Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

TEKNIK PASCA TANNING KULIT KECIL

KULIT KAMBING ARTIKEL NAPPA GARMENT

DISUSUN OLEH :

1. PRAYOGI TAWAKAL (1701009)


2. NAYLA MUSTIKA FAUZIAH (1701014)
3. PUTRI HIDAYATI NINGTIYAS (1701032)

KELOMPOK/KELAS : 02 / TPK A

KEMENTRIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA INDUSTRI

POLITEKNIK ATK YOGYAKARTA

2019
Pendahuluan

A. Latar Belakang

Indonesia dinilai memiliki potensi besar di sektor industri penyamakan


kulit. Industri penyamakan kulit adalah industri yang mengolah kulit mentah
(hides atau skins) menjadi kulit jadi atau kulit tersamak (leather) dengan
menggunakan bahan penyamak.
Secara umum penyamakan bertujuan untuk mentransformasi sifat kulit yang
labil, membusuk terhadap mikroorganisme, denaturasi terhadap bahan kimia,
mengkerut terhadap panas, dirubah menjadi lebih stabil terhadap kerusakan
bahan kimia, panas atau mikroorganisme sehingga tidak membusuk dalam
jangka panjang (Hermawan, 2014). Untuk membuat kulit jadi (leather)
mengalami beberapa tahapan proses yaitu proses beam house operation, proses
tanning, proses pasca tanning, dan proses finishing.
Salah satu proses yang penting dari proses penyamakan kulit adalah proses
pasca tanning. Kulit yang digunakan pada proses pasca tanning ini adalah kulit
wet blue, Kulit wet blue sendiri merupakan kulit yang memiliki daya jual yang
tinggi dari pada kulit yang masih dalam bentuk mentah atau awetan. Sehingga
perlunya meminimalisir defek defek atau kecacatan pada kulit wet blue yang
disebabkan dari saat kulit diawetkan hingga menjadi kulit wet blue, oleh karena
itu perlu dilakukannya proses pasca tanning untuk memperbaiki cacat pada kulit
seperti loose grain, membuat kulit menjadi lemas atau mewarnai dasar kulit
tersebut. Secara umum, proses pasca tanning terdiri dari proses netralisasi,
retanning, fatliquoring, dyeing, dan fixasi.
B. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa diharapkan mampu memahami bagaimana menentukan,
membuat formula dan melaksanakan proses pasca tanning kulit nappa
dengan bahan baku kulit kambing/domba wet blue ataupun wet white.
2. Tujuan Instruksional Khusus
a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bahan baku kulit kambing/domba wet
blue ataupun wet white (kualitas, luas, tebal, maupun kondisi) yang
digunakan untuk nappa garmen.
b. Mahasiswa dapat menjelaskan dan menyebutkan bahan-bahan kimia
maupun bahan produk paten yang digunakan dalam proses pasca tanning
kulit nappa garmen.
c. Mahasiswa dapat mengatur kondisi-kondisi proses, pH, temperatur,
kecepatan, putaran drum yang sesuai untuk proses pasca tanning kulit
nappa garmen.
d. Mahasiswa dapat memformulasikan dengan tepat jumlah bahan kimia
dengan kombinasinya dalam formula proses pasca tanning kulit nappa
garmen dari bahan baku kulit kambing/domba.
MATERI DAN METODE
A. Alat dan Bahan
a. Alat yang digunakan dalam praktikum adalah:
1. Drum (1 unit).
2. Bak (1 unit).
3. Gelas (5 unit).
4. Gayung (1 unit).
5. Sendok (2 unit).
6. Pisau (1 unit).
7. Gunting (1 unit).
8. Pisau setting out (1 unit).
9. Kayu untuk hanging (3 unit).
10. Meteran (1 unit).
11. Tali plastik (secukupnya).
12. Tickness gauge (1 unit).
13. Spancam miring (1 unit).
14. pH meter (1 unit).
15. Drum miling (1 unit)
16. Spray untuk conditioning (1 unit)

b. Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah:


1. Kulit kambing wet blue
2. H2O
3. Asam Formiat
4. Indikator BCG
5. Peramit MLN
6. Rellugan GT50
7. Cromosal B
8. Alcotan PSN
9. Natrium Format
10. Proventol CR
11. NaHCO3
12. Drasil SMS
13. Derminol SPE
14. Lipoderm Liquor SAF
15. Ammonia
16. Dermagen GPA
17. Lipoderm Blue RF
18. Derminol OCS
19. Derminol NLM
20. Sincal DR
1) Data Sortasi dan Grading Bahan Baku Kulit.

Foto: Bahan baku kulit wet blue


Jenis Kulit Kulit wet blue
Warna Biru
Kualitas 1. Riject
(Standar 2. Riject
UNIDO) 3. Riject

Deskripsi cacat :
1. Terdapat pes disebagian krupon,
rajah terkelupas dibeberapa
bagian.
2. Terdapat pess pada krupon,
gigitan kutu merata dibagian
krupon.
3. Terdapat pes pada bagian
Jumlah Kulit 3 kulit krupon, ada lubang kecil pada
Tebal sebelum di 1. 1,32 mm bagian krupon.
shaving 2. 1,20 mm
3. 1,46 mm
Tebal sesudah di 1. 0,65 mm
shaving 2. 0,62 mm
3. 0,67 mm
Berat sebelum di 1. 0,75 kg
shaving dan 2. 1 kg
trimming 3. 0,83 kg
Berat sesudah di 1. 0,344 kg
shaving dan 2. 0,462 kg
trimming 3. 0,335 kg
Luas sebelum di 1. 5 Squarefeet
shaving dan 2. 42 Squarefeet
trimming 3. 41 Squarefeet
Luas sesudah di 1. 43 Squarefeet
shaving dan 2. 42 Squarefeet
trimming 3. 41 Squarefeet
Berat limbah 2,9 kg
shaving (10
kelompok)
Berat limbah 0,505 kg
trimming (3 kulit)
Formulasi Pasca Tanning Artikel Nappa Garment

Berat Produk Waktu Kontrol


No Proses % Chemical Fungsi
bahan Paten Menit WIB BCG pH ˚C Keterangan
Untuk mengetahui Kualitas, berat, luas,
1 Sortasi dan
kualitas, berat, luas, dan dan tebal kulit sudah
grading
tebal kulit sebelum tertera pada tabel
(12 Januari
diproses. sortasi & grading wet
2019)
blue.
Mengurangi kadar air
Setelah di sammying
dalam kulit wet blue,
2 Sammying kulit sudah tidak terlalu
karena kulit masih terlalu
basah.
basah.
Untuk mengatur /
Setelah di shaving ada
meratakan ketebalan kulit
beberapa kulit yang
3 Shaving (menjadi ±0,65 mm)
bolong dibagian
disesuaikan untuk artikel
pinggir.
yang akan dibuat yaitu

7
nappa garment,
mempercepat penetrasi.

Merapihkan bagian pinggir Setelah di trimming


klulit. dengan gunting kulit
terlihat lebih rapih dan
4 Trimming
lubang yang dibagian
pinggir sudah tidak ada
karena ditrimming.
Untuk mengetahui Kulit mengalami
Sortasi dan
5 kualitas, berat, luas dan perubahan berat, tebal,
grading
tebal kulit setelah di luas dan kualitas seperti
setelah
shaving dan di trimming. yang telah tertera pada
shaving dan
table sortasi dan grading
trimming
kulit wet blue.
15 2,26 L H2O Air Mengembalikan kadar air 09.45 Cek BCG = berwarna
Wetting
6 0 yang telah berkurang 45 ́ – Kunin 4,5 kuning kehijauan
back
setelah penyimpanan. 10.30 g 1
0,5 5,6 gr HCOOH Asam Menurunkan pH kulit. kehija Control Proses = Kulit
Formiat uan kembali basah, Lemas,
0,7 8,48 gr Surfaktan Peramit Membantu mempercepat Kadar air sudah
5 Anionik MLN proses pembahsan meningkat ditandai
dengan kulit yang sudah
basah dan lemas.
7 Drain Membuang air dalam
drum.
8 Retanning I 10 1,13 L H2O Air Sebagai pelarut bahan 90’ 10.45 Kondisi kulit warnanya
0 kimia dan membantu - sedikit kekuningan,
penetrasi bahan kimi 12.05 pegangannya sudah
kedalam kulit. spongi, soft, dan lemas.

