Anda di halaman 1dari 61

Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

DENTAL SIDE TEACHING


GIGI TIRUAN PENUH (GTP)

1. IDENTITAS
No. Kartu : P. 12140.06.2016
Nama Pasien : Henny Pangsarian
Umur : 63 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Talawaan atas, wori

2. KASUS
Seorang pasien perempuan berusia 63 tahun yang berdomisili di Talawaan atas
datang ke klinik RSGM PSPDG UNSRAT dengan keluhan ingin dibuatkan
gigi palsu rahang atas dan rahang bawah karena rahang atas dan rahang bawah
sudah tidak bergigi, sehingga pasien mengalami kesulitan ketika
mengkonsumsi makanan.

Foto wajah

Tampak depan Tampak samping


Bentuk muka :Square Profil muka : Cembung

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Gambaran Klinis

Rahang atas Rahang bawah


Bentuk rahang : Persegi Bentuk rahang : Persegi

3. KONDISI SISTEMIK
Keluhan / gejala
Nama Penyakit Keterangan
Ya Tidak
Penyakit jantung 
Hiper/hipotensi 
Kelainan darah 
Haemophilia 
Diabetes mellitus 
Penyakit ginjal 
Hepatitis 
Penyakit pernafasan 
Kelainan pencernaan 
Epilepsi 
HIV/AIDS 
Alergi obat 
Alergi makanan 
Hamil/menyusui 

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

4. PEMERIKSAAN EKSTRA ORAL

K. K. Tl.
Fasial Neuromuscular TMJ
Ludah Limfe Rahang
Deformitas t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k
Nyeri t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k
Tumor t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k
Gangguan
t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k
Fungsi

5. RIWAYAT YANG BERHUBUNGAN DENGAN GIGI


a. Lama tidak bergigi : ± 1 tahun untuk RA dan RB
b. Terakhir cabut gigi : ± 1 tahun yang lalu (tahun 2016)
c. Sebab pencabutan gigi : Gangren Radiks
d. Riwayat gigi tiruan : pasien belum pernah memakai gigi tiruan

6. STATUS LOKAL
- Luar mulut
a. Sendi kanan : Tidak bengkak; Tidak sakit
Sendi kiri : Tidak bengkak; Tidak sakit
Pemeriksaan:
Dilakukan secara
(1) Palpasi, pasien duduk tegak dan relaks, kedua jari telunjuk
ditempatkan pada kondilus kanan dan kiri pasien, kemudian pasien
diinstruksikan membuka dan menutup mulut perlahan-lahan. Rasakan
apabila terdapat lompatan/gerakan tidak teratur.
(2) Auditori, pada saat digerakan, dengarkan/tanyakan pada pasien (dapat
pula menggunakan stetoskop) apakah mendengar suara gemeriksik
berupa bunyi klutuk sendi (clicking) atau kretek sendi (crepitasi).
(3) Visual, memperhatikan kondilus ketika bagian ini menggerakan kulit
pelindungnya, bila terdapat kelainan (pembengkakan) maka
hentakan/lompatan dapat terlihat dengan jelas pada regio ini.

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

(4) Nyeri tekan, lakukan palpasi bimanual dengan cara menekan bagian
lateral sendi menggunakan jari kelingking yang ditempatkan kedalam
Meatus akustikus eksternus (MAE) dan menekannya kearah depan.
Rasa sakit menunjukkan adanya peradangan/pembengkakan.

b. Pembukaan mulut : Besar (13 mm)


Untuk mengetahui adakah keterbatasan dalam bukaan mulut karena
keterbatasan bukaan mulut menunjukan gangguan sendi TMJ sehingga
mempengaruhi pemilihan sendok cetak.
Pemeriksaan:
Pasien diinstruksikan membuka mulut lebar kemudian diukur
menggunakan jangka sorong jarak interinsisal dari tepi insisal central
rahang atas ke rahang bawah dalam satuan mm untuk pasien bergigi
sedangkan untuk pasien tidak bergigi diukur dari puncak linggir rahang
atas ke rahang bawah. Jarak normal bukaan mulut:
- Untuk perempuan jarak normal nya 35 mm/sedang (untuk pasien bergigi) <
35 mm Kecil ; > 35 Besar
- Pria : 40 mm/ sedang (untuk pasien bergigi) ;<35 mm kecil ; >35 besar
- Pasien tidak bergigi : 10-15 mm / sedang ; < 10 mm Kecil ; > 15 mm Besar

c. Gerakan protusif : lancar


Gerakan lateral kanan : lancar
Gerakan lateral kiri : lancer
Sama seperti bukaan mulut kearah vertikal, keterbatasan gerakan mulut ke
arah protusif dan lateral juga menunjukan adanya gangguan TMJ.
Pemeriksaan;
Pasien diinstruksikan untuk mengerakan rahang bawah kearah depan dan
belakang serta kanan dan kiri, kemudian dilihat apakah terdapat hambatan
selama pergerakan atau tidak.

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

d. Bibir : Simetris; sedang; sedang


Pemeriksaan
(1) Bentuk bibir, diperiksa secara visual dengan cara menarik garis median
wajah yang terletak pada titik glabella-subnasion-pogonion, kemudian
bandingkan dan amati bentuk bibir bagian kanan dan kiri. Adapun titik
landmark pada bibir yang dapat dijadikan panduan yakni : titik lip
upper line , titik chelion, titikstomion, dantitik lip lower line
(2) Ukuran bibir, diperiksa secara visual dengan menarik garis vertikal
imaginer interpupil dan garis vertikal imaginer alae nasi. Bila, ip < C
> al = normal, ip > C > al = panjang, ip < C < al = pendek.
(3) Tonus otot, diperiksa menggunakan kaca mulut yang diletakkan di
dasar vestibulum, kemudian pasien diinstruksikan untuk melakukan
gerakan penelanan, lalu dirasakan kekencangan ototnya. Bila otot
terasa kencang = hipertonus, normal = sedang, dan lemah = hipotonu.
Dapat pula diperiksa dengan menginstruksikan pasien untuk
melakukan gerakan penelanan, lalu amati secara visual. (1) kuat, bila
saat melakukan gerakan penelanan bibir atas dan bibir bawah pasien
mengatup dengan mudah dan bibir telihat tebal. (2) sedang, bila saat
melakukan gerakan penenlanan, tidak terlihat adanya
kontraksi/kesulitan pada pasien dan bibir seakan-akan terlihat normal
(tidak sedang melakukan gerakan penelanan). (3) lemah, bila saat
melakukan gerakan penelanan pasien terlihat kesulitan mengatupkan
bibir atas dan bawahnya, terlihat adanya kontraksi berlebih dan dalam
keadaan rileks mulut pasien tebuka.

- Dalam mulut
a. Bentuk lengkung RA : Lonjong
Bentuk lengkung RB : Lonjong
Pemeriksaan
Dilakukan pemeriksaan secara visual dengan melihat langsung ke dalam
rongga mulut pasien maupun menggunakan model studi. Dilihat (1)
persegi, apabila bentuk lengkung anterior (dari C-C) sama besar dengan

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

bentuk lengkung bagian posterior dan memiliki sisi yang sejajar. (2)
lonjong, apabila bentuk lengkung anterior dan bentuk lengkung posterior
melengkung. (3) lancip, apabila bentuk lengkung anterior lebih kecil
dibandingkan bentuk lengkung posterior maka, berbentuk lancip.

b. Ukuran lengkung RA : Besar


Ukuran lengkung RB : Besar
Pemeriksaan
Dilakukan ketika melakukan pencetakan rahang atas dan rahang
bawah.Ukuran sendok cetak yang digunakan dapat dijadikan patokan
ukuran lengkung rahang yang dimiliki pasien.
(1) besar, Apabila menggunakan sendok cetak no. 1.
(2) sedang, apabila menggunakan sendok cetak no.2.
(3) kecil, apabila menggunakan sendok cetak no.3.
Semakin besar ukuran lengkung semakin baik untuk kemantapan gigi
tiruan.

c. Bentuk linggir RA : lonjong (anterior) ; lonjong (Posterior)


Bentuk linggir RB : lonjong, tinggi (anterior);
lonjong, tinggi (posterior kanan);
lonjong, tinggi (posterior kiri)
Pemeriksaan
Dilakukan secara visual dengan mengamati bentuk linggir pasien. (1)
persegi, bila linggir pada permukaan labial/bukal sejajar permukaan
lingual/palatal. (2) lonjong, bila linggir membulat bentuknya dan tidak
sama rata /sejajar permukaan labial/bukal dengan lingual/palatal. (3)
lancip, bila linggir berpuncak sempit dan tajam seperti pisau. (4) bulbous,
bila linggir membesar/melebar dipuncaknya dan terdapat leher/gerong.
Bentuk persegi paling menguntungkan karena sisi sejajar dapat menahan
daya ungkit dan perpindahan pada gigi tiruan sedangkan bentuk lancip
dapat menimbulkan rasa sakit sehingga pembuatan gigi tiruan nantinya
harus dibuat dengan baik serta rapat agar dapat mencegah hal tersebut.

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

d. Ukuran linggir RA : Tinggi


Ukuran linggir RB : tinggi (kanan); tinggi (kiri)
Pemeriksaan
Dilakukan menggunakan kaca mulut no.3.kaca mulut dimasukan kedalam
vestibulum rahang atas sampai di dasar forniks. Kemudian dilihat tinggi
linggir pada rahang atas maupun pada rahang bawah. (1) tinggi, apabila
seluruh kaca mulut terbenam dan sama tinggi dengan linggir. (2) sedang,
apabila ½ bagian kaca mulut yang terbenamdan (3) rendah, apabila kurang
dari ½ kaca mulut yang terbenam. ketinggian linggir dapat mempengaruhi
kekokohan dan kemantaan gigi tiruan.

e. Hubungan RA – RB : normal
Pemeriksaan
Dilakukan dengan cara menginstruksikan pasien pada keadaan posisi
istirahat kemudian jari telunjuk diletakan pada dasar vestibulum anterior
RA dan ibu jari pada dasar vestibulum RB. Kemudian digerakan secara
vertikal dan dilihat hubungan puncak linggirnya. (1) normal, apabila ujung
kedua jari terletak segaris vertikal, atau linggir rahang atas berada sejajar
dengan linggir rahang bawah,(2) retrognatik, apabila linggir rahang bawah
terletak lebih ke anterior dari rahang atas, dan (3) prognatik, apabila
linggir rahang bawah terletak lebih ke posterior dari rahang
atas.Pemeriksaan ini berguna memberi pedoman untuk penyusunan gigi
dengan tidak menganggu estetik.

Gambar 2.klasifikasi hubungan rahang atas dan rahang bawah

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

f. Kesejajaran linggir RA/RB :Sejajar


Pemeriksaan
Dilakukan dengan keadaan pasien dalam posisi istirahat, kemudian dilihat
secara visual kesejajaran puncak linggir rahang atsa dengan rahang
bawahbaik di regio anterior maupun di regio posterior.(1) sejajar, apabila
jarak puncak linggir rahang atas dan rahang bawah di region anterior sama
dengan di region posterior, (2) konvergen, apabila jarak puncak linggir
rahang atas dan rahang bawah di region anterior lebih kecil daripada di
region posterior, dan (3) divergen, apabila jarak puncak linggir rahang atas
dan rahang bawah di region anterior lebih besar daripada di region
posterior.Kegunaan pemeriksaan ini untuk menentukan panjang gigi dalam
arah vertikal.

