Anda di halaman 1dari 17

PENYAKIT SURRA

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah


ILMU PENYAKIT PARASITIK
Di ampu oleh: Muchammad Yunus, Ph.D., M.Kes., Drh

Disusun oleh:
Amirul Muslim Amrullah
061711133169

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan saya kemudahan sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya saya tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-
natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Ilmu Penyakit Parasitik dengan judul
“Penyakit Surra”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta
saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah
yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini
penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membimbing kami
dalam menulis makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Surabaya, 02 Maret 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………... i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………….. 1

A. LATAR BELAKANG……………………………………………………………... 1
B. RUMUSAN MASALAH…………………………………………………………... 2
C. TUJUAN…………………………………………………………………………… 2
D. MANFAAT………………………………………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………... 3

A. PENGERTIAN PENYAKIT SURRA……………………………………………... 3


B. PENYEBAB PENYAKIT SURRA………………………………………………... 3
C. ETIOLOGI PENYAKIT SURRA…………………………………………………..4
D. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT SURRA……………………………………………5
E. GEJALA KLINIS PENYAKIT SURRA…………………………………………... 7
F. PATOLOGI PENYAKIT SURRA………………………………………………… 8
G. CARA MENDIAGNOSIS PENYAKIT SURRA………………………………….. 8
H. DIAGNOSA BANDING PENYAKIT SURRA…………………………………… 9
I. PENGAMBILAN DAN PENGIRIMAN SPESIMEN PENYAKIT SURRA……... 9
J. PENGENDALIAN PENYAKIT SURRA…………………………………………. 9

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………... 12


A. KESIMPULAN…………………………………………………………………….. 12
B. SARAN…………………………………………………………………………….. 12

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………… 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit surra atau Trypanosomiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh
parasit darah Trypanosoma evansi. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit ternak
yang penting dan dapat menular dari hewan satu ke hewan lainnya (Adiwinata &
Dachlan. 1969). Penyakit ini ditularkan memlalui gigitan lalat yang dimana hospes
intermediet penyakit ini merupakan lalat seperti Tabanus sp, Stomoxys calcitrans, dan
Haematobia sp yang merupakan lalat penghisap dan penjilat darah. Agen infeksi tersebut
menyebar di daerah tropis dan non tropis yang dimana telah ditemukan di daerah Asia
tenggara, Afrika, dan Amerika selatan. Di Amerika selatan Trypanosomiasis ini biasanya
menyerang pada kuda, di Cina menyerang kuda, kerbau dan kuda, di Timur Tengah dan
Afrika meyerang unta, sedangkan di daerah Asia Tenggara menyerang sapi, kerbau dan
kuda. Penyakit SURRA merupakan penyakit yang dapat bersifat akut ataupun kronis
(Evans. 1880). Gejala yang dapat ditimbulkan dari penyakit ini lesu, kurus, anemia,
adanya odema di bagian dada dan bawah perut, ataupun kelumpuhan yang berakibat
kematian. Terkadang penyakit ini tidak menimbulkan gejala klinis.
Saat ini penyakit surra ini digolongkan sebagai Penyakit Hewan Menular Strategis
(PHMS), yang dimana Mentri Pertanian Ir. H. Suswono, MMA telah mengeluarkan
Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4026/Kpts./OT.140/04/2013. Pada tahun 2010
penyakit ini ditemukan pada beberapa ternak besar di Wilayah Sumba Timur dan
menyebar disebanyak enam kecamatan yakni kecamatan Lewa, Lewa Tidas, Nggaha Ori
Angu, Katala Hamulingu, Tabundung, Wulla Waijelu dan kecamatan Ngadu Ngala,
kejadian ini telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa. Pada Mei 2013 kejadian Surra
ditemukan diwilayah Banten yang meliputi Desa Pagelaran, Pandeglang, Desa Calung
Bungur, dan Lebak. Pada September 2013, terjadi di Desa Bojong Leles, Lebak, dan pada
November 2013, kasus Surra di Kabupaten Pandeglang menyebar semakin merambah ke
beberapa desa diantaranya Jiput, Pagelaran, Menes, dan Cimanuk. Di Kota Serang, Surra
menuju Desa Curug Manis, dan Pageragung. Sementara pada Maret-April 2014, kasus
Surra terjadi di Desa Pagelaran, Desa Abuan, Mones, Kabupaten Pandeglang.
Selain ditularkan oleh parasit lalat penyakit ini juga dapat ditularkan dengan
melalui daging yang dimana hewan carnivor dapat terinfeksi Trypanosomiasis apabila
memakan daging yang mengandung Trypanosoma. Penularan melalui air susu dan
selama masa kebuntingan pernah pula dilaporkan (OIE, 2009). Namun parasit ini tidak
dapat bertahan hidup diluar inang, maka resiko penularan melalui produk asal hewan
dapat di abaikan.
Mengingat pentingnya penyakit ini maka diperlukan pedoman untuk mengetahui
secara rinci dan jelas tentang penyakit tersebut sehingga memungkinkan untuk
melakukan pencegahan ataupun pengobatan. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk
menyelesaikan permasalah tersebut.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari penyakit Surra?
2. Apa penyebab dari penyakit Surra?
3. Apa Etiologi dari penyakit Surra?
4. Apa Epidemiologi dari penyakit Surra?
5. Bagaimana gejala klinis dari penyakit Surra?
6. Bagaimana patologi dari penyakit Surra?
7. Bagaimana cara mendiagnosis penyakit Surra?
8. Apa diagnosa banding dari penyakit Surra?
9. Bagaimana pengambilan dan pengiriman spesimen penyakit Surra?
10. Bagaimana pengendalian dari penyakit Surra?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari penyakit Surra
2 Untuk mengetahui penyebab dari penyakit Surra
3 Untuk mengetahui Etiologi dari penyakit Surra
4 Untuk mengetahui Epidemiologi dari penyakit Surra
5 Untuk mengetahui gejala klinis dan patologis dari penyakit Surra
6 Untuk mengetahui diagnosa banding dan cara mendiagnosis penyakit Surra
7 Untuk mengetahui pengambilan dan pengiriman spesimen penyakit Surra
8 Untuk mengetahui pengendalian dari penyakit Surra

