Anda di halaman 1dari 41

BAB II

Hormon Hipotalamus Dan Hipofisis


2.1. Kelenjar Pituitari (Hipofisis)
Pituitari berasal dari kata “pituita” yang artinya
lendir atau secret kental. Sedangkan hipofisis berasal dari
kata “hypo” yang artinya di bawah, dan “physis” yang
artinya tumbuh (Seely et al. 2007: 278). Kelenjar pituitary
(hipofisis) merupakan suatu kelenjar kompleks yang
mensekresi hormone peptida. Hormon peptida tersebut
sangat mempengaruhi hampir seluruh fungsi tubuh. Seluruh
sekresi kelenjar pituitari dikontrol oleh hipotalamus.
Hipotalamus dikontrol oleh rangsang saraf dari otak (Patton
& Thibodeau 2010: 546 ; Young, et al. 2006: 328).

Kelenjar ini terletak di dasar otak, di bawah ventrikel


tiga, pada dasar tengkorak (sella turcica). Kelenjar pituitari
berbentuk seperti kacang kecil berdiameter kurang lebih 1,2-
1,5 cm dengan berat hanya sekitar 0,5 gram. Kelenjar ini
terbagi menjadi bagian anterior dan posterior, yang asal
embriologi, fungsi dan mekanisme kontrolnya berbeda-beda
pula Karena demikian pentingnya bagian lobus anteriornya,
maka kelenjar ini biasa disebut “master gland” ( Patton &
Thibodeau 2010: 546). Kelenjar ini terbagi menjadi bagian:

a. Adenohipofisis

20 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


Adenohipofisis berasal dari penonjolan ektoderm
oral yang disebut Rathke pouch. Jaringan adenohipofisis
tersusun atas kelompokan sel sekretori yang disokong oleh
jaringan ikat dengan banyak pembuluh darah.
Adenohipofisis terbagi menjadi: (1) pars distalis (lobus
anterior) (2) pars intermedia, pada kebanyakan vertebrata
kelenjar pituitari mempunyai lobus ketiga yang berbeda dari
dua lobus lainnya yaitu lobus intermedia. Namun pada
manusia dewasa, Lobus Intermedia ini hanya ditemukan
dalam bentuk sisa, yang terletak diantara lobus anterior dan
posterior (Considine 2009: 597), dan (3) pars tuberalis,
membentuk bagian luar yang menutupi tangkai pituitari

b. Neurohipofisis

Neurohipofisis berkembang dari perluasan


hipotalamus yang berkembang, yang nantinya akan
bergabung dengan Rathke pouch. Oleh karena itu lobus
posterior tersusun dari jaringan saraf, dan secara fungsional
merupakan bagian dari hipotalamus. Neurohipofis terbagi
menjadi (Gartner & Hiatt 2001: 302): (1) median eminence
(2) infundibulum, membentuk bagian dalam tangkai
pituitary dan prosesus infundibulum (Lobus Posterior)

2.1.1. Adenohipofisis
A. Struktur Mikroskopik Pars Distals

Pars distalis tertutup oleh kapsula fibrosa dan


tersusun atas korda sel-sel parenkim yang dikelilingi serat
21 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
retikular. Serat retikular juga mengelilingi kapiler sinusoid
yang besar dari pleksus kapiler sekunder. Arteri hipofiseal
dan vena porta diselubungi oleh sedikit jaringan ikat.
Endotel yang melapisi sinusoid tampak berlubang-lubang
(fenestrata) yang memungkinkan difusi releasing factor ke
sel-sel parenkim dan membentuk akses keluar produk
sekretori.Berdasarkan atas affinitas terhadap zat pewarna,
sel-sel parenkim pars distalis dapat terbagi atas:

1. Kromofil

Kromofil merupakan sel parenkim pars distalis yang


mempunyai affinitas terhadap pewarnaan. Kromofil terbagi
menjadi :

a. Asidofil

Sel asidofil mempunyai affinitas terhadap pewarna


asam. Granula sekretori sel asidofil akan tampak berwarna
oranye kemerahan. Asidofil terbagi menjadi: (1)
Somatotrof, yang mempunyai nukleus tunggal yang terletak
di tengah, apparatus Golgi berukuran sedang, mitokondria
berbentuk batangan kecil, retikulum endoplasma kasar
dalam jumlah yang banyak, dan granula sekretori
berdiameter 300-400 nm. Somatotrof adalah sel yang
mensekresi somatotropin (GH) dan (2) Mammotrof, yaitu sel
yang mensekresi prolaktin. Mammotrof biasanya tampak
dalam bentuk tunggal (tidak berkelompok). Selama periode
laktasi, organel tampak membesar, dan kompleks Golgi
hampir menyamai besar nukleus.
22 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
b. Basofil

Sel basofil mempunyai affinitas terhadap pewarnaan


basa. Granula sekretori sel basofil akan tampak berwarna
kebiruan. Basofil terbagi menjadi: (1) Kortikotrof, yang
tersebar sepanjang pars distalis. Kortikotrof berbentuk sel
oval, memiliki sel tunggal dengan organel yang relatif
sedikit. Granula sekretorinya berdiameter sekitar 250-400
nm. Kortikotrof mensekresi ACTH (Adrenocorticotropic
Hormone) & LPH (Lipotropic Hormone) (2) tirotrof,
terbenam di dalam korda parenkim agak jauh dari sinusoid.
Sel ini dapat dikenali dari granula sekretori kecilnya yang
berukuran kurang lebih 150 nm. Granula ini mengandung
TSH (tirotropin) (3) Gonadotrof, merupakan sel berbentuk
bulat dengan komplek Golgi yang berkembang dengan baik,
serta retikulum endoplasma kasar dan mitokondria dalam
jumlah yang melimpah. Granula sekretorinya mempunyai
diameter yang bervariasi antara 200-400 nm. Gonadotrof
terletak dekat dengan sinusoid dan mensekresikan FSH dan
LH. Belum jelas apakah terdapat dua subpopulasi
gonadotrof , satu mensekresikan FSH, sedangkan yang lain
mensekresikan LH; atau apakah kedua jenis hormon ini
dihasilkan oleh satu jenis sel dalam fase siklus sel yang
berbeda.

2. Kromofob

Kromofob merupakan sel parenkim pars distalis yang


tidak mempunyai (atau sangat sedikit) affinitas terhadap
23 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
pewarnaan. Kromofob mengandung sedikit sekali
sitoplasma bila dibandingkan dengan kromofil. Kromofob
kemungkinan merupakan stem sel nonspesifik atau mungkin
kromofil degranulasi, meskipun beberapa sel masih
mengandung beberapa granula sekretori.

3. Sel folikulostelata
Sel folikulostelata merupakan sel non sekretori yang
banyak terdapat pada pars distalis. Meskipun fungsinya
belum jelas, sel ini mempunyai prosesus panjang yang
membentuk gap junction dengan sel folikulostelata lainnya
(Gartner & Hiatt 2001: 307-308).

