Anda di halaman 1dari 55

DIKTAT PRAKTIKUM

TEKNIK PASCA TANNING KULIT KECIL


SEMESTER GENAP TA. 2018/2019

Disusun oleh:
1. Eddy Purnomo
2. Emiliana Anggriyani
3. Laili Rachmawati

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA INDUSTRI
POLITEKNIK ATK YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN KULIT
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga atas Karunia-Nya Diktat Mata
Kuliah Praktek Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil dapat selesai tepat waktu.
Modul Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil ini berisi penjelasan mengenai proses-proses
pasca tanning mulai dari sortasi dan grading raw material, proses netralisasi, retanning,
fatliquoring, dyeing dan fixing untuk kulit-kulit kecil. Modul ini berkaitan dengan 4 macam jenis
praktek yang akan dilakukan mahasiswa yaitu :
1. Praktek Nappa Garment kulit kambing
2. Praktek Batting Glove kulit domba
3. Praktek Upper Nubuck kulit kambing
4. Praktek Glove Snaw White kulit domba
Praktikum Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil selain dilakukan proses pelaksanaan praktek
sesuai dengan jobsheet yang ada juga dilakukan ujian mandiri. Ujian praktek mandiri mahasiswa
ini dilakukan untuk mengetahui capaian kompetensi mahasiswa dalam melaksanakan praktek
pasca tanning kulit kecil sesuai artikel yang telah dipraktekkan dan diujikan.
Kami menyadari bahwa modul ini masih terdapat banyak kekurangannya, oleh karena itu
masukan dan kritik dari berbagai pihak dapat membantu perbaikan modul Mata Kuliah Praktek
Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil kedepannya.

Yogyakarta, Februari 2019

Penyusun

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 1


TATA TERTIB PRAKTEK

Suatu pedoman tata tertib diperlukan agar pekerjaan dapat berjalan lancar, tertib, dan dapat
menghindarkan dari bahaya yang mungkn timbul karena kelalaian.

Tata Tertib :
1. Mempelajari acara-acara praktek sebelum pelaksanaan praktek di Workshop Pasca
Tanning.
2. Dilarang makan, minum, merokok di dalam dan area Workshop.
3. Siap di pintu luar Workshop 5 menit sebelum praktek dimulai dengan WAJIB memakai
jas Lab dengan rapi dan benar.
4. Memperhatikan semua petunjuk yang diberikan Dosen maupun asisten.
5. Tidak boleh memperbaiki sendiri alat-alat yang dirusakkan/rusak kecuali di bawah
pengawasan asisten atau laboran.
6. Membuang hasil potongan kulit di tempat yang telah disediakan.
7. Membuang sampah, plastik bekas, kertas pH bekas pada tempat sampah.
8. Setelah praktek selesai, wajib membersihkan area dalam Workshop bersih seperti semula.
9. Mengisi penggunaan Drum dan pemakaian bahan kimia.
10. Membuat laporan sementara setiap hari sesuai praktek yang dikerjakan pada hari tersebut.
11. Dilakukan PRE-TEST di awal perkuliahan/ praktikum
12. Dilakukan POST-TEST di akhir pelaksanaan setiap acara praktikum
13. Masuk kuliah praktek tepat waktu. Keterlambatan maksimal 10 menit. (konsekuensi
keterlambatan 10 – 15 menit akan mendapat tugas 1(satu) resume jurnal, keterlambatan >
15 menit tugas 2 (dua) resume jurnal sesuai artikel yang dikerjakan pada minggu blok
tersebut, dikumpulkan pada hari senin setelah blok praktek).
14. Apabila berhalangan atau tidak dapat mengikuti praktek harus memberitahukan secara
tertulis (dengan surat) dan diketahui oleh orang tua atau wali, penanggungjawab kegiatan
yang diikuti atau surat keterangan dokter (sakit).
15. Tidak ada INHAL. Mahasiswa yang tidak dapat mengikuti rangkaian praktikum diberikan
nilai 0 (nol) pada acara praktikum yang tidak diikutinya.
16. Dilarang meninggalkan drum yang berputar tanpa penanggungjawab setiap kelompok.

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 2


17. Meninggalkan area praktek dapat dilakukan apabila seijin Dosen dan Asisten

Laporan Resmi Praktek :


1. Laporan dibuat dalam 1 file setiap kelompok/artikel, dengan dimasukkan pembahasan
masing-masing anggota kelompok.
2. Laporan berisi tabel kerja praktek lengkap, disertai pembahasan dan dokumentasi yang
dibutuhkan.
3. Referensi diberikan untuk mendukung pembahasan.
4. Laporan dikumpulkan melalui email maksimal sebelum masuk blok praktek minggu
berikutnya.

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 3


PENDAHULUAN

A. Sortasi dan Grading Raw Material


Standar sortasi/ grading/ klasifikasi raw material yang berlaku di Indonesia dikelompokkan
menjadi 3 yaitu: 1) Standar Nasional, 2) Standar Global, dan 3) Standar Internasional. Standar
nasional (SNI) hanya berlaku dalam skala nasional, sehingga setiap negara mempunyai standar
nasional negara tersebut. Tetapi ketika kita bicara global (industri global) maka standar yang
berlaku adalah standar global bersama yang dapat diterima oleh semua negara yang tergabung dalam
keanggotaan. Demikian pula pada industri kulit, sepatu, garment, produk kulit mempunyai standar
tersendiri sesuai dengan permintaan negara yang membutuhkan produk tersebut, termasuk
didalamnya bahan baku kulit. Secara internasional standar yang diakui adalah ISO atau
kesepakatan dalam pertemuan beberapa negara, seperti standar dan klasifikasi yang ditetapkan
bersama dengan badan dunia UNIDO. Mengingat Indonesia kini merupakan importer kulit maka
sangat penting untuk mengetahui klasifikasi standar internasional tersebut karena terdapat perbedaan
dengan SNI.
Standar grading international (UNIDO) disepakati dan tanda tangani pada pertemuan di
Italia, Roma 21-24 April 1992 oleh Committee on Commodity Problems, Intergovernmental
Group on Meat, Sub-Group on Hides and Skins. Pertemuan ini bertujuan supaya system yanmg
terbentuk menguntungkan semua Negara dan digunakan sebagai “guidance” dan rekomendasi
yang menyangkut beberapa issue sebagai berikut:
1. Is the quality grading system, presented in the paper, also applicable to countries
participating in the joint UNIDO/FAO/ITC, for Hide and Skins, Leather and Leather
Products Improvement Scheme. If so, what measures should be taken to assure the widest
possible distribution and implementation of the system in the word.
2. Should UNIDO/FAO/ITC launch a special project to implement the system and what role
could the NGO's, such as the International Council of Tanners (ICT), the International
Council of Hides, Skins & Leather Traders Association.
Dalam rekomendasinya, klasifikasi standar dapat di terapkan atau diaplikasikan untuk
menetapkan kualitas “cured & tanned” kulit domba dan kulit kambing selama proses atau
transformasi menjadi leather. Mengingat Indonesia kini merupakan importer kulit kecil domba dan

