Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perilaku Makan Menyimpang

Perilaku makan menyimpang dapat diartikan sebagai gangguan

secaraterus-menerus terkait perilaku makan seseorang yang dapat

mengganggukesehatan fisik dan atau fungsi psikososial, dan tidak termasuk

sebagaigangguan medis ataupun gangguan kejiwaan lainnya (Fairburn dalam

Garrow, 2000). Pada umumnya, orang cenderung mengalami masalah makan

berupa kebanyakan makan atau kegemukan, walaupun beberapa orang mengalami

masalah lain berupa diet terlalu ketat sehingga membatasi jumlah makan. Orang-

orang tersebut mengalami masalah makan yang disebut perilaku makan

menyimpang atau eating disorders (Carlson dan Buskist dalam Putra, 2004).

Sampai saat ini ada empat jenis perilaku makan menyimpang yang sudah

banyak dipelajari, yaitu Anorexia Nervosa (AN), Bulimia Nervosa (BN), Binge

Eating Disorder (BED) dan Eating Disorder Not Otherwise Specified (EDNOS).

Perilaku makan menyimpang yang dapat menyebabkan kegemukan, salah satunya

Binge Eating Disorder (BED) atau cukup biasa disebut binge eating. Namun teori

perilaku makan menyimpang ini terus berkembang dan dipelajari sebagai salah

satu sumber penyebab terjadinya penyakit. Masih terdapat beberapa jenis lain

perilaku makan menyimpang yang sedang banyak diteliti dan dikembangkan,

salah satunya adalah Night Eating Syndrome (NES). Perilaku makan menyimpang

tersebut banyak dikaitkan dengan binge eating, karena salah satu kriterianya yaitu

makan banyak di malam hari.

9
10

B. Sindrom Makan Malam

1. Definisi

Sindrom makan malam merupakan salah satu gangguan mental yang

membuat orang banyak makan di malam hari setelah lewat jam makan malam dan

tidak makan lagi saat sarapan atau pun makan siang. Orang yang mengalami

sindrom makan malam sering disebabkan karena depresi dan kecemasan, diet

berkepanjangan atau kebosanan yang berlebihan. merupakan salah satu gangguan

yang sangat spesifik di mana individu yang terbangun beberapa kali di malam hari

dan tidak dapat tidur kembali kecuali mereka makan sesuatu.( Erdianto,2009)

Menurut Stunkard, sindrom makan malam yaitu salah satu bentuk perilaku

makan menyimpang yang ditandai dengan tiga kriteria yaitu, 1) tidak sarapan pagi

(morning anorexia), berupa perilaku menunda atau tidak melakukan sarapan

akibat kehilangan nafsu makan di pagi hari, 2) makan banyak di malam hari, yaitu

mengonsumsi 50% atau lebih dari asupan makan setelah jam 7 malam dan 3) tidur

larut malam (insomnia), berupa kesulitan untuk tidur dan terbangun dari tidur

akibat rasa lapar (Stunkard, et al. 1996).

2. Epidemiologi

Sindrom Makan Malam (SMM) atau Night Eating Syndrome (NES)

pertama kali dideskripsikan pada tahun 1955 oleh Stunkard dkk; sebagai sindrom

yang berpotensi menjadi salah satu jenis perilaku makan menyimpang baru.

Walaupun telah banyak studi-studi baru yang mempelajari tentang sindrom ini,

namun belum banyak yang dipublikasikan selama empat puluh tahun terakhir.

Prevalensi kejadian sindrom makan malam telah banyak dilaporkan dan

prevalensi tersebut terus meningkat seiring meningkatnya prevalensi obesitas.


11

Beberapa studi mengindikasi bahwa prevalensi SMM pada populasi umum

sebesar 30% (Rand, et al. dalam Gluck, 2002), dan 37 sampai 50% pada pasien

obesitas (Stunkard, et al. 1955; Stunkard, et al. 1996; dan Gluck, et al. 2001).

