Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN SEMI SOLID DAN LIQUID

EMULSI PARAFFIN LIQUID

Dosen :

Di susun oleh : Kelompok 4

Nurmala Dewi 15334091


Oktavia Intan 15334093
Annisa Puspita 15334095
Delvina Kurniati 15334096
Nurul Aini 15334098
Revina Panduwinata 15334100

FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bidang farmasi berada dalam lingkup dunia kesehatan yang berkaitan erat dengan
produk dan pelayanan produk untuk kesehatan.Dalam bidang industri farmasi,
perkembangan teknologi farmasi sangat berperan aktif dalam peningkatan kualitas
produksi obat-obatan. Hal ini banyak ditunjukan dengan banyaknya sediaan obat-obatan
yang disesuaikan dengan karakteristik dari zat aktif obat, kondisi pasien dan penigkatan
kualitas obat dengan meminimalkan efek samping obat tanpa harus mengurangi atau
mengganggu dari efek farmakologis zat aktif obat.
Sekarang ini banyak bentuk sediaan obat yang kita jumpai dipasaran. Emulsi
merupakan salah satu contoh dari bentuk sediaan cair, yang secara umum dapat diartikan
sebagai sistem dispersi kasar dari dua atau lebih cairan yang tidak larut satu sama lain.
Sistem emulsi dijumpai banyak penggunaannnya dalam farmasi. Dibedakan
antara emulsi cairan, yang ditentukan untuk kebutuhan dalam (emulsi minyak ikan,
emulsi parafin) dan emulsi untuk penggunaan luar.Dalam bidang farmasi, emulsi
biasanya terdiri dari minyak dan air
Emulsi sangat bermanfaat dalam bidang farmasi karena memiliki beberapa
keuntungan, satu diantaranya yaitu dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak dari
minyak. Selain itu, dapat digunakan sebagai obat luar misalnya untuk kulit atau bahan
kosmetik maupun untuk penggunaan oral.
B. Tujuan Praktikum

Adapula tujuan umum praktikum Semi solid sebagai berikut:

 Agar mahasiswa mampu memahami pelaksanaan praktikum Semi solid


 Agar mahasiswa mampu menerapkan desain dan pembuatan sediaan emulsi
 Agar mahasiswa mampu menyusun SOP dan Instruksi Kerja.
 Agar mehasiswa mampu menyiapkan dan mengoperasikan alat-alat pembuatan dan
evaluasi suspensi
 Agar mahasiswa mampu melaksanakan SOP dan Instruksi Kerja dalam pembuatan
suspensi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Emulsi

Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah system dua fase yang salah satu cairannya
terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat
dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator
(emulsifying agent).

Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk atau susu, warna
emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian
yangmengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau
emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam biji tersebut.

Pada pertengahan abad ke XVIII, ahli farmasi Perancis memperkenalkan


pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan
menggunakan penambahan gom arab, tragacanth, dan kuning telur. Emulsi yang
terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi
buatan.

B. Komponen Emulsi

Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu :

1. Komponen Dasar adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat dalam emulsi.
Terdiri atas :

a. Fase dispers / fase internal / fase discontinue yaitu zat cair yang terbagi-bagi
menjadoi butiran kecil kedalam zat cair lain.

b. Fase continue / fase external / fase luar yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi
sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut.
c. Emulgator adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.

2. Komponen Tambahan

Merupakan bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk


memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, corrigen odoris, corrigen
colouris, preservative (pengawet) dan anti oksidan.

Preservative yang digunakan Antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat,
asam sorbat, fenol, kresol, dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas,
dll.

Antioksidan yang digunakan Antara lain asam askorbat, a-tocopherol, asam sitrat,
propil gallat, asam gallat.

C. Tipe Emulsi

Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun
external, maka emulsi digolongkan menjadi dua macam yaitu :

1. Emulsi tipe O/W ( oil in water ) atau M/A ( minyak dalam air ) adalah emulsi
yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar ke dalam air. Minyak sebagai fase
internal dan air sebagai fase external.
2. Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M ( air dalam Minyak ) adalah emulsi
yang terdiri dari butiran yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal
dan minyak sebagai fase external.

