Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesadaran masyarakat terhadap hak-hak mereka dalam pelayanan kesehatan dan
tindakan yang manusiawi semakin meningkat, sehingga diharapkan adanya pemberi
pelayanan kesehatan dapat memberi pelayanan yang aman, efektif dan ramah terhadap
mereka. Jika harapan ini tidak terpenuhi, maka masyarakat akan menempuh jalur hukum
untuk membelahak-haknya.
Kebijakan yang ada dalam institusi menetapkan prosedur yang tepat untuk
mendapatkan persetujuan klien terhadap tindakan pengobatan yang dilaksanakan.
Institusi telah membentuk berbagai komite etik untuk meninjau praktik profesional dan
memberi pedoman bila hak-hak klien terancam. Perhatian lebih juga diberikan pada
advokasi klien sehingga pemberi pelayanan kesehatan semakin bersungguh-sungguh
untuk tetap memberikan informasi kepada klien dan keluarganya bertanggung jawab
terhadap tindakan yang dilakukan.
Selain dari pada itu penyelenggaraan praktik keperawatan didasarkan pada
kewenangan yang diberikan karena keahlian yang dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan kesehatan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan
globalisasi. Terjadinya pergeseran paradigma dalam pemberian pelayanan kesehatan dari
model medikal yang menitikberatkan pelayanan pada diagnosis penyakit dan pengobatan
ke paradgima sehat yang lebih holistic yang melihat penyakit dan gejala sebagai
informasi dan bukan sebagai focus pelayanan (Cohen, 1996), maka perawat berada pada
posisi kunci dalam reformasi kesehatan ini. Hal ini ditopang oleh kenyataan bahwa 40%-
75% pelayanan di rumah sakit merupakan pelayanan keperawatan (Gillies, 1994),
Swansburg dan Swansburg, 1999) dan hampir semua pelayanan promosi kesehatan dan
pencegahan penyakit baik di rumah sakit maupun di tatanan pelayanan kesehatan lain
dilakukan oleh perawat. Hasil penelitian Direktorat Keperawatan dan PPNI tentang
kegiatan perawat di Puskesmas, ternyata lebih dari 75% dari seluruh kegiatan pelayanan
adalah kegiatan pelayanan keperawatan (Depkes, 2005) dan 60% tenaga kesehatan adalah
perawat yang bekerja pada berbagai sarana/tatanan pelayanan kesehatan dengan

1
pelayanan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, merupakan kontak pertama dengan sistem
klien.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian aspek etik?
2. Bagaimana aspek hukum / landasan hukum lansia di Indonesia?
3. Apa saja prinsip moral legal etik keperawatan gerontik?
4. Apa saja kelalaian dan malpraktik yang terjadi pada keperawatan gerontik?
5. Bagaimana standart praktik keperawatan gerontik?

C. Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui pengertian aspek etik.
2. Mahasiswa mengetahui aspek hukum / landasan hukum lansia di Indonesia.
3. Mahasiswa mengetahui prinsip moral legal etik keperawatan gerontik.
4. Mahasiswa mengetahui kelalaian dan malpraktik yang terjadi pada keperawatan
gerontik.
5. Mahasiswa mengetahui standart praktik keperawatan gerontik.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Aspek Etik
Etika keperawatan (nursing ethic) merupakan bentuk ekspresi bagaimana perawat
seharusnya mengatur diri sendiri, dan etika keperawatan diatur dalam kode etik
keperawatan.
Aspek Legal Etik Keperawatan adalah Aspek aturan Keperawatan dalam
memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada
berbagai tatanan pelayanan, termasuk hak dan kewajibannya yang diatur dalam undang–
undang.keperawatan.

