Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA BIOAVAIBILITAS DAN


BIOEKIVALENSI

PEMBUATAN KURVA KALIBRASI

Dosen pengampu:
Yardi Phd., Apt
Drs. Umar Mansur, M.Sc., Apt.
Marvel, M.Farm., Apt.
Suci Ahda Novitri, M.Si., S.Far

Disusun oleh:
Kelompok 4 C
Najah Duha Afifah 11141020000038
Maulia Muhtaromah 11151020000043

Hikmatussaudah . 11141020000033
Kinanti Dwi Nurbaiti 11141020000030
Yoga Sutrisno 11151020000053

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA


SEPTEMBER / 2018

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kalibrasi adalah suatu proses yang menghubungkan signal analitik yang diukur
(respon alat) dengan konsentrasi analit. Ada 3 metode yaitu kurva kalibrasi (kurva
baku), metode adisi standar dan metode standar internal. Kurva kalibrasi adalah
sejumlah larutan baku dengan variasi konsentrasi disiapkan dan di ukur menggunakan
instrumen dan respon instrumen di catat. Larutan baku merupakan larutan analit yang
telah diketahui konsentrasinya. Kurva kalibrasinya merupakan plot konsentrasi baku
(X) versus respon instrumen (Y) dan hubungan keduanya adalah linier.
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada
pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada
panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi
difraksi dengan detektor fototube. Benda bercahaya seperti matahari atau bohlam listrik
memancarkan spektrum yang lebar terdiri atas panjang gelombang. Panjang
gelombang yang dikaitkan dengan cahaya tampak itu mampu mempengaruhi selaput
pelangi mata manusia dan karenanya menimbulkan kesan subyektif akan ketampakan
(vision).
Kini spektrofotometer yang digunakan hanya menggunakan satu lampu sebagai
sumber cahaya. Lampu yang digunakan sebagai sumber cahaya yaitu photodiode yang
telah dilengkapi monokromator. Monokromator disini berfungsi untuk mengubah
cahaya yang berasal dari sumber cahaya sehingga diperoleh cahaya hanya dengan satu
jenis panjang gelombang. Pengukuran menggunakan alat spektrofotometri UV-Vis ini
didasarkan pada hubungan antara berkas radiasi elektromagnetik yang ditransmisikan
(diteruskan) atau yang diabsorpsi dengan tebalnya cuplikan dan konsentrasi dari
komponen penyerap. Berdasarkan hal ini maka untuk dapat mengetahui konsentrasi
sampel berdasarkan data serapan (A) sampel, perlu dibuat suatu kurva kalibrasi yang
menyatakan hubungan antara berkas radiasi yang diabsorpsi (A) dengan konsentrasi
(C) dari serangkaian zat standar yang telah diketahui.
Pada praktikum ini dilakukan pembuatan kurva kalibrasi dan kurva absorpsi
parasetamol. Kurva absorpsi ini digunakan untuk menentukan panjang gelombang
maksimum dari parasetamol, sedangkan kurva kalibrasi ini digunakan untuk
menentukan kadar parasetamol.

2.1 Tujuan Praktikum


1. Dapat mengetahui tahap-tahap dalam pembuatan kurva absorpsi dan kurva
kalibrasi.
2. Dapat menggunakan kurva kalibrasi dalam menganalisa kadar suatu obat.
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Spektrofotometri UV-Vis
Spektrofotometri UV-Vis termasuk salah satu metode analisis
instrumental yang frekuensi penggunaannya paling banyak dalam
laboratorium analisis. Metode ini merupakan metode yang lahir pertama
kali di lingkungan kimia analisis. Pelaksanaan analisis dengan metode ini
cepat, mudah, dan relatif murah, termasuk juga harga instrumen yang relatif
murah. Pengenalan dan pemahaman operasional instrumentasi
spektrofotometer UV-Vis dapat dilaksanakan dengan mudah. Hampir
semua molekul organik dan anorganik dapat ditentukan dengan metode
spektrofotometri UV-Vis, serta tersedia banyak cara untuk mengantisipasi
berbagai macam komponen atau matriks pengganggu. Analisis kuantitatif
untuk analit tunggal (Single Component Analysis/SCA) ataupun penentuan
campuran dua atau lebih analit (Multy Component Analysis/MCA)
didapatkan hasil yang dapat dipercaya dan sahih (Integrity and Validity)
(Tim Penyusun, 2008).
Sinar ultraviolet mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm,
sementara sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang antara
400-750 nm. Warna sinar tampak dapat dihubungkan dengan panjang
gelombangnya (Gandjar dan Rohman, 2008). Radiasi di daerah UV/Vis
diserap melalui eksitasi elektron-elektron yang terlibat dalam ikatan-ikatan
antara atom-atom pembentuk molekul sehingga awan elektron menahan
atom-atom bersama-sama mendistribusikan kembali atom-atom itu sendiri
dan orbital yang ditempati oleh elektron-elektron pengikat tidak lagi
bertumpang tindih (Watson, 2007).
Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis
spektroskopik yang memakai sumber radiasi elektromagnetik UV dekat
(190-380 nm) dan sinar tampak (380 -780 nm) dengan memakai instrumen
spektrofotometer. Radiasi UV jauh (100–190 nm) tidak dipakai, sebab pada
daerah tersebur, udara juga mengalami absorbs radiasi (Tim Penyusun,
2008).
Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum ultraviolet dan
visibel tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektra ultraviolet
dan visibel dari senyawa-senyawa organik berkaitan erat dengan transisi
diantara tingkatan-tingkatan tenaga elektronik. Oleh karena itu, maka
serapan radiasi UV-Vis sering dikenal dengan spektroskopi elektronik
(Basset et al., 1994).
Ketika sinar melewati suatu senyawa, energi dari sinar digunakan
untuk mendorong perpindahan elektron dari orbital ikatan atau orbital non-
ikatan ke salah satu orbital anti-ikatan yang kosong (Clark, 2007).
Perpindahan/lompatan elektron yang mungkin terjadi akibat adanya sinar
adalah:

