Anda di halaman 1dari 29

Case Report Session

URETHRITIS GONORE

Oleh :
Prudensia Eromot 1740312628
Kirbi Vira Akesa 1840312242

Preseptor :
dr. Ennesta Asri, SpKK (K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2018
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah kepada Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga
dapat menyelesaikan case report Urethritis Gonore.
Terima kasihpenulis ucapkan kepada dr. Ennesta Asri, SpKK (K) sebagai preseptor, serta
kepada semua pihak yang telah mendukung dalam penulisan case report ini.Penulis menyadari
bahwa dalam penulisancase ini masih terdapat kekurangan, oleh sebab itu penulis
mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak sehingga dapat bermanfaat dalam
memberikan wawasan dunia kesehatan untuk Indonesia yang lebih sehat.

Padang, 2 Januari 2019

Tim Penulis

i
Case Report Session
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


4
1.2 Rumusan Masalah
4
1.3 Tujuan Penulisan
4
1.4 Metode Penulisan
5
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definsi
6
2.2 Etiologi
6
2.3 Epidemiologi
6
2.4 Patogenesis
7
2.5 Patofisiologi
8
2.6 Gejala Klinis
8
2.7 Diagnosis
12
2.8 Tatalaksana
15

ii
Case Report Session
BAB 3 LAPORAN KASUS
3.1 Identitas Pasien
18
3.2 Anamnesis
18
3.3 Pemeriksaan Fisik
22
3.4 Resume
23
3.5 Diagnosis Kerja
24
3.6 Diagnosis Banding
24
3.7 Pemeriksaan Laboratorium Rutin
24
3.8 Pemeriksaan Anjuran
25
3.9 Diagnosis
25
3.10 Tatalaksana
25
3.11 Prognosis
27

BAB 4 DISKUSI
28
DAFTAR PUSTAKA
30

iii
Case Report Session
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gonorrhoeae adalah penyakit kelamin yang pada permulaannya
keluar cairan putih kental berupa nanah dari OUE (orifisium uretra
eksternum) sesudah melakukan hubungan kelamin. Penyakit ini
disebabkan oleh infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae. Insidensi tertinggi
terjadinya penyakit ini adalah di negara berkembang.
Gonorrhoeae Biasanya ditandai dengan uretritis purulen kelamin
dan disuria. Infeksi juga bisa tanpa gejala, terutama pada wanita. Penderita
Pembawa asimtomatik lebih mungkin menularkan penyakit dibandingkan
orang dengan infeksi terbuka. Demikian pula, infeksi anorektal dan faring,
yang tidak jarang terjadi pada wanita dan pria yang melakukan hubungan
seksual dengan pria, sering terjadi tanpa gejala akan tetapi tetap
merupakan sumber penularan yang potensial. Kejadian gonorrhoeae
diperkirakan Global adalah sekitar 62 juta orang terinfeksi setiap
tahunnya. Komplikasi yang terjadi pada penyakit gonorrhoeae ini adalah
termasuk epididimitis pada pria dengan risiko berikutnya infertilitas dan
kehamilan ektopik. Dalam sekitar 1% kasus, gonococcus menjadi invasif
dan bakteremia berkembang (Wong, 2011).

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan case report iniadalah untuk menambah pengetahuan
tentang etiologi, epidemiologi, patogenesis, gejala klinik, diagnosis, diagnosis
banding, tatalaksana, dan prognosis dari Gonore.

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah case ini yaitu definisi, etiologi, epidemiologi,
patogenesis, gejala klinik, diagnosis, diagnosis banding, tatalaksana, dan
prognosis dari Gonore.

4
1.4 Metode Penulisan
Penulisan case ini menggunakan metode penulisan tinjauan kepustakaan
merujuk pada berbagai literatur.

5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Gonorrhoeae adalah penyakit kelamin yang pada permulaannya
keluar cairan putih kental berupa nanah dari OUE (orifisium uretra
eksternum) sesudah melakukan hubungan kelamin yang disebabkan oleh
bakteri Neisseria gonorrhoeae, sebuah Diplococcus gram ngatif yang
reservoirnya adalah manusia. infeksi ini hampir selalu dikontrak selama
aktifitas seksual (Freedberg, 2003) (Siregar, 2004).
2.2 Etiologi
Penyebab penyakit gonorrhoeae adalah Gonokokus yang
ditemukan oleh Neissr pada tahun 1879, dan kemudian baru ditemukan
pada tahun 1982. Setelah ditemukan kemudian kuman tersebut dimasukan
dalam grup Neisseria dan pada grup ini dikenal 4 spesies dan diantaranya
adalah N. gonorrhoeae, N. meningitidis dimana kedua spesies ini bersifat
patogen. Kemudian 2 spesies lainnya yang bersifat komensel diantaranya
adalah N. catarrhalis dan N. pharyngis sicca. Keempat spesies dari grup
neisseria ini sukar untuk dibedakan kecuai dengan menggunakan tes
fermentasi. Gonokokus termasuk golongan bakteri diplokok berbentuk
seperti biji kopi yang bersifat tahan terhadap asam dan mempunyai ukuran
lebar 0,8µ dan mempunyai panjang 1,6µ. Dalam sediaan langsung yang
diwarnai dengan pewarnaan gram, kuman tersebut bersifat gram negatif,
tampak diluar dan didalam leukosit, kuman ini tidak tahan lama di udara
bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan terhadap suhu diatas
39oc, dan kuman ini tidak tahan terhadap zat desinfektan (Djuanda, 2008);
(Barakbah, 2005); (wolff, 2005).