B. Aspek Hukum / Landasan Hukum


Berbagai produk hukum dan perundang-undangan yang langsung mengenai
Lanjut Usia atau yang tidak langsung terkai dengan kesejahteraan Lanjut Usia telah
diterbitkan sejak 1965. beberapa di antaranya adalah :
1. Undang-undang nomor 4 tahun 1965 tentang Pemberian bantuan bagi Orang Jompo
(Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1965 nomor 32 dan tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 2747).
2. Undang-undang Nomor 14 tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga
Kerja.
3. Undang-undang Nomor 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Kesejahteraan Sosial.
4. Undang-undang Nomor 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita.
5. Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan nasional.
6. Undang-undang Nomor 2 tahun 1982 tentang Usaha Perasuransian.
7. Undang-undang Nomor 3 tahun 1982 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
8. Undang-undang Nomor 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman.
9. Undang-undang Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan keluarga Sejahtera.

3
10. Undang-undang Nomor 11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun.
11. Undang-undang Nomor 23 tentang Kesehatan.
12. Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan
Keluarga Sejahtera.
13. Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1994 tentang Pengelolaan Perkembangan
Kependudukan.
14. Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia (Tambahan
lembaran Negara nomor 3796), sebagai pengganti undang-Undang nomor 4 tahun
1965 tentang Pemberian bantuan bagi Orang jompo.
15. Pasal 27 UUD 45
Segala warga negara bersamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan dan
wajib menjunjungnya hukum dan pemerinahannya itu dengan tidak ada kecualinya.
Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaannya dan penghidupannya yang layak
bagi kemanusiaan.
16. Pasal 34 UUD 45
Fakir miskin dan anak–anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
17. Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 ini berisikan antara lain :
a. Hak, kewajiban, tugas dan tanggung jawab pemerintah, masyarakat dan
kelembagaan.
b. Upaya pemberdayaan.
c. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia potensial dan tidak potensial.
d. Pelayanan terhadap Lanjut Usia.
e. Perlindungan sosial.
f. Bantuan sosial.
g. Koordinasi.
h. Ketentuan pidana dan sanksi administrasi.
i. Ketentuan peralihan.

4
C. Prinsip Moral
1. Autonomy/Otonomi
Berarti mengatur dirinya sendiri, prinsip moral ini sebagai dasar perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan dengan cara menghargai pasien. Contohnya adalah
seorang perawat apabila akan menyuntik harus memberitahu untuk apa obat tersebut,
prinsip otonomi ini dilanggar ketika seorang perawat tidak menjelaskan suatu
tindakan keperawatan yang akan dilakukannya, tidak menawarkan pilihan misalnya
memungkinkan suntikan atau injeksi bisa dilakukan di pantat kanan atau kiri dan
sebagainya. Perawat dalam hal ini telah bertindak sewenang-wenang pada orang yang
lemah.
2. Beneficience
Prinsip beneficience ini oleh Chiun dan Jacobs (1997) dedefinisikan dengan kata
lain doing good yaitu melakukan yang terbaik. Beneficience adalah melakukan yang
terbaik dan tidak merugikan orang lain, tidak membahayakan pasien. Apabila
membahayakan, tetapi menurut pasien hal itu yang terbaik maka perawat harus
menghargai keputusan pasien tersebut, sehingga keputusan yang diambil perawatpun
yang terbaik bagi pasien dan keluarga. Beberapa contoh prinsip tersebut dalam
aplikasi praktik keperawatan adalah, seorang pasien mengalami perdarahan setelah
melahirkan, menurut program terapi pasien tersebut harus diberikan tranfusi darah,
tetapi pasien mempunyai kepercayaan bahwa pemberian tranfusi bertentangan dengan
keyakinanya, dengan demikian perawat mengambil tindakan yang terbaik dalam
rangka penerapan prinsip moral ini yaitu tidak memberikan tranfusi setelah pasien
memberikan pernyataan tertulis tentang penolakanya. Perawat tidak memberikan
tranfusi, padahal hal tersebut membahayakan pasien, dalam hal ini perawat berusaha
berbuat yang terbaik dan menghargai pasien.
3. Justice
Setiap individu harus mendapatkan tindakan yang sama, merupakan prinsip dari
justice (Perry and Potter, 1998; 326). Justice adalah keadilan, prinsip justice ini
adalah dasar dari tindakan keperawatan bagi seorang perawat untuk berlaku adil pada
setiap pasien, artinya setiap pasien berhak mendapatkan tindakan yang sama.
Contohnya dalam keperawatan di ruang penyakit bedah, sebelum operasi pasien harus

