Anda di halaman 1dari 17

Laporan Praktikum

IMITASI PERBANDINGAN GENETIS

ANDI NURHIQMAH DEWI


H041181021

LABORATORIUM GENETIKA
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Masalah penurunan sifat atau hereditas mendapat perhatian banyak

peneliti. Peneliti yang paling popular adalah Gregor Johan Mendel. Mendel mulai

mengadakan penelitian dan meletakkan dasar-dasar hereditas. Ilmuwan ini

menemukan prinsip-prinsip dasar pewarisan melalui percobaan yang dikendalikan

dengan cermat dalam pembiakan silang. Penelitian Mendel menghasilkan hukum

Mendel I dan II.

Dalam percobaan Mendel melakukan perkawinan silang antara dua

varietas Ercis berbunga ungu dengan Ercis putih sebagai induknya. Hasil

penyilangan generasi pertama tidak menunjukkan campuran dari sifat induknya,

tetapi menunjukkan salah satu sifat dari induknya. Sementara pada generasi

berikutnya sifat yang muncul pada generasi pertama akan muncul 3/4 bagian

sedangkan sifat induknya yang tidak muncul pada generasi pertamanya akan

muncul pada generasi kedua sebesar ¼ bagian sehingga rasionya 3:1.

Hal ini menunjukkan dalam ilmu genetika, kemungkinan ikut mengambil

peranan penting dalam pewarisan sifat yang bisa saja terjadi secara random atau

acak. Soal pemindahan gen dari orang tua ke gamet, jenis spermatozoa yang

membuahi sel telur berkumpulnya kembali gen-gen di dalam zigot sehingga

terjadi berbagai kombinasi (Suryo, 2011).

Berdasarkan uraian sebelumnya maka dilakukanlah percobaan untuk

membuktikan teori Mendel melalui imitasi perbandingan genetis untuk

mendapatkan gambaran tentang gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet akan

bertemu secara random.


I.2 Tujuan Percobaan

Tujuan percobaan mengenai imitasi perbandingan genetis adalah untuk

mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang dibawa oleh gamet-

gamet tertentu dan akan bertemu secara acak atau random.

I.3 Waktu dan Tempat Percobaan

Percobaan ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 27 Februari 2019

pukul 14.00-17.00 WITA. Bertempat di laboratorium genetika, Departemen

Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Hasanuddin.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Imitasi Perbandingan Genetis

Imitasi merupakan bagian dari teori Social Learning (Teori pembelajaran

sosial). Prinsip dasar social learning menyatakan sebagian besar dari yang

dipelajari manusia terjadi melali peniruan (imitation) penyajian contoh perilaku

(modeling) (Della, 2013).

Perbandingan genetis merupakan suatu cara membedakan dua hal atau tiga

hal berbeda dalam pewarisan sifat dari orang tua kepada keturunannya yang akan

menghasilkan perbandingan yang signifikan (Cahyono, 2010). Imitasi

perbandingan genetis adalah perbandingan yang dimiliki makhluk hidup yang

tidak dimiliki oleh orang lain karena memperhitungkan sifat genetik yang dimiliki

seseorang masing-masing berbeda (Cahyono, 2010).

II.2 Hukum Mendel I

Mendel mengadakan percobaan di kebunnya dengan tanaman kacang

kapri. Di kebunnya Mendel mempunyai tanaman kacang kapri yang beraneka

ragam, ada yang mempunyai bunga merah dan putih, ada yang tanamannya tinggi

dan rendah, duduk bunga, warna dan bentuk polong berbeda. Mendel memilih

tanaman kapri yang berbunga merah dan putih untuk mempelajari penurunan sifat

bunga merah dan putih kacang kapri (Laird, 2011)

Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada

organisme yang dijabarkan dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan

Tanaman'. Sebelum melakukan suatu persilangan, setiap individu menghasilkan


gamet-gamet yang kandungan gennya separuh dari kandungan gen pada individu.