2.3 Epidemiologi
Insidensi tertinggi terjadi di negara berkembang. Prevalensi
disseminated gonococcal infection (DGI) pada wanita hamil: 10% di
Afrika, 5% di Amerika Latin, 4% di Asia. 10 Insiden gonorrhoeae di
Amerika Serikat meningkat secara dramatis pada tahun 1960 dan awal
1970 mencapai lebih dari 1 juta kasus dilaporkan setiap tahun.

6
Diperkirakan bahwa kurang dari sepertiga dari kasus baru dilaporkan.
Pada tahun 1980, terjadi penurunan lambat dalam kasus yang dilaporkan
kepada sekitar 700.000 per tahun. Penurunan bertahap terus dengan
kurang dari 400.000 kasus gonorrhoeae dilaporkan pada tahun 2000. Tren
penurunan infeksi melambat, tapi terus berlanjut sampai 1997 (Freedberg,
2003); (wolff, 2005).
2.4 Patogenesis
Gonococci menyerang membran selaput lendir dari saluran
genitourinaria, mata, rektum dan tenggorokan, menghasilkan nanah akut
yang mengarah ke invasi jaringan; hal yang diikuti dengan inflamasi
kronis dan fibrosis. Pada pria, biasanya terjadi peradangan uretra, nanah
berwarna kuning dan kental, disertai rasa sakit ketika kencing. Infeksi
urethral pada pria dapat menjadi penyakit tanpa gejala. Pada wanita,
infeksi primer terjadi di endoserviks dan menyebar ke urethra dan vagina,
meningkatkan sekresi cairan mukopurulen. Ini dapat berkembang ke tuba
uterina, menyebabkan salpingitis, fibrosis dan obliterasi tuba (Daili, 2009).
Bakterimia yang disebabkan oleh gonococci mengarah pada lesi
kulit (terutama Papula dan Pustula yang hemoragis) yang terdapat pada
tangan, lengan, kaki dan tenosynovitis dan arthritis bernanah yang
biasanya terjadi pada lutut, pergelangan kaki dan tangan. Endocarditis
yang disebabkan oleh gonococci kurang dikenal namun merupakan infeksi
yang cukup parah. Gonococci kadang dapat menyebabkan meningitis dan
infeksi pada mata orang dewasa; penyakit tersebut memiliki manisfestasi
yang sama dengan yang disebabkan oleh meningococci (Daili, 2009).
Gonococci yang menyebabkan infeksi lokal sering peka terhadap
serum tetapi relatif resisten terhadap obat antimikroba. Sebaliknya,
gonococci yang masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan infeksi
yang menyebar biasanya resisten terhadap serum tetapi peka terhadap
penisilin dan obat antimikroba lainnya serta berasal dari auksotipe yang
memerlukan arginin, hipoxantin, dan urasil untuk pertumbuhannya (Daili,
2009).
2.5 Patofisiologi

7
Infeksi dimulai dengan adhesi pada sel mukosa ( urethra, vagina,
rectum, tenggorokan) kemudian penetrasi ke submukosa dan menyebar baik secara
langsung maupun hematogen (Daili, 2009).
1. Langsung
Pada pria menyebabkan prostatitis dan epididymitis, sedangkan pada
wanita langsung menyebar ke kelenjar Bartholin, paraserviks, tuba falopii, dst
(Daili, 2009).
2. Hematogen
Hanya 1% kasus, kebanyakan dari asymptomatic infection pada
wanita. Inidisebabkan adanya kelainan pertahanan tubuh, misalnya.
Defisiensi C6-9 atau bakteri yang kebal terhadap antibodi dan
komplemen, bakteri dengan protein porin A pada dinding sel kemudian
menginaktivasi C3b. Manifestasi berupa arthritis, lesikulit, dan
tenosynovitis (Daili, 2009).
2.6 Tanda dan Gejala
Masa tunas gonorrhoeae sangat singkat yaitu sekitar 2 hingga 5
hari pada pria. Sedangkan pada wanita, masa tunas sulit ditentukan akibat
adanya kecenderungan untuk bersifat asimptomatis pada wanita
(Manuaba, 2008).
Keluhan subjektif yang paling sering timbul adalah rasa gatal,
disuria, polakisuria, keluar duh tubuh mukopurulen dari ujung uretra yang
kadang-kadang dapat disertai darah dan rasa nyeri pada saat ereksi. Pada
pemeriksaan orifisium uretra eksternum tampak kemerahan, edema,
ekstropion dan pasien merasa panas. Pada beberapa kasus didapati pula
pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral maupun bilateral
(Manuaba, 2008).
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dari
pria. Pada wanita, gejala subjektif jarang ditemukan dan hampir tidak
pernah didapati kelainan objektif. Adapun gejala yang mungkin
dikeluhkan oleh penderita wanita adalah rasa nyeri pada panggul bawah,
dan dapat ditemukan serviks yang memerah dengan erosi dan sekret
mukopurulen (Manuaba, 2008).
1. Pada pria (Devrajani, 2010)
a. Uretritis