Selanjutnya pada orang-orang obesitas di dua kelompok sampel, prevalensi SMM

yaitu 38% pada sampel di stasiun televisi dan 45% pada sampel di balai

pengobatan (Stunkard, et al. 1996). Ada pula angka prevalensi SMM yang

menunjukkan 51% pada pasien bedah yang obesitas (Rand, et al. dalam Gluck,

2002; Adami, et al. dalam Gluck, 2002). Studi pada kelompok obesitas berat juga

telah dilakukan dan melaporkan prevalensi yang lebih tinggi lagi, yaitu sebesar

57% dan 64% (Stunkard, et al. 1955; Aronoff, et al. dalam Gluck, 2002)

3. Kriteria

Kriteria yang digunakan untuk mendiagnosa SMM dianggap kurang

konsisten, sehingga muncul beberapa variasi kriteria dalam penelitian prevalensi-

prevalensi SMM yang ada tersebut. Pada tahun 1996, Stunkard menyempurnakan

kriteria asli yang termasuk menyertakantidak sarapan pagi (morning anorexia),

berupa perilaku menunda atau tidak melakukan sarapan akibat kehilangan nafsu

makan di pagi hari,makan banyak di malam hari, yaitu mengonsumsi 50% atau

lebih dari asupan makan setelah jam 7 malam dantidur larut malam (insomnia),

berupa kesulitan untuk tidur dan terbangun dari tidur akibat rasa lapar (Stunkard,

et al. 1996).

Dalam studi lanjutan, Birketvedt menyarankan perlunya perbaikan lebih

lanjut dari kriteria sindrom ini, yaitutidak sarapan pagi meskipun tersedia

makanan,makan banyak di malam hari, yaitu sekitar 50% asupan energi sehari

dikonsumsi setelah snack sore,terbangun di malam hari minimal sekali terbangun


12

di setiap malam,mengonsumsi makanan di saat terbangun (diantara waktu tidur

tersebut) danpengulangan semua kriteria di atas selama minimal tiga bulan

(Birketvedt, et al. 1999). Namun, kebanyakan studi yang telah dilakukan

menggunakan kriteria tahun 1996 dan sampai saat ini tidak ada satupun studi yang

menggunakan kriteria terbaru tahun 1999 sepenuhnya dengan benar.

4. Patofisiologi

Profil neuroendokrin 24-jam pada orang yang terkena SMM, secara

konsisten menunjukkan beberapa perilaku khas. Birketvedt dkk (1999)

menemukan bahwa kadar hormon melatonin pemakan malam lebih rendah

dibandingkan bukan pemakan malam. Penurunan hormon melatonin yang terjadi

mungkin berkontribusi terhadap insomnia dan suasana hati memburuk pada

pemakan malam. Hal-hal tersebut terjadi karena hormon melatonin berfungsi

membantu terpeliharanya tidur yang nyenyak. Kadar melatonin rendahpun

memiliki keterkaitan dengan depresi. Berbeda dengan individu yang bukan

pemakan malam, kenaikan hormon leptin yang terlihat pada individu bukan

pemakan malam sesuai dengan harapan.Hormon leptin pada individu bukan

pemakan malam telah terbukti mengurangi nafsu makan dikarenakan tidak terjadi

penurunan, sedangkan kadar hormon leptin pada pemakan malam tidak naik

sehingga meningkatkan rasa lapar di malam hari. Kadar kortisolpada pemakan

malam meningkat bila dibandingkan dengan individu bukan pemakan malam, hal

ini menunjukkan bahwa mereka lebih stres. Pola lain yang juga terlihat

padamereka individu yang pemakan malam, yaitu depresi dan gangguan makan

sehingga semakin meningkatkan nafsu makan (Gluck, 2002).