B. Struktur Mikroskopik Pars Intermedia

Pars intermedia terletak antara pars distalis dan pars


nervosa. Pars intermedia berupa kista mengandung koloid
(kista Rathke) yang dilapisi oleh epitel selapis kubus. Pada
manusia dewasa, daerah intermedia ini terkadang
mengandung korda sel basofil di sepanjang jaringan kapiler.
Sel-sel basofil ini akan mensintesis prohormon
propiomelanocortin (POMC). Prohormon ini akan
mengalami pemecahan post-translasi membentuk α-MSH
(α- Melanocyte Stimulating Hormone), kortikotropin, β-
lipotropin, dan β-endorfin. Bagaimanapun, diduga POMC
sebetulnya dihasilkan oleh sel-sel kortikotropin lobus
anterior dan lobus intermedia (daerah intermedia) yang
pada manusia mengalami rudimenter. Meskipun α-MSH
merangsang produksi melanin pada hewan rendah, pada

24 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


manusia α-MSH diduga merangsang keluarnya prolaktin
sehingga disebut Prolactin Releasing Factor (PRF).

C. Struktur Mikroskopik Pars Tuberalis

Pars tuberalis terletak mengelilingi tangkai pituitari,


namun seringkali pars tuberalis tidak dijumpai di bagian
posterior. Jaringan ikat seperti lapisan tipis pia arakhnoid
memisahkan pars tuberalis dari tangkai infundibulum. Pars
tuberalis tersusun atas korda longitudinal epitel berbentuk
kubus-silindris rendah. Sel-sel ini diperdarahi oleh arteri
dan sistem portal hipofiseal. Selnya bersifat basofilik,
dengan sitoplasma yang mengandung granula-granula kecil
padat, droplet lemak, di sela-selanya terdapat droplet koloid
dan glikogen. Meskipun tidak ada hormon spesifik yang
dihasilkan oleh pars tuberalis, beberapa sel mengandung
granula sekretori yang kemungkinan mengandung FSH dan
LH.

2.1.2. Neurohipofisis
A. Hipotalamohipofiseal Tract

Akson tak bermielin sel-sel neurosekretori dimana


badan selnya terletak di dalam nukleus supraoptik dan
nukleus paraventrikular hipotalamus, akan masuk ke pituitari
posterior. Akson tersebut akan membentuk
hipotalamohipofiseal tract, dan menyusun bagian terbesar
kelenjar pituitari posterior.
25 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
Sel-sel neurosekretori dari nukleus paraventrikular
akan mensekresi hormon oksitosin. Sel-sel neurosekretori
dari nukleus supraoptik akan mensekresi hormon
vasopressin/ADH (Anti Diuretic Hormone). Sel-sel
neurosekretori juga mensekresi protein carrier yang disebut
neurophysin. Neuropysin akan membawa oksitosin &
vasopressin ke terminal akson pituitari posterior.

B. Struktur Mikroskopik Pars Nervosa

Secara teknis, sebetulnya pars nervosa bukan


merupakan kelenjar endokrin. Akson bagian terminal
distal dari hipotalamohipofiseal tract akan berakhir di pars
nervosa dan menyimpan sekret. Akson ini disokong oleh sel
yang berbentuk seperti glia yang disebut pituisit. Bila pars
nervosa diwarna dengan pewarnaan hematoxylin chrome
alum, maka akan tampak akson yang tampak melebar
berwarna hitam kebiruan yang berisi granula sekretori, yang
disebut badan Herring. Kurang lebih 25% volume pars
nervosa diisi oleh pituisit. Pituisit mengandung droplet
lemak, pigmen lipokrom, dan filament intermediet. Pituisit
juga mengandung banyak prosesus sitoplasma dan
membentuk gap junction satu sama lain (Gartner & Hiatt,
2001: 309).
Suplai darah melalui arteri kelenjar pituitari berasal
dari dua pasang pembuluh darah yang muncul dari arteri
carotid interna. Arteri hipofiseal superior akan mensuplai
pars tuberalis dan infundibulum. Arteri ini juga akan
membentuk jaringan kapiler yang luas di daerah median
eminence yang disebut pleksus kapiler primer. Arteri
26 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
hipofiseal inferior terutama mensuplai lobus posterior,
meskipun arteri ini juga sedikit bercabang ke lobus anterior.
Pleksus kapiler primer di daerah median eminence
akan mengalirkan darahnya ke pleksus kapiler sekunder di
daerah pars distalis. Kedua jenis kapiler ini merupakan jenis
kapiler fenestrata. Pleksus kapiler sekunder akan
mengalirkan darah ke vena porta hipofiseal (Gartner & Hiatt
2001: 303)

2.2. Biosintesis Hormon Hipofisis (pituitari)


Rangsangan hormon pituitari dapat berasal dari
dalam maupun luar tubuh. Otak akan memberi sinyal ke
kelenjar pituitari untuk meningkatkan atau menurunkan
tingkat sekresi hormon tertentu. Dengan demikian, otak
berperan menghubungkan kelenjar pituitari dengan peristiwa
yang terjadi di luar atau di dalam tubuh, yang akan
berdampak pada tingkat sekresi hormone pituitari.
Hubungan fungsional antara otak dan kelenjar pituitari,
dimana bagian hipotalamus memainkan peranan utama ini
disebut sebagai Aksis Hipotalamus-Pituitari.
Hipotalamus akan membentuk hormon yang akan
disimpan dalam median eminence. Hormon neurosekretori
hipotalamus tersebut akan masuk ke pleksus kapiler primer
yang nantinya akan mengalirkan hormon tersebut ke vena
porta hipofiseal. Vena porta hipofiseal akan mengalir ke
infundibulum dan berhubungan dengan pleksus kapiler
sekunder di daerah lobus anterior. Hormon neurosekretori
akan meninggalkan pembuluh darah untuk merangsang atau

27 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


menghambat sel parenkim di daerah lobus anterior. Dapat
dikatakan bahwa sistem portal hipofiseal adalah sistem
pembuluh darah yang berfungsi pada regulasi hormon pars
distal oleh hipotalamus. Akson neuron yang berasal dari
berbagai bagian hipotalamus akan berakhir di sekitar pleksus
kapiler primer. Ujung akson ini berbeda dari akson lain
seluruh tubuh. Akson ini selain berfungsi mengirimkan
sinyal, juga mampu melepaskan inhibiting hormone (factor)
atau releasing hormone langsung ke dalam pleksus kapiler
primer. Hormon-hormon ini akan masuk ke sistem portal
hipofiseal yang nantinya akan dibawa ke pleksus kapiler
sekunder pars distalis. Hormon-hormon ini akan mengatur
sekresi berbagai macam hormone pituitari anterior.
Releasing hormone dan inhibiting hormone (factor)
diantaranya adalah (Gartner & Hiatt 2001: 304):
1. TRH (Thyrotropin Releasing Hormone) atau Thyroid-
Stimulating Hormone-Releasing Hormone, hormon ini
berfungsi merangsang keluarnya TSH (Tiroid
Stimulating Hormone)
2. CRH (Corticotropin Releasing Hormone),hormon ini
berfungsi merangsang keluarnya adrenocorticotropin.
3. SRH (Somatotropin Releasing Hormone), hormon ini
berfungsi merangsang keluarnya somatotropin (Growth
Hormone)
4. GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone)/ LHRH
(LuteinizingHormone Releasing Hormone), hormon ini
berfungsi merangsang keluarnya Luteinizing Hormone
(LH) dan FSH (Follicle Stimulating Hormone)
5. PRH (Prolactin Releasing Hormone), hormon ini
berfungsi merangsang keluarnya prolaktin
28 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
6. PIF (Prolactin Inhibitory Factor), hormon ini berfungsi
menghambat sekresi prolaktin
7. Somatostatin, hormon ini berfungsi menghambat sekresi
Growth Hormone.

