Anda di halaman 1dari 43

ASUHAN KEPERAWATAN ANESTESI PADA Tn.

S DENGAN
DIAGNOSA MEDIS OMSK + MASTOIDITIS YANG
DILAKUKAN TINDAKAN MASTOIDEKTOMI
DENGAN GENERAL ANESTESI DI IBS
RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO
KLATEN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Anestesi IV

Dosen Pembimbing : Titik Endarwati, SKM., M.Kes

Disusun oleh :

Ayuningtyas Dian Utami (P07120215010)


Neger Kogoya (P07120215026)
Veni Rachmatunisa (P07120215040)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA


JURUSAN KEPERAWATAN

2019

LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan Keperawatan Anestesi Pada Tn. S dengan Diagnosa Medis OMSK +


Mastoiditis yang Dilakukan Tindakan Mastoidektomi dengan General Anestesi di
IBS RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, yang disusun untuk memenuhi tugas
Keperawatan Anestesi IV

Disusun oleh :

Ayuningtyas Dian Utami (P07120215010)


Neger Kogoya (P07120215026)
Veni Rachmatunisa (P07120215040)

Telah diperiksa dan disetujui pada: April 2019

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lapangan

(Titik Endarwati, SKM., M.Kes)


NIP. 197607031998032003

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Otitis media supuratif kronik (OMSK) atau yang biasa disebut congek
merupakan radang kronis telinga tengah dengan perforasi pada membran
timpani dan riwayat keluar sekret dari telinga (otorea) yang terus menerus
atau hilang timbul dan biasanya diikuti dengan gangguan pendengaran karena
komplikasi. Kejadian OMSK, dengan atau tanpa komplikasi, merupakan
penyakit telinga umum di negara-negara berkembang. Beban dunia akibat
OMSK melibatkan 65 _ 330 juta orang dengan telinga berair (Vikram BK,
Khaja N, Udayashankar SG, Venkatesha BK, Manjurath D, 2008).

Di India, dilaporkan terdapat 17,4% penderita dengan otitis media kronis


dari seluruh penderita yang berobat ke salah satu klinik THT, 15%
diantaranya dijumpai kolesteatoma, dan 5% mengalami komplikasi. Menurut
survei yang dilakukan pada tujuh provinsi di Indonesia pada tahun 1996
ditemukan prevalensi otitis media supuratif kronis sebesar 3% dari penduduk
Indonesia. Insiden OMSK tersebut bervariasi di setiap negara. Secara umum,
insiden dipengaruhi oleh ras dan faktor sosioekonomi. Kehidupan sosial
ekonomi yang rendah, lingkungan kumuh dan status kesehatan serta gizi yang
jelek merupakan faktor risiko yang menjadi dasar peningkatan prevalensi
OMSK di negara berkembang (Asroel H.A, Siregar, D.R & Aboet, A, 2010).

Menurut penelitian yang dilakukan Asroel H.A, Siregar, D.R & Aboet, A
(2010) yang dilakukan di RSUP H. Adam Malik, profil penderita otitis media
supuratif kronis (OMSK) dari 119 penderita dari tahun 2006-2010, sekitar
28,57% penderita dijumpai pada tahun 2010, sekitar 31,93% terjadi pada usia
11-20 tahun, sekitar 53,78% laki-laki, dan sekitar 38,66% pada telinga kanan.
Sebanyak 68,91% terjadi akibat riwayat otitis media berulang dan 61,34%
dengan keluhan utama telinga berair. Gejala dan tanda klinis yang sering
terjadi adalah telinga berair (76,47%) dan perforasi membran timpani
(74,79%), baik perforasi atik (0,84%), marginal (1,68%), subtotal (23,53%),
dan total (48,74%).

Gangguan pendengaran terbanyak adalah tuli konduktif (58,82%). Pada


foto proyeksi Schuller, 62,18% dijumpai gambaran mastoiditis kronis dengan
kolesteatoma. Dari hasil kultur dijumpai 21,01% Pseudomonas aeruginosa.
86,55% terjadi komplikasi mastoiditis.. Penatalaksanaan pada kasus OMSK
yang sudah terjadi komplikasi mastoiditis adalah mastoidektomi, yakni
membuang seluruh sel-sel mastoid di rongga mastoid, meruntuhkan dinding
posterior liang telinga, pembersihan seluruh sel mastoid yang mempunyai
drainase ke kavum timpani yaitu membersihkan total sel-sel mastoid di sudut
sinodural, daerah segitiga Trautmann, sekitar kanalis fasialis dan daerah
telinga sekitar zygoma. Kemudian membuang maleus-inkus bila masih ada,
stapes/sisa stapes dipertahankan, sehingga terbentuk kavitas operasi yang
merupakan gabungan rongga mastoid, kavum timpani dan liang telinga
(Chole AR, Brodie AH, Jacob A, 2006)

Sebelum tindakan pembedahan mastoidektomi dilakukan anestesi atau


pembiusan. Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa
sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang
menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Pada prinsipnya dalam penatalaksanaan
anestesi pada suatu operasi terdapat beberapa tahap harus dilaksanakan yaitu
pra anestesi yang terdiri dari persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan
anestesi, menentukan prognosis dan persiapan pada hari operasi. Intra
anestesi berupa premedikasi, induksi, maintenance, monitoring keadaan
umum pasien. Post anestesi merupakan tindakan pemulihan paska
kembalinya kesadaran pasien setelah pembedahan (Majid dkk, 2011).