3 31,93 Cr(OH)SO4 Cromosal Sebagai tanning agent


gr B untuk menyempurnakan
penyamakan,
meningkatkan suhu kerut,
dan membuat pegangan
sedikit lebih soft.
3 31,93 Glutaralldeh Rellugan Membuat kulit menjadi
gr yde GT50 sedikit spongi.
9 Drain Membuang air dalam
drum.
10 Netralisasi 15 1,69 L H2O Air Sebagai pelarut bahan Kondisi kulit
0 kimia dan membantu pegangannya masih tetap
penetrasi bahan kimi spongi, soft, dan lemas.
kedalam kulit. pH akhr kulit 5,8 dan
12.20
1,5 16,9 gr Netalizing Alcotan Sebagai neutralizing. 10 ́ BCGnya sudah biru.

agent PSN Seperti buffer berfungsi
12.30
sebagai penyangga agar
tidak terjadi kenaikan pH
yang drastis (akibat
penambahan basa).
0,5 5,6 gr NaCOOH Natrium Menaikan pH kulit agar 10’ 12.35 Hijau 4,8
Format sesuai target yang ingin – kekun 3
dicapai yaitu 5,5 – 5,8. 12.45 ingan
0,5 5,6 gr NaHCO3 Soda Kue Menaikan pH kulit agar 15’ 12.45 Hijau 5,0
sesuai target yang ingin – 6
dicapai yaitu 5,5 – 5,8. 13.00
0,5 5,6 gr NaHCO3 Soda Kue Menaikan pH kulit agar 15’ 13.00 Biru 5,0
sesuai target yang ingin – kehija 8
dicapai yaitu 5,5 – 5,8. 13.15 uan
0,5 5,6 gr NaHCO3 Soda Kue Menaikan pH kulit agar 30’ 13.20– Biru 5,6
sesuai target yang ingin 13.50 kehija 3
dicapai yaitu 5,5 – 5,8. uan
0,5 5,6 gr NaHCO3 Soda Kue Menaikan pH kulit agar 30’ 13.50 Biru 5,5
sesuai target yang ingin - 6
dicapai yaitu 5,5 – 5,8. 14.20
0,3 3,1 gr NaHCO3 Soda Kue Menaikan pH kulit agar 30’ 14.30 Biru 5,8
sesuai target yang ingin -15.00
dicapai yaitu 5,5 – 5,8.

11 Overnight Kulit diovernight


didalam drum.
12 Mekanik 15’ 08.00- Biru 5,6 Kulit diputar dalam drum
08.15 selama 15 menit untuk
menyesuaikan kondisi
setelah di-overnight.
13 Retanning 10 1,131 L H2O Air Sebagai pelarut bahan 90’ 08.20- Kondisi kulit
II 0 kimia dan membantu 09.50 pegangannya menjadi
penetrasi bahan kimi lebih berisi , padat,
kedalam kulit. terutama pada bagian
3 33,93 Resin Drasil Copolimer Rettaning flank dan belly.
gr Acrylic SMS Agent, mengisi bagian –
Liquid bagian kulit yang loose.
14 Drain & Membersihkan kulit dan Membuang kulit dalam
Washing drum dari sisa sisa bahan drum dan mencuci kulit
kimia pada proses dengan air bersih.
sebelumnya.
15 Fatliquorin 20 2,26 L H2O Air panas Untuk menyesuaikan Derminol SPE,
g 0 kondisi kulit dan drum Lipoderm Liquor SAF,
supaya hangat. dan Peramit MLN di mix
10 1,131 L H2O Air panas Untuk menyesuaikan 10’ 10.00- 70 kemudian diemulsikan
0 kondisi kulit dan drum 10.05 dengan air hangat secara
supaya hangat. perlahan – lahan.
8 90,48 Sulphited Derminol Melubrikasi antar serat 90’ 80 Kondisi kulit setelah
gr Oil SPE kulit sehingga tidak saling (10.10-11.40)
lengket sehingga kulit
menjadi lemas.