Sebagai contoh, individu DD akan membentuk gamet D, dan individu dd akan

membentuk gamet d. Pada individu Dd, yang menghasilkan gamet D dan gamet d,

akan terlihat bahwa gen D dan gen d akan dipisahkan (disegregasi) ke dalam

gamet-gamet yang terbentuk tersebut. Prinsip inilah yang kemudian dikenal

sebagai hukum segregasi atau hukum Mendel I (James, 2010).

Hukum Segregasi :

“Pada waktu berlangsung pembentukan gamet, tiap pasang gen akan

disegregasi ke dalam masing-masing gamet yang terbentuk.”

Contoh persilangan monohibrid (Agus, dkk., 2013):

P: ♀ Tinggi x Pendek ♂

DD dd

G: D d

F1 : Tinggi

Dd

Menyerbuk sendiri (Dd x Dd)

F2 :

Tabel II.1 Persilangan Monohibrid

Gamet D D

D DD Dd

(tinggi) (tinggi)

D Dd dd

(tinggi) (pendek)

Keterangan:
Tinggi (D-) : pendek (dd) = 3 : 1

DD : Dd : dd = 1 : 2 : 1

Dari percobaan monohibrid yang telah dilakukan Mendel dapat

mengambil kesimpulan bahwa pada saat pembentukan gamet-gamet (serbuk sari

dan sel telur) maka gen-gen yang menentukan suatu sifat mengadakan segregasi

(memisah/pemisahan), sehingga setiap gamet hanya menerima sebuah gen saja.

Berhubungan dengan itu prinsip ini dirumuskan sebagai Hukum I dari Mendel

yang dikenal dengan nama “The Law of Segregation of Allelic Genes” (Hukum

Pemisahan Gen yang sealel) (Suryo, 2011).

II.3 Hukum Mendel II

Setiap individu memiliki puluhan bahkan ratusan karakter yang berbeda.

Pertanyaannya adalah “Apakah pewarisan satu karakter dipengaruhi oleh karakter

lainnya ?”. Untuk menjawab hal tersebut Mendel menyilangkan dua galur murni

dengan dua karakter berbeda (dihibrid) yaitu ercis biji bulat berwarna kuning

dengan ercis biji kisut berwarna hijau. Hasil persilangan dihibrid yang dilakukan

oleh Mendel menunjukkan pewarisan sifat bentuk biji tidak dipengaruhi oleh

pewarisan sifat warna biji. F1 pada persilangan memiliki genotip heterozigot

untuk kedua gen ((BbKk). Pada pembentukan gamet, alel B akan terpisah ke

gamet yang berbeda dengan gamet b dan alel K berpindah ke gamet yang berbeda

dengan alel k (law of segregation). Perpindahan alel B tidak tergantung pada K

atau k begitu juga dengan b, sehingga terdapat 4 jenis gamet yang dapat

diproduksi dengan peluang yang sama yaitu ¼ BK, ¼ Bk, ¼ bK dan ¼ bk.

Persilangan sesame F1 kemudian akan menghasilkan fenotip dengan

perbandingan 9 bulat kuning (B-K) : 3 bulat hijau (B-kk) : 3 kisut kuning (bbk-) :

1 kisut hijau (bbkk). Persilangan dihibrid menghasilkan hukum Mendel II yang


dikenal dengan principle of independent assortment. Hukum Mendel II

menyatakan bahwa pada pembentukan gamet, alel dari gen yang berbeda

terpisah secara independent atau tidak tergantung satu sama lain (Artadana dan

Savitri, 2018).

II. 4 Uji Chi-Square

Seringkali percobaan perkawinan yang kita lakukan akan menghasilkan

turunan yang tidak sesuai dengan hukum mendel. Kejadian ini biasanya

menyebabkan kita bersikap ragu-ragu. Berhubungan dengan itu perlu diadakan

evaluasi terhadap kebenaran atau tidaknya hasil percobaan yang akan kita lakukan

dibandingkan dengan keadaan secara teoritis. Perhitungan dengan menggunakan

test X2 (Chi-Square Test) dipakai dalam menghitung data hasil percobaan, untuk

menguji apakah data tersebut bisa dipercaya kebenarannya. Ratio hasil

persilangan monohybrid 3 : 1 dan dihibrid 9 : 3 : 3: 1, adalah ramalan yang akan

terjadi dari hasil perkawinan, berdasarkan asumsi adanya alel dominan dan

resesif, segresi dari gen, pemisahan gen yang bebas pada saat pembelahan miosis

dan pembentukan gamet dan fertilisasi yang berlangsung acak. Ketiga asumsi

terakhir dapat berubah-ubah sesuai dengan peristiwa yang terjadi saat itu.

