Anda di halaman 1dari 49

A.

Islam dan Studi Agama


Islam adalah
agama yang ajarannya diwahyukan oleh Allah SWT
kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW. Sumber
ajarannya meliputi berbagai segi dari kehidupan manusia
berupa Al-Quran dan Hadis, serta merupakan bagian pilar
penting kajian Islam sekaligus pijakan dan pegangan
dalam mengakses wacana pemikiran dan membumikan
praktik penghambaan kepada Allah SWT, baik yang
bersifat teologis maupun humanisasi.[1]
Islam juga memiliki definisi lainnya. Islam adalah kata
turunan (jadian) yang berarti ketundukan, ketaatan,
kepatuhan yang berasal dari kata salama artinya patuh
atau menerima. Kata dasarnya adalah salima yang berarti
sejahtera, tidak tercela, tidak bercacat. Dari kata itu
terbentuk kata masdar salamat. Dari akar kata itu
terbentuk kata-kata salm dan silm yang berarti kedamaian,
kepatuhan, penyerahan. Dari uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa arti dari perkataan Islam adalah:
kedamaian, kesejahteraan, keselamatan, penyerahan,
ketaatan dan kepatuhan.[2]
Berpijak pada arti tersebut, maka kajian Islam mengarah
kepada 3 hal, yaitu:
1. Islam yang mengarah pada ketundukan atau berserah
diri kepada Allah SWT satu-satunya sumber otoritas yang
serba mutlak. Keadaan ini membawa pada timbulnya
pemahaman terhadap orang yang tidak patuh dan tunduk
sebagai wujud dari penolakan terhadap fitrah dirinya
sendiri.
2. Islam dapat dimaknai suatu pengarahan kepada
keselamatan dunia dan akhirat, karena ajaran Islam pada
hakikatnya membina dan membimbing manusia untuk
berbuat kebajikan dan menjauhi semua larangan dalam
kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.
3. Islam bermuara pada kedamaian. Manusia merupakan
salah satu unsur yang hidup dan diciptakan dari sumber
yakni melalui seorang ayah dan ibu sehingga manusia
harus berdampingan dan harmonis dengan manusia yang
lain, makhluk yang lain bahkan berdampingan dengan
alam raya.
Pendidikan adalah usaha meningkatkan diri dalam
segala aspeknya.[3] Pendidikan merupakan penolong
utama bagi manusia untuk menjalani kehidupan ini yang
sekaligus membedakan eksistensi dengan hewan. Tanpa
pendidikan, maka manusia sekarang ini tidak akan
berbeda dengan keadaan pendahulunya pada era
purbakala. Sedangkan pendidikan islam berusaha
mengantarkan manusia mencapai keseimbangan pribadi
secara menyeluruh, serta melahirkan manusia-manusia
yang bermutu dan dapat merasakan ketenangan hidup
jika dibandingkan dengan kehidupan para pendahulunya.
Pendidikan islam (dirasah islamiyah) secara harfiah
adalah kajian tentang hal-hal yang berkaitan dengan
keislaman dan sebagai pranata sosial, juga sangat terikat
dengan pandangan islam tentang hakekat keberadaan
(eksistensi) manusia. Oleh karena itu, pendidikan islam
juga berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan
kesadaran bahwa manusia itu sama di depan Allah SWT,
serta yang membedakan hal tersebut ialah kadar
ketakwaan sebagai bentuk perbedaan secara kualitatif. [4]
Studi Islam diartikan sebagai suatu kegiatan yang
bertujuan untuk membentuk manusia agamis dengan
menanamkan aqidah keimanan, amaliah dan budi pekerti
atau akhlak yang terpuji untuk menjadi manusia yang
takwa kepada Allah SWT.[5]
Studi Islam mempunyai kedudukan paling tinggi dan
paling utama, karena pendidikan ini menjamin untuk
memperbaiki akhlak dan mengangkat mereka ke derajat
yang tinggi, serta berbahagia dalam hidup dan
kehidupannya.[6]
Studi Islam tidak hanya didasarkan atas hasil pemikiran
manusia dalam menuju kemaslahatan umum, tetapi juga
pembentukan manusia sesuai dengan kodratnya yang
mencakup dimensi imanensi (horizontal) dan dimensi
transendensi (vertikal) berupa hubungan dan pertanggung
jawabannya kepada Yang Maha Pencipta. Salah satu
kunci pokok keislaman adalah ajaran tauhid yang
menunjukkan bahwa tidak ada
perhambaan/penyembahan kecuali kepada Allah SWT.[7]
B. Pentingnya Studi Islam
Dalam studi islam, kajian yang dilakukan oleh umat
berbeda dengan kajian yang dilakukan oleh kalangan non
muslim. Bagi umat islam, mempelajari islam mungkin
untuk memantapkan iman dan mengamalkan ajaran-
ajaran yang terkandung didalamnya, sedangkan bagi non
muslim hanya sekedar diskursus ilmiah bahkan mencari
kelemahan umat islam. Dengan demikian pemahaman,
pendalaman serta pembahasan terhadap ajaran-ajaran
Islam supaya dapat dilaksanakan dan diamalkan dengan
benar oleh umat Islam, serta menjadikannya sebagai
pegangan dan pedoman hidup. Untuk mencapai tujuan
tersebut dibutuhkan kerangka pendalaman secara spesifik
diantaranya:
1. Pengkajian dan pendalaman terhadap esensi agama
dan hubungannya dengan agama lain.
Islam diturunkan oleh Allah untuk membimbing dan
mengarahkan serta menyempurnakan agama-agama agar
pemeluknya selamat di dunia dan akhirat. Agama-agama
yang mengalami penyimpangan diarahkan menjadi agama
yang monotheistik. Pengkajian dan pendalaman terhadap
pokok-pokok ajaran islam. Sebagai agama fitrah, pokok-
pokok ajaran islam perlu ditransformasikan dalam
berbagai dimensi sehingga mampu berkembang dengan
baik dan berinteraksi dengan lingkungan budaya yang
dinamis. Pengkajian dan pendalaman terhadap sumber-
sumber ajaran islam, yakni Al-Qur’an dan Hadits menjadi
landasan dalam berpikir dan berkiprah. Sebagai landasan,
Al-Qur’an dan hadits perlu dipahami secara kontekstual,
sehingga umat islam dapat menyelesaikan masalah
kehidupan manusia dan mampu menjawab tantangan
zaman.[8]
Islam adalah agama yang mempunyai misi rahmatan
lil’alamiin, memiliki prinsip dan nilai yang universal.
Beberapa prinsip yang terkandung dalam tujuan studi
islam, diantaranya: [9]
a. Universal
Pendidikan islam berdasar pada prinsip ini bertujuan
untuk membuka, mengembangkan, dan mendidik segala
aspek pribadi manusia dan dayanya sekaligus
mengembangkan segala segi kehidupan dalam
masyarakat, serta ikut menyelesaikan masalah sosial dan
memelihara sejarah dan kebudayaan.
b. Keseimbangan dan Kesederhanaan
Pendidikan islam dalam prinsip ini berarti mewujudkan
keseimbangan antara aspek-aspek pertumbuhan anak
dan kebutuhan-kebutuhan individu, baik masa kini
maupun akan datang, secara sederhana yang berapiliasi
denagn semangat fitrah yang sehat.
c. Kejelasan
Kejelasan tujuan memberi makna dan kekuatan
terhadap pengajaran sehingga memberi jawaban yang
jelas dan tegas pada jiwa, akal dalam memecahkan
masalah, tantangan dan krisis dan menghalangi terjadinya
perselisihan dalam persepsi dan interpretasi.
d. Tak Ada Pertentangan
Pendidikan sebagai sebuah proses yang bersistem,
maka hendaknya potensi-potensi pertentangan yang
mungkin terjadi di dalamnya harus dihilangkan sedemikian
rupa, termasuk salah satu di antaranya adalah dalam
pengembangan tujuan pendidikan Islam.
e. Realisme dan Realisasi
Studi islam dalam prinsip ini berusaha mencapai tujuan
melalui metode yang praktis dan realistis. Sesuai dengan
fitrah. Terealisasi sesuai dengan kondisi dan
kesanggupan individu sehingga dapat dilaksanakan pada
setiap waktu dan tempat secara ideal.
f. Perubahan yang Diinginkan
Yaitu prinsip perubahan jasmaniah, spritual, intelektual,
sosial, psikologis dan nilai-nilai menuju ke arah
kesempurnaan.
g. Menjaga Perbedaan antar Individu
h. Prinsip dinamisme
Pendidikan islam selalu memperbarui dan berkembang,
memberi respon terhadap perkembangan individu, sosial
dan masyarakat, bahkan inovasi-inovasi dari bangsa lain
di dunia.

