Anda di halaman 1dari 11

PELAPORAN KORPORAT

STUDI KASUS ATAS PENGGUNAAN CONCEPTUAL FRAMEWORK


DALAM PELAPORAN KEUANGAN

“Transformasi PT Jamsostek ke BPJS Ketenagakerjaan dan Pelaporan


Keuangan Rumah Sakit Badan Layanan Umum”

OLEH:
KELOMPOK 3

1. I GEDE SUYADNYA 1707612006


2. PUTU RISKA AMANDA DEWI 1707612008
3. LUH PUTRI SWANDEWI 1707612011

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2018
I. PENGERTIAN CONCEPTUAL FRAMEWORK DALAM PELAPORAN
KEUANGAN
Menurut FASB, menyatakan bahwa kerangka konseptual akuntansi adalah : suatu
sistem yang koheren, sub-sub sistemnya adalah tujuan (objectives) dan konsep fundamental
yang saling terkait. Yang dimaksud tujuan (objectives) adalah konsep-konsep yang mendasari
akuntansi keuangan. Tujuan kerangka dasar ini adalah untuk digunakan sebagai acuan bagi:
- Komite penyusun standar akuntansi keuangan, dalam pelaksanaan tugasnya
- Penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi yang belum
diatur dalam standar akuntansi keuangan
- Auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
- Para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam
laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan

II. THE ROLE OF A CONCEPTUAL FRAMEWORK (PERAN KERANGKA


KONSEPTUAL)

Kerangka konseptual dapat dipandang sebagai teori akutansi yang terstruktur


(Belkaoui, 1993), karena struktur kerangka konseptual sama dengan struktur teori akutansi
yang didasarkan pada proses penalaran logis. Yang dapat digambarkan dalam bentuk hierarki
yang memiliki beberapa tingkatan yaitu:
1. Pada tingkat tertinggi yang teoritis : Kerangka konseptual menyatakan ruang lingkup
dan tujuan pelaporan keuangan.
2. Pada tingkatan selanjutnya : Kerangka konseptual mengidentifikasi dan
mendefinisikan karakteristik kualitatif informasi keuangan (seperti relevansi,
keandalan, komparatif, dan dimengerti) dan elemen dasar akuntansi (seperti aktiva,
kewajiban, ekuitas, biaya pendapatan, dan keuntungan).
3. Pada tingkat operasional yang lebih rendah : Kerangka konseptual berkaitan dengan
prinsip-prinsip dan aturan-aturan (Rules) tentang pengukuran dan pengakuan elemen
laporan keuangan dan tipe informasi yang perlu disajikan

III. OBJECTIVES OF CONCEPTUAL FRAMEWORK (TUJUAN KERANGKA


KONSEPTUAL)

Tujuan kerangka konseptual adalah untuk memberikan pedoman dalam penyusunan


dan penyajian laporan keuangan bertujuan umum (General purposes financial statements).
IASB dan FASB mempertimbangkan kerangka tujuan utama pelaporan keuangan adalah
untuk mengkomunikasikan informasi keuangan kepada pengguna. Informasi tersebut akan
dipilih salah satu dasar kegunaannya dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. Tujuan
ini terlihat ingin dicapai dalam pelaporan yaitu:
a. Berguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.
b. Berguna dalam menilai prospek arus kas.
c. Tentang sumber daya perusahaan, klaim terhadap sumber daya dan perubahan di
dalamnya.

Tujuan utama laporan keuangan adalah memberikan informasi yang:


a. Bermanfaat dalam membuat keputusan kredit dan investasi oleh pihak yang ingin
memahami kegiatan ekonomik dan bisnis perusahaan.
b. Membantu kreditor dan investor yang ada atau yang potensial, serta pemakai lain
dalam menentukan jumlah, waktu dan ketidakpastian aliran kas di masa yang akan
datang.