Anestesi pada pasien dengan kegawatdaruratan memerlukan


penatalaksanaan yang tepat dalam pemberian induksi, maintenance cairan,
serta pemantauan respirasi. Maka dari itu dalam asuhan keperawatan ini akan
membahas asuhan keperawatan perianestesi pada “Tn. S” dengan diagnosa
medis OMSK + Mastoiditis yang dilakukan tindakan Mastoidektomi dengan
teknik general anestesi intubasi endotracheal di IBS RSUP Dr. Soeradji
Tirtonegoro Klaten.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan pada kasus gangguan sistem
pendengaran pada pasien Ny. S dengan diagnosa medis OMSK + Mastoiditis
yang dilakukan tindakan Mastoidektomi dengan teknik general anestesi
intubasi endotracheal?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan asuhan keperawatan anestesi ini adalah
untuk mendapatkan pengalaman yang nyata dalam memberikan asuhan
keperawatan anestesi mulai dari pre operasi, intra operasi atau durante
operasi dan post operasi, pada pasien dengan gangguan sistem
pendengaran OMSK + Mastoiditis yang dilakukan pembedahan
mastoidektomi dengan teknik general anestesi intubasi endotrakheal.
2. Tujuan Khusus
a. Memberikan gambaran mengenai pengkajian asuhan keperawatan
perianestesia pada pasien dengan diagnosa medis OMSK + Mastoiditis
yang dilakukan tindakan Mastoidektomi dengan teknik general
anestesi intubasi endotracheal.
b. Memberikan gambaran mengenai diagnosa keperawatan yang timbul
pada asuhan keperawatan perianestesia pada pasien dengan diagnosa
medis OMSK + Mastoiditis yang dilakukan tindakan Mastoidektomi
dengan teknik general anestesi intubasi endotracheal.
c. Memberikan gambaran mengenai perencanaan keperawatan pada
asuhan keperawatan perianestesia pada pasien dengan diagnosa medis
OMSK + Mastoiditis yang dilakukan tindakan Mastoidektomi dengan
teknik general anestesi intubasi endotracheal.
d. Memberikan gambaran mengenai implementasi keperawatan pada
asuhan keperawatan perianestesia pada pasien dengan diagnosa medis
OMSK + Mastoiditis yang dilakukan tindakan Mastoidektomi dengan
teknik general anestesi intubasi endotracheal.
e. Memberikan gambaran mengenai evaluasi keperawatan pada asuhan
keperawatan perianestesia pada pasien dengan diagnosa OMSK +
Mastoiditis yang dilakukan tindakan Mastoidektomi dengan teknik
general anestesi intubasi endotracheal.

D. Waktu dan Tempat


Pelaksanaan kegiatan asuhan keperawatan perianestesi dilakukan
pada tanggal 11 Maret 2019, tempat pelaksanaan asuhan keperawatan
perianestesi di lakukan di Instalasi Bedah Sentral ( IBS ) RSUP Dr.
Soeradji Tirtonegoro Klaten.
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK


DENGAN HERNIA

A. PENGKAJIAN
A. Fase Preoperatif
B. Fase Intraoperatif
C. Fase Pascaoperatif
D. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
E. Intervensi
No Diagnosa Tujuan Intervensi
Pre Operatif
1. Setelah dilakukan intervensi - Bantu pasien
Ansietas b.d kurang tingkat kecemasan pasien mengekspresikan perasaan
berkurang atau hilang. marah, kehilangan, dan
pengetahuan tentang
Kriteria hasil : takut.
pembiusan dan - Pasien menyatakan - Kaji tanda ansietas verbal
pembedahan yang akan kecemasan berkurang dan nonvervbal.
- Pasien mampu mengenali - Dampingi pasien dan
dilaksanakan.
perasaan ansietasnya lakukan tindakan bila
- Pasien dapat pasien mulai
Tanda dan gejala : mengidentifikasi menunjukkan perilaku
- Wajah tegang merusak.
penyebab atau faktor yang
- Peningkatan keringat memengaruhi ansietasnya - Jelaskan tentang prosedur
- Suara bergetar pembiusan dan
- Pasien kooperatif terhadap
- Kontak mata buruk tindakan pembedahan sesuai jenis
- Mengatakan secara operasi.
- Wajah pasien tampak
verbal perasaan takut rileks - Beri dukungan prabedah.
terhadap tindakan - Beri lingkungan yang
- Mengatakan secara tenang dan suasana penuh
verbal ketidaksiapan istirahat.
akan tindakan - Tingkatkan kontrol
sensasi pasien.
- Orientasikan pasien
terhadap prosedur rutin
dan aktivitas yang
diharapkan.
- Beri kesempatan pada
pasien untuk
mengungkapkan
ansietasnya.
- Berikan privasi pada
pasien dan orang terdekat.
- Berikan anticemas sesuai
indikasi, seperti diazepam.

2. Ketidakefektifan koping Setelah dilakukan intervensi - Membina hubungan saling


keluarga; menurun b.d pasien mampu percaya (mengucapkan
perubahan sementara pada mengembangkan koping salam terapeutik, berjabat
peran klien, beratnya positif. tangan sambil mengenalkan
operasi yang akan Kriteria hasil: nama, menjelaskan tujuan
dilaksanakan - Keluarga mampu interaksi dan membuat
Tanda dan gejala: mendiskusikan masalah kontrak, waktu serta tempat
- Ketegangan dalam yang dihadapi keluarga setiap kali pertemuan
keluarga - Mengidentifikasi koping dengan keluarga).
- Perasaan malu & yang dimiliki keluarga - Mengidentifikasi masalah
bersalah - Mendiskusikan tindakan yang dihadapi oleh keluarga
- Mengingkari masalah atau koping yang (asal masalah, jumlah
- Menurunnya toleransi dilakukan keluarga untuk masalah, sifat masalah dan
satu sama lain mengatasi masalah waktu terjadinya masalah).
- Perasaan tidak berdaya - Mendiskusikan alternatif - Mendiskusikan koping atau
- Harga diri rendah koping atau cara upaya yang biasa dilakukan
- Permusuhan dalam penyelesaian masalah keluarga.
keluarga yang baru - Mendiskusikan mekanisme
- Agitasi - Melatih menggunakan koping yang selalu
- Penolakan koping atau cara digunakan menghadapi
mengatasi masalah yang masalah dan
baru mengungkapkan perasaan
- Mengevaluasi kemampuan setelah menggunakan
keluarga menggunakan koping yang biasa
koping yang efektif digunakan.
- Mendiskusikan alternatif
koping (keterbukaan dalam
keluarga, membahas
masalah yang dihadapi
dalam keluarga, membahas
cara-cara menyelesaikan
masalah dan membagi tugas
penyelesaian masalah,
melakukan kegiatan yang
disukai seperti olahraga,
jalan-jalan, dll untuk
mengembalikan energi dan
semangat/break sesaat,
mencari dukungan sosial
yang lain dan memohon
pertolongan pada Tuhan).
- Melatih keluarga
menggunakan koping yang
efektif.
- Mengevaluasi kemampuan
keluarga menggunakan
koping yang efektif.
3. Kurang pengetahuan Setelah dilakukan intervensi - Kaji tingkat pengetahuan
tentang implikasi pasien dan keluarga tentang dan suumber informasi
pembedahan dapat terpenuhi. yang telah diterima
pembedahan b.d kurang
Kriteria hasil: - Diskusikan perihal jadwal
pengalaman tentang - Pasien dan keluarga pembedahan
operasi, kesalahpahaman mengetahui jadwal - Diskusikan perihal lamanya
pembedahan pembedahan
tentang informasi.
- Pasien dan keluarga - Lakukan pendidikan
kooperatif pada setiap kesehatan praoperatif
Tanda dan gejala: intervensi keperawatan - Programkan instruksi yang
- Pasien dan keluarga secara didasarkan pada kebutuhan
- Mengungkapkan subjektif menyatakan individu, direncanakan, dan
masalah secara verbal bersedia dan termotivasi diimplementasikan pada
untuk melakukan aturan waktu yang tepat
dan prosedur prabedah - Beritahu persiapan
yang telah dijelaskan pembedahan.
- Pasien dan keluarga - Persiapan administrasi
memahami tahap-tahap dan informed consent
intraoperatif dan - Ajarkan aktivitas pasca
pascaanestesi operasi, yaitu:
- Pasien dan keluarga - Latihan napas diafragma
mengungkapkan alsan - Latihan batuk efektif
pada setiap instruksi dan menggunakan bantal untuk
latihan praoperatif mengurangi respon nyeri
- Pasien dan keluarga - Latihan tungkai
memahami respon - Ajarkan teknik manajemen
pembedahan secara nyeri keperawatan:
fisiologis dan psikologis - Atur posisi imobilisasi pada
- Secara subjektif pasien area pembedahan
menyatakan rasa nyaman - Batasi pengunjung dan
dan relaksasi emosional istirahatkan pasien
- Pasien mampu - Ajarkan teknik distraksi
menghindarkan cedera untuk mengurangi nyeri
selama periode - Berikan manajemen
perioperatif sentuhan
- Beritahu pasien dan
keluarga kapan pasien bisa
dikunjungi.