Hormon pituitari terlibat dalam pengaturan volume


dan komposisi cairan tubuh. Hormon pituitari juga terlibat
dalam perubahan fungsi tubuh, sehubungan dengan
pertumbuhan, reproduksi, dan respon yang tepat terhadap
stress dan trauma. Hormon pituitari menimbulkan efek
fisiologis dengan cara langsung berpengaruh ke sel target,
atau bisa juga merangsang kelenjar endokrin lain untuk
mensekresikan hormon, yang kemudian akan mengakibatkan
perubahan fungsi tubuh (Considine 2009: 596).

29 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


Sajian :
Kelenjar Hipofisis
Pewarnaan : Hematoxylin Eosin (HE)
Perbesaran: 4 x 10
Keterangan gambar:
A : Pars distal adenohipofisis
B : Pars intermedia
C : Lobus posterior neurohipofisis

30 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


Sajian :
Kelenjar Hipofisis
Pewarnaan : Hematoxylin Eosin (HE)
Perbesaran: 10 x 10
Keterangan gambar:
A : Pars distal adenohipofisis
B : Lobus posterior neurohipofisis (hanya tampak dalam
potongan kecil)

31 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


Sajian :
Kelenjar Hipofisis
Pewarnaan: Hematoxylin Eosin (HE)
Perbesaran: 20 x 10
Keterangan gambar:
A : Pars distalis adenohipofisis
B : Lobus posterior neurohipofisis (tampak dalam potongan
kecil)

32 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


Sajian :
Kelenjar Hipofisis
Pewarnaan: Hematoxylin Eosin (HE)
Perbesaran: 40 x 10
Keterangan gambar:
C : Sel asidofil
D : Sel basofil
E : Sel kromofob
F : Vaskular

33 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


2.3. Hormon-hormon Hipofisis pars distalis
Poros hipotalamus-hipofisi digambarkan sebgai suatu
jeram, Pengaturan umpan balik balik negatif, alur panjang
dan pendek dalam upaya lebih aktif yang paling akhir yaitu
yang dipengaruhi oleh hipofisi anterior.

Gambar 7. Poros hipotalamus-hipofisis

Secara strukturala hormon-hormon hipofisis pars


distalis seperti GH, prolaktin (PRL) dan somatomamotropin
korionok (CS/laktogen plasenta) merupakan hormon protein,
yang memiliki sekitar 190-199 asam amino. Masing-masing
hormon tersebut memiliki stu residu triptofan tunggal yaitu
34 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
GH dan CS pada posisi asam amino 85 sedangkan PRL pada
posisi asam amino 91, 2 ikatan disulfida yang homolog.
Asam amino homolog antara GH dan CS terdapat 85% dan
antara GH dan PRL sebanyak 35%. Ketiga hormon tersebut
mempunyai faktor antigen yang sama, memiliki aktivitas
laktogenik menstimulasi pertumbuhan, selain itu memiliki
perbedaan ketiga hormon tersebut memiliki reseptor jaringan
yang masing-masing spesifik. Produksi GH dan PRL di
hipofisis anterior sedangkan CS di plasenta, melalui
mekanisme poros hipotalamus dan hipofisis.

Hormon lain yang mekanisme kerjanya dipengaruhi


oleh poros hipotalamus-hipofisis adalah golongan hormon
glikoprotein/gonadotropin, meliputi TSH, LH, FSH dan hCG
. Semua hormon ini mempengaruhi berbagai proses biologik.
Hormon ini berinteraksi dengan reseptor permukaan sel dan
mengaktifkan adenilat siklase serta hormon-hormon tersebut
menggunakan cAMP sebagai mesenger intrasel. Masing-
masing hormon terdiri dari 2 subunit yaitu α dan β yang
dihubungkan oleh ikatan non-kovalen. Pada sub-unit β
sangat menentukan aktivitas biologis yang spesifik yang
dikenali oleh reseptor. Tiap sub-unit disintesis dari mRNA
yang unik. Hormon-hormon ini awalnya berkembang dari
gen sel yang sama, selnjutnya subunit β mengalami evolusi
lebih lanjut untuk menghasilkan hormon yang spesifik.

Setiap hormon glikoprotein, pada sub-unit α


mengandung 2 oligosakarida berikatan dengan aspargin,
memiliki 5 jembatan disulfida yang bebas ditemukan dalam
kelenjar hipofisis dan plasenta. Pada sub-unit β mempunyai
35 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
1 atau 2 oligosakarida berikatan dengan aspargin dan
memiliki 6 jembatan disulfida. Sub-unit α dan β di
translokasikan dari mRNA dengan sintesis kontrol yang
berbeda, kecenderungan sub unit β sintesisnya dibatasi guna
membatasi produk yang tidak berlebihan. Semuanya
disintesis sebagai preprohormon dan akan mengalami proses
posttranslasi dalam sel dan menghasilkan protein yang
terglikosilasi.

Kelompok gonadotropin ini bertanggungjawab atas


proses gametosis dan steroidogenesis di dalam kelenjar
gonad. Hormon glikoprotein dengan berat molekul + kDa,
hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh hipofisis
anterior. Kelompok peptida proopiomelanokortin (POMC)
yang terdiri atas beberapa peptida antara lain ACTH, LPH,
MSH bekerja sebagai hormon dan endorfin sebagai
neurotransmiter datau neuromodulator. POMC ini disintesis
sebagai molekul prekusor dengan 285 asam amino dan
diproses secara berbeda dalam berbagai regio kelenjar
hipofisis. Gen POMC diskresikan dalam lobus anterior dan
lobus intermedius hipofisis. Rangkaian yang paling
dilindungi yaitu fragmen N-terminal, regio ACTH dan regio
endorfin-β. POMC adalah produk yang ada hubungannya
dijumpai dalam jaringan otak, plasenta, traktus
gastrointestinal, saluran reproduksi, paru dan limfosit.
Protein POMC diproses secara berbeda di dalam lobus
anterior dibandingkan dengan lobus intermedius.lobus
intermedius hipofisis bersifat rudimenter pada saat dewasa,
tetapi merupakan lobus yang bekerja aktif pada janin dan
wanita hamil. Kelompok peptida dasar dari ACTH
36 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
menghasilkan MSH dan cortotropin like intermediate lobe
protein (CLIP); dari β-lipoprotein yang menhasilkan γ-
lipoprotein, β-MSH, β-endorfin dan α-γ endorfin; serta
peptida besar dengan ujung N-terminal menghasilkan γ-
MSH.

