Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat seseorang memasuki usia remaja terjadi berbagai perubahan fisik maupun mental.
Pada remaja putri khususnya ditandai dengan dimulainya siklus menstruasi. Pada masa ini
mereka seharusnya mendapat informasi yang akurat tentang menstruasi. Informasi tersebut
misalnnya proses terjadinya menstruasi, gangguan menstruasi yang mungkin terjadi, mitos
atau kebiasaan yang ada di masyarakat yang berkaitan dengan menstruasi dan sebagainya.
Informasi ini dapat diberikan oleh tenaga kesehatan, guru ataupun konselor (Nelwati, 2013)
Menstruasi sebenarnya merupakan gejala biologis yang dialami progresif, dan positif
sebagai tanda biologis kematangan seksuai. Sehingga peristiwa itu sebaiknya diterima dengan
sikap wajar. Namun bila peristiwa menstruasi menimbulkan kejut (scok) yang sangat hebat
disertai dengan iritasi (rangsangan yang menggagu), biasanya akan merasa sakit, disertai
dengan mual-mual, cepat lelah, dan berbagai emosi depresif (Proverawati dan Siti, 2009)
Para remaja putri pada masa awal menstruasi sering mengalami haid datang tidak
teratur tiap bulannya. Haid yang datang tidak teratur disebut juga oligomenore. Oligomenore
adalah kondisi wanita yang sebelumnya haid teratur sebelum mengalami masalah haid yang
datang tidak teratur. Oligomenorea merupakan suatu keadaan dimana siklus menstruasi
memanjang lebih dari 35 hari, sedangkan jumlah perdarahan tetap sama. Wanita yang
mengalami oligomenorea akan mengalami menstruasi yang lebih jarang daripada biasanya,
sehingga akan mengalami haid 4-9 kali dalam setahun. Namun, jika berhentinya siklus
menstruasi ini berlangsung selama lebih dari 3 bulan, maka kondisi tersebut dikenal sebagai
amenorea sekunder.
Menurut Riskesdas tahun 2012 presentasi gangguan reproduksi sebanyak (10%)
mengalami haid tidak teratur. Dalam penelitian Pradyptasari (2012) yang mengalami
polimenorhea adalah (6,8%), oligomenorhea adalah (8,4%), menoragia adalah (2,5%) dan
hipomenorhea adalah (12,4%).
Ganguan haid dan siklusnya dalam masa reproduksi dapat digolongkan dalam kelainan
banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada haid (hipermenorea, menoragia dan
hipomenorea), kelainan siklus (polimenorea, oligomenorea, anemone), perdarahan di luar haid
metroragia, gangguan lain yang ada hubungan dengan haid (Proverawati dan Siti, 2009).