Sehingga data hasil percobaan yang diperoleh harus diuji apakah ada

penyimpangan antara hasil yang diperoleh dengan yang diharapkan (Mustami,

2013).

Jumlah sampel yang digunakan dalam percobaan, akan mempengaruhi

perubahan penyimpangan dan akan terlihat pada hasil akhir. Makin besar sampel

yang digunakan akan mengurangi pengaruh dari penyimpangan yang terjadi.

Rumus yang dipakai dalam test X2 adalah (Mustami, 2013) :


(𝑜−𝑒)2
X2 = ∑ 𝑒

Keterangan :

o = hasil data yang diperoleh

e = hasil data yang diharapkan

d = penyimpangan = selisih dari data hasil yang diperoleh dengan yang

diharapkan

∑ = jumlah dari hasil perhitungan

Untuk mengetahui nilai X2 harus diperhatikan juga nilai dari derajat

kebebasan, yaitu n-1, dimana n adalah jumlah dari fenotip yang dijumpai. Pada

perkawinan tanaman monohibrid yang menghasilkan ratio 3 : 1, berarti ada 2

fenotip dan derajat kebebasannya (dk) adalah = 2-1 = 1. Pada perkawinan

dihibrida, dengan ratio 9 : 3 : 3 : 1, terdapat 4 fenotip, sehingga dk = 4-1 = 3.

Nilai X2 yang diperoleh dari hasil perhitungan dicari nilai kemungkinannya pada

tabel X2. Nilai X2 yang terletak di bagian yang gelap dari tabel, yaitu pada kolom

di bawah nilai memungkinkan 0,05 ke kiri, menunjukkan bahwa data yang

diperoleh baik. Karena tidak adanya penyimpangan yang berarti, selain faktor

kemungkinan dalam percobaan tersebut. Menurut ahli statistic, batas

penyimpangan pada percobaan-percobaan biologi 1 x dalam 20 kali percobaan.

Sehingga kemungkinan penyimpangan 1 / 20 (0,05) adalah batas dapat diterima

atau ditolaknya data suatu percobaan. Nilai X2 yang terletak pada kolom di bawah

nilai kemungkinan 0,01 dan 0,001, menunjukkan bahwa data yang diperoleh

sangat jelek. Penyimpangan yang terjadi sangat berarti, dan yang disebabkan

oleh faktor-faktor lain di luar faktor kemungkinan (Mustami, 2013).

II. 5 Penyimpangan Hukum Mendel

Kebanyakan sifat yang diturunkan dari induk (orang tua) kepada

keturunannya (anak) tidak dapat dianalisis dengan cara Mendel yang sederhana.
Misalnya persilangan monohybrid yang menghasilkan perbandingan fenotip 1 :

2 : 1 dan persilangan dihibrid yang menghasilkan perbandingan 12 : 3 : 1, 9 :

7, atau 15 : 1. Penyimpangan ini terjadi karena interaksi antar alel dan genetik.

Penyimpangan karena interaksi alel (Nabilaanbl, 2014) :

a. Dominansi tidak sempurna (incomplete dominance) yaitu alel dominan

tidak dapat menutupi alel resesif sepenuhnya. Akibatnya individu

heterozigot bersifat setengah dominan dan setengah resesif. Contohnya

tanaman bunga Snapdargon. Hasilnya berupa perbandingan 1 : 2 : 1.

b. Kodominan yaitu dua alel suatu gen yang menghasilkan produk berbeda

dengan alel yang satu tidak dipengaruhi oleh alel yang lain. Contohnya,

Sapi Shorthorn dan pada Anjing Husky : BB (bermata biru) x bb (mata

coklat), BB x bb akan menghasilkan Bb (bermata biru dan coklat).