5
mendapatkan penjelasan tentang persiapan pembedahan baik pasien di ruang VIP
maupun kelas III, apabila perawat hanya memberikan kesempatan salah satunya maka
melanggar prinsip justice ini.
4. Veracity
Menurut Chiun dan Jacobs (1997) sama dengan truth telling yaitu berkata benar
atau mengatakan yang sebenarnya. Veracity merupakan suatu kuajiban untuk
mengatakan yang sebenarnya atau untuk tidak membohongi orang lain atau pasien
(Sitorus, 2000).
5. Avoid Killing
Menekankan perawat untuk menghargai kehidupan manusia (pasien), tidak
membunuh atau mengakhiri kehidupan. Thomhson (2000: 113) menjelasakan tentang
masalah avoiding killing sama dengan Euthanasia yang kata lainya tindak
menentukan hidup atau mati yaitu istilah yang digunakan pada dua kondisi yaitu
hidup dengan baik atau meninggal. Ketika menghadapi pasien dengan kondisi gawat
maka seorang perawat harus mempertahankan kehidupan pasien dengan berbagai
cara. Tetapi menurut Chiun dan Jacobs (1997: 40) perawat harus menerapkan etika
atau prinsip moral terhadap pasien pada kondisi tertentu misalnya pada pasien koma
yang lama yaitu prinsip avoiding killing. Pasien dan keluarga mempunyai hak-hak
menentukan hidup atau mati. Sehingga perawat dalam mengambil keputusan masalah
etik ini harus melihat prinsip moral yang lain yaitu beneficience, nonmaleficience dan
otonomy yaitu melakukan yang terbaik, tidak membahayakan dan menghargai pilihan
pasien serta keluarga untuk hidup atau mati. Mati disini bukan berarti membunuh
pasien tetapi menghentikan perawatan dan pengobatan dengan melihat kondisi pasien
dengan pertimbangan beberapa prinsip moral diatas.
6. Fidelity
Diartikan dengan setia pada sumpah dan janji. Chiun dan Jacobs (1997 : 40)
menuliskan tentang fidelity sama dengan keeping promises, yaitu perawat selama
bekerja mempunyai niat yang baik untuk memegang sumpah dan setia pada janji.
Prinsip fidelity menjelaskan kewajiaban perawat untuk tetap setia pada komitmennya,
yaitu kewajiban memperatahankan hubungan saling percaya antara perawat dan
pasien yang meliputi menepati janji dan menyimpan rahasia serta caring (Sitorus,

6
2000 : 3). Prinsip fidelity ini dilanggar ketika seorang perawat tidak bisa menyimpan
rahasia pasien kecuali dibutuhkan, misalnya sebagai bukti di pengadilan, dibutuhkan
untuk menegakan kebenaran seperti penyidikan dan sebagainya.
7. Informed Consent
Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu “informed” yang berarti telah
mendapat penjelasan atau keterangan (informasi), dan “consent” yang berarti
persetujuan atau memberi izin. Jadi “informed consent” mengandung pengertian
suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi. Dengan demikian
“informed consent” dapat didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh
pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang
akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.