2. Menjadikan Ajaran-Ajaran Islam Sebagai Wacana


Ilmiah
Pentingnya studi islam adalah untuk menjadikan ajaran-
ajaran islam sebagai wacana ilmiah secara transparan
yang dapat diterima oleh berbagai kalangan. Dengan
kerangka ini, dimensi-dimensi islam tidak hanya sekedar
dogmatis teologis tetapi terdapat aspek empirik sosiologis.
Studi keislaman yang mengarah pada rasionalisasi dan
adaptif adalah konstruksi terhadap studi islam yang lebih
cenderung bersifat subjektif, apologis, doktriner, dan
menutup diri. Kehidupan keagamaan dan sosial budaya
umat islam yang terkesan stagnasi dan ketinggalan
zaman perlu direformulasi. Dengan menampilkan kajian
yang objektif dan ilmiah, fenomena islam diasumsikan
negatif dan kemudian tertepis. Lebih spesifik lagi, ajaran
islam yang diklaim zaman tidak sebagaimana diasumsikan
para orientalis yang berasumsi bahwa islam adalah ajaran
yang menghendaki ketidakmajuan dan tidak mampu
menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.[10]

C. Asal Usul dan Pertumbuhan Studi Islam di Dunia


Islam
Dalam sejarah awal perkembangan islam, pendidikan
islam sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Muhammad
Saw. Adalah merupakan upaya pembebasan manusia dari
belenggu aqidah yang sesat yang telah dianut oleh
kelompok quraisy dan upaya pembebasan manusia dari
segala bentuk penindasan suatu kelompok terhadap
kelompok lain yang dipandang rendah status sosialnya.
Metode yang digunakan oleh Nabi mula-mula adalah
personal-individual kemudian meluas ke arah pendekatan
keluarga yang pada gilirannya meluas kearah pendekatan
sosiologis (masyarakat).
1. Masa Rasulullah SAW di Makkah
Masa ini berlangsung sejak diangkatnya beliau menjadi
Rasul sampai beliau hijrah ke Madinah dalam usia 53
tahun atau 17 Ramadhan/6 Agustus sampai dengan 1
Rabiul Awal/16 Juli 622 atau kurang lebih 12 setengah
tahun. Pada masa ini merupakan pembangunan fondasi
bagi kekuatan islam yaitu keimanan dan akhlak.

2. Masa Rasulullah SAW di Madinah


Masa ini dimulai semenjak hijrah beliau dari kota
Mekkah ke Madinah sampai dengan wafat beliau tanggal
13 Rabiul awal 11 H/8 Juni 632 atau berjalan kurang lebih
19 tahun. Pada masa ini terdapat pembinaan masyarakat
dalam praktik ibadah, banyak diturunkan ayat-ayat yang
berkaitan dengan hukum-hukum amaliah, ibadah, perdata,
pidana dan lain sebagainya. Dalam periode ini pendidikan
islam menyertakan peranan sanksi-sanksi hukuman dan
ganjaran terhadap individu dan masyarakat atas tanggung
jawabnya dalam mempraktekkan ajaran islam.
3. Masa sesudah Rasulullah SAW
Pembinaan dan pengembangan hukum islam dilakukan
oleh para sahabat beliau. Pada masa ini daerah islam
semakin luas serta timbul masalah-masalah baru
sehingga para sahabat merasa berkewajiban memberikan
penjelasan dan penafsiran terhadap nash-nash hukum
yang belum jelas dan memberikan fatwa atas masalah-
masalah hukum yang timbul dikalangan mereka tersebut.
Tugas memberikan fatwa kepada masyarakat setelah
para sahabat dilanjutkan oleh para Tabi’in
4. Periode Ulama Mujtahid dan Kemajuan Fikih
Kemajuan ilmu fikih dimulai pada abad ke-2 H,
disamping berijtihad, para ulama’ juga giat melakukan
penyusunan/pembukuan ilmu fikih.[11]
5. Periode Taklid
Periode ini dimulai sekitar abad VII H sampai dengan
abad XIII H. Pada abad ini para ulama umumnya tidak lagi
merlakukan ijtihad, mereka hanya membeda-bedakan
mana dalil yang kuat dan mana dalil yang lemah sehingga
bisa dikatakan ulama pada masa ini dalam keadaan statis.
Pada masa ini, yaitu setelah jatuhnya Bagdad sampai
jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon, yang ditandai dengan
runtuhnya sendi-sendi kebudayaan Islam dan
berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke
dunia Barat.
6. Periode Kebangkitan Umat Islam
Setelah umat islam menyadari akan kemundurannya
dan kelemahan-kelemahnnya, maka dunia islam muncul
kembali denagn ide-ide gerakan pembaharuan, baik
dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, militer dan
sebagainya, hal ini juga banyak pengaruhnya terhadap
perkembangan ilmu fikih. Misalnya Ibnu Taimiyah dan
Ibnul Qayyim kemudian dilanjutkan oleh para ulama
lainnya.[12]
RUANG LINGKUP STUDI ISLAM

A. Pengertian Studi Islam


Istilah Studi Islam dalam bahasa Inggris adalah Islamic
Studies, dan dalam bahasa Arab adalah Dirasat al-
Islamiyah. Ditinjau dari sisi pengertian, Studi Islam secra
sederhana dimaknai sebagai “kajian islam”. Pengrtian
Studi Islam sebagai kajian islam sesungguhnya memiliki
cakupan makna dan penertian yang luas.Hal ini wajar
adanya sebab sebuah istilah akan memiliki makna
tergantung kepada mereka yang menafsirkannya.Karena
penafsir memiliki latar belakang yang berbeda satu sama
lainnya, baik latar belakang studi, bidang keilmuan,
pengalaman, maupun berbagai perbedaan lainnya, maka
rumusan dan pemaknaan yang dihasilkannyapun juga
akan berbeda.
Selain itu, kata Studi Islam sendiri merupakan
gabungan dari dua kata, yaitu kata Studi dan kata Islam.
Kata studi memiliki berbagai pengertian.Rumusan Lester
Crow dan Alice Crow menyebutkan bahwa Studi adalah
kegiatan yang secara sengaja diusahakan dengan
maksud untuk memperoleh keterangan, mencapai
pemahaman yang lebih besar, atau meningkatkan suatu
ketrampilan.
Sementara kata Islam sendiri memiliki arti dan makna
yang jauh lebih kompleks. Kata Islam berasal dari kata
Aslama yang bararti patuh dan berserah diri. Kata ini
berakar pada kata silm yang berarti selamat, sejahtera,
dan damai.
Adapun pengertian Islam secara terminologis
sebagaimana yang dirumuskan para ahli ulama dan
cendikiawan bersifat sangat beragam tergantung dari
sudut pandang yang digunakan. Salah satu rumusan
definisi Islam adalah wahyu Allah yang disampaikan
kepada nabi Muhammad Saw.[1]
Sedangkan Studi Islam dibarat dikenal dengan
istilah Islamic Studies, secara sederhana dapat dikatakan
sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang
berhubungan dengan agama islam. Usaha mempelajari
agama Islam tersebut dalam kenyataannya bukan hanya
dilaksanakan oleh kalangan umat islam saja, melainkan
juga dilaksanakan oleh orang-orang diluar kalangan umat
islam.[2]
Studi keislaman dikalangn umat islam sendirinya
tentunya sangat berbeda tujuan dan motivasinya dengan
yang dilakukan oleh orang-orang diluar kalangan umat
islam. Dikalangan umat islam, studi keislaman bertujuan
untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran-
ajaran islam agar mereka dapat melaksanakan dan
mengamalkannya dengan benar. Sedangkan diluar
kalangna umat islam, studi keislaman bertujuan untuk
mempelajari seluk-beluk agama dan praktik-praktik agama
yang berlaku dikalangan umat islam, yang semata-mata
sebagai ilmu pengetahuan. Namun sebagaimana halnya
dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang seluk-beluk
agama dan praktik-praktik keagamaan islam tersebut bias
dimanfaatkan atau digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu,
baik yang bersifat positif maupun negative.