1.4 Manfaat
1. Dapat memiliki wawasan lebih mengenai parasit bersel satu (protozoa) dari genus
Trypanosoma yang diharapkan dapat mengatasi kasus atau kejadian surra yang
terjadi
2. Dapat menjadi arsip yang dapat membantu untuk mengerjakan tugas yang
berhubungan dengan penyakit Surra

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Penyakit Surra


Surra merupakan penyakit parasit yang menular pada hewan dan disebabkan oleh
protozoa berflagella yang tersirkulasi dalam darah secara ekstraseluler yang bernama
Trypanosoma evansi. Penyakit ini dapat bersifat akut maupun kronis, tergantung pada
inangnya. Meskipun tidak dipertimbangkan sebagai penyakit zoonosis, tetapi kasus Surra
pada manusia pernah dilaporkan pada tahun 2004 yang menyerang peternak sapi di desa
Seoni-Taluka Sindevahi, Distrik Chandrapur, Maharashtra – India Tengah. Protozoa ini
ditemukan pertama kali oleh Griffith Evans pada tahun 1880 di India, sehingga namanya
diabadikan sebagai nama spesies agen penyebab Surra, Trypanosoma evansi.
Pada mulanya penyakit ini ditemukan pada kuda, unta dan bagal, tetapi ternyata
hampir semua hewan berdarah panas rentan terhadap Surra meskipun derajat
kerentaannya tidak sama. Kuda, unta dan anjing merupakan hewan yang paling rentan.
Adapun ruminansia kurang rentan.
Di Indonesia, penyakit ini lebih sering menyerang kuda, sapi, kerbau, babi, dan
anjing. Tingkat infestasi Trypanosoma evansi bervariasi tergantung pada lokasi dan
spesies inangnya. Prevalensi kejadian Trypanosomiasis pada kerbau di Sumatra, Jawa,
Kalimantan Selatan, Lombok, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara berkisar antara 5,8-
7 %. Penyakit ini disebarkan lalat penghisap darah seperti Tabanus sp, Chrysops sp. dan
Haematopota sp. Surra merupakan penyakit endemik yang telah menyebar di seluruh
wilayah di Indonesia. Dibandingkan dengan sapi, kerbau diduga lebih rentan terhadap
penyakit surra. Kerbau menunjukkan parasitemia yang lebih lama dan lebih tinggi,
sehingga kerbau diduga berperan sebagi sumber penularan yang potensial bagi ternak
lain. Penyakit surra bersifat asimptomatis sehingga sering diketahui setelah infeksi
berjalan kronis.
Kerugian ekonomi berupa pertumbuhan tubuh yang lambat, penurunan produksi
susu, hewan tidak mampu dipekerjakan optimal di sawah, penurunan kesuburan, dan
aborsi. Adapun kerugian ekonomi di benua Asia dilaporkan US $ 1,3 milyar dan dalam
skala nasional diperkirakan mencapai US $ 22,4 juta per tahun (1998). Laporan terbaru
menunjukkan bahwa hasil analisis kerugian ekonomi berdasarkan jumlah ternak yang
mati akibat Surra di delapan kecamatan daerah Waingapu Sumba Timur dari Januari –
Juni 2012 mencapai Rp. 1.416.500.000 dan apabila tidak dilakukan tindakan pencegahan
dini diperkirakan mencapai Rp. 167.224.000.000. Analisis ini belum memperhitungkan
biaya paramedik, pengobatan, pencegahan pada ternak termasuk biaya pengendalian
vektor, sehingga kerugian ekonomi dalam delapan kecamatan tersebut dapat melebihi
dari hasil hitungan diatas.

