Anda di halaman 1dari 40

PERKEMBANGAN FISIK DAN KOGNITIF REMAJA AWAL

REMAJA: SEBUAH TRANSISI PERKEMBANGAN Dalam sebagian besar masyarakat moderen, bagian transisi antara kanakkanak dengan remaja ditandai dengan sebuah proses yang dinamakan masa remaja (adolescence). Masa remaja merupakan sebuah transisi perkembangan yang meliputi peubahan fisik, kognitif, emosional, dan sosial yang dapat berbedabeda sesuai dengan lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi individu. Permulaan perubahan fisik pada remaja yaitu pubertas, sebagai proses yang akan menuju kepada pendewasaan secara seksual (reproduksi). Secara tradisional, proses pubertas dan masa remaja berada pada usia 13 tahun, namun belakangan para dokter menemukan menemukan bahwa perubahan terjadi sebelum anak berusia 10 tahun.

Masa Remaja sebagai Konstruksi Sosial Saat ini masa remaja telah menjadi fenomena yang global, meskipun konteksnya akan berbeda tergantung pada budaya dan lingkungannya. Dalam sebagian besar wilayah di dunia, proses pada masa remaja berjalan lebih lama dibandingkan sebelumnya. Pubertas berlangsung lebih awal dibanding dengan waktu yang seharusnya. Remaja lebih banyak menghabiskan waktu untuk dunianya sendiri, sehingga hal ini menjadi pembeda tahapan antara remaja dengan dewasa (Larson & Wilson, 2004).

Masa Remaja: Masa Mencari Kesempatan dan Risiko Masa remaja menawarkan kesempatan untuk tumbuh tidak hanya dari segi fisik, namun juga dari segi kognitif dan kompetensi sosial berupa otonomi, selfesteem, dan kedekatan. Anak muda yang memiliki hubungan baik dengan orang tua, sekolah, dan komunitasnya cenderung membangun pola hidup yang positif dan sehat (Youngblade et al., 2007). Sebuah survei nasional terhadap 14.000 siswa sekolah menengah menyatakan tren yang mendorong. Sejak era 1990an, siswa berusaha mencegah konsumsi alkohol, tembakau, atau marijuana; mengendarai mobil tanpa mengenakan sabuk pengaman atau mengendarai tidak

dalam keadaan mabuk; membawa senjata; melakukan hubungan seks bebas; atau percobaan bunuh diri (CDC, 2006d; Eaton et al., 2008). Pencegahan perilaku berisiko tersebut meningkatkan kesempatan bagi anak muda untuk memiliki kondisi fisik dan mental yang sehat.

PERKEMBANGAN FISIK PUBERTAS Perubahan biologis dari pubertas, dimana hal ini mengisyaratkan berakhirnya masa kanak-kanak, meliputi perkembangan yang pesat dari segi tinggi dan berat badan, perubahan proporsi dan bentuk tubuh, serta pencapaian pematangan seks. Proses ini berlangsung lama dan kompleks.

Bagaimana Pubertas Berawal: Perubahan Hormonal Pubertas meliputi dua hormon, yaitu adrenarche (pematangan kelenjar adrenal), yang akan diikuti oleh pematangan hormon gonadarce (pematangan organ seks). Dalam rentang usia tujuh hingga delapan tahun (Susman & Rogol, 2004), kelenjar adrenal terletak di atas ginjal, yang mensekresikan peningkatan hormon androgen yaitu dehydroepiandrosterone (DHEA). DHEA berperan dalam pertumbuhan rambut pubis, ketiak, dan rambut pada bagian wajah. Selain itu, pada masa remaja juga terjadi aktivitas hormon. Perempuan memiliki persentase yang lebih besar dalam pertumbuhan lemak. Sebuah studi menyarankan bahwa akumulasi dari leptin, yaitu hormon yang berada di dalam jaringan yang berperan dalam obesitas, yang akan menstimulasi hipotalamus, yang akan meningkatkan sekresi hormon (Chehab, Mounzih, Lu & Lim, 1997; Susman & rogol, 2004).

Waktu, Gejala-gejala, dan Tahapan Pubertas serta Kematangan Seksual Perubahan terjadi di masa kini, yaitu masa pubertas anak perempuan terjadi pada usia 8 tahun, sedangkan anak laki-laki berada pada usia 9 tahun (Susman & Rogol, 2004). Namun para dokter telah menemukan bahwa pertumbuhan payudara pada anak perempuan lebih cepat, bahkan sebelum ulang

tahun mereka yang ke delapan (Slyper, 2006). Proses pubertas biasanya terjadi selama tiga hingga empat tahun. a. Karakteristik Seksual Primer dan Sekunder Karakteristik seks primer merupakan organ-organ tubuh yang penting dalam reproduksi. Pada wanita, organ seks berupa ovarium, tuba fallopi, uterus, klitoris, dan vagina. Sedangkan pada pria, meliputi testis, penis, skrotum, vesikula seminalis, dan kelenjar prostat. Selama pubertas, organ-organ ini mengalami pematangan. Karakteristik seks sekunder merupakan tanda psikologis dari pendewasaan yang tidak selalu meliputi organ seks. Contohnya, perubahan suara pada laki-laki dan perempuan, serta pertumbuhan rambut di berbagai bagian tubuh. b. Tanda-tanda Pubertas Tanda eksternal pertama yang terlihat merupakan jaringan payudara dan rambut pubis pada perempuan, serta pelebaran testis pada laki-laki (Susman & Rogol, 2004). Rambut pubis pada awalnya berbentuk lurus dan halus. Lama kelamaan akan menjadi lebih keriting dan berwarna gelap. Hal ini terjadi pada pertumbuhan laki-laki dan perempuan. aselain itu, perubahan suara juga terjadi pada masa pubertas. Kulit menjadi lebih berminyak dan kasar. c. Pertumbuhan Pesat Remaja Pada masa puber terjadi peningkatan tinggi, berat, otot, dan tulang tubuh secara pesat. Hal ini berlangsung antara usia 91/2 tahun hingga 141/2 tahun pada perempuan, dan antara usia 101/2 tahun hingga 16 tahun pada laki-laki. Pertumbuhan perempuan biasanya lebih cepat dibandingkan laki-laki. Anak perempuan antara usia 11 tahun dan 13 tahun akan menjadi lebih tinggi, lebih berat, serta lebih kuat dari anak laki-laki. Laki-laki dan perempuan tumbuh secara berbeda, tidak hanya pada tingkatan pertumbuhan namun juga dalam bentuk tubuh. d. Tanda-tanda Kematang Seksual: Produksi Sperma dan Menstruasi Pematangan organ reproduksi menjadikan terjadinya proses menstruasi pada perempuan, serta produksi sperma pada laki-laki. Tanda utama dalam kematangan seksual pada laki-laki adalah prdouksi sperma, dimana terjadi

ejakulasi pertama yang terjadi pada usia 13 tahun. Mereka akan mengalami sebuah mimpi yang disebut dengan mimpi basah. Sedangkan pada perempuan, tanda utama kematangannya berupa menstruasi. Biasanya anak perempuan akan mengalami menstruasi pada usia 14 tahun sebelum tahun 1900, sedangkan saat ini terjadi lebih cepat yaitu dalam rentang usia 121/2 tahun. e. Pengaruh dan Dampak dari Pubertas Anak yang lebih sehat biasanya akan memiliki masa remaja yang lebih cepat dan tumbuh besar (Slyper, 2006). Kombinasi dari genetik, fisik, emosiona, dan pengaruh kontekstual meliputi SES, racun lingkungan, diet, berat badan, penyakit kronis atau stres akan mempengaruhi waktu menstruasi individu (Belsky et al., 2007; Graber, Brooks-Gunn, & Warren, 1995). Penelitian lain menyatakan bahwa periode menstruasi anak perempuan menyerupai periode menstruasi ibunya, jika pemasukan nutrisi dan makanan yang dimakan serupa dengan ibu mereka. Konflik keluarga juga berhubungan dengan menstruasi yang lebih cepat, dimana kehangatan keluarga, hubungan keluarga yang harmonis, dan adanya orang tua memiliki hubungan dengan menstruasi yang lebih lambat (Belsky et al., 2007; Mendle et al., 2006).

STRUKTUR OTAK REMAJA Perubahan pesat pada struktur otak remaja meliputi emosi, penilaian, organisasi perilaku, dan kontrol diri. Hal ini terjadi antara masa remaja dan dewasa. Pengambilan risiko merupakan hasil koordinasid ari dua bagian otak: (1) hubungan sosioemosional yang sensitif terhadap stimulus sosial dan emosional, seperti pengaruh teman sebaya, (2) hubungan kontrol-kognitif yang

meregulasikan respons terhadap stimulus. Hubungan sosioemosional bekerja lebih aktif dalam masa pubertas, sedangkan hubungan kontrol-kognitif akan bekerja lebih aktif di masa dewasa awal. Proses informasi remaja terhadao emosi berbeda jika dibandingkan dengan orang dewasa. Dalam sebuah penelitian, peneliti mengamati aktivitas otak remaja saat mereka mengidentifikasikan emosi yang diperlihatkan dalam bentuk ekspresi wajah dalam layar komputer. Remaja usia 11 hingga 13 tahun cenderung

menggunakan amygdala, yang berperan dalam reaksi emosional dan insting. Sedangkan remaja usia 14 hingga 17 tahun lebih menunjukkan pola pikir orang dewasa, menggunakan lobus frontalis yang menangani perencanaan, penalaran, penilaian, regulasi emosional, dan mengontrol impuls yang masuk. Untuk memahami ketidakdewasaan dari otak remaja, kita perku meluhat perubahan struktur dan komposisi dari korteks frontalis. Peningkatan white matter dari ootak di masa kanak-kanak akan berlanjut di dalam lbus frontalis (ACT for Youth, 2002; Blakemore & Choudhury, 2006; Kuhn, 2006; NIMH, 2001b). Pemangkasan dari dendrit yang tidak digunakan selama masa kanak-kanak akan mengalami pengurangan pada kepadatan gray matter yang akan meningkatkan efisiensi otak.

KESEHATAN FISIK DAN MENTAL Banyak remaja, terutama remaja perempuan mengeluhkan sakit pada diri mereka, seperti pusing, sakit punggung, sakit perut, merasa gugup, keletihan, merasa kesepian, atau lemah. Permasalahan kesehatan lainnya berakar dari gaya hidup individu. Pada negara industri, remaja cenderu merasa kurang sehat dan melaporkan gejala penyakit lainnya (Scheidt et al., 2000). Sedangkan remaja yang berasal dari keluarga yang berkecukupan hidup lebih sehat dan aktif secara fisik (Mullan & Currie, 2000). Aktivitas Fisik Olahraga, atau kurangnya olahraga akan berdampak pada kesehatan fisik dan mental remaja. Keuntungan dari olahraga meliputi peningkatan kekuatan, tulang yang lebih sehat, kontrol berat badan, dan mengurangi rasa cemas. Olahraga yang lazim dilakukan berlangsung selama 30 menit setiap harinya.