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 4


kambing terutama dari Afrika, Timur Tengah, maka selayaknya mengetahui aturan yang disepakati
bersama.
Standar aturan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Standar tersebut tidak termasuk kulit khusus seperti kulit reptile atau kulit skin dengan
tujuan fur-making
2. Standar ini dapat diterapkan lintas daerah, negara, benua, tetapi tidak berkaiatan dengan
variable atau klasifikasi berat, ukuran atau luas juga tidak bersangkutan dengan bangsa,
umur, atau jenis kelamin, dan sebagainya.
3. Kemudahan untuk diadopsi oleh klasifikasi “commercial” atau “costumer” serta untuk
incentive payments.
Tujuan diberlakukannya standarisasi ini adalah untuk menentukan prasyarat dan prosedur
khusus untuk digunakan sebagai dasar klasifikasi kulit kambing dan domba awetan atau tersamak
yang telah di trimming. Dalam menjalankan standar bersama diperlukan istilah atau Bahasa baku
agar tidak menimbulkan tafsir yang berbeda.
Standarisasi ini membagi kulit (skin) menjadi 4 katagori atau grade, yaitu:
1. First grade
The firs grade shall be done according to the following requirements: No visible defect in the
central part of the skin; no sign of putrefaction; free from dirt; coming to the periphery of the skin
or the legs or tail, only one of the following defect is accepted:
a. Few defect caused by deseases
b. Few defect from parasites
c. One branding mark
d. One wound open or cicatrized
2. Second grade
The second grade shall be done according to the following requirements: in addition to defects in
the periphery of the skin, on the legs and tail, defect are accepted in shoulder or bellies:
a. Few defect caused by diseases
b. Few defect from parasites
c. One branding mark
d. One open or cicatrized wound
e. Few traces of putrefaction

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 5


f. Some dirt are accepted in the periphery of the skin on the legs and tail.
3. Third grade
The third grade shall be done according to the following requirements; in addition to the defects
mentioned for the second grade, the following defects are accepted in low/ medium concentration
in the best part of the skin (butt):
a. Few defects caused by diseases
b. Few defects from parasites
c. Few branding marks
d. Open or cicatrized wounds traces of putrefaction
e. Some dirt are accepted except in the best part of the skin (butt)
Please note that all defect mentioned should not cover more than 25% of the total area of the skin.
4. Fourth grade
The fourth grade shall be done according to the following requirements: in addition to the defects
mentioned for the third grade, defects are accepted in low/ medium concentration on the skin if
they do not cover more than 40% of the total skin area.
5. Rejects
All skins presenting more defects than those accepted for the fourth grade and skin of which more
than 50% of the area cannot be transformed in to leather are classified as rejects. In addition, the
following skin shall be included in the rejects:
a. Fallen skins
b. Untrimmed or poorly trimmed skins
c. Ground and ball dried
d. Smoked skin

Standarisasi skin wet blue berdasarkan standar UNIDO sudah dipakai sebagai besar
perusahaan perkulitas di Indonesia. Gambar dibawah ini menunjukkan kualitas kulit wet blue
sebagai bahan raw material pasca tanning berdasarkan standar UNIDO: 1st, 2nd, 3rd and 4th grade.

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 6


Gambar 1. First grade skin wet blue

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 7


Gambar 2. Second grade skin wet blue

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 8


Gambar 3. Third grade skin wet blue

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 9


Gambar 4. Fourth grade skin wet blue

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 10


B. Teknologi Proses Pasca Tanning
Secara umum, proses pasca tanning terdiri dari proses netralisasi, retanning, fatliquoring,
dyeing, dan fixasi. Gambar 2 memperlihatkan bagan alur proses pasca tanning untuk raw materials
berupa kulit skin wet blue.

Gambar 5. Bagan alur proses pasca tanning skin wet blue

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 11


B.1. Shaving
Sebelum dilakukan rangkaian proses pasca tanning, hal penting yang harus dilakukan
adalah proses sortasi dan grading seperti yang dijelaskan pada sub bab sebelumnya. Rangkaian
proses sortasi umumnya diikuti dengan pemilihan ketebalan kulit, sehingga sebelum masuk proses
pasca tanning dilakukan proses shaving untuk memperoleh ketebalan yang diinginkan sesuai
dengan artikel yang dikehendaki. Tabel 1 menunjukkan standar shaving kulit wet blue untuk
beberapa artikel.
Tabel 1. Standar shaving kulit wet blue

Netralisasi
Netralisasi sering juga disebut deacidifikasi adalah proses untuk menghilangkan sebagian
sisa asam bebas yang terdapat pada wet blue baik yang berasal dari proses pengasaman atau yang
terbentuk selama reaksi olasi dan oksilasi selama masa penyimpanan. Proses perlu dilakukan

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 12


dengan hati-hati dan bertahap dengan bahan kimia bersifat lemah. Hal tersebut karena apabila
sampai terjadi over netralisasi dapat merusak kulit. Tabel 2 memperlihatkan pH netralisasi/
deacidifikasi untuk beberapa artikel.
Tabel 2. Deacidifikasi Sesuai Jenis Artikel
pH Jumlah
Jenis Kulit Netralisasi Deacidifikasi Keterangan
Upper ABRI 4.7-4.8 50-55% Kulit padat, keras, lenting
Officer 4.9-5.1 55-60% Padat, lenting
Softy 5.2-5.4 70-80% Padat, lunak, lemas
Garmen 5.5-5.9 80-85% Lunak, elongasi, lemas
Glove 6.0-6.3 90-100% Lemas, run

B.2. Retanning
Retanning bertujuan untuk menyempurnakan proses penyamakan, menciptakan karakter
khusus pada setiap artikel kulit yang berbeda, yang berhubungan dengan kelemasan, kepadatan,
elongasi, fleksibilitas, run, dan lain-lain, serta memperbaiki sifat alami kulit yang kurang
menguntungkan seperti area yang tidak berisi untuk menjadi lebih berisi dan padat.
Pada umumnya bahan retanning yang digunakan adalah kombinasi antara bahan penyamak
mineral seperti krom sulfat basis Cr(OH)SO4 baik basisitas 33,3% ; 45% atau chrome syntan
yang dikombinasi dengan dengan resin acrylic, dicyandiamide dimana resin akan lebih mengisi
di bagian yang kosong seperti belly atau flank dan dicyandiamide pada grain yang loose.
Di samping bahan tersebut di atas untuk mendapatkan efek netral yang merata dan
terdistribusi ke seluruh penampang kulit diperlukan penambahan auxiliaries syntan seperti
derivatif naphthalene, zat penyamak nabati seperti tara, atau syntan kombinasi. Mengingat
penggunaan sulphited fish oil dapat memicu terbentuknya Cr VI diperlukan penambahan tara atau
quebracho (1-3%) walupun akan mempengaruhi pegangan yg lebih keras.
Terkadang untuk artikel tertentu yang memerlukan pegangan lebih padat dan agak
lebih berat (garmen untuk olahraga otomotif) ditambahkan zat penyamak nabati seperti quebracho
(1-3 %) dari berat wet blue.
Cara implementasi akrilik pada retanning :
1. Masuk bersama-sama krom dalam retanning

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 13


2. Dimasukkan sewaktu pretanning, untuk menghasilkan kulit yang lebih plumper dan
mellower leather
3. Dimasukkan pada akhir penyamakan krom untuk meningkatkan krom terikat
4. Dilakukan pada saat netralisasi atau setelah netralisasi.
Akrilik memberikan ketahanan kepecahan dan elongasi pada grain yang lebih baik
dibandingkan dengan syntan nafthalena namun memberikan efek yang firmer dibandingkan
dengan kulit krom. pH efektif untuk retanning dengan akrilik adalah < 5.5. Beberapa aplikasi
bahan retanning untuk berbagai macam artikel dipaparkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Bahan retanning untuk beberapa artikel

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 14


Gambar 4 memperlihatkan distribusi pengisian berbagai macam bahan retanning pada area
kulit skin maupun hide.

Gambar 4. Distribusi pengisian bahan retanning pada area kulit

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 15


Gambar 5 merupakan grafik perbedaan efek bahan retanning terhadap tingkat kelemasan
(softness) kulit skin/ hide.

Gambar 5. Perbedaan efek bahan retanning terhadap tingkat softness

Grafik perbedaan efek bahan retanning terhadap tingkat kemuluran (elongasi) kulit skin/
hide ditunjukkan pada tabel 6.