2.2 Penyebab Penyakit Surra


Trypanosoma evansi untuk pertama kalinya masuk ke Asia Tenggara melalui
ternak yang diimpor dari india. Penyakit Surra pertama kali dilaporkan di Indonesia pada
tahun 1897, saat kelompok kuda di jawa ditemukan terinfeksi dengan perjangkitan lebih
lanjut pada kerbau liar dan lembu di Jawa Timur. Berbagai usaha telah dilakukan untuk
mengendalikan penyakit ini akan tetapi ternyata hasilnya tidak efektif dan pada dekade
berikutnya Surra menjadi enzootik di sepanjang dataran rendah pulau Jawa (Jones et al.,
2005).
3
Trypanosoma evansi merupakan flagelata darah (hemoflagellate) yang mempunyai
flagellum bebas dan kinetoplast sirkular. Parasit ini bersel satu dan mempunyai bentuk
tubuh seperti kumparan dengan salah satu ujungnya lancip dan ujung yang lain tumpul.
(Ricardson dan Kendall, 1963).

Trypanosoma evansi pada hospes Vertebrata dimulai pada saat stadium infektif,
mereka masuk ke dalam tubuh Vertebrata melalui gigitan vektor (Levine 1995). Lalat
kuda (Tabanus sp.) dan (Stomoxys sp.) merupakan vector yang umum, kelelawar vampire
juga merupakan vector di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Parasit tersebut hanya
dapat hidup ± 10-15 menit dalam proboscis vektor (Soulsby, 1982) dan karena dalam
tubuh vektor tidak terjadi perkembangbiakan, maka penularannya disebut transmisi
secara mekanik. Trypanosoma evansi baru berkembangbiak setelah berada dalam tubuh
hospesnya dan perkembangbiakan tersebut secara biner longitudinal (Bartowidjojo dkk.,
1987). Distribusi Trypanosoma evansi paling banyak dalam darah perifer. Hal ini
berhubungan dengan glukosa darah. Trypanosoma evansi sebagai penyebab penyakit
Surra hidup dalam cairan darah induk semang, sehingga ia disebut sebagai parasite
ekstraseluler. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia memperoleh glukosa sebagai
sumber energi dan pemacu pertumbuhan (Adiwinata, 1957). Hal ini terjadi karena
Trypanosoma tidak dapat menyimpan karbohidrat dalam tubuhnya (Noble dan Noble,
1989)

2.3 Etiologi Penyakit Surra

Penyakit surra disebabkan oleh Trypanosoma evansi. Protozoa ini merupakan


flagellata dari subfilum Sarcomastigophora, super kelas Mastigophorasica, kelas
Zoomastigophorasida, ordo Kinetoplastorida, familia Trypanosomatidae, dan genus
Trypanosoma. Bentuk tubuhnya seperti kumparan dengan salah satu ujung lancip dan
ujung yang lain sedikit tumpul. Kebanyakan tubuhnya langsing tetapi ada pula yang
berbentuk buntak dan berbentuk tanggung (intermediate). T.evansi berukuran panjang
antara 11,7 - 33,3 µm (rata -rata 24 µm) dan lebar antara 1,0-2,5 µm (rata-rata 1,5 µm).

4
Kira-kira di tengah tubuh terdapat inti yang bulat atau sedikit oval. Di dekat ujung
tumpul terdapat 2 buah benda, yaitu blepharoplast (benda basal) dan benda para basal.
Kedua benda tersebut dihubungkan dengan serabut halus sehingga terjadi bentuk yang
sering disebut kinetoplast. Bentuk kinetoplast dijumpai terutama setelah pengobatan.
Dari benda basal muncul serabut yang disebut axonema yang melanjutkan sebagai
benang cambuk (flagella). Benang cambuk ini terikat dengan tubuh oleh selaput beralun
(membrana undulans) dan akan melanjutkan diri ke depan sebagai flagellum bebas.