2.3.1. Growth Hormon (GF)/ Somatotropin


Hormon Growth factors (GF) yang berperan penting
dalam tumbuh kembang. GF secara struktural merupakan
protein. GF merupakan protein yang mempunyai aktivitas
hormon. GF berfungsi merangsang proliferasi dan
diferensiasi sel-sel tertentu secara khusus. GF disintesis oleh
berbagai jenis sel. Sintesis GF dalam sel asidofilik dalam
kelenjar hipofisa dalam sel somatotrop. Kadar GF dalam
hipofise : 5-15 mg/BB. GF merupakan polipeptida tunggal
terdiri 191 asam amino serta memiliki sedikit residu
triptofan, dengan BM 22 KDa. Secara struktur GF
mempunyai ikatan disulfida pada residu 53-165 dan 182-
189. Sekresinya dipengaruhi oleh tidur, stress, olah raga dan
makan protein tinggi (arginin). Beberapa Polipeptida GF
antara lain :
1. Epidermal GF (EGF), sumber kelenjar liur tikus serta
berfungsi: merangsang pertumbuhan berbagai sel
epidermal dan epitel
2. Erithropoitin, sumber pada ginjal urin, berfungsi
mengatur pertumbuhan sel-sel eritropoitik.
3. Fibroblast Growt factor (FGF), sumber pada sel-sel
berbeda, berfungsi merangsang proliferasi banyak jenis
sel
37 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
4. Interleukin-1 (IL-1), sumber pada media tertentu,
berfungsi merangsang produksi IL-2 oleh sel T
5. Interleukin-2, sumber media tertentu, berfungsi
merangsang pertumbuhan sel T
6. Platelet De Rived GF ( PDGF), sumber pada platelet,
berfungsi merangsang pertumbuhan sel-sel mesenkim
dan glia.
7. Nerve GF (NGF), sumber pada kelenjar saliva, berfungsi
efek tropik pada neuron simpatik dan neuron sensoris
tertentu
8. Transforming GF ( TGF-α), sumber pada media tertentu,
berfungsi merangsang pertumbuhan berbagai sel
epidermal dan epitel
9. Trasforming GF (TGF-ß), sumber pada ginjal platelet,
berfungsi sebagai stimulator dan inhibitor pada sel-sel
tertentu.

Semua GF akan terikat pada reseptor spesifik yang


terdapat pada bagian luar membran plasma sel targetnya.
Reseptor GF biasanya suatu protein transmembran yang
mengandung lokasi-lokasi pengikatan (binding sites) di
bagian luar membrane sel dan efektor suatu enzim ada pada
bagian dalam/sitoplasma. Sebagian besar efektor enzim pada
reseptor GF adalah tirosin-kinase. Kinase-kinase intrasel
spesifik yang lain adalah serin dan treonin.

Reseptor Gh merupakan anggota superfamili R-


sitokin-hematopoitin, berupa protein dengan BM + 70 kDa
serta memilki domain perentang membran yang tunggal.
Pengikatan GF menyebabkan dimerisasi 2 buah reseptor
38 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
GH, yang mengaktivasi enzim tirokinase JAK, mengaktivasi
sejumlah lintasan pembentukan sinyal, antara lain
berhubungan dengan pertumbuhan tulang (pertumbuhan post
natal) terutama melalui IGF-I. Demikian pula GH
mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lipid, protein dan
mineral yang tidak melalui IGF-I.

Mekanisme kerja GF sama dengan mekanisme kerja


hormon pada umumnya. GF distimulasi pembentukannya
oleh SRH dan dihambat oleh somatostatin. Reseptor GF
bekerja seperti reseptor hormon yang sederhana. Reseptor
tirosin kinase yang aktif sering mengalami saling fosforilasi
yang akan mengubah fungsinya. Hasil autoforforilasi ini
adalah pembentukan dimernya. Dimer resptor kinase
mempunyai afinitas tinggi terhadap protein dan dapat
memulai reaksi-reaksi kaskade yang berhubungan dengan
mitogenik. Ada tanda-tanda bahwa peninggian aktivitas
reseptor GF berkaitan dengan kelainan pertumbuhan sel dan
kanker.

Sel-sel normal perlu GF sebagai mitogen untuk


proliferasi sel. Pada defisiensi GF akan terjadi perlambatan
siklus sel, pertumbuhan sel akhirnya dapat terhenti.
Sebaliknya sel-sel yang sudah mengalami perubahan (sudah
akan menjadi sel tumor) mempunyai kontrol siklus sel yang
lambat, dan tanpa adanya GF siklus sel dapat terputus.
Banyak sel yang sudah berubah mempunyai onkogen yang
homolog dengan kode muatan GF atau reseptornya. Contoh
produk onkogen (onkoprotein), sis menyerupai PDGF, erb β
menyerupai EGF.
39 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
Growth Factors (GF), berasal dari prekusor dengan
molekul besar, yang kemudian akan terpecah-pecah.
Contohnya Epidermal growth factor (EGF), terdiri atas 53
aa, berasal dari pemecahan prekusor dengan 1168 aa,
prekusor ini berasal dari protein komponen membran yang
mengandung bagian EGF beserta 9 aa urutan berikutnya, dan
berada dalam domain membran yang ada di luar sel. EGF
merupakan homolog banyak GF lain pada urutan asam
aminonya. Semua GF akan terikat pada reseptorspesifik
yang terdapat pada bagian luar membran plasma sel
targetnya. Reseptor GF biasanya suatu protein transmembran
yang mengandung lokasi-lokasi pengikatan (Binding
sintesis) di bagian luar membran sel dan efektor suatu enzim
ada pada bagian dalam/sitoplasma. Sebagian besar efektor
enzim pada reseptor GF adalah tirosin-kinase.

GF berfungsi merangsang proliferasi dan diferensiasi


sel-sel tertentu secara khusus. GF berpengaruh pada hampir
semua sel untuk meningkatkan tingkat metabolism,
merangsang sel-sel hati untuk melepaskan somatomedin
(insulin-like growth factor I & II), yang meningkatkan
proliferasi kartilago & membantu pertumbuhan tulang
panjang.

Growth Factors (GF), kinase-kinase intrasel spesifik


yang lain adalah serin dan treonin. Reseptor GF bekerja
seperti reseptor hormon yang sederhana. Reseptor tirosin
kinase yang aktif sering mengalami saling fosforilasi (auto
fosforilasi) yang akan mengubah fungsinya, hasil
autofosforilasi ini adalah pembentukan dimernya. Dimer
40 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
reseptor kinase mempunyai afinitas tinggi terhadap protein
dan dapat memulai reaksi-reaksi kaskade yang berhubungan
dengan mitogenik. Ada tanda-tanda bahwa peninggian
aktivitas reseptor GF berkaitan dengan kelainan
pertumbuhan sel dan kanker.

Sel-sel normal perlu GF sebagai mitogen untuk


proliferasi sel. Pada defisiensi GF akan terjadi perlambatan
siklus sel, pertumbuhan sel akhirnya dapat terhenti.
Sebaliknya sel-sel yang sudah mengalami perubahan (sudah
akan menjadi sel tumor) mempunyai kontrol siklus sel yang
lambat dan tanpa adanya GF siklus sel dapat terputus .
Banyak sel yang sudah berubah mempunyai onkogen yang
homolog dengan kode muatan GF atau reseptornya. Contoh
pada produk onkogen (onkoprotein), sis menyerupai PDGF
atau erb-ß menyerupai EGF.

IGF-I dihasilkan terutama oleh hepar, merupakan


anggota famili gen yang mirip insulin. Awalnya dikenal
sebagai ‘faktor sulfasi’ karena berfungsi pengikatan sulfat ke
dalam tulang rawan untuk sintesis glikosaminoglikan yang
dikenal sebagai ‘somatomedin C. Selain IGF I dan IGF II
mempunyai aktifitas yang identik dengan aktivitas
perangsang multiplikasi (MSA). IGF I dan IGF II berikatan
dengan reseptor membran bila dianalisis dengan
pemeriksaan radioaktif yang spesifik dapat dibedakan
bahwa IGF I mempunyai 70 asam amino, kadarnya dalam
plasma lebih kecil sedangkan IGF II memiliki asam amino
67 asam amino serta kadarnya lebih besar dari IGF I.