D. Standart Praktek Keperawatan Gerontik


Menurut Mickey dan Patricia (2006), menjelaskan bahwa standar praktik
keperawatan gerontik 1987 dari American Nurses' Association (ANA) yang secara
substansi merupakan revisi dari standar asli pada tahun 1976 oleh satuan tugas ANA,
dengan bantuan Executive Committee of the Council on Gerontological Nursing.
Berikutnya, standar - standar ini diadopsi oleh ANA Cabinet on Nursing Practice dan
digunakan sebagai model untuk praktik yang dapat digunakan oleh perawat gerontik
dalam berbagai situasi praktik keperawatan yaitu terdiri dari:
1. Semua pelayanan gerontik harus direncanakan, diatur dan diarahkan oleh perawat
eksekutif. Perawat eksekutif memiliki latar belakang sarjana atau master dan
memiliki pengalaman dibidang keperawatan gerontik dan administrasi dalam
pelayanan.
2. Perawat berpartisipasi dalam pembuatan dan pengujian teori sebagai dasar untuk
keputusan klinis. Perawat menggunakan konsep teoritis sebagai petunjuk untuk
melaksanakan praktik keperawatan gerontik yang efektif.
3. Status kesehatan lansia dikaji secara kompherensif, akurat, dan sistematis. Informasi
yang diperoleh selama pengkajian kesehatan mudah diakses dan dibagi dengan
anggota tim interdisipliner perawatan kesehatan yang sesuai, termaksud klien lansia
dan keluarganya.

7
4. Perawat menggunakan data pengkajian kesehatan untuk meentukan diagnosis
keperawatan.
5. Perawat mengembangkan rencana perawatan dalam hubungannya denganklien lansia
dan orang lain yang tepat. Tujuan bersama, prioritas pendekatan keperawatan,
ukuran-ukuran dalam rencana keperawatan yang ditujukan untuk kebutuhan
terapeutik, preventif, restoratif dan rehabilitatif klien lansia. Rencana keperawatan
membantu klien lansia untuk memperoleh dan mempertahankan tingkat kesehatan,
kesejahteraan, dan kualitas hidup tertingginya yang dapat dicapai, serta kematian
yang damai. Rencana keperawatan menfasilitasi kesinambungan perawatan sepanjang
waktu seiring dengan perpindahan klien berbagai lingkungan perawatan, dan
diperbaiki jika perlu.
6. Perawat, dengan dibimbing oleh rencana keperawatan melakukan intervensi untuk
memberikan perawatan dalam rangka memperbaiki kemampuan fungsional klien
lansia, dan untuk mencegah komplikasi serta ketidakmampuan yang berlebihan.
Intervensi keperawatan berasal dari diagnosis keperawatan dan berdasarkan teori
keperawatan gerontik.
7. Perawat secara berkesinambungan mengevaluasi respon klien dan keluarganya
terhadap intervensi yang telah dilakukan dalam rangka menentukan kemajuan
mencapai tujuan dan untuk memperbaiki data dasar, diagnosis keperawatan dan
rencana keperawatan.
8. Perawat berkolaborasi dengan anggota tim kesehatan lainnya dengan berbagai latar
belakang yang memberikan perawatan kepada lansia. Tim ini mengadakan pertemuan
secara teratur untuk mengevaluasi keefektifan rencana keperawatan untuk klien dan
keluarga, dan untuk mengelaola rencana perawatan untuk mngakomodasi kebutuhan
perubahan.
9. Perawat berpartisipasi dalam desain riset untuk menghasilkan badan ilmu
keperawatan gerontik, menyebarkan temuan riset, dan menggunakannya dalam
praktik.
10. Perawat menggunkan kode etik keperawatan yang dimulai oleh ANA sebagai
pedoman pembuatan keputusan etis dalam praktik.

8
11. Perawat bertanggung jawab terhadap pengembangan profesional dan memberikan
kontribusi dalam pertumbuhan profesional sebagai anggota tim interdisiplin. Perawat
berpartisipasi dalam meninjau dan mengevaluasi untuk menjamin kualitas praktik
keperawatan.