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 16


Gambar 6. Perbedaan efek bahan retanning terhadap tingkat elongasi

Catatan: Dewasa ini penggunaan minyak ikan, bahan bleaching dapat merubah Cr III
menjadi Cr VI sehingga diperlukan tambahan antioksidan (polyphenol) seperti zat penyamak
nabati (1 – 3 %), namun perlu dicatat bahwa penggunaan yang berlebihan akan menyebabkan
perubahan pegangan.

B.3. Fatliquoring
Lubrikasi (lubrication) adalah usaha untuk menempatkan zat atau bahan yang berfungsi
memisahkan serat kulit agar tidak merekat satu sama lain, biasanya merupakan fat atau oil atau
bahan lain seperti silicon yang berbentuk emulsi oil in water (O/W). Emulsi adalah suspense

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 17


disperse phase campuran koloid suatu zat ke dalam phase lainnya seperti minyak dalam air yang
disebut (O/W) atau sebaliknya air dalam minyak (W/O).
Kulit garmen memerlukan kelemasan seperti kain sehingga diperlukan penetrasi minyak
sampai ke penampang kulit. Selain mengatur kedalaman proses netralisasi juga diperlukan
fatliquoring agent yang mempunyai kestabilan emulsi yang baik, partikel molekul emulsi yang
lebih halus serta diperlukan penstabil emulsi. Untuk minyak diperlukan jenis minyak ikan atau
derivatifnya atau sintesanya yang bertipe sulphited (sulfonated oil) dengan kadar SO3 terikat ± 6-
7 % sedangkan penstabil emulsi dapat berupa alkyl sulfat, rantai pendek/panjang.
Dalam perkembangannya aplikasi peminyakan ditinjau dari konsentrasi atau penggunaan jumlah
air untuk peminyakan dapat digolongkan menjadi 3 metode yaitu :
1. Metode Peminyakan Short Float
Metode yang tidak menggunakan air sama sekali, air yang ada berasal dari dalam kulit
basah. Kulit dan fatliquor diputar dalam temperatur 60 – 70oC selama 60 – 70 menit,
kemudian ditambahkan air panas selama 20 -30 menit sebelum fiksasi. Biasanya metode
ini diterapkan untuk kulit yang sangat lemas seperti sarung tangan.
2. Metode Peminyakan Medium Float
Metode yang biasa dilakukan untuk kulit sepatu, garmen, nappa dan lain-lain. Air yang
digunakan mencapai 100 – 150%.
3. Metode Long Float
Metode peminyakan untuk kulit yang cukup keras, yang nantinya diharapkan untuk di-
glazing dan sebaran fat hanya pada area permukaan saja. Misalnya untuk kulit buaya.
Penggunaan air biasanya mencapai 750 – 1000% dari berat wet blue.

Jenis dan jumlah penggunaan minyak untuk setiap artikel adalah berbeda, tergantung
tingkat kelemasan dan efek yang dikehendaki. Tingkat kelemasan ditentukan dari kemampuan
penetrasi minyak yang digunakan. Tabel 4 menunjukkan jenis minyak dan % penggunaan minyak
pada setiap artikel, gambar 7 menunjukkan tingkat penetrasi minyak pada penampang kulit, dan
gambar 8 memperlihatkan pengaruh jenis minyak pada tingkat kelemasan kulit (softness).

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 18


Tabel 4. Penggunaan minyak pada beberapa jenis artikel

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 19


Gambar 7. Tingkat penetrasi minyak pada penampang kulit

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 20


Gambar 8. Pengaruh minyak pada tingkat softness

B.3.1. Water barrier


Water barrier adalah salah satu sifat yang dimiliki kulit jadi (leather) yang menunjukkan
perilaku kulit terhadap air. Ada tiga istilah yang menunjukkan hal tersebut yakni :

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 21


1. Water repellency
Merupakan sifat yang menunjukkan fenomena permukaan kulit untuk menahan kebasahan.
Sifat ini menunjukkan kemampuan (ability) permukaan kulit jadi (grain dan flesh side) untuk
menahan kebasahan.
2. Water resistance
Merupakan kemampuan kulit jadi untuk menahan serapan dan transmisi air melewati
penampang lintang.
3. Water proof
Merupakan sifat kulit yang menunjukkan daya tolak terhadap air baik melewati atau
menembus penampang lintang dalam segala kondisi.

B.4. Dyeing
Persyaratan utama yang harus diperhatikan untuk melakukan pewarnaan pada proses pasca
tanning yaitu:
1. Warna yang diharapkan adalah rata sempurna
2. Ketajaman warna maksimal dan shading dicapai dengan minimum dye (zat warna)
3. Mampu menutup cacat
4. Ketahanan warna tinggi dengan nilai penetrasi dyestuff yang dipilih 4 – 5. Hasil yang
diperoleh diharapkan memiliki tingkat kelunturan rendah, ketahanan gosok dan ketahanan
terhadap cahaya matahari tinggi
5. Penetrasi sempurna, biasanya dicapai menggunakan dyestuff dengan angka penetrasi 3, 4,
atau 5
Gambar 9 merupakan grafik tingkat penetrasi dyestuff (1 – 5) pada kulit wet blue. Semakin
tinggi angka penetrasi suatu dyestuff, maka semakin mudah untuk masuk ke dalam penampang
kulit.

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 22


Gambar 8. Grafik penetrasi dyestuff

Beberapa faktor yang berpengaruh pada keberhasilan proses dyeing yaitu:


a. Netralisasi
- Netralisasi merata diseluruh bagian/ area kulit
- Hindari netralisasi yang berlebih
- Kenaikan pH menyebabkan penetrasi dyes, zat penyamak nabati, zat penyamak
syntan menjadi meningkat namun kecepatan absorbsi/ ikat menurun.
- Masking agent menyebabkan peningkatan penetrasi dyes
- Retanning agent menyebabkan warna lebih rata tetapi terlihat lebih muda

b. Retanning
- Kulit wet blue yang disamak dengan bahan penyamak full chrome menyebabkan
afinitas anionic dyes lebih tinggi.

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 23


- Beberapa bahan retanning seperti replacement syntan, bleaching syntan, auxiliaris
syntan merubah muatan kulit dari positive menjadi negative. Serapan dan penetrasi
cat meningkat, kekuatan warna turun menjadi sekitar 50%.
- Bahan retanning agent seperti mineral chrome, allumunium, meningkatkan muatan
kationik. Sebaran warna hanya pada permukaan, kekuatan dan ketajaman warna
meningkat.
Gambar 8 memperlihatkan pengaruh bahan retanning terhadap penetrasi dyes pada kulit
wet blue, sedangkan gambar 9 menunjukkan perbedaan penetrasi dyes pada kulit yang diretanning
dan kulit yang tidak diretanning.

Gambar 8. Pengaruh bahan retanning jenis syntan dan nabati terhadap


kemampuan penetrasi dyes

Gambar 8. Perbedaan penetrasi dyes pada kulit yang di retanning dan


kulit yang tidak diretanning

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 24


MATERI POKOK PRAKTEK 1
NAPPA GARMEN FULL GRAIN (NAPPA)
(TPK/3 SKS/IV)

1. Tujuan Instruksional Umum


Mahasiswa diharapkan mampu memahami bagaimana menentukan, membuat formula dan
melaksanakan proses pasca tanning kulit nappa dengan bahan baku kulit kambing/domba
wet blue ataupun wet white.

2. Tujuan Instruksional Khusus


a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bahan baku kulit kambing/domba wet blue ataupun
wet white (kualitas, luas, tebal, maupun kondisi) yang digunakan untuk nappa garmen.
b. Mahasiswa dapat menjelaskan dan menyebutkan bahan-bahan kimia maupun bahan
produk paten yang digunakan dalam proses pasca tanning kulit nappa garmen.
c. Mahasiswa dapat mengatur kondisi-kondisi proses, pH, temperatur, kecepatan, putaran
drum yang sesuai untuk proses pasca tanning kulit nappa garmen.
d. Mahasiswa dapat memformulasikan dengan tepat jumlah bahan kimia dengan
kombinasinya dalam formula proses pasca tanning kulit nappa garmen dari bahan baku
kulit kambing/domba.