Intra Operatif

4. Ketidakefektifan bersihan Setelah dilakukan intervensi


jalan nafas b.d hilangnya tingkat kecemasan pasien - Atur posisi pasien
batuk, penumpukan sekret, berkurang atau hilang. - Pantau pola nafas, saturasi
sedasi yang Kriteria hasil :
berkepanjangan. - Pola nafas normal: dan respirasi

frekuensi kedalaman, dan - Buka jalan nafas


Tanda dan gejala :
irama - Bersihkan sekresi
- TTV tidak normal
- Suara napas bersih, tidak - Auskultasi suara nafas
- Terdapat suara nafas
tambahan ada suara nafas tambahan
- Tidak sianosis
5. Resiko kekurangan volume Setelah dilakukan intervensi - Kaji tingkat kekurangan
cairan b.d drainase luka, tingkat kecemasan pasien volume cairan.
berkurang atau hilang.
asupan cairan yang tidak - Kolaborasi untuk
Kriteria hasil :
adekuat. - Akral kulit hangat pemberian cairan dan
- Haemodinamik normal elektrolit.
Tanda dan gejala:
- Masukan cairan dan - Monitor masukan dan
- TTV tidak normal
keluaran cairan seimbang keluaran cairan dan
- akral dingin elektrolit.
- bibir tampak kering - Monitor haemodinamik.
- Monitor perdarahan.
6. Resiko perubahan suhu Setelah dilakukan intervensi - Pertahankan suhu ruangan
tubuh b.d penurunan tingkat kecemasan pasien selama pembiusan atau
berkurang atau hilang.
metabolisme. operasi sesuai yang
Kriteria hasil :
Tanda dan gejala : - Akral menjadi lebih diharapkan
- akral teraba dingin hangat - Pantau tanda vital
- Warna kulit tidak normal - Perubahan warna kulit - Pantau kebutuhan cairan
- TTV tidak normal tidak ada infus
- Pasien tidak menggigil - Beri penghangat
- Suhu tubuh > 36,5o C

7. Hambatan mobilitas fisik Setelah dilakukan intervensi - Monitor vital sign


sebelum/sesudah latihan
b.d nyeri, pembatasan tingkat kecemasan pasien
dan lihat respon pasien saat
berkurang atau hilang.
aktivitas pasca operatif. latihan
Kriteria hasil : - Konsultasikan dengan
Tanda dan gejala : - Klien meningkat dalam terapi fisik tentang rencana
aktivitas fisik
- Penurunan waktu ambulasi sesuai dengan
- Mengerti tujuan dari
reaksi kebutuhan
peningkatan mobilitas
- Kesulitan membolak- - Bantu klien untuk
- Memverbalisasikan
balik posisi menggunakan tongkat saat
perasaan dalam
- Dispnea setelah berjalan dan cegah terhadap
meningkatkan kekuatan
beraktifitas cedera
dan kemampuan
- Keterbatasan rentang - Ajarkan pasien atau tenaga
berpindah
pergerakan sendi kesehatan lain tentang
- Ketidakstabilan postur - Memperagakan teknik ambulasi
- Pergerakan lambat penggunaan alat bantu - Kaji kemampuan pasien
- Pergerakan tidak dalam mobilisasi
terkoordinasi untuk mobilisasi (walker) - Latih pasien dalam
pemenuhan kebutuhan
ADLs secara mandiri sesuai
kemampuan
- Damping danbantu pasien
saat mobilisasi dan bantu
penuhi kebutuhan ADLs ps
- Berikan alat bantu jika klien
memerlukan
- Ajarkan pasien bagaimana
merubah posisi dan berikan
bantuan jika diperlukan
8. Resiko infeksi b.d luka Setelah dilakukan intervensi - Pertahankan teknik aseptif
insisi tingkat kecemasan pasien - Batasi pengunjung bila
berkurang atau hilang.
Tanda dan gejala : perlu
Kriteria hasil :
- Prosedur Invasif - Klien bebas dari tanda dan - Cuci tangan setiap sebelum
- Kerusakan jaringan dan gejala infeksi dan sesudah tindakan
peningkatan paparan - Menunjukkan kemampuan keperawatan
lingkungan untuk mencegah - Gunakan baju, sarung
- Malnutrisi timbulnya infeksi tangan sebagai alat
- Peningkatan paparan - Jumlah leukosit dalam pelindung
lingkungan patogen batas normal - Ganti letak IV perifer dan
- Imonusupresi - Menunjukkan perilaku dressing sesuai dengan
- Tidak adekuat hidup sehat petunjuk umum
pertahanan sekunder - Status imun, - Tingkatkan intake nutrisi
(penurunan Hb, gastrointestinal, - Berikan terapi antibiotik
- Leukopenia, penekanan genitourinaria dalam batas - Monitor tanda dan gejala
respon inflamasi) normal infeksi sistemik dan lokal
- Penyakit kronik - Pertahankan teknik isolasi
k/p
- Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
- Monitor adanya luka
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
- Kaji suhu badan pada
pasien neutropenia setiap 4
jam
9. Resiko jatuh b.d penurunan Setelah dilakukan intervensi - Tingkatkan keamanan
kesadaran karena efek obat tingkat kecemasan pasien lingkungan sekitar pasien
berkurang atau hilang.
anestesi - Pasang pengaman tempat
Kriteria hasil :
Tanda dan gejala : - Pasien tenang tidur
- Usia 65 tahun atau lebih - Pasien aman tidak jatuh - Jaga posisi pasien dengan
- Usia dua tahun atau posisi chin lift
kurang - Panggil salah satu orang tua
- Penurunan status mental untuk menemani pasien
- Lingkungan yang tidak agar tidak bingung saat
terorganisasi sadar penuh
- Agen anestesi - Pantau efek anestesi yang
- Kesadaran kurang timbul
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN PERIANESTESI