41 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


GF memiliki efek melawan aktivitas insulin
(antagonis insulin). Di jaringan hepar dapat meningkatkan
glukoneogenesis. Sehingga jumlah glukosa di hepar
meningkat dan meningkatkan glikogenesis menghambat
glikolisis dengan mobilisasi asam lemak dari triasilgliserol.
Di jaringan ekstrahepatik yaitu jaringan adiposa dan otot
terjadi penurunan glukosa dalam jaringan perifer dan
peningkatan produksi glukosa dalam hati melalui proses
glukoneogenesis dan menurunkan transport glukosa dalam
sel. Pada kondisi hiperglikemia, pemberian GH dalam waktu
lama akan menyebabkan DM, hiperfungsi GH meningkatkan
glukosa pada kondisi DM.

Pada metabolisme GH meningkatkan sintesis protein


terutama kolagen, meningkatkan transportasi asam amino
ke jaringan terutama di otot dan hepar. Dengan
meningkatkan asam amino hepar mempengaruhi
glukoneogenesis dari asam amino glikogenik. Juga
membentuk balance mineral positif ( Ca, Na, K, Mg, P)
sehingga terjadinya retensi. Pada metabolisme lipid dengan
pengaryh GH, pada jaringan adiposa meningkatkan lipolisis
dan meningkatkan asam lemak bebas darah , di dalam hepar
dan otot akan meningkatkan β-oksidasi asam lemak. Oleh
sebab itu terjadi peningkatan ketogenesis dan hal ini
mengalami hiperfungsi GH. Pengaruh GH pada metabolisme
mineral, GH memberikan balance (+) mineral, pengaruhnya
terutama berhubungan dengan kerja GH dalam tulang yaitu
aktivitas GH merangsang pertumbuhan tulang panjang
dalam lempeng epifisis pada anak-anak yang sedang
tumbuh, merangsang pertumbuhan serta akral pada organ
42 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
dewasa dan pada anak-anak juga meningkatkan
pembentukan tulang rawan. GH juga memilki sifat mirip
prolaktin yang mempengaruhi kelenjar mammae. GH
memilki reseptor laktogenik sehingga mempunyai lebih
banyak sifat prolaktin, misal meningkatkan pertumbuhan
kelenjar mammae dan meningkatkan laktogenesis yang aktif
pada masa laktasi. GH ini harus bekerjasama dengan
estrogen, progesteron, oksitosin dan prolaktin.

Patofisiologi yang disebabkan oleh GH, yaitu bila


jumlah GH menurun mengakibatkan panhipopituitarisme
dan defisiensi GH, pada bayi menyebabkan pertumbuhan
tidak tumbuh dengan baik.

2.3.2. Prolaktin
Prolaktin biasa disebut juga hormon Laktogenik,
hormon Mamotropin dan hormon Luteotropik. Prolaktin
merupakan struktur protein dengan berat molekul 23.000,
disekresi oleh laktotrop atau sel asidofilik hipofisa Anterior.
Prolaktin sekresinya meningkat bila distimulasi oleh PRIH
(Prolactin-release inhibiting hormone), Estrogen dan
Oksitosin dan sekresi menurun bila dipengaruhi oleh
dopamin. Aktivitas prolaktin meningkat pada masa
kehamilan. Jaringan target dari prolaktin adalah kelenjar
mammae dan meningkatkan pertumnuhan sel kelnjar dan
laktogenesis. Sedangkan prolaktin pada pria perannya belum
jelas. Reseptor mempunyai ukuran yang sama dengan
ukuran reseptor GH, mempunyai domain perentang
43 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
membran yang tunggal dan bila berikatan prolaktin-reseptor
menghasilkan sinyal melalui lintasan seperti GH.

Peran prolaktin adalah merangsang perkembangan


kelenjar susu (mamae) selama kehamilan, merangsang
produksi ASI setelah proses kelahiran (sekresi prolaktin
dirangsang oleh hisapan bayi), mempertahankan
kehamilan lanjut , mempertahankan korpus luteum, dan
stimulasi puting susu & laktasi. Patologis hormon prolaktin
yang meningkat menybabkan amenore, galaktore
(sekresiASI), ginekomastia (mama membesar pada pria) dan
impotensi pada pria.

Aktivitas prolaktin terlibat dalam proses mengawali


dan mempertahankan laktasi pada saat menyusui. Kadar
fisiologik hormon ini hanya bekerja pada jaringan payudara
yang didukung oleh hormon reproduksi wanita. Kadar yang
berlebihan dari prolaktin dapat memicu perkembangan
payudara pada wanita. Tumor pada sel yang mensekresi
prolaktin menyebabkan amenorea (penghentian haid) dan
galaktore (sekresi ASI) pada wanita. Prolaktin yang
berlebihan berkaitan dengan kaeadaan ginekomastia
(perbesaran payudara) pada pria bisa terjadi sementara
selama pubertas.

2.3.3. CS (Chorionic somatomamotropin/ laktogen plasenta)


CS tidak memilki fungsi yang jelas pada manusia,
diduga hormon ini mempunyai aktivitas laktogenik serta
luteotropik. Mempunyai efek metabolik yang secara kulitatif
44 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
serupa dengan efek metabolik pada GH yaitu menghambat
pengambilan glukosa oleh sel, menstimulasi asam lemak
bebas serta pelepasan gliserol, mengaktifkan retensi nitrogen
serta kalsium, menyebabkan ekskresi kalsium dalam urin
meningkat dan penrunan eksresi fosfor dan kalium dalam
urin.

2.3.4. ACTH (Adrenocorticotropic Hormone)/Corticotropin


ACTH adalah polipeptida berantai lurus dengan berat
molekul 4500 dan terdiri atas 39 asam amino, 23 asam
amino pertama merupakan tempat aktif dan 16 asam amino
berikutnya secara biologis tidak aktif. ACTH ini disintesis di
Retikulum Endoplasma. ACTH bekerja pada membran sel,
keberadaanya dikontrol oleh CRH (Corticotropin Releasing
Hormone) yang terdapat dalam hipotalamus, dan untuk
aktivitasnya memerlukan cAMP.

ACTH berfungsi meningkatkan sintesis dan


pelepasan kortikosteroid berupa hormon kortisol dan
kortikosteron dari korteks kelenjar suprarenalis (adrenal).
Efek fisiologi dari ACTH adalah terjadinya peningkatan
ekskresi nitrogen, kalium dan fosfor; retensi natrium, klorida
dan air; kenaikan glukosa darah puasa; kenaikan asam lemak
bebas; peningkatan ekskresi asam urat; serta penurunan
eosinophil dan limfosit dan sebaliknya kenaikan
leukositpolimorfonuklear. ACTH mengatur pertumbuhan
fungsi korteks adrenal yang meningkatkan sintesis protein
dan RNA. 24 asam amino dari terminal N diperlukan untuk
aktivitas biologik, 15 asam amino dari karboksi terminal
45 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
terdapat dalam jumlah yang bervariasi. ACTH dapat
meningkatkan sintesis dan pelepasan hormon steroid
adrenal (meningkatkan steroidogenesis) dengan cara
menstimulasi kolesterol menjadi pregnenolon. Stimulasi
ACTH ini mengakibatkan produksi glukokortikoid,
mineralkortikoid dan dehidroepiadrosteron (prekusor
hormon androgen).