3. Pokok Bahasan Materi


a. Artikel Garmen
Kulit nappa garmen adalah kulit garmen yang dibuat dari kulit sapi, domba,
kambing dan lain-lain yang setelah selesai masih secara utuh memiliki grain. Kulit jenis
ini yang sering disebut sebagai nappa garmen (istilah lapangan). Kulit garmen ini dapat
digunakan sebagai baju, jaket, tas, rompi, dan celana pendek/panjang atau busana
lainnya.
Mengingat hasil akhirnya tetap memiliki grain, maka keutuhan grain sangat
diperlukan artinya bahan baku yang digunakan untuk garmen harus mempunyai grain
yang cukup baik, dapat berasal dari kulit awet pikel kualitas I, II, III, IV dan V.

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 25


Mengingat keterbatasan luas kulit terutama untuk kulit kecil domba/kambing
dan fungsi garmen yang memerlukan desain dan metoda potong/gunting tertentu, maka
syarat kulit untuk garmen pada umumnya berkisar antara 5.5 square feet sampai 7.5
square feet tiap lembar. Di bawah 5.5 square feet tidak efisien dan di atas 7.5 square
feet mempunyai grain yang kasar dan tidak cukup baik untuk garmen.
Selain kualitas dan luas kulit, pertimbangan lain yang tidak boleh kalah
penting adalah ketebalan kulit. Kulit garmen mempunyai ketebalan standar 0.7 – 0.8
mm. Oleh karena itu dibutuhkan kulit domba/kambing yang memiliki ketebalan pikel
minimal 0.7 mm. Sebab setelah proses penyamakan (wet blue) akan terjadi
penambahan tebal sebesar 10 -20% dari tebal awal, kemudian diketam (shaving). Oleh
karena saat diproses shaving sebaiknya dibuat lebih rendah yaitu 0.65 mm.
Sedangkan penentuan bahan baku untuk garmen kulit sapi tidak berbeda jauh,
hanya pada umumnya digunakan kulit sapi muda, untuk kulit sapi tipis , seperti kulit
sapi jawa (sapi putih berpunuk) yang banyak terdapat di Jawa.
Beberapa hal yang harus mendapat perhatian khusus pada proses kulit
garmen. Pertama adalah pemilihan bahan kimia jumlah dan jenisnya untuk dapat
menghasilkan kulit garmen standar baik fisis, kemis maupun organoleptis. Kedua,
pengaturan teknis proses, seperti waktu proses, temperatur, pH larutan, dan kontrol
yang diperlukan selama prosess berlangsung.
Kulit garmen harus mempunyai karakter yang mendekati kain garmen
terutama dari standar organoleptis, seperti kelemasan, kemuluran yang cukup,
fleksibelitas, dan lain-lain. Sifat-sifat tersebut sangat ditentukan dari bahan kimia apa
yang yang akan dimasukkan ke dalam kulit dan pada tapan proses yang mana. Ada 2
tahapan proses yang perlu mendapat tekanan yaitu retanning dan fatliquoring.
Teknis/Kontrol Proses yang penting diperhatikan untuk menghasilkan kulit
garmen yang maksimal diperlukan pengaturan pH netralisasi 5,5-6, temperature
fatliquoring 60-70ºC, jumlah air 50-100% dari berat wet blue, waktu putar untuk
netralisasi 75-90 menit, retanning 120 menit dan untuk fatliquoring antara 90-120
menit.

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 26


b. Persyaratan Kulit Nappa-Garmen
1. Kandungan abu sulfate (%) = <2,0.
2. Kandungan chrome oxide (%) = >2,5.
3. Substansi fat(%) = <16-18.
4. Loss by washing = <2-3.
5. Tensile strength (daN/cm³) = >250.
6. Elongasi putus rajah (%) = <60.
7. Elongasi (%) pada 20 daN/cm³) = <20.
8. Split tear strength (daN/cm³) = >35.
9. Stich tear strength (daN/cm³) = >100.
10.Penetrasi air (penetrometer) = >40.
11.Serapan air 30 menit = <25.
12.Water vapor permeability = >350.

4. Pokok Bahasan Praktek


a. Pemilihan kualitas kambing wet blue, luas kulit 5 – 7.5 sqft/lembar, termasuk dalam
kelompok kulit dengan tebal sedang, kualitas kulit dapat diperoleh dari kualitas I, II,
III, IV dan minimal kualitas V. Hal tersebut disesuaikan juga dengan permintaan
kualitas kulit samak.
b. Bahan Kimia Proses Pasca Tanning
- HCOOH
- Etylene oxide derivative surfactance
- Cr(OH)SO4xH2O/Chrome Syntan
- Glutaraldehyde
- Natrium organic/naftalene
- Naftalene sulfonic acid
- NaCO2H
- NaHCO3
- Acrylic resin
- Dyciandiamide resin
- Melamin resin

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 27


- Auxiliaries syntan/combination syntan
- Sulphited ester (syntetic/natural oil)
- Surface oil/natural oil (Lecitin)
- Sulphited fish oil
- Sulfoclorinated syntetic/mineral oil
- Alkyl sulfat
- NH4(OH)
- Acid/metalkompleks dyestuff
- Resin kationik
- Benzothiazole (TCMTB)
c. Peralatan Bantu
- pH meter
- kertas pH
- Indikator BCG
- Pisau potong kecil
- Drum proses kecil (RPM 15)
- Pisau set out
- Staking (mesin/manual)
- Toggle
- Spraygun unit
- Roll ironing machine
- Measuring machine

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 28


LEMBAR KERJA PRAKTEK 1
NAPPA GARMEN

Tipe kulit : Wet blue kambing Nama :

Artikel : Nappa Garmen Kelompok :

Jumlah : Tanggal :

Sortasi kulit kambing wet blue

Kualitas Kulit Luas (SqFt) Tebal


No. I II III IV V VI R B S K Defek Ket.
(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 29


Formulasi proses pasca tanning nappa garmen kulit kambing wet blue

Kontrol
No Proses % Generik Nama Paten 0C Keterangan
Waktu pH

200 H2O Air


3.8-
1 Rewetting 0.5 HCOOH FA 45' 4.0
Peramit
0.75 Surfactan MLN
Drain
100 H2O Air
Chromosal-
2 Retanning I 3 Cr(OH)SO4 B 90'
Rellugan
3 Glutaraldehyde GT-50
Drain
150 H2O Air 10'
Na Tanicor AS
Naftalene/Na 8/Tanigan
1.5 Carboxyl PAK 10'
3 Neutralizing
0.5 NaCOOH Na Format 10'
0.5 NaHCO3 Soda Kue 20'
5.5-
0.5 NaHCO3 Soda Kue 30' 5.8 BCG Biru
Drain, washing with running water 15'
100 H2O Air
4 Retanning II Resin acrylic 90'
3 liquid Drasil SMS
Drain, washing
70-80
Fatliquoring/Dyeing 200 H2O Air 5' °C
Drain ½ volume air
60-70
Fatliquoring 100 H2O Air °C
Derminol
10 Sulphited syn SPE oxy
60'
Sulfoclorinate Lipoderm
5
4 mineral oil Liquor SAF
Peramit
0.5 Alkyl sulfat MLN
+
Dyeing 0.5 NH4OH Amonia
Penetrating/
Dermagen
1 Levelling
GPA 30-60'
Agent
Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 30
Black,
Through
Brown VR,
dyed
3 Acid dyestuf red, beige
Cek
kesesuaian
+
pegangan
dan warna
Fixing 100 H2O Air
0.5 HCOOH Asam format 10'
0.5 HCOOH Asam format 10'
Drain, cuci bersih

75 H2O Air 80°C


Sulphited fish Derminol
3 oil SPE oxy
Sulphited Derminol
6 Top Fatliquoring 60'
4 syntetic oil OCS
Cek
Sulfated oil + kesesuaian
softening + Derminol pegangan
1.5 emulsifier NLM dan warna
0.5 HCOOH Asam format 15'
0.5 HCOOH Asam format 15'
0.5 HCOOH Asam format 15' Clear
7 Fixing 0.2 Resin kationik Sincal DR 20' Add on
Cresol &
Phenol Preventol
0.2 derivative CR 20'
Drain
Cuci
Drain
7 Setting out
Hang drying
Conditioning
Staking
Toggle
Measuring
Packing

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 31


TES FORMATIF

1. Jelaskan definisi nappa!


2. Sebutkan dan terangkan persyaratan fisis kulit nappa garmen!
3. Sebutkan jenis bahan kimia yang digunakan dalam proses pembuatan nappa garmen!
4. Bagaimana pendapat Anda bila kita melaksanakan proses retanning nappa garmen dengan
menggunakan zat penyamak nabati?

