Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KASUS II

PENDEKATAN ANATOMI-FISIOLOGIS UNTUK TINDAKAN


INFEKSI JAMUR Aspergillus nidulans PADA KUDA

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK D4
1. Trifena Pristi Anindyta (061711133084)
2. Adelia Ayu Pratiwi (061711133085)
3. Humika Yoseph Suhendra H. (061711133109)
4. Sherina Lashita Candrakirana (061711133153)
5. Amirul Muslim Amrullah (061711133169)
6. Annisa Nur Fitria Rahma (061711133172)
7. Yuniarlisa Widi Kurniawati (061711133173)

LABORATORIUM ANATOMI VETERINER


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
NOVEMBER 2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kuda merupakan salah satu mamalia yang berasal dari genus Equus. Pada umumnya kuda
yang ada di Indonesia memiliki darah hangat (warm blood) di karenakan di Indonesia
memiliki iklim tropis yang mengakibatkan kuda-kuda lokal Indonesia memiliki badan yang
kecil dibandingkan dengan kuda-kuda yang meiliki darah panas (hot blood) dan darah dingin
(cold blood).
Kantung guttural merupakan struktur unik yang ditemukan pada kuda dan hanya beberapa
spesies lainnya. Ini adalah perpanjangan dari tabung eusthachius, yang merupakan saluran
berisi udara yang menghubungkan tenggorokan ke telinga tengah. Ada dua kantong guttural
( satu di setiap sisi).
Fungsi kantung guttural masih belum di ketahui tetapi kemungkinan termasuk pemeratan
tekanan di sepanjang gendang telinga, penghangatan udara, dan pendinginan darah yang
mengalir ke otak selama beraktivitas.
Setiap kantong guttural di bagi menjadi dua bagian oleh tulang stylohyoideus. Terdapat
sejumlah saraf penting sepanjang dinding kantung guttural dan berfungsi untuk mengontrol
proses menelan, dan mengatur ekspresi wajah. Selain itu terdapat beberapa pembuluh darah
penting yaitu arteri carotis interna, arteri carotis externa dan arteri maxillaris, semua melalui
dinding kantun guttural untuk menyedikan suplai darah ke kepala dan otak.
Kantong guttural rentan terinfeksi jamur yang bisa menyerang salah satu atau kedua
kantong guttural. Plak jamur terbentuk di dalam kantong guttural, paling sering di sepanjang
dinding pembuluh darah utama (arteri carotis interna, arteri carotis externa, dan arteri
maxilla). Jamur dapat mengikis melalui dinding pembuluh, menghasilkan perdarahan yang
dapat mengancam kehidupan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang terjadi pada Kuda Warmbloods?
2. Secara anatomis organ apa yang menderita kasus tersebut ?
3. Jelaskan secara anatomis gambaran muskulus, nervus, pembuluh darah, limphaticus
dan osteologi yang akan terkena dampak akibat kasus tersebut menyerang Kuda
Warmbloods ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui yang terjadi pada Kuda Warmbloods
2. Untuk mengetahui organ apa yang menderita kasus tersebut
3. Untuk mengetahui struktur anatomis yang berkepentingan dari kasus
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Mycosis Saccus Guttural Pada Kuda