D. Tujuan Pemakaian Emulsi

Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran
dua cairan yang saling tidak bias bercampur. Tujuan pemakaian emulsi adalah :

1. Dipergunakan sebagai obat dalam / per oral. Umumnya emulsi tipe o/w.
2. Dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe o/w maupun w/o tergantung
banyak faktor misalnya sifat zat atau jenis efek terapi yang dikehendaki.

E. Teori Terjadinya Emulsi

1. Teori Tegangan Permukaan ( Surface Tension )

Molekul memiliki daya tarik menarik antar molekul sejenis yang disebut dengan
kohesi. Selain itu, molekul juga memiliki daya tarik menarik antar molekul yang tidak
sejenis yang disebut dengan adhesi.

Daya kohesi suatu zat selalu sama sehingga pada permukaan suatu zat cair akan
terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan
terjadi pada permukaan tersebut dinamakan dengan tegangan permukaan “surface
tension”.

Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang
batas dua cairan yang tidak dapat bercampur “immicble liquid”. Tegangan yang terjadi
antara 2 cairan dinamakan tegangan bidang batas. “interface tension”.

2. Teori Orientasi Bentuk Baji

Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi berdasarkan adanya


kelarutan selektif dari bagian molekul emulgator; ada bagian yang bersifat suka air atau
mudah larut dalam air dan ada moelkul yang suka minyak atau muudah larut dalam
minyak. Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua :

a. Kelompok hidrofilik, yaitu bagian emulgator yang suka air.


b. Kelompok lipofilik, yaitu bagian emulgator yang suka minyak.
Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya,
kelompok hidrofil ke dalam air dan kelompok lipofil ke dalam minyak. Dengan
demikian, emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara minyak dengan air dengan
minyak, antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu kesetimbangan.
Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama.
Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah HLB ( Hydrophyl Lypophyl Balance )
yaitu angka yang menunjukan perbandingan Antara kelompok lipofil dengan kelompok
hidrofil.
Semakin besar harga HLB berarti semakin banyak kelompok yang suka pada air, itu
artinya emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air dan demikian sebaliknya.
Dalam table dibawah ini dapat dilihat kegunaan suatu emulgator ditinjau dari harga
HLB-nya.

Tabel Harga HLB


HARGA HLB KEGUNAAN
1-3 Anti foaming agent
4-6 Emulgator tipe w/o
7-9 Bahan pembasah ( wetting agent )
8-18 Emulgator tipe o/w
13-15 Detergent
10-18 Kelarutan ( solubilizing agent )

3. Teori Interparsial Film ( Teori Plastic Film )

Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dengan
minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers
atau fase internal. Dengan terbungkusnya partikel tersebut, usaha antar partikel sejenis
untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain, fase dispers menjadi stabil. Untuk
memberikan stabilitas maksimum, syarat emulgator yang dipakai adalah :

a. Dapat membentuk lapisan film yang kuat tetapi lunak.


b. Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase dispers.
c. Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua partikel
dengan segera.
4. Teori Electric Double Layer ( lapisan listrik rangkap )

Jika minyak terdispersi ke dalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan
dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan
mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan di depannya. Dengan demikian
seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling
berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha partikel minyak yang akan
melakukan penggabungan menjadi satu molekul yang besar, karena susunan listrik yang
menyelubungi setiap partikel minyak yang mempunyai susunan yang sama. Dengan
demikian, antara sesame partikel akan tolak menolak. Dan stabilitas akan bertambah.
Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ketiga cara di bawah ini:

a. Terjadinya ionisasi molekul pada permukaan partikel.


b. Terjadinya adsorpsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya.
c. Terjadinya gesekan partikel dengan cairan di sekitarnya.

F. Bahan Pengemulsi ( Emulgator )

Emulgator Alam

Yaitu emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. Dapat
digolongkan menjadi tiga golongan yaitu :

1. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan Pada umumnya termasuk karbohydrat


dan merupakan emulgator tipe o/w, sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol
kadar tinggi, juga dapat dirusak oleh bakteri. Oleh sebab itu pada pembuatan
emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet. Contohnya
Gom Arab, Tragacanth, Agar-agar, Chondrus, Emulgator lain (Pektin, metil
selulosa, CMC 1-2 %).
2. Emulgator alam dari hewan
Kuning telur Zat ini Mmpu mengemulsikan minyak lemak 4 x beratnya dan
minyak menguap 2 x beratnya. Adeps Lanae dalam keadaan kering dapat
menyerap air 2 x beratnya.
3. Emulgator alam dari tanah mineral
Magnesium Alumunium Silikat / Veegum Pemakaian yang lazim yaitu sebanyak
1%. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar. Bentonit Untuk tujuan sebagai
emulgator dipakai sebanyak 5% .