Kebutuhan Tidur dan Permasalahannya Kurangnya waktu tidur pada remaja telah menjadi wabah saat ini. rata-rata 40 persen remaja (terutama laki-laki) merasa mengantuk sepanjang pagi (Scheidt et al., 2000). rata-rata remaja yang tidur lebih dari sepuluh jam pada usia 9 tahun akan memiliki waktu tidur yang kurang dari 8 jam pada usia 16 tahun (Eaton et al., 2008; Hoban, 2004). Pola tidur yang buruk akan menyebabkan insomnia,

sebuah permasalahan yang sering terjadi pada masa kanak-kanak akhir atau remaja (Hoban, 2004). Kurangnya waktu tidur akan menyebabkan kurangnya konsentrasi dan penurunan kinerja di sekolah. Mengapa remaja senang tidur lambat? Mereka memerlukan waktu untuk mengerjakan tugas, berbicara dengan teman, atau menggunakan internet. Waktu sekresi hormon melatonin berlangsung ketika otak telah siap untuk istirahat (tidur). Setelah pubertas, sekresi ini akan menjadi lebih lambat pada malam hari (Carskadon, Acebo, Richardson, Tate, & Seifer, 1997).

NUTRISI DAN GANGGUAN MAKAN Gizi yang baik sangat penting untuk mendukung pesatnya pertumbuhan remaja dan membangun kebiasaan makan yang sehat yang akan berlangsung sampai dewasa. Sayangnya, remaja AS lebih sedikit makan buah-buahan dan sayuran dan lebih banyak mengkonsumsi makanan yang tinggi kolesterol, lemak, kalori dan rendah nutrisi dibandingkan remaja di negara-negara industri lainnya (American Association jantung et al, 2006;. Vereeken & Maes, 2000). Pola makan yang buruk misalnya makan-makanan cepat saji, makan malam yang beku, ngemil, dan model diet yang umum dilakukan di seluruh kelompok umur. Meskipun salad, sus, dan jus tidaklah menu tertinggi dari banyak menus fast food di restoran, remaja tetap saja bisa makan di banyak tempat dan memenuhi kebutuhan nutrisinya. Masalah terbesarnya bukanlah pada

ketidakmampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, tetapi tentang banyak hal yang mereka dapatkan bersamanya. Misalnya saja fast food itu terasa enak karena makanan ini mengandung lemak, gula dan garam didalamnya, tetapi komposisi ini menambah kalori,inilah yang akan meningkatkan resiko berat badan berlebihan.

Di seluruh dunia, gizi buruk paling sering terjadi pada populasi ekonomi tertekan atau terisolasi, tetapi gizi buruk juga bisa terjadi akibat kekhawatiran dengan citra tubuh dan kontrol berat badan (Vereeken & Maes, 2000). Gangguan makan, termasuk obesitas, yang paling lazim dalam masyarakat industri, di mana makanan berlimpah dan daya tarik disamakan dengan kelangsingan, tetapi

gangguan ini tampaknya juga meningkat di negara non-Barat (Makino, Tsuboi, & Dennerstein, 2004).

Obesitas Remaja dikatakan mengalami obesitas atau overweight bila ia memiliki berat badan antara 85-95% atau lebih dari BMI (Body Mass Index). BMI adalah berat badan seseorang dalam kilogram dibagi dengan tingginya dalam meter persegi, sejak kegemukan tubuh bervariasi dengan umur dan jenis kelamin, persen dari BMI spesifik dengan gender dan umur. Remaja AS dua kali lebih besar mengalami masalah kelebihan berat badan. Sekitar 34 persen dari remaja AS memiliki indeks massa tubuh (BMI) atau di atas persentil ke-85 untuk usia dan jenis kelamin. Persentase remaja AS dengan BMI di atas persentil ke-95 lebih dari tiga kali lipat antara tahun 1980 dan 2006, dari 5 persen menjadi hampir 18 persen (Ogden et al., 2006, 2008). Obesitas biasanya terjadi pada remaja yang kurang bergerak/berolahraga dan tidak memiliki pola makan yang sehat dan teratur. Mereka berada pada peningkatan risiko kolesterol tinggi, hipertensi, dan diabetes (NCHS, 2005). Mereka cenderung menjadi obeser dewasa dan tunduk pada berbagai risiko fisik, sosial, dan psikologis (Gortmaker, harus, Perrin, Sobol, & Dietz, 1993). Mengingat berapa banyak remaja yang kelebihan berat badan saat ini, proyek-proyek penelitian satu tim yang pada 2035 lebih dari 100.000 kasus tambahan penyakit jantung akan timbul peningkatan prevalensi kelebihan berat badan pada pria muda dan setengah baya dan wanita (Bibins-Domingo, Coxson, Pletcher, lightwood, & Goldman, 2007). Faktor genetik dan faktor lainnya, seperti pengaturan metabolisme yang rusak, setidaknya pada anak perempuan, gejala depresi dan memiliki orang tua obesitas dapat meningkatkan kemungkinan obesitas remaja (Morrison et al, 2005;. Stice, Presnell, Shaw, & Rohde, 2005) . Namun sebuah penelitian dari 878 California 11 - sampai 15-year-olds mengungkapkan bahwa kurang olahraga adalah faktor risiko utama untuk kelebihan berat badan pada anak laki-laki dan perempuan (Patrick et al, 2004.)

Remaja-remaja berusaha untuk mengurangi berat badannya dengan harapan yang tidak realistic.Banyak yang berpandangan bahwa berat badan adalah pusat dari segala masalahnya dan berharap dengan mengurangi berat badannya itu masalahnya bisa terselesaikan dan mereka kan menjadi popular , membuat kelompok, dan lain-lain. Kegagalan dalam hal ini bisa menyebabkan frustasi dan membatalkan program dietnya. Namun kesuksesan dari program ini juga dipengaruhi oleh banyak segi. Kesuksesan dalam mengontrol berat badan pada remaja hampir tergantung pada integrasi dari orang tua.

Bentuk Tubuh dan Gangguan Makan Beberapa remaja yang bertekad untuk tidak memiliki kelebihan berat badan dapat mengakibatkan masalah penting dari berat badan itu sendiri. Karena kenaikan normal dalam lemak tubuh anak perempuan selama masa pubertas, banyak perempuan, terutama jika mereka maju dalam perkembangan pubertas menjadi tidak bahagia tentang penampilan mereka yang turut mencerminkan penekanan budaya pada atribut fisik perempuan (Susman & Rogol, 2004). Biasanya perempuan cenderung tidak puas dengan perubahan postur tubuh yang sangat meningkat selama masa remaja tengah, sedangkan anak laki-laki, yang menjadi lebih berotot menjadi lebih puas dengan tubuh mereka (Feingold & Mazella, 1998; Rosenblum & Lewis, 1999; Swarr & Richards, 1996). Kekhawatiran yang berlebihan dengan berat badan dengan kontrol berat badan dan citra tubuh mungkin mengeluhkan anorexia nervosa atau bulimia nervosa, yang keduanya melibatkan pola abnormal dari asupan makanan. Gangguan kronis terjadi di seluruh dunia, terutama pada remaja putri dan perempuan muda. Namun, tidak cukup belajar telah dilakukan gangguan makan di kalangan laki-laki dan kelompok etnis kulit putih. Selain itu, gagasan bahwa gangguan makan adalah hasil dari tekanan budaya untuk menjadi kurus terlalu sederhana, faktor biologis, termasuk faktor genetik, memainkan peran yang sama penting (Striegel-Moore & Bulik, 2007). Studi kembar telah menemukan hubungan antara gangguan makan dan serotonin kimia otak, sebuah varian dari protein BDNF, yang mempengaruhi asupan makanan, dan estrogen (Klupm & Culbert, 2007).

Secara singkat ada beberapa alasan yang melibatkan remaja dalam aslah makan adalah : Body Images : Umumnya remaja kecewa dengan tubuhnya. Lkai-laki ingin untuk lebih tinggi sedangkan perempuan ingin untuk menurunkan berat badannya. Dalam penelitian ini, harga diri dan dukungan sosial yang rendah, dan tekanan untuk menurunkan berat badan berhubungan negative dengan body image remaja. Pola Asuh : Orang yang mendapatkan pengajaran tentang pola makan yang sehat serta olahraga dari orang tuanya memiliki pola makan yang lebih sehat dibandingkan yang tidak mendapatkan pengajaran itu. Aktivitas seksual : Perempuan yang aktif dengan pacarnya dan dalam masa pubertas transisi akan lebih mungkin mrlakukan diet dan terlibat pola makan yang tidak baik. Peran Model dan Media : Perempuan yang termotivasi untuk melihat figure yang sama jenis kelamin dengannya akan lebih berpengaruh dibandingkan dengan teman sebayanya dalam hal menurunkan berat badan. Melihat figure yang memiliki badan yang langsing maka ia akan merasa kecewa dengan tubunhnya. Penekltian mengatakan, dengan membaca artikel di majalah yang dibaca oleh remaja perempuan tentang diet dan menurunkan berat badan berhubungan dengan perilaku control berat badan yang tidak sehat seperti berpuasa, menolak makanan, dan merokok 5 tahun berikutnya.