B. Ruang lingkup Studi Islam


Menurut Muhammad Nur Hakim, tidak semua aspek
agama khususnya islam dapat menjadi obyek studi.
Dalam konteks Studi Islam, ada beberapa aspek tertentu
dari islam yang dapat menjadi obyek studi, yaitu:
1. Islam sebagai doktrin dari tuhan yang kebenarannnya
bagi pemeluknya sudah final, dalam arti absolut, dan
diterima secara apa adanya.
2. Sebagai gejala budaya yang berarti seluruh apa yang
menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan agama,
termasuk pemahaman orang terhadap doktrin agamanya.
3. Sebagai interaksi sosial yaitu realitas umat islam.
Sementara menurut Muhammmad Amin Abdullah terdapat
tiga wilayah keilmuan agama islam yang dapat menjadi
obyek studi islam:
1. Wilayah praktek keyakianan dan pemahaman terhadap
wahyu yang telah diinterpretasikan sedemikian rupa oleh
para ulama, tokoh panutan masyarakat pada umumnya.
Wilayah praktek ini umumnya tanpa melalui klarifikasi dan
penjernihan teoritik keilmuan yang di pentingkan disisni
adalah pengalaman.
2. Wilayah tori-teori keilmuan yang dirancang dan
disusun sistematika dan metodologinya oleh para ilmuan,
para ahli, dan para ulama sesuai bidang kajiannya
masing-masing. Apa yang ada pada wilayah ini
sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah “teori-teori”
keilmuan agama islam, baik secara deduktif dari nash-
nash atau teks-teks wahyu , maupun secara induktif dari
praktek-praktek keagamaan yang hidup dalam
masyarakat era kenabian, sahabat, tabi’in maupun
sepanjang sejarah perkembangan masyarakat muslim
dimanapun mereka berada.
3. Telaah teritis yang lebih popular
disebut metadiscourse, terhadap sejarah perkembangan
jatuh bangunnya teori-teori yang disusunoleh kalangan
ilmuan dan ulama pada lapis kedua. Wilayah pada lapis
ketiga yang kompleks dan sophisticated inilah yang
sesungguhnya dibidangi oleh filsafat ilmu-ilmu keislaman.
Sedangkan menurut M.Atho’ Mudzhar menyatakan
bahwa obyek kajian islam adalah substansi ajaran-ajaran
islam, seperti kalam, fiqih dan tasawuf. Dalam aspek ini
agama lebih bersifat penelitian budaya hal ini mengingat
bahwa ilmu-ilmu keislaman semacam ini merupakan salah
satu bentuk doktrin yang dirumuskan oleh penganutnya
yang bersumber dari wahyu Allah melalui proses
penawaran dan perenungan.[3]

C. Tujuan Studi Islam


Studi Islam sebagai usaha untuk mempelajari secara
mendalam tentang islam dan segala seluk beluk yang
berhubungan dengan agama islam sudah barang tentu
mempunyai tujuan yang jelas, yang sekaligus menunjukan
kemana Studi Islam tersebut diarahkan. Dengan arah dan
tujuan yang jelas itu, maka dengan sendirinya Studi Islam
akan merupakan usaha sadar dan tersusun secara
sistematis.
Adapun arah dan tujuan Studi Islam dapat dirumuskan
sebagai berikut :
1. Untuk mempelajari secara mendalam tentang apa
sebenarnya (hakikat) agam islam itu, dan bagaimana
posisi serta hubungannya dengan agama-agama lain
dalam kehidupan budaya manusia.
Sehubungan dengan ini, Studi Islam dilaksanakan
berdasarkan asumsi bahwa sebenarnya agama islam
diturunkan oleh Allah adalah untuk membimbing dan
mengarahkan serta menyempurnakan pertumbuhan dan
perkembangan agama-agama dan budaya umat dimuka
bumi.
2. Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi
ajaran agama islam yang asli, dan bagaimana penjabaran
dan operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan
perkembangan budaya peradaban islam sepanjang
sejarahnya. Studi ini berasumsi bahwa agama islam
adalah fitrah sehingga pokok-pokok isi ajaran agama
islam tentunya sesuai dan cocok dengan fitrah manusia.
Fitrah adalah potensi dasar, pembawaan yang ada, dan
tercipta dalam proses pencipataan manusia.
3. Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar
ajaran agama islam yang tetap abadi dan dinamis, dan
bagaimana aktualisasinya sepanjang sejarahnya. Studi ini
berdasarkan asumsi bahwa agama islam sebagai agama
samawi terakhir membawa ajaran yang bersifat final dan
mampu memecahkan masalah kehidupan manusia,
menjawab tantangan dan tuntutannya sepanjang
zaman.Dalam hal ini sumber dasar ajaran agama islam
akan tetap actual dan fungsional terhadap permasalahan
hidup dan tantangan serta tuntutan perkembangan zaman
tersebut.
4. Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip
dan nilai-nilai dasar ajaran agama islam, dan bagaimana
realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta
mengontrol perkembangan budaya dan peradaban
manusia pada zaman modern ini. Asumsi dari studi ini
adalah, islam yang meyakini mempunyai misi
sebagai rahmah li al-‘alamin tentunya mempunyai prinsip
dasar yang bersifat universal, dan mempunyai daya dan
kemampuan untuk membimbing, mengarahkan dan
mengendalikan factor-faktor potensial dari pertumbuhan
dan perkembangan system budaya dan peradaban
modern.[4]

D. Pendekatan dan Metodologi Studi Islam


Untuk melakukan Studi Islam ada beberapa istilah yang
perlu dipahami dengan baik. Pemahaman terhadap istilah-
istilah ini akan memudahkan untuk memasuki bidang studi
islam. Istilah-istilah tersebut adalah pendekatan, metode
dan metodologi. [5]
Pendekatan adalah cara memperlakuakan sesuatu
Sementara metode merupakan cara mengerjakan sesuatu
. Sedangkan metodologi yaitu langkah-langkah praktis dan
sistematis yang ada dalam ilmu-ilmu tertentu yang sudah
tidak dipertanyakan lagi karena sudah bersifat aplikatif.

Berikut akan diuraikan beberapa pendekatan yang


dapat digunakan dalam studi islam:
1. Pendekatan Historis
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya
dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur
tempat, waktu objek, latar belakang, dan pelaku peristiwa
tersebut, sedangkan
Yang dimaksud pendekatan historis adalah meninjau
suatu permasalahan dari sudut peninjauan sejarah, dan
menjawab permasalahan, serta menganalisisnya dengan
menggunakan metode analisis sejarah. Sejarah atau
historis adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa
atau kejadian masa lalu yang menyangkut kejadian atau
keadaan sebenarnya. Melalui pendekatan sejarah
seseorang diajak menukik dari alam idealis kealam yang
bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini
seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau
keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis
dengan di alam empiris dan historis.[6]
2. Pendekatan Filosofis
Yang dimaksudkan pendekatan filosofis adalah melihat
suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat dan
berusaha untuk menjawab dan memecahkan
permasalahan itu dengan menggunakan metode analisis
spektulatif. Pada dasarnya filsafat adalah berpikiran untuk
memecahkan masalah atau pertanyaan dan menjawab
suatu persoalan, namuk demikian tidak semua berpikir
untuk memecahkan dan menjawab suatu permasalahan
dapat disebut filsafat yang dimaksud filsafat disini adalah
berpikir secara sistematis, radikal dan universal. Di
samping itu,filsafat mempunyai bidang (objek yang
dipikirkan) sendiri,yaitu bidang atau permasalahan yang
bersifat filosofis yakni bidang yang terletak diantara dunia
ketuhanan yang ghaib dengan dunia ilmu pengetahuan
yang nyata. Dengan demikian filsafat yang menjembatani
kesenjangan antara maslah-masalah yang bersifat
keagamaan semata-mata dengan masalah yang bersifat
ilmiah.