Sifat Alami Agen


Trypanosoma evansi berada didalam sirkulasi darah secara ekstraseluler. Protozoa
ini berkembang didalam tubuh inang dengan cara mengambil asupan glukosa darah.
Disamping itu, aktivitas Trypanosoma evansi pada darah memicu peningkatan asam susu
dan trypanotoksin. Berdasarkan derajat patogenitasnya, Trypanosoma evansi di
Indonesia dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu high pathogen (ganas),
moderate (sedang) dan low pathogen (rendah). Isolat yang ganas mampu membunuh
hewan coba (mencit) dalam waktu 4-7 hari, sedangkan hewan coba yang diinfestasi
dengan isolat yang mempunyai patogenitas rendah mampu bertahan hidup lebih dari dua
minggu hingga sebulan. Secara molekuler, T.evansi dapat dikelompokkan menjadi tipe
A yang mengekpresikan gen Ro Tat dan tipe B (no Ro Tat).

2.4 Epidemiologi Penyakit Surra

Spesies Rentan
Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, hampir semua hewan berdarah
panas rentan terhadap penyakit surra, kecuali hewan sebangsa burung. Derajat
kerentanan hewan tergantung pada spesiesnya. Hanya hewan yang berkuku satu yang
paling tinggi derajat kerentanannya, dengan mortalitas mencapai 100%. Unta, kuda, dan
anjing adalah hewan yang paling rentan terhadap T.evansi. Adapun mencit, tikus,
marmut dan kelinci dapat digunakan sebagai hewan percobaan di laboratorium. Mencit
adalah hewan yang digunakan sebagai gold stardar untuk mendiagnosis penyakit Surra.
Hewan ruminansia kurang rentan.

Pengaruh Lingkungan
Penyebaran dan peningkatan kasus surra terkait dengan populasi vektor lalat.
Kondisi lingkungan yang sesuai dengan perkembangan vektor, seperti kelembaban yang

5
tinggi dan suhu yang ideal bagi pertumbuhan lalat akan menjadi salah satu faktor penentu
meningkatnya kasus Surra apabila tidak diikuti dengan pengobatan yang cepat dan
efektif.

Sifat Penyakit
Protozoa Trypanosoma evansi memiliki membran protein yang tebal pada
permukaannya (Variant Surface Glicoprotein=VSG) dan bersifat imunogenik. Selama
terjadinya infestasi, Trypanosoma evansi mampu mengekspresikan beberapa VSG yang
berbeda-beda secara imunologi, sehingga mampu menghindar dari respon imun
inangnya. Adanya mekanisme unik ini memungkinkan Trypanosoma evansi mampu
bertahan ditubuh inangnya selama bertahun-tahun. Disamping itu, protoza ini
mempunyai karakteristik mampu menghilang dari sirkulasi darah dan bersembunyi
dalam kelenjar limfe dalam waktu tertentu (relapse). Kondisi ini yang membuat diagnosa
menjadi keliru karena hewan dianggap telah sembuh dari serangan penyakit surra.

Cara Penularan
Penularan penyakit surra melalui vektor lalat pengisap darah yang termasuk
golongan Tabanidae. Cara penularannya secara mekanik murni, artinya Trypanosoma
tidak mengalami siklus hidup dalam lalat tersebut. Di samping lalat Tabanus, terdapat
lalat penghisap darah lain yang mampu menularkan penyakit surra, antara lain Chrysops
sp, Stomoxys sp, Heamatopota sp, Lyperosia sp, Haematobia sp. Selain itu, arthropoda
lain seperti Anopheles, Musca, pinjal, kutu dan caplak dapat pula bertindak sebagai
vektor. Hewan yang mengandung parasit tanpa menunjukkan gejala sakit merupakan
sumber penyakit.