Mycosis Saccus Gutturalis merupakan penyebab hemoragi secara tiba-tiba dan tanpa
gejala yang dapat menyerang satu bahkan kedua sisi dari saccus gutturalis. Fungi
menyerang dan mengikis dinding arteri (cabang arteri carotis interna) penyuplai area
saccus gutturalis daerah dorsocaudal dari kompartemen lateral dan menyebabkan
terjadinya hemoragi berat, namun ada beberapa fungi terutama Aspergillus nidulans,
dapat terisolasi dari lesi yang ada. Biasanya kondisi ini berakhir dengan ditemukannya
hewan mati dalam kolam darah.
2.2 Organ Target Mycosis Saccus Guttural
Terdapat sebuah tabung kecil yang menghubungkan telinga bagian dalam dengan
faring atau tenggorokan yang disebut tabung Eustachian. Tabung Eustachian ini
menyeimbangkan tekanan antara telinga bagian dalam dan tenggorokan. Kuda adalah
hewan unik karena mereka memiliki diverticulum dari tabung Eustachin yang disebut
kantong guttural. Kantong guttural ini merupakan struktur berisi udara dengan ukuran
seperti bola bisbol tepat dibawah telinga kuda.
2.3 Posisi Organ Target Mycosis Saccus Guttural
Saccus guttural pada kuda adalah rongga (kantong) berukuran aneh yang posisinya
berada di tengkorak kuda, sedikit di belakang telinganya. Secara resmi, itu adalah
"outpouching" dari tabung eustachius (saluran yang mengambil gelombang suara dari
telinga), yang mengalir tepat di belakang septum hidung. Secara teknis, ada dua kantong
guttural, dipisahkan oleh membran tipis, satu untuk setiap tabung eustachian tetapi untuk
sebagian besar mereka disebut sebagai struktur tunggal.
Saccus guttural yang terletak divertikula ventral dari tabung eustachian
(pendengaran), yang dibentuk oleh pelepasan lapisan mukosa dari tabung melalui celah
ventral yang relatif panjang di kartilago pendukung. Tabung-tabung pendengaran
menghubungkan rongga hidung dan telinga tengah dan diverticulum melebar untuk
membentuk kantong yang memiliki kapasitas 300-500 ml pada kuda domestik. Saccus
tersebut normalnya berisi udara. Saccus guttural terletak di bawah cavum cranial, menuju
ujung caudal dari sayap os. atlas. Saccus guttural ini ditutupi secara lateral oleh m.
pterygoideus, parotis, dan kelenjar mandibula. Limfonodul retropharyngeal medial
terletak di antara pharynx dan dinding ventral kantong.
Kantung kanan dan kiri dipisahkan secara dorsomedial oleh m. rectus capitis ventralis
dan m. longus capitis. Di bawahnya, dengan menyatu dinding dari dua kantong, septum
median terbentuk.
Setiap kantong menempel pada os. stylohyoideus yang membagi bagian medial dan
lateral, bagian medial menjadi sekitar dua kali lipat ukuran lateral dan memanjang lebih
jauh ke caudal dan ventral.
Saccus guttural memiliki hubungan erat dengan banyak struktur utama termasuk
beberapa saraf cranial (glossopharyngeal, vagus, aksesorius, hypoglossal), saraf simpatik
dan arteri karotis eksternal dan internal. Kantungnya langsung menutup sendi
temporohyoideus. Kantung ini memiliki dinding yang sangat tipis yang dilapisi oleh
epitel pernapasan yang mengeluarkan lendir dan biasanya mengalir ke pharynx ketika
kuda sedang merumput.
Beberapa saraf dan arteri cranialis terletak langsung terhadap kantong saat mereka
melewati ke dan dari foramen di bagian caudal tengkorak (pembuluh dalam lipatan
mukosa yang membentengi kantong):
Bagian Medial:
- Nervus cranial IX, X, XI, XII.
- Kelanjutan saraf simpatis di luar ganglion cervical cranial.
- Arteri carotis internal.
Bagian Lateral:
- Nervus cranial VII - kontak terbatas dengan bagian dorsal.
- Arteri carotis eksternal berjalan melintasi dinding lateral bagian lateral dalam
pendekatannya (sebagai arteri maksila) ke kanal os. atlas. Vena maxilla eksternal juga
terlihat.

2.4 Sistem Osteologi Terkait Dengan Posisi Anatomis Organ Target


Setiap kantong guttural dibagi menjadi kompartemen medial dan lateral oleh tulang
unik bernama tulang stylohyoideus. Tulang ini berartikulasi dengan pangkal tengkorak,
tepat dibawah gendang telinga dan merupakan bagian dari struktur pendukung untuk
lidah dan laring. Dengan demikian,
ketika kuda menggerakan lidahnya,
artikulasi antara tulang
stylohyoideus dan pangkal
tengkorak bergerak juga. Os
occipital dan os atlas berada di
belakang kantong guttural. Pada
bagian atas dari kantong guttural
terdapat os temporalis. Dan dekat
dengan kartilago faring dan laring.
a. Os occipital
Merupakan dinding caudal/kuduk ossa cranii. Di bagi menjadi 3 pars yaitu: pars
basilaris, pars lateralis, dan squama occipitalis.

b. Os atlas
Os atlas terangkai di belakang cranium, tepatnya di belakang condylus occipital.
c. Os temporalis
Os temporalis pars tymphanicus berada di ventral pars squamosal. Merupakan
penyusun tulang tymphani. Di atas bulla tymphani terdapat taju untuk pertautan
cartilago stylohyoideus yaitu processus styloideus.

2.5 Sistem Muscular Terkait Dengan Posisi Anatomis Organ Target


A. Otot Mastikasi
1. M. Masseter
Ada beberapa otot utama yang bertanggung jawab untuk rahang dan fungsinya
yang tepat. Otot yang paling besar diantaranya adalah M. Masseter, serta disebut juga
otot pipi. M. Masseter merupakan otot pengunyah di lateral ramus mandibula.
Bentuknya pipih dan kuat. Perlekukan otot pada origonya, berupa aponeurosa dengan
jenis otot tendineus.