Gambar 3.Klasifikasi kesejajaran linggir rahang atas dan rahang bawah

g. Ruang antarmaksila : kecil


Pemeriksaan
Ruang antar maksila merupakan ruang antara rahang atas dan bawah,
ketika rahang bawah dalam posisi istirahat. Normalnya mengandung gigi
dan prosesus alveolaris. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur jarak
dari prosesus alveolaris rahang atas ke prosesus alveolaris rahang bawah
menggunakan kaliper. Hasil pengukuran yang normal akan menunjukkan
nilai 10-15 mm. hasil pengukuran ruang antar maksila (1) besar, apabila
diperoleh jarak > 15 mm, (2) sedang, apabila diperoleh jarak 10-15 mm,
dan (3) kecil, apabila diperoleh jarak < 10 mm.

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

h. Ruang antar alveolar :sedang


Pemeriksaan
Dilakukan dengan menginstruksikan pasien dalam posisi istirahat
kemudian diukur menggunakan jangka sorong puncak alveolar rahang atas
ke puncak alveolar rahang bawah.Hasil pengukuran (1) besar, bila jarak
puncak alveolar rahang atas ke puncak alveolar rahang bawah > 15 mm,
(2) sedang, , bila jarak puncak alveolar rahang atas ke puncak alveolar
rahang bawah 10-15 mm, (3) kecil, bila jarak puncak alveolar rahang atas
ke puncak alveolar rahang bawah < 10 mm.

i. Tuberositas kanan : sedang


Tuberositas kiri : sedang
Pemeriksaan
Dilakukan menggunakan kaca mulut no. 3 yang diletakkan tegak lurus
pada bagian vestibulum. (1) besar, apabila seluruh kaca mulut terbenam,
(2) sedang, apabila ½ kaca mulut yang terbenam, dan (3) kecil, apabila
kurang dari ½ kaca mulut yang terbenam. Pemeriksaan ini memiliki
peranan retensi pada gigi tiruan.

i. Exostosis :tidak ada


Pemeriksaan
Exositosis merupakan tonjolan tulang pada prosesus alveolaris yang
disebabkan karena tindakan pencabutan gigi, bagian ini bila diraba terasa
sakit dan tidak dapat digerakan. Pemeriksaannya dengan cara melakukan
palpasi pada seluruh permukaan linggir baik di region anterior maupun
posterior.

j. Torus palatina : Tidak ada


Torus mandibula : Tidak ada
Pemeriksaan
Torus palatina merupakan tonjolan tulang pada garis tengah palatum
sedangkan ptorus mandibular melrupakan tonjolan tulang pada dasar

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

mulut yang biasanya terletak di region P1 dan P2 rahang


bawah.Pemeriksaan dilakuakan menggunakan instrument burnisher
dengan menekan beberapa tempat sehingga dapat dirasakan perbedaan
kekenyalan jaringan.

k. Palatum lunak :Kelas II, Gerakan sedang


Pemeriksaan
Dilakukan dengan cara pasien diminta untuk mengucapkan huruf A secara
berulang kali kemudian dengan kaca mulut lidah di tekan kemudian
diamati kurva getar/kurva A yang terletak di daerah perbatasan antara
palatum keras dengan palatum lunak. Lalu secara visual dapat ditentukan
lereng landasan dari palatum lunak nya. Palatum lunak dapat di
kategorikan (1) klas I, apabila lereng landasan palatum mole rendah, (2)
klas II, apabila lereng landasan palatum mole sedang atau > 30°, dan (3)
klas II, apabila lereng landasan palatum panjang atau menyentuh
kerongkongan dengan sudut > 60°.
Untuk pemeriksaan gerakan palatum lunak dikategorikan (1) aktif, apabila
gerakannya cepat, (2) sedang, apabila gerakannya stabil atau continuous,
dan (3) pasif, apabila gerakannya lamban atau cendrung tidak bergerak.

Gambar 4. Klasifikasi klas pada palatum lunak

l. Perlekatan otot labial RA : Sedang


Perlekatan otot bukal Ka. : Sedang
Perlekatan otot bukal Ki. : Sedang
Perlekatan otot labial RB : Sedang
Perlekatan otot lingual : Sedang
Perlekatan otot bukal Ka. : Sedang

10

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Perlekatan otot bukal Ki. : Sedang


Pemeriksaan
dilakukan dengan menggunakan kaca mulut no.3 kemudian dimasukan
kedalam vestibulum labial, bukal, dan pada bagian lingual arah vertikal
tegak lurus. Kemudian diangkat dan diamati kedalaman perlekatan otot
nya. Hasil pemeriksaan dapat dikategorikan menjadi (1) dalam, apabila
seluruh kaca mulut terbenam, (2) sedang, apabila ½ kaca mulut yang
terbenam, dan (3) rendah, apabila kurang dari ½ kaca mulut yang
terbenam.

m. Frenulum labialis RA : sedang


Frenulum bukalis Ka. : rendah
Frenulum bukalis Ki. : rendah
Frenulum labialis RB : sedang
Frenulum lingualis : sedang
Frenulum bukalis Ka. : rendah
Frenulum bukalis Ki. : rendah
Pemeriksaan
Dilakukan dengan menggunakan kaca mulut no.3 kemudian dimasukan
kedalam vestibulum labial, bukal, dan pada bagian lingual arah vertikal
tegak lurus.Kemudian bagian labial, bukal, dan lingual di retraksi hingga
terlihat dengan jelas perlekatan frenulumnya. Pemeriksaan visual frenulum
dikategorikan menjadi (1) tinggi, apabila perlekatan frenulum hampir
sampai ke puncak linggir, (2) sedang, apabila perlekatan frenulum berada
ditengah antara puncak linggir dengan mukobukal fold, dan (3) rendah,
apabila perlekatan frenulum berada pada mukobukal fold.

n. Tahanan jaringan linggir : (1) besar di region posterior kanan dan kiri
rahang atas, (2) sedang di region posterior kanan RB dan anterior RA, (3)
kecil di region posterior kiri RB.

11

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Pemeriksaan
Dilakukan menggunakan burnisher/kaca mulut dengan cara menekan
daerah ridge edentolus pada bagian anterior dan posterior. Tahanan
jaringan berpengaruh terhadap cara pencetakan. Perubahan warna menjadi
pucat pada saat ditekan menunjukkan tahan jaringan yang rendah,
sedangkan apabila terjadi perubahan warna ketika ditekan menunjukkan
tahanan jaringan yang besar.

Gambar 5. Pemeriksaan tahan jaringan menggunakan burnisher

o. Bentuk palatum : lonjong


Kedalaman palatum : sedang
Pemeriksaan
Bentuk palatum diperiksa secara visual dengan mengamati bentuk
lengkung palatum. Bentuk palatum dikategorikan (1) persegi, apabila
bentuk lengkung/dinding palatum sejajar kedua sisinya, (2) lonjong,
apabila bentuk lengkung/dinding palatum membulat di kedua sisinya, (3)
lancip, apabila bentuk dasar palatum meruncing dan menonjol ke bagian
dalam dalam arah vertikal dan membesar ke bagian bawah. Pemeriksaan
kedalaman palatum dilakukan mengunakkan kaca mulut no.3.(1) dalam,
apabila seluruh kaca mulut terbenam, (2) sedang, apabila ½ kaca mulut
yang terbenam, dan (3) rendah, apabila kurang dari ½ kaca mulut yang
terbenam.

12

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

p. Retromylohyoid : sedang
Pemeriksaan
Dilakukan dengan menggunakan kaca mulut no. 3 diletakan arah vertikal
tegak lurus hingga ke dasar mulut. Retromylohyoid dikategorikan (1)
dalam, apabila seluruh kaca mulut terbenam, (2) sedang, apabila ½ kaca
mulut yang terbenam, dan (3) rendah, apabila kurang dari ½ kaca mulut
yang terbenam.

q. Ludah, konsistensi : sedang


Volume ludah : sedikit
Pemeriksaan
Konsistensi dan volume ludah dapat diukur mengunakan alat khusus agar
diperoleh pengukuran yang akurat. Namun cara lain juga dapat digunakan
yakni dengan mengunakan kaca mulut yang diusapkan ke dalam rongga
mulut (dapat diusapkan pada bagian lidah, dasar mulut, dan bukal)
kemudian dilihat secara visual konsistensinya, (1) kental, apabila
konsistensi ludah terlihat liat atau likat, (2) sedang, apabila terdapat buih-
buih/gelembung-gelembung pada ludah, (3) encer, apabila konsistensi
ludah cair. Volume ludah dapat diketahui ketika melakukan pencetakan
atau melalui sapuan kaca mulut serta instruksi meludah yang diberikan
kepada pasien.Volume ludah dikategorikan menjadi banyak, sedang, dan
sedikit.

r. Refleks muntah : tidak ada


Pemeriksaan
Refleks muntah dapat diketahui ketika dilakukan pencetakan rahang atas
dan rahang bawah. Refleks muntah yang besar akan menyulitkan ketika
dilakukan pencetakan. Adapun cara mengurangi refleks muntah yang besar
yaitu dengan, menginstruksikan pasien untuk berkumur air dingin,
menyemprotkan cairan anastetikum ke daerah paltum mole, pengalihan
melalui hipnosis maupun melakukan komunikasi yang baik antara dokter-
pasien agar pasien merasa nyaman.

13

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

s. Lidah, ukuran : sedang


Gerakan lidah : pasif
Pemeriksaan
Dilakukan secara visual dengan mengamati ukuran dan gerakan lidah
pasien. Ukuran lidah dikategorikan (1) besar, apabila menutupi dasar
mulut dan juga prosesus alveolaris yang telah ditinggali gigi-giginya, (2)
sedang, apabila lidah tidak berlebihan mengisi lengkung gigi, tepi lateral
lidah berkontak dengan permukaan linggir posterior dan ujung lidah
berada sedikit di bawah tepi linggir anterior, (3) kecil, apabila ukuran lidah
lebih kecil dari lengkung linggir dan terletak lebih kebawah hingga ke
dasar mulut. Gerakan lidah dapat diperiksa dengan cara menyentuhkan
instrument tertentu ke salah satu bagian lidah. Lidah yang aktif akan peka
dan melakukan gerakan yang aktif. Kategori gerakan lidah (1) aktif,
apabila lidah bergerak dengan cepat dan sulit dikendalikan, (2) sedang,
apabila gerakan dapat dikendalikan dan, (3) pasif, apabila gerakan lamban
dan cendrung tanpa gerakan.