1
Oligomenorea merupakan suatu keadaan dimana siklus menstruasi memanjang lebih
dari 35 hari, sedangkan jumlah pendarahan tetap sama. Wanita yang mengalami oligomenorea
akan megalami menstruasi yang lebih jarang dari biasanya.
Menurut WHO (2008) pravalensi oligomenorea pada wanita sekitar 45%. Penelitian
Bieniasz J et al, dalam sianipar et al (2011) mendapatkan prevalensi gangguan menstruasi di
dunia ditaksirkan amenorea primer sebnayak 5,3%, amenorea sekunder 18,4%, oligomenorea
50%, polimenorea 10,5%, dan gangguan campuran sebanyak 15,8%. Kelainan siklus
menstruasi oligomenorea di Indonesia menyerang 16,7% remaja menurut Penelitaian Siegberg
(Siegberg, 2014)
Menurut Wolfenden (2010), dalam Putri (2011: 7) siklus mentruasi yang tidak teratur
seperti oligomenore dapat disebabkan karena beberapa faktor seperti Stres, beban pikiran atau
stress sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh, termasuk periode menstruasi.Stress tahap I
merupakan tahapan stress yang paling ringan,stress tahap II timbul keluhan-keluhan,stress
tahap III keluhan semakin nyata,stress tahap IV untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa
amat sulit,stress tahap V kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam,stress tahapan VI
tahapan klimaks seseorang mengalami serangan panik. Kondisi pikiran yang tidak stabil dapat
menyebabkan kelenjar adrenal mengeluarkan kortisol. Hal ini berefek pada estrogen,
progesteron dan menurunkan produksi Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) sehingga
menghambat terjadinya ovulasi atau menstruasi.
Penelitian Isnaeni (2010) yang dilakukan terhadap 89 responden di SMK Paku,
didapatkan bahwa sebagian besar responden (64,9%) memiliki Siklus menstruasi yang normal
dan sebanyak 35,1% mengalami siklus menstruasi Terganggu yaitu polimenore 23,1%,
oligomenore 69,2% dan amenore 7,7%.
B. Tujuan Penyuluhan
Untuk memberikan gambaran pengetahuan kepada remaja putri tentang menstruasi
oligomenorea di SMA Negeri 3 Luwu Utara.
C. Manfaat Penyuluhan
Remaja putri mengetahui tanda dan gejala, penyebab serta penanganan gangguan menstruasi
yang di sebut oligomenorea.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Tinjauan Umum Tentang Remaja
1) Pengertian Remaja
Remaja atau adolescence (Inggris), berasal dari bahasa latin Adolescere yang
berarti tumbuh kearah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan hanya
kematangan fisik, tetapi juga kematangan sosial dan psikologis. Masa remaja adalah
masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis, masa remaja
3
yakni antara usia 10 sampai 19 tahun, adalah suatu periode masa pematangan organ
reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja adalah periode
peralihan dari masa anak ke - masa dewasa. Pada masa remaja tersebut terjadilah suatu
perubahan organ-organ fisik (Organobiologik) secara cepat, dan perubahan tersebut
tidak seimbang dengan perubahan kewajiban (mental emosional).
Terjadinya perubahan besar ini umumnya membingungkan remaja yang
mengalaminya. Dalam hal inilah bagi para ahli dalam bidang ini, memandang perlu
akan adanya pengertian, bimbingan dan dukungan dari lingkungan sekitarnya, agar
dalam system perubahan tersebut terjadi perubahan tersebut terjadi pertumbuhan dan
perkembangan yang sehat sedemikian rupa sehingga kelak remaja tersebut menjadi
manusia dewasa yang sehat secara jasmani, rohani, dan sosial.
Terjadinya kematangan seksual atau alat – alat reproduksi yang berkaitan
dengan system reproduksi, merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan remaja
sehingga diperlukan perhatian khusus, karena bila timbul dorongan –dorongan seksual
yang tidak sehat akan menimbulkan perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab.
Inilah sebabnya maka para ahli dalam bidang ini berpendapat bahwa kesetaraan
perlakuan terhadap remaja pria dan wanita diperlakukan dan mengatasi masalah
kesehatan reproduksi remaja, agar dapat tertangani secara tuntas. (Widiyastuti, 2012 )
2) Tahapan masa Remaja
a. Masa pra remaja
Masa pra remaja adalah suatu tahap untuk memasuki tahap remaja yang
sesungguhnya. Pada masa ini ada beberapa indikator yang telah dapat ditentukan
untuk menentukan indentitas gender laki-laki atau perempuan. Ciri perkembangan
seksual pada masa ini antara lain ialah perkembangan fisik yang masih tidak banyak
berbeda dengan sebelumnya. Pada masa ini juga mereka sudah mulai senang
mencari tahu informasi tentang seks dan mitos seks baik dari teman sekolah,
keluarga atau dari sumber lainnya. (Soetjiningsih, 2011)
Menurut Hurlock, pada masa pra remaja terjadi gejala-gejala sebagai
berikut:
1) Masa itu ingin menyadari atau mengisolasi diri.
2) Mengalami kurang untuk bekerja maksudnya malas melakukan sesuatu terutama