13

Pada sindrom makan malam mempunyai pola makan yang berbeda,

dimana terjadi penundaan waktu makan dengan frekuensi makan yang semakin

malam semakin meningkat. Penundaan waktu makan ini meluas ke pengukuran

zat gizi makro.Tiga penelitian yang menyertakan asupan makan, menunjukkan

bahwa pemakan malam mengonsumsi lebih banyak asupan kalori harian (26-

56%) setelah makan malam dibandingkan dengan asupan kalori harian kelompok

bukan pemakan malam (10-15%). Semua pemakan malam sepenuhnya sadar

ketika makan di malam hari dan mengingat makanan tersebut hingga keesokan

paginya. Keadaan tersebut yang menunjukkan perbedaan dengan Sleep-Related

Eating Disorder (SRED) (Stunkard, et al. 2009).

5. Skala Ukur Sindrom Makan Malam

a. The Night Eating Questionnaire (NEQ)

NEQ ini telah dirancang sebagai alat ukur untuk mengetahui gejala yang

berkaitan dengan night eating syndrome (NES) atau sindrom makan malam

(SMM). Meskipun telah digunakan pada berbagai penelitian terkait SMM,

terdapat beberapa keterbatasan data pada sifat psikometri ini (Van der Wal dalam

Allison, 2006). Kuesioner dinilai dengan scoring (pemberian skor).

Skoring: Pertanyaan 1-9, fokus pada variabel yang terjadi sebelum waktu

tidur, dijawab oleh seluruh responden. Metode ‘stop’ atau ‘berhenti’ terdapat pada

kuesioner untuk menentukan dapat berlanjut kepertanyaan yang tersisa.

Pertanyaan 10-12 dijawab jika responden terbangun di tengah malam dan

menjawab bukan 0 pada pertanyaan 9. Cara yang sama, pertanyaan 13 dan 14

dijawab jika makan larut malam saat terbangun di waktu tidur dan menjawab

bukan 0 pada pertanyaan 12. Pertanyaan dijawab dengan nilai 0-4 skala Likert,
14

kecuali pertanyaan 7 yang terdapat pilihan “cek apakah mood anda tidak berubah

sepanjang hari,” yang mendapat nilai 0. Pertanyaan 1, 4 dan 14 mendapat nilai

terbalik jadi semakin tinggi nilai semakin mencerminkan gejala SMM. Semua

pertanyaan kecuali pertanyaan 13 yang terkait kesadaran saat makan di waktu

tidur dijumlahkan untuk mendapatkan skor global. Pertanyaan 13 disertakan

hanya sebagai alat skrining untuk menyingkirkan adanya parasomnia yang

menyebabkan tumpang tindih dengan Sleep-Related Eating Disorder (SRED)

(Schenck, CH & Mahowald, MW. 1994). Berkebalikan dengan SRED, penderita

NES mungkin mengalami rasa gugup, namun mereka sadar ketika melakukan

makan larut malam di waktu tidur (Allison dalam Allison, 2006).

Batasan nilai untuk NEQ ini dapat berbeda-beda disesuaikan dengan

populasi yang akan diteliti pada penelitian-penelitian berikutnya. Berdasarkan

hasil studi yang ada sekarang, jika tujuannya hanya mencari gejala-gejala kasus

yang mungkin terkena SMM, nilai total 25 dapat digunakan. Namun jika

tujuannya mengurangi kesalahan-kesalahan positif pada NEQ, nilai total 30 lebih

baik digunakan. Total nilai NEQ memiliki hubungan positif untuk mengukur

asupan makanan, perilaku makan, kebiasaan tidur, emosi dan stres, namun tidak

termasuk tingkat lapar pagi hari.

6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sindrom Makan Malam

a. Usia

Perilaku makan menyimpang (SMM), ditemukan 85% pada kalangan

remaja dan dewasa muda yaitu usia 18-20 tahun. Hal ini dikarenakan adanya

perubahan penyesuaian diri terhadap berbagai macam bentuk stressor baik

terhadap bentuk tubuh atau pola makan, khususnya pada peningkatan lemak pada
15

pria lemak akan bertambah sebanyak 4 kg dan pada wanita sebanyak 9 kg

(Brown, et al. 2005).

b. Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku

makan menyimpang,terutama SMM. Pada umumnya perempuan lebih cenderung

melakukan perilaku makan menyimpang dibandingkan dengan laki-laki. Anred

(2005) menyatakan bahwa prevalensi perempuan yang terkena SMM tiga kali

lipat lebih banyak dibandingkan dengan kaum pria. Sedangkan menurut Tiemer

(2007), kasus SMM 80% dialami oleh kaum perempuan.