Gambar 6. Pembagian klas pada ukuran lidah menurut wright

t. Status gigi geligi :

Keterangan:
X : Missing

14

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

7. DIAGNOSIS KLINIK
Rahang Atas:
Missing teeth : 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 21, 22, 23, 24, 25,
26, 27, 28, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 41, 42, 43, 44, 45, 46,
47, 48
Rahang Bawah : Edentulous

8. INDIKASI PERAWATAN
Gigi tiruan penuh lepasan pada rahang atas dan rahang bawah

Prosedur Perawatan
1. Pemeriksaan Subjektif dan Objektif
Pada kunjungan pertama, dilakukan indikasi kasus, pengisian kartu status
prostodonsia yang terdiri dari data pasien, pemeriksaan subjektif, pemeriksaan
objektif, diagnosis, dan rencana perawatan. Pasien diinformasikan tentang
rencana perawatan yang akan dilakukan yakni pembuatan gigitiruan penuh
lepasan dari bahan akrilik pada rahang atas dan rahang bawah. Pasien juga
diinformasikan mengenai waktu kunjungan yang akan dilakukan. Informasi ini
diberikan dan pasien setuju selanjutnya pasien diminta menandatangani
informed consent.

2. Pembuatandiagnostic impression/cetakan pendahuluan


Setelah informed consent ditanda tangani oleh pasien, tahap selanjutnya
adalah pencetakan pendahuluan dengan menggunakan edentulous perforated
stock tray dan bahan cetak alginat.
Diagnostic impression/cetakan pendahuluan digunakan untuk mepelajari dan
mengevaluasi keadaan rahang atas dan rahang bawah, mempelajari masalah
yang mungkin akan timbul selama pembuatan gigi tiruan, sebagai penunjang
diagnostik, dan untuk menentukan perawatan-perawatan yang diperlukan
dalam kaitanya dengan persiapan pasien dan perbaikan jaringan rongga mulut
sebelum dibuat gigi tiruan pada pasien.

15

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Gambar 7. Alat dan bahan yang digunakan untuk mencetak rahang pasien

Adapun tata caramelakukan pencetakan rahang atas dan rahang bawah ialah
sebagai berikut:
- Atur posisi pasien tegak dengan posisi kepala sejajar dengan tubuh pasien.
Atur ketinggian pasien agar saat mencetak rahang bawah, mulut pasien
sejajar dengan bahu operator dan saat mencetak rahang atas, mulut pasien
sejajar dengan siku operator.

Gambar 8.Posisi pasien ketika melakukan pencetakan rahang.

- Tentukan ukuran sendok cetak yang sesuai dengan besar rahang pasien
dengan cara mencobakan sendok cetak mulai dari nomor terkecil ke nomor
terbesar.Sendok cetak harus sesuai dengan bentuk lengkung rahang, bila

16

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

diletakan dalam mulut harus ada selisih ruangan kira-kira 4-5 mm. Untuk
rahang atas sendok cetak harus mencapai batas palatum lunak dank keras
serta hamular notch sedangkan untuk rahang bawah harus mencapai
retromolar pad.Pada kasus ini pasien menggunakan sendok cetak no. 1.
- Posisi operator saat mencetak RB, berdiri di depan dan sisi kanan pasien.
Saat mencetak RA, operator berdiri sedikit di belakang dan sisi kanan
pasien.

Gambar 9. Posisi mencetak untuk rahang atas dan rahang bawah

- Ukur perbandingan powder (bahan cetak alginat) dan liquid (air)


menggunakan sendok takar dan gelas ukur sesuai dengan takaran pabrik
sehingga sesuai untuk ukuran rahang yang akan dicetak
- Tuangkan air ke dalam mangkuk karet berlebih dahulu lalu campur dengan
bahan cetak alginat untuk menghindari terjebaknya gelembung-gelembung
udara dalam adonan bahan cetak.
- Aduk bahan cetak dan air dengan gerakan angka 8 (gerakan melipat) sambil
adonan ditekan ke tepian mangkuk karet (vigourus hand mixing) hingga
adonan terlihat homogen (adonan sewarna,konsistensi lunak dan
permukaannya halus).
- Aplikasikan adonan ke dalam sendok cetak RA/RB. Bila mencetak rahang
atas, aplikasikan adonan ke dalam sendok cetak melalui bagian palatal
(posterior) kemudian menyusuri bagian oklusal gigi kearah anterior sendok
cetak. Bila mencetak rahang bawah, aplikasikan adonan ke dalam sendok
cetak melalui bagian lingual lengkung gigi anterior kemudian menyusuri
bagian oklusal gigi kearah posterior sendok cetak.
- Untuk rahang atas masukan sendok cetak ke dalam mulut dengan

17

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

penekanan secara vertikal arah keatas, instruksikan pasien untuk


mengerutkan bibir sekuatnya. Sedangkan untunk rahang bawah masukan
sendok cetak ke dalam mulut dengan penekanan secara vertikal arah
bawah, instruksikan pasien untuk mengangkat lidah. Pertahankan posisi
sampai bahan mengeras.
- Setelah adonan mengeras (tidak mudah terkoyak), lepaskan sendok cetak
dari mulut pasien dengan cara jari telunjuk dimasukan kedalam rongga
mulut untuk membantu melepaskan sendok cetak. Cuci bersih pada air
mengalir untuk menghilangkan kotoran/saliva yang menempel.
- Amati hasil cetakan anatomis, lihat porositas dan detail cetakan, apakah ada
bagian yang terlalu tertekan ataupun ada landmark anatomi yang tidak
tercetak.
- Setelah itu, cor hasil cetakan dengan gipsum. Ukur perbandingan powder
dan liquid menggunakan sendok takar dan gelas ukur sesuain dengan
petunjuk pabrik dan ukuran cetakan rahang yang akan diisi dengan gips.
- Campur bubuk dan air ke dalam mangkuk karet lalu aduk selama 1 menit
(120 putaran) hingga adonan terlihat homogen.
- Isi hasil cetakan dengan adonan gips lalu ketuk-ketuk agar gelembung
udara yang terperangkap dapat hilang sehingga hasil pengisian gips tidak
porus. Apabila mengisi hasil cetakan RA, maka apliaksi adonan dimulai
dari bagian palatal (posterior) hasil cetakan, sedangkan untuk mengisi hasil
cetakan RB dimulai dari bagian oklusal gigi posterior menuju anterior.
- Rapikan hasil pengisian gips dan biarkan mengeras (setting time) proses
mengerasnya gips akan melewati fase panas dingin.
- Setelah diperoleh cetakan gips, selanjutnya gips diboxing menggunakan
boxing karet segi tujuh menggunakan gypsum putih (plaster of paris) agar
dapat digunakan sebagai model studi.

18

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Gambar 10.Model studi


3. Perawatan Pendahuluan
Sebelum perawatan dilakukan terdapat hal-hal yang penting untuk
diperhatikan yaitu:
- Penjelasan kepada pasien mengenai gigi tiruan yang akan dibuat, sehingga
pasien mengerti akan kegunaan gigi tiruan tersebut.
- Memastikan kebutuhan gigi tiruan untuk pasien.
- Keinginan pasien yang berhubungan dengan kebutuhannya.
- Hubungan rencana perawatannya dengan kebutuhannya.
Perawatan pendahuluan yang dilakukan sebelum pembuatan gigi tiruan
bertujuan untuk melihat keadaan seluruh perubahan-perubahan/kelainan yang
terjadi pada linggir alveolus yang mendukung gigi tiruan dan struktur rongga
mulut lain yang dapat menggagalkan dalam pembuatan gigi tiruan penuh.
Secara garis besar, ada dua tahapan preparasi mulut (mouth preparation).
Pertama, dalam proses ini biasanya langkah-langkah pendahuluan seperti
tindakan bedah, perawatan periodontal, konservatif termasuk endodontik,
bahkan ortodontik perlu dilaksanakan untuk mempersiapkan mulut pasien
menerima gigi tiruan. Tahapan pertama ini bertujuan untuk menciptakan
lingkungan mulut yang sehat.Kedua, mulut pasien perlu dipersiapkan untuk

19

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

pemasangan gigi tiruan yang akan dibuat. Dalam tahap ini dilakukan proses
pengubahan kontur jaringan untuk mengurangi hambatan dan mencari bidang
bimbing. Permukaan jaringan yang akan dipreparasi ditandai pada model
diagnostik. Model dipakai sebagai peta atau petunjuk untuk melaksanakan
perubahan-perubahan.
Pada kasus ini hanya akan dilakukan tahap pertama karena hanya tersisa satu
sisa akar yakni pada gigi 13. Pasien akandirujuk ke bagian bedah mulut untuk
dilakukan ekstraksi pada sisa akar gigi 13 sedangkan kontur jaringan tidak
dilakukan karena keadaan kontur jaringan baik dan dirasa cukup untuk
mendukung kekokohan dan kemantapan gigi tiruan.

4. Dental Side Teaching (DST)

5. Penentuan desain gigi tiruan


- Rahang atas : Gigi tiruan penuh dengan dukungan dari mukosa. Basis
menutupi palatum dan diperluas sampai tuberositas maksilaris, meluas ke
lateral sampai vestibulum bukalis dan ke anterior sampai vestibulum
labialis.
- Rahang bawah : Gigi tiruan penuh dengan dukungan dari mukosa. Basis
menutupi retromolar pad, meluas ke lateral sampai vestibulum bukalis,
serta meluas ke anterior sampai vestibulum labialis. Bagian distolingual
meluas secara vertikal dari retromolar pad meluas ke retromylohyoid
sampai ke sulkus alveolingual.

1
1 2
2

20

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Keterangan :
Rahang Atas dan Rahang Bawah:
1 – Plat akrilik
2 – Elemen gigi tiruan

6. Pembuatan primary impression/cetakan anatomis dan pembuatan model


studi
Setelah dilakukan perawatan pendahuluan, tahap selanjutnya ialah pencetakan
kembali rongga mulut pasien yang disebut dengan Primary
impression/cetakan anatomis, hasil cetakannya lazim disebut model
studi/model anatomis. Pada model studi dapat dibuat sendok cetak perorangan
yang akan digunakan untuk mencetak cetakan akhir.Cetakan rahang ialah
bentuk negatif dari seluruh jaringan pendukung gigi tiruan. Setelah di cor
maka akan didapatkan bentuk positif dari rahang yang lazim disebut model
rahang. Hasil cetakan rahang harus memberikan kekokohan, kemantapan, dan
dukungan pada gigi tiruan, oleh karena itu rahang harus dicetak seakurat
mungkin sehingga landasan gigi tiruan dapat mempertahankan kesehatan
jaringan pendukungnya.
Cetakan anatomis merupakan langkah awal pembuatan suatu gigi tiruan
penuh. Model studi yang diperoleh dari hasil pencetakan tahap ini akan
digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan sendok cetak
perorangan.cetakan ini dibuat menggunakan endentulous perforated stock
traydengan cara dan teknik mencetak yang sama seperti pada pembuatan
diagnostic impression/cetakan pendahuluan.
Hasil cetakan yang baik akan terlihat dengan jelas bagian-bagain sebagai
berikut:
- Prosessus alveolaris yang tidak bergigi
- Perlekatan otot-otot, pinggiran cetakan harus kelihatan membulat kecuali
pada daerah-daerah yang mengambarkan perlekatan otot.
- Permukaan cetakan harus halus dan tidak berlubang-lubang
- Dasar sendok cetak tidak boleh terlihat
- Cetakan rahang atas harus mencakup hamular notch

21

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

- Cetakan rahang bawah harus mencakup sampai ke retromolar pad


Adapun anatomi yang harus tercetak pada rahang atas yakni (1) frenulum
labialis, (2) frenulum bukalis, (3) vestibulum labialis, (4) vestibulum bukalis,
(5) papilla insisivum, (6) rugae palatine, (7) hamular notch, (8) tuberositas
maksila, (9) palatum, (10) mukobukal fold.