3. Pendekatan Ilmiah
Yang dimaksud pendekatan ilmiah adalah meninjau dan
menganalisis suatu permasalahan atau objek studi
dengan menggunakan metode ilmiah pada umumnya.
Diantara ciri pokok dari pendekatan ilmiah adalah
terjaminnya objektifitas dan keterbukaan dalam studi.
Objektifitas suatu studi akan terjamin jika kebenarannya
bisa dibuktikan dan didukung oleh dat empiris, konkret,
dan rasional. Sedangkan keterbukaan suatu studi terjadi
jika kebenaran bisa dilacak oleh siapa saja. Disamping
itu,pendekatan ilmiah selalu siap dan terbuka menerima
kritik terhadap kesimpulan studinya.
4. Pendekatan Doktriner
Adapun pendekatan doktriner atau pendekatan studi
islam secara konvensioanal merupakan pendekatan studi
di kalangan umat islam yang berlangsung adalah bahwa
agama islam sebagai objek studi diyakini sebagai sesuatu
yang suci dan merupakan doktrin-doktrin yang berasal
dari illahi yang mempunyai nilai (kebenaran) absolut,
mutlak dan universal. Pendekatan doktriner juga
berasumsi bahwa ajaran islam yang sebenarnya adalah
ajaran islam yang berkembang pada masa salaf yang
menimbulkan berbagai mazhab keagamaan,baik teologis
maupun hukum-hukum atau fiqih,yang kemudian di
anggap sebagai doktrin-doktrin yang tetap dan baku.[7]
5. Pendekatan Normatif
Maksud pendekatan normative adalah studi islam yang
memandang masalah dari sudut legal formal dan atau
normatifnya. Maksud legal formal adalah hubungannya
dengan halal dan haram, boleh atau tidak dan sejenisnya.
Sementara normatif adalah seluruh ajaran yang terkandug
dalam nash. Dengan demikian, pendekatan normatif
mempunyai cakupan yang sangat luas. Sebab seluruh
pendekatan yang digunakan oleh ahli ushul fiqih (usuliyin),
ahli hukum islam (fuqoha), ahli tafsir (mufassirin), dan ahli
hadist (muhadditsin) yang berusaha menggali aspek legal-
formal dan ajaran islam dari sumbernya adalah ternasuk
pendekatan normatif.[8]
Kelima pendekatan tersebut dimaksudkan bukanlah
sebagai pendekatan-pendekatan yang dilaksanakan
secara terpisah satu dengan yang lainnya, melainkan
merupakan satu kesatuan sistem yang dalam
pelaksanaannya secara serempak yang satu melengkapi
lainnya (complement) atau merupakan system
pendekatan system (systemic approach) .
Dalam hubungannya dengan Studi Islam, metodologi
berarti membahas kajian-kajian seputar berbagai macam
metode yang bisa digunakan dalam Studi Islam.
Adapun metode studi islam secara lebih rinci dapat
dijabarkan sebagai berikut :
1. Metode Ilmu Pengetahuan
Metode ilmu peuju pengetahuan atau metode ilmiah yaitu
cara yang harus dilalui oleh proses ilmu sehingga dapat
mencapai kebenaran. Oleh karenanya maka dalam sains-
sains spekulatif mengindikasikan sebagai jalan menuju
proposisi-proposisi mengenai yang ada atau harus ada,
sementara dalam sains-sains normative mengindikasikan
sebagai jalan menuju norma-norma yang mengatur
perbuatan atau pembuatan sesuatu.
2. Metode Diakronis
Suatu metode mempelajari islam menonjolkan aspek
sejarah. Metode ini memberi kemungkinan adanya studi
komparasi tentang berbagai penemuan dan
pengembangan ilmu pengetahuan dalam islam, sehinggga
umat islam memiliki pengetahuan yang relevan, hubungan
sebab akibat dan kesatuan integral. Metode diakronis
disebut juga metode sosiohistoris, yakni suatu metode
pemahaman terhadap suatu kepercayaan, sejarah atau
kejadian dengan melihat suatu kenyataan yang
mempunyai kesatuan yang mutlak dengan waktu, tempat,
kebudayaan, golongan, dan lingkungan dimana
kepercayaan, sejarah atau kejadian itu muncul.
3. Metode Sinkronis-Analistis
Suatu metode mempelajari islam yang memberikan
kemampuan analisis teoritis yang sangat berguna bagi
perkembangan keimananan dan mental intelek umat
islam. Metode ini tidak semata-mata mengutamakan segi
aplikatif praktis, tetapi juga mengutamakan telaah teoritis.
4. Metode Problem Solving (hill al-musykilat)
Metode mempelajari islam yang mengajak pemeluknya
untuk berlatih menghadapi berbagai masalah dari satu
cabang ilmu oengetahuan dengan solusinya. Metode ini
merupakan cara penguasaan ketrampilandari pada
pengembangan mental-intelektual, sehingga memiliki
kelemahan, yakni perkembangan pemikiran umat islam
mungkin hanya terbatas pada kerangka yang sudah tetap
dan akhirnya bersifat mekanistis.
5. Metode Empiris
Suatu metode mempelajari islam yang memungkinkan
umat islam mempelajari ajarannya melalui proses
realisasi, dan internalisasi norma dan kaidah islam dengan
satu proses aplikasi yang menimbulakan suatu interaksi
sosial, kemudian secar deskriptif proses interaksi dapat
dirumuskan dan suatu norma baru.
6. Metode Deduktif (al-Manhaj al-Isthinbathiyah)
Suatu metode memahami islam dengan cara menyusun
kaidah secar logis dan filosofis dan selanjutnya kaidah itu
diaplikasikan untuk menuntukan masalah yang dihadapi.
Metode ini dipakai untuk sarana meng-istinbatkan hukum-
hukum syara’, dan kaidah-kaidah itu benar bersifat
penentu dalam masalah-masalah furu’tanpa
menghiraukan sesuai tidaknya dengan paham
mazhabnya.

7. Metode Induktif (al-Manhaj al-Istiqraiyah)


Suatu metode memahami islam dengan cara menyusun
kaidah hokum untuk diterapkan kepada masalah-
masalah furu’ yang disesuaikan denagn madzhabnya
terlebih dahulu. Metode pengkajiannya dimulai dari
masalah-masalah khusus, lalu dianalisis, kemudian
disusun kaidah hokum dengan catatan setelah terlebih
dahulu disesuaikan dengan paham mazhabnya.[9]

Khair the Inspiration

d
Studi Al-Qur’an (Pendekatan Filologi dan History)