Hasilnya berupa perbandingan 1 : 2 : 1.

c. Alel ganda yaitu adanya tiga atau lebih alel dari suatu gen yang terjadi

sebagai akibat dari mutasi. Contohnya, warna rambut kelinci.

Pertambahan jumlah anggota alel ganda menyebabkan bertambah

kemungkinan genotip bagi masing-masing fenitop (polimorfisme).

d. Alel letal yaitu alel yang dapat menyebabkan kematian bagi individu yang

memilikinya pada saat masih menjadi embrio awal atau beberapa saat

setelah kelahiran.

- Alel letal resesif : alel yang dalam keadaan homozigot resesif dapat

menyebabkan kematian. Contohnya albino (1 dari 4 keturunan akan

mati).
- Alel letal dominan : alel yang dalam keadaan homozigot dominan

dapat menyebabkan kematian. Contohnya ayam jambul (1 dari 4

keturunan akan mati).

Selain interaksi alel, terdapat juga interaksi genetik yaitu suatu keadaan

dimana dua atau lebih gen mengekspresikan protein enzim yang mengkatalis

langkah-langkah dalam suatu jalur yang sama. Interaksi genetik ini menyebabkan

(Nabilaanbl, 2014) :

a. Atavisme yaitu munculnya suatu sifat baru karena adanya interaksi dari

beberapa gen. contohnya jengger ayam (persilangan antara rose dan pea

menghasilkan walnut 100%, lalu disilangkan lagi sesame walnut).

Perbandingan hasilnya adalah 9 : 3 : 3 : 1 (walnut : rose : pea : single).

Muncul sebuah sifat baru.

b. Polimeri adalah bentuk interaksi gen yang kumulatif atau saling

menambah sebagai akibat dari interaksi dua gen atau lebih, atau bisa

disebut sebagai alel ganda. Contohnya percobaan H. Nilson-Ehle pada biji

gandum (persilangan antara gandum berbiji merah dengan putih

menghasilkan merah sedang 100%, lalu disilangkan lagi sesame merah

sedang). Perbandingan hasilnya adalah 15 : 1 (merah : putih).

c. Kriptomeri adalah sifat gen dominan yang tersembunyi jika gen tersebut

berdiri sendiri, namun setelah berinteraksi dengan gen dominan lainnya

akan muncul sifat yang tersembunyi itu. Contohnya bunga Linaria

maroccanan (persilangan antara bunga merah dan putih yang

menghasilkan keturunan ungu 100%, kemudian disilangkan sesame ungu.

Perbandingan hasilnya adalah 9 : 3 : 4 (ungu : merah : putih).

d. Epistasis dan Hipotesis adalah gen yang menutupi dan yang ditutupi.
- Epistasis dominan : gen dengan alel dominan yang menutupi kerja gen

lain.

- Epistasis resesif : gen dengan alel homozigot resesif yang

mempengaruhi gen lain.

- Epistasis dominan rangkap : peristiwa dua gen dominan atau lebih

yang bekerja untuk munculnya satu fenotip tunggal.

- Komplementer/epistasis resesif rangkap : interaksi beberapa gen yang

saling melengkapi.

Selain karena adanya interaksi genetik dan alel, penyimpangan hukum

mendel juga bisa berasal dari adanya tautan dan pindah silang. Hal ini

menyebabkan terjadinya rekombinasi di antara agen-agen pada sepasang

kromosom. Penyimpangan hukum mendel berasal dari tautan berikut (Nabilaanbl,

2014) :

a. Tautan autosomal yaitu gen-gen yang terletak pada kromosom yang

sama tidak dapat bersegregasi secara bebas dan cenderung diturunkan

bersama. Penelitian ini dilakukan oleh Thomas Hunt Morgan dengan

menggunakan lalat buah yang dikembang biakkan dan akhirnya

menemukan satu variasi baru berupa lalat bermata putih yang Ia sebut

sebagai lalat mutan, karena berasal dari alel tipe normal yang

mengalami perubahan atau mutasi.

