Anda di halaman 1dari 2

Awakening the Conscience inside : The Spirituality of code of ethics for

professional accountant by Prof. Iwan Triyuwono

Membahas mengenai kode etik akuntan dari sudut pandang yang berbeda.
Conscience menjadi kata kunci dalam jurnal ini. Penilaian saya mengenai jurnal
ini, setelah saya membacanya saya merasa mendapatkan pengetahuan baru, hal
lain yang mungkin tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, sesuai dengan
pendahuluan jurnal ini yang menjelaskan bahwa selama ini secara umum seorang
akuntan akan mengikuti kode etik yang telah dibuat oleh suatu badan, dan
berusaha mengikutinya agar dapat dikatakan sebagai akuntan profesional serta
bisa mendapatkan gelar khusus sesuai dengan minat di bidang akuntansi tertentu.
Itu juga yang menjadi dasar saya dalam berfikir selama ini, setiap orang harus
mengikuti sebuah aturan yang telah ditetapkan agar selalu ada di “jalur” yang
benar. Namun setelah berulang-ulang saya membaca jurnal ini, saya menemukan
suatu hal yang baru, yaitu pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani,
manusia dapat menjalankan kehidupan berdasarkan hati nurani yang telah
diberikan Allah. Begitu juga saat kita menjadi seorang akuntan, kita perlu
memahami bahwa aturan yang dibuat oleh manusia sendiri juga pasti memiliki
kelemahan, sudah banyak contoh yang menunjukkan bahwa aturan itu dibuat
untuk dilanggar. Di dalam jurnal ini dijelaskan bahwa akuntan pada dasarnya
merupakan Homo Spiritus memiliki empat elemen, antara lain : desire
(keinginan), intellect (kepandaian), heart (hati/ perasaan), consciense (hati nurani).
Kalimat ini juga menjadi hal baru dalam pemikiran saya, karena memang benar
segala sesuatu harus didasarkan pada hati dorongan hati nurani, di jurnal ini juga
dijelaskan bahwa pada setiap diri manusia itu ada God-Spot di dalamnya. Jadi
pengetahuan baru yang saya dapat dalam jurnal ini adalah seorang profesional
akuntan merupakan Homo Spiritus yang memiliki empat elemen, yaitu desire,
intellect, heart dan conscience. Kita tidak bisa bekerja hanya berdasarkan sebuah
aturan tanpa adanya hati nurani saat mengerjakannya, perlu adanya keseimbangan
dari keempat elemen tersebut agar terwujud seorang akuntan profesional yang
tulus dan memiliki cinta saat bekerja.
Perbandingan The Spirituality of code of ethics for professional accountant
dengan kode etik versi IAI

Dalam kode etik IAI terdapat beberapa prinsip yang menjadi dasar, yaitu
tanggung jawab profesi, kepentingan publik, integritas, obyektivitas, kompetensi
dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan, perilaku profesional serta standar
teknis. Hal menarik yang bisa saya dapat adalah dalam The Sprituality of code of
ethics memiliki seluruh unsur yang menjadi prinsip dasar kode etik IAI,
sedangkan dalam kode etik IAI tidak memiliki unsur spiritual berdasarkan hati
nurani yang telah dibahas sebelumnya. Salah satu yang menarik dalam prinsip
kode etik IAI adalah tanggungjawab profesi yang menjelaskan bahwa sebagai
akuntan profesional setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan
moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya. Setidaknya
pertimbangan moral merupakan bagian dari sprituality, walaupun tidak secara
keseluruhan. Sedangkan dalam sprituality of code of ethics terdapat prinsip desire,
yang didalamnya terdapat prinsip fundamental seperti Integrity, objectivity,
professional, competence and due care,, confidentiality, professional behavior.
Menurut pendapat saya, sprituality of code of ethics memiliki prinsip yang sangat
lengkap, tidak hanya membahas mengenai sekedar peraturan tetapi juga
bagaimana dalam penerapan aturan tersebut diikuti oleh sikap yang berasal dari
hari nurani setiap manusia. Menjalankan profesi sebagai akuntan profesional yang
tidak hanya berdasarkan pada prinsip yang telah diatur dalam sebuah pedoman
namun juga menjalankannya dari hati nurani.