Jenis kelamin (seks) adalah perbedaan antara perempuan dengan laki-laki

secara biologis sejak seseorang lahir. Seks berkaitan dengan tubuh laki-laki dan

perempuan, dimana laki-laki memproduksi sperma, sementara

perempuanmenghasilkan sel telur dan secara biologis mampu untuk menstruasi,

hamil dan menyusui. Perbedaan dan fungsi biologis laki-laki dan perempuan tidak

dapat dipertukarkan diantara keduanya, dan fungsinya tetap dengan laki-laki dan

perempuan pada segala ras yang ada di muka bumi (Hungu dalam Marbun, 2011).

Studi yang dilakukan oleh Aronoff melaporkan bahwa laki-laki cenderung

mengalami SMM (Aronoff dalam Gluck, 2002). Sementara studi lain menemukan

tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan SMM (Gluck, et al. 2001;

Napolitano dalam Gluck, 2002) ataupun ada beberapa studi yang hanya meneliti

pada wanita saja (Stunkard, et al. 1996; dan Greeno dalam Gluck, 2002).
16

c. Kondisi Emosi

SMM telahbanyak dihubungkan dengan kondisi stres, perasaan bersalah

dan cemas, serta depresi (Gluck, 2002). Sebuah studi meneliti profil 24-jam

suasana hati individu pemakan malam dan yang bukan pemakan malam,

ditemukan bahwa pemakan malam memiliki suasana hati yang lebih rendah

sepanjang hari dibandingkan dengan individu bukan pemakan malam. Disamping

itu, suasana hati para pemakan malam biasanya memburuk di malam hari, berbeda

dengan pola yang terlihat pada orang-orang yang depresi, suasana hati mereka

biasanya meningkat sepanjang hari. Semua karakteristik psikologis ini terlihat

lebih menonjol pada pemakan malam, bahkan jika dibandingkan dengan mereka

yang kelebihan berat badan, mereka menunjukkan pola psikopatologi yang

berbeda. Para pemakan malam, bila dibandingkan dengan bukan pemakan malam,

dilaporkan mengalami depresi dan stres lebih tinggi, dan secara signifikan

memiliki kualitas hidup lebih rendah (Lundgren, et al. 2008).

d. Stres

Stres dijelaskan oleh Cannon pada tahun 1932 dengan teori fight-or-flight.

Ia berpendapat bahwa ketika organisme merasakan adanya sesuatu ancaman,

maka secara cepat tubuh akan terangsang dan termotivasi melalui sistem saraf

simpatetik dan endokrin. Respon fisikologis ini mendorong organisme untuk

menyerang ancaman tadi atau melarikan diri (Garmezy dan Taylor dalam Smet,

1994). Definisi lain stres juga dipaparkan oleh Seyle pada tahun 1936 dengan

teori ‘General Adaptation Syndrome’. Menurutnya, stres merupakan tindakan

yang dilakukan oleh organisme ketika menghadapi stressor atau penyebab stres

(Taylor dalam Smet, 1994)


17

e. Depresi

Depresi merupakan tingkat yang lebih parah dari stres negatif (distress).

Depresi juga menjadi kasus pendukung terjadinya berbagai penyimpangan. Dalam

buku Depression in Multidisciplinary Perspective (Dean, 1985) disebutkan bahwa

depresi diakui sebagai masalah kesehatan utama dan merupakan penyakit mental

yang utama.