Distribusi Penyakit
Penyakit Surra terdistribusi luas hampir di seluruh dunia. Di Indonesia, penyakit
ini pertama kali ditemukan pada seekor kuda di Semarang pada tahun 1897. Namun,
diduga penyakit surra sudah ada sebelumnya di Indonesia, hal ini berdasarkan adanya
laporan tentang banyaknya kematian hewan dengan gejala yang sama dengan gejala
penyakit surra, yang terjadi di Banten (1886-1888 dan 1893) di Tegal dan Cirebon (1886-
1888), serta di pulau Roti (1894-1896). Setelah penyakit ini ditemukan di Indonesia pada
tahun 1897, kemudian di beberapa daerah lain juga diketahui adanya kasus penyakit
surra. Sampai tahun 1957 penyakit surra telah diketahui menyebar di wilayah Indonesia.
kecuali Bali, Sumba, Flores, Maluku dan Papua. Pada tahun 1974 hanya Maluku dan
Papua saja yang masih belum dilaporkan adanya kasus penyakit surra. Kasus penyakit
surra umumnya terjadi secara sporadik, tetapi terkadang dapat juga merupakan wabah
yang menimbulkan banyak kematian. Wabah di Tegal tahun 1898 menyebabkan
kematian 500 ekor kerbau dari populasi 7.000 ekor yang ada. Kemudian wabah di
Pasuruan, menyebabkan banyak kematian pada sapi pada tahun 1900-1901. Setelah
hampir 70 tahun tidak terdengar adanya wabah surra, pada tahun 1969/1970 terjadi
wabah di Jawa Tengah yang menyebabkan kematian pada lebih dari 40.000 ekor ternak.
Pada tahun 1975, dilaporkan pula adanya kasus Tyrpanosomiasis pada kambing, yaitu di
Lampung, sedangkan di Sulawesi Tenggara terjadi Surra pada kambing di tahun 1976.
Selanjutnya pada tahun 1988, kembali terjadi wabah Surra di Kabupaten Bangkalan –
Madura yang menyerang kuda, sapi dan kerbau. Adanya kebijakan memasukkan Surra
ke dalam penyakit hewan menular strategis (PHMS), mampu menekan kejadian Surra di
6
lapang. Namun, ketika penyakit ini dicabut dari daftar tersebut, wabah kembali terjadi
bahkan telah mengintroduksi daerah-daerah yang sebelumnya dinyatakan bebas Surra
seperti Pulau Sumba dan Papua.

2.5 Gejala Klinis Penyakit Surra


a. Pada Kuda

Masa inkubasi 4-13 hari diikuti demam (temperatur lebih dari 39°C). Hewan
nampak lesu dan lemah. Mula-mula selera makan menurun kemudian pulih kembali.
Kepincangan sering terjadi pada kaki belakang, bahkan tidak jarang mengalami
kelumpuhan pada tubuh bagian belakang. Selaput lendir mata hiperemia disertai bintik-
bintik darah (ptechiae), kemudian berubah anemis berwarna kuning sampai pucat.
Kadang-kadang ditemukan adanya keratitis. Limflogandula submaxillaris bengkak dan
apabila diraba terasa panas dan hewan merasa sakit. Kadang-kadang terjadi urticaria
tanda oedema dimulai pada bagian bawah perut menyebar kearah bagian pada dada, alat
kelamin (busung papan) dan turun ke kaki belakang. Pada kuda jantan diikuti
pembengkakan buah zakar, kadang-kadang terjadi pembengkakan pada penis. Pada kuda
bunting dapat mengalami keguguran. Gejala klinis demikian juga dapat ditampakkan
pada infeksi oleh T. Equiperdum ataupun infeksi bakterial. Dalam waktu yang cepat
(kurang dari 2 minggu) kuda mengalami cahexia dan kelemahan yang hebat diikuti roboh
dan mati. Pada kasus-kasus tertentu terlihat gejala syaraf (mubeng/berputar di tempat)
sebelum jatuh dan mati. Ini terjadi karena Trypanosoma telah masuk ke dalam otak.
b. Pada Sapi dan Kerbau

Setelah melewati masa inkubasi biasanya timbul gejala-gejala umum seperti


temperatur naik, lesu, letih dan nafsu makan terganggu. Biasanya hewan dapat mengatasi
keadaan demikian meskipun dalam darahnya mengandung protozoa (Trypanosoma sp.)
tersebut selama bertahun-tahun. Apabila karena sesuatu sebab hewan tersebut menjadi
sakit, gejal-gejala yang nampak adalah demam selang seling, anemia, semakin kurus,

7
oedema di bawah dagu dan anggota gerak dan serta bulu rontok dan selaput lendir
menguning. Mula-mula cermin hidung kering kemudian keluar cairan dari hidung dan
mata. Kadang-kadang kerbau terlihat makan tanah Apabila Trypanosoma sudah masuk
dalam cairan cerebrospinal, hewan menunjukkan gejala syaraf sebagai berikut: hewan
berjalan tidak tegap (sempoyongan), berputar-putar, kejang, gerak paksa, kaku sebelum
mati.

2.6 Patologi Penyakit Surra


Apabila penyakit berjalan akut, hewan yang mati karena surra tidak menunjukkan
perubahan anatomi yang nyata. Hewan mati pada umumnya dalam kondisi masih baik.
Namun, pada anjing dan kucing terjadi kebengkakan limpa dan kelenjar limpa. Hewan
yang mati akibat surra yang kronis, meskipun tidak terdapat perubahan yang menciri,
namun biasanya terlihat adanya perubahan seperti keadaan tubuh sangat kurus, anemia,
busung seperti gelatin di bawah kulit, terdapat cairan serosa pada rongga perut dan
pericardium, serta petechiae pada selaput lendir dan selaput serosa, dan sering kali
terdapat luka di lidah dan lambung. Pada kuda terjadi pembengkakan ginjal dengan
warna kuning kecoklatan.