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 32


MATERI POKOK PRAKTEK 2
BATTING GLOVE
(TPK/3 SKS/IV)

1. Tujuan Instruksional Umum


Mahasiswa diharapkan mampu memahami bagaimana menentukan, membuat formula dan
melaksanakan proses pasca tanning kulit glove dengan bahan baku kulit kambing/domba
wet blue.

2. Tujuan Instruksional Khusus


a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bahan baku kulit kambing/domba awet blue
(kualitas, luas, tebal, maupun kondisi) yang digunakan untuk bating glove.
b. Mahasiswa dapat menjelaskan dan menyebutkan bahan-bahan kimia maupun bahan
produk paten yang digunakan dalam proses pasca tanning kulit bating glove.
c. Mahasiswa dapat mengatur kondisi-kondisi proses, pH, temperatur, kecepatan, putaran
drum yang sesuai untuk proses pasca tanning kulit bating glove.
d. Mahasiswa dapat memformulasikan dengan tepat jumlah bahan kimia dengan
kombinasinya dalam formula proses pasca tanning kulit bating glove dari bahan baku
kulit kambing/domba.

3. Pokok Bahasan Materi


Kulit sarung tangan olah raga atau yang dikenal dengan batting glove banyak
digunakan untuk sarung tangan olah raga sepeda, motorcycle, sepak bola (keeper), cricket
dan lain-lain. Kulit sarung tangan batting bisa dibuat dari kulit kambing maupun domba.
Namun karena persyaratan tebal sarung tangan olah raga berkisar antara 0,65-0,8 mm,
maka kebanyakan dibuat dari kulit kambing yang relatif lebih tebal, dibandingkan
domba disamping rajahnya lebih kasar sehingga lebih nyaman utk memegang.
Pertimbangan lain kulit domba mempunyai struktur yang lebih longgar dan harganya jauh
lebih mahal maka kebanyakan kulit domba diarahkan untuk kulit sarung tangan busana,
namun ada sebagian yang tebal dibuat untuk batting glove.

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 33


Walaupun keduanya dapat dibuat kulit sarung tangan batting, untuk mendapatkan
hasil yang sama dan memadai metoda dan teknik penyamakannya dilakukan dengan cara
yang berbeda, mengingat struktur serat kulit kambing berbeda dengan struktur serat kulit
domba.
Kulit kambing berpenampilan lebih kaku, grain atau rajah yang kasar (apabia
dipegang terasa di tangan), pori-pori lebih besar, susunan serat lebih kompak terutama
daerah garis punggung (backbone) sehingga terasa lebih keras.
Susunan atau kandungan zat penyusun kulit kambing dan domba juga berbeda.
Yang mencolok adalah kandungan fat. Kulit kambing mengandung 3-5% fat sedangkan
kulit domba bervariasi, kulit domba lokal berkisar 6-8%, sedang kulit domba New Zealand
dapat mencapai 25%.
Perbedaan struktur dan komponen penyusun tersebut akan menyebabkan hasil yang
tidak sama andaikata kulit domba dan kambing diproses dalam drum dan formula yang
sama. Kulit kambing akan terasa lebih keras (kaku) dan kasar. Oleh karena itu perlu
rekayasa teknik/metoda operasi agar hasil yang diperoleh mempunyai sifat yang tidak
berbeda jauh (walaupun tidak mungkin sama). Ada beberapa tahapan yang harus dilalui :
1. Pada proses menggunakan kulit kambing proses pengapuran dilakukan lebih lama (6-
7 hari) dan proses bating selain konsentrasi bahan bating ditambah, waktu putamya
juga di perpanjang (bahkan overnight).
2. Apabila posisi kulit kambing sudah sampai pada proses pikel, maka perlu ditambahkan
bahan acid bating (pepsin derivative) dan direndam tidak kurang dari 18 jam.
3. Proses degreasing tidak perlu seperti kulit domba yang menggunakan kerosene namun
cukup dengan degreasing agent (non ionic degreasing agent).
4. Penyamakan krom harus menggunakan metode krom yang ter- masking, mengingat
krom ini lebih tahan/stabil terhadap perubahan pH. Waktu penyamakan dapat mencapai
18-20 jam, kulit domba ± 12 jam.
5. Pada proses peminyakan dilakukan penambahan jumlah fatiquor yang digunakan, selain
itu waktu putar juga ditambah.
Dari pengamatan yang dilakukan di beberapa perusahaan kulit/penyamakan kulit
sarung tangan, kulit kambing yang digunakan untuk batting glove pada umumnya

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 34


mempunyai rata-rata luas 5-7 square feet/lembar dan tebal pikel 0,65-0,8 mm karena
setelah disamak krom pada umumnya kulit bertambah tebal 0,1-0,15 mm.
Catatan lain yang perlu diperhatikan adalah diperlukannya sifat water barrier kulit
sarung tangan ini. Ada tiga kategori water barrier, pertama yg disebut water resistance,
kedua disebut water repellent, ketiga disebut water proof. Kulit batting harus mempunyai
sifat water reppelency yang baik mengingat kulit sarung tangan ini akan selalu kontak
dengan cairan baik air ataupun keringat. Water repellency adalah kemampuan kulit untuk
menahan kebasahan. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa water repellency merupakan
fenomena permukaan. Untuk menguji sifat tersebut biasanya digunakan spray water
test di mana kulit diletakkan pada kemiringan 450 di-spray dengan volume air 100 mm3
pada permukaan dan bagian daging kemudian dihitung spot-spot yang basah. Apabia tidak
lebih dari 5% dari luas kulit yang di-spray maka dianggap cukup.
Selain itu ada cara lain yang ditemukan pada pengujian lapangan, kulit dipotong
kecil (5x2 cm) kemudian diletakkan pada air dalam gelas. Ditunggu berapa lama tidak
tenggelam, apabila mencapai batas waktu lebih dan 6 jam tidak tenggelam maka kulit
tersebut dianggap mempunyai sifat water repellency cukup baik.
Beberapa hal tersebut perlu diketahui pada kulit batting atau sarung tangan olah
raga. Efek water repellency dapat dicapai dengan membentuk lapisan hidrophobik pada
permukaan kulit atau meningkatkan surface tension pada permukaan dengan
menambahkan beberapa auxiliaries seperti flouro carbon, silicon, krom stearat atau
lainnya.
Selain itu dalam proses diusahakan mengurangi jumlah surfaktan seperti
penggunaan degreasing agent, pengemulsi, atau penurun tegangan muka. Maka
diperlukan bahan kimia pengemulsi seperti garam sodium asam lemak amina yang
khusus diperuntukan untuk jenis kulit dengan karakter water barrier tertentu.