A. Pengkajian
Hari/tanggal : Senin, 11 Maret 2019

Jam : 08.00 WIB

Tempat : IBS RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Metode : Wawancara, observasi, pemeriksaan fisik,

studi dokumen

Sumber data : Klien, tim kesehatan, status kesehatan klien

Oleh : Ayuningtyas, Neger dan Veni

Identitas Pasien
Nama : Tn. S
Umur : 55 th
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa/indonesia
Alamat : Klaten
No RM : 1055xxx
Diagosa pre operasi : OMSK + Mastoiditis
Tindakan operasi : Mastoidektomi
Tanggal operasi : 11 Maret 2019
Dokter bedah : dr. Budi Sp.THT
Dokter anestesi : dr. Reza Sp.An
TAHAP PRE ANESTESI

1. Keluhan utama : benjolan keluar masuk di lipat paha kanan.


2. Riwayat penyakit sekarang : sejak 4 hari yang lalu, orang tua pasien
mengeluhkan terdapat benjolan pada lipat paha kanan pasien yang hilang
timbul. Benjolan sebesar telur puyuh, awalnya kecil kemudian semakin lama
dirasakan semakin besar. Benjolan timbul dengan gerakan aktif pasien, batuk,
ataupun menangis dan hilang saat tidur/istirahat. BAK 3-4 kali sehari, BAK
berdarah (-), BAB lendir (-)
a. Riwayat penyakit dahulu : keluarga pasien mengatakan pasien memiliki
keluhan batuk-batuk dan memiliki penyakit rhinofaringitis.
b. Riwayat penyakit keluarga : keluarga pasien mengatakan tidak ada anggota
keluarga yang mempunyai riwayat penyakit hipertensi, DM, Asma, dan
lain-lain.
3. Pemerikasaan Fisik
a. Kesadaran umum dan tanda vital
Kesadaran : composmentis
BB : 57 kg
TB : 160 cm
IMT : 22,2 kg/m2
GCS : E4.V5.M6
TD : 149/100 mmHg
RR : 14 x/mnt
N : 82 x/mnt
Suhu : 36,7oC
b. Status Generalis
1) Kepala : Mesocephal
2) Mata : Cekung (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
oedema palpebra (-/-), oedema periorbita (-/-), refleks cahaya (+/+),
pupil isokor (2mm/2mm),
3) Hidung : Patensi +/+, simetris,deviasi (-), sekret (-), nafas cuping
hidung (-)
4) Mulut : Sianosis (-), gigi goyang(-), gigi utuh tidak ada yang
tanggal.
5) Telinga : Pendegaran baik, sekret (-)
6) Leher : JVP tidak meningkat, gerak leher bebas, trakea ditengah
7) Thoraks : bentuk normal, tidak tampak benjolan atau tumor
a) Pulmo
-Inspeksi : bentuknya normochest, pengembangan paru kanan dan
kiri sama
-Palpasi : Fremitus raba kanan kiri sama
-Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru
-Auskultasi : Suara nafas vesicular +/+, wheezing -/-, ronckhi -/-
b) Cor
-Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
-Palpasi : iktus kordis tidak kuat angkat
-Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar
-Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
c) Abdomen
-Inspeksi : Dinding perut sejajar dengan dinding dada, ekstensi (-)
-Auskultasi : Bising usus (+) normal
-Palpasi : Hepar dan lien tidak teraba, supel, nyeri tekan (-)
-Perkusi : Timpani
8) Ekstremitas
a) Atas : tidak ada kelemahan otot atau kontraktur dan kekuatan
kanan sama dengan kiri, tangan kiri terpasang cairan
infus RL 20 tpm tangan kiri, akral teraba hangat, warna
kulit merah muda.
b) Bawah : tak ada kelemahan otot, odema (+), anemis (-), akral
teraba hangat, warna kulit merah muda.
9) Genetalia : penis normal, OUE di ujung gland penis
10) Inguinal : Status Lokalis
Regio inguinalis dextra
-Inspeksi : tampak adanya benjolan ukuran 2 cm x1 cm x 1 cm dapat
keluar masuk, tanpa peradangan (-)
11) Psikologis
Pasien mengatakan belum pernah melakukan tindakan operasi
sebelumnya, pasien merasa cemas dan takut menjalani operasi
dikarenakan pasien masih bingung tindakan pembiusan dan
pembedahan yang akan dilakukan padanya
4. Pemeriksaan AMPLE
-Alergi : Tidak ada
-Medication : Amlodipin 10 mg p.o. dan Metformin 500 mg p.o
-Post illness :-
-Last meal : pukul 00.00 WIB
-Environment :-
5. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium: tanggal 5 Maret 2019
 Darah rutin
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 16,4 13,2-17,3 g/dl
Hematokrit 51,8 40 - 52%
Leukosit 10,69 3,8-10,6 ribu/ul
Trombosit 382 150-440 ribu/ul
APTT 29,8 20,0- 40,0 detik
PT 12,8 11,0-17,0 detik
Ureum 49,7 10-50 mgdL
Creatinin 1,05 0,9-1,3 mgdL
GDS 94,58 55-110 mgdL
Anti HIV Non Reaktif Non Reaktif
HBSAg Negatif Negatif
Natrium 139,4 135-145 mEq/L
Kalium 4,09 3,5 – 5 mEq/L