Mengenai sumber-sumber ekonomi, tuntutan terhadap sumber ekonomi, dan perubahan


di dalamnya. Oleh karena itu tujuan laporan keuangan dapat di klasifikasikan menjadi
tiga bagian yaitu:
a. Tujuan secara luas adalah menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi investor,
kreditor dan pemakai lainnya untuk membuat keputusan.
b. Tujuan secara sempit adalah menyampaikan informasi yang berkaitan dengan
kepentingan kreditor, investor untuk menaksirkan penerimaan kas dari investasi,
pinjaman kepada perusahaan.
c. Tujuan yang terakhir adalah menyampaikan informasi yang bermanfaat untuk
penentuan prospek aliran kas bagi usaha perusahaan

Sifat Kerangka Konseptual

Kebutuhan akan pengembangan kerangka konseptual didasarkan pada beberapa


alasan antara lain:

1. Bermanfaat; Penentuan standar akutansi harus dikembangkan/dibangun dan berkaitan


dengan konsep dan tujuan yang telah ditetapkan.
2. Masalah-masalah praktik baru dan berisiko tinggi terhadap perkembangan akuntansi
harus secara cepat di pecahkan, dengan melihat kerangka dasar teori yang ada.
3. Kerangka konseptual meningkatkan pemahaman pemakai statement keuangan dan
kepercayaan terhadap laporan keuangan.
4. Kerangka konseptual mendukung komparabilitas pernyataan informasi laporan
keuangan suatu perusahaan.

Pengembangan Kerangka Konseptual

Pengembangan Kerangka konseptual menggambarkan ruang lingkup keseluruhan dari


kerangka konseptual dan mencantumkan dokumen-dokumen yang berhubungan dan
diterbitkan sampai dengan tahun 1982 oleh FASB. Secara ringkas, lima Statement of
Financial Accounting Concepts yang dikeluarkan dan berhubungan dengan pelaporan
keuangan untuk perusahaan bisnis adalah:
a. SFAC No. 1 “Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises” yang
menyajikan sasaran dan maksud dari akuntansi.
b. SFAC No. 2 “Qualitative Characteristics of Accounting Information”yang melihat
karakteristik-karakteristik yang membuat informasi akutansi berguna.
c. SFAC No. 3 “Elemen of Financial Statements of Busines Enterprises” yang
memberikan definisi mengenai elemen-elemen dalam laporan keuangan, seperti
aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban.
d. SFAC No. 5 “Recognition and Measurement in Financial Statements of Business
Enterprises” yang menetapkan pengakuan dan kriteria pengukuran fundamental serta
pedoman mengenai bagaimana informasi sebaikanya secara formal dicantumkan
dalam laporan keuangan.
e. SFAC No. 6 “Elements of Financial Statements” yang menggantikan SFAC No. 3
dan memperluas ruang lingkupnya untuk ikut mencakup organisasi-organisasi nirlaba.
f. SFAC No. 7 “Using Cash Flow Information and Present Value in Accounting
Measurements” memberikan sebuah kerangka untuk menggunakan arus kas dan
menyajikan nilai-nilai sebagai basis pengukuran.

IV. THE OBJECTIVE OF FINANCIAL STATEMENT (TUJUAN LAPORAN


KEUANGAN)
1. Tujuan Laporan Keuangan Perusahaan Bisnis

Pelaporan keuangan tidak hanya membuat laporan keuangan namun juga cara-cara
lain dalam mengkomunikasikan informasi yang berhubungan, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dengan informasi yang diberikan oleh sistem akuntansi yaitu: informasi
mengenai sumber daya, kewajiban, penghasilan perusahaan, dan lain-lain. Adapun tujuan
dari laporan keuangan adalah sebagai berikut:
a. Memberikan informasi yang berguna bagi para calon investor dan kreditor maupun
yang sudah ada dan para pengguna lainnya dalam membuat investasi, kredit, dan
keputusan-keputusan lain yang serupa secara rasional.
b. Memberikan informasi untuk membantu para calon investor dan kreditor serta para
pangguna lain yang sudah ada dalam menilai jumlah, waktu dan ketidakpastian dari
penerimaan kas prospektif untuk deviden atau bunga dan penerimaan dari penjualan,
penebusan, atau jatuh temponya surat berharga atau pinjaman.
c. Memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi dari perusahaan, klaim untuk
sumber daya tersebut (kewajiban dari perusahaan untuk mentransfer sumber daya ke
entitas dan ekuitas pemilik lainnya), serta dampak dari transaksi-transaksi, peristiwa,
dan kejadian yang mengubah sumber daya dan klaim atas sumber daya tersebut.
d. Memberikan informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan selama periode
tersebut.
e. Memberikan informasi mengenai bagaimana perusahaan memperoleh dan
menggunakan kasnya, mengenai pinjaman dan pembayaran kembali pinjaman
tersebut, mengenai transaksi-transaksi modalnya, termasuk dividen kas dan distribusi
sumber daya ekonomi lainnya kepada pemilik.
f. Memberikan informasi mengenai bagaimana manajemen dari sebuah perusahaan
menggunakan tanggung jawab pengurusannya kepada pemilik (pemegang saham)
untuk penggunaan sumber daya perusahaan yang dipercayakan kepadanya.
g. Memberikan informasi yang berguna bagi para manajer dan direktur dalam
mengambil keputusan yang sesuai dengan keinginan dari pemilik.