f. Rasa Percaya Diri

Percaya diri merupakan satu aspek psikologis yang menyebabkan

seseorang mengalami penyakit yang berkaitan dengan mental, termasuk juga

prilaku makan menyimpang. Bagan kendler, A Simple Model of Bulimia Nervosa

dan Binge Eating Disorder (Allison, 1995) juga menjelaskan bahwa kurang

percaya diri juga turut mempengaruhi perilaku makan menyimpang. Hal ini pula

ditegaskan oleh Thompson dalam Cognitive-Behavioral Model of Eating

Disorders (2004), yang menyatakan bahwa kurang kepercayaan diri secara tidak

langsung memicu seseorang berdiet ketat dan binge eatting. Rasa percaya diri

(self-esteem) sebagai faktor risiko juga diteliti oleh Gluck dan disimpulkan bahwa

hal tersebut berpengaruh terhadap terjadinya sindrom makan malam (2002).

g. Asupan Energi Dan Zat Gizi Makro

Sesuai dengan namanya, sindrom makan malam, pemakan malam juga

memiliki pola makan atau asupan makan yang berbeda, yang pada akhirnya dapat

mengganggu pemeliharaan berat badan yang sehat. Pemakan malam biasanya

makan lebih sedikit di pagi hari namun semakin meningkat jumlahnya menjelang

malam hari, serta dilaporkan bahwa para pemakan malam lebih banyak

mengkonsumsi lebih dari 50% total kalori dalam sehari dibandingkan dengan
18

bukan pemakan malam (Lundgren, et al. 2008)

h. Status Gizi

Status gizi (Nutrition Status) adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan

dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk

variabel tertentu (Idrus dan Kunanto dalam Supariasa, 2002). Penilaian status gizi

secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian, salah satunya adalah

antropometri. Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau

dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai

macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat

umur dan tingkat gizi. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat

ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat

pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan

jumlah air dalam tubuh.

1) Indeks Massa Tubuh (IMT)

Laporan FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat

badan normal orang dewasa ditentukan berdasarkan nilai Body Mass Index (BMI).

Di Indonesia istilah Body Mass Index diterjemahkan menjadi Indeks Massa Tubuh

(IMT). IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang

dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan,

maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat

mencapai usia harapan hidup lebih panjang.

Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur di atas 18

tahun. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan

olahragawan. Di samping itu pula IMT tidak bisa diterapkan pada keadaan khusus
19

(penyakit) lainnya seperti adanya edema, asites dan hepatomegali.

Rumus perhitungan IMT (Depkes RI,1994 dalam Supariasa, dkk. 2002)

adalah sebagai berikut:

Berat Badan ( Kg )
IMT =
Tinggi Badan ( m 2 )

Ketentuan yang digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki

untuk kategori kurus tingkat berat dan menggunakan ambang batas perempuan

untuk kategori gemuk tingkat berat.

Tabel 2.1 : Kategori Ambang Batas IMT Untuk Indonesia

Sumber: Depkes RI, 1994.(dalam supariasa 2002). Pedoman Praktis

Pemantauan Status Gizi Orang Dewasa.

Meskipun banyak penelitian menunjukkan SMM memberikan pada orang-

orang yang terkena SMM memiliki IMT yang lebih tinggi (Aronoff dalam Gluck,

2002). Kebanyakan studi tidak menemukan hubungan antara IMT pada orang-

orang obesitas baik dengan SMM maupun tidak (Gluck, 2002). Penelitian

Birketvedt (1999) dan Marshall (2004) menunjukkan tidak ada perbedaan dari

segi klinis antara pemakan malam yang obesitas dengan yang non-obesitas

(Lundgren, et al. 2008). Namun penelitian yang dilakukan oleh Tholin, et al

(2009) menunjukkan hasil bahwa rata-rata IMT pada pria-SMM lebih tinggi dari
20

pada pria tanpa SMM. Rata-rata IMT pada wanita-SMM juga lebih tinggi

daripada wanita tanpa SMM. Subjek yang mengalami keduanya, BED dan SMM,

dilaporkan memiliki IMT yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan

subjek yang tidak mengalami kedua perilaku tersebut (Stunkard, et al. 1996).