Anorexia Nervosa Ketika memasuki masa remaja, khususnya masa pubertas, remaja menjadi sangat peka atas pertambahan berat badan, terutama remaja putri, karena mereka mengalami pertambahan jumlah jaringan lemak sehingga mudah untuk menjadi gemuk apabila mengkonsumsi makanan yang berkalori tinggi. Pada

kenyataannya kebanyakan wanita ingin terlihat langsing dan kurus karena beranggapan banhwa menjadi kurus akan membuat mereka bahagia, sukses, dan popular. Remaja dengan gangguan makan memiliki masalah dengan bentuk tubuhnya. Artinya mereka sudah mempunyai suatu pola pikir bahwa tubuh

mereka tidak ideal. Mereka merasa tubuhnya gemuk, banyak lemak disana-sini, dan tidak sedap dipandang.1 Anoreksia nervosa adalah suatu kelainan yang ditandai dengan perubahan gambaran tubuh, ketakutan yang luar biasa akan kegemukan, penolakan untuk mempertahankan berat badan yang normal dan hilangnya siklus mentruasi (pada wanita). Penderita yang umumnya terjadi pada remaja putri biasanya mengalami gangguan makan, berupa aktifitas untuk menguruskan badan dengan melakukan pembatasan makan secara sengaja melalui kontrol yang ketat. Pada anoreksia nervosa terjadi hilangnya nafsu makan atau terganggunya pusat nafsu makan. Hal tersebut disebabkan oleh konsep yang salah mengenai konsep penampilan tubuh, sehingga penderita mempunyai rasa takut yang berlebihan terhadap kegemukan. Penderita anoreksia nervosa sadar mereka lapar namun takut untuk memenuhi kebutuhan makan mereka, karena bisa berakibat meningkatnya berat badan. Berbeda dengan korban kelaparan, penderita anoreksia nervosa mampu menjaga kekuatan dan kegiatan sehari-hari mendekati normal. Tidak merasa lapar dan tidak cemas terhadap kondisinya. Takut gemuk atau merasa terlalu gemuk ini terutama terjadi pada wanita, sehingga membatasi makan dan terkadang tidak makan atau puasa. Akhirnya tidak mau makan hingga penderita kurus kering. Kelainan ini banyak terjadi di dalam masyarkat yang memuja bentuk tubuh yang kurus kering. Mereka terusmenerus malakukan diet mati-matian untuk mencapai tubuh yang kurus, yang pada akhirnya kondisi ini menimbulkan efek yang berbahaya yaitu kematian . Penyakit ini dapat menyebabkan kematian pada 10% penderitanya. Pada penderita anorexia nervosa dapat menurunkan berat badannya antara 25 50 % dari berat badan sebenarnya. Dampak fisik yang umumnya terjadi penderita adalah kehilangan selera makan, hingga tidak mau mengkonsumsi apapun, lemah tidak bertenaga, sulit berkonsentrasi dan terjadi gangguan mentruasi. Namun dampak psikis juga terpengaruhi, seperti mempunyai perasaan tidak berharga, sensitiv mudah tersinggung atau marah, mudah merasa bersalah, kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain, tidak percaya diri,

10

cenderung berbohong untuk menutupi perilaku makannya, minta perhatian orang lain, dan depresi. Dampak fisik maupun psikis yang terjadi akibat gangguan makan tersebut memerlukan pertolongan segera dari psikolog, dokter, ahli gizi, dan tentu saja orang tua. Bulimia Nervosa Bulimia nervosa merupakan kondisi dimana seseorang makan dengan jumlah yang besar kemudian memuntahkan kembali makanan tersebut. Individu yang menderita bulimia akan senantiasa makan dengan brutal, lalu kemudian berusaha menghilangkan kalori yang masuk akibat makan berlebihan tadi. Upaya ini dapat berupa diet ketat, puasa, olahraga terlalu ketat, atau bahkan menggunakan obat pencahar dan suntikan. Kejadian ini biasanya terjadi dalam waktu sekali dua minggu atau sekurang-kurangnya tiga bulan (APA, 2000). Penderita bulimia biasanya tidak memiliki kelebihan berat badan, namun mereka terobsesi dengan berat badan dan bentuk tubuh mereka. Mereka cenderung memiliki self-esteem yang rendah dan senantiasa merasa malu bahkan depresi (Wilson et al., 2007).

Tanda-tanda dan gejala bulimia nervosa : 1. Olah raga yang berlebihan 2. Obsesi dengan makanan 3. Menggunakan obat pencahar 4. Perubahan warna gigi 5. Berat badan berfluktuasi 6. Pergi ke kamar mandi setelah makan

Treatment dan Dampak Gangguan Pola Makan Tujuan langsung dari pengobatan untuk anoreksia adalah untuk mendapatkan berat yang ideal bagi pasien. Namun seringkali sulit untuk mencapai dalam memberikan kekuatan dan keyakinan pada pasien tentang tubuh mereka. Salah satu perawatan yang banyak digunakan adalah jenis terapi keluarga di mana orang tua mengontrol pola makan anak mereka.

11

Bulimia juga lebih baik diobati dengan terapi perilaku kognitif (Wilson et al., 2007). Pasien menyimpan buku harian pola makan mereka dan diajarkan cara untuk menghindari godaan untuk pesta. Individu, kelompok, atau psikoterapi keluarga dapat membantu baik anoreksia dan bulimia pasien, biasanya setelah terapi perilaku awal telah membawa symtomps terkendali. Karena pasien merupakan risiko untuk depresi dan bunuh diri, obat antidepresan sering dikombinasikan dengan psikoterapi (McCallum & Bruton, 2003), tetapi bukti jangka panjang efektivitas mereka di kedua anoreksia atau bulimia kurang (Wilson et al., 2007). Remaja dengan kebutuhan mereka untuk otonomi mungkin menolak intervensi keluarga dan mungkin perlu struktur pengaturan kelembagaan. Namun, setiap program perawatan untuk remaja harus melibatkan keluarga. Hal ini juga harus menyediakan kebutuhan perkembangan remaja, yang mungkin berbeda dari kebutuhan pasien dewasa, dan harus menawarkan kesempatan untuk bersaing dengan sekolah (McCallum & Bruton, 2003). Hampir setengah dari pasien anoreksia akhirnya membuat pemulihan penuh (Steinhausen, 2002), tetapi sampai sepertiga berhenti dari pengobatan sebelum mencapai berat yang sesuai (McCallm & Bruton, 2003). Tingkat pemulihan dari bulimia rata-rata 30 sampai 50 persen setelah terapi perilaku kognitif, dan banyak pasien lain menunjukkan perbaikan (Wilson et al., 2007).

PENYALAHGUNAAN OBAT-OBATAN Penyalahgunaan obat-obatan merupakan penggunaan alkohol maupun obat lainnya yang berbahaya. Penyalahgunaan ini dapat menyebabkan dependensi obat-obatan (adiksi), yang dapat bersifat psikologis, fisiologis, dan dapat berlanjut hingga masa dewasa. Penggunaan obat-obatan secara adiktif berbahaya bagi remaja karena akan menstimulasi bagian otak yang masih berkembang di masa remaja (Chambers et al., 2003).

Tren Penggunaan Narkoba Hampir setengah (47 persen) dari remaja AS telah mencoba obat-obatan terlarang pada saat mereka meninggalkan sekolah tinggi. Sebuah kebangkitan

12

dalam penggunaan obat selama awal 1990-an disertai berkurangnya persepsi bahaya dan pelunakan ketidaksetujuan rekan. Namun, tren yang sudah mulai mundur. Akhir tahun penggunaan obat-obatan terlarang sudah mulai turun hampir sepertiga di antara delapan kelas, satu-kelima di antara kelas kesepuluh, dan satukedelapan di antara siswa kelas dua belas sejak tahun 1996 namun masih jauh di atas titik terendah pada 1991-1992.

Alkohol, Ganja, dan Tembakau Alkohol, ganja, dan tembakau digunakan antara anak usia belasan tahun di Amerika kemudian diikuti dengan kecenderungan untuk menetap dan lebih kerasnya lagi menggunaan putaw, dan naik satu level lebih selama tahun 1990an yang diikuti oleh satu lebih kecil serta berangsur-angsur. Alkohol berpotensi kuat sebagai obat perangsang pikiran dengan akibat utama pada fisik, emosional dan kemudian kesejahteraan sosial. Penggunaannya merupakan satu masalah yang serius pada suatu negara. Mayoritas pelajar SMA terlibat dalam pesta minum minuman keras mengkonsumsi minuman lima atau lebih pada satu tempat. Pada sebuah studi nasional, menyatakan bahwa pesta minum minuman keras lebih disukai oleh peminum minuman keras dibandingkan pelajar lain yang dilaporkan menurunkan kinerja sekolah serta perilaku lain yang penuh resiko. Remaja lebih rentan terkena dampaknya daripada orang dewasa. Keduanya secara langsung dan dalam jangka panjang alkohol dapat memberikan akibat yang negatif pada proses belajar dan pembentukan ingatan. Terlepas dari kemerosotan oleh penggunaan ganja sejak 1996-1997, selama sejauh itu lebih luas digunakan secara sembunyi-sembunyi. Secara khas rokok ganja mengandung lebih dari 400 zat karsinogen. Pengguna yang berat dapat menyebabkan kerusakan otak, hati, paru-paru dan dan system imun dan karena kekurangan nutrisi, infeksi pernapasan dan masalah pisik lainnya. Kemungkinan pengguna yang berat akan kehilangan motivasi, depresi yang memburuk, aktifitas yang kacau dan karena masalah keluarga. Menggunakan ganja juga dapat menghambat ingatan, kecepatan berfikir, belajar, serta kemampuan di sekolah. Pengguna ganjan yang berat dapat mengurangi persepsi, kewaspadaan, perhatian, penilaian, serta kemampuan motorik yang

13

mengendalikan penggerak dengan demikian dapat menyokong terjadinya penyimpangan. Penggunaan tembakau oleh remaja adalah untuk mengatasi masalah, terutama di beberapa negara industri. Remaja-remaja awal boleh saja mulai

menggunakan rokok dan bir, hingga di saat mereka semakin beranjak dewasa mereka mulai menggunakan ganja atau narkoba (obat keras). Remaja yang memulai minum minuman awalnya cenderung mempunyai perilaku yang salah atau memiliki saudara kandung yang pecandu alkohol. Mereka mulai meminum minuman sebelum mereka berumur 15 tahun lebih banyak dan beberapa waktu yang akan datang mereka menjadi pecandu alkohol, atau mereka tidak mulai minum pada umur 21 tahun. Pengaruh teman sebaya dalam merokok dan minum minuman telah dilaporkan meluas (CASA di Universitas Kolumbia, 1996; Cleveland & Wiebe, 2003). Hal ini serupa dengan dampak yang diberikan terhadap konsumsi obatobatan, pengaruh saudara dan teman sebaya meningkatkan konsumsi alkohol dan tembakau (Rendle, Slomkowsko, Lloyd-Richardson, & Niaura, 2005). Orangtua turut memberi kontribusi yang besar dalam perilaku remaja. Remaja yang percaya bahwa orang tua mereka menolak perilaku merokok memiliki keinginan yang lebih rendah untuk merokok (Sargent & Dalton, 2001). Namun, orang tua juga dapat memberi pengaruh buruk kepada remaja. Studi menyatakan bahwa 514 anak yang mengkonsumsi alkohol juga berasal dari orangtua yang mengkonsumsi alkohol. Media turut memberi pengaruh terhadap perilaku merokok, yaitu dengan adanya film yang memperlihatkan perilaku merokok di dalamnya (Charlesworth & Glants, 2005).

DEPRESI Prefalensi dari depresi meningkat dalam usia remaja. Pada tahun 2004 ditemukan bahwa 9 persen anak muda berusia 12-17 tahun telah mengalami sedikitnya satu kali periode depresi, dan hanya 40 persennya yang telah diobati (SAMHSA, 2005). Depresi pada anak muda tidak selalu berupa kesedihan, namun juga berupa iritabilitas (rasa tidak peka), kebosanan, atau ketidakmampuan untuk merasa senang.