Lompatan yang lebih besar membutuhkan energi yang lebih besar dan
menyerap sinar dengan panjang gelombang yang lebih pendek. Lompatan
yang ditunjukan dengan tanda panah abu-abu menyerap sinar UV dengan
panjang gelombang yang lebih rendah dari 200 nm (Clark, 2007).
Lompatan yang penting diantaranya adalah lompatan dari orbital pi
ikatan ke orbital pi anti-ikatan; dari orbital non-ikatan ke orbital pi anti-
ikatan; dan dari orbital non-ikatan ke orbital sigma anti-ikatan. Artinya
untuk menyerap sinar pada daerah antara 200 – 800 nm (pada daerah
dimana spektra diukur), molekul harus mengandung ikatan pi atau terdapat
atom dengan orbital non-ikatan. Perlu diingat bahwa orbital non-ikatan
adalah pasangan elektron bebas, misalnya pada oksigen, nitrogen, atau
halogen (Clark, 2007).
Analisis kuantitatif zat tunggal atau SCA (Single Component
Analysis) dilakukan dengan pengukuran harga A pada panjang gelombang
maksimum atau dilakukan pengukuran %T pada panjang gelombang
minimum. Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang tersebut karena
perubahan absorban tiap satuan konsentrasi adalah paling besar pada
panjang gelombang maksimum, sehingga akan diperoleh kepekaan analisis
yang maksimal. Di samping itu, pita serapan di sekitar panjang gelombang
maksimum datar dan pengukuran ulang akan menghasilkan kesalahan
terkecil.
Jika absorbsi suatu seri konsentrasi larutan diukur pada panjang
gelombang, suhu, kondisi pelarut yang sama; dan absorbansi masing-
masing larutan diplotkan terhadap konsentrasinya, maka suatu garis lurus
akan teramati sesuai dengan persamaan A = ɛbc. Grafik ini disebut dengan
plot hukum Lambert-Beer dan jika garis yang dihasilkan merupakan suatu
garis lurus maka dapat dikatakan bahwa hukum Lambert-Beer dipenuhi
pada kisaran konsentrasi yang teramati. Cara lain untuk menetapkan kadar
sampel adalah dengan menggunakan perbandingan absorbansi sampel
dengan absorbansi baku atau dengan menggunakan persamaan regresi linier
yang menyatakan hubungan konsentrasi baku dengan absorbansinya
(Gandjar dan Rohman, 2008).
Data spektra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat digunakan untuk
identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Sedangkan pada aspek
kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel)
dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Radiasi yang
diserap oleh cuplikan ditentukan dengan membandingkan intensitas sinar
yang diteruskan dengan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies
penyerap lainnya. Intensitas atau kekuatan radiasi cahaya sebanding dengan
jumlah foton yang melalui satu-satuan luas penampang per detik. Besarnya
intensitas energi REM yang diabsorbsi proporsional dengan jumlah
kromofornya (konsentrasinya), dan hubungan proporsional ini dirumuskan
dalam bentuk persamaan Hukum Lambert Beer :