E. Permasalahan
Permasalahan yang masih terdapat pada lanjut usia, bila ditinjau dari aspek
hukum dan etika dapat disebabkan oleh faktor seperti berikut :
1. Produk hukum
Walaupun telah diterbitkan dalam jumlah banyak, belum semua produk hukum
dan perundang-undangan mempunyai peraturan pelaksanaan. Begitu pula, belum
diterbitkan peraturan daerah, petunjuk pelaksanaan serta petunjuk teknisnya,
sehingga penerapan di lapangan sering menimbulkan permasalahan. Undang-undang
terakhir yang diterbitkan yaitu Undang-undang Nomor 13 tahun 1998, baru mengatur
kesejahteraan sosial lanjut usia, sehingga perlu dipertimbangkan diterbitkannya
undang-undang lainnya yang dapat mengatasi permasalahan lanjut usia secara
spesifik.
2. Keterbatasan prasarana
Prasarana pelayanan terhadap lanjut usia yang terbatas di tingkat masyarakat,
pelayanan tingkat dasar, pelayanan rujukan tingkat I dan tingkat II sering
menimbulkan permasalahan bagi para lanjut usia. Demikian pula, lembaga sosial
masyarakat dan organisasi sosial dan kemasyarakatan lainnya yang menaruh minat
pada permasalahan ini terbatas jumlahnya. Hal ini mengakibatkan para lanjut usia tak
dapat diberi pelayanan sedini mungkin sehingga persoalannya menjadi berat pada
saat diberikan pelayanan.
3. Keterbatasan sumber daya manusia
Terbatasnya kuantitas dan kualitas tenaga yang dapat memberi pelayanan serta
perawatan kepada lanjut usia secara bermutu dan berkelanjutan mengakibatkan
keterlambatan dalam mengetahui tanda-tanda dini adanya suatu permasalahan hukum
dan etika yang sedang terjadi. Oleh karena itu, upaya mengatasi secara benar oleh

9
tenaga yang berkompeten sering dilakukan terlambat dan permasalahan sudah
berlarut. Tenaga yang dimaksud berasal dari berbagai disiplin ilmu, antara lain :
a. Tenaga ahli gerontologi
b. Tenaga kesehatan : dokter spesialis geriatrik, psikogeriatri, neurogeriatri, dokter
spesialis dan dokter umum terlatih, fisioterapis, speech therapist, perawat
terlatih.
c. Tenaga sosisal : sosiolog, petugas yang mengorganisasi kegiatan (case
managers), petugas sosial masyarakat, konselor.
d. Ahli hukum: sarjana hukum terlatih dalam gerontologi, pengacara terlatih, jaksa
penunutut umum, hakim terlatih.
e. Ahli psikolog : psikolog terlatih dalam gerontologi, konselor.
f. Tenaga relawan : kelompok masyarakat terlatih seperti sarjana, mahasiswa,
pramuka, pemuda, ibu rumah tangga, pengurus lembaga ketahanan masyarakat
desa, rukun warga/RW, rukun tetangga/RT terlatih.
4. Hubungan lanjut usia dengan keluarga
Mary Ann Christ, et al. (1993), menyatakan bahwa berbagai isu hukum dan
etika yang sering terjadi pada hubungan lanjut usia dengan keluarganya adalah :
a. Pelecehan dan ditelantarkan (abuse and neglect)
Pelecehan dan ditelantarkan merupakan keadaan atau tindakan yang
menempatkan seseorang dalam situasi kacau, baik mencakup status kesehatan,
pelayanan kesehatan, pribadi, hak memutuskan, kepemilikan maupun
pendapatannya. Pelaku pelecehan dapat dari pasangan hidup, anak lelaki atau
perempuan bila pasangan hidupnya telah meninggal dunia atau orang lain.
Pelecehan atau ditelantarkan dapat berlangsung lama atau dapat terjadi reaksi
akut, bila suasana sudah tidak tertanggungkan lagi.
Penyebab pelecehan menurut International Institute on Agening (INIA,
United Ntions-Malta, 1996) yaitu :
1) Beban orang yang merawat lanjut usia tersebut sudah terlalu berat.
2) Kelainan kepribadian dan perilaku lanjut usia atau keluarganya.
3) Lanjut usia yang diasingkan oleh keluarganya.
4) Penyalahgunaan narkotika, alkohol dan zat adiktif lainnya.

