
2. Pewarnaan serat tekstil dengan senyawa leuko.
3. Oksidasi senyawa leuko berubah menjadi senyawa asal.
4. Penyabunan, pencucian, pengeringan.

Struktur kimia zat warna bejana ada 2 golongan besar yaitu :


a. Golongan antrakuinon yang mempunyai struktur dasar sebagai antrakuinon
b. Golongan indigoida yang mengandung khromofor – CO – C = CO- dan pada umumnya
merupakan derivat dari indigotin atau tioindigo.

Zat warna bejana jenis antrakuinon atau indanthrene mempunyai beberapa macam
reaksi waktu pembejanaan :

a. Senyawa indanthrene dapat direduksi pada kedua gugus karbonilnya atau keempat gugus
karbonilnya sehingga dengan perbedaan banyaknya gugus karbonil yang direduksi maka
akan menghasilkan perbedaan ketuaan warna.
b. Dalam pembejanaan yang dipentingkan jumlah alkali untuk membentuk garam leuko. Jika
pH-nya dibawah 7 maka derivat antrahidrokinon akan berpolimerisasi menjadi suatu
oksantron. Senyawa ini tidak mudah teroksidasi kembali kebentuk semula, tetapi lebih
mudah tereduksi menjadi senyawa antron yang akan berisomerisasi menjadi antranol.
Antranol akan teroksidasi memberikan hasil reaksi yang berbeda dengan pigmen zat warna
asal.

Zat warna bejana mempunyai sifat :

- Zat warna yang tidak larut dalam air sehingga tidak dapat mewarnai langsung serat
selulosa, tapi jika diubah dulu menjadi garam leuko dengan bantuan zat reduktro dan
alkali akan mempunyai substantifitas terhadap serat. Untuk mengembalikan ke bentuk
semula diperlukan pengoksidasian..
- Senyawa leuko zat warna golongan antrakuinon hanya larut dalam larutan alkali kuat
sedang golongan indigo larut dalam larutan alkali lemah.
- Tahan luntur warna baik.
- Mempunyai ketahanan yang baik terhadap sinar dan tahan terhadap larutan NaOH
mendidih.
- Zat warna bejana yang berbentuk leuko sangat peka terhadap suhu pengeringan setelah
pencapan. Jika suhu pengeringan rendah maka kain hasil cap yang masih agak basah
dapat bertambah panas terutama yang bertumpuk di bagian tengah, sehingga
mengakibatkan terjadinya reaksi penguraian yang tidak merata. Akibatnya hasil
pencapan akan belang. Kalau suhu pengeringan terlalu tinggi, maka tidak ada
kesempatan zat warna bejana masuk ke dalam serat dan sukar untuk mengambil air
sehingga tidak akan terjadi reaksi oksidasi kembali dan akibatnya warna sebenarnya
tidak timbul.

Pencapan dengan zat warna bejana pada umumnya mengahasilkan produk pencapan
dengan ketahan luntur warna yang tinggi terhadap hampir semua jenis daya tahan luntur warna.
Hal ini disebabkan karena molekul zat warnanya yang cukup besar dan tidak larut dalam air.

Pengental yang digunakan dipilih yang tahan terhadap alkali konsentrasi tinggi yang
terkandung didalam pasta cap. Pengental yang umum digunakan adalah campuran jenis
strarch-eter dengan gum-tragancanth, british gumatau yang sejenis. Campuran pengental
tersebut memiliki kelehihan-kelebihan antara lain hasil pewarnaan yang tinggi, tahan terhadap
alkali konsentrasi tinggi, mudah dihilangkan pada pencucian dll.

Zat higroskopis sekaligus sebagai zat pembantu pelarutan zat warna, diperlukan untuk
membantu penetrasi zat warna ke dalam serat dan fiksasi zat warna. Zat pendispersi seperti
Solution Salt B atau Solution Salt SV, diperlukan untuk mambanti migrasi, penetrasi, perataan
dan fiksasi zat warna kedalam serat.

Alkali yang biasa digunakan pada pencapan zat warna bejana adalah kalium karbonat,
soda abu, soda kostik dan kalium hidroksida Sedangkan zat pereduksi zat warna bejana yang
banyak digunakan adalah natrium sulfoksilat formaldehida. Jenis ini banyak dijumpai dalam
perdagangan dengan merk dagang seperti Ronggalit C, Formosul G, dll. Natrium hidrosulfit,
glukosa dan dekstrin digunakan dalam skala terbatas.