Emulgator Buatan

1. Sabun
2. Tween 20 : 40 : 60 : 80
3. Span 20 : 40 : 80

G. Cara Pembuatan Emulsi

Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi, yaitu:

1. Metode gom kering atau metode continental

2. Metode gom basah atau metode Inggris

3. Metode botol atau metode botol forbes

tersebut dikocok kuat. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sabil dikocok.

H. Cara Membedakan Tipe Emulsi

Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi yaitu :

1. Dengan pengenceran fase.

Setiap emulsi dapat diencerkan dengan fase externalnya. Dengan prinsip tersebut, emulsi
tipe o/w dapat diencerkan dengan air sedangkan emulsi tipe w/o dapat diencerkan dengan
minyak.

2. Dengan pengecatan / pemberian warna.


Zat warna akan tersebar dalam emulsi apabila zat tersebut larut dalam fase external dari
emulsi tersebut. Misalnya ( dilihat dibawah mikroskop ) .

3. Dengan kertas saring.

Bila emulsi diteteskan pada kertas saring, kertas saring menjadi basah maka tipe emulsi
o/w,dan bila timbul noda minyak oada kertas berarti wmulsi tipe w/o.

4. Dengan konduktivitas listrik

Alat yang dipakai adalah kawat dan stop kontak, kawat dengan tahanan 10 K ½ watt ,
lampu neon ¼ watt, dihubungkan secara seri. Elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi.
Lampu neon akan menyala bila elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi tipe o/w, dan
akan mati bila dicelupkan pada emulsi tipe w/o .

I. Kestabilan Emulsi

Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini :

1. Creaming

Yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers
lebih banyak dari pada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversible artinya bila
dokocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali.

2. Koalesan dan cracking ( breaking )

Yaitu pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan
koalesan ( menyatu ). Sifatnya irreversible ( tidak bias diperbaiki ). Hal ini dapat terjadi
karena Peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan pH, penambahan CaO /
CaCl2 exicatus, Peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan,
pengadukan.
3. Inversi

Yaitu peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe eulsi w/o menjadi o/w atau
sebaliknya. Sifatnya irreversible.

J. Kelebihan dan Kekurangan Emulsi

Kelebihan :

a. Dapat membentuk sediaan yang saling tidak bercampur menjadi dapat bersatu
menjadi sediaan yang homogen dan bersatu
b. Mudah ditelan.
c. Dapat menutupi rasa yang tidak enak pada obat.

Kekurangan :
a. Kurang praktis dan staabilits rendah dibanding tablet.
b. Takaran dosis kurang teliti.

DATA PRA FORMULASI

A. BAHAN AKTIF
1. Parafin liquid
 Pemerian : Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
 Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air
 OTT : -
 Indikasi : Laksativa
 Dosis Lazim : Max 30 ml sehari
 Cara pemakaian : Lokal
 Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
B. BAHAN TAMBAHAN
1. Triethanolamine
 Pemerian : Cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat, tidak
berasa, bau lemah mirip ammonia
 Kelarutan : Mudah Larut dalam air dan etanol (95%), larut dalam
chloroform
 OTT : -
 Indikasi : Zat tambahan, emulgator
 Wadah dan penyimpanan : wadah yang tertutup rapat
2. Cera Alba
 Pemerian : Zat padat, lapisan tipis bening, berwarna putih kekuningan, bau
khas lemah
 Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut adlam etanol
95% dingin, larut dalam chloroform, dalam eter hangat, dalam minyak
lemak dan dalam minyak atsiri.
 OTT : -
 Indikasi : zat tambahan
 Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
3. Methyl paraben
 Pemerian : Kristal atau serbuk Kristal, tidak berwarna atau berwarna putih,
tidak berbau atau hampir tidak berbau, rasa sedikit menggigit.
 Kelarutan : sukar larut dalam air, sukar larut dalam benzene, tetraklorida,
mdah larut dalam etanol, dan eter.
 pH : 3-6
 OTT : -
 Indikasi : sebagai antimikroba
 Dosis lazim : 0,02%-0,3%
 Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
4. Aqua destilata
 Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau
 pH : 5-7
 indikasi : Zat pembawa dan pelarut
 wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. SPESIFIKASI SEDIAAN : Emulsi Parafin liquidum