7. Dampak Sindrom Makan Malam

a. Obesitas

Kelebihan berat badan adalah suatu kondisi dimana perbandingan berat

badan dan tinggi badan melebihi standar yang ditentukan. Sedangkan obesitas

adalah kondisi kelebihan lemak, baik di seluruh tubuh atau terlokalisasi pada

bagian tertentu. Obesitas merupakan keadaan yang menunjukkan ketidak

seimbangan antara tinggi badan dan berat badan akibat jaringan lemak dalam

tubuh sehingga terjadi kelebihan berat badan yang melampaui ukuran ideal

(Sumanto, 2009).Obesitas mulai menjadi masalah kesehatan dunia, bahkan WHO

menyatakan obesitas sudah merupakan suatu epidemik global sehingga obesitas

sudah merupakan suatu problem kesehatan yang harus segera ditangani (WHO,

2000). Beberapa studi mengindikasi bahwa prevalensi SMM pada populasi umum

sebesar 30% (Rand, et al. dalam Gluck, 2002), dan 50% pada pasien obesitas

(Stunkard, et al. 1955; Stunkard, et al. 1996; dan Gluck, et al. 2001).
Di Indonesia, terutama di kota besar, dengan adanya perubahan-perubahan

gaya hidup yang menjerumus ke westernisasi dan sedentari berakibat pada

perubahan pola makan/konsumsi masyarakat yang merujuk pada perubahan pola

makan tinggi kalori, tinggi lemak, dan kolesterol terutama terhadap penawaran

makanan siap saji yang berdampak meningkatkan obesitas (Heird, 2002).

b. Diabetes Melitus Tipe 2


21

Sejak lama sudah diketahui umum bahwa kegemukan merupakan salah

satu faktor risiko untuk timbulnya penyakit gula (diabetes). Pada penelitian di

Jakarta pada tahun 1982 juga ditemukan bahwa diabetes lebih banyak terdapat

pada orang-orang yang gemuk, dibandingkan dengan orang-orang yang tidak

gemuk. Pada penelitian itu ditemukan bahwa 67% pada orang-orang gemuk

menderita diabetes sedangkan pada orang yang tidak gemuk hanya 15%. Di

samping derajat kegemukan rupanya lamanya kegemukan juga berpengaruh.

Makin lama orang gemuk makin besar kemungkinan untuk menderita diabetes

(Soerjodibroto dan Tjokronegoro, 1986).

Belakangan ini ditemukan, bagi usia muda yang mengalami perilaku

makan menyimpang didiagnosa terkena diabetes mellitus tipe 2 akibat dari

komplikasi obesitas dengan IMT > 25 Kg/M2. Hal ini mungkin terjadi sebagai

akibat dari perilaku makannya yang menyimpang (Kenardy dalam Allison, 2007).

Satu hal yang paling kuat ditunjukkan dalam penelitian SMM pada penderita

diabetes mellitus tipe 2 adalah usia penderita diabetes-SMM lebih muda

dibandingkan dengan diabetes tidak SMM. Individu gemuk diabetes dengan BED

dan NES memiliki IMT lebih tinggi (sekarang dan sepanjang hidupnya) dan

mengakui bahwa masalah berat badan muncul lebih cepat dibandingkan

responden yang tidak mengalami PMM. Penelitian pendahuluan tentang SMM

pada pasien diabetes mellitus tipe 1 dan 2, ditemukan bahwa makan banyak di

malam hari (evening hyperphagia) merupakan faktor yang secara signifikan paling

mempengaruhi. Hal tersebut juga terjadi pada kelompok obesitas dan kelompok

diabetes komplikasi (Allison, et al. 2007).

C. Obesitas
22

1. Definisi Obesitas

Obesitas adalah kondisi kelebihan lemak, baik di seluruh tubuh atau

terlokalisasi pada bagian tertentu.Obesitas merupakan keadaan yang menunjukkan

ketidakseimbangan antara tinggi badan dan berat badan akibat jaringan lemak

dalam tubuh sehingga terjadi kelebihan berat badan yang melampaui ukuran

ideal(Sumanto, 2009).

2. Etiologi

a. KetidakSeimbangan Antara Asupan Kalori Dari Makanan Dengan

Penggunaan Kalori Sebagai Energi Pada Aktivitas Fisik.