 Mekanisme masuknya zat warna reaktif pada serat kapas

Dalam larutan reaktif zat warna akan berdifusi masuk kedalam struktur selulousa dan
sebagian lagi teradsorpsi pada antar muka selulousa-air di dalam serat. Saat kesetimbangan
tercapai, zat warna berada dalam kondisi terdifusi masuk dan keluar serat dengan laju yang
sama. Pada kondisi larutan seperti ini, konsentrasi ion hidroksil dalam ion selulosat di dalam
larutan sangat rendah sehingga dikatakan bahwa ada proses yang bersifat fisika.

Penambahan alkali ke dalam larutan akan mendorong pembentukan ion selulosat


sehingga menaikan konsentrasi hiingga satu jumlah yang cukup berarti yang akan
memungkinkan terjadinya reaksi antara zat warna dengan serat. Ion selulosa (Sel-O-) akan
menyerang atom karbon pada gugus reaktif yang kekurangan elektron melalui mekanisme adisi
atau substitusi menghasilkan suatu ikatan kovalen antara serat dan zat warna reaktif.
Terbentuknya senyawa serat-zat warna menyebabkan adsorpsi berhenti dan menyebabkan
berkurangnya zat warna dalam larutan dan serat. Perbedaaan konsentrasi zat warna berdifusi
masuk kedalam serat dan memperbesar penyerapan yang semula kecil. Tidak semua zat warna
dapat teradsorpsi beereaksi dengan serat. Biasanya hanya sekitar 60-70% zat warna yang akan
terfiksasi. Hal ini dikarenakan selain bereaksi dengan serat selulousa, zat warna reaktif juga
dapat bereaks dengan air yang disebut hidrolisis meskipun jumlahnya relatif kecil
dibandingkan dengan reaksi zat warna dengan serat. Reaksi ini bertambah cepat dengan
bertambahnya suhu dan alkali yang menghasilkan zat warna yang tidak reaktif lagi.

Oleh karena itu, pada akhir proses pencucian dengan sabun untuk mnghilangkan zat
warna yang terhidrolisa dan tidak terfiksasi tersebut sehingga diperoleh sifat tahan luntur yang
lebih baik. Pencapan kapas (pada kain poliester-kapas) dengan zat warna reaktif mengalami
tahap-tahap sebagai berikut :

1. Proses penyerapan

Pada tahap ini, molekul-molekul zat warna akan masuk kedalam, tetapi belum mengadakan
reaksi atau ikatan dengan serat. Mula-mula terjadi migrasi molekul zat warna di dalam larutan.
Molekul zat warna bergerak menuju permukaan serat. Tahap selanjutnya terjadi proses
adsorpsi pada permukaan serat dengan adanya afinitas dari zat warna.

2. Proses fiksasi

Pada tahap ini, terjadi pemasukan zat warna dari permukaan serat kedalam serat. Pada
pencelupan kapas dengan zat warna reaktif akan terjadi ikatan kovalen. Selain terjadi ikatan
kovalen antara zat warna dengan serat, pada proses fiksasi ini faktor yang harus diperhatikan
adalah suhu baking.

Pada proses fiksasi ini terjadi pula reaksi hidrolisa zat warna reaktif karena adanya
reaksi antara zat warna, air dan alkali. Ketahanan zat warna reaktif akan reaksi hidrolisa
ini berbeda-beda. maka yang terjadi selanjutnya adalah reaksi hidrolisa zat warna seperti
reaksi :

D - Cl + H2O D-OH + HCl

D-OH tersebut tidak reaktif lagi, Hidrolisis tersebut mengakibatkan afinitas zat warna semakin
berkurang terhadap serat.
III. PERCOBAAN
 ALAT
- Gelas - Pipet Volume
- Meja pencapan - Solatipe
- Rakel kayu - Lap kain
- Pengaduk
 BAHAN
- Zat warna Dispersi (Dionik - Zat pendispersi
Orange dan Red) - NaOH
- Pengental - Na2CO3
- Urea