A=ɛbc

Keterangan :
A = Absorbansi
ɛ = Absorptivitas molar (cm mg/mL)
b = Tebal kuvet (cm)
c = Konsentrasi (mg/mL)
(Gandjar dan Rohman, 2008).
Dalam Hukum Lambert-Beer terdapat beberapa pembatasan, yaitu :
 Sinar yang digunakan dianggap monokromatis.
 Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai luas penampang
yang sama.
 Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap
yang lain dalam larutan tersebut.
 Tidak terjadi peristiwa fluororesensi atau fosforesensi.
 Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan.
Dengan mengetahui nilai absorbansi dari larutan sampel, melalui
kurva kalibrasi dapat ditentukan konsentrasinya. Penetapan kadar
parasetamol juga dapat ditentukan melalui persamaan regresi linier :

y = bx + a

Keterangan: y = absorbansi; x = konsentrasi


Apabila suatu REM dikenakan kepada suatu larutan dengan intensitas
radiasi semula (I0), maka sebagian radiasi tersebut akan diteruskan (It),
dipantulkan (Ir) dan diabsorbsi (Ia), sehingga :

I0  It  Ir  Ia

Harga Ir (± 4%) dapat diabaikan karena pengerjaan dengan metode


Spektrofotometri UV-Vis menggunakan larutan pembanding sehingga :

I0  It  Ia
Bouguer, Lambert, dan Beer secara matematis menghubungkan antara
transmitan dan absorban dengan intensitas radiasi sehingga didapatkan :

It
T  10 .b.c
I0
1
A  log   .b . c
T

Keterangan :
T = persen transmitan
Io = intensitas radiasi yang datang
It = intensitas radiasi
ε = absorbansi molar (L.mol-1.cm-1)
c = konsentrasi (mol. L-1)
b = tebal larutan (cm)
A = absorbansi

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisa dengan


spektofotometri UV-Vis, terutama untuk senyawa yang semula tidak
berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visibel karena
senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa yang
berwarna (Gandjar dan Rohman, 2008).
a. Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis
Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap
pada daerah tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan merubah
menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan pereaksi tertentu.
Pereaksi yang digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan
tertentu yaitu:
 Reaksinya reaktif dan sensitif
 Reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusibel
 Hasil reaksi stabil dalam jangka waktu yang lama
Keselektifan dapat dinaikkan dengan mengatur pH, pemakaian masking
agent atau penggunaan teknik ekstraksi (Gandjar dan Rohman, 2008).

b. Waktu operasional (operating time)


Cara ini biasa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau
pembentukan warna. Tujuannya untuk mengetahui waktu pembentukan
yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan mengukur hubungan
antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan (Gandjar dan
Rohman, 2008).
Pada saat awal terjadi reaksi, absorbansi senyawa yang berwarna ini
meningkat sampai waktu tertentu hingga diperoleh absorbansi yang
stabil. Semakin lama waktu pengukuran, maka ada kemungkinan
senyawa yang berwarna tersebut menjadi rusak atau terurai sehingga
intensitas warnanya turun akibatnya absorbansinya juga turun. Karena
alasan inilah, maka untuk pengukuran senyawa berwarna (hasil suatu
reaksi kimia) harus dilakukan pada saat waktu operasional (Gandjar dan
Rohman, 2008).
c. Pemilihan panjang gelombang
Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif
adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal.
Untuk memilih panjang gelombang maksimal, dilakukan dengan
membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang
gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu. Ada
beberapa alasan mengapa harus menggunakan panjang gelombang
maksimal, yaitu:
 Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal
karena pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan
absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar.
 Di sekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi
datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan
terpenuhi.
 Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan
oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali, ketika
digunakan panjang gelombang maksimal.
(Gandjar dan Rohman, 2008)

d. Pembuatan kurva baku


Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan
berbagai konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan
berbagai konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan
hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x). Kurva baku
sebaiknya sering diperiksa ulang. Penyimpangan dari garis lurus
biasanya dapat disebabkan oleh: (i) kekuatan ion yang tinggi; (ii)
perubahan suhu, dan (iii) reaksi ikutan yang terjadi (Gandjar dan
Rohman, 2008).

e. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan


Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2
sampai 0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan.
Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan
T adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan fotometrik) (Gandjar dan Rohman,
2008).