4
dalam bekerja atau belajar.
3) Koordinasi fungsi-fungsi tubuh berkurang sehingga canggung atau kurang luas.
4) Mengalami kejenuhan atau kebosanan dalam melakukan sesuatu atau tugas.
5) Mengalami kegelisahan atau tidak tenang.
6) Mengalami pertentangan terhadap sosial atau masyarakat.
7) Menentang terhadap kewibawaan orang tua dewasa lain.
8) Mengalami kepekaan emosi
9) Mengalami kurang percaya diri.
10) Mulai timbul tertarik atau berminat terhadap lawan jenis.
11) Timbul kepekaan perasaan susila atau santun.
12) Mengalami sering berkhayal atau berfantasi dan melamun. (Rumini dan Sundari.
2013)
b. Masa remaja awal
Merupakan tahap awal remaja sudah mulai tampak ada perubahan fisik
yaitu fisik sudah mulai matang dan berkembang, remaja sudah mulai mencoba
melakukan onani karena sering kali terangsang secara sekual akibat penatangan
yang di alami.
Rangsangan ini di akibatkan oleh faktor internal yaitu meningkatnya kadar
testosteron pada laki-laki dan estrogen pada perempuan. Hampir sebagian besar
dari laki-laki pada periode ini tidak bisa menahan untuk tidak melakukan onani,
sebab pada masa ini sering kali mengalami fantasi. Selain itu tidak jarang dari
mereka yang memilih untuk melakukan aktifitas non fisik untuk melakukan fantasi
atau menyalurkan perasaan cinta dengan teman lawan jenisnya yaitu dengan bentuk
hubungan telepon, surat-menyurat, atau menggunakan sarana komputer.
(Soetjiningsih, 2011)
Masa remaja awal dimulai ketika umur seorang anak telah genap 12-13
tahun dan berakhir pada umur 17-18 tahun. Gejala-gejala yang disebut gejala fase
negatif biasa terjadi pada perubahan akhir periode pubertas atau perubahan awal
masa remaja awal. Oleh karena itu, periode pubertas sering disebut sebagai fase
negatif, selain itu masa remaja awal juga memiliki ciri khas yang tidak dimiliki
masa-masa yang lain. Diantaranya adalah berikut ini:

5
i. Tidak stabil emosi
Perasaan masa ini sangatlah peka, yaitu perasaan dan emosinya laksana hembusan
badai dan topan dalam kehidupan.
ii. Lebih menonjolnya sikap dan moral
Matangnya organ-organ seks mendorong remaja untuk mendekati lawan seksnya
sehingga terkadang berperilaku berlebihan yang yang di nilai tidak sopan oleh
masyarakat.
b. Mulai sempurnanya kemampuan mental dan kecerdasan Pada remaja awal,
kemampuan mental atau kemampuan berfikirnya mulai sempurna. Gejala ini terjadi
pada usia antara 12-16 tahun.
c. Membingungkannya status
Hal ini tidak sulit di tentukan, tetapi membingunkan status remaja awal, sehingga
orang dewasa sering memperlakukannya semena-mena, karena masih merasa
bertanggung jawab dengan alasan mereka masih kanak-kanak.
d. Masa yang kritis
Kebimbangan remaja dalam menghadapi dan memecahkan atau menghindari suatu
masalah menjadi indikasi kritisnya masa nini. Seheinfield berpendapat tentang
berbagai perubahan interaksi antara remaja laki-laki dan perempuan sepanjang
periode pubertas dan masa remaja awal. (Al-Mighwar. 2006)
c. Masa remaja menengah
Pada masa ini para remaja sudah mengalami pematangan fisik secara penuh
yaitu anak laki-laki sudah mengalami mimpi basah sedangkan anak perempuan
sudah mengalami menstruasi. Menurut skema Erikson, krisis psikososial pada masa
remaja sebelumnya adalah pada masalah identitas, sedangkan pada masa remaja
lanjut adalah pada kebutuhan untuk mengembangkan kapasitas keintiman.
(Soetjiningsih. 2011)
d. Masa remaja akhir
Pada masa ini remaja sudah mengalami perkembangan fisik secara penuh,
sudah seperti orang dewasa, mereka telah mempunyai perilaku seksual yang sudah
jelas dan mereka sudah mulai mengembangkannya dalam bentuk pacaran. Pada
tahap ini juga remaja telah mencapai kemampuan untuk mengembangkan cita-