2. Tujuan Laporan Keuangan Perusahaan Non Bisnis


Tujuan pelaporan keuangan oleh organisasi-organisasi non bisnis antara lain sebagai
berikut:
a. Tidak memiliki indikator kinerja yang dapat dibandingkan dengan laba pada
perusahaan bisnis.
b. Pada umumnya tidak menjadi subjek ujian dari kompetisi dalam pasar.

Tiga karakteristik utama yang membedakan organisasi-organisasi non bisnis adalah


sebagai berikut:
a. Sejumlah besar sumber daya diterima dari penyedia sumber daya, yang tidak
mengharapkan untuk menerima pembayaran kembali ataupun keuntungan ekonomi
yang proposional terhadap sumber daya yang telah mereka berikan.
b. Operasi bisnisnya terutama bergerak untuk tujuan-tujuan selain penyediaan barang
atau jasa yang mendapatkan laba atau ekuivalen laba.
c. Tidak ada saham kepemilikan yang pasti yang dapat dijual, dialihkan, atau ditebus,
atau yang akan menjadi hak atas bagian dari distribusi nilai sisa dari sumber daya
pada saat organisasi dilikuidasi.

Terdapat empat kelompok yang khususnya berkepentingan dengan informasi yang


disajikan oleh pelaporan keuangan oleh organisasi non bisnis:
a. Penyedia sumber daya: pemimjam, pemasok, karyawan, pembayar pajak, anggota dan
kontributor.
b. Elemen penyusun yang menggunakan dan memperoleh keuntungan dari jasa- jasa
yang diberikan oleh organisasi.
c. Badan-badan penyelenggara dan pengawas yang bertanggungjawab untuk membuat
kebijakan dan mengawasi serta menilai para manajer dari organisasi non bisnis.
d. Manajer organisasi-organisasi nonbisnis.

Untuk memenuhi kebutuhan informasi dari pengguna-pengguna diatas, FASB


mengeluarkan exposure draft yang memberikan tujuan-tujuan berikut ini:
a. Informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan mengenai alokasi sumber
daya.
b. Informasi yang bermanfaat dalam menilai jasa dan kemampuan untuk memberikan
jasa.
c. Informasi yang bermanfaat dalam menilai kepengurusan dan kinerja manajemen.
d. Informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban, sumber daya bersih, dan
pembebanan-pembebanannya.
e. Kinerja organisasional: pelaporan keuangan oleh organisasi non bisnis hendaknya
meberikan informasi mengenai kinerja organisasi dalam periode tertentu.
f. Likuiditas: Pelaporan keuangan oleh organisasi non bisnis hendaknya memberikan
informasi mengenai bagaimana organisasi non bisnis memperoleh dan menggunakan
dana kasnya, mengenai pinjaman dan pembayaran kembali pinjaman tersebut, serta
mengenai faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi likuiditas organisasi.
g. Penjelasan dan interpretasi manajer: pelaporan keuangan oleh organisasi non bisnis
hendaknya mencakup penjelasan dan interpretasi untuk membantu penyedia sumber
daya dan pengguna-pengguna lain memahami informasi keuangan yang diterima.