Gambar 11. Model studi rahang atas

Anatomi yang harus tercetak pada rahang bawah yakni (1) frenulum labialis,
(2) frenulum bukalis, (3) frenulum lingualis, (4) Vestibulum labialis, (5)
vestibulum bukalis, (6) retromolar pads (7) retromylohioid,
(8) mukobukal fold.

Gambar 12. Model studi rahang bawah


7. Pembuatan sendok cetak perorangan
Sendok cetak perorangan akan digunakan untuk membuat secondary
impression/cetakan fisiologis. Hasil dari cetakan fisiologis mengunakan
sendok cetak perorangan akan digunakan sebagai model kerja untuk membuat
gigi tiruan.

22

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Adapun alat dan bahan yang diperlukan dalam pembuatan sendok cetak
perorangan yaitu:
- Base plate shellac (warna putih) rahang atas dan rahang bawah
- Selembar malam merah
- Bunsen burner dan cairan spiritus
- Bedak tabur (baby powder)
- Gunting
- Lecron
- Pensil 2B dengan karet penghapus
Batas-batas desain untuk pembuatan sendok cetak perorangan untuk rahang
atas ialah : (A) notch hamular, (B) Fovea Palatinus, (C) frenulum bukal, (D)
frenulum labial.

Gambar 13.Batas desain sendok cetak perorangan rahang atas


Batas-batas desain untuk pembuatan sendok cetak perorangan untuk rahang
bawah ialah : (A) garis distal dan retromolarpad, (B) oblique ridge external,
(C) Frenulum bukal, (D) frenulum labial, (E) tuberositas lingual, (F) linggir
milohioid, (G) frenulum lingualis

Gambar 14. Batas desain sendok cetak perorangan rahang bawah

23

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Cara pembuatan sendok cetak perorangan ialah sebagai berikut:


- Pada model studidigambarmenggunakan pensil batas antara jaringan
bergerak dengan tidak bergerak. Batas-batas sendok cetak perorangan
ditentukan ±1-2 mm lebih pendek dari batas jaringan bergerak-tidak
bergerak untuk memberi tempat pada bahan cetak namun tetap tidak
mudah lepas dari rahang pasien. Sendok cetak harus mencakup seluruh
prosessus alvoelaris dan jaringan lunak. Harus tepat untuk memperoleh
perlekatan otot dan perlekatan frenulum.
- Lapis selembar malam merah yang telah dilunakkan diatas model studi
kemudian ditekan mengikuti batas desain yang telah digambar. Malam
merah berfungsi sebagai bahan pelapis antara bahan shellac base plate
dengan model studi, agar kelak terdapat ruang untuk bahan cetak ketika
sendok cetak perorangan di gunakan.

Gambar 15. Bahan shellac baseplate diletakan diatas model studi


yang sebelumnya telah dilapisi selmbar malam

- Selanjutnya bahan shellac baseplate dilunakkan diatas lampu spiritus, lalu


diletakkan di atas malam merah (yang telah dibasahi air atau diberi baby
powder) dan ditekankan dengan bantuan kain hingga bentuknya sesuai
dengan desain yang telah dibuat sebelumnya.Bagian tepi landasan
disesuaikan dengan menggunakan karet penghapus pensil 2B.

Gambar 16. Tepi landasan shellac yang diadaptasikan menggunakan


karet penghapus pensil 2B

24

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

- Kelebihan shellac dipotong dengan menggunakan gunting/lecron


panassaat keadaan lunak sesuai bentuk dan batas desain yang telah
digambar sebelumnya lalu sempurnakan tepi-tepi sendok cetak. Setelah itu
dibuat pegangan pada sendok cetak perorangan tersebut.

Gambar 17. Tepi sendok cetak yang berlebihan di gunting


- Sendok cetak perorangan yang sudah selesai dibuat dicobakan pada mulut
pasien dan periksa apakah sendok cetak perlu disempurnakan sebelum
dilakukan border moulding dan pencetakan fisiologis.

Gambar 18. Ilustrasi sendok cetak perorangan yang telah selesai

8. Pembuatan secondary impression/pencetakan fisiologis dan pembuatan


model kerja
Pencetakan fisiologis atau secondary impression mencakup tiga langkah
utama yakni (a) pembuatanborder moulding, (b) Pencetakan fisiologis, dan (b)
penentuan vibrating line untuk pembuatan postdam.
a. Border Moulding
Border moulding atau muscle trimming ialah proses pembentukan tepi-tepi
sendok cetak fisiologis untuk mendapatkan anatomi struktur pembatas gigi
tiruan yang lebih akurat. Teknik yang digunakan dinamakan

25

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

incremental/sectional border moulding menggunakan green stick


compound.Green stick compound merupakan bahan yang paling baik
digunakan karena memiliki beberapa keuntungan antara lain setting cepat,
dapat digunakan kembali apabila dilakukan pengulangan prosedur border
moulding, karena kekauannya dapat digunakan untuk memperpanjang sendok
cetak yang terlalu pendek hingga 3-4 mm, tidak menyebabkan perubahan
dimensi yang signifikan setelah pengerasan, serta menghasilkan detail jaringan
secara halus.
Adapun cara melakukan border moulding ialah sebagai berikut:
- Greenstick compound dipanaskan dengan lampu spiritus dan didinginkan
sedikit hingga mencapai suhu kerja sekitar 49°C (120°F) sampai 60°C
(140°F). Kemudian diletakkan di tepi luar sendok cetak perorangan, lalu
direndam dalam air selama beberapa detik sebelum dimasukan ke dalam
rongga mulut pasien
- Selanjutnya dimasukkan ke dalam rongga mulut pasien untuk membentuk
tepi struktur anatomi pembatas gigi tiruan. Greenstick ditambahkan sedikit
demi sedikit pada tepi luar sendok cetak perorangan.
- Prosedur border moulding dilakukan secara berurutan dimulai dari
vestibulum bukal kemudian vestibulum labial, daerah posterior palatum
pada rahang atas dan bagian lingual dari rahang bawah.
- Ketika sendok cetak perorangan yang sudah diletakkan greenstick
compound berada di dalam mulut, pasien diinstruksikan untuk melakukan
gerakan fisiologis. Pada rahang atas, membuka mulut dan menggerakkan
rahang atas ke kanan dan ke kiri serta ke depan untuk membentuk hamular
notch dan sayap bukalis. Selanjutnya untuk daerah frenulum bukalis, pipi
dan bibir pasien ditarik ke luar, ke belakang, ke depan dan ke bawah.
Untuk daerah sayap labial, bibir ditarik ke depan dan ke bawah serta
penarikan bibir atas ke depan untuk daerah frenulum labialis. Untuk
membentuk daerah posterior palatum durum yang merupakan batas antara
palatum molle dan palatum durum pasien diinstruksikan untuk
mengucapkan “ah”.
- Pada rahang bawah, untuk membentuk tepi saya distolingual dan daerah

26

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

buccal sheld, maka setelah greenstick dilunakkan dan sendok cetak telah
dimasukkan ke dalam mulut, pasien diminta untuk membuka mulut
kemudian menutup mulut untuk mengaktifkan otot masseter. Untuk
membentuk daerah distolingual dan postmylohyoid, pasien diinstruksikan
untuk menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan serta ke posterior palatum
durum. Frenulum lingual dibentuk dengan menginstruksikan kepada
pasien untuk meletakkan ujung lidahnya ke bagian anterior palatum dan ke
bibir atas. Selanjutnya, daerah sayap labial dibentuk dengan memberikan
instruksi yang sama dengan instruksi border moulding rahang atas.

Gambar 19. Hasil border moulding dengan greenstick compound


pada sendok cetak perorangan yang dilakukan secara berurutan
per region (a) rahang atas (b) rahang bawah

Gambar 20. Ilustrasi border moulding pada sendok cetak perorangan

b. Pencetakan fisiologis dan penentuan vibrating line untuk pembuatan


postdam
Bahan cetak yang digunakan untuk pembuatan cetakan fisiologis harus
memiliki viskositas yang rendah agar dapat mencetak struktur rongga mulut
dengan akurat.Bahan yang digunakan harus homogen dan membentuk lapisan

27

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

tipis yang rata pada sendok cetak. Bahan yang akan digunakan untuk membuat
cetakan fisiologis ialah bahan cetak elastomer tipe silikon/vinyl
polysiloxane(light body type) yang terdiri dari pasta dan katalis.Bahan cetak
ini memiliki ketahanan yang adekuat, stabilitas dimensi, dan elastisitasnya
sangat baik.
Teknik yang digunakan yakni teknik mencetak mukostatisk yaitu jaringan
lunak mulut berada dalam keadaan istirahat, teknik ini mengharuskan
pencetakan menggunakan bahan yang mempunyai viskositas rendah, dimana
hanya sejumlah kecil tekanan yang dibutuhkan, sehingga pada keadaan ini
sedikit atau tidak ada sama sekali terjadi pergerakan dari mukosa.
Alat dan bahan yang diperlukan pada tahap ini ialah:
- Sendok cetak perorangan yang telah dibuat border moulding
- Bahan cetak elastomer jenis silikon/vinyl polysiloxane(light body type)
- Glas lab
- Spatula semen dari bahan plastik
- Spidol permanen
Sebelum pencetakan pada rahang atas terlebih dahulu dilakukan penentuan A-
line/vibrating line untuk pembuatan posterior palatal seal.Tahap ini sangat
penting untuk memperoleh retensi yang baik pada gigi tiruan.Teknik yang
umum diggunakan pada tahap ini yakni conventional technique.Adapun proses
pengerjaannya ialah sebagai berikut:
- Pasien diinstruksikan untuk mengucapkan huruf “A” berulang kali.
- Menggunakan kaca mulut dilakukan pemeriksaan secara visual dan di
tentukan vibrating line nya. Beri tanda dengan spidol pada batas anterior
dan posterior dari vibrating line.
- Batas anterior vibrating line terletak diantara palatum keras dan palatum
lunak sedangkan batas posterior vibrating line berada dijaringan bergerak
dan tidak bergerak pada palatum lunak.
- Daerah posterior hamular notch juga dapat di tandai dengan spidol bila
diperlukan. Garis pada daerah hamular notch natinya dapat disatukan
dengan vibrating line, sehingga terbentuk garis posterior palatal seal yang
utuh.

28

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Gambar 21.Ilustrasi pembuatan vibrating line

Gambar 21.Ilustrasi pembuatan vibrating line


- Selanjutnya bahan cetak elastomer di aduk hingga konsistensinya
homogen diatas glas lab menggunakan spatula semen dari bahan plastik.
Waktu pengadukan berkisar 30-45 detik dangan waktu kerja 2-4 menit dan
waktu pengerasan 6-8 menit.Kemudian ditempatkan pada sendok cetak
perorangan rahang atas.
- Letakan sendok cetak perorangan kedalam mulut pasien. Pasien
diinstruksikan untuk tegak agar bahan cetak tidak mengalir ke belakang.
Teknik mencetak rahang atas maupun bawah yaitu sendok cetak ditekan

29

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

pada bagian posterior kemudian lanjutkan penekanan di bagian anterior.