8
Uretritis yang paling sering dijumpai adalah uretritis anterior akut,
dan dapat menjalar ke proksimal, selanjutnya mengakibatkan
komplikasi lokal, ascenden, dan diseminata.
b. Tysonitis
Kelenjar tyson ialah kelenjar yang menghasilkan smegma. Infeksi
biasanya terjasdi pada penderita denga preputium yang sangat
panjang dan kebersihan yang kurang baik. Diagnosa dibuat
berdasarkan ditemukannya butir pus atau pembengkakan pada
daerah frenulum yang nyeri tekan. Bila duktus tertutup akan timbul
abses dan merupakan sumber infeksi laten.
c. Parauretritis
Sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka atau
hipospadia. Infgeksi pada pus ditandai dengan butir pus pada kedua
muara parauretra.
d. Littritis
Tidak ada gejala khusus, hanya pada urin ditemukan benang-
benang atau butir-butir. Bila salah satu saluran tersumbat, bisa
terjadi abses folikular. Didiagnosis dengan uretroskopi.
e. Cowperitis
Bila hanya duktus yang terkena biasanya tanpa gejala. Kalau
infeksi terjadi pada kelenjar cowperdapat terjadi abses. Keluhan
berupa nyeri dan adanya benjolan pada daerah perinium disertai
rasa penuh dan penas, nyeri pada waktu defekasi dan disuria. Jika
tidak diobati abses akan pecah melalui kulit perineum, uretra, atau
rektum, dan mengakibatkan proktitis.
f. Prostatitis
Prostatitis akut ditandai dengan perasaan tidak enak pada daerah
perineum dan suprapubis, melese, demam, nyeri kencing sampai
hematuri, spasme otot uretra sehingga terjadi retensi urin, tenesmus
ani, sulit buang airbesar dan obstipasi.
Pada pemeriksaan teraba pembesaran prostat dengan konsistensi
kenyal, nyeri tekan dan didapatkan fluktuasi bila telah terjadi abses.

9
Jika tidak diobati abses akan pecah masuk ke uretra posterior atau
ke arah rektum mengakibatkan proktitis.
Bila proktitis menjadi kronis, gejalanya ringan dan intermiten,
tetapi kadang-kadang menetap. Terasda tidak enak pada perineum
bagian dalam dan rasa tidak enak bila duduk terlalu lama. Pada
pemeriksaan prostat terasa kenyal berbentuk nodus, dan sedikit
nyeri pada penekanan. Pemeriksaan dengan pengurutan prostat
biasanya sulit menemukan kuman diplokokus atau gonokokus.
g. Vesikulitis
Vesikulitis biasanya radang akut yang mengenai vesikula seminalis
dan duktus ejakulatorius, dapat timbul menyertai prostatitis akut
atau epididimis akut. Gejala subyektif menyerupai prostatitis akut,
berupa demam, polakisuria, hematuria terminal, nyeri pada waktu
ereksi atau ejakulasi dan spasme mengandung darah.
Pada pemeriksaan melalui rektum dapat diraba vesikula seminalis
seminali yang bengkak dan mengeras seperti sosis memanjang di
atas prostat. Ada kalanya sulit menentukan batas kelenjar prostat
yang membesar.
h. Vasdeferentitis dan funikulitis
Gejala berupa perasaan nyeri pada daerah abdomen bagian bawah
pada sisi yang sama.
i. Epididimitis
Epididimitis akut biasanya unilateral dan setiap epididimitis
biasanya disertai deferentitis. Keadaan yang mempermudah
timbulnya epididimitis ini adalah trauma pada uretra posterior yang
disebabkan oleh salah penanganan atau kelalain penderita sendiri.
Faktor yang mempengruhi keadaan ini antara lain irigasi yg terlalu
sering dilakukan, cairan irigator terlalu panas, atau terlalu pekat,
instrumentasi yg terlalu kasar, pengurutan prostat yang berlebihan,
dan aktifitas seksual jasmani yang berlebihan.
Epididimitis dan tali spematika membengkak dan terasa panas,
juga testis, sehingga menyerupai hidrokel sekunder. Pada