14

Remaja perempuan -khususnya perempuan yang mulai beranjak dewasalebih rentan mengalami depresi dibandingkan remaja laki-laki (Brent & Birmaher, 2002; Ge, Conger, & Elder, 2001; SAMHSA, 2005; Stice, Presnell & Bearman, 2001). Perbedaan gender ini berhubungan dengan perubahan secara biologis pada masa puber. Faktor lain yang menyebabkan perempuan lebih rentan adalah sosialisasi, dimana perempuan lebih rentan mengalami stres dalam pergaulan mereka (Ge et al., 2001; Hankin, Mermelestein, & Roesch, 2007). Depresi pada remaja dapat di atasi dengan perlakuan rawat jalan, atau yang mempunyai ketergantungan zat, gejala psikosis, atau upaya bunuh diri yang membutuhkan rumah sakit. Sekurang-kurangnya satu dari lima orang yang mengalami serangan penyakit depresi pada anak-anak atau remaja menyebabkan mereka menghadapi suatu gangguan yang besar, diantaranya; episode depresi, kemudian digantikan dengan episode manic, ditandai oleh meningkatnya energi, euforia, dan pengambilan resiko. Peristiwa remaja dengan gejala seperti diatas untuk mendiagnosa masalah depresi mendapatkan perlakuan yang sesuai di rumah sakit serta perilaku usaha bunuh diri dilakukan oleh umur 25 tahun. Faktor risiko dari depresi meliputi kecemasan, rasa takut terhadap kontak sosial, penyakit kronis, konflik orang tua, kekerasan, penggunaan alkohol dan obat-obatan, serta orang tua yang memiliki riwayat depresi. Permasalahan bentuk tubuh dan gangguan pola makan dapat memperburuk gejala depresi (Stice & Bearman, 2001). Remaja penderita depresi yang tidak mampu merespon pengobatan atau mengalami psikosis, serta memiliki keinginan bunuh diri sebaiknya diberi perawatan intensif di rumah sakit. Sedikitnya satu dari lima orang yang mengalami depresi pada masa kanak-kanak dan remaja berada dalam risiko gangguan bipolar, dalam peristiwa depresi yang berada pada periode rendah hingga tinggi, yang memiliki ciri-ciri peningkatan energi, mengalami euforia, dan senang mencari masalah (Brent & Birmaher, 2002). Salah satu alternatif pengobatan pada gejala depresi adalah psikoterapi. Sebuah analisa terhadap suatu studi menemukan bahwa psikoterapi kognitif dan non-kognitif dapan menjadi efektif dalam jangka waktu pendek, namun efeknya bertahan tidak lebihd ari satu tahun (Weisa, McCarty, & Valeri, 2006).

15

KEMATIAN PADA MASA REMAJA Kematian pada remaja merupakan kejadian yang tragis dan mendadak (Hoyert, Heron, Murphy, & kung, 2006). 71 persen kematian pada rentang usia 10-24 tahun di Amerika Serikat disebabkan oleh kecelakaan motor, pembunuhan, atau bunuh diri (Eaton et al., 2006). Frekuensi dari kematian yang disebabkan oleh kekerasan merefleksikan budaya pada remaja yang cenderung belum berpengalaman dan belum dewasa, yang seringkali membuat mereka kurang berhati-hati.

Kematian karena Kecelakaan Motor dan Senjata Api Kecelakaan motor merupakan kasus utama penyebab kematian remaja di Amerika Serikat. Risiko kecelakaan ini menjadi lebih besar pada remaja usia 1619 tahun, terutama pada remaja yang baru belajar mengendarai (McCartt, 2001; Minino, Anderson, Fingerhut, Boudreault, 2004). Kecelakaan ini juga diperparah dengan kondisi remaja yang mengendarai dalam keadaan mabuk serta tidak mengenakan sabuk pengaman saat berkendara. Kematian yang disebabkan oleh senjata api pada usia 15-19 tahun (meliputi pembunuhan, bunuh diri, maupun kematian mendadak) lebih umum terjadi di Amerika Serikat dibandingkan negara industri lainnya. Di Amerika, masyarakatnya memiliki kebebasan menggunakan senjata, sehingga risiko kematian karena senjata api lebih besar di negara ini.

Bunuh Diri (Suicide) Bunuh diri merupakan penyebab kematian ke tiga terbesar di Amerika Serikat dengan rentang usia 15-19 tahun (Heron, & Smith, 2007). Pada tahun 2004, kematian pada remaja meningkat, terutama pada remaja perempuan. Remaja laki-laki empat kali lebih mampu bertahan dibandingkan remaja perempuan, sehingga mereka lebih sering melakukan percobaan bunuh diri (NCHS, 2004, 2005, 2006).

16

PERKEMBANGAN KOGNITIF
ASPEK-ASPEK DALAM PENDEWASAAN SECARA KOGNITIF Kebanyakan remaja siap untuk menjalani kehidupan remaja mereka dengan penampilan yang lebih dewasa, kondisi tubuh yang sehat, serta bersemangat. Perkembangan kognitif mereka terus berlanjut, sehingga remaja ridak hanya mengalami perbedaan fisik namun juga berpikir dan berbicara dengan cara yang berbeda. Meskipun terkadang pemikiran mereka masih labil, kebanyakan remaja sudah memiliki penalaran secara abstrak dan penilaian moral yang modern, sehingga mereka mampu merencanakan sesuatu secara lebih realistis. Remaja mampu menghasilkan hipotesis sesuai dengan data yang telah mereka peroleh, sehingga pikiran mereka menjadi lebih logis dibanding anakanak. Remaja akan berusaha menyelesaikan masalah mereka dengan logis dan realistis.

TAHAP PERKEMBANGAN PIAGET: OPERASIONAL FORMAL Perkembangan kognitif menurut Piaget merupakan kebebasan bertahap yang diperoleh melalui pengalaman. Remaja telah memasuki masa perkembangan operasional formal, yang merupakan tingkatan tertinggi pada tahap perkembangan Piaget. Pada tahap ini, remaja sudah membentuk pemikiran secara abstrak. Perkembangan ini terjadi pada usia 11 tahun, yang memberi remaja cara yang inovatif, lebih fleksibel, sebagai jalan untuk memanipulasi informasi. Remaja pada tahap operasional formal sudah mampu memahami metafora dan menemukan arti suatu kata secara mendalam. Mereka berpikir dalam lingkup Apa yg seharusnya terjadi, tidak lagi menggunakan pemikiran pragmatis. Mereka mampu membayangkan kemungkinan dan melakukan uji hipotesis.

Penalaran Deduktif-Hipotesis Penalaran deduktif-hipotesis merupakan konsep dari tahapan operasional formal yang memperlihatkan kemampuan remaja untuk membuat sebuah hipotesis atau penalaran terbaik. Hal ini dapat berupa cara pemecahan masalah, seperti

17

persamaan aljabar dalam pelajaran matematika. Hipotesis yang telah diperoleh ini tentunya memerlukan pengujian untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang telah ada.

Evaluasi terhadap Teori Piaget Meskipun remaja cenderung berpikir secara abstrak dibanding anak-anak, masih terdapat perdebatan pada usia berapa tepatnya pemikiran abstrak ini muncul. Tulisan Piaget menyediakan banyak contoh dari anak-anak yang memiliki pemikiran yang lebih ilmiah sebelum mencapai usia remaja. Pada saat bersamaan, Piaget terlalu berlebihan dalam menilai kemampuan yang dimiliki anak yang lebih tua. Dalam tulisannya, Piaget kurang memperhatikan perbedaan individu, baik itu berupa cara anak dalam menyelesaikan tugasnya, atau pengaruh sosial dan budaya. Sedangkan penelitian Neo-Piagetian menyatakan bahwa proses kognitif anak terikat dengan beberapa hal, tentang apa yang dipikirkan anak, serta jenis informasi dan pengetahuan yang dimiliki anak (Case & Okamoto, 1996; Kuhn, 2006). Mempertimbangkan proses kognitif yang terajdi dalam pemerolehan informasi dan prosesnya, -akumulasi pengetahuan, keahlian khusus, proses metakognitif yang terjadi, kesadaran, dan pengamatan dari proses mental seseorang serta strategi yang digunakan- teori Piaget dianggap tidak adekuat (Flavell et al., 2002).

PERUBAHAN DALAM PEMROSESAN INFORMASI Perubahan cara remaja dalam pemrosesan informasi merefleksikan pematangan dari lobus frontal otak dan dapat membantu menjelaskan proses kognitif yang telah dijelaskan Piaget. Bagian neural mana yang melemah dan menjadi lebih kuat memiliki hubungan yang kuat dengan pengalaman yang dimiliki. Peningkatan yang terjadi dalam proses kognitif akan terus berkembang dengan pesat pada remaja (Kuhn, 2006). Terdapat dua kategori dari perubahan pengukuran pada kognisi remaja, yaitu: perubahan struktural dan perubahan fungsional.

18

Perubahan Struktural Perubahan struktural pada remaja meliputi: Perubahan kapasitas memori kerja; peningkatan kapasitas pengetahuan yang tersimpan dalam LTM (Long Term Memory). Kapasitas dalam memori kerja yang meningkat dalam masa kanak-kanak tengah akan terus berkembang selama masa remaja. Perluasan dari memori kerja dapat membuat remaja yang lebih tua mampu menyelesaikan permasalahan maupun pilihan yang tersedia. Informasi yang tersedia dalam LTM dapat berupa deklaratif, prosedural, dan konseptual: Pengetahuan Deklaratif meliputi seluruh pengetahuan faktual yang dimiliki individu. Contoh: pengetahuan bahwa 2 + 2 = 4. Pengetahuan Prosedural meliputi kemampuan (skill) yang dimiliki individu. Contoh: kemampuan mengendarai kendaraan. Pengetahuan Konseptual merupakan sebuah pemahaman, sebagai contoh: persamaan aljabar akan memberi hasil yang sama jika angka yang ada dikalikan atau ditambahkan dengan kedua sisi.

Perubahan Fungsional Proses dalam memperoleh, dan menguasai informasi sebagai aspek fungsional dari kognisi. Hal ini meliputi pembelajaran, proses mengingat, dan penalaran, keseluruhannya meningkat selama remaja. Perubahan fungsional yang paling penting diantaranya adalah (1) peningkatan yang berkesinambungan dalam kecepatan (Kuhn, 2006), serta (2) perkembangan fungsi eksekutif yang meliputi kemampuan pengambilan keputusan dan manajemen memori kerja. Kemampuan-kemampuan ini akan berkembang dalam tingkatan yang berbeda (Blakemore & Choudhury, 2006; Kuhn, 2006). Dalam sebuah penelitian, remaja mencapai tingkatan dewasa dalam respons inhibisi saat berusia 14 tahun, memproses kecepatan dalam usia 15 tahun, serta peningkatan memori kerja di usia 19 tahun (Luna et al., 2004).