6
citanya sesuai dengan pengalaman dan pendidikannya (Soetjiningsih. 2011,004)
Di Indonesia, batasan usia remaja akhir adalah antara 17-21 tahun bagi
wanita, 18-22 tahun bagi laki-laki. Ciri-ciri khas yang membedakannya dengan
remaja awal yaitu:
1) Mulai stabil
Dalam aspek-aspek fisik dan psikis, laki-laki muda dan wanita
muda menunjukan peningkatan kestabilan emosi.
2) Lebih realistis
Pada masa ini dia mulai menilai dirinya dengan apa adanya, menghargai apa yang
di miliki keluarganya, orang-orang lain seperti keadaan yang sebenarnya
3) Lebih matang menghadapi masalah
Kemampuan berfikir remaja akhir yang telah lebih sempurna dan pandangan yang
lebih realistis itulah yang menjadikan remaja akhir mampu memecahkan berbagai
masalah secara lebih matang dan realistis.
4) Lebih tenang perasaannya
Secara umum, pada paruh akhir masa remaja lebih tenang dalam menghadapi
masalah-masalahnya dibanding pada paruh awal masa remaja akhir. (Al-Mighwar.
2006)
2. Tinjauan Umum tentang Menstruasi
1) Pengertian Menstruasi
Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus disertai
pelepasan endometrium. Lama menstruasi biasanya antara 3-5 hari, ada yang 1-2 hari
diikuti darah sedikit-sedikit kemudian dan ada yang 7-8 hari. Pada setiap wanita
biasanya lama menstruasi itu tetap. (Sarwono.2014)
Menstruasi pertama (menarche) pada remaja putri sering terjadi pada usia 11
tahun. Namun tidak tertutup kemungkinan terjadi pada rentang usia 8-16 tahun.
Menstruasi merupakan pertanda masa reproduktif pada kehidupan seorang
perempuan, yang dimulai dari menarche sampai terjadinya menopause. Menstruasi
bukanlah suatu penyakit, namun merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang
terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda
bahwa ia sudah mampu hamil. (Llewellyn-Jones. 2011)

7
2) Proses menstruasi
Pada proses menstruasi dengan ovulasi (terjadi pelepasan telur), hormon
ektrogen yang dikeluarkan makin meningkat yang menyebabkan lapisan dalam rahim
mengalami pertumbuhan dan perkembangan (fase proliferasi).
Peningkatan ekstrogen ini menekan pengeluaran hormon perangsang folikel
(FSH), tetapi merangsang hormon luteinizing (LH), sehingga dapat merangsang
folikel Graaf yang telah dewasa, untuk melepaskan telur yang disebut sebagai proses
ovulasi. Telur ini akan ditangkap oleh rumbai pada Tuba Fallop, dan dibungkus oleh
korona radiata yang akan memberi nutrisi selama 48 jam . folikel Graaf yang
mengalami ovulasi menjadi korvus rubrum dan segera menjadi kurpus luteum dan
mengeluarkan 2 macam hormon indung telur yaitu ekstrogen dan progesteron.
Hormon ekstrogen yang menyebabkan lapisan dalam rahim (endometrium)
berkembang dan tumbuh dalam bentuk proliferasi, setelah dirangsang oleh korvus
luteum pengeluaran ekstrogen dan progesteron lapisan dalam rahim berubah menjadi
fase sekresi, sehingga pembuluh darah makin dominan dan mengeluarkan cairan (fase
sekresi). Bila tidak terjadi pertemuan antara spermatozoa dan ovum (telur), korpus
luteum mengalami kematian.
Korpus luteum berumur 8 hari, sehingga setelah kematiannya tidak mampu
lagi mempertahankan lapisan dalam rahim, oleh karena hormon ekstrogen dan
progesteron berkurang sampai menghilang. Berkurang dan menghilangnya ekstrogen
dan progesteron, menyebabkan terjadi fase vasokonstriksi (pengerutan) pembuluh
darah sehingga lapisan dalam rahim mengalami kekurangan aliran darah (kematian).
Selanjutnya diikuti dengan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan
pelepasan darah dalam bentuk pendarahan yang disebut “menstruasi”. Pengeluaran
darah menstruasi berlangsung antara 3-7 hari, dengan jumlah darah yang hilang sekitar
50-60 cc tanpa bekuan darah. Bila pendarahan disertai bekuan darah menunjukkan
terjadi perdarahan banyak, yang merupakan keadaan abnormal pada menstruasi. (Ida
AyuChandranita.2013)
3. Tinjaun Umum tentang Oligomenorea
1) Pengertian Oligomenorea