2.7 Cara Mendiagnosis Penyakit Surra

Pemeriksaan mikroskopik secara langsung


a. Pemeriksaan preparat ulas darah natif
Darah perifer diambil dari vena auricularis ataupun vena coccigea. Darah sebanyak
2-3 µl diteteskan pada kaca obyek dan ditutup dengan kaca penutup. Kaca obyek
tersebut kemudian diamati di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 200x400
kali.
b. Pemeriksaan preparat ulas darah dengan pewarnaan Giemsa
Teteskan 10 µl darah pada kaca obyek dan diratakan. Preparat ulas darah dibiarkan
hingga mengering (sekitar 1 jam). Preparat kemudian diwarnai dengan pewarnaan
Giemsa (1 tetes giemsa komersial + PBS pH 7,2) selama 25 menit.
c. Pemeriksaan biopsi cairan limfa dan edema
Biopsi cairan limfa dapat dilakukan pada limfonglandula prescapular atau
limfoglandula precrural. Cairan limfa tersebut kemudian diamati di bawah
mikroskop.

Metoda konsentrasi
Jumlah parasit yang menginfeksi inang dapat bersifat sub-klinis atau karier,
sehingga tidak terdapat banyak parasit di dalam darah. Hal tersebut membuat pengamatan
mikroskopis sulit dilakukan. Metoda konsentrasi dapat digunakan untuk mendeteksi
keberadaan Trypanosoma evansi, meskipun dalam jumlah yang sedikit. Metoda
konsentrasi tersebut dapat dilakukan dengan pengujian HMCT (Haematocrit
Centrifugation Technique), Murray test atau BCM (Buffy Coat Method), dan mini-anion
exchange centrifugation technique.

Inokulasi pada hewan percobaan

8
Trypanosoma evansi dapat menginfestasi rodensia, seperti tikus dan mencit.
Infestasi dilakukan dengan cara inokulasi, yaitu tikus atau mencit diinjeksi dengan
sampel darah secara intraperitoneal. Konsentrasi yang diinokulasikan adalah 1-2 ml pada
tikus dan 0,25-0,5 ml pada mencit. Setelah 48 jam, darah mencit atau tikus dikoleksi
dengan cara potong ekor, lalu diamati di bawah mikroskop.

Deteksi DNA Trypanosoma


Deteksi DNA Trypanosoma dapat dilakukan dengan metode DNA probes, antigen
detection, dan PCR.

Uji Serologi
Secara serologi, deteksi Trypanosoma evansi dapat dilakukan dengan metoda
ELISA, IFAT, CAT (Card Agglutination Tests), dan Immune Trypanolysis Tests.

2.8 Diagnosa Banding Penyakit Surra


Kuda: African horse sickness, equine viral arteritis, equine viral anemia, dourine.
infestasi larva cacing Strongylus vulgaris.
Ternak ruminansia: Babesiosis, anaplasmosis, theileriasis, malnutrisi, haemorhagic
septicaemia, edema di bawah dagu pada penyakit ingusan (coryza gangraenosa bovum).

2.9 Pengambilan Dan Pengiriman Spesimen Penyakit Surra


Spesimen atau sampel untuk pemeriksaan laboratorium dapat dikirimkan berupa:
a. Sediaan ulas darah tipis/tebal yang sudah difiksasi dengan methanol absolut
b. Darah berisi anti koagulan
c. Serum dalam termos berisi es

2.10 Pengendalian Penyakit Surra


1. Pengobatan
Belum ada vaksin yang diproduksi untuk mencegah penyakit surra, sedangkan obat
surra yang direkomendasikan adalah suramin, isometamidium klorida, dan
diminizena aceturate. Meskipun suramin diketahui paling efektif untuk mengobati
Trypanosomiasis, tetapi sediaan ini tidak dijumpai di Indonesia.
2. Pelaporan, Pencegahan, Pengendalian dan Pemberantasan
a. Pelaporan
Bagi para petugas yang menemukan panyakit Surra pada semua ternak
diwajibkan:
(1) Memberi laporan kejadian kasus penyakit Surra beserta tindakan yang telah
dilakukan oleh kepala pemerintahan setempat, dengan tembusan kepada Dinas
Peternakan atasannya.
(2) Apabila dipandang perlu, dapat menyarankan kepada Kepala Pemerintahan
untuk mengeluarkan surat keputusan tentang penutupan daerah pembatasan
lalulintas ternak/hewan di dalam wilayahnya.
(3) Melakukan tindakan yang dianggap perlu sesuai dengan peraturan yang
berlaku dan melaporkannya kepada atasan.
b. Pencegahan