Origo : Tuber fasciei, crista fascialis, dan tepi ventral arcus Zygomaticus
Insertio : Facies lateralis ramus mandibulae
Fungsi : Menggoyangkan mandibula pada saat mengunyah
M. Masseter adalah otot besar yang dapat terlihat bergerak saat seekor kuda
mengunyah. Hal ini dikarenakan pertautannya pada rahang bawah atau tulang lidah.
Pada hewan herbivora, M. Masseter dan M. Pterygoideus yang besar untuk
mengunyah yang ekstensif namun memiliki M. Digastricu yang terbatas.
2. M. Pterygoideus

Saccus Guttural ditutupi secara lateral oleh M. Pterygoideus, glandula Parotis, dan
glandula Mandibula. M. Pterygoideus adalah otot pemamah biak atau pengunyah pada
posisi medial rahang bawah. Otot ini melekat di medial ramus mandibula, memiliki
struktur tebal denga/n serat lurus ke caudolateral. Otot ini terbagi menjadi dua dan
antara keduanya dipisahkan oleh lapisan tendinous.

 Pars Lateralis

Origo : Lateral processus pterygoideus basis sphenoidale


Insertio : Depan condylus sisi medial mandibulae
Fungsi : Menggerakkan rahang ke samping kiri atau kanan pada gerak
monolateral

 Pars Medialis

Origo : Crista pterygoideus basis sphenoidale


Insertio : Permukaan medial ramus mandibulae
Fungsi : a. Menggerakkan rahang ke medial pada gerak monolateral
b. Membuka rahang pada fungsi gerak bilateral

B. Otot Extensor – Flexor di Axiale


Otot axiale yakni otot di sekitar ruas tulang leher sangat membantu gerak extensor
maupun flexor leher yang relatif flexibel dibandingkan gerak ruas tulang dada atau
punggung. Otot axiale di nuchae (tengkuk), membentuk otot leher pendek. Pertautan
otot ini adalah di os occipitale, temporale, atlas atau axis. Pada kuda, saccus guttural
kanan dan kiri dipisahkan secara dorsomedial oleh M. Rectus Capitis Ventralis dan M.
Longus Capitis.
1. M. Rectus Capitis Ventralis

Origo : Arcus ventralis atlas


Insertio : Tuber muscularis Pars Basilaris os. Occipitale
Fungsi : Flexor leher
Inervasi : Cabang dorsal nervus cervical 1

2. M. Longus Capitis

Origo : Processus Transversus VC. 3 – 5


Insertio : Tuber muscularis Pars Basilaris os occipitale
Fungsi : Flexor leher
Inervasi : Cabang ventral nervus cervical

C. Otot Flexor Regio Leher Ventral


Otot flexor kepala leher menempati leher ventral di bawah ruas vertebrae. Struktur
otot pipih panjang seperti helai pita. Otot-otot panjang ini membantu saat
menundukkan kepala. Pertautannya merentang dari os hyoideus, cartilage larynx/
pharynx, os temporalis (pada processus mastoideus), os Mandibularis, Occipitalis
(pada pars basilaris), atlas atau axis menuju os sternum, costae atau Scapula dan
Humerus.
 M. Sternocephalicus

M. Sternocephalicus adalah otot yang terletak paling superficial. Otot ini terdiri
dari M. Sternomandibularis dan M. Sternomastoideus. Otot ini berada di batas ventral
M. Bracchiocephalicus (pars cleidomastoideus) dan V. Jugularis.
Origo : Manubrium of Sternum
Insertio : Ramus mandibula
Fungsi : Flexor kepala-leher saat bekerja bilateral
Inervasi : Cabang ventral nervus cervical

D. Otot Penggerak Os Hyoideus


Otot penggerak os hyoideus (tulang lidah) berfungsi saat menelan/ mengatur
nafas. Otot ini pipih-panjang, di sepanjang kerongkongan lekat pada trachea.
Pertautannya dari os hyoideus atau cartilage larynx/ pharynx menuju sternum.
Beberapa otot yang dimaksud adalah:
1. M. Sternothyrohyoideus

Melekat di lateroventral trachea, terdiri dari M. Sternothyroideus di lateral dan


Sternohyoideus di ventral.
Origo : Manubrium sterni
Insertio : a. Cartilago thyroidea larynx
b. Processus lingualis os basilhyoideus
Fungsi : Menarik os hyoid dan larynx ke caudal waktu menelan
2. M. Omohyoideus

Merentang dari os hyoideus menyilang di bawah M. Sternomastoideus.