V. QUALITATIVE CHARACTERISTIC OF ACCOUNTING INFORMATION


(KARAKTERISTIK KUALITATIF INFORMASI AKUNTANSI)

Karakteristik Kualitatif Dari Informasi Akutansi


a. Kualitas Primer
 Relevansi : informasi akuntansi mampu untuk mempengaruhi
keputusan pengguna informasi dengan membantu mereka
mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan.
 Predective value : membantu memuat prediksi tentang hasil akhir dari
masa lalu, kini dan masa depan.
 Feed-back value : menjustifikasi atau mengoreksi harapan masa lalu.
 Timeliness : harus tersedia sebelum informasi tersebut kehilangan
kapasitas untuk mempengaruhi keputusan.
 Reliabilitas : jika bebas dari pengertian menyesatkan, kesalahan
menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan untuk
pengambilan keputusan. Keandalan suatu informasi tergantung pada
tingkat ketepatan penyajiannya atas suatu peristiwa.
 Verifiability : hasil yang serupa akan dihasilkan jika digunakan metode
pengukuran yang sama oleh pengukur-pengukur independen.
 Representational & Faithfulness : angka-angka dan penjelasan
mewakili apa yang betul-betul ada dan terjadi.
 Neutrality : informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan kelompok
tertentu, informasi tidak bias sehingga tidak mengarahkan penerima
informasi kepada hasil yang diinginkan atau mempengaruhi mode
prilaku tertentu.
b. Kualitas Sekunder
 Komparabilitas : pemakai harus dapat memperbandingkan laporan
keuangan antar periode untuk mengidentifikasikan kecenderungan
(trend) posisi dan kinerja keuangan. Pemakai juga harus dapat
memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk
mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi
keuangan secara relatif. Oleh karena itu pengukuran penyajian dampak
keuangan transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus dilakukan
secara konsisten untuk perusahaan tersebut, antar periode perusahaan
yang sama dan periode yang berbeda.
 Konsistensi : mengaplikasikan perlakuan akutansi yang sama untuk
kejadian yang serupa setiap periode. Perusahaan dapat mengganti satu
metode ke metode lainnya asalkan dapat menunjukkan bahwa metode
yang baru lebih baik daripada metode sebelumnya.
KASUS TRANSFORMASI PT JAMSOSTEK KE BPJS

KETENAGAKERJAAN DAN PELAPORAN KEUANGAN RUMAH


SAKIT BADAN LAYANAN UMUM

A. TRANSFORMASI PT JAMSOSTEK KE BPJS KETENAGAKERJAAN

1. Perintah Transformasi
Perintah transformasi kelembagaan badan penyelenggara jaminan sosial diatur dalam
UU No.40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN). Transformasi
badan penyelenggara diatur lebih rinci dalam UU No. 24 tahun 2011 tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS). UU BPJS adalah pelaksanaan Putusan
Mahkamah Konstitusi atas Perkara No. 007/PUU-III/2005. Penjelasan Umum UU BPJS
alinea keempat mengemukakan bahwa UU BPJS merupakan pelaksanaan Pasal 5 ayat (1) dan
Pasal 52 UU SJSN pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. Kedua pasal ini mengamanatkan
pembentukan BPJS dan transformasi kelembagaan PT ASKES (Persero), PT ASABRI
(Persero), PT JAMSOSTEK (Persero) dan PT TASPEN (Persero) menjadi BPJS.
Transformasi kelembagaan diikuti adanya pengalihan peserta, program, aset dan liabilitas,
serta hak dan kewajiban.