Analisis SCA (Single Component Analysis) dibagi atas dua bagian,


yaitu :
 SCA tanpa gangguan absorbsi latar belakang
Analisis kuantitatif dengan cara ini umumnya dilakukan untuk
penentuan kemurnian atau kadar analit tunggal standar yang tidak
berada dalam matriks.
 SCA dengan pengaruh absorbsi latar belakang
Penentuan analit tunggal dengan cara ini biasanya dilakukan apabila
analit berada dalam matriks sampel sehingga tidak mungkin ada
korelasi langsung antara absorban (A) dengan kadar karena adanya
gangguan dari matriks sampel.
2.1.2 Instrumentasi Spektrofotometri UV-Vis
A. Sistem Optik
Pada umumnya konfigurasi dasar setiap spektrofotometer UV-Vis
berupa susunan peralatan optik terkontruksi sebagai berikut :

SR→M→SK→D→A→VD

Keterangan :
SR : Sumber radiasi
M : Monokromator
SK : Sampel Kompartemen
D : Detektor
A : Amplifier atau penguat
VD : Visual display atau meter
Setiap bagian peralatan optik spektrofotometer uv-vis memegang fungsi
dan peranan masing-masing dan saling terkait. Fungsi dan peranan
tersebut dituntut ketelitian dan ketepatan optimal, sehingga akan
diperoleh hasil pengukuran dan tingkat ketelitian dan ketepatan yang
tinggi (Tim Penyusun, 2008).

B. Instrumentasi
1. Sumber radiasi
Sumber radiasi yang umum digunakan adalah lampu deuterium,
lampu tungstein dan lampu merkuri. Lampu deuterium digunakan
pada daerah panjang gelombang 190-380 nm (UV dekat) karena
pada daerah tersebut lampu deuterium memberikan spectrum
energy radiasi yang lurus. Lampu tungstein digunakan sebagai
sumber radiasi pada daerah pengukuran sinar tampak dengan
panjang gelombang 389-900 nm. Sumber radiasi merkuri
merupakan suber radiasi yang mengadung uap merkuri bertekanan
rendah yang biasa digunakan untuk kalibrasi panjang gelombang
spektrofotometer UV-Vis pada daerah 365 nm dan sekaligus
mengecek resolusi dari monokromator.

2. Monokromator
Monokromator berfungsi untuk menghasilkan radiasi
monokromatis dari sumber radiasi yang memencarkan radiasi
polikromatis. Monokromator spektrofotometer UV-Vis umumnya
terdiri dari : celah (slit) masuk, filter optik, prisma dan kisi (grating),
serta celah keluar.

3. Sel atau Kuvet


Sel atau kuvet merupakan wadah sampel yang akan dianalisis.
Ditinjau dari cara pemakaiannya dan dari bahan yang dipakai, kuvet
dibedakan menjadi kuvet permanen yang terbuat dari leburan silika
(dipakai pada panjang gelombang 190-1100 nm) atau gelas (dipakai
pada panjang gelombang 380-1100 nm), dan kuvet disposable satu
kali pemakaian yang terbuat dari Teflon atau plastik. Disamping itu
ada kuvet yang bermulut lebar untuk mengukur kadar zat dalam
pelarut yang tidak mudah menguap dan kuvet bermulut sempit
untuk mengukur kadar zat aktif dalam pelarut yang mudah
menguap.

4. Detektor
Detektor merupakan bagian spektrofotometer yang penting
karena berfungsi untuk merubah sinyal radiasi yang diterima
menjadi sinyal elektonik. Syarat detektor yang baik diantaranya:
 Kepekaan yang tinggi terhadap radiasi yang diteriama, dengan
derau yang minimal.
 Mampu memberikan respon terhadap radiasi pada rentang
panjang gelombang yang lebar (UV-Vis).
 Respon terhadap radiasi harus serempak.
 Respon harus kuantitatif dan sinyal elektronik yang keluar
berbanding lurus dengan radiasi elektromagnetik yang diterima.
 Sinyal elektronik yang dihasilkan harus dapat diamplifikasikan
oleh penguat (amplifier) ke rekorder (pencatat) (Tim Penyusun,
2008).