19

PERKEMBANGAN BAHASA Pada umumnya, indvidu mampu mengenali 80.000 kosakata pada usia 16 hingga 18 tahun (Owens, 1996). Dengan pemikiran formal, remaja dapat menentukan serta melakukan diskusi terhadap sejumlah abstraksi seperti cinta, keadilan, dan kebebasan. Remaja akan lebih sering menggunakan beberapa macam istilah untuk mengekspresikan hubungan logis antara kalimat. Mereka menjadi lebih menyadari bahwa satu kata dapat memiliki banyak arti, serta lebih senang menggunakan metafora dan permainan kata-kata (Owens, 1996). Remaja juga menjadi lebih mampu dalam pengambilan perspektif sosial, yaitu kemampuan untuk memahami pola pikir orang lain dan tingkat pengetahuannya, sehingga mereka berbicara sesuai dengan konteksnya. Remaja juga memiliki dialek yang berbeda dari orang dewasa (bahasa gaul). Perbendaharaan kata yang dimiliki setiap orang dapat berbeda, melalui gender, etnis, usia, wilayah geografis, dan tingkat pendidikan (Labov, 1992). Sebuah studi terhadap gaya berbicara remaja di Naples, Italia, menyatakan bahwa ciri-ciri yang sama dapat muncul dalam beberapa kebudayaan dimana remaja berada dalam kategori sosial yang berbeda (Danesi, 1994, p.123).

TEORI KOHLBERG: PENALARAN MORAL Sebagai anak yang sedang mencapai tingkat kognitif yang lebih tinggi, mereka menjadi lebih mampu untuk menggunakan penalaran yang lebih kompleks terhadap isu-isu moral yang terjadi. Kecendrungan remaja untuk menjadi altruis dan empati akan meningkat di masa remaja awal. Dibandingkan dengan anakanak, remaja mampu memahami pola pikir orang lain, menyelesaikan permasalahan sosial, membangun hubungan interpersonal dengan baik, serta melihat diri mereka sebagai makhluk sosial. Kohlberg melakukan sebuah penelitian terhadap perkembangan moral pada perempuan, serta penelitian terhadap perilaku prososial pada remaja.

20

Dilema Heinz Seorang wanita sedang menderita penyakit kanker stadium lanjut. Seorang apoteker berhasil menemukan obat yang dipercaya dokter dapat menyembuhkan wanita tersebut. Apoteker tersebut menjual obat dalam dosis kecil seharga $2000, sepuluh kali lebih mahal dibandingkan obat yang biasa ia buat. Suami wanita penderita kanker tersebut, yaitu Heinz, meminjam uang kepada kerabatnya namun ia hanya mampu memperoleh $1000. Dia memohon kepada sang apoteker agar dapat menjual obatnya seharga $1000, namun apoteker tersebut menolaknya. Heinz yang sedang kehilangan arah menjadi labil. Ia merusak apotik dan mencuri obat yang dibuat apoteker tersebut. Apa yang sebaiknya Heinz lakukan? Why or why not? (Kohlberg, 1969). Permasalahan Heinz merupakan contoh yang paling terkenal dari pendekatan Kohlberg untuk meneliti perkembangan moral individu. Pada tahun 1950an, Kohlberg beserta koleganya melakukan penelitian terhadap dilema seperti Heinz pada 75 orang anak laki-laki dalam rentang usia 10, 13, dan 16 tahun. Kohlberg melakukan pengujian secara berkala selama lebih dari tiga puluh tahun. Dari penelitian ini, Kohlberg menyimpulkan bahwa cara pandang orang mencerminkan perkembangan kognitifnya.

Tingkatan dan Tahapan Kohlberg Perkembangan moral dalam teori Kohlberg turut menunjang teori Piaget, namun teori Kohlberg lebih kompleks. Kohlberg mendefinisikan tiga tingkatan penalaran moral, diantaranya: 1. Tahap I Moralitas Prakonvensional : individu berperilaku dibawa

kontrol eksternal mereka. Mereka mematuhi peraturan untuk mencegah hukuman. Tahapan ini biasanya ada pada anak usia 4-10 tahun; 2. Tahap II moralitas konvensional :individu telah menginternalisasi

tokoh yang dijadikan pemegang otoritas (standar perilaku). Tahapan ini biasanya akan dicapai pada usia 10 tahun ke atas, dimana individu akan tetap mempertahankan perilaku baik mereka, bahkan hingga dewasa;

21

3. Tahap III moralitas postkonvensional : individu menyadari adanya konflik diantara standar moraldan membuat penilaian mereka sendiri berdasarkan prinsip yang dianggap benar dan adil. Individu biasanya mencapai tahapan ini pada masa remaja akhir, atau dewasa awal.

Beberapa remaja dan orang dewasa menetap pada tahapan pertama Kohlberg. Layaknya anak-anak, mereka cenderung menghindari hukuman atau memuaskan kebutuhan mereka. Kebanyakan remaja dan orang dewasa berada pada tingkatan ke dua, dan juga tingkatan ke tiga. Mereka mengikuti orang lain untuk menaati peraturan dan hukum yang ada. Tingkatan ke empat dalam

penalaran, berupa penegakan norma sosial, mungkin kurang dikenal namun meningkat dari remaja hingga dewasa. Kohlberg menambahkan tingkatan transisi antara tingkatan ke dua dan ke tiga, dimana individu tidak merasa terikat dengan standar moral dalam masyarakat. Mereka cenderung menuruti perasaan dan insting. Sebelum individu berhasil membangun tingkatan ke tiga yaitu moralitas, mereka harus mampu menyadari adanya standar moral dalam masyarakat. Banyak anak muda yang mempertanyakan tentang moral ketika mereka mulai memasuki sekolah menengah dan bangku kuliah, serta mulai menghadapi perbedaan dari segi budaya, nilai, dan etnis.

Evaluasi Teori Kohlberg Kohlberg merupakan bagian dari Piaget yang lebih melihat pada perkembangan moral. Bahkan jika dilihat dari segi moral, terlihat semata-mata seperti pencapaian dari kontrol impuls-impuls pemuasan diri, para investigator sekarang mempelajari bagaimana anak-anak dan dewasa menanamkan moral dasar dalam pertumbuhan pemahamana mereka tentang dunia sosial. Penelitian awal mendukung penelitian Kohlberg yang menunjukkan

bahwa orang dewasa telah mencapai kemajuan dalam tahapan-tahapan Kohlberg dan tidak meninggalkan satu tahap pun. Penilaian moral mereka berkorelasi positif dengan umur, pendidikan, IQ, dan status sosial ekonomi. Beberapa penelitian terakhir, telah membuang keragu-raguan dalam penjelasan dari

22

beberapa tahapan Kohlberg. Sebuah penelitian mengenai penilaian anak-anak tentang hukum dan pelanggar hukum menunjukkan bahwa beberapa anak telah bisa memberikan alasannya tentang isu-isu pada awal umur 6 tahun. Salah satu alasan kenapa umur dihubungkan dengan tingkatan Kohlberg berubah-berubah adalah orang yang telah mencapai tingkatan yang tinggi dalam perkembangan kognitifnya tidak selalu menjangkau sebuah perbandingan dengan tingkatan tinggi dari perkembangan moral. Sebuah tingkatan yang pasti dari perkembangan kognitif adalah kebutuhan tetapi tidak cukup untuk dijadikan sebuah tingkat perbandingan dari perkembangan moral. Beberapa investigator mengemukakan bahwa aktivitas moral itu dimotivasi tidak hanya dengan pertimbangan abstrak dari penilaian tetapi juga dengan contoh emosi seperti empati, rasa bersalah, distress, dan norma prososial internal. Ini juga telah dibantah oleh tahap 5 dan 6 Kohlberg yang tidak bisa dikatakan sebagai tahap yang paling matang dari moral development karena mereka membatasi kematangan untuk memilih grup yang diberi refleksi filosofis. Selanjutnya, hubungan antara moral reasoning dan moral behavior tidak selalu mulus. Orang-orang pada level postkonventional tidak membutuhkan aksi lebih secara moral dibandingkan dengan level yang lebih rendah. Faktor lainnya seperti situasi khusus, konsep kebaikan, dan perhatian pada atribut lain dari moral behavior. Remaja yang lebih maju dalam moral reasoning melakukan pengendalian lebih terhadap moral mereka dalam bertingkah laku yang lebih baik dan teratur dan lebih tinggi dalam kompetensi sosial, dimana remaja yang antisosial memiliki kematangan yang lebih rendah dalam moral reasoning.

Pengaruh Orang Tua, Teman Sebaya, dan Budaya Tidak seperti Paiget, Kohlberg mengemukakan bahwa orang tua penting untuk perkembangan moral anak, tetapi beberapa penelitian terahir menekankan pada kontribusi orang tua pada dua aspek tersebut yaitu kognitif dan emosional. Remaja yang suportif memiliki orang tua yang berwenang untuk menstimulasi mereka untuk bertanya dan memperluas pengendalian moral reasoning mereka untuk alasan di tingkat yang lebih tinggi.

23

Teman sepermainan juga berpengaruh terhadap moral reasoning yaitu berbincang-bincang dengan orang lain tentang konflik moral. Memiliki banyak teman dekat, menghabiskan waktu luangnya bersama-sama dengan hal yang bermanfaat, dan belajar menjadi pemimpin adalah asosiasi dengan moral reasoning yang lebih tinggi. Sistem Kohlberg tidak bisa direpresentasikan di budaya non barat secara akurat seperti yang terjadi di budara barat yang mana budaya barat adalah tempat asli berkembangnya moral reasoning. Orang yang lebih tua di negara-negara lain selain AS cenderung mencapai tahap yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Namun, orang-orang dengan budaya non barat jarang memiliki skor diatas tahap 4., ini menunjukkan bahwa beberapa aspek dari model Kohlberg tidak sesuai dengan nilai budaya di negara itu.

ETIKA KEPEDULIAN: TEORI GILLIGAN Berdasarkan penelitian pada wanita, Carol Gilligan menegaskan bahwa teori Kohlberg hanya berorientasi pada nilai yang lebih penting untuk laki-laki dibandingkan dengan wanita. Gilligan mengklaim bahwa wanita melihat tidak terlalu banyak syarat dalam penilaian dan keadilan sebagai sebuah tanggung jawab untuk memperlihatkan perhatian dan menghindari kesakitan. Mereka berfokus pada tidak meninggalkan orang itu bila dibandingkan dengan berlaku tidak adil kepada mereka. Penelitian telah menemukan sedikit dukungan untuk klaim Gilligan tentang bias wanita dalam tahapan Kohlberg. Namun, penelitian telah menemukan sedikit perbedaan gender dalam relasi perhatian moral reasoning diantara remaja dalam beberapa budaya. Sebagai contoh, remaja awal perempuan di AS cenderung menekankan pada hubungan dekat dibandingkan dengan anak laki-laki. Alasannya mungkin karena anak perempuan lebih awal matang dan memiliki lebih banyak hubungan dekat secara sosial. Dalam analisisi 113 penelitian, anak perempuan dan anak laki-laki lebih berpikir tentang perhatian sedangkan pria dan wanita lebih memikirkan keadilan, tapi perbedaannya hanya sedikit.