Origo : Processus Transversus VC. 3-4
Insertio : Processus Lingualis os bashyoideus
Fungsi : Menarik os hyoid dan larynx ke caudal waktu menelan
2.6 Sistem Pembuluh Darah Terkait Suplai Organ
Target Dan Buluh Darah Terkait Tindakan
Operatif
Sistem Pembuluh Darah yang Terkait Dengan
Saccus Guttural:

 Arteri carotis externa


 Arteri Vena carotis interna
 Arteri maxillaris

Ketiga pembuluh darah ini melewati dinding Saccus Guttural dan akan mensuplai
darah ke bagian otak dan kepala. Arteri Carotis Externa dicabangkan oleh Arteri carotis
communis sisi kanan, Arteri carotis interna dicabangkan oleh Arteri carotis communis sisi
kiri, sedangkan arteri maxillaris merupakan cabang dari Arteri carotis eksterna. Penyakit
Mycosis Guttural Pouch mengakibatkan perdarahan / ephistaxis yang keluar melalui satu
ataupun kedua nostril . Tentunya ketiga arteri ini terkait dengan adanya perdarahan/
ephistaxis yang dialami kuda.
Perdarahan terjadi dikarenakan arteri mengalami kerusakan pada dindingnya. Erosi
dinding arteri disebabkan oleh plak jamur yang terbentuk didalam Saccus Guttural yang
melapisi arteri dan syaraf. Plak muncul di sepanjang dinding pembuluh darah utama
(Arteri carotis externa dan interna serta Arteri maxillaris). Plak jamur bahkan dapat
berproliferasi masuk ke dalam Arteri vena carotis interna , dan juga Arteri carotis externa.
Jika hal ini terjadi maka akan berakibat pada hemoragik fatal dan dapat berujung pada
kematian. Plak jamur ini tidak hanya dapat menyebabkan erosi pada satu pembuluh darah
saja, namun dapat terjadi pada ketiga pembuluh darah .
Tindakan operatif tentunya harus segera dilakukan oleh dokter hewan. Kuda dapat
mengalami kehilangan darah cukup banyak sehingga tranfusi darah perlu dilakukan
apabila terjadi hemoragik fatal. Namun pada umumnya tindakan operatif pembedahan
dilakukan dengan menghentikan perdarahan, dengan cara memblokir pembuluh darah
yang terkait.
Metode yang digunakan yaitu oklusi arteri dengan
embolisasi kumparan. Arteri carotis sebagai kateter dan
kumparan kecil sebagai sumbatan ditempatkan di masing-
masing segmen arteri dibawah bimbingan dari
fluoroscopic. Hal ini bertujuan untuk menghentikan aliran
darah pada pembuluh darah yang mengalami perdarahan.
Metode lainnya yang dapat digunakan yaitu kateter
balon oklusi dari arteri carotis interna. Metode ini
menempatkan balon yang melekat pada kateter fleksibel
menuju arteri carotis interna. Balon dapat mengembang
sehingga menghentikan perdarahan.
2.7 Sistem Nervus Terkait Suplai Organ Target Dan
Terkait Tindakan Operatif
Kantung guttural dilapisi dengan membran yang sangat tipis dan di bawah membran
itu ada beberapa saraf penting. Sebagian besar saraf ini adalah saraf kranial, yaitu nervus
fasialis (VII), nervus glossopharyng (IX), nervus vagus (X), nervus aksesorius (XI),
nervus hipoglossus (XII) serta pleksus faringeal, saraf kranial laring dan mandibula.
Penetrasi hifa dari mycosis ke dalam saraf juga dapat menyebabkan kerusakan saraf.
Jadi ketika rusak, tanda klinis yang dihasilkan berhubungan dengan fungsi kepala. dengan
menelan makanan dan air, pernapasan, ekspresi wajah dan postur tubuh. Dengan
empiema kronis, tanda-tanda keterlibatan saraf kranial dapat diamati, seperti disfagia atau