Penekanan dilakukan hingga dapat dirasakan berkontak dengan mukosa di
mulut pasien.
- Pada hasil cetakan rahang atas nantinya akan terlihat ciplakan tanda spidol
dari rongga mulut yang merupakan vibrating line.

Gambar 22.Ilustrasi Vibrating line pada rahang atas


- Lakukan pencetakan dengan cara yang sama pada rahang bawah pasien.

Gambar 23.Ilustrasi hasil cetakan fisiologis


- Setelah cetakan rahang dikeluarkan dari mulut pasien, langsung dicuci
dengan kran air yang mengalirkemudian dikeringkan dengan semprotan
udara kering.

Sebelum dicor dengan stonegips dibuat boxing dengan menggunakan


lembaran malam di sekeliling cetakan untuk mengamankan bentuk tepi
cetakan. Maksud dari boxing ialah agar bentuk/batas tepi tetap dipertahankan.
Sekeliling tepi batas cetakan diberi malam merah yang tebalnya 5 mm, dengan
jarak antara batas tepi cetakan dengan malam merah ± 3 mm seperti gambar
berikut ini.

30

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Gambar 24. ilustrasipembuatan boxing

Jarak antara batas tepi cetakan dengan batas dinding atas lempeng malam
boxing paling tinggi 13 mm sehingga stone gips dibatasi dan pekerjaan
mengecor lebih mudah.Cetakan fisiologis ini kemudian dicor dengan stone
gips untuk memperoleh model kerja.Setelah stone gips mengeras, lempeng
dinding malam, sendok dan bahan cetak dilepas, jangan sampai modelnya
rusak.
9. Pembuatan base plate gigi tiruan dan Bite Rim
Occlusal bite rim terdiri dari dua bagian yaitu base plate dan bite rim.
1) Membuat base plate
- Membuat gambar desain gigi tiruan penuh pada model kerja,
berdasarkan pada batas tepi dengan memperhatikan daerah
mucobuccal fold.
- Model kerja dibasahi dengan air atau ditaburi dengan baby powder.
- Selanjutnya selembar malam dilunakkan dengan lampu spritus, lalu
diletakkan di atas working model dan ditekan mulai dari bagian
palatum dengan batas-batas sesuai dengan desain.
- Bagian tepi dibuat seal dengan cara kelebihan malam dilipat ke atas
sehingga mempunyai ketebalan 2 lembar malam dan lebar 2 mm.
- Sisa malam yang melebihi batas tepi dibuang dengan menggunakan
pisau malam.
2) Pembuatan bite rim
Prosedur untuk rahang atas dan rahang bawah sama
- Buat cetakan berbentuk balok panjang dari kertas karton tebal dengan
ukuran yang mengacu pada ukuran bite rim rahang atas yakni anterior

31

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

(t: 12 mm, l: 4 mm) posterior (t: 10-11 mm, l: 6 mm) dan rahang
bawah yakni anterior (t: 12 mm, l: 4mm) dan posterior (t:10-11mm, l:
6 mm)
- Kemudian oles permukaan dalam cetakan balok dengan vaselin.
- Panaskan malam diatas bunsen burner hingga larut menggunakan
sendok.
- Tuang malam yang telah larut ke dalam cetakan balok dan tunggu
hingga mengeras
3) Bite rim yang telah dibuat diletakkan di atas base plate dengan patokan
sebagai berikut:
- Pindahkan garis puncak linggir model kerja pada bite rim sehingga
garis puncak linggir rahang letaknya pada bite rimrahang atas yaitu di
bagian bukal : bagian palatal 2 : 1 (4 mm di bagian bukal dan 2 mm di
bagian palatal), sedangkan pada bite rim rahang bawah yaitu bagian
bukal : bagian lingual 1 : 1 (3 mm di bagian bukal dan 3 mm di bagian
lingual).
- Sudut bite rim terhadap base plate dibuat 80°-85° terhadap dataran
oklusal
- Panjang bite rim sampai bagian distal molar kedua. Kontur bagian
bukal bite rim dirapikan dengan menggunakan pisau malam.
- Lunakkan bite rim bidang orientasi di atas sebuah glass lab/kape diatas
apibunsen. Agar diperoleh bidang oklusal/orientasi yang datar dengan
tinggi ite rim di bagian anterior 12 mm dan posterior 10-11 mm.

Gambar 25.Ilustrasi hasil pembuatan base plate dan bite rim

32

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

10. Melakukan uji coba occlusal bite rim


Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan uji coba base platedan
bite rim ialah:
1. Profil
- Bentuk muka penderita dilihat dari arah samping (sagital) merupakan
indikasi hubungan rahang atas dan rahang bawah. Terdapat tiga macam
bentuk profil muka yaitu lurus (straight), cembung (convex), dan cekung
(concave). Bentuk profil ini perlu diketahui untuk penyesuaian bentuk
labial gigi depan dilihat dari arah proksimal.
- Pada pemeriksaan profil wajah dilakukan dengan mengambil tiga buah
titik pada wajah, masing-masing pada dahi (glabella), dasar hidung
(subnasion), dan puncak dagu (gnathion). Bila ketiga titik ini berada pada
satu garis lurus maka profil mukannya lurus. Bila titik pada glabella dan
puncak dagu berada lebih ke depan dari titik pada dasar hidung, maka
profilnya adalah cekung, dan profil cembung terjadi pada arah yang
sebaliknya
2. Mata
Pemeriksaan mata dilakukan pada saat penderita duduk tegak dengan mata
memandang lurus ke depan, lalu dilihat adanya keadaan simetris atau tidak.
Selanjutnya dilihat apakah bola mata dapat mengikuti gerakan sebuah
instrumen yang digerakkan ke segala arah, hal tersebut disebut movable in
all direction, bila tidak, keadaan ini disebut dengan inmovable in all
direction.
Guna mata dalam pemeriksaan ini antara lain untuk menentukan:
- Garis interpupil yang dipakai untuk menetukan tinggi gigit dan
kesejajaran bite rim rahang atas bagian posterior.
- Bidang horizontal frankfrut, yaitu bidang yang melalui titik-titik
infraorbita dan tragus. Bidang ini penting untuk pencetakan rahang atas
dengan bahan cetak cair. Pada penderita yang sensitif dan mudah mual,
garis ini hendaknya diatur sejajar lantai.
- Garis tragus-canthus, yang menjadi panduan letak kondil rahang yang
terletak lebih kurang setengah inci di depantragus pada garis ini.

33

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

- Garis tengah wajah pasien


3. Telinga
Telinga diperiksa, simetris atau tidak. Peran telinga dalam pembuatan gigi
tiruan ialah untuk
- Menentukan garis camper, yaitu garis lurus yang menghubungkan tragus
dengan sayap hidung (ala nasi), guna garis ini adalah pada saat
pencetakan rahang dengan bahan cetak tidak cair seperti impression
compound harus sejajar dengan lantai.
- Menentukan garis yang ditarik dari tragus ke sudut mata (canthus).
Kondil rahang bawah terletak pada garis ini, dengan jarak kurang lebih
setengah inci dari tragus.
- Menentukan garis yang ditarik dari tragus ke sudut mulut. Garis ini
bermanfaat dalam menentukan posisi pasien pada waktu pencetakan
rahang bawah, dimana garis ini dibuat sejajar dengan lantai.
- Menentukan bidang horizontal frankfrut.
4. Occlusal bite rim
Bite rim digunakan untuk menentukan tinggi bidang oklusal, bentuk
lengkung (yang dikaitkan dengan aktivitas bibir,pipi, dan lidah), catatan
awal hubungan antar rahang dalam arah vertikal dan horizontal (termasuk
dukungan wajah sementara), dan perkiraan jarak interoklusal. Terletak
sejajar dengan garis puncak linggir yang telah digambar. Tinggi bite rim
sebesar panjang gigi ditambah dengan penyusutan jaringan alveolar yaitu
kira-kira 10-12 mm.
- Penetapan gigit
Pasien diminta duduk dengan posisi tegak, lalu Occlusal bite rim rahang atas
dimasukan ke dalam mulut pasien dan dilakukan penetapan gigit
Uji coba Occlusal bite rimRA dilakukan dengan pedoman sebagai berikut :
1) Adaptasi base plate gigi tiruan :
- Base plate gigi tiruan harus diam di tempat, tidak boleh mudah lepas
atau bergerak karena akan mengganggu pekerjaan tahap selanjutnya.
- Permukaan base plate gigi tiruan harus rapat dengan jaringan
pendukung.

34

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

- Tepi base plate gigi tiruan tidak boleh terlalu panjang dan pendek.
2) Dukungan bibir dan pipi :
- Pasien harus terlihat normal seakan-akan seperti bergigi. Penilaiannya
dilihat dari sulkus nasolabialis dan philtrum pasien tampak tidak
terlalu dalam atau alurnya hilang.
- Bibir dan pipi pasien tidak boleh tampak cekung atau cembung.
3) Tinggi bite rim
- Pedoman untuk bite rim rahang atas ialah low lip line, yaitu pada saat
pasien dalam keadaan rest position, garis insisal/bidang oklusal/bidang
orientasi bite rim rahang atas setinggi garis bawah bibir atas dilihat
dari muka, sedangkan apabila dilihat dari lateral sejajar dengan garis
tragus-alanasi.
- Apabila pasien tersenyum, garis insisal/bidang orientasi bite rim
rahang atas terlihat kira-kira 2 mm di bawah sudut bibir.
4) Bidang orientasi
Bidang orientasi didapat dengan mensejajarkan:
- Bagian anterior dengan garis antarpupil
- Bagian posterior dengan garis camper yang ditarik melalui tragus
(porion) hingga ala nasi.

Gambar 26.Hubungan antara garis interpupil mata, camper’s line dan bidang oklusal.

Setelah uji coba oclusal bite rim rahang atas selesai, kemudian dilanjutkan
dengan uji coba oclusal bite rim rahang bawah dengan pedoman:

35

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

1) Adaptasi landasan
Caranya sama dengan rahang atas, landasan harus diam ditempat, tidak
boleh mudah lepas/bergerak
Pada rahang bawah tidak dapat sebaik rahang atas karena luas landasan
yang lebih sempit dan gangguan gerakan lidah..
2) Bite rim rahang bawah
- Bidang orientasi bite rim rahang bawah harus merapat (tidak boleh ada
celah) dengan bidang orientasi bite rim rahang atas.
- Permukaan labial/bukalbite rim harus sebidang dengan yang atas. Bila
kelebihan harus dikurangi dan sebaliknya bila kekurangan harus
ditambah.
- Tarik garis median pada tanggul gigitan sesuai dengan garis median
pasien.