8
Oligomenorea adalah haid dengan siklus yang lebih panjang dari normal yaitu
lebih dari 35 hari. Sering terjadi pada sindroma ovarium polikistik yang disebabkan
oleh peningkatan hormon androgen sehingga terjadi gangguan ovulasi. Penyebab lain
Oligomenorea antara lain stres fisik dan emosi, penyakit kronis, serta gangguan nutrisi.
Oligomenorea memerluka evaluasi lebih lanjut untuk mencari penyebab. Perhatian
perlu diberikan bila Oligomenoreaa desertai dengan obesitas dan infertilitas karena
mungkin berhungan dengan sindroma metabolik. (Saewono Prawihardjo, 2012)
Oligomenorea biasa terjadi akibat adanya gangguan keseimbangan, hormonal.
Gangguan hormon tersebut menyebabkan lamanya siklus menstruasi normal menjadi
memanjang, sehingga menstruasi menjadi lebih jarang terjadi. Oligomenorea adalah
kelainan, siklus menstruasi menjadi lebih panjang, yaitu lebih dari 35 hari dan
perdarahan biasa hanya sedikit. Kelainan ini biasanya terjadi karena adanya kelainan
hormonal, gangguan gizi, dan gangguan kejiwaan seperti stres atau karena panyakit-
panyakit tertentu. (Dr. Supryanto, 2014)
Oligomenorea sering terjadi pada 3-5 tahun pertama setelah haid pertama
ataupun beberapa thun menjelang terjadinya menapouse. Oligomenorea yang terjadi
pada masa-masa itu merupakan variasi yang normal yang terjadi karena kurang baik
koordinasi antara hipotalamus, hipofisis dan ovarium pada awal terjadinya menstruasi
pertama dan mejelang terjadinya menapouse, sehingga timbul gangguan keseimbangan
hormon dalam tubuh.
Pada kenbanyakan kasus Oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan
fertilitas cukup baik. Siklus haid biasanya juga ovulator dengan masa proliferasi lebih
panjang dari biasnya Oligomenorea yang terjadi pada remaja, seringkali disebabkan
karena kurangnya sinkronisasi antara hipotalamus, kelenjar pituari dan indung telur.
Hipotalamus mengatur pengeluaran hormon yang mengatur kelenjar pituari.
Kemudian kelenjar pituari akan merangsang produksi hormon yang mempengaruhi
perbuhan dan reproduksi. Pada awal dan masa reproduksi wanita, beberapa hormon
tersebut menjadi kurang, tersinkronisasi, sehingga akan menyebakan terjadinya haid
yang tidak teratur.
2) Penyebab Oligomenorea

9
Menurut Kumalasari (2012), penyebab oligomenorea adalah perpanjangan siklus
folikuler dan stadium luteal, kedua stadium ini menjadi panjang karena pengaruh
psikis, penyakit, dan TBC.
Menurut Purwoastuti dan Walyani (2015), antara lain :
1) Stress dan depresi.
2) Sakit kronik.
3) Pasien dengan gangguan makan (seperti anorexianervosa, bulimia).
4) Penurunan berat badan berlebihan.
5) Olahraga berlebih misalnya atlit.
6) Adanya tumor yang melepaskan estrogen.
7) Adanya kelainan pada struktur rahim atau servik yang menghambat pengeluaran
menstruasi.
8) Penggonaan obat-obat tertentu
Menurut dr.Suparyanto, Oligomenorea yang terjadi pada remaja, seringkali
disebabkan karena kurangnya sinkronisasi antara hipotalamus, kelenjar pituari dan
indung telur.
Hipotalamus merupakan bagian otak yang mengatur suhu tubuh,
metabolisme sel dan fungsi dasar seperti makan, tidur dan reproduksi. Hipotalamus
mengatur pengeluaran hormon yang mengatur kelenjar pituari. Kemudian kelenjar
pituari akan merangsang produksi hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan
reproduksi. Pada awal dan akhir masa reproduksi wanita, beberapa hormon tersebut
dapat menjadi kurang tersinkronisasi, sehingga akan menyebabkan terjadinya haid
yang tidak teratur.
3) Tanda dan Gejala Oligomenorea
a. Periode siklus menstruasi yang lebih dari 35 hari sekali dan biasanya hanya
mendapatkan haid 4-9 kali dalam setahun
b. Haid yang tidak teratur dengan jumlah yang tidak tentu
c. Pada beberapa wanita yang mengalami oligomenorea terkadang juga mengalami
kesulitan untuk hamil. (Medicastore.com)
Komplikasi yang paling menakutkan adalah terganggunya fertilitas dan
setres emosional pada penderita sehingga dapat memperburuk terjadinya kelainan