Macam-macam detektor yang umumnya digunakan


diantaranya:
- Detektor Fotosel
Detektor fotosel terdiri dari katoda sensitive tinggi dalam bentuk
setengah silinder logam yang dievakuasi. Anoda sepanjang sumbu
fotosel tabung lebih sensitif dibandingkan sel fotovoltatik.
- Detektor Tabung Foton Hampa (Vaccum Phototubes)
Digunakan untuk tingkat pencahayaan moderat. Photodiode
vakum mengubah cahaya menjadi electron yang ditangkap oleh
anoda. Dapat beroprasi pada UV 115 nm.
- Detektor Tabung Penggandaan Foton (Photomultiplier
Tubes/PMT)
Umumnya digunakan sebagai detektor spektrofotometer UV yaitu
kombinasi dari dioda dan elektroda pengganda. Evakuasi terdiri
dari tabung berisi fotokatoda 9-16 elektroda. Photomultiplier
Tubes dapat digunakan untuk mendeteksi foton dari 115-1700 nm.
- Detektor Photo Diode-Array/ PDA yang merupakan detektor
dengan teknologi modern.
Detektor yang terdiri atas suatu tatanan yang teratur (array) dari
foto diode aktif dalam jumlah yang sangat banyak (330 buah).
Tiap fotodiode memberikan respon spesifik terhadap radiasi
dengan panjang gelombang tertentu, sehingga radiasi
elektromagnetik dengan rentang panjang gelombang yang luas
(UV-Vis) dapat diterima dengan serempak. Hal ini
mengakibatkan proses scanning dapat berlangsung dengan cepat.
Keunggulan detektor ini dibandingkan detektor lain adalah
sumber radiasinya tunggal, radiasi yang diukur polikromatis,
sehingga sampel kompartemen terbuka, wavelength
reproducibility karena tidak ada gerakan mekanis untuk mengatur
panjang gelombang, dan kecepatan scanning sangat tinggi (Tim
Penyusun, 2008). Suatu diode array terdiri atas serangkaian
detektor fotodiode yang posisinya berdampingan dengan kristal
silikon. Susunan tersebut biasnya mengandung antara 200 dan 100
elemen tergantung pada instumennya. Siklus pindah lebih kurang
100 mili detik. Cahaya dilewatkan melalui suatu polikromator
yang menghamburkannya sehingga jatuh pada diode array, yang
akan mengukur seluruh rentang spectrum sekaligus.

Permasalah analisis dapat terjadi akibat adanya kesalahan


pengukuran pada detektor, antara lain disebabkan oleh:
 Adanya radiasi sesatan yang ditimbulkan oleh peralatan dan
dalam spektrofotometer itu sendiri atau faktor lain dari lingkungan
misalnya debu dan lainnya.
 Pergeseran panjang gelombang karena gerakan mekanis akibat
pengaturan panjang gelombang.

2.1.3 Linearitas
Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan
respon yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik
yang baik, proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Rentang
metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang sudah
ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan, dan
linearitas yang dapat diterima (Harmita, 2004).
Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah
garis regresi yang dihitung berdasarkan persamaan matematik data yang
diperoleh dari hasil uji analit dalam sampel dengan berbagai konsentrasi
analit. Perlakuan matematik dalam pengujian linearitas adalah melalui
persamaan garis lurus dengan metode kuadrat terkecil antara hasil analisis
terhadap konsentrasi analit. Sebagai parameter adanya hubungan linier
digunakan koefisien korelasi r pada analisis regresi linier Y = a + bX.
Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai b = 0 dan r = +1 atau –1
bergantung pada arah garis. Sedangkan nilai a menunjukkan kepekaan
analisis terutama instrumen yang digunakan. Parameter lain yang harus
dihitung adalah simpangan baku residual (Sy). Dengan menggunakan
kalkulator atau perangkat lunak komputer, semua perhitungan matematik
tersebut dapat diukur :

(Harmita, 2004)
2.2 Paracetamol
Struktur Kimia :

Parasetamol di kenal dengan nama lain asetaminofen merupakan


turunan paraaminofenol yang memiliki efek analgesik serupa dengan salisilat
yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang.
Parasetamol menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga
berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Parasetamol merupakan
penghambat biosintesis prostaglandin yang lemah. Penggunaan parasetamol
mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan derivat asam salisilat
yaitu tidak ada efek iritasi lambung, gangguan pernafasan, gangguan
keseimbangan asam basa. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai
analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan asam salisilat
(Gunawan et al, 2007). Namun penggunaan dosis tinggi dalam waktu lama
dapat menimbulkan efek samping methemoglobin dan hepatotoksik
(Siswandono & Soekardjo, 1995). Pemerian parasetamol yaitu hablur atau
serbuk putih, tidak berbau, rasa pahit. Parasetamol larut dalam 70 bagian air,
dalam 7 bagian etanol (95%) P, dan dalam 9 bagian propilen glikol P, larut
dalam larutan alkali hidroksida P; memiliki rumus kimia C8H9NO2 dengan
berat molekul 151,16 (FI IV hal 649). Spektrum Serapan UV Parasetamol
yaitu Larutan asam 245 nm 245 (A11=668a); larutan alkali-257 nm
(A11=715a) (Moffat, et al., 2004).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum Biofarmasetika dan Farmakokinetika tentang “Penetapan Kurva Kalibrasi”


ini dilakukan pada hari Senin 10 September 2018 di Laboratorium PBB Fakultas Ilmu
Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3.2. Alat dan Bahan