10
5) Faktor lainnya yang terdapat di keluarga seperti :
a) Perlakuan salah terhadap lanjut usia.
b) Ketidaksiapan dari orang yang akan merawat lanjut usia.
c) Konflik lama di antara lanjut usia dengan keluarganya.
d) Perilaku psikopat dari lanjut usia dan atau keluarganya.
e) Tidak adannya dukungan masyarakat.
f) Keluarga mengalami kehilangan pekerjaan/pemutusan hubungan kerja.
g) Adanya riwayat kekerasan dalam keluarga.
Gejala yang terlihat pada pelecehan atau ditelantarkan antara lain:
1) Gejala fisik berupa memar, patah tulang yang tidak jelas sebabnya,
higiene jelek, malnutrisi dan adanya bukti melakukan pengobatan yang
tidak benar.
2) Kelainan perilaku berupa rasa ketakutan yang berlebihan menjadi
penurut atau tergantung, menyalahkan diri, menolak bila akan disentuh
orang yang melecehkan, memperlihatkan tanda bahwa miliknya akan
diambil orang lain dan adanya kekurangan biaya transpor, biaya berobat
atau biaya memperbaiki rumahnya.
3) Adanya gejala psikis seperti stres, cara mengatasi suatu persoalan
secara tidak benar serta cara mengungkapkan rasa salah atau penyesalan
yang tidak sesuai, baik dari lanjut usia itu sendiri maupun orang yang
melecehkan.
Jenis pelecehan dan ditelantarkan adalah :
1) Pelecehan fisik atau menelantarkan fisik.
2) Pelecehan psikis atau melalui tutur kata.
3) Pelanggaran hak.
4) Pengusiran.
5) Pelecehan di bidang materi atau keuangan.
6) Pelecehan seksual.
Upaya pencegahan terhadap terjadinya keterlantaran pasif (passive
neglect) dan keterlantaran aktif (active neglect) pada lanjut usia dapat
dekelompokkan sebagai berikut :

11
1) Terhadap keterlantaran pasif atau tak disengaja:
a) Mendapatkan orang yang dipercaya untuk melakukan tindakan hukum
atau melakukan transaksi keuangan.
b) Mengusahakan bantuan hukum dari seorang pengacara.
2) Terhadap keterlantaran aktif atau tindak pelecehan:
a) Mengusahakan agar lanjut usia tidak terisolir.
b) Anggota keluarga tetap dekat dan memperhatikan lanjut usia, selalu
mendapatkan informasi baik tentang keadaan fisik, emosi, maupun
keadaan keuangan lanjut usia tersebut.
c) Orang yang merawat lanjut usia menyadari keterbatasannya tidak
ragu-ragu mencari pertolongan atau melimpahkan tanggung
jawaabnya kepada fasilitas yang lebih mampu, manakala mereka tidak
sanggup lagi merawatnya.
d) Masyarakat mengemban sistem pengamatan terhadap tindak
pelecehan kepada lanjut usia (neighbourhood watch).
e) Melaksanakan program pelatihan tentang perawatan lanjut usia jompo
di rumah, pengenalan tanda-tanda terjadinya tindak pelecehan,
pemberian bantuan kepada lanjut usia, cara melakukan intervensi dan
melakukan rujukan kepada fasilitas yang lebih mampu.
Tindak intervensi bila telah terjadi tindak pelecehan terhadap lanjut usia
adalah sebagai berikut :
1) Memberikan dukungan kepada korban pelecehan.
2) Lanjut usia di rumah dan panti Tresna Wredha berhak menolak tindakan
intervensi tertentu.
3) Melatih keluarga untuk melaksanakan tindakan pelayanan tertentu.
4) Memberikan pertolongan dan pengobatan kepada orang yang melecehakan
lanjut usia tersebut.
5) Mengajukan tuntutan hukum kepada orang yagn melecehkan lanjut usia
tersebut.
b. Tindak kejahatan (crime)