Nama produk :Emulsi Parafin liquid
No. Parameter Satuan Syarat Farmakope Syarat Lain
1. Homogenitas Homogenitas
Ukuran Mikron
1-100 mikron (Ansel, Pengantar bentuk
2. Partikel Fase
sediaan Farmasi)
Internal
- Tidak kurang dari 90%
Keseragaman
3. dan tidak lebih dari -
sediaan
110%
4. Kestabilan Stabil Stabil
Plastis, pseudoplastis dan, thiksotropik
4. Sifat Aliran
(Martin, FarFis)
5. Viskositas cps -
7. Daya sebar -
Mengandung zat anti mikroba yang sesuai
Efektifitas
8. untuk melindungi kontaminasi bakteri,
Pengawet
ragi dan jamur
B. FORMULIR PEMECAHAN MASALAH

ALTERNATIF
NO MASALAH DIINGINKAN PILIHAN ALASAN
PEMECAHAN
1 Bentuk emulsi Emulsi yang  Minyak / Air Minyak / Air Karena parafin cair
yang digunakan murah dan  Air / Minyak tidak larut dalam air
ekonomis

2 Akan dibuat Fase air yang  Aquadest Aquadest Karena lebih nyamank
emulsi tipe baik untuk  Alcohol untuk digunakan
M/A, apa fase digunakan
airnya?
Karena metil paraben
3 Emulsi yang Ditambahkan Metil paraben mudah didapatkan dan
Zat mudah tahan lama pengawet: aman untuk
ditumbuhi oleh  Metil paraben dikonsumsi
mikroba  Propil
paraben
 As. Benzoat
 dll

a. Menurunkan
4 Campuran M/A tegangan
Ada beberapa harus stabil permukaan dan
a. menurunkan
mekanisme secara fisik lapisan mono
tegangan
kerja molecula
permukaan
emulgator, b. Membuat
b. membuat batas
mana yang lapisan film
fisik (lapisan
harus dipilih ? dengan polimer
mono
hidrofilik
molecular)
c. membuat batas
molecular
(lapisan film)
d. penolakan
Termasuk golongan
elektrik
hijau obat bebas
e. partikel halus
6 Penandaan yang
sesuai sifat
Penandaan farmakologi
berdasarkan  Hijau
golongan obat  Biru
 Merah
C. KOMPONEN UMUM SEDIAAN

EMULSI PARAFIN LIQUID 60 ml no.VI

Jumlah PENIMBANGAN
pemakaian BAHAN
Pemakaian Lazim
NO NAMA BAHAN FUNGSI Dalam
(%) BATCH (6
formula UNIT
botol)
(%)
1. Parafin liquid Bahan Aktif - 35% 21 ml 126 ml
2. Trietanol Amin Emulgator - 8% 4.8 ml 28.8ml
3. Metil Paraben Pengawet 0,02 – 0, 3 % 0,1 % 0.06 gram 0,36 gram
4. Cera Alba Bahan tambahan - 2% 1.2 gram 7.2 gram
5. Air panas Air Corpus 5 x TEA 5 x TEA 24 ml 144 ml
( 5 x TEA) pembawa - Ad 100 % Ad 60 ml Ad 360 ml
6. Water

D. ALAT DAN PERLENGKAPAN YANG DIPERLUKAN.


1. Penimbangan
Alat : Timbangan digital
Perlengkapan : Spatel
Kertas Perkamen
Kaca Arloji

2. Pencampuran Awal
Alat : Wadah Penampungan
Perlengkapan : Sendok
Masker
Penutup Kepala
Mortir dan stamper

3. Pengemasan Akhir
Alat : Botol kaca 60 ml
Perlengkapan : Corong, Gelas ukur, Gelas piala, Etiket, brosur dan kardus
pengemas
BAB IV
PROSEDUR DAN HASIL KEGIATAN