Pengukuran kesejajaran bidang orientasi dengan menggunakan fox bite


gauge. Pertama-tama cari bidang orientasi dengan mensejajarkan :
a) Bagian anterior dengan garis pupil.
b) Bagian posterior dengan garis camper yang berjalan dari ala nasi ke
tragus, caranya menarik benang katun yang telah dihubungkan ke
gelang karet pada kedua ujungnya. Lalu gelang karet tersebut dikaitkan
pada daun telinga kanan dan kiri (tragus) sedangkan benang katun
diposisikan pada sub nasal. Selanjutnya dibuat penyesuaian pada basis
gigi tiruan dan bite rim rahang atas sehingga diperoleh kesejajaran
terhadap bidang orientasi dengan menggunakan fox bite gauge.
Penyesuaian untuk bite rim rahang atas hanya dilakukan melalui
penambahan atau pengurangan biterim di bagian posterior.

36

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Gambar 27. Uji coba dan kesejajaran bite rim

11. Pengukuran dimensi vertikal.


Pada pasien yang telah kehilangan semua gigi, dimensi vertikalnya telah
hilang sehingga harus dilakukan pencarian kembali dengan rumus :

Dimensi vertikal = Physiological rest position – free way


space
Dimensi vertikal posisi istirahat
1) Ukur dimensi vertikaldenganbite rim rahang atas dan rahang bawah dalam
mulut.
2) Tentukan dua titik pada wajah pasien sejajar dengan median line,
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan jangka sorong dari titik
subnasion sampai titik gnation.
3) Pasien diinstruksikan untuk menghitung satu hingga sepuluh serta
mempertahankan posisi rahangnya pada hitungan ke sepuluh, pada saat
tersebut jarak kedua titik diukur.
4) Kemudian penderita disuruh mengucapkan beberapa kata yang berakhiran
‘S’ dan diukur kembali jarak kedua titik tersebut.
5) Seterusnya penderita disuruh menelan dan dalam keadaan rileks dilakukan
pengukuran ketiga.
6) Pasien harus mengambil physiological rest position saat bite rim
dimasukkan ke dalam mulut, tanpa mengganggu posisi istirahat bibir
pasien dibuka perlahan-lahan untuk melihat apakah ada ruang bebas antara
bite rim atas dan bawah, biasanya sebesar 2-4 mm.
7) Hasil pengukuran tersebut dikurangi dengan free way space (besar free
way space antara 2-4 mm) untuk memperoleh besar dimensi vertikal.

37

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

8) Bila relasi vertikal terlalu tinggi, maka ketinggian bite rim rahang bawah
harus dikurangi supaya tidak mengganggu estetik pasien, kecuali bila
memerlukan pengurangan yang banyak, barulah bite rim atas bisa
dikurangi.
9) Pengurangan bite rim rahang atas harus hati-hati jangan sampai kehilangan
kesejajaran bidang orientasi yang telah didapat.
10) Bila relasi vertikal terlalu rendah, maka dapat dilakukan penambahan bite
rim rahang bawah dengan menggunakan wax agar ketebalannya merata
dan tidak mengganggu kesejajaran bidang orientasi.
11) Jangan pernah menambah bite rim rahang atas, karena akan menambah
garis insisal yang telah ditentukan sebelumnya.

Gambar 28. Pedoman mengukur dimensi vertikal A=B=C

Gambar 29.Pengukuran Dimensi Vertikal


Pengukuran dimensi vertikal menggunakan two dot technique yaitu dengan
cara mengukur 2 titik (satu pada rahang atas, satu lagi pada rahang bawah),
yang ditempatkan pada daerah yang tidak bergerak yaitu di atas dan di bawah
garis bibir dan kedua titik diukur dengan jangka sorong.

38

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

12. Penentuan relasi sentrik.


Relasi sentrik dapat ditentukan melalui beberapa cara seperti :
- Pasien diinstruksikan untuk mengatur posisi tubuh tegak dan tidak
bersandar.
- Menginstruksikan pasien untuk menelan ludah kemudian mengatupkan
rahangnya. Sewaktu melakukan gerakan-gerakan penelanan ini pasien
diinstruksikan utnuk memajukan dan memundurkan rahangnya.
- Operator dapat membantu pasien dengan cara menekan perlahan-lahan
dagunya untuk menolong dan menjuruskan kepada kedudukan paling
belakang.
- Pasien dipersilahkan memajukan dan memundurkan rahangnya dan
menelan sendiri, selanjutnya pasien dipersilahkan menelan dengan
mempertahankan oklusal bite rim tetap berkontak.
- Pasien diinstruksikan menengadahkan posisi kepala pasien semaksimal
mungkin.
- Menempatkan ujung lidah pada garis tengah rahang landasan paling
posterior.
- Dua tanda digoreskan pada sisi oklusal rim dari rahang atas ke rahang
bawah untuk mencatat kedudukan ini.
- Penutupan rahang diulang beberapa kali untuk memastikan bahwa oklusal
bite rim berkontak untuk waktu yang sama setiap saat.
Tujuan penentuan relasi sentrik yaitu :
- Agar gigi posterior dapat mencapai hubungan atar tonjol yang tepat
sehingga penyimpangan dalam mulut dapat terdeteksi. Gigi dengan
kemiringan tonjol 30°dapat lebih efektif untuk memeriksa kecermatan
hubungan rahang dibandingkan dengan kemiringan tonjol 20°, tonjol
dengan kemiringan 30° dapat memperbesar kemungkinan adanya
kesalahan oklusi.
- Merupakan salah satu persyaratan fisiologis untuk kenyamanan serta
stabilitas dalam rongga mulut.

13. Memfiksir bite rim rahang atas dan rahang bawah.

39

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Setelah dimensi vertikal pasien didapat, pasien dilatih untuk melakukan


berbagai macam gerakan di atas untuk menentukan relasi sentriknya,
selanjutnya tarik garis-garis orietasi diantaranya :
1) High lip line, yaitu garis tertinggi bibir atas waktu pasien tersenyum, low
lip line dan median line.
2) Tandai bagian distal gigi kaninus atas kiri dan kanan (garis lacrimal duct –
ala nasi).
3) Fiksasi bite rim rahang atas dan rahang bawah dengan menggunakan
staples yang dipanaskan pada lampu spritus. Jika sulit, bagian anterior
difiksasi terlebih dahulu tanpa merusak tanda letak garis median line dan
posisi gigi kaninus.
4) Bite rim yang telah difiksasi dikeluarkan dari mulut pasien, kemudian
dipasangkan pada model kerja yang selanjutnya akan ditanam pada
artikulator.

Gambar 30. Ilustrasi fiksasi bite rim


14. Pemasangan model pada artikulator
Sebelum memasang model kerja dengan oklusal bite rim nya di dalam
artikulator, harus dipersiapkan jenis artikulator yang akan dipakai dan
dilakukan persiapan model yang meliputi penyesuaian ketinggian model atas
dan bawah dengan ruang antara bagian atas dan bawah artikulator. Bila terlalu
tinggi yang paling aman ialah mengurangi model bawah.
1) Artikulator sebelumnya dipasangkan karet gelang melingkar pada titik
tengah yang membagi artikulator secara vertikal. Selanjutnya, pasang
model kerja dan bite rim rahang atas pada artikulator dengan pedoman :
- Garis tengah working model dan bite rim atas berhimpit dengan garis
yang terbentuk oleh karet gelang dan garis tengah artikulator.
- Jarum horizontal insisal guide pin harus menyentuh tepi luar anterior
bite rim model RA dan tepat pada garis tengahbite rim.

40

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

2) Setelah pedoman tersebut terpenuhi upper member artikulator digerakan


ke atas dan adonan gips dituang pada bagian atas model kerja rahang atas,
kemudian upper member digerakkan ke bawah/menutup sampai menenkan
gips yang ada pada model kerja rahang atas.
3) Setelah mengeras kemudian artikulator dibalik. Oklusal bite rim rahang
bawah diletakkan kembali pada pada oklusal bite rim rahang atas sesuai
dengan oklusinya. Buat adonan gips kemudian lower member artikulator
diangkat ke atas dan adonan gips dituang pada model kerja rahang bawah,
kemudian lower member digerakkan ke bawah/menutup sampai menekan
adonan gips.
4) Artikulator dibalik dan gips dirapikan.

Gambar 31. Ilustrasi penananm model kerja pada artikulator


15. Penentuan bentuk, warna, dan ukuran gigi tiruan.
- Pemilihan elemen gigi berpedoman pada bentuk wajah, jenis kelamin dan
umur pasien untuk menentukan warnanya dan tingkat kehausannya.
- Ukuran elemen gigi disesuaikan dengan garis orientasi pada bite rim.
- Bentuk elemen yang dipilih yaitu persegi dan sudut distalnya membulat
karena pasien berjenis kelamin perempuan.
- Warna elemen yang dipilih yaitu A-3.5 warna gigi dipilih yang agak
kekuningan karena makin lanjut umur pasien, biasanya warna gigi makin
tua dan gigi makin aus.
- Bahan yang digunakan pada kasus ini adalah elemen gigi berbahan akrilik.

1.

1) Bentuk wajah
- Bentuk gigi sesuai dengan bentuk muka dan bentuk rahang yaitu persegi,

41

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

lancip, dan lonjong dilihat drai pandangan fasial


- Terdapat tiga profil wajah yaitu datar, cembung dan cekung yang sesuai
dengan bentuk kontur gigi pandangan proksimal

Gambar 32. Wajah dilihat dari smaping

Gambar 33. Bentuk muka, gigi dan rahang


2) Jenis kelamin
Pria mempunyai permukaan labial yang datar sedangkan wanita
mempunyai permukaan labial yang cembung

Gambar 34. Permukaan labial gigi anterior dengan permukaan


cembung dan datar

3) Bentuk gigi
- Pria bentuk giginya persegi dan sudut distalnya juga persegi sedangkan
wanita bentuk giginya lonjong dan sudutnya distalnya mebulat.

42

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

- Pria ukuran gigi insisivus lateralnya lebih kecil dari sentral, sedangkan
wanita gigi insisivusnya lateralnya jauh lebih kecil dari yang central.

Gambar 35. Perbedaan bentuk gigi (A) pria dan (B) wanita
Ukuran elemen gigi bervariasi sesuai dengan garis orientasi :
1) Elemen gigi anterior
- Garis senyum – garis orientasi insisal untuk panjang elemen gigi yaitu
samadengan ⅔ panjang elemen gigi insisivus sentral atas.
- Jarak distal kaninus kiri kanan = jumlah lebar keenam elemen gigi
anterior atas.
- Garis ala nasi berhimpit dengan poros elemen gigi kaninus atas.

Gambar 36. Jarak distal C-Cs (kiri) dan garis ala nasi melalui porus C (kanan)
2) Elemen posterior
- Panjang elemen gigi posterior disesuaikan dengan jarak antar linggir
rahang.
- Gigi yang akan diganti maksimal sampai molar kedua, diukur dari
distal kaninus sampai batas lereng linggir di posterior.
- Lebar buko – lingual/palatal disesuaikan dengan lebar mesio –
distalnya sehingga bentuknya sebanding.

43

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

16. Penyusunan Gigi


Penyusunan elemen gigi dilakukan secara bertahap yaitu mulai pada bagian
anterior atas, anterior bawah, posterior atas, molar pertama bawah dan sisa
posterior lainnya. Penyusunan gigi harus memperhatikan curve of spee ke arah
anterior – posterior, curve of Wilson ke arah lateral kiri dan kanan serta
kesejajaran terhadap bidang orientasi.