12
Lanjut usia pada umumnya lebih takut terhadap tindak kejahatan bila
dibandingkan dengan ketakutan terhadap penyakit dan pendapatan yang
berkurang. Kerugian yang diderita oleh mereka tidak melebihi penderitaan yang
dialami oleh kaum muda. Hanya akibat yang ditimbulkan pada lanjut usia lebih
parah, berupa rasa ketakutan, kesepian, merasa terisolasi dan tidak berdaya.
Faktor yang mempengaruhi tindak kejahatan berupa faktor fisik, keuangan
dan keadaan lingkungan di sekitar lanjut usia tersebut. Jenis tindak kejahatan
adalah:
1) Penodongan.
2) Pencurian dan perampokan.
3) Penjambretan.
4) Perkosaan.
5) Penipuan dalam pengobatan penyakit.
6) Penipuan oleh orang tak dapat dipercaya, pemborong, sales dan lain-lain.
c. Pelayanan perlindungan (protective services)
Pelayanan perlindungan adalah pelayanan yang diberikan kepada para
lanjut usia yang tidak mampu melindungi dirinya terhadap kerugian yang terjadi
akibat mereka tidak dapat merawat diri mereka sendiri atau dalam melakukan
kegiatan sehari-hari.
Pelayanan perlindungan bertujuan memberikan perlindungan kepada para
lanjut usia agar kerugian yang terjadi ditekan seminimal mungkin. Pelayanan
yang diberikan akan menimbulkan keseimbangan di antara kebebasan dan
keamanan.
Jenis pelayanan yang diberikan dapat berupa pelayanan medik, sosial atau
hukum.
1) Pelayanan medic: pelayanan perorangan, pelayanan gawat darurat,
pelayanan berupa dukungan guna meningkatkan ADL (activities of daily
life).
2) Pelayanan sosial: dukungan sosial, bantuan perumahan, bantuan
keuangan/sembako.

13
3) Pelayanan hokum: bantuan pengacara (power of attorney), joint tenancy,
intervivos trust, penunjukan (conservatorship), perlindungan (informal
guardianship). Perlindungan hukum uang dapat diberikan kepada lanjut usia
dapat berupa:
a) Bantuan pengacara (power of attorney)
Lanjut usia harus cukup kompeten untuk mengambil inisiatif dalam
menyerahkan urusannya kepada orang lain.
b) Joint tenancy
Joint tenancy merupakan suatu produk hukum yang memungkinkan
lanjut usia lain atau seorang pengacara untuk mengurus urusan seorang
lanjut usia.
c) Intervivos trust
Pada keadaan ini seorang lanjut usia menunjuk orang lain sebagai
pewaris.
d) Conservatorship
Perorangan atau sebuah badan ditunjuk oleh pengadilan untuk
melindungi hak milik seorang lanjut usia yang telah dianggap tidak
sanggup, pada umumnya bila lanjut usia tersebut berusia lebih dari 75
tahun. Permohonan suatu conservatorship biasanya diajukan oleh
keluarga atau instansi. Dengan adanya conservatorship ini, seorang
lanjut usia tak lagi dapat bersuara dan megurus keuangannya serta
menentukan tempat tinggalnya atau mengambil suatu keputusan penting
lainnya.
e) Informal guardianship
Pengaturan jenis ini berdasakan suatu hukum, akan tetapi meruakan
suatu kesepakatan bahwa pelindung bagi lanjut usia tersebut adalah
tetangganya, panti atau suatu perusahaan.
d. Persetujuan tertulis (informed consent)
Persetujuan tertulis merupakan suatu persetujuan yang diberikan sebelum
prosedur atau pengobatan diberikan kepada seorang lanjut usia atau penghuni
panti. Syarat yang diperlukan bila seorang lanjut usia memberikan persetujuan