8 90,48 Sulphited Derminol Melubrikasi serat kulit


Fish Oil SPE sehingga tidak saling
lengket satu dengan
lainnya sehingga membuat
kulit menjadi lemas.
4 45,24 Sulfoclorina Lipoderm Meminyaki kulit dan fatliquoring sudah lemas
gr te mineral Liquor membuat pegangan kulit tetapi belum lemas sekali
oil SAF lebih halus. dan peganganya halus.
5 56,55 Alkyl Sulfat Peramit Sebagai emulsi fire yang
MLN dapat membantu proses
pengemulsian minyak.
16 Dyeing 1 11,31 Penetrating Dermagen Membantu penetrasi zat 60’ 10.20 - Pada saat telah
gr /Levelling GPA warna kedalam kulit, serta 11.20 ditambahkan dermagen
agent. membantu membuat GPA dan Acid Dyesstuff
tampilan warna merata kondisi kulit berwarna
pada kulit. biru tetapi kondisi air
3 33,93 Acid Lipoderm Sebagai zat warna yang dalam drum masih keruh
gr Dyesstuf Blue RF dapat mewarnai kulit. 60’ , 11.20 – dan saat dilakukan
30’ 12.50 pengecekan tembus
0,3 3,39 gr NH4OH Amonia Membantu menembuskan masih ada garis putih
warna / membantu ditengah kulit yang
penetrasi zat warna artinya kulit belum
kedalam kulit. tembus dengan
sempurna, selanjutnya
dilakukan penambahan
ammonia untuk
membantu penetrasi zat
warna. Setelah selesai
penambahan amonia
sekitar 60 menit ternyata
masih ada sedikit garis
putih, akhirnya ditambah
putaran sekitar 30 menit
dan setelah dilakukan
pengecekan kulit sudah
berwarna biru pekat zat
warna telah tembus
dengan sempurna dan
kondisi air dalam drum
sudah jernih.
17 Fixaxi 10 1,131 H2O Air Sebagai pelarut bahan 15’ 12.53 – Setelah di fixaxi kondisi
0 L kimia dan membantu 13.08 kulit tembus dan warna
penetrasi bahan kimi birunya merata (tidak
kedalam kulit. ada belang).
0,5 5,6 gr HCOOH Asam Untuk mengunci / 20’ 13.08 –
Formiat mengikat warna pada kulit. 13.28
0,5 5,6 gr HCOOH Asam Untuk mengunci / 20' 13.30 –
Formiat mengikat warna pada kulit. 13.50
18 Drain & Membersihkan kulit dan Membuang kulit dalam
Washing drum dari sisa sisa bahan drum dan mencuci kulit
kimia pada proses dengan air bersih.
sebelumnya.
19 Top 75 0,84 L H2O Air Untuk menyesuaikan 60’ 13.50 – 70 Semua minyak di
Fatliquorin kondisi kulit dan drum 14.50 campurkan lalu
g supaya hangat. diemulsikan dengan air
panas secaa perlahan –
3 33,93 Sulphited Derminol Melubrikasi serat kulit lahan lalu diputar dalam
Fish Oil SPE sehingga tidak saling drum. Kondisi kulit
lengket satu dengan setelah top fatliquoring
lainnya sehingga membuat sudah sangat lemas dan
kulit menjadi lemas pegangannya halus.
4 45,24 Sulphited Derminol Meminyaki kulit agar kulit
Syntetic Oil OCS menjadi lemas.
1,5 16,96 Sulfated Oil Derminol Meminyaki kulit agar kulit
+ Softening NLM menjadi lemas serta
+ membuat pegangan kulit
Emulisifier lebih soft. Dan berperan
sebagai emulsi fire yang
membantu proses
pengemulsian minyak.
20 Fixing 0,5 5,6 gr HCOOH Asam Untuk mengunci / 15’ 15.00 – Hijau 4,6 Kondisis kulit setelah di
Formiat mengikat warna pada kulit, 15.15 kebiru 1 fixing menjadi lemas,
serta membantu an soft, spongi, halus, padat
menurunkan pH. terisis, dan warnanya
0,5 5,6 gr HCOOH Asam Untuk mengunci / 20’ 15.15 – Hijau 4,4 merata dan pekat serta
Formiat mengikat warna pada kulit, 15.35 9 tidak ada cat yang
serta membantu mengeblok pada suatu
menurunkan pH. bagian.
0,5 5,6 gr HCOOH Asam Untuk mengunci / 20’ 15.35 – Hijau 4,2
Formiat mengikat warna pada kulit, 15.55 8
serta membantu
menurunkan pH.
0,3 3,39 gr HCOOH Asam Untuk mengunci / 15’ 15.55 – Hijau 4,2
Formiat mengikat warna pada kulit, 16.10 3
serta membantu
menurunkan pH.
0,2 2,26 gr Resin Sincal DR Membantu mengikat zat 20’ 16.10 –
Kationik warna (dyestuff) pada 16.30
kulit.
0,2 2,26 gr Cresol & Preventol Mencegah tumbuhnya 20’ 16.30 -
Phenol CR jamur selama masa 16.50
Derivat penyimpanan.
21 Drain Cuci Membersihkan kulit dan Membuang kulit dalam
Drain drum dari sisa sisa bahan drum dan mencuci kulit
kimia yang digunakan dan drum dengan air
selama proses pasca bersih.
tanning dalam drum.
22 Setting Out Membantu mengurangi Dilakukan diatas meja
Ringan kadar air dalam kulit . miring menggunakan
pisau setting out.
Kondisis kulit setelah
disetting out sudah tidak
terlalu basah dan warna
birunya pekat serta
telihat ada bagian kasar
pada rajah bagian atas.
23 Hanging Mengurangi kadar air Hanging dilakukan
dalam kulit (agar kulit dengan menggantungkan
kering). kulit yang diikatkan pada
sebuah bambu. Setelah
dihanging selama ± 30
jam kondisi kulit sudah
kering, kaku, dan
warnanya tidak biru
pekat melainkan biru
sedikit pudar dan ada
noda putih pada
beberapa bagian kulit,
serta beberapa rajah yang
kasar semakin terlihat
jelas seperti terkelupas.
25 Conditionin Melembabkan kulit agar Dilakukan dengan
g tidak terlalu kaku ketika membasahi bagian flash
dilakukan staking. kulit menggunakan air
pada alat spray sampai
kondisi kulit lembab.
26 Staking Melemaskan kulit. Kondisis kulit belum
terlalu lemas masih
sedikit kaku sehingga
dilakukan 2 x staking.
27 Milling Membuat kulit menjadi Kulit diputar bersama
lebih lemas. batu milling pada drum
miling selama ±28 jam.
Kondisi kulit setelah
dimilling sudah lumayan
lemas hanya saja masih
ada sedikit bagian kaku
terutama pada bagian
pinggir kulit. Warna
kulit masih tidak biru
pekat melainkan biru
sedikit pudar dan ada
noda putih pada
beberapa bagian kulit,
serta beberapa rajah yang
kasar semakin terlihat
jelas seperti terkelupas.
28 Toggling Menambah luas kulit dan Setelah ditoggling kulit
membuat kulit lebih flat. menjadi lebih luas dan
lebih flat.
29. Measuring Mengukur luas kulit. Luas kulit 1 = 5,7 sqft
Luas kulit 2 = 4,9 sqft
Luas kulit 3 = 4,2 sqft
30 Sortasi dan Untuk mengetahui Kualitas, berat, dan luas
Grading kualitas, luas, dan tebal kulit sudah tertera pada
Akhir kulit setelah diproses. tabel sortasi & grading
akhir.
31 Packaging Untuk membungkus kulit Kulit ditumpuk lalu
menggunakan plastic digulung dan dimasukan
sebelum disimpan agar kedalam plastik.
terhindar dari gangguan
debu, binatang, kotoran,
dll.

2). Data Shaving dan Rendemen Kulit

Kelas : TPK A / Semester IV


Jenis Kulit : Wet Blue
Artikel : Nappa Garmen
Kelompok No. Wet Blue Crust Dyed
Kulit Berat (Kg) Luas (Sqft) Tebal (mm) Kualitas Berat Berat Luas Tebal
Awal Akhir Awal Akhir Awal Akhir Kulit Limbah Limbah
Shaving Triming
I 1 0,57 0,25 31 3 1,1 0,67 III Berat 10 Berat 3
2 0,6 0,26 31 3 1,2 0,65 III Kelompok kulit
3 0,5 0,71 3 3 1,01 0,68 II 2,9 Kg 58,60 gr
Total 1,67 1,22
II 1 0,5 0,256 5 43 1,32 0,65 R Berat 3 5,7 0,89
mm
kulit sqft

2 0,5 0,238 42 42 1,20 0,65 R 57,50 gr 4,9 2. 0,64


mm
sqft

3 0,49 0,225 41 41 1,46 0,6 R 4,5 0,89


sqft mm

Total 1,49 0,716


III 1 0,5 0,256 32 31 1,3 0,65 2 14,2 gr
2 0,5 0,238 32 32 1,2 0,65 2 23,4 gr
3 0,49 0,225 3 3 1,36 0,6 2 15 gr
Total 1,49 0,716

IV 1 1,07 0,41 5 5 1,55 0,65 28,8 gr


2 1,05 0,39 5 5 1,54 0,65 22,2 gr
3 0,98 0,39 51 5 1,46 0,65 21,2 gr
Total 3,1 1,29
VII 1 0,9 0,324 43 43 1,5 0,6 41,2 gr
2 0,8 0,336 42 42 1,4 0,6 52 gr
3 0,8 0,388 5 5 1,3 0,6 28 gr
Total 2,5 1,07
Lampiran

Kulit setelah fatliquoring

Kulit setelah top fatliquoring Kulit setelah dyeing

25
HASIL

1. Data Sortasi dan Grading Akhir Kulit

Foto: kulit krust


Jenis Kulit Kulit krust
Warna Biru
Kualitas 1. Riject
(Standar 2. Riject
UNIDO) 3. Riject

Deskripsi cacat :
1. Terdapat bekas pes dibagian
bahu dan leher, rajah kasar
seperti terkelupas
dibeberapa bagian, warna
biru yang tidak merata ada
warna putih di beberapa
bagian .
Jumlah Kulit 3 kulit 2. Terdapat pess dibagian
Tebal Kulit 1. 0,89 mm krupon, warna biru yang
2. 0,64 mm tidak merata ada warna
3. 0,89 mm putih di beberapa bagian.
Luas Kulit 1. 5,7 Squarefeet 3. Terdapat pes pada bagian
2. 4,9 Squarefeet krupon yang masih terlihat,
3. 4,5 Squarefeet ada lubang kecil pada
Panjang Kulit 1. 88 cm bagian krupon, warna biru
2. 78 cm yang tidak merata ada
3. 80 cm warna putih di beberapa
Lebar Kulit 1. 49 cm bagian.
2. 48 cm
3. 43 cm
Nama : PUTRI HIDAYATI NINGTIYAS