10
penekanan terasa nyeri sekali. Bila mengenai kedua epididimis
dapat mengkibatkan sterilisasi.
j. Trigonitis
Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai trigonum
vesika urinaria. Trigonitis menimbulkan gejala poliuria, disuria
terminal, dan hematuri.
2. Pada wanita (Devrajani, 2010)
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda
dengan pria. Hal ini disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisiologi
alat kelamin pria dan wanita. Hal ini disebabkan oleh perbedaan
anatomi dan fisiologi alat kelamin pria dan wanita. Pada wanita, baik
penyakitnya akut maupun kronik, gejala subyektif jarang ditemuka
dan hampir tidak pernah didapati kelainan obyektif. Pada umumnya
wanita datang kalau sudah ada komplikasi. Sebagian penderita
ditemukan pada waktu pemeriksaan antenatal atau pemeriksaan
keluarga berencana.
Pada mulanya hanya servik uteri yang terkena infeksi. Duh
tubuh yang mukopurulen dan mengandung banyak gonokokus
mengalir keluar dan menyerang uretra, duktus parauretra, kelenjar
bartholin, rektum, dan dapat juga naik ke atas sampai pada daerah
kandung telur.
a. Uretritis
Gejala utama ialah disuria kadang-kadang poliuria. Pada
pemeriksaan orifiisum uretra eksternum tampak merah, edematosa,
dan ada sekret mukopurulen.
b. Parauretritis/skenitis
Kelenjar parauretra dapat terkena, tetapi abses jarang terjadi.
c. Servisitis
Dapat asimptomatis, kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada
punggung bawah. Pada pemeriksaan servik tampak merah dengan
erosi dan sekret mukopurulen. Sekret tubuh akan terlihat lebih
banyak, bila terjadi servisitis akut atau disertai vaginitis. Yang
disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.
d. Barthonilitis

11
Labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah dan
nyeritekan. Kelenjar bartholin membengkak, terasa nyeri sekali
bila penderita berjalan dan penderita sukar duduk. Bila saluran
kelenjar tersumbatdapat timbul abses dan dapat pecah menjadi
mukosa atau kulit. Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren atau
kista.
e. Salpingitis
Peradangan dapat bersifat akut, subakut atau kronis. Ada beberapa
faktor predisposisi yaitu:
1) Masa puerperium (nifas)
2) Dilatasi setelah kuratese
3) Pemakaian IUD, tindakan AKDR (alat kontrasepsi dalam
rahim).
Cara infeksi langsung dari servik melalui tuba fallopi sampai
pada daerah salping dan ovarium. Sehingga dapat menimbulkan
penyakit radang panggul (PRP). Infeksi PRP ini dapat
menimbulkan kehamilan ektopik dan sterilitas. Kira-kira 10%
wanita dengan gonore akan berakhir dengan PRP. Gejalanya terasa
nyeri pada daerah abdomen bawah, discharge tubuh vagina,
disuria, dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal.
2.7 Penegakan Diagnosis
Penegakan diagnosis dilakukan dengan cara yaitu anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (Daili, 2009).
1. Anamnesis
Pertanyaan yang diajukan kepada pasien dengan dugaan IMS
gonorrhoeae meliputi:
a. Keluhan dan riwayat penyakit saat ini.
b. Keadaan umum yang dirasakan.
c. Pengobatan yang telah diberikan, baik topikal ataupun sistemik
dengan penekanan pada antibiotik.
d. Riwayat seksual yaitu kontak seksual baik di dalam maupun di luar
pernikahan, berganti-ganti pasangan, kontak seksual dengan
pasangan setelah mengalami gejala penyakit, frekuensi dan jenis

12
kontak seksual, cara melakukan kontak seksual, dan apakah
pasangan juga mengalami keluhan atau gejala yang sama.
e. Riwayat penyakit terdahulu yang berhubungan dengan IMS atau
penyakit di daerah genital lain.
f. Riwayat penyakit berat lainnya.
g. Riwayat keluarga yaitu dugaan IMS yang ditularkan oleh ibu
kepada bayinya.
h. Keluhan lain yang mungkin berkaitan dengan komplikasi IMS,
misalnya erupsi kulit, nyeri sendi dan pada wanita tentang nyeri
perut bawah, gangguan haid, kehamilan dan hasilnya.
i. Riwayat alergi obat.

2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan kepada pasien harus
memperhatikan hal penting seperti kerahasiaan pribadi pasien. Pada
pasien pria, organ reproduksi lebih mudah diraba. Mula-mula inspeksi
daerah inguinal dan raba adakah pembesaran kelenjar dan catat
konsistensi, ukuran, mobilitas, rasa nyeri, serta tanda radang pada kulit
di atasnya. Pada waktu bersamaan, perhatikan daerah pubis dan kulit
sekitarnya, adanya pedikulosis, folikulitis atau lesi kulit lainnya.
Lakukan inspeksi skrotum, apakah asimetris, eritema, lesi superfisial
dan palpasi isi skrotum dengan hati-hati. Perhatikan keadaan penis
mulai dari dasar hingga ujung. Inspeksi daerah perineum dan anus
dengan posisi pasien sebaiknya bertumpu pada siku dan lutut (Daili,
2009).
Pada pasien wanita, pemeriksaan meliputi inspeksi dan palpasi
dimulai dari daerah inguinal dan sekitarnya. Untuk menilai keadaan di
dalam vagina, gunakan spekulum dengan informed consent kepada
pasien terlebih dahulu. Lakukan pemeriksaan bimanual untuk menilai
ukuran, bentuk, posisi, mobilitas, konsistensi dan kontur uterus serta
deteksi kelainan pada adneksa (Daili, 2009).
3. Pemeriksaan penunjang