4. Pokok Bahasan Praktek


a. Penentuan dan Seleksi Bahan Baku
Kulit kambing/ domba wet blue dengan luas berkisar antara 5 -7 sqft dengan tebal 0.65-
0.80 mm. Kualitas bahan baku kulit wet blue adalah kualitas V dan VI.
b. Proses Pasca Tanning

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 35


- CH3COOH
- Surfactan sodium asam lemak amina (Limanol PEW)
- Cr(OH)SO4xH2O (basisitas 33%)
- Glutaraldehyde (30%)
- CH3COONa
- NaCOOH
- NaHCO3
- Emulsi Parafin, rantai karbon panjang (Perfectol HQ)
- Emulsi silicon
- Fluorocarbon (PM 700)
- Sodium organic (Naptalene sulfonat)
- NH4OH (40%)
- Acid black dyestuff
- Metal complex dyestuff
- Sulfoclorinated syntetic ester
- HCOOH
- Al2SO4
- Resin urea formaldehyde amina dari polyoxyethylene alkyl amina
- Benzothiazole
c. Peralatan Bantu
- pH meter
- kertas pH
- Indikator BCH
- Pisau potong
- Mesin polish
- Mesin staking
- Mesin toggling
- Drum milling
- Drum proses kecil

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 36


LEMBAR KERJA PRAKTEK 2
BATTING GLOVE

Tipe kulit : Wet blue kambing/ Nama :

domba

Artikel : Batting Glove Kelompok :

Jumlah : Tanggal :

Sortasi kulit kambing/ domba wet blue

Kualitas Kulit Luas (SqFt) Tebal


No. I II III IV V VI R B S K Defek Ket.
(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 37


Formulasi proses pasca tanning batting glove kulit kambing/ domba wet blue

Kontrol
No Proses % Generik Nama Paten Keterangan
Waktu pH 0C
200 H2O Air
1 Washing 0.75 CH3COOH Asam asetat 60' 3.8
0.5 Surfactant Peramit MLN
Drain
75 H2O Air
2 Retanning 3 Glutaraldehyde Novaltan PF 90'
4 Cr(OH)SO4xH2O Chromosal B
Drain, Washing
150 H2O Air 10'
1.2 NaCH2COO Sodium asetat 20'
1.2 NaHCOO Sodium Format 20'
Sodium
20'
3 Neutralizing 0.5 NaHCO3 bikarbonat
NaHCO3 Sodium
20'
0.5 bikarbonat
NaHCO3 Sodium
20' 5.8 - 6
0.5 bikarbonat BCG Biru
Drain, washing 10 menit
150 H2O Air 5' 85 Drain
Ester +
4 Fluorocarbon Derminol LUB
Syntetic oil +
syntetic
Pre 2 emulsifier Derminol OCS Short float
4
Fatliquoring Sulhoclorinate Lipoderm Liquor 90'
2 mineral oil SAF
14 Mayonaise oil Pellan 802
Peramit
Emulsifier LSW/Sodapelt
2 etoxylate EM
100 H2O Air 5' 80
Aryl Napthalene
20'
1.5 sulfonat Tanigan PR
1 NH3OH Amonia 10'
2.5 Acid Dyestuff Base Black N 60' Tembus
5 Dyeing +
100 H2O Air 60' 80
+
0.75 HCOOH Asam format 10'
0.75 HCOOH Asam format 10'
0.75 HCOOH Asam format 20' Clear

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 38


+
100 H2O Air 10' 60
6 Top Dyeing Metal complex Luganil Black
10'
1 dyestuff NT
Parafin
Top 40'
7 3 hidropobic Pellan HAS
Fatliquoring
2 Polimer silicon Derminol LUB
+
0.5 HCOOH Asam format 10'
0.5 HCOOH Asam format 10'
8 Fixing
0.5 HCOOH Asam format 10'
0.5 HCOOH Asam format 10' 3.5 Clear
Add on +
Water
resistance 10'
9 effect 0.5 Fluorocarbon PM 700
+
2.5 Al2SO4 Novaltan Al 50'
+
0.75 Resin kationik Sincal DRA 10'
m-Cresol + p
20'
0.05 phenolic Preventol Cr
Drain, washing
Rinse
Hang
Drying
Moistening
Stake
Polish
Toggling
Measuring
Packing

TES FORMATIF
1. Jelaskan apa yang dimaksud kulit batting glove?
2. Jelaskan persyaratan fisis kulit batting glove?
3. Sebutkan dan jelaskan bahan-bahan kimia yang diperlukan dalam pembuatan batting
glove?

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 39


MATERI POKOK PRAKTEK 3
UPPER NUBUCK
(TPK/3 SKS/IV)

1. Tujuan Instruksional Umum


Mahasiswa diharapkan mampu memahami bagaimana menentukan, membuat formula dan
melaksanakan proses pasca tanning kulit nubuck dengan bahan baku kulit kambing/domba
wet blue.

2. Tujuan Instruksional Khusus


a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bahan baku kulit kambing/domba awet blue
(kualitas, luas, tebal, maupun kondisi) yang digunakan untuk nubuck.
b. Mahasiswa dapat menjelaskan dan menyebutkan bahan-bahan kimia maupun bahan
produk paten yang digunakan dalam proses pasca tanning kulit nubuck.
c. Mahasiswa dapat mengatur kondisi-kondisi proses, pH, temperatur, kecepatan, putaran
drum yang sesuai untuk proses pasca tanning kulit nubuck.
d. Mahasiswa dapat memformulasikan dengan tepat jumlah bahan kimia dengan
kombinasinya dalam formula proses pasca tanning kulit nubuck dari bahan baku kulit
kambing/domba.

3. Pokok Bahasan Materi


Cacat yang terdapat pada kulit terkadang sangat sulit untuk diidentifikasi
penyebabnya apalagi bila cacat/defek yang timbul sejak hewan masih hidup (penyakit,
serangga dan lain-lain), sehingga para praktisi di lapangan dalam penggolongannya
disesuaikan dengan jenis kulit jadinya (finished leather) apakah untuk suede, nubuck atau
nappa. Karena standar kebutuhan satu artikel dengan lainnya agak berbeda. Sebagai
contoh, kulit suede yang dipentingkan adalah kualitas bagian dagingnya (flesh), sedangkan
nappa diutamakan bagian grain-nya demikian pula dengan kulit nubuck.
Kulit nubuck adalah kulit samak krom atau kombinasi, berwarna atau tidak
berwarna yang pada bagian grainnya dibuffing halus sehingga permukaannya seperti

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 40


beludru. Kulit nubuck umumnya digunakan untuk atasan sepatu yang berasal dari kulit
kecil (skin) seperti kambing, domba maupun dari kulit besar (hide) seperti sapi, calf, dll.
Kulit nubuck dibuat dengan melakukan buffing halus pada bagian nerf untuk
membentuk “nap” halus yang menyerupai beludru. Hal ini berbeda dengan corrected grain
walaupan sama-sama diampelas bagian nerfnya. Corrected grain diampelas karena adanya
kerusakan grain yang kemudian dibuat grain palsu (artificial) dengan memberi lapisan
polimer yang tipis. Bahan baku kulit nubuck diambilkan dari kualitas I-IV untuk
mendapatkan nap yang pendek, rata dan seragam. Cacat yang diperbolehkan adalah cacat
tertutup yang tidak sampai masuk ke dalam kulit, tidak ada cacat terbuka ataupun luka
sembuh, cacat pada grain sperti rajah meninggi, rajah bergambar maupun urat darah
(veiny). Hal ini berbeda dengan bahan baku untuk Corrected grain yang cukup diambilkan
dari kualitas V, VI bahkan R.
Beberap hal yang harus diperhatikan dalam memproses kulit nubuck adalah :
a. Proses BHO sampai tanning dilakukan dengan sebaik mungkin sehingga tidak
menimbulkan rajah bergambar/rajah naik karena mempengaruhi hasil buffing dan
menimbulkan nap yang tidak rata
b. Proses Retanning menggunakan bahan-bahan yang terakumulasi mempermudah proses
buffing yang dilakukan saat basah maupun kering untuk mendapatkan nap yang
seragam, pendek dan rata.
c. Kulit yang akan di buffing harus “flat” sehingga perlu di platting, baru dibuffing secara
bertahap dari mulai kasar, medium, halus dengan kertas amplas nomor 400, 600
kemudian 800 atau 1000.
d. Teknik dan metode dyeing harus dipetimbangkan dengan baik karena hasil akhir warna
baik kerataan, matching maupuan ketahanan tergantung proses ini, karena tidak ada
pengecatan tutup.
e. Menampilkan efek penampakan yang ‘velvety’ atau seperti beludru atau sering disebut
writing effect pada nap dengan melakukan pross top fatliquoring dengan minyak
kationik, emulsi silicon atau minyak dengan bilangan yod yang tinggi.