Nim : 1701009

Kelas : TPK A

Pada praktikum kali ini, kami melakukan praktikum pasca tanning artikel nappa garmen.
Dengan bahan kulit kambing wet blue dan berat 1,131 kg, kami melakukan proses sortasi grading
karena untuk menentukan kualitas dan ukuran kulit wet blue sebelum dilakukan penyamakan pasca
tanning nanti. Kemudian kulit di sammying, hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar air di
dalam kulit wet blue, karena pada saat ini kulit masih dengan keadaan sangat basah. Langkah
selanjutnya adalah shaving yang bertujuan untuk meratakan ketebalan kulit menjadi 0,65 mm
karena artikel yang akan kami buat adalah garment dan kemudian kulit di trimming pinggirannnya
menggunakan gunting supaya lebih rapi, setelah itu dimulailah proses penyamakan yang diawali
dengan proses Rewetting yaitu proses pembasahan ulang dengan menggunakan bahan air, asam
formiat dan peramit MLN. Asam formiat berfungsi untuk mengurangi muatan positif pada krom
pada kulit dan peramit MLN berfungsi untuk membantu membasahkan kulit kembali dan
menurunkan tegangan permukaan kulit, selain itu bahan ini juga berfungsi untuk membantu
menghilangkan muatan kationik krom yang terdapat di dalam kulit. Kami memasukkan kulit
bersama seluruh bahan ke dalam drum dan memutarnya selana 45 menit dan pada putaran 30 menit
pH di dapat 4,6 kemudian di tambah putaran 15 menit pH menjadi 4,51 dan keadaan kulit lebih
basah dan lembut dari sebelumnya. Kemudian kami membuang larutan dan melanjutkan pada
proses selanjutnya yakni proses Retanning I dengan bahan air, chromsal B dan rellugan GT 50.
Chromosal B dapat memberi kelemasan pada kulit, dan sebagai bahan penyamak, pegangan yang
lembut dan menampakkan kenaturalan sifat kulit selain itu bahan ini juga dapat membantu
menaikkan suhu kerut pada kulit. Penambahan Glutaraldehyde dapat memberikan kelemasan dan
pegangan yang penuh. Bahan ini juga dapat membuat kulit menjadi tahan terhadap keringat dan
pencucian. Kulit dan bahan dimasukkan ke dalam drum kemudian diputar selama 90 menit dan
kulit menjadi lebih lembut/spongy dan sedikit padat. Kemudian larutan dibuang diganti air baru
dan kami melanjutkan proses Neutralizing.

Kami melanjutkan tahapan dengan proses Neutralizing/Netralisasi. Proses ini bertujuan


untuk menghilangkan sisa-sisa asam bebas yang terdapat pada kulit wet blue karena proses
pengasaman atau yang terbentuk selama reaksi olasi dan oxolasi pada proses ageing. Kami
menambahkan bahan bahan berupa Al caton PSN sebagai netralising agent yang seperti buffer
yang berfungsi sebagai penyangga agar tidak terjadi kenaikkan pH yang drastis (akibat basa)
kemudian ditambah soda untuk menetralkan asam dalam kulit. Penambahan soda pada proses ini
dilakukan secara bertahap dimulai dari soda bikarbonat hingga soda kue. Soda kue digunakan
karena termasuk golongan basa lemah yang jika digunakan tidak akan membuat kulit terlalu cepat
berikatan dengan bahan tersebut sehingga mengurangi persentase kulit untuk mengkerut. Sodium
nafthalen(Alcotan PSN) digunakan karena soda jenis ini telah memiliki campuran bahan bahan
yang kompleks sehingga sangat membantu proses netralisasi. Pada saat pemasukan soda kue
terakhir, pH larutan kami masih menunjukkan angka 4,83 kemudian kami menambah soda kue
kembali dan memutarnya selama 30 menit dengan tujuan mengoptimalkan proses. Pada akhir
netralisasi kami mendapatkan BCG telah berwarna biru dan pH = 5,0 Kemudian kulit di overnight
dengan cara di rendam dalam drum.

Keesokan harinya kami melakukan adjust pH dengan soda kue 0,5% diputar didalam drum
selama 20 menit, dan pH menjadi 5,7 dan saat di cek BCG berwarna biru. kemudian melanjutkan
proses proses Retanning II. Dalam praktikum ini kami melakukan proses Retanning II dengan
menambahkan beberapa bahan kimia. Kami menambahkan Resin akrilik (Drasil SMS) yang
berfungsi untuk mengisi bagian-bagian kosong pada kulit terutama pada bagian flank dan belly.
Penambahan bahan ini dimaksudkan agar seluruh bagian kulit memiliki kepadatan dan pegangan
kulit yang sama sehingga kulit memiliki handling yang enak, proses ini diputar dalam drum selama
30 menit lalu cairan di drain dan washing.

Kami melanjutkan pada proses Fatliquoring dengan menambahkan air panas dan kulit
terlebih dahulu. Drum diputar selama 5 menit untuk mengondisikan kulit dalam kondisi hangat.
Kemudian larutan kami buang setengahnya. Kami menambahkan air panas kembali dan bahan
bahan yaitu derminol SPE, lipoderm liquor SAF, dan Peramit MLN, ketiga bahan tersebut diemulsi
dengan menambahkan air panas sedikit demi sedikit dan diaduk hingga homogen yang nantinya
dimasukkan dalam drum bersama dengan kulit. Penambahan sulfoclorinate oil (Lipoderm Liquor
SAF) berguna untuk membuat pegangan penuh pada kulit dan membuat grain menjadi lebih
elastis. Penambahan alkyl sulfat(Peramit MLN) berguna untuk mempercepat proses peminyakan
dan dapat mengemulsi minyak sehingga diharapkan minyak dapat meresap terpenetrasi penuh ke
dalam serat-serat kulit.

Kemudian kami melanjutkan proses Dyeing. Kami menggunakan amonia. Kemudian


menambahkan bahan penetrasi (Dermagen GPA) sebagai pembantu agar seluruh bahan dapat
masuk lebih dalam substansi kulit karena kulit nappa harus memiliki kelemasan dan fleksibilitas
yang tinggi. Kemudian kami melakukan proses fixing yaitu dengan menambahkan air dan
memasukkan asam formiat secara bertahap sebanyak 3x15 menit sebagai fixation agent. Pada
proses ini warna kulit diikat dengan asam agar tidak menjadi luntur dan dapat terikat pada seluruh
bagian kulit. Kulit menjadi berwarna merah dan lemas, warna tembus ke penampang. Kulit
kemudian di drain, wash, drain.

Kami melanjutkan proses Top Fatliquoring dengan menambahkan air panas 75% dan
bahan bahan yaitu Derminol SPE, Derminol OCS dan Derminol NLM yang berfungsi untuk
membuat kulit menjadi lebih lemas, memiliki kelemasan dan kemuluran yang baik dan fleksibilitas
yang tinggi yang sesuai dengan artikel kulit yang dibuat proses ini dilakukan dengan mencampur
bahan dan dimasukkan kedalam drum.

Kami melanjutkan dengan proses fixing yakni menggunakan asam formiat yang berfungsi
untuk mengikat cat dasar pada kulit. Lalu ditambahkan Sincal DR(Resin Kationik) yang bermuatan
kationik yang dapat membantu untuk mengikat dyes dan untuk meningkatkan sifat pencelupan dan
membantu menyempurnakan proses pengikatan cat dasar dan fiksasi pada kulit dan juga membuat
kulit stbil dan tahan terhadap asam. Preventol CR ditambahkan sebagai anti jamur pada kulit,
karena dapat mencegah tumbuhnya jamur pada kulit. Kemudian air dibuang dan kulit di cuci.