9
Pencegahan melalui vaksinasi sampai saat ini belum dapat dilakukan. Tindakan
pencegahan lainnya yang dapat dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang
berlaku adalah:
(1) Pengeringan tanah dan penertiban pembuangan kotoran yang merupakan
tempat berkembang biaknya lalat.
(2) Penyemprotan hewan/kandang dengan Asuntol atau insektisida lain yang
sama khasiatnya.
c. Pengendalian dan Pemberantasan
(1) Pengendalian berdasarkan legislasi
a) Ternak yang menderita Surra atau tersangka sakit diisolasi sehingga
terlindung dari lalat (dengan penutupan kandang dan penggunaan
insektisida) dan tidak dapat berhubungan dengan ternak lain.
b) Bilamana penyakit Surra ditemukan lebih dalam satu halaman dari suatu
kampung atau desa, maka ternak yang sakit atau tersangka sakit pada
wilayah tersebut, harus diasingkan sejak fajar sampai matahari terbenam,
kecuali jika pada ternak tersebut telah dilakukan tindakan pencegahan.
c) Pada pintu masuk halaman kampung atau desa yang terdapat ternak sakit
atau tersangka sakit, harus dipasang papan yang menyatakan adanya
Penyakit Hewan Menular Surra, disertai dengan bahasa daerah setempat.
d) Ternak sebagaimana tersebut pada butir 1 dan 2, sepanjang tidak
memperlihatkan gejala sakit dapat digunakankan/dipekerjakan dalam
kegiatan pertanian dan pengangkutan. Namun selama dipekerjakan ternak
tersebut harus terlindung dari lalat.
e) Pada malam hari ternak dapat dilepaskan di padang penggembalaan dan
dimandikan.
f) Apabila pada beberapa desa dalam suatu daerah terinfeksi surra, maka
pada daerah tersebut diberlakukan larangan pemasukan dan pengeluaran
ternak, serta penyelenggaraan pasar hewan dan penggembalaan ternak
pada siang hari. Ternak yang melintas di daerah tersebut dapat di ijinkan
dengan jaminan bahwa temak tersebut telah terlindung dari lalat.
g) Setelah ternak yang sakit sembuh, maka dokter hewan yang berwenang
dapat menerbitkan surat keterangan dan ternak yang bersangkutan dapat
dibebaskan dari tindakan isolasi
h) Penyakit dapat dianggap telah lenyap dari suatu daerah setelah lewat 3
(tiga) bulan sejak kematian atau sembuhnya ternak yang sakit terakhir.
i) Semua ternak yang mati karena surra harus dibakar atau dikubur.
j) Diagnosa, tindakan pencegahan dan pengobatan dalam pemberantasan
penyakit Surra termasuk vektornya harus mengikuti petunjuk Diretur
Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
(2) Pengendalian melalui inang
a) Pada daerah wabah Surra
1) Semua hewan yang peka terhadap Surra diperiksa darahnya,
kemudian dikelompokkan sesuai dengan hasil pemeriksaan, yaitu:
−Hewan dengan gejala saraf dibunuh. −Hewan-hewan positif diobati.
−Hewan tersangka yang negatif, diambil darahnya untuk percobaan
biologik.