6. Rencana Anestesi
Seorang laki-laki 55 tahun, diagnosa medik OMSK + Mastoiditis
direncanakan dilakukan Mastoidektomy, status fisik ASA II direncanakan
general anestesi dengan Endotracheal Tube (ET).
7. Kebutuhan cairan
1. Kebutuhan Cairan
a. Monitoring cairan
Kebutuhan cairan pasien selama operasi yang harus terpenuhi
1) Rumus maintenance (M): 2cc x kgBB
2 ml x 57kg = 114 ml
2) Rumus pengganti puasa (PP):
Lama puasa (jam) x maintenance
8 jam x 114 ml = 912 ml
3) Rumus stress operasi (SO):
Jenis operasi (b/s/k) x BB
8 x 57 = 456 ml
b. Prinsip pemberian cairan durante operasi (Jam I-IV)
1) Jam I : M + ½ PP + SO = 114 ml + 456 ml + 456 ml = 1026 ml
2) Jam II dan III : M + ¼ PP + SO = 114 ml + 228 ml+ 456 ml= 798 ml
3) Jam IV : M + SO = 114 ml + 456 ml = 570 ml
8. Persiapan penatalaksanaan anestesi
a. Persiapan Alat
STATICS
S : Laringoscope Meyer, Stetoscope
T : Endotracheal Tube (ET)
A : OPA (Oropharingeal Airway), Jackson rees
T : Tape (plester)
I : Introducer (stilet)
C : Connector
S : Suction
1) Persiapan mesin anestesi dengan pernapasan spontan, dibantu
dengan manual menggunakan jackson rees.
2) Persiapan bedside monitor yaitu pulse oxymetri dan nadi.
3) Oksigen
4) Siapkan lembar laporan durante anestesi dan balance cairan
b. Persiapan obat
1) Obat premedikasi
- Fentanyl 100 mcg
2) Obat induksi
- Propofol 100 mg
3) Gas
- N2O 3,2 lpm
- O2 3,2 lpm
4) Cairan infuse
- Kristaloid : RL 500 cc
c. Persiapan pasien
1) Pasien tiba di IBS pukul: 08.00 WIB
2) Serah terima pasien dengan petugas ruangan, periksa status pasien
termasuk informed consent, dan obat-obatan yang telah diberikan
diruang perawatan.
3) Memindahkan pasien ke brankar IBS
4) Mengecek ulang identitas pasien, nama, alamat dan mengecek ulang
riwayat penyakit dan alergi, serta berat badan saat ini di dalam status
rekam medis pasien.
5) Memasang monitor tanda vital (saturasi oksigen)
TD : 149/100 mmHg N : 82x/mnt; SpO2: 100 %; RR : 14x/mnt
6) Memeriksa kelancaran infus dan alat kesehatan yang terpasang pada
pasien.
7) Mengkaji status psikologis pasien : pasien takut dan cemas menjalani
operasi, ditandai dengan menangis kuat saat melihat perawat.
8) Melakukan pemeriksaan pulmo pasien
- Inspeksi : dada simetris, pasien dalam bernapas menggunakan
pernapasan abdomen.
- Palpasi : vokal fremitus sama kanan dan kiri
- Perkusi : suara sonor
- Auskultasi : Wheezing -/-
9) Melaporkan kepada dokter anestesi hasil pemeriksaan di ruang
penerimaan dan dari kolaborasi dengan dokter anestesi pasien
dipindahkan ke meja operasi.
9. Penatalaksanaan anestesi
Penatalaksanaan anestesi di mulai dari memasang alat pelindung diri
(APD), alat monitor, manset, finger sensor, memulai persiapan dengan
memberikan gas, menyuntikan obat-obatan maintenance, pengakhiran
anestesi dan oksigenasi sampai dengan perawatan di recovery room.
Pasien dipindahkan di meja operasi dilakukan pemasangan monitor
tekanan darah, saturasi oksigen , hasil pengukuran monitor : TD : 149/100
mmHg N : 82x/mnt; SpO2: 100 %; RR : 14x/mnt, pernapasan spontan
TAHAP INTRA ANESTESI

1. Jenis Pembedahan : Mastoidektomy


2. Jenis Anestesi : General anestesi
3. Teknik Anestesi : Intubasi (ETT Oral)
4. Ukuran ETT : ETT No. 7,5
5. Laringioskop : Machintosh
6. Mulai Anestesi : Pukul 08.45 WIB
7. Mulai Operasi : Pukul 09.00 WIB
8. Posisi : Supinasi
9. Premedikasi : Fentanyl 100 mcg/IV
10. Induksi : Propofol 100 mg/IV
11. Pelumpuh otot : Atracurium 5 mg
12. Medikasi tambahan : Dexamethason 10 mg
Ondansetron 4 mg
Ketorolac 30 mg
Asam Traneksamat 1000 mg
13. Maintanance : Isoflurane, Atracurium 2 mg
Tidal Volume = BBx 8 ml
= 57 x 8 ml = 456 ml
Minute Volume = Tidal Volume x RR
= 456 x 14
= 6384 ml = 6,4 l/menit
N20:O2 = 50:50 ( 3,2 lt : 3,2 lt)
14. Respirasi : Kontrol manual menggunakan bagging
15. Suara nafas : Ronkhi
16. Cairan Durante Operasi : RL 2000 ml
17. Urin output : 300 ml
18. Pemantauan Tekanan Darah dan HR (terlampir)
19. Akral teraba dingin
20. Selesai operasi : 13.30 WIB
21. Selesai anestesi : 14.00 WIB
22. Pemantauan di IBS

JAM TD N SPO2 RR JAM TD N SPO2 RR

09.50 120/76 86 100% 21 11.40 129/89 82 100% 20

09.55 123/80 87 99% 22 11.45 121/79 80 99% 19

10.00 130/80 90 99% 23 11.50 125/80 89 99% 22

10.05 110/76 80 99% 20 11.55 126/86 74 99% 21

10.10 112/89 82 100% 20 12.00 120/79 77 100% 20

10.15 118/87 78 100% 20 12.05 125/80 76 100% 19

10.20 116/79 79 99% 21 12.10 125/78 80 99% 21

10.25 123/78 81 100% 21 12.15

10.20 130/89 80 100% 20 12.20

10.25 127/76 81 100% 18 12.25

10.40 131/89 88 100% 18 12.30

10.45 129/80 89 99% 19 12.35

10.50 130/88 90 99% 22 12.40

10.55 129/78 89 100% 21 12.45

11.00 127/80 80 100% 20 12.50

11.05 119/87 79 100% 19 12.55

11.10 121/89 80 100% 20 13.00

11.15 13.05

11.20 13.10

11.25 13.15

11.30 13.20

11.35 13.25
JAM TD N SPO2 RR

13.30 120/68 86 99% 20

13.35 122/75 87 99% 20

13.40 120/78 91 100% 19

13.45 125/89 88 100% 18

13.50 124/78 80 100% 19

13.55 125/79 81 100% 20

14.00
TAHAP POST ANESTESI

1. Pasien masuk ruang PACU pukul 14.05 WIB


2. Kesadaran Composmentis (E3 M 6V5)
3. Observasi tanda- tanda vital (terlampir)
4. Mual (-), muntah (-), pusing (-), Nyeri (-)
5. Jalan nafas per oral, nafas dibantu terapi, SpO2 100%
6. Suara nafas tambahan ronkhi
7. Posisi pasien pasca anestesi: supinasi
8. Perdarahan 500 ml

