Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN ROLE MODEL ORANGTUA DENGAN PERILAKU

BULLYING PADA ANAK USIA SEKOLAH SDN 1 LUMANSARI


GEMUH – KENDAL

MANUSCRIF

Disusun Oleh :

MUHAMMAD YUSUF AINUL RIZAL

NIM. 1503056

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2019
PENDAHULUAN
Perilaku Bullying merupakan sebuah tindakan atau perilaku agresif
yang disengaja, yang dilakukan oleh sekelompok orang atau seseorang secara
berulang- ulang dan dari waktu ke waktu terhadap seorang korban yang tidak
dapat mempertahankan dirinya.1 Istilah Bullying dialihbahasakan kedalam
bahasa Indonesia yang dikenal dengan perundungan atau tindakan kekerasan
yang dilakukan terus-menerus. Perundungan saat ini sudah dibakukan
sehingga tidak perlu menggunakan serapan bahasa asing. Meskipun sudah
dialihbahasakan keduanya tetap memiliki arti sama.2
Pada kenyataannya banyak kekerasan terjadi di lingkungan sekolah.
Fenomena perundungan menjadi satu mata rantai yang tidak terputus. Setiap
generasi akan memperlakukan hal yang sama untuk merespon kondisi
situasional yang menekan sehingga pola perilaku yang diwariskan ini menjadi
budaya kekerasan. Kekerasan dapat terjadi dimana saja tak terkecuali di
sekolah. Perundungan (Bullying) sebagai salah satu tindakan agresif
merupakan masalah yang sudah mendunia, salah satunya di Indonesia.
Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan
dari tahun 2013 sampai 2016 tercatat 369 pengaduan yang diterima. Jumlah
tersebut 25% berisi pengaduan di bidang pendidikan sebanyak 1.840 kasus.3
Prevalensi tingkat perundungan (Bullying) oleh siswa dan siswi di
Jawa Tengah sebesar 66,1% di tingkat SMP dan 76,9% di tingkat pelajar
SMA (Kristinawati, 2016). Salah satu pemberitaan yang ditemukanadalah
kekerasan terhadap teman sekelas yang merupakan siswa SMP di Sleman
yang dengan tega memasukan botol kedalam kemaluan korban hingga
korban mengalami kencing darah. Adapula fenomena kekerasan yang sangat
terkenal yang dilakukan oleh siswi SMA di Pati yang dikenal dengan Geng
Nero. Kekerasan yang biasanya dilakukan oleh siswa laki-laki, berbeda
dengan hal tersebut siswi SMA di Pati berani melakukan tawuran pelajar yang
bersenjatakan alat tajam.4 .
Adapun permasalahan perundungan (Bullying) verbal yang
dilakukan siswa berupa mencemooh, mengintimidasi, mengejek nama dan
pekerjaan orangtua teman yang berasal dari keluarga dengan perekonomian
rendah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara ditemukan bahwa
anak yang memiliki kekuatan baik secara fisik, berasal dari keluarga
yang kaya serta memiliki figur orangtua yang kuat (seperti sang ayah
bersikap keras ketika di rumah) menjadikan anak membully teman-temannya.
Hal tersebut didukung oleh teori Albert Bandura mengenai teori
belajar sosial bahwa seseorang belajar melalui pengamatn dengan peniruan
(modelling). Terdapat dua jenis pembelajaran melalui pengamatan, yang
pertama belajar melalui pengamatan kondisi yang dialami oleh oranglain dan
yang kedua belajar melalui pengamatan meniru model atau figur tertentu.
Belajar sosial kedua ini dengan memperhatikan model yang memiliki peran
sebagai pemeran untuk ditiru.5
Ayah bertanggungjawab untuk menjadi teladan dan pengaruh positif
bagi anak. Ayah mengajar anak dengan menjadi role model, bagi anak orang
tua adalah contoh ideal dalam berperilaku. Sehingga apa yang anak lihat
dalam cara berperilaku ayahnya akan di contoh oleh anak secara sadar maupun
tidak sadar. Contohnya, seorang ayah dapat mengajarkan anak mengenai
empati dengan cara menunjukkan sikap sensitif dan perilaku menolong orang
lain.
Georgiou dalam Nikivorou, Georgiou & Stavrinides, menyatakan
bahwa rolle model yang buruk maka akan tinggi tingkat perilaku bullying.
Para peneliti yang sama juga menemukan bahwa orangtua yang sering merasa
marah dengan anak-anak mereka maka anak-anak cenderung memiliki perilaku
bullying dikarenakan anak meniru orangtua.6 Tis’ina dan Suroso (2015) juga
telah melakukan penelitian yang menyatakan bahwa rolle model yang buruk
orangtua maka bullying anak disekolah semakin tinggi, sebaliknya semakin
rendah pola asuh otoriter yang diterapkan orangtua maka bullying anak
disekolah juga akan semakin rendah.7
Ketidakmampuan orang tua tunggal untuk menjadi role model yang
utuh, akan menimbulkan kegagalan peran di dalam rumah. Menurut William J.
Goode kegagalan peran tersebut rupanya mempunyai akibat yang lebih
merusak terhadap anak-anak. Kondisi yang tercipta adalah anak mencari
contoh lain untuk dijadukan panutan, perilaku anak menjadi lebih bebas,
anak menjadi lebih sulit diatur, anak menjadi lebih sering bermain di luar
rumah, dan sekolah hanya sekedar pergi ke sekolah, bermain dan mendapat
uang jajan.8
Pelaku Bullying memiliki kekurangan dalam kemampuan berempati
seperti ketidakmampuan untuk menghargai emosional dan perasaan orang
lain sehingga tidak seharusnya perilaku Bullying dipandang sebagai
bagian yang normal dalam kehidupan sosial. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Argiati (2010) yang meneliti tentang perilaku Bullying pada
siswa SMA di Yogyakarta menemukan bahwa sebagian besar siswa berusaha
untuk membalas perlakuan pelaku Bullying sebanyak 49,56%, memaklumi
tindakan pelaku Bullying 35,4% dan diam karena merasa tidak berdaya
30,94%. Sebagian anak melarikan diri dari pelaku 16,81% dan anak
yang menuruti keinginan perilaku Bullying karena takut diperlakukan lebih
buruk sebanyak 5,31%. Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku Bullying
merupakan suatu masalah yang serius dengan dampak negatif yang dapat
ditimbulkan.9
Dari data hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan
oleh peneliti pada bulan januari 2019 DI SDN 1 Lumansari, Gemuh - Kendal
yang dilakukan kepada kepala sekolah, guru dan didapatkan temuan
mengenai perilaku bullying yang terjadi di sekolah tersebut. Dari pihak
kepala sekolah diperoleh informasi bahwa terdapat siswa- siswinya terlibat
dalam kasus bullying di sekolah, kepala sekolah juga menjelaskan perilaku
bullying yang sering terjadi di sekolah berbentuk bullying verbal, seperti
adanya siswa atau siswi yang seringkali mendapatkan ejekan atau julukan
oleh teman-temannya. Selain itu salah satu guru wali kelas yang diwawancarai
juga menyatakan bahwa pada saat jam pelajaran berlangsung salah satu anak
di kelas tersebut kerap meganggu teman yang duduk disampingnya dengan
memukul kepala temannya itu, hingga anak tersebut sering mendapatkan
panggilan dari guru Bimbingan Konseling untuk mendapatkan pengarahan.
Guru BK di sekolah tersebut juga menyatakan bahwa sering menangani siswa
atau siswi yang kerap mengganggu teman yang lain saat di sekolah, pihak
guru BK juga pernah memberikan konseling kepada siswa yang tidak
mau masuk sekolah karena perilaku bullying yang diterimanya di sekolah.
Salah satu siswa di sekolah tersebut juga mengatakan bahwa teman-teman
sekelasnya sering memanggilnya “botak”, siswi lain yang diwawancarai juga
mengatakan seringkali diacuhkan oleh teman-temannya di sekolah.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap 2 siswa di SDN 1 Lumansari,
Gemuh - Kendal 1 diantaranya berperilaku bulying siswa mengatakan bahwa
orang tua di rumah suka marah-marah dan membentak anaknya bila
melakukan kesalahan, dan 1 siswa yang tidak melakukan perilaku bulying,
mengatakan orang tua di rumah selalu menunjukkan perilaku santun terhadap
anaknya tidak suka marah-marah walaupun anaknyya melakukan kesalahan,
menasehati anak dengan cara yang halus.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dilihat pentingnya empati pada
remaja, artinya empati diharapkan dapat membantu remaja dalam
mengendalikan emosinya, sehingga peneliti bermaksud untuk melakukan
penelitian tentang Hubungan Role Model Orangtua dengan Perilaku Bullying
pada Anak Usia Sekolah SDN 1 Lumansari, Gemuh - Kendal