Setelah proses selesai kulit dilakukan proses mekanik dengan urutan pertama Setting out.
Kulit di setting out agar seratnya lebih terbuka. Lalu kulit di Hanging hingga kering. Setelah
kering, kulit di Conditioning dengan menyemprotkan air hingga lumayan lembab dan didiamkan
beberapa saat , kemudian kulit di stacking agar lebih lemas. Dan kulit dilanjutkan dengan proses
Milling yaitu diputar di dalam drum selama beberapa jam agar kulit menjadi lebih lemas Setelah
kering kemudian kulit di toggling selama semalam untuk mendapatkan luas maksimal pada kulit
dan keesokan harinya kulit dilepas dari toogleannya dan di trimming supaya lebih rapi, limbah
trimming ditimbang dan dihasilkan beratnya 6 gram, kenudian kulit di ukur panjang, lebar, dan
luasnya secara manual, terakhir di measuring dan di packing untuk mengetahui panjang, lebar, dan
luasnya dengan mesin supaya lebih akurat.
Nama : Prayogi Tawakal

Nim : 1701009

Kelas : TPK A

1. FATLIQUORING

Proses ini bertujuan untuk memberikan lapisan antar serat sehingga memberikan kulit
kelembutan yang diinginkan dan pegangan semacam pelumas.Pada saat yang sama, fatli
mempengaruhi sifat fisik kulit, seperti ekstensibilitas, kekuatan tarik, sifat pembasahan, daya
serap air dan permeabilitas terhadap uap udara dan air (BASF,2008). Fatliquoring: Langkah
ini terutama diterapkan untuk mencegah serat lengket saat kulit dikeringkan setelah proses
basah selesai. Sekunder efeknya adalah untuk mengontrol tingkat kelembutan yang diberikan
pada kulit. Satu dari konsekuensi dari pelumasan berpengaruh pada kekuatan
kulit(Covington,2009). Lubrikasi (lubrication) atau pelicinan adalah usaha untuk
menempatkan zat atau bahan yang berfungsi memisahkan serat kulit agar tidak merekat satu
sama lain, biasanya merupakan fat atau oil atau bahan lain seperti silicon yang berbentuk
emulsi oil in water ( O/W) ( Purnomo,2008).Berdasarkan pendapat para ahli tersebut maka
dapat disintesiskan bahwa fatliquoring bertujuan untuk melapisi serat kulit dengan
menggunakan minyak agar serat tidak saling merekat satu sama lain sehingga dapat
memberikan pegangan yang lembut dan dapat memperbaiki sifat kulit untuk artikel yang
diinginkan.
Proses ini menggunakan bahan 100% H2O dengan suhu 80oC yang berfungsi sebagai
pembantu penetrasi minyak kedalam kulit karena air panas dapat menurunkan tegangan
permukaan ( emulsion fair) sehingga menjadi penghubung antara minyak dan air. 8% derminol
spe merupakan sulphited fish oil yang mempunyai kemampuan penetrasi hingga kedalam kulit
sehingga memberikan efek kelemasan yang lebih baik sesuai dengan artikel yang diinginkan
yang memerlukan kelemasan yang baik. 4% lipoderm liquor yang berungsi untuk meratakan
penetrasi minyak kedalam kulit dan mencegah terjadinya blok warna pada saat proses dyestuff
yang disebabkan penetrasi minyak kedalam kulit tidak merata. 6% peramit mln yang berfungsi
sebagai emulsi fire yang membantu untuk menurunkan tegangan permukaan kulit sehingga
menjadi penghubung antara minyak dan air.Seluruh bahan diemulsikan terlebih dahulu dengan
cara seluruh chemical dicampur kemudian diaduk hingga merata dengan ditambahkan sedikit
demi sedikit air panas hingga larutan menjadi homogeny seluruhnya dan warna menjadi coklat
muda (crem). Emulsi: Suspensi dispersi phase campuran koloid suatu zat kedalam phase
lainnya seperti minyak dalam air yang disebut (O/W) atau sebaliknya air dalam minyak (W/O).
Emulsi diperlukan karena media proses masuknya bahan kimia kedalam kulit adalah air
sedangkan minyak/fat bersifat hydrophobic terhadap air. Sifat ini disebabkan karena tegangan
antar permukaan air dan minyak yang sangat tinggi sehingga tidak dapat bercampur(
Purnomo,2008). Berdasarkan teori tersebut emulgator akan memberikan tekanan penyebaran
gaya yang menyebabkan turunnya tegangan antar muka air dan Emulgator minyak sehingga
minyak dapat terdispersi dalam air atau sebaliknya. Minyak akan membentuk dispersi koloid
dalam air bila ditambahkan zat yang dapat menurunkan tegangan antar muka minyak dan air.
Kemudian setelah chemical diemulsikan masukan kedalam drum bersaaman dengan kulit,
sebelumnya kulit dan temperature suhu dalam drum disesuaikan yaitu hangat kemudian
diputar dalam drum selama 1 jam , putaran drum merupakan gerakan mekanik yg dapat
membantu mempercepat penetrasi minyak kedalam kulit. sesuai dengan tujuan dari
fatliquoring diatas maka kulit yang dihasilkan setelah proses fatliquoring menjadi
lemas,pegangannya alus,spongy,dan berisi.

(.covington,2009)

2. Dyeing

Tujuan dyeing pada pengolahan kulit: Memberikan warna dasar pada kulit sesuai dengan
standar yang ditetapkan, terutama yang berhubungan dengan karakteristik uji fisik,
organoleptik, kimia, termasuk persyaratan yang berhubungan dengan penggunaan jenis
dyestufnya(Covington,2009). Proses pewarnaan dilakukan untuk menghasilkan pewarnaan
yang konsisten pada seluruh permukaan setiap kulit dan untuk pencocokan yang tepat
antara kulit dalam kemasan komersial (BAT,2013).Berdasarkan kedua pendapat tersebut
dapat disinetsiskan bahwa tujuan dyeing adalah untuk memberikan warna dasar pada kulit
yang berkaitan dengan keingin konsumen guna keindahan artikel yang diinginkan yang
berhubungan dengan karakteristik uji fisik, organoleptic dan kimia.

Proses ini menggunakan bahan sebagai berikut 0,5% asam ammonia yang berfungsi
untuk mempercepat penetrasi dyestuff kedalam kulit kareena amoniak mengandung
muatan (-) yang dapat memblok muatan (+) dalam kulit karena pada proses ini
menggunakan acid dyestuff yang mengandung muatan (+) sehingga amoniak sangat
membantu untuk proses penetrasi dyestuff karena muatan (+) dapat diblok jadi banyak
muatan (-) dalam kulit sehingga acid dyestuff dapat terpenetrasi baik,1% dermagen gpa
yang merupakan lavelling agent yang berfungsi untuk membuat dyestuff meyebar merata
keseluruh permukaan/tidak ada blok warna pada kulit, 3% melioderm blue bg merupakan
acid dyestuff yang memberikan warna pada kulit. Anionic Dyestuff memiliki satu atau
lebih gugus auksokrom SO3Na atau SO3H yang juga berfungsi sbg gugus penentu tingkat
kelarutan dyes, dimana semakin banyak gugus sulfon, maka tingkat kelarutan cat dasar
akan semakin tinggi juga semakin anionik dan reaktif terhadap kulit wet blue yang bersifat
kationik.