Penilaian Aldrete Skore

No Kriteria Skor Hasil


1 Aktivitas motorik :
Mampu 2
menggerakkan 1
empat ekstremitas

Mampu 1
menggerakkan dua
ekstremitas

Tidak mampu 0
menggerakkan
ekstremitas
2 Respirasi :
Mampu napas 2
dalam, batuk dan 2
tangis kuat
1
Sesak atau
pernapasan terbatas
0
Henti napas
3 Tekana darah :
Berubah sampai 2
20% dari prabedah 2

Berubah 20%-50% 1
dari prabedah

Berubah > 50% 0


dari prabedah
4 Kesadaran :
Sadar baik dan 2 2
orientasi baik

Sadar setelah 1
dipanggil
0
Tak ada tanggapan
terhadap rangsangan
5 Warna kulit : 2
Kemerahan 2
Pucat agak suram 1
Sianosis 0
Total 9
Pemantauan di PACU
Pasien di PACU dilakukan pemantauan tanda vital dan pengawasan post
operasi apakah ada tanda-tanda perdarahan, perubahan hemodinamik
akibat operasi dan anestesi, keluhan pasien post operasi.

JAM TD N SPO2 RR

14.05 120/68 86 99% 20

14.10 122/75 87 99% 20

14.15 120/78 91 100% 19

14.20 125/89 88 100% 18


BAB V
ASUHAN KEPERAWATAN ANESTESI

A. Analisa Data
No Tgl Data Masalah Etiologi
Pre Anestesi
1 11/03/2019 S : Nyeri akut Agen cedera
08.10 WIB O: biologis
-

S: Cemas Kurang
2. 11/03/2019 O: pengetahuan
08.15 WIB masalah
pembiusan/
operasi

3. 11/03/2019 S : - Pola nafas Disfungsi


09.40 WIB O: tidak efektif neuromuskular
dampak
sekunder obat
pelumpuh otot
pernapasan/
obat general
anestesi.
4. 11/03/2019 S : - Resiko Vasodilatasi
09.40 WIB O: gangguan pembuluh
keseimbangan darah dampak
cairan dan obat anestesi
elektrolit
5. 11/03/2019 S : - Bersihan Mukus
11.10 WIB O: jalan nafas banyak,
tidak efektif sekresi
tertahan efek
dari obat
general
anestesi
Post Anestesi
6. 11/03/2019 S : - Resiko cidera Pengaruh
11.30 WIB O: jatuh sekunder obat
anestesi

B. Diagnosa Keperawatan
1. Pre Anestesi
a. Nyeri Akut b.d agen cedera biologis ditandai dengan
b. Cemas b.d kurang pengetahuan masalah pembiusan/ operasi, ditandai
dengan
2. Intra Anestesi
a. Pola nafas tidak efektif b.d disfungsi neuromuskuler dampak sekunder
obat pelumpuh otot pernapasan/ obat general anestesi ditandai dengan
b. Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d vasodilatasi
pembuluh darah dampak obat anestesi di tandai dengan
c. Bersihan jalan napas tidak efektif b..d mukus banyak tertahan efek
dari obat general anestesi ditandai dengan
3. Post Anestesi
a. Resiko cidera jatuh b.d pengaruh sekunder obat anestesi, ditandai
dengan

C. Rencana dan Implementasi Keperawatan


Hari/ RENCANA
NO Tanggal DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN
1. Senin, Nyeri Akut Setelah 1. Lakukan 1. Pengkajian
11 Maret b.d agen dilakukan pengkajian nyeri secara
2019 cedera tindakan secara komprehensif
Jam 10.12 biologis keperawatan komprehensif dapat
WIB selama 10 menit termasuk lokasi, memudahkan
(Ayu, Neger, nyeri akut dapat karakteristik, dalam
Veni) teratasi dengan durasi,frekuensi, mengetahui
kriteria hasil : kualitas dan tingkat nyeri
1. Skala nyeri faktor yang dialami
berkurang presipitasi, pasien
dari 6 2. Observasi reaksi 2. Melakukan
menjadi 4 nonverbal dan observasi dapat
2. Tanda-tanda ketidaknyamana memudahkan
vital dalam n mengetahui
batas normal 3. Gunakan teknik ketidaknyamana
a. Tekanan komunikasi n yang terjadi
darah 120- teraupetik untuk pada pasien
140 mmHg / mengetahui 3. Teknik
90-60 pengalaman komunikasi
mmHg) nyeri pasien teraupetik dapat
b. Nadi (60-100 4. Ajarkan tentang membantu
x/menit) teknik merelaksasi
c. RR (16- nonfarmakologik pasien dan
20x/menit) nafas dalam mengurangi
3. Pasien tampak (Ayu, Neger, Veni) tingkat nyeri
lebih rileks pasien
4. Teknik non
(Ayu, Neger, farmakologi
Veni) seperti nafas
dalam mampu
membantu
menurunkan
tingkat nyeri
pada pasien
(Ayu, Neger,
Veni)
2. Senin, Cemas b.d Setelah 1. Kaji tingkat 1. Mengetahui
11 Maret kurang dilakukan kecemasan seberapa tingkat
2019 pengetahuan tindakan 2. Orientasikan kecemasan pada
Jam 10.12 masalah keperawatan dengan tim pasien untuk
WIB pembiusan/ kecemasan anestesi/kamar dapat
operasi pasien operasi melakukan
berkurang/hilang 3. Jelaskan jenis tindakan
dengan kriteria : prosedur selanjutnya
(Ayu, Neger, Setelah tindakan anestesi 2. Membantu
Veni) dilakukan asuhan yang akan pasien
keperawatan dilakukan mengenali tim
cemas 4. Beri dorongan operasi
berkurang/hilang pasien untuk 3. Membantu
dengan kriteria mengungkapkan pasien untuk
hasil: perasaan memahami
1. Pasien 5. Dampingi pasien tindakan
menyatakan untuk pembiusan dan
tahu tentang mengurangi pembedahan
proses kerja cemas yang akan
obat anestesi/ 6. Ajarkan teknik dilakukan pada
pembiusan relaksasi pasien
2. Pasien 7. Kolaborasi untuk 4. Mengungkapkan
menyatakan pemberian obat cerita kepada
siap penenang orang lain dapat
dilakukan mengurangi
pembiusan (Ayu, Neger, Veni) tingkat
3. Pasien kecemasan
mengkomunik pasien
a-sikan 5. Teknik reaksasi
perasaan dapat membantu
negatif secara mengurangi
tepat tingkat
4. Pasien kecemasan
tampak 6. Obat penenang
tenang dan dapat
kooperatif menghilangkan
5. TTV dalam kecemasan yang
batas normal ada pada pasien
(Ayu, Neger,
Veni) (Ayu, Neger,
Veni)