4. Pokok Bahasan Praktek


d. Penentuan dan Seleksi Bahan Baku

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 41


Kulit kambing wet blue dengan luas berkisar antara 5 – 6.5 sqft dengan tebal 0.8-1.0
mm. Kualitas bahan baku kulit wet blue adalah kualitas I - IV.
e. Proses Pasca Tanning
- HCOOH
- Na Carboxyl
- NaCOOH
- NaHCO3
- Naftalene syntan
- Acrylic resin
- Melamin resin
- Replacement syntan
- Zat penyamakan nabati
- Acid dyestuff
- Sulphated syntetic oil
- Lecitin oil
- NH4OH
- Emulsifier
- Benzothiazole
f. Peralatan Bantu
- pH meter
- kertas pH
- Indikator BCG
- Pisau potong
- Mesin sammying setting out
- Mesin vacuum drying
- Mesin staking
- Mesin toggling
- Buffing machine
- Drum proses kecil

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 42


LEMBAR KERJA PRAKTEK 3
UPPER NUBUCK

Tipe kulit : Wet blue Kambing Nama :

Artikel : Upper Nubuck Kelompok :

Jumlah : Tanggal :

Sortasi kulit kambing wet blue

Kualitas Kulit Luas (SqFt) Tebal


No. I II III IV V VI R B S K Defek Ket.
(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 43


Formulasi proses Pasca Tanning I Nubuck Upper Kulit Kambing Wet Blue

Kontrol
No Proses % Generik Nama Paten 0C Keterangan
Waktu pH
1. Washing 200 H2O Air 60’
0.5 HCOOH FA
0.75 Surfactant Peramit MLN
Drain
2. Retanning 1 100 H2O Air
2 Chrome Sandotan CSC
90’
syntan
2 Aluminium Novaltan Al
Drain
3. Netralizing 150 H2O Air
1.5 Naftalene Alcotan PSN 10'
syntan
0.5 NaCOOH Na Format 10'
0.25 NaHCO3 Soda Kue 20'
0.25 NaHCO3 Soda Kue 30' 5-
5,3 BCG Green Ø
Drain +
4. Retanning 2 100 H2O Air
Naftalen
2 syntan Tysyntan TFS
4 Acrilic Resin Drasil SMS 45’
Melamin
3 Resin Renectan B
+
Resin
5 dyciandiamide Tsyntan RT 12
Replecement 60'
8 Syntan Tysintan TO
5 ZP Nabati Mimosa
2 Acid dyes Dyestuff Through
+
Drain
5. Fatliquoring 100 H2O Water 5’ 80
Sulphated
4 synthetic oil Glicermax 52/N
1 Lecitin Oil Sedaflor LC -13
1 Emulsifier Pelan GLH 20' 38

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 44


Fixing 0,5 HCOOH FA 10’
0,5 HCOOH FA 10’
3,8-
20’
0,5 HCOOH FA 4,0
Drain
Rinse
Sammying
6. Setting Out
7. Vaccuum
8. Drying
9. Conditioning
10. Staking
11. Buffing 400,
600,
800/1000

Formulasi proses Pasca Tanning II Nubuck Upper Kulit Kambing Wet Blue

Kontrol
No Proses % Generik Nama Paten 0C Keterangan
Waktu pH
Wetting 400 H2O Air
1. 60’
back
1.5 NH4OH Amonia
2 Wetting agent Paramit MLN 60

Washing 300 H2O Air 10' 60


Drain
2. Fatliquoring 100 H2O Air 10' 60
1,5 Emulsifier Pelan GLH
Combination
sulphonated
and Lederolinor
45’
1.5 Sulphated oil SO8_N
Sulphated
2 synthetic oil Glicermax 52/N
1 Lecitin Oil Sedaflor LC -13
+
1 Acid dyes Dyestuff 30’ Through
+
0,5 HCOOH FA 10’
+

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 45


0,5 Acid dyes Dyestuff 10’
+
0,5 HCOOH FA 10’
3,8-
10’
0,5 HCOOH FA 4,0
1 Fixing agent Sincal DRA 20’
0,1 Antimould Preventol cr 20’

Drain
Rinse
3. Drying
Conditioning
4. Staking
5. Milling
6. Toggling
7. Measuring
8. Packing

TES FORMATIF
1. Jelaskan apa yang dimaksud kulit upper?
2. Jelaskan apa yang dimaksud kulit upper nubuck?
3. Jelaskan persyaratan fisis kulit upper nubuck?
4. Sebutkan dan jelaskan bahan-bahan kimia yang diperlukan dalam pembuatan upper
nubuck?

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 46


MATERI POKOK PRAKTEK 4
GLOVE SNOW WHITE
(TPK/3 SKS/IV)

1. Tujuan Instruksional Umum


Mahasiswa diharapkan mampu memahami, menentukan, membuat formula dan
melaksanakan proses pasca tanning kulit glove snow white dengan bahan baku kulit
kambing/domba wet white.

2. Tujuan Instruksional Khusus


a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bahan baku kulit kambing/domba awet blue
(kualitas, luas, tebal, maupun kondisi) yang digunakan untuk glove snow white.
b. Mahasiswa dapat menjelaskan dan menyebutkan bahan-bahan kimia maupun bahan
produk paten yang digunakan dalam proses pasca tanning kulit glove snow white.
c. Mahasiswa dapat mengatur kondisi-kondisi proses, pH, temperatur, kecepatan, putaran
drum yang sesuai untuk proses pasca tanning kulit glove snow white.
d. Mahasiswa dapat memformulasikan dengan tepat jumlah bahan kimia dengan
kombinasinya dalam formula proses pasca tanning kulit glove snow white dari bahan
baku kulit kambing/domba.