Chemical tersebut dimasukan kedalam drum kemudian diputar selama 1 jam , setelah
diputar 1 jam warna kulit menjadi biru merata kemudian dipotong pada bagian yang paling
tebal lalu dikeringkan menggunakan hair dreyer tetapi ketika dipotong masih ada warna
yang belum tembus pada bagian tengah kulit (masih warna putih) dan larutan masih keruh,
yang berarti penetrasi dyestuff kurang baik oleh karena itu ditambahkan lagi ammonia
sebanyak 0,3% diputar selama 60 menit kemudian cek kulit lagi warna masih belum
tembus kemudian ditambahkan putaran selama 30 menit , setelah itu cek kulit sudah
tembus dan larutan sudah jernih. penambahan ammonia ini sebaiknya dikurangi karena
dapat mencemari lingkungan sebaiknya untuk membantu penetrasi hanya ditambahkan
penetrating/ lavelling agent seperti dermagen GPA yang lebih ramah lingkungan atau
dengan dilakukannya proses mekanik (tambah putaran drum).

3. Fixing

Proses ini bertujuan untuk mengikat warna antara kulit dengan dyestuff, chemical yang
digunakan pada proses ini adalah 1% asam formiat yang diencerkan 1:10 untuk menghidari
kulit kerut akibat terkena asam langsung kemudian diputar dalam drum selama 2x10 menit
lalu kulit dicek dengan hasil kulit berwarna biru merata,lemas dan pegangannya halus
setelah itu didrain.
4. Drying/hanging

Tujuan pengeringan adalah untuk mengeringkan kulit sambil mengoptimalkan kualitas


dan hasil area. Ada berbagai macam teknik pengeringan dan beberapa dapat digunakan
dalam kombinasi. Setiap teknik memiliki pengaruh spesifik pada karakteristik kulit.Teknik
pengeringan meliputi samming, pengaturan, pengeringan gantung, pengeringan vakum,
pengeringan beralih dan pengeringan pasta. Umumnya samming dan setting digunakan
untuk mengurangi kadar air secara mekanis sebelum teknik pengeringan lain digunakan
untuk mengeringkan kulit lebih jauh. Setelah kering, kulit dapat disebut sebagai crust.
Crust adalah produk antara yang dapat diperdagangkan (BAT.2013). Menurut BASF 2008
Metode pengeringan untuk kulit sebagai berikut ;
1. Pengeringan udara tanpa pasokan energi (hang-drying)
2. Pengeringan udara dengan pasokan energi
metode sirkulasi udara (hang-drying)
b. pengeringan di saluran, terowongan, ruang (hang-drying)
c. pengeringan basah-toggle
d. pengeringan pasta
3. Pengeringan air panas
Proses secotherm (pengeringan pasta)
4. Pengeringan inframerah
5. Pengeringan vakum
6. Pengeringan frekuensi tinggi

Pada praktikum kali ini melakukan pengeringan secara hanging(hang-drying didalam


ruang) sesuai dengan teori diatas kami pun melakukan setting out ringan guna mengurangi
kadar air secara mekanis atau menghilangkan air yg ada pada permukaan kulit selanjutnya
dilakukan proses hanging didalam ruangan untuk mengeringkan kulit lebih jauh lagi. kulit
dihanging selama 2 hari, kulit sudah kering. setelah hanging, kulit menjadi kering dan
warna kulit ada putih putih ngeblok pada bagian grain hal tersebut dikarenakan ada defek
pada saat kulit wetblue sehingga pada saat kulit crust defek tersebut masih terlihat. untuk
menutupi defek tersebut dapat dilakukan pada proses finisihing pigmented , dengan
metode opaque finish. Opaque finish: Permukaan kulit total merupakan covering pigments
dan binders ( purnomo,2014).

Figure 1 setelah setting out


Figure 2 hanging
5. Conditioning

conditioning adalah proses mengoptimalkan kadar air dalam kulit untuk proses
selanjutnya (BAT,2013). Proses ini bertujuan untuk membuat kulit mejadi sedikit basah
kembali untuk mempersiapkan masuk pada proses staking molissa dimana jika kulit terlalu
kaku maka dapat merusak kulit(kulit patah atau ada retakan pada nerf) dan dapat merusak
mesin staking molisa oleh karena itu maka kulit dilakukan conditioning. Proses ini
menggunakan alat spray gun dengan diisi sedikit air dengan pengaturan air yg keluar dikit
dan tekanan udara besar hal ini dilakukan untuk menghidari kulit menjadi terlalu basah,
untuk penyemprotannya dimulai dari bagian kaki sebelah kiri menuju bagian leher sebelah
kanan dan diulangi lagi dari bagian leher sebelah kiri menuju bagian kaki sebelah kanan ,
hal ini bertujuan agar proses penyemprotan air merata pada seluruh bagian kulit sehingga
tidak ada bagian yg masih kaku.setelah penyemprotan, kulit mejadi sedikit basah,lemas
dan pegangan halus.

6. Measuring
Setelah proses toggle dilanjutkan dengan proses measuring yang bertujuan untuk
menentukan luas kulit, sebelum masuk proses ini dilakukan trimming terlebih dahulu,
trimming adalah memotong beberapa tepi kulit seperti kaki,ekor,belly,dll (BAT,2013).
measuring ini menggunakan mesin dimana luas kulit akan terbaca secara otomatis. Hasil
luas kulit yang didapatkan adalah sebagai berikut;
a) Kulit 1 : 4,9 sqft
b) Kulit 2 : 5,7 sqft
c) Kulit 3 : 4,5 sqft

Figure 3.measuring Figure 4.setelah dimeasuring


Daftar Pustaka

BASF.2008. Pocket Book For the Leather Technologist.BASF Aktiengesellschaft.Ludwigshafen


: Germany.

BAT.2013.Tanning of Hides and Skins.Joint Research Center. Institute for Prospective


Technological Sustainable Production and Cosumtion Unit. European IPPC Bureau.

Covington.2009. Tanning Chemistry The Scients of Leather.The Universty of Northamton.


Northamton,UK.

Purnomo,Eddy.2008.Pasca Tanning. Akademi Teknologi Kulit,Yogyakarta.

Purnomo,Eddy.2014. Leather Finishing. Akademi Teknologi Kulit, Yogyakarta.


Nama : NAYLA MUSTIKA FAUZIAH

Nim : 1701014

Kelas : TPK A

Wetting Back
Wetting back yang artinya pembasahan kembali merupakan proses yang bertujuan untuk
membasahi kembali kulit dan mengembalikan kadar air dalam kulit sampai mendekati kulit segar
(60 -65%) karena selama masa penyimpanan kadar air dalam kulit rentan mengalami penurunan,
selain itu pada proses ini juga dapat membersihkan kulit dari kotoran yang menempel pada kulit
selama masa penyimpanan.
Bahan yang digunakan pada proses ini disebut dengan wetting agent. Produk paten yang
digunakan pada proses ini yaitu Peramit MLN (Tergolic NIA) yang merupakan surfaktan anionik.
Kegunaan Peramit MLN mampu menurunkan tegangan permukaan air di dalam kulit sehingga
serat lebih longgar dan dapat mempercepat penetrasi air ke dalam kulit. Penambahan surfaktan
kedalam air akan menurunkan tegangan permukaan air dan tegangan permukaan intervase air atau
zat padat sehingga menghasilkan nilai koefisien penyebaran yang positif. Cara kerja dari surfaktan
sangatlah unik karena bagian yang hidrofilik akan masuk kedalam larutan yang polar dan bagian
yang hidropobik akan masuk kedalam bagian yang non polar sehingga surfaktan dapat
menggabungkan (walaupun sebenarnya tidak bergabung) kedua senyawa yang seharusnya tidak
dapat bergabung tersebut. Namun semua tergantung pada komposisi dari komposisi dari surfaktan
tersebut. Jika bagian hidrofilik lebih dominan dari hidrofobik maka ia akan melarut kedalam air,
sedangkan jika ia lebih banyak bagian hidrofobiknya maka ia akan melarut dalam lemak dan
keduanya tidak dapat berfungsi sebagai surfaktan. Bagian liofilik molekul surfaktan adalah bagian
nonpolar, biasanya terdiri dari persenyawaanhidrokarbon aromatik atau kombinasinya, baik jenuh
maupun tidak jenuh. Bagian hidrofilik merupakan bagian polar dari molekul, seperti gugusan
sulfonat, karboksilat, ammonium kuartener,hidroksil, amina bebas, eter, ester, amida. Biasanya,
perbandingan bagian hidrofilik dan liofilik dapat diberi angka yang disebut Keseimbangan
Hidrofilik dan Liofilik yang disingkat KHL dari surfaktan (Jatmika, 1998).
Selain penggunaan surfaktan pada proses ini juga digunakan asam. Asam yang digunakan
yaitu HCOOH. Bahan ini mampu menurunkan pH secara perlahan-lahan sehingga dapat
memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan pH yang didinginkan (3,8 – 4)
.Penggunaan asam ini mempunyai maksud agar kulit tidak mengalami wringkel maupun rajah
rusak. HCOOH termasuk asam lemah karena nilai konsentrasi dari H+ nya yang paling kecil
dibandingkan dengan H2SO4 dan HCl. Oleh sebab itu dalam aplikasinya selalu digunakan asam
formiat terlebih dahulu kemudian asam sulfat atau asam klorida (Purnomo,2017).
Pada proses yang kami lakukan, kulit bersama bahan dan air yang berfungsi sebagai pelarut
bahan dan membantu penetrasi bahan diputar dalam drum selama 45 menit. Kontrol proses yang
dilakukan adalah pengecekan pH = 4,5 dan pengecekan penampang dengan indikator BCG =
kuning kehijauan karena tes penampang dengan indicator BCG sudah menunjukan warna kuning
kehijauan kulit bias dilanjutkan pad proses yang selanjutnya. kondisi kulit setelah di wetting back
sudah basah dengan sempurna dan pegangannya lemas.
Retanning I