A. PENDEKATAN FILOLOGI
Secara etimologis, filologi berasal dari dua kata
dalam bahasa Yunani, yaitu philos yang berarti ‘cinta’ dan
logos yang berarti ‘kata’. Dengan demikian, kata filologi
membentuk arti ‘cinta kata’ atau ‘senang bertutur’ (Shipley
dalam Baroroh-Baried, 1985: 1). Arti tersebut kemudian
berkembang menjadi ‘senang belajar’, dan ‘senang
kasustraan atau senang kebudayaan’ (Baroroh-Baried,
1985: 1).[1]
Pendekatan filologi atau literal dalam studi
Islam meliputi metode tafsir sebagai pendekatan filologi
terhadap alqur’an dalam menggali makna yang
dikandungnya, pendekatan filologi terhadap hadits atau
sunnah Rasul dan pendekatan filologi terhadap teks-teks
klasik (hermeneutika) yang merupakan refleksi
kebudayaan kuno dalam tulisan-tulisan para intelek di
masanya.
Filologi selama ini dikenal sebagai ilmu yang
berhubungan dengan karya
masa lampau yang berupa tulisan. Studi terhadap
karya tulis masa lampau
dilakukan karena adanya anggapan bahwa dalam peni
nggalan aliran terkandung nilai-
nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa
kini.
B. PENDEKATAN HISTORY (SEJARAH)
Ditinjau dari sisi etimologi, kata sejarah berasal
dari bahasa Arab syajarah (pohon) dan dari
kata history dalam bahasa Inggris yang berarti cerita atau
kisah. Kata history sendiri lebih populer untuk menyebut
sejarah dalam ilmu pengetahuan. Jika dilacak dari
asalnya, kata history berasal dari bahasa
Yunani istoria yang berarti pengetahuan tentang gejala-
gejala alam, khususnya manusia.
Melalui pendekatan ini, seseorang diajak
untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan
dengan penerapan suatu peristiwa. Pendekatan sejarah
ini amat diperlukan dalam memahami Al-Qur’an karena Al-
Qur’an itu turun dalam situasi konkrit, bahkan berkaitan
dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan
ini, Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam
terhadap agama yang dalam, hal ini Islam menurut
pendekatan sejarah ketika ia mempelajari Al Qur’an
sampai pada kesimpulan bahwa pada dasarnya
kandungan Al Qur’an itu terbagi menjadi dua bagian,
yaitu; konsep dan kisah sejarah.
Pendekatan historis ini adalah suatu
pandangan umum tentang pandangan metode pengajaran
secara suksesif sejak dulu sampai sekarang.[2]Menurut
Kuntowijoyo, sejarah bersifat empiris sedangkan agama
bersifat normatif. Sejarah itu empiris karena bersandar
pada pengalaman manusia. Sedangkan ilmu agama
dikatakan normatif bukan berarti tidak ada unsur
empirisnya, melainkan normatiflah yang menjadi rujukan.
Jika pendekatan sejarah bertujuan untuk
menemukan hal-hal berkenaan Al-Qur’an dengan
menelusuri sumber-sumber sejarah, maka pendekatan ini
bisa didasarkan kepada personal historis. Pendekatan
semacam ini berusaha untuk menelusuri awal
perkembangan turunnya Al-Qur’an, untuk menemukan
sumber-sumber dan jejak perkembangan Al-Qur’an, serta
mencari pola-pola interaksi antara agama dan
masyarakat. Pendekatan sejarah pada akhirnya akan
membimbing ke arah pengembangan teori tentang evolusi
agama dan perkembangan kelompok-kelompok
keagamaan.[3]
Bersamaan dengan pendekatan filologis,
pendekatan kesejarahan juga sangat dominan dalam
tradisi kajian islam modern. Kajian terhadap naskah-
naskah klasik keislaman telah merangsang mereka untuk
mengoperasikan pendekatan kesejarahan berdasarkan
dokumen-dokumen yang telah ada.
Berikut ini ada beberapa tema yang akan
dibahas yeng bersangkutan dengan pendekatan histories.

1. Sejarah Turunnya Al-Quran


Allah SWT menurunkan Al-Qur'an dengan
perantaraan malaikat jibril sebagai pengentar wahyu yang
disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di gua hiro
pada tanggal 17 ramadhan ketika Nabi Muhammad
berusia / berumur 41 tahun yaitu surat al alaq ayat 1
sampai ayat 5. Sedangkan terakhir alqu'an turun yakni
pada tanggal 9 zulhijjah tahun 10 hijriah yakni surah
almaidah ayat 3.
Alquran turun tidak secara sekaligus, namun
sedikit demi sedikit baik beberapa ayat, langsung satu
surat, potongan ayat, dan sebagainya. Turunnya ayat dan
surat disesuaikan dengan kejadian yang ada atau sesuai
dengan keperluan. Selain itu dengan turun sedikit demi
sedikit, Nabi Muhammad SAW akan lebih mudah
menghafal serta meneguhkan hati orang yang
menerimanya. Al Qur’an diturunkan secara beransur-
ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun,
13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Penjelasan
turunnya secara berangsur-angsur itu terdapat dalam
firman Allah;

“Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-


angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan
kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi
bagian.” (QS. Al-Israa’: 106)

Turunnya Al-Qur’an merupakan peristiwa besar


yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni
langit dan bumi. Turunnya Al-Qur’an pertama kali
pada lailatul qadr merupakan pemberitahuan kepada alam
samawi yang dihuni para Malaikat tentang kemulian
Muhammad. Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan
riasalah barunya agar menjadi umat paling baik. Turunnya
Al-Qur’an kedua secara bertahap. Rasulullah tidak
menerima risalah besar ini dengan cara sekaligus.[4]
Turunnya Al-Qur’an sekaligus dijelaskan dalam
riwayat Ibnu Abbas.
“Al-Qur’an itu dipisahkan dari Az-Dzikr, lalu diletakkan di
Baitul Izzah di langit dunia. Maka Jibril mulai
menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW.(HR. Al-
Hakim)
“Allah menurunkan Al-Qur’an sekaligus ke langit dunia,
pusat turunnya Al-Qur’an secara gradual. Lalu, Allah
menurunkannya kapada Rasul-Nya bagian demi
bagian” (HR. Al-Hikam dan Baihaqi)
Adapun Al-Qur’an diturunkan secara bertahap
sebagaimana Allah SWT berfirman dalam kitabnya yang
mulia QS. Al-Baqarah 185;

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan


Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”(QS. Al-
Baqarah: 185)

Dan firmanNya QS.Al-Qadr: 1


“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran)
pada malam kemuliaan (lailatul qadar).” (QS. Al-Qadr: 1)

Nabi Muhammad s.a.w. dalam hal menerima


wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan,
di antaranya:
a) Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya.
Dalam hal ini Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu apapun,
hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam
kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: "Ruhul
qudus mewahyukan ke dalam kalbuku", (lihat surah (42)
Asy Syuura ayat (51).
b) Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa
seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya
sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-
kata itu.
c) Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya
loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi.
Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat,
meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang
sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan
duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun
ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh
Zaid bin Tsabit: "Aku adalah penulis wahyu yang
diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika
turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam
yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata.
Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau
kembali seperti biasa".
d) Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak
berupa seorang laki-laki, tetapi benar-benar seperti
rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al Qur’an surah
(53) An Najm ayat 13 dan 14.

“Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu


(dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di
Sidratil Muntaha” (QS. An Najm: 13-14)

2. Pengertian Al-Qur’an
Al-Quran adalah firman atau wahyu yang berasal
dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan
perantara melalui malaikat jibril sebagai pedoman serta
petunjuk seluruh umat manusia semua masa, bangsa dan
lokasi. Alquran adalah kitab Allah SWT yang terakhir
setelah kitab taurat, zabur dan injil yang diturunkan
melalui para rasul.
"Quran" memiliki arti mengumpulkan dan
menghimpun. Qira’ah berarti merangkai huruf-huruf dan
kata-kata satu dengan lainnya dalam satu ungkapan kata
yang teratur. Al-Qur’an asalnya sama dengan qira’ah,
yaitu akar kata (masdar-infinitif) dari qara’a, qira’atan wa
qur’anan.[5] Allah menjelaskan di dalam Al Qur’an sendiri,
ada pemakaian kata "Qur’an" dalam arti demikian
sebagai tersebut dalam ayat 17, 18 surah (75) Al
Qiyaamah:

Sesungguhnya atas tanggungan kamilah


mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya17. Apabila Kami telah selesai
membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.18 (QS. Al-
Qiyaamah: 17-18)

Adapun definisi lain Al Qur’an ialah: "Kalam Allah


s.w.t. yang merupakan mukjizat yang diturunkan
(diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di
mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta
membacanya adalah ibadah"
Dengan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan
kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad s.a.w. tidak
dinamakan Al Qur’an seperti Taurat yang diturunkan
kepada Nabi Musa a.s. atau Injil yang diturun kepada Nabi
Isa a.s. Dengan demikian pula Kalam Allah yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w yang
membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti
Hadis Qudsi, tidak pula dinamakan Al Qur’an.