24

PERILAKU PROSOSIAL DAN KESUKARELAAN Pemikiran prososial didasarkan pada refleksi personal tentang konsekuensi dan nilai internal serta norma meningkat dengan usia, pemikiran ini berdasarkan pada salah satu streotip seperti menolong itu baik menurun dari kanak-kanak hingga remaja akhir. Perilaku prososial juga, meningkat secara tipikal dari masa kanak-kanak sampai remaja. Anak perempuan menunjukkan perilaku prososial yang lebih dibandingkan dengan anak laki-laki dan perbedaan ini menetap sampai mereka remaja. Anak perempuan cenderung melihat diri mereka lebih empati dan prososial dibandingkan dengan anak laki-laki, dan orang tua anak perempuan lebih menekankan pada tanggung jawab sosial dibandingkan dengan orang tua anak laki-laki. Berdasarkan penelitian, anak-anak lebih muda yang memiliki orang tua dengan disiplin induktif lebih tinggi memiliki perilaku prososial saat remaja dibandingkan dengan orang tua yang menggunakan disiplin secara asertif. Sebagian remaja ikut serta dalam aktifitas prososial dan suka rela. Perilaku prososial memungkinkan remaja terlibat dalam dunia orang dewasa, untuk mengeksplor potensi mereka sebagai bagian dari komunitas dan untuk membantu mereka mengembangkan rasa identitas dalam berhubungan dengan masyarakat. Sukarelawan remaja cenderung memiliki pemahaman diri yang tinggi dan lebih berkomitmen. Sukarelawan perempuan lebih banyak dari laki-laki dan remaja yang status sosial ekonominya tinggi lebih banyak menjadi sukarelawan dibandingkan dengan yang memiliki SES rendah. Siswa yang menjadi sukarelawan cenderung lebih dibutuhkan di komunitas dibandingkan dengan yang tidak.

PENDIDIKAN DAN ISU KEJURUAN Di AS, seperti di negara industri lain dan negara berkembang, banyak siswa yang telah menamatkan sekolah tinggi dibandigkan dengan sebelumnya dan banyak juga yang mendaftar ke pendidikan yang lebih tinggi. Namun remaja di AS rata-rata kurang baik dalam pencapaian akademiknya bila dibandingkan dengan negara lain. Mari kita lihat hal-hal yang mempengaruhi pencapaian

25

sekolah dan kemudian pada anak muda yang mengalami drop out. Sehingga kita dapat merencanakan pendidikan yang lebih tinggi dan menjurus.

PENGARUH-PENGARUH DALAM PRESTASI SEKOLAH Seperti di Sekolah Dasar, beberapa faktor seperti pola asuh orang tua, SES, dan kualitas lingkungan rumah berpengaruh terhadap pencapaian sekolah pada remaja. Faktor-faktor lainnya seperti gender, etnik, pengaruh teman sepermainan, dan kepercayaan siswa terhadap dirinya.

Motivasi Siswa dan Kepercayaan Diri Di negara barat, khusunya di AS praktek pendidikan didasarkan pada asumsi bahwa siswa dimotivasi untuk belajar. Pendidik menekankan pada nilai motivasi intrinsic yaitu keinginan siswa untuk belajar demi proses pembelajaran. Sayangnya, banyak siswa di AS tudak memiliki motivasi diri dan motivadinya sering menurun ketika telah masuk kesekolah. Di budaya barat, siswa yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi adalah yang percaya terhadap kemampuan dirinya bahwa dia bisa menjadi yang terbaik dalam mengerjakan tugas dan mampu mengatur jadwal belajarnya sendiri dan seperti itu juga di sekolahnya. Penelitian menunjukkan bahwa disiplin diri dua kali lebih penting seperti IQ dalam laporan untuk tingkatan mereka dan pencapaian skor tes dan untuk seleksi dalam kompetisi program sekolah. Dalam banyak budaya, pendidikan tidak didasarkan pada motivasi tapi faktor-faktor seperti kewajiban di India, ketundukan pada pihak otoriter ( Negara Islam), dan partisipasi dari keluarga dan komunitas ( sub- Sahara Afrika). Di negara Asia, siswa diharapkan untuk belajar bukan untuk mendapatkan nilai dari pembejaran, tetapi untuk memenuhi harapan keluarga dan sosial. Pembelajaran diharapkan untuk melakukan usaha yang lebih intens, dan siswa yang gagal atau jatuh dirasa waiib untuk mengulang.

26

Pentingnya SES dan Karkateristik Hubungan Keluarga Tingginya SES menjadi prediktor yang penting dalam menentukan kesuksesan akademik. Di banyak negara, siswa dengan orang tua yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi lebih baik daripada yang orang tuanya memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah. Kesenjangan ini juga terjadi pada siswa antara siswa dengan orang tua yang memiliki status pekerjaan yang lebih tinggi dan orang tua yang memiliki status pekerjaan menengah kebawah. Memiliki lebih dari 200 buku di rumah juga berhubungan dengan skor yang lebih tinggi. Ini yang berdasarkan status sosial ekonomi. Tinggal bersama kedua orang tua adalah kunci lain dalam memprediksi kompetensi di 20 negara yang juga berhubungan denagn SES. Jadi akan merugikan pada imigran dan berbicara dengan bahasa noramatif di rumah, mempengaruhi prestasi di beberapa negara.

Gender Dalam sebuah tes internasional pada remaja di 43 negara industry, anak perempuan di semua negara membaca lebih baik dibandingkan dengan anak lakilaki. Anak laki-laki lebih unggul pada bagian matematika di sebagian negara, tapi perbedaan gender ini jarang disebutkan dalam hal membaca. Di AS remaja lakilaki dan perempuan memiliki skor yang sama dalam tes standar di sebagian besar materi pelajaran. Anak laki-laki sedikit unggul di bidang matematika dan sains, tetapi kesenjangan gender ini akan menyusut bila anak perempuan mengikuti kursus matematika dan sains dan belajar dengan baik atau lebih baik dari mereka. Anak perempuan cenderung melakukan dengan lebih baik dibandingkan dengan anak laki-laki dalam membaca dan menulis. Anak perempuan lebih baik pada tugas verbal yang meliputi menulis dan penggunaan bahasa, anak laki-laki lebih baik pada aktivitas-aktivitas yang meliputi fungsi visual dan spasial yang sangat menolong untuk matematika dan sains. Apa yang menyebabkan perbedaan gender ini? Jawabannya kompleks. Poinnya ada pada penyebab bilogis dan penjelasan lingkungan.

27

Secara biologis, otak laki-laki dan perempuan berbeda, dan akan lebih berbeda karena umur. Perempuan memiliki lebih banyak gray matter (tubuh sel neuron dan koneksi yang lebih dekat) tetapi laki-laki lebh banyak connection white matter (myelin) dan cairan serebrospinal dengan bantalan jalan sempit yang panjang dari impuls saraf. Itulah yang berfungsi untuk membantu kemapuan visual dan spasial yang juag akan manguntungkan matematika dan sains. Gray matter akan tumbuh maksimal pada awal masa remaja peremouan dan berlanjut dengan terus meningkat pada remaja laki-laki. Selain itu, juga dipengaruhi oleh korpus kalosum, yang menghubungkan 2 belahan otak, ini lebih besar pada perempuan dari pada laki-laki yang akan membantu perempuan untuk lebih baik pada pemrosesan bahasa. Tambahannya, otak perempuan terkadang lebih seimbang antara 2 hemisfernya sehingga memungkinkan untuk memiliki kemampuan yang lebih luas di bidang kognitif, dan mampu mengintegrasikan kemampuan verbal dan analitik (otak kiri) serta kemampuan spasial dan holistic (otak kanan) sedangkan laki-laki lebih

terspesialisasi karena ia hanya mengoptimalkan satu hemisfer saja. Sedangkan pengaruh sosial dan budaya terhadap perbedaan gender, meliputi : Pengaruh rumah : Diseluruh budaya, tingkatan pendidikan orang tua berhubungan dengan prestasi anak mereka. Kecuali untuk anak yang berbakat. Sikap gender orang tua juga memiliki pengaruh. Pengaruh sekolah : Ada sedikit perbedaan cara guru dalam menangani anak laki-laki dan perempuan, khususnya dalam kelas matematika dan sains. Pengaruh tetangga : Anak laki-laki merasa lebih senang jika ia memiliki banyak tetangga dan merasa sedih jika ia kehilangan tetangga nya. Peran laki-laki dan perempuan : di dalam masyarakat membantu membentuk pilihan laki-laki dan perempuan untuk kursus atau bekerja. Pengaruh budaya : Studi silang budaya menunjukkan bahwa ukuran perbedaan gender dalam performance bervariasi antara negara-negara dan

28

menjadi lebih baik. Perbedaan ini berhubungan dengan derajat persamaan gender di suatu masyarakat. Pola Asuh, Etnik, dan Pengaruh Teman Sepermainan Di budaya barat, keuntungan dari asuhan autoritatif berpengaruh terhadap prestasi selama remaja. Orang tua yang otoritatif mendesak remaja untuk melihat dua sisi dari isu-isu yang ada, berpartisipasi dalam membuat keputusan keluarga dan mengakui bahwa anak terkadang lebih banyak tahu daripadanya. Orang tua harus membuat keseimbangan antara tuntutan dengan responsifnya. Anak mereka menerima pujian dan haknya bila mendapatkan peringakta yang baik dan peringkat yang buruk didorong untuk berusaha lebih keras lagi serta menawarkan pertolongan. Orang tua yang otoriter, menyuruh remaja untuk tidak terdesak dengan atau pertanyaan orang dewasa dan mengajarkan mereka untuk Mengetahui lebih baik ketika mereka tumbuh. Anak yang berperingkat baik diperingatkan untuk menjadi lebih baik lagi sedangkan yang berperingkat rendah diberikan hukuman untuk mengurangi penguat. Orang tua yang permisif terliaht acuh tak acuh terhadap peringkat, tidak memberikan aturan dalam menonton televisi, tudak datang ke sekolah, dan tidak menotong atau mengecek pekerjaan rumah mereka. Orang tua ini mungkin bukan lalai atau tidak perhatian tetapi mungkin hanya menjaga. Mereka sudah percaya dengan tanggung jawab dari pekerja yang membantu mereka. Apakah laporan kesuksesan akademik yang secara autoritatif

meningkatkan remaja? Orang tua yang autoritatif lebih terlibat dalam proses pembelajaran mungkin karena satu faktor yaitu mereka mendorong menuju sikap positif dalam bekerja. Sebuah mekanisme halus, konsisten dengan kepercyaan diri, mungkin orang tua memengaruhi dalam bagaimana anaknyamenjelaskan tentang sukses dan gagal. Berlawanan dengan ini, orang tua yang tidak autoritatif