3. Senin, Pola nafas Setelah 1. Monitor aliran 1. Aliran oksigen


11 Maret tidak efektif dilakukan oksigen yang tepat dapat
2019 b.d disfungsi tindakan 2. Monitor ritme, mempermudah
Jam 11.15 neuromuskuler keperawatan irama, pernapasan dan
WIB dampak selama intra kedalaman dan pemenuhan
sekunder obat operasi pola usaha respirasi kebutuhan
pelumpuh otot nafas efektif , dan pola nafas oksigen pasien
pernapasan/ dengan kriteria: tachipnea,apnea 2. Mengetahui
obat general 1. Nadi dalam 3. Monitor tanda adanya gejala
anestesi batas normal hipoventilasi pola nafas tidak
(70-110 efektif
(Ayu, Neger, x/menit) 3. Mengetahui
Veni) 2. Irama (Ayu, Neger, Veni) terjadinya
pernapasan hipoventilasi
normal dengan
3. Pernapasan pengamatan
normal (20-30 terhadap saturasi
x/menit) oksigen
4. Jalan napas
paten, tidak
ada suara (Ayu, Neger, Veni)
napas
abnormal.

(Ayu, Neger,
Veni)
4. Senin, Resiko Setelah 1. Kaji tingkat
11 Maret gangguan dilakukan kekurangan
2019 keseimbangan tindakan volume cairan.
cairan dan keperawatan 2. Kolaborasi
elektrolit b.d keseimbangan untuk
vasodilatasi cairan dalam pemberian
pembuluh ruangan intrasel cairan dan
darah dampak dan ekstrasel elektrolit.
obat anestesi tubuh tercukupi 3. Monitor
dengan kriteria masukan dan
(Ayu, Neger, hasil: keluaran cairan
Veni) 1. Akral kulit dan elektrolit.
hangat 4. Monitor
2. Haemodinamik haemodinamik.
normal 5. Monitor
3. Masukan perdarahan.
cairan dan
keluaran cairan (Ayu, Neger, Veni)
seimbang

(Ayu, Neger,
Veni)
5. Senin, Bersihan jalan Setelah 1. Atur posisi 1. Posisi pasien
11 Maret napas tidak dilakukan pasien mempengaruhi
2019 efektif b..d tindakan 2. Pantau pola kemampuan
Jam 11.20 mukus banyak keperawatan nafas, saturasi pasien untuk
WIB tertahan efek selama intra dan respirasi bernapas
dari obat operasi bersihan 3. Buka jalan nafas 2. Tanda-tanda
general jalan nafas 4. Bersihkan ketidakefektifan
anestesi efektif , dengan sekresi bersihan jalan
kriteria: 5. Auskultasi suara nafas perlu
1. Pola nafas nafas dikaji untuk
normal: penanganan
frekuensi (Ayu, Neger, sedini mungkin
kedalaman, Veni) 3. Jalan nafas yang
dan irama lebar dapat
2. Suara napas mempermudah
bersih, tidak pasien untuk
ada suara bernapas
nafas 4. Suara nafas
tambahan tambahan
3. Tidak sianosis merupakan
(Ayu, Neger, indikator awal
Veni) adanya bersihan
jalan nafas tidak
efektif

(Ayu, Neger, Veni)


6. Senin, Resiko Pasien aman 1. Tingkatkan 1. Keadaan
11 Maret kecelakaan selama proses keamanan lingkungan
2019 cidera jatuh anestesi dan post lingkungan yang aman
Jam 11.40 berhubungan anestesi dengan sekitar pasien meminimalkan
WIB dengan efek kriteria : 2. Pasang pasien dari
anestesi (GA) 1. Pasien tenang pengaman cidera
2. Pasien aman tempat tidur 2. Posisi yang
tidak jatuh 3. Jaga posisi aman dan
(Ayu, Neger, pasien dengan nyaman
Veni) posisi chin lift meminimalkan
(Ayu, Neger, 4. Panggil salah pasien dari
Veni) satu orang tua cidera
untuk menemani 3. Meningkatkan
pasien agar tidak kenyamanan
bingung saat dan
sadar penuh menurunkan
5. Pantau efek resiko jatuh
anestesi yang karena pasien
timbul merasa aman
ditunggu orang
tuanya.
(Ayu, Neger, Veni) 4. Efek anestesi
yang timbul
dapat
menentukan
tindakan
keperawatan
selanjutnya

(Ayu, Neger, Veni)


D. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan
TANGGAL DIAGNOSA
IMPLEMENTASI EVALUASI
WAKTU KEPERAWATAN
11/03/2019 Nyeri Akut b.d Pre Operasi Senin,11 Maret
agen cedera Senin,11 Maret 2019 2019
biologis Jam 10.13 WIB Jam 10.18 WIB

11/03/2019 Cemas b.d kurang Senin,11 Maret 2019 Senin,11 Maret


10.13WIB pengetahuan orang Jam 10.13 WIB 2019
tua terhadap Jam 10.18 WIB
penyakit Veni S:
O:
Veni A : Cemas
teratasi
P : Lanjutkan
intervensi
pendampingan
pasien di meja
operasi,
pindahkan
pasien dari
ruang
penerimaan ke
meja operasi

Veni
11/03/2019 Intra Operasi Senin,11 Maret
Jam 10.55 Senin,11 Maret 2019 2019
Ayu Jam 10.55 WIB Jam 11.10 WIB
 Memantau tanda vital S:-
 Memberikan selimut O : warna kulit
penghagat disekitar pasien merah
leher dan kedua muda, akral
tangan teraba hangat,
 Memantau kebutuhan pasien tidak
cairan pasien menggigil