hemiplegia laring. Disfagia atau stridor pernapasan juga bisa terjadi akibat pelampiasan
laring oleh abses.
Nervus fasialis adalah saraf kranialis ke-7 berperan besar dalam mengatur ekspresi,
indra perasa di kulit wajah, penyalur sensasi dari bagian anterior lidah dan rongga mulut,
dan melalui inervasi parasimpatis nervus fasialis, kelenjar saliva, lakrimal, hidung dan
kelenjar palatine bisa menghasilkan sekret. Nervus fasialis berasal dari sudut
cerebellopontine, bagian lateral dari persimpangan pontomedullary. Rusaknya nervus
fasialis mengakibatkan paralisis wajah.
Nervus glossopharyngeal adalah saraf kranialis ke-9 berperan dalam menerima
berbagai bentuk serat sensorik dari bagian lidah, tubuh karotis, faring, dan telinga tengah,
memasok serat parasimpatis ke kelenjar parotis dan motoric serat pada otot
stylopharyngeus, dan membantu pleksus faring bersama dengan nervus vagus. Rusaknya
nervus glossopharyngeal mengakibatkan hilangnya reflex menelan yang beresiko
terjadinya aspirasi paru.
Nervus vagus adalah saraf kranialis ke-10 yang sebagian besar serat sarafnya
merupakan saraf parasimpatis, fungsi utama dari nervus vagus adalah untuk menelan,
mentransmisikan serat sensorik dari kulit bagian posterior dari meatus auditori eksternal
dan membrane timpani, menginervasi lajur usus sejauh lengkungan lienalis dari usus
besar transversal, jantung, cabang trakeobronkial, dan bagian interna abdomen. Nervus
vagus berkembang dari medulla kemudian meninggalkan fosa kranial posterior melalui
foramen jugularis. Rusaknya saraf vagus mengakibatkan nyeri, disfungsi organ, kram
otot, kesulitan menelan, dan gastroparesis.
Nervus aksesorius adalah saraf kranialis ke-11 yang berperan dalam persarafan otot
leher. Rusaknya nervus aksesorius mengakibatkan kelemahan pada otot leher saat
berputar ke sisi kontralateral.
Nervus hipoglossus adalah saraf kranialis ke-12 yang berperan dalam memberikan
persarafan pada otot-otot lidah. Nervus hipoglossus berasal dari medulla oleh seri vertikal
antara rootlets piramida dan zaitun, kanal dari nervus hipoglossus sendiri berada di dalam
tulang oksipital. Rusaknya nervus vagus mengakibatkan gangguan proses pengolahan
makanan dalam mulut dan gangguan menelan.
Pleksus faringeal merupakan saraf motorik dan sensorik daerah faring dibentuk oleh
cabang dari nervus vagus, cabang dari nevus glossopharyngeal dan serabut simpatis,
cabang dari nervus vagus berisi serabut motoric.
Nervus cranial laring meginervasi daerah laring bagian depan dibentuk oleh cabang
dari nervus vagus.
Nervus mandibularis bersifat motoris dan sensoris yang dilepaskan dari ganglion
semilunaris yang menginervasi otot-otot penguyah, serabut sensoris menginervasi gigi
bawah dan kulit daerah temporal.
Tindakan operatif untuk paralisis wajah dapat menggunakan elektromiografi,
termasuk rangsangan listrik dari saraf wajah, dapat digunakan untuk menentukan lokasi
dan keparahan cedera. Namun, perubahan tidak akan terbukti hingga 5-7 hari setelah
cedera.
Terapi untuk cedera mungkin termasuk pijat dan panas otot denervasi selama 15
menit, 2−3 kali / hari, untuk mempertahankan integritasnya sambil menunggu regenerasi
saraf. Terapi laser, juga dikenal sebagai laser dingin, terapi cahaya tingkat rendah, atau
photobiomodulation, dapat membantu regenerasi saraf. Saraf wajah dapat beregenerasi ~
1-4 mm / hari, sehingga pemeriksaan neurologis serial juga dapat membantu menentukan
prognosis. Jika belum ada perbaikan setelah 6 bulan, kemungkinan pemulihannya buruk.
2.8 Sistem Limpaticus Yang Terkait Dengan Aktivitas Organ Target
Kantong guttural terletak di bawah rongga cranium menuju bagian caudal dari
tengkorak atau sayap os atlas. Kantong guttural terdapat kelenjar patorid dan mandibular
di sebelah lateral. Bagian bawah atau dasar kantong guttural terletak di sekitar faring
sampai oesophagus. Bagian tengah limfonodul retro pharyngeal berada di antara faring
dan bagian ventral dari dinding kantong guttural.