29

berasosiasi dengan rasa tak berdaya dan berkecil hati untuk berusaha menjadi sukses pada diri anaknya. Diantara beberapa kelompok etnis, meskipun, gaya pola asuh mungkin tidak terlalu penting dibandingkan pengaruh teman sepermainan dalam motivasi akademik dan prestasi. Dalam sebuah penelitian, Latino dan remaja Afrika Amerika bhakan dengan orang tau yang autoritatifoun anaknya tetap kurang berusaha di sekolah dibandingkan dengan siswa Eropa Amerika,rupanya disebabkan karena kurangnya dukungan teman sepermainan untuk prestasi akademik. Di lain kasus, siswa Asia Amerika, yang memiliki orang tua otoriter mendapat peringkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa Eropa Amerika dalam prestasi tes matematika, rupanya karena keduanya orang tua dan teman sepermainan. Sekolah Kualitas sekolah sangat mempengaruhi prestasi siswa. Sebuah sekolah menengah atau tinggi yang baik memiliki tata tertib, lingkungan yang aman, sumber daya material yang memadai, staf pengajar yang stabil dan rasa positif masyarakat. Budaya sekolah menempatkan penekanan kuat pada akademisi dan menumbuhkan keyakinan bahwa semua siswa dapat belajar. Hal ini juga menawarkan kesempatan untuk kegiatan ekstrakurikuler, yang menjaga siswa yang terlibat dan mencegah mereka mendapatkan kesulitan setelah sekolah. Kepercayaan guru, rasa hormat, rasa peduli kepada siswa dan memiliki harapan yang tinggi untuk mereka sebaik mungkin dalam kemampuan mereka sendiri untuk membantu siswa berhasil. Remaja lebih puas dengan sekolah jika mereka diizinkan untuk berpartisipasi dalam membuat aturan dan merasa dukungan dari guru dan siswa lain dan jika kurikulum dan pengajaran yang bermakna dan tepat menantang dan sesuai kepentingan mereka, tingkat keterampilan, dan kebutuhan. Dalam sebuah survei terhadap siswa, persepsi guru mereka, harapan guru yang tinggi adalah prediktor positif yang paling konsisten pada diri dalam mencapai tujuan dan

30

kepentingan siswa serta umpan balik negatif adalah prediktor negatif yang paling konsisten terhadap prestasi akademis dan perilaku di dalam kelas kelas. Penurunan motivasi akademik dan prestasi sering dimulai dengan transisi dari keintiman dan keakraban dari SD ke lingkungan yang lebih besar, lebih tertekan, dan kurang mendukung di sekolah menengah atau sekolah menengah pertama. KELUAR DARI SEKOLAH MENENGAH ATAS Meskipun siswa di U.S yang lebih muda telah menyelesaikan sekolah tinggi dari sebelumnya, 3,8% dari siswa SMA telah di dropout selama tahun ajaran 2004-2005. Siswa kulit hitam dan Hispanik lebih mungkin untuk dropout dari siswa kulit putih Amerika atau Asia. Namun, kesenjangan ras/etnis mulai mengalami penyempitan: 1990-2005, semua kelompok minoritas telah

menunjukkan peningkatan persentase orang dewasa usia 25 tahun atau lebih tua yang sudah selesai sekolah tinggi. Mengapa miskin dan remaja minoritas lebih mungkin untuk putus sekolah atau terkena dropout? Salah satu alasan mungkin sekolah tidak efektif: harapan guru rendah atau perlakuan yang berbeda dari siswa: kurangnya dukungan dari guru ketika di SMA daripada di tingkat SD: dan dirasakan kurikulum yang tidak relevan terhadap budaya kelompok yang kurang terwakili. Di sekolah yang menggunakan uji kemampuan, siswayang berada di tingkat kemampuan rendah atau noncollege (di mana pemuda minoritas kemungkinan akan ditugaskan) mereka biasanya memiliki pengalaman pendidikan rendah. Ditempatkan dengan rekan-rekan yang sama-sama terasing, mereka dapat mengembangkan perasaan ketidakmampuan dan sikap negatif terhadap sekolah dan terlibat dalam masalah perilaku. Masyarakat menderita ketika anak muda tidak menyelesaikan sekolahnya. Anak yang di dropout lebih cenderung menjadi pengangguran atau memiliki pendapatan rendah, berakhir pada kesejahteraan, menjadi terlibat dengan narkoba, kejahatan dan kenakalan, dan berada dalam kesehatan yang buruk.

31

Sebuah studi longitudinal yang diikuti 3,502 siswa kelas delapan sampai masa dewasa awal mengenai poin perbedaan keberhasilan menyelesaikan sekolah tinggi. Sebagai orang dewasa awal, mereka yang berhasil menyelesaikan sekolah tinggi yang paling mungkin untuk memperoleh pendidikan postsecondary, untuk memiliki pekerjaan, dan harus konsisten bekerja. Salah satu faktor penting yang membedakan completers sukses adalah keterlibatan aktif: "perhatian, minat, investasi dan usaha siswa dalam pekerjaan sekolah". Pada tingkat yang paling dasar, keterlibatan aktif berarti datang ke kelas tepat waktu, mempersiapkan diri, mendengarkan dan menanggapi guru dan mematuhi peraturan sekolah. Sebuah tingkat yang lebih tinggi dari keterlibatan aktif terdiri dari: terlibat dengan kursus tersebut - mengajukan pertanyaan mengambil inisiatif untuk mencari bantuan bila diperlukan, atau melakukan proyek tambahan. Kedua tingkat keterlibatan aktif cenderung untuk menggambarkan kinerja sekolah yang positif. Dorongan keluarga, ukuran kelas kecil, dan lingkungan, sekolah yang hangat dapat mendukung mempromosikan keterlibatan aktif.

MEMPERSIAPKAN PENDIDIKAN TINGGI ATAU KEJURUAN Bagaimana orang-orang muda mengembangkan tujuan karir? Bagaimana mereka memutuskan apakah akan pergi ke perguruan tinggi dan, jika tidak, bagaimana memasuki dunia kerja? Banyak faktor yang masuk, termasuk kemampuan individu dan kepribadian, pendidikan, sosial ekonomi dan etnis, saran dari konselor sekolah, pengalaman hidup dan nilai-nilai sosial. Kemudian kita "akan mengkaji ketentuan bagi remaja yang tidak berencana untuk pergi ke perguruan tinggi. Kami "juga akan membahas pro dan kontra dari pekerjaan di luar untuk siswa SMA.

32

Pengaruh pada Aspirasi Siswa Keyakinan efikasi diri membantu membentuk pilihan dalam mempertimbangkan pekerjaan siswa dan cara mereka mempersiapkan diri untuk karir. Selain itu, nilai-nilai orang tua serta nilai-nilai yang berkaitan dengan pengaruh prestasi akademik remaja dan tujuan kerja. Meskipun saat ini tujuan karir sangat fleksibel, namun gender dan gender stereotip masih mempengaruhi pilihan kejuruan. Anak perempuan dan anak lakilaki di Amerika Serikat sekarang memiliki kemungkinan yang sama untuk merencanakan karir di matematika dan ilmu pengetahuan. Namun, anak laki-laki jauh lebih mungkin untuk mendapatkan gelar sarjana di bidang teknik, fisika dan ilmu komputer. Sedangkan anak perempuan masih lebih mungkin untuk memilih jurusan keperawatan, kesejahteraan sosial dan profesi mengajar. Hal yang sama juga terjadi di negara-negara industri lainnya. Membimbing Siswa yang tidak Terikat untuk Kuliah Negara industri Kebanyakan menawarkan bimbingan untuk siswa non-perguruan tinggi yang terikat. Jerman, misalnya, memiliki sistem magang di mana siswa SMA pergi ke sekolah paruh waktu dan menghabiskan sisa minggu latihan sambil bekerja dan di dibayar serta diawasi oleh seorang mentor karyawan. Di beberapa komunitas, program demonstrasi membantu dalam transisi dari sekolah ke pekerjaan. Yang paling sukses menawarkan instruksi dalam keterampilan dasar, konseling, dukungan sebaya, mentoring, magang, dan penempatan kerja. Remaja di Tempat Kerja Di U.S, diperkirakan 80-90% remaja yang bekerja paruh waktu, terutama dalam pelayanan dan pekerjaan ritel. Para peneliti tidak setuju mengenai apakah kerja paruh waktu bermanfaat bagi siswa SMA (dengan membantu mereka mengembangkan keterampilan dunia nyata dan etos kerja) atau merugikan (dengan mengalihkan mereka dari tujuan jangka panjang pendidikan dan pekerjaan).

33

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa yang bekerja paruh waktu terbagi dalam dua kelompok: mereka yang berada pada tahap transisi yang cepat sampai dewasa, dan mereka yang membuat transisi yang lebih santai. The "akselerator" bekerja lebih dari 20 jam per minggu selama berada di sekolah tinggi dan menghabiskan sedikit waktu di sekolah yang berhubungan dengan kegiatan rekreasi bersama teman sebaya. Paparan ke dunia orang dewasa dapat menuntun mereka ke dalam penggunaan alkohol dan narkoba, aktivitas seksual, dan perilaku nakal. Banyak dari remaja memiliki SES relatif rendah: mereka cenderung untuk mencari pekerjaan penuh waktu setelah pulang dari sekolah tinggi dan tidak ingin untuk memperoleh gelar sarjana. Pengalaman kerja intensif di sekolah tinggi meningkatkan prospek mereka untuk bekerja dan memiliki pendapatan setelah sekolah tinggi, tapi tidak untuk jangka panjang dalam pencapaian kerja. The "balancers" Sebaliknya, bagi mereka, efek dari pekerjaan paruh-waktu tampaknya sepenuhnya baik. Ini membantu mereka untuk mendapatkan rasa tanggung jawab, kemandirian, dan rasa percaya diri dan menghargai nilai pekerjaan tetapi tidak menghalangi mereka dalam dunia pendidikan mereka. Untuk siswa SMA yang harus atau memilih untuk bekerja di luar sekolah, cenderung efek lebih positif jika mereka mencoba untuk membatasi jam kerja dan tetap terlibat dalam kegiatan sekolah. Program pendidikan kooperatif yang memungkinkan siswa untuk bekerja paruh waktu sebagai bagian dari program sekolah mereka mungkin sangat protektif. Perencanaan Kejuruan merupakan salah satu aspek dari pencarian identitas remaja. Pertanyaan "apa yang harus saya lakukan?" Sangat dekat dengan "Harus jadi apa saya?" Orang yang merasa mereka melakukan sesuatu yang berharga, dan melakukannya dengan baik, merasa baik tentang diri mereka sendiri. Mereka yang merasa bahwa pekerjaan mereka tidak peduli atau bahwa mereka tidak pandai mungkin akan bertanya-tanya tentang arti kehidupan mereka.