3. Pokok Bahasan Materi

Kulit sarung tangan yang disamak dengan formaldehyde biasanya digunakan untuk
kulit yang nantinya mempunyai warna muda seperti sky blue, pink rose, light yellow
maupun putih kebiruan atau yang dikenal dengan istilah snow white (putih seperti salju).
Hal ini agak berbeda dengan kulit sarung tangan yang disamak krom dimana lebih umum
untuk warna tua seperti hitam, navy blue, coklat dan menggunakan cat asam (acid dyestuff).
Kulit yang disamak dengan formaldehyde pada umumnya diwarnai dengan cat reaktif
(reactive dyestuff).
Dewasa ini produksi kulit sarung tangan olah raga golf didominasi oleh warna putih
(50%), htam (30%) dan sisanya adalah warna lain seperti navy blue, coklat, light colour

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 47


(warna muda) dan lain-lain sebanyak 20%. Dari hal tersebut sering dikatakan bahwa warna
putih dan hitam adalah warna sepanjang masa sedang yang lain termasuk warna fashion.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan permintaan kulit sarung tangan snow white
tetap tinggi. Dari segi pemakai/konsumen, kulit dengan warna putih adalah yang paling
murah sedangkan dari bagi para tannery merupakan solusi untuk kulit yang berkualitas
jelek/rendah (kualitas VI atau reject), karena kulit snow white dapat dibuat dari bahan baku
kulit pikel dengan kualitas tersebut di atas, apalagi saat ini di Indonesia distribusi kulit
hampir 60% termasuk dalam kelompok kualitas VI dan afkir sehingga lebih
menguntungkan bagi penyamak kulit.
Namun diingat bahwa zat penyamak formaldehyde merupakan zat penyamak yang
bersifat meracun. Formaldehyde (methanol), gas yang tak berwarna HCHO2, yang terdapat
pada larutan yang umum disebut formalin dengan kandungan formaldehyde 30-35% (ada
yang sampai 38%) dengan bahan aditif methanol sebagai pemantap. Baunya sangat tajam
dapat menimbulkan iritasi pada mata, saluran pernafasan dan bahkan dapat menyebabkan
serangan yang akut pada penderita penyakit saluran pernafasan. Di Negara maju seperti
Negara Jerman dan Negara-negara di Eropa yang lain nilai maksimal buangan
formaldehyde adalah 0.5 mg/m3 atau 0.6 mg/m3.
Selain perlunya memperhatikan penggunaan aldehyde, dalam membuat snow white
kulit dipucatkan (bleaching) cukup kuat sehingga efek warna yang alami (agak kecoklatan)
tidak tampak. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, dalam industri kulit yang paling
efektif adalah penggunaan NaClO2 (Sodium chlorite) yang dikombinasi dengan NaHSO3
(Sodium bisulfit). Bahan ini juga sangat beracum terutama karena lepasnya gas ClO2 pada
saat berlangsungnya proses bleaching. Bahan lain seperti KMnO4 (Kalium permanganate)
kurang menghasilkan warna putih seperti yang diharapkan (putih kebiruan).
Oleh karena warna putih yang paling tampak sempurna pantulannya adalah yang
bernuansa biru, maka minyak (fatliquor) juga dipilih yang mempunyai ketahanan terhadap
cahaya yang baik dan tidak berubah kekuningan (yellowing) seperti minyak ikan atau
minyak nabati yang memang kekuningan. Dalam hal ini pada umumnya menggunakan
minyak-minyak sintetis atau minyak dengan rantai rangkap yang rendah seperti paraffin
atau polimer silicon. Banyak produk kulit sarung tangan snow white yang tidak diterima

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 48


pembeli karena pada saat penyimpanan kulit tersebut akan berubah menjadi kekuningan
apabila terkena sinar matahari.
Auxiliaries yang tidak kalah penting adalah penggunaan titanium, pigmen yang
berwarna putih, sebagai pengganti cat dasar. Jenis yang biasanya dipakai adalah TiO2
(Titanium oxide) jenis routile (ada 2 jenis yaitu routile dan anatase). Penggunaan titanium
dapat menyebabkan pantulan sinar yang sempurna sehingga seolah-olah dapat menutup
cacat kulit yang terdapat pada permukaan/grain. Hal ini yang menyebabkan kulit snow
white dapat menggunakan kulit domba pikel dengan kualitas yang kurang baik (VI/reject).
Cacat terbuka (seperti hilangnya grain) akan tidak tampak apalagi TiO2 akan lebih banyak
terserap pada bagian-bagian tersebut. Karena TiO2 merupakan pigmen maka TiO2 hanya
berikatan secara fisik (tidak kimiawi) seolah-olah hanya menempel pada kulit, ini berbeda
dengan dyestuff yang mampu berikatan secara kimiawi membentuk ikatan ionik dan
hydrogen.

4. Pokok Bahasan Praktek


a. Penentuan dan Seleksi Bahan Baku
Seleksi bahan baku kulit domba wet white jenis kulit domba tipis (tebal 0.4-0.5 mm),
kualitas VI dan afkir, luas kulit 4 -7 square feet/lembar.
b. Proses Pasca Tanning
- Alkyl sulfat
- Ch3COOH
- CHOH
- Chrome alum (Cr(Al)(SO4))
- TiO2
- CH3COOH
- NaHCO3
- Parrafin emulsion oil
- Syntetic ester (hydropobic effect)
- Polimer silicon emulsion
- HCOOH
- Benzothiazole

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 49


c. Peralatan Bantu
- pH meter
- kertas pH
- Indikator BCG
- Pisau potong
- Mesin polish
- Mesin staking
- Mesin toggling
- Drum milling
- Drum proses kecil

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 50


LEMBAR KERJA PRAKTEK 4
GOLF GLOVE SNOW WHITE

Tipe kulit : Wet white Domba Nama :

Artikel : Glove Snow White Kelompok :

Jumlah : Tanggal :

Sortasi kulit domba wet white

Kualitas Kulit Luas (SqFt) Tebal


No. I II III IV V VI R B S K Defek Ket.
(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 51


Formulasi proses Pasca Tanning Snow White kulit Domba Wet White

Kontrol
No Proses % Generik Nama Paten Keterangan
Waktu pH °C
150 H2O Air
1 Washing 0.75 CH2COOH Asam asetat 60' 3
0.5 Alkyl sulfat Peramit MLN
Drain, Rinse
2 Retanning 100 H2O Air
Formaldehyde 30'
2 CHOH (40)%
+
Formaldehyde
40'
2 CHOH (40)% Clear
+
2 TiO2 Cronos 20'
+
Uji Air
Mendidih
(Baik)
Drain, Wash, Rinse
100 H2O Air panas 70°C
Drain
System
0 H2O dalam drum
suhu ±50°C
1 Alkyl sulfat Peramit MLN 30'
Corelene 360
8 Sulphited ester /Pellan 802
2 Sulphoclorinated Lip Liq SAF
+
3 Fatliquoring
1 Alkyl sulfat Peramit ML
Corelene 360
90'
8 Sulphited ester /Pellan 802
2 Sulphoclorinated Lip Liq SAF
100 H2O Air 10'
+
Cek
10' kesesuaian
1 TiO2 Cronos pegangan
+
0.5 HCOOH Asam formiat 10'
4 Fixing
0.5 HCOOH Asam formiat 10'

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 52


0.5 HCOOH Asam formiat 10'
3.5
10'
0.5 HCOOH Asam formiat -4 Clear
+
0.01 Benzothiazole Preventol Cr 20'
Drain
Sammying
Hang
Drying
Staking
Milling
Polishing
Toggling
Measuring
Packing

TES FORMATIF
1. Jelaskan apa yang dimaksud kulit glove snow white?
2. Jelaskan persyaratan fisis kulit glove snow white?
3. Sebutkan dan jelaskan bahan-bahan kimia yang diperlukan dalam pembuatan glove snoe
white?

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 53


REFERENSI

1. BASF. 1994. Pocket Book For The Leather Technologist. Third Edition. BASF
Aktingesellschaft. 67056 Ludwinshafen. Germany.
2. Covington AD, 2009 , Tanning Chemistry The Science Of Leather, RCS Publishing, ISBN
978-0-85404-170-1, British Library.
3. Eddy. P. 2008. Pasca Tanning. Akademi Teknologi Kulit. Yogyakarya.
4. Sharphouse,J.H. 1989, Leather Technician’s Handbook, Leather Producers Association, St.
Thomas Street, London.
5. Thorstensen, T.C. 1976, Practical Leather Technology, Robert E. Krieger Publishing Co. Inc.,
Huntington. New York.
6. Woodroffe, D. 1953. Leather Dressing Dyeing & Finishing. Published by Quality Books
Teignmouth, S. Dwvon. England.
7. Woodroffe, D. 1949. Standard Handbook of Industrial Leather. Published The National Trade
Press Ltd, Tower House. Southamphton Street. London. W. C.C.

Teknik Pasca Tanning Kulit Kecil 54