2.9 Perawatan Medis dan Bedah

1. Perawatan Medis dan Bedah


Sekali episode
epistaksis karena mycosis pada kantong gutural telah terjadi, maka perhatian bedah segera
dianjurkan karena perdarahan yang fatal dapat terjadi tanpa peringatan. Di rumah sakit
kami, kami menganjurkan operasi untuk kuda dengan mycosis kantong gutural dan
menganggap ini sebagai prosedur darurat yang harus dilakukan segera setelah pasien
stabil. Jika pemilik tidak mampu melakukan operasi, mungkin tepat untuk
mempertimbangkan terapi konservatif. Namun, pemilik harus diberi konseling bahwa
hemoragi adalah kemungkinan dan jika pendarahan hebat dimulai, mungkin tidak
mungkin untuk menyelamatkan hidup kuda dengan intervensi medis atau bedah.
Mengairi kantong-kantong guttural dengan berbagai agen antijamur, seperti
thiabendazole, albendazole, nistatin, miconazole, dan yodium, memiliki keberhasilan
yang terbatas. Lokasi dorsal lesi mikotik membatasi waktu kontak dengan agen antijamur
selama prosedur ini dalam kuda berdiri. Mengairi kantong guttural dengan kuda di bawah
anestesi umum untuk meningkatkan waktu kontak tampaknya tidak memiliki keuntungan
dibandingkan metode lain. Satu kuda dengan disfagia menanggapi 3 minggu terapi
itrakonazol sistemik (5 mg / kg q12h PO) dikombinasikan dengan harian lokal lavage dari
kantong guttural yang terkena dengan enilconazole (60 ml larutan berair 33,3 mg / ml).
Sulit untuk menginterpretasikan hasil dari sejumlah kecil laporan kasus yang
mendokumentasikan manajemen medis kuda yang sukses dengan mikosis guttural pouch.
Persyaratan untuk pengobatan sistemik dan topikal jangka panjang dengan agen
antijamur, ditambah dengan keampuhannya yang terbatas dan data farmakokinetik yang
sedikit untuk kuda, serta risiko perdarahan yang fatal, membuat intervensi bedah atau
embolisasi koil transarterial perawatan yang lebih disukai untuk kuda dengan kantong
gutural mikosis.
Pasien harus distabilkan sebelum intervensi. Temuan pemeriksaan fisik, volume sel
yang dikemas, dan konsentrasi total protein harus dievaluasi. Jika seekor kuda telah
mengalami pendarahan secara signifikan, transfusi darah mungkin diperlukan sebelum
anestesi. Ini bisa sulit untuk dinilai karena mungkin tidak ada perubahan signifikan dalam
volume sel dikemas dan total protein dalam kuda sesaat setelah perdarahan akut.
Takikardia, selaput lendir pucat, dan sikap cemas menyarankan perlunya transfusi. Jika
tidak, pada pasien yang relatif stabil, dianjurkan untuk melakukan persilangan dengan
kemungkinan donor darah kuda sehingga darah tersedia, jika diperlukan. Koloid,
kristaloid, dan oksihemoglobin dapat digunakan untuk mempertahankan tekanan darah
dan oksigenasi jaringan, meskipun keseimbangan yang baik perlu dicapai karena tekanan
darah tinggi dapat menghasilkan perdarahan yang lebih berat dan penurunan eritrosit
lebih lanjut. Antibiotik spektrum luas perioperatif dan NSAID harus diberikan.
Angiografi preoperatif dapat sangat berguna untuk mengidentifikasi pembuluh darah
dan pembuluh aberik yang dikompromikan. Modalitas pencitraan ini telah digunakan
baru-baru ini dalam hubungannya dengan teknik embolisasi koil transarterial untuk
mengobati mycosis guttural pouch.
2. Lesi Arteri Karotis Internal
Arteri karotid internal adalah yang paling sering terkena oleh lesi mikotik. Karena
aliran darah retrograd melalui lingkaran Willis, perawatan bedah yang efektif
memerlukan ligating arteri ini baik proksimal dan distal ke lesi jika embolisasi kumparan
bukan pilihan. Meskipun telah dilaporkan bahwa menempatkan ligatur tunggal proksimal
ke lesi tidak menyebabkan perubahan tekanan darah karotid internal dan tidak dapat
diandalkan untuk mencegah perdarahan sampai bentuk thrombus ini kontroversial. Ada
laporan tentang tingkat keberhasilan yang tinggi pada kuda yang hanya memiliki satu
ligasi arteri karotid internal. Keberhasilan dengan teknik ligasi tunggal bergantung pada
pengembangan thrombus distal ke titik ligasi. Setelah operasi dan selama perkembangan
trombus, kuda-kuda terus berisiko mengalami pendarahan. Karena kesulitan dalam
mengakses aspek proksimal dari arteri, kombinasi menempatkan ligatur distal ke lesi dan
memposisikan kateter intraarterial proksimal ke lesi adalah teknik saat ini untuk
menginduksi trombosis dari segmen yang terkena.
Untuk mendekati arteri karotid internal, kuda yang dianestesi harus diposisikan
dengan leher diperpanjang. Pendekatan bedah harus dibuat hanya pada bagian perut dari
sayatan hyovertebrotomy klasik (dijelaskan kemudian). Diseksi harus sedekat mungkin