3.2.1 Alat 3.2.2. Bahan

Beker glass Aquadest


Pipet 1 ml 10 ml Paracetamol
Pipet tetes
Labu ukur 50 ml
Kertas perkamen
Spatel
Timbangan analitik
Spektrofotometer UV-VIS
Serbet
Tisu

3.3. Prosedur Praktikum

3.3.1. Pembuatan Larutan Induk Paracetamol 1000 ppm

-Ditimbang paracetamol sebanyak 50 mg

-Paracetamol dilarutkan dengan aquadest dalam labu ukur 50 ml lalu


ad sampai tanda batas untuk menghasilkan konsentrasi 1000 ppm

- Perhitungan

50 𝑚𝑔 50.000 µ𝑔 1000 µ𝑔
= = =1000 ppm
50 𝑚𝑙 50 𝑚𝑙 𝑚𝑙
3.3.2. Pembuatan Seri Konsentrasi 10 ppm untuk Menentukan Seri
Konsentrasi yang akan Dibuat pada Pembuatan Kurva Kalibrasi Serta
Penentuan Panjang Gelombang Maximum

-Perhitungan :

 Terlebih dahulu dibuat konsentrasi 100 ppm dari larutan induk PCT
1000 ppm
- Perhitungan
- Digunakan labu ukur 50 ml
V1 x M1 = V2 x M2
50 ml x 100 ppm = x ml x 1000 ppm
5000
V2 = 1000

V2 = 5 ml
 Pembuatan konsentrasi 10 ppm dari larutan 100 ppm
- Perhitungan
- Digunakan labu ukur 50 ml
V1 x M1 = V2 x M2
50 ml x 10 ppm = x ml x 100 ppm
500
V2 = 100

V2 = 5 ml

3.3.3. Pembuatan Seri Konsentrasi 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm, 12 ppm,14 ppm


dari larutan PCT 100 ppm

 Pembuatan konsentrasi 6 ppm dari larutan 100 ppm


- Digunakan labu ukur 50 ml
V1 x M1 = V2 x M2
50 ml x 6 ppm = x ml x 100 ppm
300
V2 = 100

V2 = 3 ml
 Pembuatan konsentrasi 8 ppm dari larutan 100 ppm
- Digunakan labu ukur 50 ml
V1 x M1 = V2 x M2
50 ml x 8 ppm = x ml x 100 ppm
400
V2 = 100

V2 = 4 ml
 Pembuatan konsentrasi 10 ppm dari larutan 100 ppm
- Digunakan labu ukur 50 ml
V1 x M1 = V2 x M2
50 ml x 10 ppm = x ml x 100 ppm
500
V2 = 100

V2 = 5 ml

 Pembuatan konsentrasi 12 ppm dari larutan 100 ppm


- Digunakan labu ukur 50 ml
V1 x M1 = V2 x M2
50 ml x 12 ppm = x ml x 100 ppm
600
V2 = 100

V2 = 6 ml

 Pembuatan konsentrasi 14 ppm dari larutan 100 ppm


- Digunakan labu ukur 50 ml
V1 x M1 = V2 x M2
50 ml x 14 ppm = x ml x 100 ppm
700
V2 = 100

V2 = 7 ml

3.3.4. Disiapkan alat spektrofotometer UV-Vis untuk running alat


3.3.5. Ukur absorbansi pada masing-masing seri konsentrasi pada panjang
gelombang maximum yang telah diukur sebelumnya

3.3.6. Buat persamaan dari kurva baku dengan menggunakan persamaan


kuadrat terkecil, hitung koefisien korelasinya dari data yang di dapat.

No. Prosedur Kerja Gambar


1. Siapkan alat dan bahan

2. Timbang 50 mg paracetamol

3. Buat larutan induk 1000 ppm dengan melarutkan


50 mg paracetamol dalam 50 ml aquadest di
labu ukur 50 ml

4. Encerkan larutan induk untuk mendapatkan


konsentrasi 10 ppm dengan mengambil 0,5 ml
larutan induk 1000 ppm lalu add dalam labu
ukur 50 ml
5. Ukur absorbansi konsentrasi 10 ppm di
spektrofotometer UV-Vis untuk menentukan seri
konsentrasi dan panjang gelombang maximum

6. Buat seri konsentrasi 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm, 12


ppm, 14 ppm. (Seri konsentrasi dibuat duplo)

7. Ukur absorbansi pada masing-masing seri


konsentrasi pada panjang gelombang maximum
yang telah diukur sebelumnya

8. Buat persamaan dari kurva baku dengan


menggunakan persamaan kuadrat terkecil,
hitung koefisien korelasinya dari data yang di
dapat