34

ANALISA KASUS
Satu di Antara Lima Orang Depresi (Jawa Pos 05/10/2012). Berita itu menarik sebab muncul hanya beberapa hari menjelang 10 Oktober 2012, saat orang-orang memperingati World Mental Health Day. Disebutkan, jumlah penderita depresi bertambah dan itu beriringan dengan semakin meningkatnya risiko bunuh diri karenanya. Fenomena bunuh diri meningkat di kalangan remaja. Dalam 6 bulan pertama di tahun 2012, Komnas Nasional Perlindungan Anak mencatat 20 kasus bunuh diri. Hal ini sangat memprihatinkan, mengingat remaja adalah generasi penerus. Maraknya kasus bunuh diri ini diasumsikan terjadi karena berbagai faktor. Lingkungan sekitar menjadi faktor terbesar pemicu munculnya depresi dan bunuh diri di kalangan remaja. Jumlah penderita depresi terbesar saat ini adalah remaja, mengapa? Karena masa remaja merupakan masa transisi dari kanak-kanak menuju tahapan perkembangan selanjutnya. Selayaknya golden age yang tejadi pada masa kanak-kanak, masa remaja turut menjadi penentu karakter kepribadian dan konsep diri individu. Kondisi emosional remaja memang kurang stabil, mereka senang memberontak, dan berperilaku kurang dewasa (terlalu berani mengambil risiko). Dalam hubungan sosialnya dengan orang lain -khususnya dengan orang tua- juga mengalami perubahan yang signifikan. Remaja cenderung mempersepsikan orangtua secara berbeda sehingga tidak jarang timbul konflik dengan orangtua. Sehingga hal-hal yang sebenarnya sepele dalam pandangan orangtua / orang dewasa bisa merupakan masalah besar dan serius bagi remaja. Banyaknya masalah yang tidak terfasilitasi penyelesaiannya dapat menyebabkan depresi yang berkepanjangan dan berakibat pada kematian dengan cara bunuh diri. Remaja memiliki potensi dan energi yang cukup besar karena kognisi, afeksi, dan motoriknya mengalami peningkatan perkembangan yang sangat signifikan sehingga terjadi gejolak-gejolak dalam dirinya. Atas kondisi tersebut maka dibutuhkan ruang-ruang yang luas untuk menampung semua potensi remaja yang sedang tumbuh. Sekolah dapat menjadi salah satu media penyaluran aspirasi bagi remaja. Dengan berinteraksi dengan teman sebaya dan orang lain, diharapkan akan timbul konsep diri yang positif dari seorang remaja. Dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler juga diharapkan dapat menjadi media penyaluran minat dan bakat mereka. Dengan penyaluran minat dan bakat ini, remaja menjadi lebih fokus dalam minat mereka. Diharapkan mereka dapat mengatasi permasalahan yang dialami dengan pemikiran yang lebih matang. Dengan terfasilitasinya potensipotensi remaja melalui aktivitas-aktivitas tersebut, secara tidak langsung akan meminimalkan terjadinya perilaku-perilaku buruk

35

yang kerap muncul pada remaja, seperti tawuran, narkoba, seks bebas yang bisa berujung pada depresi dan bunuh diri. Dampak positif lainnya yang muncul adalah remaja akan memiliki cakrawala berpikir yang lebih luas, memiliki cita-cita tinggi, bersemangat dalam berusaha dan belajar, lebih percaya diri, trampil berinteraksi sosial, dan cakap menghadapi persoalan hidup. Pikiran-pikiran positif akan hidup dan menjadi pendorong serta penunjuk jalan bagi remaja dalam mengambil berbagai langkah menyikapi dan menyelesaikan berbagai permasalahan. Dengan demikian, mental para remaja akan lebih cepat mengarah pada kematangan dan menjadi lebih sehat. Tak hanya fasilitas yang perlu disediakan, namun peran serta orang tua dan keluarga turut menentukan karakter pribadi seorang remaja. Cara mengkomunikasikan sesuatu haruslah dengan baik, mengingat labilnya kondisi emosional remaja di masa puber ini. Orang tua juga sebaiknya mampu memikirkan alternatif solusi yang tepat untuk memecahkan masalah anak mereka, tanpa menyebabkan adanya selisih paham antara orang tua dan anak. Dengan meningkatnya ketrampilan berkomunikasi kita kepada remaja,

harapannya kualitas komunikasi menjadi semakin baik dan bermakna. Implikasinya, kasus-kasus remaja depresi dan bunuh diri sejak awal dapat diantisipasi.

36

SOAL 1. Sebutkan dan jelaskan pengaruh sosial dan budaya terhadap perbedaan gender dalam prestasi siswa ! Jawab : Pengaruh rumah : Diseluruh budaya, level pendidikan orang tua berhubungan dengan prestasi anak mereka. Kecuali untuk anak yang berbakat. Sikap gender orang tua jua berpengaruh. Pengaruh sekolah : Ada sedikit perbedaan cara guru dalam menangani anak laki-laki dan perempuan, khususnya dalam kelas matematika dan sains, ini bisa dilihat.\ Pengaruh tetangga : Anak laki-laki merasa lebih senang jika ia memiliki banyak tetangga dan merasa sedih jika ia kehilangan tetangga nya. Peran laki-laki dan perempuan : di dalam masyarakat membantu membentuk pilihan laki-laki dan perempuan untuk kursus atau bekerja. Pengaruh budaya : Studi silang budaya menunjukkan bahwa ukuran perbedaan gender dalam performance bervariasi antara negara-negara dan enjadi lebih baik di akhir secondary school. Perbedaan ini berhubungan dengan derajat persamaan gender di suatu masyarakat. 2. Sebutkan ciri-ciri tindakan yang dilakukan oleh orang tua yang menerapkan pola asuh authoritarian ! Jawab: Orang tua menyuruh remaja untuk tidak terdesak dengan atau pertanyaan orang dewasa dan mengajarkan mereka untuk Mengetahui lebih baik ketika mereka tumbuh. Anak yang berperingkat baik diperingatkan untuk menjadi lebih baik lagi sedangkan yang berperingkat rendah diberikan hukuman untuk mengurangi penguat.

3.

Apa saja perubahan biologis yang terjadi pada masa pubertas?

Jawab:pertumbuhan tinggi dan berat yang pesat, perubahan bentuk tubuh, pematangan organ seks.

37

4.

Jelaskan karakteristik seks primer dan sekunder!

Jawab:Karakteristik seks primer merupakan organ-organ tubuh yang penting dalam reproduksi. Pada wanita, organ seks berupa ovarium, tuba fallopi, uterus, klitoris, dan vagina. Sedangkan pada pria, meliputi testis, penis, skrotum, vesikula seminalis, dan kelenjar prostat. Selama pubertas, organorgan ini mengalami pematangan. Karakteristik seks sekunder merupakan tanda psikologis dari pendewasaan yang tidak selalu meliputi organ seks. Contohnya, perubahan suara pada laki-laki dan perempuan, serta pertumbuhan rambut di berbagai bagian tubuh.

5.

Mengapa anak remaja, khususnya remaja putri lebih banyak mengalami Anorexia Nervosa?

Jawab : Ketika memasuki masa remaja, khususnya masa pubertas, remaja menjadi sangat concern atas pertambahan berat badan, terutama remaja putri, karena mereka mengalami pertambahan jumlah jaringan lemak, sehingga mudah untuk menjadi gemuk apabila mengkonsumsi makanan yang berkalori tinggi. Pada kenyataannya kebanyakan wanita ingin terlihat langsing dan kurus karena beranggapan banhwa menjadi kurus akan membuat mereka bahagia, sukses, dan popular. Remaja dengan gangguan makan memiliki masalah dengan body imagenya. Artinya mereka sudah mempunyai suatu mind set ( pemikiran yang sudah terpatri di otak ) bahwa tubuh mereka tidak ideal. Mereka merasa tubuhnya gemuk, banyak lemak disana-sini, dan tidak sedap dipandang.

6.

Mengapa remaja di Amerika serikat tingkat terkena obesitas persentasenya lebih besar dibandingkan Negara lain?

Jawab : Gizi yang baik dan olahraga yang cukup sangat penting untuk mendukung pesatnya pertumbuhan remaja dan membangun kebiasaan makan yang sehat yang akan berlangsung sampai dewasa. Sayangnya, remaja AS lebih sedikit makan buah-buahan dan sayuran dan lebih banyak mengkonsumsi makanan yang tinggi kolesterol, lemak, kalori dan rendah nutrisi dibandingkan remaja di negara-negara industri lainnya.

38

7.

Mengapa perempuan cenderung lebih rentan mengalami depresi?

Jawab: Hormon wanita yang kadang berubah-ubah, pubertas, serta sosialisasi wanita dengan lingkungan sekitar membuatnya lebih banyak berpikir. Kondisi wanita yang cenderung sensitif juga menjadikan wanita lebih mudah stres, bahkan mengalami depresi. 8. Apa kriteria yang menjadikan sebuah tahapan perkembangan

operasional formal (Piaget)? Jawab: adanya pola pikir yang lebih logis, serta menggunakan penalaran secara abstrak. Remaja tidak lagi berpikir sesuai dengan apa yang mereka lihat, namun mampu membayangkan kejadian tanpa perlu menghadirkan kejadian tersebut secara nyata. 9. Apa saja yang meliputi perubahan struktural dan fungsional dalam kognisi remaja? Jawab:Perubahan struktural pada remaja meliputi: Perubahan kapasitas memori kerja; peningkatan kapasitas pengetahuan yang tersimpan dalam LTM (Long Term Memory). Perluasan dari memori kerja dapat membuat remaja yang lebih tua mampu menyelesaikan permasalahan maupun pilihan yang tersedia. Informasi yang tersedia dalam LTM dapat berupa deklaratif, prosedural, dan konseptual: Pengetahuan Deklaratif meliputi seluruh pengetahuan faktual yang dimiliki individu. Contoh: pengetahuan bahwa 2 + 2 = 4. Pengetahuan Prosedural meliputi kemampuan (skill) yang dimiliki individu. Contoh: kemampuan mengendarai kendaraan. Pengetahuan Konseptual merupakan sebuah pemahaman, sebagai contoh: persamaan aljabar akan memberi hasil yang sama jika angka yang ada dikalikan atau ditambahkan dengan kedua sisi. Perubahan fungsional yang paling penting diantaranya adalah (1) peningkatan yang berkesinambungan dalam kecepatan (Kuhn, 2006), serta (2) perkembangan fungsi eksekutif yang meliputi kemampuan pengambilan keputusan dan manajemen memori kerja.

39

10.

Apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya drop out pada siswa? Jawab: kurikulum sekolah yang mungkin tidak bisa dipenuhi oleh siswa, kurangnya perhatian guru yang berbanding terbalik dengan pada masa sekolah dasar, kapasitas intelektual siswa, permasalahan siswa.

40