10
2) Pemasukan dan pengeluaran ternak yang rentan ke dan dari daerah ini
dilarang
b) Pada daerah sekitar wabah Surra
1) Hewan tersangka diperiksa darahnya, kemudian dikelompokkan
sesuai dengan hasil pemeriksaan, yaitu: −Hewan positif diobati.
−Hewan negatif diambil darahnya untuk percobaan biologik.
2) Wajib lapor apabila ada hewan yang mati atau sakit.
c) Pada daerah Surra
1) Hewan tersangka diperiksa darahnya, kemudian dikelompokkan
sesuai dengan hasil pemeriksaan, yaitu : −Hewan positif diobati.
−Hewan negatif diambil darahnya untuk pemeriksaan biologik.
2) Wajib lapor apabila terdapat hewan yang mati atau sakit.
(3) Pengendalian melalui vektor
Insektisida sebagai bahan untuk pemberantasan terhadap vektor.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penyakit surra merupakan penyakit yang disebabkan oleh Trypanosoma evansi dan
dapat menyerang hewan vertebrata jenis apapun. Penyakit ini tergolong PHMS atau
penyakit hewan menular strategis dan sangat berbahaya karena bersifat akut dan kronis,
juga tidak memiliki gejala yang spesifik. Penyebaran penyakit ini sendiri tergantung pada
vektor penyebarannya. Epidemiologi dari penyakit ini telah meyebar mulai dari Afrika,
Asia Tengah, Selatan, dan Tenggara, dan juga Amerika Selatan. Morfologinya sendiri
berbentuk runcing di kedua ujungnya dengan ukuran 23 – 25 µm. ditengahnya terdapat
karsioma yang terletak hampir di sentral. Siklus hidupnya sendiri dapat beberapa fase
leismania. Leptomonas, kritidia dan trypanosome. Siklus penularannya terjadi karena 2
vektor yaitu vektor mekanik yang melalui perantara lalat dan biologis melalui perantara
daging dan darah.
Gejala klinis yang dapat ditimbulkan dari infeksi Trypanosoma evansi ini berbeda
beda setiap hospes tetapi tidak memiliki gejala yang amat spesifik. Umumnya gejalanya
berupa demam tinggi berulang yang diikuti dengan gejala sekunder berupa anorexsia,
kelemahan, aborsi, kekurusan dan penurunan produksi. Diagnosa yang dapat dipakai
untuk mendeteksi adanya Trypanosoma ialah dengan melakukan uji serologi dapat
dilakukan dengan metode card agglutination test for trypanosomes (CATT). Pencegahan
tentunya mengendalikan faktor lingkungan dan security kandang. Sedangkan pengobatan
dapat diberikan antrycide secara sub cutan, suramin secara intra vena,
diminazeneacceturat secara intra muscular, dan isometadium secara intra muscular.

3.2 Saran
Adapun saran saya ialah untuk selalu menjaga bio security dari kandang untuk
mengendalikan penyakit surra maupun penyakit lainnya mengingat sangat berbahayanya
penyakit surra ini. Karena kita tahu mencegah lebih baik dari mengebati.

12
DAFTAR PUSTAKA

Astuti, U. N. W., Rismawati, D., Hidayati, S., Suntoro, S. H. Pemanfaatan Mindi (Melia
azdarach L.) Sebagai Anti Parasit Trypanosoma evansi Dan Dampaknya Terhadap Struktur
Jaringan Hepar Dan Ginjal Mencit

Soenardi, Sapardi, M., Pakpahan, S., Herijanto, A. 1983. Peta Beberapa Penyakit Hewan Di
Propinsi Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Hemera Zoa 71(2)

Pritia, D. E., Husodo, A.Y., Albal, Moh. Ali. 2017. Sistem Pakar Berbasis Web Untuk
Mendiagnosa Penyakit Hewan Ternak Ruminansia Besar. J-COSINE, Vol. 1, No. 1

Fahrimal, Y,. Eliawardani., Rafina, A., Al Azhar, Asmilia, N. 2014. Profil Darah Tikus Putih
(Rattus norvegicus) Yang Diinfeksikan Trypanosoma evansi Dan Diberikan Ekstrak Kulit
Batang Jaloh (Salix tetrasperma Roxb). Jurnal Kedokteran Hewan. Vol. 8, No. 2

Nur, Besse Radita Dewisari. 2017. Deteksi Trypanosoma evansi Pada Kuda (Equss Caballus)
Di Kabupaten Wajo.

Partosoewignyo, Soepartono. Studi Patogenitas Trypanosoma evansi Isolat Yogyakarta,


Bangkalan (Madura), Dan Banyuwangi. Bul. FKH – UGM XIV(I)

Oematan, A. B., Nurcahyo, R. W., Jacob, J. M. 2016. Studi Keragaman Jenis Lalat Penghisap
Darah Dan Kelimpahannya Di Peternakan Sapi Semi Ekstensif Di Kabupaten Sumba Timur.
Seminar Nasional Ke-4

Anonim 1980. Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular, Direktorat Jenderal


Peternakan Departemen Pertanian.

Anonim 1996. Manuals of Standards for Diagnostics Test and Vaccines, OlE.

Luckins AG 1996. “Trypanosoma evansi” in Asia. Parasitology Today 4(5):137- 142

Murray M dan Gray AR 1984. The Current Situation on Animal Trypanosomiasis in Africa.
Prev. Vet. Med. 2:23-30

Soulby JEL 1982. Heltminths, Arthropods and Protozoa of Domestics Animal, Baelliare-
TindaI, London.

The Office of International des Epizooties 2010. OIE Terrestrial Manual. Trypanosoma evansi
Infection (Surra).

13
Partoutomo S 1996. Trypanosomiasis caused by Trypanosoma evansi “Surra” In Indonesia.
[prosiding] Seminar Teknik Diagnostik untuk Trypanosoma evansi di Indonesia. 10 Januari
1996. Balitvet, Bogor hal. 1-9

14