IV. Resep Pencapan


 Resep pencapan zat warna reaktif (dasar)
- Zat warna reaktif : 10-40 gr
- Pengental : 600-700 gr
- Gliserin : 100 gr
- Zat anti reduksi : 20 gr
- NaHCO : 200 gr
- Balance ( air ) : x
1000
 Resep pencapan zat warna bejana
- Zat warna bejana : 10-40 gr
- Na S O
2 2 4 : 10-40 gr
- NaOH 38° BE : 20-40 gr
- Gliserin : 100 gr
- Pengental : 600-700 gr
- Balance ( air ) : x
1000
 Resep perhitungan :
Resep pencapan zat warna reaktif (dasar)
- Zat warna reaktif : 2,25 gr
- Pengental : 52,5 gr
- Gliserin : 7,5 gr
- Zat anti reduksi : 1,5 gr
- NaHCO : 1,5 gr

Resep pencapan zat warna bejana


- Zat warna bejana : 2,5 gr
- Na2S2O4 : 2,5 gr
- NaOH 38° BE : 1,5 gr
- Gliserin : 7,5 gr
- Pengental : 52,5 gr

 Resep oksidasi
- H2O2 : 3 ml
- Suhu : 600C
- Waktu : 5 menit

V. DIAGRAM ALIR

proses pencapan
pencelupan pad Dry (etsa warna ) - pengeringan
(etsa putih)

Bilas Oksidasi Bilas Thermofiksasi

VI CARA KERJA
1. Persiapan Alat dan Bahan
2. Pembuatan Pengental
3. Pembuatan larutan pencelupan
Zat-zat yang digunakan dilarutkan dalam air sesuai kebutuhan.
4. Pembuatan Pasta cap motif rintang warna – rintang putih
Zat-zat yang digunakan dilarutkan dalam air terlebih dahulu, kemudian
dicampurkan dengan pengental, lalu diaduk hingga rata.
5. Proses pencelupan kain kain kapas dengan zat warna reaktif untuk dasar cap.
6. Proses Pencapan
a. Kain yang akan dicap dipasang pada meja cap dengan posisi terbuka sempurna
dan konstan pada meja cap.
b. Screen diletakkan tepat berada pada bahan yang akan dicap
c. Dengan bantuan rakel, pasta cap etsa putih pada screen pada bagian pinggir kasa
(tidak mengenai motif) secara merata pada seluruh permukaan.
d. Frame ditahan agar mengepres pada bahan, kemudian dilakukan proses pencapan
dengan cara memoles screen dengan pasta cap menggunakan rakel.
e. Pada proses pencapan, penarikan rakel harus kuat dan menekan ke bawah agar dapat
mendorong zat warna masuk ke motif.
f. screen dilepaskan ke atas.
g. Setelah selesai, biarkan pasta pada kain sedikit mongering kemudian angkat secara
hati-hati
7. Setelah dicap dengan pasta cap, bahan dikeringkan pada mesin stenter
8. Dilakukan proses termofiksasi dicap pada suhu 180 °C selama 3 menit.
9. Untuk menghilangkan sisa pasta cap dan zat lainnya, dilakukan proses pencucian
kemudian dilakukan pula proses cuci reduksi setelah itu cuci panas, cuci dingin 
pengeringan.