ACTH terikat reseptor membran plasma


meningkatkan kadar cAMP intrasel dan peningkatan Ca 2+.
Regulator ACTH melalui negative feedback dan
neurotransmitter yaitu norepinefrinm serotonin dan asetil
kolin. Produksi ACTH berlebihan oleh kelenjar hipofisis
yang merupakan produksi ektopik dari suatu tumor.
Menyebabkan sindroma Cushing, terjadi hiperpigmentasi
serta terjadi peningkatan aktivitas MSH α-β akibatnya
gangguan metabolisme, antara lain keseimbangan N, K dan
P yang menurun; retensi Na yang menyebabkan hipertensi
dan edema; intoleransi glukosa dan DM; peningkatan kadar
asam lemak plasma, penurunan jumlah eosinofil dan limfosit
dan peningkatan jumlah leukosit PMN. Bentuk klinis
terajadi atrofi otot, perubahan distribusi lemak dan obesitas
batang tubuh. Defisiensi ACTH dapat terjadi disebabkan
oleh tumor, infeksi dan infark pada kelenjar hipofisis.

2.3.5. β-LPH (β-lipoprotein)


β-lipoprotein terdiri atas 91 asam amino, ujung
karboksil-terminal dari POMC mengandung rangkaian γ-

46 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


lipoprotein, β-MSH, β-endorfin dan α-γ endorfin dan
metenkafalin yang ditemukan dalam kelenjar hipofisis.
Aktivitas β-lipoprotein menyebabkan lipolisis dan mobilisasi
asam lemak dan juga berfungsi sebagai prekusor
pembentukan β-endorfin.

2.3.6. β-Endorfin
β-endorfin terdiri 31 asam amino, pada kelenjar
hipofisis mengalami asetilasi. Dalam neuron susunan saraf
pusat peptida ini tidak dimodifokasi serta berfungsi sebagai
neurotransmiter dan neuromodulator. β-endorfin memiliki
reseptor yang sama dengan reseptor opiat yang berperan
untuk mengontrol rasa sakit.

2.3.7. FSH (Follicle Stimulating Hormone)


FSH secara struktur merupakan glikoprotein dengan
berat molekul 25 000, tergolong glikoprotein dengan berat
molekul 25 000 terdiri atas 2 rantai α dan β yang tidak
identik, tidak memiliki ikatan kovalen, tergolong
gonadotropin yang mempengaruhi fungsi dan pematangan
testis dan ovarium. Pembentukan FSH distimulasi oleh
GnRH, dopamin dan beberapa prostaglandin, serta dihambat
oleh inhibin (pada pria).

FSH berikatan dengan reseptor menyebabkan


terjadinya peningkatan cAMP selanjutnya memudahkan
pertumbuhan folikel, menyiapkan folikel untuk LH dan
47 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
memperbesar pengeluaran estrogen yang distimulus oleh
LH. FSH dapat dihambat pada tingkat hipotalamus, hipofisis
oleh pemberian testosterone, progesterone dan FSH sendiri,
demikian pula estrogen dapat bersifat menstimulasi dan
menghambat tergantung kondisi tubuh.

FSH pada laki-laki menstimulasi pertumbuhan


saluran seminalis dan testis dan berperan pada tingkat awal
spermatogenesis. Kadar FSH ini meningkat pada masa
pubertas, pada masa ini pada wanita jumlahnya dapat 10 kali
lipat. FSH pada wanita berfungsi merangsang folikel
sekunder ovarium berkembang dan mensekresi estrogen,
merangsang sel Sertoli tubulus seminiferus memproduksi
Androgen Binding Protein (ABP).

FSH terikat pada reseptor spesifik yang


mengaktifkan enzim adenilat siklase, meningkatkan
produksi c AMP dan meningkankan protein kinase. Jaringan
target sel folikel dalam ovarium dan sel sertoli dalam testis.
FSH dan LH pada pria (testis), FSH meningkatkan aktivitas
sel sertoli, membuat protein binding protein yang
mengangkut testosteron ke sel yang membuat sperma
(spermatogenesis). LH merangsang sel leydig meningkat
menyebabkan peningkatan protein spermatogenesis. Pada
wanita (ovarium) FSH di sel folikel lebih banyak untuk
pembentukan estrogen dan LH di korpus luteum
meningkatkan pembentukan progresteron.

48 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


2.3.8. LH (Luteinizing Hormone/ICSH (Interstitial Cell
Stimulating Hormone)
LH secara struktur merupakan glikoprotein dengan
berat molekul 25 000, tergolong glikoprotein dengan berat
molekul 40 000 terdiri atas 2 rantai α dan β yang tidak
identik, tidak memiliki ikatan kovalen, tergolong
gonadotropin yang mempengaruhi fungsi dan pematangan
testis dan ovarium. Pembentukan LH distimulasi oleh
GnRH pada wanita. Mekanisme kerja LH berikatan dengan
reseptor membaran yang memerlukan cAMP selanjutnya
mensintesis progesteron dan testosteron melalui
penggabungan asam asetat ke dalam pregnolon atau
kolesterol. Konsentrasi LH meningkat selama pubertas,
puncak kadar LH pada saat terjadi pertengahan siklus
(ovulasi). Androgen dapat menghambat LH pada melalui
kelenjar hipofisis.

Fungsi LH pada wanita menstimulasi pematangan


terakhir dari Folikel Graaf, ovulasi dan perkembangan
korpus luteum, membantu FSH merangsang ovulasi,
merangsang pembentukkan korpus luteum, merangsang
sekresi estrogen & progesterone, merangsang feedback
negative ke hipotalamus untuk menghambat pembentukkan
GnRH. LH merangsang sel-sel interstisial (nongerminal)
guna menghasilkan androgen androstendion,
dehidroepiandrosteron dan testosteron.

49 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


Fungsi LH pada pria merangasang pembentukan
testosterone oleh testis, mempertahankan spermatogenesis,
persiapan perkembangan alat kelamin tambahan seperti
ductus deferens, prostat dan vesica seminalis. LH juga
merangsang sel Leydig mensekresi & melepaskan
testosteron, yang akan merangsang feedback negative ke
hipotalamus untuk menghambat pembentukkan GnRH.
Penderita ovarium polikistik dan maskulinisasi kadar LH
meningkat.

LH terikat reseptor di membran plasma yang spesifik


dan menstimulasi produksi progesteron oleh korpus lutium
dan produksi testosteron oleh sel leydig yaitu androsteron
dan DHEA. Pada sindroma ‘stein levantral = policystic
ovarium’ terjadi peningkatan LH sehingga produksi
androgen meningkat (maskulinisasi).