Tujuan Penulisan
Mengetahui Hubungan Role Model Orangtua dengan Perilaku Bullying pada
Anak Usia Sekolah SDN 1 Lumansari, Gemuh - Kendal
TINJAUAN TEORI
1. Bullying
Bullying merupakan tindakan agresif seseorang atau sekelompok
orang secara sengaja dan berulang terhadap orang yang lebih lemah.10
Seorang remaja dikatakan melakukan bullying saat ia melakukan
intimidasi terus menerus terhadap orang lain yang lebih lemah atau kecil,
pemalu, dan merasa tidak berdaya.11 Dalam bullying selalu ada
ketidakseimbangan kekuatan yang dirasakan korban dan pelaku
mengulang secara terus menerus atau berpotensi dapat mengulang kembali
keadaan tersebut.12
2. Orang Tua
Undang-undang nomer 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak
menyebutkan bahwa orang tua adalah seseorang yang memiliki hubungan
garis keturunan dengan kita yang terdiri dari ayah dan ibu. Sementara itu,
Undang-undang nomor 35 tahun 2014 menyebutkan, bahwa orang tua
tidak hanya ayah dan atau ibu kandung saja melainkan, ayah dan atau ibu
tiri, atau ayah dan atau ibu angkat.
3. Role Model
Role atau peran yaitu perilaku yang yang kurang lebih bersifat
homogen, yang didefinisikan dan diharapkan secara normative dari
seoramg okupan dalam situasi social tertentu. Peran didasarkan pada
preskipsi dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-
individu harus lakukan dalam situasi tertentu agar dapat memenuhi
harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menya ngkut
peran-peran tersebut.40
4. Anak Usia Sekolah
Anak usia sekolah merupakan anak yang sedang berada pada
periode usia pertengahan yaitu anak yang berusia 6-12 tahun, sedangkan
menurut Yusuf anak usia sekolah merupakan anak usia 6-12 tahun yang
sudah dapat mereaksikan rangsang intelektual atau melaksanakan tugas-
tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan
kognitif (seperti: membaca, menulis, dan menghitung).36,37

METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif yaitu
penelitian dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif
tentang suatu keadaan secara obyektif mengenai populasi atau mengenai
bidang tertentu.33
Desain Penelitian adalah rencana dan struktur penyelidikan yang
disusun sedemikian rupa sehingga peneliti akan dapat memperoleh jawaban
untuk pertanyaan-pertanyaan penelitinya. Jenis desain penelitian ini
menggunakan pendekatan cross sectional. Dalam Cross Sectional Study
penelitian mempelajari tentang hubungan variabel bebas dan terikat dengan
melakukan pengukuran sesaat yang diukur sekali saja.33 Fakta dalam
penelitian ini diungkapkan apa adanya dari data yang terkumpul. Berdasarkan
keterangan diatas peneliti akan melakukan analisa tentang Hubungan Role
Model Orangtua dengan Perilaku Bullying pada Anak Usia Sekolah SDN 1
Lumansari, Gemuh - Kendal

B. Tempat Dan Waktu Penelitian


1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 1 Lumansari, Gemuh - Kendal
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari – Juni 2019

C. Populasi Dan Sampel


Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.33 Dalam penelitan ini populasi
yang diteliti adalah Anak Usia Sekolah SDN 1 Lumansari, Gemuh – Kendal
sebanyak 42 remaja. Pada penelitian ini menggunakan teknik pengambilan
sampel yang digunakan adalah proportional random sampling. proportional
random sampling menurut Sugiyono adalah teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu. Dengan demikian maka peneliti memberi hak yang
sama kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan (chance) dipilih
menjadi sampel.33
D. Analisa Data
Analisa data adalah di lakukan untuk menjawab suatu hipotesa dalam
penelitian, dan mempergunakan uji statistik yang sesuai dengan variabel
penelitian.
1. Analisa Univariat
Analisis univariat dilakukan terhadap setiap variabel dari hasil
penelitian. Analisis univariat menghasilkan distribusi dan prosentase
setiap variabel.17
f
X   100%
N

Keterangan:
X = hasil prosentase
f = frekuensi hasil pencapaian
N = Jumlah seluruh observasi
Analisis univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
tujuan khusus pada penelitian ini. Terdapat variabel terikat yaitu
penanganan dismenore dan variabel bebas yaitu role model ayah dengan
perilaku bullying.33
2. Analisa Bivariat
Analisa Bivariat atau analisis tabel silang (cross tabulation).
Analisa bivariat dilakukan dengan membuat tabel untuk mengetahui ada
tidaknya Hubungan Role Model Orangtua dengan Perilaku Bullying pada
Anak Usia Sekolah tempate SDN 1 Lumansari, Gemuh Kendal dengan
menggunakan rumus uji Chi- Kuadrat (chi-square).
Rumus chi-square :

( fo  fe) 2
x 
2

fe
Keterangan :
X2 = chi-square
f0 = frekuensi berdasarkan data
fh = frekuensi yang diharapkan
Syarat Chi square :
a. Tabel kontingensi 2 x 2 dengan e tidak boleh < 1
b. Tabel yang lebih besar 3 x 2 asal e tidak boleh ada nilai < 5 dan tidak
boleh > 20% pada seluruh sel
c. Jika e < 5
d. Jika ada variabel independen pada tabel 2 x 2, e tidak dihitung,
e. Jika syarat chi square tidak terpenuhi, maka menggunakan uji fisher
exact dengan tabel dilakukan merger menjadi tabel 2 x 2.