Retanning merupakan salah satu tahapan proses dalam Pasca Tanning yang bertujuan
untuk menyempurnakan proses penyamakan, menciptakan karakter khusus pada setiap artikel kulit
yang berbeda, yang berhubungan dengan kelemasan, kepadatan, elongasi, fleksibilitas, run, dan
lain-lain, serta memperbaiki sifat alami kulit yang kurang menguntungkan seperti area yang tidak
berisi untuk menjadi lebih berisi dan padat. (Purnomo, dkk 2019)

Menurut Eddy Purnomo dkk dalam “Diktat Praktikum Pasca Tanning Kulit Kecil”, 2019
dituliskan bahwa bahan retanning yang digunakan biasanya adalah kombinasi antara bahan
penyamak mineral seperti krom sulfat basis Cr(OH)SO4 baik basisitas 33,3% ; 45% atau chrome
syntan yang dikombinasi dengan dengan resin acrylic, dicyandiamide dimana resin akan lebih
mengisi di bagian yang kosong seperti belly atau flank dan dicyandiamide pada grain yang loose.
Pendapat tersebut juga diperkuat dengan pendapat dari Khana Yasa dalam blog nya yang berjudul
“Pasca Tanning” pada tahun 2018 yang bertuliskan beberapa bahan kimia yang bisa dimasukkan
dalam proses Retanning I diantaranya Krom (Chrome) baik basisitas 33,33% maupun 45%,
Alumunium (untuk Tanning), dan glutaraldehyde. Tentu saja masing-masing bahan kimia yang
kita masukkan akan mempengaruhi karakter hasil jadi kulit (leather). Misa dengan penambahan
krom (Chrome/Cr sulfat) basisitas 33,33% akan lebih bersifat lemas dari pada menggunakan krom
45%. Bahkan jika menambahkan krom sintan akan lebih membuat karakter kulit lebih padat.
Berdasarkan pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa chrome sulfat basis dan
glutaraldehyde dapat digunakan dalam proses rettaning I. Bahan yang digunakan dalam praktikum
yang kami lakukan adalah Cromosal B yang memiliki generic Cr(OH)SO4 dan Glutaraldehyde
yang produk patennya adalah Rellugan GT 50. Menurut Spesifikasi Bahan Kimia Produk Paten di
Workshop BHO dan Tanning diketahui bahwa :
 Cromosal B memiliki spesifikasi sebagai berikut :
Nama Bahan Kimia : Chromosal B
Bahan aktif : Krom sulfat basis (Cr2O3 26% ; Basisitas 33%)
Produsen : Lanxess
Wujud & Karakter Fisik : Serbuk hijau pH pada larutan 10%
Fungsi pada Proses Kulit : Sebagai bahan penyamak krom, sebagai bahan retanning
krom.
Aplikasi / Penggunaan : Proses basifikasi sebaiknya dilakukan setelah 30–60 menit
setelah penambahan bahan penyamak, Pada kulit yang
tidak di-split sebaiknya basifikasi dilakukan setelah bahan
penyamak tembus ke semua penampang kulit, dan jika
digunakan sebagai bahan retanning, dimasukkan 2–4% ke
dalam larutan sedikit (short float) pada suhu 40–50 °C.
 Rellugan GT 50 memiliki klasifikasi sebagai berikut :
Nama Bahan Kimia : Relugan GT 50
Bahan aktif : Glutaraldehida
Produsen : BASF
Wujud & Karakter Fisik : Cairan bening kekuningan berbau menyengat pH (100%)
3,7
Fungsi pada Proses Kulit : Sebagai bahan penyamak aldehida jenis glutaraldehida,
menghasilkan kulit samak dengan warna kekuningan,
lembut, pegangan yang full, ketahanan cuci yang tinggi, dan
efek dyeing lebih dalam.
Aplikasi / Penggunaan : Dapat digunakan untuk pretanning atau retanning
penyamakan nabati, penyamakan wet white, penyamakan
krom dan retanning krom, penyamakan rajah kerut,
penyamakan chamois, pembuatan artikel kulit untuk
otomotif - Dilarutkan dengan air dengan perbandingan 1:5
sebelum digunakan pada proses. Digunakan pada kulit
sebanyak 0,5–4 % pada pH kurang dari 3,8 untuk
memaksimalkan penetrasi dan rajah yang rata.

Purnomo (1985), mengemukakan bahwa ikatan yang terjadi antara krom dengan kolagen
kulit akan membentuk ikatan silang yang terjadi karena kemampuan bereaksi molekul krom yang
bervalensi 3 terhadap gugus amino pada protein kolagen kulit yang reaktif. Keunggulan bahan
penyamak khrom adalah dapat menghasilkan kulit samak yang bersifat lemas, kuat dan tahan
terhadap air mendidih (Sharphouse, 1975).

Berdasarkan hal diatas pemilihan Cromosal B sebagai bahan rettaning disini disesuaikan
dengan artikel yang akan dibuat yaitu Nappa Garmen yang notabennya harus memiliki kelemasan
yang tinggi dan suhu kerut yang tinggi agar memberi rasa nyaman kepada penggunanya. Selain
itu Cromosal B juga membantu menyempurnakan penyamakan kulit seperti yang diketahui bahwa
bahan baku kulit yang digunakan adalah wet blue yang juga disamak menggunakan krom.
Sedangkan penggunaan Rellugan GT 50 dipilih karena bahan ini dapat memberikan efek spongi
pada kulit, lembut dan memberikan efek dyeing yang lebih dalam. Banyaknya cromosal B dan
Rellugan GT 50 yang kami pakai masing - masing 3% dari berat kulit wet blue yang sudah di
shaving dan trimming. Selain kedua bahan yang telah disebutkan sebelumnya kami juga
menggunakan air yang berfungsi sebagai pelarut bahan dan membantu penetrasi bahan kimia
kedalam kulit. Proses rettaning yang kami lakukan adalah selama 90 menit.