- N: 121x/mnt;
Ayu - RR: 28x/mnt
- SpO2 : 100%
- Suhu tubuh
pasien 36,50C
- terpasang
infus RL 20
tpm

A : Hipotermi
teratasi
P : lanjutkan
intervensi
sampai dengan
pasien selesai
tindakan di
kamar operasi

Ayu
11/03/2019 Resiko aspirasi Senin,11 Maret 2019 Senin,11 Maret
11.20 berhubungan Jam 11.20 WIB 2019
dengan penurunan Jam 11.25 WIB
tingkat kesadaran  Mengatur posisi
pasien di meja S : -
operasi O:
Veni  Memonitor nadi, - N: 121x/mnt;
pernafasan dan RR: 28x/mnt
saturasi pasien - SpO2 : 100%
 Memantau pemberian - Nafas pasien
oksigen, N2O dan spontan
kepatenan jalan nafas - Jalan nafas
paten
Veni - O2 2,1 l/menit
- N2O 1,5
l/menit

A : Resiko
aspirasi teratasi

P : Lanjutkan
intervensi
sampai dengan
pasien selesai
dilakukan
tindakan di
kamar operasi

Veni
11/03/2019 Bersihan napas Senin,11 Maret 2019 Senin,11 Maret
11.25 tidak efektif b..d Jam 11.25 WIB 2019
mukus banyak Jam 11.30 WIB
tertahan efek dari  Mengatur posisi
obat general pasien S:-
anestesi  Memantau pola O :
nafas, saturasi dan - suara nafas
respirasi bersih dan
Ayu  Membuka jalan tidak ada
nafas suara nafas
 Membersihkan tambahan
sekresi - jalan nafas
 Mengauskultasi efektif.
suara nafas - nafas spontan
- tidak terjadi
sianosis
Ayu - N :
120x/menit
- RR:
28x/menit
- SPO2 : 100%
A:
Ketidakefektifan
bersihan jalan
nafas teratasi
P : Lanjut
monitor secara
intensif di ruang
PACU.

Ayu
11/03/2019 Resiko kecelakaan Senin,11 Maret 2019 Senin,11 Maret
11.45 cidera jatuh Post Operasi 2019
berhubungan  Meningkatkan Jam 11.50 WIB
dengan efek keamanan
anestesi (GA) lingkungan sekitar S :-
pasien O: kesadaran
 Menjaga posisi CM, pasien
Neger pasien dengan posisi tampak tenang,
chin lift pengaman
 Memanggil salah tempat tidur
satu orang tua untuk terpasang
menemani pasien dengan baik dan
agar tidak bingung benar, pasien
saat sadar penuh tidak terjatuh
 Memantau efek selama proses
anestesi yang timbul pemindahan dan
 Memasang sampai di ruang
pengaman tempat RR
tidur N: 120x/mnt;
RR: 26x/mnt
SpO2 : 100%
Neger A : Resiko jatuh
teratasi
P : Lanjutkan
intervensi
sampai dengan
pasien
dipindahkan
keluar kamar
operasi.

Neger

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penatalaksanaan Asuhan Keperawatan General Anestesi pada An. A
dengan Hernia Inguinalis Lateralis Dekstra Reponsibel didapatkan 5
diagnosa keperawatan anestesi yaitu :
1. Cemas b.d kurang pengetahuan orang tua terhadap penyakit, ditandai
dengan ibu pasien mengatakan cemas karena tiba-tiba muncul benjolan
pada perut anaknya ketika anak bergerak aktif maupun batuk, orang tua
pasien bingung karena anaknya menangis terus menerus. Masalah
teratasi dengan 2 tujuan tercapai.
2. Hipotermi b.d terpapar di lingkungan dingin, ditandai dengan akral
teraba dingin, Nadi : 119x/menit RR : 28x/menit Suhu : 35,70C.
Masalah teratasi dengan 4 tujuan tercapai.
3. Resiko aspirasi b.d penurunan tingkat kesadaran, ditandai dengan napas
spontan dengan kendali manual menggunakan jackson rees, pasien
tidak sadar, pasien memiliki riwayat batuk-batuk. Masalah teratasi
dengan 6 tujuan tercapai.
4. Bersihan napas tidak efektif b..d mukus banyak tertahan efek dari obat
general anestesi ditandai dengan napas spontan, terdengar suara ronchi.
Masalah teratasi dengan 3 tujuan tercapai.
5. Resiko cidera jatuh b.d pengaruh sekunder obat anestesi, ditandai
dengan pasien post general anestesi, komposmentis dengan gerakan
tidak beraturan, brankar tidak ada pengaman.Masalah teratasi dengan 2
tujuan tercapai.

B. Saran
1. Seorang perawat anestesi harus mahir dalam melakukan pengkajian,
merumuskan diagnosa, menetapkan intervesi, melaksanakan
implementasi dan mengevaluasi respon pasien pasien pada tahap pre
anestesi, intra anestesi hingga post anestesi.
2. Perawat anestesi harus segera tanggap tanda kegawatan yang terjadi
pada pasien dan dapat mencegah agar kegawatan tidak terjadi.
3. Perawat anestesi harus bisa bermitra baik dengan dokter anestesi
secara efektif.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges Marylinn E, 2000. Moorhouse Mary Frances, geissler Alice. Rencana
Asuhan Keperawatan, (Edisi 3), Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
https://edoc.site/queue/lp-herniotomy-pdf-free.html diakses pada tanggal 7 Maret
2019 pukul 13.00 WIB.
https://id.scribd.com/document/331893726/Lp-Herniotomy diakses pada tanggal 7
Maret 2019 pukul 13.30 WIB.
https://id.scribd.com/document/207562652/Askep-Hernia-Pada-Anakdiakses pada
tanggal 7 Maret 2019 pukul 12.30 WIB
https://id.scribd.com/doc/194540854/Asuhan-Keperawatan-Perioperatif-Pasien-
HIL-SINISTRA diakses pada tanggal 7 Maret 2019 pukul 14.00 WIB.
Mansjoer, A, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, edisi III, Media Aesculapius,
Jakarta.
Setiawan, 2012. Hernia Inguinalis. (online), (http://setiawanaj.blogspot.com/
diakses tanggal 7 Maret 2019 pukul 13.30).
Sjamsuhidajat, Wim De Jong, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi, penerbit
EGC, Jakarta.