2.3.9. TSH (Thyroid Stimulating Hormone)/Thyrotropin


TSH merupakan glikoprotein dengan berat molekul
30.000, termasuk dalam gonadotropin, terdiri atas sub-unit α
dan β. TSH memiliki struktur yang identic dengan LH, FSH
dan hCG. Aktifitas spesifik TSH berada pada su-unit β.
Stimulasi pembentukan TSH di lakukan oleh TRH
sebaliknya mekanisme penghambatan dilakukan oleh
feedback negative berupa penghambatan oleh sistem saraf
pusat & adanya tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) (hormone
tiroid) dalam darah. Pengaktifan TSH melalui pengikatan
dengan reseptor membrane dan selanjutnya mengaktifkan
cAMP dan adenilat siklase tiroid seluler.
50 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
TSH berfungsi merangsang sintesis dan pelepasan
hormon tiroid yang akan meningkatkan tingkat
metabolisme(Gartner & Hiatt 2001: 305). Hormon tiroid ini
yang akan mempengaruhi metabolism pada tingkat hipofisis.
Penyuntikan TSH dapat menimbulkan hipertiroid,
pertumbuhan tiroid dan aktivitas metabolic serta oksidasi
glukosa meningkat.
TSH terikat reseptor membran plasma dan
mengaktifkan enzim adenilat siklase yang akan
meningkatkan pembentukan cAMP serta bertanggungjawab
atas aktivitas TSH dalam biosintesis hormon tiroid. TSH
mempunyai efek bersifat akut terhadap fungsi tiroid dalam
waktu beberapa menit. Peningkatan TSH menyebabkan
semua fase dalam peningkatan biosintesis T3 dan T4,
peningkatan kadar I2. TSH mempunyai efek bersifat kronis
dalam waktu beberapa hari, yaitu menyebabkan
meninhkatkan sintesis protein, fosfolipid dan asam nuklease
serta peningkatan untuk semua jumlah sel tiroid. Efek
metabolik jangka panjang TSH ditimbulkan oleh produksi
dan kelenjar hormon tiroid. Regulasi melalui negative feed
back- TRH hipotalamus.

2.3.10.TRH (Thyrotropin Releasing Hormon)


TRH merupakan tripeptida, pada ujung struktur N-
terminal memiliki senyawa piroglutamil, histidil dan
prolinamida dan pada ujung struktur C terdapat amida.TRH
tersebar luas di dalam hipotalamusterutama di nukleus
paraventrikularis. Mekanisme kerja TRH pada

51 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


hormon/sel/kelenjar sasaran yang ada pada hipofisis anterior
yaitu terutama mengatur sekresi TSH dari tirotrof. TRH
memiliki reseptor spesifik yanh berafinitas tinggi pada
membran sel, namun mekanisme kerjanya hingga kini belum
jelas. Pelepasan TSH terutama dipengaruhi oleh TRH yang
selnajutnya di atur oleh T3 dan T4, namun pelepasan TSH
juga dapat dihambat oleh somatostatin.

Gambar 8. Regulasi hormon TRH dan TSH

52 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


2.3.11.CRH (Corticotropin Releasing Hormone)

CRH merupakan polipeptida dengan 41 asam amino,


yang terutama dihasilkan oleh nukleus paraventrikularis
serta memiliki reseptor di membran plasma. Mekanisme
kerja CRH melalui pengaktifan adenilat siklase yang
membentuk cAMP meningkat dalam intrasel. Peran CRH
peningkatan influks kalsium ke dalam sitosol kortikotrof,
meningkatkan transkripsi gen POMC, peningkatan sekresi
hormon adrenokortikotropik (ACTH) dan produk
pemotongan POMC (prohormon).

2.3.12.GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone)

GnRH merupakan suatu rantai asam amino yang


terlindungi (seperti TRH) dangan 10 asam amino dimana
struktur ujung N terdapat pyroglutamat dan ujung C terdapat
amida. GnRH mempengaruhi hipofisis anterior untuk
meningkatkan LH dan FSH. Mekanisme kerja GnRH
melalui reseptor spesifik di membran plasma gonadotrof,
menstmulasi fosfolipase C selanjutnya menghidrolisis
fosfotidil inositida membentuk IP3 dan DAG menyebabkan
peningkatan Ca2+ sitosol dan peningkatan LH dan FSH yang
juga mempengaruhi aktivitas ovarium dan testis.

53 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


2.3.13.GHRH (Growth Hormone Releasing Hormone)

GHRH merupakan peptida dengan 40 dan 44 asam


amino, yang dibentuk di dalam sel nukleus arkuatus. Asam
amino leusin ujung C menlami amidasi membentuk leusin
amida, aktivitas spesifik GHRH berada pada asam amino
ke 29 pertama pada struktur ujung N-nya. Mekanisme
aktivitas GHRH melalui reseptor yang mengaktifkan
peningkatan pembentukan cAMP dan peningkatan Ca 2+
kalmadulin kompleks yang akan menstimulasi peningkatan
GH.

2.3.14. GHRIH (Growth Hormone Releasing Inhibiting


Hormone)
GHRIH disebut juga somatostatin berperan
menghambat sekresi/pelepasan GH dari hipofisis anterior
terhadap stimulasi dari olah raga, hipoglikemi, arginin dan
GHRH. GHRIH dapat ditemukan di hipotalamus, saluran
pencernaan (lambung dan usus), sel D-pankreas, serat saraf,
saraf perifer, plasenta, medula adrenal dan jaringan retina.
GHRIH memiliki 14 asam amino yang memiliki ikatan
disulfida diantara 2 asam amino sistein. Mekanisme GHRIH
melalui reseptor membran sel sasaran yang mengaktifkan
protein G, yang selanjutnya menurunkan pembentukan

54 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


cAMP intrasel, menurunkan adenilat siklase dan
menurunkan Ca2+ di sitosol.

2.3.15. MSH (Melanocyte Stimulating Hormone)


MSH terdiri atas dua peptide MSH-α dan MSH-β
yang terdapat pada hipofisis. Pada tubuh jumlah MSH-β 50
kali jumlah MSH-α. MSH-α ini memiliki aktivitas
kortikotropik. Sekresi MSH di atur pada tingkat hipotalamus
oleh Melanocyte Stimulating Hormon relase-inhibiting
hormone. Hidrokortison, kortison, epinfrin dan norepinefrin
bersifat menghambat sekresi MSH. MSH merangsang
proses melanogenesis, menstimulasi terjadinya melanosit α
dan β membentuk disperse butiran melanin intrasel,
menyebabkan warna kulit kelihatan gelap atau berpigmen.
MSH dapat meningkatkan penyimpanan melanin melalui
melanosit kulit. Bila pembentukan kortikossteroid pada
sindrom Addison menyebabkan MSH meningkat akan
disertai peningkatan pigmen coklat pada kulit. Pada
penderita panhipoptuitarisme, dimana MSH kurang
menyebabkan tidak terjadi pigmentasi.
Kelenjar pineal adalah kelenjar endokrin yang
berfungsi menghasilkan melatonin. Kelenjar ini merupakan
evaginasi dari bagian posterior atap ventrikel ketiga.
Kelenjar pineal terletak di daerah garis tengah otak, tepat di
bawah ujung posterior korpus kalosum. Kelenjar pineal
berbentuk bola kecil yang kasar, dengan ukuran diameter
berkisar antara 6-10 mm. Kelenjar ini berhubungan dengan
otak melalui suatu tangkai pendek yang mengandung serat

55 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis


saraf. Beberapa diantaranya berhubungan dengan
hipokampus.
Kelenjar pineal terdiri dari dua tipe sel :

a. Pinealosit (pineal chief cell)

Pinealosit adalah neuron yang sangat termodifikasi,


yang tersusun dalam suatu kelompok dan korda yang
dikelilingi oleh jaringan kaya akan kapiler fenestrata.
Pinealosit mempunyai inti berbentuk bulat dengan anak inti
yang jelas terlihat. Sitoplasmanya bergranula. Sel ini
mempunyai banyak prosesus bercabang, dimana diantaranya
berakhir dekat atau di atas pembuluh darah. Granula
sitoplasma pinealosit mengandung melatonin dan
prekursornya serotonin.

b. Sel neuroglia

Sel neuroglia adalah sel yang analog dengan astrosit


yang terdapat pada susunan saraf pusat. Neuroglia ini
tersebar di antara kelompokan pinealosit, dan berhubungan
dengan kapiler.