Kondisi kulit setelah dilakukan Rettaning I warnanya sedikit kekuningan karena efek
penggunaan bahan Rellugan GT 50 seperti yang sudah tertera di spesifikasi bahan tersebut. Selain
itu, pegangan kulitnya menjadi lemas, lembut dan spongi.

Netralisasi

Netralisasi atau yang biasa disebut dengan deacidifikasi adalah adalah proses yang
bertujuan menghapuskan asam bebas pada kulit (samak mineral) yang terbentuk selama masa
penyimpanan kulit (BASF-Pocket Book). Hal inj juga serupa dengan pendapat Purnomo dkk
dalam “Diktat Praktikum Pasca Tanning Kulit Kecil”, 2019 yang menuliskan bahwa Netralisasi
yang sering juga disebut deacidifikasi adalah proses untuk menghilangkan sebagian sisa asam
bebas yang terdapat pada wet blue baik yang berasal dari proses pengasaman atau yang terbentuk
selama reaksi olasi dan oksilasi selama masa penyimpanan.

Proses Netralisasi harus dilakukan dengan hati-hati dan bertahap dengan bahan kimia
bersifat lemah. Hal tersebut karena apabila sampai terjadi over netralisasi dapat merusak kulit
(Purnomo,dkk 2019). Overneutralization harus selalu dihindari karena jika tidak dapat
menyebabkan serat- serat pada kulit menjadi longgar dan kasar serta menyebabkan pegangan kulit
menjadi kosong (BASF-Pocket Book).

Proses ini dilakukan dengan jalan menaikkan pH larutan menggunakan bahan yang bersifat
alkali yang nantinya akan menaikkan pH kulit. Semakin tinggi pH pada proses netralisasi akan
semakin lemas pula kulitnya. Misalkan kulit untuk artikel garmen memiliki pH netralisasi 5,5 –
5,9 yang nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan pH netralisasi kulit atas sepatu (upper abri)
yang hanya 4,7 – 4,8 hal ini dikarenakan artikel garmen membutuhkan kelemasan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan upper.

Bahan kimia yang kami gunakan dalam proses netralisasi ini adalah alkali yang bersifat
lemah yaitu NaCOOH dan NaHCO3 yang tentunya berfungsi untuk menaikan pH kulit sampai
target yang telah ditentukan yaitu 5,5 – 5,9 yang merupakan pH netralisasi untuk artikel garmen.
Selain penggunaan basa lemah pada proses ini kami juga menggunakan Alcoton PSN yang
merupakan neutralizing agent yang fungsinya sebagai buffer yang menyangga agar tidak terjadi
kenaikan pH yang drastis akibat penambahan basa dan mencegah terjadinya overnetralizing. Kami
juga menggunakan H2O yang berfungsi sebagai pelarut bahan kimia dan membantu penetrasi
bahan kimi kedalam kulit.

Proses netralisasi ini dirasa cukup apabila ketika p H lkulit sudah mencapai 5,5 – 5,9 dan
penampang kulit saat ditetesi dengan indicator BCG (Bromo Cresol Green) sudah berwarna biru.
pH netralisasi kulit kami adalah 5,8 dan penampang kulit kami ketika ditetesi indicator BCG telah
berwarna biru. banyaknya basa yang kami gunakan dalam proses ini adalah 48 gr. Kondisi kulit
kami setelah proses netralisasi pegangannya masih tetap spongi, soft, dan lemas.
Rettaning II

Proses rettaning II merupakan proses yang bertujuan untuk mengisi bagian dalam kulit dan
bagian – bagian yang kurang menguntungkan misalnya bagian kulit yang loose. Bahan kimia yang
digunakan dalam proses ini biasanya adalah bahan tanning nabati seperti mimosa, quebracho dan
chestnut. Bahan-bahan tersebut akan banyak mengisi pada bagian ekor dari kulit. Selain itu ada
juga acrylic dan resin dicyandiamide. Bahan tipe acrylic biasanya digunakan untuk menyamakan
kepadatan kulit seperti pada bagian belly, sedangkan dicyandiamide cenderung untuk mengisi
bagian grain (yana, khasa 2018).

Berikut adalah gambar yang memperlihatkan distribusi pengisian berbagai macam bahan
retanning pada area kulit skin maupun hide yang diambil dari “Diktat Praktikum Pasca Tanning
Kulit Kecil”, 2019 karangan Eddy Purnomo, dkk.

Pada proses rettaning II ini kami hanya menggunakan bahan resin acrylic liquid yaitu
Drasil SMS yang merupakan copolymer rettaning agent berfungsi untuk membuat pegangan kulit
menjadi lebih berisi terutama pada bagian flank dan belly. Selain itu akrilik memberikan ketahanan
kepecahan dan elongasi pada grain yang lebih baik namun memberikan efek yang firmer
(Purnomo,dkk 2019). Pada proses ini kami tidak menggunakan bahan penyamak nabati sebagai
rettaning agent dikarenkan penggunaan bahan penyamak nabati dapat mempengaruhi pegangan
kulit yaitu membuat pegangan kulit menjadi sedikit keras.

Proses rettaning II yang kami lakukan berlangsung selama 90 menit. Kondisi kulit setelah
dilakukan rettaning II pegangannya menjadi lebih padat berisi dan firm terutama pada bagian flank
dan belly.
Daftar Pustaka

Purnomo,Eddy.2017.Bahan Kimia Kulit.Yogyakarta : Politeknik ATK Yogyakarta.


Spesifikasi produk paten di workshop BHO dan Tanning.

Yana Khana. 2019. Pasca Tanning. Yogyakarta. diakses secara online melalui
http://khanayasa.blogspot.com/2018/05/pasca-tanning.html. Pada 22 februari pukul 22.34 WIB.

Jatmika, A., 1998, Aplikasi Enzim Lipase dalam Pengolahan Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit
Untuk Produk Pangan, Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 6 (1) : 31 - .
SharpHouse, J.H. 1975. Leather Technicians Hand book. Leather Producers Association 9 th
Thomas Street, London.

BASF.2008. Pocket Book For the Leather Technology. BASF Aktiegesellchaft.Ludwigshafen :


Germany.

Purnomo, E. 1985 . Pengetahuan Dasar Teknologi Penyamakan Kulit. Akademi Teknologi Kulit
Yogyakarta.

Purnomo, E., Emiliana Anggriyani, Laili Rachmawati. 2019. Diktat Praktikum Teknik Pasca
Tanning Kulit Kecil. Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta.
Kesimpulan keseluruhan

1. Pasca tannng adalah proses penyempurnaan tanning untuk memberbaiki karakter


kulit seperti mengisi kulit loose, memberikan kelemasan, dan mewarnai dasar kulit
sesuai artikell yang diinginkan sehingga dapat menaikan harga jual.
2. Pasca tanning terdiri dari beberapa proses antara lain; sortasi grading, sammying
shaving,trimming,wetting back,retanning II , netraisasi, retanning
II,fatliquoring,dyeing,fixaxi,topfatliquoring,fixing,settingoutringan,hanging,condi
tioning,staking,miling,toggling,measuring, packing.
3. Menggunakan 3 kulit wet blue dengan keterangan sebagai berikut ;
Kulit 1 : Kualitas reject karena terdapat dibagian crupon,rajah lepas
dibeberapa bagian.
Kulit 2 : kualitas reject karena terdapat pess pada bagian crupon dan gigitan
kutu merata pada bagian crupon
Kulit 3 : kualitas reject karena terdapat pes pada bagian crupon ddan ada
lubang kecil pada bagian crupon.
4. Syarat kulit nappa garment ketebalan 0,65mm dan luas 5,5 squerfeet – 7,5
sqeerfeet,
5. Hasil kulit setelah proses pasca tanning ; kulit menjadi lemas,spongy,pegangan
halus,warna biru tetapi ada noda putih yang diakibatkan oleh defek pada kulit
wetbluenya.