13
Pengambilan bahan duh tubuh uretra pria, dapat dilakukan
dengan menggunakan lidi kapas yang dimasukkan ke dalam uretra.
Sedangkan pengambilan duh tubuh genital pada wanita dilakukan
dengan spekulum dan mengusapkan kapas lidi di dalam vagina dan
kemudian dioleskan ke kaca objek bersih (Daili, 2009).
a. Pemeriksaan Gram
Pemeriksaan Gram dengan menggunakan sediaan langsung
dari duh uretra memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi
terutama pada duh uretra pria, sedangkan duh endoserviks memiliki
sensitivitas yang tidak begitu tinggi. Pemeriksaan ini akan
menunjukkan N.gonorrhoeae yang merupakan bakteri gram negatif
dan dapat ditemukan baik di dalam maupun luar sel leukosit (Daili,
2009).
b. Kultur
Kultur untuk bakteri N.gonorrhoeae umumnya dilakukan
pada media pertumbuhan Thayer-Martin yang mengandung
vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman gram positif dan
kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-gram dan
nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur. Pemeriksaan kultur ini
merupakan pemeriksaan dengan sensitivitas dan spesifisitas yang
tinggi, sehingga sangat dianjurkan dilakukan terutama pada pasien
wanita (Daili, 2009).
c. Tes defenitif
Tes oksidasi akan ditemukan semua Neisseria akan
mengoksidasi dan mengubah warna koloni yang semula bening
menjadi merah muda hingga merah lembayung. Sedangkan dengan
tes fermentasi dapat dibedakan N.gonorrhoeae yang hanya dapat
meragikan glukosa saja (Daili, 2009).
d. Tes beta-laktamase
Tes ini menggunakan cefinase TM disc dan akan tampak perubahan
warna koloni dari kuning menjadi merah (Daili, 2009).
e. Tes Thomson

14
Tes ini dilakukan dengan menampung urine setelah bangun
pagi ke dalam 2 gelas dan tidak boleh menahan kencing dari gelas
pertama ke gelas kedua. Hasil dinyatakan positif jika gelas pertama
tampak keruh sedangkan gelas kedua tampak jernih (Daili, 2009)

Gambaran Histopatologi (Marcus, 2010)

Gambar. 2. Gram stain dari


Gambar. 1. N. gonorrhoeae eksudat uretra yang menunjujkan
N. gonore dalan PMN

2.8 Penatalaksanaan
1. Non Medikamentosa (Wilson, 2009)
a. Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan
tentang:
1) Bahaya penyakit menular seksual (PMS) dan komplikasinya
2) Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
3) Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan
seks tetapnya.
4) Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai
kondom jika tidak dapat dihindarkan
5) Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang
b. Pengobatan pada pasangan seksual tetapnya.
2. Medikamentosa (Wilson, 2009)
a. Walaupun semua gonokokus sebelumnya sangat sensitif terhadap
penicilin, banyak ‘strain’ yang sekarang relatif resisten. Terapi
penicillin, amoksisilin, dan tetrasiklin masih tetap merupakan
pengobatan pilihan.

15
b. Untuk sebagian besar infeksi, penicillin G dalam aqua 4,8 unit
ditambah 1 gr probonesid per-oral sebelum penyuntikan penicillin
merupakan pengobatan yang memadai.
c. Spectinomycin berguna untuk penderita yang alergi penisilin,
penyakit gonokokus yang resisten dan penderita yang juga
tersangka menderita sifilis karena obat ini tidak menutupi gejala
sifilis . Dosis: 2 gr IM untuk pria dan 4 gr untuk wanita.
d. Kanamisin baik untuk penderita yang alergi penisilin, gagal dengan
pengobatan penisilin dan tersangka sifilis. Dosis : 2 gr IM
3. Tindak lanjut
Kontrol dilakukan pada hari ke-7 untuk diperiksa klinis maupun
laboratoris.
4. Kriteria kesembuhan
Penderita urethritis gonorrhoeae dinyatakan sembuh bila
setelah 7 hari sesudah pengobatan tanpa hubungan seksual penderita
secara klinis maupun lab. dinyatakan baik. Bila dalam waktu kurang
dari 7 hari, disertai hubungan seksual dan ternyata dalam pemeriksaan
klinis dan laboratoris masih positif, penderita dinyatakan reinfeksi.
Sedangkan bila diluar kriteria tersebut diatas dianggap relaps.
3. Prognosis
Infeksi gonorrhoeae yang belum menyebar melalui aliran darah ke
daerah lain hampir selalu dapat disembuhkan dengan antibiotik.
Gonorrhoeae yang telah menyebar merupakan infeksi yang lebih serius
tapi hampir selalu dapat membaik dengan pengobatan.