dengan tepi rostral sayap atlas untuk menghindari kelenjar saliva parotid. Arteri karotid
internal harus diligasi tepat di bawah kelenjar parotid. Seringkali sulit untuk membedakan
arteri karotid internal dari arteri oksipital, sehingga keduanya harus diligasi (GAMBAR
3). Arteriotomi kemudian harus dilakukan distal ke ligatur, dan kateter thrombektomi
vena 6-Fr harus maju proksimal sekitar 13 cm, yang harus memposisikan balon distal ke
pl mycotic.
3. Lesi Arteri Karotis Eksternal
Plak jamur juga bisa melibatkan arteri karotis eksternal dan maksila. Sayangnya,
ligasi sederhana dari arteri karotis eksternal tidak mencegah perdarahan fatal pada
beberapa kuda. Akibatnya, rekomendasi saat ini adalah untuk menutup kapal ini, jika
terlibat, pada kedua sisi lesi (GAMBAR 3).
Anatomi pembuluh darah harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Arteri linguofasial
bercabang dari arteri karotid eksternal, yang berjalan di bagian dorsal di bawah mukosa
kompartemen lateral kantong guttural, di mana ia bercabang ke arteri temporal aurikularis
dan superfisial caudal. Upaya untuk menutup arteri maksilaris distal ke lesi menggunakan
kateter balon-tipped maju melalui arteri karotid eksternal telah gagal karena kateter dapat
dengan mudah memasuki arteri temporalis superfisial.
Arteri karotid eksternal berlanjut sebagai arteri maksilaris di sepanjang atap
kompartemen lateral kantong guttural dan bercabang menjadi berikut: arteri alveolar
inferior, arteri opthalmik eksternal, dan arteri infraorbital. Setelah asal dari arteri
infraorbital, arteri maxillary berlanjut sebagai arteri palatine yang menurun. Cabang arteri
palatine menurun ke arteri palatina utama, yang membentuk loop arteri besar dengan
arteri yang bersesuaian dari sisi kontralateral. Dengan demikian arteri palatina mayor
adalah yang paling mungkin menyebabkan aliran darah retrograd ke lesi di karotid
eksternal dan rahang atas. arteri. Namun, ligasi arteri palatina mayor dan arteri karotis
eksternal dapat menyebabkan kebutaan sebagai akibat dari fenomena "pencuri", di mana
perkembangan sirkulasi kolateral dialihkan ke bagian distal pembuluh darah yang diikat
dan mencuri suplai darah dari mata. Oleh karena itu, jika arteri karotis eksternal atau
maksila terlibat, rekomendasi saat ini adalah untuk mengikat atau menempatkan kateter
balon di arteri karotid eksternal setelah batang linguofasial bercabang. Ini dapat dilakukan
dengan menggunakan pendekatan yang sama seperti untuk arteri karotid internal dan
memperluas diseksi (GAMBAR 3). Sebuah kateter thrombektomi vena 6-Fr Fogarty
kemudian harus dimasukkan ke dalam arteri palatine mayor. Pendekatan pada pembuluh
ini adalah 3 cm ekor ke gigi insisivus sudut. Insisi transversal 2 cm harus dibuat dan
pembuluh diidentifikasi dalam penampang melintang. Kateter harus dimasukkan
retrograde untuk sekitar 40 hingga 42 cm (dalam kuda 990-lb [450 kg]). Balon harus
dipompa sebagian dan kemudian kateter ditarik dengan lembut sampai beberapa resistensi
ditemukan. Ini harus diasumsikan, pada titik ini, bahwa balon bersarang di foramen alar
caudal. Balon kemudian dapat sepenuhnya meningkat. Ujung bebas kateter harus
diamankan ke kulit dan dibuang dalam 7 hingga 10 hari.
Jika lesi jamur terbatas pada arteri karotid dan maksilaris eksternal, pilihan lain adalah
dengan menempatkan kateter thrombektomi vena 6-Fr ke dalam arteri wajah transversal 3
cm rostral ke tuberkulum artikular tulang temporal. Kateter harus maju retrograde sekitar
12 cm dalam kuda 990-lb (450 kg) sampai ujung kateter memasuki arteri karotid
eksternal. Balon harus dipompa dan kateter diamankan ke kepala.
4. Embolisasi Coil Transarterial
Teknik embolisasi kumparan yang menggabungkan fluoroskopi dan oklusi selektif
dari pembuluh darah yang dikompromikan telah dijelaskan. Teknik ini mengurangi
kemungkinan komplikasi karena pembuluh menyimpang. Prosedur ini telah digunakan
untuk menutup arteri karotid internal, arteri karotid eksternal, dan arteri maksila; teknik
ini disempurnakan dalam kuda normal dan kemudian digunakan dalam empat kuda
dengan mycosis kantong gutural. Penulis melaporkan hasil yang sangat baik, bahkan pada
kuda dengan perdarahan aktif. Satu kuda mengembangkan hemiplegia laring, dan satu
kuda normal mengalami embolisasi dari lingkaran arteri serebral. Kerugian dari teknik ini
adalah persyaratan untuk fluoroskopi dan kurva belajar yang agak curam sebelum
prosedur dapat digunakan secara efisien. Namun, teknik ini merupakan kemajuan yang
paling penting dalam beberapa tahun dalam mengobati mycosis pada kantong guttural.