A. Data Kegiatan
1. Penimbangan
Tujuan : Memperoleh jumlah bahan sesuai dengan formula
yang diinginkan
Bahan : Parafin liquidum,TEA, Cera Alba , Water,Methyl Paraben.
Alat : Timbangan, wadah, spatel.
Penanggung jawab : Revina P
Prosedur :
 Siapkan timbangan dan wadah
 Tara timbangan, dan timbang bahan satu persatu sesuai dengan tabel
diatas.
 Masukkan hasil timbangan pada wadah yang telah disiapkan.

TABEL PENIMBANGAN BAHAN


NO NAMA BAHAN DITIMBANG
1 Parafin Liquidum 126 ml
2 Trietanolamin 28.8 ml
3 Cera Alba 7,2 g
4 Air untuk Trietanolamin 144 ml
5 Methyl Paraben 0,36 g
6 Aquadest Ad 360
2. Peleburan bahan baku
Tujuan : Untuk mendapatkan zat aktif dengan ukuran partikel kecil
Bahan : Cera Alba dan Parafin liquidum
Alat Cawan Uap dan Penangas Air
Pj : Revina
Prosedur :
 cera alba dan paraffin liquidum dimasukkan kedalam cawan uap kemudian
dilebur diatas penangas air sampai lebur.

Hasil : Campuran yang telah melebur disiapkan.

3. Pencampuran bahan
Tujuan :

Bahan : Parafin liquidum,Cera Alba,Trietanolamin, Air, Methyl paraben.

Alat : Mortir dan stampler


PJ : Okta
 Hasil leburan yang telah lebur dimasukkan ke dalam mortir
kemudian ditambahkan trietanolamin dan air untuk trietanolamin
digerus kuat sampai terbentuk corpus emulsi kemudian
ditambahkan methyl paraben di gerus sampai halus dan homogen.
 Aquadest ditambahkan sedikit demi sedikit hingga homogen dan
terakhir dimasukan ke dalam wadah yang telah ditara terlebih
dahulu
Hasil : Emulsi Parafin Liquidum
B. Evaluasi Sediaan
1. Uji Organoleptis
Prosedur :
- Sediaan suspensi diperiksa warna, bau, dan rasanya.
- Selama disimpan pada temperatur kamar tidak boleh terjadi perubahan
terhadap bentuk fisik sediaan suspensi, yang dapat menyebabkan
berkurangnya penampilan dan penerimaan pasien

Diingikan Hasil

Warna Putih Pucat Putih Pucat

Bau Tidak Berbau Tidak Berbau

Bentuk Emulsi

Hasil : Kurang Baik


2. Uji pH
Prosedur :
- Sediaan diletakkan dalam beacker glass
- Dicelupkan pH strip kedalam beaker glas berisi sediaan, tunggu 30 detik
- pH strip diangkat dan dibaca pH nya sesuai standar pH strip
Hasil : pH dalam keadaan asam
3. Uji volume terpindahkan
Prosedur:
- Pilih tidak kurang dari 5 wadah
- Untuk emulsi oral, kocok isi 5 wadah satu per satu
- Tuang isi perlahan-lahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering
terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari 2,5 kali volume yang
diukur
- Penuangan dilakukan secara hati-hati untuk menghindarkan
pembentukkan gelembung udara pada waktu penuangan dan diamkan
selama 30 menit
- Jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran:
volume rata-rata yang diperoleh dari 5 wadah tidak kurang dari 100% dan
tidak satupun volume wadah yang kurang dari 95%
- Jika A: adalah volume rata-rata kurang dari 100%, tetapi tidak ada
satupun wadah yang volumenya kurang dari 95%
- Jika B: adalah tidak lebih dari satu wadah volume kurang dari 95% tetapi
tidak kurang dari 90% dari volume yang tertera pada etiket, lakukan
pengujian terhadap 20 wadah tambahan
- Volume rata-rata yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100%
dan tidak lebih dari satu dari 30 wadah volume kurang dari 95%, tetapi
tidak kurang dari 95%
BOTOL KE 1 Volume sediaan: 60 ml
BOTOL KE 2 Volume sediaan: 59 ml
BOTOL KE 3 Volume sediaan: 59,5 ml
BOTOL KE 4 Volume sediaan :58.5ml
BOTOL KE 5 Volume sediaan: 59 ml
Rata rata : 98,67%
Hasil: Emulsi Parafin Liquidum memenuhi syarat volume terpindahkan.
4. Uji Tipe Emulsi
Tujuan : Untuk mengetahui tipe emulsi pada sediaan yang di buat.
Bahan : Methylen blue , Sediaan emulsi .
Pj : Okta
Prosedur :
- Sejumlah sampel di teteskan di atas kaca arloji kemudian di tambahkan
satu tetes methylene blue lalu di aduk menggunakan batang pengaduk
kemudian di amati perubahan warna yang dihasilkan.