16
BAB 3
LAPORAN KASUS
3.1 IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. S
Umur : 25 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Pekerjaan : Polisi
Alamat : Jl. Jati Rawang no 7A, Padang
Status Perkawinan : Belum Menikah
Negara Asal : Indonesia
Agama : Islam

No HP : 0821690098xx
Tanggal Pemeriksaan : 2 Januari 2019
3.2. ANAMNESIS

Seorang pasien laki-laki usia 25 tahun datang ke poliklinik kulit dan

kelamin RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 2 Januari 2019 dengan:

1. Keluhan Utama:

Nyeri saat BAK yang disertai keluarnya cairan kental berwarna kekuning

dari kemaluan sejak 2 hari yang lalu.

2. Riwayat Penyakit Sekarang:


- Nyeri saat BAK yang disertai keluarnya cairan kental berwarna

kuning dari kemaluan sejak 2 hari yang lalu.Cairan kental

17
berwarna kuning dan tidak berbau.Tidak ada nyeri saat cairan

keluar dan tidak ada keluhan gatal pada kemaluan.


- Awalnya ± 3 bulan yang lalu pasien berhubungan seksual dengan

wanita yang bukan istrinya. Hubungan seksual yang terakhir 5 hari

yang lalu dengan PSK. Pasien mengaku berhubungan seksual

secara oro-genital dan genito-genital. Waktu berhubungan seksual

pasien tidak menggunakan kondom. 3 hari setelah hubungan

seksual terakhir keluar cairan kental kuning dari kemaluan disertai

nyeri.
- Berhubungan seksual dengan laki-laki tidak ada.
- Keluhan susah menahan buang air kecil tidak ada, keluhan buang

air kecil menetes tidak ada, keluhan buang air kecil berdarah tidak

ada, keluhan buang air kecil berpasir tidak ada.


- Riwayat tukak tidak nyeri dan hilang sendiri tidak ada.
- Riwayat tukak nyeri dan bernanah tidak ada.
- Riwayat gelembung berisi cairan yang pecah dan menyebabkan

nyeri tidak ada.


- Keluhan bercak merah di telapak tangan dan kaki serta badan yang

tidak nyeri dan tidak gatal tidak ada.


- Riwayat kutil di kemaluan tidak ada
- Riwayat keputihan, tukak/kutil kelamin pada pasangan (PSK) tidak

diketahui.
- Riwayat pasangan seksual pasien memiliki keluhan yang sama

dengan pasien tidak diketahui.


- Riwayat pasangan seksual pasien memiliki pasangan seksual lain

tidak diketahui.
- Pasien tidak mengalami demam dan tidak ada pembesaran KGB.
- Tidak ada keluhan bintik merah pada kulit.
- Riwayat menggunakan narkoba dan transfusi darah serta rutin

donor darah ada.


3. Riwayat penyakit Dahulu

18
- Pasien tidak pernah mengalami keluhan nyeri saat BAK dan keluar

cairan kuning kental dari kemaluan sebelumnya.


- Riwayat kutil di kelamin dan anus disangkal.
- Riwayat luka lecet/borok pada penis sebelumnya disangkal.
- Riwayat bercak-bercak merah pada kedua tangan dan kaki

disangkal.
4. Riwayat pengobatan:
Pasien sudah mengonsumsi obat anti nyeri setelah gejala muncul, keluhan

nyeri hanya berkurang sedikit namun masih keluar cairan kental kuning

dari kemaluannya.
5. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang menderita nyeri saat BAK dan keluarnya

cairan kuning kental dari kemaluan.


6. Riwayat atopi/riwayat alergi

- Riwayat asma tidak ada.

- Riwayat bersin-bersin di pagi hari tidak ada.

- Riwayat alergi obat tidak ada.

- Riwayat alergi makanan tidak ada.

- Riwayat alergi serbuk sari tidak ada.

- Riwayat urtikaria tidak ada.

- Riwayat konjungtivitis alergi tidak ada.

7. Riwayat pekerjaan, sosial, ekonomi, kejiwaan, dan kebiasaan

- Pasien seorang polisi.

- Pasien memiliki riwayat mengkonsumsi narkoba jenis sabu dan

memiliki tato.

19
3.3 PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
- Keadaan umum : Tampak sakit ringan
- Kesadaran : Komposmentis Kooperatif
- Suhu : 370 C
- BB : 65 kg
- TB : 170 cm
- IMT : 22,5
- Status Gizi : Baik
- Kepala : Tidak ditemukan kelainan
- Pembesaran KGB : Tidak terdapat pembesaran KGB
- Pemeriksaan Thorax : Tidak ditemukan kelainan
- Pemeriksaan Abdomen : Tidak ditemukan kelainan

20
2. Status Dermatologikus : Tidak ditemukan kelainan
3. Status Venerologikus
1) Inspeksi
a) Pubis : edema (-), eritem (-), vegetasi (-), ulkus (-) vesikel