Overweight dan obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan energi (energy

imbalance) untuk waktu yang lama. Hal ini dapat terjadi karena terlalu banyak

masukan kalori tanpa diimbangi dengan aktifitas fisik yang cukup. Penyebab

energy imbalance bisa karena beberapa faktor, termasuk di dalamnya adalah

kebiasaan hidup, faktor lingkungan, dan genetik. Berat badan seseorang

melibatkan faktor-faktor genetik,metabolisme, kebiasaan, lingkungan, kultur, dan

status sosial ekonomi. Komposisi diet juga berpengaruh besar terhadap terjadinya

overweight dan obesitas, dan kedua faktor ini banyak digunakan untuk mencegah

dan mengobati obesitas (Smith, 1996).

b. Lingkungan Tempat Tinggal.

Lingkungan merupakan faktor penentu pertumbuhan dan perkembangan

individu karena penyedia kebutuhan dasar individu termasuk lingkungan sosial.

Faktor lingkungan seseorang memang mempunyai peranan yang cukup berarti

yang mempengaruhi bagaimana pola makan seseorang. Kusmawardhani (2006)

mengungkapkan bahwa pola makan seseorang dapat bersifat berlebihan dalam


23

periode tertentu karena menyukai makanan tersebut, kecintaan makanan ini

apabila tidak dapat diatasi dapat menyebabkan obesitas, dan hal ini akan menjadi

ketagihan secara emosional apabila digunakan dalam pengendalian stress, mood

dan rasa kehilangan.

c. Faktor Genetik.

Banyak laporan yang menunjukkan adanya hubungan antara pola

keturunan dengan obesitas. Jika salah satu orang tua dengan obesitas maka

peluang anaknya menjadi obesitas adalah 40%. Jika kedua orang tua dengan

obesitasmaka peluang anaknya menjadi obesitas yaitu 80%. Peluang tersebut

makin kecil jika kedua orang tua tidak mengalami obesitas,yaitu 7%. Obesitas

berhubungan dengan pertumbuhan pada satu tahun pertama yang akan

berpengaruh terhadap terjadinya obesitas pada masa dewasa beserta komoditas

(Smith, 1996).

d. Faktor Neuro Psikologik.

Nafsu makan dikendalikan oleh stimulus sensorik yang akan merangsang

korteks serebri serta pusat otonom di hipotalamus. Gangguan yang menyebabkan

perubahan pada pola makan sangat luas, mulai dari kerusakan di hipotalamus

bagian ventromedial yang mengakibatkan peningkatan konsumsi makanan sampai

pada reaksi individu dalam menanggapi stimulus (Kusmawardhani 2006) .

3. Patofisiologi

Pada hakekatnya obesitas terjadi ketika energi yang dikonsumsi melebihi

penggunaan energi oleh tubuh, antara lain akibat masukan energi tinggi sedangkan

penggunaan energi normal/rendah atau masukan energi normal tetapi penggunaan

energi rendah.
24

Akumulasi lemak dalam tubuh berlebihan terjadi masukan energi total

melebihi total energy expenditure, termasuk energi yang digunakan untuk

pertumbuhan normal. Ketidakseimbangan energi ini didapat terjadi karena

masukan energi yang berlebih dan atau berkurang energy expenditure yang

digunakan untuk metabolisme, dan aktivitas fisik.Sebagian besar seorang anak

dengan overweightmemiliki riwayat keluarga obesitas yang terjadi akibat

multifaktor. Terdapat hubungan antara perilaku orang tua dalam memperbaharui

terjadinya obesitas di samping faktor genetik (Wang, 2001). Pada penderita

obesitas makanan masuk kedalam tubuh dalam jumlah makanan yang lebih besar

dari pada yang dipakai oleh tubuh untuk energi. Makanan berlebih baik

karbohidrat, lemak, protein kemudian disimpan sebagai lemak dalam jaringan

adipose yang kemudian akan dipakai sebagai energi, dimana jumlah energi yang

memasuki tubuh lebih besar dari pada jumlah energi yang keluar, maka berat

badan akan meningkat. (Anwar, 2005) .