Gambar 37. (A) curve of spee dan (B) curveof wilson

Syarat utama penyusunan gigi:


 Setiap gigi mempunyai 2 macam kecondongan/inklinasi:
- Inklinasi mesio-distal
- Inklinasi anterio-posterior atau inklinasi labio/bukopalatal/lingual
sesuai dengan kecondongan tanggul gigitan.
 Dilihat dari oklusal berada diatas linggir rahang.
Penyusunan gigi harus disesuaikan dengan keadaan linggir, pada
pasien yang sudah lama kehilangan gigi sering sudah terjadi resorbsi
linggir.

Gambar 38.Perbandingan dari 3 macam posisi gigi anterior atas serta pengaruhnya:
A-A’ = Susunan benar, estetik baik
B-B’ = Susunan sedikit ke palatal, estetik kurang baik
C-C’ = Susunan salah, estetik jelek

44

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

 Setiap gigi anterior atas yang akan disusun, pada permukaan labialnya
dibuat garis poros.

Gambar 39. (atas) poros gigi/Long axis (inklinasi mesio-distal)


Dan (bawah) inklinasi labio-palatal rahang atas dan bawah

 Bite rim dipotong bertahap agar tidak kehilangan jejak pada lebar
mesio-distal dan kedalaman antero-posterior gigi yang akan disusun
 Centric occlusion ialah hubungan permukaan oklusal gigi geligi atas
dan bawah, yang menunjukkan kontak maksimal bila mandibular
berada dalam keadaan sentrik/menutup terhadap maksila.
 Working occlusion ialah kontak oklusal dari gigi geligi atas dan bawah
pada sisi kearah mana mandibular bergerak waktu berfungsi
 Balancing occlusion ialah kontak antara gigi geligi atas dan bawah
pada sisi yang berlawanan dengan working occlusion

A. Gigi anterior atas


a. Incisivus centralis superior
1. Tampak labial
Inklinasi mesiodistal
- Long axisnya membentuk sudut 85° dengan bidang oklusal.
- Sumbu gigi hampir sejajar atau miring sedikit membentuk sudut 5°
dengan median line
- Insisal edge menenpel bite rim bawah
- Tepi insisal sedikit masuk ke palatal untuk meberi dukungan pada
bibir serta dilihat dari bidang oklusal tepi insisal terletak di atas
lingir rahang.

45

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

2. Tampak proksimal
Inklinasi labiopalatal
- Bagian 1/3 permukaan labial agak tampak depresi
- Insisal edge terletak pada bite-rim bawah

Gambar 40. (kiri) inklinasi mesiodistal dan (kanan) inklinasi anteroposterior


gigi I-1 atas

b. Incisivus lateralis superior


1. Tampak labial
Inklinasi mesiodistal
Sumbu gigi membentuk sudut lebih besar daripada incisivus centralis
superior
- Long axisnya membentuk sudut 80°
- Insisal edge menggantung dan berjarak 1 mm dari bite rim bawah
- Bagian mesio-insisal berkontak dengan facies distalis incisivum
central superior
2. Tampak insisal
- Facies labialis agak ke palatal dan mengikuti lengkung bite rim
rahang atas
3. Tampak proksimal
- Bagian servikal condong lebih ke palatal

Gambar 41. (kiri) inklinasi mesio distal dan (kanan) inklinasi antero-posterior
gigi I-2 atas.

46

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

c. Caninus superior
1. Tampak labial
Inklinasi mesiodistal
- Sumbu gigi sedikit miring atau hampir sejajar dengan median line,
- Puncak cups menyentuh bidang oklusi
- Sisi mesio-insisal berkontak dengan sisi disto-insisal insisivum
lateralis superior.
2. Tampak proksimal
Inklinasi labio-palatal
- Bagian 1/3 labio-servikal lebih prominent dan ujung cups lebih ke
palatal dan menyentuh bidang orientasi.
3. Tampak insisal
- Permuakaan labial sesuai dengan lengkung bite rim rahang bawah

Gambar 42. (kiri) inklinasi mesio distal dan (kanan) inklinasi antero-posterior
gigi caninusatas.

B. Gigi anterior bawah


a. Incisivus centralis inferior
1. Centric occlusion
- Tampak labial
Sumbu gigi tegak lurus terhadap bidang insisal
- Tampak proksimal
Bagian servikal permukaan labial sedikit depresi

47

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

2. Protrusive relation
Insisal edge insisivum centralis superior kanan dan kiri berkontak
dengan insisal edge insisivus centralis inferior kanan dan kiri.

Gambar 43. (kiri) inklinasi mesiodistal dan (kanan) inklinasi anteroposterior gigi I-1
Bawah

b. Incisivus lateralis inferior


1. Centric occlusion
- Tampak labial
Sumbu gigi sedikit miring ke mesial
- Tampak proksimal
Permukaan labial tegak lurus bidang insisal

Gambar 44. (kiri) inklinasi mesiodistal dan (kanan) inklinasi anteroposterior gigi I-2
bawah

c. caninus inferior
1. Centric occlusion
- Tampak labial
Sumbu gigi miring ke mesial
- Tampak proksimal
1) Bagian servikal permukaan labial lebih prominent
2) Ujung cusp berada diantara gigi-gigi caninus superior dan
incisivus lateralis superior
2. Protrusive relation
- Facies insisal atas dan bawah menunjukan hubungan edge to edge

48

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

- Insisal edge lateralis superior kanan dan kiri berkontak dengan


sisimesial gigi-gigi caninus inferior.

Gambar 45. (kiri) inklinasi mesiodistal dan (kanan) inklinasi anteroposterior gigi I-2
bawah
3. Working occlusion
Distal labial slope caninus inferior kanan dan kiri berkontak
dengan mesio palatal slope caninus superior kanan dan kiri.

Gambar 46. Inklinasi mesiodistal gigi anterior bawah

C. Gigi posterior superior


Disesuaikan dengan antero-posterior curve yang terdiri dari:
1. Bidang horizontal, tempat disusunnya gigi-gigi premolar superior
pertama dan premolar superior kedua
2. Oblique plane, tempat disusunnya gigi-gigi molar superior pertama
dan molar superior kedua.
3. Lateral curve yang terdiri dari:
- Bidang yang terbentuk dari garis singgung pada oklusal bite rim,
dimana permukaan bukal gigi premolar ditempatkan
- Bidang dengan sudut penyimpangan 6° dari bite rim kearah palatal,
dimana terletak permukaan bukal gigi-gigi molar

49

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Gambar 47. Kurva anteroposterior (a) bidang datar horizontal (b) bidang oblique

Gambar 48. Kurva lateral


a. Premolar superior pertama
1. Inklinasi mesiodistal : sumbu gigi tegak lurus bite rim
2. Inklinasi bukopalatal :
- Sumbu gigi tegak bidang oklusal
- Tonjol bukal menyentuh bidang oklusal dan tonjol palatina
menggantung.

Gambar 49. (kiri) inklinasi mesiodistal dan (kanan) inklinasi anteroposterior gigi
P-1 atas

b. Premolar superior kedua


1. Inklinasi mesiodistal : sumbu gigi tegak lurus bidang oklusal
2. Inklinasi bukopalatina :
- Sumbu gigi tegak lurus bidang oklusal
- Kedua tonjol menyentuh bidang oklusal

50

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Gambar 50. (kiri) inklinasi mesiodistal dan (kanan) inklinasi anteroposterior gigi P-2
atas

c. Molar superior pertama


1. Inklinasi mesiodistal : sumbu gigi miring kea rah mesial
2. Inklinasi bukopalatal :
- Tonjol mesio palatina menyentuh bidang oklusal
- Tonjol mesio bukal dan tonjol disto bukal dinaikkan 0,5 mm
dari bidang oklusal
- Tonjol disto palatina dinaikkan 0,8-0,75 dari bidang oklusal.

Gambar 51. (kiri) inklinasi mesiodistal dan (kanan) inklinasi anteroposterior gigi M-1
atas

d. Molar superior kedua


1. Inklinasi mesiodistal :
Sumbu gigi lebih miring daripada molar superior pertama
2. Inklinasi buko palatal :
- Tonjol mesio bukal dan mesio palatinal lebih menggantung ± 1
mm daripada tonjol mesio bukal dan tonjol mesio palatina gigi
molar superior pertama.
- Tonjol disto bukal lebih menggantung daripada tonjol disto
bukal gigi molar superior pertama
- Tonjol disto palatinal lebih menggantung daripada gigi molar
superior pertama disamping ketentuan-ketentuan diatas, untuk

51

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

pemasangan gigi-gigi posterior rahang atas juga harus


memenuhi adanya antero-posterior curve dan lateral curve.

Gambar 52. (kiri) Inklinasi mesiodistal dan (kanan) inklinasi anteroposterior gigi M-2
atas

D. Gigi posterior inferior


a. Molar inferior pertama
Molar pertamainferior adalah gigi pertama yang dipasangkan pada
tahap penyusunan gigi posterior rahang bawah dan merupakan kunci
oklusi. Pada pemasangan yang benar akan memudahkan pemasangan
gigi-gigi posterior berikutnya.
Pada posisi normal pemasangan molar inferior pertama sesuai
kelas 1 angle yaitu apabila mandibular dengan lengkung giginya dalam
hubungan mesio-distal yang normal terhadap maksila.
Panduan pemasangan:
1. Centric occlusion
- Inklinasi mesiodistal :
Tonjol mesio bukal molar superior pertama berada di mesio
bukal groove molar inferior pertama.
- Inklinasi mesio lingual :
Tonjol mesio palatina molar superior pertama berada di fossa
central molar inferior pertama.
Kemudian dilakukan cek dengan menggerakan lengan artikulator atas
ke kanan dan ke kiri. Pada gerakan lengan artikulator ke kanan maka
terjadi
2. Working occlusion :
Tonjol mesio distal molar pertama inferior kanan berkontak antara
tonjol bukal premolar superior kedua kanan dan tonjol mesio bukal

52

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

molar superior pertama kanan.


3. Balancing contact :
Tonjol mesio bukal dan disto bukal molar inferior pertama kiri
berkontak dengan tonjol palatina premolar superior kedua kiri dan
tonjol mesio palatina molar superior pertama kiri.

Gambar 53. (A) inklinasi mesiodistal dan (B) cusp mesiobukal M-1 atas
berasada pada mesiobukal developmental groove M-1 bawah

b. Premolar inferior kedua


1. Centric occlusion
Inklinasi mesiodistal :
1. Tonjol bukal premolar inferior kedua terletak diantara premolar
superior kedua dan premolar superior pertama dengan ujung
tonjolnya berkontak dengan marginal ridge premolar superior
kedua dan premolar superior pertama.
2. Tonjol lingual premolar inferior kedua terletak diantara tonjol
palatina premolar superior kedua dan premolar superior
pertama.
3. Mesio lingual ridge dari premolar inferior kedua
condong/menarik slope distal tonjol lingual dari premolar
superior pertama.
2. Working occlusion
1. Slope tonjol disto bukal premolar inferior kedua berkontak
dengan slope tonjol mesio bukal premolar superior kedua.
2.Slope tonjol mesio bukal premolar inferior kedua berkontak

53

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

dengan slope tonjol disto bukal premolar superior pertama.