2. Transformasi PT ASKES (Persero) Menjadi BPJS Ketenagakerjaan


Transformasi PT ASKES (Persero), transformasi PT Jamsostek dilakukan dalam dua
tahap:
a. Tahap pertama adalah masa peralihan PT JAMSOSTEK (Persero) menjadi BPJS
Ketenagakerjaan berlangsung selama 2 tahun, mulai 25 November 2011 sampai
dengan 31 Desember 2013. Tahap pertama diakhiri dengan pendirian BPJS
Ketenagakerjaan pada 1 Januari 2014.
b. Tahap kedua, adalah tahap penyiapan operasionalisasi BPJS Ketenagakerjaan untuk
penyelenggaraan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan
pensiun dan jaminan kematian sesuai dengan ketentuan UU SJSN. Persiapan tahap
kedua berlangsung selambat-lambatnya hingga 30 Juni 2015 dan diakhiri dengan
beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan untuk penyelenggaraan keempat program
tersebut sesuai dengan ketentuan UU SJSN selambatnya pada 1 Juli 2015.
Penyiapan pengalihan asset dan liabilitas, pegawai serta hak dan kewajiban PT
Jamsostek (Persero) ke BPJS Ketenagakerjaan mencakup penunjukan kantor akuntan publik
untuk melakukan audit atas:
- Laporan keuangan penutup PT Askes(Persero)
- Laporan posisi keuangan pembukaan BPJS Kesehatan.
- Laporan posisi keuangan pembukaan dana jaminan kesehatan.

Pembubaran PT ASKES (Persero), pada 1 Januari 2014 PT Jamsostek (Persero)


dinyatakan bubar tanpa likuidasi dan PT Jamsostek (Persero) berubah menjadi BPJS
Ketenagakerjaan. Pada saat pembubaran, Menteri BUMN selaku RUPS mengesahkan laporan
posisi keuangan penutup PT Jamsostek (Persero) setelah dilakukan audit oleh kantor akuntan
publik. Menteri Keuangan mengesahkan posissi laporan keuangan pembukaan BPJS
Ketenagakerjaan dan laporan posisi keuangan pembukaan dana jaminan ketenagakerjaan.
Sejak 1 Januari 2014 hingga selambat-lambatnya 30 Juni 2015, BPJS Ketenagakerjaan
melanjutkan penyelenggaraan tiga program yang selama ini diselenggarakan oleh PT
Jamsostek (Persero), yaitu program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua dan jaminan
kematian, termasuk menerima peserta baru. BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan
program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian
sesuai dengan ketentuan UU SJSN untuk seluruh pekerja kecuali Pegawai Negeri Sipil,
Anggota TNI dan POLRI.

B. PELAPORAN KEUANGAN RUMAH SAKIT BADAN LAYANAN UMUM

Berdasarkan peraturan perundang-undangan BLU (Badan Layanan Umum) rumah


sakit memiliki karakteristik, antara lain, sebagai berikut:
a. BLU rumah sakit bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan
berdasarkan prinsip efisiensi dan produktivitas, dan penerapan praktik bisnis yang
etis dan sehat, serta tidak semata-mata mencari keuntungan.
b. BLU rumah sakit merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Kesehatan yang
diberi tugas dan wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan jasa pelayanan,
pendidikan, penelitian, dan pengembangan serta usaha lain dalam bidang kesehatan
yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan senantiasa berorientasi
kepada kepentingan masyarakat.
c. Untuk mendukung pembiayaan kegiatan sesuai dengan tugas dan wewenangnya, BLU
rumah sakit:
- Dapat menerima bantuan dan atau subsidi yang berasal dari APBN/APBD
berupa uang ataupun barang
- Berhak menerima pembayaran hasil jasa pelayanan, pendidikan, dan penelitian
di bidang kesehatan serta hasil usaha-usaha lain yang sah
- Dapat menerima hasil kerja sama dengan pihak lain yang terkait
- Penerimaan yang diperoleh sebagai imbalan jasa yang diberikan BLU rumah
sakit merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
d. Dalam rangka pengembangan usaha, BLU rumah sakit dapat:
- Menerima hibah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku
- Menerima pinjaman dari bank, lembaga keuangan lain dan atau pinjaman dari
luar negeri berdasarkan usulan BLU atas persetujuan Menteri Keuangan; dan
Bekerja sama dengan lembaga lain yang mempunyai keterkaitan fungsi.
e. Kekayaan BLU rumah sakit merupakan kekayaan negara yang tidak dipisahkan, yang
dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk membiayai kegiatan operasional BLU
rumah sakit.
f. Modal BLU rumah sakit tidak terbagi atas saham-saham.
REFERENSI
https://www.academia.edu/9555329/Studi_Kasus_Penggunaan_Conceptual_Framework_dala
m_pelaporan_keuangan (diakses tgl 27 Agustus 2018)