4. Dampak Obesitas

1) Penyakit Kardiovaskuler

Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang terjad akibat penyumbatan

pembuluh darah koroner. Hasil penelitian menyebutkan bahwa dari 500 penderita

kegemukan 88% mendapat terkena risiko penyakit jantung koroner.

Meningkatnya faktor risiko penyakit jantung koroner sejalan dengan terjadinya

penambahan berat badan seseorang. Penelitian lain juga menunjukkan kegemukan

yang terjadi pada usia 20-40 tahun ternyata berpengaruh lebih besar terjadinya

penyakit jantung dibandingakan dengan usia yang lebih tua. (Purwati 2001).

2) Diabetes Melitus tipe-2


25

Diabetes melitus dapat juga disebut penyakit keturunan. Tapi kondisi

tersebut tidak selalu timbul jika seseorang tidak kelebihan berat badan. Lebih dari

90% penderita DM tipe serangan dewasa adalah penderita kegemukan. Pada

umumnya penderita diabetes mempunyai kadar lemak abnormal dalam darah.

Hampir semua orang dewasa yang obesitas dengan diabetes melitus tipe-2

mempunyai IMT ≥ 25 kg/m2 (Purwati 2001).

3) Obstructive sleep apnea

Obstructive sleep apnea sering dijumpai padaobesitas dewasa dengan

kejadian 1:100 dan ditujukan dengan gejala mengorok. Penyebabnya adalah

penebalan jaringan lemak di daerah dinding dada dan perut yang mengganggu

pergerakan dinding dada dan diafragma, sehingga terjadi penurunan volume dan

perubahan pola ventilasi paru serta meningkatkan beban kerja otot pernafasan.

Pada saat tidur terjadi penurunan tonus otot dinding dada dan CO2, serta

penurunan tonus otot yang mengatur pergerakan lidah dan menyebabkan lidah

jatuh ke arah dinding belakang faring yang mengakibatkan obstruksi saluran nafas

intermitten dan menyebabkan tidur tidak nyaman (Purwati 2001).

4) Penyakit Gout.

Pada obesitas orang dewasa cenderung berisiko mengalami gangguan

radang sendi yang serius jika dibandingkan dengan orang yang mempunyai berat

badan ideal. Biasanya orang yang mengalami obesitas berat akan mengalami sakit

sendi baik pada pergelangan tangan,lutut,pinggang, dan penderitanya harus

menurunkan berat badannya secara perlahan-lahan. (Purwati 2001)

5) Hipertensi
26

Orang yang obesitas akan mempunyai risiko yang lebih tinggi terhadap

kejadian hipertensi. Menurut hasil penelitian menunjukkan bahwa pada usia 20-39

tahun orang obesitas mempunyai risiko dua kali lebih besar terserang hipertensi

dibandingkan dengan orang yang mempunyai berat badan normal. (Wirakusumah

1994)

D. Kerangka Teori
27

 Usia
 Jenis Kelamin
 Hormon
kortisol  Pola makan
 Rasa percaya  Pola tidur
diri  Kondisi
 Asupan energi SindromMakan Malam emosi
dan zat gizi (Stress)
makro
 hormon
leptin dan
kortisol
 DM tipe-2

 Faktor Genetik
 Faktor Lingkungan
 Faktor Neuro
Psikologik
 Ketidakseimbangan
asupan kalori
terhadap aktivitas
IMT ( Kg/M2 )
fisik
Obesitas
 Penyakit
 BB (Kg)
kardiovaskuler
 TB (M)
 DM Tipe 2
 Obstructive sleep
apnea
 Penyakit gout
 Hipertensi

Gambar 2.2 : Kerangka Teori


Keterangan :
: variabel yang tidak diteliti
gg
: Variabel yang diteliti

E. Hipotesis Kerja
Jika sindrom makan malam meningkat maka kejadian obesitas meningkat
pada mahasiswa/mahasiswi Fakultas kedokteran UNIBA angkatan 2013.
28