BAB IV

HASIL

4.1. Penentuan Panjang Gelombang Maximum

Konsentrasi Panjang Gelombang Maximum Absorbansi


10 ppm 242,0 0,930

4.2. Data Pengamatan

4.2.1. Data Pengamatan Kelas C

Konsentrasi Paracetamol Absorban (A)


6 ppm 0,308
8 ppm 0,436
10 ppm 0,610
12 ppm 0,692
14 ppm 0,820

4.2.2. Data Pengamatan Kelas B

Absorban (A) Rata-rata


Konsentrasi 1 2 3
Paracetamol
6 ppm 0,326 0,325 0,326 0,3256
8 ppm 0,439 0,440 0,440 0,4396
10 ppm 0,546 0,546 0,546 0,546
12 ppm 0,652 0,651 0,652 0,6526
14 ppm 0,753 0,753 0,753 0,753

Kurva Kalibrasi
0.8
0.7 y = 0.0534x + 0.0095
0.6 R² = 0.9995
0.5
0.4 Kurva Kalibrasi
0.3 Linear (Kurva Kalibrasi)
0.2
0.1
0
0 5 10 15

4.2.3. Data Pengamatan Kelas D

Konsentrasi Paracetamol Absorban (A)


6 ppm 0,380
8 ppm 0,562
10 ppm 0,638
12 ppm 0,830
14 ppm 0,943

BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikum BFFK kali ini dilakukan pembuatan kurva kalibrasi dari
parasetamol. Kurva kalibrasi adalah sebuah metode utama yang digunakan untuk
menentukan konsentrasi suatu zat dalam suatu sampel yang tidak diketahui, dengan
membandingkan zat yang tidak diketahui kedalam seperangkat sampel standar dari
konsentrasi zat yang telah diketahui. Selain itu dilakukannya pembuatan kurva
kalibrasi bertujuan untuk mengetahui linieritas hubungan antara konsentrasi larutan
standar dengan absorbansinya.
Langkah kerja yang dilakukan mula-mula dibuat larutan induk parasetamol
dengan kosentrasi 1000 ppm dengan cara menimbang 50 mg parasetamol lalu
dimasukan kedalam labu takar 50 ml dan ditambahkan aquadest sedikit demi sedikit
sambil dilarutkan, lalu add hingga tanda batas kemudaian dikocok hingga bercampur
sempurna. Setelah itu dilakukan pengenceran dari larutan induk 1000 ppm ke 10 ppm,
kemudian dicek absorbansinya dengan spektrofotometer UV-VIS pada panjang
gelombang 242 nm dan didapat absorbansi 0,6.
Dari data tersebut dibuat seri konsentrasi larutan 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm, 12 ppm,
dan 14 ppm. Konsentasi tersebut dipilih supaya didapatkan absorbansi diantara rentang
0,2-0,8. Absorbansi yang didapat harus diantara 0,2-0,8 untuk memenuhi hukum
Lambert Beer, karena pada rentang serapan tersebut persentase kesalahan analisis
masih dalam batas yang dapat diterima, yaitu 0,5-1%. Diluar rentang tersebut, dapat
menyebabkan terjadinya kesalahan fotometrik yang dapat mempengaruhi keakuratan
metode fotometrik.
Dalam pembuatan larutan uji kami menggunakan aquadest sebagai pelarut,
dimana seharusnya jika sesuai dengan modul praktikum pelarut yang digunakan adalah
NaOH. Penggunaan larutan NaOH bertujuan untuk meningkatkaan kelarutaan dari
parasetamol, selain itu juga untuk menciptakan suasana basa sehingga dapat
memberikan absorbansi maksimum pada panjang gelombang maksimum parasetamol.
Gugus OH dari NaOH juga bertindak sebagai auksokrom yang membantu menciptakan
delokalisasi dalam struktur benzene paracetamol dan mengoptimalkan penyerapan
radiasi elektromagnetik oleh molekul parasetamol (Gandjar dan Rohman, 2008)
Panjang gelombang maksimum parasetamol dengan pelarut aquadest didapat
yaitu 242 nm hal ini tidak sesuai dengan literaatur, dimana secara teoritis serapan
maksimum untuk parasetamol adalah pada panjang gelombang 244 nm (Tulandi, dkk,
2015). Namun apabila pelarut yang digunakan adalah NaOH panjang gelombang
maksimum parasetamol dapat meningkat yaitu 257 nm. Karena berdasarkan literatur
menyatakan bahwa panjang gelombang maksimum parasetamol dalam keadaan
suasana basa adalah 257 nm (Moffat, dkk. 2005). Kesalahan dalam menggunakan
pelarut aquadest cukup mempengaruhi pada panjang gelombang maksimum yang
didapat dan tentunya juga mempengaruhi nilai absorbansi yang didapat.