b. Tautan kelamin, percobaan pertama Morgan dilanjutkan dengan

mengawinkan lalat buah bermata putih jantan dengan lalat buah betina

bermata merah. Hasilnya seperti persilangan pada umumnya yaitu 3 :

1, hanya saja perbedaan yang muncul adalah keturunan bermata putih

hanya ada pada jantan, dan ternyata warna mata pada lalat adalah
berdasarkan jenis kelaminnya. Sehingga diambil kesimpulan bahwa

gen yang membawa mata putih hanya terdapat pada kromosom X. Gen

tertaut kelamin adalah gen yang terletak pada kromosom kelamin dan

sifat yang ditimbulkan gen pada kromosom ini diturunkan bersama

dengan jenis kelamin.

Pindah silang adalah proses pertukaran gen antara kromatid-kromatid

yang bukan pasangannya pada sepasang kromsom homolog. Tempat persilangan

dua kromatid yang membentuk titik semu disebut chiasma. Proses terjadi ketika

reproduksi sel secara miosis pada profase I, tepatnya pada fase diploten. Pindah

silang menyebabkan pergantian alel diantara kromosom homolog, menghasilkan

kombinasi yang tidak ditemukan pada induknya. Pindah silang meningkatkan

keanekaragaman hayati genetik selain yang dihasilkan oleh pengelompokan gen

secara bebas (Nabilaanbl, 2014).


BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah saku jas lab dan alat tulis

menulis.

III.1.2 Bahan

Bahan yang diperlukan untuk percobaan ini adalah biji genetik dengan

berbagai warna.

III.2 Cara Kerja

Cara kerja dari percobaan ini adalah:

1. Diambil 40 biji genetik dan dimasukkan pada 2 kantong, masing-masing

kantong berisi 20 biji genetik, terdiri dari 5 kuning hijau, 5 kuning hitam, 5

merah hijau dan 5 merah hitam.

2. Diambil satu biji genetik dari kantong kanan dengan tangan kanan dan satu

biji genetik dari kantong kiri dengan tangan kiri pada waktu yang bersamaan

dan akan menghasilkan sebiuah kombinasi genetik.

3. Dicatat hasilnya, dikembalikan kombinasi biji genetik itu ke kentong asalnya,

dan dikocok sepaya tercampur kembali.

4. Diulangi pengambilan (biji genetik), sampai 16 kali pengambilan dan dibuat

tabel dari hasil percobaan yang di lakukan.

5. Dilakukan 16 kali percobaan, maka masing-masing praktikan melaporkan

hasilnya pada asisten dan menulis hasil data kelas (data yang diperoleh dari

setiap praktikan) di papan tulis.

6. Dicatat data yang diperoleh dalam laporan praktikum.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

VI.1 Hasil

IV.1.1 Tabel Pengamatan Kelompok

a). Data Kelompok

Ke Genotip/Fenotip

K-B- K-bb kk-B kkbb

(Kuning-Bernas) (Kuning-Kisut) (Putih-Bernas) (Putih-Kisut)

1 √

2 √

3 √

4 √

5 √

6 √

7 √

8 √

9 √

10 √

11 √

12 √

13 √

14 √

15 √

16 √

∑ 7 4 2 3
b). Tabel X2 (chi-square) data kelompok

K-B- K-bb kk-B kkbb

(Kuning-Bernas) (Kuning-Kisut) (Putih-Bernas) (Putih-Kisut)

O 7 4 2 3

E 9 3 3 1

D -2 1 -1 2

𝑑2 0,44 0,33 0,33 4


𝑒

𝑥2 5,1

IV. 1.2 Tabel Pengamatan Kelas

a). Data Kelas

Klp Genotip/Fenotip

K-B- K-bb kk-B kkbb

(Kuning-Bernas) (Kuning-Kisut) (Putih-Bernas) (Putih-Kisut)