3. Kodifikasi (Pengumpulan) Al-Qur’an


Yang dimaksud dengan pengumpulan Al-Qur’an
(jam’ul Qur’an) oleh para ulama adalah salah satu dari
dua pengetian berikut:[6]
Pertama, Pengumpulan dalam
arti hafazhahu (menghafalnya dalam hati). Jumma’ul
Qur’an artinya huffazuhu (para penghafalnya, yaitu orang-
orang yang menghafalkannya di dalam hati).
Kedua, pengumpulan dalam arti Kitabuhu
Kullihi (penulisan Al-Qur’an semuannya) baik dengan
memisahkan-misahkan ayat-ayat dan surat-suratnya, atau
menertibkan ayat-ayatnya semata dan setiap surat ditulis
dalam satu lembaran yang terpisah, ataupun menertibkan
ayat-ayat dan surat-suratnya dalam lembaran-lembaran
yang terkumpul yang menghimpun semua surat,
sebagiannya ditulis sesudah bagian yang lain.
a) Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Rasulullah
Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Rasulullah
yaitu dengan konteks menghafal dan konteks menulis.
Rasulullah sangat menyukai wahyu, Ia senantiasa
menunggu datangnya wahyu dengan rasa rindu, lalu
menghafal dan memahaminya, persis dengan yang
dijanjikan Allah;
“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya”. (QS. Al-Qiyamah: 17)
Oleh karena itu, ia adalah hafizh (penghafal) Al-
Qur’an pertama dan merupakan contoh paling baik bagi
para sahabat dalam menhafalnya, sebagai bentuk cinta
mereka kepada sumber agama dan risalah Islam.
Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah
dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-
Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi
SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia
memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an
kepada mereka.
Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan
ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga
memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas
pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan
kepingan-kepingan tulang.
Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun
Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa
bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW
dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat
yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga
melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan
sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-
Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan.
Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’a pada masa
Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi
hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja
atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya
adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman
bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu
Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin
Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin
Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar,
Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az
bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik.
Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis
wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin
Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin
Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin
Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan
Amr bin As.
Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka
disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk
disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tersebut belum
terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai
sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf
baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab,
setelah Rasulullah SAW wafat.
b) Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Khalifah Abu
Bakr
Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya
Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. Kemudian
Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah
sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan
demikian masanya sangat relatif singkat, yang tidak
memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya
sebelum sempurna turunnya wahyu.
Abu Bakar dihadapkan peristiwa-peristiwa besar
berkenaan dengan murtadnya sejumlah orang Arab.
Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan
mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang
murtad itu. Peperangan Yamamah pada tahun keduabelas
hijriyah melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Al-
Qur’an . dalam peperangan ini tujuh puluh qari’ dari para
sahabat gugur. Melihat itu Umar bin Khaththab merasa
sangat khawatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap
Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar
mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an karena
khawatir akan musnah.[7]
Akan tetapi, Abu Bakar menolak usulan ini dan
keberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan
oleh Rasulullah. Dari segi yang lain bahwasanya Abu
Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak
dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut
jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau
idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh
Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan
kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan
sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah
SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan
gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah
Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah.
Abu Bakar juga khawatir kalau-kalau orang
mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal
Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan
khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan
apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka
lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal
dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah
ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang
dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum
ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan
kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an.Namun
Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan
hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umar tersebut.
Akhirnya kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid
bin Tsabit, karena Zaid adalah orang yang betul-betul
memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh
shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia
adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris
wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang
terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat
Rasulullah SAW.
Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’
(bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya
terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam
agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang
tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata
Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia
memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah
seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan.
Anda adalah penulis wahyu Rasul”. Kita diminta untuk
membukukan Al-Qur’an Zaid juga menolak, ia tidak bisa
memgemban amanat yang begitu berat. “Demi Allah,
andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah
bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas
yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits). kata Zaid bin
Tsabit, Ia adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat
dari kata-katanya tersebut.
Zaid bin Tsabit bertindak sangat teliti dan hati-hati
dalam menulis Al-Qur’an. Baginya tidak cukup
mengandalkan pada hafalannya semata tanpa disertai
dengan hafalan dan tulisan para sahabat.
Al-Qur’an itu bukan saja dari tulisan-tulisan yang
telah ada pada lembaran-lembaran yang telah disebutkan
di atas, bahkan juga didengarkan pula dari mulut orang-
orang yang hafal Al-Qur’an, kemudian dituliskan kembali
pada lembaran-lembaran yang baru, dengan susunan
ayat-ayatnya tetapi seperti yang ditunjukkan Rasulullah.
Lembaran-lembaran ini kemudian diikat menjadi satu, lalu
diberi nama Mushhaf, dan disimpan sendiri oleh khalifah
Abu Bakar, kemudian oleh khalifah Umar.
Maka faedah yang nyata dalam pengumpulan Al-
Qur’an di masa Abu Bakar ini ialah bahwa Al-Qur’an itu
terkumpul di dalam satu mushhaf yang terbuat dari
lembaran-lembaran yang seragam, baik bahannya
maupun ukurannya, dan ayat-ayatnya tetap tersusun
sesuai yang telah ditunjukkan Rasulullah. Adanya
mushhasf ini telah dapat menentramkan hati kaum
muslimin, bahwa Al-Qur’an itu akan lebih terpelihara,
dapat dihindarkan dari bahaya penambahan,
pengurangan atau pemalsuan atau kehilangan sebagian
ayat-ayatnya. Mushhaf ini disimpan oleh khalifah Abu
Bakar sendiri.[8]
Lembaran-lembaran AlQur’an yang dikumpulakn
menjadi satu mushhaf pada zaman Abu Bakar mempunyai
beberapa segi kelebihan yang amat penting:
1) Penelitian yang sangat berhati-hati, detail, cermat dan
sempurna.
2) Yang ditulis pada mushhaf hanya ayat yang sudah jelas
tidak di nasakh bacaannya.
3) Telah menjadi ilma’ umat secara mutawatir bahwa yang
tercatat itu adalah ayat-ayat Al-Qur’an.
4) Mushhaf itu memiliki Qira-ah Sab’ah yang dinuqil secara
shahih.[9]
c.) Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Khalifah
Utsman bin Affan
Latar belakang pengumpulan Al-Qur’an pada masa
Usman tidak sebagaimana mestinya, sebab yang
melatarbelakangi pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu
Bakar. Pada masa Usman ini Islam telah tersebar luas.
Kaum muslimin hidup berpencar diberbagai penjuru kota
maupun pelosok. Di setiap kampung
terkenal qira’ah sahabat yang mengajarkan Al-Qur’an
kepada penduduk kampung itu. Penduduk Syam
memakai qira’ah Ubai bin Kaab. Penduduk Kufah
memakai qira’ah Abdullah bin Mas’ud, yang lainnya lagi
memakai qira’ah Abu Musa Al-Asy’ari. Maka tidak
diragukan lagi timbul perbedaan bentuk qira’ah dikalangan
mereka, sehingga membawa kepada pertentangan dan
perpecahan di antara mereka sendiri. Bahkan terjadi
sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain,
disebabkan perbedaan qira’ah tersebut.[10]
Perbedaan tersebut ialah:
Perbedaan mengenai susunan surat. Naskah-
naskah yang mereka miliki itu tidak sama susunan atau
tertib urut surat-suratnya. Hal ini disebabkan karena
Rasulullah sendiri memang tidak memerintahkan supaya
surat-surat Al-Qur’an itu disusun menurut tertib umat
tertentu, karena masing-masing surat itu pada hakikatnya
adalah berdiri sendiri, seingga seolah-olah Al-Qur’an itu
terdiri dari 114 kitab. Rasulullah hanya menetapkan tertib
urut ayat dalam masing-masing surat itu.
Perbedaan mengenai bacaan. Asal mula pertikaian
bacaan ini adalah karena Rasulullah sendiri memang
memberikan kelonggaran kepada qabilah-qabilah Islam di
Jazirah Arab untuk membaca dan melafadzkan ayat-ayat
Al-Qur’an itu menurut dealek mereka masing-masing.
Kelonggaran ini diberikan oleh Rasulullah agar mudah
bagi mereka untuk membaca dan menghafalkan Al-Qur’an
itu, tetapi kemudian kelihatanlah tanda-tanda bahwa
pertikaian tentang qiraat itu, kalau dibiarkan berlangsung
terus, tentu akan mendatangkan perpecahan yang lebih
luas dikalangan kaum kuslimin, terutama karena masing-
masing qabilah menganggap bahwa bacaan merekalah
yang paling baik dan ejaan merekalah yang paling betul.
Lebih berbahaya lagi apabila mereka menuliskan ayat-
ayat itu dengan ejaan yang sesuai dengan dealek mereka
masing-masing.[11]
Orang yang mula-mula mensinyalir dan
menumpahkan perhatian kepada keadaan ini ialah
seorang sahabat bernama Hudzaifah Al-Yamani. Ia ikut
dalam pertempuran, ketika kaum muslimin menaklukkan
Armenia dan Azarbaijan. Di dalam perjalanan ia pernah
mendengar perbedaan qiraat kaum muslimin, bahkan ia
pernah menyaksikan dua orang muslim sedang
bertengkar mengenai bacaan tersebut, di mana yang
seorang berkata kepada yang
lain: ‫”قراءتي أحسن من قراءتك‬Bacaanku lebih baik dari pada
bacaanmu”. Hudzaifah merasa khawatir melihat
kenyataan ini, sebab itu ketika ia kembali ke Madinah, ia
menghadap khalifah Usman dan melaporkan apa-apa
yang telah dilihat dan didengarnya. Mengenai perbedaan
qiraat itu Hudzaifah berkata (Al-Suyuti, I, 1979:61):
‫أدرك اآل مة قبل أن يختلفوا إختالف اليهود و النصاري‬
Tertibkanlah umat sebelum mereka berselisih, seperti
perselisiannya orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Usul Hudzaifah ini diterima khalifah
Usman.[12] Itulah sebabnya, Usman kemudian berpikir
dan merencanakan untuk membendung sebelum kegilaan
itu meluas. Beliau akan mengusir penyakit sebelum
kesulitan mencari obat. Kemudian beliau mengumpulkan
para sahabat yang alim dan jenius serta mereka yang
terkenal pandai memadamkan dan meredakan fitnah dan
persengketaan itu.
Usman ra telah melaksanakan ketetapan yang
bijaksana ini. Beliau memilih empat orang tokoh handal
dari sahabat pilihan. Mereka adalah Zaid bin Tsabit,
Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin ‘Ash dan Abdurrahman bin
Hisyam.
Mereka dari suku Quraisy golongan Muhajirin,
kecuali Zaid, ia dari golongan Anshar. Usaha yang amat
mulia ini berlangsung pada tahun 24 H.[13]
Tugas panitia ini ialah membukukan Al-Qur’an, yaitu
menuliskan atau menyalin kembali ayat-ayat Al-Qur’an itu
dari lembaran-lembaran yang telah ditulis pada masa Abu
Bakar, sehingga menjadi mushhaf yang lebih sempurna
yang akan dijadikan standar bagi seluruh kaum muslimin
sebagai sumber bacaan dan hafalan mereka.