(-)
b) Penis : edema (-), eritem (-), vegetasi (-), ulkus (-) vesikel

(-)
c) OUE : edema (-) eritem (-), vegetasi (-), ulkus (-) vesikel

(-) , duh (+) warna kekuningan, tidak berbau, jumlah sedikit

dan konsistensi kental.


d) Skrotum : edema (-) eritem (-), vegetasi (-), ulkus (-)

vesikel
e) Perianal : edema (-) eritem (-), vegetasi (-), ulkus (-) vesikel
f) Perineal : edema (-) eritem (-), vegetasi (-), ulkus (-) vesikel
g) KGB : Tidak terlihat pembesaran KGB Inguinal medial
2) Palpasi
a) KGB : Tidak ada pembesaran KGB Inguinal
4. Kelainan Selaput : Tidak ada kelainan
5. Kelainan Kuku :Tidak ada kelainan
6. Kelainan Rambut : Tidak ada kelainan
7. Kelenjar Limfe : Pembesaran KGB Inguinal (-)
3.4 RESUME

Pasien laki-laki usia 25 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin pada

tanggal 2 Januari 2019 dengan keluhan utama nyeri saat BAK yang disertai

keluarnya cairan kental berwarna kuning dari kemaluan yang semakin bertambah

sejak 2 hari yang lalu.Riwayat berhubungan seksual dengan teman dan PSK ada

dan tidak menggunakan kondom.Pasien mengaku berhubungan seksual secara

oro-genital dan genito-genital. 3 hari setelah berhubungan seksual pasien

merasakan nyeri saat BAK dan keluar cairan kental kuning dari kemaluan. Pasien

tidak pernah mengalami keluhan nyeri BAK dan keluar cairan kental kuning dari

kemaluan seperti ini sebelumnya. Pasien sudah mengonsumsi obat anti nyeri

untuk mengobati gejala tersebut. Setelah mengonsumsi obat tersebut keluhan

21
nyeri BAK pada pasien berkurang selama beberapa hari namun keluhan keluarnya

cairan dari kemaluan masih ada.

Pasien tidak mempunyai riwayat alergi makanan, obat-obatan, ataupun

riwayat atopi.Pasien seorang pegawai di perusahaan tekstil sebagai operator.

Pada pemeriksaan fisik, ditemukan duh mukopurulen dari orifisium

urethra eksterna , tidak ada pembesaran KGB, pubis, penis, perianal dan perineal

dalam batas normal.

3.5 DIAGNOSIS KERJA

Ureteritis e.c. susp.Gonore

3.6 DIAGNOSIS BANDING

Tidak ada diagnosis banding

3.7 PEMERIKSAAN LABORATORIUM RUTIN

Pada sediaan langsung dari bahan duh dengan pewarnaan Gram ditemukan

hasil:
PMN: 50-70 sel/LPB
Ditemukan kuman diplococcus Gram negatif intraseluler dan ekstraseluler.

22
3.8 PEMERIKSAAN ANJURAN
Kultur media Thayer martin
3.9 DIAGNOSIS
Uretritis Gonore non Komplikata
3.10 TATALAKSANA
a. Umum (Non-Farmakologi)
1. Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakitnya disebabkan oleh bakteri

Neisseria gonorrhoae yang ditularkan melalui kontak seksual dengan

berganti-ganti pasangan sehingga pasien harus menghindari

berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan.


2. Menjelaskan kepada pasien bahwa prognosis penyakit ini baik apabila

pasien teratur minum obat dan menghindari berhubungan seksual

dengan berganti-ganti pasangan.


3. Anjurkan abstinensia sampai infeksi dinyatakan sembuh secara

laboratorium, bila tidak memungkinkan anjurkan pemakaian kondom.


4.Lakukan konseling mengenai pengobatan, komplikasi dan pentingnya

keteraturan pengobatan.
5. Anjurkan pemeriksaan terhadap infeksi HIV ke poliklinik VCT.
b. Khusus:

23
Sistemik : Ceftriaxon 250 mg IM

Resep

dr. Muda kulit


Praktik Umum
SIP 123456789
Hari: Senin-Jumat
Jam: 16.00-20.00
Alamat: Jl Jati No 17, Padang
Telp: 081363123456

Padang, 2 Januari 2019

R/ Inj. Seftriakson 1 gr vial no I


S.i.m.m
R/ Aqua pro inj fls no I
S.i.m.m
R/ Spuit 10 cc no I
Spuit 1 cc no I

Pro : Tn. S
Umur : 25 tahun
Alamat : Jl Jati Rawang no 7A, Padang

3.11 PROGNOSIS

Quo ad sanam : bonam

Quo ad vitam : bonam

Quo ad kosmetikum : bonam

Quo ad functionum : bonam

24
BAB 4

DISKUSI

Telah diperiksa seorang pasien laki-laki usia 25 tahun di Poli Kulit Kelamin
RSUP DR M Djamil Padang, dengan keluhan utama nyeri saat BAK disertai
keluarnya cairan kental kuning dari kemaluan sejak 2 hari yang lalu. Dilakukan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada pasien ini.
Dari anamnesis pasien mengeluhkan nyeri saat BAK disertai keluarnya
cairan kental kuning dari kemaluan sejak 2 hari yang lalu. Nyeri saat berkemih
bisa disebabkan oleh infeksi maupun noninfeksi. Infeksi paling banyak