14
ialah ia masih kompeten dan telah mendapatkan informasi tentang manfaat dan
risiko dari suatu prosedur atau pengobatan tertentu yang diberikan kepadanya.
Bila seorang lanjut usia inkompeten, persetujuan diberikan oleh pelindung atau
seorang wali.
e. Kualitas kehidupan dan isu etika (quality of life and related ethical issues)
Berbagai faktor pengambilan keputusan yang mempengaruhi kualitas
kehidupan lanjut usia adalah :
1) Kemajuan ilmu kedokteran di bidang diagnostik seperti CT-scan dan
katerisasi jantung, MRI dan sebagainya.
2) Kemajuan di bidang pengobatan seperti transplatasi organ, radiasi dan
sebagainya.
3) Bertambahnya risiko pengobatan.
4) Biaya pengobatan yang meningkat.
5) Manfaat pengobatan yang masih diragukan.
6) Database yang diperlukan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Isu etika muncul bila terjadi suatu pertentangan antara pendapat ilmiah
atau ilmu kedokteran dengan pandangan etika atau perikemanusiaan, misalnya :
1) Untuk mengawali atau melanjutkan pengobatan terhadap lanjut usia yang
sakit berat.
2) Mempertahankan atau melepaskan infus atau tube feeding.
3) Melakukan tindakan yang biayanya mahal.
4) Euthanasia

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Semakin meningkatnya populasi lansia berdampak pula pada peningkatan
permasalahan etik dan legal pada lansia.Penggunaan prinsip etika dan nilai - nilai etik
memberi pengaruh yang besar dalam keperawatan gerontik. Adanya pengaruh etik dalam
perawatan lansia yaitu tiga kategori diidentifikasi berupa pertimbangan, hubungan, dan
perawatan. Kategori-kategori ini membentuk dasar kategori inti yaitu ''Penguatan''
sehingga hal tersebut dapat meningkatkan etika asuhan keperawatan dan kenyamanan
bagi pasien lansia.
Terlepas dari pengaruh etika tersebut, tentunya membutuhkan cara yang tepat
dalam mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan etik dan legal dalam perawatan
lansia. Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian beberapa jurnal merekomendasikan
cara untuk mengatasi permasalahan etik berupa pasien lansia harus dianggap sebagai
populasi yang rentang dan memerlukan dukungan hukum terkait hak mereka. Pasien
lansia merupakan fokus utama dalam melakukan asuhan keperawatan gerontik.
Penerapan nilai - nilai etik dan prinsip etik dapat meningkatkan kepekaan terhadap lansia.
Selain itu, mengembangkan unsur keterbukaan dan musyawarah antara penyedia
pelayanan, tenaga kesehatan, keluarga dan masyarakat akan membentu dalam mengatasi
masalah etis terkait moral yang mucul sehari-hari. Sehingga dapat diterapkan unsur
keadilan pada pasien lansia.

B. Saran
Seorang perawat sudah seharusnya mempertimbangkan aspek legal etik dalam
praktik keperawatan pada lansia sehingga tidak akan ada kejadian malpraktik yang dapat
merugikan. Disamping itu perawat yang taat terhadap hukum akan terhindar dari jeratan
hukum yang dapat merugikan diri sendiri.

16
DAFTAR PUSTAKA

Amelia Nindy. 2013. Prinsip Etika Keperawatan. Yogyakarta: D-Medika.

Darmojo, Boedhi, dan Martono, Hadi. 2000. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut),
Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Hardiwinoto, Stiabudi, Tony. 2005. Pandaun Gerontologi, Tinjauan Dari Berbagai Aspek.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Mickey & Patricia. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. EGC. Jakarta:Buku
Kedokteran.

17