VI. FUNGSI ZAT

1. Zat warna bejana : Memberi warna pada kain secara merata dan permanen
2. Zat warna reaktif : Memberi warna pada kain secara merata dan permanen dengan
pencelupan
3. Pengental : Melekatkan zat warna pada bahan tekstil serta mengatur
viskositas pasta cap sehingga diperoleh gambar yang tajam, warna yang rata dan
penetrasi yang baik.
4. Teefol : Sabun untuk menghilangkan pengental, zat warna yang tidak
terfiksasi dan zat lain pada proses pencucian sabun.
5. Zat anti reduksi : Mengurangi reduksi pengetal atau redukstor terhadap zat warna
6. Pengental : Melekatkan zat warna pada bahan tekstil serta mengatur
viskositas pasta cap sehingga diperoleh gambar yang tajam, warna yang rata dan
penetrasi yang baik.
7. Teefol : Sabun untuk menghilangkan pengental, zat warna yang tidak
terfiksasi dan zat lain pada proses pencucian sabu
8. NaOH : Sebagai alkali yang berfungi untuk membuat suasana alkali
pada larutan pereduksi sehingga proses reduksi zat warna bejana berlangsung
dengan sempurna.
9. Na2 CO3 : Berfungsi sebagai pembuat suasana alkali pada pasta cap.
VII. DISKUSI
Pada pencapan discharge pada kain kapas menggunakan zat warna bejana Pada dasar
reaktif dengan variasi suhu termofiksasi ( 140, 150 dan 160 0C ); variasi metoda bahan 1, 2
(cap rintang putih) dan bahan 3 (cap rintang warna) yang telah dilakukan, ada beberapa
pembahasan diantaranya :
Pada kain pertama dengan suhu thermofiksasi 140 0C menghasilkan kain dengan
ketuaan warna yang paling rendah diantara 2 variasi resep yang lain. Kerataan warna cukup
baik. Ketajaman motif yang didapat cukup baik dibanding 2 bahan lainnya karna warna dasar
cap bloknya berwarna merah (tua) sedangkan motifnya tidak berwarna / putih . Jadi motif
paling baik terlihat pada kain dengan suhu termofiksasi yang rendah karna semakin tinggi suhu
termofiksasi warna dasarnya akan semakin tua ( warna dasar juga terfikfsasi) .
Kain kedua dengan suhu thermofiksasi 150 0C menghasilkan kain dengan ketuaan
warna yang lebih baik dari resep pertama. Kerataan warna sama dengan resep pertama dan
ketiga. Kejataman motifnya cukup baik karena suhu termofiksasi yang cukup tinggi sehingga
warna dasar timbul dengan warna yang hampir sama dengan motif. Motif yang timbul terlihat
lebih jelas disbanding dengan resep 1 hal ini bisa disebabkan karna konsentrasi Na2S2O4 yang
lebih banyak yaitu 10 g/l dibanding dengan resep pertama sebanyak 5 g/l
Kain ketiga dengan suhu thermofiksasi 160 0C menghasilkan kerataan warna yang
baik. Ketuaa warnanya paling tua karena suhu fiksasi yang lebih tinggi dibandingkan kedua
resep yang lain sehingga warna pada kain tua dan cenderung menutupi motif. Resep ketiga ini
memiliki ketajaman motif paling rendah karena suhu fiksasi yang tinggi menyebabkan warna
dasar menjadi timbul dan menyamai warna motif sehingga motif hampir tidak terlihat hal ini
juga bisa disebabkan konsentrasi larutan yang sedikit hanya sebanyak 25 m/l dibanding
pencapan-pencapan yang lain yang biasanya menggunakan konsentrasi 50 m/l, sehingga zat
warna bejana hanya sebanyak 0,5 g yang menyebabkan warna kurang bisa masuk kedalam
serat.
Pada pencapan kali ini, karna konsentrasi larutan yang digunakan relatif kecil
dibanding kelompok lainnya sehingga motif yang terlihat cenderung samar; hal ini lebih
berpengaruh pada resep 3 dengan metoda cap rintang warna dan suhu Thermofiksasi 160 0C
yang mengakibatkan motif hampir tidak terlihat (tidak bangkit karna sedikitnya konsentrasi zat
warna) ditambah dengan tuanya warna dasar kain dengan suhu thermo 160 0C. Ketuaan,
kerataan dan ketajaman setelah pencucian. Kami membagi dua bahan contoh uji, bagian
pertama setelah dilakukan cuci reduksi langsung dikeringkan, bagian yang lain di cuci dengan
menggunakan sabun dan cuci panas. Ketuaan. Kerataan dan ketajaman motif warna pada bahan
relatif sama hanya sedikit menurun. Ketajaman motif setiap bahan turun satu nilainya namun
berbanding lurus dengan sebelum pencucian.

VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil evaluasi,resep yang baik adalah resep pertama dengan kalkulasi
nilai sebesar 20 dengan nilai ketajaman motif paling tinggi yaitu 7.
- Semakin tinggi suhu termofiksasi, warna dasar kain akan semakin tua

DAFTAR PUSTAKA

1. Arifin Lubis, S. Teks., dkk, Teknologi Pencapan Tekstil, STTT, Bandung, 1998.

2. Agus suprapto, S.Teks.,M.Sc., dkk, BAHAN AJAR : TEKNOLOGI PENCAPAN I ,

STTT, Bandung, 2006

3. Ir. Rasyd Djufri, M. Sc., dkk, Teknologi Pengelantangan Pencelupan dan Pencapan,

STTT, Bandung, 1976.


4. Purwanti, S. Teks., Pedoman Praktikum Pencapan dan Penyempurnaan, ITT,

Bandung,