10
haid lebih lanjut. Prognosa akan memburuk bila oligomenoreaa mengarah pada
fertilitas atau tanda dari keganasan (Zumrohhasanah, 2013, oligominorea,
http:/www, diakses pada tgl 02 februari 2014, jam 15:00).
4) Penanganan Oligomenorea
a. Perbanyak komsumsi sayur dan buah sebagai sumber serat, asupan serat
sekurang-kurangnya 20-30 gram per hari
b. Minumlah vitamin B6 (piridoksin) 50-100 mg per hari untuk 2 minggu tiap bulan.
c. Minumlah magnesium 200-400 mg per hari
d. Ikuti prosedural terapi oksigen dan program pembersihan liver
e. Bila perlu, gunakab evening primrose oil, herbal vitex, atau krim progesteron
alami bila ada dominasi ekstrogen. (Ummu Azzam.2012:57)
Menurut dr. Suparyanto, penaganan oligomenorea dapat berupa
Pengobatan. Berikut ini pengobatan oligomenorea tergantung dengan penyebab,
berikut uraiannya:
1. Pada oligomenorea dengan anovulatoir serta pada remaja dan wanita yang
mendekati menopouse tidak memerlukan terapi.
2. Perbaikan status gizi pada penderita dengan gangguan nutrisi dapat
memperbaiki keadaan oligomenorea.
3. Oligomenorea sering diobati dengan pil KB untuk memperbaiki ketidak
seimbangan hormonal.
4. Bila gejala terjadi akibat adanya tumor, operasi mungkin diperlukan: Adanya
tumor yang mempengaruhi pengeluaran hormon estrogen, maka tumor ini
perlu di tindak lanjuti seperti dengan operasi, kemoterapi, dll
5. Pengobatan alternatif lainnya dapat menggunakan akupuntur atau ramuan
herbal.
4. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Luwu Utara.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 19 april sampai dengan tanggal 16 mei
tahun 2018.

11
5.

BAB III

12
PENUTUP

A. Kesimpulan
Remaja sebagai periode transisi masa anak-anak ke masa dewasa, atau masa usia
belasan tahun, atau jika seseorang menunjukkan tingkah laku tertentu seperti susah diatur,
mudah terangsang perasaannya dan sebagainya (Sarwono,2005).
Menstruasi merupakan gejala biologi yang dialami dan positif sebagai tanda biologis
kematangan seksual. Sehingga peristiwa itu sebaiknya diterima dengan sikap wajar, namun
bila peristiwa menstruasi menimbulkan shock yang sangat hebat disertai dengan iritasi
(rangsangan yang menggangu), biasanya akan merasa sakit, disertai dengan mula-mula, cepat
lelah, dan berbagai emosi depresif (Proverawati, 2009).
Oligomenorea merupakan suatu kelainan siklus yang ditandai dengan lamnya waktu
siklushaid yaitu lebih dari 35 hari (Saryono, 2009).
B. Saran
1. Bagi tenaga kesehatan
Meningkatkan kegiatan promosi kesehatan yaitu dengan pemberian KIE kepada
masyarakat khususnya kepada remaja putri.
2. Bagi institusi pendidikan
Dengan mengetahui permasalahan yang tepat yaitu tentang oligomenorea diharapkan
instansi pendidikan dapat meningkatkan dan mengikuti perkembangan sesuai prosedur
tetap dalam memberikan asuhan dan dapat dijadikan referensi bagi instansi pendidikan.

13