Pada parktikum ini obat yang digunakan adalah parasetamol. Paracetamol


diukur nilai absorbansinya menggunakan spektrofotometri. Larutan parasetamol dibuat
dengan menggunakan larutan alkali NaOH 0.1 M namun pada saat praktikum
kelompok kami menggunakan aquadest. Dimana menurut litelatur farmakope
dikatakan bahwa paracetamol dapat larut dalam NaOH sedangkan yang lainnya tidak
larut dalam NaOH. NaOH ini difungsikan sebagai pelarut untuk melarutkan
parasetamol yang terdapat dalam sampel. Selanjutnya dibuat konsentrasi larutan pct
1000 ppm sebagai larutan induk. Dari larutan induk tersebut, dibuat pengenceran
menjadi larutan paracetamol dengan konsentrasi 10 ppm. Sebelum dilakukan
pengukuran serapan, maka harus ditentukan panjang gelombang maksimumnya
terlebih dahulu. Alasan penggunaan panjang gelombang maksimum (λ maks) yakni
panjang gelombang maksimum memiliki kepekaan maksimal karena terjadi perubahan
absorbansi yang paling besar serta pada panjang gelombang maksimum bentuk kurva
absorbansi memenuhi hukum Lambert-Beer. Dari percobaan ini diperoleh panjang
gelombang maksimum untuk parasetamol 257 nm sehingga dalam penentuan kadar
parasetamol digunakan panjang gelombang tersebut. Penentuan panjang gelombang
maksimal dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan
panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu sehingga
diperoleh kurva kalibrasi larutan standar yang dibuat dalam 5 konsentrasi yaitu dengan
kadar 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm, 12 ppm, dan 14 ppm.
Setelah diperoleh absorbansi sampel pada analisis spektrofotometer kemudian
dihitung dan dihubungkan antara hasil kurva kalibrasi dan absorbansi sampel
berdasarkan perhitungan y=bx+a.
Dari data diatas maka nilai absorban diplotkan berdasarkan konsentrasi dalam sebuah
grafik dan dapat diketahui bahwa nilai absorban naik secara linier, namun pada
beberapa konsentrasi nilai absorban jauh menyimpang dari kurva sehingga diperoleh
nilai koefesien relasi (R2) yang kurang sesuai . Koefisien korelasi ini merupakan indeks
atau bilangan yang digunakan untuk mengukur keeratan (kuat, lemah, atau tidak ada)
hubungan antarvariabel atau titik. Hasil koefisien relasi (R2) yang diperoleh sebagi
berikut kelas c 0,9745, kelas D 0,9998,dan kelas B 0,9845. Dari hasil tersebut telihat
bahwa nilai koefisien relasi tersebut berbeda beda. Perbedaan atau Penyimpangan yang
terjadi pada nilai regresi linear absorban dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut,
antara lain human error dan tidak telitinya praktikan dalam pembuatan larutan baku
parasetamol, alat praktikum yang kurang memadai dalam melakukan pengenceran,
yaitu pipet volumetri yang kurang sesuai dengan kebutuhan. Selain itu dapat pula
disebabkan oleh parasetamol yang digunakan sudah berkurang kemurniannya sehingga
nilai absorban dan panjang gelombang parasetamol pun tidak sesuai. Namun, pada
dasarnya nilai koefesien relasi yang diperoleh cukup baik karena nilainya sudah
mendekati nilai koefesien relasi yang diharapkan yaitu r = 0.9998 atau mendekati angka
1.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Jakarta.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Depkes RI. 2015. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia
Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2008. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka
Pelajar. Yogyakarta.
Harmita, 2004, Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitunganny.
Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Universitas Indonesia.
Kurniawan, Hazimabu. 2011. Spektrofotometri. Surakarta: Jawa Tengah
Moffat, C. A., M. D. Osselton, B. Widdop. 2005. Clarke's Analysis of Drugs and
Poisons. Pharmaceutical Press: Publications division of the Royal
Pharmaceutical Society of Great Britain
Tim Penyusun. 2008. Buku Ajar Analisis Farmasi Analisis Fisiko Kimia. Jurusan
Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana. Jimbaran.
Tulandi, G. P., Sudewi, S., Lolo, W. S., 2015, Validasi Metode Analisis untuk
Penetapan Kadar Parasetamol dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri
Ultraviolet, PHARMACON, Vol. 4, hal. 169-17