Nita Bonita
Makalah Studi Al-Qur'an dan Studi Al-HAdist
PEMBAHASAN

A. Studi Al-Quran dalam Pendekatan Filologi


Filologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari
kata philos yang berarti cinta dan logos yang berarti
pembicaraan, kata atau ilmu. Pada kata filologi kedua,
kata itu secara harfiyah membentuk arti ”cinta kata-kata”
atau “senang bertutur”. Arti ini kemudian berkembang
menjadi “senang belajar”, “senang kepada ilmu” atau
“senang kebudayaan”, hingga dalam perkembangannya
sekarang filologi identik dengan ‘senang kepada tulisan-
tulisan yang bernilai tinggi.
Sebagai istilah, kata ‘filologi’ mulai dipakai kira-kira
abad ke-3 SM oleh sekelompok ilmuwan dari
Iskandariyah. Istilah ini digunakan untuk menyebut
keahlian yang diperlukan untuk mengkaji peninggalan
tulisan yang berasal dari kurun waktu beratus-ratus tahun
sebelumnya.
Obyek kajian filologi adalah teks, sedang sasaran
kerjanya berupa naskah. Naskah merupakan istilah yang
digunakan untuk menggambarkan peninggalan tulisan
masa lampau, dan teks merupakan kandungan yang
tersimpan dalam suatu naskah. ‘Naskah’ sering pula
disebut dengan ‘manuskrip’ atau ‘kodeks’/ tulisan tangan.
Sedangkan orang yang meneliti naskah disebut Fiolog
(Jamali, 2008).
Kemungkinan varian teks dalam berbagai naskah
dapat dilihat dari riwayat kemunculan teks itu sendiri. De
Haan berpendapat bahwa proses terjadinya teks ada
beberapa kemungkinan, sebagai berikut:
1. Aslinya ada dalam ingatan pengarang, dan apabila
seseorang ingin memiliki teks itu dapat menulisnya melalui
dikte. Maka setiap teks diturunkan (ditulis) dapat
bervariasi, dan perbedaan teks adalah bukti dari berbagai
pelaksanaan penurunan dan perkembangan cerita
sepanjang hidup pengarang.
2. Aslinya adalah teks tertulis kurang lebih merupakan
kerangka yang masih memungkinkan atau memerlukan
kebebasan seni.
3. Aslinya merupakan teks yang tidak memungkinkan
untuk diadakan penyempurnaan karena pengarangnya
telah menentukan pilihan kata yang tepat dalam bentuk
teratur. Hal ini karena pada zaman sekarang sudah ada
mesin fotocopi jadi tidak begitu menjadi kendala, tetapi
pada zaman dulu sebuah naskah diperbanyak dengan
cara menulis ulang dengan tangan dan resiko kesalahan
sangat dimungkinkan. Beberapa kesalahan disebabkan
antara lain; penyalin kurang memahami bahasa atau
pokok persoalan naskah yang disalin, atau mungkin
karena tulisannya kurang jelas (kabur/buram), atau karena
ketidak telitian penyalin sehingga beberapa huruf hilang
(haplografi).
Jadi, Pendekatan filologi atau literal dalam studi Islam
meliputi metode tafsir sebagai pendekatan filologi
terhadap alqur’an dalam menggali makna yang
dikandungnya. Sesuai dengan namanya,tafsir berarti
menjelaskan,pehaman,perincian atas kitab suci sehinggan
isi pesan kitab suci dapat di pahami sebagaimana yang di
kehendaki oleh tuhan.

B. Studi Al-Quran dalam Pendekatan Sejarah


Historis adalah asal usul, silsilah , kisah, riwayat, dan
peristiwa. Ditinjau dari sisi etimologi, kata sejarah berasal
dari bahasa Arab syajarah(pohon) dan dari
kata history dalam bahasa Inggris yang berarti cerita atau
kisah. Kata history sendiri lebih populer untuk menyebut
sejarah dalam ilmu pengetahuan. Jika dilacak dari
asalnya, kata history berasal dari bahasa
Yunani istoria yang berarti pengetahuan tentang gejala-
gejala alam, khususnya manusia. “Historis merupakan
suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa
dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, dan
latar belakang peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala
peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu
terjadi, dimana, apa sebabnya, dan siapa yang terlibat
dalam peristiwa tersebut (Abudinnata, 2007). Melalui
pendekatan sejarah ini seorang diajak untuk memasuki
keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan
suatu peristiwa. Seorang yang ingin memahami Alquran
secara benar, misalnya yang bersangkutan harus
mempelajari turunnya Alqur’an atau kejadian-kejadian
yang mengiringi turunnya Alquran (Abdullah,
2006).Menurut Kuntowijoyo, sejarah bersifat empiris
sedangkan agama bersifat normatif. Sejarah itu empiris
karena bersandar pada pengalaman manusia. Sedangkan
ilmu agama dikatakan normatif bukan berarti tidak ada
unsur empirisnya, melainkan normatiflah yang menjadi
rujukan.
Berikut ini ada beberapa tema yang akan dibahas
yeng bersangkutan dengan pendekatan histories.
1. Sejarah Turunnya Al-Quran
Allah SWT menurunkan Al-Qur'an dengan
perantaraan malaikat jibril sebagai pengantar wahyu yang
disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di gua hiro
pada tanggal 17 ramadhan ketika Nabi Muhammad
berusia / berumur 41 tahun yaitu surat al alaq ayat 1
sampai ayat 5. Sedangkan terakhir alqu'an turun yakni
pada tanggal 9 zulhijjah tahun 10 hijriah yakni surah
almaidah ayat 3.
Alquran turun tidak secara sekaligus, namun sedikit
demi sedikit baik beberapa ayat, langsung satu surat,
potongan ayat, dan sebagainya. Turunnya ayat dan surat
disesuaikan dengan kejadian yang ada atau sesuai
dengan keperluan. Selain itu dengan turun sedikit demi
sedikit, Nabi Muhammad SAW akan lebih mudah
menghafal serta meneguhkan hati orang yang
menerimanya. Al Qur’an diturunkan secara beransur-
ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun,
13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Penjelasan
turunnya secara berangsur-angsur itu terdapat dalam
firman Allah;

106. Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan


berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-
lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian
demi bagian.
Turunnya Al-Qur’an merupakan peristiwa besar yang
sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit
dan bumi. Turunnya Al-Qur’an pertama kali pada lailatul
qadr merupakan pemberitahuan kepada alam samawi
yang dihuni para Malaikat tentang kemulian Muhammad.
Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan riasalah
barunya agar menjadi umat paling baik. Turunnya Al-
Qur’an kedua secara bertahap. Rasulullah tidak menerima
risalah besar ini dengan cara sekaligus (Al-qathtan, 2006).
2. Definisi al-Quran
Al-quran adalah kitap suci (kalam ilahi) yang
diwahyukan allah SWT. Kepada nabi muhamad SAW. Ia
berfungsi sebagai rahmad dan petunjuk bagi manusia
dalam menjalami hidup dan kehidupanya. Secara
etimologis kata benda AL-Quran berasal dari kata kerja
qara”a yang mengandung arti: (Yusuf, 2003).
a) Mengumpulkan atau menghimpun
b) Menbaca atau mengkaji
Jadi kata al-quran berarti kumpulan atau himpunan
atau bacaan.
Adapun defenisi al-quran secara termenologis, seperti
yang banyak di ungkapkan oleh para ulam adalah firman
Allah (kalamulah) yang di turunkan kepada nabi
Muhammad SAW. (melalui malaikat jibril untuk di
sampaikan kepada seluruh umat manusia, dan
merupakan ibadah dalam membacanya). Berdasarkan
defenisi tersebut maka wahyu atau firman Allah yang
diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelum nabi
Muhammad SAW. Tidak di namakan Al-quran, sebab
setiap wahyu atau kitab suci yang diberikan kepada para
nabi dan rasul, Allah langsung memberikan nama kita suci
tersebut. Seperti wahyu yang diturunkan kepada nabi
musa di namakan Taurat, atau wahyu yang diturunkan
kepada nabi Isa di namakan Injil, atau wahyu yang di
turunkan kepada nabi daud di namakan zabur bahkan ada
pula wahyu allah yang diturunkan kepada nabi
Muhammad SAW. Tidak di muat dalam Al-quran atau
tidak di namakan Al-quran melainkan di sebut dengan
hadist Qudsi atau hadis Rabbani atai hadist illahi. Yang di
maksud hadis ini adalah sesuatu yang di kabarkan allah
kepada nabi dengan melalui ilham atau mimpi, kemudian
nabi menyampaikan makna dari ilham atau mimpi tersebut
dengan ungkapan kata nabi sendiri (Yusuf, 2003).

3. Kodifikasi Al-Quran
Yang dimaksud dengan kodifikasi Al-Qur’an (jam’ul
Qur’an) oleh para ulama adalah salah satu dari dua
pengetian berikut: (Al-qathtan, 2006).
Pertama, Pengumpulan dalam arti hafazhahu
(menghafalnya dalam hati). Jumma’ul Qur’an artinya
huffazuhu (para penghafalnya, yaitu orang-orang yang
menghafalkannya di dalam hati).
Kedua, pengumpulan dalam arti Kitabuhu Kullihi
(penulisan Al-Qur’an semuannya) baik dengan
memisahkan-misahkan ayat-ayat dan surat-suratnya, atau
menertibkan ayat-ayatnya semata dan setiap surat ditulis
dalam satu lembaran yang terpisah, ataupun menertibkan
ayat-ayat dan surat-suratnya dalam lembaran-lembaran
yang terkumpul yang menghimpun semua surat,
sebagiannya ditulis sesudah bagian yang lain.
Al-Quran turun kepada nabi Muhammad SAW. Tidak
sekaligus dia turun secara berangsur-angsur dalam
jangka waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Urutan
turunnyapun tidak sebagaimana susunan yang ada
sekarang, tetapi ia turun terpisah-pisah. Ayat-ayat yang
turun itu ada kalanya karena suatu sebab (Asabab An-
nuzul), tetapi adakalanya tanpa suatu sebab apapun, dan
yang terakhir inilah banyak terjadi.
Setiap kali turun ayat baru, Rasul langsung
memerintahkan para sahabatnya untuk menghapalkanya,
kemudian mencatatnya, diatas lembaran yang tersedia
pada saat itu seperti pelapa kurma, batu-batu tipis,
dedaunan dan kulit binatang. Setelah mencatatnya
mereka menyusunya, disesuaikan dengan ayat-ayat yang
turun sebelumnya berdasarkan petunjuk rosul, kemudian
menyimpanya dirumah rosul sendiri. Beliau mempunyai
beberapa sahabat yang ahli dan khusus untuk mencatat
dan memelihara seluruh wahyu yang turun, juga
senantiasa mengadakan persesuaian bacaaan dengan
jibril serta selalu mengadakan kontrol bacaan sahabatnya
(Yusuf, 2003).

C. Studi Al-Hadistdalam Pendekatan Firologi dan


Sejarah
Diantara persoalan mendasar dalam studi hadits
adalah masalah keaslian hadits, karena sedikitnya sumber
data dalam bentuk tulisan dari abad pertama Islam.
Diantara perkembangan paling baru dalam studi hadits
adalah tentang makna hadits bagi masyarakat. Salah satu
diantaranya adalah munculnya ketertarikan dalam
perdebatan tentang otoritas hadits di kalangan muslim,
yang sudah muncul dari waktu ke waktu dalam sejarah
Islam tetapi menjadi lebih intensif pada masa sekarang.
Sebagaimana al-qur’an,hadis juga banyak di teliti oleh
para ahli, bahkan dapat di katakan penelitian terhadap
hadis lebih banyak dilakukan di bandingkan dengan Al-
qur’an.Memahami suatu hadis sebagai salah satu sumber
terpenting ajaran islam setelah al-qur’an pasti memerlukan
telaah kritis, utuh dan menyeluruh .maka kajian akan
terfokus pada matan, sanad, dan perawi dari hadis
tersebut.
Pada garis besarnya pengertian hadis dapat dilihat
melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan kebahasan
(linguistik) dan pendekatan istilah (terminologis).Dilihat
dari pendekatan kebahasan, hadis berasal dari bahasa
Arab, yaitu dari kata hadatsa, yahdutsu, hadtsan dengan
pengertian yang bermacam-macam. Kata tersebut
misalnya dapat berarti al-jadid min al-asy ya’ sesuatu yang
baru, sebagai lawan kata qadim (lama), penggunaan kata
al-hadist dalam arti demikian dapat kita jumpai pada
ungkapan hadist al-bina dengan arti jadid al-bina artinya
bangunan baru. Selanjutnya, kata al-hadist dapat pula
berarti al-qarib yang berarti menunjukan pada waktu yang
dekat atau waktu yang singkat. Seperti contoh: hadis al-
‘abd bi al-islam yang berarti orang yang baru masuk islam.
Kata al-hadist juga mengandung makna al-khabar
yang berarti mayatabaddats bib wa yanqal, yaitu sesuatu
yang diperbincangkan, dibicarakan atau diberitakan, dan
dialihkan dari seseorang kepada orang lain. Dari ketiga
arti kata al-hadist tersebut, nampaknya yang banyak
digunakan adalah pengertian ketiga, yaitu sesuatu yang
diperbincangkan atau al-khabar.
Ditinjau dari segi bahasa terdapat perbedaan arti
antara kata sunah dan hadis sunah berarti tata cara,
tradisi atau perjalanan, sedangkan hadis berarti berita,
ucapan atau pernyataan atau sesuatu yang baru (Yusuf,
2003).
Berdasarkan definisi tersebut, sunah atau hadis dapat
dibagi kepada tiga bagian:
a. Sunah Qauliah,yaitu sunah dalam bentuk perkataan
atau ucapan Rasulullah SAW.
b. Sunah Fi’liyah yaitu sunah dalam bentuk perbuatan
yang menerangkan cara melaksanakan ibadah(shalat,
wudhu, manasikhaji, dan lain-lain).
c. Sunah taqririyah, yaitu ketetapan rasulullah SAW. Atau
diamnya terhadap perkataan atau perbuatan para
sahabatnya.