25
disebabkan oleh sistitis, namun juga terdapat penyebab lain seperti uretritis,
penyakit menular seksual dan vaginitis. Sedangkan penyebab noninfeksi dapat
meliputi, adanya benda asing pada saluran kemih yang dapat terjadi pada pasien
dengan batu saluran kemih. Selain itu pada pasien ini juga mengeluhkan adanya
nanah yang keluar dari muara uretra. Adanya discharge pada pasien pada saluran
kemih dipikirkan terjadinya uretritis yang disebabkan oleh infeksi dan non-
infeksi. Ada atau tidaknya infeksi dapat dibedakan dengan adanya discharge
genital atau tidak. Namun hal ini tidak sepenuhnya dapat digunakan, karena
terkadang uretritis akibat infeksi juga dapat ditemukan ketiadaan dari discharge
itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan anamnesis lainnya untuk mendukung
diagnosis. Nyeri saat BAK disertai keluarnya cairan kental kuning terutama di
pagi hari, sudah mengonsumsi obat anti nyeri yang dibeli oleh pasien sendiri.
Tidak ada riwayat keluhan nyeri saat BAK dan keluarnya cairan kental kuning
dari kemaluan seperti ini sebelumnya.
Buang air kecil ada, jumlah sedikit-sedikit dan sering, sehingga pasien
merasa kurang puas, warna buang air kecil kuning biasa. Buang air kecil dengan
jumlah sedikit dapat terjadi dikarenakan adanya disuria, sehingga pasien merasa
tidak nyaman saat berkemih. Dari warna urin juga dapat membedakan dasar
keluhan yang terjadi pada pasien. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya
disuria dapat terjadi salah satunya oleh sistitis. Namun, warna urin pada sistitis
dapat berupa berwarna keruh ataupun gelap dan memiliki bau yang kuat,
sedangkan pada pasien ini tidak ditemukan adanya keluhan pada urinnya sehingga
diagnosis sistitis dapat disingkirkan. Keluhan susah menahan buang air kecil tidak
ada, keluhan buang air kecil menetes tidak ada, keluhan buang air kecil berdarah
tidak ada, keluhan buang air kecil berpasir tidak ada.
Riwayat kontak seksual dengan 3 orang wanita berbeda. Pasangan kontak
seksual terakhir 5 hari yang lalu dengan seorang PSK sebanyak 1 kali.Riwayat
kontak seksual dengan oro-gental dan genito-genital. Pasien mengaku tidak
menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Adanya riwayat unprotected
sexual intercourse dapat mendukung adanya uretritis yang diakibatkan oleh
sexual transmitted disease.

26
Dari pemeriksaan venerologi dalam batas normal, tetapi ditemukan duh
pada orifisium uretra eksterna. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah
pewarnaan Gram ditemukan PMN: 50-70 sel/LPB dan ditemukan kuman
diplococcus Gram negatif intraseluler dan ekstraseluler sehingga pasien
didiagnosis dengan uretritis gonore tanpa komplikasi. Untuk tatalaksananya
dengan nonfarmakologi dan farmakologi.Penatalaksanaan medikamentosa pada
pasien ini adalah dengan diberikannya seftriakson 250 mg dosis tunggal secara
IM. Hal ini sesuai dengan literatur yang ada, yaitu panduan praktis klinis oleh
PERDOSKI tahun 2017.

Daftar Pustaka

Barakbah, J. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Daili, S.F., 2009. Gonore. In: Daili, S.F., et al., Infeksi Menular Seksual. 4th ed.
Jakarta: Balai Penerbitan FKUI, 65-76.

Devrajani, Bikha R. 2010. Frequency And Pattern Of Gonorrhoea At Liaquat


University Hospital, Hyderabad (A hospital Based Descriptive Study).

27
Djuanda, Adhi, Mochtar, Aisah, Siti. 2008. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Edisi Kelima. Jakarta : FKUI

Freedberg, IM. 2003. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. USA:


McGraw-Hill

Manuaba, IBG. 2008. Gawat Darurat Obstetric-Ginekologi Dan Obstetric-


Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC. Hlm: 296-299.

Marcus, Ulrich. 2010. Reported Incidence Of Gonorrhoea And Syphilis In East


And West Germany.

Siregar,R.S.2004. Sari Pati Penyakit Kulit. EGC : Jakarta, hal : 299

Wilson, Walter R. 2009. Current Diagnosis & Treatment In Infectious Diseases.


USA: The McGraw- -Hill Companies.

Wolff K, Richard AJ, Dick S. 2005. fitzpatrick's color atlas and synopsis of
clinical dermatology. English: McGraw-Hill Professional.

Wong, Brian. 2011. Gonococcal Infections. diakses 1 November 2013 dari


http://emedicine.medscape.com/article/218059-overview

28