3. Tonjol lingual premolar inferior kedua berkontak dengan area
distolingual premolar superior pertama dan area mesio lingual
premolar superior.
3. Balancing occlusion
Slope mesial pada tonjol bukal premolar inferior kedua berkontak
dengan slope distal pada tonjol lingual premolar superior pertama.

Gambar 54. (kiri) inklinasi mesiodistal dan (kanan) inklinasi anteroposterior gigi
P-2 bawah

c. Premolar inferior pertama


1. Centric occlusion :
Tonjol bukal premolar inferior pertama terletak diantara tonjol
bukal premolar superior kedua dan caninus superior, dengan ujung
tonjolnya berkontak dengan marginal ridge premolar superior
kedua dan caninus superior.
2. Working occlusion :
Tampak bukal
Slope disto bukal premolar inferior pertama berkontak dengan
slope mesio bukal premolar superior kedua dan slope mesio bukal
premolar inferior pertama berkontak dengan slope disto bukal
caninus superior.
Tampak lingual
Slope disto lingual premolar inferior pertama berkontak dengan
slope mesio palatine premolar superior pertama.

54

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

3. Balancing contact
Tidak terlihat adanya kontak dengan gigi atasnya.

Gambar 55. (kiri) inklinasi mesiodistal dan (kanan) inklinasi anteroposterior gigi
P-2 bawah

d. Molar inferior kedua


1. Centric occlusion
- Garis inklinasi mesio bukal molar inferior kedua kontak dengan
garis tepi pada tonjol disto bukal molar superior pertama.
- Posisi dari tonjol palatine molar inferior kedua berkontak dengan
fossa central molar superior kedua.
2. Working occlusion
Tonjol molar inferior kedua berkontak dengan tonjol mesio bukal
molar superior pertama dan tonjol-tonjol molar superior kedua.
3. Balancing contact
- Tonjol mesio bukal molar inferior kedua berkontak dengan tonjol
disto palatina molar superior pertama.
- Tonjol disto bukal molar inferior kedua berkontak dengan tonjol
mesio palatina molar superior kedua.

Gambar 56. (kiri) inklinasi mesiodistal dan (kanan) inklinasi anteroposterior gigi
M-2 bawah

55

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

Jika penyusunan gigi-gigi telah selesai, selanjutnya dilakukan kontrol berupa :


- Lengan atas artikulator digerakkan kearah lateral harus ada working
occlusion yang diikuti terjadinya balancing contact pada sisi lainnya.
- Lengan atas artikulator digerakkan ke posterior, untuk melihat ada atau
tidaknya open bite.
- Pada setiap gerakan dari lengan artikulator, vertikal pin tidak boleh
terangkat.

17. Try In Gigi Tiruan Malam Pada Pasien


1. Gigi-gigi anterior
Try in gigi anterior dimulai dengan pemeriksaan susunan gigi anterior
terlebih dahulu dengan melihat kesesuaian susunan gigi, bentuk gigi,
ukuran gigi dan posisi gigi pada model dengan keadaan dalam mulut
pasien dan oklusi dalam mulut pasien jangan sampai ada yang terlihat
“open”. Kemudian periksa ketepatan garis median, posisi distal, stabilitas,
retensi, serta fonetik dengan meminta pasien mengucapkan huruf “f” atau
“s”. Adapun hal lain yang perlu diperhatikan ialah dimensi vertikal harus
tetap sama dengan pengukuran segi bagian posterior.belumnya. Selain itu,
sayap dari malam harus tepat dan sudah melekat ke mukosa. Setelah itu
dilakukan penyusunan gigi posterior.

Gambar 57. Ilustrasi tray ini gigi anterior


2. Gigi-gigi posterior
Hal – hal yang harus diperhatikan ketika melakukan try in posterior yaitu :
- Cek garis median.
- Lihat tepi sayap dari malam, apakah sudah tepat dan sudah melekat ke

56

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

mukosa (peripheral seal).


- Cek oklusi gigi anterior – posterior.
- Minta pasien untuk coba mengunyah dan bicara.
- Cek apakah dimensi vertikal pasien berubah.
- Pemeriksaan fonetik dengan cara menginstruksikan pasien mengucapkan
huruf S, D, O, M, R, A dan T dan lainnya sebagainya dengan jelas dan
tidak ada gangguan.
Setelah try in gigi tiruan malam pada pasien, kedua gigi tiruan rahang atas
dan bawah ditempatkan kembali pada working model di artikulator.

Gambar 58. Ilustrasi try in gigi posterior

18. Wax Contouring, Flasking, Packing, Curing, Deflasking.


Wax contouring ialah memberi bentuk basis dari gigi-gigi tiruan sedemikian
rupa, sehingga dapat menyerupai bentuk anatomis dari gingiva dan jaringan
lunak yang asli.
Cara wax contouring:
1. Fiksir pinggiran landasan gigi tiruan dengan malam pada model kerja.
2. Ambil lembaran malam secukupnya untuk bagian labial dan bukal serta
palatine rahang atas begitu juga rahang bawah, kemudian dilunakkan di
atas api spiritus.
3. Letakkan sampai sekitar serviks gigi tiruan.
4. Malam dipotong disekitar servik gigi dengan mebentuk sudut 45°
memakai lecron/pisau malam.
5. Malam dibentuk sesuai dengan bentuk gingiva dan bentuk jaringan di
sekitar gigi tiruan (perhatikna cekung /cembungnya).

57

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

6. Pada waktu mengukir tonjolan-tonjolan akar, perlu diperhatikan bahwa


gigi kaninus superior adalah yang terpanjang dan gigi insisivus lateralis
superior adalah yang terpendek.Tonjol-tonjol akar diukir dengan bentuk
huruf V.
7. Daerah interproksimal harus sedikit cembung meniru daerah-daerah
interdental papilla sehingga higienis serta mencegah pengendapan sisa-
sisa makan dan plak.
8. Bentuk rugae pada langit-langit dan postdam pada model kerja.
9. Haluskan semua permukaan luar gigi tiruan malam dengan melewatkan
nya diatas api Bunsen lalu digosok dengan kain sutra hingga mengkilat.

Gambar 59. Ilustrasi pembentukan kontur permukaan luar gigi tiruan (wax contouring)

Setelah proses wax contouring, model ditunjukkan kepada instruktur dan


selanjutnya dilakukan proses laboratorium berupa:
- Flasking
Proses penanaman model dan trial denture malam dalam suatu flask/ cuvet
untuk membuat sectional mold.
- Packing
Proses mencapur monomer dan polimer resin akrilik
- Curing
proses polimerisasi antara monomer yang bereaksi dengan polimerisasinya
bila dipanaskan atau ditambah zat kimia lainnya.

58

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

- Deflasking
Proses melepaskan gigi tiruan resin akrilik dari flask dan bahan tanamnya,
tetapi tidak boleh lepas dari model rahangnya agar gigi tiruan dapat
diremounting di articulator kembali.

19. Insersi
Sebelum insersi gigi tiruan, operator harus memeriksa apakah gigi tiruan
benar-benar telah dibuat dengan baik oleh tekniker, dengan memperhatikan
hal – hal sebagai berikut :
- Permukaan dalam tidak boleh memperlihatkan bentuk yang tidak teratur
(kasar) yang tidak terdapat dalam mulut.
- Memeriksa seluruh bagian perifer dan menguranginya jika ada kelebihan.

Gambar 60.ilustrasigigi tiruan yang siap diinsersi ke mulut pasien

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat insersi gigi tiruan ke dalam mulut
pasien, yaitu:
- Retensi
- Saat GTP dicoba pada pasien, dilihat apakah GTP sudah memiliki retensi
yang cukup dengan memperhatikan adaptasi tepi-tepi GTP terhadap
jaringan mulut. Jika terdapat daerah yang sakit saat GTP dimasukkan
dalam mulut (belum boleh dioklusikan) buat PIP (pressure indicator
paste) untuk mengetahui letak rasa sakit. PIP dibuat dengan
mencampurkan fletcher dan minyak zaitun sampai terbentuk pasta,
aplikasikan dengan kuas kecil ke permukaan cetakan (bagian dalam gigi
tiruan), masukkan ke dalam mulut dan keluarkan (tidak boleh beroklusi)

59

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

dan harus per rahang), daerah yang sakit dan menekan akanterlihat dengan
hilangnya pasta di daerah tersebut. Ambil daerah tersebut atau bebaskan
dari penekanan dengan mengurangi basis menggunakan fresher stone.
Pemeriksaan oklusi, artikulasi, dan stabilitas.
- Pemeriksaan ini menyangkut aspek oklusi pada posisi sentrik, lateral dan
antero-posterior dengan menggunakan articulating paper yang diletakkan
antara gigi atas dan bawah, kemudian pasien diminta untuk melakukan
gerakan pengunyahan 3 – 4 kali. Titik – titik dimana terjadi kontak oklusal
pada permukaan gigi dapat dilihat setelah articulating paper diangkat.
Pada keadaan normal, kontak ini tersebar merata di antara semua gigi asli
maupun gigi tiruan.
- Stabilitas gigi tiruan diperiksa dengan cara menekan bagian depan dan
belakang gigi tiruan secara bergantian. Gigi tiruan tidak boleh
menunjukkan pergerakan pada saat tes ini dilakukan.
Pemeriksaan estetik dan fonetik.
- Operator mengajarkan cara memasang dan melepaskan alat pada pasien
yang dilakukan di depan kaca sehingga pasien dapat melihatnya, kemudian
pasien diminta untuk mencoba memasang dan melepaskan alat sendiri
tanpa bantuan operator.
Instruksi yang diberikan pada pasien :
- Gigi tiruan dipakai secara terus – menerus untuk proses adaptasi.
- Menjaga kebersihan gigi tiruan dan rongga mulut.
- Pada saat tidur malam, gigi tiruan dilepas dan direndam dalam wadah
tertutup yang berisi air dingin yang bersih.
- Hindari mengunyah makanan yang keras dan lengket.
- Pasien diminta untuk kembali kontrol satu minggu setelah insersi gigi
tiruan.
20. Tahap Kontrol
1) Kontrol pertama akan dilakukan pada minggu pertama sesudah insersi alat
untuk melihat adaptasi pasien. Selanjutnya dilakukan kontrol kedua pada
minggu kedua untuk melihat kondisi dari gigi tiruan dan jaringan lunak
pasien.

60

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062


Dental Side Teaching | Gigi Tiruan Penuh

2) Pada saat pasien datang untuk melakukan kontrol, operator melakukan


pemeriksaan keutuhan dari plat gigi tiruan serta kondisi jaringan lunak
pasien terutama keadaan jaringan lunak dibawah gigi tiruan, memeriksa
gigi tiruan apakah masih retentif atau tidak, melihat stabilitas alat pada
saat dipakai untuk mengunyah makanan, mengecek oklusi pasien serta
melihat fungsi fonetik apakah bermasalah atau tidak.
3) Pasien diinstruksikan untuk menjaga kebersihan mulut dan plat gigi
tiruannya. Operator juga melakukan tindakan profilaksis antara lain
pembersihan debris pada gigi tiruan jika ada.

61

Trisia Ni Nyoman Ayu Manik | 14014103062