Pada proses penuaan, ditemukan suatu badan


ekstraselular basofilikyang disebut pasir pineal (pineal
sand). Pasir pineal mengandung lapisan konsentris kalsium
dan magnesium fosfat dalam matriks anorganik. Kelenjar
pineal mensintesis hormone melatonin yang berfungsi
sebagai transduser endokrin. Melatonin menginduksi
perubahan ritmis aktivitas endokrin hipotalamus, pituitari,
56 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
ovarium, dan testis, sebagai respon perubahan cahaya yang
diterima oleh retina mata.

Produksi melatonin diinduksi oleh keadaan gelap dan


dihambat oleh keadaan terang (cahaya). Hal ini
kemungkinan terjadi karena saraf simpatik mentransmisi
pesan dari mata melalui nucleus supra kiasma, jalur pusat
simpatik dan ganglion cervical superior. Diduga efek
melatonin pada manusia termasuk keterlibatannya pada
dimulainya masa pubertas dan bioritme tubuh. Pada hewan,
melatonin berperan pada pengaturan siklus reproduksi. Pada
reptil dan vertebrata tingkat rendah, melatonin berfungsi
pada perubahan warna kulit dengan bekerja pada melanofor,
sel berpigmen yang analog dengan melanosit pada manusia.
(Young, et al. 2006: 344)

MSH menstimulasi melanogenesis dengan membentuk


dispersi butiran melanin intrasel sehingga warna kulit
menjadi lebih gelap. Dalam POMC, ada 3 jenis MSH (α, β,
γ). Pada kasus Addison, aktivitas MSH plasma meningkat,
akan terjadi hiperpigmentasi yang mengakibatkan sekresi
bersamaan dengan β-lipoprotein dan peningkatan aktivitas
MSH.

2.4. Hormon hipofisis pars nervosa


2.4.1. Oksitosin
Oksitosin merupakan polipeptida siklik yang
mengandung 8 asam amino dan memiliki berat molekul
57 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
sekitar 1000. Oksitosin memiliki struktur mirip dengan
vasopressin (isoleusin pada vasopressin diganti fenilalanin
dan leusin pada vsopresin diganti lisin). Oksitosin dibentuk
dalam neurosecretory neuron (neuron supraoptik dan nuclei
paraventrikuler hipotalamus), serta ditemukan pula dalam
glandula penealis. Gugus fungsional oksitosin pada gugus
primer sistin, gugus hidroksil fenolat tirosin, 3 gugus
karboksamida asparagine, glutamin, glisinamida dan ikatan
disulfida.
Oksitosin bersama vasopresin mengalir melalui
akson saraf ke ujung saraf hipofisis untuk disimpan, bila
dibutuhkan akan masuk ke dalam aliran darah. Oksitosis
disintesis dalam nukleus para ventrikularis. Pengaturan
sekresi melalui stimulasi primer yaitu impuls neural yang
terbentuk dari perangsangan papile mammae, stimulasi
sekunder yaitu menstimulasi aktivitas vagina dan uterus, dan
sekresi dirangsang estrogen dan dihambat oleh progesteron.
Mekanisme kerja belum jelas diketahui, namun oksitosin di
duga menyebabkan kontraksi otot polos uterus dan
menginduksi partus. Fungsi fisiologis yang terutama
merangsang kontraksi sel-sel mioepitel kelenjar mammae
dengan meningkatkan aliran ASI ke dalam duktus alveoliaris
maka timbul mekanisme laktasi. Oksitosin dan neurofisin I
juga diproduksi oleh ovarium di duga menghambat
steroidogenesis.

Oksitosin meningkat selama melahirkan. Oksitosin


menybabkan kontraksi uterus, merangsang otot polos uterus
untuk berkontraksi selama orgasme, meragsang kontraksi
uterus saat proses melahirkan (stimulasi serviks akan
58 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
mengirimkan sinyal ke hipotalamus untuk mensekresikan
lebih banyak oksitosin. Hisapan bayi akan mengakibatkan
sinyal ke hipotalamus, mengakibatkan lebih banyak lagi
oksitosin. Hal tersebut menyebabkan kontraksi sel mioepitel
kelenjar mammae yang membantu pengeluaran ASI.

Persiapan ASI oleh bayi melalui rangsangan terhadap


puting payudara, membentuk impuls saraf, sehingga
pelepasan oksitosis dari hipotal dan pelepasan PRL dari
hipofisis anterior dalam menginduksi pembentukan protein
susu.

2.4.2. Vasopresin/pitresin/ ADH (Anti Diuretic Hormone)


Vasopresin merupakan polipeptida siklik yang
mengandung 8 asam amino dan memiliki berat molekul
sekitar 1000. Vasopresin disintesis di nukleus supraoptikus.
Vasopresin dibentuk dalam neurosecretory neuron (neuron
supraoptik dan nuclei paraventrikuler hipotalamus), serta
ditemukan pula dalam glandula penealis.

Mekanisme kerja vasopressin pada ginjal belum


diketahui jelas, namun berikatan kuat pada jaringan ginjal,
serta aktivitasnya melalui pengaktifan pembentukan cAMP.
Bila minum banyak menyebabkan plasma encer
merangsang hipofisis posterior untuk penurunan sekresi
vasopresin dan selanjutnya reabsorbsi air fakultatif menurun
akibatnya urin encer (osmolalitas kurang dari 285 mOsm/L)
dan volume urin meningkat. Sebaliknya bila kurang
minum/kehilanngan air, darah menjadi pekat, osmolalitas
59 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis
meningkat,terjadi rangsangan osmoreseptor/hipofisa
posterior menyebabkan peningkatan sekresi ADH,
akibatnya reabsobsi fakultatif meningkat serta volume urin
menurun dan Bj meningkat (pekat).

Vasopresin konsentrasi tinggi dapat meningkatkan


tekanan darah terhadap pembuluh darah perifer. Vasopresin
pada ginjal berfungsi efek anti diuretik (ADH) hipofisis
posterior, menahan cairan tubuh dengan cara meningkatkan
resorbsi air oleh ginjal, diduga mengatur tekanan osmotik,
menyebabkan kontraksi otot polos arteri, sehingga
meningkatkan tekanan darah, diduga mengembalikan
tekanan darah normal setelah terjadinya pendarahan (Gartner
& Hiatt 2001: 305)

Obat/keadaan yang mempengaruhi sekresi


vasopressin adalah alkohol dapat menurunkan sekresi ADH
serta menyebabkan volume urin meningkat. Stres
pascaoperasi/obat anastesi dapat meningkatkan sekresi
vasopressin serta menybabkan volume urin menurun
(Oliguria).

Regulasi sekresi vasopresin melalui impuls neural


yang memicu pelepasan ADH yang diaktifkan oleh
peningkatan osmolalitas plasma (stimulasi fisiologik
primer), stres emosional(stres fisik) dan senyawa
farmakologik (asetil kolin, nikotin, morfin) yang memiliki
efek peningkatan sintesis ADH dan neurofisin. Inhibitor
sekresi vasopresin yaitu penurunan osmolalitas, epinefrin
dan etanol.
60 | H o r m o n hipotalamus dan hipofisis