I 10 2 3 1

II 7 5 4 0

III 7 4 2 3

IV 14 0 2 0

V 5 3 7 1

VI 9 4 3 0

∑ 52 18 21 5
b). Tabel X2 (chi-square) data kelas

K-B- K-bb kk-B kkbb

(Kuning-Bernas) (Kuning-Kisut) (Putih-Bernas) (Putih-Kisut)

O 52 18 21 5

E 63 21 21 7

d -11 -3 0 -2

𝑑2 1,92 0,42 0 0,57


𝑒

𝑥2 2,91

IV.2 Pembahasan

Dari hasil percobaan pada data kelompok diperoleh 7 K-B- (Kuning

bernas), 4 K-bb (Kuning kisut), 2 kk-B (Putih bernas) dan 3 kkbb (Putih kisut).

Jika menurut teori Mendel karena bersifat dihibrid (K-B-) maka perbandingan

fenotipnya 9:3:3:1. Maka ekspektasi yang sesuai dengan teori Mendel dihasilkan

9 K-B- (Kuning bernas), 3 K-bb (Kuning kisut), 3 kk-B (Putih bernas) dan 1

kkbb (Putih kisut). Dari hasil perhitungan telah didapatkan X2 = 5,1. Oleh karena

ada empat kelas fenotip (yaitu kuning bernas, kuning kisut, putih bernas dan putih

kisut), berarti ada derajat kebebasan 4-1 = 3. Angka 5,1 tidak tercantum pada

tabel , tetapi angka itu terletak antara angka 0,58 dan 6,25. Nilai kemungkinannya

terletak antara 0,9 dan 0,1. Karena nilai kemungkinan itu lebih besar daripada

0,05 (batas signifikan) maka dapat diambil kesimpulan bahwa hasil percobaan itu

bagus (memenuhi perbandingan 9:3:3:1 menurut Hukum Mendel). Dari hasil

pengamatan dengan data kelas diperoleh 52 K-B- (Kuning bernas), 18 K-bb

(Kuning kisut), 21 kk-B (Putih bernas) dan 5 Kkbb (Putih kisut). Jika menurut
teori Mendel karena bersifat dihibrid (K-B-) maka perbandingan fenotipnya

9:3:3:1. Maka ekspektasi yang sesuai dengan teori Mendel dihasilkan 63 K-B-

(Kuning bernas), 21 K-bb (Kuning kisut), 21 kk-B (Putih bernas), dan 7 kkbb

(Putih kisut). Hasil ekspektasi ini diperoleh dari perbandingan teori Mendel dikali

dengan jumlah total keseluruhan percobaan yaitu 96. Pada K-B-, menurut teori

Mendel dihasilkan 9/16 X 96 = 54 yang bersifat kuning bernas, namun dari

percobaan diperoleh 52 berarti terdapat deviasi sebesar -11, dimana deviasi ini

diperoleh dari hasil yang diperoleh dikurangi dengan ekspektasi. Pada K-bb,

menurut teori Mendel dihasilkan 3/16 X 18 = 3,37 yang bersifat kuning kisut,

namun dari percobaan diperoleh 18 kuning kisut berarti terdapat deviasi sebesar -

3 pada kuning kisut. Pada kk-B, menurut teori Mendel dihasilkan 3/16 X 21 =

3,93 yang bersifat putih bernas, namun dari percobaan diperoleh 21 putih bernas

berarti terdapat deviasi sebesar 0 pada putih bernas. Dan pada kkbb, menurut teori

Mendel dihasilkan 1/16 X 5 = 0,31 yang bersifat putih kisut, namun dari

percobaan diperoleh 5 berarti terdapat deviasi sebesar -2.

Dari data-data tersebut hasil dari total deviasi pangkat dua dibagi dengan

total ekspektasi maka diperoleh nilai X2 (chi-square) total sebesar 2,91. Nilai chi

square ini dicari untuk membuktikan data hasil percobaan yang dilakukan dalam

laboratorium sudah sesuai dengan teori yang ada supaya percobaan yang

dilakukan juga bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dari nilai chi square

yang diperoleh dikonversi ke dalam tabel chi square dengan memperhatikan

derajat kebebasannya.