Hasil : Sampel berwarna biru ( minyak dalam air) maka hasil memenuhi syarat.
BAB V
PEMBAHASAN

1. Parafin liquid sebagai zat aktif dalam sediaan ini dibuat dalam bentuk emulsi dengan tujuan
absorbsi di dalam tubuh dapat terjadi lebih cepat dan lebih mudah karena dalam bentuk
larutan yang dapat langsung diserap oleh sistem pencernaan dan aktivitas parafin liquid
sebagai pencahar dapat bekerja dengan baik.
2. Emulgator yang digunakan pada formula ini adalah golongan surfaktan non ionik
Triethanolamine untuk menurunkan tegangan permukaan antara fase minyak dan fase air,
dengan memperkecil ukuran partikel yang besar dan berukuran seragam sehingga dapat
bercampur saat dilakukan pengadukan.
3. Emulsi yang baik adalah emulsi yang berwarna seperti putih susu, dan jika dikocok atau
diberi gaya dan tekanan, viskositasnya akan bertambah kecil sehingga emulsi tersebut
mudah dituang. Namun pada praktikum kali ini, emulsi menghasilkan sediaan berwarna putih
pucat dan memiliki bentuk emulsi yang lebih kental. Hal ini dikarenakan pada saat proses
pementukan corpus emulsi, tekanan dalam penggerusan yang diberikan kurang kuat sehingga
menghasilkan corpus emulsi yang tidak sempurna.
4. Tipe emulsi yang diperoleh adalah emulsi tipe M/A karena ketika zat warna methylen blue
diteteskan pada emulsi menyebabkan warna biru. Perlu diingat bahwa tipe emulsi ditentukan
oleh emulgator, yaitu bila emulgator yang digunakan larut air atau suka air (hidrofil) maka
akan diperoleh emulsi tipe M/A, apabila emulgator larut dalam minyak atau suka minyak
(lipofil) maka akan membentuk tipe emulsi A/M. (Ilmu Meracik Obat, hal.141). Selain itu
perbandingan jumlah fase juga dapat mempengaruhi tipe emulsi. Jumlah fase yang sedikit
biasanya akan menjadi fase dalam, dan yang jumlahnya lebih besar akan menjadi fase luar.
Di dalam formula didapatkan tipe emulsi M/A karena jumlah fase minyak lebih sedikit dari
fase air.
5. Uji Volume terpidahkan menunjukan hasil 98,67% yaitu memenuhi syarat dari uji volume
terpindahkan. Uji pH memenu persyaratan yaitu 5 karena pH pada supensi adalah 5-7
BAB V
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
 pH emulsi memenuhi syarat yaitu 5, karena pH ideal padaemulsi 5-7
 Uji organoleptis tidak memenuhi syarat yaitu bentuk sediaan emulsi yang
mengental dan berwarna putih pucat
 Uji volume terpindahkan memenuhi syarat
 Uji tipe emulsi menyatakan tipe emulsi minyak dalam air
 Hasil akhir emulsi tidak memenuhi kriteria emulsi yang baik yaitu terdapat
caking dan pengentalan terlalu cepat
B. Saran
 Ketelitain dari praktikan harus ditingkatkan
 Bahan baku dalam laboratorium lebih diperatikan lagi agar tercipta produk yang
baik
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 1995

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 2008

Kibbe, AH. Handbook of pharmaceutical Excipients. Third Edition. Washington D.C: American
Pharmaceutical Association; 2000.