5. Komplikasi Bedah
Ketika mendekati arteri karotid dan oksipital internal, bisa sulit membedakan
keduanya. Ini biasanya dapat diselesaikan dengan diseksi yang lebih dalam. Arteri
oksipital akhirnya menuju ke telinga, sedangkan arteri karotid internal berjalan ke arah
yang lebih rostral. Diseksi ini juga membantu visualisasi pembuluh menyimpang yang
berhubungan dengan arteri karotid internal. Kateterisasi cabang menyimpang dari arteri
karotis interna kiri pada kuda menyebabkan epistaksis persisten melalui segmen yang
terkena. Kateterisasi arteri carotid internal kiri yang menyimpang menghasilkan pada lesi
batang otak dan akhirnya kematian kuda. Jika kapal yang menyimpang diidentifikasi,
harus ditangani.
Seperti disebutkan sebelumnya, ligasi arteri karotid eksternal dan arteri palatina
mayor dapat menyebabkan kebutaan karena fenomena "mencuri" . Jika kateter balon-
tipped memasuki kantong guttural melalui lesi mycotic saat kateter maju, seharusnya
ditarik dan maju lagi. Juga dimungkinkan untuk memasukkan kateter lain sebagai
panduan dan kemudian mengoper kateter balon-tipped lagi. Jika situs bedah menjadi
panas dan bengkak setelah prosedur, infeksi harus dicurigai. Ini dapat diobati dengan
membuang kateter (setelah 14 hari) dan mengobati situs insisi sebagai luka terbuka.
Defisit neurologis bisa lambat untuk diselesaikan. Perawatan pasien, kesabaran, dan
waktu sangat penting.
BAB III

KESIMPULAN
Kantung guttural pada kuda rentan terkena penyakit Mycosis Saccus Gutturalis yang
dapat mengakibatkan kematian pada kuda yang terjangkit. Penyakit Mycosis Saccus
Gutturalis di sebabkan oleh jamur Aspergillus nidulans. Spora jamur Aspergillus nidulans
masuk melalui saluran pernafasan, menuju kantong guttural dan berkembang di kantong
tersebut.
Penyakit ini di tandai dengan kuda mengalami ephistaxis atau mengeluarkan nanah
dari salah satu lubang hidung maupun keduanya, terdapat bengkak pada daerah bilateral
caudal mandibula, syaraf wajah mengalami lumpuh, warna lidah menjadi pucat, dan tidak di
temukan luka dari luar.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.acvs.org/large-animal/guttural-pouch-mycosis (diakses pada tanggal 30 Oktober


2018)
https://www.vet.k-state.edu/vhc/services/equine/timely-topics/gutturalpouchmycosis.html
(diakses pada tanggal 30 Oktober 2018)
http://www.vetfolio.com/surgery/managing-guttural-pouch-disease-in-adult-horses-surgical-
treatment-of-guttural-pouch-empyema-and-mycosis (diakses pada tanggal 31 Oktober 2018)
https://en.wikivet.net/Guttural_Pouches_-_Anatomy_%26_Physiology (diakses pada tanggal
31 Oktober 2018)
https://thehorse.com/14112/mystery-solved-guttural-pouches/ (diakses pada tanggal 01
November 2018)
https://quizlet.com/79136450/equine-muscles-origin-action-insertion-innervation-flash-cards/
(diakses pada tanggal 01 November 2018)
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Muscular_system_of_the_horse(diakses pada tanggal 01
November 2018)
https://en.wikivet.net/Mastication(diakses pada tanggal 01 November 2018)
https://www.equinecraniosacral.com/articles/article2.html(diakses pada tanggal 01 November
2018)
https://www.msdvetmanual.com/respiratory-system/respiratory-diseases-of-horses/guttural-
pouch-disease-in-horses(diakses pada tanggal 01 November 2018)